Ns. Sunardi, M.Kep.,Sp.KMB

dokumen-dokumen yang mirip
Ns. Sunardi, M.Kep.,Sp.KMB

Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (

haluaran urin, diet berlebih haluaran urin, diet berlebih dan retensi cairan beserta natrium ditandai dengan - Pemeriksaan lab :

SIROSIS HEPATIS R E J O

Gagal Ginjal Kronis. 1. Apa itu Gagal Ginjal Kronis?

LAPORAN KASUS / RESUME DIARE

ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

LAPORAN PENDAHULUAN HEPATOMEGALI

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Glomerulonefritis akut masih menjadi penyebab. morbiditas ginjal pada anak terutama di negara-negara

VENTRIKEL SEPTAL DEFECT

17/02/2016. Rabu, 17 Februari

Thalassemia. Abdul Muslimin Dwi Lestari Dyah Rasminingsih Eka Widya Yuswadita Fitriani Hurfatul Gina Indah Warini Lailatul Amin N

OLEH : KELOMPOK 5 WASLIFOUR GLORYA DAELI

BAB I PENDAHULUAN. Ginjal memiliki peranan yang sangat vital sebagai organ tubuh

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

Pengertian. Bayi berat lahir rendah adalah bayi lahir yang berat badannya pada saat kelahiran <2.500 gram [ sampai dengan 2.

BAB I PENDAHULUAN. sebagai organ pengeksresi ginjal bertugas menyaring zat-zat yang sudah tidak

BAB II TINJAUAN TEORI. Hipertensi didefinisikan sebagai kenaikan secara pasti tekanan darah arteri

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA)

Data Demografi. Ø Perubahan posisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan

BAB I PENDAHULUAN. perekrutan dan aktivasi trombosit serta pembentukan trombin dan fibrin 1. Proses

Kekurangan volume cairan b.d kehilangan gaster berlebihan, diare dan penurunan masukan

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASKEP AN. R DENGAN BISITOPENIA DI RUANG HCU ANAK RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana S-1. Disusun oleh : ELYOS MEGA PUTRA J FAKULTAS KEDOKTERAN

BAB I PENDAHULUAN. darah yang melalui ginjal, reabsorpsi selektif air, elektrolit dan non elektrolit,

HUBUNGAN TINGKAT ASUPAN PROTEIN DENGAN KADAR UREUM DAN KREATININ DARAH PADA PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIK DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Carolina M Simanjuntak, S.Kep, Ns AKPER HKBP BALIGE

DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK. Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN

5. Pengkajian. a. Riwayat Kesehatan

LAPORAN NURSING CARE INKONTINENSIA. Blok Urinary System

PATHWAY THALASEMIA. Mutasi DNA. Produksi rantai alfa dan beta Hb berkurang. Kelainan pada eritrosit. Pengikatan O 2 berkurang

BAB I PENDAHULUAN. hidup. Pada manusia, fungsi ini sebagian besar dijalankan oleh ginjal (Brenner,

BAB I TINJAUAN TEORI. Suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah diastolic>90

BAB I PENDAHULUAN. peradangan sel hati yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Kondisi

PENDAHULUAN. Dalam penatalaksanaan sindrom gagal ginjal kronik (GGK) beberapa aspek yang harus diidentifikasi sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. Banyak penyebab dari disfungsi ginjal progresif yang berlanjut pada tahap

BAB I KONSEP DASAR. dalam kavum Pleura (Arif Mansjoer, 1999 : 484). Efusi Pleura adalah

Metode Pemecahan Masalah Farmasi Klinik Pendekatan berorientasi problem

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN. Setiawan, S.Kp., MNS

PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO

Preeklampsia dan Eklampsia

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLatihan Soal 1.3. Air. Asam amino. Urea. Protein

BAB I PENDAHULUAN. bervariasi dari 2-3 bulan hingga tahun (Price dan Wilson, 2006).

BAB IV PEMBAHASAN. memberikan asuhan keperawatan terhadap Ny. A post operasi sectio caesarea

2. Pengkajian Kesehatan. a. Aktivitas. Kelemahan. Kelelahan. Malaise. b. Sirkulasi. Bradikardi (hiperbilirubin berat)

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

LAPORAN PENDAHULUAN HEMODIALISA

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas

PATOFISIOLOGI SINDROM NEFROTIK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. O DENGAN CKD ON HD DI RUANG HEMODIALISA BLUD dr. DORIS SYLVANUS PALANGKA RAYA


LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

Derajat 2 : seperti derajat 1, disertai perdarah spontan di kulit dan atau perdarahan lain

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mengeksresikan zat terlarut dan air secara selektif. Fungsi vital ginjal

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Gagal jantung kongestif (CHF) adalah keadaan patofisiologis berupa

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Ginjal menjalankan fungsi yang vital sebagai pengatur volume dan

BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu

EKSTRAKSI GIGI PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN GAGAL GINJAL KRONIK VITA NIRMALA ARDANARI,DR, SP.PROS, SP.KG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Gejala Diabetes pada Anak yang Harus Diwaspadai

9. Sonia mahdalena 10. Tri amalia 11. Mitha nur 12. Novita sari 13. Wardah afifah 14. windi yuniati 15. Gina I. 16. Nungki. 8.

BAB I PENDAHULUAN. Gagal ginjal kronis atau End Stage Renal Desease (ESRD) merupakan

Reabsorbsi pada kapiler peritubuler

BAB I KONSEP DASAR. sepanjang saluran usus (Price, 1997 : 502). Obstruksi usus atau illeus adalah obstruksi saluran cerna tinggi artinya

BAB V PENUTUP. khususnya pada keluhan utama yaitu Ny. S G III P II A 0 hamil 40 minggu. mmhg, Nadi: 88 x/menit, Suhu: 36,5 0 c, RR: 26 x/menit, hasil

I. PENDAHULUAN. mempertahankan homeostasis tubuh. Ginjal menjalankan fungsi yang vital

TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA

PERBEDAAN PENYEBAB GAGAL GINJAL ANTARA USIA TUA DAN MUDA PADA PENDERITA PENYAKIT GINJAL KRONIK STADIUM V YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD

ASUHAN KEPERAWATAN HPP

BAB III TINJAUAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN NY. S DENGAN GAGAL GINJAL KRONIK DI IRNA C3 LT. 1 RSDK SEMARANG

Kanker Serviks. Cervical Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Diabetes tipe 1- Gejala, penyebab, dan pengobatannya

D. Patofisiologi Ketika kita hirup masuk dan keluar, udara masuk ke dalam hidung dan mulut, melalui kotak suara (laring) ke dalam tenggorokan

CLINICAL PATHWAY EKLAMPSIA GRAVIDARUM Rumah Sakit Kelas B & C

APPENDISITIS. Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh: a. Fekalis/ massa keras dari feses b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid c.

BAB I KONSEP DASAR. Berdarah Dengue (DBD). (Aziz Alimul, 2006: 123). oleh nyamuk spesies Aedes (IKA- FKUI, 2005: 607 )

BAB I PENDAHULUAN. bersifat progresif dan irreversible. Dimana kemampuan tubuh gagal untuk

a. Cedera akibat terbakar dan benturan b. Reaksi transfusi yang parah c. Agen nefrotoksik d. Antibiotik aminoglikosida

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom

KEBUTUHAN MOBILITAS FISIK

TINJAUAN PUSTAKA. Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga

I. PENDAHULUAN penduduk Amerika menderita penyakit gagal jantung kongestif (Brashesrs,

BAB I PENDAHULUAN. besar oleh karena insidensinya yang semakin meningkat di seluruh dunia

Asuhan Keperawatan Hepatitis D

BAB I PENDAHULUAN. kelahiran preterm, dan intrauterine growth restriction (IUGR) (Sibai, 2005;

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS PADA LANSIA

- Nyeri dapat menyebabkan shock. (nyeri) berhubungan. - Kaji keadaan nyeri yang meliputi : - Untuk mengistirahatkan sendi yang fragmen tulang

BAB I PENDAHULUAN. banyak pabrik-pabrik yang produk-produk kebutuhan manusia yang. semakin konsumtif. Banyak pabrik yang menggunakan bahan-bahan

BAB I PENDAHULUAN. yang progresif dan lambat yang biasanya berlangsung beberapa tahun.

LAPORAN PENDAHULUAN. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PRE, INTRA, POST OPERASI HAEMOROIDEKTOMI DI RUANG DIVISI BEDAH SENTRAL RS. Dr.

BAB 1 PENDAHULUAN. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu respon inflamasi sel urotelium

KELOMPOK 4 ASUHAN KEPERAWATAN EMERGENCY DAN KRITIS

Transkripsi:

Ns. Sunardi, M.Kep.,Sp.KMB 1

Adalah inflamasi pada glomerulus ginjal; dimana proses inflamasi ini dapat terjadi akibat reaksi imun dan non imun, bersifat Akut, Laten atau Kronis Glomerulonefritis Akut/Konis (GNA/K) GNA biasannya menyertai infeksi streptococcus (infeksi saluran nafas/kulit) dan sering terjadi pada PRA Sekolah dan sekolah. Sakit tenggorokan & infeksi sal.nafas bagian Atas yang telah diobati Perlu Pemeriksaan kultur untuk pemberian antibiotik yang sesuai Penyakit glomerulus ginjal yang menyebabkan terjadinya gagal ginjal terminal 2

MEKANISME NON-IMUN GLOMERULONEFRITIS Diabetus Melitus Diet Tinggi Protein Pe Massa Renal Hiperfltrasi Hipertensi Intraglomerular Endotelial rusak Agregrasi platelet Proteinuri a Pelepasan faktor yang Me Permeabilitas kapiler Hipertensi Trombosis Intraglomerular Sclerosis Glomerular 3

MEKANISME KERUSAKAN GLOMERULUS PADA PENYAKIT IMUNOLOGIS C I C X & SEL T Mediator Sekunder Aktivasi faktor XII (Hageman) Khemotaksis Aminevasoaktif Aktivasi sistem Kinin Proses Inflamasi Kerusakan Glomerulus Fibrin SINDROM KLINIS 4

a. Protein Urea b. Hematuria c. Serum creatinin meningkat d. BUN Meningkat e. BD Urin meningkat f. Antistreptolysin titer O meningkat g. Hb menurun karena anemia h. Protein albumin serum menurun i. Potasium meningkat 5

Dari kerusakan glomerulus ginjal depresi fungsi ginjal Anoreksia tanda malnutrisi Kelelahan Nafas pendek/sesak napas Sakit kepala sedang Edema, sembab (kelopak mata, tungkai, dada dan genetalia) Hypertensi Out put urin menurun (oliguri) Kaki merasa berat & dingin, mungkin disertai diare 6

Terapi Antibiotik Long Term Penicillin, dan pasien harus terhindar dari infeksi, karena dapat meninmbulkan nefritis Pasien harus bed-rest sampai manifestasi klinik hilang DIET Rendah protein jika kadar BUN dan Creatinin dalam serum meningkat Tinggi Karbohidrat Rendah Garam Intake dan Out-put harus diukur, kontrol cairan & hypertensi, berikan obat antihipertensi jika diperlukan Kaji edema dan timbang BB setiap hari Jika over load berikan diuretik Observasi tanda-tanda vital waspada terhadap adanya CHF Jika sudah ambulasi: Monitor protein ure dan hematuria jika meningkat bedrest tetap dijalankan. Jika ambulasi dapat ditolelir pasien boleh pulang PERSIAPAN PASIEN PULANG Ajarkan tentang rasional pengobatan Diet dan obat-obat yang diintruksikan Hindari terjadinya infeksi dan kelelahan Jika ada tanda-tanda: edema, hematuria dan sakit, kontrol pelayanan kesehatan 7

Biasannya lanjutan dari GNA Penyebab bervariasi: Perjalanan Cepat dan Perjalanan Lambat Gejala Yang dapat dilihat: Kelelahan Kelemahan Penglihatan ganda Sakit kepala (terutama pada pagi hari) Dypsnoe Nochturia Edema Kehilangan BB Pada Stadium Dini: Hasil urine analisa; Albumin, sedimen dalam darah dan test fungsi ginjal masih dalam taraf normal Pada Stadium Lanjut: Hematuria dan protein urea menurun, dan kadar nitrogen non protein dalam darah meningkat 8

Karena penyebab GNC tidak diketahui dengan pasti maka cara preventif sukar untuk dilakukan Terapi steroid dapat dicoba walaupun hasilnya belum tahu Pemberian obat simtomatik & supportif perlu diberikan Waspada terhadap adanya CHF Pendidikan Kesehatan harus mencakup: 7. Pencegahan terhadap infeksi 8. Diet rendah protein, rendah garam dan tinggi KH 9. Obat-obatan 10. Pentingnya follow up care 11. Jika ada tanda-tanda exacerbasi segera lapor dokter 12. Wanita hamil dengan GNC harus waspada terhadap pemberian obat-obatan karena dapat menimbulkan keguguran/toxemia 9

PRIMER (Respon Imun terhadap Patogen, Etiologi belum diketahui) 2. Streptococcus group A Beta Hemolitikus 3. Syphilis, Abses viseral, Endocarditis bacterial, Hepatitis, Mononucleosis infeksi 4. Measles, Mumps, Cytomegalovial infection 5. Beberapa parasit, jamur, infeksi virus SEKUNDER ( Berkaitan dengan infeksi sistemik) 8. SLE, Progresive systemic sclerosis, Trombositopenia purpura 9. Gagal ginjal post partum, Goodpasture s syndrome 10. Wegner s granulomatosis 11. Polyarteritis nodusa, Hemolitic uremic sindrome 10

1. Nyeri tumpul pinggang belakang 2. Sakit kepala, hipertensi 3. Perubahan pola eliminasi urine 4. Dysuria 5. Menurun output urine 6. Kesulitan bernafas 7. Orthopnea 8. Nocturnal/dyspnea pada saat pengerahan tenaga 9. Perubahan BB, rales pada suara paru 10. Pelebaran pada vena leher, adanya suara jantung tiga (S3) 11. Edema pada wajah, kelopok mata, tangan dan jaringan perifer 12. Fatigue dan malaise 13. Anoreksia, nausea dan/muntah 14. urine berwana merah ke coklat-coklatan. KOMPLIKASI 16. Malnutrisi 17. Infeksi sekunder 18. Gangguan koagulasi 19. Akselerasi aterosklerosis 11

1. Bed-rest total 2. Monitor TTV setiap 4 jam 3. Monitor BUN, Creatinin dan Protein urine 4. Mengganti cairan yang hilang 5. Monitor intake-output 6. Diet: Pembatasan cairan dan Na, tinggi KH & rendah protein, Rendah K Bila Ada gagal ginjal. 7. Antibiotik jika ada infeksi 8. Korticosteroid & Cytotoxic 9. Anti Hypertensi 10.Diuretik 11.Plasmapheresis 12

1. Riwayat Kesehatan a. Riwayat infeksi streptoccokus beta hemolitikus b. Riwayat penyakit SLE dan penyakit autoimun c. Riwayat pembedahan dan prosedur invasive d. Masalah urologi atau ginjal e. Perubahan status berkemih meliputi; Frekwensi berkemih, perubahan warna, kejernihan dan bau f. pengetahuan pasien tentang proses penyakit. 2. Pemeriksaan Fisik (Lihat pada manifestasi klinis) 3. Pemeriksaan Diagnostik a. Urinalisa b. Urine tampung 24 jam c. IVP d. Serum Creatinin e. Serum Protein f. Biopsy Ginjal g. Kultur Lendir tenggorokan dan darah h. EKG i. Antistrepolysin 13

DIAGNOSA KEPERAWATAN 2. KETIDAKMAMPUAN DALAM AKTIFITAS B.D PENURUNAN PROTEIN DAN DISFUNGSI GINJAL 3. RESIKO KELEBIHAN VOLUME CAIRAN B.D RETENSI AIR DAN DISFUNGSI GINJAL 4. RESIKO INFEKSI (UTI, LOKAL, SISTEMIK) B.D PENEKANAN PADA SISTEM IMUN 5. RESIKO PERUBAHAN PERFUSI JARINGAN: SEREBRAL CARDIOPULMONARY B.D RESIKO KRISIS HIPERTENSI 6. KURANG PENGETAHUAN B.D KURANG INFORMASI TENTANG PROSES PENYAKIT, PERAWATAN DI RUMAH DAN INSTRUKSI TINDAKAN LANJUT 14

PERENCANAAN DX 1 TUJUAN: Pasien akan meningkat toleransi terhadap aktifitas KRITERIA HASIL: - Mengikuti rencana aktiftas - TD dalam batas normal tanpa pengeluaran protein berlebihan RENCANA TINDAKAN 8. Monitor adanya penurunan protein scr. Berlebihan (Proteinuria, Albuminuria) 9. Gunakan diet protein untu mengganti protein yang hilang 10.Berikan diet tinggi Kalori, diet tinggi KH 11.Anjurkan Bedrest 12.Berikan latihan dalam batas aktifitas yang dianjurkan 13.Rencanakan aktifitas dengan memberikan periode waktu istirahat 15

DX-2 TUJUAN: Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit KRITERIA HASIL - Tidak memperlihatkan Tanda-tanda kelebihan cairan dan elektrolit - Intake dan output dalam keadaan seimbang RENCANA TINDAKAN 8. Monitor dan laporkan tanda dan gejala kelebihan cairan 9. Ukur dan dokumentasikan intake dan output setiap 4 8 jam 10.Catat jumlah dan karakteristik urine; laporkan bila ada penurunan output urine pada dokter 11.Timbang BB setiap hari, dengan timbangan dan waktu yang sama 12.Ukur BJ urin setiap 8 jam, lapor bila ada peningkatan 13.Konsultasikan ke ahli diet untuk pembatasan Natrium dan Protein. 14.Berikan cairan sesuai dengan cairan yang hilang 15.Berikan batu es untuk mengontrol haus 16.Monitor hasil pemeriksaan elektrolit, laporkan bila ada ketidaknormalan 17.Kaji efektifitas pemeberian elektrolit scr. Parenteral/oral 16

DX 3 TUJUAN: Pasien akan memperlihatkan tidak adannya tanda-tanda infeksi KRITERIA HASIL: - Memiliki hasil pemeriksaan temperatur dan lab dalam batas normal - Memiliki suara paru yang bersih - Urinnya bening dan kuning - Kulit utuh RENCANA TINDAKAN 9. Kaji efektifitas pemeberian imunosupresive 10.Monitor serum sel darah merah, antibodi, nilai set T 11.Periksa Temp. tubuh setiap 4 jam 12.Catat karakteristik urine 13.Hindari pemasangan kateter pada saluran perkemihan 14.Jika dipasang kateter, pertahankan closed gravity drain system 15.Monitor adanya Tanda & gejala UTI, lakukan tindakan pencegahan UTI 16.Asuskultasi suara paru setiap 4 jam 17.Anjurkan untuk batuk dan nafas dalam 18.Instruksikan pasien u/ menghindari orang yang menglamai infeksi 19.Lakukan tindakan untuk mencegah kerusakan kulit 20.Anjurkan untuk ambulasi lebih awal 17