BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. sesuai dengan fungsi masing-masing peralatan. Adapun alat-alat yang dipergunakan

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Mempelajari Manejemen Pemeliharaan Mesin Heading Pada PT. Adhimix Precast Indonesia

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN. tinggi dapat menghasilkan struktur yang memenuhi syarat kekuatan, ketahanan,

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. terhitung mulai dari tanggal 07 Oktober 2013 sampai dengan 07 Desember 2013

BAB IV METODE PENGECORAN KOLOM, DINDING CORE WALL, BALOK DAN PLAT LANTAI APARTEMENT GREEN BAY PLUIT LANTAI 15 - LANTAI 25

BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PILE CAP DAN RETAINING WALL. Dalam setiap proyek konstruksi, metode pelaksanaan konstruksi

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Manajemen pelaksanaan dilakukan dalam rangka menjamin kelancaran

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. alat - alat tertentu sesuai kebutuhan untuk mendukung pembangunan tersebut.

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. manufacturing and trading yang dirikan berdasarkan Akta Notaris Arry Supratno,

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS

III. METODE PEMBUATAN. Tempat pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ini di bengkel las dan bubut

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. Dalam setiap pekerjaan proyek konstruksi selalu diperlukan peralatan guna

BAB IV TINJAUAN ALAT YANG DIGUNAKAN DAN BAHAN BANGUNAN. organisasi yang bagus tetapi juga harus didukung dengan adanya alat, material,

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. PT. Mewah Indah Jaya merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II STUDI PUSTAKA

LAMPIRAN C FABRIKASI SEGMEN GELAGAR BETON PRATEKAN, PENGGABUNGAN SEGMEN GELAGAR BETON PRATEKAN

PENGENDALIAN MUTU DAN PROSES PEMBUATAN TIANG PANCANG SENTRIFUGAL PADA PT WIJAYA KARYA BETON JL. RAYA BINJAI KM 15,5 DELI SERDANG

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. bidang pembuatan dan perbaikan mesin dan peralatan pada pabrik kelapa sawit.

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB IV PERALATAN YANG DIGUNAKAN. Pada setiap pelaksanaan proyek konstruksi, alat-alat menjadi faktor yang sangat

Lampiran 1: Tugas dan Tanggung Jawab Karyawan

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT ALAT. Proyek Menara Sentraya dilakukan oleh PT. Pionir Beton Industri

III. METODE PROYEK AKHIR. dari tanggal 06 Juni sampai tanggal 12 Juni 2013, dengan demikian terhitung. waktu pengerjaan berlangsung selama 1 minggu.

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam melaksanakan suatu proyek konstruksi, diperlukan adanya suatu

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. dalam Usaha Kecil Menegah (UKM) mikro yang bergerak di bidang industri jasa

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK

PRODUK PT BETON ELEMENINDO PERKASA

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB III METODE PROYEK AKHIR. Motor dengan alamat jalan raya Candimas Natar. Waktu terselesainya pembuatan mesin

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN KOLOM, BALOK DAN PELAT. dalam mencapai sasaran pelaksanaan proyek konstruksi. Dimana sasaran proyek

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Area terhadap hasil rancang bangun alat Uji Konduktivitas Thermal Material.

Oleh : AGUSTINA DWI ATMAJI NRP DAHNIAR ADE AYU R NRP

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. pengamatan struktur plat lantai, pengamatan struktur core lift.

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL

PRODUKTIVITAS DAN KETERLAMBATAN PRODUKSI TIANG PANCANG DAN TIANG LISTRIK PADA PERUSAHAAN X DENGAN MPDM

BAB II GAMBAR UMUM PERUSAHAAN

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT - ALAT YANG DIGUNAKAN

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. Dalam melaksanakan proyek pembangunan dapat dipastikan digunakan alat-alat

METODE PEKERJAAN BORE PILE

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV ALAT DAN BAHAN PELAKSANAAN. Pada proyek Lexington Residences hampir semua item pekerjaan menggunakan

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2012, dan Maret 2013 di

BAB IV HASIL PEMBUATAN DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan proses pembuatan rangka pada incinerator terlebih

BAB V PERALATAN DAN MATERIAL

BAB I PENDAHULUAN. terletak di Jalan Raya Medan-Binjai km 15,5 Diski, Deli Serdang. PT. Wijaya

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

TATA CARA PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI KUAT TEKAN DAN LENTUR TANAH SEMEN DI LABORATORIUM

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan

BAB III PROSES PERAKITAN KOMPRESOR SHARK L.1/2 HP. mesin dan metode. Sistem manufaktur terbagi menjadi 2, yaitu :

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari

BAB III METODE PENELITIAN. Metodelogi penelitian dilakukan dengan cara membuat benda uji (sampel) di

BAB IV PROSES PEMBUATAN

BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN SHEAR WALL DAN RAMP. proses pelaksanaan dari suatu item pekerjaan yang harus direncanakan terlebih

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. dalam bidang industri pengolahan minyak goreng. Perusahaan Permata Hijau

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V METODE PELAKSANAAN STRUKTUR ATAS. dalam mencapai sasaran pelaksanaan proyek konstruksi. Dimana sasaran proyek

Transkripsi:

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan PT. Jaya Beton Indonesia dibangun oleh PT. Pembangunan Jaya pada tahun 1978 yang muncul dari aspirasi untuk mengikuti kemajuan perkembangan yang sangat cepat dalam sektor industri dan infrastruktur. Beberapa proyek besar telah disupplai oleh PT. Jaya Beton Indonesia sebagai gantinya material telah diimpor dari luar negeri pada awal berdirinya PT. Jaya Beton Indonesias. Proyek seperti Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), Asean Aceh Fertilizer Plant, Panjang Harbour, LNG Bontang, Jakarta Outer Ring Road, Matahari Tower (40 storey Building) telah menggunakan produk Jaya Beton. Bahkan PT. Jaya Beton telah mengekspor tiang pancang ke Guam, Hawaii dan ke Brunei Darussalam untuk proyek Royal Brunei Air Force. Dengan produk dan pelayanan yang handal, pasar Jaya Beton bertumbuh dengan sangat cepat. Pada saat ini, perusahaan ada dalam hampir setiap proyek infrastruktur seluruh Indonesia. Sejak awal didirikan, PT. Jaya Beton Indonesia telah berpartisipasi dalam pengembangan aktivitas dalam mendukung penerapan produk-produk utama di seluruh Indonesia. Dengan proyek awal yaitu Proyek Asahan, PT. Jaya Beton Indonesia dengan cepat dapat mencapai kredibilitas dalam penanganan banyak proyek besar seperti Pabrik Pupuk Asean di Aceh, Pabrik Minyak Kelapa di

Belawan, Pabrik Pengepakan Semen Andalas, Gudang Bulog di Dumai dan berbagai proyek besar lainnya. Untuk memproduksi tiang pancang dan tiang listrik membutuhkan proses teknologi yang tinggi dan utilisasi dengan teknik yang modern dan terbaru. Jadi, PT. Jaya Beton Indonesia berusaha untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Jepang yang memiliki pengalaman tinggi, dengan tujuan transfer teknologi. Sebagai hasilnya, pada tahun 1978, PT. Jaya Beton Indonesia menjalin kerjasama dengan perusahaan Jepang Yoshimoto Co, Ltd dan Daido Concrete Co.Ltd. 2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha PT. Jaya Beton Indonesia Sumut di dalam menjalankan perusahaannya memproduksi jenis beton sebagai berikut: 1. Prestressed Concrete Spun Piles, yaitu produk beton yang berbentuk tiang pancang bulat yang di gunakan untuk pondasi bangunan dan gedung bertingkat. 2. Prestressed Concrete Spun Poles (Electricity and Telecommunication), yaitu produk beton yang berupa tiang listrik dan telekomunikasi yang di gunakan untuk menyangga kabel/kawat yang dialiri listrik dari pembangkit ke konsumen. Saat ini PT. Jaya Beton Indonesia memiliki tiga pabrik yang tersebar di Indonesia yaitu Tangerang (Jakarta), Medan (Sumatera Utara), Surabaya (Jawa Timur).

2.3. Lokasi Perusahaan PT. Jaya Beton Indonesia berlokasi di Jalan Paya Pasir Medan Marelan, Sumatera Utara 20255. Pada lokasi ini termasuk dengan lantai produksi, kantor, gudang, dan pengolahan limbah dengan total luas lahan adalah 95.249 m 2. 2.4. Daerah Pemasaran PT Jaya Beton Indonesia memasarkan produknya ke dalam dan luar negeri. Untuk dalam negeri, produk dipasarkan ke daerah Sumatera, Pekanbaru, Batam, Lampung, Aceh, dan Jakarta, sedangkan untuk luar negeri PT. Jaya Beton Indonesia telah mengekspor tiang pancang ke Guam, Hawaii dan ke Brunei Darussalam. 2.5. Stuktur Organisasi Perusahaan Dalam menjalankan kegiatan perusahaan diperlukan struktur organisasi serta uraian tugas yang jelas dari setiap orang yang terlibat dalam organisasi tersebut. Struktur organisasi memberikan gambaran tentang posisi dan hubungan kerja sama antara setiap unit-unit kerja yang ada pada perusahaan. Masing-masing unit kerja tersebut mempunyai tujuan umum yang sama untuk mewujudkan suatu keberhasilan. Hal ini dijumpai di PT. Jaya Beton Indonesia yang mempunyai tujuan untuk memperoleh keuntungan maksimum dengan kesejahteraan karyawan dan kegiatan perusahaan. Struktur organisasi PT. Jaya Beton Indonesia dikategorikan dalam bentuk lini dan fungsional.

Struktur organisasi PT. Jaya Beton Indonesia dapat dilihat pada Gambar 2.1. di bawah ini. Kepala Operasi Wil. 1 Plant Manager Kabag Marketing Kabag/ Wakabag Produksi Kabag KPU Kabag QC & Eng Supervisor Marketing Supervisor Produksi Supervisor Accounting Inspector Supervisor M & R Supervisor Pembelian Supervisor Pemancangan Supervisor Umum & Pers. Supervisor Gudang Kasir Supervisor Adm. Produksi Gambar 2.1. Struktur Organisasi PT. Jaya Beton Indonesia

2.6. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab Dalam pengelolaan perusahaan PT. Jaya Beton Indonesia, tiap-tiap struktur memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar setiap fungsional memiliki deskripsi pekerjaan (job description) yang jelas sehingga dapat bekerja dengan optimal. Adapun tugas dan tanggung jawab masing-masing fungsi yang terdapat pada PT. Jaya Beton Indonesia adalah sebagai berikut : 1. Kepala Operasi bertugas mengkoordinir kegiatan operasional masingmasing plant/ pabrik. Adapun kegiatan operasional ini meliputi kegiatan penjualan, pembelian, dan lain-lain. 2. Plant Manager bertindak sebagai pengambil keputusan/ kebijakan di dalam pabrik. 3. Kepala Bagian Marketing bertugas mencari pasar dan juga dalam penagihan proyek. 4. Supervisor Marketing bertugas membantu kepala bagian marketing dalam melaksanakan tugasnya, termasuk mencari pasar dan dalam penagihan proyek. 5. Kepala Bagian Produksi bertugas mengkoordinir kegiatan produksi pada setiap produk di bawah perintah Plant Manager 6. Kepala Bagian KPU (Keuangan, Pembelian, dan Umum) bertugas menjalankan dan mengkoordinir kegiatan keuangan, pembelian dan umum.

7. Kepala Bagian Quality & Engineering bertugas mengontrol seluruh kegiatan mulai dari kegiatan pengecekan material masuk, produksi hingga pengiriman. 8. Supervisor Produksi bertugas melaksanakan dan mengawasi jalannya produksi 9. Supervisor Maintenance and Repair bertugas mengawasi dan melaksanakan perawatan dan perbaikan alat-alat produksi ataupun pabrik 10. Supervisor Pemancangan bertugas mengawas dan melaksanakan proses pemancangan di lapangan 11. Supervisor Gudang bertugas mengawasi dan melaksanakan kegiatan penerimaan material baik material pokok maupun material bantu 12. Supervisor Administrasi Produksi bertugas membuat laporan dan administrasi produksi 13. Supervisor Accounting bertugas mengawasi dan melaksanakan akuntansi pabrik 14. Supervisor Pembelian bertugas mengawasi dan melaksanakan kegiatan penyediaan atau pembelian material pokok atau bantu 15. Supervisor Umum dan Personalia bertugas mengawasi dan melaksanakan segala kegiatan yang berhubungan dengan karyawan. 16. Kasir bertugas melaksanakan kegiatan pembayaran 17. Inspector bertugas melaksanakan kegiatan inspeksi di tiap-tiap departemen.

2.7. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja Data tenaga kerja pada PT. Jaya Beton Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2.1. Tabel 2.1. Data Tenaga Kerja No. Karyawan Jumlah 1 Kepala Operasi 1 2 Plant Manager 1 3 Kepala Bagian Marketing 1 4 Supervisor Marketing 1 5 Kepala Bagian Produksi 3 6 Kepala Bagian KPU 1 (Keuangan, Pembelian, dan Umum) 7 Kepala Bagian Quality & Engineering 1 8 Supervisor Produksi 4 9 Supervisor Maintenance and Repair 2 10 Supervisor Pemancangan 1 11 Supervisor Gudang 1 12 Supervisor Administrasi Produksi 1 13 Supervisor Accounting 1 14 Supervisor Pembelian 1 15 Supervisor Umum dan Personalia 1 16 Kasir 1 17 Inspector 1 18 Pelaksana Bagian Produksi 12 19 Pelaksana Maintenance and Repair 4 20 Pelaksana Quality & Engineering 2 21 Tenaga kerja Outsourcing 82 Total 123 Orang Sumber : PT. Jaya Beton Indonesia

Jam kerja produksi terdiri atas 2 shift kerja dengan perincian berikut: Shift I : 1. Jam 07.00-12.00 WIB (Kerja) 2. Jam 12.00-13.00 WIB (Istirahat) 3. Jam 13.00-19.00 WIB (Kerja) Shift II : 1. Jam 19.00-00.00 WIB (Kerja) 2. Jam 00.00-01.00 WIB (Istirahat) 3. Jam 01.00-04.00 WIB (Kerja) 4. Jam 04.00-05.00 WIB (Istirahat) 5. Jam 05.00-07.00 WIB (Kerja) Karyawan yang bekerja melebihi kerja normal atau kerja shift dihitung sebagai kerja lembur. Hari Minggu dan hari-hari besar lainnya merupakan hari libur bagi perusahaan. 2.8. Bahan yang Digunakan 2.8.1. Bahan Baku Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan dalam pembuatan produk. Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi di PT. Jaya Beton Indonesia antara lain: 1. PC Bar (Prestressed Concrete Bar/Baja Beton Pratekan) PC Bar merupakan kawat baja karbon tinggi berpenampang bulat dengan penampang beralur atau berlekuk dilakukan proses perlakuan panas,

didinginkan dengan cepat untuk menghasilkan struktur kemudian dihilangkan sisa tegangannya dengan proses perlakuan panas secara kontinu untuk mencapai sifat mekanis sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. PC Bar yang digunakan dalam poduksi tiang pancang berdiameter 7,1 mm dengan kekuatan tarik 1445-1500 N/mm 2 dan elongasi >5,0%. PC Bar digunakan sebagai tulangan dalam pembuatan sangkar. 2. Iron wire Iron wire yang digunakan berdiameter 3,2 mm dengan kekuatan tarik 640-1080 N/mm 2. Iron wire digunakan sebagai lilitan dalam pembuatan sangkar. 3. Semen Semen yang digunakan adalah semen Andalas tipe Portland Pozzolan Cement (PPC). 4. Pasir Pasir yang digunakan memiliki diameter <4 mm dengan kadar lumpur tidak lebih dari 5% dan daya serap air lebih kecil dari 3 %. 5. Kerikil Kerikil yang digunakan memiliki diameter 10-20 mm dengan kadar lumpur tidak lebih dari 1 % dan daya serap air lebih kecil dari 3%. 6. Pile joint plate Pile joint plate (plat sambung) yang digunakan antara lain berdiameter 300 mm, 350 mm, 400 mm, 450 mm, 500 mm, 550 mm, dan 600 mm.

2.8.2. Bahan Tambahan Bahan tambahan adalah bahan yang diperlukan dalam proses produksi tetapi tidak secara langsung dimasukkan ke dalam produk. Bahan tambahan yang digunakan dalam proses produksi di PT. Jaya Beton Indonesia antara lain: 1. Air Air yang dipergunakan dalam proses produksi berasal dari air sumur bor dengan tingkat kesadahan 72 mg/l. 2. Plascitizer Plascitizer merupakan jenis chemical admixture yang ditambahkan dalam proses pembuatan adukan beton untuk mempermudah adukan supaya homogen dan mengurangi pemakaian air dengan tidak mengurangi mutu. 3. Cat Cat digunakan sebagai bahan untuk mewarnai kedua ujung tiang pancang dan membuat label akta produksi (marking) pada produk. 4. Baut Baut digunakan untuk menahan PC Bar agar tidak lepas saat sangkar dirakit dengan pile joint plate. Baut berukuran ¾ inchi ditempatkan pada locking pin hole keemudian dikencangkan menggunakan impact tool. 2.8.3. Bahan Penolong Bahan penolong adalah bahan yang digunakan dalam proses produksi untuk membantu kelancaran proses, tetapi bahan tersebut tidak terdapat pada produk akhir.yang merupakan bahan penolong adalah minyak CPO (Crude Palm

Oil). Minyak CPO merupakan bahan tambahan yang digunakan untuk melapisi cetakan agar pada saat pengecoran, beton tidak lengket dengan cetakan. 2.9. Uraian Proses Produksi PT. Jaya Beton memproduksi dengan sistem produksi Make to Order (MTO). Suatu perusahaan disebut mempunyai sistem produksi Make to Order yaitu bila perusahaan/produsen menyelesaikan item jika dan hanya jika telah menerima pesanan konsumen untuk item tersebut. PT. Jaya Beton Indonesia merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi tiang pancang dan tiang listrik. Adapun proses produksi dimulai dari persiapan tulangan, pembuatan sangkar (cage forming), pemasangan pile joint plat, perakitan sangkar dengan cetakan, pembuatan adukan beton (concrete mixing) pengecoran adukan beton, penutupan cetakan dan penarikan PC Bar (tensioning), pemutaran cetakan (spinning), steam curing, remoulding, storage. Proses produksi selengkapnya dapat dilihat pada flow process chart dan dijelaskan sebagai berikut. 1. Persiapan tulangan (PC Bar) PC Bar ( =7,1 mm) dengan kekuatan tarik 1445-1500 N/mm 2 dan elongasi >5,0% dipindakan dari gudang penyimpanan ke area pemotongan menggunakan forklift. Selanjutnya PC Bar dipindahkan ke cutting machine menggunakan hoist crane. PC Bar dipotong menggunakan cutting machine dengan ukuran sesuai pesanan (7 m - 15 m). Potongan PC Bar dipindahkan ke area pengheadingan dengan menggunakan hoist crane. Secara manual PC Bar

dimasukkan ke heading machine kemudian diproses untuk membentuk ujung PC Bar menjadi bulat (berkepala) dengan diameter 15 mm. 2. Pembuatan sangkar (cage forming) Dalam pembuatan sangkar diperlukan PC Bar ( = 7,1 mm) dan iron wire ( =3,2 mm). Iron wire dipindahkan dari gudang ke area perakitan dengan menggunakan forklift. Gulungan iron wire ditempatkan ke cage forming machine secara manual. Cover ring dipasang sesuai diameter sangkar yang akan dibuat. PC Bar yang sudah melewati tahap pengheadingan dipasang pada plat tembaga langsung ke plat penarik. Selanjutnya ujung iron wire dipasangkan pada PC Bar. Pengelasan iron wire secara otomatis dilakukan. Pada masing-masing ujung sangkar berjarak 1m ± 100 mm jarak spiralnya 40-80 mm, sedangkan jarak spiral 1m ± 100 mm dari ujung pertama adalah 80-120 mm sampai 1m ± 100 mm. Setelah selesai pengelasan, ujung PC wire dipotong menggunakan tang. Sangkar yang telah selesai dibuat dipindahkan ke area pemasangan joint secara manual. 3. Pemasangan pile joint plate Sangkar yang telah selesai selanjutnya dipasangi pile joint plate ( = sesuai dengan diameter luar produk yang akan dibuat). Ujung PC bar yang berkepala ditempatkan pada lubang-lubang yang ada di pile joint plate. Baut berukuran ¾ inchi ditempatkan pada locking pin hole yang berfungsi untuk menahan agar PC Bar tidak lepas.

4. Perakitan sangkar dengan cetakan Cetakan diolesi dengan minyak CPO sebelum dilakukan pengecoran. Selanjutnya dipindahkan ke area placing dengan menggunakan over head crane. Sangkar yang telah dipasangi pile joint plate dipindahkan ke area placing menggunakan over head crane dan ditempatkan di dalam cetakan bagian bawah. 5. Pembuatan adukan beton (concrete mixing) Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat adukan beton adalah air, semen, kerikil, pasir, dan plascitizer sebagai admixture. Sebelum digunakan dalam proses ini, terlebih dahulu mutu bahan diinspeksi. Semen, kerikil, dan pasir dimasukkan ke dalam batching plant dengan menggunakan conveyor. Air dan plascitizer dialirkan ke batching plant melalui selang. Pengadukan terhadap bahan-bahan tersebut selama 5 menit dengan putaran 45 rpm. Hasil pengadukan dipindahkan ke trolley hopper atas kemudian ke trolley hopper bawah selanjutnya ke concrete placing machine dengan membuka gate trolley hopper. 6. Pengecoran adukan beton Setelah adukan beton dipindahkan ke concrete placing machine, pengecoran dilakukan dengan menjalankan concrete placing machine sepanjang mould yang akan dicor sambil membuka gate perlahan-lahan. Kemudian adukan beton diratakan.

7. Penutupan cetakan dan penarikan PC Bar (tensioning) Setelah adukan beton rata dilakukan penutupan cetakan. Cetakan atas dibawa dengan over head crane. Setelah penutup atas cetakan tepat menutupi cetakan, maka seluruh baut cetakan dikencangkan dengan menggunakan impact tool. Bila seluruh baut telah dikencangkan maka dilakukan prestressing terhadap PC Bar menggunakan tensioning jack (kekuatan tarik 750 kg/cm 2 ). Selanjutnya cetakan dipindahkan ke spinning machine. 8. Pemutaran cetakan (spinning) Pada bagian pemutaran (spinning) terdapat roda atau roll pemutar yang akan memutar cetakan. Setelah cetakan diletakkan di atas roll pemutar maka spinning machine akan menggerakkan roll. Pemutaran cetakan bertujuan untuk memadatkan adonan beton dalam cetakan dengan memanfaatkan gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh mesin. Cetakan diputar dengan kecepatan dan lama putaran sesuai dengan diameter luar produk. Selanjutnya cetakan yang telah selesai melalui proses spinning dipindahkan ke bak uap menggunakan over head crane. 9. Steam curing Steam curing merupakan proses pengeringan dengan menggunakan uap air yang dialirkan dari boiler ke bak uap bertujuan untuk mempercepat pengerasan beton. Proses penguapan dilakukan selama lebih kurang 4 jam pada suhu 70 o C. Dari bak uap selanjutnya dipindahkan ke area pembukaan cetakan menggunakan over head crane.

10. Remoulding Remoulding merupakan proses pembukaan cetakan. Cetakan bagian atas dibuka dengan terlebih dahulu melepaskan baut menggunakan impact tool. Cetakan bagian atas dipindahkan menggunakan over head crane. Selanjutnya produk dipindahkan ke bagian pengecatan. Produk diinspeksi apakah sudah sesuai dengan standar. Selanjutnya kedua ujung produk dicat dan produk diberi label akta produksi. 11. Storage Produk yang telah selesai diinspeksi dan dicat selanjutnya dipindahkan ke stock area menggunakan over head crane. 2.10. Mesin dan Peralatan 2.10.1. Mesin Produksi Dalam melakukan proses produksinya, PT. Jaya Beton Indonesia menggunakan beberapa mesin dan peralatan. Adapun mesin-mesin yang digunakan oleh PT. Jaya Beton Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2.2. Tabel 2.2. Mesin Produksi No. Nama Mesin Kegunaan Spesifikasi 1. Cutting Machine Untuk memotong PC Bar Buatan : Takasima sesuai ukuran yang Type : TB-1 dibutuhkan Kapasitas : 30 m/min Tahun : 1978

Tabel 2.2. Mesin Produksi (Lanjutan) No. Nama Mesin Kegunaan Spesifikasi 2. Heading Machine Untuk membuat kepala 1. Tipe : SH-40 di kedua ujung PC Bar Tahun : 1986 2. Tipe : SH-40 Tahun : 1978 3. Spinning Untuk memutar roll Machine spinning agar adukan beton di dalam cetakan menjadi padat 4. Cage forming Untuk membentuk Machine sangkar produk 5. Batching Plant Untuk mencampur atau mengaduk pasir, semen, kerikil, dan plascitizer selama 5 menit sehingga homogeny 1. Buatan : Tatchi/Baldor Tipe : 45 Kw Diameter : 300-400 mm Tahun : 1995 2. Buatan : Kodama (Meiden) Tipe : EB-MHC Motor 30 Kw Diameter : 300-400 mm Tahun : 1986-Jepang 3. Buatan : Kodama (Meiden) Tipe : EB-MHC Motor 30 Kw Diameter : 300-400 mm Tahun : 1982-Jepang Model : P 400 13B Buatan : Hiraoka (Jepang) Tahun : 1978 Merk : Nikko-Jepang Model : BPU 100A Kapasitas : 60 m3/ hr

Tabel 2.2. Mesin Produksi (Lanjutan) No. Nama Mesin Kegunaan Spesifikasi 6. Concrete placing Untuk menempatkan Buatan : Lokal JBI machine adonan pengecoran pada cetakan 2.10.2. Peralatan (Equipment) Dalam mendukung kegiatan produksi diperlukan adanya material handling yang berperan sebagai sarana transportasi untuk memindahkan material. Alata material handling dan peralatan lainnya yang digunakan dalam proses produksi dapat dilihat pada Tabel 2.3. Tabel 2.3. Peralatan/Equipment No. Nama Peralatan Kegunaan 1. Overhead Crane - Untuk memindahkan sangkar ke area placing - Untuk memindahkan cetakan ke area placing - Untuk memindahkan cetakan dari spinning machine ke area steam curing - Untuk memindahkan cetakan dari bak steam curing ke area remoulding - Untuk memindahkan cetakan ke area pengecatan - Untuk memindahkan produk ke stock area 2. Belt Conveyor Untuk memindahkan pasir, kerikil, dan semen dari bucket ke batching plant 3. Tensioning jack Untuk menarik PC Bar agar menjadi tegang, dilakukan setelah proses pengecoran 4. Hoist crane Untuk memindahkan PC Bar dari area pemotongaan ke area pengheadingan

Tabel 2.3. Peralatan/Equipment (Lanjutan) No. Nama Peralatan Kegunaan 5. Tang Untuk memotong iron wire setelah selesai proses pembuatan sangkar (cage forming) 6. Kuas - Sebagai alat untuk membantu kegiatan pengolesan minyak CPO ke cetakan - Sebagai alat untuk membantu kegiatan pemberian label akta produksi dan pengecatan ujung produk 7. Forklift Untuk memindahkan gulungan PC Bar dan iron wire dari gudang ke area produksi 8. Meteran Untuk mengukur diameter produk 9. Vernier caliper Untuk mengukur diameter iron wire 10. Trolley Hopper Untuk memindahkan adonan beton dari batching plant ke concrete placing machine 11. Bucket Sebagai tempat pasir, kerikil, dan semen sebelum dipindahkan ke batching plant 12. Impact Tool Untuk mengencangkan dan mengendurkan baut 13. Cetakan Sebagai wadah untuk membentuk produk, baik tiang pancang maupun tiang listrik. 2.10.3. Utilitas Utilitas adalah sarana penunjang untuk membantu semua kegiatan dalam suatu bangunan atau gedung. Untuk kelancaran kegiatan produksi pada PT. Jaya Beton Indonesia diperlukan unit pendukung seperti pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Utilitas No. Utilitas Jumlah Kegunaan 1. Genset 1 Pembangkit listrik bagi perusahaan apabila terjadi pemadaman arus oleh PLN dengan menghasilkan daya sebesar 450 KVA 2. Boiler 2 Sebagai penghasil uap air dengan suhu 70 0 hingga 100 0 C dan tekanan 7 hingga 8 bar yang digunakan pada proses steam curing. 3. Kompresor 7 Untuk menghasilkan udara bertekanan yang diperlukan oleh impact tool dengan kapasitas 0,75 PK.