II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Biologi dan Reproduksi Ikan Baung Ikan baung (Mystus nemurus CV) secara taksonomis diklasifikasikan kedalam phylum Cordata, kelas Pisces, subkelas Teleostei, ordo Ostariophysi, subordo Siluroidea, famili Bagridae, genus Macrones atau Mystus dan spesies Mystus nemurus C.V (Kottelat et at., 1993). Ikan ini hidup di dasar perairan dan bersifat omnivora dengan makanan utama terdiri atas anak ikan, udang remis, insekta, moluska dan rumput (Djajadiredja, Hatimah dan Arifin, 1977) Nama iokal ikan baung di Jawa Barat dikenal dengan tagih atau senggal atau singah, tageh (Jawa), bawon (Jakarta dan Malaysia) baon (Serawak) niken, siken, tiken, tiken bato, baung putih, kendinya (Kalimantan Tengah); baong (Sumatera) (Weber and de Beaufort, 1965; Djajadiredja er a/., 1977). Induk ikan baung betina matang gonad ditandai dengan adanya perut relatif membesar, dengan permukaan yang lembut, bila diurut telur yang keluar berbentuk bulat utuh berwama agak kecoklatan. Sedangkan induk ikan baung jantan matang gonad ditandai dengan papila yang memanjang dan di bagian ujung berwama memerah dan menyebar kearah pangkal, serta bila diumt tidak selalu mengeluarkan sperma yang berwama putih (Muflikhah, 1993). Induk ikan baung mulai matang gonad pada ukuran 100 gram (Alawi et al., 1992) dan nilai fekunditasnya berkisar antara 57000-95000 butir/kg bobot tubuh sedangkan volume semen berkisar antara 0,8-1,5 ml/kg bobot tubuh (Sukendi, 2001). 2.2. Perkembangan Gonad Perkembangan telur sangat dipengaruhi oleh faktor intemal dan ekstemal (lingkungan dan pakan). Pengarah faktor lingkungan sangat dipengaruhi oleh poros hipotalamus-pituitari dan gonad melalui suatu proses stimulasi atau rangsangan (Bromage, 1992). Dalam hal ini hormon yang berperan adalah GnRH (gonadotropin releasing hormon), gonadotropin dan hormon steroid, yang kedalam proses tersebut
5 akan memungkinkan untuk pemberian perlakuan hormonal melalui penuntikan atau pakan. Dalam proses perkembangan gonad aktivitas gonadotropin tidak secara langsung, tetapi melalui biosintesis hormon steroid gonad pada media perubahan stadia gametogenesis dan spermiasi (Nagahama, 1983 dan 1987). Hormon gonadotropin ini dapat diisolasi dari beberapa ikan teleostei dan memiliki tipe gonadotropin yang mengandung glikoprotein tinggi dan rendah. Gonadotropin yang kaya akan glikoprotein bobot molekulnya 25000-40000 Dalton (Nagahama, 1987). Hormon gonadotropin dengan glikoprotein rendah dapat mengontrol vitelogenesis, sedangkan dengan glikoprotein tinggi mengakibatkan aksi ovulasi (Idler dan Ng, 1983). Secara umum kontrol endokrin terhadap kematangan oosit dan ovulasi pada teleostei adalah GTH (hormon gonadotropin) merangsang (a) sintesa steroid pematangan pada dinding folikel ovari dan (b) sekresi mediator ovulasi (Lam, 1982). Pematangan oosit dan ovulasi terjadi pada betina yang matang gonad akibat dari pengaruh hormon gonadotropin - II (GTH- II) yang biasanya dirangsang oleh stimulasi lingkungan yang spesifik. Pengaruh dari GTH- II akan merangsang dua proses yaitu pematangan akhir oosit dan pemecahan oosit dari folikel yang mengakibatkan terjadinya ovulasi. Selanjutnya progesteron atau steroid yang berhubungan terutama 17a, 20 P - P dan 17 a P adalah paling potensial secara in vitro menaikkan germinal visicle break down (GVBD) pada ikan Oncorhynchus kisulch, Salvelinus fontinalis, Salmo gaidneri, Esox lucius, Carasius auratus dan Cyprinus carpio (Kanatani dan Nagahama dalam de Vlaming, 1983). Tingkat kematangan gonad (TKG) pada ikan merupakan tahap tertentu dari perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Pada tiap tingkat kematangan gonad (TKG) ukuran diameter telur mempunyai kisaran nilai yang terbanyak (Effendie, 1979). Pelepasan telur secara spontan (ovulasi) berhasil dilakukan melalui pemijahan buatan pada ikan-ikan yang diameter rata-rata telumya
6 telah mencapai ukuran tertentu dan akan memiliki satu macam distribusi telur (LeeetaL, 1986). 3.3. Peranan hcg dan Kelenjr Hipofisa Human chorionic gonadotropin (hcg) adalah hornion gonadotropin yang disekresikan oleh wanita hamil dan disentesa oleh sel-sel sintetis tropoblas dari plasenta serta memiliki bobot molekul 38600 Dalton (Lieberman, 1995). Hormon ini sangat efektif digunakan dalam reproduksi ikan. Dosis yang diperlukan untuk setiap jenis ikan sangat bervariasi, tergantung kepada bagaimana dekatnya hubungan gonadotropin yang dimiliki terhadap hcg (Lam, 1985). hcg secara in vitro menyebabkan kematangan gonad ikan gobi {Gillicthys mirahillis) menstimulasi vitelogenesis ovari ikan Gasterosteus aculeatus (devlaming dalam Epier, et al., 1986), dan tingkat akselerasi perkembangan ovari ikan mola (Hypopthalmichtys molitrix) (Verigin et al dalam EpIer, 1986). Penggunaan hcg memiliki beberapa kelebihan antara lain : penggunaannya yang luas, mudah pengadaannya dan konsisten potensinya, serta bila tidak berespon karena adanya reaksi immunological dan juga perubahan ovari meningkat secara tajam yang kemungkinan karena kelebihan stimulasi (Bromage, 1992; Lieberman, 1995). Hormon hcg efektif untuk menggantikan ekstrak kelenjar hipofisa ikan mas dalam merangsang ovulasi ikan Clarias macrocephalus (Lam, 1985) serta efektif merangsang pematangan oosit dan ovulasi ikan (Zohar, 1989). Pemberian hcg pada ikan akan mempercepat ritme hormon endogenous yang akan menentukan siklus dalam aktivitas ovari, yaitu mempengaruhi pembentukan hormon-hormon testosteron, progesteron 17 a hidroksi progesteron, 17 a, 20 P - Pg. Hormon 17 a, 20 p - Pg terbukti berperan sebagai penyebab kematangan oosit. hcg dapat tinggal di aliran darah pada ikan-ikan subtropis sekitar 2 hari pada kondisi subtropis dan diperkirakan gonadotropin akan dimobilisasi lebih cepat pada kondisi tropis.
7 Hormon hcg lebih efektif jika diberikan dalam bentuk kombinasi dengan kelenjar hipofisa dalam merangsang ovulasi ikan Plecoglostus altivelis dan ikan koan (EpIer et al., 1986). Dikatakan juga bahwa hcg diberikan dalam bentuk kombinasi dengan ekstrak hipofisa akan meningkatkan kematangan oosit bila dibandingkan dengan pemakaian hcg sendiri. Hidroksi progesteron, 17 a, 20 j3 - Pg. Hormon 17 a, 20 p - Pg terbukti berperan sebagai penyebab kematangan oosit. hcg dapat tinggal di aliran darah pada ikan-ikan subtropis sekitar 2 hari pada kondisi subtropis dan diperkirakan gonadotropin akan dimobilisasi lebih cepat pada kondisi tropis. 2.4. Ovulasi dan Pemijahan Buatan Ovulasi merupakan proses keluamya sel telur yang telah mengalami pembelahan meiosis pertama dari folikel ke dalam rongga ovarium (Nagahama, 1983). Selama ovulasi terjadi adanya proses pemisahan antara sel-sel folikel dan oosit. Pada saat yang sama, folikel menyebabkan telur tetap pada dinding ovari yang memperoleh pasokan dari enzim dan telur matang untuk pembuahan jatuh ke dalam lubang ovari. Perlakuan hormon untuk merangsang kematangan oosit dan ovulasi membuat kemungkinan keberhasilan pemijahan beberapa spesies ikan (Lam, 1982), ditambahkan oleh Harvey dan Hoar (1979); Woynarovich dan Horvath (1980) bahwa pemijahan ikan dapat dipercepat dengan memberikan rangsangan hormonal. Hormon yang digunakan antara lain hcg, LHRH (luteinizing hormone releasing hormone), ovaprim dan kelenjar pituitari. Namun secara umum hormon yang dapat digunakan untuk merangsang terjadinya ovulasi pada ikan adalah : 1) Antitestoteron; 2) Gonadotropin Releasing Hormon; 3) Dopamin antagonis; 4) Gonadotropin; 5) Steroid dan 6) Prostaglandin. Kontrol endokrin terpadu pada proses pematangan akhir oosit dan ovulasi seperti digambarkan oleh Munro dan Lam (1996) pada Gambar 1.
8 Jaringan ekstrak folikel Prostaglandin GtH-II dinding folikel Produksi 17a - P (Sintesa dari MRS- enzim-enzim sintesa Produksi MRS OVULASI Oosit - air diambil GVM (Sintesa reseptor MRS) GVBD dan Gambar 1. Mekanisme kontrol endokrin pada proses terpadu pematangan akhir oosit ovulasi (Munro dan Lam, 1996) Keterangan : GtH- II GVBD GVM MRS = Gonadotropin II = Germinal Vesicle Break Down = Germinal Vesicle Migration = Maturation Resolving Steroid