PENDAHULUAN. - Persiapan :

dokumen-dokumen yang mirip
PERCOBAAN 6 RESONANSI

LABORATORIUM TEKNIK ELEKTRO UNIVER SITAS ISL AM K ADI R I PENDAHULUAN

MODUL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA LABORATORIUM TEKNIK ELEKTRO JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ISLAM KADIRI KEDIRI

Gambar 3. (a) Diagram fasor arus (b) Diagram fasor tegangan

MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN LISTRIK LABORATORIUM SISTEM ELEKTRONIKA TELKOM UNIVERSITY

MODUL FISIKA. TEGANGAN DAN ARUS BOLAK-BALIK (AC) DISUSUN OLEH : NENIH, S.Pd SMA ISLAM PB. SOEDIRMAN

RANGKAIAN ARUS BOLAK-BALIK.

Rangkaian Arus Bolak Balik. Rudi Susanto

RESONANSI PADA RANGKAIAN RLC

Modul 02: Elektronika Dasar

MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN LISTRIK

PERCOBAAN 3 RANGKAIAN OP AMP

DAYA ELEKTRIK ARUS BOLAK-BALIK (AC)

PENDAHULUAN. Modul Praktikum Rangkaian Linear Aktif. Lab. Elektronika Fakultas Teknik UNISKA

MODUL 5 RANGKAIAN AC

LEMBAR KERJA SISWA (LKS) /TUGAS TERSTRUKTUR - - INDUKSI ELEKTROMAGNET - INDUKSI FARADAY DAN ARUS

MODUL PRAKTIKUM ELOKTRONIKA DASAR. Program Studi Pendidikan Fisika. FKIP-Universitas Prof Dr. Hamka UHAMKA

MODUL I RANGKAIAN SERI-PARALEL RESISTOR

INDUKSI EM DAN HUKUM FARADAY; RANGKAIAN ARUS BOLAK BALIK

ANALISIS RANGKAIAN RLC ARUS BOLAK-BALIK

Tujuan Mempelajari pengertian impedansi Mempelajari hubungan antara impedansi, resistansi, dan reaktansi pada rangkaian seri RC dan RL Mempelajari hub

TRAINER FEEDBACK THYRISTOR AND MOTOR CONTROL

FASOR DAN impedansi pada ELEMEN-elemen DASAR RANGKAIAN LISTRIK

K13 Revisi Antiremed Kelas 12 Fisika

Pengkondisian Sinyal. Rudi Susanto

PERCOBAAN 10 RANGKAIAN DIFFERENSIATOR DAN INTEGRATOR OP-AMP

Arus Bolak Balik. Arus Bolak Balik. Agus Suroso Fisika Teoretik Energi Tinggi dan Instrumentasi, Institut Teknologi Bandung

A. Kompetensi Mengukur beban R, L, C pada sumber tegangan DC dan AC

LAPORAN PRAKTIKUM LISTRIK MAGNET Praktikum Ke 1 KUMPARAN INDUKSI

KATA PENGANTAR. 0 Modul Praktikum RL Tehnik Elektro UNISSULA

MODUL 1 GENERATOR DC

ARUS BOLAK-BALIK Pertemuan 13/14 Fisika 2

LEMBAR TUGAS MAHASISWA ( LTM )

KARAKTERISTIK DIODA, PENYEARAH DAN FILTER

SOAL DAN PEMBAHASAN ARUS BOLAK BALIK

ELEKTRONIKA FISIS DASAR I RANGKAIAN ARUS BOLAK-BALIK (AC)

Antiremed Kelas 12 Fisika

Berikut ini rumus untuk menghitung reaktansi kapasitif dan raktansi induktif

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS FILTER INDUKTIF DAN KAPASITIF PADA CATU DAYA DC

ANALISIS RANGKAIAN RLC

PRAKTIKUM TEKNIK TELEKOMUNIKASI 1 / RANGKAIAN LISTRIK / 2015 PERATURAN PRAKTIKUM. 1. Peserta dan asisten memakai kemeja pada saat praktikum

Penguat Inverting dan Non Inverting

BAB 1 RESONATOR Oleh : M. Ramdhani

INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 2 (PENGUAT INVERTING)

MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA Bagian II

JOBSHEET PRAKTIKUM 8 HIGH PASS FILTER

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA MERANGKAI DAN MENGUJI OPERASIONAL AMPLIFIER UNIT : VI

Menganalisis rangkaian listrik. Mendeskripsikan konsep rangkaian listrik

Review Hasil Percobaan 1-2

BAB I TEORI RANGKAIAN LISTRIK DASAR

UNIT I MOTOR ARUS SEARAH MEDAN TERPISAH. I-1. JUDUL PERCOBAAN : Pengujian Berbeban Motor Searah Medan Terpisah a. N = N (Ia) Pada U = k If = k

ULANGAN AKHIR SEMESTER GANJIL 2015 KELAS XII. Medan Magnet

V L V R V C. mth 2011

CIRCUIT DASAR DAN PERHITUNGAN

LABORATORIUM TEKNIK ELEKTRONIKA DAN TEKNIK DIGITAL Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Jl. D.I. Panjaitan 128 Purwokerto

JOBSHEET 9 BAND PASS FILTER

BAB 2 RANGKAIAN PENYESUAI IMPEDANSI Oleh : M. Ramdhani

RANGKAIAN PENYESUAI IMPEDANSI. Oleh: Team Dosen Elkom

BAB II LANDASAN TEORI

09. Pengukuran Besaran Listrik JEMBATAN ARUS BOLAK BALIK

Rangkaian RLC Arus AC (E7)

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA LAB SHEET RANGKAIAN LISTRIK. Pengaruh Frekuensi Terhadap Beban Semester I

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. induk agar keandalan sistem daya terpenuhi untuk pengoperasian alat-alat.

MODUL 2 RANGKAIAN RESONANSI

Politeknik Negeri Bandung

hubungan frekuensi sumber tegangan persegi dengan konstanta waktu ( RC )?

PENENTUAN FREKUENSI OSILASI LC DARI KURVA TEGANGAN INDUKTOR DAN KAPASITOR TERHADAP FREKUENSI. Islamiani Safitri* dan Neny Kurniasih

Breadboard Breadboard digunakan untuk membuat dan menguji rangkaian-rangkaian elektronik secara cepat, sebelum finalisasi desain rangkaian dilakukan.

BAB I FILTER I. 1. Judul Percobaan. Rangkaian Band Pass Filter. 2. Tujuan Percobaan

MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN LISTRIK

JOBSHEET 2 PENGUAT INVERTING

Rangkaian Arus Bolak- Balik dan Penerapannya

Praktikum Rangkaian Elektrik

PENGUKURAN INDUKTANSI SALURAN KOAKSIAL

Elektronika Telekomunikasi Modul 2

Workshop Instrumentasi Industri Page 1

IMPEDANSI KARAKTERISTIK SALURAN DUA KAWAT

MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN LISTRIK

PENGGUNAAN ALAT UKUR ANALOG

e. muatan listrik menghasilkan medan listrik dari... a. Faraday d. Lenz b. Maxwell e. Hertz c. Biot-Savart

Tujuan Mempelajari penggunaan instrumentasi Multimeter, Osiloskop, dan Pembangkit Sinyal Mempelajari keterbatasan penggunaan multimeter Mempelajari ca

Pengukuran dengan Osiloskop dan Generator Sapu

JOB SHEET MESIN LISTRIK 2. Percobaan Paralel Trafo

MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Osiloskop (Gambar 1) merupakan alat ukur dimana bentuk gelombang sinyal listrik yang diukur akan tergambar pada layer tabung sinar katoda.

Praktikum Rangkaian Elektronika MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

ANALISIS RANGKAIAN. Oleh: Pujiono. Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2013

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB II SISTEM DAYA LISTRIK TIGA FASA

RANGKAIAN RLC. I. TUJUAN 1. Untuk mengetahui sifat rangkaian RLC.

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

TUJUAN ALAT DAN BAHAN

Teknik Tenaga Listrik (FTG2J2)

PRAKTIKUM RANGKAIAN RLC DAN FENOMENA RESONANSI

RANCANG BANGUN PENYEARAH AC TO DC RESONANSI SERI DENGAN ISOLASI TERHADAP FREKUENSI TINGGI

ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI

Transkripsi:

RANGKAIAN LISTRIK LABORATORI UM TEKNI K ELEKTRO JURUSAN TEKNI K ELEKTRO FAKULTAS TEKNI K UNI VERSI TAS I SLAM KADI RI KEDI RI

PENDAHULUAN A. UMUM Sesuai dengan tujuan pendidikan di UNISKA, yaitu : - Pembinaan hidup bermasyarakat - Pembinaan sikap ilmiah - Pembinaan sikap kepemimpinan - Pembinaan keahlian Maka tugas dari Laboratorium Fakultas Teknik UNISKA antara lain : - Memperkuat konsep - Melengkapi kuliah - Melatih keterampilan / penerapan teori Dengan demikian praktikum Mikroprosessor adalah melatih keterampilan dalam menerapkan teori-teori yang diperoleh dari mata kuliah Sistem Mikroprosessor. Disamping itu praktikum Mikroprosessor dapat mengasah kemampuan mahasiswa untuk mengaplikasikan Mikroprosessor sebagai salah satu peralatan pengontrol otomatis yang saat ini banyak digunakan dalam bidang industri. Kesungguhan dan ketertiban dalam melakukan praktikum merupakan prasyarat utama untuk mencapai keberhasilan praktikum anda. Oleh karena itu, selama anda melaksanakan praktikum di laboratorium Elektronika ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan : 1. Selama praktikum, praktikan dibimbing oleh asisten dan untuk itu praktikan harus mempersiapkan segala sesuatu tentang percobaan yang akan dilakukan seperti yang ada pada BUKU PETUNJUK PRAKTIKUM bersama rekan praktikumnya. 2. Sebelum melaksanakan praktikum, periksalah semua peralatan yang akan digunakan dan pinjamlah peralatan yang belum ada. 3. Dalam melaksanakan praktikum perlu diperhatikan penggunaan waktu yang ada, karena waktu pelaksanaan Praktikum Mikroprosessor adalah 3 jam. Rincian penggunaan adalah seperti berikut : - Persiapan : Untuk persiapan, praktikan diberi waktu 30 menit dan pada saat persiapan tugas praktikan adalah : menyerahkan tugas pendahuluan dan meminjam peralatan yang belum ada. PENDAHULUAN ii

- Melakukan Percobaan : Dalam melakukan percobaan praktikan diberi waktu ± 120 menit dan sisanya (30 menit) digunakan untuk mencata hasil praktikum dalam lembar Laporan Sementara. 4. Tugas pendahuluan dikumpulkan sebelum praktikum dimulai kepada asistenya masing-masing. 5. Praktikan dilarang mengerjakan Tugas Pendahuluan di lingkungan Laboratorium. 6. Sebelum melakukan percobaan, setiap praktikan harus mempersiapkan Laporan Resmi yang telah ditulisi dengan tujuan percobaan, teori, cara kerja, serta persiapkan pula kertas karbon dan kertas grafik bila diperlukan. B. TATA TERTIB Tata tertib yang harus diperhatikan dan ditaati selama melakukan praktikum Mikroprosessor adalah : 1. Praktikan harus hadir 10 menit sebelum praktikum dimulai. 2. Praktikan baru diperkenankan masuk Laboratorium setelah percobaan yang akan dilaksanakan dinyatakan SIAP oleh asisten. 3. Sebelum melakukan praktikum, semua perlengkapan kecuali buku petunjuk praktikum, alat tulis dan peralatan penunjang harus diletakkan di tempat yang telah ditentukan. 4. Setiap praktikan harus melakukan percobaan dengan rekan praktikum yang telah ditentukan. 5. Selama mengikuti praktikum, praktikan harus berpakaian sopan dan tidak diperbolehkan memakai sandal, bertopi, merokok, membuat gaduh, dan lain-lain. 6. Selama praktikum, praktikan hanya diperbolehkan menyelesaikan tugasnya pada meja yang telah disediakan (melakukan percobaan, membuat laporan sementara dan resmi). 7. Selama melakukan percobaan, semua data hasil percobaan ditulis dalam kolom-kolom tabel yang dipersiapkan terlebih dahulu. Laporan sementara dibuat rangkap n + 1 dan dilaporkan pada asisten untuk ditanda tangani. n adalah jumlah praktikan dalam satu kelompok. 8. Berdasarkan Laporan Sementara yang telah disetujui oleh asisten, setiap praktikan membuat Laporan Resmi sesuai dengan tugas yang diberikan dalam buku petunjuk, kemudian diserahkan kepada asisten masing-masing dengan dilampiri laporan sementara. PENDAHULUAN iii

9. Jika praktikan akan meninggalkan ruang praktikum, harus melaporkan pada asisten dan demikian pula sebaliknya. 10. Praktikan yang sudah menyelesaikan tugas-tugasnya, diharuskan meninggalkan ruang praktikum. C. SANKSI Ada beberapa sanksi yang dapat diterapkan terhadap praktikan yang melanggar peraturan tata tertib : 1. Pelanggaran tehadap : a. Point A-5, asisten berhak melakukan pencoretan terhadap tugas yang telah dikerjakan. b. Point A-6, B-1, B-5, B-6, dan B-9 dikenakan sanksi pembatalan percobaan yang dilakukan. c. Point A-2, B-3, B-4, dan B-9 dikenakan sanksi peringatan dan apabila telah mendapatkan peringatan 3 kali, praktikan akan dikeluarkan dan mendapat Nilai E. 2. Praktikan yang melakukan kecurangan dapat dikenakan sanksi berupa pembatalan seluruh praktikum dan diberi Nilai E. 3. Praktikan yang karena kelalaiannya menyebabkan kerusakan atau menghilangkan alat milik laboratorium harus mengganti alat tersebut. Apabila dalam waktu yang ditentukan belum mengganti, maka tidak diperkenankan mengikuti praktikum berikutnya. 4. Praktikan yang tidak mengikuti praktikum sebanyak 4 kali diberi sanksi pembatalan seluruh praktikum dan diberi Nilai E. 5. Sanksi lain yang ada di luar sanksi-sanksi diatas ditentukan kemudian oleh Kepala Laboratorium. PENDAHULUAN iv

DAFTAR ISI PENDAHULUAN... DAFTAR ISI... ii v PERCOBAAN I. TEOREMA THEVENIN DAN NORTON... 1 PERCOBAAN II. RANGKAIAN DENGAN KOPLING MAGNETIK... 8 PERCOBAAN III. RANGKAIAN RC DAN RL... 15 PERCOBAAN IV. RANGKAIAN RESONANSI... 27 LAMPIRAN... 35 DAFTAR ISI v

PERCOBAAN I TEOREMA THEVENIN DAN NORTON 1. TUJUAN a. Mempelajari penggunaan teorema Thevenin dan teorema Norton pada arus searah. 2. PENDAHULUAN 2.1. Teorema Thevenin Suatu rangkaian aktif (dengan sumber tegangan dan atau sumber arus dependen maupun independen) yang bersifat linier dengan 2 kutub (terminal) a dan b, dapat diganti dengan : satu sumber tegangan seri dengan sebuah resistor dengan resistansi. Rangkaian aktif linier a b V T R T a b Gambar 1.1. Konsep Teorema Thevenin V T = Tegangan pada a-b dalam keadaan tanpa beban (open circuit Voc). R T = Resistansi pada a-b dilihat kearah rangkaian dengan semua sumber independen diganti dengan resistansi dalamnya. Dengan teorema ini kita dapat menghitung arus beban dengan cepat bila beban di ubah- ubah. 2.2. Teorema Norton Suatu rangkaian aktif (dengan sumber tegangan dan atau sumber arus dependen maupun independen) yang bersifat linier dengan 2 kutub (terminal) a dan b dapat diganti dengan : satu sumber arus parallel dengan satu resistor dengan resistansi. Rangkaian aktif linier a b + I N R N a b Gambar 1.2. Konsep Teorema Norton TEOREMA THEVENIN DAN NORTON 1

IN = Arus melalui a-b dalam keadaan hubung singkat (short circuit = I SC ). RN = Resistansi pada a-b dilihat kearah rangkaian dengan semua sumber independen diganti dengan resistansi dalamnya. Dapat dibuktikan bahwa : R N = R T = V CC I SC dan I N = I SC = V T R T 3. ALAT ALAT YANG DIGUNAKAN a. Kit praktikum Thevenin dan Norton b. AVO Meter analog c. AVO meter digital d. Kabel penghubung secukupnya. SUMBER TEGANGAN + - A B RANGKAIAN N D E E SUMBER ARUS R 1 R 2 R 3 R 4 F BEBAN Gambar 1.3. Denah kit praktikum 4. CARA MELAKUKAN PERCOBAAN 4.1. Teorema Thevenin (Rangkaian 1) Dalam percobaan ini teorema thevenin dipergunakan untuk mencari arus pada beban R (R 1, R 2, R 3 dan R 4 ) pada cabang C-D secara tidak langsung, dengan mengukur V T, R T, dan R. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan pengukuran arus melalui beban secara langsung dengan membaca ma-meter. TEOREMA THEVENIN DAN NORTON 2

a. Gunakan Kit Teorema Thevenin dan Norton. Pasanglah sumber tegangan searah 20 Volt pada A-B, pada titik C-D pasanglah ma digital (pada range 20 ma) seri dengan beban R 1,seperti gambar dibawah ini. Bacalah dan catat arus melalui R 1. 20V A B RANGKAIAN N D E A i Gambar 1.4. Pengukuran arus rangkaian b. Bukalah beban dan ma-meter, sehingga C-D terbuka (open circuit). Ukurlah tegangan open circuit C-D (sama dengan V T ) dengan Voltmeter elektronik yang mempunyai impedansi input tinggi (seperti gambar dibawah ini). Tegangan sumber A-B harus tetap = 20 volt. A D 20V RANGKAIAN N V B E Gambar 1.5. Pengukuran tegangan Thevenin c. Untuk mengukur R T, yaitu resistansi yang dilihat pada terminal C-D ke kiri, bukalah atau lepaskan sumber tegangan dari A-B dan hubung singkatkan A-B (seperti gambar dibawah ini) A D RANGKAIAN B N E Ohm Meter Gambar 1.6. Pengukuran resistansi Thevenin/Norton (R T ) d. Ukurlah resistansi pada terminal C-D dengan Ohm meter. e. Ukurlah resistansi R 1. TEOREMA THEVENIN DAN NORTON 3

f. Hitunglah arus melalui R 1 dari : I = V T R T + R 1 a R T I V T R1 b Gambar 1.7. Pengukuran arus pada rangkaian pengganti thevenin 1 g. Bandingkanlah hasil Perhtungan (f) tersebut dengan hasil yang peroleh dari pengukuran langkah (a). h. Ulangi langkah (a) (e) untuk harga R = R 2, R = R 3, dan R = R 4. i. Tuliskan hasil percobaan diatas pada tabel yang tersedia pada lembar kerja. 4.2. Teorema Thevenin (Rangkaian 2) a. Buatlah rangkaian sebagai berikut : B A RANGKAIAN N D C R T I V = V T - + A R = R 1 Gambar 1.8. Pengukuran arus pada rangkaian pengganti thevenin 1 b. Aturlah tegangan V sama dengan harga V T yang telah diukur pada langkah 4.1.b. c. Sebagai dipergunakan rangkaian N dengan A-B dihubung singkatkan dan dipasang menurut gambar diatas. d. Ukurkah arus yang mengalir di R 1 dengan ma-meter. TEOREMA THEVENIN DAN NORTON 4

e. Ulangi percobaan tersebut untuk R = R 2, R = R 3, dan R = R 4 (hubung singkat). f. Tuliskan hasil percobaan diatas pada tabel yang tersedia pada lembar kerja. 4.3. Teorema Norton Rangkaian pada percobaan 4.1.a diatas dapat diganti dengan sebuah sumber arus parallel dengan suatu resistansi yang besarnya sama dengan R T. a. Mencari I N pasanglah sumber tegangan searah 20 volt pada A-B. Ukurlah arus hubungan singkat pada C-D (pasanglah ma-meter langsung pada C-D) b. R N = R T dapat diperoleh dengan percobaan 4.1.c tetapi dalam hal ini rangkaian N akan kita pergunakan sebagai I N. c. Aturlah sumber arus sehingga menghasilkan arus sebesar I N seperti telah diperoleh dari percobaan 4.3.a. Buatlah rangkaian sebagai berikut : E A C SUMBER ARUS I N RANGKAIAN N R N R 1 A F B D Gambar 1.9. Pengukuran arus rangkaian pengganti Norton d. Ukurlah arus melalui ma-meter untuk R = R2, R = R3, dan R = R4. e. Tulislah hasil pengamatan pada tabel dalam lembar kerja. 5. TABEL HASIL PERCOBAAN Tabel Teorema Thevenin dan Norton Dengan tegangan Vab = 20 volt Pengukuran... ma (perc. 4.1.a) V T =... volt (perc. 4.1.b) R T = R N =... ohm (perc. 4.1.c) I N =... ma (perc. 4.3.a) TEOREMA THEVENIN DAN NORTON 5

Arus melalui resistor R Beban R Pengukuran langsung dengan ma meter (perc. 4.1.a) Perhitungan dengan teorema Thevenin I = V T R T + R (perc. 4.1.e) Pengukuran dengan teorema Thevenin (perc. 4.2.d) Pengukuran dengan teorema Norton (perc. 4.3.d) R = R1 R = R2 R = R3 R = R4 6. MENGAKIRI PERCOBAAN a. Sebelum meninggalkan meja percobaan,rapikan meja praktikum. Bereskan kabel dan matikan osiloskop, generator sinyal, dan power supply DC. Cabut daya dari jala jala ke kit praktikum. Pastikan juga multimeter analog dan multimeter digital ditinggalkan dalam keadaan mati (selector menunjuk ke pilihan off). Praktikan yang tidak membereskan meja praktikum akan mendapatkan potongan nilai. b. Pastikan dosen pembimbing anda telah menandatangani catatan percobaan kali ini pada pada Laporan Hasil Percobaan anda. Catatan percobaan yang tidak ditandatangani oleh dosen tidak dapat dilampirkan dalam Laporan Hasil Praktikum (Laporan hasil praktikum tidak dapat dinilai). TEOREMA THEVENIN DAN NORTON 6

7. Tugas a. Kesimpulan apakah yang dapat saudara peroleh dari percobaan 1? b. Kesimpulan apakah yang dapat saudara peroleh dari percobaan 2? c. Apakah pengaruh resistansi dalam sumber tegangan pada percobaan ini? d. Bandingkanlah resistansi dalam sumber arus yang dipergunakan dalam percobaan ini dengan resisstansi dalam sumber arus ideal! e. Untuk harga R manakah (diantara R1, R2, dan R3), sumber arus yang menghasilkan arus yang dapat dianggap konstan ( I = I N = arus hubung singkat )? f. Keuntungan apakah yang diperoleh dengan menggunakan teorema ini? g. Lingkarilah pernyataan yang dianggap benar : 1) Sumber tegangan ideal mempunyai impedansi dalam = 0 dan sumber arus ideal mempunyai impedansi dalam =. 2) Sumber tegangan ideal mempunyai impedansi dalam = 0 dan sumber arus ideal mempunyai impedansi dalam = 0. 3) Sumber tegangan ideal mempunyai impedansi dalam = dan sumber arus ideal mempunyai impedansi dalam =. TEOREMA THEVENIN DAN NORTON 7

PERCOBAAN II RANGKAIAN DENGAN KOPLING MAGNETIK 1. TUJUAN a. Mempelajari sifat rangkaian dengan kopling magnetic. b. Mempelajari beberapa sifat transformator dan penggunaanya. 2. PENDAHULUAN Dua buah rangkaian atau lebih dikatakan bergandengan bila perubahan arus atau tegangan pada rangkaian yang satu mempengaruhi arus atau tegangan pada rangkaian yang lain. Bila pengaruh perubahan besaran listrik diteruskan melalui medan listrik, maka rangkaian tersebut dikatakan bergandengan kapasitif (galvanis). Pada gandengan tidak langsung ini, besarnya pengaruh rangkaian yang satu kepada yang lain dinyatakan dengan faktor gandengan atau koefisien kopling k yang berharga antara 0 dan 1 (makin rapat jaraknya, makin kuat pengaruhnya). Jadi, untuk dua kumparan yang diketahui bergandengan magnetic, selain dapat induktansi (self inductance), dikenal pula induktansi bersama/gandengan (mutual inductance) yang berbeda dipengaruhi oleh koefisien kopling k. Arah lilitan kumparan yang satu terhadap kumparan yang lain, menentukan polaritas tegangan induktansinya (biasanya dinyatakan dengan tanda dot). Alat yang bekerja berdasarkan pemindahan besaran listrik melalui medan magnet ini, dikenal sebagai transformator. Sebagai sebuah kutub empat yang mempunyai sepasang terminal input dan sepasang terminal output. Kumparan yang terhubung dengan terminal input biasanya disebut kumparan primer sedangkan kumparan yang terhubung pada terminal output biasanya disebut kumparan sekunder. Kumparan-kumparan tersebut dapat dibuat dengan menggunakan inti udara (air core transformer), atau yang lebih umum dibuat dengan menggunakan inti dari bahan ferromagnetik/inti besi (iron core transformer), karena permeabilitasnya µ jauh lebih tinggi dari udara. Perbandingan jumlah lilitan primer dan sekunder menentukan perbandingan tegangan atau arus dari kedua kumparan tersebut. Perlu diingat, meskipun disini seolah-olah terjadi pertambahan tegangan atau arus, tetapi tidak terdapat pertambahan daya. RANGKAIAN DENGAN KOPLING MAGNETIK 8

Jadi dapat dituliskan bahwa : N 1 N 2 = V 1 V 2 = L 1 L 2 V 1 L 1 = V 2 L 2 (untuk Transformator ideal) 3. ALAT ALAT YANG DIPERLUKAN a. Kit praktikum b. Generator Sinyal (GS) c. Osiloskop d. Multimeter e. Tahanan/beban 8,2 Ohm f. Variac 4. CARA MELAKUKAN PERCOBAAN 4.1. Melihat V2 Sebagai Fungsi Jarak. a. Buatlah rangkaian sebagai berikut: SUMBER SINYAL L1 L2 OSILOSKOP V1 V2 Cv2 Cv1 Ch1 Ch2 Gambar 2.1. Melihat V2 sebagai fungsi jarak b. Aturlah frekuensi generator sinyal pada frekuensi resonansi = fr (20 Kc) (lihat pada kit praktikum) dengan amplituda = 2 V PP = V 1 c. Posisi jarak = 0 (kumparan 1 dan kumparan 2 paling dekat). d. C 1 dan C 2 pada posisi minimum (lihat pada kit praktikum). e. Aturlah C 1 dan C 2 sehingga diperoleh harga V 2 yang maksimum. f. Ubahlah posisi jarak mulai dari kedudukan : 0,1,2,3,4 dan ukurlah V 2 pada tiap kedudukan. g. Lakukanlah pengukuran ini untuk 3 buah frekuensi yaitu : F1 = fr : f2 = fr + 10 khz ; f3 = fr 10 khz h. Isikan hasil pengukurannya dalam tabel 1 pada lembar kerja. RANGKAIAN DENGAN KOPLING MAGNETIK 9

4.2. Melihat V2 Sebagai Fungsi ϴ a. Ulangilah langkah percobaan 4.1 dari a sampai dengan e. b. Ukurlah tegangan V2 dengan beda frasa antara V 1 dan V 2 (= ϴ) lakukanlah pengukuran ini untuk 3 buah frekuensi seperti pada 4.1.f c. Kemudian tuliskan hasil pengukurannya kedalam tabel 2 pada lembar kerja (bila frekuensi yang dipilih cukup banyak, response yang diharapkan dapat terlihat dengan jelas). 4.3. Mempelajari Sifat Transformasi Daya Perhatian : 1. Kita bekerja dengan tegangan jala jala listrik. Berhati hatilah! 2. Saat mengunakan Multimeter untuk mengukur tegangan, gunakan batas ukur yang paling tinggi dahulu. Buatlah rangkaian terlebih dahulu, periksalah apakah tidak ada salah hubung atau hubung singkat sebelum kita memasang pada tegangan jala-jala listrik dari PLN. a. Buatlah rangkaian sebagai berikut: 0 a e 10 b f 220 c g 240 d h Gambar 2.2. Rangkaian Transformator daya b. Aturlah tegangan output Variac = 50 Volt. 0 6 9 12 Gambar 2.3. Output variac yang dihubungkan ke transformator RANGKAIAN DENGAN KOPLING MAGNETIK 10

c. Pasangkan tegangan 50 Volt ini (output dari variac) pada a-b (pada waktu memasang, Variac dimatikan dahulu) d. Kemudia ukurlah tegangan V c-a, V d-a, V f-e, V g-e, V h-e dan istilah tabel 3. e. Dengan menganggap bahwa trafo adalah trafo ideal, maka dapat ditentukan perbandingan lilitan trafo tersebut. 4.4. Menentukan Polaritas Transformator a. Hubung singkatkan a-e. pasanglah tegangan 100 Volt (output dari variac) pada a- d (pada waktu memasang, Variac dimatikan dahulu), kemudian ukurlah tegangan V h-e, isilah tabel 4. b. Lepaskan hubungan singkat a-e. c. Hubung singkatkan a-h. Pasanglah tegangan 100 Volt pada a-d (output dari variac) pada a-d (pada waktu memasang, Variac dimatikan dahulu), kemudian ukurlah tegangan V h-e, isilah tabel 4. d. Lepaskan hubungan singkat a-h. e. Dari percobaan a dan c kita telah dapat menentukan polaritas trafo tersebut. 4.5. Menentukan Regulasi Tegangan a. Buatlah rangkaian sebagai berikut: Gambar 2.4. Menentukan regulasi tegangan b. Aturlah tegangan Variac sebesar 100 Volt. c. Pasanglah tegangan 100 Volt pada a b (pada waktu memasang, variac dimatikan dulu) d. Dalam keadaan rb = terbuka (open), kemudian ukurlah tegangan V e-h = V 1 e. Pasanglah rb = 8,2Ω, kemudian ukurlah tegangan V e-h dalam keadaan ini (beban penuh) = V 2. Dapat dihitung arus pada keadaan beban penuh ini = i b f. Fungsi tegangan = V1 V2 V2 100% g. Isikan hasil pengukuran diatas pada tabel -5. RANGKAIAN DENGAN KOPLING MAGNETIK 11

4.6. Mempelajari Transformasi Impedansi Menentukan perbandingan lilitan primer dan sekunder a. Aturlah tegangan output generator sinyal sebesar 5 volt rms pada frekuensi 1 khz. b. Pasanglah tegangan generator sinyal ini pada a b c. Ukurlah tegangan V e-h, kemudian hitunglah perbandingan np/ns. Gambar 2.5. Perbandingan Lilitan Primer dan sekunder Mengukur impedansi input rangkaian dengan transformator a. Buatlah rangkaian sebagai berikut: I 1 np GS V 1 ns Rb 8,2R Z 1 Gambar 2.6. Mengukur impedansi input rangkaian dengan transformator b. Aturlah generator sinyal GS pada frekuensi 1 khz dengan v = 4 Volt rms. c. Ukurlah V 1 dan I 1 d. Kemudian hitunglah impedensi input Z 1 = V 1 I 1 RANGKAIAN DENGAN KOPLING MAGNETIK 12

5. LEMBAR KERJA Tabel 1 V2 sebagai fungsi jarak Tegangan v2 (Vpp) pada posisi jarak V1 = 2 Vpp tetap 0 1 2 4 f1 = fr f2 = fr + 10 Khz f3 = fr 10 Khz Tabel 2 v2 sebagai fungsi ϴ V1 = 2 Vpp tetap V2 (Volt peak to peak) frekuensi (khz) f1 = fr f2 = fr + 10 khz f3 = fr 10 khz ϴ Tabel 3 Transformator V b-a V c-a V d-a V f-c V g-e V h-e Tabel 4 Polaritas trafo a e hubung singkat a h hubung singkat V h-e V h-d V d-e V h-d Tabel 5 Regulasi tegangan V 1 V 2 i b Regulasi tegangan RANGKAIAN DENGAN KOPLING MAGNETIK 13

8. MENGAKIRI PERCOBAAN c. Sebelum meninggalkan meja percobaan,rapikan meja praktikum. Bereskan kabel dan matikan osiloskop, generator sinyal, dan power supply DC. Cabut daya dari jala jala ke kit praktikum. Pastikan juga multimeter analog dan multimeter digital ditinggalkan dalam keadaan mati (selector menunjuk ke pilihan off). Praktikan yang tidak membereskan meja praktikum akan mendapatkan potongan nilai. d. Pastikan dosen pembimbing anda telah menandatangani catatan percobaan kali ini pada pada Laporan Hasil Percobaan anda. Catatan percobaan yang tidak ditandatangani oleh dosen tidak dapat dilampirkan dalam Laporan Hasil Praktikum (Laporan hasil praktikum tidak dapat dinilai). RANGKAIAN DENGAN KOPLING MAGNETIK 14

PERCOBAAN III RANGKAIAN RC DAN RL 1. TUJUAN a. Mempelajari impedansi dalam arti fisik. b. Mempelajari hubungan antara impedansi, resistansi, dan reaktansi pada rangkaian seri RC dan RL. c. Mempelajari hubungan tegangan dan arus pada rangkaian seri RC dan RL d. Melihat beda fasa tegangan dan arus pada rangkaian seri RC dan RL e. Mempelajari ressponse terhadap frekuensi pada rangkaian seri RC dan RL 2. PENDAHULUAN Dalam arus bolak-balik, untuk gelombang sinus, impedansi adalah perbandingan phasor tegangan dan phasor arus Dari hubungan tegangan dan arus seperti v = Ri; v = L di dv, i = C dt dt maka akan terlihat bahwa untuk sinyal tegangan sinusoidal (sinus atau cosinus): Pada R : tegangan sefasa terhadap arusnya. Pada L : tegangan mendahului 90 0 terhadap arusnya. Pada C : tegangan tertinggal 90 0 terhadap arusnya. Bila perbandingan tegangan dan arus pada R disebut resistansi, dan perbandingan tegangan dan arus pada L dan C disebut reaktansi, maka akan akan terlihat bahwa resistansi tidak akan sebanding dengan reaktansi. Hal ini dinyatakan dengan adanya suati operator j yang besarnya = 1 yang menunjukkan perputaran 90 0 setelah atau berlawanan arah dengan jarum jam terhadap besaran semula. RANGKAIAN RC DAN RL 15

2.1. Rangkaian RC V i R C V R V C Gambar 3.1. Rangkaian RC sederhana Menurut hukum kirchhoff II (KVL), dapat ditulis: v i = R i + 1 C i dt v i = v R + v C V R sefasa dengan i V C tertinggal 90 0 dari i V i tertinggal θ dari i (dimana 0 0 < θ < 90 0 ) Besar Sudut θ ditentukan oleh perbandingan reaktansi dan resistansinya. Beda Fasa antara V C dan i, atau V i dan i dapat dilihat dengan membandingkan beda fasa antara V C dan V R atau antara V i dan V R (mengapa?) 2.2. Diferensiator Dari persamaan v i = R i + 1 i dt C atau v i = v R + v C Bila output diambil pada resistor v O = v R, untuk v C >> v R maka v i v C sehingga : v i 1 C dvt i dt atau i C dt Sehingga diperoleh hubungan output (v O = v R ) dengan input (v i ) sebagai berikut: v O = RC dvt dt Rangkaian dengan persyaratan ini dikenal sebagai rangkaian Diferensiator. Dalam bentuk phasornya, persyaratan diatas dapat dituliskan sebagai berikut: Sehingga diperoleh ωcr 1. v C v R atau V C > V R 1 jωc I RI RANGKAIAN RC DAN RL 16

Jika ω O 1 RC atau f O = ω ω O 1atau ω ω O. 1 2πRC ω O disebut frekuensi cut off, maka persamaan diatas dapat dituliskan: LABORATORIUM TEKNIK ELEKTRO Kondisi terakhir ini adalah syarat frekuensi dan nilai-nilai kapasitansi dan resistansi untuk memperoleh fungsi diferensiasi yang baik. 2.3. High Pass Filter Dari persamaan v i = v R + v C, Bila diambil v O = v R, maka dapat dituliskan: v O v i = R = 1 R + jωc 1 = 1 1 + jωcr 1 1 j ω O ω Ada nilai utama yang diperoleh dari fungsi diatas : Untuk ω ω O akan diperoleh v O v i 1 Untuk ω ω O akan diperoleh v O v i 0 Untuk ω = ω O akan diperoleh v O v i = 1 2 Dari v O v i 1 vt = 1 dapat diturunkan bahwa daya di R adalah P 2 R = v 2 O R 2 R 2 = v t 2 2R = 2 P max. Dimana P max adalah daya pada R saat ω ω O. Sehingga rangkaian merupakan High Pass Filter (HPF) yang sederhana. 2.4. Integrator Dari persamaan v i = R i + 1 i dt C atau v i = v R + v C Jika tegangan output diambil pada kapasitor (v O = v C ) dan v R >> v C, maka v i v R sehingga v i R i atau i v i R vo = vc = 1 C i dt = 1 C. Pada output diperoleh hubungan sebagai berikut: v i dt = 1 R RC v i dt. Fungsi rangkaian ini dikenal sebagai Rangkaian Integrator. Syarat terpenuhinya fungsi rangkaian integrator RC yang baik adalah v R >> v C. Dalam bentuk phasornya, hubungan diatas dapat dituliskan sebagai berikut : Sehingga R 1 ωc atau ωcr >> 11 v R v C atau RI 1 jωcr I RANGKAIAN RC DAN RL 17

Bila ω O 1 RC atau f O = 2.5. Low-Pass Filter 1 2πRC, Maka persamaan diatas dapat dituliskan: ω ω O 1 atau ω ω O. LABORATORIUM TEKNIK ELEKTRO Dari persamaan v i = v R + v C, jika diambil v O = v C maka dapat dituliskan : v O v i = 1 jωc = 1 R + jωc 1 1 + jωcr = 1 1 + j ω ω O Ada nilai utama yang diperoleh dari fungsi diatas : Untuk ω ω O akan diperoleh v O v i 0 Untuk ω ω O akan diperoleh v O v i 1 Untuk ω = ω O akan diperoleh v O v i = 1 2 Dengan tiga keadaan diatas, rangkaian menunjukkan fungsi Low Pass Filter (LPF) yang sederhana. 2.6. Rangkaian RL Analisa pada rangkaian RL seperti pada gambar dibawah ini dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti pada rangkaian RC. R V R V i L V L Gambar 3.2. Rangkaian RL sederhana Menurut hukum Kirchoff II (KVL) dapat dituliskan v i = v R + v L, Sehingga : v i = R i + L di dt Untuk sinyal berbentuk sinusoidal, V R sefasa dengan i dan V i mendahului terhadap i (dengan sudut antara 0 0 dan 90 0 ). Sama seperti pada rangkaian RC, sudut θ ditentukan oleh perbandingan reaktansi dan resistansinya. Beda fasa antara v L dan i, atau v i dan i dapat dilihat dengan membandingkan beda fasa v L dan v R, atau v i dan v R (mengapa?) RANGKAIAN RC DAN RL 18

Dengan cara yang sama seperti pada rangkaian RC, dapat diturunkan persyaratannya yang harus dipenuhi agar rangkaian RL berfungsi sebagai, diferensiator, integrator, high pass filter, ataupun low pass filter. 3. ALAT ALAT YANG DIPERLUKAN a. Kit praktikum RC dan RL b. Generator Sinyal (GS) c. Osiloskop d. Multimeter e. Resistor : 1 KΩ, 10 KΩ, 1 MΩ f. Kapasitor : 0,1 μf, 0,01 μf, 0,001 μf. g. Induktor : 2,5 mh. 4. TUGAS PENDAHULUAN a. Turunkan persyaratan yang harus dipenuhi oleh rangkaian RL agar berfungsi sebagai: differensiator integrator high pass filter dan low pass filter! b. Dengan harga R = 10 KΩ; 100 KΩ dan 1MΩ hitunglah harga C dan L dari rangkaian RC dan RL untuk menjadi differensiator, integrator, high pass filter dan low pass filter. Isikanlah syarat ini pada tabel data percobaan 1 dalam Data Hasil Percobaan saudara. Tabel 1. Syarat yang harus dipenuhi Harga C atau L yang harus dipenuhi sebagai Nilai Rangkaian High Pass Low Pass Resistor Diferensiator Integrator Filter Filter 10 K RC 100K 1 M 10 K RL 100K 1 M RANGKAIAN RC DAN RL 19

5. CARA MELAKUKAN PERCOBAAN 5.1. Rangkaian RC a. Buatlah rangkaian dengan harga-harga besaran seperti pada gambar dibawah ini. V i R C 10K 0,01 uf Gambar 3.3. Rangkaian RC untuk pengukuran phasor v i = 2 V rms (bentuk gelombang sinus) R = 10 KΩ; C = 0,1μF; f = 300 Hz b. Hitunglah v R dan v C dengan harga besaran yang telah diketahui. c. Ukurlah v R dan v C dengan multimeter. Cek apakah v i = v R + v C. d. Amati v, v R dan v C dengan osiloskop. e. Carilah beda fasa antara v i dan v R, juga antara v C dan v R dengan bantuan osiloskop. f. Catatlah hasil perhitungan, pengukuran dan pengamatan saudara ke dalam tabel data hasil percobaan. Tabel 2. Rangkaian RC Perhitungan (dalam Volt rms) Pengukuran dengan multimeter (dalam Volt rms) Pengamatan dengan osiloskop (dalam Volt p-p) v i v R v C v i v R v C v i v R v C - Beda fasa antara v i dan v R : 0 =... V i (mendahului / ketinggalan *) terhadap v R - Beda fasa antara v C dan v R : 0 =... V C (mendahului / ketinggalan *) terhadap v R *) coret yang salah RANGKAIAN RC DAN RL 20

5.2. Rangkaian RL a. Buatlah rangkaian dengan harga-harga besaran seperti pada gambar dibawah ini. V i R L 1K 2,5 mh Gambar 3.4. Rangkaian RL untuk pengukuran phasor v i = 2 V rms (bentuk gelombang sinus) R = 1 KΩ; L = 2,5 mh; f = 60 KHz b. Hitunglah v R dan v L dengan harga besaran yang telah diketahui. c. Ukurlah v R dan v L dengan multimeter (range pada AC 10V). Cek apakah v i = v R + v L. d. Amati v, v R dan v L dengan osiloskop. e. Carilah beda fasa antara v i dan v L, juga antara v L dan v R dengan bantuan osiloskop. f. Catatlah hasil perhitungan, pengukuran dan pengamatan saudara ke dalam tabel data hasil percobaan. Tabel 3. Rangkaian RL Perhitungan (dalam Volt rms) Pengukuran dengan multimeter (dalam Volt rms) Pengamatan dengan osiloskop (dalam Volt p-p) v i v R v L v i v R v L v i v R v L - Beda fasa antara v i dan v R : 0 =... V i (mendahului / ketinggalan *) terhadap v R - Beda fasa antara v L dan v R : 0 =... V C (mendahului / ketinggalan *) terhadap v R *) coret yang salah RANGKAIAN RC DAN RL 21

5.3. Rangkaian Diferensiator a. Buatlah rangkaian dengan harga-harga besaran seperti pada gambar dibawah ini. v i 4 V P-P f = 500 Hz C R Output Gambar 3.5. Rangkaian percobaan fungsi diferensial dengan RC b. Aturlah input dengan bentuk gelombang segi empat sebesar 4 V peak to peak (V p- ) pada frekuensi 500 Hz dengan bantuan osiloskop. p c. Hitunglah konstanta waktu RC dengan harga-harga C dan R yang tersedia pada tabel 4. d. Gambarlah bentuk gelombang output (ideal) dengan input bentuk gelombang segi empat. e. Ukurlah bentuk gelombang output yang terjadi dengan osiloskop. f. Catatlah hasil perhitungan dan pengukuran serta gambarlah hasil pengamatan saudara dalam bentuk tabel pada data hasil percobaan. Tabel 4. Rangkaian Diferensiator Harga R & C Konstanta waktu = RC 2πRC T Bentuk Gelombang Output Ideal Pengamatan R = 10 KΩ C = 0,1 μf R = 10 KΩ C = 0,01 μf R = 100 KΩ C = 0,1 μf R = 100 KΩ C = 0,01 μf R = 100 KΩ C = 0,001 μf R = 10 MΩ C = 0,01 μf RANGKAIAN RC DAN RL 22

5.4. Rangkaian Integrator a. Buatlah rangkaian dengan harga-harga besaran seperti pada gambar dibawah ini. v i 4 V P-P f = 500 Hz R C Output Gambar 3.6. Rangkaian percobaan fungsi integrator dengan RC b. Aturlah input dengan bentuk gelombang segi empat sebesar 4 V peak to peak (V p- ) pada frekuensi 500 Hz dengan bantuan osiloskop. p c. Hitunglah konstanta waktu RC dengan harga-harga C dan R yang tersedia pada tabel 4. d. Gambarlah bentuk gelombang output (ideal) dengan input bentuk gelombang segi empat. e. Ukurlah bentuk gelombang output yang terjadi dengan osiloskop. f. Catatlah hasil perhitungan dan pengukuran serta gambarlah hasil pengamatan saudara dalam bentuk tabel pada data hasil percobaan. Tabel 5. Rangkaian Integrator Harga R & C Konstanta waktu = RC 2πRC T Bentuk Gelombang Output Ideal Pengamatan R = 10 KΩ C = 0,1 μf R = 10 KΩ C = 0,01 μf R = 100 KΩ C = 0,1 μf R = 100 KΩ C = 0,01 μf R = 100 KΩ C = 0,001 μf R = 10 MΩ C = 0,01 μf RANGKAIAN RC DAN RL 23

5.5. Pengaruh Frekuensi a. Buatlah rangkaian dengan harga-harga dan besaran seperti pada gambar dibawah ini. v i 4 V P-P C 0,01 uf R 10 K Output Gambar 3.7. Mencari pengaruh frekuensi pada rangkaian RC b. Hitunglah konstanta waktu = RC. c. Aturlah input dengan bentuk gelombang segi empat sebesar 4 volt peak to peak (V P-P ) pada frekuensi 50 Hz dengan bantuan osiloskop. d. Ukurlah dan gambarkan bentuk outputnya untuk harga-harga frekuensi 50 Hz, 500 Hz, 5 KHz, dan 50 KHz. e. Catatlah hasilnya pada tabel 6 pada data hasil percobaan f. Kemudian buatlah rangkaian RC seperti pada gambar dibawah ini R 100 K v i C 4 V Output P-P 0,01 uf Gambar 3.8. Mencari pengaruh frekuensi pada rangkaian RC g. Lakukan seperti langkah pada b - e. RANGKAIAN RC DAN RL 24

Tabel 6. Pengaruh Frekuensi 2πRC = Frekuensi T Rangkaian Rangkaian percobaan 5.5.a percobaan 5.5.f Bentuk dan besar tegangan output v R percobaan v C percobaan 5.5.a 5.5.f 50 Hz 500 Hz 5 KHz 50 KHz 6. MENGAKIRI PERCOBAAN e. Sebelum meninggalkan meja percobaan,rapikan meja praktikum. Bereskan kabel dan matikan osiloskop, generator sinyal, dan power supply DC. Cabut daya dari jala jala ke kit praktikum. Pastikan juga multimeter analog dan multimeter digital ditinggalkan dalam keadaan mati (selector menunjuk ke pilihan off). Praktikan yang tidak membereskan meja praktikum akan mendapatkan potongan nilai. f. Pastikan dosen pembimbing anda telah menandatangani catatan percobaan kali ini pada pada Laporan Hasil Percobaan anda. Catatan percobaan yang tidak ditandatangani oleh dosen tidak dapat dilampirkan dalam Laporan Hasil Praktikum (Laporan hasil praktikum tidak dapat dinilai). 7. TUGAS a. Berikan kesimpulan anda dari hasil percobaan Rangkaian RC, Rangkaian RL, Rangkaian Diferensiator, Rangkaian Integrator, dan Pengaruh Frekuensi! b. Jelaskan! Apakah persyaratan yang harus dipenuhi jika rangkaian RC berfungsi sebagai: a) Diferensiator b) Integrator c. Jelaskan! Apakah persyaratan yang harus dipenuhi jika rangkaian RL berfungsi sebagai: c) Diferensiator d) Integrator RANGKAIAN RC DAN RL 25

8. GAMBAR RANGKAIAN KIT PRAKTIKUM RC DAN RL MASUKKAN MASUKKAN R 1 1 K C a 1 nf R 2 10 K C b 10 nf R 3 100 K C c 0,1 uf R 4 1 M C d 1 uf L 2 2,5 mh C 1 1 nf C 2 10 nf R a 1 K C 3 0,1 uf R b 10 K C 4 1 uf Rc 100 K L 1 2,5 mh Rd 1 M KELUARAN KELUARAN Gambar 3.9. Rangkaian kit praktikum RC dan RL RANGKAIAN RC DAN RL 26

PERCOBAAN IV RANGKAIAN RESONANSI 1. TUJUAN a. Mempelajari sifat rangkaian RLC. b. Mempelajari resonansi seri, resonansi paralel, resonansi seri paralel. c. Dapat membedakan sifat resonansi seri dan paralel d. Dapat menghitung dan atau memperkirakan frekuensi resonansi rangkaian RLC 2. PENDAHULUAN 2.1. Rangkaian RLC Dalam rangkaian seri RLC impedansi total rangkaian dapat dituliskan sebagai berikut: Z tot = R + j(x L X C ) Dari hubungan ini akan terlihat bahwa reaktansi induktif dan kapasitif selalu akan saling mengurangi. Bila kedua komponen ini sama besar, maka akan saling meniadakan, dan dikatakan bahwa rangkaian dalam keadaan resonansi. Resonansinya adalah resonansi seri. Demikian pula halnya pada rangkaian paralel RLC admitansi total rangkaian dapat dituliskan sebagai: Y tot = G + j(b C BX L ) dimana G adalah konduktansi dan B adalah suseptansi. Dari hubungan ini juga akan terlihat bahwa suseptansi kapasitif dan induktif akan selalu saling mengurangi. Pada keadaan resonansi, kedua suseptansi tersebut akan saling meniadakan. Resonansinya adalah resonansi paralel. Dari kedua pembahasan di atas, jelas bahwa jenis resonansi tergantung dari macam hubungan L dan C (seri/paralel). RANGKAIAN RESONANSI 27

2.2. Resonansi Seri Dari hubungan Z tot = R + j(x L X C ) terlihat bahwa pada waktu resonansi dimana X L = X C maka Z tot = R merupakan Z minimum, sehingga akan diperoleh arus yang maksimum. Dalam keadaan ini rangkaian hanya bersifat resistif sehingga fasa arus sama dengan fasa tegangan yang terpasang. R I V X L X C Gambar 4.1. Rangkaian resonansi seri ωl = Saat X L = X C terjadi, maka mengingat X L = ωl dan X C = 1 atau ω ωc O ω resonansi = 1 atau f LC O = 1 2π LC 1 ωc dapat diperoleh Disini ω O atau f O adalah frekuensi yang membuat rangkaian bersifat resistif dan terjadi arus maksimum atau tegangan maksimum pada R. Bila dilihat dari impedansi rangkaian Z tot, maka pada f < f O rangkaian akan bersifat kapasitif dan pada f > f O rangkaian akan bersifat induktif. Pada waktu resonansi seri, sangat mungkin terjadi bahwa tegangan pada L atau pada C lebih besar dari tegangan sumbernya. Pembesaran tegangan pada L atau pada C pada saat resonansi ini didefinisikan sebagai faktor kualitas Q. Faktor kualitasnya Q = Q S di definisikan sebagai Q = Q S = I Oω O L I O R = ω OL R atau, Q = I O 1 ω O C I O R = 1 ω O CR RANGKAIAN RESONANSI 28

2.3. Resonansi Paralel Dari hubungan Y tot = G + j(b C B L ), terlihat bahwa pada waktu resonansi dimana B C = B L maka Y tot = G merupakan Y minimum, sehingga akan diperoleh arus total yang akan minimum. Dalam keadaan ini rangkaian hanya bersifat resistif. I I R I L I C B L V G B C Gambar 4.2. Rangkaian resonansi paralel Saat B C = B L terjadi, maka mengingat B C = ωc dan B L = ωc = 1 atau ω = ω ωl O = 1 atau f LC O = 1 2π LC 1 ωl dapat diperoleh Sama halnya dengan resonansi seri, dalam rangkaian ini pada saat resonansi, akan terjadi pembesaran arus pada L atau pada C. Faktor kualitasnya Q = Q P di definisikan sebagai Q = Q P = V Oω O C V O G atau, = ω OC G = ω OCR Q = Q P = V O ω O L V O G = 1 ω O LG = R ω O L 2.4. Resonansi Seri Paralel Jika dalam rangkaian terdapat 3 (tiga) buah komponen L dan C terhubung seri dan paralel, maka resonansi yang terjadi adalah resonansi seri paralel. Dalam hal ini ada 2 (dua) buah frekuensi yang dapat dicari dengan menghitung impedansi minimum dan admitansi minimum. 3. ALAT ALAT YANG DIPERLUKAN a. Kit praktikum Rangkaian Resonansi b. Generator Sinyal (GS) c. Osiloskop d. Multimeter RANGKAIAN RESONANSI 29

4. CARA MELAKUKAN PERCOBAAN 4.1. Resonansi Seri a. Buatlah rangkaian dengan harga-harga besaran seperti pada gambar dibawah ini. 1 C 1 uf 2 R 47 ohm L 2,5 mh 4 3 Gambar 4.3. Rangkaian percobaan resonansi seri R = 47 Ω; C = 1 μf; L = 2,5 mh b. Dengan harga-harga komponen tersebut, hitunglah frekuensi resonansinya (turunkan perhitungannya). c. Pasangkan bagian output generator sinyal pada terminal 1-4. d. Hubungkan juga terminal 1 4 tersebut pada input kanal A osiloskop. e. Tegangan generator sinyal diatur kira-kira 1 sampai 4 volt peak to peak (V P-P ). f. Hubungkan terminal 3 4 pada input kanal B osiloskop. g. Ubahlah frekuensi generator sinyal (tegangan generator sinyal harus tetap) antara 1 KHz sampai 10 KHz untuk memperoleh tegangan V O /V 3 4 maksimum dan atau minimum, dan amatilah pada layar osiloskop. h. Frekuensi yang menghasilkan V O maks adalah frekuensi resonansi seri. Catatlah frekuensi ini pada tabel 1 dalam lembar data hasil percobaan. i. Catat juga V 1 2 /tegangan capasitor, V 2 3 /tegangan induktor, V 1 3 /tegangan capasitor induktor pada frekuensi resonansi. j. Ukurlah juga tegangan-tegangan ini : V 1 4, V 3 4, V 1 2, V 2 3, V 1 3 dengan multimeter. k. Hitung juga faktor kualitas (Q) rangkaian ini. RANGKAIAN RESONANSI 30

Tabel 1. Resonansi Seri PERHITUNGAN PENGAMATAN (dengan osiloskop) PENGUKURAN (dengan multimeter) f res = f O Hz Hz Hz V 1 4 volt V P-P volt V 3 4 volt V P volt V 1 2 volt V P volt V 2 3 volt V P volt V 1 3 volt V P volt Faktor Kualitas Q =... 4.2. Resonansi Paralel a. Buatlah rangkaian dengan harga-harga besaran seperti pada gambar dibawah ini. 1 L 2,5 mh 2 C 1 uf R 47 ohm 3 Gambar 4.4. Rangkaian percobaan resonansi paralel R = 47 Ω; C = 1 μf; L = 2,5 mh b. Dengan harga-harga komponen tersebut, hitunglah frekuensi resonansinya (turunkan perhitungannya). c. Pasangkan bagian output generator sinyal pada terminal 1-3. d. Hubungkan juga terminal 1 3 tersebut pada input kanal A osiloskop. e. Tegangan generator sinyal diatur kira-kira 1 sampai 4 volt peak to peak (V P-P ). f. Hubungkan terminal 2 3 pada input kanal B osiloskop g. Ubahlah frekuensi generator sinyal (tegangan generator sinyal harus tetap) antara 500 Hz sampai 20 KHz untuk memperoleh tegangan V O /V 2 3 maksimum dan atau minimum, dan amatilah pada layar osiloskop. h. Frekuensi yang menghasilkan V O maks adalah frekuensi resonansi seri. Catatlah frekuensi ini pada tabel 2 dalam lembar data hasil percobaan. RANGKAIAN RESONANSI 31

i. Catat juga V 1 2 /tegangan capasitor // induktor pada frekuensi resonansi. j. Ukurlah juga tegangan-tegangan ini : V 1 3, V 2 3, V 1 2 dengan multimeter. Tabel 2. Resonansi Paralel PERHITUNGAN PENGAMATAN (dengan osiloskop) PENGUKURAN (dengan multimeter) f res = f O Hz Hz Hz V 1 3 volt V P-P volt V 2 3 volt V P volt V 1 2 volt V P volt 4.3. Resonansi Seri Paralel a. Buatlah rangkaian dengan harga-harga besaran seperti pada gambar dibawah ini. 1 C 1 1 uf 2 C 2 1 uf 3 L 2,5 mh R 47 ohm 4 Gambar 4.5. Rangkaian percobaan resonansi seri paralel 1 R = 47 Ω; C 1 = 1 μf; C 2 = 1 μf; L = 2,5 mh b. Dengan harga-harga komponen tersebut, turunkan perhitungan frekuensi resonansi seri (f rs ) dan resonansi paralel (f rp ). c. Pasangkan bagian output generator sinyal pada terminal 1-4. d. Hubungkan juga terminal 1 4 tersebut pada input kanal A osiloskop. e. Tegangan generator sinyal diatur kira-kira 1 sampai 4 volt peak to peak (V P-P ). f. Hubungkan terminal 3 4 pada input kanal B osiloskop g. Ubahlah frekuensi generator sinyal (tegangan generator sinyal harus tetap) antara 500 Hz sampai 25 KHz untuk memperoleh tegangan V O /V 3 4 maksimum dan atau minimum, dan amatilah pada layar osiloskop. Catat harga V 3 4 dalam tabel pada data hasil percobaan. h. Catat juga harga V 1 4, V 1 2, V 2 3, V 1 3 pada frekuensi resonansi. RANGKAIAN RESONANSI 32

i. Ukurlah juga tegangan-tegangan ini : V 1 4, V 3 4, V 1 2, V 2 3, V 1 3 dengan multimeter. j. Kemudian buatlah rangkaian berikut ini. 1 C 1 uf 2 3 L 1 2,5 mh L 2 2,5 mh R 47 ohm 4 Gambar 4.6. Rangkaian percobaan resonansi seri paralel 2 R = 47 Ω; C = 1 μf; L 1 = 2,5 mh; L 2 = 2,5 mh k. Ulangi langkah a i di atas dan catatlah nilai-nilainya pada tabel 3. Tabel 3. Resonansi Seri Paralel PERHITUNGAN PENGAMATAN (dengan osiloskop) PENGUKURAN (dengan multimeter) f = f rs Hz Hz Hz V 1 4 volt V P-P volt V 3 4 volt V P volt V 1 2 volt V P volt V 2 3 volt V P volt V 1 3 volt V P volt f = f rp Hz Hz Hz V 1 4 volt V P-P volt V 3 4 volt V P volt V 1 2 volt V P volt V 2 3 volt V P volt V 1 3 volt V P volt 5. MENGAKIRI PERCOBAAN a. Sebelum meninggalkan meja percobaan,rapikan meja praktikum. Bereskan kabel dan matikan osiloskop, generator sinyal, dan power supply DC. Cabut daya dari jala jala ke kit praktikum. Pastikan juga multimeter analog dan multimeter digital ditinggalkan RANGKAIAN RESONANSI 33

dalam keadaan mati (selector menunjuk ke pilihan off). Praktikan yang tidak membereskan meja praktikum akan mendapatkan potongan nilai. b. Pastikan dosen pembimbing anda telah menandatangani catatan percobaan kali ini pada pada Laporan Hasil Percobaan anda. Catatan percobaan yang tidak ditandatangani oleh dosen tidak dapat dilampirkan dalam Laporan Hasil Praktikum (Laporan hasil praktikum tidak dapat dinilai). 6. TUGAS a. Pada percobaan 4.1 bagaimanakah karakteristik rangkaian pada saat resonansi? Lakukan analisa dan sampaikan pada laporan praktikum! b. Pada percobaan 4.2 bagaimanakah karakteristik rangkaian pada saat resonansi? Lakukan analisa dan sampaikan pada laporan praktikum! c. Pada percobaan 4.3 bagaimanakah karakteristik rangkaian pada saat resonansi? Lakukan analisa dan sampaikan pada laporan praktikum! 7. GAMBAR RANGKAIAN KIT PRAKTIKUM RANGKAIAN RESONANSI L 2 2,5 mh C 1 1 uf J1 C 1 1 uf L 1 2,5 mh J2 J3 MASUKKAN R 47 R KELUARAN RANGKAIAN RESONANSI 34

LAMPIRAN KIT PERCOBAAN TEOREMA THEVENIN DAN NORTON KIT PERCOBAAN KOPLING MAGNETIK LAMPIRAN 35

KIT PERCOBAAN RANGKAIAN RC DAN RL KIT PERCOBAAN RANGKAIAN RESONANSI LAMPIRAN 36