1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
I. PENDAHULUAN. sehingga, Indonesia disebut sebagai Negara Maritim. alamnya mayoritas mata pencaharian masyarakat indonesia setelah petani adalah

5 PEMBAHASAN 5.1 Proses penangkapan pada bagan rambo

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Sejarah Penggunaan Cahaya pada Penangkapan Ikan

DISTRIBUSI CAHAYA LAMPU DAN TINGKAH LAKU IKAN PADA PROSES PENANGKAPAN BAGAN PERAHU DI PERAIRAN MALUKU TENGAH. Haruna *)

4 HASIL 4.1 Proses penangkapan

MUHAMMAD SULAIMAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

dari perkembangan teknologi penangkapan ikan di dunia secara keseluruhan. Salah satu bentuk teknologi penangkapan ikan yang dianggap sukses dan

4 HASIL 4.1 Proses penangkapan

MUHAMMAD SULAIMAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Balai Diklat Perikanan Banyuwangi

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah perairan. Sumberdaya hayati (ikan) merupakan bagian dari sumberdaya alam yang

MUHAMMAD SULAIMAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Studi Tingkah Laku Ikan pada Proses Penangkapan dengan Alat Bantu Cahaya : Suatu Pendekatan Akustik

JURNAL PEMANFAATAN SUBERDAYA PERIKANAN

2.2. Reaksi ikan terhadap cahaya

DENI ACHMAD SOEBOER, S.Pi, M.Si

3 METODOLOGI PENELITIAN

PENDAHULUAN. yang lokasinya di pantai Timur Sumatera Utara yaitu Selat Malaka. Kegiatan

6 PEMBAHASAN 6.1 Unit Penangkapan Bagan Perahu 6.2 Analisis Faktor Teknis Produksi

PENGARUH JUMLAH LAMPU TERHADAP HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN MINI DI PERAIRAN PEMALANG DAN SEKITARNYA

5 PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Perairan di Kabupaten Barru

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI

PROFIL PENCAHAYAAN DAN DISTRIBUSI IKAN PADA AREAL PENANGKAPAN BAGAN RAMBO DI SELAT MAKASSAR

AKUSTIK REMOTE SENSING/PENGINDERAAN JAUH

TINJAUAN PUSTAKA. Alat ini umumnya digunakan untuk menangkap ikan menhaden (Brevoortia

TINJAUAN PUSTAKA. mata jaring ke arah panjang atau ke arah horizontal (mesh length) jauh lebih

Pengaruh warna umpan pada hasil tangkapan pancing tonda di perairan Teluk Manado Sulawesi Utara

II. TINJAUAN PUSTAKA Penangkapan Ikan. Ayodhyoa (1981) mengatakan bahwa penangkapan ikan adalah suatu usaha

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Volume 6, No. 2, Oktober 2013 ISSN:

6 KESIMPULAN DAN SARAN

I. PENDAHULUAN. Mata pada ikan merupakan salah satu indera yang sangat penting untuk

PENGEMBANGAN LAMPU BAWAH AIR SEBAGAI ALAT BANTU PADA BAGAN TANCAP DI DESA TAMBAK LEKOK KECAMATAN LEKOK PASURUAN

PENERAPAN TEKNOLOGI AKUSTIK PADA PERIKANAN BAGAN PERAHU APPLICATION OF ACOUSTIC TECHNOLOGY ON THE FISH CATCH OF BOAT LIFT NET

PEMANFAATAN TEKNOLOGI HIDROAKUSTIK UNTUK PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN BAGAN PERAHU

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN Visi

DRIVE IN NET, LIFT NET

8 SELEKSI ALAT TANGKAP DAN TEKNOLOGI YANG TEPAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker 1853) DI SELAT BALI

TINGKAH LAKU IKAN PADA PERIKANAN BAGAN PETEPETE YANG MENGGUNAKAN LAMPU LED

ANALISIS HASIL TANGKAPAN IKAN TERI (Stolephorus sp.) DENGAN ALAT TANGKAP BAGAN PERAHU BERDASARKAN PERBEDAAN KEDALAMAN DI PERAIRAN MORODEMAK

Menwut Direktorat Jenderal (Dirjen) Perikanan (1991), purse seine adalah

PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan di laut sifatnya adalah open acces artinya siapa pun

PENGARUH INTENSITAS LAMPU BAWAH AIR TERHADAP HASIL TANGKAPAN PADA BAGAN TANCAP. Effect of Underwater Lamp Intensity on The Lift Net s Fishing Catches

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

MENGAPA PRODUKSI TANGKAPAN IKAN SARDINE DI PERAIRAN SELAT BALI KADANG MELEBIHI KAPASITAS PABRIK YANG TERSEDIA KADANG KURANG Oleh.

2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Macam-macam lampu tabung (

Lift Net & Traps. Ledhyane Ika Harlyan. Dept. of Fisheries Resources Utilization and Marine Science Fisheries Faculty, Brawijaya University 1

TEKNIK PENGOPERASIAN PANCING TENGGIRI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU CAHAYA

BAB II DESKRIPSI (OBJEK PENELITIAN)

3 METODOLOGI PENELITIAN

Daerah Penangkapan Ikan (fishing ground) Oleh: Ririn Irnawati

Jurnal LPPM Bidang Sains dan Teknologi Volume 4 Nomor 2 November 2017

4 HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN

Jaring Angkat

Harry Kurniawan 1), Ir. Arthur Brown, M.Si 2), Dr. Pareg Rengi, S.Pi, M.Si 2) ABSTRAK

Pengumunan terkait revisi Dosen Pengampu dan Materi DPI

PENGARUH WARNA LAMPU DALAM AIR TERHADAP HASIL TANGKAPAN BAGAN PERAHU DI PERAIRAN BACAN KABUPATEN HALMAHERA SELATAN

STUDI POLA KEDATANGAN IKAN PADA AREA PENANGKAPAN BAGAN PERAHU DENGAN TEKNOLOGI HIDROAKUSTIK

Alat Lain. 75 Karakteristik perikanan laut Indonesia: alat tangkap

5 HASIL PENELITIAN. Tahun. Gambar 8. Perkembangan jumlah alat tangkap purse seine di kota Sibolga tahun

Tingkah Laku Ikan (fish behaviour) Oleh: Ririn Irnawati

mungkin akan lebih parah bila tidak ada penanganan yang serius dan tersistem. Bukan tidak mungkin hal tersebut akan mengakibatkan tekanan yang luar

7. PEMBAHASAN UMUM 7.1 Dinamika Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil

5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial

PAPER TEKNIK PENANGKAPAN IKAN ALAT TANGKAP IKAN

PERTEMUAN KE-6 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN HUBUNGAN SUHU DAN SALINITAS PERAIRAN TERHADAP DPI ASEP HAMZAH

Perbedaan Waktu Hauling Bagan Tancap terhadap Hasil Tangkapan di Perairan Sungsang, Sumatera Selatan

PENGARUH ILUMINASI ATRAKTOR CAHAYA TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN PADA BAGAN APUNG

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENENTUAN RESPON OPTIMAL FUNGSI PENGLIHATAN IKAN TERHADAP PANJANG GELOMBANG DAN INTENSITAS CAHAYA TAMPAK

KLASIFIKASI ALAT / METODE PENANGKAPAN DI INDONESIA (STANDAR NASIONAL)

PENDAHULUAN. Sumberdaya ikan merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang

PERBEDAAN PRODUKSI BAGAN PERAHU BERDASARKAN PERIODE BULAN DI PERAIRAN KABUPATEN BARRU

Setelah manusia mengetahui cara membuat api, mereka juga menemukan. bahwa beberapa jenis ikan tertarik oleh cahaya. Namum tidak diketahui dengan

Durasi keberadaan ikan di bawah cahaya lampu yang diamati melalui CCTV di perairan Teluk Manado, Sulawesi Utara

METODE PENANGKAPAN DI INDONESIA (STANDAR NASIONAL)

PENDUGAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN MELALUI PENDEKATAN KONVENSIONAL

Study on the use of different light intensities on fish catch of raft lift net in Dodinga Bay, West Halmahera Regency

PROSES PENANGKAPAN DAN TINGKAH LAKU IKAN BAGAN PETE PETE MENGGUNAKAN LAMPU LED CAPTURE PROCESS AND FISH BEHAVIOR ON BOAT LIFT NET USING LED LIGHTS

3 METODOLOGI PENELITIAN

THE INFLUENCE OF LIGHT INTENSITY ON RINUAK FISH (PSILOPSIS sp) BY SEROK (SCOOP NET) IN MANINJAU LAKE WEST SUMATERA. By:

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGAMATAN ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN PUKAT CINCIN KUALA LANGSA DI SELAT MALAKA

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Unit Penangkapan Payang

5 PEMBAHASAN 5.1 Unit Penangkapan Ikan

Jurnal Perikanan dan Kelautan p ISSN Volume 7 Nomor 2. Desember 2017 e ISSN Halaman :

PENERAPAN TEKNOLOGI HIDROAKUSTIK PADA PERIKANAN BAGAN TANCAP

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Nusantara 2.2 Kegiatan Operasional di Pelabuhan Perikanan

PENGOPERASIAN LAMPU CELUP BAWAH AIR PADA BAGAN TANCAP DI PERAIRAN LEKOK. Application of Underwater Lamp for Bagan Tancap at Lekok

5 PEMBAHASAN 5.1 Performa Fyke Net Modifikasi

PERBEDAAN PENGGUNAAN INTENSITAS CAHAYA LAMPU TERHADAP HASIL TANGKAPAN BAGAN APUNG DI PERAIRAN SELAT ROSENBERG KABUPATEN MALUKU TENGGARA KEPULAUAN KEI

PENDAHULUAN. Pantai Timur Sumatera Utara merupakan bagian dari Perairan Selat

4 METODE PENELITIAN 4.1 Waktu dan tempat 4.2 Alat dan bahan 4.3 Metode pengambilan data

Keberadaan sumber daya ikan sangat tergantung pada faktor-faktor. yang sangat berfluktuasi dari tahun ke tahun. Kemungkinan ini disebabkan karena

Efektivitas Alat Tangkap Mini Purse Seine Menggunakan Sumber Cahaya Berbeda Terhadap Hasil Tangkap Ikan Kembung (Rastrelliger sp.)

Sukardi 1), Subari Yanto 2), Kadirman 3) 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Pertanian FT UNM, 2) dan 3) Dosen FT UNM

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Transkripsi:

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Metode penangkapan ikan dengan menggunakan cahaya sudah sejak lama diketahui sebagai perlakuan yang efektif untuk tujuan penangkapan ikan tunggal maupun berkelompok (Ben-Yami, 1987). Metode penangkapan ini digunakan untuk menangkap ikan pelagis dengan menggunakan alat tangkap seperti surrounding net (purse seine dan lampara), stationary dan movable lifnets (stick held dipnets di Jepang), dan pancing. Teknologi penangkapan ikan di Indonesia berkembang pesat terutama pada penggunaan alat bantu cahaya untuk menarik perhatian ikan (Baskoro, 2001). Teknologi penangkapan ikan menggunakan alat bantu cahaya disebut light fishing. Sumber cahaya yang digunakan mulai dari obor, petromaks (lampu tekan minyak tanah) sampai lampu listrik (Nomura and Yamazaki, 1975, diacu dalam Wisudo et al, 2001). Cahaya digunakan untuk menarik dan mengkonsentrasikan kawanan ikan pada catchable area yang selanjutnya dengan menggunakan alat tangkap tertentu untuk menangkapnya. Setiap alat dan metode penangkapan bervariasi pada ruang dan waktu, demikian juga intensitas cahaya yang digunakan oleh nelayan berbeda-beda tergantung pada jenis alat tangkap, spesies target, fishing ground, dan kemampuan finansial dari nelayan. Bagan merupakan salah satu jenis alat tangkap yang menggunakan cahaya sebagai alat bantu penangkapan. Berdasarkan cara pengoperasiannya bagan dapat dikelompokkan ke dalam jaring angkat (von Brandt, 1985). Sejalan dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi serta kemajuan yang telah dicapai masyarakat, maka desain dan konstruksi bagan semakin berkembang. Salah satu jenis bagan yang berkembang dengan pesat di Sulawesi Selatan saat ini adalah bagan perahu, khususnya di perairan Kabupaten Barru Selat Makassar (Nadir, 2000). Hal yang cukup menarik perhatian pada konstruksi bagan perahu ini adalah ukurannya yang besar dan menggunakan lampu listrik dengan jumlah kapasitas yang besar. Bagan perahu yang demikian oleh masyarakat setempat disebut bagan rambo. Selanjutnya menurut Sudirman (2003) bahwa tidak jelas siapa pertama kali memberi nama bagan rambo. Pemberian kata rambo berkaitan

2 dengan ukuran bagan yang lebih besar dengan jumlah hasil tangkapan yang lebih banyak, dapat tinggal lama pada suatu fishing ground, kekuatan dari alat tangkapnya, serta jangkauan fishing ground yang lebih jauh. Prinsip penangkapan pada alat tangkap ini pada dasarnya memanfaatkan tingkah laku ikan, khususnya respon ikan terhadap cahaya. Mengingat sulitnya melakukan pengamatan di bawah air, maka dalam penelitian ini pengamatan tingkah laku ikan di sekitar pencahayaan dilakukan melalui pendekatan akustik. Dewasa ini penerapan metode akustik terus mengalami kemajuan dalam bidang perikanan dengan menggunakan peralatan sonar atau echo-sounder yang dapat digunakan untuk studi tingkah laku ikan (migrasi vertikal dan horizontal), kecepatan renang, respon ikan terhadap stimuli dan lain-lain (Bodholt and Olsen, 1977, diacu dalam Ferno dan Olsen, 1994). Metode ini mempunyai beberapa kelebihan berupa hasil dugaan dapat diperoleh secara langsung, singkat, cukup akurat dan dapat mencakup areal yang luas serta dapat memonitor pergerakan kawanan ikan (Jaya dan Pasaribu, 2000). Penelitian mengenai hubungan antara cahaya dan tingkah laku ikan telah dilakukan oleh beberapa peneliti, antara lain : Levenes, Gerlotto dan Petit (1990) meneliti tentang reaksi ikan pelagis terhadap alat bantu cahaya untuk melihat kelimpahan dengan menggunakan echo sounder, Baskoro (1999) meneliti proses penangkapan ikan dan tingkah laku ikan pada bagan skala kecil dengan lampu petromaks, Jaya dan Pasaribu (1999) meneliti tentang evaluasi kecepatan dan arah renang ikan pelagis di Selat Sunda dengan pendekatan akustik, Jaya (2002) mengamatati tingkah laku schooling lemuru dengan pendekatan akustik, Alam (2002) meneliti tentang kecepatan renang ikan di bawah cahaya lampu dengan pemanfaatan teknologi hidroakustik, Tupamahu (2003) meneliti tentang tingkah laku ikan tembang dan selar di bawah cahaya lampu dan Sudirman (2003) menganalisis tingkah laku ikan hubungannya dengan teknologi ramah lingkungan. Pengetahuan yang diharapkan dapat mengoptimalkan pengoperasian alat penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu cahaya adalah pengetahuan tentang tingkah laku ikan, khususnya mengenai aspek-aspek pola tingkah laku kedatangan ikan, sebaran ikan dan pola tingkah laku ikan di sekitar catchable

3 area pada bagan. Dalam penelitian ini aspek-aspek tersebut diamati dengan menggunakan side scan sonar colour. 1.2 Rumusan Masalah Berbagai permasalahan bisa timbul di lapangan pada saat pengoperasian alat tangkap, karena bagaimanapun canggihnya suatu alat penangkapan ikan, namun ikan ternyata masih dapat meloloskan diri dari cakupan alat tangkap. Oleh sebab itu sangatlah penting pengetahuan tingkah laku ikan dari berbagai faktor untuk dapat diketahui dan dipahami dalam rangka membuka jalan untuk mengetahui cara-cara yang dapat meningkatkan efesiensi dan efektivitas suatu alat tangkap, bahkan dapat memacu dan memodifikasi suatu jenis alat tangkap yang baru dan lebih sesuai. Bila dihubungkan dengan lamanya waktu pengangkatan jaring pada bagan saat nelayan telah melihat ikan banyak berkumpul dan pada waktu itu penyinaran cahaya terlalu singkat dapat menyebabkan kurang efektifnya proses penangkapan disebabkan ikan belum nyaman berada di bawah lampu. Begitu pula kalau terlalu lama, ikan dapat menjadi jenuh berada di bawah lampu yang pada akhirnya meninggalkan lokasi pencahayaan. Distribusi dan tingkah laku ikan pada bagan rambo sampai saat ini belum banyak diketahui bagaimana pola distribusi, pola pergerakan, hubungan sebaran intensitas cahaya dengan distribusi ikan dan lain-lain. Sampai saat ini keberadaan ikan di bawah lampu diduga dari adanya gelembung-gelembung yang dikeluarkan ikan, akan tetapi posisi ikan pada catchable area tidak diketahui. Oleh karena itu pengamatan bawah air (underwater observation) merupakan salah satu aspek yang disarankan dalam pengamatan tingkah laku ikan (Arimoto, 2000). Penelitian tentang tingkah laku ikan telah dilakukan beberapa peneliti sebelumnya antara lain: Baskoro (1999) tentang proses penangkapan dan tingkah laku ikan pada bagan skala kecil dengan lampu petromaks, Tupamahu (2003), meneliti tentang tingkah laku ikan tembang dan selar di bawah cahaya lampu menyatakan bahwa pola ikan pergerakan dapat dikategorikan dua bagian yaitu gerakan memutar yang berlawanan arah jarum jam (tembang dan tongkol) dan pola pergerakan yang muncul secara tiba-tiba dipermukaan perairan karena aktivitas memangsa makanan (selar). Selanjutnya dikatakan pula bahwa distribusi

4 densitas ikan di zona iluminasi cahaya secara vertikal memperlihatkan bahwa ikan tertarik terhadap cahaya lampu dan dan berada di zona iluminasi dari waktu ke waktu dengan densitas yang berbeda-beda. Sudirman (2003) meneliti tentang analisis tingkah laku ikan dalam proses penangkapan pada bagan rambo dimana distribusi dan iluminasi cahaya di dalam air menurun secara eksponensial, baik ke bawah maupun ke samping bagan rambo Hubungan antara cahaya dengan tingkah laku ikan serta jumlah hasil tangkapan, merupakan kajian yang perlu diketahui. Oleh sebab itu perlu diketahui pengetahuan tingkah laku ikan agar dapat meningkatkan efesiensi dan efektivitas suatu alat tangkap, bahkan dapat merancang dan memodifikasi suatu jenis alat tangkap baru dan lebih sesuai. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pengetahuan tingkah laku ikan yang perlu diketahui adalah : (1) Pola kedatangan ikan di sekitar bagan rambo (2) Pola distribusi ikan di sekitar pencahayaan (3) Pola tingkah laku ikan di sekitar pencahayaan dan pada catchable area bagan rambo. (4) Pola tingkah laku pergerakan ikan di bawah bagan rambo (5) Pola distribusi ikan setelah proses hauling 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pola tingkah laku ikan hubungannya dengan pengoperasian alat tangkap yang menggunakan cahaya lampu. Secara khusus penelitian ini bertujuan : (1) Menganalisis pola distribusi ikan di sekitar pencahayaan sebelum dan setelah proses penangkapan (2) Menganalisis pola kedatangan ikan di sekitar pencahayaan (3) Menganalisis tingkah laku pergerakan ikan di sekitar sumber cahaya. (4) Menganalisis hasil tangkapan 1.4 Manfaat Penelitian Diharapkan dari penelitian ini diperoleh suatu perbaikan terhadap taktik dan metode penangkapan ikan serta rancang bangun alat tangkap sehubungan

5 dengan penggunaan cahaya untuk menarik perhatian ikan dan mengkonsentrasikan ikan. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi peneliti-peneliti berikutnya. 1.5 Hipotesis Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas, maka disusun hipotesis penelitian berikut: (1) Ada pengaruh iluminasi cahaya terhadap keberadaan dan pembentukan pola pergerakan ikan disekitar sumber cahaya (2) Pola kedatangan ikan sangat tergantung dari jenisnya. (3) Pergerakan ikan di sekitar pencahayaan cenderung bergerak berputar (melingkar) secara teratur (4) Semakin besar iluminasi cahaya, maka kemungkinan menarik perhatian ikan pada jarak yang jauh akan semakin besar. (5) Sebagian ikan pada saat hauling masih dapat meloloskan diri 1.6 Kerangka Teori Tertariknya ikan pada sumber cahaya disebut fototaksis positif. Tingkah laku ikan yang mendatangi sumber cahaya dapat dibedakan: pertama tertarik secara langsung oleh cahaya dan kedua tertarik mendekati cahaya karena mencari makan. Tingkah laku yang demikian inilah yang dimanfaatkan nelayan di malam hari dengan berbagai alat penangkapan ikan seperti bagan, purse seine dan pancing. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tertariknya ikan terhadap sumber cahaya antara lain keberadaan ikan dengan sumber cahaya, temperatur air, intensitas cahaya dan predator. Berbagai faktor yang mempengaruhi ikan terhadap cahaya, sumber cahaya itu sendiri yang merupakan faktor utama (intensitas cahaya) yang mempengaruhi secara langsung pola tingkah laku ikan. Pengamatan tingkah laku ikan dapat dilakukan dengan cara pengamatan di atas permukaan air dan di bawah permukaan air. Pengamatan di atas permukaan air meliputi pengamatan visual dengan menggunakan kamera atau handycam. Pengamatan bawah air meliputi pengamatan visual dengan menggunakan kamera

6 bawah air, penyelam dan perangkat akustik untuk mengetahui kecepatan renang dan pola pergerakan kawanan ikan di sekitar zona iluminasi. Pengamatan tingkah laku ikan sangat penting diketahui untuk meningkatkan hasil tangkapan sehingga dalam menangkap ikan di laut tidak lagi mencari tetapi dapat memilih jenis ikan yang akan ditangkap. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku ikan antara lain faktor lingkungan seperti arus, suhu kecerahan, gelombang dan topografi dasar perairan dan faktor dari ikan itu sendiri seperti jenis dan ukuran serta faktor lain yang dapat mempengaruhi ikan untuk berada pada suatu tempat tertentu seperti penetrasi dan iluminasi cahaya, lintang geografis dan musim. Pengetahuan tingkah laku ikan dalam proses penangkapan ikan yang menggunakan cahaya sebagai alat bantu yang penting diketahui khususnya tingkah laku di sekitar pencahayaan antara lain pola penyebaran dan distribusi ikan sebelum dan sesuadah proses penangkapan, pola kedatangan ikan di sekitar pencahayaan dan pola pergerakan ikan di sekitar pencahayaan. Diketahuinya tingkah laku ikan di sekitar pencahayaan dapat dijadikan suatu pedoman untuk membuat taktik penangkapan agar hasil tangkapan dapat lebih meningkat. Disamping itu dapat juga dijadikan landasan untuk merancang atau memodifikasi suatu alat tangkap yang lebih efektif dan efisien dalam melakukan operasi penangkapan. Berdasarkan kerangka teori di atas, kerangka pemikiran penelitian dibuat seperti pada Gambar 1.

Gambar 1 Bagan alir kerangka pemikiran penelitian 7