5 PEMBAHASAN 5.1 Performa Fyke Net Modifikasi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "5 PEMBAHASAN 5.1 Performa Fyke Net Modifikasi"

Transkripsi

1 5 PEMBAHASAN 5.1 Performa Fyke Net Modifikasi Fyke net yang didisain selama penelitian terdiri atas rangka yang terbuat dari besi, bahan jaring Polyetilene. Bobot yang berat di air dan material yang sangat kuat menunjang performa fyke net tetap stabil terhadap pengaruh arus di sekitar tubir karang. Volume air yang terbentuk dalam rangkaian jaring dan rangka fyke net relatif besar pada bagian kantong (5,4 m 3 ) sehingga ikan yang masuk masih dapat berenang dan berlindung di dalam kantong sebelum hauling. Dimensi serambi terdiri atas rangka depan 3 buah masing-masing pada bagian kanan, tengah dan kiri berukuran tinggi 180 cm dan lebar 150 cm. Disain ini membentuk serambi berbentuk huruf V. Celah selebar 20 cm dan tinggi 150 m memberikan kesempatan ikan untuk masuk dengan ukuran sesuai celah. Celah yang terbentuk ini dapat menyeleksi ikan tertentu yang masuk, ikan dengan bentuk tubuh compressed (gepeng vertikal) akan leluasa masuk dibanding ikan berbentuk depressed (gepeng horizontal). Hal ini dibuktikan dari ikan hasil tangkapan fyke net yang seluruhnya berbentuk compressed. Berdasarkan perhitungan volume air yang terbentuk pada bagian serambi sebanyak 8,2 m 3 memungkinkan keleluasaan pergerakan berbagai jenis ikan yang baru masuk untuk mengitari dinding jaring pada serambi. Pergerakan ikan pada akhirnya akan diarahkan masuk menuju mulut kantong yang dilengkapi bingkai dengan rigi-rigi. Rigi-rigi merupakan modifikasi pada mulut kantong fyke net yang tergolong non-return device (NRD) dengan jarak antar rigi yang membentuk gap vertikal 38 cm dan gap horizontal 8 cm (Gambar 4). Gap yang terbentuk akan menyeleksi ukuran ikan yang dapat masuk dengan ukuran tinggi maksimal 36 cm dan ketebalan maksimal 8 cm. Gap ini juga berfungsi sebagai penahan masuknya penyu dengan ukuran kerabang (karapaks) lebih besar dari 36 cm akan tetapi belum ada disain untuk meloloskan penyu bila tertahan di bagian serambi sehingga perlu dibuatkan konstruksi untuk pelolosan penyu (turtle excluder device, TED) pada fishing ground yang diketahui terdapat penyu.

2 5.2 Operasi Penangkapan Ikan dengan Fyke Net di Terumbu Karang Ikan karang yang tertangkap oleh fyke net setelah melakukan modifikasi pada bagian sayap dan mulut kantong berhubungan dengan sifat ikan karang. Pada pengoperasian fyke net diduga keberadaan ikan masuk ke serambi karena mendeteksi keberadaan alat sebagai tempat berlindung (shelter), mekanisme ini serupa dengan sifat ikan karang memutuskan masuk ke bubu sebagai tempat berlindung seperti yang dikemukakan oleh Furevik (1994). Sifat ikan karang yang melakukan bermigrasi vertikal dan horizontal (Spotte, 1992) yang akhirnya menjadikan fyke net sebagai tempat berlindung juga menjadi alasan ikan karang tertangkap. Migrasi horizontal dilakukan oleh jenis ikan karang herbivor dan pemakan plankton seperti pada famili Apogonidae, Holocentridae dan Scaridae, yang juga ditemukan tertangkap oleh fyke net. Famili Apogonidae tertangkap sebanyak 62 ekor (23,5 %) berat 886 g (8,41 %); Holocentridae 39 ekor (14,50 %) seberat 1418 g (13,46 %); Scaridae 4 ekor (1,49 %) berat 195 g (1,85 %) (Lampiran 1, Gambar 11). Migrasi vertikal keluar terumbu karang dilakukan oleh jenis ikan predator dan aktif makan pada malam hari dan kembali lagi ke karang pada saat tidak aktif makan (Hobson, 1973 yang diacu Versteegh, 2003); (Spotte, 1992), jenis ini juga ditemukan tertangkap oleh fyke net seperti pada Famili: Lutjanidae sebanyak 11 ekor (4,09 %) berat g (20,39 %); Lethrinidae sebanyak 6 ekor (2,23 %) berat g (10,46 %); Serranidae 2 ekor (0,74 %) berat 332 g (3,15 %); Haemulidae 1 ekor (0,37 %) berat 310 g (2,94 %) (Gambar 11). Material utama penyusun fyke net yang berat (besi batangan 35 kg, jaring 5 kg) memberi dampak terhadap pengoperasian alat selama penelitian. Penanganan saat setting dan hauling membutuhkan tenaga yang kuat untuk mengangkat, menarik dan memindahkan fyke net selama penelitian. Kesulitan penanganan juga berasal dari keberadaan bahan-bahan terlarut di air dan yang menempel (fouling) pada jaring yang menambah beban saat diangkat dan harus senantiasa dibersihkan. Berdasarkan kenyataan ini maka pemilihan material yang tepat 42

3 sebagai penyusun fyke net yang terbuat dari bahan yang lebih ringan dan dapat mengurangi fouling perlu dipertimbangkan. Dimensi fyke net yang relatif besar dengan ukuran panjang 9 m dan lebar 2 m membutuhkan penanganan khusus dalam pengoperasiannya. Fyke net sebelum di-setting terlebih dahulu ditarik dari pantai menuju ke fishing ground. Demikian pula pengoperasian yang dilakukan secara berpindah-pindah, fyke net ditarik dengan posisi dibawah perahu yang memberi gesekan kepada air yang cukup besar untuk memperlambat laju dan olah-gerak perahu penarik. Posisi penarikan alat dibawah perahu memperbesar resiko kapal tersangkut karena membutuhkan jarak lebih besar terhadap dasar perairan. Berdasarkan uraian tersebut maka konstruksi fyke net disarankan mempertimbangkan kesulitan-kesulitan teknis dalam pengoperasiannya. Oleh karena itu maka perlu dipertimbangkan penelitian lanjutan yang memodifikasi bagian-bagian fyke net yang dapat dibongkar-pasang (portable). Konstruksi fyke net portable diharapkan lebih mempermudah dalam pengoperasian dan dapat menjadi pilihan nelayan yang masih menggunakan metoda penangkapan ikan yang merusak karang seperti pembiusan dan pengeboman serta pengoperasian bubu yang menggunakan karang hidup sebagai bahan penyamar untuk ikan karang masuk ke mulut bubu. 5.3 Hasil Tangkapan Fyke Net Berdasarkan berat hasil tangkapan ikan target lebih dominan yang umumnya bersifat karnivor seperti famili Lutjanidae, Serranidae, Lethrinidae dan Haemullidae (Gambar 12)(Lampiran 2b). Ikan target umumnya bersifat karnivor dan tertangkap dengan ukuran lebih besar walaupun dengan jumlah individu lebih sedikit. Ikan target karnivor yang tertangkap berukuran panjang mm dengan berat g sedangkan jumlah individu hanya 20 ekor (0,07 %). Ikan target karnivor tertangkap dengan jumlah individu relatif lebih sedikit diduga berhubungan dengan sifat soliter yang cenderung hidup menyendiri dan sifat kompetisi sesama jenis yang mengejar ikan lain untuk mempertahankan wilayah feeding ground sehingga ikan yang tertangkap fyke net terbatas pada ikan target 43

4 karnivor yang wilayah feeding ground-nya berada pada lokasi pemasangan fyke net. Ikan non-target berdasarkan jumlah individu tertangkap fyke net dominan karena umumnya berenang diseputar terumbu karang dan membentuk kawanan dalam berinteraksi dengan fyke net seperti pada Famili Pomacentridae, Labridae, Diodontidae, Scorpaenidae, Zanclidae (Gambar 11). Ikan non-target yang tertangkap fyke net adalah ikan karang yang bersifat migrasi horizontal (Spotte, 1992) dan berinteraksi dengan fyke net sebagai shelter (Furevik, 1994). Ikan migrasi horizontal yang tertangkap fyke net terdiri atas Famili Apogonidae, Holocentridae dan Scaridae (Lampiran 2b). Famili Apogonidae (Spesies Apogon exostigma) tertangkap dengan jumlah yang paling dominan yaitu 62 ekor (23,05 %), hal ini disebabkan sifat ikan ini yang membentuk kawanan sehingga tertangkap lebih banyak yaitu 4-8 ekor pada 10 hauling tertangkapnya. Famili Holocentridae (spesies Myripristis pralinia, Sargocentron diadema) juga tertangkap 39 ekor (14,50 %), kedua spesies ini bersifat migrasi nokturnal dan cenderung berdiam diri ditempat perlindungan sehingga dapat tertangkap oleh fyke net di 8 hauling. Ikan karang target seperti jenaha (Lutjanidae), lencam (Lethrinidae), kuniran (Mullidae) diduga tertangkap karena sifat ikan yang bermigrasi keluar karang secara horizontal untuk mencari makan sehingga dapat berinteraksi dengan fyke net yang terpasang di luar karang. Interaksi ikan setelah berada disekitar fyke net berhubungan dengan sifat tigmotaxis ikan yang cenderung mendekati bendabenda asing yang padat. Proses inilah yang kemudian menuntun ikan untuk menemukan celah menuju serambi yang akhirnya terkurung dalam kantong. Ikan karang target tertangkap pada kisaran panjang mm dengan berat pada kisaran g, hal ini menunjukkan fyke net menangkap ikan karang target pada ukuran yang layak dikonsumsi. Ikan non-target tertangkap pada kisaran panjang mm dengan berat pada kisaran g, hal ini menunjukkan ikan tertangkap yang relatif berukuran kecil dengan nilai ekonomis rendah dan merupakan komponen tangkapan sampingan (by-catch) sehingga disarakan untuk memperbesar ukuran mata jaring fyke net yang lebih besar dari ¾ 44

5 inci (2 cm). Penggunaan ukuran mata jaring fyke net yang lebih besar diharapkan akan mengurangi komponen by-catch hasil tangkapannya sehingga tetap menjaga konsistensi ekologis biodiversitas terumbu karang. Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian uji coba pengoperasian fyke net ternyata dapat menangkap ikan karang setelah dilakukan modifikasi pada bagian sayap dan mulut kantong. Keberhasilan pengoperasian fyke net selain ditentukan oleh modifikasi konstruksi juga pemilihan lokasi yang tidak pada koloni karang melainkan pada tubir karang yang memiliki areal lebih landai. Dasar perairan tubir karang yang tidak terdapat koloni karang memudahkan ikan karang target dengan sifat migrasi horizontal dan vertikal pada terumbu karang menurut Spotte (1992) (Veersteegh, 2003) akan mudah dideteksi keberadaan fyke net sebagai shelter (tempat berlindung) (Furevik, 1994) kemudian masuk ke dalam serambi dan akhirnya tertangkap. Migrasi horizontal dilakukan oleh jenis ikan karang non-target yang umumnya bersifat herbivor ( dan pemakan plankton yang juga ditemukan tertangkap oleh fyke net hal ini diduga karena ikan ini mendeteksi keberadaan fyke net juga sebagai shelter (Furevik, 1994) Hasil Tangkapan Fyke Net Tipe A Hasil tangkapan fyke net tipe A dengan disain sayap dengan serambi didominasi kategori ikan target penangkapan yang membentuk kawanan baik berdasarkan jumlah maupun berdasarkan berat. Jumlah individu spesies ikan tertangkap dominan adalah pepetek (Secutor indicus) sebanyak 38 ekor (18,91 %) dengan jumlah kawanan 8-16 ekor, selanjutnya hasil tangkapan paling berat yaitu sembilang karang (Plotosus lineatus) seberat g (13,19%) dengan jumlah kawanan 9-14 ekor. Famili Lutjanidae merupakan hasil tangkapan terberat pada fyke net tipe A hal ini disebabkan ikan yang tertangkap berukuran relatif lebih besar seperti umumnya ikan-ikan predator di terumbu karang. Famili Lutjanidae tertangkap seberat g (24,31%) dari total tangkapannya (Lampiran 3b), selanjutnya ukuran tertangkap pada kisaran panjang mm. Hal lain yang mendukung tertangkapnya Famili Lutjanidae pada fyke net tipe A adalah sifat ikan 45

6 yang bermigrasi horizontal Spotte (1992) (Veersteegh, 2003) keluar terumbu karang sehingga memungkinkan berinteraksi dengan fyke net. Famili Lutjanidae yang tertangkap umumnya bersifat soliter (Allen & Swainston, 1984) yaitu kakap jenaha (Lutjanus gibbus), kakap bengali (L. bengalensis,) tanda-tanda batu (L. decuscatus) dan tanda-tanda karang (L. sebae), hal ini sesuai hasil pengamatan yang menunjukkan masing-masing didapati hanya satu ekor pada hauling tertangkapnya pada fyke net tipe A Hasil Tangkapan Fyke Net Tipe B Hasil tangkapan fyke net tipe B (sayap tanpa serambi) berdasarkan jumlah didominasi ikan target yaitu pepetek (Secutor indicus, 27 ekor ; 39,71 %) sedangkan berdasarkan berat didominasi ikan non-target yaitu capungan (Apogon exostigma, berat 372 g; 21,8%). Jika hasil tangkapan digolongkan berdasarkan Famili, baik jumlah maupun berat hasil tangkapan didominasi ikan target Famili Leioghnatidae yaitu: 27 ekor (39,71%) dengan berat 372 g (21,8%). Sifat membentuk kawanan dan berinteraksi dengan fyke net sebagai shelter pada spesies Pepetek (S. indicus) yang merupakan penyebab utama ikan ini tertangkap dominan oleh fyke net tipe B, kenyataan saat hauling tertangkap dengan jumlah kawanan 5-9 ekor. Hal serupa juga terjadi pada capungan (A.exostigma), spesies ini juga cenderung membentuk kawanan dan berinteraksi dengan Fyke netsebagai shelter, kenyataan saat hauling tertangkap dengan jumlah kawanan 5-8 ekor. 5.4 Perbandingan Hasil Tangkapan Fyke Net Tipe A dan Tipe B Berdasarkan individu hasil tangkapan ikan karang berbeda sangat signifikan antara fyke net tipe A dan tipe B (A > 2,96*B) (Gambar 13). Hal ini menunjukkan disain fyke net yang menggunakan sayap dengan serambi lebih produktif dari segi jumlah hasil tangkapan dibanding disain sayap tanpa serambi. Hal serupa juga terjadi pada berat hasil tangkapan, Selanjutnya berat ikan karang hasil tangkapan juga berbeda sangat signifikan antara tipe fyke net A dan tipe B (A > 5,19*B) (Gambar 13). Hal ini menunjukkan bahwa disain fyke net 46

7 yang menggunakan sayap dengan serambi lebih produktif dari segi berat hasil tangkapan dibanding disain sayap tanpa serambi. Perbedaan hasil tangkapan ikan karang tipe A dan B ditinjau dari jumlah individu dan berat individu diduga berkaitan dengan perbedaan disain sayap. Disain sayap pada fyke net tipe A memiliki serambi sedangkan tipe B tidak memiliki serambi. Disain serambi pada tipe A memiliki celah pemasukan (entrance) untuk ikan dapat dengan mudah berenang masuk serambi tanpa menyadari bahwa telah terkurung pada serambi. Sedangkan serambi adalah ruang yang terbentuk di dalam fyke net yang memudahkan ikan berenang-renang mengitari dinding serambi yang berakhir pada mulut kantong. Oleh karena itu rancangan fyke net untuk kepentingan produktifitas hasil tangkapan ikan karang dengan penggunaan disain sayap dengan serambi menjadi pilihan yang tepat dibanding dengan sayap tanpa serambi. 5.5 Perbandingan Hasil Tangkapan Ikan Target setiap Tipe Fyke Net Jumlah individu hasil tangkapan ikan target berbeda sangat signifikan antara fyke net tipe A dan tipe B (A > 15,50*B)(Gambar 14). Selanjutnya berat ikan karang hasil tangkapan juga berbeda sangat signifikan antara tipe fyke net A dan tipe B (A > 10,56*B (Gambar 14). Perbedaan yang signifikan antara fyke net tipe A dan B berdasarkan jumlah dan berat hasil tangkapan ikan target menunjukkan disain sayap dengan serambi lebih efektif menangkap ikan target. Perbedaan hasil tangkapan ikan karang target tipe A dan B ditinjau dari jumlah individu dan berat diduga juga berkaitan dengan disain sayap. Disain sayap pada fyke net tipe A memiliki serambi sedangkan tipe B tidak memiliki serambi. Ikan karang target seperti kerapu (Serranidae) jenaha, tanda-tanda (Lutjanidae), lencam (Lethrinidae), biji nangka, kuniran (Mullidae) adalah ikan predator yang bermigrasi secara horizontal mencari mangsa di luar terumbu karang sehingga memudahkan ikan-ikan tersebut menemukan fyke net yang berada di tubir karang. Proses selanjutnya adalah interaksi ikan karang target tersebut dengan bagian-bagian sayap fyke net. Tipe A dengan sayap memiliki serambi membentuk area pelolosan ikan (escapement area) lebih kecil di banding 47

8 dengan tipe B yang tidak memiliki serambi. Area pelolosan ikan pada tipe A hanya terdapat pada celah horizontal dengan lebar 20 cm, sedangkan area pelolosan ikan pada tipe B lebih besar yaitu pada bagian atas sayap yang tidak memiliki serambi atau ikan berenang berbalik arah menjauhi mulut kantong fyke net. Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa disain serambi lebih baik untuk menangkap ikan karang target 5.6 Perbandingan Hasil Tangkapan Ikan non-target setiap Tipe Fyke Net Hasil tangkapan ikan karang non-target fyke net tipe A dan B tidak menunjukkan perbedaan. Hal ini diduga berhubungan dengan lokasi penempatan fyke net yang terletak diluar koloni karang dan sifat ikan karang non-target yang umumnya herbivora dan berenang serta mencari makan hanya disekitar koloni karang sehingga interaksi dengan fyke net lebih rendah jika dibanding dengan ikan karang target. Dengan demikian menunjukkan bahwa penempatan fyke net luar di koloni karang tergolong upaya selektif terhadap tertangkapnya ikan karang nontarget ditinjau dari segi metode pengoperasian. Ikan non-target adalah komponen tangkapan sampingan (by-catch) seperti pepetek, capungan dan kakatua yang umumnya berukuran kecil dan secara ekonomis bernilai rendah. Jika dihubungkan ikan karang non-target dengan disain fyke net menunjukkan bahwa modifikasi fyke net tidak mempengaruhi peningkatan jumlah tangkapan ikan karang non-target sehingga modifikasi yang dilakukan tergolong ramah terhadap konsistensi ekologis terumbu karang 5.7. Kriteria keramahan Fyke Net Bila ditinjau dari segi selektivitas seperti kriteria yang dikemukakan Monintja (2000) yang diacu Arifin, menunjukkan bahwa fyke net adalah alat tangkap yang masih menangkap ikan dengan jumlah 21 spesies dan variasi ukuran pada kisaran dengan rentang panjang yang jauh ( mm) dan rentang berat yang jauh (9-420 g). Dengan demikian optimasi yang dilakukan diarahkan kepada penurunan jumlah spesies yang tertangkap dan pada ukuran yang relatif 48

9 seragam. Upaya optimasi untuk mengurangi jumlah ikan kurang dari 3 spesies hasil tangkapan fyke net agak sulit dilakukan mengingat atribut biodiversitas yang tinggi pada terumbu karang. Optimasi yang lebih memungkinkan dapat dilakukan adalah upaya menyeragamkan hasil tangkapan fyke net dengan memperbesar ukuran mata jaring > 2 cm (2 cm yang digunakan selama penelitian) Kriteria keramahan alat tangkap yang dikemukakan Monintja (2000) yang diacu Arifin (2008) berdasarkan hasil tangkapan sampingan menunjukkan bahwa fyke net masih menangkap ikan non-target (by-catch) dengan jumlah individu 63,20 % (Gambar 12). Kriteria keramahan fyke net masih jauh dari harapan karena menangkap dengan jumlah lebih 3 spesies dan tidak laku/harga sangat rendah di pasar seperti capungan (Apogonidae), pepetek (Leioghnathidae), kakatua (Scaridae). Keramahan fyke net dapat ditingkatkan dengan memperbesar ukuran mata jaring fyke net yang lebih besar dari ¾ inci (2 cm). Penggunaan ukuran mata jaring fyke net yang lebih besar diharapkan akan mengurangi komponen by-catch hasil tangkapannya sehingga tetap menjaga konsistensi ekologis biodiversitas terumbu karang. Pengoperasian fyke net dalam menangkap ikan karang dilakukan pada tubir karang yaitu daerah landai yang berada di depan tubir karang dengan variasi kedalaman 5 25 m. Hasil penelitian berdasarkan secara observatif dengan melakukan penyelaman menunjukkan bagian-bagian fyke net dan alat bantu penangkapan tidak melakukan interaksi fisik dengan koloni terumbu karang. Hal ini didukung pula dengan pemanfaatan karung pasir sebagai pengganti jangkar untuk menahan fyke net sehingga kerusakan karang dapat dihindari. Bila ditinjau dari dampak pengoperasian alat tangkap seperti kriteria yang dikemukakan Monintja (2000) yang diacu Arifin, menunjukkan bahwa fyke net adalah alat tangkap yang tidak menimbulkan kerusakan terhadap habitat terumbu karang. Oleh Karena itu pengoperasian alat tangkap fyke net untuk menangkap ikan karang berdasarkan hasil penelitian dianggap ramah terhadap lingkungan. Prinsip penangkapan fyke net adalah tergolong alat tangkap yang pasif dan memiliki serambi dan sayap untuk mengarahkan ikan masuk ke kantong (Gambar 5). Berdasarkan hasil tangkapan fyke net menunjukkan bahwa ikan yang 49

10 tertangkap dalam posisi terkurung dalam kantong yang mulutnya di beri rigi-rigi penghalang (Gambar 4 dan 5). Ikan hasil tangkapan fyke net tertangkap dalam keadaan hidup dan dipindahkan ke palka sirkulasi pada perahu saat hauling. Kriteria keramahan alat tangkap yang dikemukakan Monintja (2000) yang diacu Arifin (2008) berdasarkan kualitas ikan hasil tangkapan menunjukkan bahwa fyke net tergolong alat tangkap yang ramah terhadap lingkungan karena hasil tangkapan dalam keadaan hidup yang tentunya memiliki kualitas yang tinggi. Dengan demikian pengoperasian fyke net dengan disain konstruksinya yang menjaga hasil tangkapan tetap hidup dapat dipertahankan. Hasil tangkapan terdiri atas 21 spesies yang terbagi ke dalam 11 famili. Famili yang tergolong ikan ekonomis yaitu Lutjanidae, Lethrinidae, Serranidae, Nemipteridae, Haemullidae dan ikan tangkapan sampingan adalah famili Leioghnatidae, Apogonidae, Scaridae, Plotosidae, Holocentridae. Ikan hasil tangkapan dalam keadaan hidup dan tidak menimbulkan kerusakan habitat dan kematian bagi individu lain yang bukan target penangkapan, hal ini disebabkan oleh pengoperasian fyke net yang pasif sehingga interaksi fisik bagian-bagain alat dengan terumbu karang tidak terjadi dan penempatan terumbu karang pada bagian tubir yang berada diluar terumbu karang menjamin biodiversitas terumbu karang. Rigi-rigi pada mulut kantong fyke net berfungsi untuk menghalangi penyu untuk tertangkap, sehingga konstruksi fyke net dapat menjamin tidak tertangkapnya hewan-hewan yang dilindungi seperti penyu. Oleh karena itu kriteria keramahan alat tangkap yang dikemukakan Monintja (2000) yang diacu Arifin (2008) berdasarkan dampak kepada biodiversitas dianggap optimum pada pengoperasian fyke net telah ramah lingkungan. 50

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan wilayah yang memiliki ciri khas kehidupan pesisir dengan segenap potensi baharinya seperti terumbu karang tropis yang terdapat di

Lebih terperinci

EKSPERIMEN PENANGKAPAN IKAN KARANG DENGAN MENGGUNAKAN FYKE NET MODIFIKASI DI KABUPATEN SELAYAR SYAWALUDDIN SOADIQ

EKSPERIMEN PENANGKAPAN IKAN KARANG DENGAN MENGGUNAKAN FYKE NET MODIFIKASI DI KABUPATEN SELAYAR SYAWALUDDIN SOADIQ EKSPERIMEN PENANGKAPAN IKAN KARANG DENGAN MENGGUNAKAN FYKE NET MODIFIKASI DI KABUPATEN SELAYAR SYAWALUDDIN SOADIQ SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

Lebih terperinci

t->;- PUSAT PENELITIAN PENGELOLAAN PERlKANAN DAN KONSERVASI SUMBER DAYA lka~ BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERlKANAN ISSN

t->;- PUSAT PENELITIAN PENGELOLAAN PERlKANAN DAN KONSERVASI SUMBER DAYA lka~ BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERlKANAN ISSN ISSN 0853-5884 t->;-,( "- ~'1!';:. ~._ "\" PUSAT PENELITIAN PENGELOLAAN PERlKANAN DAN KONSERVASI SUMBER DAYA lka~ BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERlKANAN ISSN 0853-5884 JURNAL PENELITIAN

Lebih terperinci

5 HASIL PENELITIAN 5.1 Hasil Tangkapan Total hasil tangkapan Hasil tangkapan bubu tali selama 10 kali operasi adalah 520 ekor dengan berat

5 HASIL PENELITIAN 5.1 Hasil Tangkapan Total hasil tangkapan Hasil tangkapan bubu tali selama 10 kali operasi adalah 520 ekor dengan berat 33 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Hasil Tangkapan 5.1.1 Total hasil tangkapan Hasil tangkapan bubu tali selama 10 kali operasi adalah 520 ekor dengan berat seluruhnya sebesar 43,595 kg. Hasil tangkapan didapatkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Jumlah Armada Penangkapan Ikan Cirebon Tahun Tahun Jumlah Motor

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Jumlah Armada Penangkapan Ikan Cirebon Tahun Tahun Jumlah Motor BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perikanan Tangkap di Cirebon Armada penangkapan ikan di kota Cirebon terdiri dari motor tempel dan kapal motor. Jumlah armada penangkapan ikan dikota Cirebon

Lebih terperinci

Jaring Angkat

Jaring Angkat a. Jermal Jermal ialah perangkap yang terbuat dari jaring berbentuk kantong dan dipasang semi permanen, menantang atau berlawanlan dengan arus pasang surut. Beberapa jenis ikan, seperti beronang biasanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terumbu karang merupakan sebuah sistem dinamis yang kompleks dimana keberadaannya dibatasi oleh suhu, salinitas, intensitas cahaya matahari dan kecerahan suatu perairan

Lebih terperinci

7 EFEKTIVITAS PENANGKAPAN IKAN KERAPU TERHADAP UMPAN

7 EFEKTIVITAS PENANGKAPAN IKAN KERAPU TERHADAP UMPAN 7 EFEKTIVITAS PENANGKAPAN IKAN KERAPU TERHADAP UMPAN 7.1 Pendahuluan Bubu merupakan alat tangkap yang bersifat pasif. Secara umum, menangkap ikan dengan bubu adalah agar ikan berkeinginan masuk ke dalam

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu isu penting perikanan saat ini adalah keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungannya. Upaya pemanfaatan spesies target diarahkan untuk tetap menjaga

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Jenis Hasil Tangkapan Hasil tangkapan pancing ulur selama penelitian terdiri dari 11 famili, 12 genus dengan total 14 jenis ikan yang tertangkap (Lampiran 6). Sebanyak 6

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perairan Pulau Pramuka terletak di Kepulauan Seribu yang secara administratif termasuk wilayah Jakarta Utara. Di Pulau Pramuka terdapat tiga ekosistem yaitu, ekosistem

Lebih terperinci

5 PEMBAHASAN 5.1 Proses penangkapan pada bagan rambo

5 PEMBAHASAN 5.1 Proses penangkapan pada bagan rambo 58 5 PEMBAHASAN 5.1 Proses penangkapan pada bagan rambo Dalam pengoperasiannya, bagan rambo menggunakan cahaya untuk menarik dan mengumpulkan ikan pada catchable area. Penggunaan cahaya buatan yang berkapasitas

Lebih terperinci

POTENSI PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH (KKPD) KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU, INDONESIA

POTENSI PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH (KKPD) KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU, INDONESIA Prosiding Seminar Antarabangsa Ke 8: Ekologi, Habitat Manusia dan Perubahan Persekitaran 2015 7 POTENSI PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH (KKPD) KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teknologi Penangkapan 2.2 Alat Tangkap Perangkap ( Traps

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teknologi Penangkapan 2.2 Alat Tangkap Perangkap ( Traps 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teknologi Penangkapan Teknologi penangkapan ikan yang akan dikembangkan setidaknya harus memenuhi empat aspek pengkajian bio-techniko-socio-economic-approach yaitu: (1) Bila ditinjau

Lebih terperinci

Angin memiliki pola pergerakan yang bervariasi sesuai dengan musim yang. berlangsung di suatu perairan akibat adanya perbedaan tekanan udara.

Angin memiliki pola pergerakan yang bervariasi sesuai dengan musim yang. berlangsung di suatu perairan akibat adanya perbedaan tekanan udara. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Arah dan Kecepatan Angin Angin memiliki pola pergerakan yang bervariasi sesuai dengan musim yang berlangsung di suatu perairan akibat adanya perbedaan tekanan

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Komposisi Hasil Tangkapan Hasil tangkapan selama periode pengamatan menunjukkan kekayaan jenis ikan karang sebesar 16 famili dengan 789 spesies. Jumlah tertinggi ditemukan

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian penangkapan ikan dengan menggunakan jaring arad yang telah dilakukan di perairan pantai Cirebon, daerah Kecamatan Gebang, Jawa Barat

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Ikan Karang 2.2 Habitat Ikan Karang

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Ikan Karang 2.2 Habitat Ikan Karang 4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Ikan Karang Ikan karang merupakan organisme laut yang sangat mencolok di ekosistem terumbu karang, sehingga sering dijumpai dengan jumlah yang besar dan mengisi daerah

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau Semak Daun merupakan salah satu pulau yang berada di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Pulau ini memiliki daratan seluas 0,5 ha yang dikelilingi

Lebih terperinci

6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan

6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan 6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan Daerah penangkapan ikan kakap (Lutjanus sp.) oleh nelayan di Kabupaten Kupang tersebar diberbagai lokasi jalur penangkapan.

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian di lapang dilaksanakan pada Bulan Mei sampai Juni 2009. Penelitian dilaksanakan di Perairan Pulau Karang Beras, Kepulauan Seribu (Lampiran

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Luas terumbu karang Indonesia kurang lebih 50.000 km 2. Ekosistem tersebut berada di wilayah pesisir dan lautan di seluruh perairan Indonesia. Potensi lestari sumberdaya

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem terumbu karang berfungsi sebagai tempat memijah, mencari makan, daerah pengasuhan dan berlindung biota laut, termasuk bagi beragam jenis ikan karang yang berasosiasi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. mata jaring ke arah panjang atau ke arah horizontal (mesh length) jauh lebih

TINJAUAN PUSTAKA. mata jaring ke arah panjang atau ke arah horizontal (mesh length) jauh lebih TINJAUAN PUSTAKA Alat Tangkap Jaring Insang (Gill net) Jaring insang (gill net) yang umum berlaku di Indonesia adalah salah satu jenis alat penangkapan ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Jumlah tangkapan; struktur ukuran; jenis umpan; ikan demersal dan rawai dasar

ABSTRAK. Kata kunci: Jumlah tangkapan; struktur ukuran; jenis umpan; ikan demersal dan rawai dasar RESPON IKAN DEMERSAL DENGAN JENIS UMPAN BERBEDA TERHADAP HASIL TANGKAPAN PADA PERIKANAN RAWAI DASAR Wayan Kantun 1), Harianti 1) dan Sahrul Harijo 2) 1) Sekolah Tinggi Teknologi Kelautan (STITEK) Balik

Lebih terperinci

OPTIMASI HASIL TANGKAPAN MENGGUNAKAN MODIFIKASI ALAT TANGKAP FYKE NET DI PERAIRAN KARIMUNJAWA

OPTIMASI HASIL TANGKAPAN MENGGUNAKAN MODIFIKASI ALAT TANGKAP FYKE NET DI PERAIRAN KARIMUNJAWA OPTIMASI HASIL TANGKAPAN MENGGUNAKAN MODIFIKASI ALAT TANGKAP FYKE NET DI PERAIRAN KARIMUNJAWA Optimization Catching Produce Using Modified Fyke Net in Karimunjawa Island Haris Yudho Pratomo* ), Herry Boesono

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS PENANGKAPAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DENGAN BUBU MENGGUNAKAN UMPAN BUATAN. I. Pendahuluan

EFEKTIVITAS PENANGKAPAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DENGAN BUBU MENGGUNAKAN UMPAN BUATAN. I. Pendahuluan EFEKTIVITAS PENANGKAPAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DENGAN BUBU MENGGUNAKAN UMPAN BUATAN Mochammad Riyanto 1), Ari Purbayanto 1), dan Budy Wiryawan 1) 1) Staf Pengajar Departemen Pemanfaatan

Lebih terperinci

4 HASIL. Gambar 8 Kapal saat meninggalkan fishing base.

4 HASIL. Gambar 8 Kapal saat meninggalkan fishing base. 31 4 HASIL 4.1 Unit Penangkapan Ikan 4.1.1 Kapal Jumlah perahu/kapal yang beroperasi di Kecamatan Mempawah Hilir terdiri dari 124 perahu/kapal tanpa motor, 376 motor tempel, 60 kapal motor 0-5 GT dan 39

Lebih terperinci

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan 50 5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Kegiatan penangkapan ikan oleh nelayan bubu di Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Pontianak ditujukan untuk menangkap ikan kakap merah (Lutjanus sanguineus),

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Bubu ( Traps

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Bubu ( Traps 4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Bubu (Traps) Bubu merupakan alat penangkapan ikan yang pasif (pasif gear). Alat tangkap ini memanfaatkan tingkah laku ikan yang mencari tempat persembunyian maupun

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Lokasi penelitian mengambil tempat di pulau Pramuka Kepulauan Seribu, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Propinsi DKI Jakarta (Peta Lokasi Lampiran

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKUR KOMUNITAS IKAN KARANG DI RUMPON DAN BUBU. Fonny J.L Risamasu dan Jotham S.R Ninef * ABSTRACT

ANALISIS STRUKUR KOMUNITAS IKAN KARANG DI RUMPON DAN BUBU. Fonny J.L Risamasu dan Jotham S.R Ninef * ABSTRACT ANALISIS STRUKUR KOMUNITAS IKAN KARANG DI RUMPON DAN BUBU Fonny J.L Risamasu dan Jotham S.R Ninef * ABSTRAT This paper describe of reef fish community structure in FAD (Fish Aggregating Device) and trap

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN

EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN Silka Tria Rezeki 1), Irwandy Syofyan 2), Isnaniah 2) Email : [email protected] 1) Mahasiswa

Lebih terperinci

Lift Net & Traps. Ledhyane Ika Harlyan. Dept. of Fisheries Resources Utilization and Marine Science Fisheries Faculty, Brawijaya University 1

Lift Net & Traps. Ledhyane Ika Harlyan. Dept. of Fisheries Resources Utilization and Marine Science Fisheries Faculty, Brawijaya University 1 Lift Net & Traps Ledhyane Ika Harlyan Dept. of Fisheries Resources Utilization and Marine Science Fisheries Faculty, Brawijaya University 1 Tujuan Instruksional Khusus Mahasiswa yg mengikuti materi ini

Lebih terperinci

1. Mendeskripsikan proses pelolosan ikan pada tiga jenis BRD yaitu TED super shooter, square mesh window dan fish eye

1. Mendeskripsikan proses pelolosan ikan pada tiga jenis BRD yaitu TED super shooter, square mesh window dan fish eye 85 6 PROSES PELOLOSAN IKAN MELALUI BYCATCH REDUCTION DEVICE (BRD): PERCOBAAN LABORATORIUM 6. Pendahuluan Pemasangan bycatch reduction device pada trawl ditujukan untuk mengurangi ikan-ikan hasil tangkapan

Lebih terperinci

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan 5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian menunjukan bahwa sumberdaya ikan di perairan Tanjung Kerawang cukup beragam baik jenis maupun ukuran ikan yang

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 33 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Ukuran Mata Jaring Lintasan Masuk Bubu Hasil pengamatan terhadap tingkah laku kepiting bakau saat melewati bidang lintasan masuk menunjukkan bahwa kepiting bakau cenderung

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN JENIS SHELTER YANG BERBEDA PADA BUBU DASAR TERHADAP HASILTANGKAPAN DI PERAIRAN KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN

PENGARUH PENGGUNAAN JENIS SHELTER YANG BERBEDA PADA BUBU DASAR TERHADAP HASILTANGKAPAN DI PERAIRAN KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN Jurnal Galung Tropika, 3 (2) Mei 2014, hlmn 1-7 ISSN 2302 4178 PENGARUH PENGGUNAAN JENIS SHELTER YANG BERBEDA PADA BUBU DASAR TERHADAP HASILTANGKAPAN DI PERAIRAN KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN THE INFLUENCE

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Metode penangkapan ikan dengan menggunakan cahaya sudah sejak lama diketahui sebagai perlakuan yang efektif untuk tujuan penangkapan ikan tunggal maupun berkelompok (Ben-Yami,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi Hasil Tangkapan Jaring Kejer Hasil tangkapan jaring kejer selama penelitian menunjukkan bahwa proporsi jumlah rajungan tertangkap adalah 42,07% dari total hasil

Lebih terperinci

KLASIFIKASI ALAT / METODE PENANGKAPAN DI INDONESIA (STANDAR NASIONAL)

KLASIFIKASI ALAT / METODE PENANGKAPAN DI INDONESIA (STANDAR NASIONAL) KLASIFIKASI ALAT / METODE PENANGKAPAN DI INDONESIA (STANDAR NASIONAL) PANCING Alat penangkap yang terdiri dari dua komponen utama, yaitu; tali (line) dan mata pancing (hook). Sedangkan bahan, ukuran tali

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil tangkapan sampingan (bycatch) menjadi masalah ketika bycatch yang dikembalikan ke laut (discarded) tidak semuanya dalam keadaan hidup atau berpeluang baik untuk

Lebih terperinci

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan SAMBUTAN Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayahnya serta kerja keras penyusun telah berhasil menyusun Materi Penyuluhan yang akan digunakan bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Estradivari et al. 2009).

BAB I PENDAHULUAN. (Estradivari et al. 2009). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Seribu merupakan salah satu kawasan pesisir terletak di wilayah bagian utara Jakarta yang saat ini telah diberikan perhatian khusus dalam hal kebijakan maupun

Lebih terperinci

EKOLOGI IKAN KARANG. Sasanti R. Suharti

EKOLOGI IKAN KARANG. Sasanti R. Suharti EKOLOGI IKAN KARANG Sasanti R. Suharti PENGENALAN LINGKUNGAN LAUT Perairan tropis berada di lintang Utara 23o27 U dan lintang Selatan 23o27 S. Temperatur berkisar antara 25-30oC dengan sedikit variasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Lokasi Penelitian. Kawasan Perairan Pantai Desa Ponelo secara administratif termasuk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Lokasi Penelitian. Kawasan Perairan Pantai Desa Ponelo secara administratif termasuk 25 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian Kawasan Perairan Pantai Desa Ponelo secara administratif termasuk wilayah di Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi

Lebih terperinci

METODE PENANGKAPAN DI INDONESIA (STANDAR NASIONAL)

METODE PENANGKAPAN DI INDONESIA (STANDAR NASIONAL) METODE PENANGKAPAN DI INDONESIA (STANDAR NASIONAL) KLASIFIKASI ALAT / METODE PENANGKAPAN DI INDONESIA (STANDAR NASIONAL) Alat penangkap yang terdiri dari dua komponen utama, yaitu; tali (line) dan mata

Lebih terperinci

TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti

TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti Sebuah lagu berjudul Nenek moyangku seorang pelaut membuat saya teringat akan kekayaan laut Indonesia. Tapi beberapa waktu lalu, beberapa nelayan Kepulauan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di beberapa negara, telah mendorong meningkatnya permintaan komoditas perikanan dari waktu ke waktu. Meningkatnya

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem terumbu karang mempunyai produktivitas organik yang tinggi. Hal ini menyebabkan terumbu karang memilki spesies yang amat beragam. Terumbu karang menempati areal

Lebih terperinci

8 POSISI JENIS IKAN YANG TERTANGKAP DALAM PIRAMIDA MAKANAN 8.1 PENDAHULUAN

8 POSISI JENIS IKAN YANG TERTANGKAP DALAM PIRAMIDA MAKANAN 8.1 PENDAHULUAN 123 8 POSISI JENIS IKAN YANG TERTANGKAP DALAM PIRAMIDA MAKANAN 8.1 PENDAHULUAN Interaksi trofik merupakan salah satu kunci untuk mengetahui peran ekologis suatu populasi atau spesies di dalam ekosistem.

Lebih terperinci

Sistem Perikanan Tangkap Ramah Lingkungan sebagai Upaya Menjaga Kelestarian Perikanan di Cilacap

Sistem Perikanan Tangkap Ramah Lingkungan sebagai Upaya Menjaga Kelestarian Perikanan di Cilacap Sistem Perikanan Tangkap Ramah Lingkungan sebagai Upaya Menjaga Kelestarian Perikanan di Cilacap Kabupaten Cilacap sebagai kabupaten terluas di Provinsi Jawa Tengah serta memiliki wilayah geografis berupa

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pulau Pramuka I II III

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pulau Pramuka I II III BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter Fisika dan Kimiawi Perairan Berdasarkan hasil penelitian di perairan Kepulauan Seribu yaitu Pulau Pramuka dan Pulau Semak Daun, diperoleh nilai-nilai parameter

Lebih terperinci

SELEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE VENT) TERHADAP IKAN KUPAS-KUPAS (Cantherhines fronticinctus)

SELEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE VENT) TERHADAP IKAN KUPAS-KUPAS (Cantherhines fronticinctus) BULETIN PSP ISSN: 0251-286X Volume 20 No. 2 Edisi April 2012 Hal 167-179 SELEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE VENT) TERHADAP IKAN KUPAS-KUPAS (Cantherhines fronticinctus) Oleh: Dahri Iskandar 1*, Didin

Lebih terperinci

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember 2011. Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember 2011. Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan SAMBUTAN Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayahnya serta kerja keras penyusun telah berhasil menyusun Materi Penyuluhan yang akan digunakan bagi

Lebih terperinci

KARUNG GONI SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TERUMBU KARANG DALAM PENGOPERASIAN BUBU TAMBUN DI PERAIRAN PULAU KARANG BERAS, KEPULAUAN SERIBU

KARUNG GONI SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TERUMBU KARANG DALAM PENGOPERASIAN BUBU TAMBUN DI PERAIRAN PULAU KARANG BERAS, KEPULAUAN SERIBU KARUNG GONI SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TERUMBU KARANG DALAM PENGOPERASIAN BUBU TAMBUN DI PERAIRAN PULAU KARANG BERAS, KEPULAUAN SERIBU R. NUGROHO BAYU SANTOSO MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 14 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Pengamatan tingkah laku ikan pada proses penangkapan ikan dengan alat bantu cahaya dilakukan di perairan Kabupaten Barru Selat Makassar, Sulawesi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu Dan Tempat Penelitian dilaksanakan di wilayah perairan Pulau Bira Besar TNKpS. Pulau Bira Besar terbagi menjadi 2 Zona, yaitu Zona Inti III pada bagian utara dan Zona

Lebih terperinci

Sumber : Wiryawan (2009) Gambar 9 Peta Teluk Jakarta

Sumber : Wiryawan (2009) Gambar 9 Peta Teluk Jakarta 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Teluk Jakarta Secara geografis Teluk Jakarta (Gambar 9) terletak pada 5 o 55 30-6 o 07 00 Lintang Selatan dan 106 o 42 30-106 o 59 30 Bujur Timur. Batasan di sebelah

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Iluminasi cahaya Cahaya pada pengoperasian bagan berfungsi sebagai pengumpul ikan. Cahaya yang diperlukan memiliki beberapa karakteristik, yaitu iluminasi yang tinggi, arah pancaran

Lebih terperinci

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 31 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 cahaya Menurut Cayless dan Marsden (1983), iluminasi atau intensitas penerangan adalah nilai pancaran cahaya yang jatuh pada suatu bidang permukaan. cahaya dipengaruhi oleh

Lebih terperinci

Fishing Methods: Gillnetting. By. Ledhyane Ika Harlyan

Fishing Methods: Gillnetting. By. Ledhyane Ika Harlyan Fishing Methods: Gillnetting By. Ledhyane Ika Harlyan Tujuan Instruksional Khusus (Semoga) Mahasiswa dapat: 1. Menyebutkan macam-macam gillnet 2. Teknis tertangkapnya ikan dengan menggunakan gillnet 3.

Lebih terperinci

ANALISIS HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN BUBU YANG DIOPERASIKAN DI PERAIRAN KARANG KEPULAUAN SERIBU

ANALISIS HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN BUBU YANG DIOPERASIKAN DI PERAIRAN KARANG KEPULAUAN SERIBU ANALISIS HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN BUBU YANG DIOPERASIKAN DI PERAIRAN KARANG KEPULAUAN SERIBU Bycatch Analyses of Pot Operated In Coral Reef Waters of Seribu Islands Dahri Iskandar 1 1 Departemen Pemanfaatan

Lebih terperinci

4 HASIL 4.1 Proses penangkapan

4 HASIL 4.1 Proses penangkapan 30 4 HSIL 4.1 Proses penangkapan Pengoperasian satu unit rambo membutuhkan minimal 16 orang anak buah kapal (K) yang dipimpin oleh seorang juragan laut atau disebut dengan punggawa laut. Juragan laut memimpin

Lebih terperinci

5 PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Perairan di Kabupaten Barru

5 PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Perairan di Kabupaten Barru 5 PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Perairan di Kabupaten Barru Perairan Kabupaten Barru terletak di pantai barat pulau Sulawesi dan merupakan bagian dari Selat Makassar. Perairan ini merupakan salah satu pintu masuk

Lebih terperinci

9.1 Pola pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan demersal yang berkelanjutan di Kota Tegal

9.1 Pola pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan demersal yang berkelanjutan di Kota Tegal 9 PEMBAHASAN UMUM Aktivitas perikanan tangkap cenderung mengikuti aturan pengembangan umum (common development pattern), yaitu seiring dengan ditemukannya sumberdaya perikanan, pada awalnya stok sumberdaya

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Distribusi Cumi-Cumi Sirip Besar 4.1.1. Distribusi spasial Distribusi spasial cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun yang tertangkap

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jaring Arad Jaring arad (mini trawl) adalah jaring yang berbentuk kerucut yang tertutup ke arah ujung kantong dan melebar ke arah depan dengan adanya sayap. Bagian-bagiannya

Lebih terperinci

KONSTRUKSI DAN UJI-COBA PENGOPERASIAN JUVENILE AND TRASH EXCLUDER DEVICE PADA JARING ARAD DI PEKALONGAN

KONSTRUKSI DAN UJI-COBA PENGOPERASIAN JUVENILE AND TRASH EXCLUDER DEVICE PADA JARING ARAD DI PEKALONGAN Konstruksi dan Uji-Coba Pengoperasian Juvenile and Trash Excluder Device pada Jaring Arad di Pekalongan (Salim, A.) KONSTRUKSI DAN UJI-COBA PENGOPERASIAN JUVENILE AND TRASH EXCLUDER DEVICE PADA JARING

Lebih terperinci

Bentuk baku konstruksi pukat hela ganda udang (double rigger shrimp trawl)

Bentuk baku konstruksi pukat hela ganda udang (double rigger shrimp trawl) Standar Nasional Indonesia Bentuk baku konstruksi pukat hela ganda udang (double rigger shrimp trawl) ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar Isi...i Prakata...ii Pendahuluan... iii

Lebih terperinci

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan SAMBUTAN Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayahnya serta kerja keras penyusun telah berhasil menyusun Materi Penyuluhan yang akan digunakan bagi

Lebih terperinci

PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU TAMBUN TERHADAP HASIL TANGKAPAN KERAPU KOKO DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU DIDIN KOMARUDIN

PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU TAMBUN TERHADAP HASIL TANGKAPAN KERAPU KOKO DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU DIDIN KOMARUDIN PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU TAMBUN TERHADAP HASIL TANGKAPAN KERAPU KOKO DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU DIDIN KOMARUDIN MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN

Lebih terperinci

PROTOKOL PEMANTAUAN PENDARATAN IKAN

PROTOKOL PEMANTAUAN PENDARATAN IKAN PROTOKOL PEMANTAUAN PENDARATAN IKAN Tasrif Kartawijaya Shinta Trilestari Pardede Wildlife Conservation Society Indonesia Program Jl. Atletik 8, Bogor 16161 - Indonesia Ph: t: +62 251 8342135, 8306029 Fac:

Lebih terperinci

Volume 4 Nomor 1, April 2011 ISSN : X. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Borneo Tarakan. Kalimantan Timur

Volume 4 Nomor 1, April 2011 ISSN : X. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Borneo Tarakan. Kalimantan Timur Volume 4 Nomor 1, April 2011 ISSN : 2087-121X 2011 Jurnal HARPODON Harpodon BORNEO Borneo Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan Kalimantan Timur Volume 4 Nomor 1 April 2011 ISSN

Lebih terperinci

6 PEMBAHASAN 6.1 Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Demersal

6 PEMBAHASAN 6.1 Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Demersal 163 6 PEMBAHASAN 6.1 Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Demersal Pemanfaatan sumberdaya perikanan demersal oleh nelayan Sibolga khususnya melalui operas penangkapan dengan bubu masih memiliki peluang

Lebih terperinci

PENGARUH JUMLAH LAMPU TERHADAP HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN MINI DI PERAIRAN PEMALANG DAN SEKITARNYA

PENGARUH JUMLAH LAMPU TERHADAP HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN MINI DI PERAIRAN PEMALANG DAN SEKITARNYA Pengaruh Lampu terhadap Hasil Tangkapan... Pemalang dan Sekitarnya (Nurdin, E.) PENGARUH JUMLAH LAMPU TERHADAP HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN MINI DI PERAIRAN PEMALANG DAN SEKITARNYA Erfind Nurdin Peneliti

Lebih terperinci

Fishing Methods: Gillnetting. By. Ledhyane Ika Harlyan

Fishing Methods: Gillnetting. By. Ledhyane Ika Harlyan Fishing Methods: Gillnetting By. Ledhyane Ika Harlyan Tujuan Instruksional Khusus (Semoga) Mahasiswa dapat: 1. Menyebutkan macam-macam gillnet 2. Teknis tertangkapnya ikan dengan menggunakan gillnet 3.

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Perairan Palabuhanratu terletak di sebelah selatan Jawa Barat, daerah ini merupakan salah satu daerah perikanan yang potensial di Jawa

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Pulau Pramuka secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu, Kotamadya Jakarta

Lebih terperinci

3 METODOLOGI. Sumber: Google maps (2011) Gambar 9. Lokasi penelitian

3 METODOLOGI. Sumber: Google maps (2011) Gambar 9. Lokasi penelitian 3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan sejak tanggal 16 Agustus 2011 hingga 31 September 2011 di Desa Kertajaya, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi,

Lebih terperinci

DESKRIPSI ALAT TANGKAP IKAN DI KECAMATAN BONTOMANAI KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR

DESKRIPSI ALAT TANGKAP IKAN DI KECAMATAN BONTOMANAI KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR DESKRIPSI ALAT TANGKAP IKAN DI KECAMATAN BONTOMANAI KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR DESCRIPTION OF FISHING GEARS IN KECAMATAN BONTOMANAI, KEPULAUAN SELAYAR REGENCY Andi Lisdawati 1), Najamuddin 1), Andi Assir

Lebih terperinci

3 METODOLOGI. Tabel 5 Jenis alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian

3 METODOLOGI. Tabel 5 Jenis alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian 3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Pembuatan kantong dan penutup kantong jaring dilaksanakan di laboratorium Alat Penangkap Ikan Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta pada bulan Juni sampai dengan Juli 2010.

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem perikanan pantai di Indonesia merupakan salah satu bagian dari sistem perikanan secara umum yang berkontribusi cukup besar dalam produksi perikanan selain dari perikanan

Lebih terperinci

KAJIAN KONSTRUKSI DAN LOKASI JARING WARING TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN TERPERANGKAP IKAN HIU PAUS (Rhincodon typus) DI SELAT MADURA

KAJIAN KONSTRUKSI DAN LOKASI JARING WARING TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN TERPERANGKAP IKAN HIU PAUS (Rhincodon typus) DI SELAT MADURA KAJIAN KONSTRUKSI DAN LOKASI JARING WARING TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN TERPERANGKAP IKAN HIU PAUS (Rhincodon typus) DI SELAT MADURA Mochamad Arief Sofijanto 1, Dwi Ariyoga Gautama 2, Bagus Ramadhan 3, Fernandes

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rajungan merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia. Berdasarkan data ekspor impor Dinas Kelautan dan Perikanan Indonesia (2007), rajungan menempati urutan ke

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Nelayan mandiri memiliki sejumlah karakteristik khas yang membedakannya dengan nelayan lain. Karakteristik tersebut dapat diketahui dari empat komponen kemandirian, yakni

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perikanan tangkap memiliki peran penting dalam penyediaan pangan, kesempatan kerja, perdagangan dan kesejahteraan serta rekreasi bagi sebagian penduduk Indonesia (Noviyanti

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian penangkapan rajungan dengan menggunakan jaring kejer dilakukan di perairan Gebang Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Lampiran 1 dan Lampiran 2). Penelitian

Lebih terperinci

TEKNIK PENGOPERASIAN PANCING TENGGIRI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU CAHAYA

TEKNIK PENGOPERASIAN PANCING TENGGIRI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU CAHAYA TEKNIK PENGOPERASIAN PANCING TENGGIRI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU CAHAYA Agus Salim Teknisi Litkayasa pada Balai Riset Perikanan Laut, Muara Baru-Jakarta Teregistrasi I tanggal: 29 Mei 2008; Diterima

Lebih terperinci

5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL

5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL 5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL 5.1 Pendahuluan Pemanfaatan yang lestari adalah pemanfaatan sumberdaya perikanan pada kondisi yang berimbang, yaitu tingkat pemanfaatannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari lebih 17.000 buah pulau besar dan kecil, dengan panjang garis pantai mencapai hampir

Lebih terperinci

memanfaatkan tingkah laku ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Hal ini terlihat dari bentuk bubu itu sendiri yang menyerupai batang kayu berlubang

memanfaatkan tingkah laku ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Hal ini terlihat dari bentuk bubu itu sendiri yang menyerupai batang kayu berlubang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya alam tersedia dalam jumlah yang melimpah belum dapat menjamin bahwa suatu bangsa itu akan sejahtera apabila sumberdaya tersebut belum dikelola dan dimanfaatkan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara ekologis ekosistem padang lamun di perairan pesisir dapat berperan sebagai daerah perlindungan ikan-ikan ekonomis penting seperti ikan baronang dan penyu, menyediakan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem terumbu karang yang merupakan salah satu ekosistem wilayah pesisir mempunyai peranan yang sangat penting baik dari aspek ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Mentawai adalah kabupaten termuda di Propinsi Sumatera Barat yang dibentuk berdasarkan Undang-undang No.49 Tahun 1999. Kepulauan ini terdiri dari empat pulau

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 25 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Perairan Mempawah Hilir Kabupaten Pontianak Propinsi Kalimantan Barat, yang merupakan salah satu daerah penghasil

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tingginya dinamika sumberdaya ikan tidak terlepas dari kompleksitas ekosistem

I. PENDAHULUAN. Tingginya dinamika sumberdaya ikan tidak terlepas dari kompleksitas ekosistem 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingginya dinamika sumberdaya ikan tidak terlepas dari kompleksitas ekosistem tropis (tropical ecosystem complexities) yang telah menjadi salah satu ciri dari ekosistem

Lebih terperinci