BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

PERUBAHAN PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOGOR

BAB II PERENCANAAN KINERJA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

Tabel II.1 Pencapaian Kinerja Pelayanan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Target. Target IKU Thn Target MDGs Thn 2015

DATA DASAR PUSKESMAS PROVINSI JAWA BARAT

A. RENCANA STRATEGIS : VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, KEBIJAKAN DAN PROGRAM

BAB. III AKUNTABILITAS KINERJA

PERATURAN BUPATI TENTANG PEMBENTUKAN, ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS PAJAK DAERAH PADA BADAN PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH

FORMULIR RENCANA KINERJA TAHUNAN TINGKAT UNIT OEGANISASI ESELON I KL DAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAAH (SKPD)

B A B I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

TABEL 1 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Kabupaten Bogor Atas Dasar Harga Konstan Tahun

BAB II PERENCANAAN KINERJA

B A B P E N D A H U L U A N

RENCANA STRATEGIS CARA MENCAPAI TUJUAN/SASARAN URAIAN INDIKATOR KEBIJAKAN PROGRAM KETERANGAN. 1 Pelayanan Kesehatan 1.

RENCANA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN BANJAR TAHUN 2017

PEMERINTAH KABUPATEN BOGOR RINGKASAN PERUBAHAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DAN ORGANISASI TAHUN ANGGARAN 2015

RENCANA KINERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN PACITAN TAHUN 2015

BAB V KELEMBAGAAN PENYULUHAN PERTANIAN DI KABUPATEN BOGOR

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) DINAS KESEHATAN KABUPATEN BANGGAI

RENCANA KERJA TAHUNAN ( RKT ) TAHUN 2017

BAB. III TUJUAN, SASARAN PROGRAM DAN KEGIATAN

Sekapur Sirih. Jakarta, Agustus 2010 Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor, Ahmad Koswara, MA

TUGAS POKOK : Melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang kesehatan berdasarkan asas otonomi dan tugas

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Hasil pendugaan selang prediksi dari data simulasi yang menyebar Gamma dengan D i = 1 dan tanpa peubah penyerta

BAB III RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN DALAM PERUBAHAN RENJA SKPD

ANALISIS SITUASI DAN KONDISI KABUPATEN BOGOR

PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA SKPD SAMPAI DENGAN TRIWULAN II

BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

V. KARAKTERISTIK DAN KEMAMPUAN DAYA BELI MASYARAKAT MISKIN DI KABUPATEN BOGOR. Tabel. 22 Dasar Perwilayahan di Kabupaten Bogor

FORMULIR RENCANA KINERJA TAHUNAN TINGKAT UNIT OEGANISASI ESELON I KL DAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAAH (SKPD)

PERJANJIAN KINERJA TINGKAT SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4

FORMULIR RENCANA KINERJA TAHUNAN TINGKAT UNIT OEGANISASI ESELON I KL DAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAAH (SKPD)

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rancangan Awal Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Bogor Tahun I - 1

LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH DINAS KESEHATAN KABUPATEN BLITAR

RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOGOR TAHUN

REVIEW INDIKATOR RENSTRA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR

Rencana Strategis Dinas Pertanian dan Kehutanan

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

BAB III TUJUAN, SASARAN DAN KEBIJAKAN

REALISASI PROGRAM DAN KEGIATAN DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN BOGOR 2013

BAB I PENDAHULUAN. Tersusunnya laporan penerapan dan pencapaian SPM Tahun 2015 Bidang Kesehatan Kabupaten Klungkung.

KEPUTUSAN KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN PELALAWAN NOMOR :440/SEKT-PROG/DINKES/2016/ TENTANG

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KESEHATAN DI KABUPATEN SITUBONDO

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

SKPD : DINAS KESEHATAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

penduduk 1 : dari target 1:2.637, Penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA mencapai 92,11 % dari target 82,00 %, Cakupan penemuan dan

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN BOGOR

PERNYATAAN PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 (PERUBAHAN ANGGARAN) PEMERINTAH KABUPATEN SUKABUMI PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

KATA PENGANTAR. Soreang, Februari 2014 KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN BANDUNG

Laporan Kinerja (LKj) Tahun 2016 KATA PENGANTAR

POHON KINERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LAMONGAN

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) TAHUN 2015

Tabel 2.1 Pencapaian Kinerja Pelayanan SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar Kabupaten Gianyar

PERNYATAAN PERJANJIAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN SUKABUMI PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Kerja Dinas Kesehatan

Target Tahun. Kondisi Awal Kondisi Awal. 0,12 0,12 0,12 0,12 0,12 0,12 Program pengadaan, peningkatan dan penduduk (tiap 1000 penduduk

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) TAHUN 2016

PERUBAHAN PEMERINTAH KABUPATEN BOGOR

BAB. III AKUNTABILITAS KINERJA

1 Usia Harapan Hidup (UHH) Tahun 61,2 66,18. 2 Angka Kematian Bayi (AKB) /1.000 KH Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) /100.

BAB VI INDIKATOR KINERJA PERANGKAT DAERAH YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

Tabel 4.1 INDIKATOR KINERJA UTAMA DINAS KESEHATAN KABUPATEN KERINCI TAHUN Formulasi Penghitungan Sumber Data

PERJANJIAN KINERJA DINAS KESEHATAN TAHUN 2016

Mewujudkan Peningkatan Budaya Sehat dan Aksesbilitas Kesehatan Masyarakat.

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KESEHATAN KABUPATEN / KOTA

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Kerja Dinas Kesehatan Kab. Purbalingga 2013 hal 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF DINAS KESEHATAN PROVINSI BANTEN

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR...1 DAFTAR ISI...3 PENDAHULUAN...I Latar Belakang Landasan Hukum...

RENCANA AKSI KINERJA DAERAH (RAD) DINAS KESEHATAN KABUPATEN KERINCI TAHUN Target ,10 per 1000 KH

IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak dan Kondisi Fisik Wilayah

Strategi Pemecahan Masalah pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagai berikut :

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP DINAS KESEHATAN

KATA PENGANTAR Masyarakat Kolaka yang Sehat, Kuat. Mandiri dan Berkeadilan Profil Kesehatan Kabupaten Kolaka 2016 Hal. i

BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 36 TAHUN 2012 STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KESEHATAN DI KABUPATEN BELITUNG

LAMPIRAN PENETAPAN KINERJA DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013

KEPUTUSAN KETUA PENGADILAN AGAMA CIBINONG Nomor : W10-A24/3122a/Hk.00.4/XII/2010

Standar Pelayanan Minimal Puskesmas. Indira Probo Handini

KATA SAMBUTAN DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II GAMBARAN UMUM 3

KATA PENGANTAR dr. Hj. Rosmawati

DATA UMUM 1. KONDISI GEOGRAFIS

Bagian Kedua Kepala Dinas Pasal 159 (1) Kepala Dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a, mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerinta

BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT DI LINGKUNGAN DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA

. RINGKASAN EKSEKUTIF

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara

IV.B.2. Urusan Wajib Kesehatan

SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN

Tim Penyusun Pengarah : dr. Hj. Rosmawati. Ketua : Sitti Hafsah Yusuf, SKM, M.Kes. Sekretaris : Santosa, SKM

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 tentang Sistem Akuntabilitas Instansi Pemerintah dalam rangka mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi sesuai ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Perda Kabupaten Bogor No. 11 tahun 2008 tentang Pembentukan Dinas Daerah, dimana Dinas Kesehatan wajib menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja tahunan. Laporan ini memuat hasil pengukuran sasaran strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan program/kegiatan melalui indikator kinerja (parameter) yang telah ditetapkan sesuai tugas pokok dan fungsinya. Adapun sumber dana Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor untuk program dan kegiatan yang dilaksanakan tahun 2014 berasal dari APBD Kabupaten Bogor, APBD Propinsi dan APBN tahun anggaran 2014. Indikator kinerja Sasaran merupakan parameter untuk mengukur keberhasilan pelayanan yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam rangka mendukung keberhasilan pencapaian sasaran tingkat Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 2014. Indikator kinerja Sasaran menggunakan indikator kinerja utama yang dipilih dari beberapa output dan atau outcome dari kegiatan. Indikator kinerja kegiatan meliputi indikator masukan (input) yang mengutamakan penggunaan dana APBD Kabupaten Bogor/APBD Propinsi/APBN, indikator keluaran (output) dan indikator hasil (outcome) sesuai Daftar Pengesahan Anggaran (DPA) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014. Gambaran pengukuran kinerja Dinas Kesehatan tahun 2014 dalam pencapaian pengukuran kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 2014, disajikan dalam diagram 1.1. 1

Sasaran Strategis Kab. Bogor 2014 Sasaran Dinas Kesehatan Indikator Kinerja Program Pengukuran Kinerja LAKIP Dinas Kesehatan TAHUN 2014 Kegiatan IK : Input,Output/ Outcome Diagram 1.1. Alur Pikir Pengukuran Kinerja Metode penyusunan secara umum mengacu pada Surat Keputusan Kepala LAN Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dalam pengukuran kinerja Sasaran Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014 ini menggambarkan indikator kinerja output (grand output) atau outcome pada program/kegiatan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor selama tahun 2014 sesuai dengan penetapan indikator kinerja yang ditetapkan pada dokumen Penetapan Kinerja (Tapkin) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014. 1.2. TUGAS POKOK DAN FUNGSI SERTA SUSUNAN ORGANISASI 1.2.1. Tugas Pokok Berdasarkan Perda Kabupaten Bogor No. 11 tahun 2008 tentang Pembentukan Dinas Daerah. Tugas Pokok Dinas Kesehatan adalah membantu Bupati dalam melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi di bidang kesehatan dan tugas pembantuan. 1.2.2. Fungsi Dalam melaksanakan tugas pokok Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mempunyai fungsi sebagai berikut : 1. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan 2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang kesehatan 2

3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang kesehatan dan 4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya 1.2.3. Susunan Organisasi Susunan dan tugas unsur organisasi Dinas Kesehatan, berdasarkan Perda Kabupaten Bogor No. 11 tahun 2008 tentang Pembentukan Dinas Daerah, Organisasi Dinas Kesehatan, terdiri atas : 1. Kepala Dinas (dr.hj.camalia W Sumaryana, MKM) 2. Sekretariat (Ir. Hj. Ati Iravati Dewi, MM), membawahi : a. Sub Bagian Program dan Pelaporan (Dini Priyantini, SKM) b. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian (H. Mardani, SPd, MM) c. Sub Bagian Keuangan (Rahmi Winandari, SKM.M.Kes) 3. Bidang Promosi dan Sumber Daya Kesehatan (Ir. Sri Basuki Dwi Lestari, MKM), membawahi : a. Seksi Pengembangan Sumber Daya Kesehatan (M. Lintang, SKM, MKes) b. Seksi Promosi Kesehatan (Arihni, SKM, MKM) c. Seksi Data dan Informasi Kesehatan (Maryam, Bsc) 4. Bidang Pelayanan Kesehatan (Dr. Dini Susanti Hasan Toto), membawahi : a. Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan (dr. Agus Fauzi) b. Seksi Farmasi dan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) (Runny R. P, S.Si, Apt) c. Seksi Pelayanan Upaya Kesehatan (Dra. Fernandez Itha, Apt) 5. Bidang Pembinaan Kesehatan Masyarakat, (Drg Rosnila Davy Siregar) membawahi : a. Seksi Gizi (Dewi Dwinurwati, SKM, MKM) b. Seksi Kesehatan Ibu, Anak & Keluarga Berencan (dr. Fusia Meidiawati, MHKes) c. Seksi Kesehatan Remaja dan Lanjut Usia (Nova Linda, SKM) 6. Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (dr. Eulis Wulantari, M.Epid), membawahi : 3

a. Seksi Penyehatan Lingkungan (Didik Supriyono, SKM. MKes) b. Seksi Pemberantasan Penyakit (dr. Sri Irianti w) c. Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi (dr. Evawangi ) 7. UPT ; dan 8. Kelompok Jabatan Fungsional Secara lengkap susunan organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor digambarkan dalam diagram 1.2. Diagram 1.2. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (Sesuai Perda Nomor 11 Tahun 2008) Kepala Dinas dr.hj. Camalia W Sumaryana, MKM Sekretaris Ir. Hj. Ati Iravati Dewi, MM Kelompak Jabatan Fungsional Wayan Sri Agustini, M.kes Sub. Bag. Program Pelaproan Dini Priyantini,SKM Sub. Bag. Umum & Kepegawaian H. Mardani, SPd, MM Sub. Bag. Keuangan Rahmi. W SKM, MKes Bidang Promkes & SDK Bidang Pelayanan Kesehatan Bidang Binkesmas Bidang P2PKL Ir. Sri Basuli Dwi Lestari, MKM Dr. Dini S.Hasan Toto Drg Rosnila Davy S Dr. Eulis W, M.Epid Sie.Promkes Sie Yandasruj Sie.Gizi Arihni, SKM.MKM Dr. Agus Fauzi Dewi Dwi N, SKM.M.Kes Dr. Evawangi Sie PSDK M.Lintang,SKM, MKes Sie PUK Dra.Fernandez Itha, Apt. Sie Kes.Remaja&Lansia Novalinda, SKM Sie P2M Dr. Sri Irianti Sie Data & SIK Sie Farmasi&POM Sie KIA & KB Sie Peny. Lingkungan Maryam, Bsc Runny.R.P, S.Si, Apt UPT Dr. Fusia Meidiawati,MHKes Didik. Supriyono, SKM,MKes 4

1.3. ASPEK STRATEGIS YANG BERPENGARUH Permasalahan utama yang perlu direspon berkaitan dengan peran dan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun anggaran 2014 terutama : 1.3.1. Derajat Kesehatan Derajat kesehatan merupakan hasil dari berbagai keadaan sosial ekonomi antara lain pendidikan, daya beli dan lingkungan yang tidak sepenuhnya dapat diintervensi oleh sektor kesehatan. Indikator yang digunakan untuk dapat menggambarkan derajat kesehatan adalah : Tabel 1 Indikator Derajat Kesehatan di Kabupaten Bogor NO Indikator Derajat Kesehatan Angka 1 Angka Kematian Ibu ( AKI ) 359/100.000 KH (SDKI 2012 ) 2 3 Angka Kematian Bayi ( AKB ) Angka Harapan Hidup ( AHH ) 41,82/1000 KH ( BPS Kab Bogor dari 2009-2013 ) 70,00 ( BPS 2009-2013 ) 1) Angka Kematian Bayi Infant Mortality Rate (IMR) atau Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. AKB merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat, kondisi AKB meskipun lambat menunjukkan kecenderungan menurun. Untuk mengurangi AKB yang masih tinggi di Kabupaten Bogor dan untuk mencapai target MDGs tahun 2015 sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup, maka pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya perlu ditingkatkan karena hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. Selain itu perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit. 5

Angka kematian neonatal berdasarkan SDKI 2007 yaitu sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan target nasional (2014) : 15 per 1.000 kelahiran hidup (RPJMD 2010-2014). Bila dilihat dari jumlah data kematian neonatal, bayi dan balita di Kabupaten Bogor berdasarkan pencatatan dari Data Dasar Kesehatan Anak yang dilaporkan oleh fasilitas kesehatan/puskesmas yang ada pada tahun 2014 sebanyak 236 kasus, neonatal (0-6 hari) sebanyak 161 kasus, neonatal (7 28 hari) sebanyak 19 kasus. Data laporan puskesmas jumlah kematian bayi umur (29 hari 11 bulan) sebanyak 36 yang terdiri dari 13 kasus akibat Pneumonia, 4 kasus akibat Diare, dan 19 kasus akibat penyakit lainnya. Selain itu jumlah kematian balita (12 59 bulan) sebanyak 20 yang terdiri dari ISPA 6 kasus, diare 2 kasus, DBD 5 kasus, penyakit lain-lainnya sebanyak 7 kasus. Jumlah kematian bayi neonatal umur 0-28 hari dari Rumah Sakit pada tahun 2014 sebanyak 363 bayi dan umur 29 hari - < 1 tahun sebanyak 119 bayi. Penyebab kematian bayi neonatal umur 0 28 hari berdasarkan laporan puskesmas sebagian besar disebabkan oleh Asphyxia sebanyak 42 bayi, BBLR sebanyak 70 bayi, Infeksi sebanyak 11 bayi, kelainan congenital sebanyak 28 bayi, Tetanus Neonatorum sebanyak 5 bayi dan kematian disebabkan hal lainnya sebanyak 24 bayi. Oleh karena itu kematian bayi dengan berbagai penyebabnya masih menjadi suatu masalah serius yang masih tetap harus menjadi perhatian utama. 2) Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) menunjukkan jumlah kematian ibu karena kehamilan, persalinan dan masa nifas pada 100.000 kelahiran hidup dalam satu wilayah pada kurun waktu tertentu. Angka ini berguna untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama pada saat ibu hamil, melahirkan dan pada saat nifas. AKI khusus untuk Kabupaten Bogor sampai saat ini belum ada, karena untuk menghitung AKI ini diperlukan denominator 100.000 kelahiran hidup (KH). Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, 36 % ibu hamil / bersalin mengalami komplikasi sewaktu hamil, bersalin atau nifas dan 22 % komplikasi paling sering timbul pada waktu bersalin. Hasil survey BPS Jawa Barat tahun 2003 menunjukan bahwa umumnya kematian ibu terjadi pada saat melahirkan yaitu sebanyak 60,87 % sedangkan yang meninggal waktu nifas sebesar 30,43 % dan meninggal waktu hamil adalah 8,70 % ( Profil Kesehaatan Jawa Barat, Tahun 2005 ). Penyebab tidak langsung yang berperan dalam tingginya AKI ini antara lain faktor pendidikan ibu yang rendah, status gizi ibu yang kurang serta usia ibu saat hamil masih terlalu dini. 6

Kasus Kematian Ibu yang dilaporkan berdasarkan laporan puskesmas (SP3) pada tahun 2014 sebanyak 71 terdiri dari kematian ibu hamil sebanyak 16 orang, kematian ibu bersalin sebanyak 16 orang dan kematian ibu nifas sebanyak 39 orang. Pada penanganan kasus sering ditemukan Trias Tiga Terlambat yang akan memperbesar angka kematian ibu diantaranya : 1. Terlambat memutuskan untuk mencari pertolongan bagi kasus kegawat daruratan obstetri. 2. Terlambat mencari tempat rujukan yang disebabkan oleh keadaan geografis dan masalah transportasi. 3. Terlambat memperoleh penanganan yang adekuat ditempat rujukan karena kurangnya sumber daya dan fasilitas kesehatan di pusat rujukan. Melihat data-data di atas, permasalahan kematian ibu menjadi sangat kompleks karena selain faktor dari penanganan langsung pada saat ibu melahirkan kematian ibu disebabkan pula oleh faktor sosial ekonomi bahkan budaya masyarakat sehingga dalam mengatasinya tidak hanya dibutuhkan peran sektor kesehatan saja namun juga keterlibatan pihak-pihak lain yang terkait. 3) Status Gizi Status gizi merupakan salah satu indikator yang menggambarkan derajat kesehatan. Penilaian ini dilakukan dengan melihat kondisi status gizi penduduk golongan rawan gizi yaitu anak-anak berumur dibawah lima tahun (balita), ibu hamil dan ibu menyusui. Hasil kegiatan pemantauan status gizi melalui Bulan Penimbangan Balita ( BPB ) tahun 2014 menunjukan ada sebesar 0,76 % balita termasuk dalam gizi dengan BB sangat kurang, 6,53 % balita dengan BB kurang, 91,05 % balita dengan BB normal dan 1,66 % balita dengan BB lebih. Prevalensi balita dengan Kurang Energi Protein (KEP) yang diperoleh dari penjumlahan balita dengan BB sangat kurang dan balita dengan BB kurang adalah sebesar 7,29 %. Bila dibandingkan dengan hasil Bulan Penimbangan Balita (BPB) tahun 2013, balita dengan BB sangat kurang (0,75 %) mengambarkan dalam kondisi yang tidak jauh berbeda, Balita dengan BB kurang ( 6,78 %) mengalami penurunan sebesar 0,25 % dan BB normal (91,02 %) sehingga mengalami peningkatan sebesar 0,03 %. Dimana pada tahun 2014 untuk balita dengan BB sangat kurang masih dalam keadaan kondisi tidak jauh berbeda dengan tahun 2013 (0,75 %) sehingga permasalahan gizi pada balita masih menjadi masalah utama yang harus tetap di ditangani. 7

4) Angka Kesakitan Angka kesakitan di Kabupaten Bogor berdasarkan SUSENAS penduduk Kabupaten pada tahun 2002 sebesar 19,08 % (SUSENAS 1999). Sementara menurut SDKI 2003 angka kesakitan nasional sebesar 19,03 %. Berdasarkan dari hasil laporan puskesmas di Kabupaten Bogor 2014 pola penyakit terbanyak di Puskesmas pada bayi (0-28 hari) masih berkisar pada Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut tidak spesifik sebanyak 32.606 kasus (35,44 %), Nasofaringitis Akut/Common Cold sebanyak 15.845 kaasus (17,22 %) dan Diare & Gastroenteritis sebanyak 11.953 kasus (12,99 %) dari seluruh penderita sebanyak 92.004 kasus. Penyakit-penyakit tersebut masih berkaitan erat dengan kondisi lingkungan yang buruk, khususnya penyakit Infeksi Saluran Atas Akut yang pada tahun 2012 dan 2013 berada pada urutan pertama pola penyakit kelompok umur (0-28) hari dirawat jalan di puskesmas. Sehingga perlu menjadi perhatian apakah hal ini termasuk juga dengan pola asuh ibu terhadap anaknya. Pola penyakit terbanyak yang diamati di puskesmas juga menurut kelompok umur bayi usia 29 hari - < 1 tahun yaitu Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut tidak spesifik (31,23 %), Penyakit nasofaringitis Akut (14,43 %) dan Diare & Gastroenteritis (11,56 %) dari seluruh penderita sebanyak 74.654 kasus. Demikian pula pada golongan umur 1-4 tahun dan 5-44 tahun rangking pertama Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut tidak spesifik, sedangkan umur 45-69 tahun yaitu penyakit Hipertensi Primer (Esensial) sebanyak 86.142 kasus (17,20 %) dan lebih dari 70 tahun rangking pertama adalah mendominasi lagi pada penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut tidak spesifik. Frekuensi Kejadian Luar Biasa (KLB) sebanyak 7 kali terdiri dari 3 jenis KLB (Keracunan Makanan sebanyak 5 kali, suspect flu burung sebanyak 1 kali dan campak sebanyak 1 kali) yang menyerang 7 desa tersebar di 6 Kecamatan yaitu Kecamatan Parung Panjang, Kemang, Cigombong, Citeureup, Gunung Putri dan Ciampea. Sedangkan lainnya yang secara bergantian muncul/sporadis (peningkatan kasus potensi) adalah KLB DBD, KLB Campak, Diare, Flu Burung, Chikungunya, Hepatitis dan Tetanus Neonatorum. Berdasarkan data dan kejadian luar biasa di atas pola penyakit masih didominasi oleh penyakit infeksi yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan, kasus penyakit seperti TB Paru mulai menunjukkan peningkatan kembali (re-emerging disease) sedangkan penyakit baru (new emerging disease) seperti HIV-AIDS perlu pula mendapatkan perhatian yang utama. Penyakit degeneratif dan penyakit tidak menular meskipun berada pada urutan bawah namun perlu peningkatan penanganannya seperti penyakit-penyakit pada gigi, penyakit-penyakit kulit khususnya pada masyarakat di daerah industri, dan penyakit kebutaan karena katarak. 8

1.4. Dasar Hukum Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mengacu kepada : 1. Undang-undang nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas dari Korupsi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 2. Peraturan Pemerintah nomor 8 tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah; 3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 4. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. 5. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 11 tahun 2008 tentang Pembentukan Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. 6. Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2011 tentang Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2013 2018. 9

BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. RENCANA STRATEGIS TAHUN 2013-2018 2.1.1. Visi Visi merupakan pandangan jauh ke depan, kemana dan bagaimana suatu organisasi harus dibawa berkarya agar tetap konsisten dan dapat eksis, antisipatif, inovatif dan produktif. Visi dapat membantu organisasi untuk mendefinisikan kemana organisasi akan dibawa dan membantu mendefinisikan bagaimana pelayanan harus dilaksanakan. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 7 Tahun 2009, sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2011 tentang Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018, Visi Kabupaten Bogor adalah KABUPATEN BOGOR MENJADI KABUPATEN TERMAJU DI INDONESIA Dalam rangka mendukung Visi Kabupaten Bogor tersebut dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta masukan-masukan dari stakeholders, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menetapkan Visi : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bogor yang mandiri untuk hidup sehat Visi ini dimaksudkan bahwa setiap penduduk mampu berpikir, bersikap dan bertindak secara kreatif dan inovatif dalam mengatasi masalah kesehatan atas kehendak dan dorongan diri sendiri bahkan diharapkan mampu mempengaruhi lingkungannya untuk bersikap dan berperilaku hidup sehat. Berdasarkan Visi dan Misi Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 dan Visi Dinas Kesehatan, tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan serta masukan-masukan dari pihak yang berkepentingan (stakeholders), maka ditetapkan Misi Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (2013 2018). 2.1.2. Misi Berdasarkan Visi dan Misi Kabupaten Bogor tahun 2013-2018 dan Visi Dinas Kesehatan, tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan serta masukan-masukan dari pihak yang berkepentingan (stakeholders), maka ditetapkan Misi Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (2013-2018) sebagai berikut : Misi Pertama : Meningkatkan Kemandirian dalam Jaminan Kesehatan Nasional 10

Misi ini mengandung makna bahwa setiap penduduk dituntut kemandiriannya di dalam mendapatkan Jaminan Kesehatan Nasional demi memperoleh pelayanan kesehatan yang akuntabel. Misi Kedua : Meningkatkan Pemerataan Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas Misi ini mengandung makna bahwa setiap penduduk dapat terjangkau oleh pelayanan kesehatan yang berkualitas dan mempunyai hak serta kesempatan yang sama untuk mengembangkan hidup sehat. Misi Ketiga : Meningkatkan daya Dukung Pelayanan Kesehatan Misi ini mengandung makna bahwa dalam mendukung pencapaian misi pertama dan pencapaian visi dibutuhkan ketersediaan sumber daya kesehatan dan manajemen kesehatan yang akuntabel. 2.1.3. TUJUAN DAN SASARAN JANGKA MENEGAH Tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 (satu) sampai 5 (lima) tahun mendatang. Tujuan Strategis ditetapkan dengan mengacu kepada pernyataan visi dan misi serta didasarkan pada isu-isu dan analisis lingkungan strategis, Sehingga dapat mengarahkan perumusan strategi, kebijakan, program, dan kegiatan dalam rangka merealisasikan Misi dan Visi. Berdasarkan tujuan yang akan ditetapkan, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor akan dapat mengetahui hal-hal yang harus dicapai dalam kurun waktu satu sampai lima tahun ke depan dengan mempertimbangkan sumber daya dan kemampuan yang dimiliki, serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Sasaran merupakan penjabaran dari tujuan, yaitu sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan oleh lembaga dalam jangka waktu tertentu. Sasaran adalah salah satu dasar dalam penilaian dan pemantauan kinerja sehingga merupakan alat pemicu bagi organisasi terhadap sesuatu yang harus dicapai, sejalan dengan Tujuan dan sasaran RPJMD Kabupaten Bogor telah dirumuskan dalam adalah : A. Tujuan Misi ; 1) Terwujudnya pelayanan kesehatan yang mudah, murah, merata dan berkualitas bagi semua orang. 2) Meningkatnya Jaminan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat dalam Bentuk Jampesehat. 3) Meningkatnya kualitas sumberdaya kesehatan 11

B. Sasaran : 1) Meningkatnya cakupan pelaynaan kesehatan bagi masyarakat 2) Meningkatnya cakupan pelayanan gizi bagi masyarakat 3) Meningkatnya kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat 4) Terselenggaranya pelayanan kseshatan melalui Jampesehat 5) Terpenuhinya kebutuhan tenaga medis dan paramedik 6) Meningkatnya sarana dan prasarana kesehatan baik layanan dasar maupun rujukan. Selanjutnya perumusan tujuan dan sasaran dalam RPJMD dijabarkan kembali dalam Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2013-2018 adalah sebagai berikut: MISI PERTAMA : Tujuan : Meningkatkan Cakupan Kepesertaan Masyarakat dalam Jaminan kesehatan Nasional Sasaran : 1). Sarana dan prasarana yankes dasar dan rujukan 2) Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin. 3) Jumlah dan kualitas tenaga kesehatan 4) Status gizi balita dan ibu hamil 5) Persalinan oleh tenaga kesehatan 6) Cakupan Imunisasi dasar lengkap 7) Upaya penanggulangan penyakit menular 8) Lingkungan Bersih dan sehat melalui pendidikan kesehatan. 9) Kemandirian masyarakat dan partisipasi swasta dalam pelayanan kesehatan 10) Tata kelola Pelayanan kesehatan yang akuntabel. MISI KEDUA : Tujuan : 1) Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan dan gizi masyarakat serta PHBS 2) Meningkatkan Puskesmas Terakreditasi dan Mempersiapkan puskesmas BLUD. Sasaran : 1) Sarana dan prasarana yankes dasar dan rujukan 2) Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin. 3) Jumlah dan kualitas tenaga kesehatan 4) Status gizi balita dan ibu hamil 5) Persalinan oleh tenaga kesehatan 6) Cakupan Imunisasi dasar lengkap 7) Upaya penanggulangan penyakit menular 12

8) Lingkungan Bersih dan sehat melalui pendidikan kesehatan. 9) Kemandirian masyarakat dan partisipasi swasta dalam pelayanan kesehatan 10) Tata kelola Pelayanan kesehatan yang akuntabel. MISI KETIGA : Tujuan : 1) Meningkatkan kapasitas sumber daya sarana dan prasarana kerja serta kualitas aparatur. 2) Meningkatkan fungsi koordinasi, regulasi dan fasilitasi pelayanan kesehatan pemerintah, swasta dan lintas sektor. 3) Meningkatkan jejaring pelayanan kesehatan Sasaran : 1) Sarana dan prasarana yankes dasar dan rujukan 2) Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin. 3) Jumlah dan kualitas tenaga kesehatan 4) Status gizi balita dan ibu hamil 5) Persalinan oleh tenaga kesehatan 6) Cakupan Imunisasi dasar lengkap 7) Upaya penanggulangan penyakit menular 8) Lingkungan Bersih dan sehat melalui pendidikan kesehatan. 9) Kemandirian masyarakat dan partisipasi swasta dalam pelayanan kesehatan 10) Tata kelola Pelayanan kesehatan yang akuntabel. 2.1.4. SASARAN STRATEGIS Sasaran menggambarkan hal yang ingin dicapai melalui tindakan-tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Sasaran memberikan fokus pada penyusunan kegiatan sehingga bersifat spesifik, terinci, dapat dicapai, dan diupayakan dalam bentuk kuantitatif sehingga dapat diukur. Sasaran-sasaran Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor adalah sesuatu dasar di dalam penilaian dan pemantauan kinerja sehingga merupakan alat pemicu bagi organisasi akan sesuatu yang harus dicapai, dan untuk itulah Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah merumuskan sasaran-sasaran berikut indikator keberhasilannya yang dituangkan dalam dokumen Indikator Kinerja Utama (IKU). Merujuk pada tujuan dan sasaran tersebut diatas maka rumusan strategi pada Dinas Kesehatan adalah sebagai berikut : 13

a) Strategi 1. Mengoptimalkan kewenangan untuk pengembangan pelayanan kesehatan b) Strategi 2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan dengan kompetensi yang dibutuhkan. c) Strategi 3. Menyusun Sistem kesehatan Daerah (SKD) Kabupaten Bogor d) Strategi 4. Meningkatkan dan memasyarakatkan perilaku hidup bersih dan sehat. e) Strategi 5. Mengoptimalkan sarana kesehatan yang ada dan standar operasional prosedur untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan f) Strategi 6. Memanfaatkan sistem informasi untuk mendeteksi penularan penyakit akibat mobilisasi penduduk yg tinggi g) Strategi 7. Meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan di masyarakat. 2.2. RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TAHUN 2014 Sebagai penjabaran dari Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menyusun dan menetapkan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. RKT Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor semula disusun dengan berpedoman pada Surat Keputusan Kepala LAN Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, namun dengan adanya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, maka RKT Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 2013 dilakukan perubahan sesuai dengan pedoman yang baru yang memuat sasaran strategis berikut indikator kinerja dan targetnya. Secara lengkap RKT Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014 disajikan dalam Lampiran 1. 2.3. PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 Menindaklanjuti Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah menyusun Penetapan Kinerja (Tapkin) sesuai dengan kedudukan, tugas pokok, dan fungsinya yang ditandatangani oleh Bupati Bogor. Tapkin Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014 disusun berdasarkan Surat Edaran Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 14

SE/31/M.PAN/12/2004 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja. Tapkin ini merupakan tolok ukur evaluasi akuntabilitas kinerja pada akhir tahun 2014. Tapkin Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor disusun sesuai DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor 2014 dan dilakukan perubahan sesuai DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor 2014 perubahan. Tapkin Dinas Kesehatan memuat program yang dilaksanakan, sasaran strategis yang akan dicapai, indikator outcome berikut target kinerjanya, indikator output berikut target kinerjanya, serta anggaran yang tersedia sesuai dengan DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014. Sesuai dengan DPA perubahan tahun 2014, dana yang digunakan untuk membiayai program dan kegiatan dalam rangka mencapai sasaran strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014, tercantum dalam belanja langsung (belanja program/kegiatan) dengan jumlah sebesar Rp. 330.901.720.000,- 15

UNIT PENANGGUNG JAWAB PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A. UTAMA 1 Meningkatkan Cakupan 1 Persentase 100 % 1 Program Obat dan Perbekalan 26,117,687,000 Kepesertaan Masyarakat dalam pengadaan obat Kesehatan JKN essensial PENETAPAN KINERJA PERUBAHAN TAHUN 2014 DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOGOR NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN KETERANGAN 1 Pengadaan Obat Pelayanan 14,016,453,000 Seksi Farmasi 1 & 3 1.6 Kesehatan Dasar (DAK) dan POM 2 Pengadaan Bahan Habis 1,472,839,000 Seksi Farmasi 1 & 3 1.6 Pakai Laboratorium dan POM Puskesmas 3 Pengadaan Alat Kedokteran 2,902,580,000 Seksi Farmasi 1 & 3 1.6 Pakai Habis dan POM 4 Pengadaan Perlengkapan 619,868,000 Seksi Farmasi 1 & 3 1.6 Medis Pakai Habis dan POM 5 Pengadaan Bahan Pendukung 678,614,000 Seksi Farmasi 1 & 3 1.6 Obat dan Perbekalan dan POM Kesehatan 6 Rapat Kerja Program Obat dan 24,810,000 Seksi Farmasi 1 & 3 1.6 Perbekalan Kesehatan dan POM 7 Pengadaan Obat dan 2,500,000,000 Seksi Farmasi 1 & 3 1.6 Perbekalan Kesehatan dan POM (Belanja Jasa Sarana ASKES Tahun 2013) 16

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 8 Pembangunan/ Perluasan 1,639,990,000 Seksi Farmasi 1 & 3 1.5 Gudang Obat Dinas dan POM Kesehatan 9 Pengadaan Bahan Habis Pakai 2,262,533,000 Seksi Farmasi 1 & 3 1.6 Laboratorium Puskesmas dan POM (Kapitasi JKN 2014) 2 Cakupan Pelayanan 66 % 2 Program Upaya Kesehatan 73,801,602,120 kesehatan Masyarakat masyarakat 1 Biaya Penunjang Pelayanan 452,327,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Cibinong Puskesmas Cibinong dan Jaringannya 2 Biaya Penunjang Pelayanan 225,653,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Babakan Puskesmas Babakan Madang Madang dan Jaringannya 1 & 3 1.6 3 Biaya Penunjang Pelayanan 392,643,000 UPT Puskesmas Kesehatan Masyarakat UPT Gunung Putri Puskesmas Gunung Putri dan Jaringannya 4 Biaya Penunjang Pelayanan 575,603,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Sukaraja Puskesmas Sukaraja dan Jaringannya 5 Biaya Penunjang Pelayanan 386,280,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Citeureup Puskesmas Citeureup dan Jaringannya 17

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 6 Biaya Penunjang Pelayanan 374,189,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Cileungsi Puskesmas Cileungsi dan Jaringannya 7 Biaya Penunjang Pelayanan 547,136,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Jonggol Puskesmas Jonggol dan Jaringannya 8 Biaya Penunjang Pelayanan 238,533,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Cariu Puskesmas Cariu dan Jaringannya 9 Biaya Penunjang Pelayanan 349,120,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Sukamakmur Puskesmas Sukamakmur dan Jaringannya 10 Biaya Penunjang Pelayanan 276,745,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Klapanunggal Puskesmas Klapanunggal dan Jaringannya 11 Biaya Penunjang Pelayanan 291,587,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Ciomas Puskesmas Ciomas dan Jaringannya 12 Biaya Penunjang Pelayanan 229,618,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Dramaga Puskesmas Dramaga dan Jaringannya 18

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 13 Biaya Penunjang Pelayanan 363,108,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Ciampea Puskesmas Ciampea dan Jaringannya 14 Biaya Penunjang Pelayanan 202,679,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Pamijahan Puskesmas Pamijahan dan Jaringannya 15 Biaya Penunjang Pelayanan 492,616,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Cibungbulang Puskesmas Cibungbulang dan Jaringannya 16 Biaya Penunjang Pelayanan 465,779,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Rumpin Puskesmas Rumpin dan Jaringannya 17 Biaya Penunjang Pelayanan 167,743,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Leuwiliang Puskesmas Leuwiliang dan Jaringannya 18 Biaya Penunjang Pelayanan 463,272,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Cigudeg Puskesmas Cigudeg dan Jaringannya 19 Biaya Penunjang Pelayanan 439,715,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Parung Puskesmas Parung Panjang dan Jaringannya 19

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 20 Biaya Penunjang Pelayanan 345,685,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Tenjo Puskesmas Tenjo dan Jaringannya 21 Biaya Penunjang Pelayanan 483,556,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Jasinga Puskesmas Jasinga dan Jaringannya 22 Biaya Penunjang Pelayanan 288,522,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Sukajaya Puskesmas Sukajaya dan Jaringannya 23 Biaya Penunjang Pelayanan 383,433,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Nanggung Puskesmas Nanggung dan Jaringannya 24 Biaya Penunjang Pelayanan 163,979,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Kemang Puskesmas Kemang dan Jaringannya 25 Biaya Penunjang Pelayanan 320,600,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Bojonggede Puskesmas Bojonggede dan Jaringannya 26 Biaya Penunjang Pelayanan 347,013,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Parung Puskesmas Parung dan Jaringannya 20

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 27 Biaya Penunjang Pelayanan 137,843,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Rancabungur Puskesmas Rancabungur dan Jaringannya 28 Biaya Penunjang Pelayanan 276,870,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Gunung Sindur Puskesmas Gunung Sindur dan Jaringannya 29 Biaya Penunjang Pelayanan 260,209,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Ciseeng Puskesmas Ciseeng dan Jaringannya 30 Biaya Penunjang Pelayanan 361,007,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Ciawi Puskesmas Ciawi dan Jaringannya 31 Biaya Penunjang Pelayanan 253,067,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Cijeruk Puskesmas Cijeruk dan Jaringannya 32 Biaya Penunjang Pelayanan 268,998,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Megamendung Puskesmas Megamendung dan Jaringannya 33 Biaya Penunjang Pelayanan 189,956,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Cisarua Puskesmas Cisarua dan Jaringannya 21

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 34 Biaya Penunjang Pelayanan 219,165,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Caringin Puskesmas Caringin dan Jaringannya 35 Biaya Penunjang Pelayanan 160,387,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Tamansari Puskesmas Tamansari dan Jaringannya 36 Biaya Penunjang Pelayanan 410,436,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Cigombong Puskesmas Cigombong dan Jaringannya 37 Biaya Penunjang Pelayanan 107,079,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Tenjolaya Puskesmas Tenjolaya dan Jaringannya 38 Biaya Penunjang Pelayanan 228,072,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Tajurhalang Puskesmas Tajurhalang dan Jaringannya 39 Biaya Penunjang Pelayanan 342,628,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Tanjungsari Puskesmas Tanjungsari dan Jaringannya 22

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 40 Biaya Penunjang Pelayanan 156,452,000 UPT Puskesmas 1 & 3 1.6 Leuwisadeng Puskesmas Leuwisadeng dan Jaringannya 41 Biaya Penunjang Pelayanan 100,010,000 UPT 1 & 3 1.6 Kesehatan Kerja UPT Pusyankesja Kesehatan Kerja 42 Biaya Penunjang Pelayanan 303,342,000 UPT 1 & 3 1.6 Laboratorium Kesehatan Laboratorium Daerah Kesehatan Daerah 43 Rapat Kerja Program Upaya 60,000,000 Sub Bagian 1 & 3 1.6 Kesehatan Masyarakat Program dan Pelaporan 44 Pelayanan Kesehatan dalam 125,000,000 Seksi Yandasruj 3 1.6 rangka P3K 45 Biaya Penunjang Pelayanan 1,039,192,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Jasinga Puskesmas Jasinga 46 Biaya Penunjang Pelayanan 415,152,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Bagoang Puskesmas Bagoang 47 Biaya Penunjang Pelayanan 607,464,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Curug Puskesmas Curug 23

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 48 Biaya Penunjang Pelayanan 931,788,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cigudeg Puskesmas Cigudeg 49 Biaya Penunjang Pelayanan 789,480,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Lebakwangi Puskesmas Lebakwangi 50 Biaya Penunjang Pelayanan 356,112,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Bunar Puskesmas Bunar 51 Biaya Penunjang Pelayanan 995,328,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Sukajaya Puskesmas Sukajaya 52 Biaya Penunjang Pelayanan 675,072,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Kiarapandak Puskesmas Kiarapandak 53 Biaya Penunjang Pelayanan 1,154,784,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Parung Panjang Puskesmas Parung Panjang 54 Biaya Penunjang Pelayanan 566,160,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Dago Puskesmas Dago 24

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 55 Biaya Penunjang Pelayanan 952,224,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Tenjo Puskesmas Tenjo 56 Biaya Penunjang Pelayanan 642,096,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Pasar Rebo Puskesmas Pasar Rebo 57 Biaya Penunjang Pelayanan 1,193,952,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Nanggung Puskesmas Nanggung 58 Biaya Penunjang Pelayanan 584,460,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Curugbitung Puskesmas Curugbitung 59 Biaya Penunjang Pelayanan 1,807,483,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Leuwiliang Puskesmas Leuwiliang 60 Biaya Penunjang Pelayanan 1,054,656,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Puraseda Puskesmas Puraseda 61 Biaya Penunjang Pelayanan 525,564,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Leuwisadeng Puskesmas Leuwisadeng 25

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 62 Biaya Penunjang Pelayanan 810,648,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Sadeng Pasar Puskesmas Sadeng Pasar 63 Biaya Penunjang Pelayanan 580,320,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Rumpin Puskesmas Rumpin 64 Biaya Penunjang Pelayanan 707,940,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Gobang Puskesmas Gobang 65 Biaya Penunjang Pelayanan 724,600,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cicangkal Puskesmas Cicangkal 66 Biaya Penunjang Pelayanan 782,400,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cibungbulang Puskesmas Cibungbulang 67 Biaya Penunjang Pelayanan 466,596,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cijujung Puskesmas Cijujung 68 Biaya Penunjang Pelayanan 694,600,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Situ Udik Puskesmas Situ Udik 26

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 69 Biaya Penunjang Pelayanan 917,568,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Pamijahan Puskesmas Pamijahan 70 Biaya Penunjang Pelayanan 551,520,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Ciasmara Puskesmas Ciasmara 71 Biaya Penunjang Pelayanan 782,892,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cibening Puskesmas Cibening 72 Biaya Penunjang Pelayanan 749,952,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Ciampea Puskesmas Ciampea 73 Biaya Penunjang Pelayanan 506,772,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Ciampea Udik Puskesmas Ciampea Udik 74 Biaya Penunjang Pelayanan 303,588,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Puskesmas Pasir 75 Biaya Penunjang Pelayanan 220,248,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cihideung Udik Puskesmas Cihideung Udik 27

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 76 Biaya Penunjang Pelayanan 1,308,336,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Tenjolaya Puskesmas Tenjolaya 77 Biaya Penunjang Pelayanan 804,672,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Ciomas Puskesmas Ciomas 78 Biaya Penunjang Pelayanan 200,880,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Laladon Puskesmas Laladon 79 Biaya Penunjang Pelayanan 256,360,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Ciapus Puskesmas Ciapus 80 Biaya Penunjang Pelayanan 384,200,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Kota Batu Puskesmas Kota Batu 81 Biaya Penunjang Pelayanan 555,264,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Sirnagalih Puskesmas Sirnagalih 82 Biaya Penunjang Pelayanan 287,360,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Tamansari Puskesmas Tamansari 28

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 83 Biaya Penunjang Pelayanan 248,112,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Sukaresmi Puskesmas Sukaresmi 84 Biaya Penunjang Pelayanan 390,384,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Darmaga Puskesmas Darmaga 85 Biaya Penunjang Pelayanan 417,312,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Kampung Manggis Puskesmas Kampung Manggis 86 Biaya Penunjang Pelayanan 408,096,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Purwasari Puskesmas Purwasari 87 Biaya Penunjang Pelayanan 160,668,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cangkurawok Puskesmas Cangkurawok 88 Biaya Penunjang Pelayanan 686,976,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cisarua Puskesmas Cisarua 89 Biaya Penunjang Pelayanan 628,200,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cibulan Puskesmas Cibulan 29

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 90 Biaya Penunjang Pelayanan 635,280,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Megamendung Puskesmas Megamendung 91 Biaya Penunjang Pelayanan 492,160,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Sukamanah Puskesmas Sukamanah 92 Biaya Penunjang Pelayanan 619,536,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Ciawi Puskesmas Ciawi 93 Biaya Penunjang Pelayanan 707,520,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Banjarsari Puskesmas Banjarsari 94 Biaya Penunjang Pelayanan 342,756,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Citapen Puskesmas Citapen 95 Biaya Penunjang Pelayanan 1,006,416,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Caringin Puskesmas Caringin 96 Biaya Penunjang Pelayanan 943,712,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Ciderum Puskesmas Ciderum 30

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 97 Biaya Penunjang Pelayanan 478,296,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cinagara Puskesmas Cinagara 98 Biaya Penunjang Pelayanan 619,392,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cigombong Puskesmas Cigombong 99 Biaya Penunjang Pelayanan 459,720,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Ciburayut Puskesmas Ciburayut 100 Biaya Penunjang Pelayanan 1,633,008,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cijeruk Puskesmas Cijeruk 101 Biaya Penunjang Pelayanan 252,828,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Sukaharja Puskesmas Sukaharja 102 Biaya Penunjang Pelayanan 803,232,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Kemang Puskesmas Kemang 103 Biaya Penunjang Pelayanan 347,280,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Jampang Puskesmas Jampang 31

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 104 Biaya Penunjang Pelayanan 697,632,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Bantar Jaya Puskesmas Bantar Jaya 105 Biaya Penunjang Pelayanan 371,568,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Rancabungur Puskesmas Rancabungur 106 Biaya Penunjang Pelayanan 819,360,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Parung Puskesmas Parung 107 Biaya Penunjang Pelayanan 387,772,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cogreg Puskesmas Cogreg 108 Biaya Penunjang Pelayanan 1,218,000,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Ciseeng Puskesmas Ciseeng 109 Biaya Penunjang Pelayanan 556,056,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cibeuteung Udik Puskesmas Cibeuteung Udik 110 Biaya Penunjang Pelayanan 596,016,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Gunung Sindur Puskesmas Gunung Sindur 32

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 111 Biaya Penunjang Pelayanan 482,920,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Suliwer Puskesmas Suliwer 112 Biaya Penunjang Pelayanan 910,080,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Bojong Gede Puskesmas Bojong Gede 113 Biaya Penunjang Pelayanan 336,912,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Kemuning Puskesmas Kemuning 114 Biaya Penunjang Pelayanan 254,720,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Ragajaya Puskesmas Ragajaya 115 Biaya Penunjang Pelayanan 978,144,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Tajurhalang Puskesmas Tajurhalang 116 Biaya Penunjang Pelayanan 464,976,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cirimekar Puskesmas Cirimekar 117 Biaya Penunjang Pelayanan 735,840,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cibinong Puskesmas Cibinong 33

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 118 Biaya Penunjang Pelayanan 594,768,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Pabuaran Indah Puskesmas Pabuaran Indah 119 Biaya Penunjang Pelayanan 619,920,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Karadenan Puskesmas Karadenan 120 Biaya Penunjang Pelayanan 1,067,568,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cimandala Puskesmas Cimandala 121 Biaya Penunjang Pelayanan 566,928,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Sukaraja Puskesmas Sukaraja 122 Biaya Penunjang Pelayanan 438,288,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cilebut Puskesmas Cilebut 123 Biaya Penunjang Pelayanan 622,368,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Citeureup Puskesmas Citeureup 124 Biaya Penunjang Pelayanan 476,640,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Leuwinutug Puskesmas Leuwinutug 34

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 125 Biaya Penunjang Pelayanan 394,776,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Tajur Puskesmas Tajur 126 Biaya Penunjang Pelayanan 206,064,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Sentul Puskesmas Sentul 127 Biaya Penunjang Pelayanan 319,440,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Babakan Madang Puskesmas Babakan Madang 128 Biaya Penunjang Pelayanan 318,348,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cijayanti Puskesmas Cijayanti 129 Biaya Penunjang Pelayanan 367,584,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Gunung Putri Puskesmas Gunung Putri 130 Biaya Penunjang Pelayanan 179,904,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Bojong Nangka Puskesmas Bojong Nangka 131 Biaya Penunjang Pelayanan 53,376,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Ciangsana Puskesmas Ciangsana 35

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 132 Biaya Penunjang Pelayanan 110,832,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Karanggan Puskesmas Karanggan 133 Biaya Penunjang Pelayanan 458,208,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cileungsi Puskesmas Cileungsi 134 Biaya Penunjang Pelayanan 132,816,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Pasir Angin Puskesmas Pasir Angin 135 Biaya Penunjang Pelayanan 304,896,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Gandoang Puskesmas Gandoang 136 Biaya Penunjang Pelayanan 541,248,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Klapanunggal Puskesmas Klapanunggal 137 Biaya Penunjang Pelayanan 483,216,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Bojong Puskesmas Bojong 138 Biaya Penunjang Pelayanan 1,089,552,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Jonggol Puskesmas Jonggol 36

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 139 Biaya Penunjang Pelayanan 361,692,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Sukanegara Puskesmas Sukanegara 140 Biaya Penunjang Pelayanan 284,832,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Balekambang Puskesmas Balekambang 141 Biaya Penunjang Pelayanan 1,370,784,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Sukamakmur Puskesmas Sukamakmur 142 Biaya Penunjang Pelayanan 624,996,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Sukadamai Puskesmas Sukadamai 143 Biaya Penunjang Pelayanan 507,456,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Cariu Puskesmas Cariu 144 Biaya Penunjang Pelayanan 100,116,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Karyamekar Puskesmas Karyamekar 145 Biaya Penunjang Pelayanan 624,448,000 Puskesmas 1, 2 & 3 1.6 Tanjungsari Puskesmas Tanjungsari 37

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 146 Biaya Penunjang Pelayanan 852,480,000 BKTK 1, 2 & 3 1.6 BKTK 3 Program Pengadaan 229,781,000 Standarisasi Pelayanan Kesehatan KETERANGAN 1 Monitoring, Evaluasi dan 229,781,000 Sub Bag. 1 1.5.6 Pelaporan Program dan Pelaporan 2 Meningkatkan Cakupan 3 Cakupan Balita Gizi 100 % 4 Program Perbaikan Gizi 4,587,786,000 Pelayanan Kesehatan dan Buruk mendapat Masyarakat Gizi Masyarakat serta PHBS perawatan 4 Persentase balita gizi 0.020 % 1 Pengadaan Makanan 4,577,786,000 Seksi Gizi 3 1.6 buruk Tambahan dan Vitamin 3 Meningkatkan Puskesmas 2 Rapat Kerja Program 10,000,000 Seksi Gizi 3 1.5.6 Terakreditasi dan Perbaikan Gizi Masyarakat Mempersiapkan Puskesmas BLUD 5 Cakupan Penemuan 82 % 5 Program Pencegahan dan 1,673,860,006 dan penanganan Penanggulangan Penyakit penderita Menular penyakit TBC BTA 1 Penyemprotan/Fogging 367,812,000 Seksi 3 1.6 6 Cakupan Penemuan 100 % Sarang Nyamuk Pemberantasan dan penanganan Penyakit Penderita penyakit DBD 2 Peningkatan surveillance 133,757,000 Seksi Surveilans 3 1.6 7 Cakupan 100 % epideminologi dan Epid dan Desa/Kelurahan penanggulangan wabah Imunisasi Universal Child Immunization 3 Pemeriksaan Calon Jemaah 348,491,000 Seksi Surveilans 3 1.6 (UCI) Haji Epid dan Imunisasi 38

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 4 Fasilitasi Pelaksanaan 132,350,000 Seksi 3 1.6 Kegiatan Program P2 TB Pemberantasan Penyakit 5 Fasilitasi Pelaksanaan Kegiatan 68,125,000 Seksi 3 1.6 Program P2 Diare ISPA Pemberantasan Penyakit 6 Fasilitasi Pelaksanaan 30,975,000 Seksi 3 1.6 Kegiatan Program P2 Kusta Pemberantasan Penyakit 7 Pencegahan dan 41,960,000 Seksi 3 1.6 Penanggulangan Penyakit Pemberantasan Menular Seksual (HIV/Aids) Penyakit 8 Surveilans Acute Flaccid 73,910,000 Seksi Surveilans 3 1.6 Paralisys (AFP) Epid dan Imunisasi 9 Pengobatan massal filariasis 164,938,000 Seksi 3 1.6 di Kecamatan Gunung Sindur Pemberantasan Penyakit 10 Pengobatan massal filariasis 193,898,000 Seksi 3 1.6 di Kecamatan Parung Panjang Pemberantasan Penyakit 11 Fasilitasi Program Imunisasi 77,735,000 Seksi Surveilans 3 1.6 dan BIAS (Bulan Imunisasi Epid dan Anak Sekolah) Imunisasi 12 Rapat Kerja Program 39,909,000 Seksi Surveilans 3 1.6 Pencegahan dan Epid dan Pemberantasan Penyakit serta Imunisasi Surveilans Epidemiologi 39

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 8 Rasio puskesmas, 1 : 9,550 rasio 6 Program Pengadaan, 55,891,058,012 poliklinik, pustu per Peningkatan dan Perbaikan satuan penduduk Sarana dan Prasarana 9 Cakupan Puskesmas 252.5 % Puskesmas/Puskesmas 10 Cakupan Pembantu 30.65 % Pembantu dan Jaringannya Puskesmas 1 Pengadaan Puskesmas 1,606,957,000 Seksi Yandasruj 3 1.6 Keliling 2 Pengadaan Perlengkapan 823,444,000 Seksi Yandasruj 1 1.5 Kantor Puskesmas 3 Pengadaan Mebeulair 1,270,798,000 Seksi Yandasruj 1 1.5 Puskesmas 4 Pengadaan Alat-alat 3,868,389,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Kedokteran Puskesmas 5 Pengadaan Alat-alat 1,262,660,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Laboratorium Puskesmas 6 Pengadaan Sarana Pelayanan 2,100,000,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Kesehatan (Belanja Jasa Sarana ASKES Tahun 2013) 7 Revitalisasi Puskesmas 2,283,305,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Cileungsi 8 Revitalisasi Puskesmas Cariu 2,172,905,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 menjadi Puskesmas DTP 9 Rehabilitasi Puskesmas 776,790,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Sukajaya 40

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pembangunan Pukesmas 338,098,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Pembantu Wangunjaya 11 Pembangunan Pukesmas 338,378,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Pembantu Neglasari 12 Pembangunan Puskesmas 1,552,978,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 DTP Bantarjaya 13 Pembangunan Puskesmas 3,693,064,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Leuwisadeng menjadi DTP 14 Revitalisasi Puskesmas Tajur 2,405,675,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Halang menjadi DTP 15 Pengadaan Lahan Puskesmas 1,080,767,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Jampang (Relokasi) 16 Pengadaan Lahan Puskesmas 1,780,767,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Cibungbulang 17 Pengadaan Lemari Es dan 183,995,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Pengatur Suhu Lemari Es Vaksin Puskesmas 18 Rehabilitasi Puskesmas 1,545,360,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Gunung Putri 19 Pembangunan DTP 139,025,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Puskesmas Tenjolaya 20 Rehabilitasi Ruang Radiologi 211,674,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 dan Laboratorium Puskesmas Jonggol 41

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 21 Rehabilitasi Pustu Pasir Angin 275,204,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 22 Peningkatan Sarana dan 5,000,000,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Prasarana Pengadaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium Kimia di Puskesmas Kab. Bogor (Banprop 2014) 23 Pengadaan Alkes & Lab Kimia 7,900,000,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 di Puskesmas (Banprop 2014) 24 Pengadaan Alat-Alat 7,219,796,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Kedokteran Puskesmas (Kapitasi JKN 2014) 25 Pengadaan Alat-Alat 4,558,158,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Laboratorium Puskesmas (Kapitasi JKN 2014) 26 Pengadaan Ambulance 1,502,871,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Puskesmas (Kapitasi JKN 2014) 11 Angka Usia Harapan 70.5 tahun 7 Program Peningkatan Pelayanan 13,900,000 Hidup Lansia 1 Rapat Kerja Program 13,900,000 Seksi Remaja 3 1.6 Peningkatan Pelayanan dan Lansia Kesehatan Lansia 12 Cakupan komplikasi 80 % 8 Program Peningkatan 1,374,409,006 kebidanan yang Keselamatan Ibu Melahirkan dan ditangani Anak KETERANGAN 13 Cakupan pertolongan 90 % 1 Kemitraan Paraji untuk 388,150,000 Seksi KIA dan 3 1.6 persalinan oleh tenaga Persalinan di Puskesmas KB kesehatan yang memiliki PONED kompetensi kebidanan 42

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2 Belanja Operasional Call 916,750,000 Seksi KIA dan 3 1.6 14 Cakupan kunjungan 95 % Center/ SMS Gateway KB bayi Program EMAS 15 Angka kelangsungan BPS % 3 Rapat Kerja Program 69,509,000 Seksi KIA dan 3 1.6 hidup bayi Peningkatan Pelayanan KB Kesehatan Ibu, Anak dan Remaja 16 Rasio dokter per 1 : 3,879 rasio 9 Program Pengadaan Standarisasi 25,783,397,000 satuan penduduk Pelayanan Kesehatan 1 Penyusunan dan 153,200,000 Seksi Data dan 1 1.5 17 Rasio tenaga medis 1 : 2,637 rasio Pengembangan Data Infokes per satuan penduduk Kesehatan 2 Pembinaan Sarana / Institusi 80,750,000 Seksi PUK 3 1.6 Swasta 3 Jasa Pelayanan Kesehatan 25,443,522,000 Sub Bag Umum - - & Kepeg 4 Rapat Koordinasi, Evaluasi 100,000,000 Sub Bagian 1 & 3 1.5.6 dan Perencanaan Program Program dan Pelaporan 5 Akreditasi Puskesmas 135,865,000 Seksi PSDK 1 1.5.6 6 Persiapan Penerapan Pola 23,260,000 Sub Bagian 3 1.5.6 Pengelolaan Keuangan Badan Program dan Layanan Umum Daerah Pelaporan (PPK-BLUD) 10 Program Pelayanan Administrasi 11,680,650,000 Perkantoran KETERANGAN 1 Penyediaan jasa tenaga 11,680,650,000 Sub Bag Umum 1 1.6 pendukung administrasi/teknis & Kepeg perkantoran 43

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 18 Cakupan Pelayanan 100 % 11 Program Pelayanan 109,154,033,000 Kesehatan rujukan Kesehatan Penduduk Miskin pasien masyarakat miskin 1 Pelayanan Operasi Katarak 754,033,000 Seksi Yandasruj 3 1.6 2 Jaminan Pelayanan Kesehatan 100,000,000,000 Seksi PSDK 2 1.6 Daerah 3 Jaminan Kesehatan bagi 8,400,000,000 Seksi PSDK 2 1.6 Maskin di luar Kuota Jamkesmas 19 Cakupan pengawasan 100 % 12 Program Pengawasan dan 90,256,000 terhadap obat, makanan Pengendalian Kesehatan dan bahan berbahaya Makanan KETERANGAN 1 Pengawasan dan 53,455,000 Seksi PUK 3 1.5 Pengendalian Kesehatan Makanan Hasil Produksi Rumah Tangga 2 Penyuluhan Keamanan 36,801,000 Seksi PUK 3 1.5 Pangan dalam rangka Sertifikasi Produk Pangan (SPPIRT) 1 Cakupan Rumah 95 % 13 Program Pengembangan 415,410,006 dengan bebas jentik Lingkungan Sehat 2 Persentase TTU yg 77.72 % memenuhi syarat 1 Pengawasan Hygiene dan 24,300,000 Seksi Kesling 3 1.6 3 Persentase TPM yg 89.96 % Sanitasi Tempat-Tempat memenuhi syarat Umum 4 Cakupan JAGA 70.63 % memenuhi syarat 2 Sanitasi Total Berbasis 331,810,000 Seksi Kesling 3 1.6 5 Cakupan SAB 70.57 % Masyarakat ( STBM ) memenuhi syarat 3 Pengawasan Hygiene dan 44,300,000 Seksi Kesling 3 1.6 Sanitasi Tempat Pengelolaan Makanan 44

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 4 Rapat Kerja Program 15,000,000 Seksi Kesling 3 1.5 Pengembangan Lingkungan Sehat 6 Cakupan Desa Siaga 60 % 14 Program Promosi Kesehatan dan 1,245,825,000 Aktif Pemberdayaan Masyarakat 7 Rasio Posyandu 11.55 % per Satuan Balita 1 Penyediaan Media 507,500,000 Seksi Promkes 3 1.5.6 Penyuluhan Kesehatan 2 Penyuluhan Kesehatan 193,800,000 Seksi Promkes 3 1.5.6 3 Fasilitasi UKBM dan 356,000,000 Seksi Promkes 3 1.5 Pembinaan Kesehatan Lintas Sektor B. PENUNJANG 4 Fasilitasi Tim Pembina 148,525,000 Seksi Promkes 3 1.5 Kabupaten Sehat 5 Rapat Kerja Bidang Promosi 40,000,000 Seksi PSDK 3 1.5 dan SDK 1. Meningkatnya kelancaran 1 Terwujudnya 1 Tahun 1 Program Pelayanan Administrasi 4,309,370,006 pelaksanaan tugas pokok kelancaran 100 % Perkantoran dan fungsi masing-masing pelayanan administrasi 1 Penyediaan Jasa Surat 4,380,000 Sub Bag. Umum - 1.5 perkantoran Menyurat & Kepeg 2 Penyediaan jasa komunikasi, 1,012,788,000 Sub Bag. Umum - 1.5 sumber daya air dan listrik & Kepeg 3 Penyediaan Jasa 16,803,000 Sub Bag. Umum - 1.5 Pemeliharaan dan Perizinan & Kepeg Kendaraan Dinas/Operasional 45

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 4 Penyediaan Jasa Kebersihan 290,640,000 Sub Bag. Umum - 1.5 Kantor & Kepeg 5 Penyediaan Alat Tulis Kantor 203,266,000 Sub Bag. Umum - 1.5 & Kepeg 6 Penyediaan barang cetakan 1,212,304,000 Sub Bag. Umum - 1.5 dan penggandaan & Kepeg 7 Penyediaan komponen 12,753,000 Sub Bag. Umum - 1.5 instalasi listrik/penerangan & Kepeg bangunan kantor 8 Penyediaan bahan bacaan 18,840,000 Sub Bag. Umum - 1.5 dan peraturan & Kepeg perundang-undangan 9 Penyediaan bahan logistik 44,040,000 Sub Bag. Umum - 1.5 kantor & Kepeg 10 Penyediaan makanan dan 122,200,000 Sub Bag. Umum - 1.5 minuman & Kepeg 11 Rapat-rapat koordinasi dan 1,074,890,000 Sub Bag. 1,2 & 3 1.5 konsultasi ke Dalam dan Luar Program & Daerah Pelaporan 12 Penyediaan Pelayanan 27,791,000 Sub Bag. Umum 1 1.5 Administrasi Kepegawaian & Kepeg 13 Penyediaan Pelayanan 30,550,000 Sub Bag. Umum 1 1.5 Administrasi Barang & Kepeg 14 Penyediaan Pelayanan 238,125,000 Sub Bag. Umum 1 1.5 Keamanan Kantor & Kepeg 2 Terwujudnya 1 Tahun 2 Program Peningkatan Sarana 8,835,336,012 kecepatan, 100 % dan Prasarana Aparatur kenyamanan dan keamanan kerja 1 Pengadaan Kendaraan Dinas/ 6,349,306,000 Sub Bag. Umum 1 1.5 aparatur Operasional & Kepeg 46

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2 Pengadaan Mebeleur 163,974,000 Sub Bag. Umum 1 1.5 & Kepeg 3 Pengadaan Peralatan Kantor 429,187,000 Sub Bag. Umum 1 1.5 & Kepeg 4 Pemeliharaan Rutin/Berkala 208,585,000 Sub Bag. Umum 1 1.5 Gedung Kantor & Kepeg 5 Pemeliharaan Rutin/Berkala 229,000,000 Sub Bag. Umum 1 1.5 Kendaraan Dinas/Operasional & Kepeg 6 Pemeliharaan Rutin/Berkala 117,450,000 Sub Bag. Umum 1 1.5 Perlengkapan Gedung Kantor & Kepeg 7 Rehabilitasi Rumah Dinas 184,000,000 Seksi Yandasruj - 1.5 Dokter dan Paramedis Puskesmas Ciampea 8 Pembangunan Rumah Dinas 321,990,000 Seksi Yandasruj - 1.5 Paramedis Puskesmas Sukajaya 9 Rehabilitasi Rumah Dinas 235,408,000 Seksi Yandasruj - 1.5 Dokter Puskesmas Pabuaran 10 Rehabilitasi Rumah Dinas 235,408,000 Seksi Yandasruj - 1.5 Paramedis Puskesmas Ciriung 11 Rehabilitasi Rumah Dinas 236,028,000 Seksi Yandasruj - 1.5 Dokter Puskesmas Cigudeg 47

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 12 Pemasangan Partisi dan 125,000,000 Seksi Yandasruj - 1.5 Penataan Interior Aula Dinas Kesehatan 3 Program Peningkatan Disiplin 312,400,000 Aparatur KETERANGAN 1 Pengadaan Pakaian Dinas 312,400,000 Sub Bag. Umum - 1.5 Beserta Perlengkapannya & Kepeg 2 Meningkatnya jumlah dan 1 Terwujudnya 1 Tahun 4 Program Peningkatan Kapasitas 3,203,600,006 kualitas sumber daya peningkatan 100 % Sumber Daya Aparatur kesehatan kapasitas dan kinerja sumberdaya 1 Pembinaan Mental dan Rohani 30,000,000 Sub Bag. Umum - 1.5 aparatur bagi Aparatur & Kepeg 2 Penilaian Angka Kredit 35,000,000 Sub Bag. Umum - 1.6 Tenaga Fungsional Kesehatan & Kepeg 3 Pengiriman Peserta Bimtek 140,000,000 Seksi KIA dan 1 & 3 1.5.6 Asuhan Persalinan Normal KB (APN) 4 Pengiriman Peserta Bimtek 140,000,000 Seksi KIA dan 1 & 3 1.5.6 Penatalaksanaan Asfixia Bayi KB Baru Lahir 5 Bimbingan Teknis Pertolongan 140,000,000 Seksi KIA dan 1 & 3 1.5.6 Pertama Gawat Darurat KB Obstetri & Neonatal (PPGDON) 6 Pengiriman Peserta 75,000,000 Seksi KIA dan 1 & 3 1.5.6 Bimbingan Teknis PONED KB 7 Pengiriman Peserta 250,050,000 Seksi Yandasruj 1 & 3 1.5.6 Bimbingan Teknis PPGD 48

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 8 Pengiriman Peserta 120,000,000 Seksi KIA dan 1 & 3 1.5.6 Bimbingan Teknis Simulasi KB Deteksi Dini Intervensi Tumbuh Kembang (SDIDTK) 9 Pengiriman Peserta 110,000,000 Seksi Gizi 1 & 3 1.5.6 Bimbingan Teknis Konselor Menyusui 10 Pelatihan Akreditasi 704,950,000 Seksi PSDK 1 1.5.6 Puskesmas 11 Bimbingan Teknis MTBS/M 120,000,000 Seksi KIA dan 3 1.5.6 KB 12 Peningkatan Kinerja bagi 1,338,600,000 Seksi KIA dan - 5 Dokter/Dokter Gigi dan Bidan KB PNS yang bertugas di Puskesmas/Desa Terpencil/sulit dijangkau/sulit pemenuhan tenaga kesehatan (Banprop) 3 Terwujudnya 1. Tersusunnya 1 Tahun 5 Program Peningkatan 525,000,006 pertanggungjawaban kinerja perencanaan dan 100 % Pengembangan Sistem dan keuangan SKPD laporan yang Pelaporan Capaian Kinerja akuntabel dan Keuangan 1 Penyusunan laporan capaian 25,000,000 Sub Bag. 1 1.5 kinerja dan ikhtisar realisasi Program & kinerja SKPD Pelaporan 2 Penyusunan pelaporan 20,000,000 Sub Bag. 1 1.5 keuangan semesteran Keuangan 3 Penyusunan pelaporan 25,000,000 Sub Bag. 1 1.5 keuangan akhir tahun Keuangan 49

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 4 Penyusunan perencanaan 150,000,000 Sub Bag. 1 1.5 anggaran Program & Pelaporan 5 Penatausahaan Keuangan 175,000,000 Sub Bag. 1 1.5 SKPD Keuangan 6 Penyusunan Renstra dan 25,000,000 Sub Bag. 1 1.5 Renja SKPD Program & Pelaporan 7 Publikasi Kinerja SKPD 130,000,000 Seksi Promkes 1 1.5 JUMLAH ANGGARAN : 330,723,520,192 PROGRAM : 17 1 OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN : Rp. 26,117,687,006 2 UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT : Rp. 75,279,762,126 3 PENGADAAN STANDARISASI PELAYANAN KESEHATAN : Rp. 26,013,178,000 4 PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT : Rp. 4,587,786,000 5 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR : Rp. 1,673,860,006 6 PENGADAAN, PENINGKATAN DAN PERBAIKAN SARANA DAN PRASARANA : Rp. 55,891,058,012 PUSKESMAS/PUSKESMAS PEMBANTU DAN JARINGANNYA 7 PENINGKATAN PELAYANAN LANSIA : Rp. 13,900,000 8 PENINGKATAN KESELAMATAN IBU MELAHIRKAN DAN ANAK : Rp. 1,374,409,006 9 PELAYANAN ADMINISTRASI PERKANTORAN : Rp. 15,990,020,006 10 PELAYANAN KESEHATAN PENDUDUK MISKIN : Rp. 109,154,033,000 11 PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN KESEHATAN MAKANAN : Rp. 90,256,000 12 PENGEMBANGAN LINGKUNGAN SEHAT : Rp. 415,410,006 13 PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT : Rp. 1,245,825,000 14 PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA APARATUR : Rp. 8,835,336,012 15 PENINGKATAN DISIPLIN APARATUR : Rp. 312,400,000 16 PENINGKATAN KAPASITAS SUMBERDAYA APARATUR : Rp. 3,203,600,006 17 PENINGKATAN PENGEMBANGAN SISTEM PELAPORAN CAPAIAN KINERJA D: Rp. 525,000,006 KEUANGAN 50

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 3.1. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI Pengukuran kinerja mencakup Pengukuran Kinerja Sasaran Strategis dan Pengukuran Kinerja Kegiatan. Pengukuran Kinerja Sasaran Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014 dilakukan dengan menggunakan formulir Pengukuran Kinerja Sasaran sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.. Pengukuran Kinerja Kegiatan dilakukan dengan menggunakan formulir Pengukuran Kinerja Kegiatan sesuai dengan Surat Keputusan Kepala LAN Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Setelah pengukuran kinerja kemudian dilakukan evaluasi kinerja, selanjutnya dilakukan analisis efisiensi dan efektivitas. Analisis efisiensi dilakukan dengan membandingkan antara output dengan input baik untuk rencana maupun realisasi. Analisis ini menggambarkan tingkat efisiensi yang dilakukan dengan memberikan data nilai output per unit yang dihasilkan oleh suatu input tertentu. Efisiensi terjadi karena : dengan realisasi masukan yang lebih kecil dari target, realisasi keluaran tetap diperoleh sesuai dengan targetnya, ataupun realisasi masukan yang sesuai dengan targetnya, diperoleh realisasi keluaran yang lebih besar dari targetnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa realisasi melampaui target. Analisis efektivitas yang menggambarkan tingkat kesesuaian antara sasaran dan tujuan dengan hasil (outcomes). Selain itu, analisis juga dilakukan terhadap setiap perbedaan kinerja (performance gap) yang terjadi, baik terhadap penyebab terjadinya gap maupun strategi pemecahan masalah yang telah dan akan dilaksanakan. Pengukuran Kinerja Sasaran Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014 disajikan dalam Lampiran 2, dan Pengukuran Kinerja Kegiatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014 disajikan dalam Lampiran 3. 3.2. EVALUASI DAN ANALISIS KINERJA Kebijaksanaan Sektor Kesehatan, sebagaimana telah ditetapkan dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) merupakan kelompok prioritas pembangunan ke dua yaitu peningkatan Kualitas dan Pemerataan Pendidikan dan Kesehatan dengan fokus kebijakannya adalah sebagai berikut : 1. Peningkatan akses masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan 2. Peningkatan status gizi masyarakat 51

3. Peningkatan kualitas ibu, anak, remaja dan lansia 4. Peningkatan kemandirian masyarakat dalam pembangunan kesehatan 5. Pemenuhan dan peningkatan kualitas sumber daya kesehatan Berdasarkan hasil pengukuran kinerja sasaran strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, maka evaluasi dan analisis masing-masing sasaran dapat disimpulkan sebagai berikut ; Misi-1 1. Meningkatkan Kemandirian dalam Jaminan Kesehatan Nasional ; Misi-2 1. Meningkatkan Pemerataan Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas, yaitu : No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Capaian UTAMA : Prosentase pengadaan obat % 100 100 100,0 1. Meningkatkan essensial cakupan Kepesertaan Cakupan pelayanan kesehatan % 100 100 100,0 Masyarakat rujukan pasien masyarakat dalam JKN. miskin Cakupan pelayanan persalinan % 90,00 87,60 97,33 oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan komplikasi kebidanan % 80,00 77,90 97,38 yang ditangani Cakupan kunjungan bayi % 95,00 96,02 101,07 Cakupan puskesmas % 252,50 252,50 100,0 Cakupan puskesmas pembantu % 30,65 30,18 98,47 Cakupan pelayanan kesehatan % 66,00 58,85 89,17 masyarakat 52

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Capaian Cakupan pengawasan % 100,0 102,0 102,0 terhadap obat dan makanan berbahaya 2. Meningkatkan Cakupan desa siaga aktif % 60,00 60,14 100,23 Cakupan pelayanan Presentase Balita gizi buruk % 0,020 0,0202 99,00 Kesehatan dan Gizi Cakupan Balita gizi buruk % 100,0 100,0 100,0 Masyarakat mendapat perawatan serta PHBS Rasio Posyandu per Satuan % 11,55 8,91 77,14 Balita Cakupan Rumah dengan bebas % 95,00 96,19 101,25 jentik Persentase TTU yang % 77,72 79,02 101,67 memenuhi syarat Persentase TPM yang % 89,96 90,2 100,27 memenuhi syarat Cakupan JAGA yang % 70,63 71,07 100,62 memenuhi syarat Cakupan SAB yang memenuhi % 70,57 70,68 100,16 syarat Cakupan Penemuan dan % 82,00 91,62 111,73 penanganan penderita penyakit TBC BTA Cakupan penemuan dan % 100,0 100,0 100,0 penanganan pendrita penyakit 53

No Sasaran Strategis DBD Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Capaian Cakupan Desa/kelurahan % 100,0 95.16 95.16 Universal Child Immunisation (UCI) 3. Meningkatkan Rasio puskesmas, poliklinik, Rasio 1 : 1 : 101,75 Puskesmas pustu per satuan penduduk 9.550 9.383 Terakreditasi dan Rasio rumah sakit per satuan Rasio 1 : 1 : 111,11 mempersiap penduduk 218.066 193.836 kan puskesmas Rasio dokter per satuan Rasio 1 : 3.879 1 : 4.016 96,47 BLUD penduduk Rasio tenaga medis per satuan Rasio 1 : 2.637 1 : 2.730 96,47 penduduk Rata rata 99,14 Untuk mendukung pencapaian Misi ke-satu dan ke-tiga telah ditetapkan 3 (tiga) sasaran, 13 program dan 225 kegiatan, dengan realisasi pencapaian sasaran sebesar 99,14 % Rincian pencapaian dari 2 (dua) sasaran sebagai berikut : 1. Sasaran pertama, yaitu Meningkatkan Cakupan Kepesertaan Masyarakat dalam JKN dengan indikator kinerjanya adalah : a. Terpenuhinya kebutuhan obat masyarakat dengan indikator kinerja prosentase pengadaan obat esensial dari target 100 % realisasi pencapaiannya 100 %, sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100 %, hal ini menunjukkan bahwa pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Dibandingkan dengan capaian pada tahun 2013 yang juga mencapai 100 % menunjukkan bahwa adanya konsistensi dalam pemenuhan kebutuhan obat esensial dalam rangka pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan standar yang ditentukan. Indikator prosentase pengadaan obat essensial ditunjang oleh Program obat dan perbekalan kesehatan. Program ini dibiayai dari DAK dan pendamping APBD Kabupaten tahun 2014 sebesar Rp. 26.117.687.000,- dengan realisasi Rp. 54

21.360.559.795,- ( 81,14 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 4.925.347.485,- diantaranya dari kegiatan pembangunan perluasan gudang obat Dinas Kesehatan tidak diserap oleh karena perencanaan pembangunan gudang obat baru selesai bulan Nopember sehingga pembangunan fisik tidak cukup waktu untuk dilaksanakan sehingga dana yang diserap hanya untuk biaya perencanaan, program ini terdiri dari 9 kegiatan yaitu : pengadaan obat dan perbekalan kesehatan dasar (DAK), pengadaan bahan habis pakai laboratorium puskesmas, pengadaan alat kedokteran pakai habis, pengadaan perlengkapan medis pakai habis, pengadaan bahan pendukung obat dan perbekalan kesehatan, rapat kerja program obat dan perbekalan kesehatan, pengadaan obat dan perbekalan kesehatan (Belanja Jasa Sarana ASKES tahun 2013, pembangunan perluasan gudang obat dinas kesehatan dan pengadaan bahan habis pakai laboratorium puskesmas ( Kapitasi JKN 2014) b. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin dari target 100 % realisasi pencapaiannya 100 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 2013 yang juga mencapai 100 % hal ini dikarenakan sudah adanya anggaran khusus untuk program pelayanan kesehatan penduduk miskin sehingga rujukan bagi pasien masyarakat miskin terlayani. Indikator cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin ditunjang oleh Program pelayanan kesehatan penduduk miskin. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2014 sebesar Rp. 109.154.0033.000,- dengan realisasi Rp. 80.458.905.352,- ( 73,71 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 28.695.127.648,- diantaranya dari kegiatan Jaminan kesehatan bagi Maskin diluar kuota Jamkesmas ( Banprop ) tidak diserap oleh karena peserta yang terintegrasi BPJS sebanyak 238.633 jiwa dan dibayar preminya tidak lebih dari Rp. 63.000.000.000,- artinya anggaran APBD sudah cukup untuk membiayai peserta PBI yang terintegrasi, program ini terdiri dari 3 kegiatan yaitu : pelayanan operasi katarak, jaminan pelayanan kesehatan daerah (Jamkesda) dan jaminan kesehatan bagi maskin diluar kuota Jamkesda. c. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan dari target 90,00 % realisasi pencapaiannya sebesar 87,60 % sehingga capaian kinerjanya sebesar 97,33 % meskipun belum mencapai 100 55

% namun berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian pada tahun 2013 sebesar 95,68 % maka terdapat peningkatan sebesar 1,65 %. Belum tercapainya target cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan disebabkan oleh karena masih tingginya persalinan oleh paraji yang dirasakan lebih dekat secara kekeluargaan, dan masih banyak anggapan masyarakat apabila kehamilan tidak berisiko maka pemeriksaan kehamilan dan persalinan tidak perlu tenaga kesehatan. Tingginya minat masyarakat terhadap paraji ini juga ditunjukkan dengan melihat cakupan pemeriksaan ibu pada saat kehamilan dimana cakupannya cukup tinggi yaitu sebesar 99,5 % namun pada saat persalinan, ibu hamil dan keluarganya lebih memilih ditolong oleh paraji, sehingga cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menurun ke angka 87,60 %. Salah satu upaya yang akan terus dikembangkan adalah kemitraan bidan dengan paraji, dimana paraji tetap membantu dalam tahapan pasca persalinan dan lebih difungsikan pada perawatan ibu dan bayi setelah persalinan, meningkatkan koordinasi dan kemitraan dengan organisasi profesi, optimalisasi pelaksanaan kelas ibu hamil di desa dan pemberdayaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan keluarganya melalui program perencanaan persalinan daan pencegahan komplikasi (P4K). d. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani dari target 80,00 % realisasi pencapaiannya sebesar 77,90 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 97,38 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Pencapaian cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani kurang dari 100 % hal ini karena belum seluruhnya ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan keluarganya mengetahui tentang tanda bahaya atau komplikasi dan segera mendapatkan tindakan/tatalaksana kegawatdaruratan oleh petugas kesehatan, salah satu upaya yang akan dilakukan yaitu pemberdayaan ibu hamil, ibu nifas dan ibu bersalin dan keluarganya melalui program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K). Bila dibandingkan dengan capaian tahun 2013 yang mencapai 124,63 % maka terjadi penurunan yaitu sebesar 27,25 %. e. Cakupan kunjungan bayi dengan target 95,00 % realisasi pencapaiannya 96,02 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 101,07 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Keberhasilan capaian kinerja cakupan kunjungan bayi sebesar 101,07 % oleh karena kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan bayi sudah mengalami peningkatan. Disamping itu petugas kesehatan yang aktif melakukan kunjungan rumah atau melalui kegiatan posyandu. Bila dibandingkan dengan 56

capaian tahun 2013 yang sebesar 101,08 % menunjukan adanya kesadaran para ibu yang mempunyai bayi untuk membawa anaknya ke pelayanan kesehatan. Indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani dan cakupan kunjungan bayi ditunjang oleh Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur. Program ini terdiri dari 8 kegiatan yaitu : pengiriman peserta bimtek asuhan persalinan normal (APN), pengiriman peserta bimtek penatalaksanaan asfixia bayi baru lahir, pengiriman bimtek peserta bimbingan teknis PPGDON dan pengiriman peserta bimtek PONED, pengiriman peserta bimtek PPGD, pengiriman peserta bimtek Simulasi Deteksi Dini Intervensi Tumbuh Kembang (SDIDTK), pengiriman peserta bimtek MTBS/M dan Program peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2014 sebesar Rp. 1.374.409.000,- dengan realisasi Rp. 991.714.168,- ( 72,16 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan anggaran tidak diserap sebesar Rp. 382.694.832,- diantaranya dari kegiatan Kemitraan paraji untuk persalinan di puskesmas PONED tidak diserap seluruhnya oleh karena biaya perjalanan dinas dalam daerah oleh dokter spesialis dinilai terlalu tinggi tidak sesuai dengan standar harga tertinggi APBD Kabupaten Bogor, program ini terdiri dari 3 kegiatan yaitu : kemitraan paraji untuk persalinan di puskesmas PONED, belanja operasional call center/sms Gatway program EMAS dan rapat kerja program peningkatan pelayanan kesehatan ibu, anak dan remaja. f. Cakupan puskesmas dengan target 252,50 % realisasi pencapaiannya 252,50 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Keberhasilan capaian kinerja cakupan puskesmas sebesar 100 % bila dibandingkan dengan capaian pada tahun 2013 yang juga mencapai 100 % menandakan tidak adanya penambahan jumlah baik jumlah puksesmas maupun kecamatan. g. Cakupan pembantu puskesmas dengan target 30,65 % realisasi pencapaiannya 30,18 % sehingga realisasi pencapaian kinerjanya sebesar 98,47 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Capaian kinerja cakupan puskesmas pembantu dibawah 100 % yaitu sebesar 98,47 %, bila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2013 yang sebesar 100,13 % maka terjadi penurunan sebesar 1,66 %. Hal ini disebabkan tahun 2014 pemerintah Kabupaten Bogor tidak menambah jumlah pustu yang sudah ada sehingga tidak dapat mencapai target yang sudah ditetapkan upaya yang akan dilakukan yaitu meningkatkan pelayanan kesehatyan dengan mengoptimalkan 57

kegiatan puskesmas keliling (pusling) ke daerah-daerah yang sulit dijangkau/sulit pemenuhan pelayanan kesehatan. h. Cakupan pelayanan kesehatan masyarakat dari target 66,00 % dengan realisasi 58,85 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 89,17 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Cakupan pelayanan kesehatan masyarakat dengan capaian kinerja sebesar 89,17 % hal ini disebabkan karena masyarakat tidak hanya mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan pemerintah (puskesmas) akan tetapi ke sarana dasar lainnya seperti balai pengobatan dan kilink swasta. Sehingga bila dibandingkan dengan capaian tahun 2013 yang sebesar 100,37 % maka terjadi penurunan yaitu sebesar 11,2 %. Salah satu upaya yang akan dilakukan meningkatkan promosi kesehatan di puskesmas dan masyarakat. Diharapkan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan mengerti dan paham sehingga datang ke pelayanan kesehatan (puskesmas). Indikator cakupan pelayanan kesehatan kesehatan ditunjang oleh Program upaya kesehatan. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2014 sebesar Rp. 75.279.762.000,- yang terdiri dari 146 kegiatan yaitu : Operasional di UPT Puskesmas dan jaringannya sebanyak 40 UPT Puskesmas, Operasional UPT Kesja dan jaringannya (BKKM), Operasional UPT Labkesda dan jaringannya, Jaminan di 101 Puskesmas, Jaminan Kesehatan Nasional di Kesja dan jaringannya (BKKM dan rapat kerja program upaya kesehatan serta pelayanan kesehatan dalam rangka P3K. Anggaran pada program upaya kesehatan terealisasi sebesar Rp. 30.150.917.914,- ( 40,05 % ) terdiri dari efisiensi anggaran dan kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 45.128.844.086,- dimana kegiatan yang tidak terserap hampir seluruhnya berada pada kegiatan Biaya Penunjang Kegiatan pada FKTP Puskesmas bersumber dana kapitasi JKN, anggaran yang tidak terserap pada kegiatan-kegiatan ini dikarenakan : penganggaran pendapatan dan belanja bersumber dana kapitasi JKN baru teranggarkan pada bulan Mei 2014, dikarenakan peraturan-peraturan terkait penggunaan dana Kapitasi JKN baru berlaku pada bulan Mei 2014. Namun meskipun dana kapitasi JKN ini sudah teranggarkan pada bulan Mei 2014, namun pada kenyataannya peraturan-peraturan di tingkat Kabupaten Bogor sebagai tindak lanjut aturan tentang penggunaan dana Kapitasi terlambat diterbitkan karena situasi politik yang tidak memungkinkan. Selain waktu penyerapan anggaran yang terbatas, rendahnya penyerapan anggaran kegiatan ini juga dikarenakan masih rendahnya pemahaman FKTP Puskesmas tentang 58

penggunaan dana kapitasi JKN, terutama penggunaan dana kapitasi pada porsi 40% anggaran serta adanya keterlambatan pencairan dana kapitasi JKN dari BPJS kepada FKTP puskesmas. Cakupan pengawasan terhadap obat dan makanan berbahaya dari target 100 % dengan realisasi 102,0 % maka pencapaian kinerjanya sebesar 102,0 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan tahun 2013 maka ada peningkatan yaitu sebesar 1,8% oleh karena pelaksanaan pembinaan lebih intensif terhadap apotik dan took obat yang ada di wilayah kabupaten bogor. Indikator cakupan pengawasan obat dan makanan berbahaya ditunjang oleh Program pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan yang terdiri dari 2 kegiatan yaitu : kegiatan pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan hasil produksi rumah tangga dan penyuluhan keamanan pangan dalam rangka produk pangan (SPPRT). 2. Sasaran kedua, yaitu : Meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta PHBS dengan indikator kinerjanya adalah : a. Prosentase balita gizi buruk dari target 0,020 % terealisasi 0,0202 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 99,0 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan tahun 2013, dimana prosentase balita gizi buruk mencapai 0,0207 % maka telah terjadi penurunan kasus sebesar 0,0005 %. Bila dilihat dari target maka dikarenakan adanya kenaikan target dari 0.021 % menjadi 0,020 %. Akan tetapi hal ini dimungkinkan bila melihat cakupan keluarga yang telah sadar gizi (Kadarzi) dimana hal tersebut menunjukan adanya peningkatan kesadaran keluarga dalam memenuhi kebutuhan makanan bergizi terutama untuk balitanya. Disamping itu diberikan pula PMT bagi balita gizi buruk sehingga kasus balita gizi buruk mengalami penurunan. b. Prosentase balita gizi buruk mendapat perawatan dari target 100 % terealisasi 100 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan tahun 2013, yang juga mencapai 100 % Hal ini menunjukan adanya penanganan balita gizi buruk secara komprehensip melalui pengembangan pelayanan rujukan ke klinik gizi di puskesmas maupun Litbang gizi serta ke Rumah Sakit disamping pelaksanaan pemantauan secara terus menerus baik 59

dalam proses penanganan kasus maupun pasca penanganan dan adanya program pemberian PMT-P bagi balita. c. Rasio posyandu per satuan balita dari target 11,55 % terealisasi 8,91 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 77,14 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori cukup. Capaian kinerja rasio posyandu per satuan balita belum mencapai 100 % hal ini disebabkan karena jumlah posyandu yang sedikit sehingga tidak sebanding dengan pertambahan jumlah balita di Kabupaten Bogor. Bila dibandingkan dengan tahun 2013 maka terjadi penurunan capaian sebesar 24,5 %. Salah satu upaya yang akan dilakukan menggerakan masyarakat untuk dapat berperan aktif dalam Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang ada di desanya, seperti ikut serta dalam kegiatan posyandu. Indikator prosentase balita gizi buruk, cakupan balita gizi buruk yang mendapat perawatan dan Rasio posyandu per satuan balita ditunjang oleh Program perbaikan gizi masyarakat yang terdiri dari 2 kegiatan yaitu : kegiatan pengadaan makanan tambahan dan vitamin dan rapat kerja program perbaikan gizi masyarakat. d. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA dari target 82,00 % dengan realisasi 91,62 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 111,73 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Target penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA nasional adalah msh sebesar 80,0 %, bila dibandingkan dengan target tersebut pencapaian Kabupaten Bogor telah melampaui target nasional sedangkan bila dibandingkan dengan capaian tahun 2013 yang sebesar 112,29 % maka capaian tahun 2014 mengalami sedikit penurunan yaitu sebesar 0,56 %. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran penderita untuk menjalani pengobatan secara tuntas meningkat selain itu pemantauan dari PMO (pengawas minum obat) secara intensif sangat berpengaruh terhadap tuntasnya pengobatan TB Paru yang memang membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu selama 6 bulan. e. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD dari target 100 % realisasi capaiannya 100 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Keberhasilan pencapaian kinerja 100 % ini oleh karena DBD merupakan salah satu penyakit yang diamati dan dapat menimbulkan wabah sehingga sistem kewaspadaan dini (SKD) telah dilakukan dengan baik, selain itu penaganan kasus 60

DBD sudah memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang jelas sehingga bila ditemukan kasus secara langsung dapat ditangani mulai dari pelacakan kasus, pengamatan, penyemprotan titik dimana kasus ditemukan rujukan ke Rumah Sakit, sehingga semua kasus dapat ditangani. sampai dengan f. Peningkatan cakupan universal child imunization (UCI) desa/kelurahan dari target 100 % dengan realisasi 95,16 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 95,16 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2013 dimana pencapaiannya sebesar 100,13 % maka ada penurunan sebesar 4,97 %. Capaian UCI belum mencapai 100 % hal ini disebabkan oleh karena masih adanya orangtua/sekelompok masyarakat yang menolak dengan alasan kehalalan vaksin, disamping itu juga dengan ditemukannya kasus KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) diwilayah Kabupaten Bogor, masyarakat menjadi resah dan enggan untuk mendapatkan imunisasi lengkap. Namun bila dibandingkan dengan target cakupan UCI Nasional maupun Propinsi sebenarnya hanya 80,00 % sehingga capaian kita telah melebihi target Nasional dan Propinsi. Salah satu upaya yang akan dilakukan yaitu meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi dan dampak ikutan dari kasus imunisasi sehingga masyarakat lebih tenang untuk mendapatkan imunisasi lengkap. Indikator cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA, cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD, cakupan desa/kelurahan Universal Shild Immunization (UCI) ditunjang oleh Program Pencengahan dan Penanggulangan Penyakit Menular yang terdiri dari 12 kegiatan yaitu : penyemprotan/fogging sarang nyamuk, peningkatan survailance epidemiologi dan penanggulangan wabah, pemeriksaan calon jemaah haji, fasilitasi pelaksanaan kegiatan program P2TB, fasilitasi pelaksanaan kegiatan program P2 Diare ISPA, fasilitasi pelaksanaan kegiatan program P2 Kusta, pencegahan dan penanggulangan penyakit menular seksual (HIV/AIDS), survailans acut flaccid paralisys (AFP), pengobatan masal filariasis di Kecamatan Gunung Sindur dan pengobatan masal filariasis di kecamatan Parung Panjang, fasilitasi program imunisasi dan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) dan rapat kerja program pencegahan pem,berantasan penyakit menular. g. Rumah dengan bebas jentik di daerah endemis, dari target 95,00 % realisasi pencapaiannya 96,19 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 101,25 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2013 yaitu sebesar 95,10 % maka 61

kinerja tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 1,09 %. Keberhasilan capaian kinerja prosentase rumah dengan bebas jentik didaerah endemis sebesar 101,25 % dikarenakan meningkatnya peran serta aktif dan kesadaran masyarakat dalam melaksanakan kegiatan pemeriksaan jentik secara berkala (PJB) khususnya di daerah yang endemis sehingga akan dapat memutuskan mata rantai pembiakan nyamuk dan mencegah penyebaran penyakit secara lebih luas. h. Cakupan TTU yang memenuhi syarat dari target 77,72 % dengan realisasi 79,02 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 101,67 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2013 sebesar 77,22 % maka capaian kinerja tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 1,8 % dengan adanya peningkatan realisasi jumlah TTU yang memenuhi syarat sehingga ada peningkatan dibandingkan tahun 2013. Keberhasilan meningkatnya capaian kinerja dikarenakan meningkatnya pembinaan petugas kepada masyarakat khususnya penanggung jawab tempat-tempat umum disamping itu juga meningkatnya kesadaran masyarakat sendiri akan pentingnya sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. i. Cakupan TPM yang memenuhi syarat dari target 89,96 % dengan realisasi 90,20% sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100,27 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2013 sebesar 89,71 % maka capaian kinerja mengalami peningkatan sebesar 0,49 %. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat khususnya pemilik/penanggung jawab tempat pengelolaan makanan telah memahami, sadar dan sukarela memenuhi persyaratan kesehatan yang telah ditentukan dalam mengelola jasa pengelolaan makanannya. j. Cakupan Inspeksi Sanitasi untuk peningkatan sarana air bersih (SAB) yang memenuhi syarat kesehatan dari target 70,57 % dengan realisasi 70,68 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100,16 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2013 yaitu sebesar 70,07 % maka capaian tahun 2014 ada peningkatan yaitu sebesar 0,61 % k. Cakupan Inspeksi Sanitasi untuk peningkatan Jamban Keluarga (JAGA) dari target 70,63 % dengan realisasi 71,07 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100,62 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2013 yaitu 62

sebesar 70,13 % maka capaian tahun 2014 mengalami peningkatan yaitu sebesar 0,94 %. Cakupan Inspeksi Sanitasi Jamban Keluarga (JAGA) dengan capaian kinerja lebih dari 100 %, dikarenakan keberhasilan petugas dalam pembinaan kepada masyarakat akan pentingnya penyediaan sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Selain itu adanya koordinasi dengan SKPD yang terkait dalam pembangunan rumah sehat / layak huni yang juga meningkatkan jumlah sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Indikator cakupan rumah dengan bebas jentik, prosentase TTU yang memenuhi syarat, prosentase TPM yang memenuhi syarat, cakupan JAGA yang memenuhi syarat dan cakupan SAB yang memenuhi syarat ditunjang oleh Program pengembangan lingkungan sehat yang terdidiri dari 4 kegiatan yaitu : pengawasan hygiene sanitasi tempat-tempet umum, sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), pengawasan hygiene dan sanitasi tempat pengelolaan makanan dan rapat kerja program pengembangan lingkungan. Peningkatan cakupan desa siaga aktif, dari target yang ditetapkan yaitu 60 % terealisasi 60,14 % (261 desa siaga) sehingga capaiannya 100,23 %. Bila dibandingkan dengan tahun 2013 dimana capaiannya 100,93 % dari target 214 desa siaga terealisasi 216 desa dan pada tahun 2014 meningkat lagi sebanyak 45 desa sehingga jumlah desa siaga di Kabupaten Bogor sebanyak 261 dega siaga. Penetapan target desa siaga memang dilakukan secara bertahap mengingat proses pelaksanaannya tidak hanya dari Dinas Kesehatan saja namun melibatkan sektor lain dan peran serta aktif masyarakat sendiri. Pencapaian cakupan yang mencapai 100,23 % menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah tetap berkomitmen dengan adanya kebijakan Kementrian Kesehatan bahwa seluruh desa harus melaksanakan program desa siaga meskipun secara bertahap dan untuk Kabupaten Bogor menjadi salah satu indikator kinerja yang tertuang di dalam RPJMD. Indikator cakupan desa siaga aktif ditunjang oleh Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang terdiri dari 5 kegiatan yaitu : penyediaan media penyuluhan kesehatan, penyuluhan kesehatan, fasilitasi UKBM dan pembinaan kesehatan, fasilitasi tim Pembina kabupaten sehat dan rapat kerja bidang promosi dan SDK. 3. Sasaran ketiga, yaitu : Meningkatkan Puskesmas Terakreditasi dan mempersiap kan puskesmas BLUD dengan indikator kinerjanya adalah : 63

a. Rasio rumah sakit per satuan penduduk target 1 : 218.066 realisasi pencapaiannya 1 : 193.836 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 111,11 %, maka pencapaiannnya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan target tahun 2013 Rasio rumah sakit per satuan penduduk 1 : 326.538 maka target Rasio rumah sakit per satuan penduduk mengalami peningkatan artinya bila pada tahun 2013, satu rumah sakit dapat melayani penduduk sebanyak 326.538 jiwa maka pada tahun 2014 satu rumah sakit melayani 218.066 jiwa. Hal ini dapat terjadi karena sesuai dengan kebijakan pembangunan tahun 2014 ada penambahan jumlah rumah sakit, oleh karena itu Rasio rumah sakit per satuan penduduk menjadi lebih kecil. b. Rasio dokter per satuan penduduk dari target 1 :3.879 dengan realisasi 1 : 4.016 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 96,47 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Pencapaian kurang dari 100 % oleh karena tidak sebandingnya jumlah dokter di Kabupaten Bogor dengan pertambahan jumlah penduduk yang meningkat setiap tahunnya, salah satu upaya yang akan dilakukan dengan menambah jumlah tenaga dokter di puskesmas. c. Rasio tenaga medis per satuan penduduk dari target 1 : 2.637 dengan realisasi 1 : 2.730 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 96,47 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Pencapaian kurang dari 100 % oleh karena tidak sebandingnya jumlah tenaga medis di Kabupaten Bogor dengan pertambahan jumlah penduduk yang meningkat setiap tahunnya, salah satu upaya yang akan dikalukan dengan menambah jumlah tenaga medis di puskesmas. Indikator Rasio dokter per satuan penduduk dan Rasio tenaga medis per satuan penduduk ditunjang oleh Program pelayanan administrasi perkantoran yang terdiri dari 1 kegiatan yaitu : penyediaan jasa tenaga pendukung administrasi/teknis perkantoran dan Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2014 sebesar Rp. 3.203.600.000,- dengan realisasi Rp. 2.394.782.450,- ( 74,75 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 808.817.550,- diantaranya dari kegiatan Fasilitasi peningkatan kinerja dokter/dokter Gigi dan Bidan PNS yang bertugas di puskesmas/desa terpencil/sulit dijangkau/sulit pemenuhan tenaga kesehatan ( Banprop 2014) tidak diserap seluruhnya oleh karena disesuaikan dengan SK Bupati daerah terpencil dimana dari target 13 dokter/dokter gigi hanya terealisasi 9 dokter/dokter gigi dan 64

dari 40 bidan hanya terealisasi 19 bidan, program ini terdiri dari 4 kegiatan yaitu : pembinaan mental dan rohani bagi aparatur, penilaian angka kredit tenaga fungsional, pelatihan akreditasi puskesmas dan peningkatan kinerja bagi dokter/dokter gigi dan bidan PNS yang bertugas dipuskesmas/desa terpencil/sulit dijangkau/sulit pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan. d. Rasio puskesmas, poliklinik, puskesmas pembantu per satuan penduduk dari target 1 : 9.550 dengan realisasi 1 : 9.383 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 101,75 %. Berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan tahun 2013 ada peningkatan dari target 1 : 10.396 menjadi 1 : 9.550, hal ini dimungkinkan oleh karena penambahan poliklinik, dan sarana swasta lainnya. Indikator cakupan puskesmas, cakupan puskesmas pembantu dan rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk ditunjang oleh program pengadaan peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan jaringannya. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2014 sebesar Rp. 55.891.058.000,- dengan realisasi Rp. 43.286.291.971,- ( 77,45 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan anggaran tidak diserap sebesar Rp. 12.604.766.029,- diantaranya dari kegiatan pembangunan puskesmas Leuwisadeng menjadi puskesmas DTP kegiatan tidak diserap oleh karena sudah dua kali gagal lelang dan tidak cukup waktu untuk pelaksanaan sehingga dana yang diserap hanya untuk biaya perencanaan, kegiatan pembangunan DTP puskesmas Tenjolaya tidak diserap oleh karena hibah tanah belum jelas sehingga dana yang diserap hanya untuk biaya perencanaan dan kegiatan Peningkatan sarana dan prasarana pangadaan alat0alat kesehatan dan laboratorium kimia di puskesmas Kabupaten Bogor (Banprop) tidak diserap oleh karena judul nomenklatur sama dengan kegiatan Banprop yang Rp. 7.900.000.000,- sehingga hanya salah satu yang direalisasikan, program ini terdiri dari 26 kegiatan yaitu : pengadaan puskesmas keliling, pengadaan perlengkapan kantor puskesmas, pengadaan meubelair puskesmas, pengadaan alat-alat kedokteran puskesmas, pengadaan alat-alat laboratorium puskesmas, pengadaan sarana pelayanan kesehatan (Belanja Jasa Sarana ASKES tahun 2013), revitalisasi sebanyak 4 puskesmas (Cileungsi, Cariu, Tajurhalang dan Sukajaya), pembangunan pustu sebanyak 2 pustu ( Wangun jaya dan Neglasari), rehabilitasi Pustu Pasir angin, pembangunan puskesmas sebanyak 2 puskesmas (Bantarjaya dan Leuwisadeng), pengadaan lahan (Puskesmas Jampang dan Cibungbulang) pengadaan lemari es dan pengatur 65

suhu lemari es vaksin puskesmas, rehabilitasi puskesmas Gunung putri, pembangunan puskesmas Tenjolaya, rehabilitasi ruang radiologi dan laboratorium Puskesmas Jonggol, pengadaan alkes dan laboratorium kimia di puskesmas (Banprop 2014), pengadaan alat-alat kedokteran puskesmas (Kapitasi JKN 2014), pengadaan alat-alat serta laboratorium puskesmas (Kapitasi JKN 2014) dan pengadaan ambulance puskesmas (Kapitasi JKN 2014). Misi-3 1. Meningkatnya daya dukung pelayanan kesehatan. No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Capaian PENUNJANG 1. Meningkatkan Terwujudnya % 100,0 100,0 100,0 kapasitas kelancaran sumber daya pelayanan sarana dan administrasi prasarana kerja perkantoran serta kualitas aparatur Terwujudnya % 100,0 100,0 100,0 kecepatan, kenyamanan dan keamanan kerja aparatur 2. Meningkatkan Terwujudnya % 100,0 100,0 100,0 fungsi peningkatan koordinasi, kapasitas dan regulasi dan kinerja sumber fasilitas daya aparatur pelayanan 66

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Capaian kesehatan pemerintah, swasta daan lintas sektor 3. Meningkatkan Tersusunnya % 100,0 100,0 100,0 jejaring perencanaan pelayanan dan laporan kesehatan yang akuntabel 100,0 Untuk mendukung Misi 2 telah ditetapkan 3 (tiga) sasaran, 5 program dan 42 kegiatan, dengan realisasi pencapaian sasaran sebesar 100,0 %. Rincian pencapaian dari 3 (tiga) sasaran sebagai berikut : 1) Sasaran pertama, meningkatnya kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masing-masing dengan indikator kinerja terwujudnya kelancaran pelayanan administrasi perkantoran dengan target 100 % tercapai 100 % dan terwujudnya kecepatan, kenyamanan dan keamanan kerja aparatur dengan target 100 % tercapai 100 %, berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan penunjang adminsitrasi perkantoran telah dilaksanakan sesuai dengan rencana. Indikator terwujudnya kelancaran pelayanan administrasi perkantoran ditunjang oleh Program pelayanan administrasi perkantoran. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2014 sebesar Rp. 15.990.020.000,- dengan realisasi Rp. 13.396.160.531,- ( 83,78 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan anggaran tidak diserap sebesar Rp. 2.593.859.469,- diantaranya dari kegiatan penyediaan barang cetakan dan penggandaan oleh karena hasil penawaran harga lelang, program ini terdiri dari 14 kegiatan yaitu, penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa pemeliharaan dan perijinan kendaraan dinas/operasional, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangan-undangan, penyediaan bahan logistik kantor, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke dalam dan luar daerah, penyediaan 67

pelayanan administrasi kepegawaian, penyediaan pelayanan administrasi barang dan penyediaan pelayanan keamanan kantor. Indikator terwujudnya kecepatan, kenyamanan dan keamanan kerja aparatur ditunjang oleh Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur yang terdiri dari 12 kegiatan yaitu : pengadaan kendaraan dinas/operasional, pengadaan meubelair, pengadaan pengadaan peralatan kantor, pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasinal, pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor, rehabilitasi rumah dinas dokter dan paramedis Puskesmas Ciampea, pembangunan rumah dinas paramedis Puskesmas Sukajaya, rehabilitasi rumah dinas dokter Puskesmas Pabuaran, rehabilitasi rumah dinas paramedis Puskesmas Ciriung, rehabilitasi rumah dinas dokter Puskesmas Cigudeg dan pemasangan partisi dan penataan interior aula dinas kesehatan dan Program peningkatan disiplin aparatur. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2014 sebesar Rp. 312.400.000,- dengan realisasi Rp. 232.738.000,- ( 74,50 % ) pada program ini ada efisiensi anggran sebesar Rp. 79.662.000,- oleh karena hasil penawaran harga lelang, program ini terdiri dari 1 kegiatan yaitu : pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya (batik). 2) Sasaran kedua, meningkatnya jumlah dan kualitas sumber daya kesehatan dengan indikator kinerjanya terwujudnya peningkatan kapasitas dan kinerja sumber daya aparatur dengan target 100 % pencapaiannya 100 %. Pencapaian tersebut dikontribusikan dengan adanya penambahan sarana mobilitas darat, sarana kerja dan pemeliharaan sarana kerja. Indikator terwujudnya peningkatan kapasitas dan kinerja sumber daya aparatur ditunjang oleh Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur. Program ini terdidiri dari 8 kegiatan yaitu : pengiriman peserta bimbingan teknis Asuhan Persalinan Normal (APN), pengiriman peserta bimbingan teknis Penatalaksanaan Asfixia Bayi Baru Lahir, pengiriman peserta bimbingan teknis Pertolongan Pertama Gawat Darurat Obsetri & Neonatal (PPGDON), pengiriman peserta bimbingan teknis PONED, pengiriman peserta bimbingan teknis PPGD, pengiriman peserta bimbingan teknis Simulasi Deteksi Dini Intervensi Tumbuh Kembang (SDIDTK), pengiriman peserta bimbingan teknis konselor menyusui dan bimbingan tehnis MTBS/M. 3). Sasaran ketiga, terwujudnya pertanggungjawaban kinerja dan keuangan SKPD dengan indikator kinerjanya tersusunnya perencanaan dan laporan yang akuntabel dengan target kinerja 100 % dan pencapaian 100 %, berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. 68

Indikakator tersusunya perencanaan dan laporan yang akuntabel ditunjang oleh Program peningkatan pengembangan sistem capaian kinerja dan keuangan yang terdiri dari 7 kegiatan yaitu : penyusunan laporan capaian kinerja dan ihktisar realisasi kinerja SKPD, penyusunan laporan keuangan semesteran, penyusunan laporan keuangan akhir tahun, penyusunan perencanaan anggaran, penatausahaan keauangan SKPD, penyusunan renstra dan renja SKPD dan publikasi kinerja SKPD dan Program pengadaan standarisasi pelayanan kesehatan. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2014 sebesar Rp. 26.166.378.000,- dengan realisasi Rp. 22.483.487.834,- ( 85,93 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan anggaran tidak diserap sebesar Rp. 808.817.550,- diantaranya dari kegiatan Monitoring, evaluasi dan pelaporan oleh karena efisiensi anggran dimana kegiatan monev ke puskesmas sudah terintegrasi oleh kegiatan monev yang ada di program/bidang, program ini terdiri dari 7 kegiatan yaitu : monitoring, evaluasi dan pelaporan, penyusunan dan pengembangan data kesehatan, pembinaan sarana institusi swasta, jasa pelayanan kesehatan, rapat koordinasi evaluasi dan perencanaan program, akreditasi puskesmas dan persiapan penerapan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). 3.3. AKUNTABILITAS KEUANGAN Dalam tahun 2014 Pendapatan Dinas Kesehatan ditargetkan sebesar Rp. 109.613.348.000,- terealisasi sebesar Rp. 111.102.711.699,- atau tercapai 101,36 %. Belanja Dinas Kesehatan tahun 2014 dialokasikan sebesar Rp. 420.431.329.000,- terealisasi sebesar Rp. 319.988.973.011,- atau terserap 76,11 %. Secara garis besar realisasi anggaran Dinas Kesehatan tahun 2014 sebagai berikut : No Uraian Anggaran (Rp.) Realisasi (Rp.) % Realisasi A. PENDAPATAN B. Retribusi pelayanan kesehatan BELANJA 1. BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai 109.613.348.000,- 111.102.711.699,- 101,36 89.529.609.000,- 88.991.285.174,- 99,40 89.529.609.000,- 88.991.285.174,- 99,40 2. BELANJA LANGSUNG (BELANJA PROGRAM/ 330.901.720.000,- 230.997.687.837,- 69,81 69

No Uraian Anggaran (Rp.) Realisasi (Rp.) KEGIATAN) - Belanja Pegawai - Belanja barang dan Jasa - Belanja Modal 16.308.342.000,- 241.018.709.000,- 73.574.669.000,- 13.992.046.500,- 165.000.328.423,- 52.005.312.914,- % Realisasi 85,79 68,45 70,68 JUMLAH BELANJA 420.431.329.000,- 319.988.973.011,- 76,11 C. SURPLUS / (DEFISIT) (310.817.981.000,-) (208.886.261.312,-) 67,20 Anggaran belanja langsung yang digunakan untuk membiayai program dan kegiatan dalam rangka mencapai sasaran strategis Dinas Kesehatan tahun 2014 sebesar Rp. 330.901.720.000,- terealisasi sebesar Rp. 230.997.687.837,- atau terserap 69,81 %. Tidak terserapnya dana belanja langsung tersebut disebabkan karena adanya efisiensi anggaran dari selisih penawaran pihak ketiga, tidak dilelangkan (karena waktu yang tidak cukup), pemutusan kontrak, efisiensi dari kegiatan-kegiatan yang sudah terintegrasi dengan sumber dana lain dan adanya beberapa kegiatan yang memang tidak direalisasikan oleh karena disesuaikan dengan kondisi sesungguhnya di lapangan seperti kejadian luar biasa yang memang sesuai dengan kejadian yang terjadi serta kegiatan Biaya Penunjang Pelayanan oleh karena adanya transisi kepemimpinan sehingga berpengaruh terhadap lamanya penandatanganan peraturan tentang pengelola dana kapitasi di tingkat daerah sehingga waktu terbatas. Rincian anggaran dan realisasi APBD (LRA) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014 disajikan dalam Lampiran : 4. 70

IV P E N U T U P Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIP) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 2014 ini, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang berbagai capaian kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam rangka pencapaian tahapan Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan Pemerintah Kabupaten Bogor pada umumnya. Laporan ini merupakan wujud transparansi dan akuntabilitas Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Sangat disadari bahwa laporan ini belum secara sempurna menyajikan prinsip transparansi akuntabilitas seperti yang diharapkan, namun setidaknya masyarakat dan berbagai pihak yang berkepentingan dapat memperoleh gambaran tentang tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan hasil-hasilnya. Berbagai hambatan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor selama tahun 2014, sehingga beberapa program / kegiatan belum dapat dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Dalam upaya meningkatkan kinerja pada tahun berikutnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor perlu melakukan langkah-langkah untuk mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi tahun 2014, antara lain : Kendala pencapaian kinerja sasaran : a. Masih adanya daerah-daerah yang cukup sulit dijangkau oleh petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan secara rutin karena kondisi geografis dan keterbatasan sarana serta tenaga di puskesmas setempat sehingga beberapa cakupan program kesehatan belum memenuhi target atau harapan. b. Belum tercakupnya seluruh pelaporan dari pelayanan kesehatan swasta menyebabkan pencapaian indikator sasaran belum sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya, seperti cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, c. Penetapan target khususnya yang berkaitan dengan angka pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan realisasi jumlah penduduk yang ada sehingga pada pencapaian hasilnya terjadi kesenjangan yang cukup besar. Kendala pencapaian kinerja kegiatan : a. Beberapa kegiatan yang tidak terealisasi oleh karena belum terpenuhinya persyaratan/kejelasan tentang kondisi yang mendukung terlaksananya kegiatan tersebut. 71

Upaya pemecahan masalah : a. Meningkatkan pembinaan teknis ke pelayanan kesehatan swasta untuk pelaporan dan mengupayakan adanya surat intruksi dari penentu kebijakan untuk mekanisme sistem pelaporan di sarana pelayanan kesehatan swasta yang dikaitkan dengan insentif kemudahan maupun sanksi bagi pelayanan kesehatan swasta. b. Meningkatkan koordinasi lintas program dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dalam rangka keterpaduan program c. Mereview target dengan perhitungan proyeksi yang lebih tepat diselaraskan dengan pertumbuhan penduduk sehingga memperkecil kesenjangan pencapaian d. Meningkatkan pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan. Semoga Laporan Akuntabilitas Kinerja ini dapat memberi masukan yang berarti dalam penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 2014 secara tepat waktu. 72