BAB 2 LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2. REVISED NIOSH LIFTING EQUATION

Oleh: DWI APRILIYANI ( )

ANALISA BEBAN KERJA PADA OPERATOR VISUAL DENGAN PENDEKATAN RECOMMENDED WEIGHT LIMIT (RWL) DI PT. JAPPRO BATAM

BAB 2 LANDASAN TEORI. tersebut digunakan sebagai dasar dan penunjang pemecahan masalah.

Sem inar N asional W aluyo Jatm iko II F TI U P N V eteran Jaw a Tim ur ANALISIS PEMINDAHAN MATERIAL DENGAN PENDEKATAN RECOMMENDED WEIGHT LIMIT

Ada yang pernah tau tentang Niosh Lifting Equation??? Disini saya mencoba menulis gambaran tentang Niosh Lifting Equation (NLE).

Analisis Beban Kerja dengan Menggunakan Metode Recommended Weight Limit (RWL) di PT. Indah Kiat Pulp and Paper. Tbk

BAB II LANDASAN TEORI

ANTROPOMETRI TEKNIK TATA CARA KERJA PROGRAM KEAHLIAN PERENCANAAN PRODUKSI MANUFAKTUR DAN JASA

B A B III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

BIOMEKANIKA PERTEMUAN #14 TKT TAUFIQUR RACHMAN ERGONOMI DAN PERANCANGAN SISTEM KERJA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

METHOD ENGINEERING & ANTROPOMETRI PERTEMUAN #10 TKT TAUFIQUR RACHMAN ERGONOMI DAN PERANCANGAN SISTEM KERJA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Evaluasi Postur Kerja Operator Pengangkatan Pada Distributor Minuman Kemasan ABSTRAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisa Beban Kerja Pekerja Tahapan Pengemasan Unit Padatan PT Petrosida Gresik dengan Metode Recommeded Weight Limit (RWL)

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN, DAN ANALISIS DATA

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

ANALISIS SIKAP KERJA OPERATOR PENGISIAN BOTOL LITHOS DENGAN MENGGUNAKAN METODE RECOMMENDED WEIGHT LIMIT

BAB II LANDASAN TEORI

DESAIN STASIUN KERJA

NIOSH Work Practices Guide for Manual Lifting. Ir. MUH. ARIF LATAR, MSc

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Hasil Perhitungan Seluruh Tahapan Menggunakan Metode REBA, REBA, OWAS & QEC

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan seseorang mulai dari keluhan sangat

Perbaikan Postur Kerja dengan Pendekatan Metode RULA dan NIOSH di Bagian Produksi Mixer

ANALISA POSTUR KERJA TERHADAP AKTIVITAS MANUAL MATERIAL HANDLING MENGGUNAKAN METODE OWAS

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. jasa produksi (Eko Nurmianto, 2008). Fasilitas kerja yang dirancang tidak

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan manual material handling. Manual material handling didefinisikan

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB II GAMBARAN UMUM SEKOLAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

RANCANG ULANG WHEELBARROW YANG ERGONOMIS DAN EKONOMIS

INSTRUKSI KERJA. Penggunaan Kursi Antropometri Tiger Laboratorium Perancangan Kerja dan Ergonomi Jurusan Teknik Industri

Antropometri Dan Aplikasinya Dalam Perancangan Fasilitas Kerja

PERANCANGAN INTERIOR/ RUANG BELAJAR YANG ERGONOMIS UNTUK SEKOLAH LUAR BIASA (SLB)

BAB I PENDAHULUAN. Pencapaian keselamatan dan kesehatan kerja tidak lepas dari peran

PERBAIKAN WORKSTATION DI PT. YUSHIRO INDONESIA UNTUK MENGURANGI RESIKO KELUHAN MUSKULOSKELETAL

Dian Kemala Putri Bahan Ajar : Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi Teknik Industri Universitas Gunadarma

BAB 9. 2D BIOMECHANICS

MUSCULOSKELETAL DISORDERS. dr.fauziah Elytha,MSc

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

PERANCANGAN ALSIN YANG ERGONOMIS

ERGONOMI DESAIN MEJA DAN KURSI SISWA SEKOLAH DASAR

PERANCANGAN ELEMEN-ELEMEN RUMAH TINGGAL DENGAN MEMPERTIMBANGKAN DATA ANTHROPOMETRI

ANALISIS MANUAL MATERIAL HANDLING MENGGUNAKAN NIOSH EQUATION

BAB 2 LANDASAN TEORI

METODE PENGUKURAN DATA ANTROPOMETRI

ANALISA ERGONOMI KEGIATAN MENGANGKAT BEBAN STUDI KASUS MENGANGKAT GALON AIR KE ATAS DISPENSER oleh: I Wayan Sukania *

Ergonomics. Human. Machine. Work Environment

BAB I PENDAHULUAN. tulang belakang (Benjamin W. Niebel, 2003). Serge Simoneau, dkk (1996)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

I. PENDAHULUAN. Kata Kunci Biomekanika, Loading, Low Back Pain, L5/S1 Disc Compression, Manual Material Handling

Desain Troli Ergonomis sebagai Alat Angkut Gas LPG

ANALISIS POSTUR DAN GERAKAN KERJA DENGAN MENGGUNAKAN METODE OCCUPATIONAL REPETITIVE ACTION

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. dapat memenuhi kebutuhan siswa karena jika digunakan perabot kelas yang

LAMPIRAN 1. MODUL VI KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA (K3) (Sekarang)

basah, kelembaban relatif serta gerakan angin pada desain interior lama dan ergodesain

PERANCANGAN KURSI KERJA BERDASARKAN PRINSIP-PRINSIP ERGONOMI PADA BAGIAN PENGEMASAN DI PT. PROPAN RAYA ICC TANGERANG

BAB 1 PENDAHULUAN. mengalami kecelakaan, penyakit dan keluhan-keluhan kesehatan yang disebabkan

Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 16 Nomor ISSN

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan setelah perang dunia kedua, tepatnya tanggal 12 Juli 1949 di Inggris

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

Bab 3. Metodologi Penelitian

SEJARAH & PERKEMBANGAN

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. dengan pekerjaan manual handling. Suatu hal yang sangat beralasan,

Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. atau man made disease. Penyakit Akibat Kerja menurut OSHA. tahun 1992, dimana sekitar 62% pekerja menderita Musculoskeletal

MANUAL PROSEDUR PENGGUNAAN KURSI ANTROPOMETRI

kekuatan fisik manusia kekuatan atau daya fisik

LEMBAR PENGAMATAN PENGUKURAN DIMENSI TUBUH

ANALISIS POSTUR KERJA MANUAL MATERIAL HANDLING DENGAN METODE OVAKO WORKING ANALISIS SYSTEM (OWAS) PADA HOME INDUSTRI MAWAR

BAB 6 HASIL PENELITIAN

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

ERGONOMI PENGGUNAAN KOMPUTER Ergonomi:

Lampiran 1. Daftar pertanyaan wawancara (kuesioner) KUESIONER PENGGUNAAN KNAPSACK SPRAYER

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

Usulan Desain Proses Pengangkatan Sari Kedelai ke Penyaringan (Studi Kasus Pabrik Tahu di Batam)

BAB I PENDAHULUAN 1-1

INSTRUKSI KERJA. Penggunaan Kursi Antropometri Tiger Laboratorium Perancangan Kerja dan Ergonomi Jurusan Teknik Industri

Transkripsi:

5 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Ergonomi Dalam suatu sistem kerja, manusia memegang peranan penting karena harus merencanakan, mengendalikan serta mengevaluasi keluaran yang diharapkan. Untuk dapat merancang sistem kerja yang lebih baik kita perlu mengenal sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia. Hal inilah yang dipelajari dalam ergonomi. Tujuan ergonomi yaitu untuk menambah efektivitas penggunanaan objek fisik dan fasilitas yang dipergunakan manusia dan merawat atau menambah nilai tertentu yang layak, misalnya kesehatan, keselamatan, kenyamanan, kepuasan pada proses penggunaan alat tersebut. Ergonomi merupakan pertemuan dari berbagai lapangan ilmu seperti antropologi, biomekanika, faal kerja, dan kesehatan kerja (Sutalaksana, 2006). 2.2 Pengukuran Anthropometri Aspek-aspek ergonomi pada perancangan fasilitas kerja merupakan suatu faktor penting dalam peningkatan pelayanan jasa produksi. Perlunya memperhatikan faktor ergonomi dalam proses rancang bangun fasilitas adalah merupakan hal yang amat penting. Dalam rangka untuk mendapatkan suatu perancangan yang optimum dari fasilitas yang harus diperhatikan adalah faktor seperti panjang dari dimensi tubuh manusia baik dalam posisi statis maupun dinamis. Hal ini yang perlu diamati adalah berat tubuh, bentuk tubuh, jarak untuk pergerakan melingkar dari tangan dan kaki, selain itu pula harus didapatkan data-data yang sesuai dengan tubuh manusia. Pengukuran tersebut akan semakin mudah jika diaplikasikan untuk perorangan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dimensi tubuh manusia, diantaranya (Nurmianto, 2008) : 1) Umur Umur manusia digolongkan atas beberapa kelompok sesuai dengan perkembangan tubuhnya yaitu: balita, anak-anak, remaja, dewasa, lanjut usia. Usia jelas merupakan faktor pembeda antara tubuh dan

6 dimensi tubuh contohnya ukuran dan dimensi tubuh antara anak-anak dan orang dewasa. Pada usia lanjut tinggi badan manusia memiliki kecenderungan untuk menurun yang antara lain disebabkan karena berkurangnya elastisitas tulang belakang. 2) Jenis kelamin Secara umum ada perbedaan antara bentuk tubuh pria dan wanita, pria memiliki dimensi tubuh yang lebih besar daripada wanita, kecuali dada dan pinggul. 3) Suku bangsa (etnis) Variasi antara beberapa kelompok suku bangsa telah menjadi tidak kalah pentingnya, sebagai contoh ras kaukasoid memiliki dimensi tubuh yang lebih besar dan tinggi daripada ras mongololoid. 4) Pekerjaaan Pekerjaan yang sehari-hari dilakukan oleh seseorang juga akan menentukan perbedaan dalam dimensi tubuhnya, sebagai contoh orang yang bekerja sebagai buruh angkut di pelabuhan akan memiliki dimensi bahu dan lengan yang lebih besar daripada orang yang bekerja di kantor. Data pengukuran antropometri berdasarkan gerakan tubuh objek yang diamati, dibagi menjadi 2 bagian yaitu: a) Anthropometri Statis Pengukuran dimensi tubuh yang dilakukan untuk memperoleh data anthropometri statis meliputi (Eko Nurmianto,2008):

7 Tabel 2.1 Posisi Duduk Samping Ukuran Anthropometri Keterangan a. Tinggi Duduk Tegak jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ke ujung atas kepala. (subjek berada dalam posisi duduk tegak dengan mata memandang lurus kedepan) b. Tinggi Bahu Duduk jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ujung tulang bahu yang menonjol pada saat duduk. c. Tinggi Mata Duduk Jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ujung mata bagian dalam. d. Tinggi Siku Duduk jarak vertikal permukaan alas duduk sampai bawah siku dimana pada saat pengukuran ini subjek duduk tegak dengan lengan atas di sisi badan dan lengan bawah membentuk sudut sikusiku dengan lengan atas. e. Tebal Paha jarak dari permukaan alas duduk sampai ke permukaan atas paha. f. Tinggi Popliteal jarak vertikal dari lantai sampai bagian bawah paha. g. Pantat Popliteal jarak horizontal dari bagian terluar sampai lekukan lutut sebelah dalam (popliteal). h. Pantat ke Lutut jarak horizontal dari bagian terluar pantat sampai ke lutut.

8 Tabel 2.2 Posisi Duduk Menghadap Ke Depan Ukuran Anthropometri Keterangan a. Lebar Pinggul jarak horisontal dari bagian terluar pinggul sisi kiri sampai bagian terluar pinggul sisi kanan pada saat duduk tegak. b. Lebar Bahu jarak horisontal antara kedua lengan atas. c. Lebar Sandaran jarak horisontal antara tulang belikat kiri sampai tulang belikat kanan d. Panjang Sandaran jarak vertikal dari tulang ekor sampai pertengahan antara tulang belikat kanan dan kiri. Tabel 2.3 Posisi Berdiri Ukuran Anthropometri Keterangan a. Tinggi Siku Berdiri jarak vertikal dari lantai ke titik pertemuan antara lengan atas dan lengan bawah. b. Panjang Lengan Bawah jarak dari siku sampai pergelangan tangan. c. Tinggi Mata Berdiri jarak vertikal dari lantai sampai ujung mata bagian dalam (dekat pangkal hidung). d. Tinggi Badan Tegak jarak vertikal dari telapak kaki sampai ujung kepala yang paling atas. e.tinggi Bahu Berdiri jarak vertikal dari lantai sampai bahu yang menonjol. f. Tebal Badan jarak horizontal dari dada (bagian ulu hati) sampai punggung. Jangkauan Tangan Tabel 2.4 Posisi Berdiri Dengan Tangan Lurus Ke Depan jarak horisontal dari punggung sampai ujung jari tengah.

9 2.5 Posisi Berdiri Dengan Kedua Tangan Direntangkan Ukuran Anthropometri Keterangan a. Tinggi Duduk Tegak jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ke ujung atas kepala. (subjek berada dalam posisi duduk tegak dengan mata memandang lurus kedepan) b. Rentangan tangan jarak horisontal dari ujung jari sampai ujung jari terpantang tangan kanan. Tabel 2.6 Pengukuran Jari Tangan Ukuran Anthropometri Keterangan a. Panjang Jari 1,2,3,4,5 jarak dari masing-masing pangkal ruas jari sampai ujung jari. Jari-jari subjek merentang lurus dan sejajar. b. Pangkal ke Tangan jarak dari pangkal pergelangan tangan sampai pangkal ruas jari. c. Lebar Jari jarak dari sisi luar jari telunjuk sampai sisi luar jari kelingking. d. Lebar Tangan jarak dari sisi luar ibu jari sampai sisi luar jari kelingking. b) Anthropometri Dinamis Terdapat tiga kelas pengukuran dinamis, yaitu: Tabel 2.7 Ukuran Athropometri Dinamis Ukuran Anthropometri Keterangan a. Pengukuran tingkat keterampilan sebagai kegiatan untuk mekanis dari suatu aktivitas. Contoh: dalam mempelajari performansi atlit. b. Pengukuran jangkauan Contoh: jangkauan dari gerakan tangan dan kaki ruang yang dibutuhkan efektif pada saat bekerja yang dilakukan dengan saat bekerja berdiri dan duduk c. Pengukuran variabilitas Contoh : analisis kinematika dan kemampuan jarijari kerja. tangan seorang juru ketik atau operator komputer.

10 2.2.1 Teori Perancangan Kursi dan Meja Tujuan utama dari pembuatan kursi tidak hanya untuk meletakkan beban dan menyangganya pada kaki kursi akan tetapi memberi kenyamanan pada orang yang mendudukinya sehingga membentuk postur tubuh yang baik. Sebuah kursi yang dirancang harus dapat mengurangi rasa ketidaknyamanan orang yang mendudukinya dalam waktu yang lama, juga mendukung dalam melancarkan peredaran darah manusia. Kriteria-kriteria dari kursi yang baik adalah memberikan kenyamanan yang lebih kepada orang yang mendudukinya dalam waktu yang lama, ketahanan yang baik dari kursi tersebut, sesuai dengan lekukan tubuh manusia, mendukung orang yang mendudukinya dalam melakukan aktivitas yang dilakukan saat duduk (Nurmianto, 2008). Selain hal-hal tersebut, perlu diperhatikan pula letak dari kursi tersebut, dalam artian kursi harus diletakkan pada area yang cukup luas agar memberikan keleluasaan bergerak kepada orang yang mendudukinya. Agar meja dan kursi nyaman pada waktu dipakai, maka ukurannya harus disesuaikan dengan anthropometri orang yang akan memakainya. Untuk mendesain meja dan kursi, data yang digunakan adalah sebagai berikut : a. Lebar pinggul menggunakan persentil 5. Lebar kursi minimal sama dengan lebar pinggul wanita 5 persentil populasi (Nurmianto, 2008). Namun karena kursi pada penelitian ini dirancang khusus untuk operator laki-laki, maka digunakan 5 persentil untuk laki-laki (Panero & Zelnik, 2003); b. Lebar bahu menggunakan persentil 5, untuk menentukan lebar sandaran. Lebar sandaran punggung seharusnya sama dengan lebar punggung wanita 5 persentil populasi. Jika terlalu lebar akan mempengaruhi gerak siku (Nurmianto, 2008); c. Tinggi popliteal menggunakan persentil 50, untuk menentukan tinggi kaki kursi. Persentil 50 digunakan agar kursi dapat dipergunakan dengan baik oleh hampir semua orang, karena jika kaki kursi terlalu tinggi akan terjadi penekanan pada bagian bawah paha oleh alas duduk. Dan jika terlalu rendah akan membuat badan kehilangan

11 keseimbangan karena membungkuk ke depan (Panero & Zelnik, 2003); d. Tinggi bahu duduk menggunakan persentil 95, untuk menentukan tinggi sandaran. Persentil 95 digunakan agar sandaran tidak terlalu rendah, karena jika sandaran terlalu rendah akan menyebabkan punggung bagian atas menjadi sakit (Panero & Zelnik, 2003); e. Pantat ke popliteal menggunakan persentil 5, untuk menentukan panjang kursi. Persentil 5 digunakan untuk antisipasi seperti pada dimensi tinggi popliteal, jika kursi terlalu panjang maka tulang lutut dalam akan tertekan dan menyebabkan ketidaknyamanan (Panero & Zelnik, 2003); f. Tinggi siku pada posisi duduk menggunakan persentil 50 untuk menentukan tinggi meja kerja. Yaitu tinggi popliteal ditambah tinggi siku waktu duduk agar lengan berada dalam posisi istirahat yang nyaman. Persentil 50 digunakan karena bila ukuran terlalu rendah, maka posisi siku akan menggantung dan akan membuat punggung membungkuk jika bekerja. Jika terlalu tinggi akan menyebabkan siku tertekan (Panero & Zelnik, 2003); g. Rentang tangan menggunakan persentil 50, untuk menentukan panjang meja kerja. Persentil 50 digunakan agar meja kerja tidak terlalu panjang dan masih bisa dijangkau oleh 50% populasi (Panero & Zelnik, 2003); h. Panjang jangkauan ke depan menggunakan persentil 50, untuk menentukan lebar meja. Persentil 50 digunakan agar lebar meja tidak terlalu besar dan bisa dijangkau oleh 50% populasi (Panero & Zelnik, 2003). 2.3 Pencahayaaan Pencahayaan sangat mempengaruhi kemampuan manusia saat melihat obyek secara jelas, cepat, tanpa menimbulkan kesalahan. Kebutuhan akan pencahayaan yang baik, akan makin diperlukan apabila kita mengerjakan suatu pekerjaan yang memerlukan ketelitian karena penglihatan. Pencahayaan yang terlalu suram, mengakibatkan mata pekerja

12 makin cepat lelah karena mata akan berusaha untuk bisa melihat (Sutalaksana, 2006). Kemampuan mata untuk dapat melihat obyek dengan jelas ditentukan oleh ukuran obyek, derajat kontras diantara obyek dan sekelilingnya, luminensi (brightness) dan lama melihat. Derajat kontras adalah perbedaan derajat terang relatif antara obyek yang sekelilingnya, sedangkan luminensi berarti arus cahaya yang dipantulkan oleh obyek. Tabel 2. 8 Tingkat Pencahayaan Yang Direkomendasikan Active type Tingkat pencahayaan (Lux) Rough Orientation 75 Occasional rough visual tasks 150 Rough Assembly 320 Rough tool making 550 Office work-simple 750 Bookkeeping-small character size 1500 Difficult Inspection 1500 Technical drawing 2200 Precise assembly work 5000 Prolonged difficult visual tasks 7500 Precise and delicate visual work 11000 Very special visual tasks-extremely low contrast and small object size Sumber : Don Weilmer, 2001 15000 2.4 Suhu Suhu yang terlampau dingin akan mengakibatkan gairah kerja yang menurun. Sedangkan suhu udara yang lebih panas, akan mengakibatkan cepat timbulnya kelelahan tubuh dan dalam bekerja cenderung membuat banyak kesalahan (Sutalaksana, 2006). Tabel 2.9 Pengaruh Suhu Terhadap Kondisi Tubuh Suhu Keadaan Tubuh <10 derajat celcius Kekakuan fisik 10 derajat celcius Kekakuan fisik ekstrim mulai muncul 24 derajat celcius Kondisi optimum untuk bekerja 29,5 derajat celcius Aktivitas fisik dan mental mulai terganggu dan menurun 49 derajat celcius Batas tertinggi tingkat kemampuan fisik dan mental Sumber : Don Weilmer, 2001

13 Tabel 2.10 Ukuran Suhu yang Disarankan untuk Kondisi Optimum Beban kerja Suhu ( o C) Duduk mental 26-27 Duduk manual 24-25 Berdiri manual ringan 23 Berdiri manual berat 22 Pekerjaan berat sekali 20-21 Sumber : Don Weilmer, 2001 2.5 Kebisingan Menurut Burrows (Sutalaksana, 2006), kebisingan adalah suatu stimuli bunyi yang tidak mengandung informasi berkenaan dengan tugas atau pekerjaan yang dikerjakan. Berikut adalah klasifikasi bising menurut Furrer (Don Weilmer, 2001) 1. 30-40 db : Tenang sekali sampai tenang 2. 50-60 db : Cukup tenang sampai berisik 3. >60 db : Pembicaraan telepon jadi sulit 4. 70 db : Sangat berisik. Berikut adalah tabel skala intensitas kebisingan. Tabel 2.11 Skala Intensitas Kebisingan Sumber : Sutalaksana, 2006

14 2.6 Kesehatan dan Keselamatan Kerja Kesehatan dan keselamatan kerja adalah pengawasan terhadap orang, mesin, material, dan metode yang mencakup lingkungan kerja agar pekerja tidak mengalami cedera. Pada prinsipnya dasar-dasar kesehatan dan keselamatan kerja menekankan 2 hal, yaitu setiap pekerja berhak memperoleh jaminan atas keselamatan kerja, agar terhindar dari kecelakaan dan setiap orang yang berada di tempat kerja harus dijamin keselamatannya. Sepuluh kunci keselamatan dan kesehatan kerja : 1. Penentuan tata pelaksanaan kerja. 2. Perbaikan metode pekerjaan. 3. Penempatan pekerja yang tepat, pembinaan dan pelatihan. 4. Pembinaan dan Pengawasan dalam menjalankan tugas. 5. Peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja serta fasilitas lingkungan kerja. 6. Pemeliharaan syarat lingkungan kerja. 7. Pemeriksaan keselamatan dan kesehatan kerja. 8. Penyelesaian pada waktu ditemukan kelainan dan waktu terjadinya kecelakaan. 9. Peningkatan kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja 10. Kreativitas dalam mencegah kecelakaan. Kecelakaan kerja sedapat mungkin harus dicegah, karena kecelakaan kerja dapat menimbulkan beberapa macam kerugian yaitu terhadap diri sendiri, yaitu menyebabkan cacat, sehingga menimbulkan rasa rendah diri. Terhadap keluarga, yaitu tidak bisa memberi nafkah untuk anak, istri, dan lain-lain. Dan terhadap perusahaan yaitu adanya biaya berobat, rawat inap, waktu, tenaga, waktu yang hilang, waktu yang berhenti, waktu mengantar/menjenguk, waktu mengurus, kehilangan pelanggan dan lain-lain. Hal-hal yang perlu ditangani secepatnya yaitu pekerjaan yang memaksa (tidak aman), tidak stabil, dan tidak efisien. Pekerjaan yang memerlukan keterampilan yang tinggi. Suatu pekerjaan yang sangat melelahkan. Suasana di tempat kerja tidak sehat dan aman. Dan pekerjaan

15 yang tidak disenangi oleh pekerja. Mencari permasalahan dengan menggunakan konsep 5W1H yaitu sebagai berikut: a) Why (mengapa hal tersebut dibutuhkan atau alasan?) b) What (apa yang dikerjakan atau tujuan?) c) Where (dimana dikerjakan atau lokasi?) d) When (kapan dikerjakan atau waktu) e) Who (siapa yang mengerjakan atau pelaksana?) f) How (bagaimana cara mengerjakannya atau metoda?) Mengidentifikasi pekerjaan melalui jenis dan proses pekerjaan, sarana produksi, jenis mesin, jumlah yang diinstalasi, dan keadaan yang dioperasikan, ciri-ciri bahan baku dan jumlah yang dipergunakan, jumlah pekerja, lokasi bekerja dan waktu bekerja, sumber yang menimbulkan bahanbahan dan energi beracun/mengganggu kesehatan serta keadaannya, keadaan ventilasi udara, pengambilan sinar, penerangan, suhu dan kelembaban, jenis peralatan ventilasi, jumlah yang diinstalasikan dan kemampuannya, keadaan terjadinya gangguan kesehatan antara para pekerja, dan keadaan absensi para pekerja. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam usulan perbaikan metoda kerja yaitu motion study merupakan prinsip ekonomi gerakan yang berhubungan dengan anggota badan dan pergerakannya, layout, machine & tools yaitu prinsip ekonomi gerakan yang berhubungan dengan perancangan tata letak, dan machine & tools procedure. 2.7 Diagram Sebab Akibat (Fishbone) Diagram ini merupakan kelanjutan dari diagram pareto, dimana dalam diagram pareto hanya diketahui jenis-jenis cacat yang harus ditangani, sedangkan dalam diagram ini mencari penyebab cacatnya (Purnomo, 2004). Diagram ini disebut juga sebagai diagram tulang ikan karena diagram ini terdiri dari kepala yaitu sebagai akibat dari permasalahan, tulang besar menyatakan kelompok faktor utama, dan tulang kecil menyatakan penyebab kerusakan. Hubungan antara kepala, tulang besar, dan tulang kecil sangat berhubungan sehingga hal ini digambarkan menyerupai rangka ikan. Ada 5 faktor yang harus diperhatikan dalam menganalisa diagram, yaitu faktor manusia (man), faktor metode (method), faktor bahan (material), faktor

16 mesin (machine), dan faktor lingkungan (environment). Prosedur pembuatan diagram sebab akibat yaitu (Purnomo, 2004) : 1. Mendefinisikan masalah utama yang diperoleh dari penggunaan hasil data, hasil dari peta kontrol, diagram pareto, dll. 2. Memilih metode analisa, dalam metode ini menyangkut sumbang saran (brainstorming), teknisi, inspeksi, dan lain-lain yang dianggap berpengaruh. 3. Menggambarkan kotak masalah dan garis utama. Menuliskan pula faktor-faktor utama penyebab kerusakan pada cabang-cabang anak panah. 4. Sesuaikan penyebab kerusakan dengan kelima faktor utama (bahan, mesin, manusia, metode dan lingkungan). Setiap cabang faktor memiliki anak cabang guna menuliskan penyebab kerusakan. 5. Menuliskan penyebab masalah lebih terperinci pada anak dari kelima faktor. 6. Menganalisa penyebab kerusakan dan mengadakan tindakan perbaikan (Sutalaksana, 2006). 2.8 Recommended Weight Limit (RWL) The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) yang berdiri pada tahun 1981 telah dapat membuat persamaan yang dapat membantu bagi praktisi agar dapat mengevaluasi suatu pekerjaan pengangkatan benda secara manual, dengan memberikan fokus perhatian pada segi keselamatan dan kesehatan bagi para pekerja. Persamaan yang dikeluarkan NIOSH memberikan suatu nilai beban angkat teoritis yang disarankan untuk pekerjaan mengangkat benda yang disebut Recommended Weight Limit (RWL). Persamaan yang dibuat tahun 1991 memberikan faktor pengali tambahan berupa perhitungan penggerak asimetrik dan faktor pengangkatan tangan sebagai fungsi kopling (Geotsch, 2011). Tujuan dari persamaan pembebanan ini adalah untuk mencegah dan mengurangi terjadinya cedera tulang punggung belakang bagian bawah bagi pekerja yang melakukan aktivitas pengangkatan beban secara manual. Persamaan yang

dikeluarkan NIOSH khusus digunakan untuk mengevaluasi dan menilai resiko yang terjadi akibat pengangkatan beban secara manual. Sebagai alat evaluasi, persamaan ini dirancang untuk mendapatkan suatu nilai beban angkat yang sesuai dengan pendekatan biomekanika, fisiologi kerja ataupun asumsi psikofisik dan epidemologi. Beberapa perhitungan pada Recommended Weight Limit (RWL) adalah dengan memperhatikan faktor-faktor pengali. Komponen perubahan persamaan NIOSH terdiri dari konstanta beban dan faktor-faktor pengali yaitu pengali horizontal, faktor pengali vertikal, faktor pengali jarak, faktor pengali frekuensi, faktor pengali asimetri, faktor pengali kopling, dengan rumus sebagai berikut (Niebel, 2009): RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM Keterangan: a. LC : (Lifting Constanta) konstanta pembebanan Konstanta beban ini bernilai 23 kg. Besaran tersebut merupakan beban maksimum yang direkomendasikan untuk pengangkatan. b. HM : (Horizontal Multiplier) faktor pengali horisontal HM didapat dari nilai H (jarak horisontal) yaitu jarak antara tangan dengan titik tengah pergelangan kaki bagian dalam kaki. Faktor pengali horizontal dinyatakan dalam rumus: HM = 25/H c. VM : (Vertical Multiplier) faktor pengali vertikal VM didapat dari nilai V (tinggi vertikal) yaitu jarak antara tinggi vertikal dengan lantai antara kedua tangan terhadap beban.faktor pengali vertikal dinyatakan dalam rumus: VM = 1 (0.003 V-75 ) Dimana V= tinggi vertikal d. DM : (Distance Multiplier) faktor pengali perpindahan DM didapat dari nilai D yaitu jarak vertikal antara titik awal beban sebelum diangkat ke titik tujuan beban diletakakan.faktor pengali jarak dinyatakan dalam rumus: DM = 0.82 + (4.5/D) Dimana D = total jarak perpindahan e. AM : (Asymentric Multiplier) faktor pengali asimetrik AM didapat dari nilai A ( Asymmetric) Sudut asimetri adalah sudut simetri putaran yang dibentuk antara tangan dan kaki. Faktor pengali asimetri 17

18 dinyatakan dalam rumus: AM = 1 (0.0032 x A) Dimana A = Sudut asimetri yang dibentuk. f. FM : (Frequency Multiplier) faktor pengali frekuensi FM didapat dari nilai F ( Frecuency Component ) Yaitu jumlah beban yang diangkat. Pengali frekuansi ditentukan oleh jumlah pengankatan per menit. Jumlah waktu yang diperlukan untuk pengangkatan (durasi) dan tinggi vertikal pengangkatan dari lantai. Untuk persamaan yang dibuat tahun1991 telah ditetapkan pendekatan Pengangkatan misalnya dengan F < 0.2 maka diambil nilai pengangkatan dengan F = 0.2 Pekerjaan digolongkan dalam durasi (Hari Purnomo, 2003): 1) Singkat yaitu bila dilakukan selama 1 jam atau kurang, lalu diikuti waktu istirahat selama 1-2 kali waktu kerja. 2) Sedang yaitu bila dilakukan selama 1-2 jam, diikuti dengan waktu istirahat setidaknya 0.3 kali waktu kerja. 3) Panjang yaitu bila dilakukan selama 2-8 jam dengan kelonggaran istirahat standar. g. CM : (Coupling Multiplier) faktor pengali kopling (handle) CM diperoleh dari bagaimanacara memegang beban. Beban biasanya di lengkapi dengan suatu komponen sebagai alat pemegang pada saat pekerja hendak mengangkat beban tersebut.kegunaannya adalah agar pekerjadapat mengangkat beban dengan baik. Selanjutnya komponen ini kita sebut sebagai pegangan tangan (handle). Perpaduan fungsi tangan pekerja dengan handle ini di sebut kopling. H = Jarak horizontal posisi tangan yang memegang beban dengan titik pusat tubuh. V = Jarak vertikal posisi tangan yang memegang beban terhadap lantai D = Jarak perpindahan beban secara vertikal antara tempat asal sampai tujuan A = Sudut simetri putaran yang dibentuk antara tangan dan kaki. h. Lifting Index (LI) Lifting Index menyatakan nilai estimasi relatif dari tingkat tegangan fisik dalam suatu kegiatan pengangkatan-manual. Nilai estimasi tingkat ketegangan fisik tersebut dinyatakan sebagai hasil bagi antara beban angkatan (load weight).

19 Dengan nilai RWL hasil perhitungan. Dinyatakan dengan rumus : LI = Beban angkatan / RWL Ketentuan : 1. Jika LI > 1, berat beban yang diangkat melebihi batas pengangkatan yang direkomendasikan maka aktifitas tersebut mengandung resiko cidera tulang belakang. 2. Jika LI < 1, barat beban yang diangkat tidak melabihi batas pengangkatan yang direkomendasikan maka aktifitas tersebut tidak mengandung resiko cedera tulang belakang. 2.9 Manual Material Handling Manual material handling (MMH) merupakan sumber utama terjadinya cedera punggung. MMH meliputi mengangkat, menurunkan, membawa, mendorong dan menarik barang. Sementara itu faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya nyeri punggung (back injury), adalah arah beban yang akan diangkat dan frekuensi aktivitas pemindahan (Purnomo, 2004). Risiko-risiko nyeri tersebut banyak dijumpai pada beberapa industri, antara lain: industri berat, pertambangan, konstruksi / bangunan, pertanian, rumah sakit dan lain-lain. Beberapa parameter yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. Beban yang harus diangkat. 2. Perbandingan antara berat badan dan orangnya. 3. Jarak horisontal dari beban terhadap orangnya. 4. Ukuran beban yang akan diangkat (beban yang berdimensi besar akan mempunyai jarak CG (center of gravity) yang lebih jauh dari tubuh, dan bisa mengganggu jarak pandangannya) Langkah-langkah dalam menentukan perbaikan yang diperlukan antara lain : Langkah 1. Analisis masalah Inventarisasi terbuat dari kedua faktor risiko dan gejala. Setelah ini, peringkat prioritas terbuat dari semua masalah diidentifikasi. Prioritas ditetapkan berdasarkan persediaan oleh semua pihak yang terlibat seperti manager, karyawan, dan teknisi. Langkah 2. Pemilihan solusi

20 Analisis yang lebih rinci dilakukan dari tempat kerja berisiko tinggi yang melibatkan kelompok terbesar pekerja dengan tingkat prevalensi tertinggi gejala, seperti yang diidentifikasi pada langkah 1. Atas dasar ini analisis, solusi yang mungkin diidentifikasi dan lagi prioritas ditetapkan yang akan menjadi solusi dipilih pertama, berdasarkan kelayakan dan efek estimasi kesehatan dan biaya. Sekali lagi, pilihan ini adalah dilakukan oleh semua pihak yang terlibat (manajer, karyawan, dan teknisi). Langkah 3. Implementasi solusi Solusi yang dipilih pada langkah 2 dilaksanakan. Ketika solusi baru yang disebut untuk, prototipe akan dikembangkan, diuji dan jika perlu disesuaikan sebelum pelaksanaan pada skala yang lebih besar. Langkah 4. Evaluasi efektivitas solusi Dalam langkah terakhir ini, itu dievaluasi apakah solusi yang diimplementasikan mencapai tujuan: pengurangan beban kerja dan gejala muskuloskeletal. Langkah ini menunjukkan apakah adaptasi, perbaikan atau langkah-langkah tambahan yang diperlukan. Tujuan dari kuesioner ini adalah untuk menggambarkan dan menerapkan kuesioner untuk identifikasi pekerjaan terkait faktor resiko morbiditas (terjadinya penyakit atau kondisi yang mengubah kesehatan dan kualitas hidup) dan muskuloskeletal. Kuesioner ini berdasarkan pada : a) Aktifkan koleksi cepat dan mudah mendapatkan data tanpa melanggar persyaratan metodologis dasar. b) Membangun gambaran yang luas dan jelas tentang kerja yang relevan terkait dan risiko terkait individu faktor dan gejala. c) Aktifkan penggunaan konsep sederhana, dipahami untuk manajemen dan pekerja. d) Supply dasar kuantitatif untuk pengaturan prioritas. e) Memastikan partisipasi pekerja dari awal. Kualitas instrumen untuk pelayanan kesehatan kerja dapat dinilai dengan menggunakan empat kategori yaitu memiliki kriteria sebagai berikut: (1) Pengukuran objek dan desain, (2) Teknis kualitas, (3) Proses mutu dan, (4) Strategis kualitas.

21 Data kuesioner dianalisis berdasarkan diantaranya pada (Temple, R; Adams, T, 2000) : 1. Total populasi studi, untuk mendapatkan gambaran tentang besarnya gejala dan beban kerja pada populasi relatif terhadap populasi pekerja lainnya. 2. Lima departemen yang terlibat, untuk mengidentifikasi departemen yang berisiko tinggi. 3. Tugas kelompok, untuk mengidentifikasi risiko tinggi tugas. Berdasarkan hasil kuesioner yang ada di atas dapat dikategorikan ke dalam enam jenis berikut, yaitu beban kerja yang berpotensi berbahaya dan kondisi kerja adalah (Temple, R; Adams, T, 2000) : 1) Angkatan kerja keras: mengangkat, membawa, mendorong, dan menarik. 2) Dinamis beban: berjalan, membungkuk, memutar leher, pergelangan tangan, dan jongkok. 3) Statis beban: duduk, berdiri, membungkuk terlalu lama atau postur memutar leher dan memutar pergelangan tangan, bekerja dengan tangan di atas bahu, berlutut atau postur jongkok. 4) Puncak beban: tiba-tiba, gerakan kuat, gerakan tak terduga, dan beban berulang-ulang. 5) Kondisi lingkungan ergonomis : faktor iklim, getaran, kerja terbatas ruang, tergelincir dan terjatuh. 2.10 Peta Kerja Peta kerja adalah suatu alat komunikasi yang sistematis dan jelas, berisi informasi-informasi yang terinci secara lengkap sehingga dapat dipakai sebagai bahan masukan untuk merancang dan memperbaiki suatu sistem kerja. Pada dasarnya peta kerja dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan kegiatannya yaitu (Apple, 2004) : 1. Peta Kerja Keseluruhan Merupakan peta yang menggambarkan proses kerja keseluruhan yang melibatkan sebagian besar atau semua fasilitas yang diperlukan untuk membuat produk yang bersangkutan. Peta kerja keseluruhan meliputi peta proses operasi.

22 2. Peta proses operasi adalah peta yang menggambarkan langka-langkah proses yang akan dialami bahan baku mengenai urutan-urutan operasi dan pemeriksaan dari awal sampai produk jadi utuh maupun sebagai komponen dan juga memuat informasi-informasi yang diperlukan seperti: waktu yang dibutuhkan, material yang digunakan, dan atau alat mesin yang digunakan. Pada peta proses operasi hanya memuat kegiatan operasi dan pemeriksaaan saja. Kegunaan dari Peta Proses Operasi yaitu (Apple, 2004) : 1. Mengetahui kebutuhan akan mesin dan penganggarannya. 2. Memperkirakan kebutuhan akan bahan baku (dengan memperhatikan efisiensi pada setiap operasi/pemeriksaan). 3. Sebagai alat untuk menentukan tata letak pabrik. 4. Sebagai alat untuk melakukan perbaikan cara kerja yang sedang dipakai. 5. Sebagai alat untuk latihan kerja.