JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16. NO.1

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III BAHAN DAN METODE

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Protein hewani menjadi sangat penting karena mengandung asam-asam amino

HASIL DAN PEMBAHASAN Keberadaan Residu Antibiotik

PENGARUH SUHU PEMANASAN TERHADAP KANDUNGAN RESIDU ANTIBIOTIK DALAM AIR SUSU SAPI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengkajian Residu Tetrasiklin Dalam Daging Ayam Pedaging, Ayam Kampung Dan Ayam Petelur Afkir Yang Dijual Di Kota Kupang

METODE PENELITIAN. Waktu Penelitian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2011 sampai dengan bulan April Bahan dan Alat.

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. sumber protein fungsional maupun pertumbuhan, terutama pada anak-anak usia

PENGUJIAN RESIDU ANTIBIOTIKA DENGAN METODE BIO-ASSAY (SKRINING) BY : RISKA DESITANIA, S.Si

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Penelitian Susu UHT Impor Bahan Media dan Reagen Alat

METODELOGI PENELITIAN. Umum DR. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung dan Laboratorium. Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dalam waktu 4

BAB I PENDAHULUAN.

Kualitas Susu Kambing Peranakan Etawah Post-Thawing Ditinjau dari Waktu Reduktase dan Angka Katalase

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pengukuran zona hambat yang berikut ini disajikan dalam Tabel 2 : Ulangan (mm) Jumlah Rata-rata

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian yang dilakukan menggunakan daun sirsak (Annona muricata) yang

Metode uji tapis (screening test) residu antibiotika pada daging, telur dan susu secara bioassay

III. METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorik dengan

KARAKTERISTIK DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI YOGHURT SARI BUAH SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP BAKTERI FLORA USUS

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Metode Penelitian Sampel

PENGUJIAN DAYA MORTALITAS FUNGISIDA PADA ARSIP KERTAS

Susu segar-bagian 1: Sapi

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Alat dan Bahan

KAJIAN HASIL MONITORING DAN SURVEILANS CEMARAN MIKROBA DAN RESIDU OBAT HEWAN PADA PRODUK PANGAN ASAL HEWAN DI INDONESIA

HASIL DAN PEMBAHASAN. Perhitungan Kadar Kadar residu antibiotik golongan tetrasiklin dihitung dengan rumus:

MENGELOLA KOMPOSISI AIR SUSU

BAB 4 METODE PE ELITIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

AGROVETERINER Vol.5, No.2 Juni 2017

Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1

ANALISIS CEMARAN MIKROBA PADA KUE BASAH DI PASAR BESAR KOTA PALANGKA RAYA. Susi Novaryatiin, 1 Dewi Sari Mulia

BAB 4 METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA Sifat Umum Susu

PENUNTUN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

III. METODE PENELITIAN. menggunakan media Mannitol Salt Agar (MSA). pada tenaga medis di ruang Perinatologi dan Obsgyn Rumah Sakit Umum

DAYA HAMBAT DEKOKTA KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP BAKTERI ESCHERICHIA COLI. Muhamad Rinaldhi Tandah 1

II. METODELOGI PENELITIAN

Angka Lempeng Total Bakteri pada Broiler Asal Swalayan di Denpasar dan Kabupaten Badung

III. METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah RAL

BAB 3 METODE PENELITIAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang. tidak saja dapat tumbuh baik di air tawar, namun juga air payau dan laut. Sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Alat dan Bahan : Cara Kerja :

DAFTAR ISI. ABSTRAK... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR LAMPIRAN...v DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GAMBAR... vii PENDAHULUAN...

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan pada April 2014 di Tempat Pemotongan Hewan di Bandar

BAB III MATERI DAN METODE. pada suhu 70 C terhadap total bakteri, ph dan Intensitas Pencoklatan susu telah

LAPORAN PENGUJIAN EFEKTIFITAS FUNGISIDA PADA JAMUR YANG MERUSAK ARSIP KERTAS

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2011), dalam survey yang

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. observasi kandungan mikroorganisme Coliform dan angka kuman total pada susu

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada penjual minuman olahan yang berada di pasar

Analisis Hayati KEPEKAAN TERHADAP ANTIBIOTIKA. Oleh : Dr. Harmita

ANALISIS KUALITAS AIR MINUM SAPI PERAH RAKYAT DI KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH

PETUNJUK PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI. Disusun oleh : Dr. Henny Saraswati, M.Biomed PROGRAM STUDI BIOTEKNOLOGI FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

25 Universitas Indonesia

LAMPIRAN. Sampel Daun Tumbuhan. dicuci dikeringanginkan dipotong-potong dihaluskan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

III. METODOLOGI PENELITIAN. Desain penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorik dengan

SUSU. b. Sifat Fisik Susu Sifat fisik susu meliputi warna, bau, rasa, berat jenis, titik didih, titik beku, dan kekentalannya.

Pengujian Residu Antibiotik Pada Susu (Detection of antibiotic residues in milk)

TINJAUAN PUSTAKA. Susu

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN SUSU KEDELAI DALAM LEMARI ES TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI PSIKROFILIK

III. METODOLOGI A. BAHAN DAN ALAT C. METODE PENELITIAN

I. Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum ini adalah 1. untuk mengetahui potensi suatu antibiotika yang digunakan untuk membunuh mikroba 2.

ABSTRAK. PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTICANDIDA INFUSA DAUN SIRIH (Piper betle Lynn) SEGAR DENGAN SABUN CAIR PEMBERSIH VAGINA KEMASAN SECARA IN VITRO

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Ketahanan Susu Kambing Peranakan Ettawah Post-Thawing pada Penyimpanan Lemari Es Ditinjau dari Uji Didih dan Alkohol

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. untuk memenuhi hampir semua keperluan zat-zat gizi manusia. Kandungan yang

PENGUJIAN RESIDU ANTIBIOTIKA DALAM SUSU SEGAR DARI BEBERAPA PETERNAKAN SAPI PERAH DI PROVINSI JAWA BARAT MENGGUNAKAN METODE BIOASSAY

BAB I PENDAHULUAN. 2012). Sapi berasal dari famili Bovida, seperti halnya bison, banteng, kerbau

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat,

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang melibatkan 2 faktor perlakuan

BAB III METODE PENELITIAN. eksplorasi dengan cara menggunakan isolasi jamur endofit dari akar kentang

Penetapan Potensi Antibiotik Secara Mikrobiologi. Marlia Singgih Wibowo School of Pharmacy ITB

BAB III METODE PENELITIAN

MATERI DAN METODE. Pekanbaru. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai September

BAB III METODE PENELITIAN. A. Rancangan Penelitian. Pada metode difusi, digunakan 5 perlakuan dengan masing-masing 3

BAB III MATERI DAN METODE. pada Ransum Sapi FH dilakukan pada tanggal 4 Juli - 21 Agustus Penelitian

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. dengan rancangan post test only control group design. Penelitian

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

STUDI RESIDU ANTIBIOTIK DAGING BROILER YANG BEREDAR DI PASAR TRADISIONAL KOTA KENDARI

RESIDU ANTIBIOTIKA PADA PANGAN ASAL HEWAN, DAMPAK DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan Penelitian ialah menggunakan pola faktorial 4 x 4 dalam

LAPORAN HASIL PENELITIAN PENENTUAN POTENSI JAMU ANTI TYPHOSA SERBUK HERBAL CAP BUNGA SIANTAN

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. cukup sempurna karena mengandung zat zat gizi yang lengkap dan mudah

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

INTISARI ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF BAKTERI ESCHERICHIA COLI

BAB I PENDAHULUAN. baik sekali untuk diminum. Hasil olahan susu bisa juga berbentuk mentega, keju,

BAB III METODE PENELITIAN. untuk mengisolasi Actinomycetes dan melihat kemampuannya dalam

Pemeriksaan Mutu Jamu Obat Mencret yang Beredar di Apotik Kota Padang

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

BAHAN DAN METODE. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2012 di

Transkripsi:

JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16. NO.1 Residu Antibiotika Dalam Air Susu Segar yang Berasal Dari Peternakan di Wilayah Aceh Besar (Antibiotic Residuesin Water Fresh Milk Derivat From Farms in TheTerritory of Aceh Besar ) Nellita Meutia 1, T. Rizalsyah 1, Saiful Ridha 1, Mitha Kurnia Sari 1 Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Indrapuri 1 Email: nellita_meutia@yahoo.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya residu antibiotika pada susu segar yang berasal dari peternakan di wilayah Aceh Besar (Pagar air dan Saree) dengan menggunakan10 sampel susu sapi segar. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala.Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode Kundrat dan Bacillus stearothermophillus sebagai bakteri penguji.bakteri pengujian dari 4 tabung Nutrien agar miring, dimasukkan dalam 250 ml Nutrien agar bersuhu 40ºC - 45ºC dengan menggunakan ose, dihomogenkan selanjutnya dimasukkan dalam penangas air dengan suhu 50ºC selama 20 menit. Diambil 15 ml dimasukkan ke masing-masing cawan petri steril lalu dibiarkan membeku. Diambil 10 ml susu menggunakan pipet steril masukkan dalam tabung reaksi steril, dipanaskan menggunakan penangas air pada suhu 80ºC selama 5 menit, didinginkan sampai suhu 65ºC, tuang susu tersebut ke dalam cawan petri steril. Letakkan kertas cakram steril pada susu menggunakan pinset steril,ditutup dan dibiarkan 15 menit, diambil kembali dan diletakkan pada permukaan cawan petri berisi Nutrien agar yang berisi bakteri Bacillus stearothermophillus, dieramkan dalam inkubator dengan suhu 55ºC selama 12 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 sampel yang diperiksa seluruhnya mengandung residu antibiotika yang sensitive terhadap kuman penguji. Pagar Air 5 sampel susu (100%) dan Saree 5 sampel susu (100%) Kata kunci: Air susu, residu antibiotika, Bacillus stearothermophillus Abstract This study aims to determine the presence of antibiotic residues in fresh milk derived from two farms in the region of Aceh Besar (Pagar Air dansaree) by using fresh milk. Examination conducted at Microbiology Laboratory, Faculty of Veterinary Medicine, Syiah Kuala University. Examination conducted by using Kundrat Method and Bacillus strearothermophillus as examiner bacteria. Examination bacteria from 4 tubes Nutrients Agar slant, put in 250 ml nutrient agar have a temperature 40 o C - 45 o C by using ose, homogenized next included in water bath with temperature of 50 o C for 20 minutes. Taken 15 ml inculed to respective sterile petridist then let freeze. Taken 10 ml milk use sterile pipette input in sterile test tube, heated use water bath in 80ºC temperature for 5 minutes, cooled until 65ºC temperature,pour the milk into sterile petridist. Putting sterile disk paper in milk use sterile tweezers, closed and let 15 minutes, taken back and placed in petridist surface contained nutrient agar which contains Bacillus stearothermophillus bacteria, incubated in incubator with 55ºC temperature for 12 hours. Research result indicate that from 10 sample examined entire sample contain antibiotic residue that is sensitive to examiner germ. Pagar Air 5 milk (100%) sample and Saree 5 milk (100%) sampel. Keywords: Milk, antibiotic residue, Bacillus stearothermophillus. Pendahuluan Susu merupakan cairan yang berasal dari ambing ternak perah sehat dan bersih. Diperoleh dengan cara pemerahan yang benar sesuai ketentuan yang berlaku. Kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan apapun, kecuali proses pendinginan. Antibiotika merupakan zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi 1

JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16, NO.1 yang dapat menghambat pertumbuhan atau dapat membasmi mikroba jenis lain dan merupakan segolongan senyawa, baik alami maupun sintesik. Antibiotika mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Residu antibiotika merupakan zat antibiotika termasuk metabolitnya yang terkandung dalam daging, telur dan susu, baik sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari penggunaan antibiotika (SNI 74: 2008). Residu obat seperti antibiotik dapat dijumpai pada daging maupun susu bila pemakaian obat-obatan hewan tidak sesuai dengan petunjuk yang diberikan, misalnya waktu henti obat tidak dipatuhi menjelang hewan akan dipotong. Sumber pencemaran antibiotika dalam susu diantaranya terapi mastitis, terapi penyakit dan terapi per Os. Menurut Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Peternakan (2010), keberadaan antibiotika didalam susu biasanya dihubungkan dengan kejadian mastitis terutama pengobatan mastitis dengan antibiotika secara intramamaria. Pengobatan secara parenteral atau per Os juga memungkinkan adanya residu antibiotik dalam air susu. Dampak adanya pencemaran residu antibiotika pada konsumen diantaranya munculnya reaksi alergi (residu penisilin), reaksi keracunan (residu streptomycin), gangguan mikrobiologik, kegagalan pengolahan susu (starter), mempengaruhi flora normal pada saluran pencernaan, resistensi terhadap mikroorganisme berpengaruh pada lingkungan dan ekonomi. Mastitis merupakan salah satu penyakit yang sangat merugikan peternak khususnya peternak sapi perah. Hal ini disebabkan penurunan produksi air susu dalam jumlah besar. Pengobatan terhadap mastitis dan penyakit infeksi lainnya pada sapi perah umumnya dilakukan dengan antibiotika. Penggunaan antibiotika yang kurang hati hati dalam pengobatan ternak khususnya sapi perah dapat menimbulkan masalah serius yaitu adanya residu antibiotika dalam air susu segar.adanya residu antibiotika dalam air susu yang dikonsumsi dapat membahayakan kesehatan manusia seperti alergi, keracunan dan gangguan mikrobiologi. Residu antibiotika dapat diukur dengan beberapa cara, salah satunya dengan cara microbiological assay dari Kundrat. Metode mikrobiologi dari kundrat adalah cara yang dianggap baik, cepat dan sensitif. Prinsip kerja dari metode ini adalah dengan melihat daerah hambatan (zona hambatan = zona inhibition) yang dihasilkan oleh antibiotika terhadap kuman penguji. Salah satu kuman penguji yang biasa digunakan untuk jaringan dan air susu ialah Bacillus stearothermophillus (Sudarwanto, 1990). Pemakaian antibiotika yang terus menerus dan tidak memperhatikan waktu henti pemberian antibiotika (withdrawal time) dalam bidang peternakan akan menimbulkan residu antibiotika dalam produk hewaniyang dapat menyebabkan reaksi hipersensitifitas, resistensi dan kemungkinan keracunan (Yuningsih, 2005). Materi dan Metode Materi penelitian air susu yang diperiksa sebanyak 10 sampel yang diperoleh dari peternakan di desa Pagar air dan Saree. Air susu ditempatkan dalam labu erlenmeyer dan dimasukkan ke dalam termos yang berisi es, Selanjutnya Bakteri pengujian Basillus stearothermophillus dari 4 tabung Nutrien Agarmiring dimasukkan ke dalam 250 ml Nutrien Agarbersuhu 40ºC - 45ºC, dihomogenkan, dan dimasukkan ke dalam penangas air dengan suhu 50ºC selama 20 menit. Sebanyak 15 ml Nutrien Agardimasukkan ke cawan dan dan dibiarkan membeku. Media siap digunakan atau disimpan didalam refrigenerator maksimum penggunaannya 7 hari. Air susu sebanyak 10 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, selanjutnya tabung reaksi dimasukkan ke dalam penangas air dengan suhu 80ºC selama 5 menit, didinginkan sampai suhu 65ºC dan dimasukkan ke dalam cawan petri. Dengan menggunakan pinset, kertas cakram steril dimasukkan ke dalam air susu, ditutup dan dibiarkan selama 15 menit. Kertas cakram tersebut diambil kembali dan diletakkan diatas permukaan cawan petri berisi Nutrien Agaryang berisi bakteri penguji Basillus stearothermophillus, cawan petri dieramkan dalam inkubator dengan suhu 55ºC selama 12 jam. 2

Nellita Meutia, dkk. Residu Antibiotika Tabel 1. Besarnya zona Hambatan yang ditimbulkan dalam pemeriksaan Residu Antibiotika dalam Air Susu. A. Tempat Pengambilan sampel Air susu Pagar Air (Banda Aceh). Rata-rata diameter zona NO Sampel Contoh Air Susu 1 2 3 4 5 A 1 A 2 A 3 A 4 A 5 Keterangan: (+) Air susu mengandung Antibiotika. hambatan (mm) 13 13 21 A1+ A2+ A3+ A4+ A5+ B. Tempat Pengambilan sampel Air susu Saree (Aceh besar). NO Sampel Rata-rata diameter zona hambatan (mm) 1. B 1 23 2. B 2 26 3. B 3 4. B 4 20 5. B 5 22 Keterangan: (+) Air susu mengandung Antibiotika Contoh Air Susu B 1 + B 2 + B 3 + B 4 + B 5 + Bila hasilnya positif disekitar kertas cakram akan terdapat zona hambatan dan bila hasilnya negatif maka tidak ditemukan adanya zona hambatan. Konsentrasi antibiotika yang berada dalam sampel air susu dapat ditentukan secara kualitatif, makin tinggi konsentrasinya makin luas zona/daerah terang disekitar kertas cakram tadi. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemeriksaan residu antibiotika dalam air susu berasal dari Pagar Air dan Saree dengan satu kali pengambilan pada sapi yang berbeda dapat dilihat pada tabel berikut. Jika dilihat gambaran dari masing masing tempat didapat contoh air susu yang mengandung residu Antibiotika yang sensitif terhadap bakteri penguji yaitu, Pagar air sebanyak 5 sampel (100%) dan Saree sebanyak 5 sampel (100%). Sedangkan perbedaan luas diameter zona hambatan yang terjadi pada air susu segar tersebut disebabkan karena perbedaan konsentrasi antibiotika. Dari pemeriksaan 10 sampel air susu didapat bahwa 10 sampel tersebut menunjukkan hasil yang positif mengandung residu antibiotika sehingga dapat dinyatakan bahwa pada kedua peternakan ini hasil produksi air susunya mengandung residu antibiotika. Hal ini dapat disebabkan kerena beberapa kemungkinan yaitu :Masa henti obat belum tercapai, Antibiotika yang digunakan dengan dosis yang tidak sesuai dengan anjuran yang telah ditetapkan oleh pemerintah, Ransum yang diberikan mengandung residu antibiotika. Antibiotika dalam bidang peternakan digunakan untuk tujuan pencegahan dan pengobatan penyakit. Antibiotika yang sering digunakan dalam peternakan antara lain golongan penisilin (seperti prokain penisilin G dan kalium penisilin G), golongan tetrasiklina (seperti tetrasiklin, oksitetrasiklin dan klortetrasiklin), golongan aminoglikosida (seperti gentamisin sulfat, neomisin dan dihidrostreptomisin sulfat) dan golongan makrolida (seperti eritromisin dan tilosin). Residu antibiotika dalam makanan dan minuman kemungkinan merupakan salah satu faktor penyebab resistensi kuman terhadap antibiotika (Lestari dan Janahar, 2001). Peternak sapi perah umumnya menggunakan antibiotika pada akhir laktasi dengan tujuan untuk mengurangi terjadinya infeksi dan mencegah terjadinya infeksi baru pada kelenjar ambing. Menurut Andrew 3

JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16, NO.1 (2001), pemberian antibiotika pada sapi perah sebaiknya diberikan pada 45 sampai dengan 60 hari periode kering kandang. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi resiko dari residu antibiotika pada susu saat periode laktasi. Lamanya keberadaan antibiotika berada dalam susu tergantung dari beberapa faktor, antara lain : dosis, cara pemberian dan jenis antibiotik. Secara umum diterapkan bahwa withdrawl time antibiotika spektrum sempit minimal 5 hari setelah pengobatan, untuk jenis antibiotika yang dapat membentuk depo (spektrum luas) memiliki withdrawl time selama 13 hari. Untuk menghindari terjadinya residu antibiotika pada susu dari segi kesehatan masyarakat dapat dilakukan beberapa pencegahan diantaranya pemeriksaan secara rutin dan sapi-sapi perah yang berada dalam terapi antibiotika sebaiknya berada di bawah pengawasan dokter hewan terutama untuk menentukan dosis pemberian dan frekuensi pemberian. Dari segi skala industri, susu yang diketahui mengandung residu antibiotika dapat dijadikan susu olahan seperti susu bubuk, susu kental manis dan susu steril. Menurut Bahri (2008), pengontrolan penyakit secara biologis dengan menghindari penggunaan bahan-bahan kimia atau obatobatan berbahaya secara berlebihan juga dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya cemaran antibiotika. Selain itu, pengawasan mutu pakan yang beredar perlu ditingkatkan, termasuk terhadap obat hewan yang dicampur dalam ransum ternak. Demikian pula pemakaian obat hewan yang diberikan langsung kepada ternak perlu diawasi, baik untuk pengobatan maupun pencegahan. Pengawasan sekaligus diikuti dengan penertiban pemakaian obat hewan di lapangan. Sementara menurut Martelet al., 2006, pencegahan cemaran antibiotika juga dapat dilakukan melalui penggunaan obat hewan yang harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan memperhatikan antara lain waktu henti dan kesesuaian dosis. Selain itu, penyimpanan obat hewan juga harus mengikuti petunjuk yang ada. Pada dasarnya waktu paruh untuk obat yang disuntikkan dan per oral sama, namun masa hentinya berbeda. Hal ini disebabkan pada per oral adalah lebih panjang karena dosisnya pasti lebih tinggi. Absorbsi disaluran cerna lebih lama daripada absorbsi didaerah suntikan yang langsung terhadap kapiler yang berporek residu antibiotika pada susu pada peternak diantaranya hambatan atau penolakan terhadap susu oleh loper atau koperasi susu yang akan berdampak pada kondisi perekonomian peternak. Pada industri pengolahan susu seperti yogurt, efek residu antibiotika ini akan sangat besar. Efek yang dapat ditimbulkan diantaranya produk susu akan mengalami kegagalan dalam pengolahan, rasa susu akan berubah dan konsistensi susu tidak mencapai kondisi yang optimal. Dampak negatif terbesar dari cemaran residu antibiotika pada pangan asal ternak adalah hambatan atau penolakan terhadap berbagai produk ternak oleh negara pengimpor. Susu yang mengalami cemaran antibiotika akan menunjukan kualitas yang rendah dan tentunya akan memberikan efek negatif yang sangat tinggi. Oleh karena itu, penyingkiran atau penolakan oleh negara pengimport akan terjadi dan berujung pada kerugian ekonomi negara (Bahri, 2008). Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa air susu segar yang diperiksa semuanya mengandung residu antibiotika yang sensitif terhadap kuman penguji. Pagar Air sebanyak 5 sampel air susu segar (100%) dan Saree sebanyak 5 sampel air susu segar (100%). Daftar Pustaka Andrew, SM. 2001. Effect of Composition of Colostrum and Transition Milk from Holstein Heifers on Specificity Rates of Antibiotic Residue Tests. Journal of Dairy Science 83: 100-106. Bahri, S. 2008. Beberapa Aspek Keamanan Pangan Asal Ternak di Indonesia. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(3): 225-2. Jakarta: Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Peternakan. (2010). Manajemen Pemeliharaan dan Kesehatan Pedet. Batu Raden: Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Sapi Perah. Lestari, P. dan Janahar M.2001. Residu Antibiotika dalam Air Susu Sapi dan 4

Nellita Meutia, dkk. Residu Antibiotika Peternakan di Jakarta. Jakarta:Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Martel AC., Zeggane S., Drajnudel P., Faucon JP., dan Aubert M. 2006. Tetracycline Residues In Honey After Hive Treatment. Food Additives and Contaminants 23(3): 265-273. SNI.2008. Metode Uji Tapis (Screening Test) Residu Antibiotika pada Daging, Telur, dan susu secara Bioassay. Jakarta: BSN Sudarwanto.1990. Residu Antibiotika Dalam Susu Pasteurisasi Ditinjau dari Kesehatan Masyarakat. Laporan Penelitian. Fakultas kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. 5