Jurnal Geodesi Undip Oktober 2014

dokumen-dokumen yang mirip
PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PENGINDERAAN JAUH DALAM MENGUKUR TINGKAT BAHAYA EROSI DI KAWASAN DATARAN TINGGI DIENG

MENENTUKAN LAJU EROSI

TINJAUAN PUSTAKA. unsur-unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam tanah, air dan vegetasi serta

ANALISIS SPASIAL TINGKAT BAHAYA EROSI DI WILAYAH DAS CISADANE KABUPATEN BOGOR (S

PREDIKSI TINGKAT BAHAYA EROSI MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI DAERAH TANGKAPAN AIR DANAU WISATA BANDAR KAYANGAN

BAB III LANDASAN TEORI. Jika dirumuskan dalam suatu persamaan adalah sebagai berikut : R=.(3.1) : curah hujan rata-rata (mm)

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Analisis karakteristik DTA(Daerah Tangkapan Air ) Opak

TINJAUAN PUSTAKA. Daerah Aliran Sungai adalah suatu daerah atau wilayah dengan

BAB III LANDASAN TEORI. A. Metode Universal Soil Loss Equation (USLE)

Prosiding Seminar Nasional INACID Mei 2014, Palembang Sumatera Selatan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di DAS Hulu Mikro Sumber Brantas, terletak di Desa

BAB III LANDASAN TEORI. A. Metode Universal Soil Loss Equation (USLE)

Rd. Indah Nirtha NNPS. Program Studi Teknik Lingkungn Fakultas Teknis Universitas Lambung Mangkurat

PREDIKSI EROSI DAERAH ALIRAN SUNGAI POBOYA


ABSTRACT PREDICTION EROSION, LAND CAPABILITY CLASSIFICATION AND PROPOSED LAND USE IN BATURITI DISTRICT, TABANAN REGENCY, BALI PROVINCE.

BAB IV METODE PENELITIAN

Yeza Febriani ABSTRACT. Keywords : Erosion prediction, USLE method, Prone Land Movement.

PENGEMBANGAN KONSERVASI LAHAN TERHADAP EROSI PARIT/JURANG (GULLY EROSION) PADA SUB DAS LESTI DI KABUPATEN MALANG

Pemetaan Tingkat Bahaya Erosi Sub DAS Petani Sumatera Utara. Mapping Erosion Level in Petani SubWatershed North Sumatera

PEMETAAN TINGKAT BAHAYA EROSI BERBASIS LAND USE DAN LAND SLOPE DI SUB DAS KRUENG SIMPO

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Jurnal Geodesi Undip April 2015

Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Berbasis Masyarakat untuk Hutan Aceh Berkelanjutan Banda Aceh, 19 Maret 2013

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Karakter Daerah Tangkapan Air Merden

PEMETAAN TINGKAT BAHAYA EROSI PADA LEVEL SUB-DAS: STUDI PADA DUA DAS IDENTIK

MENENTUKAN PUNCAK EROSI POTENSIAL YANG TERJADI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) LOLI TASIBURI DENGAN MENGGUNAKAN METODE USLEa

1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

Irma Fitria, Dr. Sakka, M.Si, Drs. H. Samsu Arif, M.Si

STUDI IDENTIFIKASI PENGELOLAAN LAHAN BERDASAR TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) (Studi Kasus Di Sub Das Sani, Das Juwana, Jawa Tengah)

PEMETAAN TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN METODE USLE (UNIVERSAL SOIL LOSS EQUATION) BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI PULAU SAMOSIR

Pendugaan Erosi Aktual Berdasarkan Metode USLE Melalui Pendekatan Vegetasi, Kemiringan Lereng dan Erodibilitas di Hulu Sub DAS Padang

BAB III LANDASAN TEORI. A. Metode USLE

Ummi Kalsum 1, Yuswar Yunus 1, T. Ferijal 1* 1 Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III LANDASAN TEORI. A. Metode MUSLE

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Data. B. Data Hujan

Bab ini berhubungan dengan bab-bab yang terdahulu, khusunya curah hujan dan pengaliran air permukaan (run off).

Gambar 4.1 Peta lokasi penelitian (PA-C Pasekan)

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM PENGKLASIFIKASIAN BAHAYA EROSI PADA DAS TALAWAAN

TINJAUAN PUSTAKA. Daerah Aliran Sungai Asahan. harafiah diartikan sebagai setiap permukaan miring yang mengalirkan air

KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) PADA PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN AGROFORESTRY DI SUB DAS LAU BIANG (KAWASAN HULU DAS WAMPU)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENANGANAN MASALAH EROSI DAN SEDIMENTASI DI KAWASAN KELURAHAN PERKAMIL

ANALISIS POTENSI EROSI DAS PETAPAHAN PADA EMBUNG PETAPAHAN Lukman Nul Hakim 1), Mudjiatko 2), Trimaijon 2)

PENDUGAAN EROSI TANAH DIEMPAT KECAMATAN KABUPATEN SIMALUNGUN BERDASARKAN METODE ULSE

PRAKTIKUM RSDAL VI PREDIKSI EROSI DENGAN METODE USLE DAN UPAYA PENGENDALIANNYA

ANALISIS DAN PEMETAAN DAERAH KRITIS RAWAN BENCANA WILAYAH UPTD SDA TUREN KABUPATEN MALANG

BAB I PENDAHULUAN. topografi dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung air hujan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

EVALUASI TINGKAT EROSI TANAH DI KECAMATAN SUKOREJO KABUPATEN KENDAL. Evaluation of The Level Of Soil Erosion Sukorejo in District Of Kendal

PEMANFAATAN CITRA PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PEMETAAN LAHAN KRITIS DI DAERAH KOKAP DAN PENGASIH KABUPATEN KULONPROGO

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Erosi

BAB III METODE PENELITIAN

Evaluasi Penyimpangan Penggunaan Lahan Berdasarkan Peta Arahan Pemanfaatan Lahan di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali

BAB II LANDASAN TEORI

Analisis Spasial Untuk Menentukan Zona Risiko Bencana Banjir Bandang (Studi Kasus Kabupaten Pangkep)

ANALISIS DAN PEMETAAN DAERAH KRITIS RAWAN BENCANA WILAYAH UPTD SDA TUREN KABUPATEN MALANG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) TANAH ANDEPTS PADA PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN KACANG TANAH DI KEBUN PERCOBAAN KWALA BEKALA USU

BAB I PENDAHULUAN. yang lebih baik. Menurut Bocco et all. (2005) pengelolaan sumber daya alam

ANALISIS SEDIMENTASI LAHAN DAS EMBUNG UWAI KABUPATEN KAMPAR MENGGUNAKAN METODE USLE BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOFRAFIS (SIG)

ASESMEN BANJIR PROVINSI GORONTALO

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Penilaian Tingkat Bahaya Erosi di Sub Daerah Aliran Sungai Cileungsi, Bogor

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2014

ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PERENCANAAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DI DAS YEH EMPAS, TABANAN, BALI

BAB I PENDAHULUAN. Daerah Aliran Sungai merupakan suatu sistem alam yang menjadi

Erosi. Rekayasa Hidrologi

PENINGKATAN EROSI TANAH PADA LERENG TIMBUNAN OVERBURDEN AKIBAT KEGIATAN PENAMBANGAN DI DAERAH CLERENG, PENGASIH, KABUPATEN KULON PROGO

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

: Curah hujan rata-rata (mm) : Curah hujan pada masing-masing stasiun (mm) : Banyaknya stasiun hujan

PENGGUNAAN METODE USLE DAN MUSLE DALAM ANALISA EROSI DAN SEDIMENTASI DI DAS BELAWAN

ANALISIS BESARNYA EROSI SUB DAS LEMATANG HULU

Teknik Konservasi Waduk

Kajian Tingkat Bahaya Erosi Pada Berbagai Tipe Penggunaan Lahan di Kecamatan Merdeka Kabupaten Karo

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

NASKAH PUBLIKASI EVALUASI KAPASITAS SABO DAM DALAM USAHA MITIGASI BENCANA SEDIMEN MERAPI. (Studi Kasus PA-C Pasekan, Kali Pabelan)

STUDI PENENTUAN KINERJA PENGELOLAAN DAS DI SUB DAS KONTO HULU

KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI DI SUB-DAS TEWEH, DAS BARITO PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Gambar 7. Lokasi Penelitian

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGANN PARIWISATA DENGAN MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT FELIK DWI YOGA PRASETYA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Way Semangka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENENTUAN TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM DI SUB DAS AEK RAISAN DAN SUB DAS SIPANSIHAPORAS DAS BATANG TORU

190. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.1, No.2, Maret 2013 ISSN No

PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK SEBAGAI PENGENDALI EROSI DI SUB DAS CIBOJONG KABUPATEN SERANG, BANTEN. Oleh: FANNY IRFANI WULANDARI F

ANALISIS EROSI DAN SEDIMENTASI LAHAN DI SUB DAS PANASEN KABUPATEN MINAHASA

Transkripsi:

ANALISIS ANCAMAN BENCANA EROSI PADA KAWASAN DAS BERINGIN KOTA SEMARANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Avianta Anggoro Santoso, Arief Laila Nugraha, Arwan Putra Wijaya *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, Unversitas Diponegoro Jl. Prof. Sudarto SH, Tembalang Semarang Telp. (024) 76480785, 76480788 e-mail : geodesi@undip.ac.id ABSTRAK Daerah Aliran Sungai Beringin merupakan salah satu daerah aliran sungai terbesar di Kota Semarang dengan curah hujan tertinggi. Wilayah hulu adalah daerah yang berfungsi sebagai daerah konservasi, tangkapan hujan, dan pengelolaan lingkungan DAS. Tujuan pengelolaan DAS antara lain mengendalikan dan mencegah erosi tanah, mengoptimalkan air tanah, dan menjaga lingkungan hidup. Faktanya lahan konservasi pada wilayah hulu telah banyak yang beralih fungsi. Hal itu akan memicu kejadian bencana salah satunya disebut erosi. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat bahaya erosi pada wilayah DAS Beringin pada tahun 2013 dan mengkaji parameter yang mempengaruhi besarnya tingkat erosi. Perhitungan erosi menggunakan metode RUSLE (Revised Soil Lost Equation) dan indeks topografi dihasilkan dengan menghitung faktor kemiringan dan panjang lereng. Tutupan lahan terbaru dihasilkan dari digitasi on screen citra google earth tahun perekaman 2012. Perhitungan erosi dan pengolahan parameter erosi dilakukan dengan teknologi Sistem Informasi Geografis. Hasil dari penelitian ini berupa peta tingkat bahaya erosi yang dibagi menjadi 5 kelas, yaitu : sangat ringan, ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Dari hasil perhitungan dihasilkan tingkat bahaya erosi dengan tingkat sangat ringan sebesar 20,39 km 2 (68%), ringan sebesar 3,83 km 2 (13%), sedang sebesar 3,77 km 2 (12%), berat sebesar 1,68 km 2 (6%), sangat berat sebesar 0.19 km 2 (0,6%). Kata kunci : Erosi, RUSLE, DAS Beringin, SIG ABSTRACT Beringin watershed is one of the largest watersheds in the Semarang City with the highest rainfall in Semarang City. The upstream area is an area that served as conservation area, rain catchment, and watershed environmental management. The purposes of watershed management is controling and preventing soil erosion, optimizing groundwater, and protecting the environment. The fact is land conservation in the upstream area has switched into others function. It will trigger one of catastrophic incident which is called erosion. The purpose of this study is to determine the danger level of erosion in Beringin watershed area in 2013 and to review the parameters that affect the level of erosion. Erosion calculation is using RUSLE (Revised Soil Lost Equation) method and the topography index was generated from the slope value and slope length factors. Latest land cover was generated from on-screen digitized image from 2012 google earth image. The erosion level calculation and the erosion parameter are using Geographic Information System technology. The results of this study is erosion potential maps that is divided into five classes, namely: very mild, mild, moderate, severe, and highly severe. From the calculation result of erosion hazard potential, as a very mild level at 20,39 km 2 (68%), mild at 3,83 km 2 (13%), moderate at 3,77 km 2 (12%), severe at 1,68 km 2 (6%), very severe at 1,9 km 2 (0,6%). Keywords : Erosion, RUSLE, Beringin Watershed, GIS 1. PENDAHULUAN Setiap tahun pembangunan di segala sektor terus meningkat dengan tujuan mendapatkan taraf hidup yang lebih baik dari sebelumnya. Secara garis besar pembangunan banyak terjadi pada sektor ekonomi dan sosial karena manusia sangat bergantung pada dua faktor tersebut. *) Penulis penanggung jawab Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014,(ISSN :2337-845X) 60

Pembangunan pada sektor ekonomi yang berlebihan tanpa diimbangi oleh pembangunan pada sektor lingkungan menyebabkan beberapa masalah baru. Pemanfaatan tanah secara tidak bertanggung jawab menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan dan kemampuan tanah. Tanah dapat mengalami pengikisan yang menyebabkan longsor dan erosi oleh air hujan dan angin. Hujan dan angin merupakan peristiwa alam yang manusia tidak mampu mencegah atau menghindarinya. Erosi yang disebabkan oleh alam umumnya sangat kecil volumenya dan tidak menyebabkan dampak buruk bagi manusia. Erosi dapat diartikan sebagai hilang atau terkikisnya tanah atau bagian tanah dari suatu tempat yang terangkut dari suatu tempat ke tempat lain, baik disebabkan oleh pergerakan air, angin, atau es. Erosi yang sering terjadi justru karena ulah manusia. Erosi ini mempunyai volume yang massive dan dikhawatirkan mengancam kehidupan masyarakat di wilayah sekitarnya. Kegiatan manusia yang kurang memperhatikan lingkungan memperparah erosi yang terjadi. Erosi ini dikenal dengan nama accelerated erosion [Supli, 2000]. Erosi tidak hanya menghasilkan lahan kritis di wilayah hulu namun hilir juga merasakan dampaknya berupa banjir. Untuk dapat menganalisa dan menghitung erosi dapat memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG). Teknologi ini dapat memetakan dan menggambarkan kondisi fisik wilayah penelitian secara spasial. Kondisi fisik ini merupakan parameter-parameter yang menyebabkan terjadinya erosi. Dengan memanfaatkan SIG, metode ini dapat menentukan, menghitung, dan menunjukkan secara visual daerah-daerah yang memerlukan konservasi. Dalam penelitian ini mencakup kawasan DAS Beringin. Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut : a. Daerah manakah yang terancam bencana erosi berdasarkan perhitungan dengan SIG? b. Parameter apa yang paling mempengaruhi tingginya potensi tingkat bahaya erosi? Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Menganalisa daerah dengan tingkat kerawanan terhadap erosi pada wilayah DAS Beringin. b. Menyajikan informasi yang berguna untuk kajian dalam kegiatan konservasi dan rehabilitasi daerah lahan kritis oleh pihak yang berkepentingan. Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah sebagai bahan acuan dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan konservasi DAS Beringin dan menentukan potensi bahaya bencana erosi yang tersebar pada kawasan tersebut, sehingga membantu dalam menentukan tindakan konservasi dan pencegahan terhadap bencana erosi. Adapun ruang lingkup yang digunakan sebagai pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Penelitian mengkaji bahaya erosi, 2. Perhitungan erosi menggunakan rumus RUSLE, 3. Daerah kajian DAS Beringin Kota Semarang, 4. Menggunakan pembobotan parameter (Kironoto, 2003) 5. Menggunakan 4 parameter, yaitu : curah hujan, jenis tanah, panjang dan kemiringan lereng, dan tutupan lahan. 2. METODOLOGI PENELITIAN 1. Peralatan yang digunakan dalam penelitian, antara lain : a. Perangkat Keras (Hardware), yang terdiri dari : - Laptop Compaq Presario CQ41, Intel Core i3 M330 @2.13GHz, 2.00 GB of RAM dengan sistem operasi Microsoft Windows 7 Home Edition. - Printer HP Deskjet F2235-1 unit GPS Navigasi b. Perangkat Lunak (Software) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014,(ISSN :2337-845X) 61

- Software Global Mapper 11 - Software Arc GIS 2. Bahan yang digunakan : - Peta Kontur Kota Semarang Tahun 2000 BAPPEDA - Peta Jenis Tanah Kota Semarang Tahun 2007 BAPPEDA - Peta Administrasi Kota Semarang Tahun 2007 BAPPEDA - Citra Google Earth Perekaman Juli 2012 - Data Curah Hujan Bulanan Kota Semarang Tahun 2011-2012 BMKG 2.1. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada kawasan DAS Beringin Kota Semarang. Mencakup wilayah Kecamatan Ngaliyan dan Kecamatan Mijen. Posisi Geografis DAS Beringin antara 110 17 30 LS - 110 21 100 LS dan 7 4 00 BT 6 50 00 BT. Gambar 1. Gambaran DAS Beringin Kota Semarang Keterangan : : Wilayah DAS Beringin 2.2. Diagram Alir Penelitian Citra Google Earth Citra Quickbird 2010 Peta Jenis Tanah Peta Kontur Data Curah Hujan Koreksi Geometrik GCP Skoring Rasterisasi Perhitungan Erosivitas Citra Terkoreksi Perhitungan Nilai LS Digitasi On Screen Peta Penggunaan Lahan 2012 Skoring Peta CP Peta Erodibilitas Peta LS Peta Erosivitas Overlay Peta Erosi 2.3. Metode Gambar 2. Diagram Alir Penelitian Analisa potensi bahaya erosi menggunakan pengembangan dari rumus USLE oleh Wischmeier dan Smith (1978). Formulasi USLE adalah sebagai berikut: A = R x K x L x S x C x P Keterangan : A = Laju erosi tanah (ton/ha/tahun) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014,(ISSN :2337-845X) 62

R = Indeks erosivitas hujan K = Indeks erodibilitas tanah L = Indeks panjang lereng S = Indeks kemiringan lereng C = Indeks penutupan vegetasi P = Indeks pengolahan lahan atau tindakan konservasi tanah Berdasarkan rumus yang digunakan, maka diperlukan empat jenis peta sebagai dasar perhitungan potensi bahaya erosi, yaitu peta curah hujan, peta jenis tanah, kemiringan, dan peta penutupan lahan. Hubungan antara jenis peta dan faktor-faktor yang digunakan dalam perhitungan laju erosi tanah disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Parameter perhitungan potensi bahaya erosi Faktor Penyebab Erosi Simbol Jenis Peta Indeks erosivitas R Peta curah hujan Indeks erodibilitas tanah K Peta jenis tanah Indeks nilai panjang dan kemiringan lereng LS Peta kontur Indeks tutupan lahan dan pengolahan lahan CP Peta tutupan lahan Proses perhitungan nilai indeks dari setiap data peta, dilakukan dengan berbagai formulasi, yaitu: 1. Indeks erosivitas hujan dihitung dalam bentuk run-off air. Dalam menghitung nilai run-off digunakan rumus yang dikembangkan oleh Lenvain [DHV, 1989] yaitu : dimana : R = indeks erosivitas dan P = curah hujan bulanan (cm) 2. Indeks erodibilitas tanah menunjukkan tingkat kerentanan tanah terhadap erosi, yaitu retensi partikel terhadap pengikisan dan perpindahan tanah oleh energi kinetik air hujan. Tekstur tanah yang sangat halus akan lebih mudah hanyut dibandingkan dengan tekstur tanah yang kasar. Kandungan bahan organik yang tinggi akan menyebabkan nilai erodibilitas tinggi. 3. Indeks panjang dan kemiringan lereng terdiri dari dua komponen, yakni faktor kemiringan dan faktor panjang lereng. Faktor panjang lereng adalah jarak horizontal dari permukaan atas yang mengalir ke bawah dimana gradien lereng menurun hingga ke titik awal atau ketika limpasan permukaan (run off) menjadi terfokus pada saluran tertentu (Renard et al., 1997). 4. Indeks tutupan lahan dan pengolahan lahan adalah faktor tutupan lahan pada kawasan tersebut dan usaha pengolahan lahan yang dapat memicu terjadinya erosi tanah. 5. Skoring digunakan untuk menghitung nilai faktor erodibilitas tanah dan faktor tutupan lahan. Proses skoring sesuai dengan bobot menurut Kironoto, 2003 dan Pusat Pengembangan dan Penelitian Tanah, 2004. Nilai skoring disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Klasifikasi indeks erodibilitas dan indeks CP Parameter Kelas Bobot Jenis Tanah (erobilitas) Alluvial kelabu 0.47 Tutupan Lahan (CP) Mediteran Coklat Tua 0.46 Latosol Coklat Merah 0.43 Latosol Coklat 0.31 Sawah 0.04 Semak 0.1 Hutan 0.01 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014,(ISSN :2337-845X) 63

Pemukiman 0.5 Perkebunan 0.01 Ladang 0.28 Kebun talun 0.02 Sumber : Kironoto, 2003 dan Pusat Pengembangan dan Penelitian Tanah, 2004 6. Klasifikasi tingkat bahaya erosi berdasarkan Kementrian Kehutanan (1998) diklasifikasikan menjadi 5 kelas, yaitu : sangat ringan, ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Tabel 3 menunjukkan klasifikasi tingkat potensi bahaya erosi. Tabel 3. Klasifikasi tingkat bahaya bencana erosi No. Klasifikasi Kehilangan tanah(ton/ha/thn) Keterangan 1. I <15 Sangat ringan 2. II 16-60 Ringan 3. III 60-180 Sedang 4. IV 180-400 Berat 5. V >400 Sangat berat Sumber : Kementrian Kehutanan, 1998 2.4. Pengolahan Data Masing-masing indeks perhitungan potensi bahaya erosi dihasilkan dari pengolahan jenis peta yang berkaitan dengan parameter penyebab erosi. Setelah keempat jenis peta selesai diolah dan menghasilkan masing-masing parameter atau indeks erosi, dilakukan proses penggabungan atau overlay dengan rumus RUSLE yang diterjemahkan ke dalam raster calculator. Sehingga dihasilkan peta persebaran daerah bahaya erosi DAS Beringin Kota Semarang. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagian besar kawasan DAS Beringin memiliki curah hujan yang tergolong sedang. Stasiun yang mempunyai curah hujan tertinggi adalah Stasiun Pengamat Mijen dengan rata-rata curah hujan bulanan mencapai 514,6 mm/bulan. Daerah ini merupakan daerah dengan curah hujan tertinggi di Kota Semarang dan merupakan kawasan hulu DAS Beringin. Peta curah hujan DAS Beringin dapat dilihat pada Gambar 3. Peta tersebut merupakan hasil interpolasi dari keempat titik pos pengamatan curah hujan pada kawasan DAS Beringin. Gambar 3. Peta curah hujan DAS Beringin Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014,(ISSN :2337-845X) 64

3.1. Indeks Erodibilitas Hanya terdapat empat jenis tanah pada wilayah DAS Beringin, yaitu jenis tanah alluvial kelabu, mediteran coklat tua, latosol coklat, latosol coklat kemerahan. Jenis tanah yang paling luas cakupannya adalah latosol coklat kemerahan. Dengan lokasi melintang dari sisi timur membentang hingga barat dan selatan DAS. Jenis tanah latosol coklat kemerahan mencapai 50% dari total luas DAS Beringin. Gambar 4. Peta jenis tanah DAS Beringin 3.2. Indeks Panjang dan Kemiringan Lereng Kawasan DAS Beringin mempunyai morfologi perbukitan dengan kelerengan yang bervariasi. Mulai dari wilayah dengan kelerengan sedang hingga tinggi. Berdasarkan perhitungan faktor LS, kawasan yang memiliki indeks LS paling tinggi terdapat pada bagian tengah dan utara DAS Beringin. Dalam penelitian ini, persamaan yang digunakan untuk menghitung indeks panjang dan kemiringan lereng [Moore dan Burch, 1986 dalam Ginting 2009] dan Slope: Kemiringan lereng (degree) dimana L : Panjang lereng (m) Gambar 5. Peta Indeks LS DAS Beringin Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014,(ISSN :2337-845X) 65

3.3. Indeks Tutupan Lahan dan Pengolahan Lahan Faktor penggunaan lahan dan pengelolaan lahan sering dinyatakan sebagai satu kesatuan parameter, yaitu faktor CP. Secara umum faktor CP dipengaruhi oleh jenis tanaman (tataguna lahan) dan tindakan pengelolaan lahan (teknik konservasi) yang dilakukan, seperti misalnya penanaman mengikuti kontur, strip cropping, dan pembuatan teras. Jika pengelolaan lahan (tindakan konservasi) tidak dilakukan maka nilai P adalah 1, sedangkan bila usaha pengelolaan lahan dilakukan maka nilai P menjadi kurang dari 1. Pada penelitian ini pengelolaan lahan baik pertanian maupun pemukiman dianggap kurang. Sehingga nilai indeks P = 1 untuk seluruh lokasi penelitian. Gambar 6. Peta Tutupan Lahan DAS Beringin Tabel. Tabel luas tutupan lahan DAS Beringin No. Kelas Lahan Skor Luas (ha) Persentase (%) 1 Kebun talun 0.02 337.83 11.24 2 Ladang 0.28 348.37 11.59 3 Pemukiman 0.5 660.24 21.96 4 Perkebunan 0.01 520.85 17.32 5 Sawah 0.04 272.12 9.05 6 Semak 0.1 302.56 10.06 7 Hutan 0.01 564.57 18.78 Total 3006.54 100 Sumber : Hasil pengolahan 2013 3.4. Bahaya Bencana Erosi Hasil perhitungan erosi dengan raster calculator pada peta curah hujan, peta jenis tanah, peta panjang dan kemiringan lereng, peta tutupan lahan menghasilkan peta bahaya bencana erosi pada DAS Beringin Kota Semarang. Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014,(ISSN :2337-845X) 66

Gambar 7. Peta Bahaya Bencana Erosi DAS Beringin Berdasarkan hasil perhitungan erosi yang telah dilakukan, laju erosi pada Daerah Aliran Sungai Beringin antara 0-1823,57 ton/ha/tahun. Setelah diklasifikasikan menurut aturan Kementrian Kehutanan tentang erosi tanah, nilai tersebut dibagi menjadi 5 kelas. Luas masingmasing daerah ancaman bencana erosi dapat dilihat pada Tabel 5 Tabel 5. Luas daerah ancaman erosi DAS Beringin No. Tingkat erosi Luas (ha) Persentase (%) 1 Sangat ringan 2039.98 68.28 2 Ringan 383.456 12.83 3 Sedang 377.62 12.63 4 Berat 168.973 5.65 5 Sangat berat 19.489 0.65 TOTAL 2989.51 100 Sumber : Hasil pengolahan 2013 4. PENUTUP 4.1. Kesimpulan Kesimpulan yang didapatkan berdasarkan hasil penelitian dengan judul Analisis Bahaya Bencana Erosi Pada Kawasan DAS Beringin Kota Semarang Menggunakan Sistem Informasi Geografis adalah : 1. Sebagian besar wilayah DAS Beringin Kota Semarang masuk dalam kelas sangat ringan sebesar 69% dari luas total DAS. Dapat dikategorikan sebagai kategori aman. 2. Tingkat bahaya bencana erosi dengan kategori sedang sebesar 13% dari total luas DAS dan berat sebesar 6% ditemukan pada wilayah dengan tutupan lahan berupa lahan terbangun dan ladang dengan kelerengan yang curam. 3. Kelas bahaya erosi sangat berat mempunyai persentase yang sangat kecil. Kurang dari 1% dari total luas kawasan DAS. 4. Pada beberapa wilayah dengan kategori tingkat bahaya erosi sedang dan berat, disebabkan oleh tingginya nilai LS (tingkat kelerengan yang tergolong curam). 4.2. Saran Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini, antara lain : Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014,(ISSN :2337-845X) 67

1. Data yang diperoleh sebaiknya dari instansi dan lembaga penyedia data yang sama. Kesalahan pembuatan data spasial atau peta sering diakibatkan karena perbedaan sumber. 2. Parameter seperti tutupan lahan berubah sepanjang tahun. Untuk itu diperlukan adanya data yang update agar dihasilkan perhitungan yang akurat. 3. Nilai pembobotan masing-masing parameter merupakan hasil dari penelitian terdahulu. Untuk itu nilai pembobotan tiap parameter harus lebih dikaji agar hasil perhitungan tepat. Daftar Pustaka Asdak, C. (2004) : Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Assyakur, A. (2002) : Prediksi Erosi Dengan Menggunakan Metode USLE dan Sistem Informasi Geografis (SIG) Berbasis Piksel Di Daerah Tangkapan Air Danau Buyan, Universitas Udayana, Bali. Departemen Kehutanan. (1998) : Pedoman Penyusunan Rencana Teknik Rehabilitasi Teknik Lapangan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai, Effendi R.S. (2000) : Pengendalian Erosi Tanah: Dalam Rangka Pelestarian Lingkungan Hidup, Bumi Aksara, Jakarta. Kironoto, B, A. (2003) : Hydraulics of Sedimen Transport, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Renard, K.G., Foster, G.R., Weesies, G.A., McCool, D.K., dan Yoder, D.C. (1997) : Predicting Soil Erosion by Water: A Guide to Conservation Planning With the Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE). US Department of Agriculture Handbook No. 703. Wischmeier, W. H. and Smith, D.D. (1978) : Predicting Rainfall Erosion Losses. A Guide to Conservation Planning. U. S Department of Agriculture, Agriculture Handbook No. 537. Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014,(ISSN :2337-845X) 68