Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

dokumen-dokumen yang mirip
ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

GLAUKOMA ABSOLUT POST TRABEKULEKTOMI DAN GLAUKOMA POST PERIFER IRIDEKTOMI

LAPORAN KASUS GLAUKOMA KRONIK

GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA

BAB I PENDAHULUAN. hilangnya serat saraf optik (Olver dan Cassidy, 2005). Pada glaukoma akan terdapat

GLAUKOMA DEFINISI, KLASIFIKASI, EPIDEMIOLOGI, ETIOLOGI, DAN FAKTOR RISIKO

BAB I PENDAHULUAN. (Dorland, 2010). Dalam keadaan normal, tekanan intraokular rata rata sekitar 15 mm

Anita's Personal Blog Glaukoma Copyright anita handayani

Obat Diabetes Melitus Dapat Menghindari Komplikasi Mata Serius

ABSTRAK GAMBARAN KELAINAN REFRAKSI ANAK USIA 6-15 TAHUN DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2012

Diagnosa banding MATA MERAH

ARTIKEL PENELITIAN. Putu Giani Anabella Bestari Putri 1, I Wayan Eka Sutyawan 2, AA Mas Putrawati Triningrat 2

SOP KATARAK. Halaman 1 dari 7. Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon SMF. Ditetapkan Oleh Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut data Riskesdas 2013, katarak atau kekeruhan lensa

BAB 1 PENDAHULUAN. diabetes retinopati (1%), penyebab lain (18%). Untuk di negara kita, Indonesia

A 66 YEARS OLD MAN WITH ACUTE PRIMARY ANGLE CLOSURE GLAUCOMA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Glaukoma adalah suatu neuropati kronik di dapat yang ditandai oleh

LAPORAN PENDAHULUAN GLAUKOMA STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DI RUMAH SAKIT UMUM BANYUMAS. Oleh: Rizka Rahmaharyanti, S.

Author : Aulia Rahman, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau. Pekanbaru, Riau. Files of DrsMed FK UNRI (

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMA PADA KORNEA DI RUANG MATA RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA. Trauma Mata Pada Kornea

ACUTE GLAUCOMA ON RIGHT EYE

Agia Dwi Nugraha Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M. KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN. beristirahat (tanpa akomodasi), semua sinar sejajar yang datang dari benda-benda

Glaukoma. 1. Apa itu Glaukoma?

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perbandingan Komplikasi Glaukoma Sekunder antara Pasien Post Operasi Tunggal dan Kombinasi Vitrektomi - Sklera Bukle

BAB I PENDAHULUAN. karakteristik optik neuropati yang berhubungan dengan menyempitnya lapang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kornea merupakan jaringan transparan avaskular yang berada di dinding depan bola mata. Kornea mempunyai fungsi

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki efek yang kuat dalam menurunkan tekanan intraokular (TIO)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menempati ruang anterior dan posterior dalam mata. Humor akuos

BAB III CARA PEMERIKSAAN

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENURUNAN TEKANAN INTRAOKULER PADA LASER IRIDOTOMI DENGAN POWER KURANG DARI 700mW DAN LEBIH DARI 700mW

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pencekungan cupping diskus optikus dan penyempitan lapang pandang yang

BAB 1 : PENDAHULUAN. dikumpulkan melalui indera penglihatan dan pendengaran.

BAB 1 PENDAHULUAN. kebutaan baik di dunia maupun di Indonesia. Menurut World Health. (10,2%), age-macular degeneration (AMD) (8,7%), trakhoma (3,6%),

PERBEDAAN TEKANAN INTRAOKULER PASCA OPERASI IRIDEKTOMI PERIFER DAN LASER IRIDOTOMI PADA GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERTUTUP AKUT PERIODE 1 JANUARI 2004

Lakukan pemeriksaan visus, refraksi terbaik dan segmen anterior.anamnesis

24 years old Male with Corneal Ulcer and Iris Prolapse Occuli Dextra

THT CHECKLIST PX.TELINGA

PROFIL GLAUKOMA SEKUNDER AKIBAT KATARAK SENILIS PRE OPERASI DI RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2011 DESEMBER 2011

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENURUNAN TEKANAN INTRAOKULER PADA LASER IRIDOTOMI DENGAN POWER KURANG DARI 700mW DAN LEBIH DARI 700mW

PERBANDINGAN PENURUNAN TEKANAN INTRAOKULER PADA TERAPI TIMOLOL MALEAT DAN DORSOLAMID PASIEN GLAUKOMA. Jurnal Media Medika Muda

ARTIKEL KARYA TULIS ILMIAH. Diajukan untuk memenuhi tugas dan Melengkapi syarat dalam menempuh Program Pendidikan Sarjana Fakultas Kedokteran

Gambar 2.1. Struktur interna dari mata manusia (Junqueria, 2007)

Tatalaksana Miopia 1. Koreksi Miopia Tinggi dengan Penggunaan Kacamata Penggunaan kacamata untuk pasien miopia tinggi masih sangat penting.

Muhammadiyah Yogyakarta, 2 Departemen Mata, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dalam kandungan dan faktor keturunan(ilyas, 2006).

II. TINJAUAN PUSTAKA. Seseorang dengan katarak akan melihat benda seperti tertutupi kabut, lensa mata

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Kornea merupakan lapisan depan bola mata, transparan, merupakan

GLAUCOMA. Glukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996)

Berdasarkan tingginya dioptri, miopia dibagi dalam(ilyas,2014).:

BAB I PENDAHULUAN. trauma mata dari satu negara dengan negara lain berbeda dan bahkan di dalam. wilayah di negara yang sama pun bisa bervariasi.

KELAINAN REFRAKSI PADA ANAK DI BLU RSU PROF. Dr. R.D. KANDOU

BAB I PENDAHULUAN. Mata adalah system optic yang memfokuskan berkas cahaya pada foto

[ LAPORAN KASUS ] [ LRA MANAGEMENT OF SECONDARY GLAUCOMA DUE TO SENILE CATARACT IN 56 YEARS OLD MAN. Arnia Faculty of Medicine, Universitas Lampung

Pengkajian Sistem Penglihatan Mula Tarigan, SKp. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bola mata terletak di dalam kavum orbitae yang cukup terlindung (Mashudi,

BAB I LAPORAN KASUS. ANAMNESIS Keluhan utama : Pasien mengeluh penglihatan mata kanan dan kiri buram sejak 4 hari lalu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Glaukoma. Apakah GLAUKOMA itu?

O P T I K dan REFRAKSI. SMF Ilmu Kesehatan Mata RSD Dr.Soebandi FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER

BAB 2 Tinjauan Pustaka

LAPORAN PENDAHULUAN GLAUKOMA

NORMAL TENSION GLAUCOMA (NTG)

PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita

BAB I. Pendahuluan. Saraf optik merupakan kumpulan akson yang berasal. dari sel-sel ganglion retina menuju khiasma nervus

Fakultas Kedokteran Universitas Jember 2015

BAB I PENDAHULUAN. penyakit. Lensa menjadi keruh atau berwarna putih abu-abu, dan. telah terjadi katarak senile sebesar 42%, pada kelompok usia 65-74

Evidence-based Treatment Of Acute Infective Conjunctivitis Breaking the cycle of antibiotic prescribing

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. depan atau belakang bintik kuning dan tidak terletak pada satu titik yang tajam. 16

MODUL SISTEM INDRA KHUSUS

Characteristics and Management of Anterior Segment Dysgenesis in Pediatric Ophthalmology

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Glaukoma merupakan suatu kumpulan gejala yang mempunyai

Data Administrasi diisi oleh Nama: NPM/NIP:

UNIVERSITAS INDONESIA

MATA visus 6/9 injeksi siliar keratic presipitate dan tyndall effect d. Iridosiklitis uveitis anterior e. segera

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PEMERIKSAAN FISIK (PHYSICAL ASSESMENT) Ulfatul Latifah, SKM

BAB I PENDAHULUAN. Leber Hereditary Optic Neuropathy (LHON) merupakan penyakit

BAB 1 PENDAHULUAN. sejak lahir (Ilyas S, 2006). Orang tua akan menyadari untuk pertama kali dengan

Wanita 65 Tahun Dengan Glaukoma Sekunder et Causa Katarak Senilis Hipermatur

BAB I PENDAHULUAN. total kebutaan di dunia, disebabkan oleh glaukoma. 1 Sedangkan di Indonesia,

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN

TATALAKSANA TRAUMA PADA MATA No.Dokumen No. Revisi 00

KELAINAN REFRAKSI YANG MENYEBABKAN GLAUKOMA

TINJAUAN PUSTAKA. tepat di retina (Mansjoer, 2002). sudah menyatu sebelum sampai ke retina (Schmid, 2010). Titik fokus

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. dalam proses refraksi ini adalah kornea, lensa, aqueous. refraksi pada mata tidak dapat berjalan dengan

BAB II. Kelainan refraksi disebut juga refraksi anomali, ada 4 macam kelainan refraksi. yang dapat mengganggu penglihatan dalam klinis, yaitu:

BAB II LANDASAN TEORI. bagian depan orbita (Moore et al., 2010). Pada anak baru lahir, rata-rata. atau dewasa (Vaughan dan Asbury, 2009)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

CONGENITAL GLAUCOMA Shitrai Eunice 1) 1) Medical Faculty University of Lampung Abstract Background. Primary congenital glaucoma is a common congenital glaucoma and eye disorder that accounts for 0.01 to 0.04% of the total blindness. Case. Girl, 15 years come complaints very blurred vision of both eyes, red eyes and pain since 8 years SMRs accompanied with dilated eyes, frequent watering and visual glare and headache on both sides intermittent. Patients gained consciousness compost mentis. Status generalist patients had head, nose, mouth, neck, chest (heart and lungs) of patients in the normal range. Status localist both eyes dilated, often watery, visual glare, pain on both sides of the head are intermittent, the patient 's sister also had the same complaint since the age of 5 years, a decrease in visual acuity, tensio oculi / ODS palpation, buffalo eye bulbus oculi, buftalmus (+), blue sclera (+) ODS, conjunctival injection (+), ciliary injection (+), injection episklera (+) ODS, corneal diameter enlarged, edema and murky ODS, ODS COA deep and murky, pupils irregular and not spherical, eccentric, light reflex (-) Diagnosis. Primary congenital glaucoma juvenile. Patients treated by Timolol 0.5% until, Pilocarpine 0.5%, Acetazolamide, KSR, Ibuprofen. Surgery with trabekulotomi. Conclusion. Primary congenital glaucoma occurs as a result of the cessation of the development of anterior structures camera angles at the age of about 7 months fetus. [Medula Unila.2014;2(3):111-117] Keywords: glaucoma, congenital glaucoma, trabeculotomy GLAUKOMA KONGENITAL Abstrak Latar belakang. Glaukoma kongenital primer merupakan glaukoma kongenital yang sering terjadi dan gangguan mata yang menyumbang 0,01-0,04% dari kebutaan total. Kasus. An. L, 15 tahun keluhan kedua mata sangat kabur, mata merah dan nyeri sejak 8 tahun SMRS disertai dengan kedua mata membesar, sering berair dan penglihatan silau serta nyeri kepala pada kedua sisi yang hilang timbul. Status generalis pasien didapatkan kepala, hidung, mulut, leher, dada (jantung dan paru) pasien dalam batas normal. Status lokalis kedua mata membesar, sering berair, penglihatan silau, nyeri kepala pada kedua sisi yang hilang timbul, adik pasien juga mengalami keluhan yang sama sejak usia 5 tahun, penurunan visus, tensio oculi/ palpasi ODS, bulbus oculi buffalo eye, buftalmus (+), blue sclera (+) ODS, injeksi konjungtiva (+), injeksi siliar (+), injeksi episklera (+) ODS, kornea diameter membesar, edema, dan keruh ODS, COA dalam dan keruh ODS, pupil irreguler dan tidak bulat, eksentrik, reflek cahaya (-). Diagnosis glaukoma juvenile kongenital primer. Pasien ditatalaksana dengan Timolol 0,5%, Pilocarpine 0,5%, Asetazolamide, KSR, Ibuprofen. Pembedahan dengan trabekulotomi. Simpulan. Glaukoma kongenital primer terjadi akibat terhentinya perkembangan struktur sudut kamera anterior pada usia janin sekitar 7 bulan. [Medula Unila.2014;2(3):111-117] Kata Kunci: glaukoma, glaukoma kongenital, trabekulotom Medula, Volume 2, Nomor 3, Maret 2014 111

Pendahuluan Glaukoma berasal dari kata Yunani glaukos yang artinya hijau kebiruan, yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita glaucoma (Ilyas, 2012). Glaukoma adalah neuropati optik yang disebabkan oleh tekanan intra okular (TIO) yang (relatif) tinggi, yang ditandai oleh kelainan lapangan pandang yang khas dan atrofi papil saraf optik (Suhardjo, 2007). Glaukoma kongenital jarang terjadi, 1 dari 10.000 kelahiran (Blanco et al., 2002). Glaukoma kongenital bermanifestasi sejak lahir pada 50% kasus, didiagnosis pada umur 6 bulan pada 70% kasus dan didiagnosis pada akhir tahun pertama pada 80% kasus (Vaughan, 2012). Glaukoma kongenital primer merupakan glaukoma kongenital yang sering terjadi (Blanco et al., 2002). Glaukoma kongenital primer adalah gangguan mata yang menyumbang 0,01-0,04% dari kebutaan total. Sebagian besar pasien (sekitar 60%) didiagnosis pada umur 6 bulan dan 80% yang didiagnosis dalam tahun pertama kehidupan. Sering terjadi pada laki-laki (sekitar 65%) dan keterlibatan biasanya bilateral (sekitar 70%) (Chakrabarti, 2011). Kebanyakan kasus glaukoma kongenital primer ini terjadi secara sporadik. Kira-kira 10% dari kasus ditemukan berhubungan dengan gen autosom resesif. Pada keadaan ini, kedua orang tua biasanya carrier heterozigot yang tidak memiliki sakit ini. Penelitian lain menunjukkan bahwa glaukoma kongenital ini dapat diturunkan melalui pola poligenetik. Hal ini mengacu pada persentase pria yang terpengaruh dan keterlibatan saudara kandung 3-11% dibanding dengan 25% yang diturunkan secara resesif. Kira-kira 3% dari saudara kandung dapat mempengaruhi jika dia laki-laki dan 0% bila dia perempuan. Pada awal 1998, dua gen glaukoma kongenital autosomal resesif dapat diidentifikasi yaitu: GLC3A pada kromosom 2p2l dan GLC3B pada kromosom lp36 (Blanco et al., 2002). Glaukoma kongenital yang berhubungan dengan anomali perkembangan segmen anterior yaitu Sindrom Axenfeld, Anomali Peter dan Sindrom Rieger. Perkembangan iris dan kornea juga abnormal. Penyakit-penyakit ini biasanya diwariskan secara dominan, walaupun dilaporkan ada kasus-kasus sporadik. Medula, Volume 2, Nomor 3, Maret 2014 112

Glaukoma timbul pada sekitar 50% dari mata dengan kelainan tersebut dan sering belum muncul sampai usia anak lebih tua atau dewasa muda (Vaughan, 2012). Kasus An. L, perempuan, 15 tahun, seorang pelajar SMA, berdomisili di Bandar Lampung, datang ke RSAM dengan keluhan penglihatan kedua mata sangat kabur disertai mata merah dan nyeri mata sejak 8 tahun SMRS disertai dengan kedua mata membesar, sering berair (epifora +) dan penglihatan silau (fotofobia +) serta nyeri kepala pada kedua sisi yang hilang timbul. Pasien mengaku awalnya penglihatan mata kirinya yang mulai kabur sejak umur 6 tahun, terkadang disertai nyeri mata kiri, nyeri kepala sisi kiri, dan mata merah. Ketika pasien berusia 12 tahun, pasien merasakan penglihatan mata kiri nya semakin kabur hanya melihat adanya cahaya. Hingga pasien berusia 13 tahun, penglihatan mata kanannya juga menjadi kabur disertai mata merah, nyeri mata, dan terkadang nyeri kepala sisi kanan yang hilang timbul. Riwayat orang tua atau keluarga generasi sebelum ayah atau ibu pasien memiliki kelainan mata saat kecil atau memiliki riwayat penyakit seperti ini sebelumnya disangkal. Adik pasien juga mengalami keluhan yang sama sejak usia 5 tahun. Pemeriksaan fisik pasien didapatkan kesadaran kompos mentis. Tekanan darah 100/70 mmhg, frekuensi nadi 84 x/menit, frekuensi pernapasan 24 x/menit, suhu 36,8ºC. Status generalis pasien didapatkan kepala, hidung, mulut, leher, dada (jantung dan paru) pasien dalam batas normal. Status lokalis kedua mata membesar, Sering berair (Epifora +), penglihatan silau (Fotofobia +), nyeri kepala pada kedua sisi yang hilang timbul, adik pasien juga mengalami keluhan yang sama sejak usia 5 tahun, penurunan visus (VOD= ½ /60 ; VOS= 1/ ~), tensio oculi N+2/palpasi ODS, bulbus oculi buffalo eye, buftalmus (+), blue sclera (+) ODS, injeksi konjungtiva (+), injeksi siliar (+), injeksi episklera (+) ODS, kornea diameter membesar, edema, dan keruh ODS, COA dalam dan keruh ODS, pupil irreguler dan tidak bulat, eksentrik, reflek cahaya (-). Medula, Volume 2, Nomor 3, Maret 2014 113

Pembahasan Pada pasien ini, diagnosis glaukoma juvenil kongenital primer ODS ditegakkan berdasarkan anamnesis yang didapatkan yaitu seorang anak perempuan berumur 15 tahun dengan keluhan penglihatan kedua mata sangat kabur disertai mata merah dan nyeri mata sejak 8 tahun SMRS disertai dengan kedua mata membesar, sering berair (epifora +) dan penglihatan silau (fotofobia +) serta nyeri kepala pada kedua sisi yang hilang timbul. Pasien mengaku awalnya penglihatan mata kirinya yang mulai kabur sejak umur 6 tahun, terkadang disertai nyeri mata kiri, nyeri kepala sisi kiri, dan mata merah. Ketika pasien berusia 12 tahun, pasien merasakan penglihatan mata kiri nya semakin kabur hanya melihat adanya cahaya. Hingga pasien berusia 13 tahun, penglihatan mata kanannya juga menjadi kabur disertai mata merah, nyeri mata, dan terkadang nyeri kepala sisi kanan yang hilang timbul. Riwayat orang tua atau keluarga generasi sebelum ayah atau ibu pasien memiliki kelainan mata saat kecil atau memiliki riwayat penyakit seperti ini sebelumnya disangkal. Adik pasien juga mengalami keluhan yang sama sejak usia 5 tahun. Penegakan diagnosis glukoma kongenital umumnya didasari pemeriksaan klinis. Komponen utama dalam penegakan diagnosis adalah terdapatnya buftalmos disebabkan oleh kenaikan TIO saat masih dalam kandungan dan mendesak dinding bola mata bayi yang masih lentur, akibatnya sklera menipis dan kornea akan membesar dan keruh (Suhardjo, 2007), ambliopia yang disebabkan oleh kekeruhan kornea atau kesalahan refraktif, peningkatan tekanan intraokuler adalah tanda cardinal (Vaughan, 2012), peningkatan diameter horizontal kornea melebihi 11,5 mm dianggap bermakna, insersi iris ke anterior dan pencengkungan diskus optikus akibat glaukoma merupakan kelainan yang terjadi relatif dini dan terpenting (Blanco et al., 2002). Glaukoma kongenital terjadi karena saluran pembuangan tidak terbentuk dengan baik atau bahkan tidak terbentuk sama sekali (Suhardjo, 2007). Glaukoma kongenital primer terjadi akibat terhentinya perkembangan struktur sudut kamera anterior pada usia janin sekitar 7 bulan (Vaughan, 2012). Diduga penyebabnya karena mutasi dari CYP1B1 pada kromosom 2p21 (Blanco et al., 2002). Medula, Volume 2, Nomor 3, Maret 2014 114

Pada glaukoma kongenital primer iris mengalami hipoplasia dan berinsersi ke permukaan trabekula didepan taji sklera yang kurang berkembang, sehingga jalinan trabekula terhalang dan timbul gambaran suatu membran (membran Barkan) yang menutupi sudut (Vaughan, 2012). Banyak cairan (humor akuos) terus menerus diproduksi tetapi tidak bisa didrainase karena tidak berfungsinya saluran drainase secara tepat. Oleh karena itu, jumlah cairan di dalam mata meningkat dan meningkatkan tekanan intraokular. Serat optik mata dapat rusak akibat tekanan intraokular yang terlalu tinggi (Urban, 2013). Glaukoma kongenital yang berhubungan dengan anomali perkembangan segmen anterior mencerminkan suatu spektrum gangguan perkembangan segmen anterior, yang mengenai sudut, iris, kornea, dan kadang-kadang lensa. Biasanya terdapat sedikit hipoplasia stroma anterior iris, disertai adanya jembatan-jembatan filamen yang menghubungkan stroma iris dengan kornea. Apabila jembatan filamen terbentuk di perifer dan berhubungan dengan garis Schwalbe yang mencolok dan tergeser secara aksial (embriotokson posterior), penyakit yang timbul dikenal sebagai Sindrom Axenfeld. Hal ini mirip dengan trabekulodisgenesis pada glaukoma kongenital primer. Apabila perlekatan iridokorneanya lebih luas yang disertai oleh disrupsi iris, dengan polikoria serta anomali tulang dan gigi, timbul apa yang disebut Sindrom Reiger (suatu contoh disgenesis iridotrabekula). Apabila perlekatannya adalah iris sentral dan permukaan posterior sentral kornea, penyakit yang timbul disebut anomali Peter (suatu contoh trabekulodisgenesis iridokornea) (Vaughan, 2012). Penatalaksanaan pada pasien ini yaitu pembedahan dengan trabekulotomi serta diberikan obat anti-glaukoma sampai pre-operasi. Pembedahan disini maksudnya membuat lubang pada trabekulum Meshwork supaya ada saluran pembuangan akuos humor. Pengobatan glaukoma kongenital primer yang esensial adalah dengan pembedahan. Goniotomi direkomendasikan pada anak lebih kecil dari 2-3 tahun dengan kornea jernih. Trabekulotomi direkomendasikan anak lebih dari 2-3 tahun dan pada semua umur dengan kornea berkabut yang menghalangi visualisasi adekuat. Jika kedua cara ini gagal, kombinasikan trabekulotomi dengan Medula, Volume 2, Nomor 3, Maret 2014 115

trabekulektomi dan antimetabolik, atau dapat dicoba glaucoma valve-shunt. Jika cara ini juga gagal, dapat dilakukan cyclodestruktif dengan laser (Mandal, 2007). Pembedahan lebih dipilih karena masalah dalam penggunaan obat, kurangnya pengetahuan tentang kumulatif dan efek sistemik obat pada bayi, dan respon yang jelek dari obat (Blanco et al., 2002). Obat-obat seperti antagonis beta adrenergic atau carbonic anhidrase inhibitor dapat digunakan dahulu sebelum pembedahan untuk mengontrol IOP dan menjernihkan kornea yang berkabut. Pembukaan trabekulum yang tidak sempurna dengan cara trabekulotomi yaitu pada kanalis Schelmm dimasukkan alat seperti probe kemudian probe diputar kearah COA sehingga jaringan trabekulum sobek atau terlepas, akibatnya terjadi hubungan langsung antara COA dan kanalis Schelmm (Werner, 2009). Tujuan pengobatan adalah untuk mempertahankan tajam penglihatan. Peninggian tekanan bola mata yang menetap akan menjurus ke arah rusaknya N. Optikus dan perubahan-perubahan permanent dari kornea yang akan mengganggu penglihatan. Pengontrolan tekanan bola mata adalah tujuan utama dari pengobatan. Bayi atau anak yang dicurigai mempunyai glaucoma congenital harus dilakukan pemeriksaan sesegera mungkin dengan narkose, terhadap besarnya kornea, tekanan bola mata, cup/disk ratio dari N. Optikus, dan sudut COA dengan gonioskopi (Ilyas, 2012). Simpulan. Bahwa glaukoma kongenital terjadi karena saluran pembuangan tidak terbentuk dengan baik atau bahkan tidak terbentuk sama sekali (Suhardjo, 2007). Glaukoma kongenital primer terjadi akibat terhentinya perkembangan struktur sudut kamera anterior pada usia janin sekitar 7 bulan (Vaughan, 2012). Diduga penyebabnya karena mutasi dari CYP1B1 pada kromosom 2p21 (Blanco et al., 2002). Daftar Pustaka Blanco AA, Wilson RP, Costa VP. Pediatric Glaukoma and Glauoma Associated with Developmental Disorders. In Textbook: Handbook of Glaucoma. Martin Dunitz Ltd 2002;10:147-51. Medula, Volume 2, Nomor 3, Maret 2014 116

Chakrabarti D, Mandal AK. Update on congenital glaucoma. Indian Journal Ophtamology. 2011;59(7):148-57. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2012. Mandal AK, Gothwal VK, Nutheti R. Surgical outcome of primary developmental glaucoma: A single surgeon s long-term experience from a tertiary eye care centre in India. Eye. 2007;21:764 74. Suhardjo, Hartono. Ilmu Kesehatan Mata. Yogyakarta: Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, 2007. Urban, Robert C. Primary Congenital Glaucoma. [diakses 12 April 2013]. Diunduh dari: http://www.emedicinehealth.com. Vaughan DG, Eva RP. Glaukoma. Dalam: Vaughan DG, Asbury T, Eva PR. Oftalmologi Umum. Ed 17 th. Jakarta: Widya Medika, 2012. Werner M, Grajewski A. Further surgical options in children. In: Shaarawy TM, Sherwood MB, Hitchings RA, Crowston JG, editors. Glaucoma Surgical management. Vol. 2. Elsevier; 2009; pp. 507 9. Medula, Volume 2, Nomor 3, Maret 2014 117