HUBUNGAN LUAS DAN TEMPERATUR UMBRA SUNSPOT MENGGUNAKAN SOFTWARE INTERACTIVE DATA LANGUAGE (IDL)

dokumen-dokumen yang mirip
Ikhlasul-pgsd-fip-uny/iad. Raja Kerajaan Tata Surya

KLASIFIKASI DAN PERUBAHAN JUMLAH SUNSPOT DIAMATI DARI LABORATORIUM ASTRONOMI JURUSAN FISIKA FMIPA UM PADA BULAN AGUSTUS OKTOBER 2012

PENGUKURAN TEMPERATUR FLARE DI LAPISAN KROMOSFER BERDASARKAN INTENSITAS FLARE BERBASIS SOFTWARE IDL (INTERACTIVE DATA LANGUAGE) Abstrak

STRUKTUR MATAHARI DAN FENOMENA SURIA

BAB 13 STRUKTUR BUMI DAN STRUKTUR MATAHARI

BAB I PENDAHULUAN. yang landas bumi maupun ruang angkasa dan membahayakan kehidupan dan

IPA TERPADU KLAS VIII BAB 14 BUMI, BULAN, DAN MATAHARI

ANALISA KEJADIAN LUBANG KORONA (CORONAL HOLE) TERHADAP NILAI KOMPONEN MEDAN MAGNET DI STASIUN PENGAMATAN MEDAN MAGNET BUMI BAUMATA KUPANG

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDRAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH UMUM

seperti sebuah bajak, masyarakat Cina melihatnya seperti kereta raja yang ditarik binatang, dan masyarakat Jawa melihatnya seperti bajak petani.

SOAL PILIHAN GANDA ASTRONOMI 2008/2009 Bobot nilai masing-masing soal : 1

I. PENDAHULUAN II. TINJAUAN PUSTAKA

TATA SURYA Presentasi Geografi

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS

Ide Dasar: Matahari dan bintang-bintang menggunakan reaksi nuklir fusi untuk mengubah materi menjadi energi. Bintang padam Ketika bahan bakar

SIFAT BINTANG. Astronomi. Ilmu paling tua. Zodiac of Denderah

Daftar Isi. Tata Surya. Matahari. Gerak edar bumi dan bulan. Lithosfer. Atmosfer.

Tata Surya. karena planet bergerak mengedari matahari. Planet tidak dapat. planet hampir berbentuk lingkaran. Pada awal abad ke-17 Johanes Kepler

Analisis Terjadinya Flare Berdasarkan Pergeseran Sudut Rotasi Group Sunspot pada Bulan Januari Maret 2015 Melalui LAPAN Watukosek

SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2014 CALON TIM OLIMPIADE ASTRONOMI INDONESIA 2015

ABSTRAK. Kata Kunci: Sunspot, Aktivitas Matahari, Klasifikasi Mcintosh, Flare

PEKERJAAN RUMAH SAS PERTEMUAN-1 DAN PERTEMUAN-2 A.Pilihan Ganda

BAB I PENDAHULUAN. Matahari adalah sebuah objek yang dinamik, banyak aktivitas yang terjadi

BAB VII TATA SURYA. STANDAR KOMPETENSI : Memahami Sistem Tata Surya dan Proses yang terjadidi dalamnya.

SISTEM TATA SURYA. Matahari merupakan salah satu bintang yang menghiasi galaksi Bima sakti. Suhu

Apakah bintang itu? Jika malam datang dan langit sedang cerah, pergilah ke halaman rumah lalu

RINGKASAN MATERI TATA SURYA

Medan Magnet Benda Angkasa. Oleh: Chatief Kunjaya KK Astronomi ITB

BUMI DAN ALAM SEMESTA

SOAL SELEKSI PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL BIDANG ASTRONOMI

BAB I PENDAHULUAN. Tidak hanya di Bumi, cuaca juga terjadi di Antariksa. Namun, cuaca di

FENOMENA ASTRONOMI SISTEM BUMI, BULAN & MATAHARI

Analisis Terjadinya Flare Berdasarkan Pergeseran Sudut Rotasi Group Sunspot pada Bulan Januari Maret 2015 Melalui LAPAN Watukosek

PLANET DAN SATELITNYA. Merkurius

SELEKSI TINGKAT PROVINSI CALON PESERTA INTERNATIONAL ASTRONOMY OLYMPIAD (IAO) TAHUN 2009

Bintik Matahari dan Spektrum Matahari

Seputar ATMOSFER Asal katanya dari atmos dan shaira (bahasa Yunani), yang artinya atmos : uap, shaira : bulatan. Jadi, atmosfer adalah lapisan gas

indahbersamakimia.blogspot.com Soal Olimpiade Astronomi Tingkat Provinsi 2011, Waktu : 150 menit

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tari Fitriani, 2013

6massa udara yg terdapat pd seluas 1 cm 2 : 1,02 kg6. Massa total atmosfer : 1,02 kg x ( luas permukaan bumi) : kg

Sistem Tata surya. Maulana Pandudinata 9F/09

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDRAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SMA

FISIKA 2014 TIPE A. 30 o. t (s)

BAB I PENDAHULUAN. Matahari merupakan sumber energi terbesar di Bumi. Tanpa Matahari

- - TATA SURYA - - sbl5surya

Bab II Tinjauan Pustaka

Planet-planet dalam sistem tatasurya kita

Pengertian Planet, Macam-Macam Planet Serta Ciri-Cirinya

01. Perhatikan gambar di bawah ini!

BAB I PENDAHULUAN. Agro Klimatologi ~ 1

CALON TIM OLIMPIADE ASTRONOMI INDONESIA 2015

MARI MENGENALI MATAHARI

Radio Aktivitas dan Reaksi Inti

PEMANASAN BUMI BAB. Suhu dan Perpindahan Panas. Skala Suhu

Saturnus, Planet Bercincin

PETA KONSEP. Revolu si. Rotasi. Mataha ri TATA SURYA. satelit buata n. satelit. alami. satelit. Bulan. palapa. Kalender Masehi. Revolu si.

SISTEM PENJEJAK POSISI MATAHARI DENGAN MEMANFAATKAN LIGHT DEPENDENT RESISTOR (LDR)

Analisis Distribusi Temperatur Atmosfer Matahari saat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Palu, Sulawesi Tengah

KELOMPOK I. Raditya Budi Satria ( ) Imelsa Heni Priyayik ( ) Sergius Prastowo ( ) Rina Metasari ( )

ANCAMAN BADAI MATAHARI

Satuan Besaran dalam Astronomi. Dr. Chatief Kunjaya KK Astronomi ITB

Jupiter: Dewa Zeus. Planet kelima dalam Tata Surya kita adalah Jupiter. Jupiter

STRUKTUR BUMI. Bumi, Tata Surya dan Angkasa Luar

Silabus IPA Fisika SMP dan MTs Jilid 3 1

Atmosf s e f r e B umi

Ikhlasul-pgsd-fip-uny/iad. Uranus, planet tidak taat aturan

ATMOSFER I. A. Pengertian, Kandungan Gas, Fungsi, dan Manfaat Penyelidikan Atmosfer 1. Pengertian Atmosfer. Tabel Kandungan Gas dalam Atmosfer

SOAL OLIMPIADE SAINS NASIONAL SMP SELEKSI TINGKAT KABUPATEN/KOTA TAHUN 2007

Pemanasan Bumi. Suhu dan Perpindahan Panas

Ikhlasul-pgsd-fip-uny/iad. Bumi, Berlian biru alam semesta

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK UTARA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA MUSYAWARAH KERJA KEPALA SEKOLAH (MKKS) SMA TRY OUT UJIAN NASIONAL 2010

SOAL UJI VALIDITAS PRETES DAN POSTES. Sekolah : SD N Salatiga 02. Waktu : 35 menit

7. EVOLUSI BINTANG 7.1 EVOLUSI BINTANG PRA DERET UTAMA

Atmosphere Biosphere Hydrosphere Lithosphere

SOAL SIAP UN SMP TAHUN PELAJARAN 2008 / 2009

HIDROMETEOROLOGI TATAP MUKA KEEMPAT (RADIASI SURYA)

Rancang Bangun Spektrofotometer untuk Analisis Temperatur Matahari di Laboratorium Astronomi Jurusan Fisika UM

Horizontal. Kedalaman. Laut. Lintang. Permukaan. Suhu. Temperatur. Vertikal

JAWABAN DAN PEMBAHASAN

FISIKA MODERN UNIT. Radiasi Benda Hitam. Hamburan Compton & Efek Fotolistrik. Kumpulan Soal Latihan UN

Atmosfer Bumi. Ikhlasul-pgsd-fip-uny/iad. 800 km. 700 km. 600 km. 500 km. 400 km. Aurora bagian. atas Meteor 300 km. Aurora bagian. bawah.

DAMPAK AKTIVITAS MATAHARI TERHADAP CUACA ANTARIKSA

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

SOAL FISIKA UNTUK TINGKAT KAB/KOTA Waktu: 120 menit. Laju (m/s)

SMP kelas 9 - FISIKA BAB 4. SISTEM TATA SURYALatihan Soal 4.1. (1) Yupiter Berupa gas dan massanya terbesar diantara planet tata surya

Low Mass X-ray Binary

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi Matahari mengalami perubahan secara periodik dalam skala waktu

Oleh : Chatief Kunjaya. KK Astronomi, ITB

BBM 8. RADIASI ENERGI MATAHARI Oleh : Andi Suhandi

SOAL FISIKA UNTUK TINGKAT KAB/KOTA. Laju (m/s)

PEMANFAATAN ENERGI SURYA UNTUK MEMANASKAN AIR MENGGUNAKAN KOLEKTOR PARABOLA MEMAKAI CERMIN SEBAGAI REFLEKTOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagai bintang yang paling dekat dari planet biru Bumi, yaitu hanya berjarak sekitar

TUGAS PRESENTASI ILMU PENGETAHUAN BUMI & ANTARIKSA ATMOSFER BUMI

MENGAPA ENERGI GELAP SANGAT RINGAN SEKALI. Ahmad Sudirman

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 5. DINAMIKA ATMOSFERLATIHAN SOAL 5.1. argon. oksigen. nitrogen. hidrogen

SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2014 CALON TIM OLIMPIADE ASTRONOMI INDONESIA 2015

ARSIP SOAL UJIAN NASIONAL FISIKA (BESERA PEMBAHASANNYA) TAHUN 1996

GERHANA MATAHARI DAN GERHANA BULAN

SMP kelas 9 - FISIKA BAB 4. SISTEM TATA SURYALatihan Soal 4.6

Transkripsi:

HUBUNGAN LUAS DAN TEMPERATUR UMBRA SUNSPOT MENGGUNAKAN SOFTWARE INTERACTIVE DATA LANGUAGE (IDL) Dian Ameylia Sushanti 1), Bambang Setiahadi P. 2), Sutrisno 3) Universitas Negeri Malang Email: dian.ameylia12@ymail.com 1),2),3) Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Malang Abstrak: Matahari merupakan pusat Tata Surya. Matahari juga merupakan sebuah bintang, karena memancarkan cahayanya sendiri. Matahari memiliki diameter sekitar 1.392.684 Km atau kira-kira 109 kali diameter Bumi. Salah satu aktivitas Matahari yang dapat diamati adalah Bintik Matahari ( Sunspot). Bintik Matahari (sunspot) adalah bagian dari permukaan Matahari (fotosfer) yang dipengaruhi oleh aktivitas magnetik hebat yang mengakibatkan terhambatnya konveksi sehingga membentuk daerah yang bersuhu lebih dingin. Sunspot memiliki suhu sekitar 4000-5000 o K, berbeda dengan materi di sekelilingnya mengakibatkan daerah ini tampak sebagai titiktitik gelap. Hal tersebut dikarenakan intensitas sebuah benda hitam yang dipanasi adalah sama dengan temperatur berpangkat empat. Pada sunspot terdapat daerah yang paling gelap di bagian inti yang disebut dengan umbra. Pada bagian ini memiliki medan magnet yang paling kuat. Sedangkan, bagian yang lebih terang yang berada disekeliling umbra disebut penumbra. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode deskriptif yaitu suatu penelitian yang bertujuan memberikan gambaran tentang realitas pada objek yang diteliti secara objektif. Peneliti mengukur intensitas umbra sunspot dan intensitas fotosfer menggunakan software Interactive Data Language (IDL). Menghitung temperatur umbra sunspot berdasarkan intensitas umbra sunspot dan intensitas fotosfer. Serta menghitung luas umbra sunspot dengan mengasumsikan bahwa umbra sunspot berbentuk elips. Hasil data yang diperoleh kemudian dianalisis dan diplot dalam grafik. Pada data luas umbra sunspot dibandingkan antara luas umbra sebelum dikalikan dengan faktor koreksi dengan luas umbra yang telah dikalikan dengan faktor koreksi. Dari hasil data yang telah dianalisis didapat bahwa ketika luas umbra semakin besar, maka temperatur juga akan bernilai besar. Kata Kunci: Matahari, Luas, Temperatur, Umbra Sunspot Abstract: The Sun is the center of the Solar System. The Sun is also called a star because it emits its own light. Its diameter is about 1.392.684 km or approximately 109 times of the Earth s diameter. One of the Sun s activity that can be observed is Sunspot. Sunspots are parts of the solar surface (photosphere) which are influenced by the great magnetic activity that results convection inhibition to form cooler areas. The temperature of Sunspots is about 4000-5000 K which is different from its surrounding materials and it makes this area appear as dark dots. This happens because the intensity of a heated black body is equal to rank-four temperature. In the Sunspot, there are darkest parts in its core and these darkest parts are called umbra. These parts have the most powerful magnetic field. Meanwhile, the lighter part around the umbra is called penumbra. The research method used in this study is descriptive method. This method aims to provide a real picture of the object that is investigated objectively. The researcher measured the intensity of the sunspot umbra and the photosphere by using Interactive Data Language (IDL) software, calculated the temperature of sunspot umbra based on the intensity of sunspot umbra and the photosphere, and calculated the area of sunspot umbra by assuming that the sunspot umbra is elliptical. The results of the obtained data were analyzed and plotted in the graph. In the data, the sunspot umbra area before being multiplied by the correction factor is compared to the sunspot umbra area after being multiplied by the correction factor. From this data analysis, it is known that the wider the umbra is, the higher the temperature is. Key Words: Sun, Width, Temperature, Umbra Sunspot 1

2 PENDAHULUAN Matahari merupakan pusat dari Tata Surya. Memiliki bentuk hampir bulat, terdiri dari plasma panas bercampur medan magnet. Matahari merupakan sebuah bintang, karena Matahari memancarkan cahayanya sendiri. Matahari memiliki diameter sekitar 1.392.684 km atau kira-kira 109 kali diameter Bumi. Matahari berwarna putih, namun tampak berwarna kuning jika dilihat dari permukaan Bumi. Hal tersebut dikarenakan adanya peleburan cahaya biru di atmosfer. Matahari telah menghangatkan Bumi selama milyaran tahun. Sebagian besar energi yang digunakan di Bumi berasal dari Matahari. Aktivitas Matahari yang dapat diamati dari Bumi adalah aktivitas yang terjadi pada lapisan fotosfer, kromosfer, dan korona Matahari. Pada Matahari terjadi fenomenafenomena yang disebut sebagai aktivitas Matahari seperti timbul badai Matahari ( flare) dan bintik Matahari (sunspot). Badai Matahari (flare) terjadi pada kromosfer Matahari. Flare merupakan ledakan yang terjadi di Matahari akibat bertemunya dua atau lebih garis-garis gaya magnet yang saling berlawanan sehingga timbul rekoneksi. Flare dapat memancarkan radiasi gelombang yang dapat menimbulkan kerusakan pada satelit yang terpasang di antariksa, karena mungkin terkena efek dari badai Matahari (flare). Selain badai Matahari ( flare), Matahari juga mengalami bintik Matahari (sunspot). Bintik Matahari ( sunspot) adalah bagian dari permukaan Matahari (fotosfer) yang dipengaruhi oleh aktivitas magnetik hebat yang mengakibatkan terhambatnya konveksi sehingga membentuk daerah yang bersuhu lebih dingin. Sunspot memiliki suhu sekitar 4000-5000 K, berbeda dengan materi di sekelilingnya yang berkisar sekitar 5800 K mengakibatkan daerah ini tampak jelas sebagai titik-titik gelap. Hal tersebut dikarenakan intensitas sebuah benda hitam yang dipanasi adalah sama dengan T (temperatur) berpangkat empat. Pada sunspot terdapat daerah yang paling gelap di bagian inti yang disebut dengan umbra. Pada bagian ini memiliki medan magnet yang paling kuat. Sedangkan, bagian yang lebih terang yang berada disekeliling umbra disebut penumbra. Sunspot memiliki siklus 11 tahunan. Sunspot melepaskan energi listrik dan mengirimkan pancaran-pancaran elekron bermuatan negatif yang dilontarkan ke ruang angkasa [8]. Satu grup sunspot terdiri dari puluhan spot dengan berbagai ukuran. Setiap grup memiliki jangka hidup yang beragam, mulai dari beberapa hari (grup sunspot dengan anggota sunspot kecil) hingga beberapa bulan (grup sunspot dengan anggota sunspot besar). Oleh karena itu, grup sunspot dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelas. Terdapat dua klasifikasi grup sunspot. Pertama, klasifikasi Zurich yang dikemukakan oleh Waldmeier pada tahun 1955. Klasifikasi tersebut berdasarkan atas kondisi karakteristik yang dilewati oleh grup sunspot selama proses perkembangannya dan penurunannya. Klasifikasi Zurich dibagi dalam sembilan kelas, yaitu kelas A,B,C,D,E,F,G,H, dan J. Kedua, klasifikasi McIntosh yang adalah klasifikasi grup sunspot yang merupakan perubahan dan penyempurnaan dari klasifikasi Zurich. Klasifikasi McIntosh menggunakan penulisan tiga huruf, yaitu Zpc. Huruf pertama Z merupakan modifikasi dari klasifikasi Zurich. Huruf kedua p menunjukkan bentuk penumbra pada spot yang terbesar di dalam grup. Kemudian huruf ketiga c menunjukkan distribusi sunspot yang membentuk grup. Penelitian ini dilakukan dengan empat tujuan. Tujuan yang pertama adalah mengukur luas umbra sunspot. Kedua mengukur intensitas umbra pada sunspot dan intensitas fotosfer menggunakan softwere IDL. Ketiga menghitung temperatur umbra sunspot berdasarkan pengukuran intensitas umbra pada sunspot dan intensitas fotosfer dan keempat menghubungkan antara luas umbra sunspot dengan teperatur.

3 KAJIAN PUSTAKA 1. Matahari Matahari terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu akibat peluruhan gravitasi suatu wilayah di dalam sebuah awan molekul besar. Bentuknya nyaris bulat dan terdiri dari plasma panas bercampur medan magnet [4]. Matahari adalah bintang, karena Matahari memancarkan cahaya yang dihasilkan sendiri. Matahari adalah bintang yang paling dekat dengan Bumi. Jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari adalah 1 AU ( Astronomical Unit) atau dapat dinyatakan sebagai Satuan Astronomi. 1 AU senilai dengan 1,496 x 10 8 km, atau setara dengan 150 juta km. Dengan mengetahui nilai dari 1 AU, maka diperoleh massa Matahari sebesar 1,990 x 10 30 kg. Atau dibulatkan menjadi 2 x 10 30 kg. Massa Matahari senilai dengan 333.000 kali massa Bumi atau 1000 kali massa Jupiter [7]. Diameter Matahari sekitar 14 x 10 5 km atau senilai dengan 109 kali diameter Bumi. Matahari terbentuk dari gas hidrogen dan helium. Senyawa penyusun lainnya terdiri dari besi, nikel, silikon, sulfur, magnesium, karbon, neon, kalsium, dan kromium. Cahaya Matahari berasal dari hasil reaksi fusi hidrogen menjadi helium. Transformasi (perubahan) hidrogen menjadi helium, menghasilkan energi matahari dari reaksi inti berikut : 4 1 H 1 2 He 4 + 2e + + Energi 2. Struktur Matahari Matahari memiliki enam lapisan yang masing-masing memiliki karakteristik tertentu. Berdasarkan letaknya keenam lapisan tersebut dibedakan kembali menjadi dua yaitu lapisan luar dan lapisan dalam. Lapisan dalam terdiri dari inti Matahari, lapisan radiatif dan lapisan konvektif. Sedangkan lapisan luar terdiri dari fotosfer, kromosfer, dan korona. a. Inti adalah area terdalam dari Matahari yang merupakan tempat terjadinya reaksi fusi nuklir (termonuklir) dari hidrogen menjadi helium. Matahari memiliki temperatur sekitar 15 juta derajad Celcius. Berdasarkan perbandingan diameter, bagian inti berukuran seperempat jarak dari pusat ke permukaan dan 1/64 total volume Matahari. Kepadatannya sekitar 150 gr/cm 3. b. Zona radiatif merupakan daerah yang menyelubungi inti Matahari. Energi yang berasal dari inti Matahari akan berkumpul di daerah ini melalui radiasi sebelum diteruskan ke lapisan yang lebih luar (zona konvektif). Lapisan radiatif memiliki temperatur 8x10 3 K di perbatasan dengan inti dan 5x10 5 K di perbatasan dengan lapisan konvektif. Lapisan radiatif kurang lebih dibawah 0,7 radius Matahari, material Matahari cukup panas dan padat sampaisampai radiasi termal adalah cara utama untuk menstransfer energi dari inti. Lapisan ini tidak diatur oleh konveksi termal, tetapi temperaturnya turun dari kira-kira 7 juta ke 2 juta K seiring bertambahnya jarak dari inti. c. Zona Konvektif merupakan lapisan terluar Matahari, dari permukaannya sampai kirakira 200.000 km dibawahnya (70% radius Matahari dari pusat), temperaturnya lebih rendah daripada di lapisan radiatif. Pada lapisan ini temperatur mulai menurun. Suhu pada lapisan konvektif sekitar 2 juta o C. Saat berada pada zona konvektif, pergerakan atom akan terjadi secara konveksi di area sepanjang beberapa ratus kilometer yang tersusun dari sel-sel gas raksasa yang terus bersirkulasi. Zona konvektif juga disebut dengan zona pendidihan ( the boiling zone). d. Fotosfer berupa gas yang tebalnya hanya 100 km dengan suhu sekitar 5.500 derajad Celcius. Lapisan ini memancarkan cahaya yang sangat kuat. Oleh kaena itu, fotosfer juga disebut lapisan cahaya. Lapisan ini bergolak seperti laut penuh badai yang disebabkan oleh kantong-kantong gas panas yang terus menerus bergelembung ke atas dari bagian dalam. Hal ini menyebabkan permukaannya terlihat berbercak-bercak, suatu efek yang dikenal sebagai granulasi [7].

4 e. Kromosfer adalah lapisan gas di atas fotosfer yang tebalnya sekitar 16.000 km. Oleh karena itu, kromosfer sering disebut sebagai lapisan atmosfer Matahari. Temperatur kromosfer diperkirakan sekitar 4.000 K makin ke atas temperatur kromosfer makin tinggi. Pada lapisan yang paling atas temperatur kromosfer diperkirakan mencapai 10.000 K. Warna dari kromosfer tidak terlihat karena tertutup oleh cahaya sangat terang yang dihasilkan fotosfer. Kromosfer dapat dilihat ketika terjadi gerhana Matahari total, dimana Bulan menutupi fotosfer. Bagian kromosfer akan terlihat seperti bingkai berwarna merah disekeliling Matahari, yang disebabkan oleh tingginya kandungan helium pada kromosfer. f. Korona merupakan lapisan terluar dari Matahari. Lapisan ini berwarna putih, namun hanya dapat dilihat saat terjadi gerhana, karena cahaya yang dipancarkan tidak sekuat bagian Matahari yang lebih dalam. Korona yag menyebar di sekeliling Matahari dapat terlihat pada saat terjadi gerhana Matahari (total), meluas jutaan kilometer dari Matahari seperti karangan bunga sinar yang merupakan perpanjangan dari atmosfer dibawahnya yaitu fotosfer dan kromosfer yang penuh dengan aktivitas medan magnet. 3. Pergerakan Matahari Matahari berotasi pada sumbunya selama 27 hari untuk mencapai satu putaran. Gerakan rotasi dapat diketahui melalui pengamatan terhadap perubahan posisi bintik Matahari ( Sunspot). Sumbu rotasi Matahari miring sejauh 7,25 o dari sumbu orbit Bumi. Matahari tidak berbentuk bola padat, melainkan suatu bola gas, sehingga matahari tidak berotasi dengan kecepatan yang seragam. Bagian ekuatorial memerlukan waktu rotasi sekitar 27 hari, sedangkan bagian kutubnya berotasi sekitar 30 hari. 4. Ciri Khas Matahari Matahari memiliki beberapa bagian yang menjadikannya sebagai suatu ciri khas yang hanya dimiliki matahari. Ciri khas tersebut antara lain seperti bintik matahari (sunspot). 1) Bintik Matahari adalah granula-granula cembung kecil yang ditemukan di bagian fotosfer Matahari yang dipengaruhi oleh aktivitas magnetik hebat yang mengakibatkan terhambatnya konveksi dengan jumlah yang tidak terhitung. Bintik matahari tercipta saat garis medan magnet Matahari menembus bagian fotosfer. Bagian matahari memiliki daerah gelap bernama umbra yang dikelilingi oleh daerah yang lebih terang yang disebut penumbra. Warna bintik matahari terlihat lebih gelap karena suhunya yang jauh lebih rendah dari fotosfer. Suhu daerah unbra sekitar 2.200 o C, sedangkan suhu daerah penumbra adalah 3.500 o C [7]. 5. Radiasi Benda Hitam Benda hitam merupakan penyerap semua radiasi elektromagnet yang mengenainya, atau mengemisi semua radiasi elektromagnet yang dimilikinya. Berdasarkan termodinamika, temperatur dipengaruhi atau bergantung pada distribusi panjang gelombang spektrumnya, bukan dipengaruhi oleh jenis bahan hitam. Semua cahaya yang dipancarkan oleh benda hitam merupakan disebut dengan radiasi benda hitam. Radiasi benda hitam adalah radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh sebuah benda hitam. Radiasi ini menjangkau seluruh daerah panjang gelombang. Distribusi energi pada daerah panjang gelombang ini memiliki ciri khusus, yaitu suatu nilai maksimum pada panjang gelombang tertentu. Letak nilai maksimum tergantung pada temperatur yang akan bergeser ke arah panjang gelombang pendek seiring dengan meningkatnya temperatur. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu suatu penelitian yang bertujuan memberikan gambaran tentang realitas pada objek yang

5 diteliti secara objektif. Adapun pada penelitian ini yang dilakukan yaitu mengambil gambar umbra sunspot kemudian dikonversi kedalam software IDL. Kemudian dari gambar tersebut dihitung luas umbra sunspot dan intensitas umbra sunspot untuk mengetahui temperatur umbra sunspot menggunakan software IDL. Penelitian ini juga dilakukan dalam beberapa tahapan dalam pengambilan data : 1. Mengambil beberapa gambar sunspot. 2. Mengkonversi gambar dalam bentuk jpeg. 3. Mengkonversi gambar dalam bentuk greyscale. 4. Mengkonversi data sunspot ke dalam softwere IDL. Adapun tahapan dalam analisis data adalah sebagai betrikut : 1. Menentukan intensitas fotosfer dengan menggunakan softwere IDL. 2. Menentukan intensitas umbra sunspot dengan menggunakan softwere IDL. 3. Menentukan luas umbra sunspot dengan menggunakan softwere IDL. 4. Memasukkan data yang diperoleh (intensitas fotosfer dan intensitas umbra sunpot) ke dalam Ms. Excel untuk menghitung temperatur umbra sunspot. 5. Memasukkan data yang diperoleh ( empat titik dari empat sisi umbra sunpot) ke dalam Ms. Excel untuk menghitung luas umbra sunspot. 6. Membuat grafik hubungan antara luas dengan temperatur umbra sunspot. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hubungan Antara Luas Umbra Sunspot dengan Temperatur a. Sebelum Dikoreksi Gambar 4.1 Grafik Hubungan Luas dengan Temperatur Umbra Sunspot Setelah Dikalikan Faktor Koreksi b. Setelah Dikoreksi Gambar 4.2 Grafik Hubungan Luas dengan Temperatur Umbra Sunspot Sebelum Dikalikan Faktor Koreksi Dari Gambar grafik 4.1 dan 4.2 terlihat bahwa hubungan antara luas dan temberatur berpangkat empat (T 4 ) umbra sunspot adalah berbanding lurus. Ketika luasnya semakin besar, maka temperaturnya juga semakin besar. Adanya persebaran titik dikarnakan hubungan antara keduannya lemah. Berdasarkan pada Gambar grafik 4.1 dan 4.2 setelah dilinearkan didapatkan persamaan yang sama yaitu, y = 2 x 10 9 X + 7 x 10 14 dengan nilai R² = 0,058. Hal tersebut dikarenakan luas sebelum dan sesudah dikalikan faktor koreksi tidak terdapat perbedaan yang besar.

6 2. Hubungan Antara Diameter dan Temperatur Gambar 4.3 Grafik Hubungan Diameter dengan Temperatur Umbra Sunspot Dari Gambar grafik 4.3 juga terlihat bahwa hubungan antara diameter dan temperatur berpangkat empat (T 4 ) umbra sunspot berbanding lurus. Ketika diameter bernilai besar, maka temperaturnya juga semakin besar. Data diameter yang digunakan adalah diameter pada koordinat sumbu vertikal atau searah sumbu y, karena tidak dipengaruhi pergerakan Matahari. Dari grafik terlihat setelah dilogaritmikkan diperoleh persamaan garis y = 3 x 10 13 X + 6 x 10 14 dengan nilai R² = 0,067. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Dari hasil pengukuran, luas umbra yang diperoleh dalam penelitian adalah berkisar antara 30372.771 km < L < 167040.789 km. 2. Dari hasil pengukuran intensitas umbra bernilai lebih kecil debandingkan intensitas fotosfer. 3. Dari hasil perhitungan berdasarkan intensitas umbra dan intensitas fotosfer, diperoleh besar temperatur umbra berkisar antara 5766 K < T < 5827 K. 4. Dari grafik yang dihasilkan dari data yang telah diperoleh, terlihat bahwa hubungan antara luas umbra dengan temperatur berpangkat empat (T 4 ) adalah semakin besar luas umbra, maka temperaturnya juga semakin besar. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, maka saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut : 1. Sebaiknya berhati-hati ketika luas umbra sunspot semakin besar. Karena semakin besar umbra sunspot maka temperaturnya akan semakin besar pula. Sehingga dapat terjadi flare (Ledakan Matahari). Terjadinya flare dapat mengakibatkan terganggunya satelit serta komunikasi di Bumi. 2. Sebaiknya pengamatan dan penelitian umbra sunspot ritin dilakukan. Karena dampak yang dapat ditimbulkan dapat berbahaya bagi Bumi. DAFTAR PUSTAKA 1. Fisika Kuantum. (Online), (http://phys.unpad.ac.id/wp- content/uploads/2009/03/fisika- Kuantum.pdf), diakses pada 24 November 2014 2. Haryanti, Diah Sukma. 2013. Hubungan Antara Intensitas Sinar Matahari Dan Kandungan Oksigen (O 2 ) Di Atmosfer Pada Lapisan Troposfer Sampai Lapisan Eksosfer Menggunakan Teleskop Spektograf Atmosfer Di Lapan Watukosek Periode Juni 2012-Mei 2013. Skripsi tidak diterbitkan: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. 3. Maulana, Puri. 2013. Pengertian Radiasi Benda Hitam. (Online), (http://perpustakaancyber.blogspot.com /2013/04/pengertian-radiasi-bendahitam-radiasi-panas-rumus-contohsoal-jawaban-intensitas-fisikapraktikum.html?m=1), diakses pada 24 November 2014

4. Pertiwi, Nani. 2014. Pengukuran Temperatur Flare Di Lapisan Kromosfer Matahari Berdasarkan Intensitas Flare Berbasis Softwere Interactive Data Language (IDL). Skripsi tidak diterbitkan: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. 5. Tjaksono, Bayong. 2013. Ilmu Kebumian dan Antariksa. Bandung : Rosda 6. Universitas Negeri Malang. 2005. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. 7. Volvacea, Volvariella. 2012. Klasifikasi dan Perubahan Jumlah Sunspot Berdasarkan Metode Zurich Diamati dari Laboratorium Astronomi Jurusan Fisika FMIPA UM pada Bulan Agustus Oktober 2012. Skripsi tidak diterbitkan: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. 8. Wahyudin. 2006. Science, Environment, Technology & Society: Bumi dan Ruang Antariksa. Jakarta: Armandelta. 9. Widodo, Nanang. Assimetri Pergerakan Grup-Grup Sunspot Di Lintang Utara Dan Selatan Matahari Pada Siklus Aktivitas Matahari Ke 22.(Online), (http://hfidiyjateng.or.id/sites/default/files/18/ab strak- Assimetri%20Pergerakan%20Grup- Grup%20Sunspot%20di%20Lintang% 20Utara%20dan%20Selatan%20Matah ari%20pada%20siklus%20aktivitas% 20Matahari%20Ke%2022-107- 110_FB-02_Widodoxf.pdf), diakses pada 9 September 2014 7