PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA YANG PROSES PEMBELAJARANNYA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING DAN PROBLEM BASED LEARNING PADA KONSEP PENCEMARAN LINGKUNGAN (The Differences in Students Learning Result by Using Creative Problem Solving and Problem Based Lerning in Concept of Environment Balance as Learning Model) Tika Rostika, Purwati Kuswarini. S dan Diana Hernawati Program Study Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, University of Siliwangi Jl. Siliwangi no: 20 Tasikmalaya -Jawa Barat, Gmail: tikarostika92@gmail.com Abstract The purposed of this research was to know the differences of students studies result which learning process used learning model of Creative Problem Solving and Problem Based Learning on concept of environtment balance. This research was held on Januari 2015 until April 2015 at the 2 nd Yunior High School Tasikmalaya. The method of this research used pre-experiment. The population of this research was the whole classes on 7 th grade in The 2 nd Yunior high School Tasikmalaya as many as twelve classes with 379 students. The sample of this research was in two classes. To measure learning result used instrument in the form of test results of the students in the concept of environmental pollution. This test of multiple choice tests with four options of 35 items. The technique of analysis data used t test with the standart significant α = 0,05. The average of the student learning result which used creative problem solving as learning model with problem based learning as learning model as much as 25,00 and problem based learning is 29,18. Based on the results of the data analysis and hypothesis testing concluded that there are differences in students learning process that uses creative problem solving and problem based learning as learning model. Problem based learning as learning model is more suitable for use in teaching the concept of environmental pollution in VII class of SMP Negeri 2 Tasikmalaya. Problem Based Learning was better. Keywords: Creative Problem Solving and Problem Based Learning as learning model. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang Proses Pembelajarannya Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving Dan Problem Based Learning Studi Eksperimen pada Konsep Pencemaran Lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2015 sampai dengan April 2015 di SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah preexperiment. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VII SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya sebanyak dua belas kelas dengan jumlah siswa 379 orang. Untuk mengukur hasil belajar digunakan instrument berupa tes hasil belajar siswa pada konsep Pencemaran
Lingkungan. Tes ini berupa pilihan majemuk dengan empat option sebanyak 35 butir soal. Teknik analisis data yang digunakan berupa uji t dengan taraf signifikan α = 0,05. Rata-rata hasil belajar siswa yang proses pembelajarannya menggunakan model pembelajaran creative problem solving dengan model pembelajaran problem based learning sebesar 25,00 dan problem based learning 29,18. Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis didapat kesimpulan bahwa ada perbedaan proses belajar siswa yang menggunakan model creative problem solving dan problem based learning. Model pembelajaran problem based learning lebih cocok digunakan dalam pembelajaran konsep Pencemaran Lingkungan di kelas VII SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya. Kata kunci: Model Pembelajaran Creative Problem Solving dan Problem Based Learning Pendahuluan Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam pembangunan manusia seutuhnya, karena kemampuan, kecerdasan, dan kepribadian suatu bangsa yang akan datang banyak ditentukan oleh pendidikan yang ada saat ini. Oleh karena itu pendidikan memegang peran sentral dalam membangun manusia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya, sebab manusia selain subyek pembangunan juga sebagai objek pembangunan, serta manusia ini sendiri yang akan menikmati hasil pembangunan. Dengan demikian pendidikan menjadi kunci kemajuan dan merupakan suatu tantangan bagi setiap bangsa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas VII SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya tahun ajaran 2013-2014, rata-rata nilai ulangan IPA di kelas tersebut yakni 74,00 sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimum adalah 77,00. Hal ini menunjukan kurangnnya kemampuan pemahaman siswa dalam pembelajaran IPA, sehingga siswa tidak mampu memecahkan dan menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Dalam proses pembelajaran di kelas, guru SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya umumnya sudah menerapkan model pembelajaran kooperatif, tetapi masih banyak guru yang menggunakan model pembelajaran yang tidak sesuai dengan materi yang akan disampaikan, sehingga tujuan dari proses pembelajaran tersebut belum bisa tercapai. Untuk memecahkan masalah pembelajaran yang demikian, diperlukan upaya berupa pengembangan pembelajaran yang kreatif dan inovatif, serta perlu pengembangan teknik pembelajaran yang berpusat pada siswa, yaitu pembelajaran yang menekan bahwa siswa sendirilah yang membangun pengetahuannya. Sedangkan guru harus merancang kegiatan pembelajaran bagi siswa untuk meningkatkan pengetahuannya. Pengembangan kreatifitas dan keaktifan siswa untuk maju dan berkembang secara bersama-sama. Untuk meningkatkan minat dan
motivasi siswa agar dalam proses belajar mengajar aktif dan giat terutama dalam konsep pencemaran lingkungan tentunya banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang guru. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, model pembelajaran merupakan salah satu komponen agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Banyak model-model pembelajaran yang dipelajari, namun pada kesempatan ini peneliti mencoba menggunakan model pembelajaran creative problem solving dan problem based learning, dimana model pembelajaran creative problem solving merupakan suatu model pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan pemecahan masalah, yang diikuti dengan penguatan keterampilan. Ketika dihadapkan dengan suatu pertanyaan, siswa dapat melakukan keterampilan memecahkan masalah untuk memilih dan mengembangkan tanggapannya. Tidak hanya dengan cara menghafal tanpa dipikir, keterampilan memecahkan masalah memperluas proses berpikir. Problem based learning merupakan model sekaligus proses yang meliputi masalahmasalah yang dipilih dan dirancang dengan cermat yang menuntut upaya kritis siswa untuk memperoleh pengetahuan, menyelesaikan masalah, belajar secara mandiri, dan memiliki skill partisipasi yang baik. Banyak guru yang beranggapan dengan menggunakan model pembelajaran creative problem solving dan problem based learning, proses belajar akan lebih merangsang potensi anak dalam proses belajar, karena dengan penggunaan model creative problem solving dan problem based laening dapat membantu siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan kehidupan sehari-hari dan mencari solusi pemecahan masalah yang sudah ada. Metode Penelitian Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pre experimental. Materi yang di bahas dalam penelitian ini adalah pencemaran lingkungan, sedangkan model yang digunakan adalah model pembelajaran creative problem solving dan problem based learning. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VII SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya berjumlah 12 kelas sebanyak 379 siswa. Subjek penelitian ini terdiri dari dua kelas yaitu kelas VII B dan kelas VII D, berjumlah 64 siswa yang diberikan perlakuan berbeda, yaitu sebagai berikut :
1. Langkah-langkah kegiatan model pembelajaran creative problem solving sebagai berikut: a. guru menyiapkan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran; b. guru mengajukan pertanyaan untuk memfokuskan siswa dengan mengemukakan isu atau masalah pencemaran lingkungan yang ada di masyarakat; c. guru menginformasikan tujuan pembelajaran, maksud dari pembelajaran dan hal-hal yang akan dipelajari serta kinerja siswa yang diharapkan; d. guru membagi siswa kedalam 6 kelompok; e. guru menyajikan materi secukupnya yang berhubungan dengan pencemaran lingkungan; f. guru menyajikan tema permasalahan pada masing-masing kelompok; g. siswa mencari masalah untuk mengembangkan tema permasalahan yang diberikan melalui observasi di lingkungan sekolah; h. siswa mengumpulkan informasi berdasarkan masalah yang dirumuskan; i. siswa dalam setiap kelompok, mengungkapkan pendapat tentang berbagai cara pemecahan masalah; j. setiap kelompok mendiskusikan pendapat-pendapat, cara atau strategi dari setiap anggota kelompoknya yang sesuai untuk menyelesaikan masalah; k. setiap kelompok menentukan cara atau strategi mana yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah; l. masing-masing kelompok membuat laporan hasil diskusi; m. guru memberikan konfirmasi pada pemecahan masalah yang diberikan oleh siswa; dan n. guru dan siswa sama-sama mengevaluasi hasil pembelajaran. 2. Langkah-langkah kegiatan model pembelajaran problem based learning sebagai berikut: a. guru menyiapkan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran; b. guru menginformasikan tujuan pembelajaran, maksud dari pembelajaran dan halhal yang akan dipelajari serta kinerja siswa yang diharapkan; c. guru mengenalkan siswa pada masalah yang berkaitan dengan konsep pencemaran lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengajukan sebuah pertanyaan atau soal; d. guru membagi siswa kedalam 6 kelompok masing-masing 5-6 orang;
e. guru membagikan LKS pada setiap kelompok dengan berbagai macam permasalahan lingkungan; f. guru meminta siswa untuk mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas pada permasalahan yang diberikan; g. masing-masing individu dalam kelompok mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan permasalahan yang diberikan (diluar diskusi kelompok); h. guru membimbing siswa untuk menulis laporan sesuai petunjuk LKS; i. setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kegiatan di dalam kelas, kelompok di pilih secara acak sementara yang lain memperhatikan dan memberi tanggapan dengan memberikan pertanyaan atau pendapat; j. guru mengarahkan siswa untuk melakukan diskusi kelas dan tanya jawab mengenai pembahasan dalam LKS sampai siswa mendapatkan kesimpulan; dan k. guru merefleksi proses pembelajaran dengan meninjau permasalahan dalam LKS. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Hasil Analisis Data Tabel 1 Tes Hasil Belajar Siswa Statistik Nilai Problem Based Learning Creative Problem Solving Minimum 22 20 Maksimum 33 30 Rentang 11 10 Rata-rata 29,18 25,00 Varians 9,19 9,55 Standar deviasi 3,03 3,09 KKM 26,95 26,95 Untuk menganalisis data yang diperoleh dalam rangka pengujian hipotesis, data tersebut diolah terlebih dahulu kemudian dianalisis dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode ststistik uji t. Uji normalitas data dengan model pembelajaran problem based learnig hasil belajar siswa dengan rata-rata 29,18 yang di konversi menjadi nilai 83,37. Hal ini menunjukan bahwa nilai ratarata hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning mencapai kriteria ketuntasan minimum pelajaran biologi yaitu 77,00. Data yang didapat pada model pembelajaran problem based learning ini berdistribusi
normal karena χ 2 hitung adalah 5,79 yang dianggap memiliki nilai lebih kecil daripada χ 2 tabel adalah 7,81 dengan kaidah terima H 0 apabila χ 2 hitung < χ 2 tabel, sedangkan data siswa dengan model pembelajaran creative problem solving diperoleh dengan ratarata 25,00 yang di konversi menjadi 71,42. Hal ini menunjukan bahwa pada model pembelajaran creative problem solving memiliki nilai rata-rata yang tidak mencapai nilai kriteria ketuntasan minimum pada pelajaran IPA adalah 77,00, tetapi data yang didapat pada model pembelajaran creative prblem solving ini berdistribusi normal karena χ 2 hitung adalah 2,54 yang dianggap memiliki nilai lebih kecil daripada χ 2 tabel adalah 7,81 dengan kaidah terima H 0 apabila χ 2 hitung < χ 2 tabel. Uji homogenitas varians dengan menggunakan F maksimum di peroleh F hitung = 1,04 sedangkan F tabel = 1,82. Jadi menurut perhitungan tersebut, maka di dapat F hitung < F tabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok tersebut memiliki varians yang homogen. Hasil perhitungan uji t diperoleh t hitung = -5,57 dan t tabel 1,999. Ini menunjukan ada perbedaan hasil belajar siswa yang proses pembelajarannya menggunakan model pembelajaran creative problem solving dan problem based leraning pada Konsep Pencemaran Lingkungan di kelas VII SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya. 2. Hasil Belajar Siswa yang Proses Pembelajarannya Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning. Pertemuan pertama dengan model pembelajaran problem based learning diawali dengan guru menyiapkan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran, menginformasikan tujuan pembelajaran, maksud dari pembelajaran dan hal-hal yang akan dipelajari serta kinerja siswa yang diharapkan. Selanjutnya guru mengenalkan siswa pada masalah yang berkaitan dengan konsep pencemaran lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengajukan sebuah pertanyaan atau soal, guru membagi siswa kedalam 6 kelompok masing-masing 5-6 orang kemudian guru membagikan LKS pada setiap kelompok dengan berbagai macam permasalahan lingkungan lalu guru meminta siswa untuk mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas pada permasalahan yang diberikan, masing-masing individu dalam kelompok mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan permasalahan yang diberikan (diluar diskusi kelompok), guru membimbing siswa untuk menulis laporan sesuai petunjuk LKS lalu setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kegiatan di dalam kelas, kelompok di pilih secara acak sementara yang lain memperhatikan dan memberi tanggapan dengan memberikan pertanyaan atau pendapat, guru mengarahkan siswa untuk melakukan diskusi kelas dan tanya jawab mengenai
pembahasan dalam LKS sampai siswa mendapatkan kesimpulan dan guru merefleksi proses pembelajaran dengan meninjau permasalahan dalam LKS. Pada pertemuan kedua dengan model pembelajaran problem based learning sama halnya dengan langkah-langkah pertemuan pertama, karena materi konsep Pencemarann Lingkungan untuk dua kali pertemuan sehingga setelah selesai proses pembelajaran pada pertemuan kedua ini dilanjut dengan kegiatan post test. Adanya diskusi dan lembar kerja siswa dalam proses pembelajaran ini, merupakan bentuk kerjasama antar siswa yang satu dengan siswa lainnya sehingga terciptanya susasan belajar kooperatif, demokratif serta tidak memihak pada sebagian kelompok saja. Adapun hasil belajar siswa dalam kegiatan LKS yang dilaksanakan di kelas VII D: 100 50 0 kel 1 kel 2 kel 3 kel 4 kel 5 Gambar 1 Diagram Hasil Lembar Kerja Kerja Siswa yang Proses Pembelajarannya Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning Dari gambar 1 dapat terlihat hasil belajar siswa dari LKS yang dilaksanakan di kelas VII D berjalan cukup baik, pada pengerjaan LKS pada pertemuan pertama siswa mengerjakannya secara kelompok dan mencari informasi mau itu dari buku ataupun internet, hal itu agar informasi dan jawaban yang diperlukan dalam pengerjaan LKS lebih lengkap serta siswa tidak hanya mencari jawaban di dalam berbagai buku pegangan tetapi siswa juga mencari informasi melalui internet, karena materi yang mereka bahas mengenai pencemaran lingkungan yang sering terjadi di lingkungan sekitar mereka, LKS yang dibuat guru untuk kelas ini berupa lembar pengamatan yang harus di isi berdasarkan data yang mereka temukandi buku ataupun internet. Dalam pengerjaaan LKS siswa terlihat aktif dan antusias karena
siswa belajar untuk bisa memecahkan masalah yang ada dalam materi yang mereka bahas. Tabel 4.9 Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Model Pembelajaran Problem Based Learning Kelebihan a. Dapat melatih siswa untuk bertanggung jawab secara individu maupun kelompok dalam menentukan jawaban dari berbagai informasi dan wawasan yang dimiliki siswa; b. Mampu menumbuhkan penguatan konsep diri siswa karena siswa dituntut untuk menemukan pengetahuannya sendiri serta siswa terlibat langsung dalam melakukan kegiatan diskusi sehingga terjalin keakraban antar siswa. Kekurangan a. model pembelajaran problem based learning tidak dapat diterapkan untuk setiap materi pelajaran; b. dalam suatu kelas yang memiliki tingkat keragaman siswa yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas. 3. Hasil Belajar Siswa yang Proses Pembelajarannya Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving. Pertemuan pertama di kelas VII B diawali dengan guru membagi siswa kedalam 6 kelompok setelah itu guru menyajikan materi secukupnya yang berhubungan dengan pencemaran lingkungan kemudian guru menyajikan tema permasalahan pada masing-masing kelompok lalu siswa mencari masalah untuk mengembangkan tema permasalahan yang diberikan melalui observasi di lingkungan sekolah setelah itu siswa mengumpulkan informasi berdasarkan masalah yang dirumuskan siswa dalam setiap kelompok mengungkapkan pendapat tentang berbagai cara pemecahan masalah, setiap kelompok mendiskusikan pendapatpendapat, cara atau strategi dari setiap anggota kelompoknya yang sesuai untuk menyelesaikan masalah selanjutnya setiap kelompok menentukan cara atau strategi mana yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah, masing-masing kelompok membuat laporan hasil diskusi lalu guru memberikan konfirmasi pada pemecahan masalah yang diberikan oleh siswa dan guru beserta siswa sama-sama mengevaluasi hasil pembelajaran.
Pada pertemuan kedua di kelas VII B sama halnya dengan langkah-langkah di pertemuan pertama, pada pertemuan kedua melanjutkan materi yang akan dibahas dipertemuan kedua, karena materi konsep Pencemaran Lingkungan untuk dua kali pertemuan sehingga pada pertemuan kedua melanjutkan dari pertemuan pertama, namun setelah selesai proses pembelajaran pada pertemuan kedua ini dilanjut dengan kegiatan post test. Adanya diskusi dan observasi dalam proses pembelajaran ini, merupakan bentuk kerjasama antar siswa yang satu dengan siswa lainnya sehingga terciptanya suasan belajar demokratif serta tidak memihak pada sebagian kelompok saja. Adapun hasil belajar siswa dalam laporan kelompok sebagai berikut: 100 50 0 kel 1 kel 2 kel 3 kel 4 kel 5 Gambar 2 Diagram Hasil Laporan diskusi kelompok yang Proses Pembelajarannya Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving Dari gambar 2 dapat terlihat hasil belajar siswa dari laporan kelompok yang dilaksanakan di kelas VII B berjalan cukup baik, pada pengerjaan laporan pada pertemuan pertama siswa mengerjakannya tidak hanya di dalam kelas, namun di luar kelas juga, hal itu agar informasi dan jawaban yang diperlukan dalam pengerjaan laporan lebih lengkap dan lebih luas. Dalam pengerjaaan laporan diskusi kelompok siswa terlihat aktif dan antusias namun ada sebagian siswa yang terlihat masih kurang aktif tetapi pada pengerjaan laporan pada pertemuan kedua siswa terlihat lebih aktif lagi. Selanjutnya masing-masing kelompok mengumpulkan laporan dan guru sama-sama mengevaluasi laporan dari tiap-tiap kelompok, karena materi yang dibahas cukup banyak maka pembelajaran dibagi menjadi dua pertemuan dan
dilanjutkan dengan kegiatan post test yang bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang proses pembelajaran yang menggunakan model creative problem solving. Tabel 4.10 Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Creative Problem Solving Model Pembelajaran Model Pembelajaran Creative Problem Solving Kelebihan a. membuat siswa lebih terlibat aktif dalam proses pembelajaran serta dapat membuat siswa lebih berpikir kritis dan kreatif; b. dapat membentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok; dan c. proses pembelajaran lebih bermakna karena mengaitkan materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata. Kekurangan a. memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan model pembelajaran yang lain; dan 4. Perbedaan Hasil Belajar yang Proses Pembelajarannya Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Creative Problem Solving Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t pada siswa kelas VII D yang proses pembelajarannya menggunakan model pembelajaran problem based learning dan siswa di kelas VII D yang proses pembelajarannya menggunakan model pembelajaran creative problem solving diperoleh data t hitung -5,57 dan t tabel 1,999 yang menunjukkan bahwa t hitung terletak di daerah penolakan H o artinya ada perbedaan hasil belajar siswa yang proses pembelajarannya menggunakan model pembelajaran creative prblem solving dan problem based learning pada konsep Pencemaran Lingkungan di kelas VII SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya. Perbedaan hasil belajar siswa yang proses pebelajarannya menggunakan model pembelajaran creative problem solving dan problem based learning pada konsep Pencemaran Lingkungan di kelas VII SMP Negeri 2 Kta Tasikmalaya dapat dilihat dari diagram berikut ini:
35 30 25 26.95 25 29.18 20 15 10 PBL CPS KKM 5 0 KKM VII B VII D Gambar 3 Perbedaan Hasil Belajar Siswa yang Hasil Belajar Siswa yang Proses Pembelajarannya Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving dan Model Pembelajaran Problem Based Learning. Perbedaan hasil belajar tersebut disebabkan karena adanya pengaruh model pembelajaran yang berbeda. Kelas VII D yang proses pembelajarannya menggunakan model pembelajaran problem based learning hasil belajarnya lebih baik dari pada kelas VII B yang proses model pembelajaran creative problem solving. Hal ini dikarenakan kelas VII D siswanya lebih kompak dalam kegiatan diskusinya yang berlangsung di dalam kelas yang menyebabkan siswa lebih banyak mendapatkan data dan informasi yang mereka cari dari berbagai sumber buku dan internet yang mereka cari. Sedangkan kelas VII B yang proses model pembelajaran creative problem solving melakukan kegiatan observasi secara langsung, namun pada saat observasi masih banyak siswa yang bermain-main dan tidak serius. Dengan demikian model pembelajaran problem based learning lebih cocok untuk diterapkan pada konsep Pencemaran Lingkungan di kelas VII SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya, karena nilai hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran problem based learning ini telah mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dibandingkan dengan yang proses pembelajarannya yang menggunakan model pembelajaran creative problem solving.
Kesimpulan 1. Terdapat perbedaan hasil Belajar siswa yang proses pembelajarannya menggunakan menggunakan model pembelajaran creative problem solving dan problem based learning pada konsep Pencemaran Lingkungan di kelas VII SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya. 2. Model pembelajaran problem based learning lebih baik diterapkan pada konsep pencemaran lingkungan karena sumber belajar atau acuan lebih banyak dan luas. Daftar Pustaka Amir, M. Taufiq. (2013). Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta : PT Fajar Interpratama Mandiri Hernawan, Edi (2012). Penganta Statistika Parametrik Untuk Penelitian Pendidikan. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya: Tidak diterbitkan Huda, Miftahul. (2014). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta : Pustaka Belajar Shoimin, Aris. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam kurikulum 2013. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung: Alfabeta