Oleh: Tarsoen Waryono **) Abstrak

dokumen-dokumen yang mirip
KOMPROMI PEMULIHAN AIR TANAH DENGAN SUMUR RESAPAN *)

Oleh: Tarsoen Waryono **) Bab I Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. Indonesia memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia. Hutan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang

TINJAUAN PUSTAKA. secara alami. Pengertian alami disini bukan berarti hutan tumbuh menjadi hutan. besar atau rimba melainkan tidak terlalu diatur.

Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) HUTAN KOTA. Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Ir. Siti Nurul Rofiqo Irwan, MAgr, PhD.

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang

DISAMPAIKAN PADA ACARA PELATIHAN BUDIDAYA KANTONG SEMAR DAN ANGGREK ALAM OLEH KEPALA DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAMBI

ANALISIS DAN SINTESIS

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan kota sebagai pusat pemukiman, industri dan perdagangan

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi suatu kawasan hunian yang berwawasan ligkungan dengan suasana yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

V. INDIKATOR-INDIKATOR EKOSISTEM HUTAN MANGROVE

KAJIAN PENATAAN POHON SEBAGAI BAGIAN PENGHIJAUAN KOTA PADA KAWASAN SIMPANG EMPAT PASAR MARTAPURA TUGAS AKHIR. Oleh: SRI ARMELLA SURYANI L2D

I. PENDAHULUAN. Pola pemukiman penduduk di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Jumlah penduduk yang terus meningkat membawa konsekuensi semakin

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

PENDAHULUAN Latar Belakang

Iklim Perubahan iklim

BAB I PENDAHULUAN. utama pencemaran udara di daerah perkotaan. Kendaraan bermotor merupakan

sumber daya lahan dengan usaha konservasi tanah dan air. Namun, masih perlu ditingkatkan intensitasnya, terutama pada daerah aliran sungai hulu

PENDAHULUAN. didirikan sebagai tempat kedudukan resmi pusat pemerintahan setempat. Pada

ABSTRAKSI DOKUMEN AMDAL

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. dan hutan tropis yang menghilang dengan kecepatan yang dramatis. Pada tahun

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB VII KEBAKARAN HUTAN

BAB I PENDAHULUAN. hutan hujan tropis yang tersebar di berbagai penjuru wilayah. Luasan hutan

I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau

BAB IV ANALISIS DAN SINTESIS

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari

BAB I PENDAHULUAN. sebagai sumber daya alam untuk keperluan sesuai kebutuhan hidupnya. 1 Dalam suatu

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2002 TENTANG HUTAN KOTA

BAB I PENDAHULUAN. dan pemukiman. Sebagaimana kota menurut pengertian Bintarto (1977:9)

PENDAHULUAN Latar Belakang

APA ITU GLOBAL WARMING???

Kata kunci: Fungsi hutan, opini masyarakat, DAS Kelara

KEANEKARAGAMAN HAYATI (BIODIVERSITY) SEBAGAI ELEMEN KUNCI EKOSISTEM KOTA HIJAU

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 5. DINAMIKA ATMOSFERLATIHAN SOAL 5.5. La Nina. El Nino. Pancaroba. Badai tropis.

BAB I PENDAHULUAN. Hutan bagi masyarakat bukanlah hal yang baru, terutama bagi masyarakat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Raden Roby Maulidan, 2014 Kesiapan Warga Kampus UPI Menuju ECO-Campus

PELESTARIAN BIODIVERSITAS DAN PERUBAHAN IKLIM JOHNY S. TASIRIN ILMU KEHUTANAN, UNIVERSITAS SAM RATULANGI

BAB I PENDAHULUAN. saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah suatu bentuk ruang terbuka di kota (urban

BAB 1 PENDAHULUAN. repository.unisba.ac.id

SLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015

BAB I PENDAHULUAN. fauna yang hidup di habitat darat dan air laut, antara batas air pasang dan surut.

PENDAHULUAN. daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,

I. PENDAHULUAN. Kota Jakarta Barat dikenal sebagai kota jasa dan pusat bisnis yang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. intensitas ultraviolet ke permukaan bumi yang dipengaruhi oleh menipisnya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 6. PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGANLatihan Soal 6.2

KAJIAN PELUANG PELIBATAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN HUTAN KOTA SRENGSENG JAKARTA BARAT TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. lahan terbangun yang secara ekonomi lebih memiliki nilai. yang bermanfaat untuk kesehatan (Joga dan Ismaun, 2011).

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA BAB II. PELESTARIAN LINGKUNGAN

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI

Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

KAJIAN HUTAN KOTA DALAM PENGEMBANGAN KOTA DEMAK

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. fungsi pokok sebagai hutan konservasi yaitu kawasan pelestarian alam untuk

EKOSISTEM. Yuni wibowo

Modul 1. Hutan Tropis dan Faktor Lingkungannya Modul 2. Biodiversitas Hutan Tropis

I. PENDAHULUAN. tinggi adalah Taman Hutan Raya Wan Abdurahman. (Tahura WAR), merupakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. stabilitator lingkungan perkotaan. Kota Depok, Jawa Barat saat ini juga

STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR

SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN PADA ACARA MEMPERINGATI HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA

I. PENDAHULUAN. sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami

DAFTAR ISI. Kata Pengantar... 1 Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Tujuan... 5

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Hutan adalah suatu asosiasi kehidupan, baik tumbuh-tumbuhan (flora)

TENTANG BUPATI NGANJUK, Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi

BAB I. PENDAHULUAN. pulau-nya dan memiliki garis pantai sepanjang km, yang merupakan

ARAH PENELITIAN MONITORING DAN EVALUASI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. Dalam daur hidrologi, energi panas matahari dan faktor faktor iklim

BAB I PENDAHULUAN. penyedia fasilitas pelayanan bagi masyarakat. Lingkungan perkotaan merupakan

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA CIMAHI TAHUN

PERATURAN DAERAH KOTA KUPANG NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG RUANG TERBUKA HIJAU KOTA KUPANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KUPANG, Menimbang

PERATURAN DAERAH KOTA KUPANG NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG RUANG TERBUKA HIJAU KOTA KUPANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KUPANG,

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

Transkripsi:

1 URGENSI SOSIALISASI PEMBANGUNAN HUTAN KOTA BAGI MASYARAKAT PERKOTAAN *) Oleh: Tarsoen Waryono **) Abstrak HUTAN dan KOTA, adalah dua kutub isu yang selalu menggelitik di dalam fenomena pembangunan dewasa ini, karena hutan mempunyai ekspresi kearah konservasi, sedangkan kota ekspresinya berupa ekspansi. Keduanya ternyata merentangkan benang merah dalam pembangunan yang berkesinambungan, antara jawaban atas tututan dan tantangan ruang serta waktu yang dihadapi. Agar makna dan tujuan pengembangan mahkota hijau (nama hutan kota UI) memiliki persepsi positif di kalangan masyarakat, baik di DKI Jakarta maupun di lingkungan kampus, salah satu embanan tugas bagi pengelolanya adalah menyampaikan informasi pentingnya hutan kota, karena merupakan bagian dari pengabdian masyarakat dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Pendahuluan Hadirnya Mahkota Hijau (nama hutan kota UI) di kawasan kampus UI Depok, paling tidak ada tiga stakeholder atau pihak yang kepentingan yang ikut berkiprah di dalam proses pembangunannya. Pertama adalah Institusi yang memiliki embanan tugas untuk melaksanakan pembangunan hutan kota, yaitu Dinas Pertanian dan kehutanan DKI Jakarta. Kedua adalah institusi pemilik kawasan yaitu Universitas Indonesia yang telah menyisihkan sebagaian lahannya, dan Ketiga adalah fihak-pihak perorangan, dan atau profesi, serta Lembaga Swadaya Masyarakat, Kelompok Mahasiswa, Pemuda/pelajar, Pramuka dan lainnya yang peduli terhadap kehadiran pembangunan kawasan kampus. Keikutsertaan ketiga pihak berkepentingan tersebut, selain memiliki keinginan luhur untuk mewujudkan pembangunan hutan kota, juga ingin berkomunikasi, maupun berkoordinasi dalam hal informasi yang erat kaitannya dengan (a) perkembangan pembangunan Mahkota Hijau, (b) manfaat hijauan kampus, (c) sejauhmana pihak-pihak terkait lain ikut berpartisipasi, dan (d) hasil-hasil kajian atau riset atas peranan fungsi hutan kota sebagai salah satu bentuk pengendalian lingkungan fisik kritis perkotaan, serta atas jasajasanya sebagai penyangga lingkungan pendidikan tinggi. Bahkan lebih menarik untuk diungkap, atas keinginan pengelola untuk mensosialisasikan hutan kota, baik kepada masyarakat secara luas, maupun kepada pengelola daerah khususnya di wilayah perkotaan. Berbagai bentuk informasi dimaksud, meliputi paparan visual melihat dari dekat hasil-hasil pembangunan hutan kota, maupun dalam bentuk suluhan (penyuluhan) atas jasa-jasa kehadiran pembangunan hutan di wilayah perkotaan. *). Nara sumber sosialisasi hasil-hasil pembangunan hutan kota di DKI Jakarta. Gunung Sahari Jakarta, 27 Oktober 2005. **). Staf Pengajar Departemen Geografi FMIPA-UI.

Hutan Kota Dalam Kancah Pembangunan HUTAN dan KOTA, adalah dua kutub isu yang selalu menggelitik di dalam fenomena pembangunan dewasa ini, karena hutan mempunyai ekspresi kearah konservasi, sedangkan kota ekspresinya berupa ekspansi. Keduanya ternyata merentangkan benang merah dalam pembangunan yang berkesinambungan, antara jawaban atas tututan dan tantangan ruang dan waktu yang dihadapi. Aspek strategis pembangunan Mahkota Hijau, secara konseptual memberikan pengertian atas aspek konservasi dan rehabilitasi lahan. Konservasi memberikan pengertian atas upaya penyelamatan, pelestarian, dan pemanfaatan optimal secara terkendali dan berkelanjutan, atas dasar peranan fungsi jasa bio-eko-hidrologis pepohonan hutan kota. Rehabilitasi lahan, merupakan upaya pemulihan lahan, melalui peningkatan dan atau perbaikan mutu peranan fungsi jasa hutan kota, agar terciptanya keseimbangan yang berarti dalam mengatasi fenomena lingkungan fisik kritis perkotaan. Membangun kawasan hutan kota, memiliki pengertian mendayagunakan sumberdaya lahan (tapak) menjadi lebih potensial atas jasa-jasanya, bahkan manfaat sesuai dengan peranan fungsinya. Berdasarkan kaidah-kaidah konservasi, pengembangan jenis sesuai kondisi tapaknya, merupakan cara-cara yang harus ditempuh, karena keberhasilan pembangunan hutan kota, sangat ditentukan oleh strategi dan aplikasi pelaksanaannya, termasuk pemrakarsa dana oleh para stake holder. Mencermati atas pentingnya peranan fungsi jasa bio-eko-hidrologis pepohonan, memiliki kemampuan sebagai pengendali lingkungan fisik kritris perkotaan, penopang lingkungan pendidikan, tampaknya sosialisasi arti pentingnya peranan fungsi hutan kota, menjadi strategis kedudukannya dalam kancah keseimbangan pembangunan berwawasan lingkungan hidup, khususnya di lingkungan kampus. 2 Aspek Strategis Pembangunan Hutan Kota Aspek strategis pembangunan hutan kota, pada dasarnya berbeda dengan bentuk kriteria kawasan hijau lainnya, karena hutan kota dicikan oleh kriteria yang harus dipenuhi antara lain; (a) mempunyai luas minimal yaitu 0,25 ha, (b) bentuk tegakannya vegetasi berkayu, beserta tumbuhan bawah, hingga membentuk satuan ekologik terkecil, serta memberikan kesan padang dan kenyamanan lingkungan, (c) terbentuknya pelapisan tajuk (strata), yang mencerminkan dinamika pertumbuhan hutan secara alami, (d) mampu menyumbangkan atas peranan fungsi dan jasanya, serta mampu sebagai daya dukung mintakat kehidupan satwa liar. Selain persyaratan hutan kota, bentuk kawasannya juga menjadi aspek strategis yang harus dipenuhi. Berdasarkan potensi, fungsi dan pengelolaanya, kawasan hijau di DKI Jakarta, dibedakan berdasarkan fungsi sebagai: (a) kawasan hijau konservasi, untuk keseimbangan tanah dan air, (b) kawasan hijau lingkungan industri, untuk melindungi masyarakat dari gangguan-gangguan polusi, (c) kawasan hijau permukiman, untuk menjamin kenyamanan dan kesegaran lingkungannya, (d) kawasan hijau koleksi untuk maksud-maksud

tujuan serba guna, tumbuhan langka dan unik yang secara keseluruhan merupakan bagian dari kriteria bentuk kawasan hijau perkotaan. Dalam kaitannya dengan lingkungan fisik kritis perkotaan, jasa ekologis pembangunan hutan-hutan kota menjadi strategis kedudukannya di DKI Jakarta. Meningkatnya kutub-kutub panas kota, dengan berbagai macam jenis cemarannya; pesat dan dratisnya penurunan air tanah dangkal yang diimbangi dengan semakin luasnya susupan (instrusi) air laut, serta meningkatnya jumlah limbah baik padatan maupun cairan yang cenderung menjadikan masyarakat lingkungan kampus merasa kurang nyaman. Dalam pada itu, jasa biologis komunitas pepohonan dalam bentuk hutan kota, diyakini oleh para ilmuwan (akhli biologis dan lingkungan), mampu mengendalikan dan melerai segala bentuk penyebab lingkungan fisik kritis perkotaan. Hubungan timbal balik (saling interaksi) dalam suatu proses ekosistem, pada hakekatnya berawal dari tumbuhan yang mengandung hijau daun (khlorofil). Melalui perantaran khlorofil dan bantuan sinar matahari, tumbuhan mampu mengubah zat karbon dioksida (CO2) dari udara, air dari dalam tanah, dan menjadi karbohidarat (C6 H12 O6), ditambah dengan oksigen (O2), yang dikenal dengan proses fotosintesis. Proses fotosintesis (reduksi) merupakan proses yang paling menonjol di muka bumi ini, karena hampir semua jasad hidup akhirnya terbentuk melalui deretan reaksi biokomia. Satu hal yang paling esensial dari proses kimia tersebut, selain menghasilkan karbohidrat juga oksigen yang berfungsi dalam proses pernapasan (respirasi) bagi semua makluk hidup. Potensi hutan kota dengan berbagai jenis tumbuhan, merupakan habitat dan sangtuari kehidupan satwa liar seperti burung, mamalia terbang, binatang melata dan beberapa jenis lainnya. Selain sebagai penyedia sumber pakan, juga merupakan wahana terjadinya matarantai makanan bagi kehidupan satwa liar. Dengan demikian pengertian satuan ekologik terkecil dalam batasan hutan kota menjadi jelas sebagai persyaratan yang harus dipenuhi, karena peranan fungsi ekosistemnya. Dalam siklus hidrologi, vegetasi dapat berperan dalam pengen-dalian air melalui proses infiltrasi, perkolasi melalui sistem perakaran pepohonan, hingga terjaminnya pelestarian air tanah dalam (ground water) yang sangat esensial dalam pengaturan secara alamiah. Pada musim hujan besaran laju limpasan air dapat dikendalikan oleh jajaran pepohonan yang rapat, hingga luapan air akan tercegah, namun sebaliknya pada musim kemarau potensi air tanah yang tersedia dapat menjamin lajunya debit aliran sungai yang bermanfaat bagi kepentingan hidup biota perairan. Lingkungan kampus yang risau dengan lalu-lalang kendaraan bermotor dengan segala jenis emisi polutan, bising karena lintasan kereta api, sering menyebabkan masyarakat kampus merasa penat dan merindukan kenyamanan lingkungan dengan alam terbuka. Demikian halnya dengan berkurangnya rasa kenyamanan sebagai akibat meningkatnya suhu udara sebagai akibat banyaknya jalan beraspal, betonan, bangunan bertingkat dan berdinding kaca, papan reklame, menara, dan antene pemancar. Hadirnya kawasan hijau kampus atas jasa bio-ekologis penutupan vegetasinya mampu memodifikasi iklim mikro. Melalui uraian atas keinginan masyarakat kampus terhadap kawasan hijau, pada hakekatnya merupakan modal dasar keperdulian terhadap kehadiran Mahkota Hijau, sebagai penyangga lingkungan aktivitasnya. Untuk itu, persepsi dan sambutan masyarakat terhadap 3

Obsesi Kampus yang Teduh, Nyaman dan Ramah lingkungan, tampaknya telah dinantikan dan disambut, karena jasa-jasanya yang tidak dapat disubstitusi dengan bentuk apapun. 4 Peranan Sosialisasi Pembangunan Hutan Kota Uraian di muka menyebutkan bahwa sosialisasi pembangunan Mahkota Hijau menjadi strategis kedudukannya untuk disampaikan kepada masyarakat luas di lingkungan kampus. Urgensi sosialisasi tersebut, karena hutan kota di Indonesia merupakan hal yang baru, dan baru dicetuskan sejak tahun 1978 pada saat Indonesia (Jakarta) menjadi tuan rumah kongres kehutanan sedunia. Di sisi lain pada saat itu juga Kota Jakarta menerima gelar Jakarta Sebagai Kota Tropis Dunia. Secara ideologik, hadirnya pembangunan hutan kota di DKI Jakarta, dituntut secara nasional, karena gelar yang disandangnya. Selain gelar sebagai kota tropis dunia, Jakarta juga memiliki gelah sebagai Ibukota Negara dan kota Metropolitan. Mencermati gelar metropolitan dan ibukota negara, sebenarnya Jakarta memerlukan hamparan taman yang indah dan bukan dalam bentuk hutan. Akan tetapi tuntutan baik secara ideologik maupun peranan fungsi kawasan hijau, serta kondisi fisik wilayah Jakartai, tampaknya hanyalah hijauan dalam bentuk hutan yang dinilai mampu mengendalikan lingkungan fisik kritis perkotaan, karena jasa bio-eko-hidrologisnya. Atas dasar itulah pentingnya mengkomunikasikan peranan fungsi jasa hutan kota terhadap keseimbangan lingkungan alam perkotaan. Selain jasa dan peranan fungsi hutan kota, juga perlunya memacu terhadap kesadaran institusi baik di lingkungan pemerintah maupun swasta untuk ikut berperan aktif dalam pembangunanya. Pentingnya koordinasi antar pengelola hutan kota, juga menjadi tuntutan berikutnya. Agar makna dan tujuan pengembangan hutan kota memiliki persepsi positif di kalangan masyarakat. Dalam pada itu, sosialisasi pembangunan hutan kota juga dituntut untuk menyampaikan kepada masyarakat secara langsung atas jasa-jasanya. agar persepsi semua pihak terhadap kehadiran hutan kota dapat dipahami urgensinya. Uraian Penutup Suatu harapan niat kesungguhan Universitas Indonesia dalam mensponsori pembangunan hutan kota di Propinsi DKI Jakarta dan sekitarnya (110 ha), merupakan niat kesungguhan yang luhur terhadap pentingnya kenyamanan lingkungan pendidikan yang menyandang nama negara. Untuk itu sosialisasi dalam bentuk informasi ini akan menambah wawasan bagi masyarakat kampus. Daftar Pustaka Kanwil Kehutanan DKI Jakarta, 1994. Rencana Pembangunan Hutana Wilayah JABOTABEK. Kanwil Kehutanan DKI Jakarta. Tahun anggaran 2003/2004. Kerjasama FMIPA-UI dengan Kanwil Kehutanan Propinsi DKI Jakarta, Departemen Kehutanan.

5 Waryono. T,. 1997. Aspek Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan Dalam Mewujudkan Pembangunan Hutan Kota di DKI Jakarta. Materi Utama Penyuluhan Dinas Kehutanan DKI Jakarta Tahun Anggaran 1996/1997. Kerjasama FMIPA-UI dengan Dinas Kehutanan DKI Jakarta., 1997. Konsepsi Dasar Pembangunan Hutan Kota di DKI Jakarta. Materi Utama Pelatihan Petugas Hutan Kota. Tahun Anggaran 1996/1997. Kerjasama FMIPA-UI dengan Dinas Kehutanan DKI Jakarta.,. 1996. Pengaruh Hutan kota Terhadap Beberapa Unsur Iklim Mikro di DKI Jakarta dan Sekitarnya. Media Informasi Hutan Kota Universitas Indonesia.,. 1999. Peranan Fungsi Jasa Biologis Hutan Kota Terhadap Pengendalian Polutan Debu di Hutan Kota Universitas Indonesia. Media Informasi Hutan Kota Universitas Indonesia., 2002. Konsepsi Pembangunan Hutan Kota Dalam Kancah Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup Berbasis Kemitraan. Warta Pembangunan Kota Depok. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Depok. Edisi-1 April 2002.