Chapter IV MANAGING IN A GLOBAL ENVIRONMENT

dokumen-dokumen yang mirip
Managing in A Global Environment

Bab 5 Bisnis Global P E R T E M U A N 5

Bab 5 Bisnis Global 10/2/2017 1

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan

BAB I PENDAHULUAN. yang harus dihadapi dan terlibat didalamnya termasuk negara-negara di kawasan

Materi Minggu 12. Kerjasama Ekonomi Internasional

Dhiani Dyahjatmatmayanti, S.TP., M.B.A.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BENTUK KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL.

3. Jelaskan bagaimana karakteristik asing dapat mempengaruhi suatu perusahaan bisnis internasional.

Bab 11 Manajemen Keuangan Internasional

Kerja sama ekonomi internasional

ORGANIZATION THEORY AND DESIGN

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Negara di Dunia Periode (%)

PEMASARAN INTERNASIONAL

perdagangan, industri, pertania

Pengantar Bisnis. Tujuan, Sumber Daya, dan Stakeholders Bisnis MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

MRP Pertemuan 6 BAB 6 IMPLIKASI STRATEGI MANAJEMEN RANTAI PASOKAN

Pembahasan Materi #8

ANDRI HELMI M, SE., MM MANAJEMEN OPERASI INTERNASIONAL

Nilai, Sikap, dan Kepuasan Kerja

I. PENDAHULUAN. semakin penting sejak tahun 1990-an. Hal tersebut ditandai dengan. meningkatnya jumlah kesepakatan integrasi ekonomi, bersamaan dengan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. setiap negara bertujuan agar posisi ekonomi negara tersebut di pasar internasional

Makna dan Dimensi Budaya \

ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara

ANALISIS PELUANG DI PASAR GLOBAL. Pokok Bahasan

KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL. Bab 3

BAB I PENDAHULUAN. Pergerakan globalisasi perekonomian yang dewasa ini bergerak begitu

ARTI PENTING MANAJEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. bidang, tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Menurut Todaro dan Smith (2006), globalisasi

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini

BAB I PENDAHULUAN. Kestabilan nilai tukar mata uang suatu negara merupakan hal penting

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Akumulasi logam mulia adalah esensial bagi kekayaan suatu bangsa. Kebijakan ekonomi: mendorong ekspor dan membatasi impor

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan luar negeri yang mempunyai peranan penting bagi suatu negara,

Materi 2 Manajemen dalam Lingkungan Global

STRATEGI OPERASI DI LINGKUNGAN GLOBAL

I. PENDAHULUAN. moneter terus mengalami perkembangan. Inisiatif kerjasama mulai dikembangkan

MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI

KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL

MANAJEMEN SDM PADA PERUSAHAAN MULTINASIONAL Kerja Yang Secara Mental Menantang Ganjaran Yang Pantas Kondisi Kerja Yang Mendukung Rekan Kerja Yang Mend

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP MANAJEMEN STRATEGIK

BISNIS INTERNASIONAL. By Nina Triolita, SE, MM. Pertemuan ke 14 Pengantar Bisnis

MASALAH INTERNASIONAL DALAM AKUNTANSI MANAJEMEN. HARIRI, SE., M.Ak Universitas Islam Malang 2017

EMA302 - Manajemen Operasional Materi #5 Ganjil 2015/2016 STRATEGI OPERASI. EMA302 Manajemen Operasional

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Bisnis Internasional Pertemuan Pertama Bab 1 dan 2 Globalisasi dan Perbedaan Sistem Politik Ekonomi antar Negara

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan

RERANGKA ANALISIS LINGKUNGAN PEMASARAN GLOBAL

ii Ekonomi Internasional

I. PENDAHULUAN. Isu globalisasi sering diperbincangkan sejak awal tahun Globalisasi

Signifikasi Kawasan Asia Pasifik. Yesi Marince, S.Ip., M.Si

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Saat globalisasi dan pasar bebas mulai merambah Indonesia, terjadilah

Efektivitas ASEAN Economic Community Terhadap Optimalisasi Kualitas Industri Kerajinan Keramik Dinoyo Malang

BAB I PENDAHULUAN. berkomunikasi antarbudaya dengan baik. kemampuan komunikasi antarbudaya (Samovar dan Porter, 2010: 360).

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

ANALISIS PELUANG INTERNASIONAL

Prospek Ekonomi Regional ASEAN ASEAN+3 Regional Economic Outlook (AREO) Ringkasan

Pertemuan 14 STRATEGI PEMASARAN INTERNASIONAL

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu

PENDAHULUAN. Dalam beberapa dekade belakangan ini, perdagangan internasional telah

SIAPA YANG DIUNTUNGKAN DALAM PERJANJIAN PERDAGANGAN BEBAS?

ASEAN FREE TRADE AREA (AFTA) Lola Liestiandi & Primadona Dutika B.

BAB I PENDAHULUAN. berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, nilai serta norma masyarakat,

FOREIGN DIRECT DIRECT INVESTMENT

Copyright Rani Rumita

Kuliah 4: A. Penanaman Langsung Modal Luar Negeri (Foreign Direct Investment)

POLITIK & SISTEM POLITIK

BAB I PENDAHULUAN. sehingga perdagangan antar negara menjadi berkembang pesat dan tidak hanya

Bab 13 PENGATURAN SDM PADA PERUSAHAAN MULTINASIONAL. (Bagian Kedua)

BAB VI. KESIMPULAN. integrasi ekonomi ASEAN menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: perdagangan di kawasan ASEAN dan negara anggotanya.

4. Membentuk komite negara-negara penghasil minyak bumi ASEAN. Badan Kerjasama Regional yang Diikuti Negara Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. karyawan ataupun pekerjaan yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga

BAB 1 : PENDAHULUAN. kuat. (2) Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu bentuk upaya untuk

Berbagai macam bentuk penetrasi pasar luar negeri: Ekspor Lisensi Waralaba Perusahaan multinasional Perusahaan global BAB 12.

BAB I PENDAHULUAN. termaktub dalam alenia ke-4 pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu: (1)

Bisnis Internasional #2. Nofie Iman

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi membuka gerbang untuk masuknya teknologi informasi dan

KONTRAK PERKULIAHAN 1-0. Copyright 2011 Arissetyanto-Hatri

I. PENDAHULUAN. menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan

LOGO PENDAHULUAN. Akuntansi Internasional

BAB I PENDAHULUAN. (subsidiary) dari PT. Pertamina (Persero). Ada dua sektor yang menjadi target

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Di era globalisasi perdagangan diseluruh dunia, dimana siklus perdagangan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

1 INTRODUCTION. ADVANCED MANAGEMENT ACCOUNTING (Akuntansi Manajemen Lanjut)

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menghasilkan barang dan jasa, investasi yang dapat meningkatkan barang modal,

: Determinan Intra-Industry Trade Komoditi Kosmetik Indonesia dengan Mitra Dagang Negara ASEAN-5 : I Putu Kurniawan

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL

BAB I PENDAHULUAN. adalah karena para pedagang merasa pasar dalam negeri tidak lagi

DAFTAR PUSTAKA. ASEAN. (2007). ASEAN Economic Community Blueprint. Singapura: National University of Singapore.

NASKAH PENJELASAN PENGESAHAN

serta kemampuan membangun volume sales yang banyak - Kemampuan menciptakan switching cost yang mengikat konsumen

BAB I PENDAHULUAN. dalam Todaro dan Smith (2003:91-92) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan

Transkripsi:

Chapter IV MANAGING IN A GLOBAL ENVIRONMENT

MIND-MAP CHAPTER 4 MANAGING IN A GLOBAL ENVIRONMENT Global Business Global Perspectives Trade Alliances Doing Business Globally Challenges Parochialism Ethnocentric Polycentric Geocentric Regional Trading Alliances: EU NAFTA ASEAN AU SAARC WTO Int l organizations: MNC Multidomestic corporation Global company Transnational/bord erless Born globals Investment: Global sourcing Exporting Importing Licensing Franchising Strategic allience Joint venture Foreign subsidiary Legal-political environment Economic environment Cultural environment

SUMMARY CHAPTER 4 Managing in a Global Environment WHAT S YOUR GLOBAL PERSPECTIVE? Parochialism: melihat dunia dengan prespektif sendiri, menuntun pada sebuah ketidakmampuan untuk mengakui perbedaan setiap individu. Orang dengan perspektif ini tidak mengakui bahwa orang lain mempunyai pandangan yang berbeda terhadap kehidupan dan pekerjaan. Parokialisme merupakan hambatan yang sangat berarti bagi para manageryang bekerja di lingkungan bisnis global. Ada 3 jenis Global Attitudes: -Ethnocentric attitude: adalah suatu kepercayaan parokialistik bahwa pekerjaan terbaik hanya dapat dilakukan di home country (negara dimana pimpinan perusahaan berlokasi). Mereka yang mempunyai anggapan ini meyakini bahwa orang-orang di luar negaranya tidak mempunyai keterampilan kerja, pengetahuan, atau pengalaman untuk memajukan suatu usaha. Sementara mereka percaya bahwa orang-orang dalam negeri mampu melakukan yang terbaik, sehingga mereka tidak akan mempercayai karyawan-karyawan dari luar negeri sekalipun dengan membawa kelebihannya. -Polycentric attitude: suatu pandangan bahwa para manager di host country (negara luar dimana organasisasi/perusahaan menjalankan bisnis) tahu bagaimana menjalankan bisnis dengan baik. Manajer dengan sikap ini mempunyai pandangan bahwa setiap kegiatan luar negeri merupakan hal yang berbeda dan sulit dimengerti. Sehingga, mereka lebih memilih untuk meninggalkan fasilitas-fasilitas luar negerinya dan membiarkan pekerja asing mengetahui sendiri bagaimana cara melakukan sesuatu yang terbaik. -Geocentric attitude: sebuah pandangan yang bersifat world-oriented, yang fokus pada penggunaan pendekatan terbaik dan sumber daya manusia dari seluruh dunia. Manajer dengan tipe ini percaya bahwa sangat penting untuk memiliki pandangan global, baik untuk perusahaan di home country maupun di luar negeri. Berikut informasi mengenai ketiga tingkah laku tersebut: Ethnocentric Polycentric Geocentric

Orientasi Home Country Host Country World Kelebihan Struktur lebih sederhana Mudah dalam pengawasan Kekurangan Managemen yang kurang efektif Tidak fleksibel Ancaman sosial dan politik Menekankan pada wawasan dan tempat kerja dalam pasar luar negeri Lebih banyak dukungan dari host government Komitmen manajer lokal dengan moral yang tinggi Pengulangan pekerjaan (duplication of work) Mengurangi efisiensi Sulit untuk mencapai tujuan global karena fokus terhadap tradisi/kebiasaan lokal Menekankan pemahaman global pada isu-isu Keseimbangan antara tujuan lokal dan global Penggunaan metode kerja dan SDM yang terbaik tanpa memperdulikan asalnya Sulit mencapai tujuan Manajer mempunyai pengetahuan, harus baik secara global maupun lokal Perhatian manajer terhadap perbedaan-perbedaan global sangat penting karena budaya tiap negara berbeda satu sama lainnya. Praktek manajemen yang dilakukan di Chicago mungkin tidak akan berjalan dengan baik ketika diterapkan di Bangkok atau Berlin, contohnya. Sehingga pada akhirnya kita akan mengerti bagaimana geocentric atittude akan mengurangi sikap parokial dan perlahan mengembangkan pemahaman terhadap perbedaan-perbedaan kebudayaan di antara negara-negara di dunia. UNDERSTANDING THE GLOBAL ENVIRONMENT Manajemen tidak hanya sebatas lingkup nasional saja, akan tetapi mencakup lingkungan global. Apa yang dimaksud dengan lingkungan global tersebut? Salah satu contoh penting adalah perdagangan global (global trade). Perdagangan global dibentuk atas dasar: aliansi perdagangan regional dan perjanjian negosisasi melalui WTO (World Trade Organization). 1. Regional Trading Alliances

a. European Union (EU) Penandatanganan Maastricht Treaty pada bulan Februari 1992 menciptakan European Union (EU), sebuah unifikasi ekonomi dan perdagangan dengan 12 anggota. Motivasi utama pembentukan aliansi ini adalah untuk meningkatkan kekuatan ekonomi melawan perekonomian Amerika dan Jepang. Sebelum terbentuknya EU, setiap negara mempunyai sistem pengawasan, pajak, subsidi, dan kebijakan masing-masing. Namun sekarang, sebagai pasar tunggal, tidak ada halangan untuk bepergian, bekerja, menanamkan investasi, dan melakukan perdagangan di antara negara-negara yang tergabung dalam EU. Mereka mempunyai mata uang yang lazim dipakai, yakni Euro. Hingga tahun 2004, terdapat 24 negara yang telah bergabung di EU. b. North American Free Trade Agreement (NAFTA) Pemerintah Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat sepakat untuk menyetujui perdagangan bebas, NAFTA, pada 12 Agustus 1992. Tujuan pembentukan aliansi ini adalah untuk menghapus hambatan dalam perdagangan di antara negara-negara Amerika Utara. Penghapusan tarif, lisensi impor, dan biaya pemakaian menghasilkan kekuatan ekonomi baru dari ketiga negara tersebut. c. Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) ASEAN adalah aliansi perdagangan dari 10 nrgara-negara di Asia Tenggara. Tujuan dari pembentukan kerjasama ini adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara regional dan diharapkan akan mampu bersaing melawan NAFTA dan EU. d. African Union (AU) Aliansi perdagangan antara 53 negara Afrika yang terbentuk pada bulan Juli 2002, mempunyai visi: membangun sebuah Afrika yang terintegrasi, sukses, dan damai. e. South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC) Aliansi 7 negara di Asia Selatan yang menghapuskan tariff sejak 1 Januari 2006. Seperti aliansi perdagangan lainnya, mereka mempunyai tujuan pembebasan alur barang dan jasa. 2. The World Trade Organization (WTO) WTO dibentuk pada tahun 1995 yang dikembangkan dari General Agreements on Tariffs and Trade (GATT). Dewasa ini, WTO menjadi satu-satunya organisasi global yang mengatur perdagangan antarnegara. WTO yang beranggotakan 149 negara ini mempunyai tujuan untuk membantu para pelaku bisnis (eksportir dan importir) dalam melakukan bisnisnya.

DOING BUSINESS GLOBALLY Perusahaan dapat melakukan bisnis secara global dengan cara mendirikan perusahaan internasional. Jenis-jenis perusahaan internasional di antaranya adalah: Multinational Corporation (MNC) merupakan jenis perusahaan internasional yang menjalankan kegiatan operasi perusahaan di banyak negara. Multidomestic Corporation merupakan sebuah MNC yang mengaplikasikan sistem manajemen desentralisasi dan pengambilan keputusan dilakukan di negara lokal. Jenis perusahaan ini menganut polycentric attitude. Mereka mengadopsi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan di pasar lokal. Global Company merupakan salah satu jenis dari MNC yang merupakan sebuah perusahaan internasional yang mengaplikasikan sistem sentralisasi dan pengambilan keputusan dilakukan di negara asal. Jenis ini menganut ethnocentric attitude. Transnational or Borderless Organization merupakan jenis dari perusahaan internasional dimana batas wilayah tidak menjadi hambatan, merupakan tipe MNC yang menganut geocentric atittude. Born Global merupakan salah satu dari jenis perusahaan internasional yang memilih untuk go global mulai dari awal berdirinya. HOW ORGANIZATIONS GO INTERNATIONAL Setelah perusahaan mempunyai tujuan untuk menjalankan bisnis secara global, selanjutnya adalah bagaimana cara perusahaan tersebut bisa dikatakan go international. Berikut ini adalah pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan perusahaan untuk mencapai tujuan bisnis globalnya: Global Sourcing atau dikenal juga dengan nama Global Outsourcing: pembelian bahan baku atau pun tenaga kerja yang paling murah dari seluruh dunia. Cara seperti ini bertujuan untuk menekan biaya sehingga bisa lebih kompetitif. Exporting: membuat produk di dalam negeri dan menjualnya ke luar negeri. Importing: pembuatan produk di luar negeri dan dijual di dalam negeri. Licensing: sebuah perusahaan yang diberi hak oleh perusahaan lain untuk membuat atau menjual produk dari perusahaan lain dengan menggunakan spesifikasi teknologi dan produknya. Franchising: sebuah perusahaan memberikan hak kepada perusahaan lain untuk menggunakan nama dan metode operasinya.

Strategic Alliance: kerjasama antara sebuah perusahaan dengan perusahaan asing dimana keduanya saling berbagi sumber daya dan pengetahuan dalam mengembangkan produk baru atau pun pembangunan fasilitas produksi. Kerjasama jenis ini juga saling berbagi risiko dan keuntungan. Joint Venture: jenis yang lebih spesifik dari strategic alliance, dimana para anggota sepakat untuk membuat suatu bentuk pemisah, perusahaan tidak saling berkaitan dalam tujuan bisnis tertentu. Foreign Subsidiary: merupakan sebuah investasi langsung di negara lain, namun sebagai bagian yang terpisah dari fasilitas produksi atau kantor. MANAGING IN A GLOBAL ENVIRONMENT Seorang manajer yang mengepalai cabang suatu perusahaan di negara lain pasti akan menghadapi tantangan baru. Dengan berada di negara lain, cabang perusahaan global itu menjadi tamu dan harus menjadi tamu yang baik dengan cara mamatuhi peraturan yang berlaku di negara tersebut. Beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh para manajer perusahaan yang memimpin cabangnya di negara lain, berkaitan dengan berbagai kondisi di sana, antara lain: 1. Lingkungan Politik dan Hukum Untuk beberapa negara, seperti Amerika Serikat, memiliki hukum yang di tegakkan dengan baik dan iklim politik yang kondusif. Hal ini membuat banyak investor yang percaya untuk menanamkan modalnya di sana. Tetapi tentunya tidak semua negara sekondusif kondisi layaknya di Amerika Serikat. Manajer di suatu negara harus tetap mendapat informasi sempurna terhadap hukum yang berlaku di negara tersebut. Analisis global mengenai risiko politik dari Deutsche Banks mengelompokkan negara-negara ke dalam kategori stabilitas yang berbeda: maksimum, tinggi, sedang, rendah, dan payah. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan Jerman termasuk kedalam kategori stabilitas politik yang tinggi. Sedangkan yang masuk kedalam kategori rendah diantaranya antara lain Afghanistan dan Korea Utara. Manajer akan menghadapi ketidakpastian yang besar terhadap keamanan perusahaan mereka di negara dengan kondisi politik yang tidak stabil. Tidak jarang para investor yang sedianya akan membuka cabangnya di negara lain, terhambat dengan hal di atas. Selain stabilitas politik, ideologi yang melandasi terbentuknya hukum di suatu negara juga menjadi pertimbangan. Seperti contohnya adalah hukum di China yang komunis, dimana semua dikendalikan

pemerintah. 2. Lingkungan Ekonomi Seorang manajer yang sedang menjalankan bisinisnya di luar negeri harus selalu memperhatikan sistem ekonomi yang di anut suatu negara. Ada dua macam sistem ekonomi: a. Ekonomi Pasar lebih mengarah kepada kapitalisme, di mana semua sumber daya dimiliki dan dikelola oleh sektor privat (swasta) b. Ekonomi Terpimpin kebijakan-kebijakan ekonomi dirancang oleh pemerintah. Pada kenyataannya tidak ada satu negara yang menerapkan sistem ini secara penuh. Seperti Amerika Serikat dan Inggris yang menerapkan sistem ekonomi pasar, tetap ada kontrol pemerintah meskipun sedikit. Begitu pula dengan Vietnam dan Korea Utara yang menganut sistem ekonomi terpimpin, meskipun demikian, tetap ada kebebasan meskipun minim. Masalah ekonomi lain yang perlu diperhatikan oleh manajer adalah perubahan kurs mata uang asing, tingkat inflasi, dan perbedaan kebijakan pajak. Keuntungan perusahan sangat bergantung dengan kekuatan kurs mata uang negara asal perusahaan dengan negara tempat mereka beroperasi di negara lain. Inflasi berpengaruh terhadap tingkat bunga, kekuatan mata uang, biaya hidup, dan kepercayaan perusahaan terhadap sistem ekonomi dan politik negara tersebut. Selain inflasi, masalah lainnya yang tidak kalah penting adalah pajak. Ada beberapa negara yang menerapkan pajak rendah atau tinggi terhadap perusahaan asing yang ingin membangun pabrik dan cabang di negara mereka. Para manajer tentu harus mengetaui informasi secara pasti mengenai sistem pajak di negara di mana mereka beroperasi untuk meminimalisasi utang pajak dari keseluruhan kegiatan bisnis. 3. Lingkungan Budaya Kebudayaan antara negara Barat seperti Eropa dan Amerika jauh berbeda dengan negara Timur di Asia. Oleh karena perbedaan inilah terkadang menjadi penghalang yang menyebabkan ketidakstabilan perusahaan yang membuka cabang di negara lain dan tidak memperhatikan budaya yang berkembang di sana. Ada penelitian bahwa budaya suatu negara berpengaruh lebih besar kepada pekerja di sana daripada budaya yang dibangun oleh perusahaan. Hal ini menjadi salah satu catatan bagi manajer untuk memperhatikan perbedaan budaya ini karena produktivitas pekerja yang menjadi taruhannya. Jika perusahaan tidak toleran dengan budaya negara itu, maka banyak orang yang menolak kehadiran cabang dari perusahaan

tersebut di negara tersebut. Budaya dalam hal ini tidak hanya terbatas pada kebiasaan atau adat, tetapi juga kepada karakter warga negara, agama, suku, dan lain-lain. Untuk membantu memahami perbedaan budaya antarnegara, seorang manajer dapat menggunakan beberapa pendekatan referensi, di antaranya adalah: a. Hofstede s Framework for Assessing Cultures Adalah salah satu pendekatan referensi yang dapat membantu manajer memahami perbedaan-perbedaan budaya negara-negara lain yang dikembangkan oleh Geert Hofstede. Penelitiannya menyimpulkan bahwa para manajer dan para karyawan mempunyai variasi yang berbeda mengenai budaya nasional, yang mempunyai lima dimensi: Individualism versus collectivism. Individualisme adalah tingkat di mana seseorang cenderung lebih memilih bertindak sebagai individu dibanding sebagai anggota dari suatu kelompok. Kebalikannya adalah kolektivisme, struktur sosial di mana orang-orang lebih menyukai bertindak sebagai anggota kelompok dan berharap bahwa anggota lain yang tergabung dalam kelompok tersebut dapat saling menjaga satu sama lain, layaknya sebuah keluarga atau organisasi. Power distance. Hofstede menggunakan istilah ini sebagai tolak ukur yang luas, di mana masyarakat menerima kenyataan bahwa kekuatan dalam suatu institusi dan organisasi dapat didistribusikan secara merata. Uncertainty avoidance. Menggambarkan suatu tingkatan di mana orang dapat mentoleransi resiko dan lebih menyukai kondisi yang terstruktur. Achievement versus nurturing. Achievement adalah suatu tingkatan yang mengandung nilai-nilai seperti kepercayaan, akuisisi dari uang dan barang material, dan kemenangan atas kompetisi. Long-term and short-term orientation. Orang dengan budaya long-term orientation melihat jauh ke masa depan, waktu luang tidaklah begitu penting, dan mereka percaya bahwa kejadian paling penting dalam hidupnya akan terjadi di masa depan. Sebaliknya, budaya short-tem orientation hanya melihat masa lalu dan sekarang, waktu luang menjadi sangat penting, dan mempercayai bahwa kejadian yang paling berharga dalam hidupnya terjadi di masa lampau atau saat ini. b. The GLOBE Framework Meskipun dimensi kebudayaan dari Hofstede sudah menjadi bagian utama dalam pembedaan budaya antarnegara, namun seiring berjalannya waktu terdapat berbagai perubahan dalam lingkungan global. GLOBE

(Global Leadership and Organizational Behavior Effectiveness) merupakan program penelitian yang dimulai tahun 1993, secara bertahap meneliti tingkah laku kepemimpinan berdasarkan silang-budaya. Berikut sembilan dimensi yang dihasilkan: Assertiveness Future orientation Gender differentiation Uncertainty avoidance Power distance Individualism/collectivism In-group collectivism Performance orientation Humane orientation GLOBAL MANAGEMENT IN TODAY S WORLD Menjalankan bisinis global tentu tidaklah mudah. Selain harus berhadapan dengan lingkungan dan kondisi (baik itu sosial politik, ekonomi, maupun budaya) suatu negara, para pelaku bisnis juga harus menerima resiko dari keterbukaan bisnisnya. Salah satu tantangan yang muncul dari keterbukaan ini adalah ancaman terorisme. Tantangan yang lainnya adalah ketergantunagan ekonomi pada negara-negara yang melakukan perdagangan. Namun, terlepas dari semua itu, tantangan terbesar yang harus dihadapi para manajer adalah mengenai perbedaan kebudayaan, mencakup di dalamnya perbedaan adat istiadat, tradisi, sejarah, agama dan kepercayaan, dan norma sosial. Menjalankan usaha di lingkungan seperti itu tentu akan sangat rumit. Pada akhirnya, kesuksesan manajemen di lingkungan global seperti saat ini akan membutuhkan perhatian dan pemahaman yang luar biasa. Para manajer dari setiap negara harus berhati-hati terhadap keputusan dan tindakannya yang akan dinilai tidak hanya oleh orang yang setuju dengannya, namun yang paling penting adalah oleh orang-orang yang tidak setuju dengannya. Mereka harus menyesuaikan gaya kepemimpinan dan pendekatan manajemen yang dilakukannya untuk mengatasi perbedaan pandangan. Mereka akan melakukan hal tersebut sembari tetap fokus pada efisiensi dan efektifitas semaksimal mungkin untuk mencapai tujuantujuan organisasi.