4. Emulsifikasi dan homogenisasi

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Optimasi pembuatan mikrokapsul alginat kosong sebagai uji

SIFAT PERMUKAAN SISTEM KOLOID PANGAN AKTIVITAS PERMUKAAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. membentuk konsistensi setengah padat dan nyaman digunakan saat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

PENJABARAN RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN Mingguke-5

Fransiska Victoria P ( ) Steffy Marcella F ( )

BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

STUDI PEMBUATAN FOOD ADDITIVE (PAN GREASE) DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI PENGEMULSI

METODOLOGI PENELITIAN

FORMULASI DAN UJI STABILITAS FISIK KRIM SUSU KUDA SUMBAWA DENGAN EMULGATOR NONIONIK DAN ANIONIK

Mentega dan Es Krim. Materi 13 TATAP MUKA KE-13 Semester Genap BAHAN KULIAH TEKNOLOGI HASIL TERNAK

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA I

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kelarutan Ibuprofen dalam Minyak, Surfaktan, dan Kosurfaktan Formulasi Self-nanoemulsifying Drug Delivery System

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

EMULSI FARMASI. PHARM.DR. JOSHITA DJAJADISASTRA, MS, PhD

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Karakterisasi Fisik Vitamin C

PERANCANGAN MIXER MATERI KULIAH KALKULUS TEP FTP UB RYN MATERI KULIAH KALKULUS TEP FTP UB

BAB 1 PENDAHULUAN Latar belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA. Alat-alat gelas, Neraca Analitik (Adam AFA-210 LC), Viskometer

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rendemen APG dihitung berdasarkan berat APG yang diperoleh setelah dimurnikan dengan berat total bahan baku awal yang digunakan.

Pengaruh Penambahan Emulsifier dan Stabilizer Terhadap Kualitas Santan Kelapa

Pengaruh Surfaktan Campuran pada Pembentukan Emulsi untuk Ekstraksi Merkuri (II) dengan Membran Cair Emulsi (MCE)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMISAHAN MEKANIS (mechanical separations)

BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA

PEMERINTAH KABUPATEN BANYUMAS DINAS PENDIDIKAN SMA NEGERI PATIKRAJA Jalan Adipura 3 Patikraja Telp (0281) Banyumas 53171

Analisa Stabilitas Homogenisasi Salad Dressing Dari Minyak Jagung dan Air Jeruk Nipis dengan Penambahan Kuning Telur sebagai Emulsifier

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

Lampiran 1. Determinasi Tanaman Jarak Pagar

FORMULASI SEDIAAN SEMISOLIDA

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGUJIAN SIFAT FISIK EMULSI

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

A. WAKTU DAN TEMPAT B. ALAT DAN BAHAN C. METODE PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. dicatat volume pemakaian larutan baku feroamonium sulfat. Pembuatan reagen dan perhitungan dapat dilihat pada lampiran 17.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pusat Teknologi Farmasi dan

AGRIBISNIS PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN

Bilamana beberapa fase berada bersama-sama, maka batas di antara fase-fase ini dinamakan antarmuka (interface).

I. PENDAHULUAN. Pasta merupakan produk emulsi minyak dalam air yang tergolong kedalam low fat

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

BAB.IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Data analisis kandungan Resin, Wax dan Aspalten di dalam minyak mentah dapat dilihat pada Tabel 4.1.

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA TEGANGAN PERMUKAAN

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM BIOKIMIA. (Uji Pembentukan Emulsi Lipid)

VOLUME, DENSITAS, BAHAN PADAT DAN CAIR SERTA POROSITAS

Universitas Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN. Potensi Indonesia sebagai produsen surfaktan dari minyak inti sawit sangat besar.

VISKOSITAS DAN TENAGA PENGAKTIFAN ALIRAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

SUSPENSI DAN EMULSI Mata Kuliah : Preskripsi (2 SKS) Dosen : Kuni Zu aimah B., S.Farm., M.Farm., Apt.

Hasil dari penelitian ini berupa hasil dari pembuatan gliserol hasil samping

KELARUTAN ZAT PADAT DALAM CAIRAN

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMASI FISIKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR KIMIA DASAR

Ahmad Zaki Mubarok Kimia Fisik Pangan 2014

I. PENDAHULUAN. yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan

INTERESTERIFIKASI INTERESTERIFIKASI 14/01/2014

I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi

ρ = m/v m = massa V = Volume Satuan = g/ml = g cm -3 Satuan SI = kg/m 3

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi

I. PENDAHULUAN (Ditjen Perkebunan, 2012). Harga minyak sawit mentah (Crude Palm

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

39 HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I PENDAHULUAN. Bab ini membahas mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2)

EKSTRAKSI CAIR-CAIR. Bahan yang digunkan NaOH Asam Asetat Indikator PP Air Etil Asetat

HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis Partikel Magnetik Terlapis Polilaktat (PLA)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Perlakuan Menurunkan lemak susu sapi

LAMPIRAN I DATA PENGAMATAN

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan Alat Bahan 3.3 Prosedur Penelitian

UNIVERSITAS GADJAH MADA

MIKROMERITIK. Dhadhang Wahyu Kurniawan Laboratorium Farmasetika Unsoed Twitter: Dhadhang_WK Facebook: Dhadhang Wahyu Kurniawan 6/19/2013

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai gizi dari suatu makanan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. homogenizer. Homogenisasi adalah proses penyeragaman ukuran partikel

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berasa dan tidak berwarna. Pengunaannya dalam dunia industri sangat luas. meliputi industri farmasi, kosmetik, dan bahan pangan.

Gambar 4.1 Hasil Formulasi Nanopartikel Polimer PLGA Sebagai Pembawa Deksametason Natrium Fosfat.

Transkripsi:

Minggu 4 4. Emulsifikasi dan homogenisasi 4.. Emulsi Emulsi adalah suatu larutan yang terdiri dari fase disperse dan fase continue. Ada dua tipe emulsi yaitu air dalam lemak dan lemak dalam air. Contoh adalah emulsi lemak dalam air pada susu, mayonnaise dan butter serta margarine. Globula dalam emulsi dapat dengan mudah diperkecil ukurannya dan dapat mengalami coalesensi yaitu penggabungan dua atau lebih globula kecil sehingga menjadi globula yang lebih besar. Table 4. adalah beberapa karakteristik dari emulsi. Tabel 4.. Karakteristik dari emulsi Parameter Symbol Besaran Diameter partikel (m) Perbedaan densitas (kg/m3) Shear stress (N/m) Tekanan Laplace (N/m ) Konsentrasi dispers fase D ρ c -ρ d γ 4 γ Φ x0-7 0-5 0 00 0-4 0 - ~ 04 0,0 0,8 Emulsi dapat dibuat dengan mencampurkan bahan yang akan didispersikan kedalam fase kontinue dan menambahkan emulsifier kedalam campuran tersebut. Tahap selanjutnya adalah memasukkan campuran tersesbut kedalam homogenizer pada kecepatan putaran tinggi. Adapun tujuan dan homogenisasi dan campuran tersebut adalah untuk mendapatkan globula (partikel) yang kecil sehingga fase terdispersi menjadi stabil. Adapaun fungsi dan emulsifier adalah: a. Penurunan tegangan permukaan dan tekanan Laplace. Oleh sebab itu, pada energy density yang sama maka akan diperoleh partikel dispersi yang kecil. Dengan kata lain: energi yang diperlukan untuk mendapatkan partikel tertentu akan lebih kecil jika menggunakan emulsifier. b. Menghindari coalesensi. Emulsifikasi adalah suatu proses yang melibatkan shearing partikel yang diikuti oleh proses coalesensi dan partikel-partikel sehingga didapatkan emulsi yang stabil. Emulsifier dapat menghasilakan partikel kecil sehingga akan lebih stabil daripada partikel besar terhadap proses coalesensi.

Selain itu, angka HLB ( hydrophil-liophil balance) seringkali digunakan untuk mengkarakterisasi emulsifier. Jika angka HLB emulsifier tinggi maka emulsifier akan lebih mudah larut dalam air, sedangkan jika angka HLB rendah maka emulsifier akan mudah larut dalam minyak. Angka HLM emulsifier didefinisikan bahwa untuk angka HLB adalah 7 maka kelarutan emulsifier didalam air dan didalam minyak adalah sama. Tabel 4. menunjukkan angka HLB beberapa emulsifier. Angka Penggunaan HBL Non-ionic Monoglycerida Glycerol-monostearat 3,8 Ice cream, roti Polyglycerol mono- Tetraglycerol-monostearat 9, asam lemak Tween 60 Polyoxyethylene sorbitan- 4,9 Chocolat monostearat Tween 65 Polyoxyethylene sorbitan- tristearat 0,5 Ice cream Tween 80 Polyoxyethylene sorbitan- 5,8 Ice cream monooleat Span 60 Sorbitan monostearat 4,7 Produk roti Anionic Sabun Natrium oleat 8 Asam susu ester Na-stearoyl--lactoyl- laktat Produk roti Fosfatida Lecithine Sangat Margarine tinggi Instabilitas dari emulsi adalah sebagai berikut : a. Disproportioning atau Ostwald growing. Proses ini adalah terjadinya globula atau gelembung yang lebih besar karena bergabungnya globula kecil b. Pemisahan fase diaperse dan fase continue. Hal ini disebabkan oleh perbedaan densitas dari globula dan continue fase. Kecepatan pemisahan ini dapat dihitung menggunakan hokum Skotes. d v ( ) g p 8

Proses ini dapat dipercepat jika terjadi agregasi dari globula atau partikel. Table 4.3 adalah tentang kecepatan pemisahan fase disperse. Table 4.3. Kecepatan pemisahan fase disperse pada produk susu. Persentase lemak yang terdapat pada fase lemak (q) per hari. q Produk Stokes (% per hari) Koreksi (% per hari) Pasteurisasi susu Homogenisasi susu Evaporasi susu Susu kental 60 0,4 0,4 0, 0,3 8 40 0, 0, 0,4 0, c. Koalesensi. Bergabungnya globula atau partikel kecil menjadi partikel besar disebut coalesensi. Kecepatan koalesensi dipengaruhi oleh: - ukuran partikel (globula). Kecepatan coalesensi meningkat dengan kenaikan diameter dan globula. - jenis emulsifier. Low molekul emulsifier akan menurunkan stabilitas dan emulsi - suhu, ph dan ion strength Minggu 5 4.3 Homogenisasi Homogenisasi adalah suatu proses untuk mengecilkan ukuran dari globula atau partikel yang terdispers dalam larutan. Tujuan homogenisasi adalah: a. untuk menghindari terjadinya fase disperse, missal: pemisahan lemak cacao, pemisahan lemak dalam susu b. memperbaiki stabilitas emulsi terhadap koalesensi c. memperbaiki rheologi bahan Alat yang digunakan adalah homogenisator yang terdiri dari pompa bertekanan tinggi untuk menekan cairan melewati lubang kecil. Adapun prinsip dari hamogenasisasi adalah cairan dipompa dengan kecepatan tinggi sehingga klep homogenisator yang menghalangi keluarnya cairan akan tertekan dan terbuka sedikit. Hal ini menyebabkan kecepatan aliran cairan (v ) tinggi. Menurut hokum Bernouli maka P v P v v : kecepatan aliran

ρ : densitas larutan index dan : sesudah dan sebelum klep homogenisator P : tekanan homogenisasi P >> P dan v << v maka P v max Dari persamaan tersebut diatas maka untuk P =0 Mpa, kecepatan maksimum yang melewati lubang klep adalah 00 m/s. - potensial energi cairan akan diubah menjadi energi kinetic. Energi kinetic ini berubah menjadi energi panas dan turbulensi. - Jika energi dissipasi ini adalah sama dengan P maka kenaikan suhu yang - disebabkan oleh proses homogenisasi adalah T P mc p Tabel 4.4. adalah efek homogenisasi pada susu Tekanan homogenisasi (Mpa) - 5 0 0 40 Kenaikan suhu ( o C) Jumlah globula lemak (µm -3 ) Diameter rata-rata d vs (µm) Maksimum diameter (µm) Luas permukaan A (m /ml susu) Distribusi factor C s (-) - 0,05 3,3 0 0,08 0,44,,8 0,7 3, 0,38 0,89,5 6,9 0,47,3 0,64 0,85 5 6 0,3,6 0,88 0,83 0 40 0,,, 0,85 Faktor yang mempengaruhi ukuran globula lemak adalah: a. Tipe homogenisator, terutama konstruksi dari klep homogenisator. Untuk tekanan homogenisasi yang sama maka lama tinggal bahan dalam klep homogenisator (t p ) dapat berbeda tergantung dari besar lubang klep yang dilalui. Energi density ε dapat dihitung: P t p b. Tekanan homogenisasi. Diameter rata-rata (d vs ) dapat dihitung dari persamaan berikut : log d vs = konstanta 0,6 log P sedangkan parameter pemisahan (H) apat dihitung sebagai berikut : log H = konstanta, log P

c. Perbandingan antara lemak dan emulfiser. Jika emulfiser tidak cukup untuk menutup seluruh permukaan globula lemak maka diameter rata-rata globula lemak (d vs ) dan relative distribusi factor (c s ) besar. d. Suhu. Suhu homogenisasi biasanya antara 40 75 o C. homogenisasi pada suhu rendah mengakibatkan terjadinya Kristal lemak sehingga emulsi yang didapat akan jelek.