PENANGANAN PASCAPANEN PADI

dokumen-dokumen yang mirip
TEKNIK PASCAPANEN UNTUK MENEKAN KEHILANGAN HASIL DAN MEMPERTAHANKAN MUTU KEDELAI DITINGKAT PETANI. Oleh : Ir. Nur Asni, MS

PANEN DAN PENGELOLAAN PASCAPANEN PADI

TEKNOLOGI PENANGANAN PANEN DAN PASCAPANEN UNTUK MENINGKATKAN MUTU JAGUNG DITINGKAT PETANI. Oleh: Ir. Nur Asni, MS

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH PASCA

Menurut Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura (1999) tujuan. pemanenan padi adalah untuk mendapatkan gabah dari lapangan pada tingkat

II. TINJAUAN PUSTAKA Terminologi Pasca Panen Padi. A. Kualitas Fisik Gabah

Teknologi Penanganan Panen Dan Pascapanen Tanaman Jeruk

TINJAUAN PUSTAKA. barang dan jasa akan terdistribusi dengan jumlah, waktu, serta lokasi yang

PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PANEN DAN PASCAPANEN TANAMAN KEDELAI

PENGERINGAN PADI Oleh : M Mundir BP3K Nglegok

Persyaratan Lahan. Lahan hendaknya merupakan bekas tanaman lain atau lahan yang diberakan. Lahan dapat bekas tanaman padi tetapi varietas yang

PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG

ALAT DAN MESIN PANEN PADI

PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN

II. MENEKAN KEHILANGAN HASIL

7. Pencapaian Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi

MODUL POWER THRESHER. Diklat Teknis Dalam Rangka Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Pertanian dan BABINSA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung (Zea mays) adalah tanaman semusim yang berasal dari Amerika

INFORMASI PRAKTIS PENANGANAN PASCAPANEN KEDELAI. OLeh Ir. I. Ketut Tastra, MS. Informasi Praktis Balitkabi No.:

PENGOLAHAN BUAH LADA

I. PENDAHULUAN. Beras adalah buah padi, berasal dari tumbuh-tumbuhan golongan rumputrumputan

I. PENDAHULUAN. ditingkatkan dengan penerapan teknik pasca panen mulai dari saat jagung dipanen

PETUNJUK LAPANGAN 3. PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG

I. PENDAHULUAN. Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pokok di Indonesia karena sebagian besar

METODOLOGI. Waktu dan Tempat. Alat dan Bahan. Metode Penelitian

PANEN DAN PENGELOLAAN PASCAPANEN KEDELAI

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

Sumber Pustaka Hilman. Y. A. Hidayat, dan Suwandi Budidaya Bawang Putih Di Dataran Tinggi. Puslitbang Hortikultura. Jakarta.

TEKNOLOGI PASCA PANEN MKB 604/3 SKS (2-1)

Jember, Juli, 2011 [PROSIDING SEMINAR NASIONAL PERTETA 2011] Rokhani Hasbullah 1), Riska Indaryani 1) Abstrak

Meningkatkan Nilai Tambah Bawang Merah Oleh: Farid R. Abadi

Gambar. Diagram tahapan pengolahan kakao

Pertemuan ke-14. A.Tujuan Instruksional 1. Umum Setelah mengikuti matakuliah ini mahasiswa

Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan

TEKNOLOGI PASCAPANEN BAWANG MERAH LITBANG PASCAPANEN ACEH Oleh: Nurbaiti

Teknologi Pengolahan Kopi Cara Basah Untuk Meningkatkan Mutu Kopi Ditingkat Petani

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAHAN DAN METODE. Bahan yang digunakan adalah benih padi Varietas Ciherang, Urea, SP-36,

I. PENDAHULUAN. Tanaman pangan yang antara lain terdiri atas padi, jagung, kedelai, kacang tanah,

Dairi merupakan salah satu daerah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Padi termasuk genus yang meliputi kurang lebih 25 spesies, tersebar di daerah

PENYIMPANAN GABAH KERING Oleh : M Mundir BP3K Nglegok

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dibudidayakan. Padi termasuk dalam suku padi-padian (Poaceae) dan

PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1

BAB VI PRODUKSI BENIH (SEED) TANAMAN

ANALISIS PENYEBARAN PANAS PADA ALAT PENGERING JAGUNG MENGGUNAKAN CFD (Studi Kasus UPTD Balai Benih Palawija Cirebon)

PENANGANAN PASCA PANEN YANG BAIK (GOOD HANDLING PRACTICES/GHP) RIMPANG

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENYIMPANAN BUAH DAN SAYUR. Cara-cara penyimpanan meliputi : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN SEGAR (BUAH, SAYUR DAN UMBI)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman jagung termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea. sistimatika tanaman jagung yaitu sebagai berikut :

PENANGANAN PASCA PANEN

BEDAH SNI PRODUK UNGGULAN DAERAH

II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI

ASPEK MIKROBIOLOGIS PENGEMASAN MAKANAN

Teti Estiasih THP - UB PENANGANAN PASCAPANEN HASIL PERTANIAN

Pengawetan pangan dengan pengeringan

OLEH HARI SUBAGYO BP3K DOKO PROSES PENGOLAHAN BIJI KOPI

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat

TINJAUAN PUSTAKA A. GEBOT (PAPAN PERONTOK PADI)

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini berlangsung dari bulan Mei sampai September 2013 di Desa

I. PENDAHULUAN. Broiler adalah ayam yang memiliki karakteristik ekonomis, memiliki

Teknologi pangan adalah teknologi yang mendukung pengembangan industri pangan dan mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya mengimplementasikan

KKN ITATS Tahun Kegiatan Pelatihan Pembuatan Kompos. Disiapkan oleh Taty Alfiah, ST.MT

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di

Pengeringan Untuk Pengawetan

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENANGANAN HASIL PERTANIAN PEMBERSIHAN, SORTASI, DAN GRADING BAHAN HASIL PERTANIAN. Oleh :

PENGENDALIAN TANAMAN TERPADU KEDELAI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada

II. TINJAUAN PUSTAKA

PEMBUATAN TEPUNG JAGUNG

Budi Daya Padi di Sumatera Barat Masalah dan Penanggulangannya. ~Ringkasan Proyek Peningkatan Teknologi Budi Daya Padi di Sumatera Barat 1~

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Kentang Panen

Ir. Khalid. ToT Budidaya Kopi Arabika Gayo Secara Berkelanjutan, Pondok Gajah, 06 s/d 08 Maret Page 1 PENDAHULUAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

SISTEM KERING DAN SISTEM BASAH DALAM PROSESING BENIH KAPAS (Gossypium hirsutum L.)

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan STIPER Dharma Wacana Metro,

LAPORAN PRAKTIKUM Mata Kuliah Pasca Panen Tanaman PENGGILINGAN PADI. Disusun oleh: Kelompok 3

KAJIAN RUMAH PLASTIK PENGERING KOPRA KASUS DESA SIAW TANJUNG JABUNG TIMUR. Kiki Suheiti, Nur Asni, Endrizal

Prinsip-prinsip Penanganan dan Pengolahan Bahan Agroindustri

adalah praktek budidaya tanaman untuk benih

III. METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian

I. BEBERAPA KIAT PENGOPERASIAN MESIN PERONTOK PADI

Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul)

PENGELOLAAN TERPADU PADI SAWAH (PTPS): INOVASI PENDUKUNG PRODUKTIVITAS PANGAN

BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Agustus Analisa laboratorium dilakukan di Laboratorium Penelitian dan

III. BAHAN DAN METODE

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari - April 2014 di Kabupaten Pringsewu

BAB I PENDAHULUAN. pangan yang berasal dari biji, contohnya yaitu padi. Dalam Al-Qur'an telah

GAMBARAN UMUM DAERAH. mempunyai luas wilayah sebesar Ha. Secara administratif Kecamatan

Kompos Cacing Tanah (CASTING)

BUDIDAYA PADI RATUN. Marhaenis Budi Santoso

TINJAUAN PUSTAKA. pemanenan, perontokan, pengeringan dan penggilingan. Tiap-tiap tahapan ini

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU BENIH. Faktor Genetik/ Faktor Lingkungan/ Eksternal

Transkripsi:

PENANGANAN PASCAPANEN PADI Sulardjo* Abstrak: Penerapan teknologi prapanen saja ternyata belum cukup untuk mendukung upaya pencapaian sasaran kecukupan pangan, peningkatan pendapatan petani, dan pemerataan kesempatan kerja. Upaya tersebut harus didukung oleh pengamanan produksi melalui penerapan pascapanen. Usaha penyelamatkan hasil padi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional dapat dilakukan antara lain dengan meningkatnya kemampuan petani untuk memanen, merawat, mengeringkan, menyimpan, dan memberaskan, serta meningkatnya mutu hasil panen maupun hasil olahan. Teknologi pascapanen dapat mengamankan hasil panen dan mengolah hasil menjadi komoditas bermutu, siap dikomsumsi, selain dapat pula meningkatkan daya guna hasil maupun limbah hasil olahan. Petani melaksanakan proses pengamanan produksi pada tahap paling rawan, yakni panen (pengumpulan, perontokan, pembersihan, dan pengangkutan), pengeringan (penjemuran, pembalikan dan pembersihan) dan pengolahan (penggilingan, pengemasan, penyimpanan, pengangkutan). Upaya ini lebih banyak ditujukan untuk menyelamatkan kehilangan hasil daripada mengurangi susut maupun meningkatkan mutu karena terbatasnya kemampuan petani, baik dalam penguasaan teknologi, penyediaan sarana, maupun permodalan. Proses pascapanen merupakan rangkaian masalah yang luas dan kompleks, yang tidak hanya ditentukan oleh masalah teknis tetapi juga melibatkan sosial dan ekonomi. Teknologi pascapanen tepat guna mutlak diperlukan karena berkaitan dengan jumlah dan mutu komoditas. Masalah pendayagunaan hasil dan limbah hasil panen serta hasil olahan juga perlu mendapatkan perhatian untuk dapat menunjang peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. PENDAHULUAN Sebelum menginjak pada uraian penanganan pasca panen, perlu diketahui dahulu yang dimaksudkan dengan pascapanen. Masalah pangan telah lama menjadi perhatian kita, karena pangan merupakan kebutuhan hidup pokok yang pemenuhannya tidak dapat ditunda. Pascapanen atau lepas panen atau purna panen adalah bahan hasil pertanian baik nabati maupun hewani yang merupakan hasil suatu pemetikan, penangkapan atau bentuk pengambilan lainnya. Pada uraian ini yang dibahas adalah hasil pertanian nabati yang berasal dari tanaman pangan khususnya padi di tingkat petani. Selanjutnya yang dimaksud dengan penanganan pascapanen atau pengelolaan pasca panen adalah kegiatan yang dilakukan terhadap hasil pertanian, segera setelah bahan atau hasil tersebut dipanen. Dalam kegiatan pengelolaan pascapanen ini termasuk juga pengelolaan yang sifatnya tidak mengubah struktur asli bahan tersebut. Misalnya gabah menjadi beras, daging menjadi dendeng, ubi kayu menjadi gaplek, termasuk didalamnya adalah adalah dosen Fakultas THP, UNWIDHA Klaten 44 Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014

cara memanennya Sedang pascapanen yang mengubah struktur bahan, lebih cenderung dimasukkan kedalam kegiatan industri atau manupacturing. Misalnya susu menjadi keju, bunga matahari menjadi margarine, kedele menjadi kecap dan lain-lainnya. Teknologi Pascapanen yang telah ada belum dapat mengimbangi teknologi Pra-Panen, khususnya di tingkat Petani, sehingga banyak terjadi susut maupun penurunan mutu yang tidak diinginkan. Pengalaman masa lalu membuktikan bahwa banyak produksi pangan, seperti palawija dan hortikultura, hasil ternak dan komoditi perikanan, yang hilang muspra (sia-sia) sebagai akibat kurangnya perhatian terhadap proses pasca panen. Perlu diketahui bahwa kehilangan produksi setelah panen adalah sebagai berikut : - Untuk beras, mencapai : 11% - 13% - Untuk buah-buahan dan sayuran : 20% - 40% - Untuk hasil-hasil peternakan : 15% - 20% - Untuk hasil perikanan lebih kurang : 20% Mengingat banyaknya kerugian yang ditimbulkan oleh masalah pasca panen ini, sudah saatnya kita mulai memperhatikan masalahnya secara bersungguh-sungguh dengan menerapkan berbagai teknologi yang sudah diketahui. Masalah yang dihadapi dalam hal ini yaitu kurangnya pengetahuan petani. Menurut hasil penelitian, materi pascapanen yang disampaikan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pada setiap kegiatan penyuluhan kira-kira 4% saja, sedangkan materi tentang pra-panen mencapai lebih dari 72%, baru kemudian masalah permodalan PENANGANAN PASCA PANEN Pascapanen menurut bahasanya berarti setelah panen, lepas panen, atau ada juga yang menyebutnya purna panen. Penanganan pasca panen terhadap komoditi pangan dewasa ini sangat penting, karena : - Komoditi pangan saat ini masih merupakan komoditi penting dalam kehidupan dan kegiatan sebagian besar masyarakat kita. - Komoditi pangan tidak hanya padi saja, tetapi juga mencakup produk-produk yang sangat beragam seperti palawija, hasil-hasil perikanan, hasil-hasil peternakan dan bahkan juga hasil-hasil perkebunan seperti gula kopi, dll. Disamping itu, juga hasil-hasil non-konvensional seperti aren, sagu dan lain-lain. - Beberapa teknologi penangan pascapanen komoditi pangan telah banyak dilakukan oleh masyarakat kita. - Swasembada pangan akan sulit dicapai dan dimantapkan tanpa usaha penanganan pasca panen yang baik. - Penanganan pasca panen mempunyai nilai ekonomi dan dampak sosial yang sangat luas. Proses penanganan pascapanen ini melibatkan banyak pihak, mulai dari produsen (petani, nelayan dan peternak), lembaga-lembaga pemerintah, pemasaran (pengecer, tengkulak, toko dan lain-lain), industri pengolahan (penggilingan beras, pabrik abon, pemindangan) dan konsumen. Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014 45

BERBAGAI MASALAH PADA PASCAPANEN A. Masalah Umum Pascapanen Pertambahan penduduk, selalu diikuti dengan kebutuhan pangan yang makin meningkat. Hal ini yang mendorong diadakannya berbagai usaha untuk peningkatan produksi pangan. Berkat usaha pemerintah dalam menyediakan kemudahan-kemudahan bagi petani seperti perkreditan, pupuk, pestisida, vaksin pencegah penyakit ternak serta benih unggul dan kegiatan penyuluhan yang sekamin intensif, maka dapat dikatakan produksi komoditi berbagai sektor pertanian meningkat. Akan tetapi pengalaman masa lalu membuktikan bahwa banyak produksi pangan, seperti palawija dan hortikultura, hasil ternak dan hasil perikanan yang hilang sia-sia sebagai akibat kurangnya perhatian terhadap penanganan pascapanen. Yang dimaksud penanganan disini, ialah usaha-usaha yang dilakukan agar susut bobot dan penurunan mutu komoditi pangan dapat diperkecil, sehingga dapat mengurangi kerugian yang timbul. Seperti usaha-usaha untuk mengurangi banyaknya kandungan butir hijau dan butir kapur pada gabah IR-36; usaha-usaha untuk memperkecil kerusakan buah-buahan selama dalam pengangkutan; usaha-usaha untuk meningkatkan nilai ekonomis suatu komoditi sayuran atau buah-buahan. B. Masalah Prapanen Tanaman Pangan Sebetulnya tidak hanya penanganan pascapanen saja yang dapat mempengaruhi pascapanen saja yang dapat mempengaruhi susut bobot dan penurunan kualitas hasil panen, tetapi juga faktor-faktor lain sebelum panen tersebut dilakukan. Seperti misalnya sifat genetika dari varietas yang ditanam, mudah rebah atau tidak, mudah rontok atau tidak dan sebagainya; perlakuan agronomik sebelum tanam, seperti umur bibit di pesemaian; kondisi lingkungan dan lain sebagainya. Sebagai contoh : varietas padi IR 36, disamping umurnya genjah, mempunyai sifat tidak serentak dalam proses pematangan gabah, sehingga pada waktu panen, kadar butir hijau dan butir mengapur masih tinggi. Sehingga untuk mengatasinya tidak saja segi pasca panen yang diperbaiki seperti cara panen, perontokan, pengeringan dan penyimpanan tetapi juga bidang agronominya seperti umur bibitnya dituakan dari 21 hari menjadi 30 hari, jumlah bibit per rumpunnya di tambah, yaitu dari 2-3 batang menjadi 4-6 batang per rumpun serta jarak tanamnya diperpendek menjadi 20 x 20 cm dan lain sebagainya. C. Penanganan Lepas Panen Hasil Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Tidak perlu dijelaskan lagi tentang pentingnya hasil tanaman ini sebagai bahan pangan pokok sebagian besar penduduk dunia. Jenis tanaman padi yang banyak dikembangkan para petani kita yaitu jenis indica (padi cere) dan beberapa varietas yang termasuk jenis japonica (padi bulu). a. Jenis indica: Jenis ini dikenal dikalangan para petani kita sebagai jenis cere, sekam gabahnya tidak berbulu ataupun kalau ada yang berbulu maka bulunya itu sangat pendek dan hampir tidak tampak, butir-butir gabah jenis cere ini 46 Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014

biasanya mudah lepas/terpisah dari tangkainya, hasilnya lebih banyak jika dibandingkan dengan hasil jenis bulu (japonica). b. Jenis japonica: Jenis ini lebih dikenal dengan jenis bulu karena memang pada sekam gabahnya terdapat banyak buku, panjang-panjang, butir gabah agak sulit terlepas/terpisah dari tangkainya, hasilnya lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil jenis cere. Dari kedua jenis tanaman padi unggul yang telah banyak dikembangkan oleh para petani, di antaranya: a. Dari jenis indica (cere) : (1) Bengawan, berumur antara 155 160 hari, gabahnya besar-gemuk, bulirnya panjang lebat, hasil per hektar sekitar 38 kuintal, rasa nasinya enak. (2) Si Gadis, berumur antara 140 145 hari, gabahnya agak gemuk, bulirnya panjang lebat, hasil per hektar sekitar 38 kuintal, rasa nasinya kurang enak. (3) Remaja, berumur antara 155 160 hari, gabahnya besar gemuk, bulirnya panjang, hasil per hektar sekitar 42 kuintal, rasa nasinya sedang. (4) PB 5, berumur antara 130 145 hari, gabahnya besar, bulirnya pendek lebat, hasil per hektar sekitar 60 kuintal, rasa nasinya kurang enak. (5) PB 8, berumur antara 120 130 hari, gabahnya besar, bulirnya pendek lebat, hasil per hektar sekitar 61 kuintal, rasa nasinya kurang enak. (6) C.4, berumur antara 125 130, gabahnya panjang ramping, bulirnya pendek lebat, hasil per hektar sekitar 34 kuintal, rasa nasinya enak. b. Dari jenis japonica (bulu) : Genjah raci, tanaman berumur antara 145 150 hari, gabahnya panjang berbulu, bulirnya panjang, hasil per hektar sekitar 55 kuintal, rasa nasinya enak. Sekarang lebih banyak lagi varietas unggul yang lebih baik dan lebih meningkat produksinya yang telah dikembangkan para petani di berbagai daerah, tetapi yang penting bagi kita sekarang yaitu mengetahui cara-cara penanganan lepas panen hasil tanaman padi yang baik, yang dapat mengurangi kehilangan atau penyusutan kuantitatif dan penyusutan kualitatif. Penyusutan kuantitatif atau penyusutan volume terjadi karena gabah banyak terbuang pada saat panen, hilang pada saat penangkutan, tercecer pada saat perontokan atau hilang pada saat penjemuran. Sedang kualitatif dapat disebabkan karena adanya kerusakan kimiawi dan atau fisis, seperti gabah banyak yang berkecambah, banyak yang retak, biji menguning, dan lain sebagainya. Kehilangan akan lebih besar lagi untuk jenis padi yang rontok, seperti varietas padi unggul. Kita perhatikan tentang data-data penyusutan berdasarkan beberapa sumber penelitian, antara lain : a. BULOG, Biro Harga Dasar, yang mengemukakan Tabel Konsumsi Berat tersedia per Kapita di Indonesia (1980); b. FAO, Analysis of an FAO Survey of Post harvest Crop Losses in Developing Countries (1977 Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014 47

Tabel 1. PERKIRAAN PENYUSUTAN HASIL PADI SEHUBUNGAN DENGAN KEGIATAN- KEGIATAN LEPAS PANEN Kegiatan lepas panen Hasil Penelitian di Indonesia BULOG FAO (dalam %) (dalam %) a. Panen 2 - b. Perontokan 2 2 6 c. Pengeringan 1,5 2 d. Pengemasan 3 - e. Penyimpanan gabah 1 2 5 Penyimpanan beras 1,5 f. Pengolahan 1,5 2 4,5 g. Pengangkutan dari sawah 1 1 5,5 h. Pengankutan/ penjualan 1,5 Total penyusutan 15 9 21 Dari data-data di atas maka jelas betapa besarnya kehilangan hasil tanaman padi, kehilangankehilangan demikian harus dicegah atau diturunkan sampai seminimal mungkin, dan untuk itu diperlukan penanganan hasil tanaman padi lepas panen dengan cara-cara yang baik. PENANGANAN HASIL TANANAN PADI Penanganan Tahap Pertama a. Pemanenan Padi Penentuan waktu panen sebaiknya jangan terlalu awal atau terlalu akhir, sebab : (1) pemanenan yang terlalu awal dapat berakibat penurunan kualitas karena gabah terlalu banyak mengandung butir hijau dan kapur, gabah terlalu banyak mengandung kapur redemennya rendah dan menghasilkan lebih banyak dedak. (2) pemanenan yang terlalu akhir/lambat akan banyak menderita kehilangan yang terutama disebabkan karena kerontokan gabah akibat terlalu masak. Perhatikan beberapa data pada Tabel 2, di bawah ini yang berhubungan dengan uraian di atas. Tabel 2. Besarnya kehilangan hasil pada setiap panen. Saat-saat panen % Besarnya kehilangan a. 1 minggu sebelum masak 0,77 b. saat masak yang tepat 3,35 c. 1 minggu setelah masak 5,63 d. 2 minggu setelah masak 8,64 e. 3 minggu setelah masak 40,70 f. 4 minggu setelah masak 60,45 48 Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014

Setelah diperoleh ketentuan waktu panen yang tepat, 1 1,5 minggu sebelum pemanenan dilaksanakan sawah agar dikeringkan, perlakuan demikian dimaksudkan agar kematangan padi dapat merata, kadar airnya dapat diturunkan dan pekerjaan pemanenan dapat lancar karena tanah sawah kering. Panen supaya dilakukan pada hari dengan cuaca cerah dan waktu pengerjaannya tertentu (misal sejak pukul 09.00 17.00) ketentuan ini berkaitan dengan pertimbanganpertimbangan sebagai berikut : (1) apabila pemanenan berlangsung pada hari hujan atau sehabis hujan di mana keadaan masih banyak berembun, kadar air gabah tentunya masih tinggi dan kondisi demikian tentunya akan memperberat pekerjaan pengangkutan, pengeringan dan perontokan (banyak gabah yang tidak dapat dipisahkan dari tangkainya) dan kalau pemanenan dilakukan dengan mesin (Combine Harvester) maka mesin pun akan berat jalannya dan akan sering mengalami kemacetan atau tergelincir. (2) pekerjaan pemanenan dimulai sejak pukul 09.00 17.00 (termasuk waktu istirahat jam 11.00 13.00) yaitu dengan pertimbangan bahwa sekitar pukul 09.00 embun telah kering yang kemungkinan pula kadar air gabah sudah menurun sehingga kegiatankegiatan berlangsung lancar, pemberian waktu istirahat di siang hari selain memberi waktu untuk bersembahyang, juga agar kecermatan kerja pada pemanen dapat pulih kembali sehingga tidak banyak butir gabah yang tidak terpetik/tertinggal di sawah. Pemanenan dapat dilakukan secara manual dan secara mekanis, yang secara manual biasanya dengan menggunakan ani-ani, sabit dan sabit bergerigi dan yang secara mekanis telah banyak yang menggunakan mesin (Brinder atau Combine Harvesting). Kehilangan waktu panen dengan cara menggunakan ani-ani tidak begitu besar dengan menggunakan ani-ani dilakukan pemotongan tangkai bulir padi satu per satu sepanjang 20 30 cm untuk padi jenis bulu (japonica) dan bagi padi cere (indica) pemotongan tersebut hanya sekitar 2 5 cm. Dengan menggunakan ani-ani dapat dilakukan pemilihan mulai yang masak dan yang belum masak, jadi bagi padi benih memang sangat baik, akan tetapi bagi konsumsi dapat dikatakan kurang ekonomis, karena lebih banyak menggunakan tenaga kerja dengan rata-rata 240 jam kerja per hektar, jadi biayanya terlalu besar. Pemanenan dengan menggunakan sabit selain banyak butir gabah yang rontok (terutama dari jenis cere dan unggul) juga butir gabah masak (tua) dan yang belum masak (muda) akan terpanen secara sekaligus. Untuk mengurangi kerontokan digunakan sekarang sabit bergerigi. Karena butir gabah muda sekaligus terpanen, sering diperoleh dalam panenan persentase gabah muda lebih tinggi dibandingkan dengan Varietas lokal yang dipanen dengan menggunakan ani-ani. Tetapi panenan dengan menggunakan sabit ini lebih ekonomis, karena dapat menghemat penggunaan tenaga kerja dan jam kerja sehingga biaya dapat menghemat penggunaan tenaga kerja dan jam kerja sehingga biaya dapat lebih ditekan. Pemotongan batang padi dengan sabit yaitu 20 30 cm di atas tanah, hasil potongan di tempatkan di atas pengalas untuk mencegah hilangnya Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014 49

gabah-gabah yang rontok, setelah hasil potongan telah banyak selanjutnya pengalas digulung dan dengan perlakuan demikian hasil panen diangkut ke tempat penimbunan untuk selanjutnya dirontokan. Pemanenan dengan menggunakan mesin Combine Harvester 72 PK/TK banyak yang telah mencoba dan ternyata penurunan produksi hanya berlangsung sekitar 1,7%. Mesin pemanen jenis ini merupakan alat pemotong dan pengumpul yang dikombinasikan dengan alat perontok, pemisah gabah dari tangkai dan kotoran lainnya, sehingga dengan menggunakan alat pemanen ini akan diperoleh gabah bersih. Dapat ditambahkan di sini, sekedar untuk pegangan atau ancer-ancer, tentang umur tiap varietas pada yang baik saatnya untuk dipanen. Tabel. 3 Umur Saat Panen Tiap-tiap Varietas padi (1) PB.26/IR.26, Pada umur tanamannya 123 hari; (2) PB.28/IR.28, pada umur tanamannya 109 hari; (3) PB.30/IR.30, pada umur tanamannya 112 hari; (4) PB.32/IR.32, pada umur tanamannya 140 145 hari; (5) PB.34/IR.34, pada umur tanamannya 130 140 hari; (6) PB.36/IR.36, pada umur tanamannya 110 120 hari; (7) PB.38/IR.38, pada umur tanamannya 115 120 hari; (8) Citarum, pada umur tanamannya 125 130 hari; (9) Brantas, pada umur tanamannya 125 130 hari; (10) Asahan, pada umur tanamannya 115 125 hari; (11) Serayu, pada umur tanamannya 120 130 hari; b. Perontokan gabah Pada pekerjaan perontokan jumlah kehilangan gabah diperkirakan antara 2% - 6% (tergantung pada jenis padi dan cara-cara perontokannya). Cara-cara perontokan yang telah umum dikerjakan, yaitu dengan cara diinjak-injak (diiles), dibanting, dipukul/ditumbuk, dengan cara menggunakan pedal thresher atau alat perontok yang digerakkan dengan kaki, dan dengan menggunakan alat perontok mekanis (thresher). Cara perontokan dengan diinjak-injak/diiles. Untuk pekerjaan ini sediakan terlebih dahulu alas (tikar atau lembar anyaman bambu), tempatkan potongan-potongan tangkai gabah di atasnya, selanjutnya diinjak-injak (diiles) sehingga gabah-gabah terlepas dari tangkainya, tangkai kemudian dipisahkan dari gabahnya. Dapat pula dibuat meja pengiles, ukuran panjang 2 m, lebar 1 m, bagian atasnya diberi berlubanglubang dan sisi-sisinya agak ditinggikan untuk menahan gabah berjatuhan ke bagian samping. Di bawah meja disiapkan tikar atau lembar anyaman bambu sebagai penampung gabah-gabah yang berjatuhan melalui 50 Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014

lubang-lubang tadi. Potongan-potongan cabang padi ditempatkan di atas meja, lalu diinjak-injak/ diiles sehingga gabah berlepasan dan jatuh ke bawah melalui lubang-lubang tadi. Potonganpotongan cabang padi ditempatkan di atas meja, lalu diinjak-injak/diiles sehingga gabah berlepasan dan jatuh ke bawah melalui lubanglubang meja, dengan cara demikian sekaligus dapat dipisahkan antara gabah-gabah dengan jerami (cabang-cabang tanamannya tadi). Cara perontokan dengan dipukulkan dan dibanting. Untuk pekerjaan demikian selain diberi pengalas tikar atau lembar anyaman bambu, sekeliling alas itu dikelilingi lembaran plastik atau anyaman bambu atau tikar, dengan demikian pada waktu pembantingan atau dipukul-pukulkan, dengan cara demikian jarang sekali butir-butir gabah yang akan terlempar ke luar pembatas, sehingga kehilangan gabah dapat ditekan/dicegah. Cara perontokan dengan menggunakan mesin thresher. Cara ini adalah cara mekanis. Thresher dapat berupa pedal thresher (digerakkan dengan tenaga manusia) dan drum threser (digerakkan dengan tenaga listrik) atau Combine Harvester. Pedal thresher telah banyak digunakan para petani, selain dapat dibuat sendiri biayanyapun cukup murah. Alat perontok gabah jenis drum thresher telah dilengkapi dengan : (1) silinder perontok yang bergigi perontok; (2) gigi-gigi perontok terbuat dari kawat baja dengan fungsi utama yaitu merontokkan butir gabah dari malainya; (3) saringan, yaitu agar gabah dapat terpisah dari kotoran/limbah (tangkai, jerami, daun dan sebagainya). (4) blower, yaitu untuk menerbangkan/ menghembus keluar segala limbah yang ringan; (5) elevator, yang berfungsi mengangkut gabah yang telah terontokan ke luar dan disampaikan ke tempat penampungan yang telah tersedia, untuk selanjutnya diangkut tenaga manusia ke tempat pengeringan. Drum thresher banyak pula digunakan oleh Kelompok-kelompok tani, hanya jika menggunakan alat mekanis ini mesin harus distel pada RPM yang sesuai denan gigi perontoknya harus tetap terpelihara dengan baik atau keadaannya baik. Pada kadar air gabah yang cukup rendah 18 % - 22% hasil perontokan biasanya baik, yaitu kadar gabah pecah sangat kecil, kehilangan kecil dan kotoran/ limbahnya sedikit, tetapi di atas kadar air gabah tersebut hasilnya mengecewakan (kehilangan cukup banyak karena banyak butir gabah tidak lepas dari tangkainya dan butir yang pecah/retak banyak pula). c. Pembersihan Gabah Untuk membersihkan gabah dari kotoran/ limbah dapat dilakukan dengan cara penghembusan oleh angin, ditampi, diayak, dengan menggunakan alat blower manual (blower yang dijalankan dengan tangan) atau dengan cleaner (mesin pembersih). Pembersihan gabah sangat perlu agar : (1) gabahnya lebih tahan disimpan, (2) mengurangi kerusakan alat prosessing, (3) mempertinggi efisiensi prosessing, dan (4) mempertinggi harga jual per satuan berat. Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014 51

Sebaiknya gabah dibersihkan sampai benar-benar bersih dari berbagai potongan jerami, gabah yang hampa, maskudnya agar terhindar dari serangan hama sewaktu dalam penyimpanan dan menghemat tempat penyimpanan. d. Pengangkutan Gabah Yang dimaksud dengan pengangkutan gabah di sini ialah pengangkutan gabah dari sawah ke tempat processing atau ke rumah, dalam pengangkutan ini sering pula terjadi kehilangan. Pengangkutan dapat dilakukan dengan secara dipikul oleh tenaga manusia, dengan gerobak, truk atau trailer. Biasanya sebelum diangkut, gabah-gabah dimasukkan ke dalam karung, cara demikian selain untuk mencegah tercecernya gabah di perjalanan, juga untuk menekan biaya pengangkutan. Kalau perontokan, pembersihan menggunakan Combine Harvester, pengangkutan gabah yang keluar dari alat tersebut dapat menggunakan trailer atau alat angkutan lain, yaitu dengan secara langsung gabah diisikan ke bak kendaraan-kendaraan tersebut tanpa perlu dimasukkan ke dalam karung terlebih dahulu, asal pemuatannya tidak terlalu penuh/melimpah untuk menghindari ketumpahan di perjalanan atau tumpah karena tiupan angin. Setiap pengangkutan dengan kendaraan harus diperhatikan penutupan dengan kain terpal atau lembaran plastik agar terlindung dari hujan, cara ini sangat membantu memperkecil kerja unit berikutnya. PENANGANAN TAHAP KEDUA. a. Pengeringan Gabah-gabah yang telah diangkut ke tempat penyimpanan sementara (belum dimasukkan gudang atau lumbung) perlu mendapat penanganan lebih lanjut, seperti pengeringan, pembersihan akhir, pengepakan dan penggudangan. Tujuan pengeringan yaitu untuk mendapatkan gabah kering yang tahan untuk disimpan dan memenuhi persyaratan kualitas gabah yang akan dipasarkan, yaitu dengan cara mengurangi air pada bahan (gabah) sampai kadar air yang dikehandaki. Kadar air maksimum pada gabah yang dikehandaki BULOG dalam pembeliannya (BULOG, Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Pangan Dalam Negeri 1978/1979) adalah 14%. Bagi gabah yang akan disimpan kadar air sebaiknya sekitar 12%. Di dalam gabah terdapat air bebas dan air terikat. Air bebas terdapat di bagian permukaan gabah, di antara sel-sel dan dalam pori-pori, air ini mudah teruapkan pada pengeringan. Air terikat yaitu yang berikatan dengan protein, sellulosa, zat tepung, pektin dan sebagai pelarut zat-zat yang terkandung dalam gabah, air terikat memang sulit untuk dihilangkannya, memerlukan beberapa perlakuan dan ketekunan seperti halnya terhadap faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengeringan, antara lain temperatur, kelembaban, dengan ketekunan yaitu kegiatan membalik-balik bahan (gabah-gabah) selama dalam pengeringan. 52 Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014

Dengan demikian maka pengeringan merupakan daya upaya untuk mengurangi atau menurunkan kandungan kadar air pada bahan (gabah) sampai pada kadar air tertentu. Tujuan pengeringan gabah (seperti telah dikemukakan di atas) kalau dijabarkan lebih lanjut yaitu : untuk memudahkan penggarapan/pengelolaan selanjutnya, mencegah kerusakan karena perkembangan hama dan jamur, mencegah kemunduran sifat-sifat fisik dan biologis gabah dan mempertahankan nilai gizi pada gabah. Mengapa gabah selepas panen harus segera dikeringkan? Hal ini perlu diperhatikan, sebab kadar air pada gabah selepas dipanen masih cukup tinggi sekitar 25% - 30%, bahkan kadangkadang lebih. Kalau gabah itu terus disimpan tanpa pengeringan terlebih dahulu maka gabah jelas akan mengalami kerusakan-kerusakan sebagai berikut : (1) kerusakan karena gabah terangsang daya pertumbuhannya yang dalam hal ini gabah akan berkecambah. (2) kerusakan karena mikroba akan terangsang perkembangannya, sehingga praktis gabah dalam penyimpanan akan mengalami serangan-serangannya, seperti terlihat pada penjelasan berikut : (a) kadar air gabah 16% - 30% menjadikan gabah itu busuk yang disebabkan oleh panas akibat respirasi yang berlangsung terus, pembusukan mana ternyata berkaitan dengan pertumbuhan jamur yang serba cepat. (b) kadar air gabah yang sedikit turun sampai sekitar 12% - 16% masih memberi kesempatan besar kepada jamur untuk tumbuh pada gabah dan serangga dapat berkembang. (c) tetapi apabila kadar itu dapat diturunkan sampai sekita 9% - 12% (karena pengeringan) jamur tidak dapat tumbuh pada gabah, dan kalau kadar air ini lebih diturunkan lagi sampai di bawah 9% maka hama serangga (kutu-kutuan) tidak akan dapat berkembang baik dalam gabah. (3) kerusakan karena kehilangan berat dan turunnya nilai gizi, yang dalam hal ini perlu diketahui bahwa kadar air gabah yang masih cukup tinggi (belum mendapat pengeringan) yaitu sekitar 25% ke atas dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan (biasanya bertemperatur sekitar 28 o C 30 o C) aktivitas pernafasannya akan terangsang sehingga cukup besar, akibat dari kejadian ini temperatur ruangan menjadi tinggi, uap air dan gas asam arang makin banyak dikeluarkan gabah dan dengan demikian kehilangan berat dan turunnya nilai gizi tidak dapat dihindarkan. Demikianlah, maka pengeringan itu harus diperhatikan, dan jangan sekali-kali menyimpan gabah langsung selepas panen tanpa mendapat perlakuan pengeringan terlebih dahulu. Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara alami dan secara mekanis. Pengeringan secara alami mengandalkan pada teriknya sinar matahari, sedang pengeringan secara mekanis dengan menggunakan alat bantu (Batch Dryer, dan lain-lain). Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014 53

(1) Pengeringan Secara Alami Pengeringan gabah secara alami hendaknya dilakukan di atas lantai yang terbuat dari semen, yang dalam hal ini lantai hendaknya bersih dan tidak ada genangangenangan air. Gabah dihamparkan di atasnya setebal 3 5 cm pada pagi hari (sekitar jam 08.00) kalau keadaan udara cerah. Sekiranya lapisan atas gabah telah kering lakukan pembalikan baik dengan menggunakan kaki atau sekop, pembalikan hendaknya dilakukan secara berulang-ulang. Sore hari sekitar jam 16.00 dilakukan pengumpulan gabah dengan bantuan alat penggaruk sehingga merupakan gunungan kecil, kemudian gunungan kecil ditutup dengan lembaran plastik yang lebar, sehingga tidak ada bagian yang terbebas, untuk melindunginya kalau-kalau turun hujan dan dari pengaruh embun. Tetapi sekiranya jumlah yang dikeringkan tidak terlalu banyak, angkutlah gabah ke tempat penyimpanan sementara. Lakukan pengeringan seperti di atas selama 2 sampai 3 hari, setelah itu lakukan pengujian dengan alat moisture tester apakah kadar air gabah telah turun sampai 12% atau belum, kalau belum lakukan penjemuran lagi sampai persentase kadar air tersebut tercapai. Kalau alat moisture tester tidak ada pengujian dilakukan dengan cara menggenggam dan melepaskan sekumpulan gabah atau menggosok-gosoknya dan apabila suaranya gemeresik tandanya gabah telah kering, pengujian selanjutnya dilakukan dengan cara menggigit gabah atau memutarnya di atas lantai dengan tumit dan apabila gabah patah dengan kulit terkelupas, yakinlah gabah telah kering setingkat dengan yang dikendaki. Dalam pengeringan gabah secara alami ini hendaknya diperhatikan aktivitas pembalikan gabah, karena hamparan gabah yang menerima teriknya sinar matahari yang lama tidak dibalik-balikkan, maka lapisan bawah dekat alantai akan mengalami kerusakan yang biasa disebut kasus pengerasan (cara hardening) bahkan ada yang mengalami kegosongan. Penjemuran yang terlalu lama sedang cuaca sukar terkontrol, juga dapat menimbulkan kerusakan, yaitu dengan terjadinya kontaminasi oleh jamur atau penyakit lainnya. Pengawasan perlu pula diperhatikan untuk mencegah kehilangan, misalnya terhadap unggas (ayam dan burung) ataupun tenaga kerja yang bertangan panjang. Kehilangan pada waktu pengeringan cukup banyak, yaitu sekitar 1,5% - 2%. (2) Pengeringan secara mekanis Kalau pengeringan secara alami tidak bisa dilakukan karena adanya gangguan alami, seperti hari-hari hujan, cuaca mendung sepanjang hari, dan lain sebagainya, pada waktu sekarang tidak perlu lagi merisaukan para petani atau industriindustri pengolahan gabah karena para teknisi telah dapat menciptakan alat pengering gabah mekanis, seperti Batch Dryer dan Continue Dryer. 54 Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014

PERLU DIPERHATIKAN Blower harus dihidupkan terlebih dahulu sampai air permukaan gabah teruapkan, baru heater dihidupkan, maksudnya untuk mencegah terjadinya kasus pengerasan (case hardening), sebab apabila blower dihidupkan dan heaterpun dihidupkan kemungkinan penguapan akan berlangsung teralu cepat, dengan demikian dapat mengakibatkan bagian kulit luar yang paling luar menjadi sangat kering dan mengeras b. Pengepakan dan Penyimpanan Untuk memperoleh gabah kering (baik untuk konsumsi maupun benih) yang siap dipak/ dikemas, sebaiknya gabah hasil pengeringan dibersihkan lagi, sebab banyak kemungkinan sewaktu pengeringan terjadi pengelupasan kulit atau limbah yang masih ada yang terbawa dalam pengeringan, yang kini telah mengering pula. Pembersihan lanjutan ini sebaiknya dilakukan secara di tampi (kalau jumlah gabah tidak terlalu banyak), atau kalau jumlahnya cukup banyak gunakanlah Winower (alat pembersih gabah yang dijalankan tenaga manusia). Di pabrik-pabrik yang besar pembersihan dilakukan dengan menggunakan alat pembersih gabah yang dijalankan dengan tenaga listrik selain kemampuannya besar, juga sekaligus dapat dipisahkan antara gabah bersih, gabah pecah, kotoran berat (batu, kerikil) dan kotoran ringan (pasir, debu), dan lain-lain. Ada baiknya kalau gabah untuk benih dibersihkan secara ditampi, dengan cara ini selain terhindar dari kerusakan, juga memudahkan untuk grading (pengelompokan mutu). Gabah-gabah bersih selanjutnya dimasukkan ke dalam karung (keadaannya kering) sedang gabah untuk benih dipak dalam kantong-kantong khusus yang telah tersedia, sebelum dilakukan penyimpanan. Tujuan penyimpanan yaitu untuk mempertahankan kualitas dan sekaligus mencegah kerusakan dan kehilangan (termasuk penyusutan) yang disebabkan karena faktorfaktor luar ataupun dalam. (1) Faktor dalam yaitu kandungan air dalam gabah, aktivitas respirasi, pemanasan sendiri, dan lain-lain. (2) Faktor luar antara lain temperatur penyimpanan, kelembabab udara, konsentrasi oksigen udara, serangan mikrobia, hama dan iklim. Sehubungan dengan kerusakan dan kehilangan serta faktor-faktor penyebabnya itu, maka hasus diusahakan pencegahan yaitu dengan melengkapi tempat/ ruang penyimpanan dengan alat dan bahan yang dapat mengendalikan faktorfaktor penyebab, antara lain dengan : (1) melengkapi tempat/ ruang penyimpanan dengan alat pengatur temperatur ruangan, sistem ventilasi yang baik, perlengkapan yang dimaksud misalnya heater dan blower; (2) fasilitas pencegahan hama dan perkembangan mikroba; (3) mengusahakan agar dinding tempat/ ruang penyimpanan terbuat dari bahan-bahan yang tidak mudah terpengaruh oleh air hujan, temperatur luar yang terlalu dingin dan teriknya sinar matahari, serta letaknya harus terbebas dari pengaruh polusi (bau limbah, genangan air dan sebagainya); Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014 55

(4) mengusahakan agar tempat/ ruang penyimpanan cukup leluasa menampung penyimpanan sejumlah besar gabah, serta letaknya dekat dengan tempat pengeringan. Sistem penyimpanan gabah kering dalam karung Gabah kering yang telah dipak dalam karung ditempatkan secara teratur dalam ruang penyimpanan, secara kelompok dmei kelompok disusun selang seling melintang dan membujur. Di bagian bawah tiap kelompok susunan karung diberi pengalas kayu yang disusun horizontal (melebar) di atas balok-balok dengan ukuran 10 15 cm, dengan demikian tidak terjadi kontak antara karung dengan lantai. Kayu untuk alas dan balok untuk pengganjal harus kering sebab yang agak basah dapat merangsang pertumbuhan jamur. Dengan tidak terjadinya kontak antara karung dengan lantai dapat tercegah pengaruh kelembaban lantai gudang. Tiap tumpukan karung sebaiknya ditutup dengan kain terpal yang maksudnya untuk mencegah perpindahan air dari lapisan gabah yang satu ke lapisan lainnya sehubungan dengan pengaruh temperatur luar, ada baiknya pula kalau ruang penyimpanan dilengkapi dengan aerator, dengan demikian maka keseragaman kadar air gabah dapat tetap dipertahankan. Penyimpanan Gabah Kering dalam Silo Penyimpanan gabah dapat pula dilakukan dengan sistem bulk (silo), bukan hanya gabah kering saja tetapi gabah yang masih cukup tinggi kadar airnya ke dalam silonya, selain berfungsi untuk penyimpanan juga dapat melangsungkan pengeringan. Penyimpanan gabah dalam silo umumnya merupakan pengawetan gabah untuk jangka waktu lama, jadi bermanfaat sekali bagi BULOG sebagai penyedia dan penstabil bahan pangan pokok. Alat (tempat penyimpanan ini dilengkapi dengan sistem pengeringan dan aerasi, karena gabah yang harus selalu terjaga kadar airnya agar tetap rendah pada waktu-waktu tertentu harus mendapat pengeringan ulangan, dan alat perlakuan aerasi bermanfaat sekali untuk mencegah berlangsungnya migrasi air akibat pengaruh cuaca. Penyimpanan gabah dengan sistem silo memang ditinjau dari segi kemampuan dan kepentingan para petani kita adalah kurang fleksibel dan modal pengadaannya terlalu besar, tetapi ditinjau dari segi kepentingan penyimpanan sejumlah besar gabah/ padi sangat bermanfaat karena mudah dilayani secara mekanis, perlakuannya cepat, kemungkinan akan tercecernya gabah sangat kecil dan kemamuannya melindungi bahan dari serangan hama adalah demikian besar. Untuk menunjang keberhasilan pengendalian (yang juga meliputi pengawasan dan pemeriksaan) perlu dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) Pengujian sampel (contoh) : Sehubungan dengan pengendalian dan pemeriksaan kualitas gabah, maka perlu diambil sampel yang akan dianalisa. Sampel diambil dari karung sebanyak akar pangkat dua dari jumlah karung gabah (maksimum 30 karung gabah yang ada dalam penyimpanan yang perlu diketahui kadar airnya, kemulusan dan tingkat kualitasnya). Dari tiap karung diambil 500 gram untuk sampel tersebut, pengambilannya harus dari bagian atas, tengah dan bawah, setelah diperoleh masukan dalam kantong plastik yang kedap udara. 56 Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014

(2) Penentuan kadar air gabah : Untuk ini diguakan teknik distilasi toluene dengan memanfaatkan alat labu Bedwell dan Sterly. Sampel dijadikan tepung, selanjutnya ditimbang, ambil 40 gram, dengan perkiraan bahan ini mengandung air sebanyak 2 5 cc. Bahan tersebut dimasukkan ke dalam labu destilasi, tambahkan ke dalamnya sebanyak 75 ml toluene, setelah itu kocoklah dengan perlahanlahan, kemudian alat destilasi dipasang dan melalui labu pendingin toluene dituangkan sampai mulai meluap ke dalam labu penampung bahan. Selanjutnya labu dipanaskan diatur sehingga kecepatan pengembunan sekitar 100 tetes per menit dan setelah sebagian terbesar air tersuling, kecepatan destilasi perlu dtingkatkan menjadi sekitar 200 tetes per menit, apabila tidak ada air lagi yang terdestilasi selanjunya pekerjaan destilasi diakhiri, pemanas dimatikan. Biarkanlah sekitar 15 menit sampai lapisan toluene jernih. Dengan perlakuan demikian maka volume air dapat langsung dibaca. (3) Penentuan kadar butir gabah Kualitas gabah akan turun kalau dalam sejumlah gabah banyak terdapat butir gabah yang hampa, atau butir gabah kuning dan rusak, atau butir kapur dan hijau ataupun butir gabah merah. Kalau persentasenya banyak maka untuk mempertahankan mutu perlu dilakukan pembersihan kembali atau kalau tidak maka tentunya harga gabah itu tidak akan memuaskan. Untuk menentukan persentasenya, ambil sampel sebanyak 500 gram, kemudian tuangkan ke dalam wadah atau di atas selembar kertas yang telah disiapkan di atas meja kerja, pilih dan pisahpisahkan jika terdapat butir gabah hampa, butir kuning dan rusak, butir kapur dan hijau, butir merah. SIMPULAN Dari uraian yang telah dipaparkan dapat disimpulkan antara lain : 1. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), selaku tangan panjang pemerintah di sektor pertanian diharapkan secara rutin melaksanakan penyuluhan di tingkat kelompok tani, terutama materi penanganan pascapanen. 2. Kehilangan pascapanen padi meliputi kehilangan kuantitatif misalnya terjadi baik sejak sebelum dipotong, waktu dipotong, umur saat dipanen, perontokkan, pengangkutan, pengeringan, maupun pada saat pengolahan dan kehilangan kualitatif misalnya berupa penurunan mutu terlihat dari bertambahnya kadar air, kotoran, benda asing, dan kerusakan seperti rusak bentuk, rusak warna, rusak baud an rasa. 3. Besarnya kehilangan dalam proses penyimpanan tergantung pada jumlah bahan, mutu bahan, cara penyimpanan, dan kondisi lingkungan. Sedang tujuan penyimpanan baik gabah maupun beras adalah untuk mempertahankan kualitas dan sekaligus mencegah kerusakan serta kehilangan (termasuk penyusutan) yang dapat disebabkan oleh faktor-faktor luar ataupun dalam Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014 57

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1991. Padi buku 3. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. Haryono Danusastro, 1970. Hortikultura. Yayasan Pembina Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta., 1975. Fisiologi Lewat Panen. Yayasan Pembina Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada. Yogyakarta Hadiwiyoto, 1980. Penanganan Lepas Panen. Depdikbud, Jakarta. Rumiati dan Soemardi, 1982. Evaluasi Hasil Penelitian Peningkatan Mutu Padi dan Palawija, dalam Loka karya Pasca Panen Tanaman Pangan 5 6 April, Cibogo Bogor. Slamet Zubaidy, 1983. Penerapan Teknologi Pasca Panen dalam Seminar Industri Pertanian 15 16 September, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Suharmadi dan Sudaryono, 1982. Evaluasi Hasil Penelitian Pengeringan/Pengolahan Padi dan Palawija dalam Lokakarya Pasca Panen Tanaman Pangan, 5 6 April, Cibogo - Bogor Sastrosoedirdjo, 1978. Bercocok Tanam Ketela Pohon. CV. Yasaguna. Jakarta Subandi, 1967. Cara-cara Pemuliaan Jagung yang dilakukan di Indonesia. Direktorat Pertanian Rakyat. Jakarta. Tohir, 1983. Usaha Tani Indonesia, Jilid II, Penerbit Bina Aksara. Jakarta. Rismunandar, 1974. Sorghum Tanaman Serba Guna. CV, Masa Baru. Jakarta Satari, dkk. 1983. Penanganan Pasca Panen Pangan Sebagai Landasan Perkembangan Pertanian Menuju Industrialisasi, dalam Seminar Industrialisasi, dalam Seminar Industri Pertanian 15-16 September, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 58 Magistra No. 88 Th. XXVI Juni 2014