BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu

ANALISIS PENGARUH JENIS ASING INVASIF

SURVEY POTENSI SUMBER BIBIT / BENIH JENIS RUMPUT PAKAN SATWA DI SEKSI KONSERVASI WILAYAH III KARANGTEKOK

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Evaluasi Rehabilitasi Merak Hijau (Pavo muticus) Dari Hasil Sitaan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Seksi Karangtekok

Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. Kol. H. Burlian Km. 6,5 Punti Kayu PO. BOX. 179 Telp./Fax Palembang

Usulan Penelitian Untuk Skripsi S-1 Program Studi Geografi DISUSUN OLEH : DYDIK SETYAWAN E

Laporan Kegiatan Pengendali Ekosistem Hutan. Ujicoba Teknik Pembakaran Terkendali Dalam Upaya Pemeliharaan Savana Bekol

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 19/Menhut-II/2010 TENTANG PENGGOLONGAN DAN TATA CARA PENETAPAN JUMLAH SATWA BURU

PROGRAM PHBM DI SEKITAR KAWASAN KONSERVASI. LAYAKKAH DIPERTAHANKAN???

MAKALAH Pengendali Ekosistem Hutan

1.1 Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN. Banteng (Bos javanicus d Alton 1823) merupakan salah satu mamalia

I. PENDAHULUAN. lebih dari jenis tumbuhan terdistribusi di Indonesia, sehingga Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Alam Hayati dan Ekosistemnya pengertian Taman Nasional adalah kawasan pelestarian

I. PENDAHULUAN. Rusa termasuk ke dalam genus Cervus spp yang keberadaannya sudah tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa mengingat Undang-

Laporan Kegiatan Pengendali Ekosistem Hutan. Ujicoba Pembibitan Ceriops tagal

SMA/MA IPS kelas 10 - BAHASA INDONESIA IPS BAB 8. TEKS NEGOSIASILatihan Soal 8.2

PENDAHULUAN. Gambar 1 Bange (Macaca tonkeana) (Sumber: Rowe 1996)

BAB I PENDAHULUAN. dan kuat yang sebarannya hanya terdapat di pulau-pulau kecil dalam kawasan

BAB I PENDAHULUAN. dijadikan sebagai daya tarik wisata, seperti contoh wisata di Taman Nasional Way

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi sebagai ecosystem engineer (Keller & Gordon, 2009) atau juga soil

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Alpert dkk., 2000). Menurut Indriyanto (2006), Invasi merupakan proses masuknya

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

LAPORAN KEGIATAN Pengendali Ekosistem Hutan PENGUMPULAN DATA DAN INFORMASI PRODUKTIFITAS SAVANA BEKOL PADA MUSIM PENGHUJAN

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

PENDAYAGUNAAN PLOT PERMANEN DI SAVANA BEKOL

I. PENDAHULUAN. margasatwa, kawasan pelestarian alam seperti taman nasional, taman wisata alam,

BAB I PENDAHULUAN. Macan tutul (Panthera pardus) adalah satwa yang mempunyai daya adaptasi

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

LAPORAN SEMENTARA KEGIATAN PENELITIAN. PEMODELAN KESESUAIAN HABITAT AKASIA BERDURI (Acacia nilotica (L.) Willd. ex Del) DI TAMAN NASIONAL BALURAN

BAB I PENDAHULUAN. berbagai kegiatan yang mengancam eksistensi kawasan konservasi (khususnya

Savana Taman Nasional Baluran

BAB I PENDAHULUAN. seumur. Namun, di dalam hutan tanaman terdapat faktor yang sering dilupakan,

LAMPIRAN. Hari ke Total

2 2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik I

III. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Primata merupakan salah satu satwa yang memiliki peranan penting di alam

I. PENDAHULUAN. liar di alam, termasuk jenis primata. Antara tahun 1995 sampai dengan tahun

Berikut beberapa penyebab kepunahan hewan dan tumbuhan: 1. Bencana Alam

PENGUMPULAN DATA DAN INFORMASI PRODUKTIFITAS SAVANA BEKOL PADA MUSIM KEMARAU TAMAN NASIONAL BALURAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menempatkan Indonesia pada peringkat keempat negara-negara yang kaya

BERITA NEGARA. KEMEN-LHK. Konservasi. Macan Tutul Jawa. Strategi dan Rencana Aksi. Tahun PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV

I. PENDAHULUAN. Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan

I. PENDAHULUAN. rawa, hutan rawa, danau, dan sungai, serta berbagai ekosistem pesisir seperti hutan

SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 4. KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP DALAM PELESTARIAN EKOSISTEMLatihan Soal 4.3

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara tropis memiliki keanekaragaman jenis satwa,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

2. Dinamika ekosistem kawasan terus berubah (cenderung semakin terdegradasi),

I. PENDAHULUAN. Siamang (Hylobates syndactylus) merupakan salah satu jenis primata penghuni

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BALAI TAMAN NASIONAL BALURAN 2004

PELESTARIAN HUTAN DAN KONSERFASI ALAM

I. PENDAHALUAN. dan kehutanan. Dalam bidang kehutanan, luas kawasan hutannya mencapai. (Badan Pusat Statistik Lampung, 2008).

BAB V PROFIL SATWALIAR GUNUNG PARAKASAK

BAB I PENDAHULUAN. ditemukan di Indonesia dan 24 spesies diantaranya endemik di Indonesia (Unggar,

PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

APLIKASI CITRA SPOT 7 UNTUK ESTIMASI PRODUKSI HIJAUAN RUMPUT PAKAN DI TAMAN NASIONAL BALURAN JAWA TIMUR (Kasus Padang Rumput Bekol)

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan jumlah spesies burung endemik (Sujatnika, 1995). Setidaknya

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

Oleh : Tim Pengendali Ekosistem Hutan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. di beberapa tipe habitat. Bermacam-macam jenis satwa liar ini merupakan. salah satu diantaranya adalah kepentingan ekologis.

BAB I PENDAHULUAN. Sokokembang bagian dari Hutan Lindung Petungkriyono yang relatif masih

I. PENDAHULUAN. Rusa merupakan salah satu sumber daya genetik yang ada di Negara Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. dunia. Frekuensi erupsi Gunungaapi Merapi yang terjadi dalam rentang waktu 2-

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dalam Ilmu Ekologi dikenal dengan istilah habitat. jenis yang membentuk suatu komunitas. Habitat suatu organisme untuk

Lampiran 3. Interpretasi dari Korelasi Peraturan Perundangan dengan Nilai Konservasi Tinggi

Konservasi Lingkungan. Lely Riawati

PENDAHULUAN Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN

WANDA KUSWANDA, S.HUT, MSC

Laporan Kegiatan Pengendali Ekosistem Hutan REHABILITASI SAVANA BEKOL DENGAN PEMBERANTASAN GULMA. Oleh : TIM PENGENDALI EKOSISTEM HUTAN

BAB I PENDAHULUAN. hutan hujan tropis yang tersebar di berbagai penjuru wilayah. Luasan hutan

POTENSI EDUWISATA KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BALURAN. Ambar Kristiyanto NIM

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung

IV. GAMBARAN UMUM. Gebernur Provinsi DKI Jakarta Nomor: 202 tahun Hutan Kota

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Transkripsi:

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada saat ini, banteng (Bos javanicus d Alton 1823) ditetapkan sebagai jenis satwa yang dilindungi undang-undang (SK Menteri Pertanian No. 327/Kpts/Um/7/1972) dan termasuk dalam kategori endangered (IUCN, 2004) yang berarti mempunyai populasi dalam tahap terancam punah sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus dalam perlindungan. Populasi banteng mengalami penurunan hingga 80% dalam 20 tahun terakhir, sehingga jumlah banteng pada saat ini tidak lebih dari 8000 ekor di seluruh dunia. Penyebab utama penurunan populasi banteng adalah perburuan oleh manusia, berkurangnya habitat banteng dan degradasi terhadap habitat yang tersisa (Alikodra, 1983). Sedangkan menurut IUCN (2004), ancaman utama terhadap kelestarian banteng adalah: 1)hilang atau rusaknya habitat yang disebabkan oleh kegiatan pertanian dan perkebunan serta pembangunan pemukiman penduduk; 2)spesies asing invasif (yang berpengaruh secara langsung terhadap spesies dan munculnya kompetitor); 3)perburuan; dan 4)perubahan dalam dinamika spesies asli, yaitu dengan adanya domestikasi dan hibridisasi serta adanya penyakit/patogen. Menurut Soewadji dalam KapanLagi (2003), faktor penyebab penurunan populasi banteng yang umum adalah perburuan liar dengan menggunakan jebakan tradisional maupun senjata api, namun berburu satwa liar pada saat ini telah ditinggalkan setelah masyarakat mengetahui adanya pelarangan perburuan dalam undang-undang dan bahaya dari aktivitas tersebut. Pada dasarnya setiap kawasan konservasi memiliki penyebab dinamika populasi banteng yang beragam dan berbeda. Penurunan jumlah banteng di Taman Nasional Meru Betiri terjadi karena perpindahan banteng keluar kawasan. Sedangkan di Taman Nasional Alas Purwo, dinamika populasi banteng disebabkan pemangsaan berlebihan oleh ajak (Iskandar dalam Gatra, 2004). Penyebab penurunan populasi banteng di Taman Nasional Baluran, terutama di padang savana, hingga saat ini masih menjadi pertanyaan karena berbagai upaya yang dilakukan belum memberikan hasil yang optimal. Penjarangan kerbau pada 1990 telah dilakukan di Taman Nasional Baluran dan eradikasi tanaman eksotik Acacia nilotica di padang savana sejak tahun 1993

2 untuk mengatasi penurunan populasi banteng, tetapi hingga saat ini belum diperoleh hasil yang menunjukkan penurunan populasi banteng karena dikonsumsi ajak. Banteng merupakan salah satu jenis satwa liar yang termasuk golongan ruminansia. Wilayah penyebaran banteng berada di Indonesia, Myanmar, Indo China, Thailand dan Malaysia Barat dengan tingkat penyebaran di wilayah tersebut rata-rata berada di kawasan lindung (Huffman, 2005). Salah satu kawasan lindung di Indonesia yang merupakan habitat banteng adalah Taman Nasional Baluran. Taman Nasional Baluran merupakan bagian dari upaya konservasi keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. Sebelumnya, sekitar tahun 1935, kawasan Baluran ditetapkan sebagai taman margasatwa oleh pemerintah Belanda. Status kawasan Baluran berubah menjadi taman nasional pada tahun 1982 melalui surat keputusan Menteri Pertanian RI No. 327/Kpts/Um/7/1972. Pada tahun 1997, keluar surat keputusan Menteri Kehutanan No. 279/Kpts- VI/1997 tanggal 25 Mei 1997 yang menyatakan luas kawasan taman nasional sebesar 25.000 ha, meliputi wilayah daratan seluas 23.713 ha dan perairan seluas 1.287 ha. Kemudian terjadi revisi luasan wilayah dengan adanya Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No. 187/Kpts/DJ-V/1999 tanggal 13 Desember 1999, yang menyatakan bahwa luas Taman Nasional Baluran terdiri dari 23.937 ha wilayah daratan dan 1.063 ha wilayah perairan (Departemen Kehutanan, 2004). Habitat yang tersedia untuk banteng di Taman Nasional Baluran sangat beragam. Banteng bergerak dalam habitatnya sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pakan dan tempat beraktivitas hidup, yaitu bereproduksi, berkembang biak dan memelihara anak-anaknya. Salah satu komponen penting dalam habitat banteng adalah padang rumput atau savana. Satu-satunya padang savana alamiah di Jawa terdapat di Taman Nasional Baluran dengan luas mencapai 10.000 ha atau sekitar 40% dari luas kawasan. Padang savana merupakan sumber pakan utama banteng dan beberapa jenis satwa terestrial lain di Baluran, seperti, rusa dan kerbau liar pada musim kemarau. Padang savana merupakan tempat bersosialisasi antara satwa jantan dan betina serta antara kelompok satwa, termasuk perkawinan dan mengasuh anak yang memerlukan luasan tertentu untuk berbagai kegiatan satwa tersebut. Oleh karena itu, gangguan terhadap struktur padang savana dapat mengurangi

3 intensitas pemanfaatan oleh satwa. Gangguan ini dapat berupa masuknya spesies eksotik. Awalnya Acacia nilotica diintroduksi ke dalam Taman Nasional Baluran pada tahun 1963, sebagai tanaman sela untuk sekat bakar (fire break) di daerah hutan jati Perhutani Baluran. Kemudian pada tahun 1969 jenis akasia ini ditanam pula di savana Bekol sebagai tanaman pagar untuk mencegah kebakaran padang savana di Baluran. Masuknya Acacia nilotica yang merupakan jenis asing invasif ke sejumlah kawasan savana menekan populasi vegetasi padang rumput endemik yang menjadi pakan satwa, seperti Arundinela setosa (lamuran), Dochantium caricosum (lamuran putih), Sorghum nitidum (padi-padian), Brothriochloa modesta, dan Heteropogon contortus (merakan). Kehadiran Acacia nilotica yang merupakan tumbuhan tahan api menghalangi suksesi padang savana yang terbentuk secara alami melalui kebakaran (Ewusie, 1990). Satwa herbivora (termasuk banteng) mengkonsumsi hijauan Acacia nilotica muda sebagai sumber protein. Namun, satwa tidak dapat mengambil hijauan setelah Acacia nilotica tumbuh besar membentuk pohon. Satwa juga tidak suka bernaung di bawah Acacia nilotica karena batangnya berduri keras dengan tajuk berbentuk payung sehingga jarak antara pohon menjadi semakin kecil dan mempersempit ruang gerak satwa. Dengan tingkat percepatan tumbuhan akasia di Baluran mencapai 100-200 ha/tahun, pada tahun 2000 tumbuhan Acacia nilotica telah menginvasi 50% dari luas savana (Mutaqin, 2001). Kelestarian satwa herbivora, terutama banteng, di Taman Nasional Baluran saat ini, tengah mengalami ancaman serius karena terjadinya perubahan habitat dengan masuknya jenis asing invasif Acacia nilotica yang mengganggu kestabilan ekosistem padang savana (Muttaqin, 2001). 1.2. Tujuan Penelitian Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pelestarian banteng di Padang Savana Bekol Taman Nasional Baluran. Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan khusus, yaitu: 1. Mengidentifikasi dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan banteng di Padang Savana Bekol 2. Mengidentifikasi pengaruh Acacia nilotica terhadap habitat banteng 3. Membangun model pergerakan banteng di Padang Savana Bekol

4 1.3. Kerangka Pemikiran Kawasan Taman Nasional Baluran kaya akan keanekaragaman hayati dan memiliki ekosistem yang lengkap yang terdiri dari hutan mangrove, hutan pantai, hutan rawa, hutan savana dan hutan musim (dataran tinggi dan dataran rendah). Baluran memiliki lebih kurang 27 jenis mamalia di mana 14 jenis merupakan langka dan dilindungi. Banyak satwa liar yang sudah jarang dan langka dapat dilihat, seperti banteng (Bos javanicus), ajak (Cuon alpinus), macan tutul (Panthera pardus), ayam hutan (Gallus sp.), merak (Pavo muticus), kerbau liar (Bubalus bubalis), kijang (Muntiacus muntjak), babi hutan (Sus sp.), rusa (Cervus timorensis), kucing hutan (Felis bengalensis), monyet ekor panjang (Macaca sp.), biawak (Varanus salvator) dan masih banyak lagi. Keberadaan Acacia nilotica menimbulkan dampak yang negatif karena menghalangi terjadinya kebakaran untuk suksesi vegetasi padang savana secara alami (Ewusie, 1990). Tumbuhan ini juga menekan populasi vegetasi endemik pakan satwa herbivora karena memiliki zat alelopati yang mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan tumbuhan lain di sekitarnya (UGM, 1993). Menurut Barata (2000), biomassa tumbuhan bawah dalam naungan Acacia nilotica pada tingkat tiang-pohon 96% lebih kecil daripada biomassa tumbuhan bawah dalam naungan tingkat semai-pancang. Jika dibandingkan pada kondisi savana yang terbuka, biomassa tumbuhan bawah ini hanya mencapai 1,35%. Pada kerapatan Acacia nilotica sekitar 3000 batang/ha, jarak yang tersedia antara tumbuhan berkisar kurang dari 1 meter. Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis terhadap kelangsungan kehidupan banteng yang terdiri dari jumlah populasi banteng saat ini, laju kelahiran dan kematian banteng, aktivitas makan dan aktivitas sosial dan kapasitas tampung habitat yang digambarkan dari ketersediaan pakan berupa produktivitas dan komposisinya dan pengaruh adanya invasi Acacia nilotica baik populasi, percepatan tumbuh maupun kawasan yang terinvasi dan laju eradication oleh pengelola Taman Nasional Baluran. Pendekatan-pendekatan sistem ini diharapkan akan dapat membentuk model yang dapat menggambarkan kondisi pelestarian satwa banteng pada saat ini dan potensi manajemen pada saat mendatang yang dapat disimulasikan melalui model. Skema kerangka pemikiran untuk penelitian ini disajikan pada Gambar 1.

5 Gambar 1. Kerangka Pemikiran 1.4. Perumusan Masalah Ancaman keanekaragaman hayati yang terjadi di Taman Nasional Baluran pada saat ini menunjukkan adanya degradasi keanekaragaman spesies padang rumput. Hal ini dapat terjadi karena degradasi lingkungan akibat perubahan iklim global dan aktivitas manusia yang merusak ekosistem padang rumput Taman Nasional Baluran diantaranya perambahan hutan, perburuan dan pengenalan spesies asing yang bersifat invasif ke suatu habitat alami. Ancaman terhadap keanekaragaman hayati akibat spesies asing invasif di Taman Nasional Baluran pada saat ini sangat tinggi, diantaranya terhadap kelestarian satwa banteng dalam kawasan konservasi Taman Nasional Baluran. Gangguan terhadap satwa banteng di Taman Nasional Baluran mulai terjadi dengan masuknya Acacia nilotica ke padang savana sehingga mengganggu aktivitas dan mobilitas satwa dalam padang savana.

6 Permasalahan yang dihadapi pengelola Taman Nasional Baluran dalam pelestarian satwa banteng saat ini secara ringkas terangkum dalam Tabel 1. Tabel 1. Permasalahan dalam Manajemen Pelestarian Banteng No. Formulasi Masalah 1. Meningkatnya populasi Acacia nilotica 2. Penurunan kapasitas tampung padang savana 3. Berkurangnya ruang gerak bagi satwa 4. Meningkatnya populasi gulma lain 5. Persaingan antara satwa pengguna padang savana Informasi Acacia nilotica menjadi jenis asing invasif yang membahayakan ekosistem Padang Savana Bekol Pertumbuhan gulma Acacia nilotica menginvasi Padang Savana Bekol sehingga menekan pertumbuhan vegetasi endemik pakan satwa dan menurunkan kapasitas tampung padang savana Invasi Acacia nilotica ke padang savana mengurangi tempat melakukan aktivitas sosial, proses belajar, kawin, serta mengasuh dan membesarkan anak Ruang kosong bekas Acacia nilotica yang ditebang ditumbuhi oleh jenis gulma lain Invasi Acacia nilotica ke padang savana telah mengurangi luasan savana sehingga menyebabkan terjadinya persaingan antara satwa yang ada di padang savana 6. Tekanan populasi banteng Terjadi penurunan daya dukung banteng karena dalam perkembangbiakannya, banteng membutuhkan pakan yang mencukupi dan ruang gerak yang memadai untuk melakukan aktivitas sosial, proses belajar, kawin, serta mengasuh dan membesarkan anak Permasalahan dalam pelestarian satwa banteng dalam Taman Nasional Baluran akibat invasi Acacia nilotica dapat dirumuskan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimana hubungan antara habitat banteng dengan keberadaan Acacia nilotica di Padang Savana Bekol, Taman Nasional Baluran? 2. Bagaimana kapasitas tampung padang savana sebelum dan sesudah mengalami pengaruh invasi Acacia nilotica? 3. Bagaimana model dinamika populasi banteng yang memanfaatkan padang savana Bekol? Hubungan antara faktor dalam permasalahan dinamika populasi banteng di Padang Savana Bekol dapat ditelusuri dengan mekanisme umpan balik antara parameter yang berhubungan. Melalui mekanisme ini dapat diketahui sifat

7 hubungan antara faktor baik yang bersifat positif maupun negatif. Hubungan ini dapat digambarkan dalam loop umpan balik (Gambar 2.) Gambar 2. Mekanisme Umpan Balik antara Faktor dalam Habitat Pelestarian Banteng di Padang Savana Bekol 1.5. Hipotesis Penelitian ini mempunyai hipotesis sebagai berikut: 1. Keberadaan Acacia nilotica berpengaruh negatif terhadap kehadiran banteng di Padang Savana Bekol 2. Acacia nilotica menurunkan produktivitas hijauan pakan dan ruang gerak satwa banteng 3. Berkurangnya ruang gerak satwa berpengaruh negatif terhadap dinamika pergerakan satwa banteng 1.6. Manfaat Penelitian Model dinamika konservasi banteng yang berbasis ekosistem dari penelitian ini dapat bermanfaat sebagai informasi dasar mengenai dampak perubahan habitat terhadap populasi banteng bagi pengelola Taman Nasional Baluran.