Seleksi Proyek Model Nonkeuangan

dokumen-dokumen yang mirip
Manajemen Proyek. Seleksi Proyek Model Keuangan dan Mengelola Portfolio MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

Strategi Organisasi, Struktur Proyek, Budaya Proyek

BAB I PENDAHULUAN I-1

Distinctive Strategic Management

Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Ketua Osis Dengan Metode AHP SMK PGRI 23 Jakarta

RANGKUMAN SIM BAB 14 Mengelola Rancangan Proyek (Managing Projects)

Membangun Tim Proyek, Konflik dan Negosiasi

Penerapan Analytical Hierarchy Process (AHP) Untuk Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan Pada Perusahaan XYZ

DAFTAR ISI. PDF created with pdffactory trial version

BAB 3 PEMECAHAN MASALAH

BAB III METODOLOGI. benar atau salah. Metode penelitian adalah teknik-teknik spesifik dalam

INISIASI PROYEK PERTEMUAN 3

BAB 2 LANDASAN TEORI

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004 Yogyakarta, 19 Juni 2004

Pengambilan Keputusan Multi Kriteria. Riset Operasi TIP FTP UB

Sistem Pendukung Keputusan Penasehat Akademik (PA) untuk Mengurangi Angka Drop Out (DO) di STMIK Bina Sarana Global

MANAGEMENT SUMMARY CHAPTER 7 DECISION MAKING

DAFTAR ISI. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Ruang Lingkup...

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENERAPAN AHP UNTUK SELEKSI MAHASISWA BERPRESTASI

BAB III METODE PENELITIAN

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI KOMPUTER SWASTA

BAB 2 LANDASAN TEORI

LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN CORPORATE VALUE. 0 Tidak berhubungan sama sekali. 1 Sangat sedikit hubungannya. 2 Sedikit berhubungan

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Analisis Keputusan TIP FTP UB

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PERIJINAN DAN PENEMPATAN KOLAM JARING TERAPUNG MENGGUNAKAN METODE AHP STUDI KASUS PT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Karyawan merupakan sumber daya yang utama bagi perusahaan. Maju mundurnya

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN SELEKSI PENERIMA BEASISWA PADA SMA 1 BOJA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

JAMHARI KASA TARUNA NRP DOSEN PEMBIMBING Prof. Dr.Ir. Udisubakti Ciptomulyono, M.Eng.SC

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Daftar Pertanyaan Wawancara. 2. Bagaimana struktur organisasi instansi, beserta tugas dan tanggung jawab tiap

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. masalah dan judul penelitian yang didukung dengan suatu kajian pustaka. Hal

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan ekonomi. Beasiswa adalah pemberian bantuan keuangan kepada. atau kurang mampu dalam segi ekonomi.

Pertemuan 9 (AHP) - Mochammad Eko S, S.T

III. METODE PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

LAMPIRAN KUESIONER PEMBOBOTAN KORPORASI PT TOYOTA ASTRA MOTOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam

Sistem Pendukung Keputusan Memilih Perguruan Tinggi Swasta di Palembang Sebagai Pilihan Tempat Kuliah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ALOKASI JUMLAH PEMBELIAN BAHAN BAKU BERDASARKAN HASIL EVALUASI DAN PEMILIHAN SUPPLIER DI PT ARMINDO CATUR PRATAMA SKRIPSI

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004 Yogyakarta, 19 Juni 2004

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ANALISA PEMILIHAN ALTERNATIF PROYEK MANAJEMEN AIR DI PT X DENGAN METODE MULTI CRITERIA DECISION MAKING (MCDM)

INTRO Metode AHP dikembangkan oleh Saaty dan dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek dimana data dan informasi statistik dari masal

BAB IV EVALUASI DAN PEMBAHASAN. 4.1 Langkah-langkah Evaluasi Investasi Sistem dan Teknologi Informasi. dengan menggunakan Metode Information Economics

MATERI 5 PEMILIHAN PORTFOLIO. Prof. DR. DEDEN MULYANA, SE., M.Si.

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah sumber daya manusia masih menjadi sorotan dan tumpuan bagi

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di KUB Hurip Mandiri Kecamatan Cisolok,

Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Pendidikan Indonesia

Aplikasi Fuzzy Analytical Hierarchy Process Dalam Seleksi Karyawan (Studi Kasus: Pemilihan Staf Administrasi Di PT. XYZ)

ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS)

repository.unisba.ac.id DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

3.1. Kerangka Pemikiran III. METODE PENELITIAN

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 4.

BAB III METODOLOGI A. Lokasi dan Waktu B. Pengumpulan Data

MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PRAKUALIFIKASI KONTRAKTOR KONSTRUKSI DI SEBUAH PERUSAHAAN MINYAK DAN GAS

ANALISIS PENERAPAN METODE ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK SELEKSI TENAGA KERJA (Studi Kasus PT. GE Lighting Indonesia Sleman Yogyakarta)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

USULAN PROSES PEMILIHAN PEMASOK DI TOKO BESI NUSANTARA SEMARANG

III. METODE PENELITIAN

A. Kerangka Pemikiran Sistem evaluasi jabatan akan dirancang secara analitis dengan menggunakan metode point factor. Hal ini disebabkan karena

Manajemen Resiko Proyek Sistem Informasi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS)

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB 3 METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI DSLAM PADA TELKOM MSC (MAINTENANCE SERVICE CENTER)

Sistem Penunjang Keputusan Penerimaan Dosen dengan Metode Analytic Hierarchy Process

ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

2 METODE PENELITIAN. Kerangka Pemikiran

BAB 3 METODOLOGI. Universitas Indonesia. Analisis keberadaan..., Marthin Hadi Juliansah, FE UI, 2010.

PERTEMUAN III INISIASI PROYEK

PEMILIHAN KONTRAKTOR PERBAIKAN ROTOR DI PEMBANGKIT LISTRIK PT XYZ DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN GOAL PROGRAMMING

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI UNTUK SISWA YANG MELANJUTKAN KULIAH PADA SMA N 1 TEGAL

MODEL SISTEM UMUM PERUSAHAAN

Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi

MANAJEMEN LINGKUP (SCOPE) PROYEK

BAB IV METODOLOGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

Manajemen Proyek Minggu 2

Analisis dan Perancangan Sistem Hanif Al Fatta M.kom

RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan

PEMILIHAN LOKASI PERGURUAN TINGGI SWASTA DI JAWA BARAT BERDASARKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Oleh : RATNA IMANIRA SOFIANI, SSi

Technology Science and Engineering Journal, Volume 1 No 2 June 2017 E-ISSN:

ANALISIS PEMBENTUKAN PORTOFOLIO OPTIMAL PROYEK MENGGUNAKAN TEORI PREFERENSI DAN CAPM EFFICIENT FRONTIER

LAMPIRAN A KUISIONER UNTUK PEMBOBOTAN KORPORAT

Transkripsi:

Modul ke: Seleksi Proyek Model Nonkeuangan Fakultas 04Deva Prudensia Setiawan, S.T., M.M. Ekonomi & Bisnis Program Studi Manajemen Manajemen Proyek.

Isi Isu-isu mengenai Seleksi Proyek Pendekatan dalam Penyaringan dan Penyeleksian Proyek Seleksi model nonkeuangan

Pengantar Manajemen Proyek Seleksi Proyek Model Nonkeuangan

Semua organisasi yang menangani proyek haruslah memutuskan pilihan diantara sejumlah pilihan proyek. Manakah proyek yang memberi peluang keuntunganataumanfaatpaling baik? Manakah proyek yang harus dihindari karenaresikonyaterlalutinggi?

Apakah kriteria yang harus dipakai untuk memilihproyekmanayang harusdidukung? Bagaimana kita membuat pilihan yang masuk akaldalammenyeleksiproyek-proyek? Informasi apa saja yang kita perlukan untuk itu?

Berbagai metode dalam melakukan seleksi proyek ini berada dalam kontinum mulai pendekatan yang sangat kualitatif atau judgement-based hingga yang betul-betul analisiskuantitatif. Setiap pendekatan mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri.

Seleksi Proyek Manajemen Proyek Seleksi Proyek Model Nonkeuangan

Perusahaan-perusahaan mengembangkan model penyaringan (screening) yang paling cocok bagi mereka untuk mengevaluasi dan menyeleksi proyek-proyek potensial. Model penyaringan ini akan memungkinkan mereka untuk membuat pilihan terbaik biasanya diantara keterbatasan waktu dan uang.

W. E. Souder mengidentifikasi lima isu penting dan sebuah tambahan dari Jeffrey Pinto yang harus dipertimbangkan para manajer ketika mereka mengevaluasi model penyaringan: Realism Kapabilitas Fleksibilitas Mudah digunakan Biaya Comparability

Realism: Suatu model yang efektif haruslah menggambarkan sasaran organisasional, termasuk sasaran dan misi strategik perusahaan. Kriteria haruslah masuk akal dalam pemahaman adanya keterbatasan sumber daya seperti uang dan orang. Model juga harus memperhitungkan baik resiko komersial dan resiko teknikal, termasuk kinerja, biaya, dan waktu

Kapabilitas: Model ini seharusnya cukup kuat untuk mengakomodasi kriteria dan hambatan baru agar model penyeleksian memampukan perusahaan untuk menggunakan model ini seluas mungkin sehingga bisa mencakup lingkup jenis proyek sebesar mungkin.

Fleksibilitas: Sebuah model seharusnya mudah dimodifikasi jika aplikasi-aplikasi yang dicoba memerlukan perubahan, misalnya: penyesuaian terkait perubahan kurs mata uang, hukum pajak, kode bangunan, dsb.

Biaya Model penyaringan haruslah costeffective. Pendekatan seleksi yang mahal untuk digunakan, baik dalam hal waktu ataupun uang, akan menyebabkan penolakan penggunaan model ini oleh anggota organisasi.

Comparability: Model haruslah cukup luas untuk diaplikasikan pada berbagai proyek dan mendukung untuk membandingkan potensial proyek-proyek tersebut tanpa bias.

Ada dua hal yang harus selalu diingat saat membuat keputusan dalam menyeleksi proyek: 1. Model yang paling lengkap pun tetaplah hanya merupakan sebagian gambaran dari realitas organisasi. Potensi daftar input dalam keputusan seleksi proyek sesungguhnya ada hampir tidak terbatas. (Gunakanlah Pareto 80/20) 2. Dalam setiap model keputusan tercakup faktor objektif dan subjektif.

Pendekatan dalam Penyaringan dan Penyeleksian Proyek Manajemen Proyek Seleksi Proyek Model Nonkeuangan

Metode Pertama: Checklist Model Metode paling sederhana Membangun checklist atau daftar kriteria yang berhubungan dengan pilihan kita atas suatu proyek, lalu menerapkannya pada berbagai proyek yang tersedia.

Metode Checklist (lanjutan): Misalnya, perusahaan mementingkan biaya dan kecepatan dalam melayani pasar, dan ini menjadi kriteriaseleksiyang utama. Perusahaan memilih proyek-proyek yang berbiaya rendah dan dapat dibawa ke pasar dalam waktu satutahun. Perusahaan bisa juga memiliki selusin kriteria tambahanyang relevandenganitu.

Metode Checklist (lanjutan): Checklist mungkin paling baik digunakan dengan penetapan konsensus grup sebagai metode untuk pembicaraan awal, stimulasi diskusi, pertukaran opini, dan menentukan apa yang penting sebagai prioritas grup.

Contoh soal: Perusahaan SAP yang merupakan pemimpin dalamindustriperangkat-lunak(software) aplikasi bisnis tertarik untuk mengembangkan sebuah paket aplikasi yang baru untuk manajemeninventoridankontrolshipment. Perusahaan sedang berusaha untuk memutuskan proyek mana yang dipilih dari empatalternatifyang potensial.

Berdasarkan pengalaman komersial sebelumnya, perusahaan merasa bahwa kriteria seleksi yang paling penting untuk memilih proyek ini adalah biaya, potensi keuntungan, waktu untuk masuk pasar, dan pengembanganatasresiko.

Sebagaitambahanataskriteriakeputusan, kitamembuatevaluative descriptors yang menggambarkan seberapa baik alternatif proyekituataskriteriaseleksiutamakita. Kita mengevaluasisetiapkriteriaini(tinggi, sedang, rendah) dan meninjau proyek mana yang mengakumulasicheck yang paling tinggi, sehingga ini tampaknya merupakan pilihan yang optimal.

Proyek Kriteria Kinerja atas Kriteria Tinggi Sedang Rendah Proyek Alpha Biaya X Potensi keuntungan X Waktu masuk pasar X Pengembangan atas resiko X Proyek Beta Biaya X Potensi keuntungan X Waktu masuk pasar X Pengembangan atas resiko X Proyek Gamma Biaya X Potensi keuntungan X Waktu masuk pasar X Pengembangan atas resiko X Proyek Delta Biaya X Potensi keuntungan X Waktu masuk pasar X Pengembangan atas resiko X

Berdasarkan metode ini, Proyek Gamma adalah alternatif terbaik dalam kaitannya memaksimalkan kriteria utama kita, yaitu biaya, potensi keuntungan, waktu untuk masuk pasar, dan pengembangan atas resiko.

Kekurangan metode ini antara lain: pemberianperingkatataskriteriaseleksiyang bersifat subjektif, sehingga bisa disalahmengerti atauterjadisalahinterpretasi. metode ini tidak memungkinkan untuk memberikan bobot yang berbeda pada kriteriakriteria yang digunakan; padahal seringkali terjadi suatu kriteria lebih penting dari kriteria lainnya dan seharusnya memiliki bobot pertimbangan yang tidak sama.

Simplified Scoring Models Manajemen Proyek Seleksi Proyek Model Nonkeuangan

Dalam simplified scoring model, setiap kriteria diberi peringkat terkait dengan relatif penting tidaknyakriteriatersebut. Pilihan proyek akan mencerminkan harapan kita untuk memaksimalkan pengaruh kriteria tertentu pada keputusan kita.

Contoh soal: Untuk contoh soal tadi mengenai pilihan proyekbagisap yang telahkitabahas, andaikan kita memberi bobot spesifik pada setiap kriteria dari empat kriteria kita sebagai berikut:

Kriteria Bobot Kepentingan Waktu untuk masuk pasar 3 Potensi keuntungan 2 Pengembangan atas resiko 2 Biaya 1 Manakah proyek yang paling optimum berdasarkan metode ini?

Solusi: Kita perlumengubahevaluative descriptors pada kolom skor dari tanda silang menjadi nilai skor; misalnya digunakan nilai skor sebagai berikut: Tinggi= 3 Sedang= 2 Rendah= 1

(A) (B) (A) x (B) Proyek Kriteria Bobot Kepentingan Skor Skor berbobot Proyek Alpha Biaya 1 3 3 Potensi keuntungan 2 1 2 Pengembangan atas resiko 2 1 2 Waktu untuk masuk pasar 3 2 6 Total skor 13 Proyek Beta Biaya 1 2 2 Potensi keuntungan 2 2 4 Pengembangan atas resiko 2 2 4 Waktu untuk masuk pasar 3 3 9 Total skor 19 Proyek Gamma Biaya 1 3 3 Potensi keuntungan 2 3 6 Pengembangan atas resiko 2 3 6 Waktu untuk masuk pasar 3 1 3 Total skor 18 Proyek Delta Biaya 1 1 1 Potensi keuntungan 2 1 2 Pengembangan atas resiko 2 2 4 Waktu untuk masuk pasar 3 3 9 Total skor 16

Berdasarkan analisis di atas, Proyek Beta adalah alternatifterbaik(dengantotal weighted score 19) dibandingkan pilihan lainnya. Perusahaan farmasi Hoechst Marion Roussel menggunakan scoring model untuk menyeleksi proyekdenganlima kriteriautama: reward, business strategy fit, strategic leverage, probability of commercial success, dan probability of technical success; dan juga dengan sejumlah subkriteria spesifik.

Subkriteria diberi skor antara 1 sampai dengan 10, Skor ini kemudian dirata-ratakan untuk setiap kriteria. Proyek yang dipilih ditentukan dengan menjumlahkan skor rata-rata dari kelima kategori. Hoechst meraih sukses dengan model ini, baik dalam memilih proyek yang harus diprioritaskan atau pun untuk membuat keputusan go / no-go.

Simplified Scoring Model ini mempunyai beberapa keunggulan sebagai alat seleksi proyek. 1. Alat ini mudah dikaitkan dengan sasaran strategik yang kritikal bagi perusahaan untuk seleksi berbagaialternatifproyek. 2. Model ini mudah dimengerti dan digunakan.

Kekurangan model ini adalah terlalu menyederhanakanmasalah. Skala1 sampai3 mungkin secara intuitif tampak menarik serta mudah diterapkan dan dipahami, tetapi ini tidaklahakurat.

Kekurangan lainnya adalah, di dalam kacamata manajerial, metode ini faktanya tergantung pada relevansi kriteria yang dipilih dengan akurasi pembobotan yang diberikan padamereka. Dengankata lain, kitatidakyakinbahwaada hubungan yang masuk akal antara kriteria yang dipilih dan diberi bobot dengan sasaran bisnis yang diminta proyek.

Analytical Hierarchy Process Manajemen Proyek Seleksi Proyek Model Nonkeuangan

Analytical Hierarchy Process (AHP) dikembangkan untuk mengatasi banyaknya masalah teknikal dan manajerial yang sering terjadi terkait dengan pembuatan keputusan melaluimodel scoring. Metode inisemakinpopulersekarangini.

Metode AHP merupakan proses empat langkah: Menyusun Struktur Hirarki Kriteria Alokasikan bobot pada kriteria Pemberian nilai numerik pada dimensi evaluasi Evaluasi proposal proyek

Metode Profile Models: menggambarkan pilihan resiko/hasil (risk/return options) pada berbagai pilihan dan kemudian memilih proyek yang akan memberikan return paling maksimum di dalam resiko yang masih bisa diterima.

Profile modelsmenggunakan konsep efficient frontier. Efficient frontier adalah seperangkat pilihan portfolio proyek yang menawarkan maksimum hasil untuk setiap tingkatan resiko yang diberikan atau minimum resiko bagi setiap tingkatan hasil (return).

Terima Kasih Deva P. Setiawan, S.T., M.M.