STANDAR PELAYANAN KEPANITERAAN PIDANA

dokumen-dokumen yang mirip
STANDAR PELAYANAN PERKARA PIDANA

1 jam perkara sesuai dengan nomor urut perkara 4. Membuat formulir penetapan Ketua Pengadilan Negeri tentang

NO. URAIAN KEGIATAN WAKTU PENYELESAIAN KETERANGAN

STANDARD OPERATING PROCEDURES (S.O.P) PENANGANAN PERKARA PIDANA ACARA BIASA PADA PENGADILAN NEGERI TENGGARONG

Pelayanan Perkara Pidana

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) KEPANITERAAN PIDANA

ADMINISTRASI PERKARA PENGADILAN NEGERI SIBOLGA

copy dan hard copy serta pengajuan permohonan praperadilan sesuai dengan wilayah hukum di Pengadilan Negeri Takengon ; 3 Penerimaan

1. S O P KEPANITERAAN PIDANA

STANDAR PELAYANAN PERADILAN PENGADILAN NEGERI TANAH GROGOT

PENGADILAN NEGERI BANTUL KELAS I B MANUAL MUTU PENJAMINAN MUTU PENGADILAN

SOP PROSEDUR PENYELESAIAN PERKARA PIDANA BIASA

SKEMA SOP KEPANITERAAN PIDANA

BAGAN ALUR PROSEDUR PERKARA PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA

I. BIDANG ADMINISTRASI 1.1 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) ADMINISTRASI PERKARA PADA PENGADILAN NEGERI KELAS II SUKADANA

PENGGUGAT/ KUASANYA. Ketua Pengadilan Negeri menunjuk Majelis Hakim, dan Panitera menunjuk Panitera Pengganti. Kepaniteraan

STANDAR PELAYANAN PENGADILAN (SPP) DALAM LINGKUNGAN PERADILAN MILITER

STANDAR PELAYANAN PENGADILAN (SPP) DALAM LINGKUNGAN PERADILAN MILITER

PENGADILAN NEGERI BANJARNEGARA

Staf Panmud Pan/Wapan Persya ratan/ Perleng kapan

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGADILAN NEGERI SLAWI

TATA CARA PEMERIKSAAN ADMINISTRASI PERSIDANGAN

ADMINISTRASI PERKARA KEPANITERAAN PERDATA DI PENGADILAN NEGERI SIBOLGA

STANDARD OPERATION PROCEDURE (S.O.P) DI JAJARAN PENGADILAN TINGGI DAN PENGADILAN NEGERI SE-KALIMANTAN TENGAH

PENETAPAN PENUNJUKAN MAJELIS HAKIM ATAU HAKIM TUNGGAL FORM PENUNJUKAN PANITERA PENGGANTI FORM PENUNJUKAN MAJELIS HAKIM PERKARA PIDANA SINGKAT FORM

MANTAN BOS ADHI KARYA KEMBALI DAPAT POTONGAN HUKUMAN.

PENGADILAN NEGERI JAKARTA BARAT SOP PENYELESAIAN BERKAS PERKARA GUGATAN

PENGANTAR. Sanggau, 31 Desember 2015 Ketua Pengadilan Negeri Sanggau NIP Laporan Tahunan Pengadilan Negeri Sanggau Tahun

JAYAPURA, JULI 2016 KETUA PENGADILAN NEGERI JAYAPURA JUMONGKAS LUMBAN GAOL, SH.,MH. NIP

STANDARD OPERATING PROCEDURES (S.O.P) PENANGANAN PERKARA PERDATA PADA PENGADILAN NEGERI TENGGARONG

LAPORAN TAHUNAN PENGADILAN NEGERI KAYUAGUNG

4. SOP KEPANITERAAN PENGADILAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PADA PENGADILAN NEGERI SEMARANG

STANDAR PELAYANAN PENGADILAN NEGERI RUTENG

SOP ADMINISTRASI PENANGANAN PERKARA PIDANA BIASA

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM

2017, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya

V. STANDARD OPERATING PROCEDURES ( SOP ) KEPANITERAAN PERDATA

BAGAN ALUR PROSEDUR PENDAFTARAN PERKARA GUGATAN

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEPANITERAAN DAN KESEKRETARIATAN PERADILAN

ALUR PENDAFTARAN GUGATAN PERMOHONAN DI PENGADILAN NEGERI

BAGAN ALUR PROSEDUR PENDAFTARAN PERKARA GUGATAN

Pengadilan Tinggi.). 7. Berkas perkara yang telah ditetapkan Majelis Panitera Muda Pidana,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN REGISTER PERKARA ANAK DAN ANAK KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SOP PENYELESAIAN PERKARA PERDATA GUGATAN

P U T U S A N. Nomor : 394/PID.SUS/2015/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

BAGAN ALUR PROSEDUR PERKARA PERDATA PASCA SIDANG

P U T U S A N. Nomor : 764/PID.SUS/2015/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

STANDAR.OPERASIONAL.PROSEDUR (SOP) KEPANITERAAN PERDATA NO. URAIAN KEGIATAN WAKTU PENYELESAIAN KETERANGAN

SOP KEPANITERAAN PIDANA PIDANA BIASA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) KEPANITERAAN PIDANA

KEPUTUSAN. Nomor W18-U1/398/UM.02.4/I/2018 TENTANG STANDAR PELAYANAN PERADILAN PADA PENGADILAN NEGERI/HI/TIPIKOR SAMARINDA KELAS IA

LAPORAN TAHUNAN PENGADILAN NEGERI KAYUAGUNG

TATA CARA PEMERIKSAAN ADMINISTRASI PERKARA

BERITA NEGARA. No.711, 2013 MAHKAMAH AGUNG. Penyelesaian. Harta. Kekayaan. Tindak Pidana. Pencucian Uang. Lainnya PERATURAN MAHKAMAH AGUNG

P U T U S A N. Nomor : 762/PID.SUS/2015/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02 TAHUN 2002 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN WEWENANG MAHKAMAH KONSTITUSI OLEH MAHKAMAH AGUNG

Tugas Pokok dan Fungsi. Andrie Irawan, SH., MH Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto Yogyakarta

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

ALUR PERADILAN PIDANA

DAFTAR ISI PENGANTAR... 2 DAFTAR ISI BAB I Pendahuluan BAB II Struktur Organisasi (Tupoksi)... 8

TAHUN 2015 PENGADILAN NEGERI KELAS I A BALE BANDUNG JL. JAKSA NARANATA BALE ENDAH KABUPATEN BANDUNG

PENGADILAN NEGERI BANGKINANG Jl. Letnan Boyak No. 77 Bangkinang Telp /Fax. (0762) Website:

P U T U S A N. Nomor : 16/PID.SUS.Anak/2015/PT.MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) KEPANITERAAN PERDATA PENGADILAN NEGERI TANAH GROGOT. No AKTIVITAS PROSEDUR WAKTU

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

BAB V PENUTUP. Praktek kerja lapangan yang dilakukan oleh Penulis selama kurang lebih 2

Wewenang Penahanan Berujung OTT

2011, No b. bahwa Tindak Pidana Korupsi adalah suatu tindak pidana yang pemberantasannya perlu dilakukan secara luar biasa, namun dalam pelaksan

Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon banding:

SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 2 TAHUN 1998 TENTANG PERMOHONAN KASASI PERKARA PIDANA YANG TERDAKWANYA BERADA DALAM STATUS TAHANAN

SURAT KEPUTUSAN KETUA PENGADILAN NEGERI GUNUNGSITOLI Nomor : W2.U12/1294/KP.04.11/IX/2016 TENTANG

LAPORAN TAHUNAN TAHUN 2013

STANDAR OPERATING PROCEDURE ( SOP ) PENGADILAN NEGERI DOMPU. Dicetak dan Diterbitkan oleh IT - PN DOMPU 2014

LAPORAN TAHUNAN 2014 i PENGADILAN NEGERI PASURUAN

Tanggal Efektif Jakarta Pusat PO. BOX 1148 JKT13011 JAT Disahkan oleh SOP TATA CARA PENYELESAIAN KEBERATAN PERKARA GUGATAN SEDERHANA

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) KEPANITERAAN HUKUM

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Adapun dari sisi materi, perubahan materi buku II Edisi Revisi 2009, dibandingkan dengan Buku II Edisi 2009, adalah sebagai berikut :

Tanggal Efektif 15 Juli 2016 Website :

PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

2014, No c. bahwa dalam praktiknya, apabila pengadilan menjatuhkan pidana tambahan pembayaran uang pengganti, sekaligus ditetapkan juga maksimu

STANDAR OPERATION PROCEDURE (SOP) PENGADILAN NEGERI HAM, PHI, PERIKANAN DAN NIAGA MEDAN

PENGADILAN NEGERI BALE BANDUNG KELAS 1A JL. JAKSA NARANATA BALE ENDAH KABUPATEN BANDUNG

PENGADILAN AGAMA NGANJUK K E P A N I T E R A A N JL. Gatot Subroto, Nganjuk

STANDARD OPERATION PROCEDURE (SOP) PROSES PENDAFTARAN DAN PEMERIKSAAN PERKARA DI PENGADILAN TATA USAHA NEGARA

Transkripsi:

STANDAR PELAYANAN KEPANITERAAN PIDANA 1. PELAYANAN PERSIDANGAN NO. JENIS PELAYANAN DASAR HUKUM 1. Penerimaan Pelimpahan Berkas. Pasal 137 KUHAP PERSYARATAN - Yang melimpahkan harus Jaksa Penuntut Umum atau petugas kejaksaan yang berstatus PNS yang mendapatkan tugas resmi untuk itu. MEKANISME DAN PROSEDUR - Berkas diserahkan ke kepaniteraan muda pidana JANGKA WAKTU 2 hari Pasal 143 KUHAP - Surat Dakwaan - Diterima dan dicek kelengkapan berkas oleh meja 1 (panitera muda pidana) - Kelengkapan surat penahanan dan masa penahanan yang belum habis. - Bila lengkap berkas diregister ke buku register induk dan di input ke dalam komputer, setelah itu berkas dilimpahkan ke Ketua Pengadilan Negeri untuk penunjukan majelis hakim. - Kelengkapan barang bukti (bila disertai). - Bila tidak lengkap berkas tersebut dikembalikan kembali kepada jaksa atau petugas yang bersangkutan pada hari itu juga. 2. Penunjukan Majelis Hakim dan serta pendistribusian berkas kepada majelis yang ditunjuk. Pasal 152 KUHAP - Berkas yang diterima dari kepaniteraan pidana di cek, dan ditetapkan Majelis Hakimnya oleh Ketua Pengadilan Negeri. - Untuk penetapan Pengganti ditetapkan oleh / Sekretaris pengadilan. - Setelah ditetapkan, berkas perkara tersebut didistribusikan kepada Majelis yang bersangkutan. 3 hari 3. Penetapan hari sidang dan penetapan penahanan (jika ditahan). Pasal 152 KUHAP - Setelah berkas diterima, Majelis Hakim dan Pengganti yang bersangkutan membuat penetapan hari sidang pertama dan penetapan penahanan. 2 hari

4. Perkara Pidana harus diputus dan diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku. 5. Petikan Putusan dan Salinan Putusan - Jika terdakwa ditahan, perkara pidana harus diputus dan diselesaikan oleh pengadilan paling lama 10 hari sebelum masa tahanan habis. - Pengganti harus menyelesaikan dan menyerahkan petikan putusan tersebut kepada Muda Pidana pada hari itu juga atau paling lama hari kerja berikutnya. - pengganti memasukkan penetapan hari sidang pertama dan penahanan ke komputer. - 10 hari sebelum masa penahanan habis Hari itu juga atau paling lama hari kerja berikutnya - Penyampaian Salinan Putusan kepada jaksa penuntut umum dan ke rutan serta terdakwa atau penasehat hukum. 6. Minutasi dan Pemberkasan perkara - Pengganti menyelesaikan minutasi dan pemberkasan perkara dan diserahkan ke kepaniteraan pidana. 14 hari setelah diputus. 14 hari setelah putusan diucapkan

2. PELAYANAN SIDANG BAGI ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM NO. URAIAN DASAR HUKUM 1. Pengadilan menyediakan ruang tunggu dan ruang sidang khusus untuk anak. KOPETENSI PELAKSANAAN 2. Hakim wajib melindungi hak privasi anak dan menyelenggarakan sidang tertutup. Pasal 8 ayat 1 UU RI No. 3 Tahun 1997 tentang peradilan Anak 3. Hakim sidang anak tidak memakai toga. Pasal 6 UU RI No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak 4. Hakim Wajib memastikan adanya pendampingan dari orang tua/wali anak, Penasehat Hukum dan BAPAS. Pasal 8 ayat 1 UU RI No. 3 Tahun 1997 tentang peradilan Anak 5. Jika diperlukan penahanan harus mempertimbangkan kepentingan anak dan tempat penahanan dipisah dari orang dewasa. 3. PELAYANAN SIDANG TINDAK PIDANA RINGAN / TILANG NO. URAIAN DASAR HUKUM 1. Persidangan untuk pelanggaraan lalu lintas diselanggarakan 1 (satu) hari dalam 1 (satu) minggu pada hari tertentu, dalam kondisi tertentu pengadilan dapat menyelenggarakan sidang tilang lebih dari 1 (satu) kali. KOPETENSI PELAKSANAAN 2. Pengadilan melaksanakan sidang tilang di pengadilan pada waktu yang telah ditentukan dan pelanggar dapat datang pada waktu yang telah ditentukan tersebut. 3. Pengadilan memberikan informasi kepada para pelanggar yang akan sidang lalu lintas tersebut didekat ruang sidang. 4. Apabila pelanggar berhalangan hadir dalam persidangan, dapat memberikan surat kuasa kepada orang lain untuk hadir dan bersedia membayar denda melalui jaksa dan mengambil barang buktinya. 5. Apabila pelanggar telah dipanggil dimuka ruang persidangan 3 (tiga) kali tetap tidak hadir maka hakim memutus tanpa hadirnya pelanggar (verstek). 6. Setelah persidangan selesai dan berkas telah diputus tanpa hadirnya pelanggar (verstek), maka berkas perkara tilang tersebut diserahkan pada Kejaksaan Negeri pada hari itu juga.

7. Pihak pelanggar yang diputus verstek dapat mengajukan verzet dalam tenggang waktu 7 hari setelah diberitahukan putusan verstek tersebut. STANDAR PELAYANAN KEPANITERAAN PIDANA PENGADILAN NEGERI NO. JENIS PELAYANAN DASAR HUKUM PERSYARATAN MEKANISME DAN PROSEDUR 1. Persetujuan Penggeledahan Badan / Rumah Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 11, Pasal 16, Pasal 18, Pasal 32, Pasal 33, Pasal 34, Pasal 36, Pasal 125, Pasal 126, Pasal 127 KUHAP. Surat laporan guna memperoleh persetujuan penggeledahan dari penyidik ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri, dengan dilampiri surat-surat : 1) Laporan Polisi. 2) Surat Pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP). 3) Surat Perintah Tugas. 4) Surat Perintah Penyidikan. 5) Surat Perintah Penggeledahan Badan / Rumah. 6) Berita Acara Penggeledahan Badan / Rumah. 7) Resume. 1. Surat diserahkan di Kepaniteraan Pidana. 2. Dicatat dalam buku register. 3. Diparaf oleh Muda Pidana. 4. Disposisi oleh WKPN. 5. Diketik oleh staf dan diparaf Muda Pidana. 6. Ditanda tangani oleh WKPN. 7 hari kalender JANGKA KOMPETENSI WAKTU PELAKSANA 3 hari - Staf Pidana - Panmud Pidana - Wakil Ketua PN. 2. Persetujuan Penyitaan Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 11, Pasal 38 ayat (2), Pasal 39, Pasal 40, Pasal 128, Pasal 129, Pasal 130, Pasal 131 KUHAP. Surat laporan guna memperoleh persetujuan penyitaan dari penyidik ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri, dengan dilampiri surat-surat : 1) Laporan Polisi. 2) Surat Pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP). 3) Surat Perintah Tugas. 4) Surat Perintah Penyidikan. 5) Surat Perintah Penyitaan 6) Berita Acara Penyitaan 7) Resume 1. Surat diserahkan di Kepaniteraan Pidana. 2. Dicatat dalam buku register. 3. Diparaf oleh Muda Pidana. 4. Disposisi oleh WKPN. 5. Diketik oleh staf dan diparaf Muda Pidana. 6. Ditanda tangani oleh WKPN. 3 hari - Staf Pidana - Panmud Pidana - Wakil Ketua PN.

8) Surat Tanda Terima Penerimaan 3. Izin Khusus Penggeledahan Pasal 1 butir 17, 18, Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 9, Pasal 11, Pasal 32, Pasal 33, Pasal 34 KUHAP. Surat Permintaan Ijin Khusus Penggeledahan dari penyidik ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri, dengan dilampiri surat-surat : 1. Laporan Polisi. 2. Surat Pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP). 3. Surat Perintah Tugas. 4. Surat Perintah Penyidikan. 5. Surat Perintah Penggeledahan 6. Resume 1. Surat diserahkan di Kepaniteraan Pidana. 2. Dicatat dalam buku register. 3. Diparaf oleh Muda Pidana. 4. Disposisi oleh WKPN. 5. Diketik oleh staf dan diparaf Muda Pidana. 6. Ditanda tangani oleh WKPN. 3 hari - Staf Pidana - Panmud Pidana - Wakil Ketua PN. 4. Izin Khusus Penyitaan Pasal 1 butir 16, Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, 2, Pasal 7 ayat (1) huruf d dan e, Pasal 11, Pasal 38 ayat (1), Pasal 39, Pasal 43 KUHAP. Surat Permintaan Ijin Khusus Penyitaan dari penyidik ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri, dengan dilampiri surat-surat : 1. Laporan Polisi. 2. Surat Pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP). 3. Surat Perintah Tugas. 4. Surat Perintah Penyidikan. 5. Surat Perintah Penyitaan 6. Resume 1. Surat diserahkan di Kepaniteraan Pidana. 2. Dicatat dalam buku register. 3. Diparaf oleh Muda Pidana. 4. Disposisi oleh WKPN. 5. Diketik oleh staf dan diparaf Muda Pidana. 6. Ditanda tangani oleh WKPN. 3 hari - Staf Pidana - Panmud Pidana - Wakil Ketua PN. 5. Permohonan Perpanjangan Penahanan Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 11, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 26, Pasal 29 ayat (1), (2), (3) huruf a, KUHAP. Surat Permintaan perpanjangan penahanan dari penyidik ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri, dengan dilampiri surat-surat : 1. Laporan Polisi. 2. Surat Pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP). 3. Surat Perintah Tugas. 4. Surat Perintah Penyidikan. 1. Surat diserahkan di Kepaniteraan Pidana. 2. Dicatat dalam buku register. 3. Diparaf oleh Muda Pidana. 4. Disposisi oleh WKPN. 5. Diketik oleh staf dan diparaf Muda Pidana. 6. Ditanda tangani oleh WKPN. 3 hari - Staf Pidana - Panmud Pidana - Wakil Ketua PN.

5. Surat Perintah Penahanan (T.4) 6. Resume Penahanan 6. Permohonan atau Pengalihan Penahanan Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 26, Pasal 31 KUHAP. Surat permohonan atau pengalihan penahanan dari terdakwa / Keluarga terdakwa atau penasehat hukumnya ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri cq. Hakim Ketua Majelis, dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Surat pernyataan dari terdakwa bahwa ia : tidak akan melarikan diri, tidak akan mengulangi atas tindak pidana yang didakwakan dan tidak akan menghilangkan barang bukti. 2. Jaminan uang atau jaminan orang, berdasarkan syarat yang ditentukan. 1. Surat diserahkan melalui bagian umum atau langsung kepada Majelis Hakim. 2. Dicatat dalam buku register. 3. Disposisi oleh KPN. 4. Disposisi oleh 5. Disposisi oleh Wakil 6. Diserahkan kepada Hakim Ketua Majelis. 7. Dipertimbangkan. 4 hari - Staf Bag. Umum - KPN - - Wakil - Hakim Ketua

STANDAR PELAYANAN PENGAJUAN UPAYA HUKUM PIDANA PENGADILAN NEGERI NO. JENIS PELAYANAN DASAR HUKUM PERSYARATAN MEKANISME DAN PROSEDUR 1. Pelayanan Administrasi Perkara Banding Pidana BAB XVII Upaya Hukum Biasa Bagian Kesatu Pemeriksaan Tingkat Banding Pasal 233 s/d Pasal 243 KUHAP. Keputusan Ketua R.I. Nomor: 26/KMA/SK/II/2012 tanggal 9 Februari 2012. - Diajukan pemohon Banding (Terdakwa/Penasehat hukumnya atau Penuntut Umum). - Penasehat Hukum harus membawa surat kuasa dari terdakwa. - Diajukan dalam waktu 7 (tujuh) hari sesudah putusan dijatuhkan, atau setelah putusan diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir dalam pengucapan putusan. 1. Permohonan Banding diajukan dalam sidang setelah putusan diucapkan dan dicatat dalam Berita Acara Sidang oleh Pengganti yang kemudian melaporkan kepada Muda Pidana, atau--- 2. Pemohon banding mengajukan permohonan banding dihadapan Muda Pidana atau petugas yang ditunjuk, atau ------ 3. Dalam hal terdakwa berada dalam tahanan, permohonan banding diajukan dihadapan kepala RUTAN, yang kemudian mengirimkan kepada Pengadilan Negeri pemutus perkara-------- -- JANGKA WAKTU Sesaat setelah sidang perkara tersebut oleh Pengganti 1 hari kerja KOMPETENSI PELAKSANA Pengganti dan Muda Pidana atau petugas yang ditunjuk. Muda Pidana atau petugas yang ditunjuk. Kepala RUTAN tempat terdakwa ditahan dan Panmud Pidana 4. Terhadap permohonan banding yang 1 hari kerja dan telah memenuhi prosedur yang Muda ditetapkan, Pengadilan Negeri Pidana harus membuat Akta Pernyataan Banding yang ditanda-tangani oleh dan Pemohon Banding-------

5. Setiap permohonan banding yang diajukan dalam hal terdakwa ada dalam tahanan, Ketua Pengadilan Negeri harus melaporkan pada Pengadilan Tinggi tentang permohonan tersebut------ Ketua Pengadilan Negeri dan Muda Pidana. 6. Permohonan Banding tersebut harus diberitahukan kepada termohon banding-- ---- 7. Sebelum berkas perkara dikirim ke Pengadilan Tinggi, pemohon dan termohon banding wajib diberikan kesempatan untuk mempelajari berkas perkara----- 7 hari kerja Jurusita Pidana. Muda 8. Pemohon Banding dapat mencabut permohonannya sepanjang perkaranya belum diputus oleh Pengadilan Tinggi--- Sewaktu waktu Keputusan Ketua R.I. Nomor: 26/KMA/SK/II/2012 tanggal 9 Februari 2012. 9. Dalam hal permohonan banding sudah dicabut, pemohon tidak boleh mengajukan permohonan banding lagi, kecuali masih dalam tenggang waktu masa pengajuan banding------ 10. Dalam hal perkara telah diputus oleh Pengadilan Tk. banding, salinan putusan dikirim kepada Pengadilan Negeri untuk diberitahukan kepada terdakwa dan pemberitahuan putusan penuntut umum, yang untuk itu menunjuk Jurusita membuat Akta Pemberitahuan Isi 4 hari kerja Pidana. Jurusita Muda dan

Putusan. 2. Pelayanan Administrasi Perkara Kasasi Pidana BAB XVII Upaya Hukum Biasa Bagian Kedua Pemeriksaan Untuk Kasasi Pasal 244 s/d Pasal 258 KUHAP. Keputusan Ketua R.I. Nomor: 26/KMA/SK/II/2012 tanggal 9 Februari 2012. - Diajukan oleh pemohon Kasasi (Terdakwa/Penasehat hukumnya atau Penuntut Umum). - Penasehat Hukum harus membawa surat kuasa dari terdakwa. - Permohonan Kasasi diajukan dalam waktu selambat-lambatnya 14 hari sesudah putusan dijatuhkan diberitahukan kepada terdakwa/penuntut Umum. - Pemohon Kasasi wajib mengajukan Memori Kasasi. - Permohonan Kasasi yang melewati tenggang waktu tersebut, tidak dapat diterima. 1. Permohonan Kasasi dapat mengajukan permohonan kasasi melalui Pengadilan Negeri pemutus, sesudah putusan Pengadilan diberitahukannya--- 2. Pemohon kasasi mengajukan permohonan kasasi dihadapan atau petugas yang ditunjuk, yang membuatkan Akta Permohonan kasasi yang ditanda tangani dan Pemohon kasasi------ 3. Dalam hal terdakwa berada dalam tahanan, permohonan banding diajukan dihadapan kepala RUTAN, yang kemudian mengirimkan kepada Pengadilan Negeri pemutus perkara-------- -- Selambatlambatnya 14 hari kerja 1 hari kerja dan Muda Ka. RUTAN dan 4. Setiap permohonan kasasi yang diajukan dalam hal terdakwa ada dalam tahanan, Ketua Pengadilan Negeri harus melaporkan kepada R.I. tentang permohonan tersebut------- Ketua Pengadilan Negeri 5. Pemohon kasasi harus menyerahkan memori kasasi dan tambahan memori kasasi (jika ada) kepada Muda Pidana yang selanjutnya membuat Akta tanda terima memori/tambahan memori kasasi--------- Dalam tenggang waktu 14 hari setelah permohonan kasasi Muda 6. Dalam hal pemohon kasasi adalah 1 hari kerja

terdakwa yang kurang memahami hukum, wajib menanyakan alasan ia mengajukan permohonan kasasi dan untuk itu mencatat alasan tersebut------ 7. memberitahukan tembusan memori kasasi kepada termohon kasasi, dan untuk itu Jurusita membuat Surat Tanda Terima Pemberitahuan tersebut---- - Jurusita dan 8. Termohon kasasi dapat mengajukan Kontra Memori Kasasi, dan untuk itu membuat tanda terima-------- 14 hari kerja 9. Selama perkara kasasi belum diputus oleh R.I., permohonan kasasi dapat dicabut oleh pemohon, dalam hal pencabutan dilakukan oleh Penasehat Hukum Terdakwa, harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari terdakwa, dan panitera membuat Akta pencabutan kasasi yang ditandatangani oleh, pihak yang mencabut dan diketahui oleh Ketua Pengadilan Negeri, dan selanjutnya Akta tersebut dikirim ke R.I.------- Ketua Pengadilan Negeri dan 10. Dalam hal perkara telah diputus, dan salinan putusan kasasi telah diterima oleh Pengadilan Negeri, Pengadilan Negeri wajib memberitahukan salinan putusan kepada terdakwa dan penuntut umum. 7 hari kerja Muda dan Jurusita

3. Pelayanan Administrasi Peninjauan Kembali BAB XVII Upaya Hukum Luar Biasa Bagian Kedua Peninjauan Kembali Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap Pasal 263 s/d Pasal 269 KUHAP. - Diajukan oleh terpidana atau ahli warisnya. - Terhadap putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. - Hanya boleh diajukan 1 kali 1. Diajukan oleh terpidana atau Ahli warisnya dan dapat didampingi oleh Kuasa Hukumnya kepada Muda Pidana dan dibuatkan Akta pernyataan Peninjauan Kembali dan dicatat dalam register, Muda Pidana membuat tanda terima. 2. Apabila pemohon kurang memahami hukum, wajib menanyakan dan mencatat alasan-alasan dalam Akta Pernyataan Peninjauan Kembali serta dicatat dalam buku register. 1 hari kerja 1 hari kerja Pidana Petugas ditunjuk. Muda atau yang dan Muda Keputusan Ketua R.I. Nomor: 26/KMA/SK/II/2012 tanggal 9 Februari 2012. 3. Ketua Pengadilan wajib menunjuk Majelis Hakim yang tidak memeriksa perkara semula, untuk memeriksa dan memberikan pendapat apakah alasan permohonan peninjauan kembali telah sesuai dengan ketentuan Undangundang. 4. Majelis Hakim memeriksa apakah permohonan Peninjauan Kembali tersebut telah memenuhi persyaratan. Dalam pemeriksaan, terpidana atau ahli warisnya dapat didampingi oleh Penasehat Hukum dan Jaksa dapat menyampaikan pendapat. 30 hari kerja dan Ketua Pengadilan Negeri Majelis Hakim dan Pengganti 5. Permohonan dan Berita Acara Pendapat Majelis Hakim dikirimkan ke Mahkamah Agung. 7 hari kerja Pengganti dan Muda

4. Pelayanan Administrasi Grasi UU No. 22 tahun 2002 tentang Grasi UU No. 5 tahun 2010 tentang Perubahan atas UU No. 22 tahun 2002 tentang Grasi Keputusan Ketua R.I. Nomor: 26/KMA/SK/II/2012 tanggal 9 Februari 2012. - Diajukan oleh terpidana atau kuasa hukumnya atau keluarga terpidana dengan persetujuan terpidana. - Dalam hal terpidana mati, dapat oleh keluarga tanpa persetujuan terpidana. - Permohonan Grasi hanya dapat diajukan 1 kali dan diajukan paling lama dalam jangka waktu 1 tahun sejak putusan mempunyai kekuatan hukum tetap. - Putusan yang dapat diajukan permohonan grasi hanya terhadap putusan berupa pidana mati, pidana seumur hidup dan pidana penjara minimal 2 tahun. 1. Permohonan Grasi diajukan secara tertulis kepada Presiden R.I. Pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama. 2. Dalam hal terpidana berada dalam lembaga Lembaga Pemasyarakatan, permohonan grasi dan salinannya dapat disampaikan oleh terpidana melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan tempat terpidana menjalini pidana, dan selanjutnya Kepala Lembaga Pemasyarakatan meneruskan permohonan grasi tersebut kepada Presiden R.I. dan salinannya kepada Pengadilan Negeri pemutus perkara. Sewaktu-waktu 7 hari kerja Kepala Lembaga Pemasyarakatan 3. wajib membuat Akta Penerimaan Salinan Permohonan Grasi atau Akta Penolakan Permohonan Grasi apabila permohonan grasi tidak memenuhi persyaratan. dan Muda 4. Pengadilan Negeri pemutus mengirimkan salinan permohonan grasi dan berkas perkara kepada R.I. 20 hari kerja

STANDAR PELAYANAN KEPANITERAAN TIPIKOR PENGADILAN NEGERI NO. JENIS PELAYANAN DASAR HUKUM PERSYARATAN MEKANISME DAN PROSEDUR JANGKA KOMPETENSI WAKTU PELAKSANA 1. Pelimpahan berkas perkara Melalui Kepaniteraan Muda Pidana 6 hari Kejaksaan / Tipikor ke Pengadilan Tindak KPK Pidana Korupsi Pengadilan Negeri 2. Pemberian tanda terima pelimpahan berkas perkara Tipikor 3. Pemberian nomor perkara Tipikor dan seluruh formulir dan dokumen yang dibutuhkan dalam berkas perkara Tipikor Pasal 26 ayat (3) Korupsi Pasal 26 ayat (3) Korupsi Pasal 26 ayat (3) Korupsi 1. Surat Pelimpahan (P-31) 2. Surat Penunjukan Jaksa (P-16A) 3. Surat Perintah Penahanan (T-7) 4. Surat Perpanjangan Pengadilan 5. Berita Acara Penahanan (BA-10) 6. Berita Acara Penerimaan Tersangka (BA-15) 7. Surat Dakwaan (P-29) 8. Surat Perintah Penahanan 9. Surat Perpanjangan Penahanan (T- 4) 10. Penetapan Penggeledahan 11. Penetapan Penyitaan 12. Barang Bukti Melalui Kepaniteraan Muda Pidana Muda Pidana Melalui Kepaniteraan Muda Pidana Petugas Pendaftaran Perkara Tipikor

4. Pemerikasaan Berkas Perkara Pasal 26 ayat (3) Korupsi 5. Penunjukan Majelis Hakim Pasal 26 ayat (3) Korupsi Jo. Pasal 12 Peraturan R.I. No. 01 Tahun 6. Penunjukan Pengganti Perkara Tipikor 7. Pemberian berkas perkara Tipikor kepada Ketua Majelis yang telah ditunjuk. 2010 Pasal 152 ayat (1) KUHAP (UU No. 8 Tahun 1981) Jo. UU RI No. 2 Tahun 1986, yang telah diubah dengan UU RI No. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum Pasal 26 ayat (3) Korupsi Jo. Pasal Berkas perkara harus sudah diterima Ketua Majelis Hakim paling lama 3 hari setelah penunjukan Majelis Hakim oleh Ketua PN. Melalui Kepaniteraan Muda Pidana 1 hari / Sekretaris 3 hari KPN / WKPN 1 hari / Sekretaris 1 hari Petugas Pendaftaran Perkara Tipikor

8. Proses berkas perkara oleh Ketua Majelis Hakim 12 Peraturan R.I. No. 01 Tahun 2010 Pasal 26 ayat (3) Korupsi Jo. Pasal 12 Peraturan R.I. No. 01 Tahun 2010 9. Mempelajari Perkara Pasal 26 ayat (3) Korupsi Jo. Pasal 12 Peraturan R.I. No. 01 Tahun 2010 10. Penetapan Hari Sidang Pertama Pasal 26 ayat (3) Korupsi Jo. Pasal 12 Peraturan R.I. No. 01 Tahun Ketua Majelis : - Memeriksa berkas dan mempelajari perkara. - Menetapkan sidang pertama, paling lama 7 hari setelah berkas diterima Ketua Majelis Hakim Hakim Anggota : Mempelajari perkara Berkas diterima Pengganti dari Majelis Hakim dan memberikan salinan penetapan hari sidang pertama kepada Jaksa Penuntut Umum untuk menghadirkan terdakwa. 7 hari Ketua Majelis Hakim Hakim Anggota 1 hari Pengganti

2010 11. Pemberitahuan Jadwal Sidang Kepada Terdakwa Pasal 26 ayat (3) Korupsi. 12. Menghadirkan para pihak Pasal 26 ayat (3) Korupsi. Para pihak hadir pada Jadwal yang ditentukan untuk Sidang Pertama Jaksa Penuntut Umum memberitahu jadwal persidangan kepada terdakwa dan menghadirkan terdakwa pada hari persidangan yang telah ditentukan. Jaksa Penuntut Umum Ketua Hakim Majelis