Masalah untuk Konsultasi Tahap 3 Pendahuluan CODE

dokumen-dokumen yang mirip
TINJAUAN DAN PEMBARUAN KEBIJAKAN PENGAMANAN BANK DUNIA RENCANA KONSULTASI

Royal Golden Eagle (RGE) Kerangka Kerja Keberlanjutan Industri Kehutanan, Serat Kayu, Pulp & Kertas

PIAGAM PEMBELIAN BERKELANJUTAN

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012

LAMPIRAN 2 : ITEM ITEM PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PERUSAHAAN

PEDOMAN PERILAKU BAGI MITRA BISNIS

10. KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA

Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017

Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari

Kode Etik Pemasok 1/11

Respon Pemantauan IFC ke. Audit CAO mengenai investasi IFC di

dengan pilihan mereka sendiri dan hak perundingan bersama. 2.2 Pihak perusahaan menerapkan sikap terbuka terhadap aktivitas-aktivitas serikat

Kode Etik C&A untuk Pasokan Barang Dagangan

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER

Kode Etik Bisnis Pemasok Smiths

Kebijakan tentang rantai pasokan yang berkelanjutan

MEKANISME KELUHAN PEKERJA

Administrative Policy Bahasa Indonesian translation from English original

Prinsip Pertanggungjawaban Sosial Daimler

Indorama Ventures Public Company Limited. Kode Etik Pemasok

PEDOMAN PERILAKU PEMASOK CATERPILLAR

R-111 REKOMENDASI DISKRIMINASI (PEKERJAAN DAN JABATAN), 1958

ATAS RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK PT SURYA CITRA MEDIA Tbk

Catatan informasi klien

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DANA INVESTASI IKLIM

2013, No Mengingat Emisi Gas Rumah Kaca Dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan Gambut; : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Rep

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

21 Maret Para Pemangku Kepentingan yang Terhormat,

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20%

2018, No Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu

Kebijakan APRIL Group dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Juni 2015

Standar Audit SA 300. Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan

II. ISI LAPORAN KEBERLANJUTAN Uraian isi Laporan Keberlanjutan sebagaimana dimaksud pada romawi I angka 2 memuat rincian sebagai berikut: A. La

15A. Catatan Sementara NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional

Prinsip-Prinsip Perilaku Korporasi

-2- saling melengkapi dan saling mendukung, sedangkan peran KLHS pada perencanaan perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup bersifat menguatkan. K

Pedoman Pemasok Olam. Dokumen terakhir diperbarui. April Pedoman Pemasok Olam April

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Pedoman Perilaku dan Etika Bisnis

Nilai-Nilai dan Kode Etik Grup Pirelli

NILAI-NILAI DAN KODE ETIK GRUP PIRELLI

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas

PASAL I Nama dan Lokasi. PASAL II Tujuan

Perbaikan Tata Kelola Kehutanan yang Melampaui Karbon

PIAGAM DEWAN KOMISARIS PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam )

1. Mengelola penyampaian bantuan

LAMPIRAN I Cara. Indikator. Kualitas (esensi) Ada/Tidak

Deklarasi Dhaka tentang

Pandangan Indonesia mengenai NAMAs

BAB 1 PENDAHULUAN. pelayanan kepada masyarakat dalam lingkup lokal maupun internasional.

KODE ETIK PT DUTA INTIDAYA, TBK.

Lembar Data Proyek. Pembiayaan. Tanggal Pembuatan PDS. PDS Diperbarui 2 Apr 14. Nama Proyek

KODE ETIK PEMASOK KODE ETIK PEMASOK

Kebijakan Asosiasi. Tanggal Berlaku PfA berlaku secara efektif sejak menerima dukungan dari Stakeholder Advisory Committee (SAC)

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs)

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014

Inisiatif Accountability Framework

Menerapkan Filosofi 4C APRIL di Lahan Gambut

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH

KODE ETIK GLOBAL PERFORMANCE OPTICS

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

Standar Audit SA 250. Pertimbangan atas Peraturan Perundang-Undangan dalam Audit atas Laporan Keuangan

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

MENGHARGAI SESAMA DAN MASYARAKAT PENDEKATAN ANZ TERHADAP HAK ASASI MANUSIA

LAMPIRAN. 1. Lampiran 1 : Rincian Beban Tidak Terikat RSUD Tarakan.

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 73 /POJK.05/2016 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN

PEDOMAN KEBIJAKAN CODE OF CONDUCT PT. BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO)

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.84/MENLHK-SETJEN/KUM.1/11/2016 TENTANG PROGRAM KAMPUNG IKLIM

-2- Instrumen ekonomi penting dikembangkan karena memperkuat sistem yang bersifat mengatur (regulatory). Pendekatan ini menekankan adanya keuntungan e

PT Sarana Multi Infrastruktur Kerangka Kerja Pengelolaan Lingkungan dan Sosial

LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM

Kepastian Pembiayaan dalam keberhasilan implementasi REDD+ di Indonesia

Perempuan dan Sustainable Development Goals (SDGs) Ita Fatia Nadia UN Women

- 1 - LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 7 /SEOJK.03/2016 TENTANG STANDAR PELAKSANAAN FUNGSI AUDIT INTERN BANK PERKREDITAN RAKYAT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS

Indorama Ventures Public Company Limited

Peran Partisipan Proyek dalam JCM. Sekretariat JCM Indonesia

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH

DEKLARASI BANGKOK MENGENAI AKTIVITAS FISIK UNTUK KESEHATAN GLOBAL DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

1. Membangun kemitraan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997

Unilever. Secara Bertanggung Jawab. Kebijakan Penunjukan Pihak Luar. Menjalin kerja sama dengan para pemasok kami

KEBIJAKAN PEDOMAN PERILAKU DAN ETIKA PERUSAHAAN. 2.1 Kejujuran, integritas, dan keadilan

HELP A B C. PRINSIP CRITERIA INDIKATOR Prinsip 1. Kepatuhan hukum dan konsistensi dengan program kehutanan nasional

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

INTEGRITAS KEUNGGULAN KERJA TIM KOMITMEN NILAI DALAM BERTINDAK

Transkripsi:

Masalah untuk Konsultasi Tahap 3 Pendahuluan CODE Pada tanggal 1 Juli 2015, the Komite Keefektifan Pembangunan (Committee on Development Effectiveness/CODE) membahas draf kedua dari Tinjauan dan Pembaruan Kebijakan Perlindungan Bank Dunia - Usulan Kerangka Sosial dan Lingkungan (Draf ke Dua). Komite ini secara luas menyetujui susunan dan banyak bidang dari usulan Kerangka Sosial dan Lingkungan (Environmental and Social Framework/ESF). Namun tampaknya perlu ada diskusi lebih lanjut mengenai berbagai aspek-terutama pernyataan mengenai Visi, beberapa Standar, dan kepekaan/ambisi bahasa. Selain itu, perlu ada kejelasan lebih lanjut mengenai kemampuan penerapan dan kemungkinan dampaknya atas peminjam. Komite ini sepakat bahwa penting untuk menaljutkan upaya yang berpandangan ke depan guna memastikan keseimbangan ESF, menghindari beban pelaksanaan dan biaya yang terlalu besar atas peminjam, memperkuat kemampuan klien, mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif, dan berperan pada kedua tujuan lembaga ini. Komite ini menyetujui bahwa Manajemen harus memulai tahap ke tiga konsultasi mengenai revisi draf ke dua. Fokus konsultasi harus tertuju pada pengumpulan umpan balik dan pada kemampuan penerapan ESF di negaranegara peminjam; dan paket konsultasi harus mencakup daftar masalah yang bersifat indikatif berikut ini, namun tidak lengkap, yang harus ditelusuri lebih jauh selama konsultasi. Komite ini menantikan kelanjutan keterlibatan mengenai ESF. 1

Masalah untuk Konsultasi Tahap 3 Dalam pertemuan tanggal 1 Juli 2015, Committee on Development Effectiveness (CODE) mendukung sesi konsultasi berikutnya mengenai draf ke dua dari Environmental and Social Framework (ESF). Direktur Eksekutif meminta Manajemen Bank Dunia agar membahas sejumlah hal dala konsultasi Tahap 3. Daftar di bawah ini dibuat setelah pertemuan CODE, dan menetapkan hal-hal tertentu di mana Direktur Eksekutif meminta manajemen untuk menyertakan hal-hal tersebut dalam rapat konsultasi yang akan datang, terutama rapat yang akan dilakukan dengan pemerintah. Konsultasi itu akan berfokus pada pengumpulan umpan balik dari negara-negara peminjam dan para pemangku kepentingan lainnya mengenai masalah ini maupun masalah lain mengenai sumber daya dan pelaksanaan ESF. Daftar ini adalah indikasi masalah yang akan dibahas, tapi tidak lengkap. Manajemen akan bekerja sama dengan erat bersama Direktur Eksekutif untuk menyelenggarakan konsultasi-konsultasi tersebut, dan selalu memberi informasi terbaru kepada mereka mengenai kemajuan konsultasi. Setelah konsultasi berakhir, Manajemen akan mempersiapkan laporan mengenai masalah yang diangkat dalam konsultasi untuk ditinjau oleh Direktur Eksekutif. ESF Masalah Hal Visi Hak asasi Manusia Pendekatan terhadap hak asasi manusia dalam ESF ESP/ ESS1 ESS1 Kelompok non diskriminasi dan kelompok rentan Penggunaan Kerangka Sosial dan Lingkungan Milik Peminjam Pendanaan bersama/pendekata n umum Manajemen risiko yang besifat adaptif Klasifikasi risiko Penilaian dan manajemen risiko maupun dampak lingkungan dan Daftar eksplisit berisi kelompok rentan tertentu berdasarkan jenis/nama (usia, jenis kelamin, suku, agama, fisik, mental atau keadaan cacat lainnya, status sosial, status kewarganegaraan atau status kesehatan, orientasi seksual, identitas gender, kemiskinan atau status penduduk asli, dan/atau ketergantungan pada sumber daya alam yang unik) Aspek-aspek tertentu dari prinsip non diskriminasi dalam konteks sosial dan politik yang kompleks, termasuk di mana pengakuan kelompok tertentu tidak sesuai dengan hukum nasional Peranan kerangka Peminjam dalam pengelolaan dan penilaian risiko maupun dampak lingkungan dan sosial (E&S) di mana semua ini akan membuat proyek dapat mencapai tujuan yang secara materi sejalan dengan Standar Lingkungan dan Sosial (Environmental and Social Standards/ESS) Pendekatan untuk membuat keputusan tentang penggunaan kerangka Peminjam, termasuk metodologi untuk menilai di mana kerangka kerja akan membuat proyek mampu mencapai tujuan yang secara materi sejalan dengan ESS, dan pelaksanaan kebijakan Bank Peranan kerangka Peminjam dalam proyek-proyek berisiko tinggi dan berisiko besar Pengaturan tentang standar E&S dalam situasi pendanaan bersama di mana standar rekanan pemberi dana tidak sama dengan standar Bank Pendekatan terhadap pemantauan kepatuhan E&S dan perubahan proyek selama pelaksanaan Pendekatan untuk menentukan dan mengkaji tingkat risiko proyek Penilaian dan sifat dampak kumulatif maupun dampak tidak langsung yang harus diperhitungkan Peerlakukan terhadap dampak kumulatif dan dampak tidak langsung bila diidentifikasi dalam penilaian proyek 2

ESS2 ESS3 ESS5 ESS6 sosial Rencana Komitmen Lingkungan dan Sosial (Environmental and Social Commitment Plan/ESCP) Tenaga kerja dan kondisi kerja Perubahan iklim dan emisi GRK Pembebasan lahan dan pemukiman kembali secara paksa Keanekaragaman hayati 3 Agustus 2015 Menetapkan batasan proyek dan penerapan ESS pada Fasilitas Terkait (Associated Facilities), kontraktor, pemasok utama, sub proyek FI dan sub proyek yang didanai langsung Keadaan di mana Bank akan menentukan apakah Peminjam harus tetap mempekerjakan pihak ke tiga yang independen Prinsip hukum ESCP dan implikasi perubahan ESCP sebagai bagian dari perjanjian hukum Definisi dan kebutuhan serta persyaratan untuk menangani tenaga kerja yang dipekerjakan oleh pihak ke tiga tertentu (broker, agen dan perantara) Dampak penerapan dan pelaksanaan persyaratan tenaga kerja tertentu untuk kontraktor, pekerja dalam masyarakat dan pekerja sukarela serta pemasok utama Kendala dalam menyediakan mekanisme penyampaian keluhan untuk semua pekerja proyek Mengacu pada hukum nasional dengan tujuan mendukung kebebasan berserikat dan perundingan bersama Penerapan mekanisme alternatif yang berkaitan dengan kebebasan berserikat dan berunding bersama bila hukum nasional tidak mengakui hak-hak tersebut Masalah dalam penerapan ketentuan/standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Occupational Health and Safety/OHS) Hubungan antara ketentuan mengenai perubahan iklim dalam ESF dan komitmen perubahan iklim yang lebih luas, khususnya UNFCCC Usulan pendekatan untuk mengukur dan memantau emisi gas rumah kaca (GRK) dalam proyek-proyek Bank dan implikasi daripadanya, sejalan dengan standar yang diusulkan, termasuk menentukan ruang lingkup, batasan, durasi, frekuensi dan kelayakan ekonomi maupun kelayakan keuangan dari perkiraan dan pemantauan tersebut Implikasi yang diharuskan agar Peminjam memperkirakan dan mengurangi emisi GRK untuk proyek-proyek Bank, sesuai dengan standar yang diusulkan Perlakuan dan hak-hak penghuni tidak resmi dan pendekatan terhadap penggusuran paksa dalam situasi yang tidak terkait dengan pembebasan lahan Penafsiran konsep pemukiman kembali sebagai "kesempatan pembangunan" dalam situasi proyek yang berbeda Penerapan ketentuan mengenai pemasok utama dan layanan ekosistem, terutama dalam situasi dengan kapasitas rendah Peranan hukum nasional yang berkaitan dengan melindungi dan melestarikan habitat alam dan habitat kritis Kriteria untuk penyeimbangan keanekaragaman hayati, termasuk pertimbangan manfaat proyek 3

Definisi dan penerapan keuntungan bersih untuk keanekaragaman hayati ESS7 Penduduk Asli Penerapan Standar Penduduk Aslidalam konteks politik dan budaya yang kompleks Pelaksanaan ESS7 di negara-negara di mana konstitusi tidak mengakui Penduduk Asli atau hanya mengakui kelompok tertentu sebagai penduduk asli Kemungkinan pendekatan untuk mencerminkan istilah alternatif yang digunakan di berbagai negara dalam menggambarkan Pendudukan Asli Keadaan (misalnya kriteria dan waktu) di mana pengabaian dapat dipertimbangkan dan informasi harus disampaikan kepada Dewan untuk menginformasikan keputusannya Kriteria untuk menetapkan dan pelaksanaan Izin Sebelumnya yang Bebas dan Berdasarkan Informasi (Free, Prior and Informed Consent/FPIC) Perbandingan antara usulan FPIC dan persyaratan yang ada mengenai konsultasi Penerapan FPIC pada dampak terhadap warisan budaya Penduduk Asli ESS8 Warisan Budaya Perlakuan terhadap warisan budaya tak berwujud Penerapan warisan budaya tak berwujud bila suatu proyek bermaksud mengkomersialkan warisan tersebut Penerapan persyaratan warisan budaya bila warisan budaya belum dilindungi secara hukum atau yang sebelumnya telah diidentifikasi atau terganggu ESS9 ESS10 Lembaga Perantara keuangan Keterlibatan pemangku kepentingan Penerapan standar bagi sub proyek FI dan implikasi sumber dayanya, tergantung pada risiko yang ada Harmonisasi pendekatan dengan IFC dan Equator Bank Definisi dan identifikasi pemangku kepentingan proyek dan sifat keterlibatannya Peran negara-negara peminjam atau badan pelaksana dalam mengidentifikasi pemangku kepentingan proyek Umum EHSG dan GIIP Penerapan Pedoman Lingkungan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Environmental, Health and Safety Guidelines/EHSG) dan Praktik Industri Internasional yang Baik (Good International Industry Practice/GIIP), terutama bila berbeda dengan hukum nasional atau bila mana Peminjam memiliki kendala teknis atau keuangan dan/atau mengingat keadaan tertentu suatu proyek Kelayakan dan sumber daya untuk pelaksanaan Pengembangan kemampuan klien dan dukungan pelaksanaan Pelaksanaan dan implikasi sumber daya untuk Peminjam, dengan memperhitungkan faktor-faktor seperti lingkup yang lebih luas mengenai usukan ESF (misalnya, standar tenaga kerja), kemampuan Peminjam yang berbeda dan pendekatan manajemen adaptif Pengurangan beban dan biaya ekstra serta berbagai pilihan untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan selagi menjaga efektivitas Pendanaan untuk pengembangan kemampuan klien Pendekatan dan bidang-bidang fokus Pendekatan terhadap pelaksanaan ESF dalam situasi yang memiliki keterbatasan kemampuan, misalnya FCS, negara-negara bagian yang kecil, dan situasi darurat 4

Penyingkapan Pelaksanaan ESF Waktu persiapan dan penyingkapan dokumen penilaian dampak lingkungan dan sosial tertentu (berkaitan dengan ESS1 dan ESS10) Pengembangan kemampuan internal Bank, penyediaan sumber daya, dan perubahan perilaku agar berhasil melaksanakan ESF Cara-cara mencapai saling pengertian antara Peminjam dan Bank mengenai masalah yang sulit ditafsirkan 5