BAB 5 KORELASI DAN REGRESI

dokumen-dokumen yang mirip
KORELASI. Alat hitung koefisien korelasi Pearson (data kuantitatif dan berskala rasio) Kendall, Spearman (data kualitatif dan berskala ordinal)

KORELASI DAN ASOSIASI

SPSS Psikologi. Bulek_niyaFn

KORELASI DAN REGRESI. dr. Hadi Sarosa, M.Kes Bagian Fisiologi F.K Unissula Semarang

Contact : Blog : suyatno.blog.undip.ac.id

SAMI AN SPSS KORELASI

BAB 4 ANALISIS KORELASI DAN REGRESI

HIPOTESIS ASOSIATIF KORELASI PRODUCT MOMENT -YQ-

19/04/2013. Deskriptif. Statistik. Parametris. Inferensial. Non Parametris. Gambar : Macam-macam statistik (Sugiyono, 2003)

MODUL 4 ANALISIS KORELASI DAN REGRESI

BAB I PENDAHULUAN 1. Definisi 1.1 Analisis Regresi Linier Sederhana Analisis regresi linier sederhana adalah hubungan secara linear antara satu

Analisis Regresi 2. Pokok Bahasan : Memilih Persamaan Regresi Terbaik

Kata Pengantar...v Daftar Isi... vii

BAB 2 LANDASAN TEORI. bermacam-macam istilah: variabel penjelas, variabel eksplanatorik, variabel

CARA PENGUJIAN HIPOTESIS PENELITIAN KORELASI

TEKNIK ANALISIS POPULER DALAM SKRIPSI. (Korelasi Parsial)

DAFTAR ISI. i ii iii iv v vi

Wahyu Setyawan. Pendahuluan. Lisensi Dokumen: Abstrak.

ANALISA BIVARIAT: KORELASI DAN REGRESI. Metode Riset Bisnis

STATISTIKA 2 IT

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Sebelum dilakukan penelitian, langkah awal yang harus dilakukan oleh

Resume Regresi Linear dan Korelasi

ANALISIS DATA DAN INTERPRETASI

TEKNIK ANALISIS KORELASI. Pertemuan 9. Teknik Analisis Korelasi_M. Jainuri, M.Pd 1

UJI VALIDITAS KUISIONER

Uji Asosiasi (Hubungan)

Korelasi dan Regresi Sederhana. Srava Chrisdes Antoro, M.Si.

BUKU KERJA PRAKTIKA KOMPUTER UNTUK RISET PASAR DAN PENJUALAN Semester Ganjil 2015/2016

II. APLIKASI SPSS. Analisa Regresi dan Korelasi dengan SPSS (Statistical Program for Social Science)

Mengolah Data Bidang Industri

sementara terhadap rumusan masalah penelitian sebagai berikut : 1. Motivasi Berpengaruh Positif dan Signifikan Terhadap Produktivitas Kerja

APLIKASI KOMPUTER LANJUT ANALISIS KORELASI KENDALL DAN SPEARMAN

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Regresi pertama kali digunakan sebagi konsep statistika pada tahun 1877 oleh sir Francis Galton.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif verifikatif. Menurut Sugiyono

Spesifikasi: Ukuran: 14x21 cm Tebal: 279 hlm Harga: Rp Terbit pertama: November 2004 Sinopsis singkat:

BAB III METODE PENELITIAN. Pada riset sumber daya manusia (SDM), yang dikemukakan oleh Oei (2010: 26)

BAB III METODE PENELITIAN. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, maka penelitian ini

KORELASI DAN REGRESI LINIER SEDERHANA

SESI 13 STATISTIK BISNIS

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan tingkat eksplanasi, adalah tingkat

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini pokok bahasan atau variabel independen yang diteliti

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 8 Bandar Lampung pada semester

METODE PENELITIAN. SMA Persada Bandar Lampung pada semester ganjil Tahun Ajaran 2012/2013

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORI. : Ukuran sampel telah memenuhi syarat. : Ukuran sampel belum memenuhi syarat

Regresi Linier Berganda dan Korelasi Parsial

Contoh Kasus Regresi sederhana

BAB III. Statistik Non Parametrik. Koefisien Kontingensi. Korelasi Rank Spearman Korelasi Kendal Tau (τ)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 OBJEK DAN DESAIN PENELITIAN. Secara umum pengertian objek penelitian yaitu inti permasalahan yang dijadikan

REGRESI LINIER BERGANDA

horizon penelitian ini yaitu cross sectional, di mana informasi yang didapat hanya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

DAFTAR ISI ABSTRAK... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Sebelum dilakukan penelitian, langkah awal yang harus dilakukan oleh

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Metode deskriptif kualitatif adalah

Oleh: Ali Muhson. Tujuan Analisis Data

BAB IX SQUARES (OLS) DENGAN SPSS

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian agar dapat terselesaikan secara terarah sesuai dengan permasalahan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Untuk menguji apakah alat ukur (instrument) yang digunakan memenuhi

: Siti Hajar Amalia Putri Npm : Jurusan : Manajemen Pembimbing : Sulastri, SE., MM

K O R E L A S I. Referensi :

BAB 3. Metode Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai gambaran umum subjek, hasil

BAB III METODE PENELITIAN. Salah satu komponen dari penelitian adalah menggunakan metode yang

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB IV HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN

TEORI ANALISIS KORELASI

ANALISIS REGRESI. Stat/Reg/Sam 04

Sumber: Husein Umar (2004), Metode Riset Ilmu Administrasi, Pt Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Ali Rokhman

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Pengertian Korelasi

ANALISIS DATA KUANTITATIF

APLIKASI REGRESI SEDERHANA DENGAN SPSS. HENDRY admin teorionline.net Phone : / klik.statistik@gmail.com

Statistik Parametrik

III. METODE PENELITIAN. metode penelitian yang menggambarkan dua variabel yang diteliti, yaitu variabel

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pada dasarnya metode berarti cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Definisi metode menurut Sugiyono (2008:2) yaitu:

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMA N 1

Oleh: Endang Mulyatiningsih

Materi KBK sem 7 Prinsip data Prinsip statistik dalam penelitian Statistik deskriptif Statistik inferensial

BAB IV HASIL PENELITIAN. A. Penyajian Statistik Deskripsi Hasil Penelitian. kecenderungan jawaban responden dari tiap-tiap variabel, baik mengenai

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. populasi, sampel, variabel penelitian, definisi operasional variabel, teknik

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS

PENGARUH PROMOSI JABATAN DAN SELEKSI PENERIMAAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT PGASCOM PALEMBANG

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 3 PENGOLAHAN DATA

BAB III Riset Pemasaran

Transkripsi:

BAB 5 KORELASI DAN REGRESI Dalam bab ini akan dibahas Korelasi atau asosiasi (hubungan antara variabelvariabel) yang diminati. Di sini akan disoroti dua aspek untuk analisis korelasi, yaitu apakah data sampel yang ada menyediakan bukti cukup bahwa ada kaitan antara variabel-variabel dalam populasi asal sampel. Dan yang kedua, jika ada hubungan, seberapa kuat hubungan antar variabel tersebut. Keeratan hubungan itu dinyatakan dengan nama koefisien korelasi (atau dapat disebut korelasi saja). Dalam SPSS, pembahasan tentang korelasi ditempatkan pada menu CORRELATE, yang mempunyai submenu: 1. BIVARIATE Pembahasan mengenai besar hubungan antara dua (bi) variabel. a. Koefisien korelasi bivariate/product moment Pearson Mengukur keeratan hubungan di antara hasil-hasil pengamatan dari populasi yang mempunyai dua varian (bivariate). Perhitungan ini mensyaratkan bahwa populasi asal sampel mempunyai dua varian dan berdistribusi normal. Korelasi Pearson banyak digunakan untuk mengukur korelasi data interval atau rasio. b. Korelasi peringkat Spearman (Rank-Spearman) dan Kendall Lebih mengukur keeratan hubungan antara peringkat-peringkat dibandingkan hasil pengamatan itu sendiri (seperti pada korelasi Pearson). Perhitungan korelasi ini dapat digunakan untuk menghitung koefisien korelasi pada data ordinal dan penggunaan asosiasi pada statistik non parametrik. PARTIAL Pembahasan mengenai hubungan linier antara dua variabel dengan melakukan kontrol terhadap satu atau lebih variabel tambahan (disebut variabel kontrol).

5.1. KORELASI BIVARIATE Ingin diketahui apakah ada korelasi (hubungan) di antara variabel-variabel berikut: jumlah pelanggaran lalu lintas, jumlah kendaraan roda empat (mobil), kendaraan roda dua (sepeda motor), jumlah polisi serta jumlah penduduk. Untuk itu diambil data mengenai variabel-variabel di atas pada sejumlah daerah pada waktu tertentu dengan hasil sebagai berikut. Daerah Tilang Mobil Motor Polisi 1 17 249 592 92 2 18 257 589 62 3 15 267 699 69 4 26 250 630 65 5 24 127 717 63 6 25 * 695 49 7 19 126 685 47 8 * 257 692 46 9 13 * 634 37 10 14 125 682 29 11 10 159 700 27 12 12 162 530 69 Perhatikan ada beberapa data yang diberi tanda *. Hal ini menunjukkan data tersebut missing atau tidak diketahui/tersedia. 5.2 UJI KORELASI SPEARMAN DAN KENDALL Jika uji korelasi bivariat Pearson yang telah dibahas di depan digunakan untuk mengetahui korelasi untuk data kuantitatif (skala interval atau rasio) maka korelasi

rank Spearman dan Kendall dapat digunakan untuk pengukuran korelasi pada statistik non parametrik (data dapat original). Seorang Manajer Personalia ingin mengetahui apakah ada hubungan antara Prestasi Kerja seorang dengan tingkat kecerdasan(diukur dengan IQ) dan Motivasi Kerja pekerja yang bersangkutan. Untuk ini, diambil 13 orang Pekerja dan seorang supervisor diminta memberi penilaian pada setiap pekerja tersebut tentang Prestasi Kerja dan Motivasi kerjanya. Berikut adalah hasilnya. Pekerja Prestasi IQ Motivasi 1 86 112 87 2 87 102 84 3 89 92 86 4 94 112 93 5 93 102 85 6 98 112 90 7 85 97 84 8 89 92 88 9 90 102 86 10 94 112 87 11 91 102 91 12 87 92 83 13 88 94 85 Prestasi Kerja dan Motivasi Kerja dinilai dalam range 0 (jelek sekali) sampai 100 (baik sekali). Sedang IQ didapat dari test kecerdasan saat pekerja melamar ke perusahaan. 5.3 KORELASI PARSIAL (PARTIAL CORRELATION)

Pembahasan korelasi parsial berhubungan dengan perlunya mempertimbangkan pengaruh atau efek dari variabel lain dalam menghitung korelasi antara dua variabel. Oleh karena itu, dapat dikatakan korelasi parsial mengukur korelasi antar dua variabel dengan mengeluarkan pengaruh dari satu atau beberapa variabel (disebut variabel kontrol). Sebagai contoh akan diulang kasus pada pembahasan korelasi Spearman dan Kendall, yaitu antara prestasi kerja, motivasi kerja dan tingkat IQ seorang pekerja sebagai berikut: Pekerja Prestasi IQ Motivasi 1 86 112 87 2 87 102 84 3 89 92 86 4 94 112 93 5 93 102 85 6 98 112 90 7 85 97 84 8 89 92 88 9 90 102 86 10 94 112 87 11 91 102 91 12 87 92 83 13 88 94 85 Akan dihitung korelasi parsial antara variabel prestasi dengan motivasi, dengan varaibel kontrol adalah IQ. 5.4 REGRESI SEDERHANA

Analisis regresi digunakan untuk tujuan peramalan, dimana dalam model tersebut ada sebuah variabel dependen (tergantung) dan variabel independen (bebas). Sebagai contoh ada tiga variabel, yaitu Penjualan, Biaya Promosi Penjualan dan Biaya Iklan. Dalam praktek, akan dibahas bagaimana bagaimana hubungan antara Biaya Promosi Penjualan dan Biaya Iklan terhadap Penjualan. Di sini berarti ada variabel dependen yaitu Penjualan, sedangkan variabel independennya adalah Biaya Promosi Penjualan dan Biaya Iklan. Metode Korelasi akan membahas keeratan hubungan, dalam hal ini keeratan hubungan antara Biaya Promosi Penjualan dan Biaya Iklan terhadap Penjualan. Sedang metode Regresi akan membahas prediksi (peramalan), dalam hal ini apakah Penjualan di masa mendatang dapat diramalkan jika Biaya Promosi Penjualan dan Biaya Iklan diketahui. Regresi sederhana jika hanya ada satu variabel independen. PT STEAK dalam beberapa bulan gencar mempromosikan masakan steak dengan membuka outlet-outlet di berbagai daerah. Berikut adalah data mengenai Penjualan dan Biaya promosi yang dikeluarkan di 17 daerah di Indonesia Daerah Penjualan Yogyakarta 240 26 Jakarta 232 35 Bogor 205 33 Tangerang 207 31 Bekasi 200 21 Bandung 254 42 Semarang 214 29 Solo 208 20 Surabaya 206 27 Lampung 239 35 Medan 218 37 Promosi

Ujungpandang 213 38 Bali 265 40 Malang 315 28 Balikpapan 271 26 Palembang 245 28 Jambi 235 30 Akan dilakukan analisis regresi untuk mengetahui hubungan di antara variabel Penjualan dengan Biaya Promosi. 5.5 REGRESI BERGANDA Jika pada regresi sederhana hanya ada satu variabel dependen (Y) dan satu variabel independen (X), maka pada kasus regresi berganda, terdapat satu variabel dependen dan lebih dari satu variabel independen. Dalam praktek bisnis, regresi berganda justru lebih banyak digunakan, selain karena banyaknya variabel dalam bisnis yang perlu dianalisis bersama, juga pada banyak kasus regresi berganda lebih relevan digunakan. Dalam banyak kasus yang menggunakan regresi berganda, pada umumnya jumlah variabel dependen berkisar dua sampai empat variabel. Walaupun secara teoritis dapat digunakan banyak variabel bebas, namun penggunaan lebih dari tujuh variabel independen dianggap akan tidak efektif. Sama seperti pada pembahasan regresi sederhana, pembahasan regresi berganda dengan SPSS dapat dilakukan dengan menu REGRESSION. Pembahasan akan memuat dua contoh, pertama adalah dengan dua variabel bebas, dan kemudian dengan banyak variabel bebas. Sedangkan kasus yang ditampilkan tetap sama, yaitu PT STEAK, hanya di sini dilakukan penambahan variabel dan pemasukan input data yang baru.

1. UJI REGRESI BERGANDA DENGAN DUA VARIABEL INDEPENDEN PT STEAK dalam beberapa bulan gencar mempromosikan masakan steak dengan membuka outlet-outlet di berbagai daerah. Berikut adalah data mengenai Penjualan, Biaya promosi dan Luas Outlet yang dikeluarkan di 17 daerah di Indonesia Daerah Penjualan Promosi Outlet (m 2 ) Yogyakarta 240 26 161 Jakarta 232 35 166 Bogor 205 33 200 Tangerang 207 31 186 Bekasi 200 21 154 Bandung 254 42 210 Semarang 214 29 190 Solo 208 20 158 Surabaya 206 27 153 Lampung 239 35 178 Medan 218 37 201 Ujungpandang 213 38 204 Bali 265 40 250 Malang 315 28 169 Balikpapan 271 26 290 Palembang 245 28 275 Jambi 235 30 159 Akan dilakukan analisis regresi untuk mengetahui hubungan diantara variabel Penjualan dengan Biaya Promosi dan Luas Outlet. 2. UJI REGRESI BERGANDA DENGAN BANYAK VARIABEL BEBAS

Pada bagian ini akan ditampilkan uji regresi ganda dengan banyak variabel bebas. Untuk itu, tetap dipakai kasus terdahulu (regresi ganda denan empat variabel), hanya di sini akan ditambah 3 variabel lagi, hingga semua berjumlah tujuh variabel. SPSS menyediakan berbagai metode perhitungan regresi ganda dengan banyak variabel, seperi Backward Elimination, Forward Elimination dan Stepwise Method. Dalam kasus akan dibahas penggunaan ketiga kasus tersebut. PT STEAK dalam beberapa bulan gencar mempromosikan masakan steak dengan membuka outlet-outlet di berbagai daerah. Berikut adalah data mengenai Penjualan dan Biaya promosi yang dikeluarkan di 17 daerah di Indonesia Daerah Penjualan Promosi Outlet (m 2 ) Yogyakarta 240 26 161 Jakarta 232 35 166 Bogor 205 33 200 Tangerang 207 31 186 Bekasi 200 21 154 Bandung 254 42 210 Semarang 214 29 190 Solo 208 20 158 Surabaya 206 27 153 Lampung 239 35 178 Medan 218 37 201 Ujungpandang 213 38 204 Bali 265 40 250 Malang 315 28 169 Balikpapan 271 26 290 Palembang 245 28 275 Jambi 235 30 159

Sedangkan tambahan ketiga variabel yang baru adalah: a. Laju penduduk suatu Daerah dengan % tiap tahun. b. Jumlah Kompetitor (pesaing), dengan satuan Kompetitor. c. Pendapatan rata-rata penduduk suatu daerah, dengan satuan Juta Rupiah per tahun. Laju_pen Pesaing Income 2.00 17 5.48 1.50 18 2.47 1.70 21 2.59 1.67 19 3.57 2.68 15 4.37 2.65 27 3.67 1.47 19 3.47 1.72 13 2.57 2.75 17 4.77 1.40 17 4.79 2.15 15 2.53 2.75 22 2.75 1.67 24 2.53 2.56 25 2.51 2.57 19 2.81 1.57 18 2.81 1.53 23 2.31