BAB VI POLIS ASURANSI

dokumen-dokumen yang mirip
HUKUM ASURANSI. Lecture: Andri B Santosa

Premi Asuransi BAB V PREMI ASURANSI

PERUSAHAAN ASURANSI ATA 2014/2015 M6/IT /NICKY/

Kontrak Asuransi DOKUMENTASI ASURANSI FUNGSI PROPOSAL FORM :

Dokumen Perjanjian Asuransi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perjanjian adalah peristiwa seseorang berjanji kepada seorang lain atau dua orang

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ASURANSI. Asuransi atau dalam bahasa Belanda Verzekering yang berarti

Istilah dan Pengertian Asuransi ASURANSI. 02-Dec-17

ABSTRACT Keywords: the key points of the insurance, insurance law Kata kunci : poin-poin penting dalam asuransi, hukum asuransi A.

BAB II PERJANJIAN ASURANSI DAN BENTUK-BENTUK PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERJANJIAN ASURANSI

ASURANSI. Prepared by Ari Raharjo

BAB IV RISIKO DALAM ASURANSI

MAKALAH HUKUM KOMERSIAL HUKUM ASURANSI. Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Komersial Dosen Pembimbing : Disusun oleh : Kelompok 8

I. PENDAHULUAN. Bahaya kebakaran pada kehidupan manusia banyak yang mengancam. keselamatan harta kekayaan, jiwa, dan raga manusia.

PENGENALAN ASURANSI. Sistem Informasi Asuransi dan Keuangan

ASURANSI. Created by Lizza Suzanti 1

SISTEM INFORMASI ASURANSI. Materi 1 PENGENALAN ASURANSI

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. Dalam Kajian Pustaka ini akan dijelaskan mengenai pengertian-pengertian

Manfaat Dan Mekanisme Penyelesaian Klaim Asuransi Prudential. Ratna Syamsiar. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. kerusakan, kehilangan atau resiko lainnya. Oleh karena itu setiap resiko yang

SISTEM INFORMASI ASURANSI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB III TANGGUNG JAWAB PENANGGUNG DAN TERTANGGUNG DALAM PERJANJIAN ASURANSI APABILA ADA PENGAJUAN KLAIM

6. RENEWAL AND CANCELLATION

Istilah dan Pengertian Asuransi ASURANSI. Hubungan antara Risiko dengan Asuransi 11/8/2014

BAB I PENGENALAN ASURANSI

KONSORSIUM ASURANSI PENYINGKIRAN KERANGKA KAPAL

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ASURANSI

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Asuransi dan Pengaturan Asuransi. sehingga kerugian itu tidak akan pernah terjadi.

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ASAS SUBROGASI DAN PERJANJIANASURANSI

II. TINJAUAN PUSTAKA. dua belah pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perjanjian merupakan sumber terpenting yang melahirkan perikatan, perikatan

SOAL JAWAB 110 : HUKUM DAN ASURANSI 26 SEPTEMBER 2000

BAB I PENDAHULUAN. ditentukan oleh manusia. Salah satu cara untuk mengurangi risiko tersebut di

SOSIALIASI ASURANSI Dalam Rangka Penggunaan Transaksi Non Tunai Dalam Asuransi TKI. Jakarta, Februari 2015


TINJAUAN PUSTAKA. Istilah asuransi berasal dari bahasa Belanda Verzekering atau Assurantie. Oleh

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Asuransi Pengertian Asuransi

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan bangsa dan mewujudkan pembangunan nasional.dalam poladasar

νµθωερτψυιοπασδφγηϕκλζξχϖβνµθωερτ ψυιοπασδφγηϕκλζξχϖβνµθωερτψυιοπα σδφγηϕκλζξχϖβνµθωερτψυιοπασδφγηϕκ χϖβνµθωερτψυιοπασδφγηϕκλζξχϖβνµθ

I. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam KUHD asuransi jiwa diatur dalam Buku 1 Bab X pasal pasal 308

BAB II LANDASAN TEORI

KONTRAK ASURANSI KESEHATAN Ade Heryana, SSt, MKM Dosen Prodi Kesmas Universitas Esa Unggul

PERANAN POLIS ASURANSI JIWA DALAM PENUNTUTAN KLAIM (STUDI PADA PT. PRUDENTIAL LIFE ASSURANCE DENPASAR)

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN ASURANSI ATAS PEMBATALAN PERJANJIAN BAKU PADA POLIS ASURANSI JIWA di KOTA DENPASAR

BAB II RUANG LINGKUP HUKUM ASURANSI Oleh : SURAJIMAN

Asuransi Jiwa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pandang yang berbeda-beda. Definisi definisi tersebut antara lain : dapat terjadi dengan cara membayar premi asuransi.

DASAR & HUKUM ASURANSI KESEHATAN BAB 4

BAB I PENDAHULUAN. menempatkan dirinya dalam perkembangan yang sangat pesat, seiring dengan

SYARAT-SYARAT UMUM POLIS ASURANSI JIWA Pasal 1 ARTI BEBERAPA ISTILAH

BAB II TINJAUAN UMUM PERJANJIAN ASURANSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Verzekering (bahasa Belanda) berarti pertanggungan dalam suatu asuransi

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

WANPRESTASI DALAM PEMBAYARAN PREMI ASURANSI DIHUBUNGKAN DENGAN TANGGUNG JAWAB PENANGGUNG ASURANSI JIWA

KONSORSIUM ASURANSI PENYINGKIRAN KERANGKA KAPAL TERMASUK TANGGUNG JAWAB POLUSI

BAB I PENDAHULUAN. asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Dimana sebagian besar masyarakat

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ASURANSI JIWA DAN KLAIM ASURANSI JIWA

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ASURANSI, POLIS ASURANSI DAN INVESTASI. asuransi tradisional misalnya term life (asuransi jiwa berjangka); whole life

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Penggunaan Asuransi Pembiayaan Pada Bank Syariah Mandiri Pasar

CONTOH MODEL BAHAN AJAR ASURANSI SMK KELAS / SEMESTER : XI / 1 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PUSAT KURIKULUM

BAB I PENDAHULUAN. perhatian yang serius ialah lembaga jaminan. Karena perkembangan ekonomi akan

DASAR-DASAR ASURANSI. Inhouse Training Jakarta, 10 November 2015

STIE DEWANTARA Manajemen Asuransi, Pegadaian & Anjak Piutang

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB III PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TERTANGGUNG ASURANSI MIKRO KETIKA TERJADI PERISTIWA TIDAK PASTI

Mengenal Hukum Asuransi di Indonesia. Oleh: Mustari Soleman Masiswa Fakultas Hukum Univ.Nasional

PEMBEBASAN KEWAJIBAN PENANGGUNG ASURANSI MEMBAYAR GANTI RUGI, DISEBABKAN OLEH KELALAIAN TERTANGGUNG*

KONSORSIUM ASURANSI PENYINGKIRAN KERANGKA KAPAL

BAB I PENDAHULUAN. kehidupannya selalu dipenuhi dengan risiko. Risiko adalah kemungkinan

PELAKSANAAN ASURANSI TERHADAP DEBITUR SECARA TANGGUNG RENTENG DIHUBUNGKAN DENGAN PASAL 1278 KUH PERDATA

BAB I PENDAHULUAN. adalah, kendaraan bermotor roda empat (mobil). kendaraan roda empat saat ini

TINJAUAN PUSTAKA. Istilah asuransi adalah serapan dari istilah bahasa Belanda assurantie, dalam

Prinsip Dasar Informasi Asuransi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Definisi Perjanjian berdasarkan Pasal 1313 BW adalah suatu perbuatan dengan

BAB II PEMBAHASAN ASURANSI JIWA SECARA UMUM. sangat singkat sekali dan hanya terdiri dari tujuh (7) pasal yaitu Pasal 302 sampai

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 62. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan pedoman atau petunjuk

BAB II LANDASAN TEORI. dengan sudut pandang yang mereka gunakan dalam asuransi. Adapun definisi

PENERAPAN GANTI RUGI PADA ASURANSI MOBIL YANG DISEBABKAN OLEH KECELAKAAN DAN PENCURIAN (STUDI KASUS DI PT. ADIRA DINAMIKA SEMARANG)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH ASURANSI DAN MANAJEMEN RISIKO 2 (FAK EKONOMI - D3 MANAJEMEN KEUANGAN) KODE / SKS

BAB II TINJAUAN MENGENAI PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERTANGGUNG DAN SYARAT-SYARAT PERJANJIAN ASURANSI BERDASARKAN KUHD

BAB X ASURANSI A. DEFINISI ASURANSI

BAB III PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK. Pelaksanaan fungsi dan tujuan PT. Jasaraharja Putera sebagai salah satu

BAB IV PENYELESAIAN WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN SEWA BELI KENDARAAN BERMOTOR. A. Pelaksanaan Perjanjian Sewa Beli Kendaraan Bermotor

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Tinjauan Umum Tentang Asuransi

BAB I PENDAHULUAN. garis khatulistiwa, oleh karenanya angkutan laut sangat dibutuhkan untuk

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Asuransi dalam bahasa Belanda di sebut verzekering yang berarti pertanggungan

Oleh : Ni Putu Eni Sulistyawati I Ketut Sudantra. Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRACT

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI ASURANSI DAN PERATURANNYA. A. Pengertian, Jenis, dan Aspek Hukum Perjanjian Asuransi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menjadi informasi keuangan. Proses akuntansi meliputi kegiatan mengidentifikasi,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembangunan nasional adalah upaya untuk meningkatkan seluruh aspek

NASKAH PUBLIKASI SKRIPSI PELAKSANAAN PERJANJIAN ASURANSI KESEHATAN PADA PT. ASURANSI BUMIPUTERA MUDA SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. hal yang dilakukan baik menggunakan sarana pengangkutan laut maupun melalui

KONTRIBUSI. 3. Timbulnya kontribusi

Transkripsi:

BAB VI POLIS ASURANSI A. Pengertian Polis Untuk setiap perjanjian perlu dibuat bukti tertulis atau surat perjanjian antara pihak yang mengadakan perjanjian. Bukti tertulis untuk perjanjian asuransi disebut: POLIS Syaratnya: 1. Dibuat dengan itikad baik dari kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian. 2. Dituliskan/disebutkan dengan tegas dan jelas mengenai hal yang diperjanjikan oleh kedua belah pihak, hak masing-masing pihak, sangsi atas pelanggaran perjanjian, dan sebagainya. 3. Redaksinya harus disusun sedemikian rupa sehingga dengan mudah dapat ditangkap maksud dari perjanjian itu, juga tidak memberi peluang untuk menyalahtafsirkannya. Pengertian Otentik Pertanggungan harus diadakan secara tertulis dengan akta yang dinamakan: polis (pasal 255 KUHD). Pembuatan persetujuan mewajibkan penanggung untuk menandatangani polis dan menyerahkannya kepada tertanggung dalam jangka waktu tertentu (pasal 257 KUHD). Menurut pasal 257 KUHD, hanya penanggung yang menandatangani polis, berarti semacam perjanjian unilateral, tetapi mengikat kedua belah pihak yang berkepentingan atas polis tersebut (penanggung dan tertanggung). Pasal 255 KUHD mengatur tentang kontrak asuransi yang umumnya disingkat DICE, merupakan akronim dari : D = Declaration I = Insurance C = Condition E = Exclution Sistem Informasi Asuransi & Keuangan - RDK 47

B. Perjanjian Asuransi Saat Terjadinya Perjanjian Asuransi 1. Asuransi bersifat konsensus-perjanjian harus dibuat tertulis dalam suatu akta yang disebut Polis (Psl 255 ayat (1) jo 258 (1) KUHD) 2. Pembuktian adanya kata sepakat polis belum ada pembuktian dilakukan denga segala catatan, nota, surat perhitungan, telegram 3. Pembuktian janji dan syarat khusus harus tertulis dalam polis, jika janji/syarat khusus tidak tercantum dalam polis maka janji tersebut dianggap tidak ada (batal). Polis sebagai Bukti Tertulis Isi Polis (kecuali asuransi jiwa)/psl 256 KUHD: 1. Hari pembuatan perjanjian asuransi 2. Nama tertanggung, untuk diri sendiri atau untuk orang ketiga. 3. Uraian yang jelas mengenai benda obyek asuransi 4. Jumlah yang dipertanggungkan. 5. Bahaya yang ditanggung oleh penanggung. 6. Saat bahaya mulai berjalan & berakhir yang menjadi tanggungan penanggung. 7. Premi asuransi 8. Umumnya semua keadaan yang perlu diketahui oleh penanggung & segala syarat yang diperjanjikan antara berbagai pihak Dalam polis juga harus dicantumkan isi polis dari berbagai asuransi yang diadakan lebih dahulu (sebelumnya), dengan ancaman batal jika tidak dicantumkan (Psl 271, 272, 280, 603, 606, 615 KUHD). C. Penyerahan Polis Penanggung harus menyerahkan polis kepada tertanggung dalam jangka waktu sbb: 1. Bila perjanjian dibuat seketika dan langsung antara penanggung dan tertanggung atau yang dikuasakan tertanggung, maka polis yang telah ditandatangani oleh penanggung harus diserahkannya kepada tertanggung ddalam tempo 24 jam (pasal 259 KUHD). 2. Jika pertanggungan dilakukan melalui makelar asuransi (broker), maka polis yang telah ditandatangani oleh penanggung harus diserahkan kepada tertanggung paling lama dalam tempo 8 hari (pasal 260 KUHD). Sistem Informasi Asuransi & Keuangan - RDK 48

Sekalipun secara otentik telah ditetapkan batas waktu penyerahan polis oleh penanggung kepada tertanggung, namun didalam praktek asuransi, penanggung baru mau menyerahkan polis kepada tertanggung setelah dia memperoleh pembayaran premi dari tertanggung. D. Fungsi Polis 1. Perjanjian pertanggungan (a contract of indemnity). 2. Bukti jaminan dari penanggung kepada tertanggung untuk mengganti kerugian yang mungkin akan dialami oleh tertanggung akibat peristiwa yang tidak diduga sebelumnya, dengan prinsip: a. Untuk mengembalikan tertanggung kepada kedudukannya semula sebelum terjadi/mengalami kerugian b. Untuk menghindarkan tertanggung dari kebangkrutan (total collapse) 3. Bukti pembayaran premi asuransi oleh tertanggung kepada penanggung sebagai balas jasa atas jaminan penanggung. Fungsi Polis Bagi Tertanggung 1. Bukti tertulis atas jaminan penanggung untuk mengganti kerugian yang mungkin akan dideritanya yang ditanggung oleh polis. 2. Bukti (kwitansi) pembayaran premi kepada penanggung. 3. Bukti otentik untuk menuntut penanggung bila lalai atau tidak mematuhi jaminannya. Fungsi Polis Bagi Penanggung 1. Bukti (tanda terima) premi asuransi dari tertanggung 2. Bukti tertulis atas jaminan yang diberikannya kepada tertanggung untuk membayar ganti rugi yang mungkin diderita oleh tertanggung. 3. Bukti otentik untuk menolak tuntutan ganti rugi (klaim) bila yang menyebabkan kerugian tidak memenuhi syarat polis. E. Jenis Polis 1. Polis maskapai 2. Polis bursa (Amsterdam & Rotterdam) 3. Polis Lloyds Sistem Informasi Asuransi & Keuangan - RDK 49

4. Polis perjalanan (voyage policy) Polis perjalanan menjamin insurable interest selama dalam perjalanan dari tempat pemberangkatan sampai ke tempat tujuan. Kedua tempat itu harus disebutkan namanya didalam polis perjalanan, misalnya dari Tanjung Priok ke London. Jalan yang ditempuh oleh alat pengangkut harus jalur yang lazim. Bila ada penyimpangan yang diperlukan dalam perjalanan, penyimpangan itu harus disebutkan dalam polis kontrak. Polis perjalanan dapat digunakan untuk menanggung barang dalam perjalanan maupun dalam alat pengangkut. o Polis perjalanan yang digunakan dalam pengangkutan melalui laut disebut voyage policy. 5. Polis waktu (time policy) Polis waktu merupakan polis yang terikat dengan jangka waktu, misalnya 6 bulan, 12 bulan atau lebih dari 12 bulan (yang lazim adalah 12 bulan) Premi dibayar dimuka ketika polis dikeluarkan oleh penanggung. Polis Ditaksir 1. Polis ditaksir atau valued policy merupakan polis yang jumlah harga pertanggungannya ditaksir. 2. Di dalam polis dicantumkan syarat valued at atau so valued. 3. Polis ini dapat berupa polis perjalanan atau polis waktu atau polis yang lainnya. Contoh Polis Ditaksir Untuk harga pertanggungan Rp 10.000.000,- misalnya, maka didalam polis dicantumkan valued at Rp. 10.000.000,- atau Rp. 10.000.000,- so valued. Berarti harga pertanggungan yang disetujui oleh penanggung dan tertanggung adalah sebesar Rp. 10.000.000,- tidak menjadi soal apakah harga yang sebenarnya (real value) lebih besar atau lebih kecil dari itu. Bila dialami total loss, maka ganti rugi Rp. 10.000.000,- asalkan total loss diakibatkan oleh resiko (bahaya) yang ditanggung oleh polis. Bila dialami partial loss, maka ganti rugi sesuai dengan kerugian. Sistem Informasi Asuransi & Keuangan - RDK 50

Polis Tidak Ditaksir Polis tidak ditaksir atau unvalued policy merupakan kebalikan dari valued policy. Harga pertanggungan yang dicantumkan dalam polis diperlukan sebagi dasar untuk perhitungan premi asuransi dan batas maksimal ganti rugi. Contoh Polis Tidak Ditaksir Bila harga pertanggungan Rp. 5 juta dan harga yang sebenarnya (real value) hanya Rp. 4 juta maka apabila dialami total loss maka ganti ruginya sesuai dengan real value. Jika dialami partial loss Rp 1 juta, maka ganti ruginya Rp 1 juta, karena jumlah ini merupakan kerugian yang sebenarnya. Bila barang yang rusak itu masih bisa dijual Rp 500.000,- maka ganti ruginya Rp. 500.000,- Bila harga pertanggungan Rp. 5 juta dan harga realnya Rp. 6 juta. Bila dialami total loss, maka yang diganti Rp 5 juta. Kelebihan yang Rp. 1 juta dianggap tidak diasuransikan. Penyusun Isi Polis Ditinjau dari jangka berlakunya polis, pada hakekatnya hanya ada 2 macam polis, yaitu polis perjalanan dan polis waktu. Polis asuransi jiwa termasuk polis waktu (biasanya jangka panjang). Isi Polis Asuransi 1. Perusahaan asuransi penanggung 2. Nama si tertanggung 3. Apa yang dipertanggungkan 4. Jangka waktu pertanggungan 5. Jumlah yang dipertanggungkan 6. Besarnya premi 7. Jenis bisnis 8. Isi polis dan syarat pertanggungan pada umumnya disusun sendiri oleh masing-masing penanggung (perusahaan asuransi) sehingga didalam praktek asuransi, bisa saja didapat perbedaan isi dan syarat pertanggungan antara penanggung yang satu dengan penanggung yang lain untuk jenis asuransi yang sama. 9. Banyak penanggung yang menyesuaikan isi dan syarat pertanggungan dengan berpedoman pada polis asuransi yang luas digunakan di dunia. Sistem Informasi Asuransi & Keuangan - RDK 51

10. Berbagai macam polis mempunyai isi sendiri-sendiri sesuai dengan jenis polis itu. 11. Isi polis asuransi tentu berbeda dengan polis perjalanan, juga berbeda dengan polis kerugian. Polis kebakaran, polis kendaraan bermotor, dan lain-lain. Walaupun berbeda, semua bernama polis, berarti pada polis tersebut terdapat bagian yang pada hakikatnya tetap sama, yaitu pokok umum isi polis Pokok Umum Isi Polis Pokok umum isi polis, dapat digolongkan kedalam beberapa golongan. Dalam pembahasan ini digolongkan sbb: 1. Mukaddimah 2. Syarat uraian 3. Syarat operatif 4. Kondisi (conditions) 5. Pengecualian (exclusions) 6. Syarat tanda tangan 7. Program ikhtisar 8. Informasi lain-lain Klausa Dalam Polis 1. Klausula Premier Risque 2. Klausula All Risk (kecuali 276 & 249 KUHD) 3. Klausula sudah mengetahui 4. Klausula renuntiatie (renunciation) 5. Klausula From Particular Average (FPA) 6. Klausula with Particular Average (WPA) F. Asuransi Untuk Pihak Ketiga Harus dinyatakan dengan tegas dalam polis, jika tidak tertanggung dianggap telah diadakan untuk dirinya sendiri. Cara mengadakan asuransi pihak ketiga: 1. Pemberian Kuasa Umum (General autorization) 2. Pemberian Kuasa Khusus (Special autorization) 3. Tanpa Kuasa (Without autorization) Sistem Informasi Asuransi & Keuangan - RDK 52

Kewajiban Pemberitahuan dari Tertanggung 1. Syarat syahnya pertanggungan/asuransi 2. Setiap pemberitahuan yang keliru atau tidak benar, atau setiap tidak memberitahukan hal yang diketahui oleh tertanggung walaupun dengan itikad baik, sehingga seandainya penanggung setelah dia mengetahui keadaan sebenarnya benda itu dia tidak akan mengadakan asuransi, atau dengan syarat yg demikian itu, mengakibtkan batalnya asuransi. Pembatasan Tanggung Jawab Penanggung (Eksonerasi) 1. Cacat sendiri pada benda pertanggungan 2. Kesalahan tertanggung sendiri 3. Eksonerasi karena pemberatan risiko G. Perjanjian Asuransi Perjanjian Asuransi Berakhir Ada dua macam penyebab berakhirnya perjanjian asuransi, yaitu: 1. Perjanjian berakhir secara wajar karena masa berlakunya perjanjian telah berakhir sebagaimana yang telah dijanjikan semula. 2. Perjanjian berakhir secara tidak wajar karena dibatalakan oleh salah satu pihak walau masa berlakunya perjanjian belum berakhir. Segera setelah perjanjian berakhir, maka semua kerugian yang diderita oleh tertanggung tidak lagi mendapat ganti rugi dari penanggung. Perjanjian Asuransi Batal 1. Menyimpang dari warranty 2. Tanpa insurable interest 3. Perdagangan tidak legal 4. Tidak mengindahkan iktikad baik 5. Perjanjian dibatalkan 6. Kapal melakukan deviasi (dalam asuransi pengangkutan/perjalanan) Sistem Informasi Asuransi & Keuangan - RDK 53

H. Kontrak Asuransi Definisi Kontrak a. Perjanjian 2 pihak b. Sukarela c. Tertulis d. Mengikat para pihak Kontrak Asuransi - Adalah Perjanjian antara asuradur dan pemegang polis dimana asuradur setuju memberi ganti rugi kepada pemegang polis atas pembayaran premi kepada asuradur. - Dalam Polis dicantumkan semua term dan condition serta hak dan kewajiban dari para pihak. Elemen Dasar Kontrak 1. Consideration - Apa yang akan dilakukan/diberikan oleh tiap-tiap pihak sebagai timbal balik atas apa yang akan dilakukan/diberikan oleh pihak lain - Pihak calon pemegang polis(aplikan): menyampaikan aplikasi dan membayar premi - Pihak asuradur : janji membayar benefit yang ditulis dalam polis 2. Meeting of the minds Kedua pihak harus memiliki pemahaman yang sama mengenai isi perjanjian berikut hak dan kewajiban masing-masing. Agar tercapai kondisi tersebut kedua pihak harus memiliki itikad baik (good faith). Tanpa good faith TIDAK AKAN TERCAPAI meeting of the minds maka kontrak akan batal 3. Capacity to contract Kedua pihak harus mampu memahami isi kontrak 4. Offer and Acceptance - Satu pihak membuat penawaran (offer) dan pihak lain menerima (accept) penawaran tersebut. Sistem Informasi Asuransi & Keuangan - RDK 54

- Calon pemegang polis: membuat penawaran offer dengan mengajukan aplikasi dan membayar premi. - Asuradur : menerima (accept) penawaran itu dengan menerbitkan polis. Ciri Khusus Kontrak Asuransi 1. Unilateral contracts - Hanya salah satu pihak yang membuat janji - Asuradur berjanji membayar ganti-rugi - Pemegang polis tidak berjanji membayar premi 2. Conditional contracts - Asuradur akan membayar benefit hanya jika event yang dipertanggungkan terjadi - Pelaksanaan kontrak menyaratkan terjadinya kerugian yang di cover 3. Aleatory contracts - Nilai yang diperoleh salah satu pihak (asuradur atau pemegang polis) bisa lebih besar atau lebih kecil dibandingkan dengan kewajibannya. 4. Contracts of adhesion - Kontrak ditawarkan berdasarkan kaidah take-it-or-leave-it oleh pihak yang memiliki kekuatan dan pengetahuan lebih (asuradur) kepada pihak yang memiliki sumberdaya terbatas dan keahlian sedikit (Pemegang polis). Sistem Informasi Asuransi & Keuangan - RDK 55