BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 5 HASIL PENELITIAN Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Dental Anak Usia 6 Tahun

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan gigi di masyarakat masih menjadi sebuah masalah di Indonesia.

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Semua dokter gigi yang merawat pasien anak menyadari bahwa

BAB I PENDAHULUAN. berlangsung singkat dan dapat dikendalikan. Kecemasan berfungsi sebagai suatu

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

1. Bab II Landasan Teori

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera utara

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan. Saat ini pendidikan adalah penting bagi semua orang baik bagi

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan. perubahan fisik seperti meningkatnya tekanan darah.

BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Kesadaran masyarakat akan pentingnya merawat gigi masih kurang.

BAB I PENDAHULUAN. Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin. angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik.

BAB I PENDAHULUAN. xiv

DAFTAR GAMBAR. 2.1 Empat Faktor Utama Yang Mempengaruhi Terjadinya Karies Gambaran Klinis Karies Pada Daerah Occlusal...

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2007 dan

BAB I PENDAHULUAN. Tindakan ekstraksi adalah prosedur yang menerapkan prinsip bedah, fisika, dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Rasa Takut terhadap Perawatan Gigi dan Mulut. Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dijumpai pada anak-anak di berbagai

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan kuesioner Children Fear Survey Schedule - Dental Subscale

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. pencabutan gigi. Berdasarkan penelitian Nair MA, ditemukan prevalensi

PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENGANTAR. A. Latar Belakang. Ansietas atau kecemasan adalah keadaan mood yang berorientasi dan

TRIAD OF CONCERN KELOMPOK 3.B. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Sumatera Utara. Jalan Alumni No. 2 Kampus USU Medan PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan, kecemasan

BAB II LANDASAN TEORI Hospitalisasi atau Rawat Inap pada Anak Pengertian Hospitalisasi. anak dan lingkungan (Wong, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. hidup mereka. Anak juga seringkali menjalani prosedur yang membuat. Anak-anak cenderung merespon hospitalisasi dengan munculnya

BAB II TINJAUAN TEORITIS. atau ancaman atau fenomena yang sangat tidak menyenangkan serta ada

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia?

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

PROSES TERJADINYA MASALAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULAN. Kecemasan adalah sinyal akan datangnya bahaya (Schultz & Schultz, 1994).

BAB I PENDAHULUAN. perubahan. Pada permulaan hidup perubahan itu kearah pertumbuhan dan

BAB I PENDAHULUAN. kecemasan yang tidak terjamin atas prosedur perawatan. 2 Menurut penelitian, 1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini, olahraga merupakan hal sangat penting bagi kesehatan tubuh.

dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesehatan. Upaya tersebut ditinjau dari beberapa aspek, di

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Setiap orang cenderung pernah merasakan kecemasan pada saat-saat tertentu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. suatu proses yang dapat diprediksi. Proses pertumbuhan dan. tumbuh dan kembang sejak awal yaitu pada masa kanak-kanak (Potter &

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia Pengertian kecemasan Menghadapi Kematian

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa anak prasekolah (3-5 tahun) adalah masa yang menyenangkan dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ketersediaan sumber dukungan yang berperan sebagai penahan gejala dan

DENTINO JURNAL KEDOKTERAN GIGI Vol II. No 1. Maret 2014

BAB I PENDAHULUAN. periodontal seperti gingiva, ligament periodontal dan tulang alveolar. 1 Penyakit

BAB 3 ETIOLOGI TERJADINYA DENTAL FOBIA. Fobia terhadap perawatan gigi pada anak merupakan fenomena yang

BAB II TINJAUAN TEORI. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang

BAB I PENDAHULUAN. upaya-upaya dalam rangka mendapatkan kebebasan itu. (Abdullah, 2007

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh karena anak tidak memahami mengapa harus dirawat,

BAB II KONSEP DASAR A. PENGERTIAN. Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya

BAB I PENDAHULUAN. dan gelisah dengan sesuatu yang dialaminya (Candido et al. 2014).

BAB I PENDAHULUAN. tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan keterbaruan penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. spesifik dan berbeda dengan orang dewasa. Anak yang sakit. hospitalisasi. Hospitalisasi dapat berdampak buruk pada

PENGARUH ORIENTASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA SEKOLAH DI BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT BHAKTI WIRA TAMTAMA SEMARANG. Eni Mulyatiningsih ABSTRAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kecemasan

BERDUKA DAN KEHILANGAN. Niken Andalasari

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah. Setiap anak pada umumnya senang bergaul dan bermain bersama dengan teman

PENGARUH BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KECEMASAN SISWA DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL. Skripsi

BAB 1 PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan kesehatan bagi masyarakat. Menanggapi hal ini,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penderitanya semakin mengalami peningkatan. Data statistik kanker dunia tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada saat ini sumber daya manusia adalah kunci sukses suatu organisasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. di masyarakat. Mahasiswa minimal harus menempuh tujuh semester untuk dapat

Terapi Komplementer Massage Punggung untuk Menurunkan Tingkat Kecemasan

BAB I PENDAHULUAN. dengan harapan. Masalah tersebut dapat berupa hambatan dari luar individu maupun

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat kompleks. Hirarki kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tekanan mental atau beban kehidupan. Dalam buku Stress and Health, Rice (1992)

BAB II KAJIAN TEORETIK. 1. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis. a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah

BAB I PENDAHULUAN. untuk jangka waktu lama dan bersifat residif (hilang-timbul). Sampai saat ini

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Muti ah, 2016

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menempuh berbagai tahapan, antara lain pendekatan dengan seseorang atau

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan sehari-hari manusia. Nevid (2005) berpendapat bahwa kecemasan

DETEKSI DINI STRES DI TEMPAT KERJA DAN PENANGGULANGANNYA

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran di tingkat perguruan tinggi, baik di universitas, institut

BAB 2 Tinjauan Pustaka

BAB 1 PENDAHULUAN. lansia di Indonesia yang berusia 60 tahun ke atas sekitar 7,56%. Gorontalo

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA KLIEN PRA BEDAH MAYOR DI RUANG RAWAT INAP MEDIKAL BEDAH GEDUNG D LANTAI 3 RUMAH SAKIT UMUM CIBABAT CIMAHI

Pedologi. Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder) Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi

BAB 1 PENDAHULUAN. mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial dan spiritual) yang

SKRIPSI. Diajukan Oleh : PARYANTO J

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sakit merupakan keadaan dimana terjadi suatu proses penyakit dan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. Stres merupakan respon fisiologis, psikologis dan perilaku yang tidak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Rasa Takut dan Cemas Rasa takut dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti objek internal dan hal yang tidak disadari. Menurut Darwin kata takut (fear) berarti hal yang tiba-tiba dan berbahaya. Gejala rasa takut berupa jantung yang berdebar-debar, berkeringat dan bergetarnya otot tubuh seperti bergetarnya bibir. Selain itu rasa takut juga menunjukkan gejala berupa kulit yang menjadi pucat. Hal ini terjadi jika mengalami ketakutan yang tinggi. 14 Pengertian rasa takut dengan cemas secara literatur digunakan secara bergantian dan masih sulit dibedakan. Hampir sama dengan rasa takut, rasa cemas juga merupakan salah satu tipe gangguan emosi yang berhubungan dengan situasi yang tidak terduga atau situasi yang dianggap berbahaya. Gejala kecemasan juga tidak terlalu berbeda dengan rasa takut yaitu terlihat pada penampilan fisik ataupun perubahan yang terjadi pada mental seseorang. Secara fisiologis gejala kecemasan berupa telapak tangan berkeringat, gemetar, pusing ataupun jantung yang berdebar-debar pada saat berhadapan dengan situasi yang menantang. Rasa takut dan cemas terjadi karena individu tidak mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan pada umumnya. 15,16 Walaupun sulit membedakan rasa takut dan cemas, keduanya merupakan suatu hal yang berbeda. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan dan memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman. Sedangkan rasa takut adalah respon dari suatu ancaman yang asalnya diketahui, eksternal, jelas atau bukan bersifat konflik. Rasa takut dianggap oleh beberapa peneliti sebagai salah satu emosi dasar manusia. 14,16 2.2 Rasa Takut Terhadap Perawatan Gigi Rasa takut terhadap perawatan gigi adalah emosi yang normal terhadap satu atau lebih stimulus yang mengancam dari situasi yang ada pada perawatan gigi dan

rasa cemas terhadap perawatan gigi merupakan bagian dari rasa takut akibat perawatan gigi. Hal ini biasanya berhubungan dengan perasaan seseorang terhadap suatu situasi atau objek, dan rasa takut akan berakibat buruk bagi anak karena dapat menyebabkan anak menghindari perawatan gigi. Kata takut dan cemas terhadap perawatan gigi sering digunakan secara bersamaan. Menurut Klinberg, kata takut dan cemas sering digunakan anak dan dewasa untuk menggambarkan perasaan yang negatif terhadap perawatan gigi. 5,17 Spielberger menjelaskan kecemasan sebagai keadaan emosi yang terdiri atas perasaan khawatir, ketakutan dan cemas dengan diaktifkannya sistem saraf otonom. Kecemasan terhadap perawatan gigi adalah gabungan antara keadaan cemas terhadap sesuatu yang akan terjadi dengan rasa takut pada sesuatu yang mengerikan mengenai yang akan terjadi selama perawatan gigi. 17 Rasa takut untuk mengunjungi dokter gigi menjadi masalah kesehatan umum yang terjadi di beberapa negara, prevalensi rasa takut terhadap perawatan gigi sekitar 5-20% di beberapa negara yang berbeda dan beberapa persennya bahkan berakibat menjadi phobia terhadap perawatan gigi. 18 Anak-anak sering merasa bahwa mengunjungi dokter gigi akan membuat mereka menjadi sangat stress. Rasa takut terhadap perawatan gigi ini merupakan rasa takut akibat ketidakmampuan anak dalam beradaptasi dengan situasi perawatan gigi. Rasa takut terhadap perawatan gigi sangat berhubungan erat dengan masalah tingkah laku pada perawatan gigi. Anak yang takut akan memiliki perilaku yang tidak kooperatif dalam perawatan gigi. Penting untuk diketahui oleh dokter gigi agar dapat mengatasi masalah tingkah laku dan membuat anak merasa nyaman. 7,18 2.3 Etiologi Rasa Takut Terhadap Perawatan Gigi Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dibagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu faktor personal, faktor eksternal dan faktor lingkungan perawatan gigi. Faktor personal terdiri atas usia, temperamen, masalah psikiatri atau rasa cemas secara umum. Faktor eksternal terdiri atas kecemasan dan ketakutan orang tua dan lingkungan sosial. Dan yang terakhir adalah faktor lingkungan perawatan gigi yang terdiri atas rasa sakit, dokter gigi, dan situasi dalam perawatan gigi. 19

2.3.1 Faktor Personal Tingkat rasa takut terhadap perawatan gigi pada anak dapat bervariasi pada hasil beberapa penelitian. Hal ini disebabkan karena perbedaan kriteria penilaian rasa takut terhadap perawatan gigi, perbedaan ukuran sampel dan teknik seleksi sampel, dan perbedaan usia. Namun faktor yang paling utama yang dapat menjelaskan rasa takut anak terhadap perawatan gigi adalah usia anak. Rasa takut terhadap perawatan gigi umumnya terjadi pada anak yang masih muda, hal ini berhubungan dengan perkembangan psikologis anak dalam kemampuannya menghadapi perawatan gigi. 18 Anak memulai perawatan giginya pada saat usia sekolah yaitu pada usia 6-12 tahun. Pada usia sekolah merupakan periode perkembangan sosial anak, dimana anak belajar dari lingkungan sosialnya dan belajar menerima kebutuhan di lingkungan sosialnya. 20 Pada usia ini keingintahuan anak sangat tinggi, seperti dalam perawatan gigi anak sangat ingin tahu tindakan yang akan diterimanya. Oleh karena itu komunikasi yang baik diperlukan dalam menjelaskan prosedur perawatan yang akan dilakukan dan jangan membuat anak merasa tidaknyaman karena akan membuat anak tidak dapat berkomunikasi secara efektif. 21 Usia anak dapat membedakan tingkat rasa takut anak terhadap perawatan gigi, anak yang lebih muda memiliki rasa takut yang tinggi terhadap perawatan gigi. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan psikologis, sosial dan emosi anak. 22 Selanjutnya yang dapat menyebabkan rasa takut anak terhadap perawatan gigi adalah temperamen. Temperamen adalah kualitas emosi personal bawaan yang cenderung stabil. Temperamen ini juga disebabkan pengaruh genetik. Kecenderungan temperamen ini adalah sifat malu, yang ditemukan pada 10% populasi anak. Anak merasa tidak nyaman ketika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya atau orang yang dirasakan asing baginya. Sifat temperamen ini akan menimbulkan emosi negatif seperti menangis, takut, dan marah. Rasa takut dapat mempengaruhi tingkah laku anak terhadap perawatan gigi. Hal ini berhubungan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan yang diterima anak pada perawatan gigi sebelumnya. Pengalaman yang tidak menyenangkan pada perawatan gigi sebelumnya akan membuat anak merasa takut untuk melakukan perawatan gigi pada kunjungan berikutnya. 19

gigi. 11,22 Rasa takut terhadap perawatan gigi pada anak dapat disebabkan karena takut 2.3.2 Faktor Eksternal Faktor eksternal yang dapat menimbulkan rasa takut anak terhadap perawatan gigi adalah orang tua dan lingkungan sosial. Rasa takut orang tua terhadap perawatan gigi akan mempengaruhi rasa takut anak. Orang tua yang takut akan sering mencampuri perawatan gigi anaknya, sebagai contoh banyak bertanya tentang prosedur yang akan dilakukan pada anaknya. Rasa takut orang tua di klinik akan menjadi gangguan bagi anak. 19,23 Penelitian yang dilakukan Berggren, Meynert dan Moore pada pasien odontophobia menunjukkan bahwa perilaku negatif keluarga terhadap perawatan gigi akan menjadi alasan umum berkembangnya odontophobia. 19 Dalam kehidupan seorang anak, keluarga merupakan lingkungan sosial tempat perkembangan anak terjadi. Selain itu yang juga merupakan bagian dalam kehidupan anak adalah lingkungan yang lebih luas seperti teman, pengaruh sekolah, keadaan lingkungan tempat tinggal dan ruang lingkup sosial lainnya. 21 Oleh karena itu kepercayaan anak terhadap dokter gigi juga dapat dipengaruhi langsung oleh orang tua, teman, atau dari pernyataan orang lain serta melihat perilaku seseorang yang melakukan perawatan gigi. 22 Hal ini juga disampaikan oleh Shaw yang menemukan bahwa ibu anak yang merasa cemas atau takut terhadap perawatan gigi memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dari perawatan gigi, artinya bahwa rasa takut ibu karena pengalamannya juga meningkatkan rasa takut anaknya terhadap perawatan terhadap sesuatu yang belum diketahui pastinya. Hal ini dapat disebabkan karena pernyataan kebanyakan orang yang berpandangan bahwa mengunjungi dokter gigi adalah hal yang menakutkan. Hal ini penting diketahui dokter gigi karena dapat memberikan informasi yang akurat mengenai kemungkinan ketidaknyamanan sebelum dilakukannya tindakan perawatan gigi. 19 2.3.3 Faktor Lingkungan Perawatan Gigi Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebab rasa takut terhadap perawatan gigi adalah rasa sakit. Rasa sakit didefinisikan sebagai pengalaman tidak

menyenangkan yang disebabkan karena kerusakan jaringan atau oleh adanya ancaman kerusakan jaringan. Adanya kesalahan dalam menafsirkan rasa sakit terhadap perawatan gigi akan membuat anak merasa cemas dan takut untuk melakukan perawatan gigi. Hal ini disebabkan karena secara normal rasa sakit menimbulkan reaksi fisiologis dan psikologis untuk melindungi tubuh dari kerusakan jaringan, sehingga perilaku tidak kooperatif saat anak merasa sakit atau tidak nyaman adalah suatu hal yang wajar. 19 Saat ini anggapan bahwa perawatan gigi akan menimbulkan rasa sakit akan membuat anak-anak merasa tidak nyaman. Diberikannya anastesi atau bahan yang dapat mengurangi rasa sakit, tidak dipastikan dapat mengurangi rasa takut anak terhadap rasa sakit. Anak-anak memiliki sifat yang cenderung untuk menghindari rasa sakit, namun dokter gigi sering mengabaikan hal tersebut. Hal ini menjadi masalah utama bagi dokter gigi yang perlu diperhatikan agar tidak salah interpretasi tentang rasa sakit yang menjadi penyebab rasa taku anak terhadap perawatan gigi. 8,19 Pemahaman anak terhadap rasa sakit ini bervariasi berhubungan dengan kemampuan kognitif, reaksi dan pemikiran anak terhadap stimuli yang bervariasi. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh usia dan kematangan anak. Faktor tambahan lain seperti perkembangan sosio-emosional, keluarga, situasi sosial, dukungan orang tua, dan hubungan dengan dokter gigi mempengaruhi bagaimana anak menghadapi stres, rasa sakit, dan ketidaknyamanan. 16 Penelitian yang dilakukan Kent menjelaskan bahwa ingatan mengenai rasa sakit yang ditimbulkan oleh perawatan gigi akan terbentuk sampai waktu yang lama. Kent menemukan bahwa pasien dengan rasa cemas atau takut tinggi cenderung untuk terlalu menaksir rasa sakit yang akan dirasakannya dari prosedur perawatan gigi. Selain itu ketika ditanyakan kembali tentang perawatan sebelumnya, mereka juga terlalu berlebihan dalam menceritakan pengalaman rasa sakitnya. Rasa takut terhadap perawatan gigi juga dapat disebabkan karena petugas kesehatan gigi atau dokter gigi sendiri. Rasa takut ini dapat muncul akibat hubungan yang tidak dekat antara dokter gigi dan pasien anak. Anak akan merasa terganggu dengan perasaan tersebut dan mengakibatkan anak merasa asing dan takut. Interaksi dokter gigi dan pasien anak merupakan bagian yang penting

dalam masalah kecemasan terhadap perawatan gigi. Penyebab rasa takut dapat juga akibat ucapan yang disampaikan dokter gigi pada pasiennya. Komunikasi dengan anak dan orang tua yang baik sebelum dilakukannya perawatan juga dapat mengurangi rasa takut terhadap perawatan gigi. Dokter gigi dapat menjelaskan secara sederhana prosedur perawatan yang akan dilakukan, hal ini agar anak tidak mengirangira apa yang akan terjadi padanya selama perawatan dan tentunya dapat mengurangi rasa takut anak. 24 Hal lain yang juga dapat menyebabkan rasa takut terhadap perawatan gigi adalah situasi dalam perawatan gigi. Anak sering merasa takut terhadap hal-hal yang membuat mereka merasa tidak nyaman dalam perawatan. Sebagai contoh karena adanya perasaan asing selama perawatan gigi, seperti karena penggunaan sarung tangan, masker dan pelindung mata oleh dokter gigi. Hal ini sering terjadi pada prosedur restoratif yang memiliki potensi menimbulkan rasa takut karena melihat dokter gigi mengebur atau mendengar suara bur dokter gigi. Selain itu rasa takut juga diakibatkan karena melihat jarum suntik dan adanya bau-bauan yang tidak enak dari bahan-bahan kedokteran gigi. 24 2.4 Akibat Rasa Takut Terhadap Perawatan Gigi Rasa takut terhadap perawatan gigi sering dihubungkan dengan terjadinya peningkatan karies dan masalah dalam menangani tingkah laku anak. Anak yang memiliki rasa takut terhadap perawatan gigi, kebersihan rongga mulutnya cenderung buruk. Oleh karena itu, rasa takut terhadap perawatan gigi merupakan masalah umum yang perlu diperhatikan. 4 Rasa takut dan sikap menghindari perawatan gigi akan berakibat semakin buruknya keadaan rongga mulut dan kesehatan gigi anak. Dalam hal ini rasa takut terhadap perawatan gigi dapat memprediksikan insiden terjadinya karies. Anak-anak menjadikan rasa takut terhadap perawatan gigi sebagai alasan untuk mengabaikan kesehatan giginya dan menunda untuk melakukan perawatan gigi. Hal ini merupakan masalah serius yang perlu diperhatikan oleh dokter gigi. Rasa takut ini juga menimbulkan masalah lain dalam kehidupan sehari-hari anak seperti gangguan psikososial pada anak. 18

Rasa takut terhadap perawatan gigi juga akan mengakibatkan masalah tingkah laku dalam perawatan. Sikap pasien yang tidak kooperatif dalam perawatan akan menyulitkan dokter gigi dalam melakukan prosedur perawatan. 18 Dalam hal ini perlu hubungan komunikasi yang baik antara dokter dan anak. Apabila dalam komunikasi menunjukkan sikap yang baik maka anak akan dapat mempercayai kita dan sebaliknya jika sikap dalam berkomunikasi kurang baik akan menyebabkan berkurangnya rasa percaya anak terhadap dokter. Kurangnya komunikasi antara dokter dan pasien disebabkan oleh karena dokter gigi tidak secara aktif mendengarkan pasien dan tidak menjelaskan prosedur perawatan dengan ungkapan yang sederhana. Akibatnya pasien akan merasa takut dan bertingkah tidak kooperatif dalam perawatan. 25 2.5 Perkembangan Anak Usia 6-11 Tahun Perkembangan komunikasi pada anak dapat dimulai dengan kemampuan anak untuk mencetak, menggambar, membuat huruf dan apa yang dilaksanakan anak akan mencerminkan pikiran anak, hal ini biasanya dimulai pada saat anak usia 6-7 tahun. Pada usia kedelapan anak sudah mampu membaca dan mulai berfikir tentang kehidupan. Komunikasi dapat dilakukan dengan memperhatikan tingkat kemampuan bahasa anak. Dalam berkomunikasi gunakan bahasa yang sederhana. 25 Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget, usia 6-7 tahun masuk dalam tahap praoperasional. Pada tahap ini anak belum mampu mengoperasionalisasikan apa yang dipikirkan melalui tindakan. Perkembangan anak bersifat egosentrik dan pikiran anak masih bersifat transduktif atau menganggap semuanya sama. Usia 7-11 tahun anak masuk dalam tahapan kongkret. Pada tahap ini perkembangan kemampuan anak sudah memandang realistis dari dunianya dan mempunyai anggapan yang sama dengan orang lain, sifat egosentrik sudah mulai hilang. Pada usia ini anak memiliki dua pandangan dalam berfikir atau disebut juga reversibilitas. 25 Pada usia sekolah dasar masa pertumbuhan dan perkembangan cukup cepat. Biasanya pada usia 6-11 tahun keingintahuan anak terhadap aspek fungsional dan

prosedural dari suatu objek sangatlah tinggi. Anak juga memulai untuk berinteraksi secara luas dengan lingkungan sosialnya. Kemampuan kemandirian anak akan semakin dirasakan ketika anak berada di luar rumah seperti lingkungan sekolahnya. Anak sudah mampu mengatasi beberapa masalahnya sendiri dan mampu menunjukkan penyesuaian diri dengan lingkungan yang ada, rasa tanggung jawab dan percaya diri dalam tugas mulai terwujud. Menuju 10-12 tahun anak semakin bersikap mandiri. Dalam menghadapi kegagalan, maka anak sering kali menunjukan reaksi kemarahan atau kegelisahan. Pada masa ini perkembangan kognitif, psikososial, interpersonal, psikoseksual, moral dan spiritual sudah mulai menunjukkan kematangan ketika menuju usia 12 tahun. Secara khusus anak banyak mengembangkan interaksi sosial, belajar tentang nilai moral dan budaya dari lingkungan keluarganya. Semakin bertambahnya usia, anak makin dapat bertanggung jawab dan dapat menyesuaikan dirinya pada lingkungan. 25 2.6 Alat Ukur Rasa Takut dan Cemas Terhadap Perawatan Gigi Ada beberapa metode yang dapat digunakan sebagai alat pengukur kecemasan dan rasa takut terhadap perawatan gigi. Metode pengukuran tersebut adalah Corah Dental Anxiety Scale, Stouthard s Dental Anxiety Inventory, Children Fear Survey Schedule-Dental Subscale. 9,26 2.6.1 Corah Dental Anxiety Scale ( CDAS) Corah Dental Anxiety Scale (CDAS) merupakan alat ukur kecemasan yang telah terkenal dan banyak digunakan. Metode pengukuran ini menggunakan 4 pertanyaan dengan tiap pertanyaan memiliki 5 alternatif jawaban. 9,26 Jumlah nilai CDAS berkisar 4-20. Jika nilai CDAS 4-8 berarti tingkat rasa cemas dan takut anak rendah dan jika nilai CDAS 9-12 berarti tingkat rasa cemas dan takut sedang. Anak dikatakan memiliki tingkat rasa cemas dan takut jika nilai dari kuesioner CDAS 13-20. Alat ukur ini dapat mengukur kecemasan atau rasa takut terhadap perawatan gigi pada anak usia 5-15 tahun. 26 CDAS dikembangkan untuk mengukur stres atau keadaan psikologis. Metode ini dikembangkan oleh Corah dan Pantera pada tahun

1968. Reabilitas dan validitas CDAS telah banyak dimuat pada berbagai artikel semenjak penggunaannya sebagai alat ukur kecemasan. Walaupun demikian dasar teori untuk CDAS tidak digambarkan terlalu jelas. Pada CDAS pertanyaan yang ada menggambarkan kecemasan secara umum dan menceritakan antisipasi kecemasan pada rangsangan spesifik dari alat pengeboran dan alat pembersihan gigi. 9,26 2.6.2 Stouthard s Dental Anxiety Inventory Pada tahun 1980, Stouthard mengembangkan kuesioner untuk penelitian kecemasan berdasarkan pertimbangan teoritis dan dibuat untuk mengukur situasi yang dapat menimbulkan kecemasan. Alat ukur tersebut disebut dengan Dental Anxiety Inventory. Dental Anxiety Inventory yang juga dikenal dengan DAIx adalah pengukuran kecemasan dental yang menggunakan 36 pertanyaan yang berdasarkan tiga hal yaitu waktu, situasi, dan reaksi yang dipresepsikan relevan terhadap kecemasan dental. Yang dimaksud dengan waktu adalah sifat dasar dan tingkat kecemasan dapat berubah berdasarkan waktu dan lamanya tindakan perawatan gigi. Sedangkan situasi menggambarkan aspek pengalaman dental, interaksi dengan dokter gigi dan tindakan dental. Kemudian reaksi yang merujuk kepada elemen pengalaman kecemasan atau ketakutan terhadap perawatan gigi. 9 Alat ukur ini dapat digunakan untuk mengukur rasa cemas dan takut anak terhadap perawatan gigi. DAIx memiliki rentang nilai 9-45 dengan sembilan pertanyaan yang ada. 26 2.6.3 Children Fear Survey Schedule-Dental Subscale (CFSS-DS) Children Fear Survey Schedule-Dental Subscale (CFSS-DS) adalah alat untuk mengukur rasa takut pada anak yang sangat diakui secara luas. Alat ini dikembangkan oleh Cuthbert dan Melamed pada tahun 1982. 9,13,26 CFSS-DS memiliki sumber dan dasar teori pengukuran, memiliki peranan dan keterangan yang lebih. Sebagai contoh, dalam sebuah pemeriksaan pengukuran rasa takut dan nyeri terhadap perawatan gigi, CFSS-DS menghasilkan pengukuran yang digambarkan secara sederhana. 12,26 CFSS-DS merupakan alat ukur rasa takut yang dapat dipercaya dan menunjukkan validitas yang baik meskipun dari tingkatan yang berbeda-beda. CFSS-

DS terdiri atas 15 pertanyaan yang mencakup aspek yang berbeda dari situasi perawatan gigi. Aspek tersebut meliputi dokter gigi, dokter, jarum suntik, mulut diperiksa seseorang, membuka mulut, disentuh orang asing, diperhatikan orang lain, dokter gigi mengebor, melihat dokter gigi mengebor, suara bor dokter gigi, orang meletakkan instrumen dalam mulut, tersedak, pergi kerumah sakit, orang berseragam putih, dan perawat membersihkan mulut. 26,27 Tingkat rasa takut pada CFSS-DS terdiri atas 5 kategori yaitu tidak takut, agak takut, cukup takut, takut dan sangat takut. Setiap kategori rasa takut memiliki nilai tersendiri yaitu tidak takut sama sekali diberi nilai 1, agak takut diberi nilai 2, cukup takut diberi nilai 3, takut diberi nilai 4 dan sangat takut diberi nilai 5. 28 Rasa takut terhadap perawatan gigi pada CFSS-DS terdiri atas tingkat rasa takut terhadap perawatan gigi rendah, tingkat rasa takut terhadap perawatan gigi sedang dan tingkat rasa takut terhadap perawatan gigi tinggi. Hal ini dapat disimpulkan dari jumlah nilai yang didapat dari 15 pertanyaan yang ada pada CFSS-DS. Jika jumlah nilai dari CFSS-DS adalah kecil dari 32 berarti tingkat rasa takut anak terhadap perawatan gigi rendah. Dan Jika jumlah nilai dari CFSS-DS adalah 32-38 berarti tingkat rasa takut anak terhadap perawatan gigi sedang. Sedangkan jika jumlah nilai dari CFSS-DS adalah besar dari 39 berarti tingkat rasa takut anak terhadap perawatan gigi tinggi. 26,28

2.7 Kerangka Konsep Pasien anak Rasa takut terhadap perawatan gigi Kunjungan pertama Kunjungan berulang Rasa takut berdasarkan CFSS-DS : Takut dengan dokter Takut dengan dokter gigi Takut dengan jarum suntik Takut mulut diperiksa seseorang Takut membuka mulut Takut disentuh orang yang tidak dikenal Takut diperhatikan seseorang Takut dokter gigi mengebur Takut melihat dokter gigi mengebur Takut mendengar suara bur dokter gigi Takut dimasukkan alat ke dalam mulut Takut tersedak Takut pergi ke klinik Pedodonsia Takut melihat orang berseragam putih Takut dokter gigi membersihkan gigi