Kajian Kelayakan Pembentukan FTA Indonesia Mesir

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

I. PENDAHULUAN. semakin penting sejak tahun 1990-an. Hal tersebut ditandai dengan. meningkatnya jumlah kesepakatan integrasi ekonomi, bersamaan dengan

KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS

III KERANGKA PEMIKIRAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.

BAB I PENDAHULUAN. seluruh negara sebagian anggota masyarakat internasional masuk dalam blokblok

SIAPA YANG DIUNTUNGKAN DALAM PERJANJIAN PERDAGANGAN BEBAS?

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Wealth of Nation (Halwani & Tjiptoherijanto, 1993). Dengan adanya

III. KERANGKA PEMIKIRAN. ekonomi internasional (ekspor dan impor) yang meliputi perdagangan dan

Akumulasi logam mulia adalah esensial bagi kekayaan suatu bangsa. Kebijakan ekonomi: mendorong ekspor dan membatasi impor

MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perdagangan internasional merupakan kegiatan pertukaran barang dan jasa

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan internasional. Dalam situasi globalisasi ekonomi, tidak ada satupun

: Determinan Intra-Industry Trade Komoditi Kosmetik Indonesia dengan Mitra Dagang Negara ASEAN-5 : I Putu Kurniawan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pada tinjauan pustaka ini akan disampaikan teori-teori yang digunakan untuk

LAPORAN AKHIR ANALISIS COST AND BENEFIT ASEAN HONG KONG FREE TRADE AREA BAGI INDONESIA

I. PENDAHULUAN. mengalami perubahan relatif pesat. Beberapa perubahan tersebut ditandai oleh: (1)

LAPORAN AKHIR ANALISIS KERJASAMA EKONOMI DAN PERDAGANGAN INDONESIA YORDANIA DALAM KERANGKA ASEAN JORDAN FTA

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu

Bab 5 Bisnis Global P E R T E M U A N 5

BAB I PENDAHULUAN. pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi

PENDAHULUAN. Dalam beberapa dekade belakangan ini, perdagangan internasional telah

BAB V ALIRAN PERDAGANGAN, KONDISI TARIF DAN PERFORMA EKSPOR INDONESIA DI PASAR ASEAN PLUS THREE

BAB I PENDAHULUAN. tercermin dari kegiatan perdagangan antar negara. Perdagangan antar negara

BAB I PENDAHULUAN. bakat, dan IPTEK beserta barang dan jasa yang dihasilkannya dapat dengan mudah

GAMBARAN UMUM EKONOMI INTERNASIONAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan luar negeri yang mempunyai peranan penting bagi suatu negara,

BAB I PENDAHULUAN. samping komponen konsumsi (C), investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G).

Bab 5 Bisnis Global 10/2/2017 1

Poppy Ismalina, M.Ec.Dev., Ph.D., Konsultan ILO

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS. bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan. Karena adanya kebutuhan ini, maka

I. PENDAHULUAN. nasional. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat rata-rata penyerapan tenaga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Integrasi ekonomi merupakan kebijakan perdagangan internasional yang dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. lebih terbuka (openness). Perekonomian terbuka dalam arti dimana terdapat

V. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI INDONESIA. dari waktu ke waktu. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi merupakan proses

Dari hasil penelitian mengenai perilaku makroekonomi lndonesia. dikaitkan dengan liberalisasi perdagangan, maka dapat ditarik beberapa

Organizational Theory & Design

BAB I PENDAHULUAN. dalam Todaro dan Smith (2003:91-92) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. sehingga terjamin mutu teknisnya. Penetapan mutu pada karet remah (crumb

Bisnis Internasional #2. Nofie Iman

III. KERANGKA PEMIKIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini

TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL TEORI KEUNGGULAN ABSOLUT, DAN KEUNGGULAN KOMPARATIF. Wahono Diphayana

BAB II KAJIAN PUSTAKA. struktur perekonomian suatu negara (Nopirin, 2012: 2). Perdagangan internasional

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan

BAB I PENDAHULUAN. dari keadaan ekonomi negara lain. Suatu negara akan sangat tergantung dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. dan liberalisasi perdagangan barang dan jasa semakin tinggi intensitasnya sehingga

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan

BAB 1 PENDAHULUAN. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan

BAB VII Perdagangan Internasional

PERDAGANGAN INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. utama yang dilakukan negara untuk menjalin kerjasama perdagangan. Hal ini

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, hal ini

ERD GANGAN INTERNA INTERN SIONA SION L

III KERANGKA PEMIKIRAN

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL.

Materi Minggu 12. Kerjasama Ekonomi Internasional

BAB I PENDAHULUAN. dalam suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas

EKONOMI INTERNASIONAL

B. TEORI KEUNGGULAN KOMPARATIF (COMPARATIVE ADVANTAGE)

II. TINJAUAN PUSTAKA

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan net ekspor baik dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENELITIAN TERDAHULU. Perdagangan luar negeri adalah perdagangan barang-barang suatu negara

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

I. PENDAHULUAN. ASEAN sebagai organisasi regional, kerjasama ekonomi dijadikan sebagai salah

ekonomi KTSP & K-13 PERDAGANGAN INTERNASIONAL K e l a s A. Konsep Dasar Tujuan Pembelajaran

TINJAUAN PUSTAKA. ekonomi uang, dimana daya beli yang ada dalam uang dengan berjalannya waktu

2.2. Definisi Produk Makanan dan Minuman Olahan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Pembangunan secara tradisional diartikan sebagai kapasitas dari sebuah

BAB I PENDAHULUAN. bidang, tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Menurut Todaro dan Smith (2006), globalisasi

Sessi. Dosen Pembina:

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

4. KEBIJAKAN KEDELAI NASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka,

BAB II LANDASAN TEORI. ketentuan yang berlaku (Rinaldy, 2000: 77). Dalam aktivitas ekspor ada beberapa tahapan - tahapan yang

BAB I PENDAHULUAN. saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap

I. PENDAHULUAN. terlepas dari kegiatan ekonomi internasional. Kegiatan ekonomi internasional

Bisnis Internasional Pertemuan Ketiga Bab 5 Teori Perdagangan Internasional

PEMASARAN INTERNASIONAL

TEROI PERDAGANGAN INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. internasional tidak bisa lepas dari hal-hal yang sedang dan akan berlangsung di

Transkripsi:

Laporan Akhir 2010 Kajian Kelayakan Pembentukan FTA Indonesia Mesir Pusat Penelitian dan Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Badan Penelitian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan

Daftar Isi BAB 1. PENDAHULUAN... 8 1.1. Latar Belakang... 8 1.2. Perumusan Masalah... 9 1.3. Tujuan Penelitian... 10 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN... 11 2.1. Globalisasi, Liberalisasi Ekonomi Dunia, dan Free Trade Area (FTA).. 11 2.1.1 Globalisasi dan Liberalisasi Ekonomi Dunia... 11 2.1.2 Free Trade Area (FTA): Pengertian dan Dampak Integrasi Ekonomi Regional... 13 2.2. Teori Perdagangan Internasional... 18 2.2.1 Pendekatan Keseimbangan Parsial... 23 2.2.2 Pendekatan Keseimbangan Umum... 29 2.3. Teori Perdagangan Intra Industri... 37 2.4. Teori Keunggulan Komparatif: RCA (Revealed Comparative Advantage)... 40 2.5. Indeks Komplementer Perdagangan (Trade Complementary Indeks/TCI)... 41 2.6. Tinjauan Penelitian Terdahulu... 42 2.7. Kerangka Pemikiran Penelitian... 47 BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN... 50 3.1. Jenis dan Sumber Data... 50 3.2. Metode Analisis... 50 3.2.1 Intra Industry Trade index (IIT index)... 50 3.2.2 Revealed Comparative Advantage Bilateral (RCAB)... 51 3.2.3 Indeks Komplementer Perdagangan (TCI)... 51 3.3. Dampak FTA Indonesia- Turki, Indonesia-Mesir, dan Indonesia- Pakistan: Aplikasi Global Trade Analysis Project (GTAP)... 52 3.3.1 Model GTAP... 52 3.3.2 Agregasi GTAP... 53 3.3.3 Pengolahan GTAP... 57 1

3.4. Penggunaan AHP dalam Analisis Pengambilan Keputusan... 72 3.4.1 Perhitungan Bobot Elemen... 75 3.4.2 Perhitungan Konsistensi... 77 3.4.3 Mengevaluasi Inkonsistensi Seluruh Hirarki... 78 3.4.4 Penggunaan AHP dalam Analisis Pemilihan Posisi Runding... 79 BAB 4. GAMBARAN UMUM MAKRO EKONOMI DAN PERDAGANGAN INDONESIA, TURKI DAN PAKISTAN... 82 4.1. Makro Ekonomi dan Perdagangan Indonesia... 82 4.1.1 Makro Ekonomi Indonesia... 82 4.1.2 Gambaran Umum Perdagangan Indonesia... 90 4.2. Makro Ekonomi dan Perdagangan Mesir... 96 4.2.1 Gambaran Umum Perdagangan Mesir... 104 4.3. Perdagangan Bilateral Indonesia dengan Mesir... 108 BAB 5. ANALISA PERDAGANGAN INDONESIA DENGAN MESIR... 116 5.1. Pola dan Keterkaitan Perdagangan Indonesia dengan Mesir... 116 5.1.1 Keterkaitan Perdagangan (IIT) Antara Indonesia dengan Dunia... 117 5.1.2 Keterkaitan Perdagangan Indonesia dan Mesir... 122 5.2. Analisis RCA Bilateral Indonesia Dengan Mesir... 126 5.2.1 Nilai Rata-Rata dan Perkembangan Nilai RCA Bilateral dalam Aliran Perdagangan Indonesia dengan Dunia... 126 5.2.2 Rata-Rata Nilai RCA Bilateral dalam Aliran Perdagangan Indonesia dan Mesir... 136 5.3. Trade Complementarity Index (TCI) Indonesia... 149 BAB 6. DAMPAK FREE TRADE AGREEMENT TERHADAP EKONOMI INDONSIA DAN STRATEGI PEMILIHAN POSISI RUNDING INDONESIA- MITRA DAGANG... 151 6.1. Analisa Keseimbangan Umum... 151 6.1.1 Existing Condition Tarif Impor... 151 6.1.2 Dampak FTA Indonesia-Mesir terhadap Ekonomi Makro... 156 6.1.3 Dampak FTA Indonesia-Mesir terhadap Ekonomi Sektoral... 159 6.2. Analytical Hierarchy Process... 163 BAB 7. IMPLIKASI KEBIJAKAN... 168 7.1. Produk Unggulan Ekspor Indonesia ke dunia... 169 2

7.2. Produk Unggulan Ekspor Indonesia ke Mesir... 170 BAB 8. KESIMPULAN DAN SARAN... 173 8.1. Kesimpulan... 173 8.2. Saran... 174 3

Daftar Tabel Tabel 2-1. Dampak Kebijakan Tarif terhadap Kesejahteraan... 29 Tabel 2-2. Klasifikasi dari nilai IIT (Austria, 2004)... 40 Tabel 3-1. Agregasi Negara Berdasarkan GTAP Data Base... 54 Tabel 3-2. Agregasi Sektor Berdasarkan GTAP Data Base... 55 Tabel 3-3. Sumber Pengeluaran Rumah Tangga dan Pemerintah untuk Barang i di Wilayah s... 61 Tabel 3-4. Sumber Pengeluaran Sektor j dari Barang i atau Faktor Primer i... 62 Tabel 3-5. Sumber Pendapatan Faktor Jasa Rumah Tangga untuk Faktor i... 64 Tabel 3-6. Disposisi dan Sumber Pendapatan Regional... 65 Tabel 3-7. Sektor Transportasi Global... 66 Tabel 3-8. Permintaan untuk Barang-Barang Investasi Regional... 67 Tabel 3-9. Skala Penilaian Perbandingan Pasangan... 74 Tabel 4-1. Distribusi dan Pertumbuhan PDB... 83 Tabel 4-2. Komposisi PDB Indonesia 2004-2009... 86 Tabel 4-3. Neraca Perdagangan Indonesia... 91 Tabel 4-4. Produk Ekspor Indonesia... 92 Tabel 4-5. Impor Indonesia Berdasarkan Golongan... 93 Tabel 4-6. Produk Impor Indonesia... 94 Tabel 4-7. Tingkat Inflasi Mesir... 103 Tabel 4-8. Komoditas Ekspor Utama Mesir... 106 Tabel 4-9. Komoditas Impor Utama Mesir... 107 Tabel 4-10. Neraca Perdagangan Indonesia dengan Mesir... 110 Tabel 4-11. Posisi dan Pangsa Indonesia dalam Perdagangan Mesir Tahun 2008... 111 Tabel 4-12. Perkembangan Ekspor 20 Produk Utama Indonesia ke Mesir (2005-2010)... 113 Tabel 4-13. Perkembangan Impor 20 Produk Utama Indonesia ke Mesir (2005-2010)... 115 Tabel 5-1. Klasifikasi Intra Industry Trade (IIT) sebagai Indikator Integrasi Perdagangan Bilateral... 117 Tabel 5-2. Nilai Rata-rata IIT 10 Komoditas Unggulan Indonesia dengan Dunia, Tahun 1996-2009... 119 Tabel 5-3. Nilai Rata-rata IIT 10 Komoditas Unggulan Indonesia dengan Mesir, Tahun 1996-2009... 123 4

Tabel 5-4. Rata-Rata Nilai RCAB 10 Komoditi dalam Aliran Perdagangan Indonesia dengan Dunia Periode 1996-2009... 128 Tabel 5-5. Nilai Rata-rata RCAB 99 Komoditi Indonesia-Dunia, Tahun 1996-2009... 133 Tabel 5-6. Nilai Rata-Rata RCAB 10 Komoditi Andalan Indonesia-Mesir Periode 1996-2009... 139 Tabel 5-7. Rata-Rata Nilai RCAB Indonesia-Mesir Periode 1996-2009... 145 Tabel 5-8. Trade complementarity indicates for select trading partner 2009... 150 Tabel 6-1. Tarif Impor yang dikenakan Mesir terhadap Komoditi Indonesia Berdasarkan Database GTAP... 152 Tabel 6-2. Tarif Impor yang dikenakan Indonesia terhadap Komoditi Mesir Berdasarkan Database GTAP... 154 Tabel 6-3. Simulasi Dampak FTA... 156 Tabel 6-4. Dampak Penerapan Bilateral FTA Indonesia-Mesir terhadap Kinerja Makroekonomi Indonesia... 158 Tabel 6-5. Dampak Penghapusan Tarif dan Penurunan Tarif secara Gradual terhadap Perubahan Output (20 Sektor Tertinggi)... 160 Tabel 6-6. Dampak Penurunan dan Penghapusan Tarif secara Gradual terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Terdidik dan Tidak Terdidik... 161 Tabel 6-7. Dampak Penghapusan dan Penurunan Tarif secara Gradual terhadap Perubahan Ekspor dan Impor ( 20 Sektor Tertinggi)... 162 Tabel 6-8. Pemilihan Strategi dalam Penentuan Posisi Runding... 165 Tabel 7-1. Komoditi Indonesia yang Memiliki Rangking RCAB dan IIT Tinggi di Pasar Dunia... 169 Tabel 7-2. Komoditi Indonesia yang Memiliki Rangking RCAB dan IIT Tinggi di Pasar Mesir... 171 5

Daftar Gambar Gambar 2-1. Trade Creation... 16 Gambar 2-2. Trade Diversion... 18 Gambar 2-3. Kurva Perdagangan Internasional... 20 Gambar 2-4. Keseimbangan Perdagangan Bebas Pada Model H-O... 25 Gambar 2-5. Analisis Keseimbangan Parsial Dampak Tarif Impor Negara Besar... 27 Gambar 2-6. Proses Terjadinya Perdagangan Antara Dua Negara... 31 Gambar 2-7. Dampak Tarif Pada Model Keseimbangan Umum untuk Kasus Negara Kecil... 35 Gambar 2-8. Dampak Tarif Pada Model Keseimbangan Umum untuk Kasus Negara Besar... 36 Gambar 2-9. Kerangka Pemikiran Penelitian... 49 Gambar 3-1. Pemanfaatan GTAP dengan Alat RunGTAP dan Penyelesaiannya... 58 Gambar 3-2. Struktur Produksi Model GTAP... 69 Gambar 3-3. Struktur Konsumsi dalam Model GTAP... 70 Gambar 3-4. Struktur Impor Model GTAP... 71 Gambar 3-5. Hirarki Analisis Pemilihan Posisi Runding Indonesia-Mesir, Indonesia-Turki, dan Indonesia-Pakistan... 80 Gambar 4-1. Pertumbuhan PDB Indonesia... 82 Gambar 4-2. Perkembangan Inflasi Indonesia... 88 Gambar 4-3. Fluktuasi Rupiah (Rupiah/US$)... 89 Gambar 4-4. Perbandingan Pasar Tujuan Ekspor Indonesia 2005/2009... 95 Gambar 4-5. Perbandingan Negara Pemasok Impor Indonesia 2005/2009... 96 Gambar 4-6. Perkembangan Pertumbuhan PDB Mesir... 96 Gambar 4-7. Nominal dan Struktur PDB Mesir... 97 Gambar 4-8. Komposisi PDB Mesir Berdasar Sektor... 100 Gambar 4-9. Pertumbuhan PDB Berdasarkan Sektor... 101 Gambar 4-10. Distribusi dan Total Investasi Asing Langsung ke Mesir... 102 Gambar 4-11. Perkembangan Nilai Tukar Mesir... 104 Gambar 4-12. Perkembangan Neraca Perdagangan Mesir... 105 Gambar 4-13. Perbandingan Pasar Tujuan Ekspor Mesir 2005/2009... 107 Gambar 4-14. Perbandingan Pemasok Impor Mesir 2005/2009... 108 6

Gambar 4-15. Perkembangan Perdagangan Bilateral Indonesia Mesir, 2000-2009... 109 Gambar 4-16. Komposisi Ekspor Indonesia ke Mesir... 112 Gambar 4-17. Komposisi Impor Indonesia dari Mesir... 114 Gambar 5-1. Perkembangan Intra Industry Trade (IIT) 10 Komoditi Utama Indonesia dengan Dunia, Tahun 2006-2009... 120 Gambar 5-2. Rata-rata Intra Industry Trade (IIT) 99 Komoditi Indonesia dengan Dunia, Tahun 2006-2009... 121 Gambar 5-3. Perkembangan Intra Industry Trade (IIT) 10 Komoditi Utama Indonesia dengan Mesir, Tahun 2006-2009... 124 Gambar 5-4. Rata-rata Intra Industry Trade (IIT) 99 Komoditi Indonesia dengan Mesir, Tahun 2006-2009... 125 Gambar 5-5. Perkembangan Nilai RCAB 10 Komoditi Indonesia dalam Aliran perdagangan Indonesia-Dunia... 131 Gambar 5-6. Nilai Rata-Rata RCAB 99 komoditi dalam Aliran Perdagangan Indonesia-Dunia Periode 1996-2009... 132 Gambar 5-7. Perkembangan Nilai RCAB 10 Komoditi Unggulan Indonesia-Mesir Periode 1996-2009... 143 Gambar 5-8. Rata-Rata Nilai RCAB Seluruh Komoditi dalam Aliran Perdagangan Indonesia-Mesir 1996-2009... 144 Gambar 5-9. Indeks Komplementer Perdagangan (TCI) antara Indonesia dengan Mesir... 149 7

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Resesi perekonomian dunia yang bersumber dari negara maju seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa memberikan implikasi yang negatif terhadap negara-negara dengan karakteristik perdagangan yang sangat dependen dengan negara sumber resesi. IMF (2008) memproyeksikan bahwa periode 2008-2009 akan menjadi tahun yang sangat depresif terhadap performa perdagangan internasional seiring dengan pertumbuhan PDB riil Amerika Serikat dan Uni Eropa yang akan melambat (0.1 dan 0.2 persen di tahun 2009) dan neraca perdagangan yang defisit di tahun 2009 (-3.3 persen dan -0.4 persen). Derajat keterbukaan dan interdependensi perdagangan yang sangat erat telah memberikan konsekuensi lanjutan bagi perekonomian negara-negara berkembang, yang secara identik mengalami fenomena yang serupa. Meskipun, negara-negara tersebut diprediksi akan lebih leluasa untuk membenahi perekonomiannya. Selama ini realisasi perdagangan bilateral Indonesia sangat didominasi oleh empat mitra dagang utama Indonesia yaitu Jepang, Amerika Serikat, Singapura, dan Cina.. Oleh karena itu, Indonesia tengah berusaha meningkatan akses pasar ekspor non migas di luar pasar tradisional dan salah satunya adalah dengan Mesir. Pada pertemuan siding ke-5 komisi bersama Indonesia-Mesir dan hasil pertemuan bilateral Menteri Perdagangan RI dengan Menteri Perdagangan dan Industri Mesir, di Jakarta pada tanggal 12-14 Januari 2010, kedua Negara sepakat untuk meningkatkan kerjasama perdagangan dan investasi, serta kedua pihak akan membentuk Joint Study untuk menguji kelayakan kerangka perdagangan bebas diantara Indonesia dan Mesir. Kajian ini dilaksanakan sebagai informasi awal dan penyokong kegiatan joint study yang akan dilaksanakan dan juga sebagai bahan negosiasi untuk kedepannya. Perdagangan dan kerjasama investasi antara Indonesia dan Mesir diharapkan dapat membuka potensi yang jauh lebih besar dalam perdagangan dan investasi bagi kedua negara. Mesir mampu menjadi pasar utama bagi produk- 8

produk Indonesia karena adanya Terusan Suez yang menjadi jembatan dengan Asia, Afrika dan Eropa. Mesir juga dapat digunakan sebagai pintu gerbang perdagangan untuk kawasan Afrika Utara, Timur, dan Selatan dan Negara tujuan investasi bagi Indonesia dengan adanya perjanjian perdagangan bebas Mesir baik secara bilateral maupun antara lain dengan Turki, Tunisia, Maroko, EFTA, Komisi Eropa ( EC), dan perjanjian FTA dengan Negara-negara Arab dalam Pan- Arab Free Trade Area / PAFTA. Di sisi lain Indonesia juga dapat menjadi pintu gerbang perdagangan dan daerah tujuan investasi untuk Mesir dengan adanya perjanjian bebas Indonesia baik secara bilateral maupun regional, seperti ASEAN FTA (AFTA) dan ASEAN plus dan juga FTA bilateral dengan Jepang. 1.2. Perumusan Masalah Adanya keterkaitan intra industri antara industri yang ada di Indonesia dengan mitra dagang dalam hal ini dengan Mesir akan kian mendekatkan ketergantungan relasi perdagangan antara Indonesia dengan mitra dagang. Dualitas peran Negara-negara Timur-Tengah disamping sebagai produsen minyak dan gas bumi juga sebagai salah satu konsumen minyak dan gas bumi dalam jumlah besar, dapat dijadikan sebagai pasar yang potensial dan atraktif. Hal ini dapat memberikan efek bagi peningkatan kerjasama antara Indonesia dengan mitra dagang Indonesia. Oleh karena itu pada tahap awal penelitian akan dikaji keterkaitan intra industry trade Indonesia dengan Negara mitra dagang. Dalam rangka peningkatan ekspor Indonesia, peningkatan daya saing mutlak diperlukan, sehingga tujuan penelitian yang kedua adalah menganalisis daya saing bilateral Indonesia dengan Mesir. Meningkatnya volume perdagangan karena FTA akan mendatangkan multiplier effect terhadap kegiatan ekonomi lainnya yang mungkin akan membawa perubahan terhadap kondisi makroekonomi dan sektoral ekonomi, sehingga perlu ada kajian tentang dampak skema FTA Indonesia-Mesir. Implikasinya adalah apabila dampak yang didapatkan Indonesia baik, maka FTA dengan negara lain di masing-masing negara Timur Tengah dapat dijajaki. Berdasarkan analisis intra industry trade, daya saing bilateral dan dampak FTA secara makro dan sektoral ekonomi, maka pemilihan posisi runding yang 9

tepat akan sangat diperlukan untuk memperkuat strategi Indonesia dalam negosiasi perdagangan dengan Negara mitra, Mesir, Turki dan Pakistan. Analytical Hierarcy Process (AHP) sebagai alat analisis akan membantu dalam proses pemilihan posisi runding Indonesia dengan mitra dengan mempertimbangkan (a) faktor pemilihan posisi runding yang terdiri dari (1) regulasi dan biaya perdagangan antar Negara, (2) transaksi perbankan antar Negara, (3) hambatan non tarif, (4) hambatan tariff, dan (5) perbedaan penguasaan teknologi; (b) aktor yang berperan dalam pengambilan keputusan pemilihan posisi runding yang terdiri dari pemerintah, perbankan, industri, dan investor; (c) tujuan yang ingin dicapai dalam pemilihan posisi runding yang terdiri dari (1) meningkatkan volume transaksi perdagangan (ekspor) antara Indonesia dan mitra dagang (Mesir) sehingga dapat meningkatkan trade balance, (2) memperluas pemasaran produk Indonesia ke Negara lain melalui pasar ketiga mitra dagang (PP), (3) peningkatan investasi negara mitra dagang ke Indonesia; terakhir (d) alternative pilihan kebijakan yang muncul berupa meningkatkan fasilitas perdagangan, kerjasama perbankan, investasi, jasa, mengurangi non tariff barrier dan penghapusan tariff antara Indonesia dengan negara mitra dagang 1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengetahui gambaran kinerja perdagangan antara Indonesia dengan Mesir. 2. Menganalisis aliran dan keterkaitan perdagangan (intra industry trade) Indonesia-Mesir. 3. Menganalisis daya saing bilateral Indonesia-Mesir. 4. Menganalisis kontribusi ekspor komoditas Indonesia (indeks komplementer perdagangan) dalam kerangka hubungan dagang bilateral dengan Mesir, Turki, dan Pakistan dengan kondisi perdagangan komoditas dalam lingkup dunia. 5. Menganalisis dampak FTA Indonesia-Mesir secara makro dan sektoral ekonomi. 6. Merumuskan posisi runding Indonesia dengan mitra dagang (Mesir). 10

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Globalisasi, Liberalisasi Ekonomi Dunia, dan Free Trade Area (FTA) 2.1.1 Globalisasi dan Liberalisasi Ekonomi Dunia Globalisasi merupakan proses meningkatnya interdependensi bahkan mengarah pada menyatunya perekonomian dunia sehingga mengaburkan batasbatas antar negara dalam berbagai praktik dunia usaha/bisnis seperti kegiatan finansial, produksi, investasi, dan perdagangan. Globalisasi dapat terjadi karena semakin bebasnya pergerakan arus barang dan jasa serta arus modal antar negara yang sering disebut sebagai liberalisasi. Peningkatan keterbukan ekonomi antar negara atau liberalisasi dalam perdagangan dan arus modal telah memacu perkembangan teknologi yang pesat dalam bidang transportation, telecomunication dan travel atau triple-t revolution. Kemajuan teknologi dalam bidang ini terutama information technology kemudian memberikan peluang yang semakin besar bagi terwujudnya globalisasi ekonomi. Globalisasi dan liberalisasi berimplikasi pada pengurangan dan penghapusan berbagai hambatan dalam kegiatan perdagangan baik hambatan tarif (tarrief-barrier) maupun hambatan non tarif (non-tarrif barier=ntb). Hal ini berimplikasi pada meningkatnya efisiensi aktivitas industri dan terbukanya peluang yang sebesar-besarnya bagi setiap negara untuk meningkatkan kegiatan perdagangannya terutama perluasan pasar oleh industri-industri yang berorientasi ekspor atau industri promosi ekspor. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan diperkirakan akan dapat mendorong peningkatan arus perdagangan barang dan jasa serta arus investasi antar negara terutama jika didukung oleh perdagangan yang lebih fair dan adil. Karena itulah penganut paham liberalis sangat berkeyakinan bahwa liberalisasi perdagangan dunia akan dapat meningkatkan kemakmuran bagi semua negara yang terlibat. Kekuatan ekonomi menjadi faktor penentu eksistensi setiap negara dalam perekonomian global. Persoalan muncul karena globalisasi dan liberalisasi bergulir ditengah-tengah jurang antara negara-negara maju dan NSB masih sangat 11

lebar. Dalam kondisi demikian globalisasi dan liberalisasi justru akan dapat memperlebar jurang tersebut karena negara-negara industri telah menguasai sumber ekonomi strategis seperti modal, teknologi dan informasi. Negara-negara industri akan dapat dengan mudah memasarkan produknya ke NSB, namun sebaliknya dengan berbagai keterbatasan internal dan faktor eksternal terutama hambatan non ekonomi, NSB tidak mudah untuk menembus pasar negara-negara maju. Proses globalisasi terutama digerakkan oleh ledakan perkembangan teknologi tingkat tinggi terutama teknologi informasi seperti yang dikemukakan sebelumnya. Kegiatan-kegiatan ekonomi tidak hanya bersifat padat modal tetapi berkembang ke arah padat informasi dan pengetahuan, sehingga kompetisi tidak bisa lagi hanya bersandar pada persaingan harga. Kemudian, meredanya inflasi dunia sebagai akibat supply availability pada skala global, telah memperkecil kemungkinan untuk memperoleh keuntungan yang signifikan. Profit margin yang semakin tipis hanya dapat menjamin kontinyuitas usaha apabila produksi dan perdagangan dilakukan dalam skala besar, dan apabila dijamin dengan kemampuan untuk melakukan delivery yang dapat diandalkan, serta pada tingkat kualitas produk yang tinggi. Jelas sebagian besar NSB sulit bahkan mungkin tidak dapat melakukan hal tersebut kalau hanya mengandalkan basis sumber dan kemampuannya sendiri. Meskipun dihadapkan pada kenyataan demikian, NSB sangat sulit untuk mengisolasi diri dari globalisasi dan liberalisasi. Tidak ada pilihan kecuali ikut terlibat dalam globalisasi dan liberalisasi dengan konsekuensi-konsekuensinya. Itulah sebabnya, sesuai dengan arahan IMF dan World Bank, kebijakan ekonomi NSB sejak awal dasawarsa 1980-an diwarnai oleh kebijakan penyesuaian struktural (structural adjusment) dalam upaya untuk menyesuaikan atau mengintegrasikan dirinya ke dalam proses globalisasi, yakni dengan membuka perekonomiannya. Ini berarti NSB bergerak ke sistem kapitalisme-liberal, dimana kepemilikan (private) dan mekanisme pasar menjadi tiang utama proses pengambilan keputusan, baik yang dilakukan pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat. 12

2.1.2 Free Trade Area (FTA): Pengertian dan Dampak Integrasi Ekonomi Regional Kegiatan ekonomi internasional memiliki kecenderungan untuk membentuk organisasi perdagangan multinasional. Organisasi ini dibentuk dari kumpulan negara berdekatan yang mempunyai kebijakan perdagangan bersama untuk menghadapi negara lain dalam bidang tarif dan akses pasar. Alasan umum pembentukan grup ini adalah menjamin pertumbuhan ekonomi dan bermanfaat bagi Negara anggota. Contoh organisasi yang terkenal sekarang antara lain European Union (EU) dan North American Free Trade Agreement (NAFTA). Pengaruh keberadaan dan pertumbuhan organisasi multinasional ini secara tidak langsung bagi negara peserta adalah untuk menjaga persaingan secara global. Secara luas, pengelompokan regional dibentuk sebagai usaha pemerintah untuk meningkatkan integrasi ekonomi global. Organisasi ini terdiri dari berbagai bentuk, tergantung tingkat kerjasamanya yang mengarah ke tingkat integrasi berbeda antara negara peserta. Ada lima tingkat kerja sama formal antar negara anggota kelompok regional, yaitu Free Trade Area (FTA), Custom Union, Common Market, Monetary Union, dan Political Union (Kotabe dan Helsen, 2001). Free Trade Are (FTA) adalah kerjasama formal antara dua atau lebih negara untuk mengurangi hambatan tarif dan non tarif diantara negara anggota. Akan tetapi masing-masing negara anggota bebas menentukan tingkat tarif individu dengan negara yang bukan anggota. FTA adalah salah satu bentuk reaksi adanya globalisasi dan liberalisasi yang berimplikasi pada pengurangan dan penghapusan berbagai hambatan dalam kegiatan perdagangan baik hambatan tarif (tarrief-barrier) maupun hambatan non tarif (non-tarrif barier=ntb). FTA atau Free Trade Area adalah suatu bentuk kerjasama ekonomi regional yang memperdagangkan produk-produk orisinal negara-negara anggotanya tidak dipungut bea masuk atau bebas bea masuk. Dengan kata lain, internal tariff antara negara anggota menjadi 0 persen, sedangkan masing-masing negara memiliki external tariff sendiri-sendiri. Contohnya AFTA (Asean Free Trade Area) yang diawali dengan CEPT (Common 13

Effective Preferential Tariff) yang mulai diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1993. Dampak dibukanya perdagangan bebas tidak hanya akan dirasakan oleh ekonomi negara-negara yang berdagang, namun juga akan dirasakan oleh perekonomian dunia secara keseluruhan. Dampak diliberalisasikannya perdagangan tersebut secara keseluruhan mengakibatkan kesejahteraan dunia menurun. Berdasarkan teori perdagangan internasional, perdagangan internasional seharusnya akan meningkatkan kesejahteraan negara-negara yang melakukan perdagangan bebas, karena melalui perdagangan bebas akan terjadi peningkatan efisiensi penggunaan sumberdaya domestik dan akses pasar ke negara lain (Stephenson, 1994). Namun demikian, secara umum terdapat beberapa variabel ekonomi dunia yang meningkat seperti investasi global barang-barang kapital, volume perdagangan dunia, dan indeks harga perdagangan dunia. Peningkatan arus perdagangan sebagai akibat dibukanya tarif seluas-luasnya mengakibatkan peningkatan aliran barang-barang kapital untuk investasi volume perdagangan dunia. Peningkatan investasi global ternyata diikuti dengan tingkat pengembalian kapital yang negatif sehingga secara keseluruhan akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan dunia. Custom Union. Anggota Custom Union tidak hanya mampu mengurangi atau menghilangkan tarif antara anggota, tapi juga mereka mempunyai tarif eksternal bersama terhadap negara yang bukan anggota Custom Union. Hal ini mencegah negara yang bukan anggota mengekspor ke negara anggota yang mempunyai tarif eksternal rendah. Common Market. Jika kerja sama meningkat di antara negara Custom Union, maka dapat terbentuk Common Market. Common Market menghilangkan semua tarif dan hambatan lain dalam perdagangan antara anggota, mengadopsi seperangkat tarif eksternal bersama pada negara bukan anggota, dan menghilangkan batasan-batasan pada aliran modal dan tenaga kerja antar negara anggota. 14

Monetary Union. Monetary Union berada pada level integrasi keempat dengan satu mata uang bersama antar negara. Contohnya Negara anggota European Union menggunakan mata uang bersama, Euro. Menurut Wild dan Wild (2000), tingkat integrasi ini juga disebut Economic Union karena juga melakukan harmonisasi kebijakan ekonomi negara anggota, seperti pajak, kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Political Union. Political Union merupakan puncak dari proses integrasi. Political Union dapat menjadi nama lain dari sebuah negara ketika union secara sungguh-sungguh mencapai tingkat integrasi. Terkadang, negara-negara yang berkumpul dalam Political Union antara lain adalah karena alasan sejarah, seperti British Commonwealth yang terdiri dari negara-negara yang pernah menjadi bagian oleh British Empire. Namun ketika British bergabung dengan European Union, perlakuan istimewa ini hilang. Sekarang kelompok ini hanya sebagai forum untuk diskusi dan ikatan sejarah yang sama. Integrasi ekonomi regional (termasuk FTA) akan memberikan dampak positif dan negatif terhadap perdagangan barang dan jasa dinegara-negara anggota FTA. Dampak positif dari integrasi ekonomi adalah (Hadi, 2000): 1. Trade Creation Dengan analisis partial equilibrium, trade creation adalah penggantian dimana produk domestik suatu negara yang melakukan integrasi ekonomi regional melalui pembentukan FTA dengan produk impor yang lebih murah dari anggota lain. Jika seluruh sumber daya digunakan secara full employment dan dengan melakukan spesialisasi berdasarkan comparative advantage, masing-masing negara akan memperoleh dampak positif berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat karena memperoleh barang dengan harga yang relatif lebih murah. 15

Px Sx 4 3 2 1 G A J H N B C M V U Z W 10 20 50 70 Dx S 1 +T S 1 Qx Gambar 2-1. Trade Creation Sumber: Salvatore, 2000 Efek positif dari trade creation ini bukan hanya berlaku untuk negara anggota, tetapi juga untuk negara lain yang bukan anggota karena adanya peningkatan spesialisasi produksi yang mendorong peningkatan impor dari negara lain (rest of the world). Terjadinya trade creation dapat diilustrasikan pada Gambar 2.1. (Salvatore, 2000). Dx dan Sx masing-masing merupakan kurva permintaan dan penawaran domestik untuk barang X dari negara II, sedangkan kurva S1 merupakan kurva penawaran yang elastis sempurna dalam keadaan free trade untuk barang X dari negara I ($1). Dengan mengenakan tarif bea masuk 100 persen, negara II mengimpor 30 unit barang X atau JH dari negara I, sehingga harga impornya menjadi $2 atau kurva S1 + T. Produksi domestik negara II sebanyak 20 unit barang X atau AM, sedangkan total konsumsi dalam negara II sebanyak 50 unit barang X atau GH. Kemudian negara I dan negara II membentuk integrasi ekonomi regional dalam bentuk FTA. Setelah membentuk FTA, negara II mengimpor 60 unit barang X atau CB dari negara tanpa bea masuk pada harga $1 (kurva S1). Produk domestik negara I turun menjadi 10 unit barang X atau CM dan total konsumsi naik menjadi 70 unit barang X atau AB. Dengan pembentukan FTA, maka : Penerimaan bea masuk untuk negara II akan hilang, Konsumen 16

domestik akan memperoleh transfer dari produsen domestik sebesar area AGJC yang merupakan kenaikan konsumen surplus, Manfaat lain yang diperoleh negara II setara dengan area CJM + area BHN, atau setara dengan $15. Konsensus yang lebih besar. Keuntungan untuk mengelimainasi hambatan perdagangan lebih mudah dilakukan pada kelompok negara-negara yang lebih kecil, seperti ASEAN dibandingkan dengan kelompok yang lebih besar seperti WTO. Kerjasama Politik. Secara politik terdapat keuntungan dari negara-negaa yang berintegrasi terutama dalam memperjuangkan kepentingan bersama di forum perundingan yang lebih besar seperti WTO. Integrasi ekonomi juga memberikan dampak negatif terhadap anggotanya. Wild dan Wild (2000) mengidentifikasi terdapat tiga dampak negatif yaitu trade diversion, pergeseran tenaga kerja, hilangnya kedaulatan nasional. 2. Trade Diversion Terjadinya pengalihan perdagangan dari negara yang tidak ikut serta dalam perjanjian perdagangan tapi lebih efisien ke negara yang ikut serta dalam perjanjian walaupun kurang efisien. Gambar 2.2 menunjukkan terjadinya trade diversion pada negara yang melakukan integrasi ekonomi. Sebagai contoh, Dx dan Sx merupakan kurva permintaan dan penawaran domestik untuk barang X dari negara II, sedangkan kurva S1 dan S3 merupakan kurva penawaran yang elastis sempurna dalam keadaan free trade untuk barang X dari negara I ($1) dan negara III ($1,5). Dengan mengenakan tarif bea masuk 100 persen, negara II mengimpor 30 unit barang X atau JH dari negara I sehingga harga impornya menjadi $2 atau kurva S1+T. emudian negara II membentuk integrasi ekonomi regional dalam bentuk FTA dengan negara III. Setelah pembentukan FTA, negara II mengimpor 45 unit barang X atau C B dari negara III yang bebas bea masuk pada harga $ 1,5 (kurva S3).Dengan pembentukan FTA maka : kesejahteraan / manfaat yang diperoleh negara II adalah sebesar segitiga C JJ + segitiga H HB, atau senilai $1,25 + $2,5 = $3,75 ; kesejahteraan / manfaat yang hilang dari negara II sebesar segiempat MNH J atau 17

senilai $15 ; kesejahteraan / manfaat neto yang hilang adalah sebesar $15 - $3,75 = $11,25 (Lihat Gambar 2.8.). Px Sx H 3 E 2 G J H S 1 +T 1,5 G C J H B S 3 1 10 M N Z 20 50 60 Dx Qx S 1 Gambar 2-2. Trade Diversion Sumber: Salvatore, 2000 Pergeseran tenaga kerja. Karena adanya kerjasama perdagangan mala produsen akan berproduksi ke negara yang lebih efisien. Sebagai contoh, untuk industri yang memerlukan tenaga kerja dengan tingkat ketrampilan yang rendah akan mengalihkan tempat produksinya ke negara anggota yang memiliki tingkat upah yang rendah. Hilangnya kedaulatan politik. Jika integrasi ekonomi sudah mencapai political union, maka suatu negara akan kehilangan kebebasan dalam menentukan politik luar negerinya sendiri. Sejauh ini, bentuk integrasi pada tingkat yang paling tinggi (political union) sulit untuk dicapai. 2.2. Teori Perdagangan Internasional Perdagangan merupakan suatu proses pertukaran barang dan jasa yang dilakukan atas dasar suka sama suka, untuk memperoleh barang yang dibutuhkan. Dalam masa globalisasi, perdagangan tidak hanya dilakukan dalam satu negara 18

saja. Bahkan dunia sudah memasuki perdagangan bebas. Hampir tidak ada satu negarapun yang tidak melakukan hubungan dengan negara lain (Dumairy, 1997). Dalam perdagangan domestik para pelaku ekonomi bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari aktivitas ekonomi yang dilakukannya. Demikian halnya dengan perdagangan internasional. Setiap negara yang melakukan perdagangan bertujuan mencari keuntungan dari perdagangan tersebut. Selain motif mencari keuntungan, Krugman (1991) mengungkapkan bahwa alasan utama terjadinya perdagangan internasional: 1. Negara-negara berdagang karena mereka berbeda satu sama lain. 2. Negara-negara melakukan perdagangan dengan tujuan untuk mencapai skala ekonomi (economic of scale) Menurut Tambunan (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan internasional dapat dilihat dari teori penawaran dan permintaan. Dari teori penawaran dan permintaan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa perdagangan internasional dapat terjadi karena adanya kelebihan produksi dalam negeri (penawaran) dengan kelebihan permintaan negara lain. Secara teoritis, suatu negara (misal negara A) akan mengekspor suatu komoditi (misal pakaian jadi) ke negara lain (misal negara B) apabila harga domestik negara A (sebelum terjadinya perdagangan internasional) relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan harga domestik negara B (gambar 1). Stuktur harga yang terjadi di negara A lebih rendah karena produksi domestiknya lebih besar daripada konsumsi domestiknya sehingga di negara A telah terjadi excess supply (memiliki kelebihan produksi). Dengan demikian, negara A mempunyai kesempatan menjual kelebihan produksinya ke negara lain. Dilain pihak, di negara B terjadi kekurangan supply karena konsumsi domestiknya lebih besar daripada produksi domestiknya (excess demand) sehingga harga yang terjadi di negara B lebih tinggi. Dalam hal ini negara B berkeinginan untuk membeli pakaian jadi dari negara lain yang relatif lebih murah. Jika kemudian terjadi komunikasi antara negara A dengan negara B, maka akan terjadi perdagangan antar keduanya dengah harga yang diterima oleh kedua negara adalah sama. 19

D A A S A ES DB S B X P B P A P* M ED B O Q A O Q* O Q B Negara A (ekspor) Perdagangan Internasional Negara B (impor) Keterangan: P A : Harga domestik di negara A (pengekspor) tanpa perdagangan internasional OQ A : Jumlah produk domestik yang diperdagangkan di negara A (pengekspor) tanpa perdagangan internasional A : Kelebihan penawaran (excess supply) di negara A (pengekspor) tanpa perdagangan internasional X : Jumlah komoditi yang diekspor oleh negara A P B : Harga domestik di negara B (pengimpor) tanpa perdangangan internasional. OQ B : Jumlah produk domestrik yang diperdagangkan di negara B (pengimpor) tanpa perdagangan internasional. B : Kelebihan permintaan (excess demand) di negara B (pengimpor) tanpa perdagangan internasional. M : Jumlah komoditi yang diimpor oleh negara B P* : Harga keseimbangan antara kedua negara setelah perdangangan internasional OQ* : Keseimbangan penawaran dan permintaan antar kedua negara dimana jumlah yang diekspor (X) sama dengan jumlah yang diimpor (M). Gambar 2-3. Kurva Perdagangan Internasional Sumber : Salvatore (1997) Gambar 2.3 memperlihatkan sebelum terjadinya perdangangan internasional harga di negara A sebesar P A, sedangkan di negara B sebesar P B. Penawaran pasar internasional akan terjadi jika harga internasional lebih tinggi dari P A sedangkan permintaan di pasar internasional akan jika harga internasional lebih rendah dari PB. Pada saat harga internasional (P*) sama dengan P A maka 20

negara B akan terjadi excess demand (ED) sebesar B. Jika harga internasional sama dengan P B maka di negara A akan terjadi excess supply (ES) sebesar A. Dari A dan B akan terbentuk kurva ES dan ED akan menentukan harga yang terjadi di pasar internasional sebesar P*. Dengan adanya perdagangan tersebut, maka negara A akan mengekspor komoditi (pakaian jadi) sebesar X sedangkan negara B akan mengimpor komoditi (pakaian jadi) sebesar M, dimana di pasar internasional sebesar X sama dengan M yaitu Q*. Konsep perdagangan bebas untuk pertama kali diperkenalkan oleh Adam Smith pada awal abad ke-19 dengan teori keunggulan absolut (absolute comparative). Teori Adam Smith kemudian disempurnakan oleh David Ricardo (1817) dengan model keunggulan komparatif (The Theory of Comparative Advantage). Berbeda dengan konsep keunggulan absolut yang menekankan pada biaya riil yang lebih rendah, keunggulan komparatif lebih melihat pada perbedaan harga relatif antara dua input produksi sebagai penentu terjadinya perdagangan. Menurut David Ricardo (Hady, 2001), perdagangan dapat dilakukan oleh negara yang tidak memiliki keunggulan absolut pada kedua komoditi yang diperdagangkan dengan melakukan spesialisasi produk yang kerugian absolutnya lebih kecil atau memiliki keunggulan komparatif. Hal ini dikenal sebagai Hukum Keunggulan Komparatif (Law of Comparative Advantage). Keunggulan komparatif dibedakan atas cost comparative advantage (labor efficiency) dan production comparative advantage (labor productivity). Asumsi yang digunakan (Salvator, 1997): a) Hanya terdapat dua negara dan dua komoditi b) Perdagangan bersifat bebas c) Terdapat mobilitas tenaga kerja yang sempurna di dalam negara namun tidak ada mobilitas antara dua negara. d) Biaya produksi konstan e) Tidak terdapat biaya transportasi f) Tidak ada perubahan teknologi Menurut teori cost comparative advantage (labor efficiency), suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan 21

spesialisasi produksi dan mengekspor barang di mana negara tersebut dapat berproduksi lebih efisien serta mengimpor barang di mana negara tersebut berproduksi relatif kurang atau tidak efisien. Berdasarkan analisis production comparative advatage (labor productivity) dapat dikatakan bahwa suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang di mana negara tersebut berproduski lebih produktif serta mengimpor barang di mana negara tersebut berproduksi relatif kurang atau tidak produktif. Dengan kata lain, cost comparative menekankan bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara memproduksi suatu barang yang membutuhkan sedikit jumlah jam tenaga kerja dibandingkan negara lain sehingga terjadi efisiensi produksi. Production comparative menekankan bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika seorang tenaga kerja di suatu negara dapat memproduksi lebih banyak suatu barang/jasa dibandingkan negara lain sehingga tidak memerlukan tenaga kerja yang lebih banyak. Dengan demikian keuntungan perdagangan diperoleh jika negara melakukan spesialisasi pada barang yang memiliki cost comparative advantage dan production advantage. Atau dengan mengekspor barang yang keunggulan komparatifnya tinggi dan mengimpor barang yang keunggulan komparatifnya rendah. Teori klasik Ricardo tersebut selanjutnya dikembangkan oleh Heckscher- Ohlin (H-O) dengan The Theory of Factor Proportions (1949 1977). Model H-O mengatakan bahwa walaupun tingkat teknologi yang dimiliki sama, perdagangan internasional akan tetap terjadi bila ada perbedaan kepemilikan faktor produksi (factor endowment) diantara masing-masing negara. Satu negara dengan kepemilikan kapital berlebih akan berspesialisasi dan mengekspor komoditi padat kapital (capital-intensive goods), dan sebaliknya negara dengan kepemilikan tenaga kerja berlebih akan memproduksi dan mengekspor komoditi padat tenaga kerja (labor-intensive goods). Pendekatan tentang perdagangan internasional untuk bisa memahami manfaat yang dapat diperoleh dari adanya perdagangan bisa dilakukan dengan 22

menggunakan dua pendekatan. Kedua pendekatan tersebut adalah: pendekatan keseimbangan parsial dan pendekatan keseimbangan umum. 2.2.1 Pendekatan Keseimbangan Parsial 2.2.1.1 Landasan Teori Pendekatan keseimbangan parsial menganalisis segala bentuk kebijakan perdagangan yang mendistorsi pasar di suatu pasar tertentu tanpa secara eksplisit memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi terhadap pasar-pasar lainnya. Salah satu penggagas pendekatan keseimbangan parsial untuk teori perdagangan internasional adalah Heckscher dan Ohlin. Model Heckscher Ohlin (H-O) didasarkan pada perbedaan kebutuhan input produksi dan perbedaan relatif kepemilikan faktor produksi. Kedua perbedaan ini merupakan alasan utama untuk terjadinya perdagangan internasional. Menurut teori H-O, suatu negara akan memproduksi dan mengekspor barang dengan menggunakan faktor produksi yang dimiliki secara melimpah, dan mengimpor barang yang untuk memproduksinya diperlukan faktor produksi yang kurang tersedia (langka) di dalam negeri. Model H-O juga dikenal sebagai model 2x2x2 karena asumsi-asumsi yang digunakannya, yaitu: 1. Ada 2 negara dengan kepemilikan factor produksi yang berbeda; 2. Ada 2 faktor produksi, yaitu: kapital atau modal, dan tenaga kerja; faktor input adalah homogen dan dapat berpindah-pindah antar industri di dalam negari tetapi tidak dapat berpindah ke negara lain. 3. Ada 2 jenis output yang berbeda dalam intensitas penggunaan input faktor dengan fungís produksi constant return to scale (CRS). Asumsi-asumsi lain yang digunakan dalam model H-O adalah pasar bersaing sempurna, tidak ada biaya transportasi, tidak ada perbedaan tingkat teknologi, dan konsumen di kedua negara memiliki preferensi yang sama. Dalam model H-O kepemilikan faktor (kapital dan tenaga kerja) akan menentukan jenis komoditi yang diproduksi dan diekspor serta komoditi yang harus diimpor oleh satu negara. Perbedaan kepemilikan faktor adalah dasar dari keunggulan komparatif yang dimiliki dua negara untuk melakukan perdagangan 23

yang saling menguntungkan. Perbedaan kepemilikan faktor produksi tersebut dihitung berdasarkan rasio antara kapital dengan tenaga kerja di masing-masing negara. Sebagai contoh: negara H dan F masing-masing memiliki 2 faktor produksi: K (kapital) dan L (tenaga kerja), dan setiap negara memproduksi komoditi X dan Y. Negara H dikatakan memiliki kapital melimpah apabila kapital per unit tenaga kerja di H lebih besar dibandingkan di F, atau K L H H > K F. Sebaliknya, F dikatakan memiliki tenaga kerja melimpah apabila tenaga kerja per unit kapitalnya lebih besar di bandingkan di H, atau L K F F > H L F L H. Dengan demikian, dapat dikatakan kapital relatif lebih murah di H sedangkan tenaga kerja relatif lebih murah di F. Selanjutnya apabila untuk menghasilkan komoditi Y diperlukan kapital yang lebih banyak (padat kapital), sedangkan untuk komoditi X diperlukan tenaga kerja yang lebih banyak (padat karya) maka dapat dikatakan H memiliki keunggulan komparatif untuk komoditi Y, dan F memiliki keunggulan komparatif komoditi X. Menurut model H-O, dengan perbedaan intensitas penggunaan faktor dan perbedaan kepemilikan faktor maka apabila kedua negara melakukan perdagangan, H akan berspesialisasi dalam produksi komoditi Y dan F berspesialisasi dalam produksi komoditi X. Keseimbangan perdagangan bebas pada model H-O dijelaskan dengan Gambar 2.4. K 24

Y NI PPF H P EXY H IM x H C H C F H I FT PPF F F I FT F IMY EX X F P F Gambar 2-4. Keseimbangan Perdagangan Bebas Pada Model H-O Sumber: Krugman dan Obstfeld (2000) Pada Gambar 2.4. di atas, H memiliki kapital berlebih yang ditunjukkan dengan kurva PPF H yang lebih mengarah ke produksi barang padat modal (Y). Sedangkan F memiliki tenaga kerja berlebih dengan kurva PPF F mengarah ke produksi barang padat tenaga kerja (X). yang lebih Dalam keseimbangan perdagangan bebas, kedua negara menghadapi rasio harga dunia yang sama, yaitu: P. P W X W Y Pada kesimbangan perdagangan bebas, tingkat produksi di negara H berada di titik P H yang merupakan titik singgung antara garis pendapatan nasional (NI) dengan kurva PPF H. Pendapatan nasional dinyatakan dengan persamaan: NI = P X. X + P Y. Y. Slope garis pendapatan nasional tersebut adalah sama dengan P rasio harga perdagangan bebas kedua komoditi: P di titik C H W X W Y. Jumlah konsumsi H adalah dimana kurva indiferen agregat I H FT bersinggungan dengan garis pendapatan nasional. Untuk mencapai tingkat konsumsi C H tersebut, H harus mengekspor komoditi Y sebesar H EX Y X dan mengimpor komoditi X sebesar H IM X. 25

Keseimbangan produsksi F berada di titik P F yang merupakan titik singgung antara garis pendapatan nasional dengan kurva PPF F. Slope dari garis pendapatan nasional juga merupakan rasio antara harga perdagangan bebas kedua barang: P. Sedangkan konsumsi terletak di titik C F yang merupakan titik P W X W Y singgung antara kurva agregat indifference F I FT dengan garis pendapatan nasional. Oleh karena diasumsikan bahwa kedua negara memiliki preferensi agregat yang homothetic dan rasio harga perdagangan bebas yang sama, maka konsumsi H dan F selalu terletak di sepanjang garis yang berawal dari titik 0 ke C. Untuk mencapai tingkat konsumsi di titik C F, F harus mengekspor komoditi X sebesar F EX X dan mengimpor komoditi Y sebesar F IM Y. Pada keseimbangan perdagangan bebas, jumlah ekspor H harus sama dengan jumlah impor F ( EX = H Y F IM Y ), dan jumlah ekspor F harus sama dengan jumlah impor H ( EX = F X H IM X ). Mengingat bahwa tingkat konsumsi kedua negara berada di kurva indiferen yang berada di luar (di atas) kurva PPF maka menurut model H-O perdagangan bebas akan memberikan keuntungan agregat bagi kedua negara. 2.2.1.2 Keuntungan yang diperoleh dari Pemberlakuan Tarif pada Pendekatan Keseimbangan Parsial Kebijakan tarif merupakan alat kebijakan perdagangan tradisional dan sederhana yang pada awalnya digunakan sebagai sumber pendapatan pemerintah. Kebijkan tarif selama ini diterapkan baik oleh negara kecil maupun negara besar. Negara kecil diartikan sebagai negara pengimpor dimana perubahan impornya tidak mempengaruhi harga di pasar dunia. Sebaliknya negara besar adalah negara pengimpor yang mampu mempengaruhi harga di pasar dunia. Perbedaan ini menyebabkan dampak terhadap perubahan tingkat kesejahteraan yang ditimbulkan oleh kebijakan tarif juga berbeda. Pada kasus negara kecil, kebijakan tarif akan menurunkan tingkat kesejahteraan nasional di negara pengimpor sedangkan kesejahteraan negara-negara lain (rest of world / RoW) tidak terpengaruh. Pada kasus negara besar, kebijakan tarif kemungkinan dapat meningkatkan kesejahteraan negara pengimpor tetapi merugikan kesejahteraan negara-negara 26

lain. Kesejahteraan negara pengimpor dapat meningkat apabila keuntungan dari adanya perbaikan terms of trade lebih besar dari kerugian yang disebabkan oleh inefisiensi produksi dan konsumsi. Yang dimaksud dengan terms of trade adalah rasio antara harga barang ekspor dengan harga barang impor, yang seringkali digunakan sebagai pendekatan (proxy) kesejahteraan sosial masyarakat di suatu negara. Analisis keseimbangan parsial dari kebijakan tarif pada negara besar dijelaskan pada Gambar 2.5. Pada perdagangan bebas, harga keseimbangan terjadi di titik P FT. Pada harga keseimbangan ini, tingkat permintaan domestik di negara pengimpor adalah D IM dan tingkat penawaran di titik S IM, sehingga terjadi kelebihan permintaan (excess demand) yang besarnya sama dengan jumlah impor, yaitu: (D IM S IM ). Di negara pengekspor, tingkat penawaran dan permintaan masing-masing adalah S EX dan D EX, sehingga terjadi kelebihan penawaran (excess supply) yang besarnya sama dengan jumlah ekspor, yaitu: (S EX D EX ). Importir Eksportir P D S P P T IM P P T EX ES(t) A B C D a b c d E F G H I J e f g h i P T EX D S S IM S T IM D T IM D IM Q D EX D T EX S T EX S EX Q Gambar 2-5. Analisis Keseimbangan Parsial Dampak Tarif Impor Negara Besar Pengenaan tarif impor akan menyebabkan harga barang impor dan barang substitusinya di pasar domestik naik dari P FT ke P T IM. Jika tarif yang dikenakan 27

adalah tarif spesifik, maka besarnya tarif adalah: T =, dan apabila tarif IM EX P T PT IM PT ad valorem maka besarnya adalah: T = 1 sehingga P IM EX T = P EX T (T + 1). P Pada harga P IM T jumlah konsumsi domestik menjadi berkurang dari D IM ke D IM T. Di lain pihak, kenaikan harga di pasar domestik tersebut direspon oleh produsen dengan meningkatkan produksi dari S IM ke S IM T. Dengan demikian, jumlah impor berkurang menjadi (D IM T S IM T ). Oleh karena diasumsikan bahwa negara pengimpor adalah negara besar yang dapat mempengaruhi harga pasar dunia, maka penurunan impor tersebut menyebabkan harga di pasar dunia (termasuk di negara pengekspor) menjadi turun ke P EX T. Penurunan harga ini menyebabkan produsen di negara pengekspor mengurangi produksi dari S EX menjadi S EX T dan sebaliknya tingkat konsumsi meningkat dari D EX ke D EX T. Kebijakan tarif impor dan pengaruhnya terhadap perubahan kesejahteraan di sajikan pada Tabel 2.1. Berdasarkan data pada tabel tersebut, kebijakan tarif menyebabkan konsumen di negara pengimpor kehilangan kesejahteraan (consumer loss) sebesar (A + B + C + D) yang disebabkan oleh kenaikan hargaharga barang impor dan barang substitusi di pasar domestik. Di lain pihak, karena harga barang di pasar domestik naik maka produsen memperoleh keuntungan (producer surplus) sebesar (A). Kebijakan tarif juga menguntungkan pemerintah karena memperoleh penerimaan sebesar (C + H). Perubahan kesejahteraan nasional bersih (netto) dihitung berdasarkan penjumlahan dari kerugian konsumen, keuntungan produsen dan penerimaan pemerintah. Perubahan kesejahteraan nasional tersebut terdiri dari tiga komponen, yaitu: 1. Efek positif terms of trade (H) disebabkan harga di pasar dunia turun; 2. Efek negatif dari distorsi produksi (B). Hal ini disebabkan kenaikan harga di pasar domestik mendorong produsen untuk memproduksi lebih banyak dari yang seharusnya; 3. Efek negatif dari distorsi konsumsi (D) yang disebabkan oleh berkurangnya tingkat konsumsi akibat kenaikan harga di pasar domestik. T 28

Tabel 2-1. Dampak Kebijakan Tarif terhadap Kesejahteraan Perubahan Kesejahteraan Negara Pengimpor Negara Pengekspor Surplus Konsumen - (A + B + C + D) + (e + f) Surplus Produsen + A - (e + f + g + h + i) Penerimaan Pemerintah + (C + H) 0 Kesejahteraan Nasional + H - (B + D) - (g + h + i) Kesejahteraan Dunia - (B + D) - (g + i) Oleh karena perubahan kesejahteraan nasional tersebut mengandung unsur positif dan negatif, maka kebijakan tarif yang dilakukan oleh negara besar kemungkinan dapat meningkatkan kesejahteraan nasional. Hal ini bergantung kepada tingkat tarif optimal, yaitu tingkat tarif yang dapat memaksimumkan hasil H (B + D). Di negara pengekspor, konsumen memperoleh keuntungan sebesar (e + f) akibat dari penurunan harga di pasar dunia sehingga tingkat konsumsi bertambah. Sedangkan bagi produsen, turunnya harga tersebut menyebabkan kerugian sebesar (e + f + g + h + i). Secara keseluruhan, kebijakan tarif tersebut akan menurunkan tingkat kesejahteraan nasional di negara pengekspor sebab kerugian yang dialami produsen lebih besar dari keuntungan yang diperoleh konsumen. Pada tingkat dunia, kebijakan tarif oleh negara besar akan menyebabkan turunnya tingkat efisiensi produksi dan konsumsi dunia sebesar (B + D) + (g + i) atau dengan kata lain mengurangi kesejahteraan masyarakat internasional. 2.2.2 Pendekatan Keseimbangan Umum Teori keseimbangan umum pertama kali dikembangkan oleh Leon Walras pada abad ke-19. Walras menyusun model keseimbangan pasar kompetitif pada sebuah sistem ekonomi pertukaran (exchange economy), dimana tidak terdapat kegiatan produksi. Dengan demikian, semua agen ekonomi adalah para konsumen sehingga aggregat supply adalah sama dengan agregrat endowment yang dimiliki konsumen. Pada pendekatan keseimbangan umum, perubahan dalam suatu pasar 29

akan berakibat perubahan pula di pasar lainnya. Pendekatan ini memperlakukan pasar sebagai suatu sistem. 2.2.2.1 Landasan Teori Secara sederhana teori keseimbangan umum dapat dijelaskan dengan menggunakan model ekonomi dua pasar. Dengan model ini dimisalkan, ketika pemerintah negara A mengenakan pemberlakukan kebijakan tarif pada produk X 1, maka harga relatif produk tersebut di domestik akan meningkat. Kenaikan harga relatif ini mendorong produsen domestik untuk meningkatkan produksi X 1 dan mengurangi produksi X 2. Bersamaan dengan itu, faktor produksi seperti tenaga kerja akan berpindah ke industri yang menghasilkan X1. Dalam keseimbangan parsial kejadian di industri lain tidak terlihat, padahal dengan mengasumsikan perekonomian berada dalam keadaan tenaga kerja penuh (full employment), maka produksi X 2 akan menurun. Contoh lain adalah ketika impor negara A menurun karena pengenaan tarif. Negara lain yang menerima dampak penurunan impor negara A tersebut akan menurun penerimaannya sehingga kemampuan mengimpornya juga akan turun. Dampaknya adalah ekspor negara A akan mengalami penurunan juga. Tarif impor bisa menimbulkan berbagai dampak ekonomi. Untuk melakukan cara-cara yang komprehensif dalam melihat dampak tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan analisis keseimbangan umum. Berikut akan dijelaskan dampak distorsi perdagangan internasional dengan menggunakan pendekatan keseimbangan umum. Secara grafis, terjadinya perdagangan antara dua negara, dapat dijelaskan melalui Gambar 2.6. Model ini merangkum seluruh informasi mengenai produksi, konsumsi, dan perdagangan antar kedua negara dalam kondisi keseimbangan (equilibrium) menjadi satu diagram yang utuh. Blok-blok produksi dari negara 1 dan 2 digabungkan pada satu tempat yang terpusat di titik E*, dimana kurva tawarmenawar antara kedua negara saling berpotongan. 30

Gambar 2-6. Proses Terjadinya Perdagangan Antara Dua Negara 120 Y III E 100 80 60 Negara 1 E 1 P B =P B =1 2 40 20 X 0 60 40 20 20 20 40 60 80 100 120 140 40 Negara 2 X 60 E 80 Y Sumber: Salvatore (2000) III Untuk menyederhanakan analisis, ansumsi-asumsi yang dipergunakan dalam pembahasan ini adalah: (1) hanya ada dua negara di dunia, yaitu negara A dan negara B atau gabungan negara-negara lainnya (rest of world atau ROW), (2) hanya terdapat dua produk dalam perdagangan, (3) pasar berada dalam kondisi persaingan sempurna, dan (4) perekonomian berada dalam kondisi full employment. Setelah perdagangan berlangsung, negara 1 akan memproduksi 130X dan 20Y (titik E yang identik dengan titik E*). Negara tersebut akan mengkonsumsi 70X dan 80Y (juga ditunjukkan oleh titik E yang sama namun ditarik dari pusat sumbu atau 0), sedangkan 60X dan 60Y sisanya akan diperdagangkan dengan negara 2. Sementara itu negara 2 memproduksi 40X dan 120Y (titik E yang juga identik dengan titik E*). Negara 2 31

mengkonsumsi 100X dan 60Y (juga disimbolkan oleh titik E yang sama namun mengacu pada pusat sumbu atau 0), sementara sisanya akan diperdagangkan dengan negara 1. Perdagangan internasional akan berada dalam kondisi equilibrium bila kedua negara saling mempertukarkan 60X dan 60Y berdasarkan harga relatif P B =1 yang ditunjukkan oleh titik perpotongan antara kurva tawar menawar negara 1 dan negara 2 atau titik E*. Harga relatif komoditi dalam kondisi keseimbangan tersebut adalah P B =1. Harga relatif itu pulalah yang berlaku dalam transaksi domestik di masing-masing negara. Dengan demikian produsen, konsumen, dan pedagang di kedua negara akan melakukan transaksi atas dasar harga relatif yang sama. Titik E yang terletak pada kurva indiferen III milik negara 1 itu mengukur tingkat konsumsinya dari pusat sumbu atau 0, sedangkan titik E yang sama pada blok produksi negara 1 mengukur besar kecilnya produksi dari titik E. Secara teoritis, sebagaimana pemikiran kaum klasik maupun neo-klasik, sistem perdagangan bebas antar negara akan dapat menciptakan manfaat yang maksimal. Namun demikian, mekanisme pasar tidak selalu berjalan secara sempurna. Kenyataan menunjukkan bahwa seringkali terdapat campur tangan (intervensi) pemerintah yang berakibat pada munculnya distorsi pasar. Beberapa bentuk intervensi yang sering ditemukan antara lain adalah berupa pemberlakuan tarif impor, pemberian subsidi ekspor, dan berbagai bentuk domestik support lainnya yang semuanya berdampak pada munculnya distorsi pasar. Berikut ini akan dijelaskan mengenai pemberlakuan intervensi yang mendistorsi pasar tersebut. 2.2.2.2 Pemberlakuan Tarif Tarif adalah pajak atau bea yang dikenakan terhadap suatu produk yang masuk atau keluar dari suatu negara. Tarif yang dikenakan terhadap produk yang diimpor disebut tarif impor, sedangkan tarif yang dikenakan terhadap produk ekspor disebut dengan tarif ekspor. Secara teoritis, pajak yang berasal dari tarif 32

memberikan pemasukan bagi pemerintah. Banyak negara yang mengandalkan tarif sebagai salah satu sumber penerimaan negara. Dampak pemberlakuan tarif bisa berbeda antara negara. Pada negaranegara kecil yang tidak mampu mempengaruhi harga dunia, penerapan tarif hanya akan merubah harga di negara tersebut, sementara harga dunia tidak mengalami perubahan. Sebaliknya, pada kasus negara besar, penerapan tarif akan mampu mempengaruhi harga dunia. Berikut ini akan dijelaskan mengenai dampak pemberlakuan tarif impor pada kasus negara kecil dan kasus negara besar. Tarif Impor Pada Kasus Negara Kecil Negara kecil didefinisikan sebagai negara yang tidak mampu mempengaruhi harga dunia, sehingga TOT dunia tidak mengalami perubahan sekalipun negara kecil tersebut melakukan perubahan kebijakan perdagangannya. Di dalam keseimbangan perdagangan bebas, yang mengasumsikan hanya ada dua komoditi misalkan makanan dan pakaian, negara A akan memaksimumkan kesejahteraannya dengan berproduksi pada titik dimana rasio dari marginal cost (MC) domestiknya sama dengan rasio nilai tukar dunia. Negara tersebut akan melakukan perdagangan untuk mencapai kemungkinan kurva indiferen yang paling tinggi. Keseimbangan perdagangan bebas seperti itu ditunjukkan oleh Gambar 2.4, dengan rasio harga dunia ditunjukkan oleh slope TT, produksi berada pada titik P1, dan konsumsi pada titik C1. TT bersinggungan dengan kurva indiferen i2, negara A mengekspor pakaian dan mengimpor makanan. Jika negara A menetapkan tarif pada impor makanannya, dampak pertamanya adalah meningkatnya harga domestik makanan, yang menyebabkan divergensi antara rasio nilai tukar domestik dan rasio nilai tukar dunia. Akibatnya rasio nilai tukar domestik menjadi sama dengan slope DD, lebih landai dari TT, yang menunjukkan suatu harga relatif yang lebih tinggi untuk makanan. Tarif tersebut merubah rasio harga domestik dan rasio harga eksternal. Secara geometrik hal ini terlihat sebagai sudut antara dua garis harga. Harga makanan yang lebih tinggi menyebabkan perusahaan mengembangkan produksi makanan dan mengurangi produksi pakaian. Titik produksi berpindah ke P2, dimana garis harga domestik (DD) merupakan tangen terhadap kurva kemungkinan produksi. 33

Dengan asumsi bahwa rasio harga dunia tetap tidak berubah, perdagangan internasional terjadi sepanjang garis P 2 C 2 (pararel terhadap TT). Keseimbangan baru pada konsumsi dicapai ketika dua kondisi terpenuhi: Pertama, garis harga domestik, EE, yang slopenya sama dengan rasio harga domestik, merupakan tangen terhadap suatu kurva indiferen i 1, Kedua, garis harga dunia, P 2 C 2, memotong kurva indiferen komuniti pada titik tangennya dengan garis harga domestik, EE. Kedua kondisi ini terpenuhi pada titik C2 pada Gambar 2.7. Secara teknis, kondisi pertama menjamin bahwa MRS pada konsumsi menyamai rasio harga domestik yang dihadapi konsumen; kondisi kedua memenuhi persaratan bahwa rasio harga domestik berbeda dari rasio harga dunia. Pada keseimbangan baru, negara A terus mengekspor pakaian dan mengimpor makanan tetapi dalam jumlah yang lebih kecil dari sebelumnya. Tarif telah mendorong produksi makanan dan mengurangi ketergantungan negara A terhadap makanan impor. Tarif juga telah mengurangi output domestik berupa ekspor pakaian dan mengurangi kesejahteraan sebagaimana diindikasikan oleh pergerakan kurva indifferent yang lebih rendah, dari i2 ke i1. Jadi, baik dengan menggunakan pendekatan keseimbangan umum maupun keseimbangan parsial, kebijakan tarif pada kasus negara kecil berdampak pada berkurangnya kesejahteraan nasional. 34

T C 1 T E Makanan F D C 2 i 1 i 2 P 2 E P 1 D 0 G T Pakaian Gambar 2-7. Dampak Tarif Pada Model Keseimbangan Umum untuk Kasus Negara Kecil Sumber: Dunn (2000) Tarif Impor Pada Kasus Negara Besar Negara besar diasumsikan sebagai negara yang mampu mempengaruhi harga dunia. Artinya, bila negara tersebut mengenakan tarif terhadap suatu komoditi impornya, maka kebijakan tersebut akan berdampak pada perubahan rasio harga dunia oleh karena itu TOT akan berubah. Untuk menjelaskan dampak kebijakan tarif pada kasus negara besar, digunakan contoh yang sama dengan yang diterapkan pada kasus negara kecil. Anggap bahwa negara A mengenakan pajak pada makanan impor. Dampak dari dikenakannya tarif adalah harga makanan dunia turun secara relatif terhadap harga pakaian. Pada kondisi ini, untuk suatu tingkat tarif ad valorem tertentu, harga domestik makanan tidak akan 35

meningkat setinggi sebelumnya. Jadi pergeseran dalam produksi akan menjadikannya lebih kecil. Kita ilustrasikan hasil ini pada Gambar 2.8. dimana kondisinya adalah sama dengan kasus yang baru dijelaskan kecuali bahwa tarif sekarang menyebabkan rasio harga dunia berubah dari kemiringan garis TT ke kemiringan garis P3C3. Produksi terjadi pada P3. Garis tersebut memeliki proporsi yang sama dengan sebelumnya, karena diukur berdasarkan size of the wedge. Perdagangan internasional sekarang terjadi pada rasio harga (sepanjang garis P3C3). Keseimbangan baru konsumsi dicapai pada titik C, yaitu saat tarif-garis yang mendistorsi harga domestik yang merupakan tangen dari suatu kurva indiferen, dan garis harga dunia juga bersinggungan dengan titik singgung ini. T Rasio harga dunia setelah tarif C 1 T C 23 i 2 i 1 Makanan F P 2 Rasio harga domestik P 1 Rasio harga dunia sebelum tarif 0 Pakaian G T Gambar 2-8. Dampak Tarif Pada Model Keseimbangan Umum untuk Kasus Negara Besar Sumber: Dunn (2000) 36

Sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2.8, negara A mencapai suatu kurva indiferen yang lebih tinggi disebabkan oleh tarif. Kondisi ini tidak dapat dihindari. Responnya tergantung pada besarnya perubahan dari rasio harga dunia. Dapat diartikan bahwa negara A mendapatkan keuntungan dari tarif ketika keuntungannya dari perbaikan TOT melebih kerugiannya dari penggunaan sumberdaya domestik yang kurang efisien. Berapa besar perbaikan dari TOT, tergantung kepada elastisitas permintaan dan penawaran domestik dan luar negeri. Keuntungan lainnya adalah adanya kerugian yang akan diterima ROW (negara lainnya). Jika negara-negara lain melakukan secara bersama-sama, mereka dapat membalas dengan mengenakan tarif mereka sendiri, sehingga menyebabkan TOT bergeser kembali kebelakang. TOT dapat bergeser ke rasio perdagangan bebas (bukan hasil yang diperlukan), tetapi perdagangan dunia berkurang dan demikian juga kesejahteraan dunia. Persetujuan perdagangan secara bersama, membalikkan pengurangan tarif timbal balik akan menguntungkan kedua negara. 2.3. Teori Perdagangan Intra Industri Perdagangan internasional yang dikenal luas adalah perdagangan komoditas dari sektor/industri yang berbeda, atau disebut juga dengan interindustry trade. Inter-industry trade terjadi berdasarkan teori keunggulan komparatif dimana negara yang memiliki keunggulan komparatif pada komoditas tertentu akan mengekspor komoditas tersebut dan mengimpor komoditas yang negara tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif. Keunggulan kompartif, menurut Hecksher Ohlin dapat disebatkan oleh perbedaan endowment yang dimiliki suatu negara diman negara yang memiliki keberlimpahan tenaga kerja akan mengekspor komoditas yang intensif menggunakan tenaga kerja sedangkan negara yang memiliki keberlimpahan barang modal akan mengespor komoditas yang intensif menggunakan barang modal. Misalkan Timur Tengah yang memiliki kelimpahan barang modal mengekspor barang-barang padat modal seperti pesawat terbang, sedangkan Indonesia yang keberlimpahan sumber daya alam mengekspor komoditas yang padat sumber daya alam seperti migas dan mineral. 37

Sehingga perdagangan antara dua negara ditandai dengan perdagangan komoditas yang berbeda. Pada masa kini, perdagangan internasional antara dua negara tidak hanya diakibatkan oleh perbedaan antara kedua negara tersebut. Perdagangan dua negara tidak lagi sebatas perdagangan komoditas yang berbeda. Suatu negara dapat mengekspor barang tertentu dan sekaligus mengimpor barang yang sama. Misal Meksiko mengekspor mobil ke Indonesia dan Indonesia mengekspor mobil ke Meksiko. Contoh lain, Indonesia mengekspor pakain jadi seperti batik dan tenuan ke Timur Tengah dan mengimpor pakaian jadi dari Timur Tengah. Dengan demikian, antara Indonesia dan Timur Tengah terjadi perdagangan dalam industri yang sama (Intra Industry Trade). Pengertian perdagangan intra industri adalah perdagangan di dalam industri yang sama. Teori perdagangan intra industri masuk kategori teori perdangan baru (new trade theory). Paul Krugman adalah salah satu tokoh ekonomi yang mendalami teori ini (Koo dalam Aprilianda, 2007). Apabila teori perdagangan neoklasik menyatakan penyebab timbulnya perdagangan karena adanya spesialisasi yang didasarkan perbedaan ketersediaan faktor produksi dan teknologi (keunggulan komparatif), maka dalam teori perdagangan intra industri perdagangan tetap terjadi antarnegara yang memiliki keunggulan komparatif yang relatif sama. Perdagangan intra industri lebih didasarkan pada differensiasi produk dan economies of scale serta mencakup perdagangan dua arah dalam industri yang sama. Perdagangan intra industri menjadi penting ketika tariff dan non tariff barrier dihapuskan pada arus perdagangan antarnegara. Disamping itu perdagangan intra industri memberikan keuntungan (gain) yang lebih besar, sebagai contoh konsumen mempunyai lebih banyak pilihan karena differensiasi produk dan harga yang lebih murah karena meningkatnya economies of scale. Intra Industry Trade dimungkinkan karena adanya skala ekonomis yang berarti biaya produksi rata-rata menjadi lebih murah. Dengan demikian, output dapat lebih tinggi dibandingkan bila tidak ada intra-industry-trade. Skala ekonomis dan 38

spesialisasi dalam suatu indstri tertentu akan mendorong inovasi dalam perusahaan. Inovasi akan membuat biaya produksi menjadi lebih rendah. Terdapat 2 (dua) alasan terjadi perdagangan intra industri yaitu pertama, differensiasi produk. Pada perekonomian modern sebagian besar produk yang dihasilkan adalah produk yang terdifferensiasi. Produk yang terdifferensiasi adalah produk yang jenisnya sama atau dihasilkan dalam industri yang sama tetapi berbeda secara kualitas dan atau preferensi. Dalam perdagangan internasional terjadi perdagangan produk-produk yang terdifferensiasi. Atau dapat dinyatakan bahwa sebagian besar perdagangan internasional merupakan perdagangan intra industri. Kedua, economies of scale. Motif perdagangan intra industri adalah memperoleh keuntungan dari adanya economies of scale. Dalam hal ini persaingan internasional memaksa setiap perusahaan untuk membatasi model atau tipe produknya agar dapat berkonsentrasi memanfaatkan sumberdayanya untuk menekan biaya produksi per unit sehingga dapat menghasilkan beberapa jenis produk saja tentunya dengan kualitas terbaik dan harga dapat bersaing dari produk lainnya. Disisi lain kebutuhan konsumen akan produk atau tipe lain dipenuhi melalui impor dari negara lain. Intra industry trade (IIT) index yang umum digunakan adalah Grubel- Lloyd Index dengan rumus: IIT = ( X + M ) X M X M x or 1 ( X + M ) ( X + M ) 100 x100 Dimana: X = ekspor M = impor Nilai Grubel Lloyd index berkisar 0-100. Jika jumlah yang diekspor sama dengan jumlah yang diimpor untuk suatu produk, maka indeksnya akan bernilai 100. Sebaliknya apabila perdagangan suatu negara hanya melibatkan satu pihak saja (ekspor atau impor saja) maka nilai indeksnya adalah 0. 39

Tabel 2-2. Klasifikasi dari nilai IIT (Austria, 2004) Intra Industri Trade Klasifikasi 0.00 No integration (one way trade) >0.00 24.99 Weak integration 25.00 49.99 Mild Integration 50.00 74.99 Moderately strong integration 75.00 99.99 Strong integration Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif di suatu wilayah adalah metode RCA. Alasan yang mendukung pendekatan ini adalah bahwa arus pertukaran barang antar negara yang sesungguhnya terjadi merupakan cerminan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh suatu negara. Pola pendekatan tidak hanya menggambarkan biaya untuk memproduksi komoditi tersebut, tetapi juga perbedaan faktor-faktor non harga yang menentukan keunggulan komparatif suatu produk. Pada dasarnya metode ini mengukur kinerja suatu komoditi tertentu dengan ekspor total suatu tempat dibandingkan dengan pangsa komoditi tersebut dalam perdagangan dunia. 2.4. Teori Keunggulan Komparatif: RCA (Revealed Comparative Advantage) Analisis keunggulan komparatif RCA diperkenalkan pertama kali oleh Bela Balassa pada tahun 1965 dalam penelitian tentang pengaruh liberalisasi perdagangan luar negeri terhadap keunggulan komparatif hasil industri Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara yang tergabung dalam pasar bersama Eropa (MEE) serta pada tahun 1977 untuk negara yang sama ditambah Kanada dan Swedia. Pada mulanya Balassa menggunakan dua konsep pemikiran, pertama: didasarkan pada rasio impor dan ekspor, dan yang kedua: pada prestasi ekspor relatif. Dengan alasan bahwa impor lebih peka terhadap tingkatnya perlindungan tariff, dan pada perkembangan selanjutnya Balassa meninggalkan ukuran yang pertama. Balassa mengevaluasi prestasi ekspor masing-masing komoditi di negara-negara tertentu dengan membandingkan bagian relatif ekspor suatu negara dalam ekspor dunia untuk masing-masing dalam rumus sebagai berikut: 40

RCA = ( X ij ( W j X W t t ) ) Dimana: X ij X t W j Wt = nilai ekspor komoditi j negara i = nilai ekspor total (komoditi j dan lainnya) dari negara i = nilai ekspor komoditi j di dunia = nilai ekspor total dunia Jika RCA > 1 maka negara tersebut lebih berspesialisasi produksi di kelompok komoditi yang bersangkutan. Wilayah tersebut memiliki keunggulan komparatif pada komoditi tersebut. Semakin besar nilai RCA, maka semakin kuat keunggulan komparatif yang dimilikinya. Jika RCA < 1 maka sebaliknya wilayah tersebut tidak memproduksi komoditi dimaksud untuk tujuan ekspor karena tidak ada daya saing dan dapat mengganggu efisiensi produksi. 2.5. Indeks Komplementer Perdagangan (Trade Complementary Indeks/TCI) Menurut Anderson dan Norheim(Garnaut, 1994:128), dalam konteks kebijakan preferensi perdagangan suatu negara di suatu wilayah (region), indeks intensitas perdagangan adalah indikator yang lebih baik daripada analisis persentase perdagangan intra regional terhadap nilai perdagangan wilayah. Namun indeks tersbeut dianggap kurang mempertimbangkan fakta bahwa komoditaskomoditas yang diperdagangkan tidaklah dapat saling disubstitusi, untuk itu Drysdale (1994; 25) menyempurnakan Indeks intensitas Perdagangan dengan mengembangkan indeks perdagangan yang lain salah satunya Indeks Komplementer (Complementary Index /IK). Indeks komplementer adalah indeks yang mengukur perbandingan jumlah persentase kontribusi tiap komoditas ekspor dalam kerangka hubungan dagang bilateral antara suatu negara dengan negara/wilayah lain, dengan kondisi perdagangan komoditas-komoditas tersebut dilingkup dunia. Formula untuk menghitung indeks komplementer perdagangan adalah sebagai berikut: 41

Dimana 2.6. Tinjauan Penelitian Terdahulu Penelitian Oktaviani et al kerjasama Kemitraan dan Bappenas (2008) berjudul Consultancy and Training Services to Develop Quantitative Analytical Tools and Framework for Assessing Investment and Trade Competitiveness dengan metode analisis RCA, Export Produk Dinamik, CMSA dan CGE menunjukkan selama periode tahun 2000-2006 nilai ekspor Indonesia tumbuh sebesar 10.76 persen pertahun, nilai ini lebih rendah secara relatif dibandingkan Cina (23.61 persen). Terdapat 194 komoditas Indonesia yang memiliki nilai RCA lebih dari 1 dan tingkat pertumbuhan ekspor yang positif. Berdasarkan matriks ekspor produk dinamik kategori komoditas ekspor dalam kuadran rising star adalah komoditas pertanian dan agroindustri. Berdasarkan market destinatination Indonesia, Malaysia, Thailand dan Cina memiliki kesamaan dalam penetrasi pasar, dimana seluruh negara tersebut berorientasi pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, dan Cina. Berdasarkan CMSA pertumbuhan ekspor Indonesia dipengaruhi efek pertumbuhan impor dan efek komposisi komoditas. Rendahnya daya saing investasi Indonesia dipengaruhi oleh infrastruktur seperti sedikitnya jalan yang sudah diaspal, sambungan telepon dan koneksi internet yang minim, dan rendahnya konsumsi listrik. Faktor fundamental seperti share hutang luar negeri terhadap GDP dan tingkat inflasi sangat berpengaruh terhadap daya saing investasi di Indonesia. Hasil model CGE menunjukkan bahwa kenaikan harga komoditas pangan dunia akan memberikan dampak negatif bagi kondisi makroekonomi Indonesia. 42

Pendapatan Nasional akan menurun disertai dengan peningkatan inflasi karena sebagian besar komoditas yang mengalami kenaikan adalah komoditas impor misal animal vegetable oil dan palm oil. Penelitian Oktaviani, et al kerjasama dengan Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan (2007) menggunakan alat analisis IIT dan GTAP menunjukkan hasil terjadi integrasi yang tinggi pada komoditi manufaktur antara ASEAN-5 dengan negara Cina dan Korea. Komoditi pertambangan terutama untuk negara Indonesia lebih banyak terjadi one way trade atau nilai IIT bernilai 0. Pada kelompok lainnya, yaitu kelompok komoditi pertanian primer secara umum belum mampu bersaing menghadapi pasar bebas. Nilai IIT yang relatif rendah dari angka maksimal 100 yang menunjukkan integrasi yang tinggi antar kedua wilayah menunjukkan ketidakmampuan dayasaing produk pertanian primer Indonesia tersebut. Beberapa sub sektor kemungkinan dapat dikembangkan mengingat memiliki nilai IIT yang cukup, seperti komoditi pertanian lainnya yang mencapai nilai IIT lebih dari 60. Integrasi yang tinggi menunjukkan kedekatan perdagangan di antara negara-negara di kawasan tersebut. Jika dilihat fokus pada sektor pengolahan pertanian, maka komoditi minyak nabati terutama produk CPO (Crude Palm Oil) serta turunannya merupakan produk andalan Indonesia. Malaysia dan Indonesia menempati urutan pertama dan kedua di dunia untuk eskpor CPO dan turunannya. Secara keseluruhan dampak makro ekonomi FTA dalam Skema ASEAN- Cina maupun ASEAN-Korea meningkatkan total GDP negara-negara ASEAN-5 walaupun relatif kecil. Peningkatan GDP lebih banyak didorong oleh pengeluaran/konsumsi masyarakat yang lebih tinggi. Peningkatan GDP yang disebabkan oleh peningkatan investasi relatif kecil. Hal ini tentunya kurang baik apabila dilihat dalam perspektif jangka panjang. Penelitian Hibah Kompetensi Okatviani, Widyastutik, dan Novianti (2008-2009) pada tahun pertama menunjukkan secara umum komparasi derajat integrasi dan dinamika perdagangan cross-country antara Indonesia-Meksiko dan Indonesia-Timur Tengah (Turki, Tunisia, dan Maroko) yang ditunjukkan oleh nilai Intra Industry Trade (IIT) dan Constant Market Share Analysis (CMSA) 43

memperlihatkan performa yang lebih baik dengan Meksiko dan Turki sebagai partner countries. Pasar Meksiko dan Turki dijustifikasi sebagai pasar tujuan ekspor yang paling potensial bagi produk ekspor utama dan potensial Indonesia. Kesamaan level teknologi proses produksi dan relasi diplomasi yang erat disinyalir menjadi faktor-faktor yang mampu menstimulasi pola perdagangan. Peluang Indonesia dalam aplikasi konsep perdagangan bebas (FTA) bilateral akan menjadi lebih besar dengan Meksiko dan Turki, apabila dibandingkan dengan Tunisia dan Maroko. Jalinan kerjasama dan integrasi perdagangan yang telah terbangun antara Indonesia-Meksiko, dan Indonesia-Turki tersebut dapat berkembang menjadi suatu pondasi perdagangan bebas bilateral. Oleh karena itu dalam pembahasan selanjutnya untuk membahas tujuan kedua akan difokuskan pada FTA Indonesia-Meksiko dan FTA Indonesia-Timur Tengah, dimana negara Timur Tengahnya adalah Negara Turki. Pendalaman komparasi pola perdagangan cross-product antara Indonesia dan seluruh negara terpilih menunjukkan bahwa produk dengan derajat interasi tertinggi pada setiap pola perdagangan heterogen (Oktaviani, et. al, 2008). Kapas menjadi produk dengan keeratan perdagangan terkuat antara Indonesia-Meksiko dengan besaran 98.85. Pola perdagangan Indonesia-Timur Tengah (Turki) didominasi oleh Impregnated, coated, cover/laminate (sebagai salah satu sub produk dalam kelompok tekstil dan produk tekstil) dengan nilai IIT 92.37. Implikasi penelitian yang telah dilakukan pada tahun pertama (Oktaviani, et al, 2008) memberikan ruang lingkup baru bagi lanjutan penelitian di tahun kedua, dimana representatif mitra dagang di kawasan Timur Tengah hanya akan dilakukan untuk Negara Turki. Selanjutnya pada tahun kedua, model CGE multi negara dan multi sektor (GTAP, Global Trade Analysis Project) digunakan untuk menganalisis dampak FTA Indonesia-Turki dan Indonesia Meksiko terhadap peubah ekonomi makro (kesejahteraan (equivalent variation), neraca perdagangan (trade balance), TOT, GDP riil, GDP deflator, pengeluaran pemerintah, konsumsi swasta, dan investasi) dan ekonomi sektoral (output, harga, ekspor, impor dan tenaga kerja sektoral). Hasil penelitian tahun kedua menunjukkan secara makro FTA Indonesia-Turki meningkatkan kesejahteraan Indonesia, Turki dan Maroko. GDP riil Indonesia, 44

Turki dan ROA (Rest of ASEAN) meningkat sangat kecil disebabkan aliran perdagangan kedua negara sangat kecil sehingga turunnya tariff (yang juga sudah kecil) tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan perdagangan kedua negara. Persetujuan untuk meliberalisasi perdagangan mendorong adanya reformasi regulasi, minimisasi resiko ketidakpastian dalam berusaha, dan perbaikan iklim investasi kedua Negara secara keseluruhan. Indonesia sebagai pemain kunci dalam skema tersebut mendapatkan manfaat berupa peningkatan investasi yang paling besar. Sedangkan secara sektoral menunjukkan komoditi tekstil, minyak hewani dan nabati, peralatan elektronik serta Plant-based fibers yang mengalami peningkatan output akibat FTA Indonesia-Turki. Peningkatan ouput mendorong peningkatan ekspor dan permintaan tenaga kerja baik terdidik maupun tidak terdidik di sektor-sektor tersebut kecuali di industri elektronik. Sementara itu komoditi yang mengalami penurunan output secara umum juga mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja (tidak terdidik) seperti komoditi paper products, publishing; petroleum, coal products dan chemical,rubber,plastic products. Pada skema FTA Indonesia-Meksiko, liberalisasi tarif berdampak pada peningkatan kesejahteraan Indonesia dan Meksiko, Canada dan Negara Amerika Utara lainnya serta negara-negara yang tergabung dalam MENA (Egypt, Maroko, Tunisia, Asia Barat Lainnya, dan Afrika Utara lainnya). GDP riil Indonesia mengalami peningkatan tertinggi. Sementara Meksiko merupakan negara yang mengalami penurunan GDP riil tertinggi disusul kemudian Amerika Serikat, dan Amerika Utara lainnya. Peningkatan GDP deflator mengakibatkan komoditas Indonesia kurang dapat bersaing di pasar internasional sehingga peningkatan peningkatan impor lebih besar dibandingkan peningkatan ekspor atau neraca perdagangan negatif. Dampak FTA Indonesia-Meksiko secara sektoral menunjukkan peningkatan output terjadi pada komoditi wearing apparel, tekstil, mesin dan peralatan mesin serta sektor pedagangan. Hasil simulasi menunjukkan adanya konsistensi antara dampak FTA terhadap output dengan ekspor. Komoditi yang mengalami peningkatan output juga mengalami peningkatan ekspor. Demikian halnya dengan komoditi yang mengalami penurunan output, ekspornya 45

pun mengalami penurunan. Peningkatan jumlah tenaga kerja (kesempatan kerja) dialami pada sektor-sektor yang outputnya meningkat. Austria (2004) yang penelitiannya bertujuan untuk menganalisis karakteristik perdagangan pada 11 sektor prioritas ASEAN periode 1997-2001 dan mengukur integrasi pada 11 sektor tersebut melalui IIT menunjukkan bahwa IIT relatif tinggi hanya pada sektor ICT dan elektronik. Penelitian Tharakan (1995), menggunakan regresi logit dalam analisis ekonometrikanya menunjukkan bahwa perdagangan intra industri bilateral antar negara-negara yang berpendapatan tinggi dengan negara-negara yang berpendapatan rendah adalah perdagangan intra industri horizontal yang dipengaruhi oleh differensiasi produk horizontal dan economies of scale. Penelitian Menon (1996) bertujuan untuk mengukur besarnya kontribusi pertumbuhan perdagangan intra industri dan pertumbuhan perdagangan neto terhadap pertumbuhan total perdagangan ASEAN periode 1981-1986 dan 1986-1991 khususnya manufaktur. Dengan metode Grubel-Lloyd index untuk mengukur IIT hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kontribusi pertumbuhan perdagangan intra industri terhadap pertumbuhan total perdagangan ASEAN adalah lebih besar dibandingkan kontribusi yang diberikan oleh perdagangan neto di sebagian besar negara ASEAN-5. Penelitian Thorpe (2005) yang bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi IIT pada industri manufaktur di Asia Timur 1970-1996 dengan memisahkan IIT menjadi IIT horizontal dan vertikal. IIT horizontal timbul sebagai akibat adanya economies of scale dan differensiasi produk sedangkan vertikal terjadi pada perdagangan komoditi yang sama dengan kualitas yang berbeda. Selain itu, Thorpe (2005) menggunakan model gravity, yang hasilnya menunjukkan bahwa faktor yang signifikan mempengaruhi IIT pada sektor manufaktur di Asia Timur adalah GDP, perbedaan GDP, GDP perkapita, perbedaan GDP perkapita, jarak, kurs, ketidakseimbangan perdagangan, dan economies of scale. 46

2.7. Kerangka Pemikiran Penelitian Perdagangan merupakan suatu proses pertukaran barang dan jasa yang dilakukan atas dasar suka sama suka, untuk memperoleh barang yang dibutuhkan. Dalam masa globalisasi, perdagangan hampir tidak ada satu negarapun yang tidak melakukan hubungan dengan negara lain. Hal ini merupakan kesempatan bagi negara-negara untuk melakukan integrasi yang dapat memberikan manfaat bagi negara yang bersangkutan. Integrasi ekonomi terwujud ketika sekelompok negara bersepakat membentuk perserikatan ekonomi dengan meningkatkan tarif yang sama secara bersama terhadap barang-barang dari negara non-anggota, pada saat yang sama justru membebaskan perdagangan intern antar negara anggota atau biasa pula disebut Free Trade Agreement (FTA). Selama ini perdagangan bilateral Indonesia didominasi oleh 4 mitra dagang utama Indonesia yaitu Jepang, Amerika Serikat, Singapura, dan Cina. Perdagangan bilateral dengan negara lain seperti dengan Mesir, Turki, dan Pakistan merupakan sebuah peluang yang menarik untuk dijajaki dalam rangka membuka pasar baru. Mesir dan Turki merupakan salah satu pasar potensial. Ekspor ke negara-negara Mesir, Turki dan Pakistan yang merupakan Negara di Timur Tengah mempunyai potensi untuk dikembangkan mengingat peningkatan kesejahteraan negara-negara tersebut terjadi dengan meningkatnya harga minyak mentah. Peningkatnya volume perdagangan karena FTA akan mendatangkan multiplier effect terhadap kegiatan ekonomi lainnya yang mungkin akan membawa perubahan terhadap kondisi makroekonomi dan sektoral ekonomi. Berdasarkan tujuan pertama penelitian maka akan dikaji terlebih dahulu bagaimana pola perdagangan yang ditunjukkan dengan kinerja, aliran dan integrasi perdagangan barang dan jasa Indonesia-Turki, Indonesia-Mesir, dan Indonesia-Pakistan. Sedangkan tujuan kedua adalah menganalisis daya saing komoditi Indonesia terhadap negara mitra dengan menggunakan pendekatan Revealed Comparative Advantage Bilateral (RCAB). Selanjutnya pada tahun ketiga akan dikaji dampak FTA terhadap makroekonomi dan sektoral ekonomi. Terakhir, melalui FGD (Focus Group Discussion) akan diambil keputusan 47

mengenai posisi runding Indonesia-Mesir, Indonesia-Turki, dan Indonesia- Pakistan. Berdasarkan hasil analisis dari keempat tujuan yang akan dijawab dalam penelitian ini akan dirumuskan rekomendasi kebijakan bagi FTA Indonesia-Turki, Indonesia-Mesir, dan Indonesia-Pakistan. Secara ringkas kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.9. 48

Gambar 2-9. Kerangka Pemikiran Penelitian EKONOMI INDONESIA FTA Indonesia- Mesir, Indonesia- Turki, dan Indonesia KINERJA, ALIRAN, DAN KETERKAITAN INDONESIA-MESIR, INDONESIA-TURKI, INDONESIA PAKISTAN (Intra Industry Trade) Dayasaing Komoditas Indonesia (RCAB) Dampak Ekonomi bagi Indonesia (GTAP): a. Makro Ekonomi (kesejahteraan, GDP riil, Konsumsi swasta, Investasi, Pengeluaran Pemerintah, neraca perdagangan, inflasi) b. Sektoral Ekonomi (Output, Harga, Kesempatan Kerja, ekspor dan impor) Pemilihan Posisi Runding Indonesia-Mesir, Indonesia- Turki, Indonesia-Pakistan REKOMENDASI KEBIJAKAN 49

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Seluruh data yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder. Sumber data aliran perdagangan antara Indonesia-Mesir, Indonesia-Turki, dan Indonesia-Pakistan adalah COMTRADE yang dikeluarkan oleh United Nations Commodity Trade Statistics Database. Data utama lainnya adalah Data Base GTAP untuk menganalisis dampak adanya free trade area (FTA) Indonesia- Turki, Indonesia-Mesir, dan Indonesia-Pakistan yang dikeluarkan oleh Centre for Global Trade Analysis, Purdue University. Selain itu, digunakan pula data-data pendukung lain yang bersumber dari World Bank dan International Monetary Fund (IMF). 3.2. Metode Analisis 3.2.1 Intra Industry Trade index (IIT index) Untuk menggambarkan keterkaitan perdagangan kedua negara dilakukan analisis Intra-Industry Trade (IIT). Intra Industry Trade index (IIT index) digunakan untuk menganalisis tingkat integrasi dalam suatu kawasan tertentu. Integrasi yang tinggi menunjukkan kedekatan perdagangan di antara negaranegara di kawasan tersebut. Intra industry trade (IIT) index yang umum digunakan adalah Grubel-Lloyd Index dengan rumus: IIT = ( X + M ) X M ( ) 100 atau 1 X M x X + M ( X + M ) x100 dimana: X = ekspor M = impor Nilai Grubel Lloyd index berkisar antara 0 sampai 100. Jika jumlah yang diekspor sama dengan jumlah yang diimpor untuk suatu produk, maka indeksnya akan bernilai 100. Sebaliknya apabila perdagangan suatu negara hanya melibatkan 50

satu pihak saja (ekspor atau impor saja) maka nilai indeksnya adalah 0. Data tersebut menggunakan data ekspor dan impor HS 2 tahun 1996 sampai 2009 yang berasal dari UN Statistic (COMMTRADE). 3.2.2 Revealed Comparative Advantage Bilateral (RCAB) Pada penelitian ini, RCA yang digunakan merupakan RCA Bilateral. Analisa ini dikembangkan oleh International Trade Centre sebagai analisa RCA yang menganalisa arus perdagangan, indikator keunggulan komparatif yang bertujuan untuk mengukur spesialisasi. Spesialisasi suatu negara merupakan indikasi tentang bagaimana suatu negara mengalokasikan sumber daya untuk berbagai industri, di bawah asumsi total perdagangan yang seimbang. Rumus RCA Bilateral adalah sebagai berikut: RCA t icl 1000 t t ( X + M ) * t t t t t t ( ) ( ) ( X + ) ( ) icl. M icl. X icl. M icl. X i.. M i.. * t X i.. + M i.. = t i.. i.. X t danm t i i.... = total ekspor dan impor negara i pada tahun t X t danm t icl icl. = total ekspor dan impor produk dalam kluster cl di negara i pada tahun t. t = neraca perdagangan negara i untuk klaster cl pada ta hun t t X M icl. icl. t t ( X + M icl. icl. ) t ( X + M ) t i.. i.. ( ) ( ( ) ) t t t t X + M icl icl X.. M * i.. i.. t t X + M = besarnya klaster cl di ekspor negara i pada tahun t i.. i.. = ketidak seimbangan teoritikal di negara i untuk klaster cl pada t tahun 3.2.3 Indeks Komplementer Perdagangan (TCI) Indeks komplementer adalah indeks yang mengukur perbandingan jumlah persentase kontribusi tiap komoditas ekspor dalam kerangka hubungan dagang bilateral antara suatu negara dengan negara/wilayah lain, dengan kondisi perdagangan komoditas-komoditas tersebut dilingkup dunia. Formula untuk menghitung indeks komplementer perdagangan adalah sebagai berikut: 51

Dimana 3.3. Dampak FTA Indonesia- Turki, Indonesia-Mesir, dan Indonesia- Pakistan: Aplikasi Global Trade Analysis Project (GTAP) 3.3.1 Model GTAP Untuk menganalisis dampak FTA digunakan model CGE dengan multi region dan multi komoditas (GTAP). GTAP yang digunakan adalah versi 7.1 dengan 113 negara dan 57 sektor. Model GTAP dikembangkan di Purdue University s, Departemen Ekonomi Pertanian yang berkembang sejak tahun 1993 dan dipimpin serta diprakarsai oleh Prof. Thomas Hertel dalam sebuah konsorsium. Sedikitnya sekali dalam setahun, para pengguna GTAP di seluruh dunia mengadakan pertemuaan untuk mempresentasikan makalah, mendiskusikan isu-isu global, dan data dasar. Model GTAP merupakan model komparatif statik sehingga perubahan persentase yang dihasilkan dalam model menggambarkan perubahan yang terjadi sebelum dan setelah kebijakan. Model GTAP adalah model standar dengan banyak negara dan banyak komoditas dengan mengaplikasikan model ekonomi keseimbangan umum. Pada model GTAP secara eksplisit dilakukan permodelan pada margin transport internasional. Suatu global bank juga dibentuk dalam model sebagai intermediasi dari investasi dan tabungan dunia. Sistem permintaan konsumen diduga dengan menggunakan Constant Difference of elasticities (CDE) untuk menangkap kepekaan terhadap perbedaan harga dan pendapatan antar negara (Hertel, et al, 2000). Selain itu, aliran barang dalam perdagangan internasional mengikuti model Armington (1969) dimana setiap produk dibedakan berdasarkan asal negara. Setiap barang diasumsikan substitusi yang tidak sempurna satu sama lainnya 52

untuk komoditas yang diproduksi di dalam negeri. Dengan asumsi ini, model dapat menangkap aliran perdagangan antar dua negara. Kelemahan model ini adalah mengasumsikan sistem pasar persaingan sempurna dan skala usaha yang konstan pada aktivitas produksi. Hertel (1994) mengakui bahwa pada konteks negara kecil dan terbuka, asumsi pasar persaingan sempurna mengakibatkan simulasi dampak penurunan tariff menjadi lebih besar dari yang sesungguhnya. 3.3.2 Agregasi GTAP Untuk keperluan penelitian ini, dilakukan agregasi 11 negara/regional termasuk ROW. Dasar pemilihan agregasi negara/regional karena penelitian lebih difokuskan pada Indonesia, Mesir, Turki, Pakistan serta beberapa kelompok negara yang merupakan mitra dagang Indonesia sekaligus mitra dagang Mesir, Turki, dan Pakistan yaitu G8, Asia Tenggara, Asia Selatan, Amerika, 25 negaranegara Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara dan ROW (Rest of The World). Karena FTA antara Indonesia-Mesir, Indonesia-Turki, dan Indonesia-Pakistan dalam taraf penjajagan, maka sektor yang dipilih adalah seluruh data base GTAP, yaitu 57 (lima puluh tujuh) sektor. Dengan memasukkan seluruh sektor diharapkan dapat diketahui sektor mana yang potensial. Agregasi sektor dan negara yang lebih rinci dan hubungannya dengan data asli GTAP dapat dilihat pada Tabel 3.1 dan 3.2. 53

Tabel 3-1. Agregasi Negara Berdasarkan GTAP Data Base No. Code Region Comprising 1 Indonesia Indonesia Indonesia. 2 Turkey Turkey Turkey. 3 Pakistan Pakistan Pakistan. 4 Egypt Egypt Egypt. 5 RestD8 Rest of Developing 8 Malaysia; Bangladesh; Iran Islamic Republic of; Nigeria. China; Hong Kong; Japan; Korea; Taiwan; Rest of East 6 EAsia East Asia 7 SEAsia 8 USA 9 EU_25 10 MENA 11 RestofWorld Southeast Asia United States European Union 25 Middle East and North Africa Rest of World Asia. Cambodia; Lao People's Democratic Republ; Myanmar; Philippines; Singapore; Thailand; Viet Nam; Rest of Southeast Asia. United States of America. Austria; Belgium; Cyprus; Czech Republic; Denmark; Estonia; Finland; France; Germany; Greece; Hungary; Ireland; Italy; Latvia; Lithuania; Luxembourg; Malta; Netherlands; Poland; Portugal; Slovakia; Slovenia; Spain; Sweden; United Kingdom. Rest of Western Asia; Morocco; Tunisia; Rest of North Africa. Australia; New Zealand; Rest of Oceania; India; Sri Lanka; Rest of South Asia; Canada; Mexico; Rest of North America; Argentina; Bolivia; Brazil; Chile; Colombia; Ecuador; Paraguay; Peru; Uruguay; Venezuela; Rest of South America; Costa Rica; Guatemala; Nicaragua; Panama; Rest of Central America; Caribbean; Switzerland; Norway; Rest of EFTA; Albania; Bulgaria; Belarus; Croatia; Romania; Russian Federation; Ukraine; Rest of Eastern Europe; Rest of Europe; Kazakhstan; Kyrgyztan; Rest of Former Soviet Union; Armenia; Azerbaijan; Georgia; Senegal; Rest of Western Africa; Central Africa; South Central Africa; Ethiopia; Madagascar; Malawi; Mauritius; Mozambique; Tanzania; Uganda; Zambia; Zimbabwe; Rest of Eastern Africa; Botswana; South Africa; Rest of South African Customs 54

Tabel 3-2. Agregasi Sektor Berdasarkan GTAP Data Base No. Code Comprising 1 pdr Paddy rice 2 wht Wheat 3 gro Cereal grains nec 4 v_f Vegetables, fruit, nuts 5 osd Oil seeds 6 c_b Sugar cane, sugar beet 7 pfb Plant-based fibers 8 ocr Crops nec 9 ctl Cattle,sheep,goats,horses 10 oap Animal products nec 11 rmk Raw milk 12 wol Wool, silk-worm cocoons 13 frs Forestry 14 fsh Fishing 15 coa Coal 16 oil Oil 17 gas Gas 18 omn Minerals nec 19 cmt Meat: cattle,sheep,goats,horse 20 omt Meat products nec 21 vol Vegetable oils and fats 22 mil Dairy products 23 pcr Processed rice 24 sgr Sugar 25 ofd Food products nec 26 b_t Beverages and tobacco products 27 tex Textiles 28 wap Wearing apparel 29 lea Leather products 30 lum Wood products 31 ppp Paper products, publishing 32 p_c Petroleum, coal products 33 crp Chemical,rubber,plastic prods 34 nmm Mineral products nec 35 i_s Ferrous metals 36 nfm Metals nec 37 fmp Metal products 38 mvh Motor vehicles and parts 39 otn Transport equipment nec 55

No. Code Comprising 40 ele Electronic equipment 41 ome Machinery and equipment nec 42 omf Manufactures nec 43 ely Electricity 44 gdt Gas manufacture, distribution 45 wtr Water 46 cns Construction 47 trd Trade 48 otp Transport nec 49 wtp Sea transport 50 atp Air transport 51 cmn Communication 52 ofi Financial services nec 53 isr Insurance 54 obs Business services nec 55 ros Recreation and other services 56 osg PubAdmin/Defence/Health/Educat 57 dwe Dwellings 56

3.3.3 Pengolahan GTAP Model GTAP dengan data basenya diolah dengan menggunakan software RunGTAP. Tahapan pengolahan data dijelaskan mengikuti Gambar 2. Proses agregasi sektor dan negara/wilayah merupakan salah satu tahap pengolahan data di dalam model GTAP. Pada tahap tersebut juga dilakukan penyesuaian closure dan shock sesuai dengan tujuan penelitian. Dengan menggunakan software RunGTAP akan dihasilkan keluaran (out) seperti file solusi (solution file), perubahan volume (volume changes) dan dekomposisi (decomposition). Hubungan di dalam model GTAP dirangkum di dalam hubungan antara bermacam-macam nilai agregat. Persamaan-persamaan yang telah dirubah dalam perubahan persentase merupakan persamaan-persamaan yang akan ada di dalam model utama GTAP. Seluruh notasi, variabel, parameter, persamaan dan lain-lain dapat dibaca lebih rinci pada Hertel (1997). Struktur model GTAP terdiri dari persamaan-persamaan simultan yang dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu: (1) Persamaan yang menggambarkan hubungan antara penerimaan dan pengeluaran oleh setiap agen ekonomi di suatu region (accounting relationship), dan (2) persamaan yang menjelaskan suatu perilaku agen ekonomi (behavioral equations). Semua set, subset, parameter dan variabel bentuk nominal (value/ levels form) dinotasikan dengan huruf kapital. Sedangkan variabel dalam bentuk persentase perubahan (percentage change) atau bentuk linier dinotasikan dengan huruf kecil. Sebagai contoh: ( i r) PM, adalah variabel bentuk level untuk harga pasar komoditi i di region r, dan pm ( i, r) = [ dpm ( i, r) ] / ( i r) PM, adalah bentuk linier dari variabel harga tersebut. Set, sub-set, parameter dan variabel yang digunakan dalam model GTAP standar disajikan pada lampiran. Berikut ini diuraikan secara ringkas struktur model GTAP standar yang bersumber dari Hertel (1997). Dalam model GTAP ekonomi sebuah region dipresentasikan oleh satu rumah tangga regional (regional household) yang memperoleh income dari hasil penjualan endowment, VOA (value of output at agents prices), dan penerimaan pajak, dan industri (TAXES). Selain itu, pajak juga diterima dari region lain (rest 57

of the world) berupa pajak ekspor (XTAX) dan pajak impor (MTAX). Penghasilan rumah tangga region tersebut selanjutnya di alokasikan sebagai pengeluaran (expenditures) sektor rumah tangga swasta (PRIVEXP), rumah tangga pemerintah (GOVEXP), dan sebagai tabungan ke global bank (SAVE). Konsumsi rumah tangga swasta, VDPA (value of domestic purchases by private households at agent s prices) diasumsikan mengikuti fungsi pengeluaran CDE (Constant Difference of Elasticity). Konsumsi rumah tangga pemerintah, VDGA (value of domestic purchases by government households at agent s prices) dipresentasikan dengan fungsi utilitas Cobb Douglas sehingga porsi pengeluaran untuk seluruh komoditi adalah konstan. Dalam model GTAP diasumsikan bahwa tabungan seluruhnya digunakan sebagai investasi (NETINV) melalui bank global. Desain Simulasi Closure (.CLS) Solution Method Base Data (.HAR) Main Model File (.TAB) Experiment (.EXP) Parameter File (.PRM) In Out RunGTAP (Gempack Solution Files Volume Changes (.HAR) Decompo sitions (.HAR) Gambar 3-1. Pemanfaatan GTAP dengan Alat RunGTAP dan Penyelesaiannya 58

Di sisi produsen (industri), penerimaan diperoleh dari hasil penjualan barang konsumsi ke rumah tangga swasta (VDPA) dan pemerintah (VDGA), penjualan barang input antara ke industri lain (VDFA), serta penjualan barang investasi ke sektor tabungan (NETINV). Di samping hasil penjualan di pasar domestik, produsen juga memperoleh penerimaan dari hasil ekspor barang ke region lain (Rest of the world). Nilai penerimaan ekpr tersebut dinyatakan sebagai value of exports at market prices by destination (VXMD). Oleh karena setiap industri diasumsikan beroperasi pada kondisi zero profit maka jumlah penerimaan produsen seluruhnya dibelanjakan untuk pembelian faktor primer (VOA), input antara yang diproduksi di dalam negeri (VDFA) dan input antara yang berasal dari impor (VIFA). Sifat multi-regon dari model GTAP selain ditunjukkan dengan bank global juga oleh adanya sektor perdagangan internasional (ekpor dan impor) dari satu region lain (Rest of the world). Region lain tersebut memperoleh penerimaan impor dari rumah tangga swasta (VIPA), rumah tangga pemerintah (VIGA), dan industri (VIFA). Penerimaan tersebut selanjutnya dibelanjakan untuk barang impor (VXMD), pembayaran pajak ekspor (VTAX) dan pajak impor (MTAX) kepada rumah tangga regional. Seluruh hubungan yang menggambarkan hubungan antara penerimaan dan pengeluaran oleh setiap agen ekonomi di suatu region (accounting relationship) tersebut di dalam model GTAP dituliskan dalam bentuk persamaan-persamaan. Persamaan-persamaan tersebut menjelaskan distribusi penjualan ke pasar wilayah di dalam model ekonomi terbuka dengan pajak, sumber pengeluaran rumah tangga dan pemerintah, sumber pengeluaran perusahaan dan pendapatan faktor rumah tangga, disposisi dan sumber pendapatan regional, sektor global, dan kondisi keseimbangan umum (market clearing). Berikut dijelaskan persamaan-persamaan tersebut. Sumber Pengeluaran Rumah Tangga dan Pemerintah Hubungan konsumsi rumahtangga ditunjukkan pada Tabel 3.3. Nilai pengeluaran rumahtangga swasta pada harga agen (Value of Private household purchases at Agents prices, VPA(i,s), suatu barang adalah pengeluaran 59

agregatnya terhadap barang-barang yang diproduksi domestik (domestically produced good, VDPA(i,s), dan komposit dari impor barang-barang pada harga agen (composite imports of this good at agents prices, VIPA(i,s). Nilai pengeluaran domestik oleh rumahtangga swasta pada harga pasar (Value of domestic purchases by the Private household at Market prices, VDPM(i,s), ditentukan setelah ditambahkan pajak komoditi domestik (domestic commodity taxes, DPTAX(i,s), dari pengeluaran barang-barang domestik (expenditure on domestic good, VDPA(i,s). Seperti juga pada pengeluaran barang-barang yang diproduksi domestik, untuk mendapatkan nilai impor dari rumah tangga swasta pada harga pasar (Value of Imports by the Private household at the Market prices, VIPM(i,s), pajak untuk komoditi rumahtangga swasta IPTAX(i,s), ditambahkan dari nilai komposit impor pada harga agen (value of composite imports at agents prices, VIPA(i,s). Hubungan nilai pengeluaran pemerintah mekanismenya juga sama seperti pada rumahtangga swasta. 60

Tabel 3-3. Sumber Pengeluaran Rumah Tangga dan Pemerintah untuk Barang i di Wilayah s Rumah tangga swasta VPA(i,s)= :PP(i,s)*QP(i,s) VDPA(i,s)+ :PPD(i,s)*QPD(i,s) VIPA (i,s) :PPM(i,s)*QPM(i,s) - IPTAX(i,s) : pm(i,s)*pim(i,s)*qpm(i,s) = VIPM(i,s) :PIM(i,s)*QPM(i,s) dimana: VDPA(i,s) :PPD(i,s)*QPD(i,s) -DPTAX(i,s) : pm(i,s)*pm(i,s)*qpd(i,s) =VDPM(i,s) :PM(i,s)*QPD(i,s) Rumah tangga pemerintah VGA(i,s)= :PG(i,s)*QG(i,s) VDGA(i,s)+ :PGD(i,s)*QGD(i,s) VIGA (i,s) :PGM(i,s)*QGM(i,s) - IGTAX(i,s) : gm(i,s)*pim(i,s)*qgm(i,s) = VIGM(i,s) :PIM(i,s)*QGM(i,s) dimana: VDGA(i,s) :PGD(i,s)*QGD(i,s) -DGTAX(i,s) : gd(i,s)*pm(i,s)*qgd(i,s) =VDGM(i,s) :PM(i,s)*QGD(i,s) Sumber: Hertel dan Tsigas (1997) Sumber Pengeluaran Perusahaan dan Pendapatan Faktor Rumah Tangga Input perusahaaan terdiri dari faktor antara dan faktor primer. Aliran input antara dapat dijelaskan sebagai nilai pembelian perusahaan untuk komoditi i, sektor j, di region s pada harga agen (Value of Firms purchases of i, by sector j, in region s at Agents prices, VFA(i,j,s)), termasuk komponen domestik (the 61

domestic components, VDFA(i,j,s)) dan komponen impor (imported components, VIFA(i,j,s)). Penambahan pajak domestik DFTAX(i,j,s) dari VDFA(i,j,s) menghasilkan nilai komponen domestik pada harga pasar (Value of Domestic components at Market prices, VDFM(i,j,s). Demikian pula jika ingin mendapatkan nilai pasar komponen impor (market value of imported components, VIFM(i,j,s)), diperoleh dari VIFA(i,j,s) dikurangi pajak impor (imports taxes IFTAX(i,j,s)). Hubungan ini lebih jelas ditunjukkan pada Tabel 3.4. Tabel 3-4. Sumber Pengeluaran Sektor j dari Barang i atau Faktor Primer i Input Antara i: VFA(i,j,s)= : PF(i,j,s)*QF(i,j,s) VDFA(i,j,s)+ :PFD(i,j,s)*QFD(i,j,s) VIFA(i,j,s) :PFM(i,j,s)*QFM(i,j,s) - IFTAX(i,j,s) : fm(i,j,s)*pim(i,s)*qfm(i,j,s) =VIFM(i,j,s) : PIM(i,s)*QFM(i,j,s) dimana: VDFA(i,j,s) :PFD(i,j,s)*QFD(i,j,s) - DFTAX(i,j,s) : fd(i,j,s)*pm(i,s)*qfd(i,j,s) = VDFM(i,j,s) :PM(i,s)*QFD(i,j,s) Faktor Primer i: VFA(i,j,s) :PFE(i,j,s)*QFE(i,j,s) - ETAX(i,j,s) : f(i,j,s)*pm(i,s)*qfe(i,j,s) = VFM(i,j,s) :PM(i,s)*QFE(i,j,s) Kondisi Zero Pure Profits: VOA(j,s) = :PS(j,s)*QO(j,s) i TRAD VFA(i,j,s)+ : PF(i,j,s)*QF(i,j,s) i ENDW VFA(i,j,s) : PFE(i,j,s)*QFE(i,j,s) Sumber: Hertel dan Tsigas (1997) 62

Tabel 3.4. juga menunjukkan aliran faktor produksi primer ke produksi. Nilai penjualan perusahaan pada harga pasar (Values of Firm s purchases at Market prices, VFM(i,j,s)) dihitung dengan menambahkan pajak untuk faktor endowmen (taxes on factor endowments, ETAX(i,j,s)) dari nilai penjualan perusahaan pada harga agen (Value of Firms purchases at Agents prices, VFA(i,j,s). Pada Pasar Persaingan Sempurna (PPS) mengisyaratkan bahwa perusahaan memperoleh keuntungan nol (zero profits) sehingga menyebabkan pengeluaran agregat sama dengan nilai penjualannya. Pendapatan faktor dari rumahtangga terdiri dari nilai jasa faktor, dimana termasuk didalamnya faktor-faktor yang mobile dan industri tertentu. Dengan menambahkan pajak pada penawaran rumahtangga dari faktor produksi i di region s, HTAX(i,s), dari nilai produk faktor pada harga pasar (Value of factor product at Market prices, VOM(i,s)), maka dapat ditentukan nilai endowmen yang mobile pada harga agen (Value of the mobile endowments at Agents prices, VOA(i,s)). Hubungan ini dapat terlihat pada Tabel 3.5. Perbedaan dibuat antara faktor-faktor yang mobile dan yang tidak mobile yang pada awalnya akan dinilai dengan harga pasar pada satu harga dengan mengabaikan penggunaan industri. Penilaian penggunaan industri akan dinilai pada harga pasar tersendiri.untuk faktor yang tidak mobil, harga individu didefinisikan pada masing-masing faktor yang dibedakan. 63

Tabel 3-5. Sumber Pendapatan Faktor Jasa Rumah Tangga untuk Faktor i Faktor yang Mobile dengan Sempurna (i є ENDWM): VFM(i,j,1) :PM(i,1)*QFE(i,j,1) +... +VFM(i,j,s) :PM(j,s)*QFE(i,j,s) =VOM(i,s) :PM(i,s)*QO(i,s) - HTAX(i,s) : o(i,s)*pm(i,s)*qo(i,s) = VOA(i,s) :PS(i,s)*QO(i,s) Faktor yang Tidak Mobile dengan Sempurna (i є ENDWS): VFM(i,j,1) :PMES(i,j,1)*QOES(i,j,1) +... +VFM(i,j,s) :PMES(i,j,s)*QOES(i,j,s) =VOM(i,s) :PM(i,s)*QO(i,s) - HTAX(i,s) : o(i,s)*pm(i,s)*qo(i,s) = VOA(i,s) :PS(i,s)*QO(i,s) Sumber: Hertel dan Tsigas (1997) Disposisi dan Sumber Pendapatan Regional Di dalam model GTAP, Hertel dan Tsigas (1997) mengasumsikan bahwa terdapat rumah tangga super pada masing-masing ekonomi yang disebut rumah tangga regional. Keuntungan asumsi ini adalah kesejahteraan rumahtangga ini menawarkan penggunaan kesejahteraan regional yang diproksi, yang memfasilitasi analisis antar region jika ada intervensi kebijakan. 64

Tabel 3-6. Disposisi dan Sumber Pendapatan Regional EXPENDITURE(r) = INCOME = rumahtangga produksi i TRAD [ VPA(i,r) + VGA(i,r) ] + SAVE(r) pendapatan faktor bersih + VOM ( i, r) VOA( i, r) pajak pendapatan i NSAV + VFA(i, j,r) VFM(i, j,r) pajak impor faktor j PROD i ENDW + VIPA(i,r) VIPM(i,r) pajak impor i TRAD pengeluaran konsumsi rumahtangga + VDPA(i,r) VDPM(i,r) pajak konsumsi barang-barang i TRAD domestik + VIGA(i,r) VIGM(i,r) pajak impor pengeluaran i TRAD pemerintah + VDGA(i,r) VDGM(i,r) pajak domestik untuk konsumsi i TRAD pemerintah + VIFA(i,r) VIFM(i, j,r) pajak impor produk j PROD i TRAD perusahaan + VDFA(i, j,r) VDFM(i, j, r) pajak produksi barang j PROD i TRAD domestik + VXWD(i,r,s) VXMD(i,r,s) pajak ekspor i TRAD s REG + i TRAD s REG VIMS ( i, s, r) VIWS ( i, s, r) pajak impor Sumber: Hertel dan Tsigas (1997) Sebagai model GDP nasional, pengeluaran permintaan akhir (pengeluaran rumahtangga super) harus seimbang atau sama dengan pendapatan rumah tangga. Seluruh pendapatan di dalam suatu region diasumsikan ditambahkan pada rumahtangga di region tersebut. Pendapatan regional terdiri dari pembayaran faktor dikurangi depresiasi ditambah pajak yang dikumpulkan oleh pemerintah. Dua sisi pengeluaran secara detil dijelaskan pada Tabel 3.6. Implikasi fiskal dari 65

adanya pajak/subsidi, termasuk kuota, tertampung didalam perbandingan nilai transaksi pada harga agen dengan nilai transaksi pada harga pasar (atau harga pasar dengan harga dunia). Sektor Transportasi dan Sektor Bank Global Seperti telah dijelaskan sebelumnya, terdapat dua sektor global di dalam model GTAP, yaitu sektor transportasi dan sektor bank global. Nilai jasa transportasi global untuk komoditi tertentu yang dikirim pada rute tertentu VTWR(i,r,s), berbeda nilai fob dan cif (Tabel 3.5). Sedangkan pada Tabel 3.7 menunjukkan total permintaan untuk jasa transportasi internasional yang agregat sepanjang seluruh rute dan komoditi. Harga jasa transportasi diasumsikan sama untuk semua rute dan komoditi. Tabel 3-7. Sektor Transportasi Global Nilai jasa-jasa: i r s VTWR(i,r,s)= : PT*QS(i,r,s) VT : PT*QT = i r VST(i,r) : PM(i,r)*QST(i,r) dimana: VTWR(i,r,s)= : PT*QS(i,r,s) VIWS(i,r,s)- : PCIF(i,r,s)*QXS(i,r,s) VXWD(i,r,s) : PM(i,r,s)*QXS(i,r,s) Sumber: Hertel dan Tsigas (1997) Sektor bank global berperan sebagai penghubung antara tabungan dan investasi. Investasi regional bersih (depresiasi) membentuk suatu komposit barang investasi (GLOBINV). Seluruh rumahtangga regional menunjukkan harga yang sama untuk tabungan (PSAVE) dan tabungan agregatnya harus sama dengan investasi global. Investasi regional bersih ditambah modal stok, VKB(r), memberikan periode akhir modal stok, VKE(r). Belakangan tidak tersedia penggunaan produksi selama periode sekarang, seperti perlakuan stok modal di dalam model nasional. Awalnya (tersedia untuk penggunaan dengan segera) stok modal dialokasikan kepada sektor-sektor berdasarkan fungsi CET (constant elasticity transformation) jika diperlakukan sebagai komoditi yang tidak mobile 66

atau sebagai permintaan pada harga yang seragam ke semua sektor jika diperlakukan sebagai komoditi yang mobile. Tabel 3-8. Permintaan untuk Barang-Barang Investasi Regional r REG [ REGINV(r) : PCGDS(r)*QCGDS(r) - VDEP(r) ] : DEPR(r)*PCGDS(r)*KB(r) =GLOBINV : PSAVE*GLOBALCGDS = r REG SAVE(r) : PSAVE*QSAVE(r) Stok Modal di Wilayah r: VKB(r) : PCGDS(r)*KB(r) + REGINV(r) : PCGDS(r)*QCGDS(r) - VDEP(r) :DEPR(r)*PCGDS(r)*KB(r) = VKE(r) : PCGDS(r)*KE(r) Sumber: Hertel dan Tsigas (1997). Kondisi Keseimbangan Umum Penawaran dan permintaan pada setiap komoditi, termasuk faktor-faktor produksi, harus sama di dalam model keseimbangan umum. Demikian pula dengan nilai penawaran harus sama dengan nilai permintaan. Untuk komoditi yang diperdagangkan, nilai output dihubungkan dengan nilai penjualan. Kuantitas output pada gilirannya akan berhubungan dengan penggunaan input melalui fungsi produksi. Hubungan terakhir yang digambarkan juga dalam nilai. Untuk melengkapi keseimbangan umum, penawaran faktor harus sama dengan permintaan untuk faktor; atau ekuivalen, dimana nilai harus sama. Untuk faktor yang mobile, kondisinya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Untuk faktor yang tidak mobile, permintaan pada industri harus sama dengan penawaran. Permintaan spesifik menurut fungsi transformasi. Ini harus ditambahkan ke penawaran. Sehingga, QO = QFE. Tapi QFE secara langsung proporsional dengan QO dan menambahkan 1 dengan asumsi fungsi produksi dan tingkah laku perusahaan. Dengan harga pasar untuk faktor, VOM = VFE. GTAP memasukkan seluruh persamaan yang diperlukan untuk keseimbangan umum, pada sebagian besar model CGE, variabel pengganti (atau slack) masuk didalam variasi persamaan yang membuat persamaan-persamaan 67

tersebut menjadi model yang mudah diubah. Pada GTAP variabel slack dimasukkan ke dalam persamaan market clearing untuk komoditi yang diperdagangkan dan faktor-faktor yang mobile, diantara yang lain. Di pasar, variabel slack berarti bahwa harga dapat diset menjadi eksogen dengan penawaran dan permintaan dalam kondisi keseimbangan bisa berubah, merefleksikan kelebihan penawaran atau permintaan, dan memfasilitasi analisis keseimbangan parsial. Behavioral Equations Bagian kedua struktur model GTAP berisi persamaan-persamaan yang menjelaskan suatu perilaku agen ekonomi (behavioral equations). Berikut dijelaskan persamaan-persamaan terstruktur yang menjelaskan suatu perilaku agen ekonomi, yaitu struktur produksi, konsumsi, impor, kesejahteraan dan makroekonomi. Struktur Produksi Struktur produksi dari sebuah industri pada satu region diasumsikan mengikuti fungsi produksi secara berjenjang (nested), constant returns to scale (CRS) dan dalam pasar persaingan sempurna. Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.2, untuk menghasilkan sebuah output, qo(j,s), produsen/industri akan mengkombinasikan penggunaan nilai tambah faktor primer, qva(j,s), dengan input antara, qf(i,j,s), berdasarkan fungsi produksi Leontief. Faktor produksi primer terdiri dari: land, skilled and un-skilled labor, capital, dan natural resources. Jumlah faktor produksi primer yang digunakan adalah sebesar qfe(i,j,s), dimana setiap faktor dapat saling bersubstitusi melalui fungsi constant elasticity of substitution (CES). 68

Output Leontief Bentuk Fungsi KETE Input / Barang 1 Up Barang C Input Primer CES CES CES Barang Domesti Barang Impor 1 Barang Domestik Barang Impor C Tenaga Kerja Kapital Natural Resource Lahan CES Skilled UnSkilled Region Region Region Gambar 3-2. Struktur Produksi Model GTAP Input antara (intermediate inputs) dibedakan menjadi yang berasal dari produksi dalam negeri qfd(i,j,s) dan barang impor, qfm(i,j,s) berdasarkan asumsi Armington. Barang impor tersebut merupakan gabungan impor dari beberapa region lain yang ada di dalam model yang diasumsikan dengan fungsi CES. Fungsi CES secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut: y = g g v / g [ + (1 b x ] A bx 1 ) 2 dimana: y = Output x 1 = Input 1 x 2 = Input 2 A = Parameter efisiensi G = Parameter substitusi 1 σ = Parameter elastisitas, dimana ( σ = ). 1 + g 69

Konsumsi Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, rumah tangga regional akan mengalokasikan pendapatannya (income) untuk konsumsi rumah tangga swasta, rumah tangga pemerintah, dan investasi. Gambar 3.3 mengilustrasikan perilaku ketiga agen ekonomi untuk aktivitas konsumsi. Konsumsi rumah tangga swasta dispesifikasikan dalam fungsi constant difference of elasticity (CDE). Fungsi CDE digunakan karena memiliki karakteristik seperti yang diharapkan, dimana preferensi rumah tangga tidak bersifat homothetic. Fungsi CDE yang non-homothetic secara konsisten dapat menjelaskan perubahan konsumsi akibat perubahan tingkat pendapatan rumah tangga. Bentuk Fungsio KET: Input / Output Konsumsi Pemerintah Investasi Rumah Tangga Swasta Cobb-Douglas CDE Barang 1 Up to Barang C Barang 1 Up to Barang C CES CES CES CES Barang Domestik 1 Barang Impor 1 Barang Domestik C Barang Impor C Barang Domestik 1 Barang Impor 1 Gambar 3-3. Struktur Konsumsi dalam Model GTAP Barang Domestik C Barang Impor C 70

Konsumsi rumah tangga pemerintah dispesifikasikan mengikuti fungsi preferensi Cobb-Douglas dan bersifat eksogen. Permintaan investasi juga bersifat eksogen. Kapital dihasilkan dengan cara yang sama dengan komoditi yang diperdagangkan tetapi tidak menggunakan input faktor primer. Dalam model GTAP permintaan antar-industri dispesifikasikan berdasarkan matrik Input - Output Impor Di dalam model GTAP, terdapat tiga sumber permintaan input antara, yaitu: sektor industri (produsen), sektor pemerintah, dan sektor rumah tangga. Selanjutnya diasumsikan bahwa bagian impor dari ketiga sektor tersebut memiliki komposisi regional yang sama, meskipun secara agregat bagian impor tersebut dapat berasal dari sumber yang berbeda. Impor dibedakan menurut negara asal, sehingga menimbulkan biaya transportasi yang nilainya proporsional terhadap nilai perdagangan. Harga domestik dari barang impor yang masuk ke region r dari region s adalah sama dengan jumlah harga fob ekspor dari region s, pajak ekspor di region s, biaya transportasi, dan tarif impor yang berlaku di region r. Gambar 3.4 menunjukkan agregasi impor dan biaya transportasi yang dari model GTAP. Impor Pemerintah Impor Industri (Produsen) Impor Rumah Tangga Impor Dari Region r Dari Region s Jasa Transportasi Dari Region r Jasa Transportasi Dari Region s Dari Region r Dari Region s Dari Region r Dari Region s Gambar 3-4. Struktur Impor Model GTAP 71

Kesejahteraan Perubahan kesejahteraan di sebuah region dalam model GTAP dinyatakan dalam equivalent variation, EV(r), yang dihitung dengan persamaan: EV(r) = u(r) * INC(r)/100, dimana u(r) adalah persentase perubahan kesejahteraan per kapita dan INC(r) adalah pendapatan (income) sebuah region. Dalam database GTAP, nilai EV(r) dihitung berdasarkan nilai US$ tahun versi GTAP terbaru dalam satuan juta (million). Selanjutnya, kesejahteraan dunia (WEV) dihitung dengan menjumlahkan seluruh kesejahteraan region. Penutup Makroekonomi Sebagai penutup makroekonomi, model GTAP menggunakan persamaan identitas, sebagai berikut: S I = X + R M Persamaan tersebut menyatakan bahwa tabungan (S) dikurangi investasi (I) adalah sama dengan surplus neraca transaksi berjalan, dimana R adalah penerimaan transfer luar negeri. Oleh karena nilai R tidak terdapat dalam data base GTAP maka dalam simulasi model nilai R tersebut dianggap nol. Tingkat tabungan, investasi dan neraca transaksi berjalan ditetapkan secara eksogen. Simulasi Kebijakan Simulasi kebijakan digunakan untuk melihat dampak FTA Indonesia- Turki, Indonesia-Mesir, dan Indonesia-Pakistan adalah: 1. Penurunan tarif impor sampai 0 persen secara serentak. 2. Penurunan tariff impor secara gradual pada semua komoditas selama 10 tahun. 3.4. Penggunaan AHP dalam Analisis Pengambilan Keputusan Pengolahan data urutan prioritas strategi menggunakan Analytical Hierachy Process (AHP) dengan software Expert Choice 2008. Menurut Saaty 72

(1994), AHP merupakan suatu tahapan proses pembuatan keputusan yang mencakup tahapan-tahapan berikut: 1. Menstrukturkan permasalahan sebagai suatu hirarki atau suatu sistem dengan lingkaran yang yang saling berhubungan (dependence loop) 2. Menjelaskan pernyataan yang merefleksikan gagasan-gagasan, perasaan atau intuisi. 3. Merepresentasikan pernyataan (judgement) degan nilai-nilai yang memiliki arti 4. Menggunakan nilai-nilai tersebut untuk menghitung prioritas elemen dalam hirarki 5. Menginterpretasikan hasilnya untuk menentukan seluruh keputusan 6. Menganalisis sensitivitas untuk mengubah pernyataan Pendekatan model AHP hampir identik dengan model perilaku politis yaitu model keputusan (individual) dengan menggunakan pendekatan kolektif dari proses pengambilan keputusannya. AHP dikembangkan oleh Saaty (1980) yang dapat memecahkan masalah kompleks dengan aspek atau kriteria yang diambil cukup banyak. Selain itu kompleksitas disebabkan oleh struktur masalah yang belum jelas, ketidakpastian persepsi pengambil keputusan serta ketidakpastian data statistik yang akurat bahkan tidak ada sama sekali. Setiap tingkat hirarki mempengaruhi tujuan utamanya dengan intensitas yang berbeda. Namun dengan teori matematika, dapat dikembangkan metode untuk mengevaluasi pengaruh dari suatu jenjang terhadap tingkat terdekat di atasnya, yaitu berdasarkan komposisi relatif atau bobot prioritas dari elemen pada tingkat tertentu terhadap setiap elemen pada tingkat di atasnya yang terdekat (pengolahan horizontal). Kemudian dilanjutkan dengan melihat kontribusi setiap elemen pada tingkat di atasnya secara vertikal, sampai kepada tingkat hirarki yang tertinggi (pengolahan vertikal). Menurut Suryadi dan Ramdhani (2000), pada dasarnya langkah-lagkah dalam metode AHP meliputi : 73

1. Menentukan masalah dan solusi yang diinginkan 2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum dilanjutkan dengan sub-sub tujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah. 3. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat di atasnya. Perbandingan dilakukan berdasarkan judgement dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. 4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga memperoleh judgement seluruhnya sebanyak n x [(n-1)]/2 buah dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan. 5. Menghitung eigenvalue dengan menguji konsistensinya. Jika tidak konsisten, maka pengambilan data diulangi. 6. Menghitung langkah 3,4,5 untuk seluruh tingkat hirarki. 7. Menghitung vector eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai vektor eigen merupakan bobot setiap elemen, Langkah ini untuk mensintesis judgement dalam penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan. 8. Memeriksa konsistensi hirarki. Jika nilainya lebih besar dari 10 persen maka penilaian data judgement harus diperbaiki. Saaty (1980) menyatakan skala kuantitatif dari 1 sampai 9 untuk menilai perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen terhadap elemen lainnya. Seperti pada Tabel 3.9. berikut: Tabel 3-9. Skala Penilaian Perbandingan Pasangan Intensitas kepentingan Keterangan Penjelasan 1 Kedua elemen sama pentingnya Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan 3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibandingkan elemen lainnya 74

Intensitas Keterangan kepentingan 5 Elemen yan satu lebih penting daripada elemen lainnya. 7 Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya. 9 Satu elemen mutlak penting dariapda elemen lainnnya. 2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan. Kebalikan Penjelasan Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen lainnya. Satu elemen yang kuat disokong dan dominan terlihat dalam praktek. Bukti yang mendukung elemen yang satu tehadap elemen lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan. Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi di antara dua pilihan. Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka disbanding dengan aktivitas j maka j mempunyai nilai kebalikannya dibanding dengan i. Sumber : Suryadi dan Ramdhani [2000]. 3.4.1 Perhitungan Bobot Elemen Pada dasarnya formulasi matematis pada model AHP dilakukan dengan menggunakan suatu matriks. Misalkan dalam suatu sistem operasi terdapat n elemen operasi yaitu elemen-elemen operasi A 1, A 2,.,An, maka hasil perbandingan secara berpasangan elemen-elemen operasi tersebut akan membentuk matriks perbandingan. Perbandingan berpasangan dimulai dari tingkat hirarkis paling tinggi dimana suatu kriteria digunakan sebagi dasar pembuatan perbandingan. Selanjutnya perhatikan elemen yang akan dibandingkan. A 1 A 2... A 1 A 11 a 12 a 1n A 2 A 21 a 22 a 2n.. A n a n1 a n2 a nn A n Matriks A n x n merupakan mariks resiprokal dan diasumsikan terdapat n elemen yaitu w 1, w 2,, w n yang akan dinilai secara perbandingan. Nilai 75

(judgement) perbandingan secara berpasangan antara (w i, w j ) dapat dipresentasikan seperti matriks tersebut. w i /w j = a(i,j) ; i,j = 1,2,n Dalam hal ini matriks perbandingan adalah matiks A dengan unsurunsurnya adalah a ij dengan i,j = 1,2,n. Unsur-unsur matriks tersebut diperoleh dengan membandingkan satu elemen operasi terhadap elemen operasi lainnya untuk tingkat hirarki yang sama. Misalnya unsur a 11 adalah perbandingan kepentingan elemen operasi a 1 dengan elemen operasi A 1 sendiri. Maka nilai unsur a 11 sama dengan 1. Dengan cara yang sama maka diperoleh semua unsur diagonal matriks perbandingan sama dengan 1. Nilai unsur a 12 adalah perbandingan kepentingan elemen operasi A 1 terhadap elemen operasi A 2. Besarnya nilai a 21 adalah 1/a 12 yang menyatakan tingkat intensitas kepentingan elemen operasi A 2 terhadap elemen operasi A 1. Bila vektor pembobotan elemen-lemen operasi A 1, A 2,, An tersebut dinyatakan sebagai vektor W dengan W = ( W 1, W 2,, W n ) maka nilai intensitas kepentingan elemen operasi A 1 dibandingkan A 2 dapat pula dinyatakan sebagai perbandingan bobot elemen operasi A 1 terhadap A 2, yaitu W 1 /W 2 yang sama dengan a 12. Sehingga matriks perbandingan dapat pula dinyatakan sebagai berikut: A 1 A 2... A 1 W 1 /w 1 w 1 /w 2 w 1 /w n A 2 W 2 /w 1 w 2 /w 2 w 2 /w n.. A n w n /w 1 w n /w 2 w n /w n A n Nilai-nilai w i /w j dengan i,j =1,2,, n diperoleh dari responden yaitu orang-orang yang berkompeten dalam permasalahan yang dianalisis. Bla matriks ini dikalikan dengan vektor kolom W= (W 1, W 2,, W n ) maka diperoleh hubungan; AW =nw.....(3.49) 76

Bila matriks A diketahui dan ingin diperoleh nilai W maka dapat diselesaikan melalui persamaan berikut: [A-nI] W= 0......(3.50) dimana I adalah matriks identitas. Persamaan (2) dapat menghasilkan solusi yang tidak nol jika dan hanya jika n merupakan eigenvalue dari A dan W adalah eigen vektornya. Setelah eigenvalue matriks perbandingan A tersebut diperoleh misalnya λ 1, λ 2,, λn dan berdasarkan matriks A yang mempunyai keunikan yaitu a ii = 1 dengan i= 1,2,,n maka: λ 1 =n. Disini semua eigenvalue bernilai nol kecuali nilai eigen maksimum. Kemudian jika penilai yang dilakukan konsisten akan diperoleh nilai eigen maksium dari A yang bernilai n. Untuk mendapatkan W maka dapat dilakukan dengan mensubstitusikan harga eigenvalue maksimum pada persamaan: AW = λ maks W Sehingga persamaan 2 menjadi : [Aλ maks I]W=0........(3.51) Untuk memperolehharga nol maka yang perlu diset adalah λ maks =0...... (3.52) Berdasarkan persamaan 4) dapat dipeoleh harga λ maks Dengan memasukkan harga λ maks ke persamaan 3) dan ditambah dengan persamaan W i2 = 1 maka akan diperoleh bobot masing-masing elemen operasi (Wi dengan I =1,2,,n) yang merupakan eigenvektor yang bersesuaian dengan eigenvalue maksimum. 3.4.2 Perhitungan Konsistensi Matriks bobot yang diperoleh dari hasil perbandingan secara berpasangan tersebut harus mempunyai hubungan kardinal dan ordinal sebagai berikut: Hubungan kardinal : a ij.a jk = a ik Hubungan ordinal : Ai > Aj, Aj> Ak maka Ai>Ak Pada kenyataannya terjadi beberapa penyimpangan dari hubungan tersebut sehingga matriks tidak konsisten karena ketidak konsistenan dalam preferensi seseorang. Dalam teori matriks diketahui bahwa kesalahan kecil pada koefisien 77

akan menyebabkan penyimpangan kecil pada eigenvalue. Penyimpanagan dari konsistensi dinyatakan sebagai Indeks Konsistensi. Pengukuran konsistensi dinyatakan melalui suatu indeks yang disebut consistency index (CI), adapun rumus CI adalah : CI λmaks n =...(3.53) n 1 dimana : λ maks : eigenvalue maksimum n : ukuran matriks Indeks konsistensi (CI) matriks random dengan skala penilaian 9 (1 sampai 9) beserta kebalikannya sebagai Indeks Random (RI). Dengan menggunakan besaran CI dan RI maka dapat digunakan suatu patokan untuk menentukan tingkat konsistensi suatu matriks, yang disebut consistency ratio (Saaty, 1991). CI CR =...(3.54) RI dimana : CR : rasio konsistensi CI : indeks konsistensi RI : Random Consistency Index Untuk model AHP, matriks perbandingan dapat diterima jika nilai Rasio Konsistensi (CR) 0,1 (Kadarsah dan Ramdhani, 2000). 3.4.3 Mengevaluasi Inkonsistensi Seluruh Hirarki Evaluasi inkonsistensi seluruh hirarki dilakukan dengan mengalikan setiap indeks inkonsistensi dengan prioritas kriteria yang bersangkutan, dan menjumlahkan hasil kalinya. Hasil ini dibagi dengan pernyataan sejenis yang menggunakan indeks inkonsistensi acak yang sesuai dengan dimensi masingmasing matriks. Dengan cara yang sama pada setiap indeks inkonsistensi acak juga dibobot berdasarkan prioritas kriteria yang bersangkutan, dan hasilnya dijumlahkan. Untuk memperoleh hasil yang baik, rasio inkonsistensi hirarki harus bernilai kurang atau sama dengan 10 persen. 78

3.4.4 Penggunaan AHP dalam Analisis Pemilihan Posisi Runding Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan sebagai model pengambilan keputusan (pemilihan posisi runding Indonesia-mitra dagang). Pengambilan keputusan pemilihan posisi runding memiliki masalah yang kompleks, ditunjukkan dalam suatu struktur hirarki yang menunjukkan hubungan antara tujuan (goal), objectives (criteria), sub objectives, dan beberapa alternatif. Pemilihan posisi runding dilakukan dengan FGD (Focus Group Discussion). Peserta FGD terdiri dari tenaga ahli (expert) dibidangnya yaitu para eksportir, investor, pelaku industri dan pemerintah yang berhubungan dengan kegiatan perdagangan ke negara mitra dagang Indonesia dalam hal ini Mesir, Turki, dan Pakistan. Peserta FGD akan melakukan penilaian dengan teknik komparasi berpasangan (pairwise comparison) terhadap elemen-elemen pada suatu tingkat hirarki dengan memberikan bobot numerik. Gambar menunjukkan hirarki pemilihan posisi runding Indonesia-Mesir, Indonesia-Turki, dan Indonesia- Pakistan. 79

Gambar 3-5. Hirarki Analisis Pemilihan Posisi Runding Indonesia-Mesir, Indonesia-Turki, dan Indonesia-Pakistan Keterangan 1. Tingkat 1: Goal yang menjadi inti atau fokus dari permasalahan yang ingin dipecahkan dengan metode AHP (FOKUS) 2. Tingkat 2: Hal-hal yang menjadi faktor penyusun strategi pemilihan posisi runding (FAKTOR) yaitu: - RB : Regulasi dan biaya perdagangan antar Negara - TP : Transaksi perbankan antar Negara - NTB : Hambatan non tarif - TB : Hambatan tarif - PPT : Perbedaan penguasaan teknologi 3. Tingkat 3: Aktor-aktor yang berperan dalam pengambilan keputusan pemilihan posisi runding (AKTOR) 80

- GOV : Pemerintah - Bank : Perbankan - IND : Industri - INV : Investor 4. Tingkat 4: Tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam pemilihan posisi runding (TUJUAN) - PTB : Meningkatkan volume transaksi perdagangan (ekspor) antara Indonesia dan mitra dagang (Turki-Mesir-Pakistan) sehingga dapat meningkatkan trade balance - PP : Memperluas pemasaran produk Indonesia ke Negara lain melalui pasar ketiga mitra dagang (PP) - PI : Peningkatan investasi negara mitra dagang ke Indonesia 5. Tingkat 5: Hal-hal yang dirumuskan sebagai pilihan yang akan direkomendasikan sebagai hasil untuk mencapai tujuan penelitian (ALTERNATIF) - A : Meningkatkan fasilitas perdagangan - B : Meningkatkan kerjasama perbankan - C : Meningkatkan kerjasama investasi - D : Meningkatkan kerjasama jasa - E : Mengurangi non tariff barrier antara Indonesia dengan mitra dagang - F : Penghapusan tariff antara Indonesia dengan negara mitra dagang 81

BAB 4. GAMBARAN UMUM MAKRO EKONOMI DAN PERDAGANGAN INDONESIA, TURKI DAN PAKISTAN 4.1. Makro Ekonomi dan Perdagangan Indonesia 4.1.1 Makro Ekonomi Indonesia Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan merupakan negara berpenduduk terbanyak keemapat di dunia. Pada tahun 2009, PDB Indonesia mencapai US$ 514.9 juta. Ekonomi Indonesia tumbuh pada tingkat rata-rata 5,4 persen per tahun antara 2002 dan 2008. Selama tahun 2008, perekonomian Indonesia dapat mempertahankan kinerja yang baik di tengah gejolak ekonomi global. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,1% pada tahun 2008, sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 6,3%. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi swasta dan juga ekspor. Pada tahun 2009, perekonomian semakin melambat dengan tingkat pertumbuhan sebesar 4,5%. Faktor kunci dalam perlambatan ini adalah penurunan ekspor akibat resesi ekonomi global. Gambar 4-1. Pertumbuhan PDB Indonesia Billion Rp 6,000,000 Percent 15 4,000,000 10 2,000,000 5 0 0-2,000,000 1965 1970 1975 1980 1985 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010* -5-4,000,000-6,000,000 Economic Growth (RHS) Nominal GDP (LHS) -10-15 *Q.III-2010 Sumber: IMF dan BPS 82

Disamping resesi dunia, perlambatan ekonomi dalam negeri juga dipengaruhi oleh pertumbuhan ekspor yang negatif dan suku bunga tinggi yang memberikan kontribusi terhadap perlambatan pertumbuhan investasi. Dikarenakan ekspor yang merosot dan perlambatan investasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 secara umum didukung oleh kegiatan konsumsi domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah yang menjaga perekonomian tetap tumbuh positif sebesar 4,5% lebih lambat dibanding 2008 yang tumbuh sebesar 6,1%. Tabel 4-1. Distribusi dan Pertumbuhan PDB Pengeluaran 2005 2006 2007 2008 2009 Distribusi (%) Konsumsi Rumah Tangga 65.4 62.7 63.5 61 58.6 Konsumsi Pemerintah 8.2 8.6 8.3 8.4 9.6 Pembentukan Modal Tetap Domestik 22.0 24 24.9 27.7 31.1 Perubahan Inventori 0.3 0.6 0 0.1-0.1 Ekspor Barang dan Jasa 33.5 30.9 29.4 29.8 24.1 Impor Barang dan Jasa (-/-) 29.2 26.1 25.3 28.6 21.3 PRODUK DOMESTIK BRUTO 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Growth (%) Konsumsi Rumah Tangga 3,9 3,2 5,0 5,3 4.9 Konsumsi Pemerintah 8,1 9,6 3,9 10,4 15.7 Pembentukan Modal Tetap Domestik 9,9 2,9 9,2 11,7 3,3 Ekspor Barang dan Jasa 8,6 9,2 8,0 9,5-9.7 Impor Barang dan Jasa (-/-) 12,35 7,6 8,9 10,0-15.0 PRODUK DOMESTIK BRUTO 5,6 5,5 6,3 6,1 4,5 Sumber: BPS Secara keseluruhan, pengaruh kuat perlambatan ekonomi dunia menekan ekspor barang / jasa pada tahun 2009 menjadi minus 9,7% atau bisa dikatakan sebagai kegiatan ekspor terburuk dalam dekade ini. Penurunan ekspor dan persepsi risiko yang masih tinggi di pasar keuangan berkontribusi terhadap perlambatan kinerja investasi. Investasi tumbuh 2,8% pada tahun 2009 atau lebih 83

rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada tahun sebelumnya. Berdasarkan jenis investasi, investasi asing telah menurun 27,2% pada tahun 2009, sedangkan investasi domestik meningkat 85%, dari Rp 20,4 triliun pada tahun 2008 menjadi Rp 37,8 triliun di tahun 2009. Meskipun investasi mengalami perlambatan, iklim investasi di Indonesia membaik. Hal ini ditunjukkan oleh peringkat Indonesia yang lebih baik dalam Survey Doing Business dari Bank Dunia dari peringkat ke- 129 menjadi ke-122, kondisi ini didukung oleh pengurangan hari dalam memulai bisnis dari 154 hari menjadi 60 hari. Berdasarkan IMD Competitif Centre, Indonesia juga memiliki daya saing yang lebih baik di 2009 dan menempatkan peringkat Indonesia menjadi ke-42 dari peringkat ke-51 pada tahun sebelumnya. Peningkatan peringkat daya saing dipengaruhi oleh ketahanan ekonomi, peningkatan efisiensi bisnis dan pemerintah. Dari sisi kebijakan, perbaikan iklim usaha juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pada tahun 2009 yang mencabut berbagai peraturan daerah yang memiliki potensi besar sebagai penghalang investasi. Ada sekitar 688 peraturan daerah telah dibatalkan sampai bulan Oktober 2009. Peraturan ini umumnya terkait dengan pajak dan retribusi di sektor transportasi, industri, perdagangan, pertanian, dan budaya dan pariwisata. Di tengah penurunan ekspor dan investasi yang melambat, konsumsi rumah tangga masih tumbuh kuat dan mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Namun, peranan konsumsi rumah tangga terhadap PDB pada tahun 2009 menurun bila dibandingkan dengan tahun 2008, hal ini berbanding terbalik dengan peranan pengeluaran pemerintah (Tabel 2.1). Peningkatan peranan pemerintah terhadap PDB disebabkan oleh penurunan dalam perdagangan karena pengaruh melemahnya permintaan global dan sebagai upaya pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Dianalisis dari distribusi PDB, konsumsi rumah tangga kembali mendominasi PDB pada tahun 2009. konsumsi rumah tangga tumbuh 4,85% pada tahun 2009. Meskipun mengalami sedikit perlambatan dibandingkan dengan tahun 2008 yang sebesar 5,34%, (Tabel 2.1), namun dikarenakan peranannya yang dalam PDB yakni mencapai 58%, pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara keseluruhan masih berperan cukup tinggi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi 2009. Berdasarkan laporan BI, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tinggi antara lain didorong oleh kontribusi positif 84

pelaksanaan Pemilu 2009 serta meningkatnya kepercayaan konsumen dan meningkatnya pendapatan. Signifikan pemilu 2009 terhadap konsumsi adalah melalui peningkatan konsumsi rumah tangga terhadap pengeluaran non makanan di sepanjang kuartal pertama 2009. Inflasi yang cukup rendah sepanjang tahun 2009, di satu sisi, telah mempertahankan daya beli dan kepercayaan masyarakat untuk melakukan konsumsi. Di sisi lain, kenaikan gaji dan peningkatan nilai tukar petani meningkatkan daya beli masyarakat yang mendukung kekuatan konsumsi. Peran kuat konsumsi rumah tangga juga didorong oleh dampak positif dari tingginya pengeluaran pemerintah, seperti pengeluaran tinggi yang berkaitan dengan pemilu dan juga stimulus fiskal pemerintah. Beberapa stimulus fiskal yang mempengaruhi pengeluaran pemerintah yang kemudian memberikan efek multiplier terhadap perekonomian, termasuk konsumsi rumah tangga, adalah pelaksanaan program jaring pengaman sosial dalam bentuk bantuan langsung tunai, pengurangan pajak penghasilan, dan realisasi kenaikan gaji ke-13 bagi pegawai pemerintah dan tentara. Secara keseluruhan tahun 2009, pertumbuhan konsumsi pemerintah mencapai 15,7%, meningkat dari 10,4% di tahun 2008. Dilihat dari sisi sektornya PDB Indonesia telah mengalami tranformasi dari ekonomi berbasis pertanian menjadi ekonomi berbasis manufaktur. Terjadi perubahan struktur perekonomian dari basis pertanian menjadi industri. Pada tahun 1960an sampai dengan pertengahan tahun 1970an, sektor pertanian paling mendominasi dengan pangsa rata-rata 46,3% sedangkan sektor industri hanya 19%. Namun, sejak tahun 1980 hingga sekarang, sektor industri semakin menguat dengan pangsa rata-rata sebesar 41,8%. Disamping transformasi tersebut, PDB dalam enam tahun terakhir menunjukkan pergeseran lain. Pangsa bahan baku, seperti produk pertanian dan pertambangan sedikit meningkat, dan sebaliknya pangsa sector industri dan jasa menurun. Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya harga produk pertanian dan pertambangan, sedangkan perlambatan dalam sector manufaktur di tahun 2009 merupakan dampak dari penurunan ekspor karena perlambatan ekonomi dunia. Peranan konsumsi yang tinggi dalam pertumbuhan ekonomi 2009 juga tercermin dalam pertumbuhan sector PDB. Pertumbuhan ekonomi berdasarkan sector PDB sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan yang tinggi pada sector non 85

tradable seperti listrik, gas dan air, kontruksi, transportasi dan komunikasi, serta sektor jasa. Pangsa Listrik, gas dan penyediaan air bersih serta sektor transportasi dan komunikasi telah tumbuh masing-masing sebesar 13,78% dan 15,53%. Performa kinerja sektor listrik, gas dan air minum, dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dalam konversi minyak tanah ke LPG tahun pada tahun 2009 dari sebelumnya direncanakan pada tahun 2010. Sementara itu, kinerja sector transportasi dan komunikasi masih dipengaruhi oleh penetrasi pasar yang tinggi dari subsektor komunikasi. Berbeda dengan kinerja sektor non tradable, sektor tradable, seperti sektor manufaktur telah sangat terpengaruh oleh guncangan eksternal. Sektor manufaktur, yang pangsanya dalam ekspor nasional sekitar 45%, telah mengalami pertumbuhan yang menurun pada tahun 2009 sampai 2,1%. pertumbuhan sektor Perdagangan juga memiliki perlambatan signifikan, karena dampak dari perdagangan luar negeri. Bertentangan dengan sektor manufaktur dan perdagangan, sektor pertambangan menunjukkan kinerja yang baik dengan pertumbuhan meningkat menjadi 4,37%. Hal ini terutama didukung oleh pertumbuhan positif dari ekspor batubara. Tabel 4-2. Komposisi PDB Indonesia 2004-2009 Distribusi PDB (%) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 14.3 13.1 13.0 13.7 14.5 15.3 Pertambangan dan Penggalian 8.9 11.1 11.0 11.2 10.9 10.5 Industri Pengolahan 28.1 27.4 27.5 27.1 27.9 26.4 Listrik, Gas dan Air Bersih 1.0 1.0 0.9 0.9 0.8 0.8 Konstruksi 6.6 7.0 7.5 7.7 8.5 9.9 Perdagangan, Hotel dan Restoran 16.1 15.6 15.0 14.9 14.0 13.4 Pengangkutan dan Komunikasi 6.2 6.5 6.9 6.7 6.3 6.3 Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 8.5 8.3 8.1 7.7 7.4 7.2 Jasa-jasa 10.3 10.0 10.1 10.1 9.7 10.2 Produk Domestik Bruto 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 Pertumbuhan PDB (%) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan - 2.72 3.36 3.36 4.83 4.13 Pertambangan dan Penggalian - 3.20 1.70 1.70 0.68 4.37 Industri Pengolahan - 4.60 4.59 4.59 3.66 2.11 Listrik, Gas dan Air Bersih - 6.30 5.76 5.76 10.92 13.78 Konstruksi - 7.54 8.34 8.34 7.51 7.05 Perdagangan, Hotel dan Restoran - 8.30 6.42 6.42 6.87 1.14 Pengangkutan dan Komunikasi - 12.76 14.23 14.23 16.57 15.53 Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan - 6.70 5.47 5.47 8.24 5.05 Jasa-jasa - 5.16 6.16 6.16 6.23 6.40 Produk Domestik Bruto - 5.69 5.50 5.50 6.01 4.55 Sumber: BPS 86

Meskipun sector pertanian mengalami perlambatan pada tahun 2009, pangsa sektor pertanian mengalami peningkatan, terutama karena peningkatan pada sub sektor tanaman pangan dan produk perikanan. Pertumbuhan tanaman pangan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir dari hanya 2,8% pada tahun 2005 menjadi 4,1% pada tahun 2009. Pertumbuhan ini mencapai pertumbuhan tertinggi di tahun 2008 (4,8%) yang didorong oleh kenaikan harga komoditas. Sementara itu, pertumbuhan produk perikanan stabil diatasi 5% dalam jangka waktu 5 tahun terakhir. Peningkatan sektor pertambangan dan penggalian didorong oleh meningkatnya harga produk pertambangan. Di sisi harga, tahun 2010 diwarnai oleh tekanan inflasi yang cenderung meningkat, yang terutama bersumber dari kelompok volatile foods. Tingginya tekanan inflasi dari kelompok bahan makanan (volatile food) disebabkan anomali cuaca yang mengakibatkan gangguan distribusi dan produksi. Tekanan inflasi yang bersumber dari kelompok administered prices juga meningkat meskipun terbatas. Kenaikan TDL di bulan Juli tidak mendorong kenaikan harga komoditas secara signifikan. Tekanan inflasi inti mengalami peningkatan meskipun masih terkendali seiring nilai tukar rupiah yang menguat. Peningkatan inflasi ini berasal dari tren peningkatan harga komoditas pasar global. Sementara itu, ekspektasi inflasi juga sempat meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pada harga bahan makanan. Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan November 2010 inflasi IHK tercatat sebesar 6,33(yoy) atau mencapai 5,98% (ytd), sementara inflasi inti mencapai 4,31%(yoy) atau 3,89%(ytd). 87

Gambar 4-2. Perkembangan Inflasi Indonesia (%) 18.00 16.00 14.00 12.00 10.00 8.00 6.00 4.00 2.00 0.00 17.11 11.06 6.40 6.60 6.59 2.78 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Source : Statistics Indonesia 1) The consolidated CPI for the year of 2002 and 2003 (based year of 1996) has been published in April 2004 Edition. 2) Since 2004, CPI has been calculated from 45 cities based on 2002 = 100 3) Since June 2008, CPI has been calculated from 66 cities based on 2007 = 100 Terkait dengan nilai tukar di Indonesia, semasa Pemerintahan Orde Baru, Indonesia menganut sistem fixed exchange rate atau sistem nilai tukar tetap. Tetapi pada Pemerintahan berikutnya sampai sekarang, sistem yang dianut telah berubah menjadi sistem floating exchange rate atau sistem nilai tukar mengambang. Dengan sistem ini nilai tukar rupiah menjadi bergantung pada supply dan demand di pasar. Hal ini berbeda dengan sistem fixed exchange rate dimana Bank Indonesia berkewajiban menjaga Rupiah konstan dengan aktif membeli dan menjual valas untuk menghadapi supply dan demand yang berubahubah. 88

Gambar 4-3. Fluktuasi Rupiah (Rupiah/US$) 13000 12000 11000 10000 9000 8000 7000 6000 Sumber: Bank Indonesia Pada masa krisis global yang terjadi mulai akhir tahun 2008, rupiah sempat mengalami depresiasi dikarenakan adanya keketatan likuiditas global, dengan demikian supply dollar relatif sangat menurun. Hal inilah yang memeberikan efek depresiasi terhadap Rupiah. Keketaatan likuiditas global terjadi akibat perusahaan dan rumah tangga lebih menjaga likuiditasnya untuk berjagajaga dari berbagai resiko bisnis yang meningkat akibat krisis global. Hal ini yang menyebabkan sulitnya mencari dana talangan dalam membiayai defisit anggaran pemerintah. Rumah tangga konsumen pun mulai menahan diri untuk berbelanja guna mengantisipasi terhadap goncangan yang mungkin terjadi. Keketatan likuiditas diperparah oleh sikap bank yang terlalu berhati-hati dalam mengucurkan kreditnya dalam rangka meminimalisir terjadinya kredit macet. Sebenarnya depresiasi Rupiah menguntungkan kondisi dalam negeri, karena secara teoritis akan meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Hargaharga produk dalam negeri menjadi relatif lebih murah apabila dibandingkan dengan harga-harga produk sejenis yang diimpor dari negara lain. Di pasar negara tujuan ekspor Indonesia, konsumen akan lebih memilih produk dari Indonesia karena harganya lebih murah. Kondisi ini menyebabkan ekspor Indonesia meningkat. Namun hal itu tidak terjadi karena negara lain juga mengalami hal yang sama seperti Indonesia dimana mata uangnya juga mengalami depresiasi. Krisis global membuat daya beli masyarakat di setiap negara pada umumnya menurun. 89

Lain halnya dengan tahun 2009 ketika rupiah mengalami depresiasi akibat tekanan krisis global, pada tahun 2010 nilai tukar rupiah menguat secara signifikan. Penguatan rupiah didukung oleh faktor fundamental yang solid tercermin pada kinerja neraca transaksi berjalan yang mencatat surplus signifikan. Di samping itu, penguatan rupiah tersebut juga derasnya arus modal masuk asing terkait dengan melimpahnya likuiditas global, kuatnya ekspektasi berlanjutnya kebijakan suku bunga rendah di negara-negara maju dan peluncuran Quantitave Easing tahap II oleh the Fed. Derasnya aliran masuk modal asing juga didorong oleh terjaganya persepsi risiko dan sentimen positif sejalan dengan stabilitas makro dan sistem keuangan yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan sustainabilitas fiskal yang terjaga. Dengan kondisi tersebut, sepanjang tahun 2010 nilai tukar rupiah telah terapresiasi secara rata-rata sebesar 3,7% (ytd) atau menguat 4,3% (p-t-p) dibandingkan tahun 2009. Penguatan tersebut diikuti juga oleh tingkat volatilitas tahunan yang turun menjadi 0,4% dari sebelumnya 0,9%. 4.1.2 Gambaran Umum Perdagangan Indonesia Perdagangan memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Perdagangan telah menjadi pendorong bagi Indonesia untuk dapat pulih setelah krisis Asia. Perdagangan luar negeri Indonesia telah tumbuh dengan pesat dan mencapai puncaknya pada tahun 2008 dengan total perdagangan mencapai US$266,2 milyar, tumbuh lebih dari dua kali lipat dibanding setelah krisis Asia. Pada tahun 2009, perdagangan luar negeri Indonesia baik ekspor maupun impor mengalami penurunan sebagai dampak krisis keuangan global. Total perdagangan tahun 2009 turun sebesar 34,7% dibanding tahun sebelumnya. Namun meskipun demikian, kondisi pedagangan Indonesia pada tahun 2010 tampak mengalami perbaikan. Hal ini ditunjukkan dengan total perdagangan periode Januari-Oktober 2010 yang yang kemabali meningkat sebesar 35,45% dibandingkan periode yang sama tahun 2009. Lain halnya dengan total perdagangan, neraca perdagangan Indonesia justru mengalami titik terendah pada tahun 2008 terutama dikarenakan peningkatan dalam impor migas dan juga impor input industri. Pada tahun 2009, seiring dengan melemahnya impor yang lebih tajam dibanding ekspor diakibatkan 90

melemahnya perekonomian Indonesia sebagai akibat krisis global, neraca perdagangan pun mengalami peningkatan. Pada tahun 2010, neraca perdagangan kembali menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data perdagangan Januari Oktober, perbaikan neraca terjadi baik pada sektor migas maupun non migas dan mendorong peningkatan neraca sebesar 6,3% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Tabel 4-3. Neraca Perdagangan Indonesia URAIAN 2005 2006 2007 2008 2009 TREND(%) Jan-Okt Jan-Okt PERUB.(%) 05-09 2009 2010*) 09/10 E K S P O R 85,660.0 100,798.6 114,100.9 137,020.4 116,510.0 9.7 92,386.5 125,134.5 35.5 - MIGAS 19,231.6 21,209.5 22,088.6 29,126.3 19,018.3 3.0 14,178.0 21,734.7 53.3 - NON MIGAS 66,428.4 79,589.1 92,012.3 107,894.2 97,491.7 11.3 78,208.5 103,399.8 32.2 I M P O R 57,700.9 61,065.5 74,473.4 129,197.3 96,829.2 19.5 77,714.6 109,535.1 41.0 - MIGAS 17,457.7 18,962.9 21,932.8 30,552.9 18,980.7 6.7 15,054.3 21,822.7 45.0 - NON MIGAS 40,243.2 42,102.6 52,540.6 98,644.4 77,848.5 24.3 62,660.3 87,712.4 40.0 TOTAL PERDAGANGAN 143,360.8 161,864.1 188,574.3 266,217.7 213,339.3 13.8 170,101.1 234,669.6 38.0 - MIGAS 36,689.3 40,172.4 44,021.4 59,679.2 37,999.0 4.8 29,232.3 43,557.4 49.0 - NON MIGAS 106,671.6 121,691.7 144,552.9 206,538.6 175,340.2 16.5 140,868.8 191,112.2 35.7 NERACA 27,959.1 39,733.2 39,627.5 7,823.1 19,680.8 (20.8) 14,671.9 15,599.4 6.3 - MIGAS 1,773.9 2,246.6 155.7 (1,426.6) 37.6 - (876.3) (88.0) - NON MIGAS 26,185.1 37,486.6 39,471.7 9,249.7 19,643.2 (17.9) 15,548.2 15,687.4 0.9 Sumber: BPS, diolah Kementrian Perdagangan Seiring dengan perkembangan total perdagangan, ekspor juga mengalami peningkatan yang pesat sampai tahun 2008, dengan nilai ekspor sebesar US$ 137 milyar, kemudian mengalami penurunan di tahun 2009 sebesar 15% menjadi US$ 116,5 milyar. Meskipun demikian trend ekspor selama lima tahun terakhir tetap berada pada trend yang terus meningkat dengan tingkat pertumbuhan 9,7% per tahun. Ekspor Indonesia di dominasi oleh produk non migas, dengan pangsa pada tahun 2009 adalah sebesar 83,7%, pangsa tertinggi selama lima tahun terakhir. Perkembangan pangsa non migas sebetulnya berfluktuasi dari waktu ke waktu dengan rata-rata pangsa selama lima tahun terakhir (2005-2009) adalah sebesar 80%. Pada tahun 2010, ekspor Indonesia kembali mengalami pemulihan. Peningkatan ekspor terjadi baik pada sector migas maupun sector non migas dan pendorong peningkatan ekspor Januari-Oktober 2010 sebesar 35,5%. Secara umum produk ekspor Indonesia tahun 2009 masih didominasi ekspor manufaktur dengan pangsa hampir 50% dari total ekspor ke dunia, 91

dilanjutkan dengan produk mineral (33%) dan termasuk didalamnya adalah produk migas dan terakhir adalah produk pertanian, kehutanan dan perikanan dengan pangsa 17%. Pangsa ekspor produk pertanian, perikanan dan kehutanan Indonesia telah meningkat jika dibandingkan lima tahun sebelumnya yang memiliki pangsa 11,6%. Peningkatan ini terutama didorong oleh peningkatan ekspor minyak nabati yang mendominasi kelompok produk ini dengan pangsa 61.5% dari total ekspor produk pertanian, perikanan dan kehutanan, produk lainnya adalah ikan dan udang dengan pangsa 8,6% dan ekspor kopi, teh dan rempah-rempah dengan pangsa 6,3%. Disisi lain, selama lima tahun terakhir ini ekspor manufaktur Indonesia dominasi oleh ekpor mesin/elektronik dengan pangsa rata-rata selama lima tahun terakhir adalah 21,7% dari total ekspor manufaktur Indonesia, dilanjutkan dengan produk tekstil dan produk tekstil (16,8%), Produk tambang/metal (14,5%), plastic/karet (13,8%), Kayu dan produk hasil kayu (13%) dan produk-produk kimia (8,7%). Klasifikasi Tabel 4-4. Produk Ekspor Indonesia Trend (%) Pert.(%) 2005 2009 2005 2009 2005-09 2009 2010 Jan-Okt'09/10 Animal & Animal Products 1,705.4 1,997.5 2.0 1.7 5.9 1,637.2 1,889.2 15.4 Vegetable Products 6,246.6 14,124.2 7.3 12.1 28.3 10,658.9 13,831.6 29.8 Foodstuffs 1,985.7 3,734.5 2.3 3.2 18.9 2,959.2 3,727.0 25.9 Mineral Products 27,421.6 38,981.6 32.0 33.5 10.5 30,135.2 42,968.1 42.6 Machinery / Electrical 11,888.5 12,742.1 13.9 10.9 2.9 10,471.6 12,596.3 20.3 Textiles 8,604.1 9,264.0 10.0 8.0 2.2 7,621.0 9,180.1 20.5 Metals 5,226.9 6,977.4 6.1 6.0 9.2 5,653.2 8,081.9 43.0 Plastics / Rubbers 5,142.5 6,684.4 6.0 5.7 8.5 5,320.4 9,289.2 74.6 Wood & Wood Products 6,433.1 6,654.9 7.5 5.7 1.7 5,364.9 7,105.8 32.4 Chemicals & Allied Industries 3,522.0 4,869.5 4.1 4.2 10.6 3,899.8 5,547.0 42.2 Transportation 1,677.3 3,288.6 2.0 2.8 19.5 2,783.4 3,426.9 23.1 Miscellaneous 2,909.5 3,047.0 3.4 2.6 1.9 2,522.2 3,041.6 20.6 Stone / Glass 1,104.0 1,929.8 1.3 1.7 14.8 1,570.9 1,952.4 24.3 Footwear / Headgear 1,537.6 1,914.0 1.8 1.6 6.2 1,547.8 2,190.8 41.5 Raw Hides, Skins, Leather, & Furs 255.2 300.6 0.3 0.3 5.0 241.0 306.7 27.2 Total Ekspor 85,660.0 116,510.0 100.0 100.0 9.7 92,386.5 125,134.5 35.45 Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian N. Ekspor (US$Juta) Pangsa (%) N. Ekspor Jan-Okt (US$Juta) Seperti halnya dengan ekspor, impor Indonesia didominasi oleh impor non migas. Secara umum pangsa impor non migas terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dalam lima tahun terakhir ini, mulai dengan pangsa sebesar 69,7% 92

di tahun 2005 menjadi 80,4% pada tahun 2009. Dilihat dari golongan barangnya, impor utama Indonesia merupakan produk bahan baku penolong yang merupakan input bagi Industri dalam proses produksi dengan pangsa lebih dari 70% dari total impor Indonesia dilanjutkan dengan barang modal (21%) dan terakhir adalah barang konsumsi (7%). Hal ini menunjukkan bahwa permintaan utama dalam impor Indonesia merupakan produk-produk intermediate bagi Industri, dan besarnya barang modal merupakan salah satu indikasi perkembangan investasi yang terus berkembang di Indonesia. Tabel 4-5. Impor Indonesia Berdasarkan Golongan Uraian Nilai (US$'Juta) Pangsa (%) Nilai (US$'Juta) Pert. (%) Trend (%) Jan-Okt Jan-Okt 2005 2009 '05-09 2005 2009 09/10 2009 2010 Total Impor 57,700.8 96,856.2 19.5 100.0 100.0 77,714.6 109,535.1 40.9 Barang konsumsi 4,620.4 6,752.6 14.1 8.0 7.0 5,459.8 8,008.7 46.7 Bahan baku penolong 44,792.0 69,638.1 17.7 77.6 71.9 55,888.7 79,532.2 42.3 Barang modal 8,288.4 20,438.5 30.4 14.4 21.1 16,366.1 21,994.2 34.4 Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian Impor utama Indonesia selain produk mineral yang didalamnya terutama produk migas adalah mesin/elektronik, logam/metal, alat tranportasi dan produkproduk kimia. Terdapat transisi pangsa produk impor yang cukup besar antara impor Indonesia pada tahun 2009 bila dibandingkan lima tahun sebelumnya, terutama pada produk mesin/elektronik. Terdapat pertumbuhan kebutuhan yang begitu besar dengan trend pertumbuhan per tahun mencapai 93%, begitu pula untuk produk alat tranportasi dan juga logam yang merupakan bahan baku bagi industri. 93

Tabel 4-6. Produk Impor Indonesia Klasifikasi Nilai Impor (US$Juta) Pangsa (%) Trend (%) Nilai Impor (US$Juta) Pert.(%) 2005 2009 2005 2009 2005-09 Jan-okt'09 Jan-okt'10 Jan-Okt'09/10 Animal & Animal Products 1,705.4 1,502.3 2.0 1.6 0.0 1,232.5 1,745.2 41.6 Vegetable Products 6,246.6 3,825.8 7.3 4.0 (1.2) 3,243.6 3,989.2 23.0 Foodstuffs 1,985.7 3,473.7 2.3 3.6 17.2 2,925.5 3,595.4 22.9 Mineral Products 27,421.6 19,931.1 32.0 20.6 (3.3) 15,836.3 22,779.9 43.8 Chemicals & Allied Industries 11,888.5 9,186.3 13.9 9.5 (3.6) 20,942.6 29,057.4 38.7 Plastics / Rubbers 8,604.1 4,335.9 10.0 4.5 (12.2) 3,386.6 4,929.1 45.5 Raw Hides, Skins, Leather, & Furs 5,226.9 300.1 6.1 0.3 (41.8) 7,470.7 11,157.1 49.3 Wood & Wood Products 5,142.5 2,124.5 6.0 2.2 (13.7) 3,462.6 5,248.8 51.6 Textiles 6,433.1 4,171.2 7.5 4.3 (7.4) 1,688.7 2,536.7 50.2 Footwear / Headgear 3,522.0 153.1 4.1 0.2 (44.7) 7,479.0 10,260.3 37.2 Stone / Glass 1,677.3 515.5 2.0 0.5 (17.5) 7,171.6 9,319.9 30.0 Metals 2,909.5 9,557.1 3.4 9.9 28.1 2,087.3 3,640.9 74.4 Machinery / Electrical 1,104.0 25,928.3 1.3 26.8 93.0 411.7 676.4 64.3 Transportation 1,537.6 9,167.9 1.8 9.5 45.3 126.9 222.4 75.3 Miscellaneous 255.2 2,656.4 0.3 2.7 62.4 249.1 376.6 51.2 Total Impor 85,660.0 96,829.2 100.0 100.0 5.7 77,714.6 109,535.1 40.95 Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian Selama lima tahun terakhir, sepuluh pasar tujuan ekspor non migas utama Indonesia tidaklah mengalami perubahan yaitu Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), India, Malaysia, Korea Selatan, Belanda, Thailand dan Taiwan. Namun demikian dalam lima tahun terakhir tersebut terdapat pergeseran pangsa diantara kesepuluh negara tersebut. Pangsa ekpor Indonesia meningkat pesat terutama ke RRT dan India. Jepang dan Amerika Serikat meskipun tetap menjadi dua pasar paling utama bagi Indonesia namun pangsanya menurun pada tahun 2009 dibandingkan tahun 2005, begitupun dengan ekspor Indonesia ke Singapura. Secara lebih jelas perbandingan pangsa pasar ekspor Indonesia tahun 2005 dengan tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar xxx. 94

Gambar 4-4. Perbandingan Pasar Tujuan Ekspor Indonesia 2005/2009 JEPANG, 14% JEPANG, 12% TAIWAN, 3% THAILAND, 3% BELANDA, 3% Lainnya, 33% KOREA SELATAN, 4% INDIA, 4% 5 Tujuan Ekspor Terbesar 2005 50% AMERIKA SERIKAT, 14% SINGAPURA, 11% RRT, 6% MALAYSIA, 5% THAILAND, 3% TAIWAN, 3% BELANDA, 3% KOREA SELATAN, 5% Lainnya, 32% MALAYSIA, 6% 5 Tujuan ekspor terbesar 2009, 48% AMERIKA SERIKAT, 11% RRT, 9% SINGAPURA, 8% INDIA, 8% Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian Negara utama pemasok impor Indonesia pun tidak banyak mengalami perubahan dalam kurun waktu lima tahun terakhir, dari sepuluh negara pemasok utama hanya terdapat satu negara yang mengalami perubahan posisi yaitu Taiwan yang tergantikan posisinya oleh India, sedangkan ke Sembilan negara lainnya adalah tetap yaitu Jepang, RRT, Amerika Serikat, Thailand, Singapura, Australia, Jerman, Korea Selatan, dan Malaysia. Dalam perkembangannya, dalam kurun lima tahun tersebut impor Indonesia semakin terkonsentrasi dari lima pemasok utama yaitu RRT, Jepang, Singapura, Amerika Serikat dan Thailand. Peningkatan pangsa impor Indonesia meningkat terutama impor dari RRT dan Singapura. Peningkatan impor dari RRT terjadi terkait dengan dibukanya pasar Indonesia ke RRT dengan adanya skema kerjasama ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang mulai diberlakukan semenjak tahun 2004. 95

Gambar 4-5. Perbandingan Negara Pemasok Impor Indonesia 2005/2009 TAIWAN, 3% MALAYSIA, 3% KOREA SELATAN, 4% JERMAN, 4% LAINNYA, 27% AUSTRALIA, 6% 5 Pemasok impor Utama 2005, 53% Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian JEPANG, 17% RRT, 11% AMERIKA SERIKAT, 10% INDIA, 3% THAILAND, 8% JERMAN, 3% SINGAPURA, 7% MALAYSIA, 4% AUSTRALIA, 4% LAINNYA, 24% KOREA SELATAN, 5% 5 Pemasok Impor Utama 2009, 57% RRT, 17% JEPANG, 13% SINGAPURA, 12% AMERIKA SERIKAT, 9% THAILAND, 6% 4.2. Makro Ekonomi dan Perdagangan Mesir 4.2.1. Makro Ekonomi Mesir Mesir merupakan ekonomi yang stabil di antara negara Timur Tengah dan Afrika Utara, dengan tingkat pertumbuhan yang berkelanjutan dengan rata-rata 4%-5% selama seperempat abad terakhir. Gambar 4-6. Perkembangan Pertumbuhan PDB Mesir EGP Miliiar % 700 600 PDB Nominal Pert. PDB 8 7 500 6 400 300 200 5 4 3 2 100 1 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 0 Sumber: IMF, world economic outlook database (diolah tim peneliti kajian) 96

Pertumbuhan PDB di Mesir adalah merupakan tarikan permintaan, dalam arti bahwa sektor yang mengalami booming dalam perekonomian adalah sector dengan permintaan tinggi dari konsumen akhir. Hal ini dapat dilihat melalui pangsa konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah dalam total PDB yang mencapai 88%. Pertumbuhan pada tahun 2010 dengan mempertahankan momentum konsumsi rumah tangga, serta konsumsi pemerintah, mengakibatkan pertumbuhan PDB riil tumbuh dinamis pada tingkat 5,3%. Hal ini juga didukung oleh pertumbuhan investasi yang positif. Pada tahun 2010, konsumsi rumah tangga menunjukkan pertumbuhan riil sebesar 4%. Hal ini didukung oleh basis populasi yang luas, dengan pertumbuhan penduduk mencapai 2,6% meningkat menjadi 78,8 juta jiwa pada bulan July 2010 dari 76,8 juta jiwa pada bulan Juli 2009. Ekonomi Mesir ini juga ditandai dengan kecenderungan tingginya konsumsi sebagai kasus negara berpenghasilan rendah menengah (PDB per kapita di Mesir diperkirakan sebesar US $ 2,729). Lebih lanjut, konsumsi rumah tangga diprediksi untuk mencapai pertumbuhan riil sebesar 5% pada tahun 2011 dan 5,5% pada tahun 2012 didukung oleh membaiknya perekonomian internasional yang mendorong hasil yang lebih tinggi dari ekspor barang dan jasa. Pengeluaran Pemerintah dipercepat dalam dua tahun terakhir dalam rangka mendorong perekonomian dan meminimalisir dampak dari krisis global terhadap perekonomian Mesir. Gambar 4-7. Nominal dan Struktur PDB Mesir 97

Oleh karena itu, konsumsi pemerintah akhir menunjukkan pertumbuhan riil 8,4% di tahun 2009 diikuti oleh pertumbuhan 4,4% di tahun 2010. Tingkat pertumbuhan ini tidak dapat dipertahankan untuk periode mendatang untuk mencegah defisit dan hutang publik yang lebih besar. Selain itu, kebutuhan atas pengeluaran yang seperti itu akan memudar seiring dengan pemulihan ekonomi global. Oleh karena itu, pada tahun mendatang konsumsi pemerintah diharapkan untuk mencapai pertumbuhan riil sebesar 1,5% pada tahun 2011 dan 1% pada tahun 2012. Karena krisis keuangan global, investasi pada thaun 2009 menunjukkan pertumbuhan riil yang menurun sebesar 9% dan menunjukkan 98

pertumbuhan yang stagnan ditahun 2010 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 1,2%. Arus masuk investasi asing (FDI) bersih menurun sebesar 38% pada 2009 menjadi US $ 8 miliar dari US $ 13 miliar pada tahun 2008. Namun demikian, pertumbuhan investasi domestik riil diperkirakan mencapai 19% pada tahun 2009. Pada tahun 2010, arus masuk FDI terus mengalami pertumbuhan yang negatif dengan nilai FDI menjadi US $ 6,4 miliar di tahun 2010. Namun meskipun demikian pertumbuhan investasi domestik tahunan pada kuartal ketiga tahun 2010 mencapai 11%. Pada tahun 2011 investasi diharapkan mampu tumbuh sebesar 5% dan 7% pada tahun 2012. Penurunan impor, karena penurunan harga minyak, memberikan dorongan terhadap pertumbuhan PDB di tahun 2009. Hal ini terjadi karena impor menunjukkan penurunan 17,7% secara riil di tahun 2009. Sedangkan ekspor menurun dengan tingkat yang lebih rendah, yaitu sebesar minus 12,8%. Pada tahun 2010 impor kembali mengalami pertumbuhan yang menurun sebesar 7,7%, hal ini bertentangan dari estimasi yang diharapkan agar impor tumbuh positif seiring harga minyak yang kembali meningkat. Sedangkat ekspor meskipun mengalmi pertumbuhan yang juga negative namun kembali dengan tingkat yang lebih rendah yakni sebesar 3,5%. Pada thaun 2011 ekspor dan impor diharapkan untuk mengalami pertumbuhan yang posistif masing-masing sebesar 14% dan 10%. Struktur ekonomi Mesir merupakan salah satu perekonomian paling berkembang dan terdiversifikasi diantara negara-negara Afrika dan Timur Tengah. Mesir memiliki sektor industry yang besar, sektor primer yang penting dan sektor jasa yang berkembang pesat. Pada awalnya pertanian merupakan andalan dari ekonomi Mesir. Namun, dengan pertumbuhan indutrialisasi yang pesat pangsanya telah berkurang menjadi 13,1% dari PDB (estimasi 2009). Pada tahun 1970-an pertanian menggunakan lebih dari 90% tenaga kerja di Mesir. Namun, pada tahun 2009 hanya menggunakan sekitar 32% dari tenaga kerja. Sektor Industri memperkerjakan sekitar 17% dari tenaga kerja dan memberikan kontribusi sebesar 37% terhadap produksi nasional. Mesir memiliki berbagai industry seperti baja, listrik, ekstrasi dan kilang minyak, produk kimia, barang domestic dan automobile. Industry IT juga secara bertahap berkembang di negara tersebut. Sektor jasa merupakan contributor terbesar dalam ekonomi Turki, dengan tingkat 99

kontribusi melebihi 49%. Sektor ini juga memperkerjakan hampir 50% dari populasi. Sektor jasa utama di Mesir adalah kontruksi, pariwisata, perdagangan kanal dan pekerjaan administrative. Gambar 4-8. Komposisi PDB Mesir Berdasar Sektor Sumber: Economicwatch.com Sektor yang memiliki pertumbuhan yang dinamis pada tahun 2010 adalah sektor yang berbasis konsumsi, yaitu seperti komunikasi, kontruksi, dan restoran & hotel yang masing masing menunjukkan pertumbuhan riil sebesar 13$, 14% dan 13%. Sector kontruksi dan bangunan terus menjadi sector diakrenakan adanya permintaan terpendam dikarenakan ukuran populasi yang besar. Hal ini terutama terjadi karena pengembang merubah produknya sesuai dengan kebutuhan penduduk berpendapatan menengah. Pertumbuhan restoran dan hotel menunjukkan berkembangnya sector pariwisata yang telah tumbuh pada kuarta ketiga 2010 sebesar 9% dibandingkan periode yang yang sama pada tahun sebelumnya. Disisi lain, pendabatan terusan Suez menunjukkan pertumbuhan riil yang negative sebesar 7% di tahun 2010. Hal ini menunjukkan perlambatan dalam transaksi perdagangan internasional. Begitu pula dengan sektor ekstraksi yang menunjukkan pertumbuhan yang datar, hanya sebesar 0,7% pada tahun 2010 dikarenakan menurunnya arus masuk investasi asing langsung. 100

Gambar 4-9. Pertumbuhan PDB Berdasarkan Sektor Pada tahun 2010 ekspor masih mengalami pertumbuhan yang menurun sebesar 5%, begitu pun dengan impor yang tumbuh dengan besaran yang sama, serta pertumbuhan neraca perdagangan yang datar pada nilai defisit US$ 25 miliar. Pada tahun 2011 ekspor diharapkan mengalami peningkatan sebesar 20%, yang didorong oleh peningkatan tagihan minyak sebesar 25%. Impor juga diharapkan uantuk mengalami pertumbuhan sebesar 16% dan memperlebar deficit perdagangan menjadi US$ 28,8 miliar. Penerimaan sektor jasa tetap pada tingkat US$23,6 miliar dengan dorongan terutama datang dari sektor pariwisata. Penerimaan dari terusan Suez menunjukkan penurunan sebesar 4% pada tahun 20110 dengan total lalu lintas melalui jalur air diperkirakan akan meningkat pada tahun 2011 dari 17.520 kapal pada tahun 2010 menjadi 19.354 kapal pada tahun 2011. Pariwisata pada sisi lain menunjukkan pertumbuhan yang positif sebesar 11%. Transfer pekerja menunjukkan performa pertumbuhan yang tinggi sebesar 27% pada tahun 2010 menjadi US$ 10.5 miliar. Pada tahun 2011 sektor ini diestimasikan akan terus meningkat sebesar 16% didorong oleh perbaikan harga minyak yang menyebabkan akselerasi bisnis di negara-negara GCC sebagai pemberi kerja utama. Defisit neraca berjalan tetap berada pada posisi US$ 4,3 101

miliar. Pada thaun 2011 neraca berjalan diharapkan mengalami perbaiakan dengan penurunan defisit menjadi US$ 2,7 miliar. Total pertumbuhan investasi asing langsung mengalami kembali mengalmi penurunan pada 2010 ini sebesar 21% dibandingkatan tahun sebelumnya, setelah menurun sebesar 38% pada tahun 2009. Meskipun dmeikian investasi dari Uni Eropa terutama Inggris mengalami peningkatan yang besar pada tahun 2010 yaitu sebesar 39%, sedangkan investasi dari Amerika Serikat dan negara-negara Arab mengalami penuuruanan masing masing sebesar 64% dan 53%. Mayoritas arus masuk investasi asing terkonsentrasi pada sektor minyak bumi. Sepanjang tahun 2010 arus masuk investasi asing di sektor minyak menunjukkan penurunan yang jauh lebih rendah (3%) dibandingkan sektor bukan minyak yang menunjukkan penurunan sebesar 36%. Gambar 4-10. Distribusi dan Total Investasi Asing Langsung ke Mesir Sistem subsidi merupakan distorsi harga paling utama di Mesir dikarenakan minyak, energy dan bahan makanan yang bersubsidi. Seiring dengan membesarnya defisit anggaran, sistem subsidi menjadi kurang berkelanjutan. Namun demikian mengurangi subsidi akan menyebakan kenaikan inflasi. Hal ini tercermin dari kasus tahun 2008 pada saat pemerintah menurunkan subsidi minya yang menyebabkan kenaikan inflasi yang mencapai puncaknya pada bulan Agustus 2008 yang mencapai 25% (yoy). Sehingga menyebabkan inflasi rata-rata untuk tahun 2009 mencapai 16,2%. Faktor lain yang mendasari kenaikan inflasi adalah permintaan yang tinggi, misalnya dikarenakn basis populasi yang besar digabungkan dengan produktifitas yang rendah yang dimanifestasikan dengan 102

PDB per kapita sebesar US$ 2.400 pada thaun 2009. Hal ini juga diperkuat dengan fakta bahwa Mesir menimpor 40% dari kebutuhan makanannya. Hal ini juga merupakan masalah yang kronis dalam perekonomian Mesir. Seiring dengan merosotnya harga-harga internasioanal pada tahun 2010, inflasi di Mesir mengalami penurunan menjadi 11,8%. Tidak ada tanda-tanda deflasi yang muncul sebagai akibat faktor-faktor yang disebutkan diatas. Kedepannya, diestimasikan bahwa Mesir tidak akan melakukan pemotongan besar terhadap subsidi sampai pemilu pada bulan September 2011. Namun tampaknya pada tahun 2012 gelombang kenaikan inflasi akan kembali terjadi sebagai akibat pemotongan subsidi. Tabel 4-7. Tingkat Inflasi Mesir Depresiasi pound Mesir (EGP) terhadap US$ dari LE5,4/US$ pada Januari 2010 menjadi LE 5,7/US$ pada bulan Agustus 2010 mencerminkan rendahnya arus masuk dolar dari Terusan Suez begitu juga penerimaan dari ekspor serta investasi asing. Pada tahun berikutnya EGP diestimasikan bahwa tingkat LE5,7/US$ akan menguat kembali pada pertengahan tahun 2011 seiring pemulihan penerimaan dari Terusan Suez dan juga ekspor. 103

Gambar 4-11. Perkembangan Nilai Tukar Mesir 4.2.1 Gambaran Umum Perdagangan Mesir Perekonomian Mesir telah berkembang dengan ketergantungan yang tinggi terhadap impor. oleh karena itu, perdagangan luar negeri Mesir dikarakterisasi oleh defisit perdagangan yang besar. Seperti terlihat pada gambar xxx, neraca perdagangan Mesir selalu berada posisi defisit. Semenjak tahun 2003 perdagangan Mesir terus mengalami peningkatan baik ekspor maupun impor, dan mencapai puncaknya pada tahun 2008 dengan total perdagangan mencapai US$ 82,1 miliar. Seiring dengan adanya krisis keuangan global, perdagangan Mesir pun mengalami penurunan pada tahun 2009, dengan tingkat penurunan ekspor jauh lebih tajam dibandingkan impor. Hal ini menyebabkan defisit perdagangan yang kian melebar menjadi US$25,1 miliar, meningkat 7,5% dibandingkan defisit di tahun 2008. Sampai pada kuartal ketiga 2010, perdagangan Turki belum menunjukkan pemulihan. Ekspor dan juga impor Mesir masih mengalami penurunan dibandingkan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya, masing-masing sebesar 11,9% dan 8,3%. Namun demikian defisit perdagangan sampai kuartal ketiga 2010 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 5%. 104

Gambar 4-12. Perkembangan Neraca Perdagangan Mesir 100000 80000 Ekspor Impor Total Perdagangan Neraca Perdagangan 60000 40000 20000 0-20000 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2009*2010* -40000 * Q3 2010 Sumber: Bank Sentral Mesir, diolah tim peneliti kajian Ekspor Mesir masih sangat bergantung pada ekspor minyak dengan pangsa ekspor pada tahun 2009 mencapai 43,7% dari total ekspor Mesir ke dunia. Pangsa komoditas minyak ini bahkan pernah mencapai 55% dari total ekspor pada tahun 2006 dan mencapai hampir setengah dari total ekspor pada tahun 2008. Sedangkan produk lain yang memiliki pangsa yang cukup besar terhadap total ekspor adalah produk makanan dengan pangsa pada tahun 2009 sebesar 8,6%, sereal (8,2%), cotton dan produk tekstil lainnya (6,3%), produk kimia (4,4%), suku cadang dan peralatan listrik (3,8%), dan produk metal mentah (3,4%). Produk ekspor makanan utama Mesir adalah produk susu & telur, minyak hewani & tumbuhan, buah-buahan, tembakau dan gula. Sedangkan produk ekspor utama dari sereal adalah beras dan buah & biji berminyak serta tumbuhan untuk industry. Produk ekspor andalan untuk produk tekstil adalah baju jadi, kapas tekstil dan karpet. 105

Tabel 4-8. Komoditas Ekspor Utama Mesir Uraian Nilai Ekspor (US$ Juta) Pangsa (%) Trend 2005 2009 2005 2009 Ekspor (%) Total 13,827.7 25,168.9 100.0 100.0 18.0 Oil commodity 5,299.0 11,004.5 38.3 43.7 19.8 Foodstuff 469.1 853.5 5.1 8.6 23.1 Cereals 323.0 238.5 9.9 8.2 (2.7) Cotton & its products & other textiles 1,041.9 1,579.1 7.5 6.3 12.8 Chemicals commodity 706.4 2,154.5 2.7 4.4 38.2 Electric appliances & equipment & parts thereof 272.5 956.6 2.0 3.8 40.9 Base metales & products 1,370.0 2,051.7 3.4 3.4 15.9 Vehicles, cars & other means of transportation 379.8 1,103.4 2.3 0.9 47.9 Others 3,966.0 5,227.1 28.7 20.8 9.1 Sumber: Bank Sentral Mesir, diolah tim peneliti kajian Mesir selain sebagai eksportir komoditas minyak juga merupakan importir komoditas minyak. Namun demikian berdasarkan data tahun 2009, ekspor komoditas minyak Mesir didominasi oleh penjualan minyak mentah sedangkan dari sisi impornya pembelian komoditas minyak didominasi oleh pembelian produk hasil minyak. Seperti halnya ekspor pangsa impor komoditas minyak Mesir juga mengalami peningkatan yang cukup besar pada tahun 2006 dan 2008 yang mungkin disebabkan oleh peningkatan harga minyak internasional, dengan pangsa pada masing-masing tahun adalah sebesar 17,6% dan 18,1%. Produk utama impor Mesir lainnya adalah metal mentah dan produknya terutama untuk produk bijih besi dan baja dan produk turunannya, produk produk kimia terutama untuk produk kimia organic & anorganic beseerta karbon dan produk obat-obatan, suku cadang dan peralatan listrik yang didominasi oleh impor computer dan software serta alat tranportasi. 106

Tabel 4-9. Komoditas Impor Utama Mesir Uraian Nilai Impor (US$ Juta) Pangsa (%) Trend 2005 2009 2005 2009 Impor (%) Total 24,192.3 50,342.2 100.0 100.0 22.3 Oil commodity 3,975.3 7,032.3 16.4 14.0 18.8 Base metales & products 1,645.1 6,013.1 6.8 11.9 43.1 Chemicals commodity 1,831.4 4,619.8 7.6 9.2 31.2 Electric appliances & equipment & parts thereof 1,561.8 4,370.6 6.5 8.7 34.9 Vehicles, cars & other means of transportation 1,013.9 4,174.1 4.2 8.3 45.7 Foodstuff 1,658.2 3,648.5 6.9 7.2 26.6 Cereals 1,762.3 2,249.0 7.3 4.5 12.6 Cotton & its products & other textiles 723.0 1,764.8 3.0 3.5 27.9 Others 10,021.3 16,470.0 41.4 32.7 12.4 Sumber: Bank Sentral Mesir, diolah tim peneliti kajian Uni Eropa dan Amerika Serikat merupakan tujuan ekspor utama bagi Mesir dengan pangsa lebih dari 50% dari total ekspor Mesir tahun 2009. Namun, demikian pangsa ekspor Mesir ke negara-negra tersebut telah jauh menurn bila dibandingkan lima tahun sebelumnya yang memiliki pangsa lebih dari 70% dari total ekspor Mesir. Ekspor ke Uni Eropa terutama pada negara Italia, Belanda, Spanyol, Inggris, Perancis dan Turki. Ekspor ke negara-negara Arab mengalami pangsa yang meningkat cukup besar dibandingkan lima tahun sebelumnya dari 11,3% pada tahun 2005 menjadi 15,3% pada thaun 2009. Pasar utama Mesir di negara-negara Arab adalah Saudi Arabia, Libia, Jordan, Siria dan Sudan. Begitu juga dengan pangsa ekspor Mesir ke negara-negara di Asia yang juga mengalami peningkatan. Tujuam ekspor utama Mesir di Asia adalah India, Jepang dan Korea. Gambar 4-13. Perbandingan Pasar Tujuan Ekspor Mesir 2005/2009 Sumber: Bank Sentral Mesir, diolah tim peneliti kajian 107

Seperti halnya ekspor, Uni Eropa merupakan pemasok utama kebutuhan impor Turki dengan pangsa yang semakin meningkat dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini dari pangsa sebesar 32,4% pada tahun 2005 menjadi 37,4% pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan kebergantungan yang semakin meningkat terhadap Uni Eropa oleh Mesir. Impor Mesir dari Uni Eropa terutama berasal dari Jerman, Italia, Inggris, Perancis dan Turki. Amerika Serikat merupakan negara pemasok terbesar ke Mesir, namun demikian pangsanya semakin menurun apabila dibandingkan tahun 2005. Pemasok utama lain ke Mesir adalah negara-negara Asia terutama Cina, jepang, India dan Korea. Sedangkan pemasok utama dari negara Arab adalah Saudi Arabia dan Kuwait. Negara pemasok utama lain dari impor Mesir adalah Federasi Rusia dan Ukraine. Gambar 4-14. Perbandingan Pemasok Impor Mesir 2005/2009 Sumber: Bank Sentral Mesir, diolah tim peneliti kajian 4.3. Perdagangan Bilateral Indonesia dengan Mesir Perdagangan Bilateral Indonesia dengan Mesir menunjukkan pertumbuhan yang tinggi semenjak tahun 2005. Seperti terlihat pada gambar xxx, total perdagangan antara Indonesia dengan Mesir terus mengalami pertumbuhan yang positif semenjak tahun 2004 dan menunjukkan trend pertumbuhan yang tinggi setelah itu dan mencapai puncaknya pada tahun 2008. Kenaikan total perdagangan Indonesia dengan Mesir didorong oleh percepatan ekspor Indonesia ke negara piramida itu. Percepatan impor Indonesia dari Mesir relative rendah kecuali pada tahun 2008 yang tumbuh cukup tinngi. Oleh karena itu neraca perdagangan 108

Indonesia ke Mesir selalu positif dan memiliki trend pertumbuhan yang cukup tinggi. Bahkan pada tahun 2009, ketika ekspor Indonesia ke Mesir mengalami penurunan seiring melemahnya ekspor Indonesia karena krisis global, neraca perdagangan Indonesia ke Mesir masih mampu untuk terus tumbuh. Gambar 4-15. Perkembangan Perdagangan Bilateral Indonesia Mesir, 2000-2009 Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian Perkembangan perdagangan Indonesia dengan Mesir sampai dengan bulan September 2010 ini menunjukkan pertumbuhan kembali dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Total perdagangan selama periode Januari- September 2010 meningkat cukup tinggi sebesar 34,3% dibandingkan periode sebelumnya pada tahun 2009. Pertumbuhan total perdagangan ini didorong oleh peningkatan perdagangan baik ekspor maupun impor. Ekspor Indonesia ke Mesir sampai September 2010 ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup besar yaitu 26% dari ekspor pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan dari sisi impor, impor migas dari Mesir sampai bulan September 2010 mengalami lonjakan lebih dari sepuluh kali lipat dari hanya sebesar US$347,5 ribu pada perode Januari-September 2009 menjadi US$ 41,4 juta di tahun 2010, dan sedangkan impor non migasnya telah meningkat sebesar 34% pada periode tersebut. Meskipun impor meningkat cukup tajam, namun sebenarnya ekspor masih meningkat lebih besar. Hal ini ditunjukkan dari neraca perdagangan yang masih tumbuh positif antara periode Januari-September 2009/2010. 109

Tabel 4-10. Neraca Perdagangan Indonesia dengan Mesir URAIAN 2005 2009 Trend(%) Jan-Sep Pert. (%) 2005-2009 2010 2010/2009 Total perdagangan 330,542.0 802,564.3 27.6 561,000.7 753,258.2 34.3 Migas 3.7 399.1-347.5 41,419.0 11,818.2 Non migas 330,538.3 802,165.2 27.6 560,653.2 711,839.1 27.0 Ekspor 290,485.4 708,813.9 26.1 495,147.9 624,035.4 26.0 Migas 3.7 - - - - - Non migas 290,481.7 708,813.9 26.1 495,147.9 624,035.4 26.0 Impor 40,056.6 93,750.4 36.8 65,852.8 129,222.7 96.2 Migas - 399.1-347.5 41,419.0 11,818.2 Non migas 40,056.6 93,351.3 36.7 65,505.3 87,803.7 34.0 Neraca perdagangan 250,428.7 615,063.5 23.8 429,295.1 494,812.7 15.3 Migas 3.7 (399.1) - (347.5) (41,419.0) 11,818.2 Non migas 250,425.1 615,462.6 23.8 429,642.6 536,231.7 24.8 Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian Dililihat dari posisinya, Mesir merupakan pasar tujuan ekspor Indonesia yang ke- 25 Dengan pangsa tahun 2009 sebesar 0.61% dari total ekpor Indonesia ke dunia, meningkat apabila dibandingkan tahun 2005 dengan pangsa 0.34%. Sedangkan pada sisi impor Mesir merupakan pemasok impor Indonesia yang ke- 52 Dengan pangsa pada tahun 2009 adalah sebesar 0.10 % dari total impor Indonesia, meningkat dibandingkan tahun 2004 yang memiliki pangsa 0.07%. Sedangkan Indonesia di sisi Mesir menempati posisi sebagai pasar tujuan ekspor ke 49 pada tahun 2008, dengan pangsa hanya 0,29% dari total ekspor Mesir ke Dunia, namun diantara Negara-negara ASEAN, Indonesia menempati posisi terbesar sebagai pasar tujuan ekspor Mesir. Hal ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih menarik bagi Mesir untuk dikembangkan di kawasan Asia Tenggara. Disisi impor Mesir, Indonesia memiliki pangsa yang lebih tinggi sebagai pemasok impor Mesir yaitu sebesar 1,5% dari total impor Mesir dari dunia dan menempati posisi ke-23. Namun diantara Negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN), Indonesia merupakan pemasok impor Mesir yang terbesar. Hal ini menunjukkan peluang Indonesia yang cukup tinggi diantara Negara-negara Asia Tenggara lainnya untuk mengembangkan ekspor disana. (Nilai : Ribu US$) 110

Tabel 4-11. Posisi dan Pangsa Indonesia dalam Perdagangan Mesir Tahun 2008 Negara Mitra Ekspor Mesir (US$'000) Share (%) Posisi World 23,994,667 100.00 - Italy 2,514,750 10.48 1 India 1,577,623 6.57 2 Netherlands 1,416,339 5.90 3 Spain 1,305,971 5.44 4 Bunkers 1,200,242 5.00 5 United States 1,140,467 4.75 6 Saudi Arabia 1,109,773 4.63 7 United Kingdom 846,834 3.53 8 Japan 813,742 3.39 9 Libya 736,245 3.07 10 ASEAN 398,351 1.66 21 Indonesia 70,396 0.29 49 Malaysia 34,697 0.14 57 Thailand 11,518 0.05 81 Singapore 276,465 1.15 30 Philipina 2,234 0.01 113 Vietnam 2,822 0.01 107 Asean Lainnya 217 0.001 - Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian Negara Mitra Impor Mesir (US$'000) Share (%) Posisi World 47,539,780 100.00 - United States 5,174,196 10.88 1 China 3,997,967 8.41 2 Saudi Arabia 2,901,962 6.10 3 Germany 2,822,956 5.94 4 Italy 2,684,243 5.65 5 Russian Federation 2,042,788 4.30 7 Ukraine 1,761,965 3.71 8 Japan 1,607,962 3.38 9 India 1,607,690 3.38 10 ASEAN 2,106,254 4.43 6 Indonesia 698,862 1.47 23 Malaysia 488,456 1.03 29 Thailand 576,405 1.21 27 Singapore 192,542 0.41 38 Philipina 18,280 0.04 82 Vietnam 124,716 0.26 52 Asean Lainnya 6,993 0.01 - Ekspor non migas Indonesia ke Mesir didominasi oleh beberapa produk yaitu produk tanaman, tekstil, plastic/karet, kayu dan produk kayu, mesin/elektonik, dan produk-produk kimia. Produk-produk tersebut mendominasi lebih dari 90% ekspor Indonesia ke Mesir. Terdapat pergeseran pangsa ekspor yang cukup signifikan dalam lima tahun terakhir ini. Produk tanaman yang pada awalnya hanya mendominasi sekitar 24% dari ekspor di tahun 2005 menjadi lebih dari 50% pada tahun 2009, sedangkan pangsa produk lainnya secara umum mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Mesir semakin terkosentrasi pada produk tertentu dan semakin tidak terdeferensiasi. Diperlukan usaha Indonesia untuk mengetahui dan mengembangkan potensi ekspor lain untuk dapat dikembangkan di Mesir. 111

Gambar 4-16. Komposisi Ekspor Indonesia ke Mesir 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 10.8% 3.7% 4.7% 11.6% 16.2% 28.2% 24.7% 6.1% 8.5% 8.2% 3.2% 11.0% 12.2% 8.1% 3.4% 2.3% 2.9% 4.6% 3.0% 4.5% 3.9% 4.3% 9.6% 7.6% 8.1% 4.2% 6.3% 4.6% 6.3% 5.3% 8.3% 7.9% 8.0% 12.1% 10.9% 12.3% 8.4% 11.5% 19.9% 13.2% 12.1% 11.6% 15.6% 58.2% 49.9% 51.6% 51.7% 52.8% 45.7% OTHERS Chemicals & Allied Industries Machinery / Electrical Plastics / Rubbers Wood & Wood Products Textiles Vegetable Products 0% 2005 2006 2007 2008 2009 Jan-Jul'09 Jan-Jul'10 Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian Secara lebih detail dalam HS 4 digit, dapat dilihat bahwa ekspor ke Mesir hanya didominasi satu produk yaitu kelapa sawit dan turunannya yang memiliki pangsa 46% dari ekspor Indonesia ke Mesir. Produk utama lainnya adalah benang dan plywood. Ketiga produk ini saja telah mendominasi lebih dari setengah ekspor Indonesia ke Mesir, sedangkan sepuluh produk utama telah memiliki pangsa 70% dari total ekspor Indonesia ke Mesir, sedangkan produk lainnya memiliki pangsa yang relative sangat kecil dan tersebar. 112

Tabel 4-12. Perkembangan Ekspor 20 Produk Utama Indonesia ke Mesir (2005-2010) Nilai US$ Share Trend Perubahan Jan-Jul HS Uraian (%) (%) (%) 2005 2009 2009 2010 2009 2005-2009 2009/2010 1511 PALM OIL AND ITS FRACTIONS, WHETHER 54,108,227 325,372,789 142,198,064 216,698,108 45.9 53.0 52.4 5509 YARN (OTHER THAN SEWING THREAD) OF 33,375,122 31,101,196 20,357,254 9,895,254 4.4 (4.0) (51.4) 4412 PLYWOOD,VENEERED PANELS AND SIMILAR 10,272,897 28,421,493 16,478,937 12,455,349 4.0 35.1 (24.4) 4011 NEW PNEUMATIC TYRES,OF RUBBER (+). 22,763,515 18,375,696 7,546,520 15,314,739 2.6 (3.5) 102.9 4802 PAPER AND PAPERBOARD, UNCOATED, FOR 15,925,819 18,347,220 9,990,764 13,710,850 2.6 11.7 37.2 8703 MOTOR CARS & OTHER MOTOR VEHICLES - 18,148,040 11,571,702 5,984,131 2.6 - (48.3) 5402 SYNTHETIC FILAMENT YARN (OTHER THAN 24,839,723 18,033,924 10,816,104 11,841,913 2.5 (7.5) 9.5 0901 COFFEE, WHETHER OR NOT ROASTED OR 8,251,062 15,691,625 9,311,716 10,006,152 2.2 17.9 7.5 3401 SOAP; ORGANIC SURFACE-ACTIVE 6,994,343 15,287,648 8,001,228 9,769,746 2.2 14.3 22.1 4001 NATURAL RUBBER,BALATA,GUTTA- 2,393,316 11,010,634 5,185,117 13,564,594 1.6 51.3 161.6 7013 GLASSWARE OF A KIND USED FOR TABLE, 4,107,549 10,929,954 6,235,937 4,797,206 1.5 24.6 (23.1) 1517 MARGARINE;EDIBLE 1,566,751 10,768,163 5,434,556 5,859,213 1.5 84.4 7.8 2701 COAL; BRIQUETTES, OVOIDS AND SIMILAR - 9,336,600 - - 1.3 - #DIV/0! 4411 FIBREBOARD OF WOOD OR OTHER 2,103,183 8,432,206 2,561,170 2,057,012 1.2 49.4 (19.7) 6204 WOMEN'S OR GIRLS 3,160,776 7,951,627 6,962,147 11,836,638 1.1 26.9 70.0 4810 PAPER & PAPERBOARD,COATED ON ONE OR 11,638,897 7,924,621 4,122,016 4,685,364 1.1 (8.8) 13.7 1513 COCONUT (COPRA), PALM KERNEL OR 1,627,553 7,840,476 4,118,332 5,288,658 1.1 64.2 28.4 2401 UNMANUFACTURED TOBACCO; TOBACCO 574,609 6,876,113 5,873,006 8,526,193 1.0 96.9 45.2 5407 WOVEN FABRICS OF SYNTHETIC FILAMENT 1,608,248 6,585,217 3,156,616 5,950,910 0.9 45.7 88.5 7304 TUBES, PIPES AND HOLLOW PROFILES, 6,827,833 6,394,761 4,238,169 220,611 0.9 (8.2) (94.8) Subtotal 212,139,423 582,830,003 284,159,355 368,462,641 82.2 29.4 29.7 Others 78,342,270 125,983,880 75,175,606 95,712,431 17.8 14.5 27.3 Total 290,481,693 708,813,883 359,334,961 464,175,072 100.0 26.1 29.2 Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian Seperti halnya dalam ekspor, komposisi impor Indonesia dari Mesir juga telah mengalami pergeseran yang culkup signifikan dalam kurun lima tahun terkahir ini. Impor produk kimia dan sejenis yang pada tahun 2005 dibutuhkan sangat kecil dari Mesir (4,2%), menjadi produk impor paling utama Indonesia dari Mesir di tahun 2009, bahkan data Januari-Juli 2010 menunjukkan bahwa pangsanya lebih dari 50% dari kebutuhan impor Indonesia dari Mesir. Produk lain yang pangsa kebutuhannya meningkat adalah produk tanaman yang pangsanya meningkat hampir dua kali lipat di 2010. Sedangkan pangsa produk lainnya yang awalnya sangat tinggi seperti produk mineral, makanan, dan tekstil justru mengalami penurunan. 113

Gambar 4-17. Komposisi Impor Indonesia dari Mesir 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 8.3% 4.4% 3.9% 2.5% 2.5% 1.9% 1.2% 5.4% 3.2% 4.9% 4.3% 3.7% 3.9% 7.7% 7.5% 10.6% 6.7% 7.8% 3.4% 9.2% 13.5% 5.6% 7.1% 7.9% 10.8% 13.1% 14.1% 12.9% 16.4% 24.4% 34.6% 14.9% 45.9% 36.3% 78.3% 56.3% 42.5% 52.9% 50.3% 24.2% 30.9% 4.2% 2005 2006 2007 2008 2009 Jan-Jul'09 Jan-Jul'10 OTHERS Textiles Vegetable Products Foodstuffs Mineral Products Chemicals & Allied Industries Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian Secara lebih detail dalam HS 4 digit dapat dilihat pada tabel xxx. Produk impor utama Indonesia dari Mesir adalah pupuk dan bahan pupuk seperti pupuk phospat, natural kalsium phospat dan ammonia yang akumulasi pangsa ketiga produk ini telah mendominasi sekitar 75% impor Indonesia dari Mesir. Produk impor utama lainnya adalah molasses atau gula dan kurma. Kelima produk utama ini memiliki pangsa sekitar 88% dari keseluruhan impor dari Mesir, sedangkan produk lainnya memiliki pangsa sangat kecil dan tersebar. 114

Tabel 4-13. Perkembangan Impor 20 Produk Utama Indonesia ke Mesir (2005-2010) Nilai US$ Jan-Jul Share Trend Perubahan HS Uraian (%) (%) (%) 2005 2009 2009 2010 2009 2005-2009 2009/2010 3103 MINERAL OR CHEMICAL FERTILISERS. PHOSPHATIC 1,185,948 35,116,475 25,139,799 31,026,044 37.6 164.1 23.4 2510 NATURAL CALCIUM PHOSPHATES, NATURAL ALUMINIUM 21,374,220 32,013,027 13,498,802 8,554,245 34.3 10.6 (36.6) 1703 MOLASSES RESULTING FROM THE EXTRACTION OR REFI 6,578,512 6,346,101 4,238,100 7,645,200 6.8 (3.4) 80.4 0804 DATES, FIGS, PINEAPPLES, AVOCADOS, GUAVAS, MANG 1,057,945 4,856,953 3,190,582 3,508,891 5.2 41.4 10.0 2814 AMMONIA, ANHYDROUS OR IN AQUEOUS SOLUTION - 4,241,432 4,241,432-4.5 - (100.0) 4105 SHEEP OF LAMB SKIN LEATHER,WITHOUT WOOL ON, OT - 1,232,870 554,260 1,132,246 1.3-104.3 5703 CARPETS AND OTHER TEXTILE FLOOR COVERINGS,TUFTE 699,212 1,080,421 612,194 426,422 1.2 1.3 (30.3) 0805 CITRUS FRUIT, FRESH OR DRIED 1,045,673 1,030,874 991,239 1,241,052 1.1 (6.4) 25.2 5201 COTTON,NOT CARDED OR COMBED. 2,527,370 1,008,932 629,112 1,092,246 1.1 (18.9) 73.6 9032 AUTOMATIC REGULATING OR CONTROLLING INSTRUME 4,122 756,588 17,188 513,645 0.8-2,888.4 4004 WASTE, PARINGS AND SCRAP OF RUBBER (OTHER THAN - 697,114 149,631 828,696 0.7-453.8 4104 LEATHER OF BOVINE OR EQUINE ANIMALS,WITHOUT H - 589,230 261,215 333,802 0.6-27.8 4011 NEW PNEUMATIC TYRES,OF RUBBER (+). 1,216,826 507,874 271,359 1,274,889 0.5 (20.7) 369.8 6204 WOMEN'S OR GIRLS SUITS,ENSEMBELS,JACKETS,BLAZER 65 396,105 235,243 209,138 0.4 1,219.0 (11.1) 2101 EXTRACTS, ESSENCES AND CONCENTRATES OF COFFEE, T - 257,700 150,900 165,600 0.3-9.7 6002 Knitted or Crocheted fabrics of a width not exceedin - 254,065 254,065-0.3 - (100.0) 0909 SEEDS OF ANISE, BADIAN, FENNEL, CORIANDER, CUMIN 22,139 235,543 92,599 138,593 0.3 52.7 49.7 2508 OTHER CLAYS (NOT INCLUDING EXPANDED CLAYS OF NO 8,918 207,937 105,673 33,594 0.2 - (68.2) 6807 ARTICLES OF ASPHALT OR OF SIMILAR MATERIAL (FOR E 146,125 188,229 141,317 139,226 0.2 31.7 (1.5) 6203 MEN'S OR BOYS'SUITS,ENSEMBLES,JACKETS,BLAZERS,TR 65,110 135,495 80,753 114,228 0.1 22.5 41.5 Subtotal 35,932,185 91,152,965 54,855,463 58,377,757 97.6 40.2 6.4 Others 4,124,435 2,198,336 1,132,743 3,759,947 2.4 (12.6) 231.9 Total 40,056,620 93,351,301 55,988,206 62,137,704 100.0 36.7 11.0 Sumber: BPS, diolah tim peneliti kajian 115

BAB 5. ANALISA PERDAGANGAN INDONESIA DENGAN MESIR 5.1. Pola dan Keterkaitan Perdagangan Indonesia dengan Mesir Pola perdagangan antar negara dapat diidentifikasi melalui keterkaitan perdagangan. Nilai dari IIT (Intra Industry Trade) masing-masing komoditi untuk menganalisis tingkat integrasi dan keterkaitan perdagangan antara Indonesia dengan Mesir serta. Integrasi yang tinggi menunjukkan keterkaitan yang erat di antara negara-negara tersebut. Komoditi yang akan disajikan dalam pembahasan adalah komoditi yang terdapat aliran ekspor dan impor antara Indonesia dengan Mesir, dan. Data nilai ekspor dan impor yang akan digunakan untuk melihat aliran perdagangan antara Indonesia dengan Mesir, serta tersebut bersumber dari United Nations Commodity Trade (UN COMTRADE). Data tersebut menggunakan data ekspor dan impor HS 2 tahun 1996 sampai 2009. Data dari UN Statistic (COMMTRADE) tersebut digunakan untuk menghitung IIT index. Berdasarkan data nilai aliran perdagangan tersebut dapat dikalkulasikan nilai dari Intra-Industry Trade (IIT) masing-masing komoditi yang diperdagangkan. Nilai IIT yang tinggi menunjukkan adanya keterkaitan yang bersifat dua arah (two-way trade) dimana Indonesia melakukan ekspor dan impor ke negara Mesir, dan. Sementara itu, nilai IIT yang kecil menunjukkan adanya keterkaitan yang bersifat satu arah (one-way trade) dimana Indonesia hanya berperan sebagai negara eksportir atau importir ke negara Mesir, dan. Nilai IIT akan disajikan berdasarkan aliran perdagangan Indonesia- Indonesia-Mesir dan Indonesia- untuk 10 komoditas utama pada tahun 2009 maupun keseluruhan komoditas (99 komoditas) yang dirata-rata dari tahun 1996 sampai dengan 2009. Selain itu perkembangan IIT 10 komoditas utama selama 13 tahun juga akan disajikan dalam pembahasan ini. Berdasarkan nilai IIT tersebut akan diketahui apakah komoditi yang diperdagangkan Indonesia memiliki 116

keterkaitan yang kontinu dengan Mesir, dan selama 13 tahun bersifat satu arah atau dua arah. Intra-industry trade secara konvensional direpresentasikan sebagai perdagangan bilateral untuk sistem nomenklatur dan klasifikasi produk yang identik. Intra-industry trade secara teknis diukur dengan menggunakan indeks Grubel-Lloyd. Oktaviani, et.al. (2007) menginterpretasikan bahwa nilai IIT dapat dijustifikasi sebagai indikator bagi integrasi perdagangan bilateral. Lebih jauh, kondisi perdagangan dan mobilitas faktor telah mengakibatkan konvergensi pendapatan perkapita. Konvergensi kesejahteraan masyarakat tersebut kemudian mengarah pada keseragaman struktur permintaan domestik dan pola produksi. Meskipun diasumsikan terjadi kesamaan proses produksi tetapi tidak identik secara sempurna karena perbedaan skala ekonomis. Berkaitan dengan hal tersebut, Austra (2004) mengklasifikasikan level IIT sebagai derajat intergrasi perdagangan perdagangan bilateral sebagai berikut: Tabel 5-1. Klasifikasi Intra Industry Trade (IIT) sebagai Indikator Integrasi Perdagangan Bilateral Intra Industry Trade (IIT) Index Klasifikasi * Tidak ada intra industry trade 0,00 Tidak ada integrasi perdagangan (one way trade) >0,00-24,99 Weak integration 25,00-49,99 Mild integration 50,00-74,99 Moderately strong integration 75,00-99,99 Strong integration Sumber: Austria (2004) 5.1.1 Keterkaitan Perdagangan (IIT) Antara Indonesia dengan Dunia Berdasarkan Tabel 4.2. dapat dilihat nilai IIT 10 komoditas unggulan Indonesia dengan dunia pada tahun 2009. Komoditas yang memiliki nilai rata-rata IIT tertinggi adalah aluminium yaitu sebesar 90. Hal ini menunjukkan bahwa keterkaitan perdagangan Indonesia dengan dunia untuk produk aluminium bersifat dua arah (two-way trade). Indonesia harus menjaga mutu dan kualitas dari produk aluminium tersebut agar keterkaitan ini dapat berlanjut. Nilai IIT komoditas lain yang masuk 10 besar berturut-turut HS 47, 13, 34, 39, 38, 52, 33, 24 dan 8 yang 117

secara keseluruhan memiliki nilai rata-rata IIT diatas 80. Hal ini menunjukkan komoditas-komoditas tersebut memiliki keterkaitan perdagangan dengan dunia secara dua arah (two-way trade). Hasil ini agak berbeda dengan análisis RCAB Indonesia-Dunia. Berdasarkan nilai RCAB Indonesia-Dunia, komoditaskomoditas ini tidak termasuk 10 besar komoditas yang memiliki RCAB tinggi, namun demikian nilai IIT-nya tinggi. Hal ini mengimplikasikan bahwa karakteristik produk yang tidak berdayasaing dari sisi export supply di pasar internasional memiliki tingkat subsitusi produk yang tinggi sehingga dimungkinkan secara intensif dipertukarkan dalam skema perdagangan internasional. Klasifikasi produk yang demikian cenderung homogen dari sisi kualifikasi produk, memiliki kondisi preferensi konsumen yang relatif sama, dan dihasilkan oleh tingkat penguasaan teknologi yang relatif setara. Perkembangan nilai IIT 10 komoditas unggulan Indonesia dengan dunia selama tahun 1996 sampai dengan 2009 dapat dilihat pada Gambar 4.1. Berdasarkan Gambar 4.1 dapat dilihat bahwa nilai IIT 10 komoditas unggulan Indonesia pun cenderung berfluktuasi. Oleh karena itu sangat penting untuk menjaga kontinuitas ekspor dan impor (two way trade) dengan dunia. Sedangkan Gambar 4.2 menunjukkan ratarata IIT 99 komoditas yang diperdagangkan Indonesia dengan dunia pada tahun 1996 sampai dengan 2009 (secara lengkap lihat Lampiran 1). 118

Tabel 5-2. Nilai Rata-rata IIT 10 Komoditas Unggulan Indonesia dengan Dunia, Tahun 1996-2009 10 Komoditi Terbaik Indonesia-Dunia Berdasarkan Nilai Rata-Rata No. HS Desc Indeks IIT 1 76 Aluminium and articles thereof. 90 2 47 Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) of paper or paperboard 89.13 3 13 Lac; gums, resins and other vegetable saps and extracts 87.59 4 34 Soap, organic surface-active agents, washing preparations, lubricating preparations, artificialwaxes, prepared waxes, polishing or scouring preparations, candles and similar articles, modelling pastes, dental waxes and dental preparations with a basi 86.95 5 39 Plastics and articles thereof. 86.76 6 38 Miscellaneous chemical products. 83.91 7 52 Cotton. 81.34 8 33 Essential oils and resinoids; perfumery, cosmetic or toilet preparations 80.61 9 24 Tobacco and manufactured tobacco substitutes 80.32 10 8 Edible fruit and nuts; peel of citrus fruit or melons 80.18 119

Gambar 5-1. Perkembangan Intra Industry Trade (IIT) 10 Komoditi Utama Indonesia dengan Dunia, Tahun 2006-120

Gambar 5-2. Rata-rata Intra Industry Trade (IIT) 99 Komoditi Indonesia dengan Dunia, Tahun 2006-2009 121

5.1.2 Keterkaitan Perdagangan Indonesia dan Mesir Generalisasi animo perdagangan antara Indonesia dengan Mesir mengilustrasikan realitas yang sangat lemah. Aliran perdagangan bilateral didominasi oleh aktivitas ekspor Indonesia ke Mesir, untuk mayoritas produk selektif berbasis pertanian seperti Fish and Crustacean, Products of the milling industry; malt; starches; inulin; wheat gluten Products of the milling industry; malt; starches; inulin; wheat gluten Lac; gums, resins and other vegetable saps and extracts Vegetable plaiting materials; vegetable products not elsewhere specified or included wood products. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya hubungan satu arah dalam aliran perdagangan antara kedua negara ini dimana hanya Indonesia yang bertindak sebagai eksportir sementara Mesir hanya sebagai importir. Deteksi integrasi perdagangan antara Indonesia dan Mesir pada tahun 2009 memunculkan suatu jenis produk yang kedepan diharapkan menjadi lokomotif bagi keterbukaan interaksi perdagangan antara kedua Negara. Nilai IIT yang positif yang sangat tinggi untuk Organic Chemicals yang mencapai nilai 89,99. Walaupun secara ratarata selama tahun 1996-2009 organic chemical hanya menduduki peringkat ke 7 dengan nilai IIT sebesar 23.97. Komoditas yang menduduki peringkat pertama sampai dengan ketiga adalah HS 50, HS 32, dan HS 66. Berdasarkan temuan lapang, komoditas lain yang memiliki peluang ekspor ke Mesir adalah glass and glassware (HS 70), dan IIT yang bernilai 17.66 (weak integration) mengimplikasikan adanya perdagangan dua arah walaupun integrasinya lemah. Berdasarkan analisis IIT, komoditas yang rata-rata IIT nya masuk dalam 10 besar, tidak satupun yang masuk kategori 10 komoditas yang memiliki RCAB rata-rata tinggi. Beberapa komoditas yang memiliki RCAB tinggi seperti HS 15, 48, 44, 55, 54, 40, 62, 87, 85, dan 15. Walaupun memiliki RCAB tinggi namun komoditas-komoditas tersebut tidak ada integrasi atau hanya memiliki integrasi yang lemah (weak integration). 122

Tabel 5-3. Nilai Rata-rata IIT 10 Komoditas Unggulan Indonesia dengan Mesir, Tahun 1996-2009 10 Komoditi Terbaik Indonesia-Mesir Berdasarkan Nilai Rata-Rata No. HS Desc Indeks 1 50 Silk. 57.43 Tanning or dyeing extracts; tannins and their derivatives; dyes, pigments and other colouring matter; paints and varnishes; putty 2 32 and other mastics; inks 39.04 3 66 Umbrella, sun umbrellas, walking-sticks, seat-sticks, whips, riding-crops and parts thereof 38.26 4 90 Optical, photographic, cinematographic, measuring, checking, precision, medical or surgical instruments and apparatus; parts and accessories thereof 30.97 5 47 Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) of paper or paperboard 24.94 6 59 Impregnated, coated, covered or laminated textile fabrics; textile articles of a kind suitable for industrial use 24.32 7 29 Organic chemicals. 23.97 8 97 Works of art, collectors' pieces and antiques. 18.77 9 70 Glass and glassware. 17.66 Tools, implements, cutlery, spoons and forks, of base metal; 10 82 parts thereof of base metal 17.50 123

Gambar 5-3. Perkembangan Intra Industry Trade (IIT) 10 Komoditi Utama Indonesia dengan Mesir, Tahun 2006-124

Gambar 5-4. Rata-rata Intra Industry Trade (IIT) 99 Komoditi Indonesia dengan Mesir, Tahun 2006-2009 125

5.2. Analisis RCA Bilateral Indonesia Dengan Mesir 5.2.1 Nilai Rata-Rata dan Perkembangan Nilai RCA Bilateral dalam Aliran Perdagangan Indonesia dengan Dunia Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata nilai RCA Bilateral antara Indonesia dengan dunia. diperoleh 10 komoditi yang memiliki rata-rata daya saing yang tinggi selama periode 1996-2009. Komoditi tersebut meliputi : 1. HS 27 (Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes) 2. HS 15 (Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes) 3. HS 44 (Wood and articles of wood; wood charcoal) 4. HS 62 (Articles of apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted) 5. HS 87 (Vehicles other than railway or tramway rolling-stock, and parts and accessories thereof) 6. HS 26 (Ores, slag and ash) 7. HS 40 (Rubber and articles thereof) 8. HS 48 (Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard) 9. HS 03 (Fish and crustaceans, molluscs and other acquatic invertebrates) 10. HS 64 (Footwear, gaiters and the like; parts of such articles) Dalam aliran perdagangan antara Indonesia dengan Dunia, komoditi HS 27 (Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes) merupakan komoditi yang memiliki rata-rata nilai RCAB tertinggi selama periode 1996-2009 yaitu sebesar 85,89 (RCAB >0). Ini menunjukkan bahwa komoditi HS 27 merupakan komoditi yang memiliki dayasaing yang tinggi di pasar dunia, atau dapat dikatakan pula bahwa komoditi HS 27 ini juga merupakan komoditi yang memiliki kemampuan yang paling baik diantara komoditi lainnya dalam hal penetrasi ke pasar dunia selama periode 1996-2009. Sedangkan komoditi HS 86 merupakan komoditi dengan nilai RCAB terendah yaitu sebesar -33,26, yang menunjukkan bahwa Indonesia tidak memiliki 126

dayasaing pada komoditi tersebut dalam aliran perdagangan dengan Dunia dapat dikatakan pula bahwa komoditi HS 86 dari pasar dunia memiliki kemampuan untuk melakukan penetrasi ke pasar Indonesia dengan sangat baik. Tingginya nilai rata-rata RCAB Indonesia untuk komoditi HS 27 ini disebabkan karena komoditi tersebut memiliki rata-rata nilai ekspor yang paling tinggi selama periode 1996-2009 diantara komoditi lainnya yaitu sebesar US$ 19,8 Milyar yang berkontribusi sebesar 26,16 persen. Di sisi lain nilai impor komoditi tersebut dari pasar dunia ke Indonesia hanya sebesar US$ 11,4 milyar. Sehingga besarnya neraca perdagangan (X-M) untuk komoditi HS 27 itu sendiri sebesar US$ 8,4 milyar. Ini menunjukkan dari aliran perdagangan antara Indonesia-dunia, komoditi HS 27 tersebut memberikan keuntungan yang sangat besar dengan rata-rata sebesar US$ 8,4 milyar selama periode 1996-2009. Sehingga mendorong tingginya rata-rata nilai RCAB untuk komoditi tersebut. Komoditi lain yang juga memiliki rata-rata nilai RCAB yang tinggi dalam periode 1996-2009 adalah komoditi HS 15 dan HS 44. Nilai rata-rata RCAB kedua komoditi tersebut adalah sebesar 33,67 dan 32,81. Ini menunjukkan bahwa kedua komoditi tersebut juga memiliki tingkat dayasaing dan kemampuan penetrasi yang tinggi di pasar dunia. Tingginya nilai RCAB kedua komoditi tersebut juga disebabkan oleh tingginya nilai ekspor dari kedua komoditi ke pasar dunia tersebut yaitu sebesar US$ 4,9 juta dan US$ 3,4 juta, yang berkontribusi sebesar 6,52 dan 4,52 persen. Namun, dalam aliran perdagangan antara Indonesiadunia untuk kedua komoditi tersebut hanya memberikan pemasukan bagi Indonesia rata-rata sebesar US$ 4,8 milyar dan US$ 3,2 milyar selama periode 1996-2009. Jumlah ini masih lebih kecil bila dibandingkan dengan komoditi HS 27. Tabel 1.1 menunjukkan 10 komoditi yang memiliki nilai RCAB yang paling tinggi dalam aliran perdagangan antara Indonesia dan Dunia. 127

Tabel 5-4. Rata-Rata Nilai RCAB 10 Komoditi dalam Aliran Perdagangan Indonesia dengan Dunia Periode 1996-2009 Kode HS DESC Nilai Ekspor (US$) Nilai Impor (US$) RCAB 27 Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes 19,861,625,902 11,437,393,969 85.9 15 Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes 4,947,859,395 71,618,188 33.68 44 Wood and articles of wood; wood charcoal. 3,429,964,632 161,898,910 32.81 62 Articles of apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted 2,746,594,147 32,129,178 24.6 87 Vehicles other than railway or tramway rolling-stock, and parts and accessories thereof 1,019,700,917 2,502,480,963 22.93 26 Ores, slag and ash. 2,780,028,791 171,813,947 20.58 40 Rubber and articles thereof. 3,142,481,861 555,886,385 20.07 48 Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard 2,231,646,983 450,707,490 15.44 03 Fish and crustaceans, molluscs and other acquatic invertebrates 1,558,305,877 46,157,838 14.03 61 Articles of apparel and clothing accessories, knitted or crocheted 1,626,098,018 28,820,219 13.88 Sumber : UNComtrade, 2010 Gambar 5.5 menunjukkan perkembangan nilai RCAB 10 komoditi andalan Indonesia, selama periode 1996-2009 nilai RCAB tiap-tiap komoditi mengalami fluktuasi. Pada tahun 1996, komoditi HS 27 (Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes) merupakan komoditi yang memiliki nilai RCAB tertinggi dalam aliran perdagangan dengan psar dunia. Hal ini menunjukkan komoditi ini memiliki kemampuan yang besar dalam melakukan penetrasi ke pasar dunia. Komoditi lain yang juga memiliki nilai RCAB tertinggi adalah komoditi HS 15 (Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes) 128

dan juga komoditi HS 44 (Wood and articles of wood; wood charcoal). Ketiga komoditi tersebut masing-masing memiliki nilai RCAB sebesar 181,16, 23,47, dan 80, 95. Pada masa krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998, menyebabkan melemahnya perekonomian dunia terutama negara-negara Asia. Pada tahun 1998 ini, terjadi penurunan ekspor hampir seluruh komoditi Indonesia ke pasar duni. Hal ini menyebabkan nilai RCAB Indonesia pada masa tersebut mengalami penurunan. Penurunan nilai RCAB paling tinggi terjadi pada komoditi HS 27 dimana pada tahun ini nilainya hanya mencapai 58,53, atau turun sebesar 37,29 persen. Selama periode 1999-2000, arus perdagangan antara Indonesia dengan dunia kembali mengalami peningkatan seiring semakin pulihnya perekonomian global pasca krisis ekonomi 1998. Hal tersebut semakin mendorong meningkatnya ekspor komoditi HS 27 terutama ke negara-negara importir utama yaitu Jepang dan juga Korea Selatan. Nilai ekspor yang semakin meningkat menyebabkan meningkatnya dayasaing komoditi tersebut di pasar internasional, hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya nilai RCAB bila dibandingkan masa krisis ekonomi 1998. Pada tahun 2000, untuk komoditi HS 27 nilai RCABnya sebesar 123,09. Pada tahun 2001-2008, beberapa komoditi seperti HS 27, HS 44, Hs 62, dan beberapa komoditi unggulan lainnya cenderung mengalami penurunan nilai RCAB, berbeda halnya dengan nilai RCAB komoditi HS 15 yang justru cenderung meningkat. Penurunan nilai RCAB komoditi tersebut sebenarnya bukan disebabkan oleh semakin menurunnya ekspor dari komoditi tersebut namun lebih disebabkan peningkatan ekspor komoditi tersebut ke pasar dunia tidak sebanding dengan peningkatan ekspor Indonesia ke pasar dunia secara agregat. Namun untuk komoditi HS 15, peningkatan ekspor komoditi ini ke pasar dunia mampu meningkatkan nilai RCAB untuk komoditi HS 15. Peningkatan ekspor komoditi HS 15 selama periode ini mencapai 976 persen atau rata-rata meningkat US$ 6 juta tiap tahunnya. peningkatan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan ekspor seluruh komoditi Indoensia di pasar dunia yang hanya 129

143 persen selama periode 2001-2008. Kenaikan harga CPO (bagian dari HS 15) karena CPO tidak hanya digunakan untuk konsumsi tapi juga bahan bakar biofuel memberikan insentif bagi produsen CPO Indonesia untuk meningkatkan ekspor. Selain karena insentif harga beberapa faktor dibawah ini mendorong peningkatan nilai RCAB yaitu: 1. Semakin terbukanya pasar di negara-negara Importir utama seperti China, India, dan juga Uni Eropa. 2. Terbentuknya kerjasama bilateral antar negara-negara di dunia seperti pembentuka kerjasama Free Trade Agreement, baik itu dengan China, India, Jepang, Korea, dan negara-negara lainnya yang mendorong penghapusan hambatan tarif dan non tarif yang mampu memberikan keuntungan bagi komoditi-komoditi Indonesia dipasar internasional. Pada tahun 2009, sebagai akibat dampak krisis ekonomi global pada tahun 2008. Menyababkan menurunnya nilai RCAB untuk komoditi-komoditi unggulan tersebut. Hampir semua komoditi mengalami penurunan dayasaing. Penurunan dayasaing tersebut dipicu oleh semakin melambatnya ekspor komoditi-komoditi unggulan Indonesia ke negara-negara maju seperti Amerika, Uni Eropa, Jepang dan lain-lain. 130

Gambar 5-5. Perkembangan Nilai RCAB 10 Komoditi Indonesia dalam Aliran perdagangan Indonesia-Dunia Periode 1996-2009 131

Gambar 5-6. Nilai Rata-Rata RCAB 99 komoditi dalam Aliran Perdagangan Indonesia-Dunia Periode 1996-2009 132

Tabel 5-5. Nilai Rata-rata RCAB 99 Komoditi Indonesia-Dunia, Tahun 1996-2009 2 dgt DESC 1996-2009 01 Live animals; animal products -0.30 02 Meat and edible meat offal -0.42 Fish and crustaceans, molluscs and other acquatic 03 invertebrates 14.03 Dairy produce; birds' eggs; natural honey; edible products of 04 animal origin, not elsewhere specified or included -1.85 05 Products of animal origin, not elsewhere specified or included -0.07 Live trees and other plants; bulbs, roots and the like; cut flowers and ornamental foliage 0.08 06 07 Edible vegetables and certain roots and tubers. -0.53 08 Edible fruit and nuts; peel of citrus fruit or melons -0.18 09 Coffee, tea, matï and spices. 7.14 10 Cereals -11.12 11 Products of the milling industry; malt; starches; inulin; wheat gluten -0.93 12 Oil seeds and oleaginous fruits; miscellaneous grains, seeds and fruit; industrial or medicinal plants; straw and fodder -2.75 13 Lac; gums, resins and other vegetable saps and extracts 0.08 14 Vegetable plaiting materials; vegetable products not elsewhere specified or included 0.24 15 Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes 33.68 16 Preparations of meat, of fish or of crustaceans, molluscs or other aquatic invertebrates 1.58 17 Sugars and sugar confectionery. -3.30 18 Cocoa and cocoa preparations. 5.03 Preparations of cereals, flour, starch or milk; pastrycooks' products 0.73 19 20 Preparations of vegetables, fruit, nuts or other parts of plants 1.08 21 Miscellaneous edible preparations. -0.40 22 Beverages, spirits and vinegar. 0.02 Residues and waste from the food industries; prepared animal 23 fodder -4.24 24 Tobacco and manufactured tobacco substitutes 0.97 25 Salt; sulphur; earths and stone; plastering materials, lime and cement -0.84 26 Ores, slag and ash. 20.58 27 Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes 85.90 Inorganic chemicals; organic or inorganic compounds of precious metals, of rare-earth metals, of radioactive elements or of isotopes -3.20 28 29 Organic chemicals. -11.65 30 Pharmaceutical products. -0.44 133

Tabel 5-5. Nilai Rata-rata RCAB 99 Komoditi Indonesia-Dunia, Tahun 1996-2009 2 dgt DESC 1996-2009 31 Fertilisers. -1.31 32 Tanning or dyeing extracts; tannins and their derivatives; dyes, pigments and other colouring matter; paints and varnishes; putty and other mastics; inks -2.77 Essential oils and resinoids; perfumery, cosmetic or toilet 33 preparations -0.53 Soap, organic surface-active agents, washing preparations, lubricating preparations, artificialwaxes, prepared waxes, polishing or scouring preparations, candles and similar articles, modelling pastes, dental waxes and dental 34 preparations with a basi 0.26 35 Albuminoidal substances; modified starches; glues; enzymes -0.97 Explosives; pyrotechnic products; matches; pyrophoric alloys; certain combustible preparations -0.16 36 37 Photographic or cinematographic goods. -0.63 38 Miscellaneous chemical products. -0.58 39 Plastics and articles thereof. -1.68 40 Rubber and articles thereof. 20.07 41 Raw hides and skins(other than furskins) and leather -0.75 Articles of leather; saddlery and harness; travel goods, handbags and similar containers; articles of animal gut (other than silk-worm gut) 1.75 42 43 Furskins and artificial fur; manufactures thereof. 0.00 44 Wood and articles of wood; wood charcoal. 32.81 45 Cork and articles of cork. 0.00 46 Manufactures of straw, of esparto or of other plaiting materials; basketware and wickerwork 0.57 47 Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) of paper or paperboard -0.02 48 Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard 15.44 49 Printed books, newspapers, pictures and other products of the printing industry; manuscripts, typescripts and plans -0.05 50 Silk. 0.00 51 Wool, fine or coarse animal hair; horsehair yarn and woven fabric -0.17 52 Cotton. -2.08 53 Other vegetable textile fibres; paper yarn and woven fabrics of paper yarn -0.08 Man-made filaments; strip and the like of man-made textile 54 materials 7.15 55 Man-made staple fibres. 6.82 56 Wadding, felt and nonwovens; special yarns; twine, cordage, ropes and cables and articles thereof -0.16 134

Tabel 5-5. Nilai Rata-rata RCAB 99 Komoditi Indonesia-Dunia, Tahun 1996-2009 2 dgt DESC 1996-2009 57 Carpets and other textile floor coverings. 0.23 58 Special woven fabrics; tufted textile fabrics; lace; tapestries; trimmings; embroidery -0.01 59 Impregnated, coated, covered or laminated textile fabrics; textile articles of a kind suitable for industrial use -0.44 60 Knitted or crocheted fabrics. -0.74 61 Articles of apparel and clothing accessories, knitted or crocheted 13.63 62 Articles of apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted 24.60 63 Other made up textile articles; sets; worn clothing and worn textile articles; rags 1.63 64 Footwear, gaiters and the like; parts of such articles 13.88 65 Headgear and parts thereof. 0.20 66 Umbrella, sun umbrellas, walking-sticks, seat-sticks, whips, riding-crops and parts thereof 0.11 67 Prepared feathers and down and articles made of feathers or of down; artificial flowers; articles of human hair 0.48 68 Articles of stone, plaster, cement, asbestos, mica or similar materials 0.27 69 Ceramic products. 0.97 70 Glass and glassware. 2.05 71 Natural or cultured pearls, precious or semi-precious stones, precious metals, metals cladwith precious metal, and articles thereof; imitation jewellery; coin 6.79 72 Iron and steel. -11.77 73 Articles of iron or steel. -4.61 74 Copper and articles thereof. 4.82 76 Aluminium and articles thereof. 4.15 78 Lead and articles thereof. 0.75 79 Zinc and articles thereof. -0.42 80 Tin and articles thereof. -1.05 82 Tools, implements, cutlery, spoons and forks, of base metal; parts thereof of base metal 4.37 83 Miscellaneous articles of base metal. -0.11 84 Nuclear reactors, boilers, machinery and mechanical appliances; parts thereof -0.58 85 Electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and sound recorders and reproducers, and parts and accessories of such articles -0.42 86 Railway or tramway locomotives, rolling-stock and parts thereof; railway or tramway track fixtures and fittings and parts thereof; mechanical (including electro-mechanical) -33.26 135

Tabel 5-5. Nilai Rata-rata RCAB 99 Komoditi Indonesia-Dunia, Tahun 1996-2009 2 dgt DESC 1996-2009 traffic signalling equipment of all kinds 87 Vehicles other than railway or tramway rolling-stock, and parts and accessories thereof 22.93 88 Aircraft, spacecraft, and parts thereof. -0.05 89 Ships, boats and floating structures. -10.78 90 Optical, photographic, cinematographic, measuring, checking, precision, medical or surgical instruments and apparatus; parts and accessories thereof -3.43 91 Clocks and watches and parts thereof. -3.46 92 Musical instruments; parts and accessories of such articles -1.28 93 Arms and ammunition; parts and accessories thereof 0.07 94 Furniture; bedding, mattresses, mattress supports, cushions and similar stuffed furnishings; lamps and lighting fittings, not elsewhere specified or included; illuminated signs, illuminated name-plates and the like; prefabricated buildings 1.63 95 Toys, games and sports requisites; parts and accessories thereof -0.21 96 Miscellaneous manufactured articles. 12.47 97 Works of art, collectors' pieces and antiques. 1.72 98 Commodities specified at chapter level only 0.45 99 Commodities not elsewhere specified 0.01 5.2.2 Rata-Rata Nilai RCA Bilateral dalam Aliran Perdagangan Indonesia dan Mesir Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata nilai RCA Bilateral antara Indonesia dengan Mesir. diperoleh 10 komoditi yang memiliki rata-rata dayasaing yang tinggi selama periode 1996-2009. Komoditi tersebut meliputi : 1. HS 15 (Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes) 2. HS 48 (Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard) 3. HS 44 (Wood and articles of wood; wood charcoal.) 4. HS 55 (Man-made staple fibres.) 5. HS 54 (Man-made filaments; strip and the like of man-made textile materials) 6. HS 40 (Rubber and articles thereof) 136

7. HS 62 (Articles of apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted) 8. HS 87 (Vehicles other than railway or tramway rolling-stock, and parts and accessories thereof.) 9. HS 85 (Electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and sound recorders and reproducers, and parts and accessories of such articles) 10. HS 16 (Preparations of meat, of fish or of crustaceans, molluscs or other aquatic invertebrates) Berdasarkan perhitungan RCAB dalam aliran perdagangan antara Indonesia dan Mesir. Komoditi HS 15 (Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes) merupakan komoditi yang memiliki rata-rata nilai RCAB tertinggi selama periode 1996-2009 yaitu sebesar 46,01 (RCAB >0). Ini menunjukkan bahwa komoditi HS 15 merupakan komoditi yang memiliki dayasaing yang tinggi di pasar Mesir, atau dapat dikatakan pula bahwa komoditi HS 15 ini juga merupakan komoditi yang menjadi andalan Indonesia yang memiliki kemampuan yang paling baik diantara komoditi lainnya untuk melakukan penetrasi ke pasar Mesir selama periode 1996-2009. Sedangkan komoditi HS 98 (Commodities specified at chapter level only) merupakan komoditi dengan nilai rata-rata RCAB terendah selama periode 1996-2009 yaitu sebesar -43,75, yang menunjukkan bahwa Indonesia tidak memiliki dayasaing pada komoditi tersebut dalam aliran perdagangan dengan Mesir dan dapat dikatakan pula bahwa komoditi HS 98 dari Mesir memiliki kemampuan untuk melakukan penetrasi ke pasar Indonesia dengan sangat baik. Tingginya nilai rata-rata RCAB Indonesia untuk komoditi HS 15 ini disebabkan karena komoditi tersebut memiliki rata-rata nilai ekspor yang paling tinggi selama periode 1996-2009 diantara komoditi lainnya yaitu sebesar US$ 110,5 juta yang berkontribusi sebesar 33,6 persen. Di sisi lain rata-rata nilai impor komoditi tersebut dari Mesir ke Indonesia hanya sebesar US$ 10,1 ribu selama periode 1996-2009. Besarnya rata-rata neraca perdagangan (X-M) untuk komoditi HS 15 itu sendiri mencapai US$ 110,4 juta, sehingga dari aliran perdagangan antara Indonesia-Mesir untuk komoditi HS 15 tersebut memberikan keuntungan 137

yang sangat besar bagi Indonesia dengan rata-rata pemasukan sebesar US$ 110,4 juta selama periode 1996-2009. Pada akhirnya hal tersebut akan mendorong tingginya rata-rata nilai RCAB untuk komoditi tersebut. dengan melihat besarnya nilai RCAB dan neraca perdagangan yang terjadi dalam perdagangan komoditi HS 15 ini maka dapat dikatakan terjadi hubungan satu arah dalam aliran perdagangan untuk komoditi HS 15 ini, dimana Indonesia yang bertindak sebagai eksportir sementara Mesir hanya sebagai Importir. Berdasarkan nilai ekspor dan impor kedua negara untuk komoditi HS 15, Mesir seperti halnya Turki memiliki ketergantungan impor yang sangat tinggi terhadap komoditi HS 15 (Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes) dari Indonesia baik untuk digunakan sebagai bahan baku konsumsi maupun bahan bakar/baku industri. Komoditi lain yang juga memiliki rata-rata nilai RCAB yang tinggi dalam periode 1996-2009 adalah komoditi HS 48 (Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard) dan HS 44 (Wood and articles of wood; wood charcoal). Nilai rata-rata RCAB kedua komoditi tersebut adalah sebesar 14,53 dan 12,83. Ini menunjukkan bahwa kedua komoditi tersebut juga memiliki tingkat dayasaing dan kemampuan penetrasi yang tinggi ke pasar Mesir. Tingginya nilai RCAB kedua komoditi tersebut juga disebabkan oleh tingginya nilai ekspor dari kedua komoditi ke pasar Mesir tersebut yaitu sebesar US$ 27,9 juta dan US$ 25,9 juta, yang berkontribusi sebesar 8,41 dan 7,82 persen. Namun, dalam aliran perdagangan antara Indonesia-Mesir untuk kedua komoditi tersebut hanya memberikan pemasukan bagi Indonesia rata-rata sebesar US$ 27,9 juta dan US$ 25,9 juta selama periode 1996-2009. 138

Tabel 5-6. Nilai Rata-Rata RCAB 10 Komoditi Andalan Indonesia-Mesir Periode 1996-2009 No. Kode HS 2 Digit DESC Rata-rata nilai ekspor (US$) Rata-rata nilai impor (US$) RCAB Rata- Rata 1 15 Animal or vegetable fats and oils and their 110,482,505 10,109 46.01 cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes 2 48 Paper and paperboard; articles of paper 27,939,689 2,200 14.53 pulp, of paper or of paperboard 3 44 Wood and articles of wood; wood 25,986,246 1,120 12.83 charcoal. 4 55 Man-made staple fibres. 19,931,869 57,094 11.58 5 54 Man-made filaments; strip and the like of 19,550,185 3,709 10.59 man-made textile materials 6 40 Rubber and articles thereof. 19,579,459 617,095 7.64 7 62 Articles of apparel and clothing accessories, 15,917,428 96,329 7.07 not knitted or crocheted 8 87 Vehicles other than railway or tramway 8,331,660 4,168 4.33 rolling-stock, and parts and accessories thereof 9 85 Electrical machinery and equipment and 9,665,911 121,860 4.21 parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and sound recorders and reproducers, and parts and accessories of such articles 10 16 Preparations of meat, of fish or of crustaceans, molluscs or other aquatic invertebrates 5,182,272 0 3.89 Gambar 5.7. menunjukkan perkembangan nilai RCAB 10 komoditi unggulan Indonesia dalam perdagangan dengan Mesir selama periode 1996-2009. Seperti diketahui sebelumnya komoditi yang memiliki rata-rata nilai RCAB tertinggi dalam periode tersebut adalah komoditi HS 15, namun perkembangan komoditi HS 15 itu sendiri mengalami fluktuasi namun cenderung meningkat. Komoditi HS 15 (Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes) pada tahun 2009 telah menjadi komoditi andalan Indonesia dalam perdagangan dengan Mesir. Dimana pada tahun tersebut komoditi HS 15 merupakan komoditi yang memiliki nilai RCAB yang paling tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai RCAB komoditi 139

lainnya yaitu mencapai 100,77. Untuk komoditi HS 15 memperoleh nilai RCAB paling tinggi pada tahun 2008 dimana nilai RCAB komoditi tersebut mencapai 188,77. Secara keseluruhan, kesepuluh komoditi tersebut selama periode 1996-2009 sama-sama mengalami fluktuasi nilai RCAB setiap tahunnya. namun berbeda halnya dengan HS 15, kesembilan komoditi lainnya cenderung stagnan. Komoditi yang juga memiliki nilai RCAB yang tinggi pada tahun 2009 adalah HS 48 (Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard) dan HS 44 (Wood and articles of wood; wood charcoal) dengan nilai RCAB sebesar 11,38 dan 11,06. Selama periode 1996-2000, perdagangan yang dilakukan dengan Mesir masih tergolong rendah terutama komoditi HS 15. Pada periode tersebut rata-rata nilai RCABnya hanya sebesar 6,5. Rendahnya nilai RCAB komoditi tersebut dalam aliran perdagangan dengan Mesir lebih disebabkan pada masa itu Mesir sangat mengandalkan komoditi yang berasal dari negara lain salah satunya adalah Malaysia. Hal ini dibuktikan dengan besarnya rata-rata impor Mesir untuk komoditi HS 15 yang berasal dari Malaysia mencapai US$ 194,4 juta, sedangkan impor komoditi tersebut dari Indonesia pada periode yang sama sebesar US$ 16 juta. Ini menunjukkan posisi Indonesia di pasar Mesir untuk komoditi ini masih lemah pada periode 1996-2009. Apalagi agreement mengenai FTA juga akan dirintis antara Mesir dan Malaysia. Namun pada tanggal 23 Juni 1997, tidak ketinggalan dengan Malaysia, telah ditetapkannya perjanjian perdagangan (Trade Agreement) antara Indonesia dengan Mesir guna meningkatkan perdagangan antara kedua negara. Hal tersebut cukup memberikan dampak yang mengembirakan dengan semakin meningkatnya nilai ekspor dari komoditi andalan Indonesia seperti HS 15, 48 dan 44. Namun belum mampu meningkatkan dayasaing komoditi tersebut, hal ini dapat dilihat dari nilai RCAB yang cenderung tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Selama periode 2001-2003 nilai RCAB untuk komoditi HS 15 cenderung mengalami peningkatan dimana nilai RCAB pada tahun 2003 mencapai 48,66. Jauh lebih tinggi di bandingkan komoditi lainnya yang pada tahun yang sama nilai 140

RCABnya hanya sebesar 21,02 (HS 48) dan 23,32 (HS 44). Namun pada tahun 2004 nilai RCAB komoditi HS 15 mengalami penurunan yang cukup siginifikan hingga mencapai 23,61. Hal ini disebabkan karena terjadi penurunan nilai ekspor komoditi tersebut sebesar 6,3 persen. Selama periode 2004-2008, nilai RCAB untuk komoditi HS 15 mengalami peningkatan sangat signifikan, namun untuk kesembilan komoditi lainnya dalam periode yang sama tidak terlalu mengalami perubahan nilai RCAB bahkan cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2008, komoditi HS 15 berada pada tingkat RCAB yang tertinggi dengan nilai sebesar 188,77. Nilai RCAB ini jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan komoditi lainnya pada tahun yang sama. Tren yang semakin meningkat yang terjadi pada komoditi HS ini dipicu oleh beberapa faktor : 1) Semakin meningkatnya penggunaan bahan bakar alternative pengganti minyak bumi, sehingga mendorong meningkatnya penggunaan komoditi HS 15 yang sebagian besar berupa minyak sawit. 2) Peningkatan kerja sama antara Indonesia-Mesir baik itu kerja sama promosi perdagangan maupun kesepakatan kemungkinan pembentukan Free Trade Agreement (FTA) hal tersebut didukung dengan diberlakukannya Comprehensive Trade on Economic Partnership/CTEP antara Indonesia dan Mesir pada tahun 2005 Pembentukan Forum Sidang Komisi Bersama (SKB) dalam tingkat menteri, yang mendorong semakin baiknya hubungan dagang antara kedua negara. Karena melalui forum tersebut mampu membuat kesepakatan yang mampu memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Salah satu bentuk kesepakatan hasil SKB adalah kedua negara telah menandatangani sebuah umbrella agreement, yaitu Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Arab Republic of Egypt on Economic and Technical Cooperation pada bulan April 2007. Sehingga hubungan dagang antara kedua belah pihak menjadi lebih erat (KBRI Cairo Mesir, 2010). Dengan pembentukan kerjasama ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan Mesir. Hal tersebut memberikan peluang yang cukup terbuka dalam 141

pengembangan ekspor komoditi HS 15. Sehingga nilai ekspor komoditi ini selama periode tersebut terus meningkat. Pada tahun 2009, terjadi penurunan tingkat dayasaing untuk setiap komoditi, dan komoditi HS 15 mengalami penurunan yang sangat signifikan. Nilai RCAB komoditi tersebut pada tahun 2009 sebesar 100,77 atau menurun sebesar 46,6 persen. Penurunan ini lebih disebabkan oleh menurunnya nilai ekspor komoditi HS 15 pada tahun tersebut. 142

Gambar 5-7. Perkembangan Nilai RCAB 10 Komoditi Unggulan Indonesia-Mesir Periode 1996-2009 143

Gambar 5-8. Rata-Rata Nilai RCAB Seluruh Komoditi dalam Aliran Perdagangan Indonesia-Mesir 1996-2009 144

Tabel 5-7. Rata-Rata Nilai RCAB Indonesia-Mesir Periode 1996-2009 Kode HS 2 Digit DESC Nilai RCAB 01 Live animals; animal products 0.00 02 Meat and edible meat offal -0.01 03 Fish and crustaceans, molluscs and other acquatic invertebrates 0.40 04 Dairy produce; birds' eggs; natural honey; edible products of animal origin, not elsewhere specified or included 0.06 05 Products of animal origin, not elsewhere specified or included 0.00 06 Live trees and other plants; bulbs, roots and the like; cut flowers and ornamental foliage -0.01 07 Edible vegetables and certain roots and tubers. -0.28 08 Edible fruit and nuts; peel of citrus fruit or melons -15.07 09 Coffee, tea, matï and spices. 3.22 10 Cereals 0.00 11 Products of the milling industry; malt; starches; inulin; wheat gluten 0.14 12 Oil seeds and oleaginous fruits; miscellaneous grains, seeds and fruit; industrial or medicinal plants; straw and fodder 0.01 13 Lac; gums, resins and other vegetable saps and extracts 0.06 14 Vegetable plaiting materials; vegetable products not elsewhere specified or included 0.00 15 Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes 46.01 16 Preparations of meat, of fish or of crustaceans, molluscs or other aquatic invertebrates 3.89 17 Sugars and sugar confectionery. -30.20 18 Cocoa and cocoa preparations. 0.38 19 Preparations of cereals, flour, starch or milk; pastrycooks' products 0.07 20 Preparations of vegetables, fruit, nuts or other parts of plants 0.07 21 Miscellaneous edible preparations. -0.06 22 Beverages, spirits and vinegar. -0.14 23 Residues and waste from the food industries; prepared animal fodder 0.03 24 Tobacco and manufactured tobacco substitutes 0.77 25 Salt; sulphur; earths and stone; plastering materials, lime and cement -39.72 145

Kode HS 2 Digit DESC Nilai RCAB 27 Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes -5.46 28 Inorganic chemicals; organic or inorganic compounds of precious metals, of rare-earth metals, of radioactive elements or of isotopes -0.89 29 Organic chemicals. -0.43 30 Pharmaceutical products. 0.00 31 Fertilisers. -32.64 32 Tanning or dyeing extracts; tannins and their derivatives; dyes, pigments and other colouring matter; paints and varnishes; putty and other mastics; inks 0.08 33 Essential oils and resinoids; perfumery, cosmetic or toilet preparations -0.29 34 Soap, organic surface-active agents, washing preparations, lubricating preparations, artificialwaxes, prepared waxes, polishing or scouring preparations, candles and similar articles, modelling pastes, dental waxes and dental preparations with a basi 2.35 35 Albuminoidal substances; modified starches; glues; enzymes 0.03 Explosives; pyrotechnic products; matches; pyrophoric alloys; certain combustible preparations 0.00 36 37 Photographic or cinematographic goods. 0.22 38 Miscellaneous chemical products. 0.84 39 Plastics and articles thereof. 2.86 40 Rubber and articles thereof. 7.64 41 Raw hides and skins(other than furskins) and leather -0.57 42 Articles of leather; saddlery and harness; travel goods, handbags and similar containers; articles of animal gut (other than silk-worm gut) 0.08 43 Furskins and artificial fur; manufactures thereof. 0.00 44 Wood and articles of wood; wood charcoal. 12.83 46 Manufactures of straw, of esparto or of other plaiting materials; basketware and wickerwork 0.01 47 Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) of paper or paperboard -0.33 48 Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard 14.53 Printed books, newspapers, pictures and other products of 49 the printing industry; manuscripts, typescripts and plans -0.12 50 Silk. 0.00 146

Kode HS 2 Digit DESC Nilai RCAB 51 Wool, fine or coarse animal hair; horsehair yarn and woven fabric -0.01 52 Cotton. -12.15 53 Other vegetable textile fibres; paper yarn and woven fabrics of paper yarn 0.00 Man-made filaments; strip and the like of man-made textile 54 materials 10.59 55 Man-made staple fibres. 11.58 56 Wadding, felt and nonwovens; special yarns; twine, cordage, ropes and cables and articles thereof 0.24 57 Carpets and other textile floor coverings. -1.19 58 Special woven fabrics; tufted textile fabrics; lace; tapestries; trimmings; embroidery 0.13 59 Impregnated, coated, covered or laminated textile fabrics; textile articles of a kind suitable for industrial use 0.00 60 Knitted or crocheted fabrics. 0.55 61 Articles of apparel and clothing accessories, knitted or crocheted 2.42 62 Articles of apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted 7.07 63 Other made up textile articles; sets; worn clothing and worn textile articles; rags 0.63 64 Footwear, gaiters and the like; parts of such articles 0.52 65 Headgear and parts thereof. 0.03 66 Umbrella, sun umbrellas, walking-sticks, seat-sticks, whips, riding-crops and parts thereof 0.00 67 Prepared feathers and down and articles made of feathers or of down; artificial flowers; articles of human hair 0.00 68 Articles of stone, plaster, cement, asbestos, mica or similar materials -0.36 69 Ceramic products. 0.15 70 Glass and glassware. 2.16 Natural or cultured pearls, precious or semi-precious stones, precious metals, metals cladwith precious metal, and articles thereof; imitation jewellery; coin 0.01 71 72 Iron and steel. -5.37 73 Articles of iron or steel. 1.68 74 Copper and articles thereof. 0.00 75 Nickel and articles thereof. 0.00 147

Kode HS 2 Digit DESC Nilai RCAB 76 Aluminium and articles thereof. -0.02 78 Lead and articles thereof. -0.33 79 Zinc and articles thereof. 0.00 80 Tin and articles thereof. 0.00 81 Other base metals; cermets; articles thereof. 0.02 82 Tools, implements, cutlery, spoons and forks, of base metal; parts thereof of base metal -0.18 83 Miscellaneous articles of base metal. 0.01 84 Nuclear reactors, boilers, machinery and mechanical appliances; parts thereof 1.10 85 Electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and sound recorders and reproducers, and parts and accessories of such articles 4.21 86 Railway or tramway locomotives, rolling-stock and parts thereof; railway or tramway track fixtures and fittings and parts thereof; mechanical (including electro-mechanical) traffic signalling equipment of all kinds 0.00 87 Vehicles other than railway or tramway rolling-stock, and parts and accessories thereof 4.33 88 Aircraft, spacecraft, and parts thereof. 0.03 89 Ships, boats and floating structures. 0.00 90 Optical, photographic, cinematographic, measuring, checking, precision, medical or surgical instruments and apparatus; parts and accessories thereof -0.64 91 Clocks and watches and parts thereof. 0.01 92 Musical instruments; parts and accessories of such articles 0.02 93 Arms and ammunition; parts and accessories thereof 0.00 94 Furniture; bedding, mattresses, mattress supports, cushions and similar stuffed furnishings; lamps and lighting fittings, not elsewhere specified or included; illuminated signs, illuminated name-plates and the like; prefabricated buildings 0.65 95 Toys, games and sports requisites; parts and accessories thereof 0.06 96 Miscellaneous manufactured articles. 0.69 97 Works of art, collectors' pieces and antiques. 0.00 98 Commodities specified at chapter level only -43.75 99 Commodities not elsewhere specified -0.74 148

5.3. Trade Complementarity Index (TCI) Indonesia Indeks komplementer merupakan indeks yang mengukur perbandingan jumlah persentase kontribusi tiap komoditas ekspor dalam kerangka hubungan dagang bilateral antara suatu negara dengan negara/wilayah lain, dengan kondisi perdagangan komoditas-komoditas tersebut dilingkup dunia. Berdasarkan indeks komplementer dapat dilihat bagaimana kesesuaian antara struktur ekspor Indonesia dengan impor Mesir. Indeks komplementer perdagangan disajikan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Indeks komplementer perdagangan tidak hanya komplemen antara Indonesia dengan Mesir tetapi juga dengan partner dagang Indonesia dan Mesir. Struktur ekspor Indonesia ke Mesir memiliki kesesuaian dengan impor Mesir. Hal tersebut ditunjukkan dari nilai TCI Indonesia ke Mesir yang lebih dari 40 (Gambar 6.3). Indeks komplementari perdagangan Mesir sedikit lebih tinggi daripada Indonesia. Dinamika TCI dari tahun 2005-2009 baik Indonesia maupun Mesir memiliki trend negative. Artinya kesesuaian perdagangan (ekspor dan impor) antara Indonesia-Mesir semakin melemah. Sumber : UNCOMTRADE Gambar 5-9. Indeks Komplementer Perdagangan (TCI) antara Indonesia dengan Mesir 149

Berdasarkan Tabel 5.8. dari sisi ekspor Indonesia, Mesir bukanlah partner perdagangan utama Indonesia. Mesir adalah tujuan ekspor urutan nomor 9 bagi Indonesia. Sedangkan dari sisi impor, Indonesia bukanlah penyedia barang-barang impor bagi Mesir. Indonesia memiliki peringkat TCI terendah dari negara-negara yang darimana Mesir mengimpor komoditinya, Sedangkan dari sudut pandang Mesir, Indonesia merupakan tujuan ekspor yang cukup penting dimana posisinya menduduki urutan nomor 5, setelah Jepang, Korea, Italia, dan Amerika. Sebaliknya dari sisi impor Indonesia, Mesir bukan merupakan negara asal impor utama bagi Indonesia. Mesir menduduki urutan terakhir dari 10 negara partner impor. Tabel 5-8. Trade complementarity indicates for select trading partner 2009 Indonesia Egypt Import Export Import Export Complementar ity complementa rity complementa rity complementarit y 1 Indonesia Na Na 46 47 2 Egypt 47 46 Na Na 3 United States 55 64 47 71 4 China 49 56 34 56 5 Japan 70 59 56 64 6 Malaysia 44 63 35 58 7 Korea Rep. 65 60 54 57 8 France 54 60 43 70 9 Germany 51 61 45 72 10 Italy 59 59 49 72 Note : Critical value is 40. A TCI greater than 40 indicates that the economies are highly complementary. Data source:uncomtrade 150

BAB 6. DAMPAK FREE TRADE AGREEMENT TERHADAP EKONOMI INDONSIA DAN STRATEGI PEMILIHAN POSISI RUNDING INDONESIA- MITRA DAGANG Bab ini membahas mengenai dampak Free Trade Agreement (FTA) yang akan dilaksanakan Indonesia dengan Mesir dengan menggunakan metode analisa keseimbangan umum. Analisa keseimbangan umum menggunakan GTAP akan mensimulasikan dampak dari FTA Indonesia dengan Mesir terhadap perekonomian Indonesia baik secara makro maupun sektoral. Sedangkan analisa strategi posisi runding Indonesia dianalisa berdasarkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan menganalisis data hasil survey, baik quesionare maupun wawancara baik di dalam maupun luar negeri. 6.1. Analisa Keseimbangan Umum Pasar Mesir dijustifikasi sebagai pasar tujuan ekspor yang potensial bagi produk ekspor utama Indonesia. Pada Bulan Januari 2010 Menteri Perdagangan Mesir melakukan kunjungan kerja ke Indonesia. Beberapa kesepakatan dari kunjungan tersebut adalah menyepakati untuk meningkatkan perdagangan dan investasi, serta kedua pihak akan membentuk Joint Study untuk menguji kelayakan kerangka perdagangan bebas diantara Indonesia dan Mesir. 6.1.1 Existing Condition Tarif Impor Adanya inisiasi awal yang berupa jalinan kerjasama dan integrasi perdagangan yang telah terbangun antara Indonesia-Mesir tersebut dapat berkembang menjadi suatu pondasi perdagangan bebas bilateral. Konsekuensi dari diadakannya kerjasama-kerjasama tersebut adalah diberlakukannya liberalisasi perdagangan barang. Salah satu sarana untuk mencapai liberalisasi tersebut dengan mengurangi atau menghilangkan hambatan tarif bea masuk. Dihapusnya hambatan tarif bea masuk 151

untuk semua komoditi yang diperdagangkan Indonesia-Mesir akan mempengaruhi ekonomi suatu negara baik yang ikut serta dalam perjanjian kerjasama maupun tidak ikut serta. Pengaruh kondisi ekonomi meliputi kondisi ekonomi makro dan sektoral. Tabel 6.1. menunjukkan existing tarif yang dikenakan Mesir untuk produk-produk Indonesia dan Tabel 6.2. sebaliknya tarif yang dikenakan Indonesia untuk produkproduk Mesir berdasarkan database GTAP. Berdasarkan data tersebut tidak semua produk dikenakan tarif. Namun demikian untuk produk-produk yang dikenakan tarif, besaran tarifnya relatif tinggi. Hal ini tentunya akan berimplikasi terhadap besaran dampak FTA apabila tarif diturunkan atau bahkan zero tarif. Tabel 6-1. Tarif Impor yang dikenakan Mesir terhadap Komoditi Indonesia Berdasarkan Database GTAP Sector Tarif Impor Berlaku di Mesir 1 pdr 0,000 2 wht 0,000 3 gro 0,000 4 v_f 13,119 5 osd 0,000 6 c_b 0,000 7 pfb 0,000 8 ocr 9,571 9 ctl 0,000 10 oap 0,000 11 rmk 0,000 12 wol 0,000 13 frs 2,000 14 fsh 5,241 15 coa 0,000 16 oil 0,000 17 gas 0,000 18 omn 2,000 19 cmt 0,000 20 omt 0,000 21 vol 12,049 22 mil 9,667 23 pcr 0,000 152

Sector Tarif Impor Berlaku di Mesir 24 sgr 0,000 25 ofd 7,036 26 b_t 0,000 27 tex 13,412 28 wap 37,682 29 lea 29,122 30 lum 11,993 31 ppp 11,854 32 p_c 0,000 33 crp 16,402 34 nmm 25,429 35 i_s 24,670 36 nfm 6,575 37 fmp 24,881 38 mvh 26,710 39 otn 21,215 40 ele 8,298 41 ome 14,652 42 omf 25,972 43 ely 0,000 44 gdt 0,000 45 wtr 0,000 46 cns 0,000 47 trd 0,000 48 otp 0,000 49 wtp 0,000 50 atp 0,000 51 cmn 0,000 52 ofi 0,000 53 isr 0,000 54 obs 0,000 55 ros 0,000 56 osg 0,000 57 dwe 0,000 Total 359,549 Sumber: GTAP DATA BASE Versi 7.1 153

Tabel 6-2. Tarif Impor yang dikenakan Indonesia terhadap Komoditi Mesir Berdasarkan Database GTAP Sektor Tarif Impor Berlaku di Indonesia 1 pdr 0,000 2 wht 0,000 3 gro 0,000 4 v_f 5,000 5 osd 0,000 6 c_b 0,000 7 pfb 0,000 8 ocr 5,000 9 ctl 0,000 10 oap 0,000 11 rmk 0,000 12 wol 0,000 13 frs 13,823 14 fsh 0,000 15 coa 0,000 16 oil 0,000 17 gas 0,000 18 omn 1,691 19 cmt 0,000 20 omt 0,000 21 vol 0,000 22 mil 0,000 23 pcr 0,000 24 sgr 5,000 25 ofd 5,000 26 b_t 0,000 27 tex 12,537 28 wap 14,443 29 lea 0,000 30 lum 3,355 31 ppp 5,203 32 p_c 0,000 33 crp 10,218 34 nmm 11,104 35 i_s 4,998 36 nfm 5,000 154

Sektor Tarif Impor Berlaku di Indonesia 37 fmp 3,972 38 mvh 14,125 39 otn 0,000 40 ele 0,000 41 ome 3,378 42 omf 10,000 43 ely 0,000 44 gdt 0,000 45 wtr 0,000 46 cns 0,000 47 trd 0,000 48 otp 0,000 49 wtp 0,000 50 atp 0,000 51 cmn 0,000 52 ofi 0,000 53 isr 0,000 54 obs 0,000 55 ros 0,000 56 osg 0,000 57 dwe 0,000 Total 133,847 Sumber: GTAP DATA BASE Versi 7.1 Bab ini akan menganalisis dampak penghapusan tarif komoditi baik yang langsung zero tarif maupun yang bertahap (gradual) selama 10 (sepuluh) tahun terhadap performa ekonomi Indonesia secara lebih detail. Secara ringkas simulasi yang akan dilakukan dapat dilihat pada Tabel 6.3. 155

Tabel 6-3. Simulasi Dampak FTA FTA SIMULASI Keterangan Sim1a Simulasi penghapusan tarif 0% FTA Indonesia-Mesir Sim1b Simulasi penghapusan tarif gradual selama 10 tahun Dampak secara makro dapat dilihat dari dampak terhadap kesejahteraan (equivalent variation), neraca perdagangan (trade balance), kurs riil (TOT), GDP riil, GDP deflator, pengeluaran pemerintah, konsumsi swasta, dan investasi. Sedangkan dampak secara sektoral dapat dilihat dari dampak terhadap output dan harganya, ekspor dan impor, dan tenaga kerja terdidik (skill labor) dan tak terdidik (unskill labor). 6.1.2 Dampak FTA Indonesia-Mesir terhadap Ekonomi Makro Dampak penghapusan tarif secara langsung (sim 1a) maupun gradual selama 5 tahun (sim 1b) antara Indonesia-Mesir terhadap kinerja variabel makro disajikan pada Tabel 6.4. Secara umum,penghapusan tarif baik langsung maupun gradual memberikan dampak relatif kecil terhadap kinerja variabel makro Hal tersebut dapat dilihat dari perubahan indikator ekonomi makro Indonesia (welfare, trade balance, TOT, GDP ril, dan inflasi). Artinya kebijakan full trade liberalization tidak dapat menciptakan trade creation yanc cukup besar untuk meningkatkan kondisi makro Indonesia. Hal tersebut mengingat volume perdagangan antar Indonesia-Mesir yang relatif rendah dan serta adanya hambatan perdagangan antar negara berupa non tariff barriers dan tidak adanya kerjasama perbankan. Full trade liberalization baik secara langsung ataupun gradual memberikan dampak relatif kecil terhadap peningkatan GDP riil. Penurunan tarif nol secara langsung hanya meningkatkan GDP riil sebesar 0.002%, bahkan tidak berpengaruh jika penurunan tarif dilakukan secara gradual. Peningkatan GDPriil disebabkan kenaikan tingkat konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah. Kebijakan penurunan 156

tarif berdampak negative pada Mesir dimana immediate atau gradually zero tariff akan menurunkan GDP riil sebesar 0.009% dan 0,004%. Kedua simulasi memiliki dampak positif terhadap perubahan welfare. Full trade liberalization secara langsung akan meningkatkan welfare Indonesia sebesar 41,3 juta US$, atau 700 % lebih besar dibandingkan full trade liberalization secara gradual (6,2 juta US$). Akan tetapi, perubahan tersebut relatif kecil yaitu sebesar 0,0007% (langsung) dan 1,16.10-9% (gradual). Trade creation akan menguntungkan konsumen yang mendapatkan harga lebih murah setelah adanya penurunan tarif antar negara. Indonesia lebih merasakan dampak positif peningkatan welfare mengingat Mesir lebih protektif dalam penetapan existing tarif masuk. Penurunan tarif akan menurunkan welfare Mesir baik secara langsung (-18,3 %) maupun gradual (5,3%). Penurunan tarif akan menyebabkan trade balance negative baik pada Indonesia maupun Mesir. Penghapusan tarif diharapkan akan meningkatkan perdagangan antar negara. Akan tetapi peningkatan eksport pada kedua simulasi jauh lebih kecil (0,026% dan 0,004%) dari peningkatan impor (0,09% dan 0,014%). Penurunan tarif akan menurunkan harga barang impor sehingga meningkatkan demand barang impor. Penurunan tarif secara langsung akan menyebabkan trade balance negative yang lebih besar daripada gradual (-6,1 juta US$/0,03% dan -1,03 jutaus$/0,005%). Searah dengan perubahan welfare, penurunan tarif diprediksi akan menurunkan trade balance Mesir jauh lebih besar dibandingkan Indonesia. Trade balance Mesir akan berkurang jauh lebih besar yaitu -8,4 juta US$ dengan skema immediate zero tariff dan -1,3 juta US$ dengan skema gradually zero tarif. Penurunan tarif baik langsung maupun gradual diprediksi akan meningkatkan tingkat inflasi Indonesia, namun perubahannya relatif kecil. Penurunan tarif secara langsung akan meningkatkan inflasi sebesar 0,07% sedangkan penurunan tarif gradual akan meningkatkan inflasi sebesar 0,01%. Penurunan tarif akan meningkatkan agregat demand (disebabkan peningkatan konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintah). 157

Negara Tabel 6-4. Dampak Penerapan Bilateral FTA Indonesia-Mesir terhadap Kinerja Makroekonomi Indonesia Welfare Trade Balance Terms of Trade Real GDP Inflation Sim1a Sim1b Sim1a Sim1b Sim1a Sim1b Sim1a Sim1b Sim1a Sim1b Indonesia 41,349 6,187-6,179-1,030 0,046 0,007 0,002 0,000 0,070 0,011 Turkey -1,599-0,234 1,308 0,193-0,002 0,000 0,000 0,000-0,003 0,000 Pakistan -0,509-0,074 0,094 0,014-0,001 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Egypt - 18,322-5,298-8,410-1,291-0,047-0,009-0,009-0,004-0,079-0,014 RestD8-1,745-0,223 0,373 0,058-0,001 0,000 0,000 0,000-0,001 0,000 EAsia -7,995-1,172 3,150 0,542-0,001 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 SEAsia -2,784-0,411 3,468 0,527-0,001 0,000 0,000 0,000-0,001 0,000 USA -2,016-0,254 0,838 0,154 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 EU_25-10,284-1,405 4,218 0,678 0,000 0,000 0,000 0,000-0,001 0,000 MENA 0,703 0,147 0,139 0,016 0,000 0,000 0,000 0,000-0,001 0,000 RestofWorld - 10,568-1,397 1,001 0,138 0,000 0,000 0,000 0,000-0,001 0,000 Lanjutan Tabel 6.4 Government Consumption Investment Negara Expenditure Export Import Sim1a Sim1b Sim1a Sim1b Sim1a Sim1b Sim1a Sim1b Sim1a Sim1b Indonesia 0,075 0,011 0,048 0,007 0,076 0,011 0,026 0,004 0,090 0,014 Turkey -0,003 0,000-0,002 0,000-0,003 0,000 0,000 0,000-0,003 0,000 Pakistan -0,001 0,000 0,000 0,000-0,001 0,000-0,001 0,000-0,002 0,000 Egypt -0,092-0,019 0,050 0,006-0,091-0,019 0,285 0,050 0,272 0,047 RestD8-0,001 0,000-0,002 0,000-0,001 0,000 0,000 0,000-0,002 0,000 EAsia 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000-0,001 0,000 SEAsia -0,001 0,000-0,004-0,001-0,001 0,000 0,000 0,000-0,002 0,000 USA 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 EU_25-0,001 0,000 0,000 0,000-0,001 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 MENA -0,001 0,000 0,000 0,000-0,001 0,000-0,001 0,000-0,001 0,000 RestofWorld -0,001 0,000 0,000 0,000-0,001 0,000 0,000 0,000-0,001 0,000 158

6.1.3 Dampak FTA Indonesia-Mesir terhadap Ekonomi Sektoral Dampak FTA Indonesia-Mesir terhadap ekonomi sektoral dianalisis berdasarkan dampak terhadap output, ekspor-impor dan penyerapan tenaga kerja baik terdidik maupun tidak terdidik 20 sektor tertinggi (dari 57 sektor dalam GTAP) yang akan diperbandingkan antara Sim2a (zero tarif) dan Sim2b (gradual selama 10 tahun). Dampak terhadap output, ekspor-impor dan penyerapan tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel 6.5, 6.6, dan 6.7. Pada Sim 2a, 3 sektor yang menduduki urutan perubahan tertinggi adalah tekstil sebesar 0,596 persen, vol ( vegetable oil) sebesar 0,322 persen, dan osd (oil seeds) sebesar 0,126 persen. Pada sim 2b, peringkat 3, osd digantikan oleh nmm (mineral product) sebesar 0.016, sedangkan osd menduduki peringkat ke-4. Dampak terhadap perubahan output pada Sim2a lebih tinggi dibandingkan dengan Sim2b. Hasil ini serupa dengan FTA Indonesia-Turki, dimana produsen memiliki insentif yang lebih besar apabila tarif nol persen dibandingkan tariff diturunkan secara bertahap selama 10 tahun. Berdasarkan hasil analisis RCAB rata-rata Indonesia untuk Mesir, sector vol dan tekstil memang memiliki nilai tertinggi, dan hasil ini konsisten dengan hasil simulasi. Dengan berbekal daya saing yang tinggi, vol maupun tekstil memperoleh dampak perubahan output yang tinggi sehingga mampu melakukan penetrasi pasar ke Mesir. Hasil ini memang tidak konsisten dengan perubahan ekspor. Perubahan ekspor tertinggi dialami oleh wap (wearing apparel) bukan vol, hal ini disebabkan karena adanya penurunan tarif yang sangat tinggi pada produk wap sehingga insentif untuk berproduksi pada sector wap lebih besar daripada vol. Namun demikian ekspor pada vol tetap mengalami peningkatan. Pada beberapa sektor, baik Sim2a maupun Sim2b mengalami penurunan output. Hal ini disebabkan tingkat tarif yang dikenakan Mesir untuk Indonesia pada sector ini memang sudah kecil yaitu berkisar pada 0,00 persen. Dengan tarif yang dinol-kan maupun diturunkan secara bertahap-pun tidak akan memberikan insentif 159

pada produsen untuk meningkatkan outputnya, bahkan turun atau nol. Hal ini terjadi pada sector p_c, osg, wtr, pcr, pdr, fsh, trd, gdt, wol, dan mvh. Tabel 6-5. Dampak Penghapusan Tarif dan Penurunan Tarif secara Gradual terhadap Perubahan Output (20 Sektor Tertinggi) (dalam persen) Sim2a Sim2b Sektor Output Sektor Output 1. tex 0,596 1. tex 0,086 2. vol 0,322 2. vol 0,041 3. osd 0,126 3. nmm 0,022 4. ppp 0,124 4. osd 0,016 5. nmm 0,112 5. ppp 0,014 6. cns 0,038 6. cns 0,006 7. crp 0,019 7. crp 0,005 8. wtp 0,005 8. mvh 0,002 9. pfb 0,003 9. pfb 0,001 10. b_t 0,001 10. wtp 0,001 11. p_c -0,001 11. pcr 0 12. osg -0,001 12. b_t 0 13. wtr -0,003 13. p_c 0 14. pcr -0,004 14. gdt 0 15. pdr -0,006 15. wtr 0 16. fsh -0,006 16. osg 0 17. trd -0,007 17. pdr -0,001 18. gdt -0,009 18. wol -0,001 19. wol -0,010 19. fsh -0,001 20. mvh -0,010 20. fmp -0,001 Dampak terhadap sektoral lainnya dapat dilihat dari dampaknya terhadap tenaga kerja terdidik dan tidak terdidik. Secara keseluruhan, apabila terjadi kenaikan output maka permintaan tenaga kerja baik terdidik maupun tidak terdidik akan meningkat. Secara teori apabila terjadi kenaikan jumlah barang yang diproduksi (output) maka membutuhkan tambahan tenaga kerja. Peningkatan permintaan terhadap tenaga kerja tercermin dalam peningkatan permintaan terhadap skill labor dan unskill labor. Tabel 7.14 menunjukkan dampak FTA Indonesia-Mesir terhadap tenaga kerja sektoral Indonesia. 160

Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja terlatih maupun tidak terlatih, konsisten dengan peningkatan output. Sektor yang mengalami peningkatan output akan meningkatkan permintaan tenaga kerjanya. Hasil ini sesuai dengan teori, ketika output meningkat maka produsen memerlukan tenaga kerja yang lebih banyak. Konsekwensinya permintaan terhadap tenaga kerja akan meningkat. Secara berturutturut tiga peringkat tertinggi dialami oleh tekstil, vol dan osd baik pada Sim2a maupun Sim2b. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan output, dampak terhadap penyerapan tenaga kerja baik terlatih maupun tidak terlatihnya juga mengalami penurunan. Tabel 6-6. Dampak Penurunan dan Penghapusan Tarif secara Gradual terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Terdidik dan Tidak Terdidik ( 20 Sektor Tertinggi) (dalam persen) Sim2a Sim2b Sim2a Sim2b Sektor UnSkLab Sektor UnSkLab Sektor SkLab Sektor SkLab 1. tex 0,588 tex 0,085 tex 0,596 Tex 0,086 2. vol 0,316 vol 0,040 vol 0,323 Vol 0,041 3. osd 0,143 nmm 0,021 osdx 0,145 Nmm 0,022 4. ppp 0,115 osd 0,018 ppp 0,123 Osd 0,018 5. nmm 0,103 ppp 0,013 nmm 0,111 Ppp 0,014 6. cns 0,032 cns 0,005 cns 0,040 Cns 0,006 7. crp 0,011 crp 0,004 crp 0,019 Crp 0,005 8. pfb 0,007 pfb 0,002 pfb 0,009 Pfb 0,002 9. pdr -0,002 mvh 0,001 wtp 0,002 Mvh 0,001 10. b_t -0,005 pdr -0,001 b_t 0,001 Pdr 0,000 11. osg -0,006 wol -0,001 osg 0,001 b_t 0,000 12. wol -0,007 pcr -0,001 pdr -0,001 Wtp 0,000 13. wtp -0,008 b_t -0,001 trd -0,003 Osg 0,000 14. oap -0,010 p_c -0,001 wol -0,005 Oap -0,001 15. gro -0,011 wtp -0,001 pcr -0,005 Wol -0,001 16. fsh -0,011 osg -0,001 p_c -0,005 Pcr -0,001 17. pcr -0,011 gro -0,002 wtr -0,005 p_c -0,001 18. v_f -0,012 v_f -0,002 oap -0,009 Fmp -0,001 19. p_c -0,012 oap -0,002 fsh -0,009 Gdt -0,001 20. wtr -0,012 fsh -0,002 gro -0,001 Wtr -0,001 161

Penghapusan maupun penurunan tarif secara gradual sangat signifikan berpengaruh pada perubahan ekspor maupun impor. Perubahan ekspor didominasi oleh sektor-sektor yang sebelumnya dikenakan tarif yang tinggi oleh Mesir. Apabila tarif yang dikenakan Mesir tinggi, kemudian diaplikasikan tarif nol atau diturunkan secara bertahap maka akan sangat memberikan insentif bagi produsen Indonesia untuk melakukan eskpor (Lihat tarif yang diberlakukan Mesir terhadap komoditi Indonesia pada Tabel 7.3). Sektor wap (wearing apparel), lea (leather), dan omf (manufactures nec) mengalami perubahan ekspor tertinggi baik pada Sim2a maupun Sim2b. Apabila ekspor Indonesia didominasi oleh sektor primer, maka impor lebih banyak didominasi oleh sektor sekunder dan tersier. Tiga tertinggi diduduki oleh sector atp (air transport), obs (business service), dan osg (publicadmin/defence/health/education). Tabel 6-7. Dampak Penghapusan dan Penurunan Tarif secara Gradual terhadap Perubahan Ekspor dan Impor ( 20 Sektor Tertinggi) (dalam persen) Sim2a Sim2b Sim2a Sim2b Sektor Ekspor Sektor Ekspor Sektor Impor Sektor Impor wap 949,093 wap 31,266 atp 146,203 Atp 10,054 lea 653,793 lea 24,921 obs 110,501 Obs 8,249 omf 452,063 omf 20,699 osg 105,451 Osg 7,843 fmp 425,834 fmp 20,119 gro 91,302 Ele 7,095 otn 418,144 otn 19,613 ele 90,904 Gro 7,052 mvh 273,577 mvh 15,764 otp 84,877 Otp 6,686 i_s 266,067 i_s 15,406 ely 51,334 Ely 4,364 nmm 263,342 nmm 15,216 nmm 37,778 Nmm 3,357 ome 201,212 ome 12,419 oap 35,740 Oap 3,206 crp 167,414 crp 11,019 isr 34,417 Isr 3,089 tex 137,494 tex 9,264 cns 33,528 Cns 3,018 lum 112,977 lum 8,225 ofi 31,545 Ofi 2,855 ele 100,400 ele 7,440 coa 30,254 Coa 2,759 vol 95,146 mil 7,170 gas 26,058 Gas 2,424 mil 94,902 vol 7,038 p_c 22,657 p_c 2,147 ppp 85,660 ppp 6,603 fmp 20,090 Fmp 1,909 ocr 77,380 ocr 6,095 nfm 3,092 Nfm 0,315 162

Sim2a Sim2b Sim2a Sim2b Sektor Ekspor Sektor Ekspor Sektor Impor Sektor Impor nfm 69,999 nfm 5,585 lum 1,229 Lum 0,192 v_f 57,207 v_f 4,882 b_t 1,018 b_t 0,176 ofd 29,652 ofd 2,682 wap 0,844 Wap 0,147 6.2. Analytical Hierarchy Process Kerjasama FTA Indonesia dan mitra dagang diharapkan dapat meningkatkan kinerja perdagangan (trade balance), memperluas pasar, dan meningkatkan investasi negara mitra di Indonesia. Untuk mencapai hal tersebut, strategi dalam posisi runding Indonesia-mitra dagang harus jelas mengingat kendala perdagangan berbeda antar negara. Strategi harus mempertimbangkan kepentingan stakeholder (pemerintah, eksportir, investor, dan perbankan) untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Faktorfaktor yang menghambat perdagangan yang dirasakan menjadi dasar penentu dasar strategi penentuan posisi runding Indonesia-mitra dagang, yaitu hampatan tarif dan non tarif, regulasi dan biaya perdagangan, transaksi perbankan antar dua negara, serta perbedaan penguasaan teknologi. Penyusunan hirarki analisis pemilihan posisi runding lima tingkat berdasarkan aktor yang berkepentingan, tujuan yang ingin dicapai, dan alternatif stratedi telah dijelaskan pada Bab 3 (Gambar 3.5). Tingkat satu yaitu fokus atau goal, tingkat dua adalah faktor yang mempengaruhi penyusunan strategi peningkatan kinerja perdagangan, tingkat tiga adalah aktor yang berkepentingan dan memiliki peranan dalam menyusun strategi peningkatan kinerja perdagangan, tingkat empat adalah tujuan yang ingin dicapai, dan tingkat lima adalah alternatif-alternatif yang dapat dipilih oleh pemerintah untuk mencapai tujuan (peningkatan kinerja perdagangan) Fokus/goal yang menjadi permasalahan adalah pemilihan posisi runding Indonesia-mitra dagang. Hal-hal yang menjadi faktor penyusun strategi pemilihan posisi runding merupakan hambatan perdagangan yang dirasakan oleh stakeholder/aktor adalah regulasi dan biaya perdagangan antar negara, transaksi 163

perbankan, hambatan tarif dan non-tarif, perbedaan penguasaan teknologi. Stakeholder/aktor yang berperan dalam pengambilan keputusan adalah pemerintah, perbankan, eksportir, dan investor. Tujuan dari peningkatan kerjasama perbankan yang diharapkan adalah peningkatan transaksi perdagangan Indonesia-mitra dagang, perluasan pemasaran produk Indonesia, dan peningkatan investasi mitra dagang. Untuk mendukung hal tersebut pilihan yang direkomendasikan adalah peningkatan fasilitasi perdagangan, pengurangan tarif dan non tarif barrier antara Indonesia-mitra dagang, dan pengembangan kerjasama perbankan, investasi, dan jasa. Analisis AHP menggunakan informasi stakeholder terkait yang diperoleh dari kegiatan FGD (Focus Group Discussion). Stakeholder yang terkait yang ahli di bidangnya yaitu: Departemen Perdagangan; Departemen Pertanian, Departemen perindustrian, dan Eksportir. Kegiatan FGD dengan stakeholder terkait dilakukan di beberapa besar di Indonesia (Jakarta,Surabaya, Riau, dan Medan). Rekomendasi alternatif strategi posisi runding Indonesia-mitra dagang merupakan hasil sintesa hasil analisis dengan menggunakan metode AHP. Perdagangan antara Indonesia dan Mesir memiliki kendala utama regulasi dan biaya perdagangan antar negara yang tinggi serta ketiadaan kerjasama perdagangan. Analisis sensitivitas dilakukan untuk merumuskan strategi pemilihan posisi runding kerjasama perdagangan Indonesia-Mesir. Strategi pemilihan posisi runding Indonesia-Mesir dengan pembobotan lebih pada faktor regulasi dan biaya perdagangan antar negara yang tinggi disajikan pada Tabel 8.3. Peningkatan bobot permasalahan regulasi dan biaya perdagangan dalam perdagangan antara Indonesia-Mesir ternyata menghasilkan tiga alternatif strategi yang sama dengan Indonesia dan mitra negara lain (Turki dan Pakistan) dengan tingkat penekanan strategi yang berbeda. Penghapusan tarif perdagangan merupakan strategi terpenting dengan bobot tertinggi yaitu 0,433. Penghapusan tarif masuk diharapkan akan meningkatkan volume transaksi perdagangan Indonesia-Mesir. Strategi penting kedua adalah peningkatan fasilitasi perdagangan dengan bobot 0,23. Hal ini menunjukkan bahwa kejelasan regulasi dan penurunan biaya 164

perdagangan merupakan strategi penting dalam posisi runding kerjasama perdagangan Indonesia-Mesir untuk mencapai tujuan peningkatan trade balance Indonesia. Kerjasama perdagangan diharapkan dapat berimplikasi pada kejelasan regulasi dan penurunan biaya perdagangan antar Indonesia-Mesir. Strategi penting ketiga adalah penghapusan hambatan non-tarif antar negara dengan dengan bobot 0,166. Walaupun ketiadaan kerjasama perdagangan mempersulit perdagangan antar negara, strategi peningkatan kerjasama perbankan merupakan strategi yang kurang penting dibandingkan strategi lainnya. Artinya perbaikan kerjasama perbankan merupakan bukanlah syarat keharusan dalam upaya peningkatan volume transaksi perdagangan Indonesia, namun syarat tambahan untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut. Tabel 6-8. Pemilihan Strategi dalam Penentuan Posisi Runding NO STRATEGI SINGKATAN BOBOT ALTERNATIF RANGKING 1. Meningkatkan fasilitasi perdagangan 2. Meningkatkan kerjasama perbankan 3. Meningkatkan kerjasama investasi 4. Meningkatkan kerjasama jasa 5. Mengurangi nontariff barriers antara Indonesia dengan negara mitra dagang 6. Penghapusan tarif antara Indonesia dengan negara mitra dagang A 0,230239 2 B 0,102294 5 C 0,116693 4 D 0,08611 6 E 0,166525 3 F 0,4329 1 165

1. TUJUAN TERHADAP ALTERNATIF STRATEGI Meningkatkan volume transaksi perdagangan (ekspor) antara Indonesia dan mitra dagang (Turki-Mesir-Pakistan) sehingga dapat meningkatkan trade balance Indonesia (PTB) 166

Kesimpulan : Perubahan kebijakan (bobot) tujuan Meningkatkan volume transaksi perdagangan (ekspor) antara Indonesia dan mitra dagang (Turki-Mesir-Pakistan) sehingga dapat meningkatkan trade balance Indonesia (PTB) akan berdampak pada perubahan bobot strategi pemilihan posisi runding indonesia-mitra dagang (turki, mesir, pakistan), dengan rincian sebagai berikut : Strategi 1 : Meningkatkan fasilitasi perdagangan Strategi 2 : Meningkatkan kerjasama perbankan Strategi 3 : Meningkatkan kerjasama investasi Strategi 4 : Meningkatkan kerjasama jasa Strategi 5 : Mengurangi non-tariff barriers antara Indonesia dengan negara mitra dagang Strategi 6 : Penghapusan tarif antara Indonesia dengan negara mitra dagang Jika bobot tujuan 1 (PTB) meningkat ( menjadi 100%), maka akan mengakibatkan peningkatan pada strategi 5 (2%) dan strategi 6 (3,5%). Namun mengakibatkan penurunan pada bobot startegi 1 (1,9%), strategi 3 (1,9%) dan strategi 4 (1,8%). Sedangkan strategi 2 tidak mengalami perubahan (konstan). 167

BAB 7. IMPLIKASI KEBIJAKAN Pada bab 5 menyajikan pembahasan mengenai pola perdagangan antar negara yang diidentifikasi melalui keterkaitan perdagangan (IIT). Nilai dari IIT (Intra Industry Trade) masing-masing komoditi digunakan untuk menganalisis tingkat integrasi dan keterkaitan perdagangan antara Indonesia dengan Turki, Mesir serta Pakistan. Integrasi yang tinggi menunjukkan keterkaitan yang erat di antara negaranegara tersebut. Pada bab 5 juga ditunjukkan peringkat daya saing komoditi Indonesia dengan menggunakan metode RCAB. Pada dasarnya metode ini mengukur kinerja suatu komoditi tertentu dengan ekspor total suatu tempat dibandingkan dengan pangsa komoditi tersebut dalam perdagangan dunia. Analisis keunggulan komparatif RCA diperkenalkan pertama kali oleh Bela Balassa pada tahun 1965. Pada mulanya Balassa menggunakan dua konsep pemikiran, pertama: didasarkan pada rasio impor dan ekspor, dan yang kedua: pada prestasi ekspor relatif. Dengan alasan bahwa impor lebih peka terhadap tingkatnya perlindungan tarif, dan pada perkembangan selanjutnya Balassa meninggalkan ukuran yang pertama. Balassa mengevaluasi prestasi ekspor masing-masing komoditi di negara-negara tertentu dengan membandingkan bagian relatif ekspor suatu negara dalam ekspor dunia. Berdasarkan hasil analisis RCAB dan IIT menunjukkan bahwa komoditas yang memiliki RCAB tinggi belum tentu memiliki keterkaitan perdagangan dengan Negara tujuan ekspor (dalam hal ini Mesir) demikian juga sebaliknya, suatu komoditas memiliki strong integration namun tidak mampu melakukan penetrasi ke pasar tujuan ekspor. Oleh karena itu pada bab ini akan disajikan komoditi yang secara bersama-sama memiliki rangking RCAB dan IIT tertinggi sehingga diperoleh komoditas unggulan ekspor. Dengan daya saing tinggi serta memiliki IIT tinggi yang ditunjukkan dengan two way trade akan menjaga kontinuitas ekspor Indonesia. Ekspor yang stabil akan menjaga trade balance bernilai positif walaupun ada guncangan dalam kebijakan perdagangan 168

7.1. Produk Unggulan Ekspor Indonesia ke dunia Tabel 7.1. menyajikan 20 komoditi Indonesia yang memiliki rangking RCAB dan IIT tinggi di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa selain memiliki daya saing tinggi, komoditi-komodtiti tersebut memiliki keterkaitan dengan perdagangan dunia (two way trade). Dengan daya saing yang tinggi serta ada keterkaitan perdagangan antar industri maka kontinuitas ekspor Indonesia akan terjaga. Berdasarkan Tabel 8.1 dapat dilihat bahwa aluminium (HS 76), mineral fuels (HS 27), tobacco (HS 24), tekstil (HS 54 dan HS 55 ), paper product (HS 48 dan 49) adalah komoditi andalan ekspor Indonesia di dunia. Indonesia terkenal mengekspor minyak mentah, walaupun di satu sisi Indonesia adalah pengimpor minyak olahan. Demikian juga untuk tekstil, Indonesia termasuk Negara pengekspor tekstil yang diperhitungkan didunia karena memiliki keunggulan komparatif pada tenaga kerja yang murah. Dengan tenaga kerja murah ini Indonesia memiliki biaya produksi yang lebih murah sehingga harga menjadi lebih murah, oleh karena itu Indonesia pernah dituduh menjalankan praktek dumping. Walaupun Indonesia adalah pengekspor tekstil, untuk bahan baku serat misalnya Indonesia masih mengimpor dari Negara lain. Tabel 7-1. Komoditi Indonesia yang Memiliki Rangking RCAB dan IIT Tinggi di Pasar Dunia HS 2 Deskripsi Komoditi RCA IIT Rank 76 Aluminium and articles thereof. 4,15 90 10,5 96 Miscellaneous manufactured articles. 12,47 79,74 11,5 27 Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes 85,9 65,57 12 24 Tobacco and manufactured tobacco substitutes 0,97 80,32 18,5 34 Soap, organic surface-active agents, washing preparations, lubricating preparations, artificialwaxes, prepared waxes, polishing or scouring preparations, candles and similar articles, modelling pastes, dental waxes and dental preparations with a basi 87 Vehicles other than railway or tramway rolling-stock, and parts and accessories thereof 0,26 86,95 20 22,93 54,17 22 169

HS 2 Deskripsi Komoditi RCA IIT Rank 13 Lac; gums, resins and other vegetable saps and extracts 0,08 87,59 22,5 82 Tools, implements, cutlery, spoons and forks, of base metal; parts thereof of base metal 4,37 61,55 25 68 Articles of stone, plaster, cement, asbestos, mica or similar materials 47 Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) of paper or paperboard 0,27 75 26,5-0,02 89,13 27 69 Ceramic products. 0,97 64,89 27,5 22 Beverages, spirits and vinegar. 0,02 79,52 28 54 Man-made filaments; strip and the like of man-made 7,15 46,98 29,5 textile materials 55 Man-made staple fibres. 6,82 46,67 31 70 Glass and glassware. 2,05 49,96 32 58 Special woven fabrics; tufted textile fabrics; lace; tapestries; trimmings; embroidery 49 Printed books, newspapers, pictures and other products of the printing industry; manuscripts, typescripts and plans -0,01 76,68 33,5-0,05 78,35 34 8 Edible fruit and nuts; peel of citrus fruit or melons -0,18 80,18 35,5 48 Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard 15,44 33,97 35,5 97 Works of art, collectors' pieces and antiques. 1,72 45,74 35,5 7.2. Produk Unggulan Ekspor Indonesia ke Mesir Komoditi Indonesia yang memiliki rangking RCAB dan IIT tinggi di pasar Mesir adalah pakaian jadi, karet, elektrik, minyak nabati, plastik, karet, kulit, kertas, kayu dan produk dari kayu (Lihat Tabel 8.3). RCAB yang tinggi menunjukkan komoditi-komoditi ini memiliki penetrasi pasar yang baik di pasar Mesir. Sedangkan IIT yang tinggi menunjukkan ada keterkaitan bersifat dua arah (two way trade) dimana Indonesia melakukan ekspor dan impor ke negara Mesir. Berdasarkan hasil pengolahan GTAP, ketika disimulasikan terjadi penghapusan tarif menjadi zero tarif maupun penghapusan secara gradual, 20 170

komoditi yang memiliki RCAB tinggi dan keterkaitan perdagangan yang bersifat dua arah (two way trade) berdampak signifikan pada peningkatan ekspor (Lihat Tabel 6.13 mengenai Dampak Penghapusan Tarif dan Penurunan Tarif secara Gradual terhadap Perubahan Ekspor). Hanya sektor perikanan yang tidak terpengaruh dengan shock eliminasi tarif walaupun memiliki RCAB dan IIT tinggi. Hal ini peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan eskpor mengingat potensi ekspor perikanan Indonesia yang tinggi. Penelitian Listianawati (2010) menunjukkan Indonesia berada di urutan ketiga sebagai penghasil perikanan tangkap di dunia Wilayah laut Indonesia yang terdiri atas luas perairan Indonesia kurang lebih 3,1 juta km 2 (perairan laut teritorial 0,3 juta km 2 dan perairan nusantara 2,8 juta km 2 ) dan perairan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) seluas lebih kurang 2,7 juta km 2 menyimpan banyak jenis ikan dan hasil perairan lainnya yang memiliki nilai ekonomis penting mendukung Keunggulan komparatif Indonesia di sector perikanan. Tabel 7-2. Komoditi Indonesia yang Memiliki Rangking RCAB dan IIT Tinggi di Pasar Mesir HS 2 62 Sector RCAB IIT Skor Articles of apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted 7,07 11,25 12 40 Rubber and articles thereof. 7,64 7,33 12,5 Articles of apparel and clothing accessories, knitted or 61 crocheted 2,42 13,7 14,5 60 Knitted or crocheted fabrics. 0,55 28,52 16 55 Man-made staple fibres. 11,58 0,34 16,5 85 Electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and sound recorders and reproducers, and parts and accessories of such articles 4,21 2,17 16,5 9 Coffee, tea, matï and spices. 3,22 2,71 17 15 54 Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes 46,01 0,04 17 Man-made filaments; strip and the like of man-made textile materials 10,59 0,2 17,5 39 Plastics and articles thereof. 2,86 1,29 18,5 171

HS 2 42 48 Sector RCAB IIT Skor Articles of leather; saddlery and harness; travel goods, handbags and similar containers; articles of animal gut (other than silk-worm gut) 0,08 52,05 18,5 Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard 14,53 0 18,5 44 Wood and articles of wood; wood charcoal. 12,83 0 19 30 Pharmaceutical products. 0 89,99 19,5 20 Preparations of vegetables, fruit, nuts or other parts of plants 0,07 33,96 20 87 94 16 4 Vehicles other than railway or tramway rolling-stock, and parts and accessories thereof 4,33 0 21,5 Furniture; bedding, mattresses, mattress supports, cushions and similar stuffed furnishings; lamps and lighting fittings, not elsewhere specified or included; illuminated signs, illuminated name-plates and the like; prefabricated buildings 0,65 3,93 21,5 Preparations of meat, of fish or of crustaceans, molluscs or other aquatic invertebrates 3,89 0 22,5 Dairy produce; birds' eggs; natural honey; edible products of animal origin, not elsewhere specified or included 0,06 20,06 23,5 7 Edible vegetables and certain roots and tubers. -0,28 63,44 24 172

BAB 8. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan Kinerja perdagangan komoditas yang memiliki keterkaitan antar negara yang erat dan berdaya saing tinggi dengan negara mitra dagang dalam hal ini Mesir, diharapkan meningkat dengan adanya kerjasama perdagangan. Komoditas dengan keterkaitan perdagangan yang tinggi antara Indonesia dengan dunia dan antara negara mitra berbeda. Alumunium, pulp dan kertas; serta getah karet dan damar komoditas Indonesia yang memiliki keterkaitan perdagangan tinggi dengan dunia. Pada perdagangan Indonesia dengan Mesir komoditas yang memiliki keterkaitan tinggi adalah sutra (HS 50), pewarna dan cat (HS 32), dan payung (HS 66). Komoditas Indonesia yang memiliki keterkaitan perdagangan tinggi tidak memiliki daya saing dan kemampuan penetrasi pasar. Berdasarkan indikator daya saing (RCAB) untuk tingkat dunia, komoditas yang memiliki tingkat dayasaing dan kemampuan penetrasi yang tinggi di pasar dunia minyak bumi, minyak dari hewan dan tumbuhan, dan kayu/produk kayu merupakan. Komoditas minyak hewan dan tumbuhan juga memiliki daya saing dan kemampuan tertinggi di pasar Mesir. Komoditas dengan RCAB tinggi antara Indonesia dengan Mesir lainnya adalah kertas dan kayu dan produk olahannya (HS 48 dan HS 44). Kesesuaian antara struktur ekspor Indonesia dengan impor Mesir cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa struktur impor Indonesia memiliki kesesuaian dengan struktur ekspor Mesir, namun demikian tingkat komplementer perdagangan dengan Mesir memiliki trend negative. FTA Indonesia-Mesir dengan skema immediate zero tariff maupun gradual memberikan dampak berbeda antar negara, GDP riil Indonesia akan meningkat relatif kecil dan GDP riil Mesir akan menurun. Kedua simulasi memiliki dampak positif terhadap perubahan welfare. Trade creation akan menguntungkan konsumen yang mendapatkan harga lebih murah setelah adanya penurunan tarif antar negara. 173

Indonesia lebih merasakan dampak positif peningkatan welfare mengingat Mesir lebih protektif dalam penetapan existing tarif masuk. Penurunan tarif secara langsung akan menyebabkan trade balance negative yang lebih besar daripada gradual. Penurunan tarif baik langsung maupun gradual diprediksi akan meningkatkan tingkat inflasi Indonesia, namun perubahannya relatif kecil. Penurunan tarif akan menyebabkan peningkatan output pada produk tekstil, vegetable oil (vol), oil seed (osd), dan mineral product (nmm). Namun peningkatan ekspor terbesar terjadi pada produk wearing apparel (wap), leather (lea), dan manufactures nec (omf). 8.2. Saran Strategi dalam posisi runding Indonesia dengan Mesir dalam inisiasi kerjasama perdagangan harus mempertimbangkan kendala perdagangan antar negara. Kerjasama diharapkan dapat meningkatkan kinerja perdagangan (trade balance), memperluas pasar, dan meningkatkan investasi negara mitra di Indonesia. Fokus strategi pemerintah Indonesia dengan mempertimbangkan daya saing dan keterkaitan produkserta kendala perdagangan yang dihadapi stakeholder terhadap negara tujuan ekspor adalah 1) penurunan tarif perdagangan; 2) pengurangan non-tariff barrier; dan 3) peningkatan fasilitasi perdagangan antar negara. Penurunan tarif baik secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan ouput yang berkorelasi positif dengan ekpor, khususnya pada produk berdayasaing dan memiliki keterkaitan tinggi. Penurunan tarif baik secara langsung maupun gradual dapat terwujud dalam skema FTA ataupun PTA. Pada kerjasama Indonesia-Mesir, penurunan tarif difokuskan pada tekstil (HS 54, 55, 60, 61, 62), karet (HS 40), barang elektronik (HS 85), minyak nabati (HS 15), plastik (HS 39), kertas (HS 48). Kerjasama perdagangan juga diharapkan dapat mengurangi non-tariff barrier antar negara. Karena berdasarkan hasil temuan lapang (FGD), hambatan yang dialami eksportir, khususnya pada komoditas pertanian (kopi dan tembakau) adalah pemberlakuan persyaratan keterangan bebas terhadap bahan radioaktif pada produk 174

yang akan diekspor ke tiga negara tersebut. Penerapan Bio-security Act ini juga diterapkan oleh Mesir untuk komoditi pupuk. Fasilitasi perdagangan perlu dilakukan pemerintah mengingat banyak produk Indonesia yang memiliki daya saing tinggi (RCAB tinggi) namun keterkaitan perdagangan rendah. Pengembangan market intelejen untuk mengidentifikasi permintaan pasar di Mesir. Fasilitasi lain yang diperlukan adalah dukungan promosi khususnya bagi produk Indonesia yang berdaya saing melalui keikutsertaan pameran perdagangan. Hal tersebut dapat meningkatkan keterkaitan perdagangan khususnya pada produk dengan yang sesuai dengan permintaan negara tujuan ekspor. Fasilitasi perdagangan yang lain adalah legalisasi dokumen terkait dengan biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk pengurusan dokumen tersebut. Sosialisasi regulasi perdagangan negara tujuan tersebut diharapkan akan mempercepat dan memperlancar kegiatan ekspor-impor. Peranan pemerintah dalam kebijakan perdagangan merupakan syarat keharusan namun belum cukup untuk mendukung perdagangan Indonesia dengan Mesir. Kerjasama perbankan mutlak diperlukan dalam kegiatan trade financing mengingat rendahnya kredibilitas negara tujuan ekspor (Mesir). Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) lebih mengoptimalkan kerjasama dengan pihak ketiga (co: Bank Dunia) untuk mengatasi permasalahan tersebut. 175

DAFTAR PUSTAKA Armington, P.A. 1969. A Theory of Demand for Products Distinguished by Place of Production. International Monetary Fund Staff Papers, 16 (5): 159-78. Austria, M. 2004. The Pattern of Intra-ASEAN Trade in Priority Good Sectors. ASEAN Secretariat. Jakarta. Department of Foreign Affairs and Trade, 2008. Estimating the Impact of Australia-Indonesia Trade and Investment Agreement. Center for International Economics, Sidney. Dumairy. 1997. Perekonomian Indonesia. Erlangga, Jakarta. Hady, H. 2001. Ekonomi Internasional : Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional. Buku Kesatu. Ghalia Indonesia. Jakarta. Hertel. 1997. Global Trade Analysis, Modeling and Applications. Cambridge University Press, New York. Hertel dan Tsigas. 1997. Structure of GTAP. Global Trade Analysis, Modeling and Applications. Cambridge University Press, New York. Kotabe, M dan Helsen, K. 2001. Global Marketing Management. Second Edition. John Wiley and Sons, Inc, New York. Krugman, P. 1991. Increasing Returns and Economic Geography, Journal of Political Economy, University of Chicago Press, vol. 99(3), pages 483-99, June. Krugman dan Obstfeld. 2000. International Economics Theory and Policy. An imprint of Addison Wesley Longman, Inc. Massachosetts. Listianawati, I. 2010. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Ekspor Cakalang Beku Indonesia. Pascasarjana IPB, Bogor. Lubis, A. 2010. Global Crisis has Delivered Indonesia Against The Negative Impact of Early Harvest Program with China. Ministry of Trade Indonesia, Jakarta. Menon, J. 1996. How Realible are Intra Industry Trade Measures as Indicators of Adjusment Cost. Centre of Policy Studies/IMPACT Centre, Monash University, Melbourne. Oktaviani, R., E.I.K. Puteri, S. Hartoyo, Widyastutik, dan A. Rifin, E. Puspitawati.2007. Perhitungan Penerimaan Bea Masuk Berdasarkan Kebijakan tarif dalam Skema Umum dan Skema Free Trade Area dan Evaluasi Dampak Kebijakan Tarif Bea Masuk dalam

Skema ASEAN-China Free Trade Area dan ASEAN-Korea terhadap Pendapatan Negara. Departemen Keuangan, Jakarta. Oktaviani, R. Tanti, N. dan Widyastutik.2008. Pola dan Dinamika Perdagangan Indonesia- Timur Tengah dan Indonesia-Meksiko; Kajian Awal Analisis Dampak FTA. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Oktaviani, R. Novianti, T. dan Widyastutik.2009. Pola Perdagangan, Prospek dan Dampak FTA terhadap Ekonomi Makro, Sektoral dan Regional Indonesia (Studi Kasus FTA Indonesia- Timur Tengah (Turki) dan Indonesia-Meksiko. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Priharnowo, T. 2000. Analisis Perbandingan Intensitas Perdagangan dan Daya Saing Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia dengan Beberapa Negara ASEAN. Pusdiklat Departemen Luar Negeri. Saaty, TL. 1994. The Analytic Hierarchy Process. McGrawhill-Book, New-York. Salvatore, D. 1997. Ekonomi Internasional. Haris Munandar [Penerjemah]. Erlangga, Jakarta. Stephenson, S. M. 1994. The Uruguay Round and Its Benefit to Indonesia. Ministry of Trade, Republic of Indonesia, Jakarta. Suryadi, K dan Ramdhani, A. 2000. Sistem Pendukung keputusan. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Lampiran 1. Rata-rata IIT 99 komoditi Indonesia dengan Dunia, Tahun 1996-2009 Rata-Rata Indeks IIT Indonesia Dunia Kode HS 2 Digit DESC Nilai IIT 01 Live animals; animal products 43.60 02 Meat and edible meat offal 44.47 03 Fish and crustaceans, molluscs and other acquatic invertebrates 5.48 04 Dairy produce; birds' eggs; natural honey; edible products of animal origin, not elsewhere specified or included 45.18 05 Products of animal origin, not elsewhere specified or included 55.61 06 Live trees and other plants; bulbs, roots and the like; cut flowers and ornamental foliage 33.68 07 Edible vegetables and certain roots and tubers. 61.59 08 Edible fruit and nuts; peel of citrus fruit or melons 80.18 09 Coffee, tea, matï and spices. 9.33 10 Cereals 2.81 11 Products of the milling industry; malt; starches; inulin; wheat gluten 36.03 12 Oil seeds and oleaginous fruits; miscellaneous grains, seeds and fruit; industrial or medicinal plants; straw and fodder 27.11 13 Lac; gums, resins and other vegetable saps and extracts 87.59 14 Vegetable plaiting materials; vegetable products not elsewhere specified or included 6.52 15 Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes 4.21 16 Preparations of meat, of fish or of crustaceans, molluscs or other aquatic invertebrates 7.57 17 Sugars and sugar confectionery. 29.96 18 Cocoa and cocoa preparations. 15.01 19 Preparations of cereals, flour, starch or milk; pastrycooks' products 52.88 20 Preparations of vegetables, fruit, nuts or other parts of plants 34.63 21 Miscellaneous edible preparations. 71.12 22 Beverages, spirits and vinegar. 79.52 23 Residues and waste from the food industries; prepared animal fodder 36.95 24 Tobacco and manufactured tobacco substitutes 80.32 25 Salt; sulphur; earths and stone; plastering materials, lime and cement 76.23 26 Ores, slag and ash. 12.02 27 Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes 65.57 28 Inorganic chemicals; organic or inorganic compounds of precious metals, of rare-earth metals, of radioactive elements or of isotopes 53.35 29 Organic chemicals. 60.21 30 Pharmaceutical products. 74.62 31 Fertilisers. 62.15 32 Tanning or dyeing extracts; tannins and their derivatives; dyes, pigments and other colouring matter; paints and varnishes; putty and other mastics; inks 44.80 33 Essential oils and resinoids; perfumery, cosmetic or toilet 80.61

preparations 34 Soap, organic surface-active agents, washing preparations, lubricating preparations, artificialwaxes, prepared waxes, polishing or scouring preparations, candles and similar articles, modelling pastes, dental waxes and dental preparations with a basi 86.95 35 Albuminoidal substances; modified starches; glues; enzymes 21.47 36 Explosives; pyrotechnic products; matches; pyrophoric alloys; certain combustible preparations 44.17 37 Photographic or cinematographic goods. 11.96 38 Miscellaneous chemical products. 83.91 39 Plastics and articles thereof. 86.76 40 Rubber and articles thereof. 31.90 41 Raw hides and skins(other than furskins) and leather 63.26 42 Articles of leather; saddlery and harness; travel goods, handbags and similar containers; articles of animal gut (other than silk-worm gut) 24.41 43 Furskins and artificial fur; manufactures thereof. 56.79 44 Wood and articles of wood; wood charcoal. 9.57 45 Cork and articles of cork. 55.86 46 Manufactures of straw, of esparto or of other plaiting materials; basketware and wickerwork 4.03 47 Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) of paper or paperboard 89.13 48 Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard 33.97 49 Printed books, newspapers, pictures and other products of the printing industry; manuscripts, typescripts and plans 78.35 50 Silk. 48.72 51 Wool, fine or coarse animal hair; horsehair yarn and woven fabric 42.77 52 Cotton. 81.34 53 Other vegetable textile fibres; paper yarn and woven fabrics of paper yarn 32.99 54 Man-made filaments; strip and the like of man-made textile materials 46.98 55 Man-made staple fibres. 46.67 56 Wadding, felt and nonwovens; special yarns; twine, cordage, ropes and cables and articles thereof 73.28 57 Carpets and other textile floor coverings. 36.88 58 Special woven fabrics; tufted textile fabrics; lace; tapestries; trimmings; embroidery 76.68 59 Impregnated, coated, covered or laminated textile fabrics; textile articles of a kind suitable for industrial use 79.34 60 Knitted or crocheted fabrics. 60.25 61 Articles of apparel and clothing accessories, knitted or crocheted 2.78 62 Articles of apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted 2.06 63 Other made up textile articles; sets; worn clothing and worn textile articles; rags 19.77 64 Footwear, gaiters and the like; parts of such articles 10.53 65 Headgear and parts thereof. 37.47 66 Umbrella, sun umbrellas, walking-sticks, seat-sticks, whips, ridingcrops and parts thereof 47.89

67 Prepared feathers and down and articles made of feathers or of down; artificial flowers; articles of human hair 18.10 68 Articles of stone, plaster, cement, asbestos, mica or similar materials 75.00 69 Ceramic products. 64.89 70 Glass and glassware. 49.96 71 Natural or cultured pearls, precious or semi-precious stones, precious metals, metals cladwith precious metal, and articles thereof; imitation jewellery; coin 5.68 72 Iron and steel. 44.37 73 Articles of iron or steel. 65.21 74 Copper and articles thereof. 39.12 75 Nickel and articles thereof. 11.10 76 Aluminium and articles thereof. 90.00 78 Lead and articles thereof. 18.49 79 Zinc and articles thereof. 7.41 80 Tin and articles thereof. 5.96 81 Other base metals; cermets; articles thereof. 22.97 82 Tools, implements, cutlery, spoons and forks, of base metal; parts thereof of base metal 61.55 83 Miscellaneous articles of base metal. 67.93 84 Nuclear reactors, boilers, machinery and mechanical appliances; parts thereof 60.14 85 Electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and sound recorders and reproducers, and parts and accessories of such articles 62.45 86 Railway or tramway locomotives, rolling-stock and parts thereof; railway or tramway track fixtures and fittings and parts thereof; mechanical (including electro-mechanical) traffic signalling equipment of all kinds 55.70 87 Vehicles other than railway or tramway rolling-stock, and parts and accessories thereof 54.17 88 Aircraft, spacecraft, and parts thereof. 29.87 89 Ships, boats and floating structures. 50.27 90 Optical, photographic, cinematographic, measuring, checking, precision, medical or surgical instruments and apparatus; parts and accessories thereof 78.97 91 Clocks and watches and parts thereof. 65.01 92 Musical instruments; parts and accessories of such articles 33.35 93 Arms and ammunition; parts and accessories thereof 16.02 94 Furniture; bedding, mattresses, mattress supports, cushions and similar stuffed furnishings; lamps and lighting fittings, not elsewhere specified or included; illuminated signs, illuminated name-plates and the like; prefabricated buildings 11.69 95 Toys, games and sports requisites; parts and accessories thereof 44.29 96 Miscellaneous manufactured articles. 79.74 97 Works of art, collectors' pieces and antiques. 45.74 98 Commodities specified at chapter level only 0.04 99 Commodities not elsewhere specified 7.25

Lampiran 2. Rata-rata IIT 99 komoditi Indonesia dengan Turki, Tahun 1996-2009 Rata-Rata IIT Index Indonesia-Turki Tahun 1996-2009 Kode HS 2 Digit DESC Rata-Rata IIT Indonesia- Turki 01 Live animals; animal products 0.00 02 Meat and edible meat offal 0.00 03 Fish and crustaceans, molluscs and other acquatic invertebrates 6.58 04 Dairy produce; birds' eggs; natural honey; edible products of animal origin, not elsewhere specified or included 9.67 05 Products of animal origin, not elsewhere specified or included 0.00 06 Live trees and other plants; bulbs, roots and the like; cut flowers and ornamental foliage 0.00 07 Edible vegetables and certain roots and tubers. 17.22 08 Edible fruit and nuts; peel of citrus fruit or melons 33.71 09 Coffee, tea, matï and spices. 18.03 10 Cereals 0.00 11 Products of the milling industry; malt; starches; inulin; wheat gluten 3.35 12 Oil seeds and oleaginous fruits; miscellaneous grains, seeds and fruit; industrial or medicinal plants; straw and fodder 6.90 13 Lac; gums, resins and other vegetable saps and extracts 5.51 14 Vegetable plaiting materials; vegetable products not elsewhere specified or included 1.03 15 Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes 0.40 16 Preparations of meat, of fish or of crustaceans, molluscs or other aquatic invertebrates 31.04 17 Sugars and sugar confectionery. 9.25 18 Cocoa and cocoa preparations. 12.86 19 Preparations of cereals, flour, starch or milk; pastrycooks' products 5.53 20 Preparations of vegetables, fruit, nuts or other parts of plants 18.73 21 Miscellaneous edible preparations. 4.31 22 Beverages, spirits and vinegar. 0.17 23 Residues and waste from the food industries; prepared animal fodder 0.00 24 Tobacco and manufactured tobacco substitutes 22.18 25 Salt; sulphur; earths and stone; plastering materials, lime and cement 2.36 26 Ores, slag and ash. 0.00 27 Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes 11.95 28 Inorganic chemicals; organic or inorganic compounds of precious metals, of rare-earth metals, of radioactive elements or of isotopes 6.78 29 Organic chemicals. 28.33 30 Pharmaceutical products. 11.79 31 Fertilisers. 0.51 32 Tanning or dyeing extracts; tannins and their derivatives; dyes, pigments and other colouring matter; paints and varnishes; putty 9.53

and other mastics; inks 33 Essential oils and resinoids; perfumery, cosmetic or toilet preparations 4.86 34 Soap, organic surface-active agents, washing preparations, lubricating preparations, artificialwaxes, prepared waxes, polishing or scouring preparations, candles and similar articles, modelling pastes, dental waxes and dental preparations with a basi 26.54 35 Albuminoidal substances; modified starches; glues; enzymes 8.56 36 Explosives; pyrotechnic products; matches; pyrophoric alloys; certain combustible preparations 0.00 37 Photographic or cinematographic goods. 0.00 38 Miscellaneous chemical products. 16.89 39 Plastics and articles thereof. 10.86 40 Rubber and articles thereof. 3.66 41 Raw hides and skins(other than furskins) and leather 0.02 42 Articles of leather; saddlery and harness; travel goods, handbags and similar containers; articles of animal gut (other than silk-worm gut) 21.77 43 Furskins and artificial fur; manufactures thereof. 5.69 44 Wood and articles of wood; wood charcoal. 0.41 45 Cork and articles of cork. 0.00 46 Manufactures of straw, of esparto or of other plaiting materials; basketware and wickerwork 0.75 47 Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) of paper or paperboard 7.34 48 Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard 0.71 49 Printed books, newspapers, pictures and other products of the printing industry; manuscripts, typescripts and plans 40.61 50 Silk. 0.00 51 Wool, fine or coarse animal hair; horsehair yarn and woven fabric 0.00 52 Cotton. 32.41 53 Other vegetable textile fibres; paper yarn and woven fabrics of paper yarn 0.00 54 Man-made filaments; strip and the like of man-made textile materials 3.24 55 Man-made staple fibres. 12.54 56 Wadding, felt and nonwovens; special yarns; twine, cordage, ropes and cables and articles thereof 8.34 57 Carpets and other textile floor coverings. 20.43 58 Special woven fabrics; tufted textile fabrics; lace; tapestries; trimmings; embroidery 25.51 59 Impregnated, coated, covered or laminated textile fabrics; textile articles of a kind suitable for industrial use 24.10 60 Knitted or crocheted fabrics. 15.41 61 Articles of apparel and clothing accessories, knitted or crocheted 30.72 62 Articles of apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted 20.36 63 Other made up textile articles; sets; worn clothing and worn textile articles; rags 42.53 64 Footwear, gaiters and the like; parts of such articles 2.88

65 Headgear and parts thereof. 1.94 66 Umbrella, sun umbrellas, walking-sticks, seat-sticks, whips, ridingcrops and parts thereof 0.00 67 Prepared feathers and down and articles made of feathers or of down; artificial flowers; articles of human hair 4.92 68 Articles of stone, plaster, cement, asbestos, mica or similar materials 32.88 69 Ceramic products. 13.43 70 Glass and glassware. 26.00 71 Natural or cultured pearls, precious or semi-precious stones, precious metals, metals cladwith precious metal, and articles thereof; imitation jewellery; coin 2.79 72 Iron and steel. 31.28 73 Articles of iron or steel. 36.04 74 Copper and articles thereof. 8.39 76 Aluminium and articles thereof. 17.45 78 Lead and articles thereof. 50.00 79 Zinc and articles thereof. 0.00 80 Tin and articles thereof. 0.00 82 Tools, implements, cutlery, spoons and forks, of base metal; parts thereof of base metal 10.79 83 Miscellaneous articles of base metal. 41.75 84 Nuclear reactors, boilers, machinery and mechanical appliances; parts thereof 68.52 85 Electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and sound recorders and reproducers, and parts and accessories of such articles 31.47 86 Railway or tramway locomotives, rolling-stock and parts thereof; railway or tramway track fixtures and fittings and parts thereof; mechanical (including electro-mechanical) traffic signalling equipment of all kinds 0.00 87 Vehicles other than railway or tramway rolling-stock, and parts and accessories thereof 52.35 88 Aircraft, spacecraft, and parts thereof. 11.69 89 Ships, boats and floating structures. 18.70 90 Optical, photographic, cinematographic, measuring, checking, precision, medical or surgical instruments and apparatus; parts and accessories thereof 37.52 91 Clocks and watches and parts thereof. 0.38 92 Musical instruments; parts and accessories of such articles 0.80 93 Arms and ammunition; parts and accessories thereof 14.33 94 Furniture; bedding, mattresses, mattress supports, cushions and similar stuffed furnishings; lamps and lighting fittings, not elsewhere specified or included; illuminated signs, illuminated name-plates and the like; prefabricated buildings 7.69 95 Toys, games and sports requisites; parts and accessories thereof 1.71 96 Miscellaneous manufactured articles. 1.38 97 Works of art, collectors' pieces and antiques. 4.18

Lampiran 3. Rata-rata IIT 99 komoditi Indonesia dengan Mesir, Tahun 1996-2009 Kode HS 2 Digit DESC Index IIT 01 Live animals; animal products 0.00 02 Meat and edible meat offal 4.92 03 Fish and crustaceans, molluscs and other acquatic invertebrates 6.85 04 Dairy produce; birds' eggs; natural honey; edible products of animal origin, not elsewhere specified or included 5.67 05 Products of animal origin, not elsewhere specified or included 0.00 06 Live trees and other plants; bulbs, roots and the like; cut flowers and ornamental foliage 1.91 07 Edible vegetables and certain roots and tubers. 16.53 08 Edible fruit and nuts; peel of citrus fruit or melons 16.88 09 Coffee, tea, matï and spices. 4.47 10 Cereals 0.00 11 Products of the milling industry; malt; starches; inulin; wheat gluten 0.00 12 Oil seeds and oleaginous fruits; miscellaneous grains, seeds and fruit; industrial or medicinal plants; straw and fodder 13.75 13 Lac; gums, resins and other vegetable saps and extracts 2.66 14 Vegetable plaiting materials; vegetable products not elsewhere specified or included 7.09 15 Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes 0.01 16 Preparations of meat, of fish or of crustaceans, molluscs or other aquatic invertebrates 0.00 17 Sugars and sugar confectionery. 10.60 18 Cocoa and cocoa preparations. 0.23 19 Preparations of cereals, flour, starch or milk; pastrycooks' products 0.13 20 Preparations of vegetables, fruit, nuts or other parts of plants 9.52 21 Miscellaneous edible preparations. 6.59 22 Beverages, spirits and vinegar. 0.00 23 Residues and waste from the food industries; prepared animal fodder 0.00 24 Tobacco and manufactured tobacco substitutes 1.72 25 Salt; sulphur; earths and stone; plastering materials, lime and cement 4.82 26 Ores, slag and ash. 11.64 27 Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes 13.30 28 Inorganic chemicals; organic or inorganic compounds of precious metals, of rare-earth metals, of radioactive elements or of isotopes 12.91 29 Organic chemicals. 23.97 30 Pharmaceutical products. 0.15 31 Fertilisers. 2.78 32 Tanning or dyeing extracts; tannins and their derivatives; dyes, pigments and other colouring matter; paints and varnishes; putty and other mastics; inks 39.04 33 Essential oils and resinoids; perfumery, cosmetic or toilet preparations 0.00 34 Soap, organic surface-active agents, washing preparations, lubricating preparations, artificialwaxes, prepared waxes, polishing or scouring 7.53

preparations, candles and similar articles, modelling pastes, dental waxes and dental preparations with a basi 35 Albuminoidal substances; modified starches; glues; enzymes 0.00 36 Explosives; pyrotechnic products; matches; pyrophoric alloys; certain combustible preparations 0.09 37 Photographic or cinematographic goods. 2.47 38 Miscellaneous chemical products. 4.43 39 Plastics and articles thereof. 4.41 40 Rubber and articles thereof. 7.93 41 Raw hides and skins(other than furskins) and leather 3.72 42 Articles of leather; saddlery and harness; travel goods, handbags and similar containers; articles of animal gut (other than silk-worm gut) 0.00 43 Furskins and artificial fur; manufactures thereof. 0.01 44 Wood and articles of wood; wood charcoal. 0.00 45 Cork and articles of cork. 16.15 46 Manufactures of straw, of esparto or of other plaiting materials; basketware and wickerwork 0.02 47 Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) of paper or paperboard 24.94 48 Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard 0.00 49 Printed books, newspapers, pictures and other products of the printing industry; manuscripts, typescripts and plans 0.00 50 Silk. 57.43 51 Wool, fine or coarse animal hair; horsehair yarn and woven fabric 0.00 52 Cotton. 0.05 53 Other vegetable textile fibres; paper yarn and woven fabrics of paper yarn 0.65 54 Man-made filaments; strip and the like of man-made textile materials 2.36 55 Man-made staple fibres. 2.11 56 Wadding, felt and nonwovens; special yarns; twine, cordage, ropes and cables and articles thereof 5.84 57 Carpets and other textile floor coverings. 1.07 58 Special woven fabrics; tufted textile fabrics; lace; tapestries; trimmings; embroidery 2.23 59 Impregnated, coated, covered or laminated textile fabrics; textile articles of a kind suitable for industrial use 24.32 60 Knitted or crocheted fabrics. 2.13 61 Articles of apparel and clothing accessories, knitted or crocheted 3.98 62 Articles of apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted 0.01 63 Other made up textile articles; sets; worn clothing and worn textile articles; rags 0.22 64 Footwear, gaiters and the like; parts of such articles 0.00 65 Headgear and parts thereof. 0.00 66 Umbrella, sun umbrellas, walking-sticks, seat-sticks, whips, riding-crops and parts thereof 38.26 67 Prepared feathers and down and articles made of feathers or of down; artificial flowers; articles of human hair 0.03 68 Articles of stone, plaster, cement, asbestos, mica or similar materials 0.11 69 Ceramic products. 0.00

70 Glass and glassware. 17.66 71 Natural or cultured pearls, precious or semi-precious stones, precious metals, metals cladwith precious metal, and articles thereof; imitation jewellery; coin 1.47 72 Iron and steel. 0.00 73 Articles of iron or steel. 0.00 74 Copper and articles thereof. 6.92 76 Aluminium and articles thereof. 0.05 78 Lead and articles thereof. 0.00 79 Zinc and articles thereof. 0.00 80 Tin and articles thereof. 0.00 82 Tools, implements, cutlery, spoons and forks, of base metal; parts thereof of base metal 17.50 83 Miscellaneous articles of base metal. 0.21 84 Nuclear reactors, boilers, machinery and mechanical appliances; parts thereof 14.62 85 Electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and sound recorders and reproducers, and parts and accessories of such articles 4.26 86 Railway or tramway locomotives, rolling-stock and parts thereof; railway or tramway track fixtures and fittings and parts thereof; mechanical (including electro-mechanical) traffic signalling equipment of all kinds 0.00 87 Vehicles other than railway or tramway rolling-stock, and parts and accessories thereof 6.46 88 Aircraft, spacecraft, and parts thereof. 0.00 89 Ships, boats and floating structures. 0.00 90 Optical, photographic, cinematographic, measuring, checking, precision, medical or surgical instruments and apparatus; parts and accessories thereof 30.97 91 Clocks and watches and parts thereof. 0.00 92 Musical instruments; parts and accessories of such articles 0.00 93 Arms and ammunition; parts and accessories thereof 0.00 94 Furniture; bedding, mattresses, mattress supports, cushions and similar stuffed furnishings; lamps and lighting fittings, not elsewhere specified or included; illuminated signs, illuminated name-plates and the like; prefabricated buildings 1.57 95 Toys, games and sports requisites; parts and accessories thereof 0.76 96 Miscellaneous manufactured articles. 0.51 97 Works of art, collectors' pieces and antiques. 18.77

Lampiran 3. Rata-rata IIT 99 komoditi Indonesia dengan Mesir, Tahun 1996-2009 Kode HS 2 Digit Rata-rata Index IIT Indonesia-Pakistan 1996-2009 Indeks IIT DESC 01 Live animals; animal products 33.87 02 Meat and edible meat offal 0.00 03 Fish and crustaceans, molluscs and other acquatic invertebrates 10.15 Dairy produce; birds' eggs; natural honey; edible products of animal 10.50 04 origin, not elsewhere specified or included 05 Products of animal origin, not elsewhere specified or included 0.00 Live trees and other plants; bulbs, roots and the like; cut flowers and ornamental foliage 06 07 Edible vegetables and certain roots and tubers. 23.81 08 Edible fruit and nuts; peel of citrus fruit or melons 47.14 09 Coffee, tea, matï and spices. 0.28 10 Cereals 1.17 11 Products of the milling industry; malt; starches; inulin; wheat gluten 4.76 Oil seeds and oleaginous fruits; miscellaneous grains, seeds and 12 fruit; industrial or medicinal plants; straw and fodder 29.68 13 Lac; gums, resins and other vegetable saps and extracts 64.15 Vegetable plaiting materials; vegetable products not elsewhere 14 specified or included 0.00 Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; 15 prepared edible fats; animal or vegetable waxes 0.02 Preparations of meat, of fish or of crustaceans, molluscs or other aquatic invertebrates 16 17 Sugars and sugar confectionery. 2.06 18 Cocoa and cocoa preparations. 11.82 19 Preparations of cereals, flour, starch or milk; pastrycooks' products 12.87 20 Preparations of vegetables, fruit, nuts or other parts of plants 4.16 21 Miscellaneous edible preparations. 4.04 22 Beverages, spirits and vinegar. 0.02 23 Residues and waste from the food industries; prepared animal fodder 12.72 24 Tobacco and manufactured tobacco substitutes 3.20 25 Salt; sulphur; earths and stone; plastering materials, lime and cement 32.06 26 Ores, slag and ash. 0.00 27 Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes Inorganic chemicals; organic or inorganic compounds of precious metals, of rare-earth metals, of radioactive elements or of isotopes 0.00 0.00 6.23 18.65 28 29 Organic chemicals. 1.90 30 Pharmaceutical products. 4.34 31 Fertilisers. 0.00 32 33 Tanning or dyeing extracts; tannins and their derivatives; dyes, pigments and other colouring matter; paints and varnishes; putty and other mastics; inks Essential oils and resinoids; perfumery, cosmetic or toilet preparations 12.79 2.15

Soap, organic surface-active agents, washing preparations, lubricating preparations, artificialwaxes, prepared waxes, polishing or scouring preparations, candles and similar articles, modelling pastes, 1.37 34 dental waxes and dental preparations with a basi 35 Albuminoidal substances; modified starches; glues; enzymes 32.13 Explosives; pyrotechnic products; matches; pyrophoric alloys; certain 36 combustible preparations 10.67 37 Photographic or cinematographic goods. 15.78 38 Miscellaneous chemical products. 6.65 39 Plastics and articles thereof. 3.86 40 Rubber and articles thereof. 2.27 41 Raw hides and skins(other than furskins) and leather 11.16 Articles of leather; saddlery and harness; travel goods, handbags and 42 similar containers; articles of animal gut (other than silk-worm gut) 34.35 43 Furskins and artificial fur; manufactures thereof. 0.00 44 Wood and articles of wood; wood charcoal. 3.43 45 Cork and articles of cork. 0.00 Manufactures of straw, of esparto or of other plaiting materials; 46 basketware and wickerwork 0.00 Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste 47 and scrap) of paper or paperboard 3.89 Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of 48 paperboard 1.31 Printed books, newspapers, pictures and other products of the 49 printing industry; manuscripts, typescripts and plans 16.45 50 Silk. 0.00 51 Wool, fine or coarse animal hair; horsehair yarn and woven fabric 14.57 52 Cotton. 14.46 Other vegetable textile fibres; paper yarn and woven fabrics of paper 53 yarn 0.00 54 Man-made filaments; strip and the like of man-made textile materials 4.28 55 Man-made staple fibres. 12.56 Wadding, felt and nonwovens; special yarns; twine, cordage, ropes 56 and cables and articles thereof 17.29 57 Carpets and other textile floor coverings. 14.64 Special woven fabrics; tufted textile fabrics; lace; tapestries; 58 trimmings; embroidery 16.12 Impregnated, coated, covered or laminated textile fabrics; textile 59 articles of a kind suitable for industrial use 7.93 60 Knitted or crocheted fabrics. 18.13 61 Articles of apparel and clothing accessories, knitted or crocheted 17.77 62 Articles of apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted 19.87 Other made up textile articles; sets; worn clothing and worn textile 63 articles; rags 30.55 64 Footwear, gaiters and the like; parts of such articles 5.81 65 Headgear and parts thereof. 9.18 Umbrella, sun umbrellas, walking-sticks, seat-sticks, whips, ridingcrops and parts thereof 66 0.00 Prepared feathers and down and articles made of feathers or of 67 down; artificial flowers; articles of human hair 0.00

68 Articles of stone, plaster, cement, asbestos, mica or similar materials 6.37 69 Ceramic products. 0.70 70 Glass and glassware. 6.07 Natural or cultured pearls, precious or semi-precious stones, precious metals, metals cladwith precious metal, and articles thereof; imitation 9.80 71 jewellery; coin 72 Iron and steel. 6.69 73 Articles of iron or steel. 7.65 74 Copper and articles thereof. 12.61 76 Aluminium and articles thereof. 0.00 78 Lead and articles thereof. 6.19 79 Zinc and articles thereof. 3.49 80 Tin and articles thereof. 29.17 Tools, implements, cutlery, spoons and forks, of base metal; parts 82 thereof of base metal 0.00 83 Miscellaneous articles of base metal. 0.00 Nuclear reactors, boilers, machinery and mechanical appliances; 84 parts thereof 15.29 Electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and sound recorders 32.54 85 and reproducers, and parts and accessories of such articles Railway or tramway locomotives, rolling-stock and parts thereof; railway or tramway track fixtures and fittings and parts thereof; mechanical (including electro-mechanical) traffic signalling equipment 39.77 86 of all kinds Vehicles other than railway or tramway rolling-stock, and parts and 87 accessories thereof 10.18 88 Aircraft, spacecraft, and parts thereof. 0.00 89 Ships, boats and floating structures. 13.02 Optical, photographic, cinematographic, measuring, checking, precision, medical or surgical instruments and apparatus; parts and 40.01 90 accessories thereof 91 Clocks and watches and parts thereof. 2.16 92 Musical instruments; parts and accessories of such articles 33.60 93 Arms and ammunition; parts and accessories thereof 11.48 Furniture; bedding, mattresses, mattress supports, cushions and similar stuffed furnishings; lamps and lighting fittings, not elsewhere specified or included; illuminated signs, illuminated name-plates and 3.79 94 the like; prefabricated buildings 95 Toys, games and sports requisites; parts and accessories thereof 0.00 96 Miscellaneous manufactured articles. 3.45 97 Works of art, collectors' pieces and antiques. 17.90