BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Hadian Pranoto
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Teh hijau adalah salah satu jenis teh yang dalam proses pembuatannya tidak mengalami proses fermentasi dan memiliki kandungan senyawa antioksidan tertinggi (Kamalakkannan and Prince, 2006). Minuman teh hijau biasa dikonsumsi dengan penambahan pemanis. Pemanis alami (sukrosa) dan pemanis buatan (sakarin dan siklamat) dapat memberikan efek yang buruk terhadap kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan. Oleh karena itu, penggunaan pemanis alami stevia dapat digunakan untuk menggantikan sukrosa maupun pemanis buatan. Stevia rebaudiana Bertoni M adalah suatu sumber bahan pemanis alami dan rendah kalori. Menurut Jaroslav et al. (2006) dalam Abou-Arab (2010), Hasil studi toksikologi menyatakan bahwa steviosida dalam stevia tidak memiliki reaksi mutagenik, teratogenik, karsinogenik, dan reaksi alergi sehingga stevia dapat digunakan untuk menggantikan sukrosa bagi penderita diabetes melitus, obesitas, hipertensi, dan caries prevention. Komponen utama yang terkandung dalam stevia adalah steviol glikosida dengan kadar 4 20% dry weight dan memberikan sensasi rasa manis kali dibandingkan sukrosa (Starrat et al., 2002; Ghanta et al., 2007 dalam Moryson dan Michalowska, 2015). Menurut Komissarenko et al. (1994) dalam Moryson dan Michalowska (2015), ekstrak daun stevia mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, klorofil dan xantofil larut air, hydroxycinnamic acid, oligosakarida, gula bebas, asam amino, lipid, minyak, dan mineral. Oleh karena itu, penambahan stevia dapat mempengaruhi sifat fisikokimia dan organoleptik pada minuman teh hijau. Senyawa-senyawa flavonoid, alkaloid dan turunan fenol lainnya 27
2 28 memberikan pengaruh terhadap rasa, warna, dan aroma serta memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Stevia yang digunakan dalam percobaan ini berbentuk bubuk daun stevia. Tujuan penggunaan bubuk daun stevia adalah diharapkan senyawa pemanis khususnya steviol glikosida dapat terekstrak lebih banyak dibandingkan penggunaan daun stevia. Ukuran partikel semakin kecil maka luas permukaan semakin besar sehingga senyawa yang terlarut semakin banyak. Percobaan ini menggunakan kontrol sebagai indikator yang menunjukan pada adanya interaksi antar senyawa-senyawa yang terkandung pada bubuk daun stevia dan daun teh hijau. Kontrol stevia yang digunakan adalah bubuk daun stevia dengan 5 taraf level yaitu 0,05%, 0,13%, 0,21%, 0,29%, dan 0,37%. Perlakuan yang diuji adalah penambahan bubuk daun stevia pada minuman teh hijau yang terdiri dari 6 taraf level (0%, 0,05%, 0,13%, 0,21%, 0,37%). Pengujian sifat fisikokimia dan organoleptik dilakukan secepatnya setelah suhu seduhan mencapai suhu ruang. Hal ini disebabkan adanya logam Fe dari stevia yang dapat bereaksi di dalam sampel sehingga mempengaruhi pengamatan. Menurut Kaushik et al. (2010), daun stevia mengandung logam Fe sebesar 31,1±15,33 mg/100 g daun kering. Pengujian kadar air bahan yang digunakan yaitu bubuk daun stevia dan daun teh hijau dilakukan dengan menggunakan alat oven vakum pada suhu 70 o C dan tekanan 750 mbar. Pengeringan dengan oven vakum dilakukan untuk meminimalkan penguapan komponen volatil yang ada dalam daun teh hijau dan bubuk daun stevia. Menurut Okai et al. (2015), senyawa-senyawa volatil yang terkandung di dalam bahan dapat berupa minyak atsiri, asam-asam organik, golongan fenol, dan senyawa aromatis lainnya.
3 29 Kadar air bubuk daun stevia dan daun teh hijau yang digunakan dalam percobaan ini adalah 7,68% dan 5,56%. Dalam db (dry basis). Kadar air bahan yang digunakan menentukan mutu bahan, sifat fisikokimia, organoleptik serta aktivitas antioksidan seduhan yang dihasilkan. Semakin tinggi kadar air bahan yang digunakan maka semakin sedikit senyawa fitokimia yang terekstrak Sifat Fisikokimia ph Pengujian ph dilakukan dengan menggunakan alat ph meter. Pengujian ini merupakan pengukuran konsentrasi H + yang terdisosiasi pada larutan sampel. Nilai ph dalam larutan sampel dapat mempengaruhi penerimaan terhadap rasa sehingga terkait dengan hasil organoleptik. Nilai ph dalam suatu larutan sampel dipengaruhi oleh beberapa senyawa yang memiliki sifat asam, basa, garam yang bersifat asam, dan garam yang bersifat basa. Berdasarkan data hasil pengujian minuman teh hijau stevia (Lampiran C & Lampiran C.1.2.1), ph kontrol stevia berkisar antara 6,40-6,60 dan ph sampel teh hijau stevia berkisar antara 6,45-6,68. Pengujian dilanjutkan dengan uji anava menggunakan α = 5% (Lampiran C ), dari uji ini diketahui bahwa terdapat beda nyata antar perlakuan sehingga uji dilanjutkan dengan uji Duncan s Multiple Range Tests (DMRT) untuk mengetahui perlakuan yang berbeda nyata. Hasil uji DMRT ph sampel teh hijau stevia dapat dilihat pada Lampiran C Grafik hubungan antara penambahan bubuk daun stevia terhadap ph dapat dilihat pada Gambar 5.1.
4 ph 30 6,80 6,70 6,66 6,60 c 6,61 bc 6,55 bc Sampel Kontrol 6,60 6,50 6,55 ab 6,52 ab 6,45 a 6,46 ab 6,42 a 6,40 a 6,40 6,30 6,20 0 0,05 0,13 0,21 0,29 0,37 Penambahan Bubuk Daun Stevia (%) (b/v) Gambar 5.1. ph Minuman Teh Hijau Stevia dan Kontrol Bubuk Daun Stevia pada Berbagai Perlakuan Konsentrasi Berdasarkan Gambar 5.1. dan hasil uji DMRT menunjukkan bahwa penambahan bubuk daun stevia memberikan pengaruh yang nyata terhadap ph seduhan kontrol stevia dan sampel teh hijau stevia. Perlakuan penambahan bubuk daun stevia sebesar 0,37% memberikan kontribusi nilai ph paling rendah yaitu 6,45 dan penambahan bubuk daun stevia sebesar 0% memberikan kontribusi nilai ph tertinggi yaitu 6,68. Sampel teh hijau yang ditambahkan bubuk daun stevia menghasilkan nilai ph diatas nilai ph kontrol bubuk daun stevia. Hal ini disebabkan karena terjadi reaksi pengikatan ion H + yang terdapat pada larutan oleh senyawa-senyawa fitokimia, asam-asam organik, dan mineral sehingga terbentuk agregat serta ion H + yang terukur lebih kecil. Perlakuan penambahan 0%-0,13% bubuk daun stevia tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap nilai ph kontrol teh hijau stevia. Begitu juga dengan perlakuan penambahan bubuk daun stevia sebesar 0,21%-0,37% tidak memberikan hasil yang beda nyata. Hal ini
5 31 disebabkan senyawa penyumbang H + yang terekstrak jumlahnya relatif sama. Semakin besar penambahan bubuk daun stevia maka ph seduhan sampel teh hijau stevia dan kontrol stevia cenderung menurun. Hal ini diduga akibat dari senyawa penyumbang H + yang terekstrak semakin banyak. Senyawa penyumbang H + yang terekstrak dapat berupa asam-asam organik dan mineral-mineral yang terkandung pada bubuk daun stevia. Mineral dalam bentuk garam salah satunya adalah garam kalium yang bersifat asam mempengaruhi penurunan ph pada perlakuan tersebut. Menurut Khausik et al. (2010), stevia mengandung mineral kalium sebesar 893,0±8,55 mg/100 g daun kering Total Asam Pengujian total asam sampel dilakukan dengan menggunakan titrasi asam basa. Pengukuran total asam didasarkan pada perhitungan asam-asam organik di dalam hasil seduhan sampel. Hasil titrasi ml NaOH 0,01 N di ekuivalenkan dengan asam dominan yang ada pada stevia yaitu asam tartarat. Berdasarkan data hasil pengujian minuman teh hijau stevia (Lampiran C & Lampiran C.2.2.1), total asam kontrol stevia berkisar antara 0,0009-0,0036 mg TAE/100 ml dan ph sampel teh hijau stevia berkisar antara 0,0087-0,0137 mg TAE/100 ml. Pengujian dilanjutkan dengan uji anava menggunakan α = 5% (Lampiran C ), dari uji ini diketahui bahwa terdapat beda nyata antar perlakuan sehingga uji dilanjutkan dengan uji DMRT untuk mengetahui perlakuan yang berbeda nyata. Hasil uji DMRT total asam sampel teh hijau stevia dapat dilihat pada Lampiran C Grafik hubungan antara penambahan bubuk daun stevia terhadap total asam dapat dilihat pada Gambar 5.2. Hasil uji total asam berbanding terbalik dengan hasil uji ph. Semakin tinggi nilai total asam maka semakin rendah nilai ph yang dihasilkan.
6 Total Asam (mg TAE/100 ml) 32 0,02 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 Sampel Kontrol 0,0087 a 0,0091a 0,0093 a 0,0102 b 0,0123 c 0,0137 d 0,0036e 0,0009 a 0,0017b 0,0022c 0,0026d 0 0,05 0,13 0,21 0,29 0,37 Penambahan Bubuk Daun Stevia (%) (b/v) Gambar 5.2. Total Asam Minuman Teh Hijau Stevia dan Kontrol Bubuk Daun Stevia pada Berbagai Perlakuan Konsentrasi Berdasarkan Gambar 5.2. dan hasil uji DMRT menunjukkan bahwa penambahan bubuk daun stevia memberikan pengaruh yang nyata terhadap total asam seduhan kontrol stevia dan sampel teh hijau stevia. Total asam kontrol stevia sendiri lebih kecil dibandingkan dengan total asam sampel teh hijau stevia pada level 0,05%-0,37%. Hal ini disebabkan karena pada sampel terdapat teh hijau yang mengandung asam-asam organik yaitu oksalat, malat, galat, suksinat, klorogenat, dll (Chatuverdula dan Prakash, 2011). Menurut Cheng dan Chang (1983), stevia mengandung asam-asam organik yaitu asam sitrat, format, laktat, malat, suksinat dan tartarat. Asam tartarat merupakan asam dominan yang terkandung pada stevia. Perlakuan penambahan bubuk daun stevia sebesar 0% - 0,13% tidak memberikan nilai total asam yang berbeda nyata. Hal ini disebabkan karena terjadi reaksi antara asam-asam organik yang terdapat pada stevia dan asamasam organik pada teh membentuk agregat sehingga menghambat disosiasi H +. Perlakuan penambahan sebesar 0,21% - 0,37% bubuk daun stevia memberikan hasil total asam yang beda nyata. Semakin besar penambahan
7 33 bubuk daun stevia pada teh hijau maka semakin tinggi jumlah total asam yang dihasilkan karena asam-asam organik yang terlarut semakin banyak. Semakin tinggi penambahan bubuk daun stevia maka semakin banyak asam-asam organik yang terlarut. Peningkatan total asam tersebut tidak dapat menurunkan ph yang signifikan. Hal ini disebabkan asam-asam organik merupakan asam lemah dan jumlah yang terekstrak dari bubuk daun stevia jumlah nya sangat kecil yaitu berkisar antara 0,087 0,137 ppm Kekeruhan Kekeruhan atau turbidity sampel teh hijau stevia dan kontrol stevia diukur menggunakan alat turbidimeter dengan satuan NTU (Nephelometric Turbidity Units). Kekeruhan merupakan salah satu parameter penting yang dapat menentukan tingkat kesukaan warna dari suatu produk cair seperti minuman teh hijau. Tingkat kekeruhan di dalam sampel dipengaruhi oleh adanya partikel yang tersuspensi atau TSS (Total Suspended Solid) maupun terlarut (Total Dissolved Solid) sehingga menghalangi cahaya yang ada. Semakin tinggi nilai NTU yang terukur berarti larutan sampel semakin keruh. Berdasarkan data hasil pengujian minuman teh hijau stevia (Lampiran C & Lampiran C.3.2.1), kekeruhan kontrol stevia berkisar antara 2,59 4,68 NTU dan kekeruhan sampel teh hijau stevia berkisar antara 8,58 15,62 NTU. Pengujian dilanjutkan dengan uji anava menggunakan α = 5% (Lampiran C ), dari uji ini diketahui bahwa terdapat beda nyata antar perlakuan sehingga uji dilanjutkan dengan uji DMRT untuk mengetahui perlakuan yang berbeda nyata. Hasil uji DMRT kekeruhan sampel teh hijau stevia dapat dilihat pada Lampiran C Grafik hubungan antara penambahan bubuk daun stevia terhadap kekeruhan dapat dilihat pada Gambar 5.3.
8 Kekeruhan (NTU) 34 20,00 16,00 12,00 8,00 4,00 kekeruhan sampel kekeruhan kontrol 15,62 d 13,43 c 11,45 b 12,38bc 8,58 a 9,53 a 4,12 c 2,59 a 2,76 4,68d a 3,24b 0,00 0 0,05 0,13 0,21 0,29 0,37 Penambahan Bubuk Daun Stevia (%) (b/v) Gambar 5.3. Nilai Kekeruhan Minuman Teh Hijau Stevia dan Kontrol Bubuk Daun Stevia pada Berbagai Perlakuan Konsentrasi Berdasarkan hasil pengujian, perlakuan penambahan bubuk daun stevia memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai kekeruhan (NTU) yang dihasilkan. Perlakuan penambahan bubuk daun stevia 0% tidak berbeda nyata dengan penambahan bubuk daun stevia sebesar 0,05%. Begitu juga dengan perlakuan penambahan 0,13%-0,21% dan 0,21%-0,29% tidak berbeda nyata nilai kekeruhannya. Perlakuan penambahan bubuk daun stevia sebesar 0,37% memberikan nilai NTU paling tinggi. Menurut penelitian Ramarethinam et al. (2006), senyawa-senyawa yang dapat mempengaruhi kekeruhan antara lain glikosida, polifenol, katekin, karbohidrat, protein, kafein, dan pektin. Nilai kekeruhan teh hijau dengan penambahan bubuk daun stevia 0% berada pada angka 8,58 NTU. Daun teh hijau mengandung berbagai senyawa-senyawa kompleks seperti asam-asam amino, karbohidrat, vitamin, kafein, zat pigmen, mineral, dan elemen-elemen lain (Okai et al., 2000). Penambahan bubuk daun stevia yang meningkat menghasilkan nilai kekeruhan yang meningkat signifikan. Hal ini diduga karena semakin tinggi penambahan bubuk daun stevia, maka semakin banyak senyawa karbohidrat, protein, glikosida dan fitokimia yang terekstrak dari stevia tersebut. Gugus OH dari senyawa golongan fenol pada teh hijau dapat membentuk jembatan hidrogen dengan gugus OH dari
9 35 senyawa fenol pada bubuk daun stevia membentuk agregat yang dapat meningkatkan kekeruhan. Interaksi senyawa tanin dari teh hijau dengan senyawa pati dan protein membentuk senyawa kompleks yang menyebabkan peningkatan kekeruhan. Mineral-mineral yang terkandung di dalam stevia mempengaruhi kekeruhan sampel. Menurut Xu et al. (2013), reaksi antara mineral Ca(2+) dan asam-asam organik seperti asam oksalat, asam quinat, dan asam tartarat meningkatkan kekeruhan pada seduhan sampel. Menurut Khausik (2010), stevia mengandung mineral Ca sebesar 722,0 ± 20,7 mg/100g daun kering Warna Warna pada sampel teh hijau stevia dan kontrol setvia diukur menggunakan alat color reader (Minolta CR-10). Hasil pengukuran yang digunakan adalah L * (Lightness), a * (redness), dan b * (yellowness). Hasil a * dan b * digunakan untuk menghitung h ( o hue) dan C (chroma) setiap perlakuan. Pengujian warna dilakukan setelah suhu seduhan teh hijau stevia mencapai suhu ruang. Hal ini dikarenakan semakin lama waktu maka warna dari seduhan sampel berubah. Hasil Pengujian warna minuman teh hijau stevia untuk nilai L* berkisar antara 19,38 17,03; nilai a* berkisar antara 1,5 2,2; nilai b* berkisar antara 1,9 3,2; nilai C berkisar antara 3,0 3,5; nilai o h berkisar antara 41,56 65,34. Hasil pengujian warna minuman teh hijau stevia dapat dilihat pada Tabel 5.1. Tabel 5.1. Hasil Pengujian Warna Minuman Teh Hijau Stevia Perlakuan (%) (b/v) L* a* b* C o h 0 0,05 0,13 0,21 0,29 0,37 19,38±0,19 18,23±0,30 18,76±0,52 18,46±0,26 17,53±0,06 17,03±0,16 1,5±0,1 1,6±0,1 1,8±0,1 1,9±0,2 1,9±0,2 2,2±0,2 3,2±0,1 3,1±0,2 3,0±0,3 2,8±0,3 2,4±0,1 1,9±0,1 3,5±0,1 3,5±0,2 3,5±0,3 3,4±0,3 3,1±0,2 3,0±0,1 65,34±1,58 63,32±2,57 58,52±1,26 57,04±1,08 51,57±2,72 41,56±2,02
10 36 Nilai lightness memiliki skala 0 sampai 100. Skala 0-50 berarti gelap dan skala berarti terang. Nilai a*menunjukkan warna antara hijau hingga merah dengan skala -80 sampai 80. Skala -80 sampai 0 menunjukkan warna hijau. Skala 0 sampai 80 menunjukkan warna merah. Nilai b*menunjukkan warna antara biru hingga kuning dengan skala -70 sampai 70. Skala -70 sampai 0 menunjukkan warna biru. Skala 0 sampai 70 menunjukkan warna kuning. Nilai C menunjukkan intensitas kejenuhan warna seduhan sampel. Nilai o h menunjukkan sudut lingkaran warna dengan 0 o untuk warna merah, 90 untuk warna kuning, 180 untuk warna hijau, dan 270 untuk warna biru (Suyatma, 2009). Tabel deskripsi warna berdasarkan o hue dapat di lihat pada Tabel 5.2. Tabel 5.2. Deskripsi Warna Berdasarkan Hue Hue [arc tan (b/a)] Deskripsi Warna Red (R) Yellow Red (YR) Yellow (Y) Yellow Green (YG) Green (G) Blue Green (BG) Blue (B) Blue Purple (BP) Purple (P) Red Purple (RP) Sumber: Hutchings (1999) Nilai L* menunjukkan intensitas kecerahan dari seduhan minuman teh hijau stevia. Berdasarkan Tabel 5.1. tingkat kecerahan pada sampel teh hijau stevia yang dihasilkan menunjukkan warna gelap karena nilai L* kurang dari 50. Nilai a* dan b* menunjukkan campuran warna merah dan kuning dengan intensitas yang rendah. Warna kuning dan merah dari seduhan sampel teh hijau stevia semakin meningkat seiring bertambahnya bubuk daun stevia. Hal ini ditunjukan dengan nilai a* yang semakin meningkat dan nilai b* yang semakin menurun.
11 37 Nilai o hue menunjukkan bahwa penambahan bubuk daun stevia sebesar 0% - 0,21% memberikan deskripsi warna yellow red dan penambahan bubuk daun stevia sebesar 0,29% - 0,37% memberikan deskripsi warna red berdasarkan Tabel 5.2. Tabel deskripsi warna dapat digunakan ketika nilai chroma lebih dari 30. Gambar 5.4. Diagram Warna L*a*b Sumber: Suyatma (2009) Warna seduhan sampel teh hijau stevia juga dapat dilihat dari diagram warna L*a*b. Diagram warna L*a*b dapat dilihat pada Gambar 5.4. Nilai Chroma merupakan sisi miring dari nilai a* dan b*. Nilai Chroma sampel teh hijau stevia berkisar antara 3,0 3,5. Nilai o hue merupakan derajat kemiringan garis chroma. Nilai o hue pada sampel teh hijau stevia berkisar antara 41,56 65,34. Pada Gambar 5.4. menunjukkan bahwa seduhan sampel teh hijau stevia pada berbagai perlakuan adalah berwarna coklat. Kandungan tanin dalam seduhan memberikan warna coklat.
12 38 Menurut Kinghorn (2002), stevia mengandung senyawa flavonoid glikosida rutin (quercetin 3-β-rutinoside) yang memberikan warna kuning. Menurut Komissarenko et al. (1994) dalam Moryson dan Michalowska (2015), ekstrak daun stevia mengandung klorofil (pemberi warna hijau) dan xantofil larut air (pemberi warna kuning). Nilai kecerahan, chroma, dan o hue pada sampel teh hijau stevia semakin menurun seiring bertambahnya bubuk daun stevia. Hal ini disebabkan karena semakin banyak senyawa senyawa flavonoid, golongan fenol, pigmen, pati, protein, dan mineral yang terekstrak. Reaksi antara tanin yang terdapat di dalam teh dengan protein dan asam-asam organik dari bubuk daun stevia membentuk agregat sehingga menurunkan nilai kecerahan dan mempengaruhi warna sampel. Penurunan o hue seiring bertambahnya bubuk daun stevia disebabkan karena senyawa pigmen dan senyawa pemberi warna yang terekstrak lebih banyak. Peran mineral-mineral yang terlarut dari bubuk daun stevia berkontribusi dalam perubahan warna sampel. Menurut Khausik et al. (2010), daun stevia mengandung mineral Na, K, Fe, dan Ca. Mineral Fe ini ikut berperan dalam menyumbangkan warna merah pada seduhan sampel, sehingga semakin tinggi penambahan bubuk daun stevia maka senyawa pigmen dan mineral yang terekstrak semakin banyak Sifat Organoleptik Uji organoleptik bertujuan untuk megetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap minuman teh hijau stevia. Pengujian organoleptik meliputi parameter warna, rasa, dan aroma. Panelis yang digunakan dalam pengujian organoleptik teh hijau stevia berjumlah 80 orang dan merupakan panelis yang tidak terlatih Warna Parameter warna diuji oleh panelis dengan menggunakan indra penglihatan. Warna merupakan salah satu parameter yang menentukan
13 Kesukaan Warna 39 kualitas produk minuman dan penilaian awal ketika hendak dikonsumsi. Parameter kesukaan warna berhubungan dengan kekeruhan, Lightness, dan derajat chroma. Semakin keruh larutan seduhan sampel maka Lightness atau kecerahan semakin menurun, nilai chroma semakin menurun, dan kesukaan warna semakin menurun. Nilai rata-rata kesukaan panelis parameter warna minuman teh hijau stevia berkisar antara 4,53-4,85. Hasil organoleptik dilanjutkan dengan uji anava menggunakan α = 5% (Lampiran C.9.1.2), dari uji ini diketahui bahwa terdapat beda nyata antar perlakuan sehingga uji dilanjutkan dengan uji DMRT (Lampiran C.9.1.3) untuk mengetahui perlakuan yang berbeda nyata. Penyebaran nilai kesukaan warna minuman teh hijau stevia dapat dilihat pada Gambar ,00 6,00 5,00 4,85 abc 4,99bc 5,08 c 4,83 abc 4,60 ab 4,53 a 4,00 3,00 2,00 1,00 0 0,05 0,13 0,21 0,29 0,37 Penambahan Bubuk Daun Stevia (%) (b/v) Gambar 5.5. Uji Kesukaan Warna Minuman Teh Hijau Stevia Gambar 5.7. menunjukkan bahwa kesukaan warna terhadap minuman teh hijau stevia meningkat sampai dengan penambahan 0,13% bubuk daun stevia dan menurun sampai ke titik terendah yaitu penambahan 0,37%. Kesukaan tertinggi panelis dihasilkan oleh penambahan konsentrasi 0,13% dengan nilai 5,08 (agak suka). Warna yang paling disukai panelis pada minuman teh hijau stevia adalah coklat dengan nilai hue 58,91 dan nilai chroma 3,49. Penurunan kesukaan panelis dari penambahan bubuk
14 Kesukaan Aroma 40 daun stevia sebesar 0,21% sampai 0,37% disebabkan karena kecerahan yang semakin menurun dan warna dari seduhan yang semakin jenuh serta warna coklat semakin tinggi di dalam seduhan sampel Aroma Aroma memegang peranan yang penting dalam menentukan kualitas maupun penerimaan produk minuman. Nilai rata-rata kesukaan panelis terhadap parameter aroma minuman teh hijau stevia berkisar antara 4,65-5,24. Hasil organoleptik dilanjutkan dengan uji anava menggunakan α = 5% (Lampiran C.9.2.2), dari uji ini diketahui bahwa terdapat beda nyata antar perlakuan sehingga uji dilanjutkan dengan uji DMRT (Lampiran C.9.2.3) untuk mengetahui perlakuan yang berbeda nyata. Penyebaran nilai kesukaan aroma minuman teh hijau stevia dapat dilihat pada Gambar ,00 4,65 a 4,85 ab 5,03 ab 5,05 ab 5,15b 5,24 b 6,00 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 0 0,05 0,13 0,21 0,29 0,37 Penambahan Bubuk Daun Stevia (%) (b/v) Gambar 5.6. Uji Kesukaan Aroma Minuman Teh Hijau Stevia Berdasarkan hasil uji DMRT dan Gambar 5.8, semakin banyak penambahan bubuk daun stevia maka panelis semakin menyukai sampel minuman teh hijau stevia. Kesukaan panelis terhadap parameter aroma tertinggi berada pada konsentrasi penambahan 0,37% bubuk daun stevia dengan nilai 5,24 (agak suka). Perlakuan penambahan bubuk daun stevia sebesar 0%, 0,05%, 0,13%, 0,21% tidak memberikan perbedaan nyata
15 41 namun memiliki kecenderungan meningkat nilai kesukaan terhadap parameter aroma. Begitu juga dengan penambahan 0,21% - 0,37% tidak berbeda nyata. Penambahan 0% - 0,21% berbeda nyata dengan penambahan 0,21% - 0,37%. Hal ini diduga aroma pada seduhan sampel 0,21% - 0,37% bubuk daun stevia tersebut beraroma tajam dan disukai oleh panelis. Peningkatan nilai kesukaan disebabkan karena semakin banyak penambahan bubuk daun stevia maka senyawa pemberi aroma yang terekstrak semakin banyak sehingga aroma seduhan semakin kuat dan tajam. Komponen penyumbang aroma pada bahan adalah senyawa-senyawa yang bersifat volatil (memiliki berat molekul yang rendah) sehingga mudah menguap. Substansi volatil yang terkandung di dalam teh berupa aliphatic alcohol (linalool, geraniol, 1-pentanol, dan sebagainya), aromatic alcohol (benzeneethanol, 2,6-Dimethyl-cyclohexanol, 1-α-Terpineol), aliphatic aldehid (pentanal, heksanal), aromatic aldehid, dan komponen volatil lainnya (Ash & Ash, 2006). Menurut Fujita et al. (2004) dalam Kinghorn (2002), senyawa essensial yang ada pada stevia telah di identifikasi sebanyak 32 komponen antara lain sesquiterpenes-β-caryophyllene, α- humulene, nerolidol, monoterpenes, linalool, α-terpineol, dan sebagainya. Senyawa essensial yang dominan pada daun stevia kering adalah caryophyllene oxide dan spathulenol Rasa Parameter rasa merupakan parameter terpenting ketiga setelah aroma dan warna. Pengujian rasa dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap produk minuma teh hijau stevia. Fungsi penambahan bubuk daun stevia pada minuman teh hijau adalah sebagai pemanis yang rendah kalori dan tidak menimbulkan efek buruk bagi kesehatan. Intensitas rasa manis dari suatu bahan pemanis bergantung pada beberapa hal antara lain kemurnian, suhu, ph, rasio, konsentrasi
16 Kesukaan Rasa 42 penambahan, dan keberadaan di dalam komposisi suatu produk (Kinghorn, 2002). Rasa manis yang ditimbulkan oleh stevia berasal dari kommponen yang disebut steviol glikosida. Steviol glikosida ini terdiri dari 8 bentuk dengan senyawa steviosida dan rebaudiosida-a sebagai kandungan dalam jumlah paling besar (Ratnani dan Anggraeni, 2005). Nilai rata-rata kesukaan panelis terhadap parameter rasa minuman teh hijau stevia berkisar antara 3,56-4,88. Hasil organoleptik dilanjutkan dengan uji anava menggunakan α = 5% (Lampiran C.9.3.2), dari uji ini diketahui bahwa terdapat beda nyata antar perlakuan sehingga uji dilanjutkan dengan uji DMRT (Lampiran C.9.3.3) untuk mengetahui perlakuan yang berbeda nyata. Penyebaran nilai kesukaan rasa minuman teh hijau stevia dapat dilihat pada Gambar ,00 6,00 5,00 4,00 3,00 2,00 4,24 bc 4,46 cd 4,88 d 3,81 ab 3,70 a 3,56 a 1,00 0 0,05 0,13 0,21 0,29 0,37 Penambahan Bubuk Daun Stevia (%) (b/v) Gambar 5.7. Uji Kesukaan Rasa Minuman Teh Hijau Stevia Berdasarkan hasil uji DMRT dan Gambar 5.9 penambahan bubuk daun stevia memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai kesukaan panelis parameter rasa minuman teh hijau stevia. Penambahan 0,21%, 0,29%, dan 0,37% bubuk daun stevia tidak berbeda nyata terhadap nilai kesukaan rasa minuman teh hijau stevia. Begitu juga dengan penambahan 0% - 0,05% dan 0,05% - 0,13% tidak memberikan perbedaan yang nyata.
17 43 Penambahan 0,05% dan 0,13% bubuk daun stevia meningkatkan nilai kesukaan panelis ke titik tertinggi yaitu 4,88. Penambahan 0,21% - 0,37% bubuk daun stevia menurunkan nilai kesukaan panelis ke titik terendah yaitu 3,56. Semakin banyak penambahan bubuk daun stevia maka senyawa pemanis steviol glikosida yang terekstrak semakin banyak. Penurunan penerimaan konsumen pada level 0,21% - 0,37% disebabkan karena terdapat aftertaste pahit pada minuman teh hijau stevia yang lebih dominan dibandingkan rasa manis. Aftertaste pahit pada sampel teh hijau stevia ditimbulkan oleh senyawa steviosida dari stevia. Menurut Abou-Arab (2010), rasa manis dari rebaudiosida lebih dapat diterima dibandingkan rasa manis dari steviosida karena tidak memiliki rasa aftertaste pahit. Teh hijau sendiri juga menyumbangkan rasa pahit karena terkandung senyawa alkaloid, tanin, dan katekin. Menurut Graham (1984), daun teh mengandung senyawa kafein yang merupakan golongan alkaloid sebesar 7,43% dan total golongan katekin (epikatekin, epikatekin galat, epigalokatekin, epigalokatekin galat) sebesar 35,89% Perlakuan Terbaik Perlakuan terbaik ditentukan berdasarkan hasil uji organoleptik minuman teh hijau stevia dari berbagai aspek (warna, aroma, rasa) yang dilakukan terhadap minuman teh hijau stevia oleh 80 panelis. Hasil uji organoleptik diolah dalam grafik spider web. Grafik spider web perlakuan terbaik dari minuman teh hijau stevia dapat dilihat pada Gambar Penentuan perlakuan terbaik didasarkan dari luas area di grafik tersebut. Luas area segitiga yang didapat dari grafik berbentuk tiga dimensi dan terdapat tiga luas segitiga sesuai dengan jumlah parameter. Rumus segitiga yang digunakan adalah 0,5 x sisi x sisi x sin (α). Nilai sisi adalah rata-rata nilai organoleptik setiap parameter. Sudut α dihitung berdasarkan
18 44 pembagian sudut 360 o dengan jumlah parameter yang diuji. Luas area perlakuan terbaik minuman teh hijau stevia dapat dilihat pada Tabel 5.5. Tabel 5.3. Nilai Organoleptik Minuman Teh Hijau Stevia Parameter Penambahan Bubuk Daun Stevia (%) (b/v) 0 0,05 0,13 0,21 0,29 0,37 Rasa (A) 4,24 4,46 4,88 3,81 3,70 3,56 Warna (B) 4,85 4,99 5,08 4,83 4,60 4,53 Aroma (C) 4,65 4,85 5,03 5,05 5,15 5,24 Tabel 5.4. Luas Area Perlakuan Terbaik Minuman Teh Hijau Stevia Penambahan Bubuk Daun Stevia (%) (b/v) 0 0,05 0,13 0,21 0,29 0,37 A dan B 10, , ,2843 9,1337 8,4508 8,0041 B dan C 11, , , , , ,7674 C dan A 9, , ,1632 9,5596 9,4612 9,2644 Luas Area 31, , , , , ,0359 Hasil luas area segitiga perlakuan terbaik minuman teh hijau stevia ditunjukkan pada Tabel 5.5 yang berkisar antara 29,0359 sampai 37,1097. Perlakuan terbaik didapat dari hasil luas area segitiga terbesar yaitu 37,1097 pada penambahan bubuk daun stevia sebesar 0,13%. Gambar 5.8. Grafik Perlakuan Terbaik Uji Organoleptik Minuman Teh Hijau Stevia
19 45 Gambar menunjukkan garis terluar pada sudut warna dan rasa didominasi warna hijau yang menunjukan perlakuan penambahan bubuk daun stevia sebesar 0,13%. Sedangkan pada sudut aroma, garis terluar yaitu warna oranye (penambahan bubuk daun stevia sebesar 0,37%). Perlakuan penambahan 0,13% bubuk daun stevia menunjukkan nilai ph sebesar 6,61, total asam 0,0093 mg TAE/100 ml, kekeruhan sebesar 11,45, 18,76 untuk nilai Lightness, hue 58,52, dan nilai chroma 3,52. dan nilai organoleptik warna, aroma, dan rasa secara berturut adalah 5,08, 5,03, 4,88. Perlakuan tersebut diterima secara organoleptik oleh panelis dengan nilai 5,08 (agak suka) untuk parameter warna, 5,03 (agak suka) untuk parameter aroma, dan 4,88 (netral-agak suka) untuk parameter rasa. Dari uraian di atas dapat disimpulkan penambahan 0,13% bubuk daun stevia menghasilkan rasa pahit yang tidak berlebihan, rasa manis yang cukup, dan seduhan yang tidak terlalu asam sehingga dapat diterima oleh panelis.
BAB I PENDAHULUAN. industri. Pemanis yang umumnya digunakan dalam industri di Indonesia yaitu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanis merupakan bahan yang sering digunakan untuk keperluan produk olahan pangan seperti makanan dan minuman baik skala rumah tangga maupun industri. Pemanis yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Minuman herbal merupakan salah satu minuman berbahan dasar tumbuhan alami yang berkhasiat bagi tubuh. Minuman herbal dibuat dengan dasar rempahrempah, akar, batang,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang mempunyai keanekaragaman hayati yang cukup baik, diantaranya adalah belimbing wuluh. Pemanfaatan belimbing wuluh dijadikan sebagai
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Teh merupakan salah satu dari jenis produk minuman yang dikenal dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teh merupakan salah satu dari jenis produk minuman yang dikenal dan digemari oleh masyarakat Indonesia. Bagi konsumen teh, komoditas ini dianggap mempunyai keunggulan komparatif
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi Proksimat Komposisi rumput laut Padina australis yang diuji meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, dan kadar abu tidak larut asam dilakukan
I PENDAHULUAN. (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Waktu dan Tempat
1 I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Jelly drink rosela-sirsak dibuat dari beberapa bahan, yaitu ekstrak rosela, ekstrak sirsak, gula pasir, karagenan, dan air. Tekstur yang diinginkan pada jelly drink adalah mantap
KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL DAUN BERTONI (Stevia rebaudiana) DARI TIGA TEMPAT TUMBUH
KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL DAUN BERTONI (Stevia rebaudiana) DARI TIGA TEMPAT TUMBUH Dian Kartikasari 1, Nurkhasanah 2, Suwijiyo Pramono 3 1 Pasca sarjana prodi Farmasi Universitas Ahmad
Gambar 6. Kerangka penelitian
III. BAHAN DAN METODOLOGI A. Bahan dan Alat Bahan baku yang digunakan adalah kayu secang (Caesalpinia sappan L) yang dibeli dari toko obat tradisional pasar Bogor sebagai sumber pigmen brazilein dan sinapic
PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisik Daya Larut
4. PEMBAHASAN Pembuatan minuman serbuk daun katuk dan jambu biji merah merupakan sebuah penelitian pengembangan produk yang bertujuan untuk memanfaatkan nilai fungsional pada bahan alami dengan lebih mudah
PENGARUH SUHU PENYIMPANAN DAN PROPORSI TEH HIJAU:BUBUK DAUN KERING STEVIA
PENGARUH SUHU PENYIMPANAN DAN PROPORSI TEH HIJAU:BUBUK DAUN KERING STEVIA (Stevia rebaudiana) TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINUMAN TEH HIJAU STEVIA DALAM KEMASAN BOTOL PLASTIK SKRIPSI OLEH: NERISSA ARVIANA
BAB I PENDAHULUAN. yang tinggi, diantaranya mengandung vitamin C, vitamin A, sejumlah serat dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah pisang merupakan buah yang sering dikonsumsi oleh masyarakat dibandingkan dengan buah yang lain. Buah pisang memiliki kandungan gizi yang tinggi, diantaranya mengandung
BAB I PENDAHULUAN. dasar tepung terigu yang digemari oleh semua kalangan usia (subagjo,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Biskuit merupakan salah satu produk olahan pangan yang berbahan dasar tepung terigu yang digemari oleh semua kalangan usia (subagjo, 2007). Kegemaran masyarakat terhadap
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Marshmallow merupakan salah satu produk aerated confectionary yang dalam pembuatannya ada pemerangkapan udara sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dan ringan. Marshmallow
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis pelarut terhadap kemampuan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less.) dalam menghambat oksidasi gula. Parameter
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISASI AWAL BAHAN Karakterisistik bahan baku daun gambir kering yang dilakukan meliputi pengujian terhadap proksimat bahan dan kadar katekin dalam daun gambir kering.
Proses Pembuatan Madu
MADU PBA_MNH Madu cairan alami, umumnya berasa manis, dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nektar); atau bagian lain dari tanaman (ekstra floral nektar); atau ekskresi serangga cairan
METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Tahapan
METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai bulan Agustus 2012. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengolahan Pangan, Laboratorium Organoleptik, Laboratorium Biokimia Zat Gizi,
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kehidupan di Indonesia telah banyak mengalami perubahan terutama
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan di Indonesia telah banyak mengalami perubahan terutama dalam hal gaya hidup. Kini, gaya hidup masyarakat sudah mengarah ke arah western yang cenderung diwarnai
PENGARUH GRADE TEH HIJAU DAN KONSENTRASI GULA STEVIA (Stevia rebaudiana bertoni M.) TERHADAP KARAKTERISTIK SIRUP TEH HIJAU (GREEN TEA)
PENGARUH GRADE TEH HIJAU DAN KONSENTRASI GULA STEVIA (Stevia rebaudiana bertoni M.) TERHADAP KARAKTERISTIK SIRUP TEH HIJAU (GREEN TEA) Fryda Amalia 12.302.0008 Pembimbing Utama: Pembimbing Pendamping:
BAHAN DAN METODA PENELITIAN
BAHAN DAN METODA PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2016 hingga Januari 2017 di Laboratorium Teknologi Pangan Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas
BAB I PENDAHULUAN. menggunakan bantuan kapang golongan Rhizopus Sp. Menurut Astawan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia banyak sekali ditemukan tempe, makanan yang terbuat dari kedelai dengan cara fermentasi atau peragian dengan menggunakan bantuan kapang golongan Rhizopus
PENGARUH SUHU PENYIMPANAN DAN PERBEDAAN PROPORSI TEH HIJAU : BUBUK DAUN KERING STEVIA
PENGARUH SUHU PENYIMPANAN DAN PERBEDAAN PROPORSI TEH HIJAU : BUBUK DAUN KERING STEVIA (Stevia rebaudiana) TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA MINUMAN TEH HIJAU STEVIA DALAM KEMASAN BOTOL PLASTIK SKRIPSI OLEH: KRISTIN
I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian,
I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,
I PENDAHULUAN. mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, banyak mengkonsumsi makanan cepat saji atau instant. Makanan berlemak dan
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan
BAB I PENDAHULUAN. Daun stevia merupakan daun yang berasal dari tanaman stevia (Stevia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daun stevia merupakan daun yang berasal dari tanaman stevia (Stevia rebaudiana Bertoni) yang sudah banyak digunakan oleh masyarakat Paraguay sejak ratusan tahun yang
I. PENDAHULUAN. dari daerah beriklim tropis. Pemanfaatan buah naga merah (Hylocereus
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) adalah tumbuhan yang bermula dari daerah beriklim tropis. Pemanfaatan buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) selain daging buahnya,
I. PENDAHULUAN. hidup manusia. Dewasa ini telah banyak dikembangkan produk pangan yang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Pangan merupakan salah satu faktor yang penting yang mempengaruhi kualitas hidup manusia. Dewasa ini telah banyak dikembangkan produk pangan yang memadukan
BAB I PENDAHULUAN. Industri makanan dan minuman sering menggunakan pemanis sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri makanan dan minuman sering menggunakan pemanis sebagai penambah cita rasa pada produknya. Bahan pemanis alami yang biasa digunakan adalah gula yang berasal
SUBSTITUSI TEPUNG TEMPE UNTUK PEMBUATAN KUE LUMPUR COKLAT DENGAN PENAMBAHAN VARIASI GULA PASIR JURNAL PUBLIKASI
SUBSTITUSI TEPUNG TEMPE UNTUK PEMBUATAN KUE LUMPUR COKLAT DENGAN PENAMBAHAN VARIASI GULA PASIR JURNAL PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. EKSTRAKSI TEH HIJAU Pada penelitian ini, proses ekstraksi teh hijau dilakukan dengan cara penyeduhan. Menurut Astill et al. (2001), perbedaan cara penyeduhan teh dapat memengaruhi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (Pandanus amaryllifolius Roxb.) 500 gram yang diperoleh dari padukuhan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Preparasi Sampel Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) 500 gram yang diperoleh dari padukuhan
BAB I PENDAHULUAN. berarti bagi tubuh. Menurut Dewanti (1997) bahan-bahan pembuat es krim
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Es krim adalah sejenis makanan semi padat yang dibuat dengan cara pembekuan tepung es krim atau campuran susu, lemak hewani maupun nabati, gula, dan dengan atau tanpa
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Es krim merupakan salah satu jenis frozen dessert berbahan dasar susu. Bahan-bahan penyusun es krim lainnya, yaitu gula, MSNF (Milk Solid Non Fat), dan stabilizer/emulisifier.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Abu Terbang dan Bahan Humat pada Pertumbuhan Tanaman Sengon Hasil analisis ragam menunjukkan adanya interaksi pengaruh antara abu terbang dan bahan humat pada peningkatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pepaya Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko dan Amerika Selatan, kemudian menyebar ke berbagai negara tropis, termasuk Indonesia sekitar
METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah teh hitam yang diperoleh dari PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas Bogor grade BP1 (Broken Pekoe 1).
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG
49 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kandungan Klorofil Pada Ekstrak Sebelum Pengeringan dan Bubuk Klorofil Terenkapsulasi Setelah Pengeringan Perhitungan kandungan klorofil pada ekstrak sebelum pengeringan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Buah Kurma Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah kurma dalam bentuk yang telah dikeringkan dengan kadar air sebesar 9.52%. Buah kurma yang
I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (6) Hipotesa dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pikiran, (6) Hipotesa dan (7) Tempat dan
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP MUTU KERIPIK DURIAN Pada tahap ini, digunakan 4 (empat) tingkat suhu dan 4 (empat) tingkat waktu dalam proses penggorengan
BAB I PENDAHULUAN. sebagai obat. Sekarang ini banyak sekali berbagai jenis obat yang dikemas
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia banyak sekali dijumpai berbagai jenis sirup, dari asam sampai yang paling manis. Sirup itu sendiri merupakan sediaan minuman cair berupa larutan yang
BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan pengawet berbahaya dalam bahan makanan seperti ikan dan daging menjadi permasalahan serius yang dihadapi oleh pemerintah. Penggunaan bahan pengawet
Lampiran 1. Prosedur Analisa Sampel
Lampiran 1. Prosedur Analisa Sampel 1. Pengukuran Kadar Air (AOAC, 1984) Cawan aluminium dikeringkan di dalam oven pada suhu 105 C selama 15 menit, kemudian didinginkan di dalam desikator lalu ditimbang
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Onggok Sebelum Pretreatment Onggok yang digunakan dalam penelitian ini, didapatkan langsung dari pabrik tepung tapioka di daerah Tanah Baru, kota Bogor. Onggok
BAB I PENDAHULUAN. manusia. Seiring dengan berkembangnya zaman, masyarakat semakin
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Minuman dan makanan merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia. Seiring dengan berkembangnya zaman, masyarakat semakin menyadari akan pentingnya mengkonsumsi makanan
I. PENDAHULUAN. Pangan fungsional adalah pangan yang kandungan komponen aktifnya dapat
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pangan fungsional adalah pangan yang kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, di luar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi
III. METODE PENELITIAN
22 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang, Kegiatan penelitian ini dimulai pada bulan
1 I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat
1 I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Peneltian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan Kandungan β-karoten dan Aktivitas Vitamin A Selama Penyimpanan Metode pertanian mempengaruhi komposisi kandungan gizi pada produk buah dan sayuran segar (Worthington 2001),
1. PENDAHULUAN Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Buah merupakan bahan pangan yang bersifat mudah rusak (perishable) sehingga perlu diolah untuk memperpanjang umur simpannya. Buah memiliki kandungan vitamin yang tinggi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Uji Kualitas Kimia pada Yoghurt dengan Penambahan Ekstrak Buah Jambu Biji Bangkok (Psidium guajava L.) Rerata hasil analisis statistik untuk uji kualitas kimia yang meliputi
UJI ORGANOLEPTIK DAN KANDUNGAN VITAMIN C PADA PEMBUATAN SELAI BELIMBING WULUH DENGAN PENAMBAHAN BUAH KERSEN DAN BUNGA ROSELA
UJI ORGANOLEPTIK DAN KANDUNGAN VITAMIN C PADA PEMBUATAN SELAI BELIMBING WULUH DENGAN PENAMBAHAN BUAH KERSEN DAN BUNGA ROSELA NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana
5.1 Total Bakteri Probiotik
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Total Bakteri Probiotik Berdasarkan hasil pengamatan (Lampiran 3) menunjukkan bahwa perlakuan penambahan bakteri L. acidophilus pada perbandingan tepung bonggol pisang batu
BAB I PENDAHULUAN. yang paling banyak dikonsumsi di dunia setelah air, dengan konsumsi per
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teh sebagai minuman telah dikenal dan menjadi bagian dari kebudayaan dunia sejak berabad-abad yang lampau. Teh adalah minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Yoghurt merupakan salah satu bentuk produk minuman hasil pengolahan susu yang memanfaatkan mikroba dalam proses fermentasi susu segar menjadi bentuk produk emulsi
BAB I PENDAHULUAN. umumnya, teh berasal dari tanaman teh (Camellia sinensis). Teh Camellia
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Teh merupakan minuman berkafein yang diolah dengan cara menyeduh bagian pucuk atau tangkai daun yang telah dikeringkan. Beberapa jenis teh yang beredar di masyarakat
I. PENDAHULUAN. Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dan sumber kalori yang cukup tinggi, sumber vitamin (A, C,
Tekstur biasanya digunakan untuk menilai kualitas baik tidaknya produk cookies.
Force (Gf) V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.2 Tekstur Tekstur merupakan parameter yang sangat penting pada produk cookies. Tekstur biasanya digunakan untuk menilai kualitas baik tidaknya produk cookies. Tekstur
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KARAKTERISASI LIMBAH MINYAK Sebelum ditambahkan demulsifier ke dalam larutan sampel bahan baku, terlebih dulu dibuat blanko dari sampel yang diujikan (oli bekas dan minyak
BAB I PENDAHULUAN. dengan tujuan konsumsi yang berbeda-beda, antara lain untuk kesehatan,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teh merupakan salah satu minuman favorit yang banyak disukai dan dikonsumsi oleh masyarakat. Berbagai kalangan usia menggemari minuman teh dengan tujuan konsumsi yang
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia karena rasanya yang manis, kandungan airnya yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Buah semangka merupakan buah yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia karena rasanya yang manis, kandungan airnya yang banyak, dan kulitnya yang keras
OPTIMASI PEMBUATAN KOPI BIJI PEPAYA (Carica papaya)
JURNAL TEKNOLOGI AGRO-INDUSTRI Vol. 2 No.2 ; November 2015 OPTIMASI PEMBUATAN KOPI BIJI PEPAYA (Carica papaya) MARIATI Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Politeknik Negeri Tanah Laut, Jl. A. Yani, Km
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS BAHAN BAKU Analisis bahan baku bertujuan untuk mengetahui karakteristik bahan baku yang digunakan pada penelitian utama. Parameter yang digunakan untuk analisis mutu
ISOLASI BAHAN ALAM. 2. Isolasi Secara Kimia
ISOLASI BAHAN ALAM Bahan kimia yang berasal dari tumbuhan atau hewan disebut bahan alam. Banyak bahan alam yang berguna seperti untuk pewarna, pemanis, pengawet, bahan obat dan pewangi. Kegunaan dari bahan
Company LOGO ZAT WARNA /PIGMEN
Company LOGO ZAT WARNA /PIGMEN Banyak sekali faktor yang menentukan kualitas produk akhir. Kualitas bahan pangan juga ditentukan oleh faktor sensoris (warna, kenampakan, citarasa, dan tekstur) dan yang
PENGARUH PERBANDINGAN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) DENGAN ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn) DAN JENIS JAMBU BIJI TERHADAP KARAKTERISTIK JUS
PENGARUH PERBANDINGAN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) DENGAN ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn) DAN JENIS JAMBU BIJI TERHADAP KARAKTERISTIK JUS TUGAS AKHIR Diajukan untuk Memenuhi Syarat Sidang Sarjana
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Es krim merupakan salah satu olahan semi padat dengan bahan utama susu. Es krim merupakan produk olahan susu sapi yang dibuat dengan bahanbahan utama yang terdiri atas
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Karakteristik awal cabai merah (Capsicum annuum L.) diketahui dengan melakukan analisis proksimat, yaitu kadar air, kadar vitamin
BAB I PENDAHULUAN. difermentasi dengan menggunakan bakteri Lactobacillus bulgaricus dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Yoghurt merupakan produk olahan susu yang dipasteurisasi kemudian difermentasi dengan menggunakan bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus.
Perhitungan 20 g yang setara 30 kali kemanisan gula. = 0,6667 g daun stevia kering
LAMPIRAN Lampiran Prosedur analisis sifat kimia Kadar air (SNI 0-90-000) Botol timbang dipanaskan beserta tutupnya (dibuka) dalam oven pada suhu 03 0 ± 0 C selama jam. Didinginkan dalam eksikator dan rapatkan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil analisis P-larut batuan fosfat yang telah diasidulasi dapat dilihat pada Tabel
26 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 P-larut Hasil analisis P-larut batuan fosfat yang telah diasidulasi dapat dilihat pada Tabel 9 (Lampiran), dan berdasarkan hasil analisis ragam pada
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Karakteristik teh hijau No Parameter SNI Menurut Nasution dan Tjiptadi (1975) 1 Keadaan - Rasa
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISASI PRODUK Karakteristik produk diketahui dengan melakukan analisis proksimat terhadap produk teh hijau. Analisis proksimat yang dilakukan adalah kadar air, kadar
3. PEMBAHASAN 3.1.Karakteristik Fisik Mi Jagung Bayam
3. PEMBAHASAN 3.1.Karakteristik Fisik Mi Jagung Bayam Pada pengujian fisik mi bayam yang dilakukan meliputi tensile strength dan warna. Salah satu kriteria yang utama pada mi adalah tekstur. Tekstur mi
BAB I PENDAHULUAN. Amerika misalnya, sebagian besar masyarakat menyukai minuman ini, sehingga
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat di gemari oleh masyarakat Indonesia karena rasa dan aromanya. Minuman ini di gemari oleh segala umur secara turun temurun.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Ekstraksi Bahan Tumbuhan Sumber Insektisida Nabati Hasil ekstraksi menggunakan metode maserasi yang terbanyak diperoleh dari biji S. mahagoni, diikuti daun T. vogelii, biji A.
METODOLOGI. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian
18 METODOLOGI Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium PT. Hale International dan Laboratorium Analisis Pangan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB.Penelitian dilakukan mulai bulan Januari
BAB I PENDAHULUAN. terdapat pada waluh. Secara umum waluh kaya akan kandungan serat, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia kaya akan sumber daya alam hayati yang belum dimanfaatkan secara optimal, salah satunya adalah tanaman waluh. Pemanfaatan tanaman waluh dimasyarakat belum
MATERI DAN METOD E Lokasi dan Waktu Materi Prosedur Penelitian Tahap Pertama
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Bagian Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan
KANDUNGAN VITAMIN C DAN UJI ORGANOLEPTIK FRUITHGURT KULIT BUAH SEMANGKA DENGAN PENAMBAHAN GULA AREN DAN KAYU SECANG NASKAH PUBLIKASI
KANDUNGAN VITAMIN C DAN UJI ORGANOLEPTIK FRUITHGURT KULIT BUAH SEMANGKA DENGAN PENAMBAHAN GULA AREN DAN KAYU SECANG NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh: WIDYA AGUSTINA A 420 100 076 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Teh adalah salah satu minuman terkenal di dunia, termasuk di
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teh adalah salah satu minuman terkenal di dunia, termasuk di Indonesia. Teh juga merupakan salah satu bahan penyegar yang penggunaannya populer di Indonesia selain kopi
BAB I PENDAHULUAN. nutrien untuk menumbuhkan bakteri yang diinginkan. Pembuatan kombucha, teh
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kombucha merupakan salah satu olahan teh fermentasi. Teh yang telah diseduh dengan air panas diberi tambahan gula sebagai pemanis dan sebagai nutrien untuk menumbuhkan
4. PEMBAHASAN 4.1. Penelitian Pendahuluan Penentuan Konsentrasi Mikroenkapsulan
4. PEMBAHASAN Pada penelitian ini, dilakukan pembuatan minuman serbuk instan campuran sari buah jambu biji merah dan wortel dengan menggunakan alat pengering semprot/ spary dryer. Komponen-komponen nutrisi
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah jagung pipil kering varietas pioner kuning (P-21). Jagung pipil ini diolah menjadi tepung pati jagung
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 14. Hasil Uji Alkaloid dengan Pereaksi Meyer; a) Akar, b) Batang, c) Kulit batang, d) Daun
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Uji Fitokimia Sampel Kering Avicennia marina Uji fitokimia ini dilakukan sebagai screening awal untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder pada sampel. Dilakukan 6 uji
Bab IV Data dan Hasil Pembahasan
Bab IV Data dan Hasil Pembahasan IV.1. Seeding dan Aklimatisasi Pada tahap awal penelitian, dilakukan seeding mikroorganisme mix culture dengan tujuan untuk memperbanyak jumlahnya dan mengadaptasikan mikroorganisme
1989).Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500ml. balik. Didihkan selama 30 menit dan kadang kala digoyang- goyangkan.
Penentuan kadar serat kasar Kadar serat kasar dianalisa dengan menggunakan metode Sudarmadji dkk, 1989).Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500ml kemudian ditambahkan 200 ml H 2 SO4
PEMATANGAN BUAH INDEKS KEMATANGAN
PEMATANGAN BUAH & INDEKS KEMATANGAN Pemasakan Tahap akhir fase perkembangan buah,,yang meliputi pembesaran sel, akumulasi fotosintat, dan senyawa aromatik, serta penurunan kadar asam, dan posisi buah masih
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. menghasilkan bau, sebagai zat harus bersifat menguap. Dua zat atau. atau saling menutupi (Setyaningsih, dkk., 2010).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Uji Organoleptik 1. Aroma Bau atau aroma merupakan sifat sensori yang paling sulit untuk diklasifikasikan dan dijelaskan karena ragamnya yang begitu besar, agar menghasilkan
KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi pati ganyong pada
KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi pati ganyong pada dodol susu kambing mampu meningkatkan kualitas organoleptik, meningkatkan kadar lemak, dan kadar total karbohidrat.
V. SIMPULAN DAN SARAN. 1. Variasi konsentrasi ekstrak buah naga merah (Hylocereus polyrhizus)
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan 1. Variasi konsentrasi ekstrak buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memberikan perbedaan pengaruh terhadap kualitas minuman probiotik, meliputi ph, kadar protein, total
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Perubahan Ion Leakage Ion merupakan muatan larutan baik berupa atom maupun molekul dan dengan reaksi transfer elektron sesuai dengan bilangan oksidasinya menghasilkan ion.
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
27 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Api-api (Avicennia marina (Forks.)Vierh.) Pohon api-api (Avicennia marina (Forks.)Vierh.) merupakan tumbuhan sejati yang hidup di kawasan mangrove. Morfologi
BAB I PENDAHULUAN. anorganik dan limbah organik. Limbah anorganik adalah limbah yang berasal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Limbah merupakan hasil sampingan dari aktivitas manusia yang sudah terpakai, baik dalam skala rumah tangga, industri, pertambangan dan lainlain. Limbah berdasarkan
I PENDAHULUAN. masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka
I PENDAHULUAN Bab ini membahas mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,
Ulangan 1 Ulangan 2 (%)
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA Deskripsi dan analisis data memuat penjelasan tentang hasil penelitian. Hasil yang diperoleh selama proses penelitian meliputi data sifat kimia, sifat fisik dan organoleptik
ARTIKEL ILMIAH. Evaluasi Mutu dan Waktu Kadaluarsa Sirup Teh Dari Jumlah Seduh Berbeda RINGKASAN
1 ARTIKEL ILMIAH Evaluasi Mutu dan Waktu Kadaluarsa Sirup Teh Dari Jumlah Seduh Berbeda RINGKASAN Penelitian mengenai Evaluasi Mutu dan Waktu Kadaluarsa Sirup Teh Dari Jumlah Seduh Berbeda telah dilakanakan
