Eksplorium ISSN Volume 32 No. 2, November 2011:
|
|
|
- Ivan Halim
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Eksplorium ISSN Volume 32 No. 2, November 2011: PENENTUAN KONDISI PELARUTAN RESIDU DARI HASIL PELARUTAN PARSIAL MONASIT BANGKA Sumarni *), Riesna Prassanti *), Kurnia Trinopiawan *), Sumiarti *), Hafni Lissa N **) *) Pusat Pengembangan Geologi Nuklir - BATAN Jl. Lebak Bulus Raya No 9, Pasar Jum, at, Jakarta Selatan **) Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir - BATAN [email protected] Masuk: 30 September Revisi: 11 Oktober Diterima: 31 Oktober ABSTRAK PENENTUAN KONDISI PELARUTAN RESIDU DARI HASIL PELARUTAN PARSIAL MONASIT BANGKA. Pengolahan monasit Bangka untuk memisahkan unsur-unsur utama yang terkandung di dalamnya, yaitu fosfat (PO 4), tanah jarang (RE), uranium (U) dan thorium (Th) melalui proses dekomposisi dengan sodium hidroksida (NaOH), untuk memisahkan PO 4 terlebih dahulu. Pada tahap ini dihasilkan residu yang mengandung (U, Th, RE) hidroksida. Residu ini dilarutkan dengan asam khlorida (HCl) pekat untuk memisahkan RE dari U dan Th. Hasil pelarutan tersebut pada ph 3,7 RE terpisah (larut) 62 %. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk memisahkan RE dari U dan Th yang masih terkandung dalam residu pelarutan RE pada ph 3,7 tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kondisi optimum pelarutan pada residu hasil pelarutan parsial dengan asam sulfat pekat (H 2 SO 4). Parameter yang digunakan pada penelitian adalah waktu pelarutan, suhu pelarutan dan konsumsi H 2 SO 4. Hasil penelitian diperoleh kondisi pelarutan optimal pada waktu 2 jam, konsumsi H 2 SO ml/gram umpan dan suhu 130 o C dengan rekoveri pelarutan RE = 93,46%, U = 92,30 % dan Th = 97,15 %. Kata kunci: pelarutan, monasit, Bangka ABSTRACT DETERMINATION OF RESIDUE DISSOLUTION CONDITION, AS PARTIALLY DISSOLUTION PRODUCT OF MONAZITE BANGKA. Bangka monazite processing to separate its major elements i.e. phosphate (PO4), rare earth (RE), uranium (U) and thorium (Th) through decomposition prosess with NaOH to separate the PO 4 first. This prosess produces a residue of (U, Th, RE) hydroxide. Then this residue is dissolved with HCl concentrate partially at 3,7 of ph to separate the RE from U and Th. In this process 62 % of RE is dissolved. The residue of RE dissolution at 3,7 of ph still contain U, Th and RE, so continuation research needed to be done separate U, Th and RE mentioned. The purpose of this research is to determine the optimum condition of residue dissolution as product of partiel dissolution by using concentrate H 2 SO 4. On the next research each element of U, Th and RE will be separated. The research s parameters are dissolution time, dissolution temperature and consumption of H 2 SO 4. The result showed that the optimum conditions were 2 hours of time, 30 o C of temperature and 100 ml of H 2 SO 4 /gram of feed with recovery 92,30 % of U, 97,15 % of Th and 93,46 % of RE. Keywords: dissolution, monazite, Bangka 115
2 PENDAHULUAN Penentuan Kondisi Pelarutan Residu dari Hasil Pelarutan Parsial Monasit Bangka. Oleh: Sumarni, Riesna Prasanti, Kurnia Trinopiawan, Rusydi. S, Hafni Lissa N. Monasit sebagai hasil samping penambangan timah di Pulau Bangka mengandung unsurunsur yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi, diantaranya RE 2 O 3 58,97%, U 0,298%, Th 4,147%, dan PO4 23,712% [1]. Penelitian terdahulu telah memperoleh beberapa tahapan proses pengolahan monasit yang meliputi preparasi monasit, dekomposisi, pelarutan parsial, pengendapan U & Th, dan pengendapan RE(OH) 3. Pada tahapan pelarutan parsial diperoleh rekoveri RE = 62%, U = 3%, dan Th = 42% [2]. Dengan demikian, masih cukup banyak RE, U, maupun Th yang berada dalam residu pelarutan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan efisiensi proses pengolahan monasit. Residu hasil pelarutan parsial (RE, U, dan Th) hidroksida dapat larut dengan asam kuat (H 2 SO 4, HCl dan HNO 3) [3 ] Pada penelitian ini dilakukan pelarutan kembali residu hasil pelarutan parsial dengan menggunakan reagen H 2 SO 4 pekat untuk melarutkan RE, U, dan Th sehingga dapat dilakukan proses pemisahan masing-masing. Beberapa metode pemisahan RE, U, maupun Th membutuhkan larutan umpan yang berada pada kondisi sulfat, seperti pemisahan RE menggunakan resin IRA 402 [2], dan pemisahan U dari Th dengan metode ekstraksi pelarut Alamine [4]. RE, U, dan Th larut dalam H 2 SO 4 [4], namun rekoveri pelarutannya dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya konsumsi reagen H 2 SO 4, suhu, dan waktu pelarutan. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kondisi operasi yang optimal dari ketiga parameter tersebut. TEORI Umpan penelitian diperoleh melalui tahapan sebagai berikut: a. Preparasi monasit, merupakan tahapan penggerusan monasit hingga diperoleh butiran monasit berukuran -325 mesh. Tahapan ini diperlukan untuk memperluas permukaan kontak monasit dengan reagen-reagen pada proses pengolahan monasit. b. Dekomposisi, bertujuan untuk memecah ikatan fosfat pada monasit sesuai dengan persamaan reaksi [5] : RE(PO 4 ) + 3NaOH RE(OH) 3 + Na 3 PO 4 Th 3 (PO) 4 + 6NaOH 3Th(OH) 2 + 2Na 3 PO 4 (UO 2 ) 3 (PO 4 ) 2 + 6NaOH 3UO 2 (OH) 2 + 2Na 3 PO 4 Pelarutan parsial, bertujuan untuk melarutkan sebanyak mungkin RE yang terdapat pada residu dekomposisi dengan U dan Th terlarut seminimal mungkin. Persamaan reaksi adalah sebagai berikut [5] : RE(OH) 3 + 3HCl RECl 3 + 3H 2 O ThCl 2 + 2NH 4 OH Th(OH) 4 + 2NH 4 Cl UO 2 Cl 2 + 2NH 4 OH UO 2 (OH) 2 + 2NH 4 Cl Residu pelarutan parsial, yang merupakan umpan penelitian, dilarutkan dengan H 2 SO 4 pekat dengan variasi waktu dari 1 hingga 5 jam, variasi suhu dari 70 hingga 150 C, dan variasi konsumsi reagen dari 50 hingga 250 ml H 2 SO 4 / 100 gram umpan. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut [6] : 2 RE(OH) H 2 SO 4 RE 2 (SO 4 ) 3 + 6H 2 O 2Th(OH) H 2 SO 4 Th 2 (SO 4 ) 4 + 8H 2 O UO 2 (OH) 2 + H 2 SO 4 (UO 2) (SO 4 ) + 2H 2 O 116
3 Eksplorium ISSN Volume 32 No. 2, November 2011: Air NaOH Monasit mesh Dekomposisi Air Panas Filtrasi Filtrat Na3PO4 Residu ( U, Th, RE ) hidroksida HCl Pelarutan Pencuci HCl encer H2SO4 Filtrasi Residu Pelarutan ( U, Th, RE ) Cl3 Air Panas Filtrasi Residu RE2(SO4)3 TATA KERJA Gambar 1. Blok diagram proses penentuan kondisi optimal pelarutan residu hasil pemisahan parsial Bahan 1. Monasit 2. Residu hasil pelarutan RE / (U,Th,RE) hidroksida 3. Natrium hidroksida (NaOH) 4. Asam khlorida pekat (HCl) 5. Asam sulfat pekat (H 2 SO 4 ) 6. Bahan kimia untuk analisis 117
4 118 Penentuan Kondisi Pelarutan Residu dari Hasil Pelarutan Parsial Monasit Bangka. Oleh: Sumarni, Riesna Prasanti, Kurnia Trinopiawan, Rusydi. S, Hafni Lissa N. Alat 1. Satu unit alat dekomposisi (pemanas listrik, motor pengaduk, termometer, batang pengaduk, beker gelas, statip) 2. Satu unit alat pelarutan (pemanas listrik, motor pengaduk, termometer, batang pengaduk, beker gelas, statip, ph meter dan elektroda ph) 3. Satu unit alat pemisah padat cair (pompa vakum) 4. Timbangan 5. Oven 6. Peralatan analisis 7. Peralatan gelas lainnya Tata kerja Penelitian ini ada 2 tahap pekerjaan 1. Pembuatan umpan 2. Penelitian penentuan kondisi optimal pelarutan residu dari hasil pelarutan RE 1. Pembuatan umpan terdiri atas 2 tahapan proses a. Proses dekomposisi b. Proses pelarutan RE a. Proses dekomposisi Disiapkan alat dekomposisi dengan memasang gelas kimia, motor pengaduk, batang pengaduk dan pemanas listrik. Dimasukkan air sebanyak 1700 ml ke dalam gelas kimia 5000 ml, dipanaskan diatas pemanas listrik sampai suhu ± 40 o C, kemudian ditambah NaOH sebanyak 1500 gram sambil diaduk. Setelah suhu ± 60 o C dimasukkan bijih monasit sebanyak 1000 gram, suhu dekomposisi dinaikkan sampai dengan suhu dekomposisi 140 o C diaduk selama 4 jam. Setelah dekomposisi selesai dilakukan pemisahan filtrat posfat dan residu dengan penyaringan vakum dalam keadaan panas. Selanjutnya dilakukan pencucian dengan air panas sampai ph filtrat 9,0. Padatan hidroksida yang dihasilkan digunakan untuk umpan pelarutan ph 3,7. b. Proses pelarutan RE Disiapkan alat pelarutan dengan memasang gelas kimia, motor pengaduk, batang pengaduk dan pemanas listrik. Dimasukkan air sebanyak 30 % dari berat umpan ke dalam gelas kimia 5000 ml, dipanaskan diatas pemanas listrik sampai suhu ± 50 C, kemudian dimasukkan 1400 gram residu hasil dekomposisi sambil diaduk. Setelah suhu ± 60 C, dimasukkan HCl sedikit demi sedikit sampai ph 3,7 setelah ph 3,7 tercapai suhu pelarutan dinaikkan sampai dengan suhu 80 C dan pelarutan dilakukan selama 2 jam. Setelah pelarutan selesai dilakukan pemisahan filtrat dan residu dengan penyaringan vakum dalam keadaan panas. Selanjutnya dilakukan pencucian air pencuci 3 kali berat umpan. Residu yang dihasilkan digunakan untuk umpan penelitian pelarutan secara total dan sebagian diambil untuk dikeringkan dengan oven pada suhu 100 C sampai berat tetap kemudian dianalisa kadar U, Th, dan RE. 2. Penelitian pelarutan residu hasil pelarutan RE bertujuan untuk menentukan parameter: a. Waktu pelarutan b. Suhu pelarutan
5 Eksplorium ISSN Volume 32 No. 2, November 2011: c. Konsumsi H 2 SO 4 a. Waktu pelarutan Menyiapkan bahan, peralatan (motor pengaduk, batang pengaduk, beker gelas, pemanas, termometer, pompa vakum, oven, neraca dan alat gelas lainnya). Memasukkan umpan 100 gram kedalam beker gelas, kemudian dimasukkan H 2 SO 4 pekat sebanyak 200 ml secara pelan-pelan sambil diaduk dan panaskan. Setelah H 2 SO 4 habis pemanasan dilanjutkan sampai suhu 150 C selama waktu yang divariasi (waktu: 1, 2, 3, 4, 5) jam. Setelah waktu pelarutan selesai hasil pelarutan diencerkan dengan air panas sebanyak 4 x 100 ml. Setelah diencerkan kemudian di saring dengan pompa vakum dan dicuci dengan air panas sebanyak 2 x 100 ml. Residu pelarutan ditimbang berat basah dan dipanaskan dengan oven pada suhu 100 C sampai berat tetap. Residu kering ditimbang dan dianalisa kadar U, Th, dan RE. b. Suhu pelarutan Menyiapkan bahan, peralatan (motor pengaduk, batang pengaduk, beker gelas, pemanas, termometer, pompa vakum, oven, neraca dan alat gelas lainnya). Memasukkan umpan 100 gram kedalam beker gelas, kemudian dimasukkan H 2 SO 4 pekat sebanyak 200 ml secara perlahan sambil diaduk dan panaskan. Setelah H 2 SO 4 habis pemanasan dilanjutkan sampai suhu yang divariasi (suhu: 70, 90, 110, 130 dan 150) C, selama 2 jam. Setelah waktu pelarutan selesai hasil pelarutan diencerkan dengan air panas sebanyak 4 x 100 ml. Setelah diencerkan kemudian di saring dengan pompa vakum dan dicuci dengan air panas sebanyak 2 x 100 ml. Residu pelarutan ditimbang berat basah dan dipanaskan dengan oven pada suhu 100 C sampai berat tetap. Residu kering ditimbang dan dianalisa kadar U, Th dan RE. c. Konsumsi H 2 SO 4 Menyiapkan bahan, peralatan (motor pengaduk, batang pengaduk, beker gelas, pemanas, termometer, pompa vakum, oven, neraca dan alat gelas lainnya). Memasukkan umpan 100 gram kedalam beker gelas, kemudian dimasukkan H 2 SO 4 pekat sebanyak yang divariasi (konsumsi: 50, 100, 150, 200 dan 250) ml/100 gram umpan secara pelan-pelan sambil diaduk dan panaskan. Setelah H 2 SO 4 habis pemanasan dilanjutkan sampai suhu 130 C, selama 2 jam. Setelah waktu pelarutan selesai hasil pelarutan diencerkan dengan air panas sebanyak 4 x 100 ml. Setelah diencerkan kemudian di saring dengan pompa vakum dan dicuci dengan air panas sebanyak 2 x 100 ml. Residu pelarutan ditimbang berat basah dan dipanaskan dengan oven pada suhu C sampai berat tetap. Residu kering ditimbang dan dianalisa kadar U, Th dan RE. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 1. Menentukan kondisi waktu optimum terhadap pelarutan U, Th dan RE pada residu hasil pelarutan parsial Berat umpan = 100 gram basah = 65 gram kering Kadar umpan = U : 1590,62 ppm, Th : 4261,62 ppm dan RE 2 O 3 : 39,90 % (Tabel 1.) 119
6 120 Penentuan Kondisi Pelarutan Residu dari Hasil Pelarutan Parsial Monasit Bangka. Oleh: Sumarni, Riesna Prasanti, Kurnia Trinopiawan, Rusydi. S, Hafni Lissa N. Waktu pelarutan (jam) Tabel 1. Pengaruh Waktu Terhadap Pelarutan U, Th dan RE Residu Pelarutan Total Berat basah (gr) Berat kering (gr) Kadar U(ppm) Th(ppm) RE 2 O 3 (%) 56,10 43,70 168, ,28 14,50 55,30 44,00 112,71 539,65 7,50 62,00 43,20 190, ,77 16,20 57,50 43,90 234, ,60 21,60 57,30 43,00 157,17 800,21 13,80 2. Menentukan kondisi suhu optimum terhadap pelarutan U, Th dan RE pada residu hasil pelarutan parsial Berat umpan = 100 gram basah = 65 gram kering Kadar umpan = U : 2642 ppm, Th : 5059,615 ppm dan RE 2 O 3 : 41,55 % (Tabel 2) Suhu pelarutan ( 0 C) Tabel 2. Pengaruh Suhu Terhadap Pelarutan U, Th dan RE Berat basah (gr) 51,10 50,50 55,60 56,40 55,30 Residu Pelarutan Total Berat kering Kadar (gr) U(ppm) Th(ppm) RE 2 O 3 (%) 34,05 486, ,00 12,56 34,21 405,50 995,00 12,42 35,00 371,50 905,00 11,20 35,06 170,50 904,00 5,00 28,00 628, ,00 7,55 3. Menentukan konsumsi H 2 SO 4 optimum terhadap pelarutan U, Th dan RE pada residu hasil pelarutan RE Berat umpan = 100 gram basah = 65 gram kering Kadar umpan = U : 2743,5, Th : ppm dan RE 2 O 3 : 42,4% (Tabel 3) Konsumsi H 2 SO 4 (ml) Tabel 3. Pengaruh Konsumsi H 2 SO 4 Terhadap Pelarutan U, Th dan RE Berat basah (gr) 54,60 53,40 53,10 53,60 53,60 Pembahasan Cara Menghitung Rekoveri [9] Re koveri Berat unsur dalam umpan Residu Pelarutan Total Berat kering Kadar (gr) U(ppm) Th(ppm) RE 2 O 3 (%) 32, , ,55 28,80 512, ,90 28,00 628, ,55 27,30 545, ,80 26,80 470, ,00 Berat Berat unsur dalam umpan unsur dalam residu gram gram x Menentukan waktu optimum terhadap rekoveri pelarutan U, Th, RE pada residu hasil pelarutan parsial 0
7 Eksplorium ISSN Volume 32 No. 2, November 2011: Berat unsur dalam umpan = U : 0,1034 gr; Th : 0,2770 gr; dan RE 2 O 3 : 25,74 gr (Tabel 4) Waktu pelarutan (jam) Tabel 4.Pengaruh Waktu Terhadap Rekoveri Pelarutan U, Th dan RE Berat unsur dalam Residu pelarutan total (gr) Rekoveri Pelarutan Total (%) U Th RE 2 O 3 U Th RE 2 O 3 0, , , , , , , , , , ,33 3,30 6,99 4,48 5,93 92,88 95,20 92,03 90,02 93,46 Kondisi proses: a. Suhu pelarutan = 150 o C, Konsumsi H 2 SO = 200 ml/100 gram b. Waktu pelarutan divariasi = ( 1, 2, 3, 4, 5) jam 90,43 91,42 83,26 67,78 87,58 74,11 86,66 71,75 81,89 76,03 2. Menentukan suhu optimum terhadap rekoveri pelarutan U, Th, RE pada residu hasil pelarutan parsial Berat unsur dalam umpan = U : 0,1717 gr, Th : 0, gr, dan RE 2 O 3 : 27,0600gr (Tabel 5) Suhu pelarutan ( o C) Tabel 5 Pengaruh Suhu Terhadap Rekoveri U,Th,RE Berat unsur dalam Residu pelarutan total (gr) Rekoveri Pelarutan Total (%) U Th RE 2 O 3 U Th RE 2 O 3 0, , ,277 90,35 88,88 84,16 0, , ,249 91,92 89,54 84,26 0, , ,933 92,43 90,36 85,43 0, , ,175 96,52 90,36 93,51 0, , ,114 89,75 90,20 92,07 Kondisi proses: a. Waktu pelarutan = 2 jam b. Konsumsi H 2 SO = 200 ml/100 gram c. Suhu pelarutan divariasi = (70, 90, 110, 130, 150) C 3. Menentukan konsumsi H 2 SO 4 optimum terhadap rekoveri pelarutan U, Th dan RE pada residu hasil pelarutan parsial Berat unsur dalam umpan = U : 0,1920 gr, Th : 1,1564 gr, dan RE 2 O 3 : 29,6800 gr Konsumsi H 2 SO 4 (ml) Tabel 6. Pengaruh konsumsi H 2 SO 4 terhadap rekoveri pelarutan U,Th,RE Berat unsur dalam Residu pelarutan total (gr) Rekoveri Pelarutan Total (%) U Th RE 2 O 3 U Th RE 2 O 3 0,0344 0,0775 5, ,07 93,30 80,51 0,0148 0,0343 1, ,30 97,15 93,46 0,0176 0,0322 2, ,83 97,28 92,87 0,0149 0,0273 1, ,25 97,63 93,74 0,0126 0,0300 1, ,44 97,40 94,58 121
8 Penentuan Kondisi Pelarutan Residu dari Hasil Pelarutan Parsial Monasit Bangka. Oleh: Sumarni, Riesna Prasanti, Kurnia Trinopiawan, Rusydi. S, Hafni Lissa N. Kondisi proses : a. waktu pelarutan = 2 jam b. Suhu pelarutan = 150 o C c. Konsumsi H 2 SO divariasi = (50, 100, 150, 200, 250) ml/100 gram Semakin lama waktu pelarutan, maka semakin sempurna kontak antara pelarut dengan padatan, dalam hal ini RE, U, dan Th. Namun pada kondisi tertentu, dicapai titik optimum dimana penambahan waktu tidak lagi efisien tehadap peningkatan rekoveri. Hal ini terlihat pada tabel 4, rekoveri pelarutan meningkat hingga waktu pelarutan 2 jam, setelah itu penambahan waktu tidak memberikan peningkatan rekoveri yang signifikan dan cenderung menurun. Kelarutan merupakan sistem kesetimbangan dinamik, dimana pada titik kesetimbangan laju pelarutan akan sama dengan laju pengendapan [10]. Kaitannya dengan penurunan rekoveri, besar kemungkinan kondisi sistem telah melampaui titik kesetimbangan, sehingga kelarutan RE, U, dan Th akan menurun. Pelarutan merupakan proses kinetik [10], sehingga berlaku persamaan Arrhenius, yaitu: Sesuai persamaan tersebut, maka suhu (T) yang tinggi akan meningkatkan nilai konstanta kecepatan reaksi (k). Dari tabel 2 terlihat bahwa dengan waktu pelarutan yang konstan, rekoveri meningkat seiring meningkatnya suhu pelarutan. Dari data hasil pelarutan parameter suhu diperoleh kondisi optimal yaitu 130 C, karena suhu di atas 130 C menunjukkan kecenderungan rekoveri menurun. Hal ini mungkin terjadi karena teruapkannya reagen sebelum proses pelarutan selesai dengan sempurna. Dari tabel 3 terlihat bahwa semakin banyak reagen ditambahkan, maka semakin banyak pula RE, U, dan Th yang berikatan dengan sulfat. Begitu juga sebaliknya, semakin kecil jumlah reagen H 2 SO 4 yang ditambahkan, akan semakin sedikit RE, U, dan Th yang terlarut dikarenakan tidak sempurnanya reaksi. Konsumsi H 2 SO 4 optimal diperoleh pada perbandingan 100 ml H 2 SO 4 / 100 gram umpan. Sesuai persamaan tersebut, maka suhu (T) yang tinggi akan meningkatkan nilai konstanta kecepatan reaksi (k). Dari tabel 5 terlihat bahwa dengan waktu pelarutan yang konstan, rekoveri meningkat seiring meningkatnya suhu pelarutan. Dari data hasil pelarutan parameter suhu diperoleh kondisi optimal yaitu 130 C, karena suhu di atas 130 C menunjukkan kecenderungan rekoveri menurun. Hal ini mungkin terjadi karena teruapkannya reagen sebelum proses pelarutan selesai dengan sempurna. Dari tabel 6 terlihat bahwa semakin banyak reagen ditambahkan, maka semakin banyak pula RE, U, dan Th yang berikatan dengan sulfat. Begitu juga sebaliknya, semakin kecil jumlah reagen H 2 SO 4 yang ditambahkan, akan semakin sedikit RE, U, dan Th yang terlarut dikarenakan tidak sempurnanya reaksi. Konsumsi H 2 SO 4 optimal diperoleh pada perbandingan 100 ml H 2 SO 4 / 100 gram umpan. KESIMPULAN Pada penentuan kondisi pelarutan residu hasil pelarutan parsial monasit Bangka dengan reagen H 2 SO 4 didapat kondisi optimal: waktu pelarutan 2 jam, suhu 130 C dengan konsumsi H 2 SO ml/100 gram umpan basah dengan rekoveri masing- masing unsur adalah U = 92,30 %, Th = 97,15 % RE = 93,46 %. 122
9 Eksplorium ISSN Volume 32 No. 2, November 2011: SARAN Sebaiknya ada penelitian lanjutan yaitu memisahkan RE dari U dan Th filtrat hasil pelarutan RE dengan cara ektraksi dengan reagen alamine DAFTAR PUSTAKA 1. SUSILANINGTYAS, ERNI R.A, HAFNI LN, FAISAL R, Pengolahan Monasit Bangka menjadi konsentrat tanah jarang hidroksida, Seminar Nasional Pranata Nuklir II, Jakarta Oktober HAFNI L.N., SOROT S., B. SOETOPO, Peningkatan Efisiensi Produksi Rare Earth Bebas Zat Radioaktif Dari Hasil Samping Penambangan Timah, PPGN- BATAN, FAIZAL RIZA Dekomposisi Basa Dan Disolusi Bijih Uranium Rirang, Eksplorium, No 113/XX/98, ISSN KURNIA T., RIESNA P., SUMARNI, RUDI P., Pemisahan Uranium dari Thorium pada Monasit dengan Metode Ekstraksi Pelarut Alamine, Eksplorium, Volume XXXII No.155, Mei H. PERRY, Perry s Chemical Engineers Handbook, 7th ed, Table 2-1, The McGraw-Hill Companies, Inc., Kosim Affandi, Sri Sudaryanto, Imam Hamzah Penentuan Sifat-Sifat Fisik Bijih Rirang Dan Pengolahan Pendahuluannya, Laporan Penelitian Tahun 1992 PPBGN/TPB/004/92 7. CUTHBERT.FL. Thorium Production Technology. Addision Wesly Publishing Company, Inc USA(1958) 8. ERNI R.A, SUSILANINGTYAS,WIDOWATI,TUKARDI, Pelarutan RE Hidroksida Hasil Dekomposisi Monasit Hasil Samping Penambangan Timah Secara Bertingkat, Seminar IPTEK Nuklir Dan Pengelolaan Sumber Daya Tambang, PPBGN- Batan, Jakarta (2002) SUMARNI, WIDOWATI, TUKARDI, TARJUDIN Pengolahan Monasit Bangka: Pemisahan Uranium Dari Residu Pelarutan RE, Eksplorium, No 134/XXV/2004, ISSN (desember 2004) September UCAPAN TERIMA KASIH 1. Kepala bidang G & BGN PPGN BATAN yang telah memberi kesempatan saya dan teman teman untuk melakukan penelitian di Bidang Geologi dan Bahan Galian Nuklir 2. Teman teman peneliti yang telah membantu dalam penelitian dan pembuatan makalah 123
10 124 Penentuan Kondisi Pelarutan Residu dari Hasil Pelarutan Parsial Monasit Bangka. Oleh: Sumarni, Riesna Prasanti, Kurnia Trinopiawan, Rusydi. S, Hafni Lissa N.
PENENTUAN KONDISI PELARUTAN RESIDU DARI HASIL PELARUTAN PARSIAL MONASIT BANGKA
PENENTUAN KONDISI PELARUTAN RESIDU DARI HASIL PELARUTAN PARSIAL MONASIT BANGKA Sumarni, Riesna Prassanti, Kurnia Trinopiawan, Sumiarti dan Hafni Lissa. N Pusat Pengembangan Geologi Nuklir - BATAN Jl. Lebak
KUMPULAN LAPORAN HASIL PENELlTlAN TAHUN 2005 ISBN
KUMPULAN LAPORAN HASIL PENELlTlAN TAHUN 2005 ISBN.978-979-99141-2-5 UJI COBA PENGOLAHAN BIJIH U RIRANG DENGAN KAPASITAS 0,75 KG: PELARUTAN TOTAL (P2BGGN/PGN- TPBGN/K/O 12/2005 Oleh : Sumarni, Hafni Lissa
DIGESTI MONASIT BANGKA DENGAN ASAM SULFAT
DIGESTI MONASIT BANGKA DENGAN ASAM SULFAT Riesna Prassanti Pusat Pengembangan Geologi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional Jalan Lebak Bulus Raya No. 9 Jakarta Selatan, Indonesia Email : [email protected]
Eksplorium ISSN Volume 33 No. 1, Mei 2012: 41-54
Eksplorium ISSN 0854 1418 Volume 33 No. 1, Mei 2012: 41-54 DIGESTI MONASIT BANGKA DENGAN ASAM SULFAT Riesna Prassanti Pusat Pengembangan Geologi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional Jalan Lebak Bulus Raya
Eksplorium ISSN Volume XXXII No. 155, Mei 2011 : 47-52
Eksplorium ISSN 085 118 Volume XXXII No. 155, Mei 011 : 7-5 ABSTRAK PEMISAHAN URANIUM DARI THORIUM PADA MONASIT DENGAN METODE EKSTRAKSI PELARUT ALAMINE Kurnia Trinopiawan, Riesna Prassanti, Sumarni, Rudi
PEMISAHAN U DARI Th PADA MONASIT DENGAN METODE EKSTRAKSI PELARUT ALAMINE
PEMISAHAN U DARI Th PADA MONASIT DENGAN METODE EKSTRAKSI PELARUT ALAMINE Kurnia Trinopiawan, Riesna Prassanti, Sumarni, Rudi Pudjianto Pusat Pengembangan Geologi Nuklir BATAN Kawasan PPTN Pasar Jum at,
Eksplorium ISSN Volume 33 No. 2, November 2012:
Eksplorium ISSN 0854 1418 Volume 33 No. 2, November 2012: 121-128 PENGENDAPAN UNSUR TANAH JARANG HASIL DIGESTI MONASIT BANGKA MENGGUNAKAN ASAM SULFAT M. Anggraini, Sumarni, Sumiarti, Rusyidi S, Sugeng
ID0200110 PENGOLAHAN BIJIH URANIUM ASAL RIRANG PEMISAHAN LTJ DARI HASIL DIGESTI BASA
Prosiding Presentasi llmiah Bahan BakarNuklir V P2TBD dan P2BGN - BA TAN Jakarta, 22 Pebruari 2000 ISSN 1410-1998 ID0200110 PENGOLAHAN BIJIH RANIM ASAL RIRANG PEMISAHAN DARI HASIL DIGESTI BASA Erni R.A,
PENGENDAPAN URANIUM DAN THORIUM HASIL PELARUTAN SLAG II URANIUM AND THORIUM PRECIPITATION FROM SOLUTION OF SLAG II
Eksplorium ISSN 0854 1418 Volume 36 No. 2, November 2015: 125 132 PENGENDAPAN URANIUM DAN THORIUM HASIL PELARUTAN SLAG II URANIUM AND THORIUM PRECIPITATION FROM SOLUTION OF SLAG II Mutia Anggraini*, Budi
KEBUTUHAN DESAIN AWAL PADA PILOT PLANT PENGOLAHAN MONASIT MENJADI THORIUM OKSIDA (ThO 2 )
Eksplorium ISSN 0854 1418 Volume 35 No. 2, November 2014: 131 141 KEBUTUHAN DESAIN AWAL PADA PILOT PLANT PENGOLAHAN MONASIT MENJADI THORIUM OKSIDA (ThO 2 ) PRELIMINARY DESIGN NEEDS FOR PILOT PLANT OF MONAZITE
RANCANGAN ALAT PROSES PENGOLAHAN BIJIH URANIUM RIRANG : REAKTOR DEKOMPOSISI
RANCANGAN ALAT PROSES PENGOLAHAN BIJIH URANIUM RIRANG : REAKTOR DEKOMPOSISI Faizal Riza, Hafni Lissa Nuri Pusat Pengembangan Geologi Nuklir BATAN ABSTRAK RANCANGAN ALAT PROSES PENGOLAHAN BIJIH URANIUM
PENGOLAHAN BIJIH URANIUM ASAL RIRANG : PEMISAHAN L T J DARI HASIL DIGESTI BAS A
Prosiding Presentasi /fmiah Bahan Bakar Nuklir V P2TBDU dan P2BGN -BATAN Jakarta, 22 Pebruari 2000 ABSTRAK PENGOLAHAN BIJIH URANIUM ASAL RIRANG : PEMISAHAN L T J DARI HASIL DIGESTI BAS A Erni R.A, Rudi
3 Metodologi Penelitian
3 Metodologi Penelitian 3.1 Peralatan Peralatan yang digunakan dalam tahapan sintesis ligan meliputi laboratory set dengan labu leher tiga, thermolyne sebagai pemanas, dan neraca analitis untuk penimbangan
PENGARUH KANDUNGAN URANIUM DALAM UMPAN TERHADAP EFISIENSI PENGENDAPAN URANIUM
PENGARUH KANDUNGAN URANIUM DALAM UMPAN TERHADAP EFISIENSI PENGENDAPAN URANIUM Torowati Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir - BATAN Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang ABSTRAK PENGARUH KANDUNGAN URANIUM
Preparasi Sampel. Disampaikan pada Kuliah Analisis Senyawa Kimia Pertemuan Ke 3.
Preparasi Sampel Disampaikan pada Kuliah Analisis Senyawa Kimia Pertemuan Ke 3 [email protected] Penarikan Sampel (Sampling) Tujuan sampling : mengambil sampel yang representatif untuk penyelidikan
PROSES PEMURNIAN YELLOW CAKE DARI LIMBAH PABRIK PUPUK
PROSES PEMURNIAN YELLOW CAKE DARI LIMBAH PABRIK PUPUK Ngatijo, Rahmiati, Asminar, Pranjono Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir BATAN ABSTRAK PEMURNIAN YELLOW CAKE DARI LIMBAH PABRIK PUPUK. Telah dilakukan
BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE), atau rare
1 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE), atau rare earth (RE) adalah kelompok 17 elemen logam, yang mempunyai sifat kimia yang mirip, yang terdiri
PREPARASI LIMBAH RADIOAKTIF CAIR EFLUEN PROSES PENGOLAHAN KIMIA UNTUK UMPAN PROSES EVAPORASI
PREPARASI LIMBAH RADIOAKTIF CAIR EFLUEN PROSES PENGOLAHAN KIMIA UNTUK UMPAN PROSES EVAPORASI Endro Kismolo, Tri Suyatno, Nurimaniwathy -BATAN, Yogyakarta Email : [email protected] ABSTRAK PREPARASI LIMBAH
DIJESTI TORIUM PIROFOSFAT MENJADI TORIUM HIDROKSIDA
Suyanti, dkk. ISSN 0216-3128 141 DIJESTI TORIUM PIROFOSFAT MENJADI TORIUM HIDROKSIDA Suyanti dan MV. Purwani Pusat Teknolgi Akselerator dan Proses Bahan Jl. Babarsari PO BOX 6101 ykbb Yogyakarta 55281
INTERPRETASI DEPOSIT URANIUM BERDASARKAN DATA TAHANAN JENIS DAN POLARISASI TERINDUKSI DI SEKTOR RABAU HULU
z INTERPRETASI DEPOSIT URANIUM BERDASARKAN DATA TAHANAN JENIS DAN POLARISASI TERINDUKSI DI SEKTOR RABAU HULU URANIUM DEPOSIT INTERPRETATION BASED ON RESISTIVITY AND INDUCED POLARIZATION DATA IN RABAU HULU
PENGARUH HNO 3 DAN KBrO 3 PADA PEMBUATAN KONSENTRAT Ce, La DAN Nd DARI PASIR MONASIT
194 PENGARUH HNO 3 DAN KBrO 3 PADA PEMBUATAN KONSENTRAT Ce, La DAN Nd DARI PASIR MONASIT MV Purwani dan Suyanti PPPTM BATAN ABSTRAK PENGARUH HNO 3 DAN KBrO 3 PADA PEMBUATAN KONSENTRAT Ce, La DAN Nd DARI
Pemungutan Uranium Dalam Limbah Uranium Cair Menggunakan Amonium Karbonat
No.04 / Tahun II Oktober 2009 ISSN 1979-2409 Torowati, Noor Yudhi Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir - BATAN ABSTRAK PEMUNGUTAN URANIUM DALAM LIMBAH URANIUM CAIR MENGGUNAKAN AMONIUM KARBONAT. Percobaan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini didahului dengan perlakuan awal bahan baku untuk mengurangi pengotor yang terkandung dalam abu batubara. Penentuan pengaruh parameter proses dilakukan dengan cara
PENGOLAHAN BIJIH URANIUM ASAL RIRANG SECARA BASA PEMURNIAN URANIUM HIDROKSIDA OAR I L T J
Prosiding Presentasi Ifmiah Bahan Bakar Nuklir V P27BDU dan P2BGN-BA TAN Jakarta, 22 Pebruari 2000 PENGOLAHAN BIJIH URANIUM ASAL RIRANG SECARA BASA PEMURNIAN URANIUM HIDROKSIDA OAR I L T J ABSTRAK Faizal
EKSTRAKSI DAN STRIPPING TORIUM DARI RAFINAT HASIL EKSTRAKSI URANIUM MONASIT BANGKA
EKSTRAKSI DAN STRIPPING TORIUM DARI RAINAT HASIL EKSTRAKSI URANIUM MONASIT BANGKA Rida erliana 1, Bangun Wasito 1, Riesna Prassanti 2 1) Teknokimia Nuklir STTN-BATAN, Jl. Babarsari, Kotak Pos 6101 YKBB
3 Metodologi Penelitian
3 Metodologi Penelitian 3.1 Alat Peralatan yang digunakan dalam tahapan sintesis ligan meliputi laboratory set dengan labu leher tiga, thermolyne sebagai pemanas, dan neraca analitis untuk penimbangan
BAB III METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini digunakan berbagai jenis alat antara lain berbagai
30 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan Pada penelitian ini digunakan berbagai jenis alat antara lain berbagai macam alat gelas, labu Kjeldahl, set alat Soxhlet, timble ekstraksi, autoclave, waterbath,
BAB 3 METODE PERCOBAAN
BAB 3 METODE PERCOBAAN 3.1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan Analisis dilaksanakan di Laboratorium PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan dan Pengendalian Pembangkitan Ombilin yang dilakukan mulai
3 Percobaan. Untuk menentukan berat jenis zeolit digunakan larutan benzena (C 6 H 6 ).
3 Percobaan 3.1 Bahan dan Alat 3.1.1 Bahan Bahan yang digunakan untuk menyerap ion logam adalah zeolit alam yang diperoleh dari daerah Tasikmalaya, sedangkan ion logam yang diserap oleh zeolit adalah berasal
Lampiran 1. Prosedur kerja analisa bahan organik total (TOM) (SNI )
41 Lampiran 1. Prosedur kerja analisa bahan organik total (TOM) (SNI 06-6989.22-2004) 1. Pipet 100 ml contoh uji masukkan ke dalam Erlenmeyer 300 ml dan tambahkan 3 butir batu didih. 2. Tambahkan KMnO
EKSTRAKSI DAN STRIPPING URANIUM HASIL PELARUTAN TOTAL MONASIT BANGKA
EKSTRAKSI DAN STRIPPING URANIUM HASIL PELARUTAN TOTAL MONASIT BANGKA Noor Anis Kundari 1, Riesna Prassanti 2, Giezzella 3 1) STTN-BATAN, Yogyakarta, Indonesia, [email protected] 2) PTBGN-BATAN, Jakarta
Pupuk dolomit SNI
Standar Nasional Indonesia Pupuk dolomit ICS 65.080 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Syarat mutu... 1 4 Pengambilan contoh...
BAB III METODA PENELITIAN. yang umum digunakan di laboratorium kimia, set alat refluks (labu leher tiga,
24 BAB III METODA PENELITIAN A. Alat dan Bahan 1. Alat Alat yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah semua alat gelas yang umum digunakan di laboratorium kimia, set alat refluks (labu leher tiga,
III. METODOLOGI. 1. Analisis Kualitatif Natrium Benzoat (AOAC B 1999) Persiapan Sampel
III. METODOLOGI A. BAHAN DAN ALAT Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah saus sambal dan minuman dalam kemasan untuk analisis kualitatif, sedangkan untuk analisis kuantitatif digunakan
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1 BAHAN DAN ALAT Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah kacang kedelai, kacang tanah, oat, dan wortel yang diperoleh dari daerah Bogor. Bahan kimia yang digunakan
3. Metodologi Penelitian
3. Metodologi Penelitian 3.1 Alat dan bahan 3.1.1 Alat Peralatan gelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelas kimia, gelas ukur, labu Erlenmeyer, cawan petri, corong dan labu Buchner, corong
METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai September 2015 dengan
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai September 2015 dengan tahapan isolasi selulosa dan sintesis CMC di Laboratorium Kimia Organik
METODE PENELITIAN. pembuatan vermikompos yang dilakukan di Kebun Biologi, Fakultas
III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap: Tahap pertama adalah pembuatan vermikompos yang dilakukan di Kebun Biologi, Fakultas Teknobiologi, Universitas
PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN, TEMPERATUR DAN WAKTU PEMASAKAN PADA PEMBUATAN PULP BERBAHAN BAKU SABUT KELAPA MUDA (DEGAN) DENGAN PROSES SODA
PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN, TEMPERATUR DAN WAKTU PEMASAKAN PADA PEMBUATAN PULP BERBAHAN BAKU SABUT KELAPA MUDA (DEGAN) DENGAN PROSES SODA H.Abdullah Saleh,, Meilina M. D. Pakpahan, Nowra Angelina Jurusan
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan Oktober
23 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan Oktober 2011 di Laboratorium Kimia Analitik, Laboratorium Kimia Organik
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK 2 PENENTUAN KADAR KLORIDA. Senin, 21 April Disusun Oleh: MA WAH SHOFWAH KELOMPOK 1
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK 2 PENENTUAN KADAR KLORIDA Senin, 21 April 2014 Disusun Oleh: MA WAH SHOFWAH 1112016200040 KELOMPOK 1 MILLAH HANIFAH (1112016200073) YASA ESA YASINTA (1112016200062) WIDYA
PEMUNGUTAN URANIUM DARI LIMBAH URANIUM CAIR HASIL PROSES DENGAN TEKNIK PENGENDAPAN
PEMUNGUTAN URANIUM DARI LIMBAH URANIUM CAIR HASIL PROSES DENGAN TEKNIK PENGENDAPAN Torowati ABSTRAK PEMUNGUTAN URANIUM DARI LlMBAH URANIUM CAIR HASIL PROSES DENGAN TEKNIK PENGENDAPAN. Dalam proses di laboratorium
Recovery Logam Ag Menggunakan Resin Penukar Ion
PRAKTIKUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI Recovery Logam Ag Menggunakan Resin Penukar Ion Pembimbing : Endang Kusumawati, MT Disusun Oleh : IndraPranata R 091431013 Irena Widelia 091431014 Irma Ariyanti 091431015
PELINDIAN PASIR BESI MENGGUNAKAN METODE ELEKTROLISIS
PELINDIAN PASIR BESI MENGGUNAKAN METODE ELEKTROLISIS Rizky Prananda(1410100005) Dosen Pembimbing Dosen Penguji : Suprapto, M.Si, Ph.D : Ita Ulfin S.Si, M.Si Djoko Hartanto, S.Si, M.Si Drs. Eko Santoso,
PENGENDAPAN TORIUM DARI HASIL OLAH PASIR MONASIT
Suyanti, dkk. ISSN 0216-3128 147 PENGENDAPAN TORIUM DARI HASIL OLAH PASIR MONASIT Suyanti dan MV Purwani Pusat Teknolgi Akselerator dan Proses Bahan Jl. Babarsari PO BOX 6101 ykbb Yogyakarta 55281 ABSTRAK
Metodologi Penelitian
Bab III Metodologi Penelitian Pembuatan larutan buffer menggunakan metode pencampuran antara asam lemah dengan basa konjugasinya. Selanjutnya larutan buffer yang sudah dibuat diuji kemampuannya dalam mempertahankan
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK PERCOBAAN III (PEMURNIAN BAHAN MELALUI REKRISTALISASI)
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK PERCOBAAN III (PEMURNIAN BAHAN MELALUI REKRISTALISASI) OLEH : NAMA : HANIFA NUR HIKMAH STAMBUK : A1C4 09001 KELOMPOK ASISTEN : II (DUA) : WD. ZULFIDA NASHRIATI LABORATORIUM
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 LOKASI PENELITIAN Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Analisa dan Laboratorium Proses Industri Kimia, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Sumatera
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jenis pendekatan eksperimen laboratorium. Pelaksanaannya dilakukan
PROSES PELARUTAN ASAM SULFAT DAN ASAM KLORIDA TERHADAP HASIL REDUKSI TERAK TIMAH
PROSES PELARUTAN ASAM SULFAT DAN ASAM KLORIDA TERHADAP HASIL REDUKSI TERAK TIMAH Eko Sulistiyono*, F.Firdiyono dan Ariyo Suharyanto Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI Gedung 470, Kawasan Puspiptek
3 METODOLOGI PENELITIAN
3 METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk modifikasi elektroda pasta karbon menggunakan zeolit, serbuk kayu, serta mediator tertentu. Modifikasi tersebut diharapkan mampu menunjukkan sifat
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Pelaksanaannya dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu tahap penyiapan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam pembuatan dan analisis kualitas keju cottage digunakan peralatan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Dalam pembuatan dan analisis kualitas keju cottage digunakan peralatan antara lain : oven, autoklap, ph meter, spatula, saringan, shaker waterbath,
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2014, yang
32 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2014, yang dilakukan di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas
PENENTUAN KADAR KARBONAT DAN HIDROGEN KARBONAT MELALUI TITRASI ASAM BASA
PENENTUAN KADAR KARBONAT DAN HIDROGEN KARBONAT MELALUI TITRASI ASAM BASA 1 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan kadar natrium karbonat dan natrium hidrogen karbonat dengan titrasi
MODUL I Pembuatan Larutan
MODUL I Pembuatan Larutan I. Tujuan percobaan - Membuat larutan dengan metode pelarutan padatan. - Melakukan pengenceran larutan dengan konsentrasi tinggi untuk mendapatkan larutan yang diperlukan dengan
GRAVIMETRI PENENTUAN KADAR FOSFAT DALAM DETERJEN RINSO)
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK GRAVIMETRI PENENTUAN KADAR FOSFAT DALAM DETERJEN RINSO) NAMA : KARMILA (H311 09 289) FEBRIANTI R LANGAN (H311 10 279) KELOMPOK : VI (ENAM) HARI / TANGGAL : JUMAT / 22 MARET
EKSTRAKSI Th, La, Ce DAN Nd DARI KONSENTRAT Th LOGAM TANAH JARANG HASIL OLAH PASIR MONASIT MEMAKAI TBP
MV. Purwani, dkk. ISSN 0216 3128 47 EKSTRAKSI Th, La, Ce DAN Nd DARI KONSENTRAT Th LOGAM TANAH JARANG HASIL OLAH PASIR MONASIT MEMAKAI TBP MV Purwani, Suyanti dan Dwi Biyantoro P3TM BATAN ABSTRAK EKSTRAKSI
Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 8: Cara uji kadar hidrogen klorida (HCl) dengan metoda merkuri tiosianat menggunakan spektrofotometer
Standar Nasional Indonesia Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 8: Cara uji kadar hidrogen klorida (HCl) dengan metoda merkuri tiosianat menggunakan spektrofotometer ICS 13.040.40 Badan Standardisasi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan eksperimental. B. Tempat dan Waktu Tempat penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan
BAB III METODE PENELITIAN. laboratorium jurusan pendidikan biologi Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian
25 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium jurusan pendidikan kimia dan laboratorium jurusan pendidikan biologi Universitas Negeri Gorontalo.
METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT Penelitian dilaksanakan mulai 1 Agustus 2009 sampai dengan 18 Januari 2010 di Laboratorium SBRC (Surfactant and Bioenergy Research Center) LPPM IPB dan Laboratorium
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan yang digunakan Kerupuk Udang. Pengujian ini adalah bertujuan untuk mengetahui kadar air dan
Lampiran 1. Prosedur Analisis
L A M P I R A N 69 Lampiran 1. Prosedur Analisis A. Pengukuran Nilai COD (APHA,2005). 1. Bahan yang digunakan : a. Pembuatan pereaksi Kalium dikromat (K 2 Cr 2 O 7 ) adalah dengan melarutkan 4.193 g K
BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian. Lokasi pengambilan sampel bertempat di sepanjang jalan Lembang-
18 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian Lokasi pengambilan sampel bertempat di sepanjang jalan Lembang- Cihideung. Sampel yang diambil adalah CAF. Penelitian
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2015 di Laboratorium
23 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2015 di Laboratorium Kimia Anorganik/Fisik FMIPA Universitas Lampung. Penyiapan alga Tetraselmis sp
PENENTUAN EFISIENSI EKSTRAKSI URANIUM PADA PROSES EKSTRAKSI URANIUM DALAM YELLOW CAKE MENGGUNAKAN TBP-KEROSIN
PENENTUAN EFISIENSI EKSTRAKSI URANIUM PADA PROSES EKSTRAKSI URANIUM DALAM YELLOW CAKE MENGGUNAKAN TBP-KEROSIN Torowati Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir BATAN ABSTRAK PENENTUAN EFISIENSI EKSTRAKSI URANIUM
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Percobaan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu membuat nata dari bonggol nanas dengan menggunakan sumber nitrogen alami dari ekstrak kacang hijau. Nata yang dihasilkan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis / Rancangan Penelitian dan Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian true experiment dengan rancangan penelitian pre test and post test control group design
PEMBUATAN OKSIDA LOGAM TANAH JARANG DARI UMPAN HASIL DIJESTI PASIR SENOTIM DENGAN CARA PENGENDAPAN DAN KALSINASI
120 PEMBUATAN OKSIDA LOGAM TANAH JARANG DARI UMPAN HASIL DIJESTI PASIR SENOTIM DENGAN CARA PENGENDAPAN DAN KALSINASI Murdani Soemarsono dan Dwi Biyantoro P3TM BATAN ABSTRAK PEMBUATAN OKSIDA LOGAM TANAH
RECOVERY ALUMINA (Al 2 O 3 ) DARI COAL FLY ASH (CFA) MENJADI POLYALUMINUM CHLORIDE (PAC)
RECOVERY ALUMINA (Al 2 O 3 ) DARI COAL FLY ASH (CFA) MENJADI POLYALUMINUM CHLORIDE (PAC) Ninik Lintang Edi Wahyuni Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung Jl. Gegerkalong Hilir Ds Ciwaruga, Bandung 40012
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian tentang konversi biomassa kulit durian menjadi HMF dalam larutan ZnCl 2 berlangsung selama 7 bulan, Januari-Agustus 2014, yang berlokasi
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Juli 2014
33 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Juli 2014 di laboratorium Kimia Analitik Fakultas Matematika dan Ilmu
Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 6: Cara uji kadar amoniak (NH 3 ) dengan metode indofenol menggunakan spektrofotometer
Standar Nasional Indonesia Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 6: Cara uji kadar amoniak (NH 3 ) dengan metode indofenol menggunakan spektrofotometer ICS 13.040.40 Badan Standardisasi Nasional
Bab III Metodologi. III.1 Alat dan Bahan. III.1.1 Alat-alat
Bab III Metodologi Penelitian ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu isolasi selulosa dari serbuk gergaji kayu dan asetilasi selulosa hasil isolasi dengan variasi waktu. Kemudian selulosa hasil isolasi dan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan waktu penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset Kimia Lingkungan Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI yang beralamat di Jl. Dr. Setiabudhi No.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. waterbath, set alat sentrifugase, set alat Kjedalh, AAS, oven dan autoklap, ph
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Alat dan Bahan Dalam pembuatan dan analisis kualitas keju cottage digunakan peralatan waterbath, set alat sentrifugase, set alat Kjedalh, AAS, oven dan autoklap, ph meter,
BAB III METODE PENELITIAN. Gorontalo yaitu SMPN 1 Gorontalo, SMPN 2 Gorontalo, SMPN 3 Gorontalo,
22 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1 Lokasi Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini telah dilakukan pada 7 Sekolah Menengah Pertama Kota Gorontalo yaitu SMPN 1 Gorontalo, SMPN 2 Gorontalo,
Lampiran 1. Penentuan kadar ADF (Acid Detergent Fiber) (Apriyantono et al., 1989)
LAMPIRAN Lampiran 1. Penentuan kadar ADF (Acid Detergent Fiber) (Apriyantono et al., 1989) Pereaksi 1. Larutan ADF Larutkan 20 g setil trimetil amonium bromida dalam 1 liter H 2 SO 4 1 N 2. Aseton Cara
Air dan air limbah Bagian 19: Cara uji klorida (Cl - ) dengan metode argentometri (mohr)
Standar Nasional Indonesia Air dan air limbah Bagian 19: Cara uji klorida (Cl - ) dengan metode argentometri (mohr) ICS 13.060.50 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata....ii 1
LAMPIRAN. Lampiran 1 Dokumentasi Serbuk Rami padi yang telah di blender.
LAMPIRAN Lampiran 1 Dokumentasi Serbuk Rami padi yang telah di blender. Lampiran 2, Dokumentasi Mesin Berkas Elektron (MBE) 350 kev/10 ma. Lampiran 3, Dokumentasi Pengerjaan Dilaboratorium Stirer Rami
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK II
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK II PENENTUAN KADAR KLORIDA Selasa, 1 April 2014 EKA NOVIANA NINDI ASTUTY 1112016200016 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PEDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN III.1 Peralatan Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : - Spektrometer serapan atom ( Perkin-Elmer tipe Aanalyst 100 ) - Tungku karbon ( Perkin-Elmer
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. furnace, desikator, timbangan analitik, oven, spektronik UV, cawan, alat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Alat-alat yang digunakan Ayakan ukuran 120 mesh, automatic sieve shaker D406, muffle furnace, desikator, timbangan analitik, oven, spektronik UV, cawan, alat titrasi
Pupuk super fosfat tunggal
Standar Nasional Indonesia Pupuk super fosfat tunggal ICS 65.080 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Bahan Kimia Dan Peralatan. 3.1.1. Bahan Kimia. Minyak goreng bekas ini di dapatkan dari minyak hasil penggorengan rumah tangga (MGB 1), bekas warung tenda (MGB 2), dan
Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 3: Oksida-oksida sulfur (SO X ) Seksi 2: Cara uji dengan metoda netralisasi titrimetri
Standar Nasional Indonesia Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 3: Oksida-oksida sulfur (SO X ) Seksi 2: Cara uji dengan metoda netralisasi titrimetri ICS 13.040.40 Badan Standardisasi Nasional
L A M P I R A N. Lampiran 1. Dokumentasi. Gambar 1. Mesin Operator MBE. Gambar 2. Mesin Operator MBE
L A M P I R A N Lampiran 1 Dokumentasi Gambar 1. Mesin Operator MBE Gambar 2. Mesin Operator MBE Gambar 3. Indikator Radiasi MBE Gambar 4. Proses Iradiasi MBE Gambar 5. Mesin Berkas Elektron (MBE) Gambar
KARAKTERISASI LIMBAH RADIOAKTIF CAIR UMPAN PROSES EVAPORASI
KARAKTERISASI LIMBAH RADIOAKTIF CAIR UMPAN PROSES EVAPORASI Endro Kismolo, Nurimaniwathy, Tri Suyatno BATAN, Babarsari Yogyakarta 55281 E-mail :[email protected] ABSTRAK KARAKTERISASI LIMBAH RADIOAKTIF
Metodologi Penelitian
16 Bab III Metodologi Penelitian Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode titrasi redoks dengan menggunakan beberapa oksidator (K 2 Cr 2 O 7, KMnO 4 dan KBrO 3 ) dengan konsentrasi masing-masing
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Mixed Method, yaitu metode yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif
ILMU KIMIA ANALIT. Dr. Ir. Dwiyati Pujimulyani, MP
ILMU KIMIA ANALIT Dr. Ir. Dwiyati Pujimulyani, MP 2011 Lanjutan.. METODE ANALISIS KUANTITATIF SECARA GRAVIMETRI Cara-cara Analisis Gravimetri Presipitasi (pengendapan) Senyawa/ ion yang akan dianalisis
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE 3.1. BAHAN DAN ALAT 3.1.1 Bahan Baku Bahan baku yang digunakan adalah temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) berumur sembilan bulan yang telah diiris dan dikeringkan. Temulawak tersebut
Direndam dalam aquades selama sehari semalam Dicuci sampai air cucian cukup bersih
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan Bahan katalis yang digunakan pada penelitian ini adalah zeolit alam yang berasal dari Tasikmalaya Jawa Barat dan phospotungstic acid (HPW, H 3 PW 12 O 40 )
III. METODOLOGI PERCOBAAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan September
33 III. METODOLOGI PERCOBAAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan September 2013 di Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Matematika dan Ilmu
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian konversi lignoselulosa jerami jagung (corn stover) menjadi 5- hidroksimetil-2-furfural (HMF) dalam media ZnCl 2 dengan co-catalyst zeolit,
HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan
dan kemudian ditimbang. Penimbangan dilakukan sampai diperoleh bobot konstan. Rumus untuk perhitungan TSS adalah sebagai berikut: TSS = bobot residu pada kertas saring volume contoh Pengukuran absorbans
