BAB II KAJIAN LITERATUR
|
|
|
- Dewi Hadiman
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II KAJIAN LITERATUR Pada bab ini akan dijelaskan dasar dari dilakukannya penelitian yang terdiri dari dua bagian yaitu kajian induktif dan kajian deduktif. Kajian induktif adalah hasil dari penelitian terdahulu berupa jurnal dan yang melandasi dilakukannya penelitian. Sedangkan kajian deduktif adalah studi pustaka yang didapat dari buku, artikel, jurnal dan sumber lainnya yang dijadikan sebagai landasan teori dalam pengerjaan penelitian. 2.1 Kajian Induktif Pada sub bab ini, peneliti membahas kumpulan penelitian yang digunakan sebagai referensi dalam menulis penelitian ini. Penelitian yang digunakan sebagai referensi didapatkan dari berbagai website di internet serta kumpulan skripsi yang ada pada perpustakaan Universitas Islam Indonesia. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian adalah SCOR (Supply Chain Operations Reference), AHP (Analytical Hierarchy Process), Pertanian Organik serta SCM (Supply Chain Management). Dari kata kunci diataslah peneliti dapat menemukan berbagai macam penelitian dengan banyak metode dan objek. Berikut adalah tabel yang berisi penelitian-penelitian yang digunakan sebagaireferensi :
2 8 Tabel 2.1 Kajian Penelitian Sebelumnya No Judul 1 Identifikasi Risiko Manajemen Rantai Pasok Beras Organik Peneliti (tahun) Infandra Irfak Zainudin Ridwan Metode Hasil Kajian Lokasi Deep interview dan Forum group discussion Yang menjadi kendala utama dalam SCM Beras organik yaitu risiko gangguan kerusakan peralatan selama pengolahan, risiko kerusakan komoditas selama proses produksi, risiko penurunan hasil produksi dan risiko produk mengalami kontaminasi selama proses pengolahan. MUTOS, Kabupaten Mojokerto 2 Pengukuran Kinerja Supply Chain Management dengan Pendekatan SCOR 3 Pengukuran Kinerja Supply Chain Dengan Menggunakan Metode SCOR dan AHP 4 Pengukuran Performansi Rantai Pasok Pada Industri Batik Tipe Produksi Make- To-Stock Dengan Menggunakan Model SCOR 11.0 Dan Pembobotan AHP Latifa Dinar W. (2013) Lenny Oktaviani (2013) Chandra Yuda Pratama (2015) SCOR, AHP SCOR, AHP SCOR 11.0, AHP Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan produksi. Dengan 24 KPI yang terpilih nilai tertinggi ada pada proses Source dan terendah proses Plan. Nilai akhirnya 74,06 yang termasuk dalam kategori Good. Dari hasil perhitungan SCOR IKM Wajiyo Handicraft masuk pada level 72,151 dari skala Hal ini menunjukkan bahwa kinerja rantai pasok dari perusahaan cukup baik Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kinerja rantai pasok pada Batik Gunawan termasuk dalam kategori Average dengan nilai 68.79%. UKM Batik Sekar Arum IKM Wajiyo Handicraft, Yogyakarta Batik Gunawan Setiawan, Surakarta
3 9 Tabel 2.1 Kajian Penelitian Sebelumnya (lanjutan) 5 AHP and SCOR Model to Support Supply Chain Redesign 6 Performance Measurement in Agrifood Supply Chains : A Case Study 7 A SCOR Based Approach for Measuring a Benchmarkable Supply Chain Performance Jaime A. Palma Mendoza (2014) Lusine H. Aramyan (2007) Batuhan Kocao glu (2010) SCOR, AHP Interview. Deskriptif SCOR, AHP, TOPSIS Peneliti berkesimpulan bahwa SCOR model dan AHP direkomendasikan untuk memilih target yang akan di re-design. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kegunaan model (indikator efficiency, flexibility, responsiveness, food quality) sebagai cara penilaian kinerja rantai pasok pada agri-food. Hasilnya keempat indicator diatas memang baik digunakan sebagai penilaian kinerja pada agri-food. Pada penelitian ini SCOR digunakan untuk mengaitkan tujuan strategis dengan metriks. AHP digunakan untuk analisis hierarki metric dan menentukan pembobotan. TOPSIS digunakan untuk membuat normalisasi nilai metric. Rantai pasok tomat Belanda- Jerman Turki Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah SCOR 11.0 dengan AHP. Dari semua kajian penelitian diatas, penelitian milik Chandra Yuda Pratama (2015) memiliki kemiripan yang lebih dibanding yang lain. Perbedaan ada pada penggunaan normalisasi Snorm de Boer untuk menghitung nilai metrik, tipe produksi make-to-order serta tempat penelitian di Kelompok Tani Rukun Padasan.
4 Kajian Deduktif Pertanian Organik Pertanian organik adalah sistem pertanian alternative yang ditemukan pada awal abad 20 sebagai reaksi atas cepatnya perubahan praktek pertanian. Dan sekarang ini pertanian organik terus dikembangkan oleh banyak organisasi pertanian. Salah satu organisasi yang mengembangkannya adalah IFOAM atau International Federation of Organic Agriculture yang berdiri di tahun IFOAM mendefinisikan pertanian organik sebagai sistem produksi yang memperhatikan kesehatan tanah, ekosistem juga manusia. Jadi pertanian ini bergantung pada proses ekologi, kenakeragaman hayati, dan menyesuaikan siklus pada kondisi lokal daripada harus menggunakan input yang memiliki efek samping. Secara ringkas, IFOAM (2005) mendefinisikan 4 prinsip pada sistem pertanian organik ini, yaitu : 1. Prinsip kesehatan Pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan 2. Prinsip Ekologi Prinsip organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi kehidupan. 3. Prinsip Keadilan Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama. 4. Prinsip Perlindungan Pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup
5 11 Sutanto (2002) berpendapat, tujuan jangka panjang yang akan dicapai dari praktek pertanian organik ini adalah sebagai berikut : 1. Melindungi dan melestarikan keragaman hayati serta fungsi keragaman dalam bidang pertanian 2. Memasyarakatkan kembali budi daya organik yang sangat bermanfaat dalam mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan sehingga menunjang kegiatan budi daya pertanian yang berkelanjutan 3. Membatasi terjadinya pencemaran lingkungan hidup akibat residu pestisida dan pupuk, serta bahan kimia pertanian lainnya 4. Mengurangi ketergantungan peani terhadap masukan dari luar yang berharga mahal dan menyebabkan pencemaran lingkungan 5. Meningkatkan usaha konversi tanah dan air, serta mengurangi masalah erosi akibat pengolahan tanah yang intensif 6. Mengembangkan dan mendorong kembali muncuknya teknologi pertanian organian yang telah dimiliki petani secara turun-temurun dan merangsang kegiatan penelitian pertanian organik oleh lembaga penelitian dan universitas. 7. Membantu menignkatkan kesehatan masyarakat dengan cara menyediakan produkproduk pertanian bebas pestisida, residu pupuk, dan bahan kimia pertanian lainnya. 8. Meningkatkan peluang pasar produk organik, baik domestic maupun global dengan menjalin kemitraan antara petani dan pengusaha yang bergerak dalam bidang pertanian. Sejak tahun 1990, pasar untuk makanan organik dan produk lainnya tumbuh dengan cepat hingga mencapai 63 triliun dolar di seluruh dunia pada tahun Permintaan ini telah mendorong peningkatan lahan pertanian organik yang tumbuh dari tahun 2001 hingga 2011 di mencapai persentase 8,9% pertahun. Dan pada tahun 2011, lahan pertanian di dunia mencapai sekitar hektar. (Wikipedia)
6 Kinerja dan Penilaian Kinerja Kinerja menurut Mohammad Ikbal Bahua (2016), adalah hasil kerja atau prestasi kerja seseorang dalam suatu organisasi, baik organisasi pemerintah maupun swasta. Menurut Yuchtman dan Seashore (1967) dalam Mohammad Ikbal Bahua (2016), kinerja adalah kemampuan suatu organisasi yang memanfaatkan lingkungannya untuk mengakses sumber daya yang terbatas, untuk pengukurannya mencakup persepsi dari berbagai stakeholder dalam organisasi dan pengukuran ini mencakup keberhasilan pekerjaan dalam memncapai tujuan. Penilaian adalah suatu proses yang berkesinambungan, tetapi merupakan sesuatu yang selalu penting utuk melaporkan prestasi dan kemajuan dalam suatu periode waktu, agar cerita yang lebih menyeluruh dapat diciptakan untuk membentuk suatu dasar pertimbangan suatu tindakan (Armstrong, 1988). Suatu penilaian juga harus objektif bukan subjektif, supaya nantinya terdapat kesepakatan antara atasan dan bawahan yang dalam penelitian ini adalah antara seluruh anggota rantai pasokan beras organik. Penilaian kinerja menurut Handoko (1988), adalah proses melalui mana organisasiorganisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja. Sedangkan penilaian kinerja menurut Dessler (1997), adalah suatu prosedur yang meliputi penetapan standar kinerja,penilaian kinerja actual karyawan dalam hubungan dengan standar-standar ini, memberi umpan balik kepada karyawan dengan tujuan memotivasi untuk menghilangkan kemerosotan kinerja atau bekerja lebih baik lagi.menurut APICS (2015), dalam pengukuran kinerja rantai pasokan, ada beberapa pengukuran untuk mengetahui kinerja suatu organisasi, yaitu : 1. Kinerja sebelumnya, untuk mengetahui seperti apa peningkatan atau penurunannya 2. Kinerja yang diinginkan kedepannya, untuk menunjukkan seberapa dekat atau jauhnya kinerja sekarang dengan tujuan 3. Kinerja competitor 4. Kinerja rata-rata dari industry-industri lainnya
7 13 5. Kinerja best in class, yaitu dibandingkan dengan kinerja dari industry yang terbaik pada kelasnya Berdasarkan uraian diatas, melakukan suatu pengukuran kinerja secara rutin, dapat mempengaruhi kinerja anggota rantai pasok. Menurut I Nyoman Pujawan (2005), pengukuran kinerja pada supply chain diperlukan untuk : 1. Melakukan monitoring dan pengendalian 2. Mengkomunikasikan tujuan organisasi ke fungsi-fungsi pada supply chain 3. Mengetahui dimana posisi suatu organisasi relative terhadap pesaing maupun terhadap tujuan yang hendak dicapai 4. Menentukan arah perbaikan untuk menciptakan keunggulan dalam bersaing Supply Chain Management Supply chain atau rantai pasok adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-bersama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir (I Nyoman Pujawan, 2005). Supply Chain menurut APICS (2015), adalah sekumpulan proses yang berhubungan terjadi pada perubahan bahan baku kemudian berubah menjadi produk atau jasa untuk didistribusikan ke pelanggan. Berdasarkan APICS Dictionary 14 th edition, pada APICS (2015), Supply Chain Management adalah desain, perencanaan, pelaksanaan, pengontrolan, dan pengamatan aktifitas rantai pasok dengan tujuan membuat jaringan yang bernilai, membangun infrastruktur yang kompetitif, meningkatkan logistic dunia, menyamakan persediaan dengan permintaan dan mengukur performansi secara global. Tujuan utama dari adanya supply chain management menurut APICS (2015), adalah membantu perusahaan dalam : 1. Menambah nilai untuk pelanggan dan stakeholder 2. Memperbaiki pelayanan pelanggan 3. Efektif dalam penggunaan sumber daya 4. Efisien dalam penggunaan sumber daya
8 14 5. Meningkatkan kekuatan partner Untuk disebut sebuah rantai pasok, minimal terdapat 3 entitas didalamnya (APICS, 2015) : 1. Supplier atau pemasok, yaitu penyedia barang atau jasa dimana pembelinya melakukan bisnis. Pemasok menyediakan bahan, energy, jasa atau komponen yang digunakan untuk memproduksi produk atau jasa. 2. Producer atau produsen yaitu yang menerima jasa, bahan, pasokan, energy dan komponen untuk membuat produk jadi. 3. Customer atau pelanggan, adalah yang menerima pengiriman barang jadi untuk dikirimkan pada pelanggannya. Terdapat 4 aliran yang menghubungkan entitas rantai pasok (APICS, 2015), yaitu: : 1. Aliran informasi yang bolak-balik sepanjang rantai pasok. 2. Aliran produk primer, termasuk bahan material dan jasa dari supplier lewat entitas perantara yang emrubah ke suatu barang yang didistribusikan ke pelanggan. 3. Aliran uang dari pelanggan hingga kembali ke supplier bahan baku 4. Aliran arus balik suatu produk yang dikembalikan untuk diperbaiki, daur ulang, diproduksi ulang atau dibuang. Dapat didefinisikan juga sebagai perencanaan dan pengendalian proses memindahkan barang dari titik konsumsi kembali pada titik asal untuk di perbaiki, pembaruan, daur ulang atau pembuangan (APICS Dictionary dalam APICS (2015)). Manfaat dari penguasaan ilmu supply chain management adalah (APICS, 2015) : 1. Meningkatkan kemampuan pemasaran 2. Meningkatkan kecepatan, kesadaran dan mengurangi variabilitas pada aliran barang dan jasa, biaya serta informasi. 3. Pengoperasian yang efisien 4. Meningkatkan manajemen resiko 5. Meningkatkan sustainability
9 Supply Chain Operations Reference 11.0 (SCOR 11.0) Supply Chain Operations Reference model atau model SCOR ditemukan oleh Supply Chain Council Inc, sebuah organisasi non-profit yang membuat metodologi, diagnosa, alat benchmarking untuk membantu perusahaan dalam melakukan perbaikan proses supply chain. SCC membuat model SCOR untuk mengukur cross-functional dan crosscompany pada proses supply chain. Didalamnya terdapat sekumpulan metrik untuk menghitung nilai numerik untuk atribut kinerja, yang digunakan untuk membandingkan kinerja antar industry, dengan kinerja sebelumnya maupun dengan goal perusahaan. SCOR 11.0 adalah revisi model SCOR yang ke 13 semenjak diperkenalkan pada tahun SCOR 11.0 sendiri baru dikeluarkan pada tahun 2012 lalu. Setiap SCOR yang diperbarui memiliki beberapa perubahan untuk memperbaiki model yang lama. Pada buku milik John Paul disebutkan beberapa perbedaan SCOR 11.0 dengan SCOR sebelumnya, yaitu sebagai berikut: 1. Metrik Biaya Metrik level 1 baru (Total Cost to Serve total biaya untuk melayani) digunakan untuk menggantikan metric biaya sebelumnya. Hal ini dikarenakan metric sebelumnya masih memiliki kekurangan seperti membingungkan, tidak focus, rentan untuk mendapatkan hasil yang salah dan sulit untuk di benchmark. 2. Proses Enable Proses ini sekarang dijadikan sebagai proses di level 1 bukan lagi di level Praktik-praktik SCOR 11.0 memperkenalkan empat kualifikasi praktik yaitu Emerging, Best, Standard dan Declining, yang menjelaskan bahwa tidak semua praktik bisnis dianggap sebagai praktik terbaik.
10 Ruang Lingkup SCOR Model SCOR memiliki enam proses inti yaitu, Plan, Make, Souce, Deliver, Return dan Enable. Dengan adanya enam proses inti tersebut, supply chain baik yang sederhana maupun kompleks dapat dideskripsikan menggunakan seperangkat definisi. Model ini terbukti telah berhasil mendeskripsikan dan menyediakan hal dasar untuk perbaikan supply chain baik secara global maupun spesifik. Gambar 2.1 Proses inti supply chain pada SCOR 11.0 (Sumber: Supply Chain Council) Enam proses inti SCOR pada gambar diatas meliputi semua interaksi pelanggan mulai dari masuknya pesanan hingga dibayarnya tagihan, semua transaksi produk ((bahan dan jasa) termasuk peralatan, suku cadang, software, produk dalam jumlah besar, dll), semua interaksi pasar mulai dari permintaan agregat melalui pemenuhan pesanan. Namun SCOR versi 11.0 ini tidak dapat diaplikasikan pada proses berikut penjualan dan pemasaran, penelitian dan pengembangan teknologi, pengembangan produk, beberapa elemen pada penyedia jasa post-delivery ke pelanggan. Berikut adalah penjelasan mengenai enam proses inti diatas :
11 17 1. Plan Proses plan mendeskripsikan tentang rencana aktifitas terkait dengan rantai pasokan. Termasuk mengumpulkan kebutuhan pelanggan, mengumpulkan informasi pada sumber daya yang ada serta menyeimbangkan kebutuhan dengan sumber daya untuk menentukan kemampuan (kapasitas) yang direncanakan dan celah sumber daya. Kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi tindakan yang dibutuhkan untuk memperbaiki adanya celah. 2. Source Proses source mendeskripsikan pemesanan (atau penjadwalan) dan menerima barang serta jasa yang datang. Termasuk masalah pemesanan pembelian (purchase orders), penjadwalan pengiriman yang akan datang (scheduling incoming deliveries), menerima (receiving), validasi pengiriman dan penyimpanan (shipment validation and storage), dan menerima faktur supplier (accepting supplier invoices). 3. Make Proses make mendeskripsikan aktifitas yang terkait dengan konversi material atau pembuatan konten untuk pelayanan. Proses ini lebih fokus pada konversi material daripada produksi atau pembuatannya karena proses make mewakilkan semua tipe konversi material (assembly, proses kimia, maintenance, perbaikan, pemeriksaan, daur ulang, pembaruan dan pembuatan ulang,dll). Proses ini dikenal dengan 1 barang atau lebih masuk, 1 barang atau lebih keluar. 4. Deliver Proses deliver mendeskripsikan tentang aktifitas yang terkait dengan pembuatan, maintenance dan pemenuhan pesanan pelanggan. Termasuk dalam menerima, validasi dan membuat pesanan pelanggan, penjadwalan pengiriman pesanan, memilih, membungkus, dan mengirim serta mengirim faktur ke pelanggan
12 18 5. Return Proses return mendeskripsikan aktiftas yang terkait dengan arus balik barang dari pelanggan (pengembalian). Termasuk identifikasi kebutuhan pengembalian, membuat keputusan pembuangan, penjadwalan pengembalian, pengiriman dan mengembalian barang yang dikembalikan. (Perbaikan, pendauran ulang, perbaruan, pembuatan ulang tidak termasuk dalam proses ini namun termasuk dalam make) 6. Enable Proses enable mendeskripsikan aktifitas yag terkait dengan pendirian perawatan, pengamatan informasi, relasi, sumber daya asset, aturan bisnis, pemenuhan dan kontrak yang dibutuhkan oleh rantai pasok. Proses ini mendukung realisasi dan memimpin perencanaan serta pelaksanaan proses rantai pasokan. Gambar 2.2 Hirarki Proses SCOR (Sumber: Supply Chain Council) Pada gambar diatas dapat dijelaskan bahwa SCOR memiliki 4 level, yaitu level 1 atau Process Types, level 2 atau Process Categories, level 3 atau Process Elements,
13 19 level 4 atau Activities. Berikut adalah penjelasan singkat mengenal semua level pada SCOR Level 1, merupakan konfigurasi level tinggi yang mendeskripsikan ruang lingkup dalam proses supply chain. Level ini terdiri dari enam proses inti, plan, make, source, deliver, return dan enable. 2. Level 2, mendefinisikan strategi operasi dalam proses supply chain. Contohnya adalah make to stock, make to order, engineer to order, dll. 3. Level 3, mendeskripsikan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menjalani proses level 2. Langkah-langkah inilah yang nantinya berpengaruh pada performansi proses level 2 dalam supply chain. Pada level ini fokusnya pada proses, input dan output, performansi proses, penerapan, kapabilitas teknologi dan skill dari staff. Contohnya adalah Schedule deliveries, Verify Product, Package, dll. 4. Level 4, adalah level yang sengaja tidak didetailkan karena semuanya terserah pada perusahaan masing-masing. Level ini membuat deskripsi proses standar dari aktifitas pada level 3. Contohnya seperti pemilihan barang, langkah-langkah spesifik teknologi, lokasi dll Performansi SCOR Performansi dalam SCOR terdiri dari dua elemen yaitu, atribut kinerja dan metriks. Atribut kinerja adalah sekelompok metrik yang digunakan untuk mengungkapkan strategi. Sebuah atribut tidak dapat diukur namun digunakan untuk mengatur arah strategi. Sedangkan metriks adalah standard pengukuran performansi supply chain. Atribut kinerja pada model SCOR adalah sebagai berikut : 1. Reliability, yaitu persentase order yang dipenuhi dengan tepat (waktu, tidak cacat,dll). Atribut ini focus pada prediksi keluaran proses, 2. Responsiveness, yaitu banyaknya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pengiriman. Reliability dan Responsiveness adalah atribut yang berfokus langsung pada konsumen dan bagus diterapkan pada strategi loyalitas konsumen.
14 20 3. Agility, yaitu kemampuan rantai pasokan untuk merespon pada pemesanan yang tidak terencana dalam jumlah besar (atau lebih kecil) dari yang diharapkan atau lebih cepat dari yang diharapkan. 4. Cost, yaitu biaya untuk mengoperasikan proses supply chain. Termasuk biaya pegawai, material, manajemen dan transportasi. 5. Asset Management Efficiency, yaitu kemampuan untuk memanfaatkan asset secara efisien. Atribut ini termasuk pengurangan inventory, in-sourcing, serta outsourcing. Tabel 2.2 Atribut Kinerja dalam SCOR 11.0 Atribut Kinerja Definisi Atribut Kinerja Level 1- metric Reliability Kinerja supply chain pada saat - Perfect order fulfillment pengiriman, barang, waktu, tempat, kondisi dan packaging, jumlah, dokumen, pelanggan, yang benar (sesuai) Responsiveness Kecepatan yang rantai pasok - Order fulfillment cycle sediakan pada pelanggan. time Agility Kemampuan supply chain untuk merespon perubahan pada pasar - Upside supply chain flexibility untuk mendapatkan atau - Upside supply chain mempertahankan keunggulan adaptability kompetitif - Downside supply chain adaptability - Overall value at risk Cost Biaya operasi supply chain - Total cost to serve Asset Management Keefektifan organisasi dalam mengelola asset untuk mendukung kepuasan permintaan, termasuk manajemen keseluruhan asset, modal fixed dan working - Cash-to-cash cycle time - Return on supply chain fixed assts - Return on working capital Masing masing metric penilaian kinerja pada SCOR memiliki satuan yang berbedabeda, maka dari itu diperlukan sebuah cara untuk menyamakan semua nilai sehingga dapat diketahui nilai akhir di keseluruhan kinerja SCOR. Metode yang digunakan adalah metode normalisasi Snorm de Boer. Masing-masing indicator kierja akan memiliki nilai kinerja (Iriani (2009) dalam Lenny (2013)). Proses normalisasi dilakukan dengan rumus sebagai berikut :
15 21 Si Smin (Smax Smin) x 100 (1) Si = Nilai indicator actual yang berhasil dicapai Smin = Nilai pencapaian performansi terburuk dari indicator performansi Smax = Nilai pencapaian performansi terbaik dari indicator performansi Pada pengukuran ini, setiap bobot indicator dikonversikan ke dalam interval nilai tertentu yaitu 0 hingga adalah yang paling jelek sedangkan 100 diartikan paling baik. Penentuan nilai dapat diperoleh melalui hasil wawancara dengan pihak top management perusahaan serta data historis perusahaan selama periode tertentu. Dengan demikian parameter dari setiap indicator sama sehingga didapatkan sebuah hasil yang dapat dianalisa. Adapun kategori yang digunakan dalam pengukuran performansi dikelompokkan berdasarkan tingkat persentase dari masing-masing hasil pengukuran. Berikut adalah tabel dari sistem monitoring dan indicator performansi dalam rantai pasok menurut Volby (2000) dalam Chandra Yudha Pratama (2015): Tabel 2.3 Sistem Indikator & Indikator Performansi Sistem Indikator Indikator Performansi <40 Poor Marginal Average Good >90 Excellent Analytical Hierarchy Process (AHP) AHP pertama kali dikenalkan oleh Thomas L. Saaty, adalah suatu metode yang dikembangkan untuk mengurutkan alternative keputusan dengan struktur yag matematis
16 22 (Marshall, 1995). AHP menurut Thomas L. Saaty (1993) adalah suatu model yang fleksibel dan memberikan kesempatan pada orang-orang untuk membangun gagasan dan mendefinisikan persoalan dengan asumsi masing-masing sehinga memperoleh pemecahan masalah yang diinginkan. AHP merupakan proses pengambilan keputusan yang cocok untuk menangani masalah politik, dan sosio-ekonomi yang kompleks. Hasil dari AHP ini sangat bergantung pada imajinasi, pengalaman, pengetahuan dalam menyusun hirarki, logika,juga intuisi. Proses ini juga banyak diterapkan pada persoalan nyata terutama berguna untuk pengalokasian sumber daya, perencanaan, analisis pengaruh kebijakan dan penyelesaian konflik. Berikut adalah keuntungan dalam menggunakan AHP : 1. Kesatuan. AHP memberisatu model tunggal yang mudah dimengerti dan luwes untuk aneka ragam persoalan yang tak terstruktur 2. Kompleksitas. AHP memadukan rancangan deduktif dan rancangan yang berdasar pada sistem pemecahan masalah kompleks 3. Saling ketergantungan. AHP dapat menangani saling ketergantungan elemenelemen dalam suatu sistem dan tak memaksakan pemikiran linier 4. Penyusunan Hirarki. AHP mencerminkan kecenderungan alami manusia untuk memilih elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa dalam tngkat. 5. Pengukuran. AHP memberikan skala untuk pengukuran serta menetapkan prioritas. 6. Konsistensi. AHP melacak konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menetapkan prioritas. 7. Sintesis. AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan suatu alternative. 8. Tawar menawar. AHP mempertimbangkan prioritas-prioritas relative dari berbagai faktor sistem dan memungkinkan orang memilih alternative terbaik sesuai dengan tujuan. 9. Penilaian dan consensus. AHP tidak memaksakan consensus namun mensintesis hasil yang representative dari berbagai perbedaan penilaian. 10. Pengulangan proses. AHP memungkinkan untuk memperhalus definisi mereka pada suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian melalui pengulangan.
17 23 Dalam pemecahan masalah menggunakan AHP ada beberapa prinsip yang harus dipahami diantaranya adalah (Kusrini, 2007) : a. Membuat hierarki Sistem yang kompleks dapat dipahami dengan memecahnya menjadi elemenelemen pendukung, menyusun elemen secara hierarki, dan menggabungkannya. b. Penilaian kriteria dan alternatif Kriteria dan alternatif dilakukan dengan perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1988), untuk berbagai persoalan skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik untuk mengekspresikan pendapat. Berikut adalah skala penilaian perbandingan berpasangan :. Tabel 2.4 Skala Penilaian Perbandingan Berpasangan Intensitas Keterangan Kepentingan 1 Kedua elemen sama penting 3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya 5 Elemen yang satu lebih penting dari pada elemen lainnya 7 Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya 9 Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya 2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan c. Menentukan prioritas (Synthesis Of Priority) Setiap kriteria dan alternatif perlu dilakukan perbandingan berpasangan (Pairwise Comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif dari seluruh alternatif kriteria dapat disesuaikan dengan judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot
18 24 dan prioritas. Bobot dan prioritas dihitung dengann memanipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematika. d. Konsistensi logis (Logical Consistency) Konsistensi memiliki dua makna. Pertama objek-objek yang serupa bisa dikelompokkan sesuai dengann keseragaman dan relevansi. Kedua, menyangkut tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada kriteria tertentu. Prosedur atau langkah-langkah dalam metode AHP meliputi (Kusrini, 2007) : a. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, kemudian menyusun hierarki permasalahan. b. Menentukan prioritas elemen - Langkah pertama dengan membuat perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan sesuai kriteria yang diberikan. - Kedua, matriks perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk mempresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang lainnya. Tabel 2.5 Matriks Perbandingan Berpasangan n C A A A 1 a A a A a a... n1 n2 n 1n 2n.. A a a. 1
19 25 Tabel 2.6 Matriks Perbandingan Berpasangan dengan nilai W n C A A A W W. 1/W 1 1/W 2.. A W W. 2/W 1 2/W A W W. n/w 1 n/w 2.. n 1/W n 2/W n.. n/w n A W W. W c. Sintesis Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan di sintensis untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Langkahnya adalah sebagai berikut : - Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom matriks. - Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks. - Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata. d. Mengukur Konsistensi Dalam pembuatan keputusan, penting untuk mengetahui seberapa baik konsistensi yang ada karena kita tidak menginginkan keputusan berdasarkan pertimbangan dengan konsistensi yang rendah. Hal-hal yang dilakukan untuk langkah ini adalah: - Kalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relatif elemen pertama, nilai pada kolom kedua dengan prioritas relatif elemen kedua, dan seterusnya. - Jumlahkan setiap baris. - Hasil dari penjumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif yang bersangkutan. - Jumlahkan hasil bagi di atas dengan banyaknya elemen yang ada, hasilnya disebut λ maks.
20 26 e. Menghitung Consistency Index (CI) dengan rumus : CI = λ max n n 1 (2) Ket. n = Banyak elemen f. Hitung Rasio Konsistensi/Consistensy Ratio (CR) dengan rumus : CR = CI IR.(3) Ket. CR = Consistency Ratio CI = Consistency Index IR = Indeks Random Consistency g. Memeriksa konsistensi hierarki Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data judgment harus diperbaiki, sehingga pengisian nilai-nilai pada matriks berpasangan pada unsur kriteria maupun alternatif harus dihitung ulang hingga hasil dari nilai perbandingan matriks kriteria sudah konsisten. Namun jika rasio konsistensi (CI/IR) kurang atau sama dengan 0,1, maka hasil perhitungan bisa dinyatakan benar. Daftar Indeks Random Konsistensi (IR) bisa dilihat pada tabel 2.5. Tabel 2.7 Daftar Nilai Random Indeks n RI 0,00 0,00 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49
21 27 Hasil akhir berupa prioritas global sebagai acuan/nilai untuk pengambilan keputusan berdasarkan nilai tertinggi Geometric Mean Perhitungan metriks perbandingan berpasangan menghasilkan bobot yang nantinya digunakan dalam perhitungan SCOR. Apabila metriks perbandingan ini memiliki lebih dari satu penilaian, maka diperlukan sebuah metode untuk menggabungkan keseluruhan data tersebut. Geometric mean adalah sebuah metode pencari rata-rata yang dilakukan dengan mencari nilai rata-rata dari penilaian tersebut. Geometric mean dapat dikatakan konsisten ketika metriks perbandingannya konsisten (Edit, 2008). Berikut adalah rumusnya : n μij = aij1 aij2 aijn (4) Ket. μij aijn n = Geometric Mean baris ke-i kolom ke-j = Nilai perbandingan antara kriteria ai dengan aj untuk partisipan ke-n = Jumlah partisipan/expert
BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pemilihan Supplier Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan kegiatan strategis terutama apabila supplier tersebut memasok item yang kritis atau akan digunakan
PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DENGAN PENDEKATAN SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR) (Studi Kasus: UKM Batik Sekar Arum, Pajang, Surakarta) NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat
RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN
RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN Yosep Agus Pranoto Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri
Pengukuran Kinerja SCM
Pengukuran Kinerja SCM Pertemuan 13-14 Dalam SCM, manajemen kinerja dan perbaikan secara berkelanjutan merupakan salah satu aspek fundamental. Oleh sebab itu diperlukan suatu sistem pengukuran yang mampu
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Saat ini dunia perindustrian berkembang semakin pesat dan mengakibatkan persaingan antar perusahaan yang semakin ketat. Kondisi ini menuntut dihasilkannya produk atau jasa yang lebih baik, lebih
BAB III METODOLOGI. benar atau salah. Metode penelitian adalah teknik-teknik spesifik dalam
BAB III METODOLOGI Metodologi merupakan kumpulan prosedur atau metode yang digunakan untuk melakukan suatu penelitian. Menurut Mulyana (2001, p114), Metodologi diukur berdasarkan kemanfaatannya dan tidak
Bab V Pengolahan Data dan Analisis
20 Bab V Pengolahan Data dan Analisis V. Analisis Model Menurut SCOR Versi 9.0, atribut SCOR terdiri atas: Atribut dari sisi pelanggan. Keandalan (Reliability) 2. Ketanggapan (Responsiveness). Ketangkasan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Vendor Dalam arti harfiahnya, vendor adalah penjual. Namun vendor memiliki artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam industri yang menghubungkan
ISSN VOL 15, NO 2, OKTOBER 2014
PENERAPAN METODE TOPSIS DAN AHP PADA SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN PENERIMAAN ANGGOTA BARU, STUDI KASUS: IKATAN MAHASISWA SISTEM INFORMASI STMIK MIKROSKIL MEDAN Gunawan 1, Fandi Halim 2, Wilson 3 Program
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang
1 Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Persaingan perusahaan-perusahaan sangat ketat dalam era globalisasi ini yang menghendaki perdagangan bebas. Persaingan yang sengit dalam pasar global sekarang ini,
STRATEGI PENINGKATAN KINERJA RANTAI PASOK UKM BATIK DENGAN SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR)
STRATEGI PENINGKATAN KINERJA RANTAI PASOK UKM BATIK DENGAN SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR) Mila Faila Sufa 1*,Latifa Dinar Wigaringtyas 2, Hafidh Munawir 3 1,2,3 Jurusan Teknik Industri, Universitas
MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)
Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Definisi AHP (Analytic Hierarchy Process) merupakan suatu model pengambil keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty yang menguraikan masalah multifaktor
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan dipresentasikan metodelogi penelitian yang diuraikan menjadi tujuh sub bab yaitu fokus kajian dan tempat, diagram alir penelitian, k-chart penelitian, konseptual
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Metode Analytical Hierarchy Process 2.2.1 Definisi Analytical Hierarchy Process (AHP) Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika. Metode ini adalah
PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS DI PT. EWINDO BANDUNG)
PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS DI PT. EWINDO BANDUNG) Hendang Setyo Rukmi Hari Adianto Dhevi Avianti Teknik Industri Institut Teknologi
Pengukuran Performansi Perusahaan dengan Menggunakan Metode Supply Chain Operation Reference (SCOR)
Pengukuran Performansi Perusahaan dengan Menggunakan Metode Supply Chain Operation Reference (SCOR) Darojat 1), Elly Wuryaningtyas Yunitasari 2) 1,2) Program Studi Teknik Industri, Universitas Sarjanawiyata
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Sistem Pendukung Keputusan Sistem pendukung keputusan ( decision support systems disingkat DSS) adalah bagian dari sistem informasi berbasis computer termasuk sistem berbasis
PENGUKURAN KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN SUPPLY CHAIN MELALUI PENDEKATAN SCOR MODEL DI PT. LASER JAYA SAKTI,Tbk GEMPOL, PASURUAN SKRIPSI
PENGUKURAN KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN SUPPLY CHAIN MELALUI PENDEKATAN SCOR MODEL DI PT. LASER JAYA SAKTI,Tbk GEMPOL, PASURUAN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 14 LANDASAN TEORI 2.1 Proses Hierarki Analitik 2.1.1 Pengenalan Proses Hierarki Analitik Proses Hierarki Analitik (Analytical Hierarchy Process AHP) dikembangkan oleh Dr. Thomas L. Saaty dari Wharton
27 Penentuan dan pembobotan KPI...(Ariani dkk)
27 Penentuan dan pembobotan KPI...(Ariani dkk) PENENTUAN DAN PEMBOBOTAN KEY PERFORMANCE INDICATOR (KPI) SEBAGAI ALAT PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK PRODUKSI KEJU MOZARELLA DI CV. BRAWIJAYA DAIRY INDUSTRY
III. METODOLOGI PENELITIAN
21 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian Tingginya persaingan bisnis di berbagai bidang industri, telah meningkatkan daya saing perusahaan menjadi penting dalam hal efektifitas dan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Pemilihan Supplier dan Kriteria Dalam industri manufaktur, pemilihan supplier akan memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja dari perusahaan (Herbon dkk,
DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL. HALAMAN PRASYARAT GELAR MAGISTER.. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING TESIS HALAMAN PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS ABSTRAKSI.
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. HALAMAN JUDUL. HALAMAN PRASYARAT GELAR MAGISTER.. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING TESIS HALAMAN PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS ABSTRAKSI. DAFTAR ISI. DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. yang di lakukan oleh Agus Settiyono (2016) dalam penelitiannya menggunakan 7
BAB 2 2.1. Tinjauan Pustaka TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Tinjauan pustaka yang dipakai dalam penelitian ini didapat dari penelitian yang di lakukan oleh Agus Settiyono (2016) dalam penelitiannya menggunakan
PENGUKURAN KINERJA SCOR PADA PERENCANAAN BAHAN BAKU DI IKM TPT ABC DAN XYZ DENGAN PENDEKATAN OBJECTIVE MATRIX
PENGUKURAN KINERJA SCOR PADA PERENCANAAN BAHAN BAKU DI IKM TPT ABC DAN XYZ DENGAN PENDEKATAN OBJECTIVE MATRIX Meliantika 1), Widya Nurcahaya Tanjung 2), Nunung Nurhasanah 3) 1)2)3) Teknik Industri, Fakultas
III. METODOLOGI PENELITIAN Metodologi Penelitian dan Pengumpulan Data. tempat dan waktu btertentu. Metode pengumpulan dengan melakukan
41 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metodologi Penelitian dan Pengumpulan Data Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus yaitu pengamatan yang bersifat spesifik dan
Sistem Pendukung Keputusan Memilih Perguruan Tinggi Swasta di Palembang Sebagai Pilihan Tempat Kuliah
Sistem Pendukung Keputusan Memilih Perguruan Tinggi Swasta di Palembang Sebagai Pilihan Tempat Kuliah A Yani Ranius Fakultas Ilmu Komputer Universitas Bina Darma Palembang [email protected] Abstrak Sistem
IMPLEMENTASI ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM PENENTUAN PRIORITAS KONSUMEN PENERIMA KREDIT. Sahat Sonang S, M.Kom (Politeknik Bisnis Indonesia)
IMPLEMENTASI ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM PENENTUAN PRIORITAS KONSUMEN PENERIMA KREDIT Sahat Sonang S, M.Kom (Politeknik Bisnis Indonesia) ABSTRAK Sistem pengambilan keputusan adalah sistem yang membantu
MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)
Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Definisi AHP (Analytic Hierarchy Process) merupakan suatu model pengambil keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty yang menguraikan masalah multifaktor
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI UNTUK SISWA YANG MELANJUTKAN KULIAH PADA SMA N 1 TEGAL
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI UNTUK SISWA YANG MELANJUTKAN KULIAH PADA SMA N 1 TEGAL Asep Nurhidayat Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro
PEMILIHAN LOKASI PERGURUAN TINGGI SWASTA DI JAWA BARAT BERDASARKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Oleh : RATNA IMANIRA SOFIANI, SSi
PEMILIHAN LOKASI PERGURUAN TINGGI SWASTA DI JAWA BARAT BERDASARKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Oleh : RATNA IMANIRA SOFIANI, SSi ABSTRAK Tulisan ini memaparkan tentang penerapan Analitycal
MODEL SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR) DAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK SISTEM PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
F.6 MODEL SUPPLY HAIN OPERATION REFERENE (SOR) DAN ANALYTI HIERARHY PROESS (AHP) UNTUK SISTEM PENGUKURAN KINERJA SUPPLY HAIN MANAGEMENT Herlinda Padillah *, Yulison Herry hrisnanto, Agung Wahana Jurusan
ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP
ANALISIS DATA Data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan konsumen dan pakar serta tinjauan langsung ke lapangan, dianalisa menggunakan metode yang berbeda-beda sesuai kebutuhan dan kepentingannya.
PENGUKURAN KINERJA PENJADWALAN PRODUKSI PADA IKM TEKSTIL BAJU MUSLIM XYZ DENGAN METODE SCOR
PENGUKURAN KINERJA PENJADWALAN PRODUKSI PADA IKM TEKSTIL BAJU MUSLIM XYZ DENGAN METODE SCOR Mariyatul Qibtiyah 1), Nunung Nurhasanah 2), Widya Nurcahayanty Tanjung 3) 1),2),3 ) Teknik Industri, Universitas
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangannya di perusahaan manufaktur, selain
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangannya di perusahaan manufaktur, selain bersaing dalam dunia pasar yang semakin memunculkan teknologi informasi yang canggih, perusahaan juga
Jurnal SCRIPT Vol. 3 No. 1 Desember 2015
PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS ( AHP ) PADA SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN MAHASISWA BERPRESTASI MENGGUNAKAN FRAMEWORK LARAVEL (STUDI KASUS : INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND YOGYAKARTA)
BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini adalah Pamella Swalayan 1. Jl. Kusumanegara
30 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah Pamella Swalayan 1. Jl. Kusumanegara 135-141 Yogyakarta. 3.2 Penentuan Kriteria Identifikasi kriteria menurut Verma dan Pullman
PERFORMANCE MEASUREMENT (Pengukuran Kinerja) Supply Chain Management. Ir. Dicky Gumilang, MSc. Universitas Esa Unggul July 2017
PERFORMANCE MEASUREMENT (Pengukuran Kinerja) Supply Chain Management Ir. Dicky Gumilang, MSc. Universitas Esa Unggul July 2017 Objektif Pembelajaran (Learning Objectives) Mahasiswa bisa: Menjelaskan mengapa
5 KINERJA, SUMBER RISIKO, DAN NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BUAH MANGGIS DI KABUPATEN BOGOR
5 KINERJA, SUMBER RISIKO, DAN NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BUAH MANGGIS DI KABUPATEN BOGOR 5.1 Kinerja Rantai Pasok Kinerja rantai pasok merupakan ukuran kinerja secara keseluruhan rantai pasok tersebut (Chopra
Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Ketua Osis Dengan Metode AHP SMK PGRI 23 Jakarta
Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Osis Dengan Metode AHP SMK PGRI Jakarta Imam Sunoto, Fiqih Ismawan, Ade Lukman Nulhakim,, Dosen Universitas Indraprasta PGRI Email : [email protected], [email protected],
ANALISIS DAN IMPLEMENTASI PERANGKINGAN PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN SUPERIORITY INDEX
ANALISIS DAN IMPLEMENTASI PERANGKINGAN PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN SUPERIORITY INDEX Daniar Dwi Pratiwi 1, Erwin Budi Setiawan 2, Fhira Nhita 3 1,2,3 Prodi Ilmu Komputasi
PEMANFAATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) SEBAGAI MODEL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN KARYAWAN BERPRESTASI
PEMANFAATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) SEBAGAI MODEL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN KARYAWAN BERPRESTASI Sudarto STMIK Mikroskil Jl. Thamrin No. 112, 124, 140 Medan 20212 [email protected]
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER DENGAN METODE ANALYTICHAL HIERARCHY PROCESS
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER DENGAN METODE ANALYTICHAL HIERARCHY PROCESS 1 Rikky Wisnu Nugrha, 2 Romi 1 Program Studi Komputerisasi Akuntansi Politeknik LPKIA 2 Program Studi Sistem Informasi
ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS SEBAGAI PENDUKUNG KEPUTUSAN (DECISION SUPPORT) PEMILIHAN LOKASI PEMBANGUNAN RUMAH KOS UNTUK KARYAWAN
Jurnal Informatika Mulawarman Vol. 7 No. 3 Edisi September 2012 75 ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS SEBAGAI PENDUKUNG KEPUTUSAN (DECISION SUPPORT) PEMILIHAN LOKASI PEMBANGUNAN RUMAH KOS UNTUK KARYAWAN Dyna
ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT
ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT Multi-Attribute Decision Making (MADM) Permasalahan untuk pencarian terhadap solusi terbaik dari sejumlah alternatif dapat dilakukan dengan beberapa teknik,
#14 PENGUKURAN KINERJA SCM
#14 PENGUKURAN KINERJA SCM Dalam SCM, manajemen kinerja dan perbaikan secara berkelanjutan merupakan salah satu aspek fundamental. Oleh sebab itu diperlukan suatu sistem pengukuran yang mampu mengevaluasi
SKRIPSI. Disusun Oleh : DONNY BINCAR PARULIAN ARUAN NPM :
PENGUKURAN KINERJA SUPPY CHAIN PERUSAHAAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL SCOR DAN ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP) DI PT LOTUS INDAH TEXTILE INDUSTRIES SURABAYA SKRIPSI Disusun Oleh : DONNY BINCAR PARULIAN ARUAN
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Analytic Hierarchy Process (AHP) Sumber kerumitan masalah keputusan bukan hanya dikarenakan faktor ketidakpasatian atau ketidaksempurnaan informasi saja. Namun masih terdapat penyebab
Analytical hierarchy Process
Analytical hierarchy Process Pengertian AHP Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. AHP menguraikan masalah multi faktor atau
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN. evaluasi terhadap Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan STMIK Terbaik Di
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN III.1. Analisis Masalah Analisis masalah bertujuan untuk mengidentifikasi serta melakukan evaluasi terhadap Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan STMIK Terbaik Di Medan
BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP)
BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK 3.1 Pengertian Proses Hierarki Analitik Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP) pertama kali dikembangkan oleh Thomas Lorie Saaty dari Wharton
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI KOMPUTER SWASTA
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI KOMPUTER SWASTA Yuli Astuti 1, M. Suyanto 2, Kusrini 3 Mahasiswa 1, Pembimbing 1 2, Pembimbing 2 3 Program Studi Magister Informatika STMIK AMIKOM
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang tujuannya untuk menyajikan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Penelitian Terdahulu dan Penelitian Sekarang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1.Tinjauan Pustaka 2.1.1. Penelitian Terdahulu dan Penelitian Sekarang Penelitian mengenai evaluasi sistem penggjian dan pengupahan sudah banyak dilakukan salah
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
27 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendahuluan Metode penelitian berkaitan erat dengan prosedur, alat serta desain penelitian yang digunakan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif.
IMPLEMENTASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BERAS UNTUK KELUARGA MISKIN ( RASKIN ) MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) Ilyas
IMPLEMENTASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BERAS UNTUK KELUARGA MISKIN ( RASKIN ) MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) Ilyas Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Teknik dan Ilmu
BAB I PENDAHULUAN. Supply chain (rantai pasok) merupakan suatu sistem yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Supply chain (rantai pasok) merupakan suatu sistem yang mengintegrasikan seluruh proses bisnis pada suatu produk mulai dari hulu hingga ke hilir dengan tujuan menyampaikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sistem Pendukung Keputusan 1. Pengertian Sistem Pendukung Keputusan Menurut Alter (dalam Kusrini, 2007), Sistem pendukung keputusan merupakan sistem informasi interaktif yang
Pengukuran Kinerja Supply Chain
Pengukuran Kinerja Supply Chain Pentingnya Sistem Pengukuran Kinerja Monitoring dan pengendalian Mengkomunikasikan tujuan organisasi ke fungsi-fungsi pada supply chain Mengetahui dimana posisi suatu organisasi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan menjelaskan pendahuluan dari penelitian yang diuraikan menjadi enam sub bab yaitu latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pemasok merupakan salah satu mitra bisnis yang memegang peranan sangat penting dalam menjamin ketersediaan barang pasokan yang dibutuhkan oleh perusahaan.
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK CV. Motekar merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan boneka, dimana pemenuhan kebutuhan bahan baku bergantung sepenuhnya dari supplier. Saat ini perusahaan memiliki 2 supplier produksi
Techno.COM, Vol. 12, No. 4, November 2013:
Techno.COM, Vol. 12, No. 4, November 2013: 223-230 MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENILAIAN KARYAWAN PADA INSTANSI KESATUAN BANGSA POLITIK DAN PELINDUNGAN MASYARAKAT
Penerapan Metode Multi Attribute Decision Making) MADM- (Weighted Product) WP dalam Pemilihan Supplier di PT. XYZ
Penerapan Metode Multi Attribute Decision Making) MADM- (Weighted Product) WP dalam Pemilihan Supplier di PT. XYZ Suhartanto 1, Putiri Bhuana Katili 2, Hadi Setiawan 3 1,2,3 Jurusan Teknik Industri, Fakultas
BAB II LANDASAN TEORI
7 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Kajian Literatur Berikut adalah beberapa penelitian serupa mengenai kualitas yang telah dilakukan dilakukan sebelumnya, yaitu: 1. Harwati (2013), yaitu: Model Pengukuran Kinerja
USULAN PROSES PEMILIHAN PEMASOK DI TOKO BESI NUSANTARA SEMARANG
USULAN PROSES PEMILIHAN PEMASOK DI TOKO BESI NUSANTARA SEMARANG TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Teknik Industri FRANSISKA RATNAWATI 13 06 07336 PROGRAM
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Kepuasan pelanggan ditentukan oleh bagaimana perusahaan dapat memenuhi tuntutan dalam hal pemenuhan kualitas yang diinginkan, kecepatan merespon permintaan,
PENDEKATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK PENENTUAN NILAI EKONOMI LAHAN
PENDEKATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK PENENTUAN NILAI EKONOMI LAHAN Vera Methalina Afma Dosen Tetap Prodi Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Riau Kepulauan ABSTRAK Tanah atau lahan
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN HANDPHONE MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) PADA COUNTER NASA CELL SKRIPSI
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN HANDPHONE MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) PADA COUNTER NASA CELL SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana
II. TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Definisi Supply Chain dan Supply Chain Management
II. TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Definisi Supply Chain dan Supply Chain Management Menurut Punjawan (2005) definisi dari supply chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan
DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... viii DAFTAR ISI... xiv DAFTAR TABEL... xiv DAFTAR GAMBAR... xvii. BAB IPENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah...
DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING... iii LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI... iv SURAT PERNYATAAN...Error! Bookmark not defined. HALAMAN PERSEMBAHAN... vi MOTTO... vii KATA PENGANTAR... viii DAFTAR
ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS)
ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS) M.Fajar Nurwildani Dosen Prodi Teknik Industri, Universitasa Pancasakti,
Technology Science and Engineering Journal, Volume 1 No 2 June 2017 E-ISSN:
Implementasi Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Sebagai Solusi Alternatif Dalam Pemilihan Supplier Bahan Baku Apel Di PT. Mannasatria Kusumajaya Endang Sulistiyani 1, Muh. Idil Haq Amir 2, Yusuf
PENGUKURAN KINERJA SCM
PENGUKURAN KINERJA SCM Bahan Kuliah Fakultas : Ekonomi Program Studi : Manajemen Tahun Akademik : Genap 2012/2013 Kode Mata Kuliah : EMA 402 Nama Mata Kuliah : Manajemen Rantai Pasokan Materi : #14 Dosen
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. MCDM (Multiple Criteria Decision Making) Multi-Criteria Decision Making (MCDM) adalah suatu metode pengambilan keputusan untuk menetapkan alternatif terbaik dari sejumlah alternatif
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI A Tinjauan Pustaka Kajian penelitian terdahulu dimaksudkan untuk dijadikan perbandingan dengan penelitian yang dilakukan dan untuk menentukan variabel penelitian
KATA PENGANTAR. rahmat dan kasih sayang -Nya. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan
KATA PENGANTAR Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayang -Nya. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan tugas akhir (skripsi) yang berjudul Analisa
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK PT. Sumber Mulia Lestari merupakan salah satu perusahaan garmen di Indonesia yang memproduksi sweater baik untuk dewasa maupun untuk anakanak.perusahaan ini memiliki beberapa supplier yang memiliki
Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP).
Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP). Pengembangan Pendekatan SPK Pengembangan SPK membutuhkan pendekatan yg unik. Pengembangan SPK Terdapat 3 (tiga) pendekatan
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode Fuzzy AHP. Adapun tahapan penelitian adalah sebagai berikut
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode Fuzzy AHP. Adapun tahapan penelitian adalah sebagai berikut Gambar 3.1 Diagram Alir Metode Penelitian 15 16
BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM
BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM III.1. Analisa Masalah Sebuah perusahaan untuk dapat konsisten harus tangguh dan dapat bersaing. Untuk menjaga konsistensi dalam dunia bisnis hal yang paling penting adalah
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN LBB PADA KAMPUNG INGGRIS PARE MENGGUNAKAN METODE AHP
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN LBB PADA KAMPUNG INGGRIS PARE MENGGUNAKAN METODE AHP Mayang Anglingsari Putri 1, Indra Dharma Wijaya 2 Program Studi Teknik Informatika, Jurusan Teknik Elektro, Politeknik
Pertemuan 5. Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP).
Pertemuan 5 Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP). Pengembangan Pendekatan SPK (II) Pengembangan Pendekatan SPK (II) Pengembangan SPK membutuhkan pendekatan
Bab III Metodologi Penelitian
81 Bab III Metodologi Penelitian III.1 Obyek Penelitian Obyek penelitian adalah Direktorat Aerostructure PT. Dirgantara Indonesia di Bandung. III.2 Metode Penelitian Menurut Yin (1996), bentuk pertanyaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori 2.1.1 Sistem Pendukung Keputusan Pada dasarnya sistem pendukung keputusan merupakan pengembangan lebih lanjut dari sistem informasi manajemen terkomputerisasi. Sistem
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Standard Operating Procedure (SOP) 2.1.1 Pengertian SOP Setiap organisasi perusahaan memiliki pola dan mekanisme tersendiri dalam menjalankan kegiatannya, pola dan mekanisme itu
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin maju dan berkembangnya kondisi perekonomian menyebabkan persaingan di dunia bisnis menjadi semakin ketat. Persaingan tersebut menuntut para pelaku bisnis melakukan
BAB III ANALISIS DAN PENGEMBANGAN MODEL
BAB III ANALISIS DAN PENGEMBANGAN MODEL Pada bab ini dijelaskan mengenai analisis penerapan sistem pengukuran kinerja menggunakan Metode Prism dan pengembangan model pengukuran kinerja tersebut pada unit
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pengelolaan pengadaan paprika, yaitu pelaku-pelaku dalam pengadaan paprika,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Tempat Penelitian Objek yang diteliti dalam penelitian ini antara lain adalah sistem pengelolaan pengadaan paprika, yaitu pelakupelaku dalam pengadaan paprika,
BAB II LANDASAN TEORI. Kepuasan Konsumen, Pentingnya Kepuasan Konsumen Dalam Pemasaran,
10 BAB II LANDASAN TEORI Dalam bab ini akan dibahas lebih mendalam mengenai Pengertian Kepuasan Konsumen, Pentingnya Kepuasan Konsumen Dalam Pemasaran, Hubungan Supply Chain Management, Kepuasan Konsumen
TUGAS AKHIR PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN PADA PT. MATARAM TUNGGAL GARMENT
TUGAS AKHIR PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN PADA PT. MATARAM TUNGGAL GARMENT Disusun oleh : Zakiya Muallifa Rahman 10660034 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Persaingan merupakan suatu tantangan bagi perusahaan untuk terus berusaha memberikan yang terbaik bagi konsumen. Perusahaan yang mampu memenuhi keinginan konsumen,
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT Disusun Oleh: Puput Resno Aji Nugroho (09.11.2819) 09-S1TI-04 PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER (STMIK) AMIKOM YOGYAKARTA Jalan
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan bisnis (Naslund et al., 2010). Manajemen rantai pasok melibatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dari survey yang dilakukan Accenture pada tahun 2010 terhadap sejumlah eksekutif perusahaan, sebanyak 89% menyatakan bahwa manajemen rantai pasok (Supply Chain Management,
BAB III METODE PENELITIAN. lokasi penelitian secara sengaja (purposive) yaitu dengan pertimbangan bahwa
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Tempat Penelitian Objek penelitian ini adalah strategi pengadaan bahan baku agroindustri ubi jalar di PT Galih Estetika Indonesia Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN
PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN BERDASARKAN PROSES INTI PADA SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR) (Studi Kasus Pada PT Arthawenasakti Gemilang Malang) PERFORMANCE MEASUREMENT SUPPLY CHAIN BASED ON CORE
BAB II LANDASAN TEORI. pengambilan keputusan baik yang maha penting maupun yang sepele.
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manusia dan Pengambilan Keputusan Setiap detik, setiap saat, manusia selalu dihadapkan dengan masalah pengambilan keputusan baik yang maha penting maupun yang sepele. Bagaimanapun
ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS
ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS Untuk memperkenalkan AHP, lihat contoh masalah keputusan berikut: Sebuah kawasan menghadapi kemungkinan urbanisasi yang mempengaruhi lingkungan. Tindakan apa yang harus dilakukan
