BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Transkripsi

1 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pengantar Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, yaitu menggunakan metode lapangan dan kepustakaan. Metode lapangan digunakan untuk menghimpun data pemakaian bahasa Arab yang digunakan oleh mahasiswa pembelajar bahasa Arab dan penutur asli bahasa Arab. Metode lapangan memerlukan informan dari pemakai bahasa Arab yaitu pembelajar dan penutur asli Arab yang berdomisili di kota Medan. Penggunaan metode pustaka memberikan data sekunder yang berupa buku-buku dan tulisan yang membahas pemakaian bahasa Arab. Penelitian deskriptif ini merupakan penelitian yang dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena bunyi bahasa Arab yang dituturkan oleh pembelajar bahasa Arab. Metode inilah yang digunakan untuk mengetahui frekuensi, intensitas dan durasi pada bunyi tuturan bahasa Arab dalam modus kalimat deklaratif, interogatif dan imperatif. Pada penelitian ini, pendekatan instrumental yang dilakukan dengan bantuan alat ukur yang akurat yaitu dengan perangkat lunak Praat, sedangkan pengukuran dan pendeskripsian bunyi tuturan dilakukan dengan mengadopsi

2 tahapan dalam ancangan IPO (Institut Voor Perceptie Onderzoek). Proses teori IPO dimulai dari tuturan kemudian untuk memperoleh kurva melodik tuturan itu, dilakukan pengukuran frekuensi, intensitas dan durasi. Bunyi target yang diteliti adalah bunyi suprasegmental yang berhubungan dengan bunyi vokal dengan mengukur frekuensi, intensitas dan durasi dalam modus kalimat tuturan. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Perekaman suara untuk penelitian ini dilakukan di ruang Laboratorium Bahasa Universitas Al Washliyah Medan pada tanggal 10 Agustus 2012 terhadap mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam ( PAI ) Fakultas Agama Islam beralamat di jalan Sisingamangaraja No.5 kota Medan. 3.3 Data dan Sumber Data Data penelitian diperoleh dari rekaman tuturan lisan empat orang responden dan dua orang responden penutur Arab. Bentuk data yang diteliti adalah tuturan-tuturan yang dibuat dalam kalimat Bahasa Arab (BA) dengan modus deklaratif, interogatif dan imperatif. Di dalam praktik percakapan BA tiga modus kalimat ini selalu dipakai oleh penutur asli bagi semua tingkatan usia dalam berkomunikasi. Pilihan terhadap tiga modus ini sangat tepat untuk diteliti karena bunyi tuturan target merupakan modus pertanyaan, pernyataan dan perintah diantaranya adalah; (1) tuturan interogaif yaitu tuturan tanya yang menggunakan kata tanya yang dapat menanyakan perbuatan seseorang. Tuturan tanya itu adalah: رى م ة أؼ ك إ ى ا ق (matā yaðhabu Aħmad ilā alsūqi?)

3 artinya; kapankah pergi Ahmad ke pasar?. أ ذعغ ل (aina taᵭaʕu qalamī?) artinya ; di manakah kamu letakkan pena ku? الا ذر ا ي ف ا ؼ اء (māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi) artinya ; kapankah kamu makan malam? (2) tuturan deklaratif yaitu; tuturan yang menyatakan informasi atau berita yang disampaikan melalui alat ujar. Tuturan itu adalah;. أو د األنو غ ا كظاض ف ا غكاء (akaltu al aruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi ) artinya; saya sudah makan nasi dengan ayam pada siang hari. هب ا طف و تا ا ث ا صاف. (yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alʃāfī ) artinya; anak itu sedang minum secangkir susu murni. (3) tuturan imperatif yaitu; tuturan perintah yang diucapkan melalui alat ujar. Tuturan itu adalah ; م ما ا ىراب ا ػص ا! (χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān!) artinya; ambillah buku itu wahai Usman!. Sumber data penelitian diperoleh dari pembelajar bahasa Arab semester dua di Universitas Al Washliyah kota Medan dan penutur asli bahasa Arab berkebangsaan Saudi Arabia Saat ini mereka adalah utusan dari kerajaan Saudi

4 Arabia sebagai tenaga pendidik bahasa Arab dan studi keislaman di Sekolah Tinggi Agama Islam Al Sunnah Tanjung Morawa kabupaten Deli Serdang. Perbandingan ini dilakukan untuk membandingkan bunyi-bunyi BA oleh pembelajar bahasa Arab dan dua penutur asli. Kedua penutur asli memilki kualifikasi pendidikan strata dua pada bidang bahasa Arab di King Saud University Riyadh, Saudi Arabia. 3.4 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam memperoleh data penelitian ini adalah metode rekam catat dan transkripsi ragam lisan atau tuturan yang meliputi bentuk tuturan interogatif, deklaratif dan imperatif. Peneliti melakukan rekaman ujaran kalimat target dari penutur asli yang kesehariannya memakai bahasa Arab sebagai model dalam penelitian. Data tertulis ini dibaca oleh penutur asli dan kemudian direkam oleh peneliti agar dapat dilakukan transkripsi. Informan penelitian memiliki persyaratan yang meliputi beberapa syarat sebagai berikut: (1) penutur asli Arab, (2) berusia dewasa (3) berjenis kelamin laki-laki dan (4) memiliki alat-alat ucap yang normal. 3.5 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data penelitian ini dilakukan melalui perekaman menggunakan alat perekam. Tahap-tahap yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah dengan mengarahkan responden untuk menuturkan kalimat target yaitu kalimat dalam bahasa Arab dengan berbagai modus yang menghasilkan bunyi. Bunyi tersebut terletak pada tempat dan cara artikulasi bunyi. Dalam penelitian ini data direkam dengan menggunakan Sony

5 Strereo Casette Corder yang dilengkapi dengan headset mic SHURE model SM 10 A. Keunggulan alat ini adalah dapat merekam suara dalam bentuk strereo sehingga tuturan dapat ditempatkan dalam track yang berbeda dan tingkat kepekaan perekaman yang dapat disesuaikan dengan kenyaringan suara penutur. Mikrofon yang digunakan selain sangat peka, juga dapat menjaga jarak antara mulut dengan mikrofon sehingga relatif stabil dan tetap karena dipasang di kepala. Rekaman dilakukan di dalam ruang tertutup agar terhindar dari suara-suara bising yang dapat mengganggu hasil rekaman lebih jelas dan tidak ada noise. Hal inilah yang dapat mempermudah proses digitalisasi rekaman lebih lanjut. 3.6 Teknik Pengolahan Data Semua data yang terkumpul berbentuk rekaman tuturan bahasa Arab dapat digunakan sebagai dokumen dan inventaris. Data disimpan sebagai file dalam ADATA Micro SD dengan kapasitas 2 GB. Kemudian data dipindahkan ke laptop merk DELL. Sebelumnya, dalam laptop sudah diinstall perangkat lunak (sofware) dan diolah dengan menggunakan alat bantu komputer program Praat versi karena program ini adalah program yang sangat sederhana tetapi dapat melakukan analisis akustik dengan akurasi yang tinggi dan tidak memerlukan media penyimpanan yang besar. Alat ini dapat secara mudah melakukan pengukuran frekuensi, intensitas dan durasi tuturan yang dikembangkan pertama sekali di Amsterdam. Secara rinci tahapan-tahapan pengolahan data adalah : 1. Digitalisasi, tahap pertama adalah data direkam dahulu ke kaset audio kemudian dimasukkan ke dalam format digital bentuk sound wave, lalu tuturan dipilih yang terbaik diantara tiga kalimat yang diucapkan untuk dianalisis.

6 2. Segmentasi, tahap berikutnya adalah segmentasi data yaitu data yang telah dipilih lalu dipisahkan ke dalam segmen tunggal, dalam hal ini segmentasi dilakukan kata per kata. 3. Pengukuran frekuensi, intensitas dan durasi. Data yang akan dikumpulkan melalui rekaman yaitu berupa bentuk kalimat berbahasa Arab. Kemudian semua data yang terkumpul diolah dengan menggunakan alat bantu komputer program praat versi Keabsahan Penelitian Untuk mendapatkan keabsahan hasil penelitian dilakukan pengecekan terhadap data penelitian dan temuan penelitian ini. Keabsahan data berdasarkan sejumlah data yang telah ditranskripsi dan diseleksi dengan tujuan untuk melihat derajat relevansinya dan keobjektifannya terhadap data yang sudah dianalisis. Untuk mengetahui keabsahan data penelitian ini, teknik triangulasi dilakukan dengan merujuk pada Cohen (1994) 1. Diantara teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi waktu sebagai rehabilitas diakronik dan sinkronik (time triangulation), (2) triangulasi ruang (space triangulation), (3) keabsahan dilakukan berdasarkan gambaran beberapa teori fonetik akustik dan artikulatoris (theoritical triangulation), (4) keabsahan yang dilakukan dengan penggunaan lebih dari satu pengamat (investigator triangulation) untuk menghindari subjektivitas penelitian ini, dan (6) keabsahan menggunakan metode (1) rehabilitas diakronik dan sinkronik (time triangulation), (2) merupakan jenis yang berkaitan dengan ruang (space triangulation), (3) yaitu jenis keabsahan dilakukan berdasarkan gambaran beberapa teori alternatif (theoritical triangulation), (4) jenis yang berkaitan dengan keabsahan yang dilakukan secara bertingkat yaitu tingkat individu (combination), (5) merupakan jenis keabsahan yang dilakukan dengan penggunaan lebih dari satu pengamat (investigator triangulation), (6) jenis keabsahan menggunakan metode yang sama untuk objek yang berbeda. (methodological triangulation).

7 yang sama untuk pengumpulan data dalam proses analisis data (methodological triangulation). 3.8 Alur Penelitian MODUS TUTURAN BAHASA ARAB OLEH PEMBELAJAR BAHASA ARAB DI MEDAN KAJIAN FONETIK EKSPERIMENTAL KERANGKA TEORI FONETIK EKSPERIMENTAL METODOLOGI PENELITIAN ANALISIS DATA HASIL PENELITIAN TEMUAN FREKUENSI TEMUAN INTENSITAS TEMUAN DURASI KESIMPULAN

8 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Enam tuturan di bawah ini dijadikan dasar dalam pemerian kontur nada dan ujaran yang telah distilisasi kemudian dipilah berdasarkan penutur, yaitu empat penutur pembelajar BA di Universitas Al Washliyah Medan dan dua penutur asli tenaga pengajar bahasa Arab di Sekolah Tinggi Agama Islam Al Sunnah Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Enam tuturan yang dipilih dalam penelitian ini antara lain; - Tuturan deklaratif terdiri atas dua kalimat yaitu: (1 BA أو د األنو غ ا كظاض ف ا غكاء akaltu al aruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi BI saya sudah makan nasi dengan ayam pada siang hari هب ا طف و تا ا ث ا صاف (2 BA yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alʃāfī BI anak itu minum secangkir susu murni - Tuturan interogatif terdiri atas tiga kalimat yaitu: رى م ة أؼ ك إ ى ا ق (3 BA matā yaðhabu Aħmad ilā alsūqi? BI kapankah pergi Ahmad ke pasar?

9 أ ذعغ ل (4 BA aina taᵭaʕu qalamī? BI di manakah kamu letakkan pena ku? الا ذر ا ي ف ا ؼ اء (5 BA māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi BI kapankah kamu makan malam?. - Tuturan imperatif terdiri atas satu kalimat yaitu; م ما ا ىراب ا ػص ا! BA (6 χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān! BI ambillah buku ini wahai Usman! Frekuensi Modus Tuturan Pembelajar Bahasa Arab dan Penutur Asli Frekuensi modus tuturan ini dilakukan dalam bentuk modus deklaratif, interogatif dan imperatif untuk mengetahui jumlah getaran akustik pada gelombang-gelombang bunyi dan penghitungan masa detik sebagai penentuan kontur nada dan intonasi yang memiliki sistem tingkatan fluktuasi naik dan turun bunyi-bunyi serta keragaman pada rangkaian nada ujaran.

10 Tuturan Deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] Pembelajar BA Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi ] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11110) menunjukkan getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata yang menghasilkan getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. 500 ak a l t u a l a r u z z a ma'aadda j a j i f i a lga d a i Gambar 4.1. Kontur nada pembelajar BA (11110) Gambar 4.1 di atas menunjukkan kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] dari kata [alaruzza]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 4.62 md. 500 a k a l t u a l a r u z z a ma a a dda j a j i f i a l ghada i

11 Gambar 4.2. Kontur nada pembelajar BA (21110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi ] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21110) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.2 di atas menunjukkan titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] dari kata [alaruzza]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 3.46 md. 500 a k a l t u a l a r u z z a maaadd a j a j i f i a l g h a d a i Gambar 4.3. Kontur nada pembelajar BA (32110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi ] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32110) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.3 di atas menunjukkan titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ i ] dari kata [aldajāji]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 3.63 md.

12 500. a k a l t u a l a r u z z a ma a adda j a j i f i a l g h a d a i Gambar 4.4. Kontur nada pembelajar BA (42110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi ] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42110) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.4 di atas menunjukkan titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] dari kata [alɣadāi]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 3.95 md Tuturan Deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi ] Penutur Asli Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh penutur asli (53110) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi.

13 500 a k a l t u a l a r u zz a ma ' a a d d a j a j i f i a l g a d a i Gambar 4.5. Kontur nada penutur asli (53110) Gambar 4.5 di atas menunjukkan titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [i] dari kata [aldajāji]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.33 md 500. a k a l t u a l a r u zz a ma ' a adda j a j i f i a l gha d a i Gambar 4.6. Kontur nada penutur asli (63110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi ] yang dituturkan oleh penutur asli (63110) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Hal ini menunjukkan bahwa titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ i ] dari kata

14 [aldajāji]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.66 md Tuturan Deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī ] Pembelajar BA Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11120) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. 500 yas rabua t i f l u k u b a nm i n a a l l a ban i a s sh a f i Gambar 4.7. Kontur nada pembelajar BA (11120) Gambar 4.7 di atas menunjukkan titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] dari kata [alṣāfī]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 4.68 md. 500 y a s y r a b u a t t i f l u k u b a n m i n a l l a b a n i a s s h o f i

15 Gambar 4.8. Kontur nada pembelajar BA (21120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21120) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.8 di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ i ] dari kata [alṣāfī]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 3.23 md. 500 yasyrabuat t i f l u kub a n m i n a l l a ba n i as s ho f i Gambar 4.9. Kontur nada pembelajar BA (32120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32120) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Hal ini menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi konsonan [ n ] dari kata [kūban]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 4.27 md.

16 500 y a syr ab u a t t i f l u k u b a n m i n a l l a b a n i a s s h o f Gambar Kontur nada pembelajar BA (42120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42120) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Dinyatakan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ u ] dari kata [alṭiflu]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 3.99 md Tuturan Deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] Penutur Asli BA Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh penutur asli (53120) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi.

17 500 y a sy r a b u a t t i f l u kubanmi na a l l a ban i assh a f i Gambar Kontur nada penutur asli (53120) Gambar 4.11 di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ i ] dari kata [alṣāfī]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.56 md. 500 y a syrab u a t t i f l u kub a n m i n a a l l aban i assha f i Gambar Kontur nada penutur asli (63120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh penutur asli (63120) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang

18 berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.12 di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ i ] dari kata [min]. Sehingga terjadi sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dan dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.99 md Tuturan Interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] Pembelajar BA Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11210) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. 500 m a t a y a z h a b u a h m a d u i l a a s u g i Gambar Kontur nada pembelajar BA (11210) Gambar 4.13 di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ u ] pada kata [yaðhabu]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.58 md.

19 500 m a t a y a z h a b u a h m a d u i l a ass u q i Gambar Kontur nada pembelajar BA (21210) Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21210) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Hal ini menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [matā]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.43 md. 500 m a t a y a z h a b u a h m a d u i l a a s s u q i Gambar Kontur nada pembelajar BA (32210) Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32210) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada

20 setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [matā]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.81 md. 500 m a t a y a z h a b u a h m a du i l a a s s u q i Gambar Kontur nada pembelajar BA (42210) Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42210) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.16 di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [yaðhabu]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.97 md.

21 Tuturan Interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] Penutur asli Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh penutur asli (53210) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. 500 m a t a y a z h a b u a hm a d i l a a s s u q i Gambar Kontur nada penutur Arab (53210) Gambar di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [ilā]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.80 md.

22 500 m a t a y a z h a b u a hm a d i l a a s s u q i Gambar Kontur nada penutur asli (63210) Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh penutur asli (63210) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.18 di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ i ] pada kata [ilā]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.77 md Tuturan Interogatif [aina taḍaʕu qalamī] Pembelajar BA Modus tuturan interogatif [aina taḍaʕu qalamī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11220) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi.

23 500 a i n a t a d h a u q a l a m i Gambar Kontur nada pembelajar BA (11220) Gambar 4.19 di atas menunjukkan titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi konsonan [ q ] pada kata [qalamī]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.34 md. 500 a i n a t a d h a u q a l a m i Gambar Kontur nada pembelajar BA (21220) Modus tuturan interogatif [aina taḍaʕu qalamī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21220) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Dari gambar di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ u ] pada kata

24 [taḍaʕu]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.79 md. 500 a i n a t a d h a u q a l a m i Gambar Kontur nada pembelajar BA (32220) Modus tuturan interogatif [aina taḍaʕu qalamī ] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32220) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.21 di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ u ] pada kata [taḍaʕu]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.78 md. 500 a i n a t a dh a u q a l a m i Gambar Kontur nada pembelajar BA (42220)

25 Modus tuturan interogatif [aina taḍaʕu qalamī ] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42220) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.22 di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [aina]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.85 md Tuturan Interogatif [aina taḍaʕu qalamī] Penutur Asli Modus tuturan interogatif [aina taḍaʕu qalamī ] yang dituturkan oleh penutur asli (53220) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda pada tingkatan naik dan turun bunyi. 500 a i n a t a d h a ' u q a l a m i Gambar Kontur nada penutur asli (53220) Gambar 4.23 di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [qalamī]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.36 md.

26 500 a i n a t a d h a ' u q a l a m i Gambar Kontur nada penutur asli (63220) Modus tuturan interogatif [aina taḍaʕu qalamī ] yang dituturkan oleh penutur asli (63220) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.24 di atas menunjukkan titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [taḍaʕu]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.13 md Tuturan Interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] Pembelajar BA Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11230) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.25 di bawah menunjukkan titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ i ] pada kata [fī]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.84 md.

27 500 m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Kontur nada pembelajar BA (11230) 500 m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Kontur nada pembelajar BA (21230) Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21230) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.26 di atas menunjukkan titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ u ] pada kata [tatanāwalu]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.30 md.

28 500 m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Kontur nada pembelajar BA (32230) Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32230) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.27 di atas menunjukkan titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ u ] pada kata [tatanāwalu]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.99 md. 500 m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Kontur nada pembelajar BA (42230) Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42230) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada

29 setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Hal ini menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] dari kata [tatanāwalu]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.57 md Tuturan Interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] Penutur Asli BA Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh penutur asli (53230) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.29 di bawah menunjukkan titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [māðā]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.74 md. 500 m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Kontur nada penutur asli (53230)

30 500 m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Kontur nada penutur asli (63230) Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh penutur asli (63230) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.30 di atas menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [māðā]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.72 md Tuturan Imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] Pembelajar BA Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11310) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi.

31 500 k h u z h a z a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Kontur nada pembelajar BA (11310) Gambar 4.31 di atas menunjukkan bahwa titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [yā]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.69 md. 500 k h u z h a z a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Kontur nada pembelajar BA (21310) Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21310) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.32 di atas menunjukkan bahwa titik

32 nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi konsonan [ n ] pada kata [ʕuθmān]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.97 md. 500 k h u z h a z a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Kontur nada pembelajar BA (32110) Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32110) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Hal ini menunjukkan bahwa kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [yā]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.69 md.

33 500 k h u z h a z a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Kontur nada pembelajar BA (42310) Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42310) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Dengan demikian kontur nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [alkitāba]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 2.65 md Tuturan Imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] Penutur Asli Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh penutur asli (53310) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Gambar 4.35 di bawah menunjukkan bahwa titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata

34 [ʕuθmān]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.69 md. 500 k h u z h a z a a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Kontur nada penutur asli (53310) Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh penutur asli (63310) menunjukkan bahwa getaran gelombang bunyi pada setiap rangkaian nada ujaran kata memperoleh getaran bunyi yang berbeda serta tingkatan naik dan turun bunyi. Dengan ini dinyatakan bahwa titik nada atau intonasi ujaran tertinggi terdapat pada bunyi vokal [ a ] pada kata [ʕuθmān]. Terjadinya sistem tingkatan naik dan turun bunyi pada modus tuturan ini dapat menghasilkan tempo bunyi mencapai 1.83 md.

35 500 k h u z h a z a a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Kontur nada penutur asli (63310) Intensitas Modus Tuturan Pembelajar Bahasa Arab dan Penutur Asli Modus tuturan yang akan diteliti adalah berdasarkan pemilahan tuturan dalam bentuk modus deklaratif, interogaif dan imperatif yang dituturkan oleh enam penutur, yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui luas atau lebarnya gelombang udara melalui tekanan suara sehingga terjadi kenyaringan dan keras pada titik nada ujaran. Untuk menentukan tinggi rendahnya intensitas tuturan yang dimaksud dapat dilihat pada banyak gelombang bunyi yang terjadi dengan cara dihitung dalam masa detik sehingga nantinya dapat menentukan titik nada atau intonasi yang memiliki sistem tingkatan naik dan turun bunyi serta keragaman pada rangkaian nada ujaran.

36 Deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] Pembelajar BA Tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA menunjukkan bahwa kenyaringan bunyi suara berproduksi dari tekanan udara tinggi dan rendah sehingga terjadi perbedaan durasi gelombang antara satu kata dengan kata yang lain, dan dapat mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda pula Gambar Intensitas pembelajar BA (11110) Modus tuturan pembelajar BA (11110) pada gambar 4.37 di atas menunjukkan bahwa kenyaringan bunyi suara berproduksi dari tekanan udara tinggi dan rendah sehingga terjadi perbedaan durasi gelombang antara satu kata dengan kata yang lain dan dapat mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda pula. Perolehan hasil intensitas dasar mencapai 69.8 db dan intensitas final 77.9 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 83.1 db. Modus tuturan pembelajar BA (21110) pada gambar di bawah menunjukkan bahwa perolehan julat intensitas tertinggi mencapai 90.7 db. Hal ini disebabkan terjadi kenyaringan bunyi suara berproduksi dari tekanan udara tinggi dan rendah

37 sehingga mengalami perbedaan durasi gelombang antara satu kata dengan kata yang lain Gambar Intensitas pembelajar BA (21110) Gambar Intensitas pembelajar BA (32110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32110) terlihat dari gambar 4.39 di atas menunjukkan bahwa kenyaringan bunyi suara berproduksi dari tekanan udara tinggi dan rendah sehingga terjadi perbedaan durasi gelombang antara satu kata dengan kata yang lain dan dapat mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda

38 pula. Perolehan hasil intensitas dasar ini mencapai 72.2 db dan intensitas final 82.5 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 89.2 db Gambar Intensitas pembelajar BA (42110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42110) terlihat dari gambar 4.40 di atas menunjukkan bahwa kenyaringan bunyi suara berproduksi dari tekanan udara tinggi dan rendah sehingga terjadi perbedaan durasi gelombang antara satu kata dengan kata yang lain dan dapat mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda pula. Perolehan hasil intensitas dasar ini mencapai 70.6 db dan intensitas final 70.6 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 89.4 db Deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] Penutur Asli Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh penutur asli (53110) terlihat dari gambar 4.41 di bawah menunjukkan bahwa kenyaringan bunyi suara berproduksi dari tekanan udara tinggi dan rendah sehingga terjadi perbedaan durasi gelombang antara satu kata dengan kata yang lain dan dapat mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda

39 pula. Perolehan hasil intensitas dasar ini mencapai 77.9 db dan intensitas final 67.3 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 83.0 db Gambar Intensitas penutur Arab (53110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh penutur asli (63110) terlihat dari gambar 4.42 di bawah menunjukkan bahwa kenyaringan bunyi suara berproduksi dari tekanan udara tinggi dan rendah sehingga terjadi perbedaan durasi gelombang antara satu kata dengan kata yang lain dan dapat mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda pula

40 Gambar Intensitas penutur asli (63110) Perolehan hasil intensitas dasar ini mencapai 75.1 db dan intensitas final 69.6 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 77.3 db. Tabel 4.1 Intensitas pembelajar BA dan penutur asli Intensitas (db) Penutur Int Dasar Int Final Julat Int Tertinggi Tabel di atas menunjukkan bahwa intensitas dasar tertinggi pembelajar BA (32110) mencapai 72.2 db, intensitas final tertinggi pembelajar BA (21110) mencapai 89.6 db dan juga julat intensitas tertinggi mencapai 90.7 db. Sedangkan penutur asli (53110) memperoleh intensitas dasar tertinggi mencapai 77.9 db, dan julat intensitas tertinggi mencapai 83.0 db. Adapun penutur asli (63110) memperoleh intensitas final mencapai 69.6 db. Hal ini dapat disimpulkan bahwa julat intensitas tertinggi pembelajar BA lebih tinggi bila dibandingkan dengan penutur asli dengan selisih 7.07 db.

41 Deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] Pembelajar BA Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī ] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11120) terlihat dari gambar 4.43 di bawah menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai 77.4 db dan intensitas final 79.6 db dan julat intensitas tertinggi mencapai 82.7dB Gambar Intensitas pembelajar BA (11120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī ] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21120) terlihat dari gambar 4.44 di bawah menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai 69.6 db dan intensitas final 71.0 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 90.9 db.

42 Gambar Intensitas pembelajar BA (21120) Gambar Intensitas pembelajar BA (32120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī ] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32120) terlihat dari gambar 4.45 di atas menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai 76.5 db dan intensitas final 70.7 db dan julat intensitas tertinggi mencapai 90.2 db.

43 Gambar Intensitas pembelajar BA (42120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī ] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42120) terlihat dari gambar 4.46 di atas menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai 79.7 db dan intensitas final 84.6 db dan julat intensitas tertinggi mencapai 90.2 db Deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] Penutur Asli Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī ] yang dituturkan oleh penutur asli (53120) terlihat dari gambar 4.47 di bawah menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db dan intensitas final db dan julat intensitas tertinggi mencapai db.

44 Gambar 4.47 Intensitas penutur asli (53120) Gambar Intensitas penutur asli (63120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī ] yang dituturkan oleh penutur asli (63120) terlihat dari gambar 4.48 di atas menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai

45 77.10 db dan intensitas final db dan julat intensitas tertinggi mencapai db. Tabel 4.2. Intensitas pembelajar BA dan penutur asli Penutur Intensitas (db) Int Dasar Int Final Julat Int Tertinggi Tabel di atas menunjukkan bahwa intensitas modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] dituturkan oleh empat penutur pembelajar BA dengan perolehan intensitas tertinggi pada titik intensitas dasar mencapai hasil 79.7 db dituturkan oleh pembelajar BA (42120), perolehan intensitas final yang tertinggi mencapai hasil 84.6 db dituturkan oleh pembelajar BA (21120) dan menghasilkan julat intensitas tertinggi mencapai 90.9 db. Perolehan intensitas tertinggi yang dituturkan oleh penutur asli(53120) mencapai hasil db. Ini menunjukkan bahwa julat intensitas yang lebih tinggi adalah julat intensitas pembelajar BA mencapai selisih 3.49 db.

46 Interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] Pembelajar BA Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11210) terlihat dari gambar 4.49 menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db Gambar Intensitas pembelajar BA (11210) Gambar Intensitas pembelajar BA (21210)

47 Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32210) terlihat dari gambar 4.50 menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db Gambar Intensitas pembelajar BA (32210) Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42210) terlihat dari gambar 4.52 menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db.

48 Gambar Intensitas pembelajar BA (42210) Interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] Penutur Asli Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh penutur asli (53210) terlihat dari gambar 4.53 menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db

49 Gambar Intensitas penutur asli (53210) Gambar Intensitas penutur asli (63210) Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh penutur asli (63210) terlihat dari gambar 4.54 di atas menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db. Tabel 4.3. Intensitas pembelajar BA dan penutur asli Penutur Intensitas (db) Int Dasar Int Final Julat Int Tertinggi

50 Tabel di atas menunjukkan bahwa intensitas modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] dituturkan oleh empat penutur pembelajar BA. perolehan intensitas tertinggi pembelajar BA (32210) mencapai db, dan perolehan intensitas final tertinggi mencapai hasil db, sedangkan julat intensitas tertinggi mencapai db terdapat pada pembelajar BA (21210 ). Perolehan julat intensitas tertinggi penutur asli mencapai db. Ini menunjukkan bahwa julat intensitas pembelajar BA lebih tinggi bila dibandingkan dengan julat intensitas penutur asli mencapai selisih 3.58 db Modus Tuturan Interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] pembelajar BA Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11220) terlihat dari gambar 4.55 di bawah, menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai 81.7 db dan intensitas final 78.3 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 81.7 db

51 Gambar Intensitas pembelajar BA (11220) Gambar Intensitas pembelajar BA (21220) Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21220) terlihat dari gambar 4.56 di atas menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai 82.6 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 89.7 db Gambar Intensitas pembelajar BA (32220)

52 Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32220) terlihat dari gambar 4.57 di atas menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Intensitas dasar yang diperoleh mencapai 87.4 db db dan intensitas final 82.8 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 90.2 db Gambar Intensitas pembelajar BA (42220) Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42220) terlihat dari gambar 4.58 di atas menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai 87.0 db db dan intensitas final 80.3 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 88.4 db Interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] Penutur Asli Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh penutur asli (53220) terlihat dari gambar 4.59 menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang

53 diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db Gambar Intensitas penutur asli (53220) Gambar Intensitas penutur asli (63220) Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh penutur asli (63220) terlihat dari gambar 4.60 menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi

54 mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db. Tabel 4.4. Intensitas pembelajar BA dan penutur asli Penutur Intensitas (db) Int Dasar Int Final Julat Int Tertinggi Tabel di atas menunjukkan bahwa intensitas modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] dituturkan oleh empat penutur pembelajar BA. perolehan intensitas tertinggi pembelajar BA (32220) mencapai 87.4 db, dan perolehan intensitas final tertinggi mencapai hasil 82.8 db, sedangkan julat intensitas tertinggi mencapai 90.2 db. Perolehan julat intensitas tertinggi penutur asli mencapai db. Ini menunjukkan bahwa julat intensitas pembelajar BA lebih tinggi bila dibandingkan dengan julat intensitas penutur asli mencapai selisih 12.5 db.

55 Interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] Pembelajar BA Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11230) terlihat dari gambar 4.64 yang menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db Gambar Intensitas pembelajar BA (21230) Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21230) terlihat dari gambar 4.65 yang menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db.

56 Gambar Intensitas pembelajar BA (32230) Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32230) terlihat dari gambar 4.66 yang menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db Gambar Intensitas pembelajar BA (42230) Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42230) terlihat dari gambar 4.67 di atas, menunjukkan bahwa

57 tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db Interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] Penutur Asli Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh penutur asli (53230) terlihat dari gambar 4.68 di atas, menunjukkan bahwa kenyaringan bunyi suara berproduksi dari tekanan udara tinggi dan rendah sehingga terjadi perbedaan durasi gelombang antara satu kata dengan kata yang lain sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Perolehan hasil intensitas dasar ini mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db Gambar Intensitas penutur asli (53230) Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh penutur asli (63230) terlihat dari gambar 4.66 menunjukkan bahwa kenyaringan bunyi suara berproduksi dari tekanan udara tinggi dan rendah sehingga terjadi perbedaan durasi gelombang antara satu kata dengan kata yang

58 lain dan mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Perolehan hasil intensitas dasar ini mencapai db dan intensitas final db serta julat intensitas tertinggi mencapai db Gambar Intensitas penutur asli (63230) Tabel di bawah menunjukkan bahwa intensitas modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] dituturkan oleh empat penutur pembelajar BA dengan perolehan intensitas tertinggi jatuh pada titik intensitas dasar mencapai hasil db dituturkan oleh pembelajar BA (32230). Perolehan intensitas final tertinggi mencapai hasil db yang dituturkan oleh penutur yang sama, dan menghasilkan julat intensitas tertinggi mencapai db yang dituturkan oleh penutur yang sama juga. Adapun perolehan julat tertinggi penutur asli (63310) mencapai hasil db. Ini menunjukkan bahwa julat intensitas pembelajar BA lebih tinggi daripada julat intensitas penutur asli memperoleh selisih 6.73 db.

59 Tabel 4.5. Intensitas pembelajar BA dan penutur asli Intensitas (db) Penutur Int Dasar Int Final Julat Int Tertinggi Imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] Pembelajar BA Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11310) terlihat dari gambar 4.71 menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai 70.4 db dan intensitas final 78.1 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 81.5 db.

60 Gambar Intensitas pembelajar BA (11310) Gambar Intensitas pembelajar BA (21310) Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21310) terlihat dari gambar 4.72 menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas yang berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai 70.1 db dan intensitas final 84.1 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 88.4 db.

61 Gambar Intensitas pembelajar BA (32310) Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32310) terlihat dari gambar 4.73 di atas, menunjukkan bahwa kenyaringan bunyi suara yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga terjadi pula perbedaan durasi gelombang antara satu kata dengan kata yang lain. Akibat dari itu hasil intensitas yang diperoleh juga turut berbeda. Perolehan hasil intensitas dasar dari tuturan ini mencapai 75.7 db, dan intensitas final 80.8 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 88.7 db Gambar Intensitas pembelajar BA (42310)

62 Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42310) terlihat dari gambar 4.74 di atas, menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas turut berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai 71.4 db dan intensitas final 83.1 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 89.6 db Imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] Penutur Asli Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh penutur asli (53310) terlihat dari gambar 4.75 di atas, menunjukkan bahwa tinggi rendahnya tekanan udara dapat menjadikan intensitas bunyi tuturan yang diproduksi mengalami perbedaan sehingga mengakibatkan hasil intensitas turut berbeda. Hasil intensitas dasar yang diperoleh mencapai 68.5 db dan intensitas final 71.2 db serta julat intensitas tertinggi mencapai 77.2 db Gambar Intensitas penutur asli (53310) Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh penutur asli (63310) terlihat dari gambar 4.76 di atas, menunjukkan bahwa kenyaringan bunyi suara yang diproduksi melalui tekanan udara tinggi dan

63 rendah, sehingga mengalami perbedaan durasi pada gelombang bunyi antara satu kata dengan kata yang lain. Akibat dari itu, hasil intensitas yang diperoleh juga turut berbeda. Perolehan hasil intensitas dasar dari tuturan ini mencapai 72.2 db dan intensitas final 67.4 db serta julat intensitas tertinggi yang diperoleh mencapai 77.5 db Gambar Intensitas penutur asli (63310) Tabel 4.6. Intensitas Durasi pembelajar BA dan penutur asli Penutur Intensitas (db) Int Dasar Int Final Julat Int Tertinggi

64 Tabel di atas menunjukkan bahwa intensitas modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] dituturkan oleh empat penutur pembelajar BA dengan perolehan intensitas dasar tertinggi dituturkan oleh pembelajar BA (32310) mencapai 75.7 db. Perolehan intensitas final tertinggi dituturkan oleh pembelajar BA (21310) mencapai 84.1 db, dan perolehan julat intensitas tertinggi dituturkan oleh pembelajar BA (42310 ) mencapai 89.6 db. Perolehan julat intensitas tertinggi penutur asli (63310) mencapai 72.5 db. Hal ini menunjukkan bahwa julat intensitas pembelajar BA lebih lama daripada julat intensitas penutur asli selisih 17.1 db Durasi Modus Tuturan Pembelajar Bahasa Arab dan Penutur Asli Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui hentian segmen kata atau kalimat yang dapat diukur dalam satuan milidetik. Bila segmen kata itu terealisasi dengan bentuk ukuran hentian sesaat maka ini disebut jeda, dan bila segmen kalimat disebut tempo. Sedangkan seperangkat aturan yang menentukan pola durasi dalam tuturan ini disebut struktur temporal yang menentukan selisih perbedaan tuturan Deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] pembelajar BA Penelitian tentang modus tuturan deklaratif ini merupakan pemilahan tuturan berdasarkan segmen kata untuk mengetahui rentang durasi bunyi vokal atau konsonan dengan melakukan perbandingan antara bunyi durasi pembelajar BA dengan penutur asli guna untuk mencari selisih total durasi.

65 ak a l t u a l a r u z z a ma'aadda j a j i f i a lga d a i Gambar Durasi pembelajar BA (11110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11110) pada setiap kata telah memperoleh durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling lama adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [alaruzza] dan menghasilkan total durasi mencapai 4.63 md. a k a l t u a l a r u z z a m a a a d d a j a j i f i a l g hada i Gambar Durasi pembelajar BA (21110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21110) pada setiap kata telah memperoleh durasi

66 yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling lama adalah bunyi vokal [ i ] pada pada kata [aldajāji] dan menghasilkan total durasi mencapai 3.46 md. a k a l t u a l a r u z z a ma a a d d a j a j i f i a l g h a d a i Gambar Durasi pembelajar BA (32110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32110) pada setiap kata telah memperoleh durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling lama adalah bunyi vokal [ i ] pada kata [aldajāji] dan menghasilkan total durasi mencapai 3.63 md. a k a l t u a l a r u z z a ma a a d d a j a j i f i a l g h a d a i Gambar Durasi pembelajar BA (42110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42110) pada setiap kata telah memperoleh durasi

67 yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling lama adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [alɣadāi] dan menghasilkan total durasi mencapai 3.95 md Deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] Penutur Asli Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh penutur asli (53110) pada setiap kata telah memperoleh durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling lama adalah bunyi vokal [ i ] pada kata [aldajāji] dan menghasilkan total durasi mencapai 2.33 md. a k a l t u a l a r u zz a ma ' a a d d a j a j i f i a l g a d a i Gambar Durasi penutur asli (53110) Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh penutur asli (63110) pada setiap kata telah memperoleh durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling lama adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [alɣadāi] dan menghasilkan total durasi mencapai 2.66 md.

68 a k a l t u a l a r u z z a ma ' a a dd a j a j i f i a l gh a d a i Gambar Durasi penutur asli (63110) Modus tuturan deklaratif [akaltu al aruzza maʕa al dajā ji fī al ɣadāi] terdiri atas enam kata telah menunjukkan bahwa masing-masing kata memiliki durasi yang berbeda. Durasi tertinggi pada kata [akaltu] dituturkan oleh pembelajar BA (42110) mencapai hasil 0.84 md, dan durasi tertinggi penutur asli (63110) mencapai hasil 0.52 md. Hal ini terlihat bahwa durasi pembelajar BA lebih lama daripada durasi penutur asli memperoleh selisih 0.32 md. Tabel 4.7. Durasi pembelajar BA dan penutur asli Penutur Durasi (md) akaltu alaruzza maʕa al dajā ji fī al ɣadā i Total Durasi

69 Di antara seluruh tuturan deklaratif pembelajar BA yang tertinggi total durasinya adalah pembelajar BA (11110) mencapai 4.63 md, dan penutur asli (63110) mencapai 2.66 md. Ini menunjukkan bahwa total durasi penutur pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli yaitu selisih1.97 md Deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] Pembelajar BA Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11120) pada setiap kata mengalami perbedaan durasi. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi vokal [ a ] dari kata [alṣāfī] dan menghasilkan total durasi mencapai 4.68 md. yas r a b u a t i f l u k u b a n m i n a a l l a b a n i a s s h a f i Gambar Durasi pembelajar BA (11120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21120) pada setiap kata mengalami perbedaan

70 durasi. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi vokal [ i ] dari kata [alṣāfī] dan menghasilkan total durasi mencapai 3.23 md. y a s y r a b u a t t i f l u k u b a n m i n a l l a b a n i a s s h o f i Gambar Durasi pembelajar BA (21120) y a sy r a b ua t t i f l u k u b a n m i n a l l a b a n i a s s h o f i Gambar Durasi pembelajar BA (32120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32120) pada setiap kata mengalami perbedaan durasi. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi konsonan [ n ] dari kata [kūban] dan menghasilkan total durasi mencapai 4.27 md.

71 y a s y r a b u a t t i f l u k u b a n m i n a l l a b a n i a s s h o f Gambar Durasi pembelajar BA (42120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42120) pada setiap kata mengalami perbedaan durasi. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi vokal [ u ] dari kata [alṭiflu] dan menghasilkan total durasi mencapai 3.99 md Deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] Penutur Asli Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh penutur asli (53120) pada setiap kata mengalami perbedaan durasi. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi vokal [ i ] dari kata [alṣāfī] dan menghasilkan total durasi mencapai 2.56 md. y a s y r a b u a t t i f l u kubanm i n a a l l a b a n i a ssh a f i

72 Gambar Durasi penutur asli (53120) y a sy r ab u a t t i f l u k ub a n m i n a a l l a b a n i assh a f i Gambar Durasi penutur asli (63120) Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh penutur asli (63120) pada setiap kata mengalami perbedaan durasi. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi vokal [ i ] dari kata [min] dan menghasilkan total durasi mencapai 2.99 md. Tabel 4.8. Durasi pembelajar BA dan penutur asli Penutur Durasi (md) Total yaʃrabu al ṭiflu kūban min allabani al ṣāfī Durasi Di antara seluruh tuturan deklaratif pembelajar BA yang tertinggi total durasinya adalah pembelajar BA (11120) mencapai 4.68 md, dan penutur asli (63120) mencapai 2.99 md. Ini menunjukkan bahwa total durasi penutur

73 pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli yaitu selisih 1.69 md Interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] Pembelajar BA Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11210) pada setiap kata mengalami perbedaan. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi vokal [ u ] dari kata [yaðhabu] dan menghasilkan total durasi mencapai 2.58 md. m a t a y a z h a b u a h m a d u i l a a s u g i Gambar Durasi pembelajar BA (11210) m a t a y a z h a b u a h m a d u i l a a s s u q i

74 Gambar Durasi pembelajar BA (21210) Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21210) pada setiap kata mengalami perbedaan. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi vokal [ a ] dari kata [matā] dan menghasilkan total durasi mencapai 2.43 md. m a t a y a z h a b u a h m a d u i l a a s s u q i Gambar Durasi pembelajar BA (32210) Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42210) pada setiap kata mengalami perbedaan. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi vokal [ a ] dari kata [matā] dan menghasilkan total durasi mencapai 2.81 md. m a t ā y a ð h a b u a ħ m a d u i ā a a s s ū q i

75 Gambar Durasi pembelajar BA (42210) Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42210) pada setiap kata mengalami perbedaan. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi vokal [ a ] dari kata [ilā] dan menghasilkan total durasi mencapai 2.97 md Interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] Penutur Asli Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh penutur asli (53210) pada setiap kata mengalami perbedaan. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi vokal [ a ] dari kata [ilā] dan menghasilkan total durasi mencapai 1.77 md. m a t a y a z h a b u a hm a d i l a a s s u q i Gambar Durasi penutur asli (53210) Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh penutur asli (63210) pada setiap kata mengalami perbedaan. Namun rentang durasi yang paling lama terdapat pada bunyi konsonan [ q ] dari kata [qalamī] dan menghasilkan total durasi mencapai 1.80 md.

76 m a t a y a z h a b u a h m a d i l a a s s u q i Gambar Durasi penutur asli (63210) Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā al sūqi] terdiri atas enam kata menunjukkan bahwa masing-masing kata memperoleh durasi yang berbeda. Durasi tertinggi pada kata [matā] dituturkan oleh pembelajar BA (32210) mencapai hasil 0.69 md, dan durasi tertinggi dituturkan oleh penutur asli (63210) mencapai hasil 0.30 md. Tabel 4.9. Durasi pembelajar BA dan penutur asli Penutur Durasi (md) Matā yaðhabu aħmad ilā al sūqi Total Durasi

77 Di antara seluruh tuturan interogatif pembelajar BA yang tertinggi total durasinya adalah pembelajar BA (42210) mencapai 2.97 md, dan penutur asli (63210) mencapai 1.80 md. Ini menunjukkan bahwa total durasi penutur pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli yaitu selisih 1.17 md Interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] Pembelajar BA Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (11220) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda, namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi konsonan [ q ] pada kata [qalamī] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 2.34 md. a i n a t a d h a u q a l a m i Gambar Durasi pembelajar BA (11220) Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (21220) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda, namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ i ] pada kata [qalamī] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 1.79 md.

78 a i n a t a d h a u q a l a m i Gambar Durasi pembelajar BA (21220) Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (32220) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda, namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [aina] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 1.78 md. a i n a t a d h a u q a l a m i Gambar Durasi pembelajar BA (32220)

79 a i n a t a d h a u q a l a m i Gambar Durasi pembelajar BA (42220) Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh pembelajar BA (42220) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda, namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [qalamī] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 1.85 md Interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] Penutur Asli Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh penutur asli (53220) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda, namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [qalamī] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 1.13 md. a i n a t a d h a ' u q a l a m i Gambar Durasi penutur asli (53220)

80 Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh penutur asli (63220) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda, namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [taᵭaʕu] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 1.36 md. a i n a t a d h a ' u q a l a m i Gambar Durasi penutur asli (63220) Tabel Durasi Penutur pembelajar BA dan penutur asli Durasi (md) aina taᵭaʕu qalamī Total Durasi Di antara seluruh tuturan interogatif pembelajar BA yang tertinggi total durasinya adalah pembelajar BA (11220) mencapai 2.34 md, dan penutur asli (63220) mencapai 1.36 md. Ini menunjukkan bahwa total durasi penutur

81 pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli yaitu selisih 0.98 md Interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] Pembelajar BA Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh penutur pembelajar BA (11230) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ i ] pada kata [fī] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 2.84 md. m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Durasi pembelajar BA (11230) m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Durasi pembelajar BA (21230)

82 Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh penutur pembelajar BA (21230) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ u ] pada kata [tatanāwalu] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 2.30 md. m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Durasi pembelajar BA (32230) Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh penutur pembelajar BA (32230) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ u ] pada kata [tatanāwalu] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 2.99 md. m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Durasi pembelajar BA (42230) Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh penutur pembelajar BA (42230) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda,

83 namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [māðā] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 2.57 md Interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] Penutur Asli Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh penutur asli (53230) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [māðā] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 1.74 md. m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Durasi penutur asli (53230) m a z a t a t a n a w a l u f i a l a s y a k Gambar Durasi penutur asli (63230)

84 Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh penutur asli (63230) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [māðā] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 1.72 md. Tabel Durasi pembelajar BA dan penutur asli Penutur Durasi (md) māðā tatanāwalu fī al ʕaʃāi Total Durasi Di antara seluruh tuturan interogatif pembelajar BA yang tertinggi total durasinya adalah pembelajar BA (32230) mencapai 2.99 md, dan penutur asli (53230) mencapai 1.74 md. Ini menunjukkan bahwa total durasi penutur pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli yaitu selisih 1.25 md Imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] Pembelajar BA Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh penutur pembelajar BA (11310) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [alkitāba] sehingga total durasi yang diperoleh mencapai 1.97 md.

85 k h u z h a z a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Durasi pembelajar BA (11310) k h u z h a z a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Durasi pembelajar BA (21310). Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh penutur pembelajar BA (21310) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [yā] dan menghasilkan total durasi mencapai 2.69 md.

86 k h u z h a z a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Durasi pembelajar BA (32310) Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh penutur pembelajar BA (32310) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [yā] dan menghasilkan total durasi mencapai 2.44 md. k h u z h a z a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Durasi pembelajar BA (42310) Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh penutur pembelajar BA (42310) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [alkitāba] dan menghasilkan total durasi mencapai 2.65md.

87 Imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] Penutur Asli Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh penutur asli (53310) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [ʕuθmān] dan menghasilkan total durasi mencapai 1.69 md. k h u z h a z a a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Durasi penutur asli (53310) k h u z h a z a a l k i t a b a y a u s m a n Gambar Durasi penutur asli (63310) Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang dituturkan oleh penutur asli (63310) pada setiap kata mencapai durasi yang berbeda. Namun rentang durasi yang paling tinggi adalah bunyi vokal [ a ] pada kata [ʕuθmān] dan menghasilkan total durasi mencapai 1.83 md.

88 Tabel Durasi pembelajar BA dan penutur asli Penutur Durasi (md) χuð hāðā al kitāba yā ʕuθmān Total Durasi Di antara seluruh tuturan imperatif pembelajar BA yang tertinggi total durasinya adalah pembelajar BA (11310) mencapai 2.69 md, dan penutur asli (63310) mencapai 1.83 md. Ini menunjukkan bahwa total durasi penutur pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli yaitu selisih 0.86 md. 4.2 Hasil Pembahasan Frekuensi Deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī alɣadāi] yang dituturkan oleh enam penutur yaitu empat pembelajar BA dan dua penutur asli dinyatakan telah memperoleh hasil frekuensi dan durasi temporal yang berbeda.

89 FD FF FT FR Tempo K K K K K K Kontur/Penutur Gambar Frekuensi penutur Indonesia dan penutur Arab Di antara empat penutur pembelajar BA yang memperoleh durasi temporal tertinggi adalah (11110 ) dengan capaian detik. Sedangkan durasi temporal tertinggi dari dua penutur asli adalah penutur (63110 ) dengan capaian detik. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa durasi temporal pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan durasi temporal penutur asli dengan selisih detik Deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang dituturkan oleh enam penutur yaitu empat pembelajar BA dan dua penutur asli dinyatakan telah memperoleh hasil frekuensi dan durasi temporal yang berbeda.

90 FD FF FT FR Tempo 600,0 500,0 400,0 300,0 200,0 100,0 0,0 K K K K K K Kontur/Penutur Gambar Frekuensi pembelajar BA dan penutur asli Di antara empat penutur pembelajar BA yang memperoleh durasi temporal tertinggi adalah (11120) dengan capaian detik. Sedangkan durasi temporal tertinggi dari dua penutur asli adalah penutur (63120 ) dengan capaian detik. Ini menunjukkan bahwa durasi temporal pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan durasi temporal penutur asli dengan selisih detik Interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā alsūqi] yang dituturkan oleh enam penutur yaitu empat pembelajar BA dan dua penutur asli dinyatakan telah memperoleh hasil frekuensi dan durasi temporal yang berbeda FD FF FT FR Tempo 1000,0 500,0 0,0 K K K K K K Kontur/Penutur

91 Gambar Frekuensi pembelajar BA dan penutur asli Di antara empat penutur pembelajar BA yang memperoleh durasi temporal tertinggi adalah (42210) dengan capaian detik. Sedangkan durasi temporal tertinggi dari dua penutur asli adalah penutur (63210) dengan capaian detik. Ini menunjukkan bahwa durasi temporal pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan durasi temporal penutur asli dengan selisih detik Interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang dituturkan oleh enam penutur yaitu empat pembelajar BA dan dua penutur asli dinyatakan telah memperoleh hasil frekuensi dan durasi temporal yang berbeda. FD FF FT FR Tempo 600,0 500,0 400,0 300,0 200,0 100,0 0,0 K K K K K K Kontur/Penutur Gambar Frekuensi pembelajar BA dan penutur asli Di antara empat penutur pembelajar BA yang memperoleh durasi temporal tertinggi adalah (11220) dengan capaian detik. Sedangkan durasi temporal

92 tertinggi dari dua penutur asli adalah penutur (63220) dengan capaian detik. Hal ini menunjukkan bahwa durasi temporal pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan durasi temporal penutur asli dengan selisih detik Interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh enam penutur yaitu empat pembelajar BA dan dua penutur asli dinyatakan telah memperoleh hasil frekuensi dan durasi temporal yang berbeda. FD FF FT FR Tempo 600,0 500,0 400,0 300,0 200,0 100,0 0,0 K K K K K K Kontur/Penutur Gambar Frekuensi pembelajar BA dan penutur asli Di antara empat penutur pembelajar BA yang memperoleh durasi temporal tertinggi adalah (32230) dengan capaian detik. Sedangkan durasi temporal tertinggi dari dua penutur asli adalah penutur (53230) dengan capaian detik. Hal ini menunjukkan bahwa durasi temporal pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan durasi temporal penutur asli dengan selisih detik.

93 Imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang dituturkan oleh enam penutur yaitu empat pembelajar BA dan dua penutur asli dinyatakan telah memperoleh hasil frekuensi dan durasi temporal yang berbeda. 600,0 FD FF FT FR Tempo 500,0 400,0 300,0 200,0 100,0 0,0 K K K K K K Kontur/Penutur Gambar Frekuensi pembelajar BA dan penutur asli Di antara empat penutur pembelajar BA yang memperoleh durasi temporal tertinggi adalah (32310) dengan capaian detik. Sedangkan durasi temporal tertinggi dari dua penutur asli adalah penutur (63310) dengan capaian detik. Hal ini menunjukkan bahwa durasi temporal pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan durasi temporal penutur asli dengan selisih 0.86 detik.

94 4.2.2 Intensitas Deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī al ɣadāi] pembelajar BA dan penutur asli Modus tuturan deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī al ɣadāi] yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut telah mengalami perbedaan. Oleh karena itu pada bab ini akan membahas tentang pola intensitas yang dituturkan oleh enam penutur dan masing-masing tuturan diukur intensitas dasar dan intensitas final. Intensitas akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī al ɣadāi ID IF P P P P P P Penutur Gambar Intensitas pembelajar BA dan penutur asli Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa julat intensitas masing masing penutur dinyatakan berbeda. Julat intensitas tertinggi pembelajar BA (21110) mencapai 90.7 (db), dan julat intensitas penutur asli ( 53110) mencapai 83.0 (db). Ini menunjukkan bahwa julat intensitas pembelajar BA lebih

95 tinggi bila dibandingkan dengan julat intensitas penutur asli dengan capaian perbedaan 7.7 (db) Deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan deklaratif [yaʃrabu alṭiflu kūban min allabani alṣāfī] yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut telah mengalami perbedaan. Mengetahui tekanan intensitas dasar dan intensitas final dapat diukur melalui tuturan kalimat tersebut sehingga dapat ditentukan julat intensitas dalam tuturan masing-masing penutur. 100 yaʃrabu al tiflu kūban min al labani al ṣāfī ID IF 80 Intensitas P P P P P P Penutur Gambar Intensitas pembelajar BA dan penutur asli Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa julat intensitas masing masing penutur dinyatakan berbeda. Julat intensitas tertinggi pembelajar BA (21120) mencapai 90.9 (db), dan julat intensitas penutur asli (53120) mencapai (db). Ini menunjukkan bahwa julat intensitas pembelajar BA

96 lebih tinggi bila dibandingkan dengan julat intensitas penutur asli dengan capaian perbedaan 3.49 (db) Interogatif [matā yaðhabu aĥmad ilā alsūqi] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan interogatif [matā yaðhabu aĥmad ilā alsūqi] yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut telah mengalami perbedaan. Mengetahui tekanan intensitas dasar dan intensitas final dapat diukur melalui tuturan kalimat tersebut sehingga dapat ditentukan julat intensitas dalam tuturan masing-masing penutur. Intensitas matā yaðhabu aĥmad ilā alsūqi ID IF P P P P P P Penutur Gambar Intensitas pembelajar BA dan penutur asli Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa julat intensitas masing masing penutur dinyatakan berbeda. Julat intensitas tertinggi pembelajar BA (21210) mencapai (db), dan julat intensitas penutur asli (53210) mencapai (db). Ini menunjukkan bahwa julat intensitas pembelajar BA

97 lebih tinggi bila dibandingkan dengan julat intensitas penutur asli dengan capaian perbedaan 3.58 (db) Interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut telah mengalami perbedaan. Mengetahui tekanan intensitas dasar dan intensitas final dapat diukur melalui tuturan kalimat tersebut sehingga dapat ditentukan julat intensitas dalam tuturan masing-masing penutur. aina taᵭaʕu qalamī Intensitas ID IF P P P P P P Penutur Gambar Intensitas pembelajar BA dan penutur asli

98 Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa julat intensitas masing masing penutur dinyatakan berbeda. Julat intensitas tertinggi pembelajar BA (32220) mencapai 90.2 (db), dan julat intensitas penutur asli (53220) mencapai (db). Ini menunjukkan bahwa julat intensitas pembelajar BA lebih tinggi bila dibandingkan dengan julat intensitas penutur asli dengan capaian perbedaan (db) Interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan interogatif [māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi] yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut telah mengalami perbedaan. Mengetahui tekanan intensitas dasar dan intensitas final dapat diukur melalui tuturan kalimat tersebut sehingga dapat ditentukan julat intensitas dalam tuturan masing-masing penutur. 100 māðā tatanāwalu fī alʕaʃāi ID IF 80 Intensitas P P P P P P Penutur Gamabr Intensitas pembelajar BA dan penutur asli Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa julat intensitas masing masing penutur dinyatakan berbeda. Julat intensitas tertinggi pembelajar

99 BA (32230) mencapai (db), dan julat intensitas penutur asli (63230) mencapai (db). Ini menunjukkan bahwa julat intensitas pembelajar BA lebih tinggi bila dibandingkan dengan julat intensitas penutur asli dengan capaian perbedaan 6.73 (db) Imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan imperatif [χuð hāðā alkitāba yā ʕuθmān] yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut telah mengalami perbedaan. Mengetahui tekanan intensitas dasar dan intensitas final dapat diukur melalui tuturan kalimat tersebut sehingga dapat ditentukan julat intensitas dalam tuturan masing-masing penutur. Intensitas χuð hāðā al kitāba yā ʕuθmān ID IF P P P P P P Penutur Gambar Intensitas pembelajar BA dan penutur asli Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa julat intensitas masing masing penutur dinyatakan berbeda. Julat intensitas tertinggi pembelajar BA (42310) mencapai 89.6 (db), dan julat intensitas penutur asli (63310)

100 mencapai 77.5 (db). Ini menunjukkan bahwa julat intensitas pembelajar BA lebih tinggi bila dibandingkan dengan julat intensitas penutur asli dengan capaian perbedaan (db) Durasi Deklaratif [akaltu alaruzza maʕa aldajāji fī al ɣadāi] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli dalam modus tuturan deklaratif menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut mengalami perbedaan. Oleh karena itu pada bab ini akan membahas tentang struktur durasi yang dituturkan oleh enam penutur dan masing-masing tuturan diukur durasinya secara total. 5 total durasi total durasi 1 0 P P P P P P Gambar Durasi pembelajar BA dan penutur asli Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa durasi masing masing tuturan dinyatakan berbeda. Total durasi tertinggi pembelajar BA (11110) mencapai 4.63 md, dan total durasi penutur asli (63110) mencapai 2.66 md. Ini

101 menunjukkan bahwa total durasi pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli dengan capaian perbedaan 1.97 md Deklaratif [ yaʃrabu al ṭiflu kūban min al labani al ṣāfī ] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli dalam modus tuturan deklaratif menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut mengalami perbedaan. Oleh karena itu pada bab ini akan membahas tentang struktur durasi yang dituturkan oleh enam penutur dan masing-masing tuturan diukur durasinya secara total. Total Durasi Total Durasi Durasi P P P P P P Penutur Gambar Durasi pembelajar BA dan penutur asli Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa durasi masing masing tuturan dinyatakan berbeda. Total durasi tertinggi pembelajar BA (11120) mencapai 4.68 md, dan total durasi penutur asli (63120) mencapai 2.99 md. Ini

102 menunjukkan bahwa total durasi pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli dengan capaian perbedaan 2.99 md Interogatif [matā yaðhabu aħmad ilā al sūqi] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli dalam modus tuturan deklaratif menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut mengalami perbedaan. Oleh karena itu pada bab ini akan membahas tentang struktur durasi yang dituturkan oleh enam penutur dan masing-masing tuturan diukur durasinya secara total. Total Durasi Total Durasi Durasi 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 P P P P P P Penutur Gambar Durasi pembelajar BA dan penutur asli Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa durasi masing masing tuturan dinyatakan berbeda. Total durasi tertinggi pembelajar BA (42210)

103 mencapai 2.97 md, dan total durasi penutur asli (63210) mencapai 1.80 md. Ini menunjukkan bahwa total durasi pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli dengan capaian perbedaan 1.17 md Interogatif [aina taᵭaʕu qalamī] pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli dalam modus tuturan deklaratif menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut mengalami perbedaan. Oleh karena itu pada bab ini akan membahas tentang struktur durasi yang dituturkan oleh enam penutur dan masing-masing tuturan diukur durasinya secara total. Total Durasi Total Durasi Durasi 2,5 2 1,5 1 0,5 0 P P P P P P Penutur Gambar Durasi pembelajar BA dan penutur asli

104 Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa durasi masing masing tuturan dinyatakan berbeda. Total durasi tertinggi pembelajar BA (11220) mencapai 2.34 md, dan total durasi penutur asli (63220) mencapai 1.36 md. Ini menunjukkan bahwa total durasi pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli dengan capaian perbedaan 0.98 md Interogatif [ māðā tatanāwalu fī al ʕaʃāi] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli dalam modus tuturan deklaratif menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut mengalami perbedaan. Oleh karena itu pada bab ini akan membahas tentang struktur durasi yang dituturkan oleh enam penutur dan masing-masing tuturan diukur durasinya secara total. Total Durasi Total Durasi Durasi 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 P P P P P P Penutur

105 Gambar Durasi pembelajar BA dan penutur asli Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa durasi masing masing tuturan dinyatakan berbeda. Total durasi tertinggi pembelajar BA (32230) mencapai 2.99 md, dan total durasi penutur asli (53230) mencapai 1.74 md. Ini menunjukkan bahwa total durasi pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli dengan capaian perbedaan 1.25 md Imperatif [χuð hāðā al kitāba yā ʕuθmān] Pembelajar BA dan Penutur Asli Modus tuturan yang terdiri atas enam penutur yaitu empat penutur pembelajar BA dan dua penutur asli dalam modus tuturan deklaratif menunjukkan bahwa bunyi tuturan tersebut mengalami perbedaan. Oleh karena itu pada bab ini akan membahas tentang struktur durasi yang dituturkan oleh enam penutur dan masing-masing tuturan diukur durasinya secara total. 3 Total Durasi Total Durasi Durasi P P P P P P Penutur Gambar Durasi pembelajar BA dan penutur asli

106 Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa durasi masing masing tuturan dinyatakan berbeda. Total durasi tertinggi pembelajar BA (11310) mencapai 2.69 md, dan total durasi penutur asli (63310) mencapai 1.83 md. Ini menunjukkan bahwa total durasi pembelajar BA lebih lama bila dibandingkan dengan total durasi penutur asli dengan capaian perbedaan 0.86 md. 4.3 Faktor Penyebab Frekuensi, Intensitas dan Durasi Pembelajar BA Hasil penelitian menunjukkan frekuensi, intensitas dan durasi dari tuturan pembelajar BA mempunyai perbedaan titik artikulasi pengucapan konsonan dan vokal dengan penutur asli BA dalam modus tuturan deklaratif, interogatif dan imperatif. Faktor penyebab terjadinya Frekuensi, Intensitas dan Durasi pembelajar BA dalam modus tuturan deklaratif, interogatif dan imperatif dapat diuraikan sebagai berikut: Bunyi Konsonan Tuturan bunyi konsonan pembelajar BA dalam modus deklaratif, interogatif dan imperatif tidak berada pada titik artikulasi yang tepat seperti tuturan penutur asli BA sebagai berikut: 1) Dalam kalimat deklaratif terkandung beberapa bunyi konsonan di antaranya adalah; a. Bunyi konsonan [ z ] dilambangkan dengan [ و ] terdapat pada kata dan silaba [alaruzza] dengan bunyi ganda (tasydid) dilambangkan dengan [.[ Dalam ujaran bahasa Indonesia bunyi tasydid ini tidak pernah ada baik dalam bentuk tuturan maupun tulisan. Oleh karena itu tuturan pembelajar BA tidak tepat

107 menurut artikulatoris dan mengakibatkan tekanan suara menjadi lemah atau nyaring sehingga tejadi perbedaan pada getaran gelombang dan intonasi bunyi antara pembelajar BA dengan penutur asli. b. Bunyi konsonan [ ʕ ] dilambangkan dengan [ [ع pada kata dan silaba [maʕa] Dalam ujaran bahasa Indonesia bunyi laringual [ʕ] ini tidak ada terjadi baik dalam bentuk tuturan maupun tulisan. Meskipun bunyi ini ada digunakan di dalam bahasa Indonesia berarti kata tersebut bukanlah murni berasal dari bahasa Indonesia melainkan kata itu adalah kata pinjaman dari bahasa Arab. Apabila pembelajar BA menuturkan bunyi [ ʕ ] maka bunyi itu berubah menjadi [ Ɂ ] baik itu posisinya di awal kata, tengah ataupun akhir. Contoh awal kata; [ ʕlmu] diucapkan menjadi [Ɂlmu], tengah [ jamāʕah ] diucapkan menjadi [jamaɂah], sedangkan di akhir kata bisa berubah menjadi bunyi [ k ] seperti kata [ jamaʕ] diucapkan menjadi [jamak]. c. Bunyi konsonan [ ɣ ] yang dilambangkan dengan [ ؽ ] pada kata dan silaba [al ɣadāi] bahwa bunyi dorso-velar atau al ṭabaqiyah ini tidak ada dalam ujaran bahasa Indonesia, pembelajar BA tidak terbiasa menuturkan bunyi [ ɣ ] dalam bentuk percakapan dan tulisan, oleh karena itu apabila pembelajar BA mengujarkan bunyi tersebut dapat berubah menjadi bunyi [ g ]. Contoh; kata [ɣaib] diucapkan menjadi [ gaib ]. d. Bunyi konsonan [ ʃ ] dilambangkan dengan [ ] pada kata dan silaba [yaʃrabu] bahwa bunyi fronto-palatal (al- ġāriyah) [ ʃ ] tidak ada dalam ujaran bahasa Indonesia, pembelajar BA tidak tepat mengujarkan bunyi meskipun bunyi ini ada kemiripan dengan bunyi [ s ] sehingga apabila pembelajar BA menuturkan bunyi [ ʃ ] dalam bentuk kata, bunyi tersebut

108 dapat berubah menjadi bunyi [ s ]. Contoh; kata [ ʃawwāl ] diucapkan menjadi [ sawal]. e. Bunyi konsonan [ ṭ ] dilambangkan dengan [ غ ] pada kata dan silaba [al ṭiflu]. Bunyi apiko- alveolar (al asnāniyah al laθawiyah) [ ṭ ] ini tidak ada dalam ujaran bahasa Indonesia baik dalam bentuk tuturan maupun tulisan, dan bunyi [ ṭ ] disebut bunyi mufaxxam atau berbunyi tebal. Meskipun bunyi [ ṭ ] ada kemiripan dengan bunyi alveodental [ t ] namun tuturan pembelajar BA belum tepat menurut artikulasinya, dan apabila dituturkan dalam bentuk kata bunyi itu dapat berubah menjadi bunyi [ t ]. Contoh kata [ ṭamaɂ] diucapkan menjadi [tamak]. f. Bunyi konsonan [ ṣ ] dilambangkan dengan [ ] pada kata dan silaba [alṣhāfī]. Bunyi alveodental (asnāniyyah laθawiyyah) ini tidak ada dalam ujaran bahasa Indonesia baik dalam bentuk tuturan maupun tulisan. Disamping itu dari segi tempat artikulasinya bunyi [ ṣ ] adalah tergolong bunyi mufaxxam ( tebal), dan bunyi [ ṣ ] disebut bunyi mufaxxam atau berbunyi tebal. Apabila pembelajar BA menuturkan bunyi [ ṣ ] dalam bentuk kata bunyi tersebut dapat berubah menjadi bunyi [s] yang mengakibat tekanan suara menjadi lemah. Contoh kata [ṣabr] diucapakan menjadi [sabar]. 2) Dalam kalimat interogatif terkandung beberapa bunyi konsonan di antaranya adalah: a. Bunyi konsonan [ ð ] dilambangkan dengan [ ل ] pada kata dan silaba [yaðhabu]. Bunyi inter-dental atau al asnāniyah [ ð ] ini tidak ada di dalam bahasa Indonesia, pembelajar BA tidak pernah mengujarkan bunyi [ ð ] dalam bentuk kata atau tulisan. Meskipun bunyi [ ð ] ada kemiripan

109 dengan bunyi [ z ] namun tuturan pembelajar BA masih belum tepat artikulasinya dalam mengujarkan kata [yaðhabu] sehingga menyebabkan tekanan suara dan gelombang bunyi menjadi lemah, sehingga dapat mengalami perbedan frekuensi, intensitas dan durasi antara pembelajar BA dengan penutur asli. Apabila bunyi [ ð ] ini diujarkan oleh pembelajar BA bunyi tersebut dapat berubah menjadi bunyi [ z ]. Contoh; kata [ laððah] diucapkan menjadi [ lezat]. b. Bunyi konsonan [ ħ ] dilambangkan dengan [ غ ] pada kata dan silaba [aħmad]. Bunyi pharyngal atau al ħalaqiyah [ غ ] ini tidak ada dalam di bahasa Indonesia, pembelajar BA tidak pernah mengujarkan bunyi [ ħ ] dalam bentuk kata atau tulisan. Apabila pembelajar BA menuturkan bunyi [ ħ ] dalam bentuk kata bunyi tersebut dapat berubah menjadi bunyi laringal [ h ]. Contoh; kata [ħadiθ] diucapkan menjadi [hadits], kata: [muħammad] diucapkan menjadi [muhammad ]. c. Bunyi konsonan [ q ] dilambangkan dengan [ ق ] pada kata dan silaba [al sūqi]. Bunyi dorso-uvular atau al lahwiyah [ q ] ini tidak ada di dalam bahasa Indonesia, pembelajar BA disaat menuturkan bunyi [ q ] dalam bentuk kata bunyi tersebut dapat berubah menjadi bunyi dorsovelar laringal [ k ]. Contoh; di awal kata, [qarun] diucapkan menjadi [ karun ] tengah kata, [ ħaqīqah ] diucapkan menjadi [ hakikat ] dan akhir kata, [ħaq ] diucapkan menjadi [ hak ]. d. Bunyi konsonan [ᵭ] dilambangkan dengan [ ض ] pada kata dan silaba [taᵭaʕu]. Bunyi alveodental (asnāniyyah laθawiyyah) [ᵭ] ini tidak ada di dalam bahasa Indonesia, pembelajar BA belum tepat mengujarkan bunyi

110 tersebut. Apabila pembelajar BA menuturkan bunyi [ᵭ] dalam bentuk kata bunyi tersebut dapat berubah menjadi bunyi [ d ]. Contoh; kata [ ᵭarurah ] diucapkan menjadi [ darurat ]. e. Bunyi konsonan [ ʕ ] dilambangkan dengan [ ع ] pada kata dan silaba [taᵭaʕu]. Bunyi laringal (ħalaqiyyah) [ʕ] ini tidak ada di dalam bahasa Indonesia, pembelajar BA apabila menuturkan bunyi dalam bentuk kata bunyi tersebut dapat berubah menjadi bunyi Contoh; kata [ʕlmu] diucapkan menjadi [Ɂlmu / ilmu]. 3) Dalam kalimat imperatif terkandung beberapa bunyi konsonan di antaranya adalah: a. Bunyi konsonan [ χ ] dilambangkan dengan [ ؾ ] pada kata dan silaba [χuð ]. Bunyi dorso-velar atau al ṭabaqiyah [ χ ] ini tidak ada di dalam bahasa Indonesia dan bunyi ini mempunyai kemiripan dengan bunyi [ k ]. Apabila bunyi [ χ ] diujarkan dalam bentuk kata bunyi tersebut dapat berubah menjadi bunyi [ k ]. Contoh; kata [ χabar ] diucapkan menjadi [ kabar ]. Oleh karena itu pembelajar BA belum tepat menuturkan kata [ χuð ] menurut tempat artikulasinya. b. Bunyi konsonan [ θ] dilambangkan dengan [ ز ] pada kata dan silaba [ʕuθmān ]. Bunyi inter-dental atau al asnāniyah [ θ ] ini tidak ada di dalam bahasa Indonesia dan bunyi ini mempunyai kemiripan dengan bunyi [ s ]. Apabila bunyi [ θ ] diujarkan dalam bentuk kata bunyi tersebut dapat berubah menjadi bunyi [ s ]. Contoh; kata [ baħaθ] diucapkan menjadi [bahas], [ħadi θ] diucapkan menjadi [ hadis ].

111 4.3.2 Bunyi Vokal Tuturan bunyi vokal pembelajar BA dalam modus deklaratif, interogatif dan imperatif berbeda secara temporal dengan tuturan penutur asli BA sebagai berikut: 1) Dalam kalimat deklaratif terkandung beberapa bunyi vokal di antaranya adalah; a. Bunyi vokal rangkap atau panjang [ ā ] dilambangkan dengan ( ا ) pada kata dan silaba [ aldajāji ], [al ɣadāi], dan kata [alṣāfī ]. b. Bunyi vokal rangkap atau panjang [ ū ] dilambangkan dengan ( ) pada kata dan silaba[ kūban ]. c. Bunyi vokal rangkap atau panjang [ ī ] dilambangkan dengan ( ي ) pada kata dan silaba [ al ṣāfī ] dan [fī]. 2) Dalam kalimat interogatif terkandung beberapa bunyi vokal di antaranya adalah; a. Bunyi vokal rangkap atau panjang [ ā ] dilambangkan dengan ( ا ) pada kata dan silaba [matā] dan [māðā]. b. Bunyi vokal rangkap atau panjang [ ū ] dilambangkan dengan ( ) pada kata dan silaba [alsūqi] c. Bunyi vokal rangkap atau panjang [ ī ] dilambangkan dengan ( ي ) pada kata dan silaba [qalamī]. 3) Dalam kalimat imperatif terkandung beberapa bunyi vokal di antaranya adalah; a. Bunyi vokal rangkap atau panjang [ ā ] dilambangkan dengan ( ا ) pada kata dan silaba [hāðā], [yā], [tā] dan [mān].

112 BAB V TEMUAN DAN IMPLIKASI 5.1 Temuan Frekuensi, Intensitas dan Durasi Tuturan Deklaratif Dari hasil pembahasan penelitian di atas dapat disimpulkan beberapa temuan frekuensi dan intensitas tuturan deklaratif sebagai berikut: 1. Dalam frekuensi dan intensitas pembelajar bunyi konsonan [ z ] dilambangkan dengan [ و ], [ ʕ ] dilambangkan dengan [ ع ], [ɣ] dilambangkan dengan [,[غ [ ʃ ] dilambangkan dengan [ ], [ ṭ ] dilambangkan dengan [ غ ], [ ṣ ] dilambangkan dengan [ ] terdapat pada kata dan silaba diujarkan pembelajar sebagai bunyi ganda (tasydid) dilambangkan ( [ ] dengan yang terdapat di atas konsonannya). Dalam ujaran bahasa Indonesia bunyi tasydid ini tidak pernah ada baik dalam bentuk tuturan maupun tulisan, sehingga pembelajar BA menuturkan kata tersebut tidak tepat pada titik artikulator, sehingga menyebabkan tekanan suara menjadi lemah pada getaran gelombang dan intonasi. Dengan perbedaan getaran gelombang dan intonasi pada modus tuturan deklaratif dapat menyebabkan perbedaan durasi sehingga menimbulkan tempo yang berbeda pula dengan bunyi yang dituturkan oleh penutur asli. 2. Dalam durasi pembelajar, ditemukan faktor yang menyebabkan terjadi perbedaan durasi bunyi vokal antara ujaran pembelajar BA dengan penutur asli. Oleh karena bunyi vokal rangkap tersebut tidak terdapat di dalam bunyi bahasa Indonesia, apabila menuturkan bunyi vokal rangkap tersebut

113 pembelajar BA selalu mengalami perbedaan durasi dengan penutur asli sebagai berikut: ) ا ( dengan a. Bunyi vokal rangkap atau panjang [ ā ] dilambangkan pada kata [aldajāji] silaba [jā], [alɣadāi] silaba [dā], kata [alʃāfī] silaba [ ʃā ]. b. bunyi vokal rangkap atau panjang [ū] dilambangkan dengan ( ) pada kata [kūban ] silaba [kū ]. ) ي) c. Bunyi vokal rangkap atau panjang [ ī ] dilambangkan dengan pada kata [alʃāfī] silaba [ fī ] Frekuensi, Intensitas dan Durasi Tuturan Interogatif Dari hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa temuan sebagai berikut: 1. Dalam frekuensi dan intensitas pembelajar, bunyi konsonan [ð] dilambangkan dengan [ ل ], [ ħ ] dilambangkan dengan [ غ ], [ q ] dilambangkan dengan [ ق ], [ᵭ] dilambangkan dengan [ ض ], [ ʕ ] dilambangkan dengan [ ع ], [ð] dilambangkan dengan [ ل ] dan [ ʃ ] dilambangkan dengan [ ] pada kata pada kata dan silaba. Dengan demikian tekanan suara menjadi lemah dan mengakibatkan gelombang bunyi antara pembelajar BA dengan penutur asli mengalami perbedaan. 2. Dalam durasi pembelajar, ditemukan faktor yang menyebabkan terjadi perbedaan durasi bunyi vokal antara ujaran pembelajar BA dengan penutur asli. Oleh karena bunyi vokal rangkap tersebut tidak terdapat di dalam bunyi bahasa Indonesia, apabila menuturkan bunyi vokal rangkap tersebut pembelajar BA selalu mengalami perbedaan durasi dengan penutur asli sebagai berikut:

114 ) ا ( dengan a. Bunyi vokal rangkap atau panjang [ ā ] dilambangkan pada kata [matā] silaba [tā], kata [ lā] silaba [ lā ], kata [māðā] silaba [mā] dan [ðā]. b. bunyi vokal rangkap atau panjang [ū] dilambangkan dengan ( ) pada kata [alsūqi] silaba [sūq ]. ) ي) d. Bunyi vokal rangkap atau panjang [i] dilambangkan dengan pada kata kata [qalamī ] silaba [mī ], kata [ fī] Frekuensi, Intensitas dan Durasi Tuturan Imperatif Dari hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa temuan sebagai berikut: 1. Dalam frekuensi dan intensitas pembelajar, bunyi konsonan [χ] dilambangkan dengan [ ؾ ], [ ð ] dilambangkan dengan [ ل ] dan [ θ] ] ] ز [ dengan dilambangkan pada kata pada kata dan silaba. Dengan demikian tekanan suara menjadi lemah dan mengakibatkan gelombang bunyi antara pembelajar BA dengan penutur asli mengalami perbedaan. 2. Dalam durasi pembelajar, ditemukan faktor yang menyebabkan terjadi perbedaan durasi bunyi vokal antara ujaran pembelajar BA dengan penutur asli. Oleh karena bunyi vokal rangkap tersebut tidak terdapat di dalam bunyi bahasa Indonesia, apabila menuturkan bunyi vokal rangkap tersebut pembelajar BA selalu mengalami perbedaan durasi dengan penutur asli sebagai berikut: a. Bunyi vokal rangkap atau panjang [ ā ] antara lain pada kata kata [ alkitāba] silaba [ tā] dan kata [ ʕuθmān] silaba [mān ].

115 5.2 Implikasi Metode pembelajaran dalam bahasa Arab disebut غه مح (ṭarīqah ) yaitu cara mengajar dan belajar. Metode mengajar adalah termasuk salah satu alat yang memiliki peran penting setelah tenaga pengajar, pembelajar dan materi yang diajarkan. Seorang pengajar merupakan pondasi dalam proses mengajar, karena ia sebagai penengah antara pembelajar dan buku pelajaran, maka metode mengajar sebagai lingkaran yang melibatkan tiga unsur yaitu pengajar, buku dan pembelajar. Dengan metode mengajar pengajar dapat mentransfer isi materi kepada pembelajar, namun hasil mengajar dapat berbeda sekalipun buku dan materinya sama. Unsur kecakapan berbahasa ( اناخ ا غح ) dalam bahasa Arab ada empat, pertama; ا ر اع ( menyimak ), kedua; وال (berbicara), ketiga; لهاءج (membaca) dan keempat; وراتح (menulis). Bahasa Arab termasuk bahasa yang berbeda dengan bahasa asing lainnya, yaitu dalam bentuk ucapan, tulisan, gramatikal, tatabahasa dan cara pemakaiannya. Dengan demikian maka pengajaran bahasa Arab adalah bertujuan untuk mengembangkan kemampuan percakapan bagi pembelajar. Sebelum menguasai kecakapan berbicara mempelajari kecakapan menyimak lebih diutamakan. Oleh karena itu pengajar tidak cukup hanya dengan mengenalkan kaedah-kaedahnya saja, akan tetapi harus memperkenalkan juga cara pemakainnya. Metode Audio-Lingual ( ا ؼ ح ا ف ح (ا طه مح adalah suatu metode pengajaran bahasa yang mengutamakan latihan pendengaran dan ucapan. Metode ini bertujuan untuk dapat memproduk para siswa memiliki empat kecakapan sekaligus ( menyimak, berbicara, membaca dan menulis) dengan lebih banyak

116 memperhatikan kepada kecakapan lisan, karena mengingat prinsip bahasa itu sendiri adalah merupakan media komunikasi antar bangsa (Badri 1985 : 24). Menyimak ( (اإل ر اع salah satu unsur kecakapan yang esensial dalam proses pembelajaran bahasa Arab dan menyimak itu sifatnya naluri manusia. Seseorang tidak dapat mengujarkan kata-kata apabila ia belum pernah mendengar kata-kata tersebut. Pengajar hendaknya menetapkan satu prinsip bahwa pengajaran bahasa harus dimulai dengan mengajarkan aspek pendengaran dan pengucapan sebelum aspek membaca dan menulis. Karena kemampuan memahami dan mengucapkan adalah merupakan tujuan daripada pembelajaran bahasa. Pengajaran bahasa Arab hendaknya diberikan secara bertahap. Tahapan tersebut dimulai dengan melatih menyimak bunyi ujaran yang jelas (fasih) baik bunyi konsonan maupun vokal dalam bentuk kata dan kalimat. Pada tahap berikutnya pembelajar meniru dan mengulangi ujaran bunyi yang didengar. Pada perinsipnya bentuk kegiatan pembelajaran dalam metode audio-lingual ini adalah untuk menguasai percakapan bukan menguasai gramatikal, karena kemampuan gramatikal itu hanya merupakan sebagai media bukan tujuan. Seseorang sudah mampu menggunakan bahasa Arab dalam bentuk percakapan berarti dia sudah menggunakan gramatikal secara langsung. Bahkan seseorang itu bisa lebih cepat mempelajari gramatikal bahasa Arab (kaidah) setelah memiliki kecakapan berbicara dengan baik dan fasih. Kegiatan yang paling ditekankan dalam metode audio-lingual ini adalah mengulang dan menghafal kalimat percakapan yang mengandung pola-pola gramatikal tertentu. Di samping itu, dalam penerapan metode ini pengajar tidak hanya mentrasfer ilmu kepada para pembelajar, tetapi dia harus mampu

117 mengujarkan kata-kata bahasa Arab secara fonetis. Yakni, ujaran bunyi vokal panjang dan vokal pendek serta bunyi konsonan yang sesuai dengan cara dan tempat artikulasinya. Seorang pengajar berperan sebagai model pada semua tahapan pembelajaran dengan selalu melatih keterampilan menyimak dan berbicara tanpa didahului dengan bahasa tulis. Model utama yang diberikan kepada pembelajar adalah bagaimana pembelajar dapat mendengarkan sebuah percakapan yang diujarkan oleh pengajar secara berulang-ulang atau mendengarkan kaset rekaman yang mengandung struktur atau kaidah pokok yang menjadi fokus pembelajaran. Kemudian para pembelajar mengulangi dan menghapal model dialog secara berpasangan-pasangan tanpa melihat buku. Penggunaan kosakata pada tahap pembelajaran ini dimulai dari kosakata yang digunakan dalam kegiatan percakapan sehari-hari berupa kata benda konkrit, yaitu kata benda yang dapat diraba oleh tangan dan dapat dilihat oleh mata. Untuk lebih mudah bagi pembelajar menguasai kosakata bahasa Arab pengajar terlebih dahulu memberikan kosakata yang mempunyai kemiripan dengan bunyi bahasa ي / [s ], و / z [,[ن / r [ ], ق / [d ], ض / j [ ], خ / t [ ], ب / b Indonesia. Seperti bunyi [ ]. ي / y [ m / ], [ n / ], [ w / ], [ ], ي / l [ ], ن / [k ], Sebelum latihan percakapan bahasa Arab dilakukan pengajar terlebih dahulu mengkelompokkan para pembelajar menjadi dua bagian. Kemudian pengajar memperdengarkan bacaan teks dialog yang benar dan jelas dengan bacaan pelan dan berulang-ulang. Setelah itu pengajar meminta pembelajar untuk mengulangi dialog dan menghapalnya secara bersama-sama hingga lancar selama duapuluh menit. Lalu pengajar meminta kepada masing-masing pasangan untuk mempraktikkan hapalan dialog di hadapan kelas

118 Untuk memperkuat dan mempertajam ingatan pembelajar dalam memahami teks percakapan perlu dilakukan beberapa jenis bentuk latihan ( dalam bentuk tulisan. Latihan yang diberikan kepada pembelajar adalah (ذكن ثاخ jenis latihan yang dapat menjadikan pembelajar mampu membuat kata kata menjadi kalimat nomina antara lain; 1) menghubungkan antara satu kata benda dengan kata benda lain sehingga dapat menjadi sebuah kalimat, 2) menjodohkan antara dua kata benda yang sama maknanya disebut tarāduf ذهاقف) ), atau dua kata yang berlawanan makna disebut muᵭād ( ( عاق sehingga dapat menjadi sebuah kalimat nomina. Dalam hal ini pembentukan kalimat yang lebih diutamakan adalah kalimat nomina sebelum kalimat verba dan 3) menyempurnakan kalimat dengan menuliskan pada kolom yang kosong sebagai jawabannya. Kegiatan latihan ini bertujuan untuk menambah jumlah kosakata dan mebiasakan diri untuk merangkaikannya menjadi kalimat sempurna. Dari kegiatan proses pembelajaran bahasa Arab yang sudah dilakukan sesungguhnya pembelajar lebih mudah memahami kaidah dasar berbahasa Arab. Banyaknya muatan materi latihan yang diberikan ini akan menjadikan para pembelajar menjadi terbiasa mengucapkan kata bahasa Arab serta diiringi dengan ). ذؼث ه ذؽه هي ( tahriri kemampuan menulis disebut ta bir

119 BAB VI SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan Berdasarkan permasalahan dan analisis dalam pembahasan terhadap hasil penelitian ini maka penelitian menyimpulkan sebagai berikut : 1. Dari segi bunyi disimpulkan bahwa: a) Bunyi vokal pendek bahasa Arab ada tiga yaitu: [ a / ] [u. [ / i [ ], / [ي / ī [ ū / ] [ ] ا / ā b) Bunyi vokal panjang bahasa ada tiga : [ c) Bunyi konsonan yang tidak termasuk ke dalam daftar bunyi [,[ل / ð [,[ؾ / kh [,[غ / ħ [,[ز / ts bahasa Indonesia yaitu : [ sy / ], [sh / ], [dl / ض ], [ th /,[غ [ zh / / [ ], ظ,[ع [ gh /Ɂ]. ء],[ق / [q ], ف / f [,[ؽ / 2. Dari hasil penelitian frekuensi disimpulkan bahwa kontur nada tuturan pembelajar Bahasa Arab dalam ujaran modus deklaratif, interogatif dan durasi terjadi perbedaan getaran, gelombang dan intonasi sehingga bunyi mengalami tingkatan naik dan turun sehingga tuturan tersebut menhalami perbedaan dengan penutur model yaitu penutur asli. 3. Dari hasil penelitian intensitas disimpulkan bahwa tuturan pembelajar bahasa Arab dalam ujaran modus deklaratif, interogatif dan durasi terjadi tekanan bunyi yang keras dan nyaring pada setiap kata, sehingga tuturan tersebut mengalami perbedaan dengan penutur asli.

120 4. Dari hasil penelitian durasi disimpulkan bahwa tuturan pembelajar bahasa Arab dalam ujaran modus deklaratif, interogatif dan durasi terjadi rentang waktu yang panjang pada tiap kata yang mengandung bunyi vokal dan konsonan sehingga tuturan tersebut mengalami perbedaan dengan penutur asli. 5. Faktor penyebab pembelajar bahasa Arab di Medan mengucapkan frekuensi, intensitas dan durasinya tuturan bahasa Arab menunjukkan bahwa pembelajar bahasa Arab melafalkan bunyi sebagai berikut: a) Bunyi konsonan yang tidak tepat diucapkan oleh pembelajar BA adalah sebagai berikut : [ ts /,[ز [ ħ /,[غ [ kh /,[ؾ [ ð /,[ع / [ ], ظ / zh [,[غ / th [ ], ض / [dl [ sy / ], [sh / ],,[ل [ gh /,[ؽ [ f / ف ], [q / ء],[ق /Ɂ]. b) Bunyi vokal pendek bahasa Arab yang tidak tepat diucapkan oleh pembelajar BA adalah sebagai berikut : [ a / ] [u /. [ / i [ ], c) Bunyi vokal panjang yang tidak tepat diucapkan oleh [ي / ī [ ū / ] [ ] ا / ā pembelajar BA adalah sebagai berikut : [ 6.2 Saran Penelitian ini adalah tentang eksperimen produksi dan diskripsi dalam pelafalan bahasa Arab. Melihat betapa pentingnya ilmu Fonetik bahasa Arab bagi masyarakat muslim di negeri ini maka diharapkan kepada peneliti berikutnya untuk mengkaji bahasa Arab lebih spesifik lagi mengaitkan fonetik eksperimental bahasa Arab dengan kajian morfologi, sintaksis, simantik dan pragmatik. Selain

121 itu kajian bahasa Arab juga dapat diperdalam jika dihubungkan dengan kajian terhadap metode pemebelajaran bahasa Arab. 6.3 Solusi Hasil penelitian ini dapat memberi solusi kepada pengajar dan pembelajar bahasa Arab dengan melakukan beberapa cara sebagai berikut: 1. Membuat program pembelajaran yang mencakup teknik pemebelajaran yang berkaitan dengan bunyi (aswat) bahasa Arab. Untuk itu diusulkan menjadi mata pelajaran / dalam kurikulum sekolah dan perguruan tinggi, terutama di lingkungan Al jam iyatu Al Washliyah kota Medan. 2. Penerapan pembelajaran ilmu fonetik bahasa Arab baik di sekolah maupun perguruan tinggi dilakukan di dalam laboratorium bahasa supaya pembelajar dapat mendengarkan bunyi bahasa Arab langsung dari penutur asli (native speaker) dan mempraktikkan bahasa tersebut bersama komunitas yang sudah dibangun. 3. Metodologi pengajaran ilmu fonetik yang digunakan lebih ditekankan kepada metode langsung (talaqqi) diajarkan oleh tenaga pendidik yang berkompeten dalam bidangnya tanpa mengabaikan buku panduan dasar dan kurikulum ilmu fonetik bahasa Arab. 4. Untuk melatih pendidik bahasa Arab terutama pada bidang ilmu fonetik dipandang sangat perlu untuk memperkenalkan dan mengajarkan kepada para pendidik tentang bunyi bahasa Arab ( ilmu fonetik) baik dengan cara membuat kursus atau dengan mengutus mereka ke berbagai perguruan tinggi di negara-negara timur tengah.

122 5. Untuk mengatasi kesalahan terhadap pelafalan kalimat bahasa Arab, pembelajar perlu secara intensif mempraktekkan bahasa Arab dalam bentuk percakapan. Cara sederhana untuk mempraktekkan kemampuan berbicara dalam bahasa Arab adalah dengan mengikuti program studi bahasa Arab di Ma had Abu Ubaidah bin Al Jarrah kota Medan yang dikelolah oleh Yayasan Asia Muslim Charity Foundation ( AMCF ). Dalam program Ma had tersebut pembelajar dapat mempelajari ilmu fonetik ( Al aṣwāt) atas bimbingan tenaga pengajar yang memiliki kemampuan berbahasa Arab yang sangat berpengalaman dan juga membuat komunitas percakapan bahasa Arab di dalam dan di luar kelas.

إحياء العربية : السنة الثالثة العدد 2 يوليو -

إحياء العربية : السنة الثالثة العدد 2 يوليو - 217 إحياء العربية : السنة الثالثة العدد 2 يوليو - ديسمبر STRUKTUR FREKUENSI DALAM BAHASA ARAB PADA MODUS KALIMAT DEKLARATIF, INTEROGATIF, DAN IMPERATIF OLEH PEMBELAJAR BAHASA ARAB KOTA MEDAN Khoirul Jamil

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 0 BAB METODOLOGI PENELITIAN. Ancangan Penelitian Ancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ancangan IPO (Instituut voor Perceptie Onderzoek). Ancangan IPO (dalam t Hart et. al. 0:, periksa Rahyono,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Informan dan Lokasi Dalam penelitian ini, pengambilan struktur melodik dan struktur temporal bahasa Indonesia yang digunakan oleh penutur asli bahasa Korea dan penutur asli

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Ciri akustik penutur asli BK dan penutur asli BI, serta perbedaan ciri akustik pada penutur asli BK dan penutur asli BK adalah sebagai berikut. 1. Nada tertinggi penutur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan sebagai lingua franka dalam komunikasi internasional selain bahasa Inggris,

BAB I PENDAHULUAN. dan sebagai lingua franka dalam komunikasi internasional selain bahasa Inggris, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa Arab adalah bahasa yang dipakai dalam dunia internasional yang memainkan peranan penting sebagai salah satu dari enam bahasa resmi di dunia dan sebagai lingua

Lebih terperinci

CIRI AKUSTIK BAHASA JERMAN

CIRI AKUSTIK BAHASA JERMAN CIRI AKUSTIK BAHASA JERMAN Tanti Kurnia Sari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan ABSTRAK Ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri

Lebih terperinci

INSTRUMEN PENILAIAN AUDIO TERINTEGRASI BUKU TEKS PELAJARAN BAHASA ASING SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) / MADRASAH ALIYAH (MA)

INSTRUMEN PENILAIAN AUDIO TERINTEGRASI BUKU TEKS PELAJARAN BAHASA ASING SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) / MADRASAH ALIYAH (MA) INSTRUMEN PENILAIAN AUDIO TERINTEGRASI BUKU TEKS PELAJARAN BAHASA ASING SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) / MADRASAH ALIYAH (MA) KODE BUKU KOMPONEN A. FUNGSI MENUNJANG PEMBELAJAR AN 1. Menunjang pencapaian kompetensi

Lebih terperinci

Pengantar. Aspek Fisiologis Bahasa. Aspek Fisik Bahasa 13/10/2014. Pengantar Linguistik Umum 01 Oktober Aspek Fisiologis Bahasa

Pengantar. Aspek Fisiologis Bahasa. Aspek Fisik Bahasa 13/10/2014. Pengantar Linguistik Umum 01 Oktober Aspek Fisiologis Bahasa Pengantar Aspek Fisiologis Bahasa Pengantar Linguistik Umum 01 Oktober 2014 Aspek Fisiologis Bahasa WUJUD FISIK BAHASA Ciri2 fisik bahasa yg dilisankan Aspek Fisik Bahasa Bgmn bunyi bahasa itu dihasilkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa Arab adalah bahasa yang dipakai dalam dunia internasional yang memainkan peranan penting sebagai salah satu dari enam bahasa resmi di dunia dan sebagai lingua

Lebih terperinci

BAB 7. INSTRUMENTASI UNTUK PENGUKURAN KEBISINGAN

BAB 7. INSTRUMENTASI UNTUK PENGUKURAN KEBISINGAN BAB 7. INSTRUMENTASI UNTUK PENGUKURAN KEBISINGAN 7.1. TUJUAN PENGUKURAN Ada banyak alasan untuk membuat pengukuran kebisingan. Data kebisingan berisi amplitudo, frekuensi, waktu atau fase informasi, yang

Lebih terperinci

CIRI-CIRI PROSODI ATAU SUPRASEGMENTAL DALAM BAHASA INDONESIA

CIRI-CIRI PROSODI ATAU SUPRASEGMENTAL DALAM BAHASA INDONESIA TUGAS KELOMPOK CIRI-CIRI PROSODI ATAU SUPRASEGMENTAL DALAM BAHASA INDONESIA MATA KULIAH : FONOLOGI DOSEN : Yuyun Safitri, S.Pd DISUSUN OLEH: ANSHORY ARIFIN ( 511000228 ) FRANSISKA B.B ( 511000092 ) HAPPY

Lebih terperinci

FREKUENSI DAN DURASI KALIMAT BAHASA INDONESIA 1

FREKUENSI DAN DURASI KALIMAT BAHASA INDONESIA 1 FREKUENSI DAN DURASI KALIMAT BAHASA INDONESIA 1 Henry Yustanto Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret [email protected] Abstrak Bahasa adalah salah satu alat komunikasi

Lebih terperinci

KANDUNGAN BAB TAJUK HALAMAN PENGAKUAN

KANDUNGAN BAB TAJUK HALAMAN PENGAKUAN vii KANDUNGAN BAB TAJUK HALAMAN PENGAKUAN DEDIKASI PENGHARGAAN ABSTRAK ABSTRACT SENARAI JADUAL SENARAI RAJAH SENARAI SINGKATAN PERKATAAN SENARAI TRANSLITERASI HURUF KONSONAN & VOKAL ARAB SENARAI LAMPIRAN

Lebih terperinci

KONTRAS TUTURAN DEKLARATIF DAN INTEROGATIF BAHASA BATAK TOBA (KAJIAN FONETIK AKUSTIK) TESIS

KONTRAS TUTURAN DEKLARATIF DAN INTEROGATIF BAHASA BATAK TOBA (KAJIAN FONETIK AKUSTIK) TESIS KONTRAS TUTURAN DEKLARATIF DAN INTEROGATIF BAHASA BATAK TOBA (KAJIAN FONETIK AKUSTIK) TESIS Oleh : VERACI SILALAHI 057009013/LNG SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007 Judul Tesis :

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA PENELITIAN TERKAIT

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA PENELITIAN TERKAIT 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA PENELITIAN TERKAIT 2.0 Pengantar Penelitian mengenai prosodi khususnya intonasi kalimat bahasa Indonesia ini adalah bukan merupakan penelitian yang baru. Telah ada sebelumnya beberapa

Lebih terperinci

PROSODI PISUHAN JAMPUT PADA PENUTUR JAWA SURABAYA

PROSODI PISUHAN JAMPUT PADA PENUTUR JAWA SURABAYA PROSODI PISUHAN JAMPUT PADA PENUTUR JAWA SURABAYA Siti Rumaiyah Prodi Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya [email protected] Agusniar Dian Savitri [email protected]

Lebih terperinci

1. Seberapa banyak penggunaan gaya bahasa iltifat, majaz dan kinayah dalam Alquran? 2. Seberapa banyak variasi iltifat, majaz dan kinayah dalam

1. Seberapa banyak penggunaan gaya bahasa iltifat, majaz dan kinayah dalam Alquran? 2. Seberapa banyak variasi iltifat, majaz dan kinayah dalam 1. Seberapa banyak penggunaan gaya bahasa iltifat, majaz dan kinayah dalam Alquran? 2. Seberapa banyak variasi iltifat, majaz dan kinayah dalam Alquran? 3. Bagaimana orisinalitas dan kreativitas gaya bahasa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan kualitatif, artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka,

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan kualitatif, artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka, BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pengantar Bab ini menjelaskan tentang pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif, artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka, melainkan data

Lebih terperinci

BAB 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

BAB 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah sarana utama dalam berkomunikasi antar sesama manusia. Sebagian besar mengambil bentuk lisan/ tertulis, dan verbal/ ucapan. Tanpa bahasa, manusia akan

Lebih terperinci

KUNCI MENGENAL ISLAM LEBIH DALAM

KUNCI MENGENAL ISLAM LEBIH DALAM MODUL PENGENALAN KAIDAH BAHASA ARAB DASAR BAHASA ARAB KUNCI MENGENAL ISLAM LEBIH DALAM Diterbitkan oleh: MA HAD UMAR BIN KHATTAB YOGYAKARTA bekerjasama dengan RADIO MUSLIM YOGYAKARTA 1 ال م ف ر د ات (Kosakata)

Lebih terperinci

KONSEP DASAR AKUSTIK; untuk Pengendalian Kebisingan Lingkungan, oleh Dodi Rusjadi Hak Cipta 2015 pada penulis GRAHA ILMU Ruko Jambusari 7A Yogyakarta

KONSEP DASAR AKUSTIK; untuk Pengendalian Kebisingan Lingkungan, oleh Dodi Rusjadi Hak Cipta 2015 pada penulis GRAHA ILMU Ruko Jambusari 7A Yogyakarta KONSEP DASAR AKUSTIK; untuk Pengendalian Kebisingan Lingkungan, oleh Dodi Rusjadi Hak Cipta 2015 pada penulis GRAHA ILMU Ruko Jambusari 7A Yogyakarta 55283 Telp: 0274-882262; 0274-889398; Fax: 0274-889057;

Lebih terperinci

BAB 4 KESIMPULAN. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta temuan kasus yang telah

BAB 4 KESIMPULAN. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta temuan kasus yang telah BAB 4 KESIMPULAN 4.1 Pengantar Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta temuan kasus yang telah didapatkan, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dan disarankan untuk penelitian selanjutnya.

Lebih terperinci

ANALISIS TUTURAN KERNET BUS SUGENG RAHAYU Aditya Wicaksono 14/365239/SA/17467

ANALISIS TUTURAN KERNET BUS SUGENG RAHAYU Aditya Wicaksono 14/365239/SA/17467 ANALISIS TUTURAN KERNET BUS SUGENG RAHAYU Aditya Wicaksono 14/365239/SA/17467 [email protected] ABSTRACT Speech uttered by bus conductors has an interesting phenomenon because there is a change

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya pada bidang komunikasi saat ini berkembang dengan cepat. Kemajuan teknologi bertujuan untuk mempermudah kegiatan

Lebih terperinci

Kajian Bahasa Arab KMMI /12 Shafar 1433 H 1

Kajian Bahasa Arab KMMI /12 Shafar 1433 H 1 Kajian Bahasa Arab KMMI 06-01-2012/12 Shafar 1433 H 1 ا ل م ب ت د ا و ال خ ب ر (Mubtada dan Khobar) Penjelasan: Mubtada adalah isim marfu yang biasanya terdapat di awal kalimat (Subyek) Khobar adalah sesuatu

Lebih terperinci

SKRIPSI. Disusun untuk Memenuhi Tugas dan Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam dalam Ilmu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

SKRIPSI. Disusun untuk Memenuhi Tugas dan Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam dalam Ilmu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. STUDI DESKRIPTIF TENTANG KONEKSITAS PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAQ DENGAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA PESERTA DIDIK KELAS V SEMESTER GASAL DI MI MIFTAHUS SIBYAN TUGUREJO SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Lebih terperinci

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada masa sekarang, Digital Signal Processing (DSP) atau pemrosesan sinyal digital sudah banyak diterapkan di berbagai bidang karena data dalam bentuk digital

Lebih terperinci

DURASI DAN FREKUENSI KALIMAT BAHASA JAWA KODYA YOGYAKARTA

DURASI DAN FREKUENSI KALIMAT BAHASA JAWA KODYA YOGYAKARTA DURASI DAN FREKUENSI KALIMAT BAHASA JAWA KODYA YOGYAKARTA Henry Yustanto 1 ; Djatmika 2 ; Sugiyono 3 1 Mahasiswa S3 Linguistik Deskriptif Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta 2 Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat dikatakan sebagai kunci ilmu pengetahuan adalah mata pelajaran bahasa

BAB I PENDAHULUAN. dapat dikatakan sebagai kunci ilmu pengetahuan adalah mata pelajaran bahasa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu pelajaran yang merupakan bagian dari ilmu pengetahuan dan dapat dikatakan sebagai kunci ilmu pengetahuan adalah mata pelajaran bahasa khususnya mata pelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia satu dengan manusia lainnya berbeda-beda intonasi dan nadanya, maka

BAB I PENDAHULUAN. manusia satu dengan manusia lainnya berbeda-beda intonasi dan nadanya, maka BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Suara adalah suatu alat komunikasi paling utama yang dimiliki oleh manusia. Dengan suara, manusia dapat berkomunikasi dengan manusia lainnya. Melalui suara,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TENTANG PELAKSANAAN METODE TERJEMAH BAHASA ARAB DI MAN 1 PEKALONGAN

BAB IV ANALISIS TENTANG PELAKSANAAN METODE TERJEMAH BAHASA ARAB DI MAN 1 PEKALONGAN BAB IV ANALISIS TENTANG PELAKSANAAN METODE TERJEMAH BAHASA ARAB DI MAN 1 PEKALONGAN A. Analisis Pelaksanaan Metode Terjemah Bahasa Arab di MAN 1 Pekalongan Pada proses pembelajaran bahasa Arab di MAN 1

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Elekto Medis, Politeknik Kesehatan Surabaya, dan Sekolah Luar Biasa (SLB) Tuna Rungu mulai bulan Januari 2012-Juli 2012.

BAB III METODE PENELITIAN. Elekto Medis, Politeknik Kesehatan Surabaya, dan Sekolah Luar Biasa (SLB) Tuna Rungu mulai bulan Januari 2012-Juli 2012. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biofisika dan Laboratorium Instrumentasi Medis, Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi,

Lebih terperinci

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan 29-05-2017 Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan Tema: Fiqh Iftor Al-Bukhari 1818-1822 Narasumber: DR. Ahmad Lutfi Fathullah, MA Donasi Pusat Kajian Hadis Salurkan sedekah jariyah Anda untuk membantu

Lebih terperinci

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN SEKOLAH INKLUSIF DI SDN BENUA ANYAR 8 BANJARMASIN

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN SEKOLAH INKLUSIF DI SDN BENUA ANYAR 8 BANJARMASIN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN SEKOLAH INKLUSIF DI SDN BENUA ANYAR 8 BANJARMASIN TESIS OLEH MERIANI NIM. 12.0253.1014 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI PASCASARJANA BANJARMASIN 2015 M/1437 H PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

Lebih terperinci

B. Apakah pengembangan sumber daya manusia dapat Memperbaiki, meningkatkan pengetahuan secara teori atau praktek dan pelatihan, serta promosi...

B. Apakah pengembangan sumber daya manusia dapat Memperbaiki, meningkatkan pengetahuan secara teori atau praktek dan pelatihan, serta promosi... DAFTAR ISI SAMPUL DALAM... PERNYATAAN KEASLIAN... PERSETUJUAN PEMBIMBING... PENGEESAHAN TIM PENGUJI... PERSEMBAHAN... MOTTO... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR TRANSLITERASI...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

BAB I PENDAHULUAN. rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam UUD RI Tahun 1945 pasal 31 ayat 1 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan ayat 3 menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SIKLUS 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SIKLUS 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SIKLUS 1 SEKOLAH : SMP Islam Al-Azhar 29 BSB Semarang MATA PELAJARAN : Bahasa Arab KELAS / SEMESTER : VII / Gasal ALOKASI WAKTU : 2 jam

Lebih terperinci

PENANAMAN NILAI-NILAI AQIDAH PADA ANAK USIA DINI DI RAUDHATUL ATHFAL BANJARMASIN TIMUR

PENANAMAN NILAI-NILAI AQIDAH PADA ANAK USIA DINI DI RAUDHATUL ATHFAL BANJARMASIN TIMUR PENANAMAN NILAI-NILAI AQIDAH PADA ANAK USIA DINI DI RAUDHATUL ATHFAL BANJARMASIN TIMUR TESIS OLEH : KHAIRUNNISA NIM : 12.0252.0935 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) ANTASARI PASCASARJANA BANJARMASIN 2016

Lebih terperinci

اللغة هي اصوات يعب ر بها كل قوم عن اغراضهم

اللغة هي اصوات يعب ر بها كل قوم عن اغراضهم BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Kridalaksana,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. SAMPUL DALAM... i. PERNYATAAN KEASLIAN... ii. PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii. PENGESAHAN... iv. MOTTO... v. PERSEMBAHAN...

DAFTAR ISI. SAMPUL DALAM... i. PERNYATAAN KEASLIAN... ii. PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii. PENGESAHAN... iv. MOTTO... v. PERSEMBAHAN... DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM... i PERNYATAAN KEASLIAN... ii PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii PENGESAHAN... iv MOTTO... v PERSEMBAHAN... vi ABSTRAK... vii KATA PENGANTAR...viii DAFTAR ISI... x DAFTAR TABEL...

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dicolokan ke komputer, hal ini untuk menghindari noise yang biasanya muncul

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dicolokan ke komputer, hal ini untuk menghindari noise yang biasanya muncul 37 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Pengambilan Database Awalnya gitar terlebih dahulu ditala menggunakan efek gitar ZOOM 505II, setelah ditala suara gitar dimasukan kedalam komputer melalui

Lebih terperinci

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI SHALAT KEPADA SISWA SMAN DI KOTA BANJARMASIN

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI SHALAT KEPADA SISWA SMAN DI KOTA BANJARMASIN PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI SHALAT KEPADA SISWA SMAN DI KOTA BANJARMASIN TESIS Oleh: FADLIYANUR NIM. 1202520950 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) ANTASARI PASCASARJANA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, khususnya di pesantren-pesantren dan

BAB I PENDAHULUAN. lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, khususnya di pesantren-pesantren dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa Arab adalah salah satu bahasa asing yang dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, khususnya di pesantren-pesantren dan lembaga pendidikan

Lebih terperinci

AHMAD GAZALI NIM

AHMAD GAZALI NIM ANALISIS KRITIS TERHADAP GAGASAN PADA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2009 DAN DOKUMEN KURIKULUM MUATAN LOKAL PENDIDIKAN AL- QUR AN TESIS Oleh AHMAD GAZALI NIM.1102110799 INSTITUT

Lebih terperinci

ANIS SILVIA

ANIS SILVIA ANIS SILVIA 1402408133 4. TATANAN LINGUISTIK (1) : FONOLOGI Kalau kita nmendengar orang berbicara, entah berpidato atau bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtutan bunyi bahasa yang terus menerus, kadang-kadang

Lebih terperinci

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL... i HALAMAN JUDUL.... ii PERSEMBAHAN... iii HALAMAN MOTTO... iv LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI... v LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI... vi ABSTRAK... vii KATA PENGANTAR...

Lebih terperinci

RESENSI BUKU. Judul. : Fonetik Akustik: Sebuah Pengantar Telaah Wujud Akustik Bahasa

RESENSI BUKU. Judul. : Fonetik Akustik: Sebuah Pengantar Telaah Wujud Akustik Bahasa RESENSI BUKU Judul : Fonetik Akustik: Sebuah Pengantar Telaah Wujud Akustik Bahasa Penulis : Yusup Irawan Tebal Buku : 224 + xviii halaman Edisi/ISBN : 2017/978-979-665-923-4 Penerbit : Angkasa, Bandung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jika dibanding dengan makhluk lainnya, manusia adalah makhluk Tuhan

BAB I PENDAHULUAN. Jika dibanding dengan makhluk lainnya, manusia adalah makhluk Tuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Jika dibanding dengan makhluk lainnya, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna dan memiliki kelebihan. Disamping terdapat kelebihannya,

Lebih terperinci

Lampiran 1 : Daftar Terjemah Bahasa Asing

Lampiran 1 : Daftar Terjemah Bahasa Asing Lampiran 1 : Daftar Terjemah Bahasa Asing No Kutipan Halaman Terjemah 1 Q.S An-Nahl ayat 125 4 Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan

Lebih terperinci

KEMAHIRAN BERBAHASA INDONESIA PENUTUR KOREA: KAJIAN PROSODI DENGAN PENDEKATAN FONETIK EKSPERIMENTAL

KEMAHIRAN BERBAHASA INDONESIA PENUTUR KOREA: KAJIAN PROSODI DENGAN PENDEKATAN FONETIK EKSPERIMENTAL 52 KEMAHIRAN BERBAHASA INDONESIA PENUTUR KOREA: KAJIAN PROSODI DENGAN PENDEKATAN FONETIK EKSPERIMENTAL THE SKILL OF KOREAN SPEAKERS IN INDONESIAN LANGUAGE: PROSODY STUDY USING AN EXPERIMENTAL PHONETICS

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 21 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep Variabel Variabel merupakan ciri-ciri atau gejala-gejala dari sesuatu yang dapat diukur secara kualitatif atau kuantitatif. Secara

Lebih terperinci

fonem, kata dan rangkaian kata, misalnya bunyi [0 dilafalkan [0], bunyi [oe]

fonem, kata dan rangkaian kata, misalnya bunyi [0 dilafalkan [0], bunyi [oe] BAB VI SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan Mengingat bahasa yang dipelajari mahasiswa adalah bahasa Perancis yang mempunyai sistem bunyi yang sangat berbeda dengan bahasa yang telah mereka kuasai, yaitu bahasa

Lebih terperinci

ARAB-LATIN. A. KONSONAN TUNGGAL Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan. Bâ' B - ت. Tâ' T - ث. Jim J - ح. Khâ Kh - د. Dâl D - ذ. Râ' R - ز.

ARAB-LATIN. A. KONSONAN TUNGGAL Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan. Bâ' B - ت. Tâ' T - ث. Jim J - ح. Khâ Kh - د. Dâl D - ذ. Râ' R - ز. ARAB-LATIN TRANSLITERASI ARAB-LATIN Berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 0543 b/u/1978 tertanggal 22 Januari 1988 A. KONSONAN TUNGGAL Huruf Arab Nama Huruf Latin

Lebih terperinci

BAB 1 WACANA FONOLOGI SECARA UMUM

BAB 1 WACANA FONOLOGI SECARA UMUM BAB 1 WACANA FONOLOGI SECARA UMUM A. PENGANTAR Fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa. Fonologi secara Etimologi berasal dari kata fon, yang artinya bunyi dan logi yang berarti ilmu. Fonologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan di masa sekarang dan masa mendatang sangat dipengaruhi

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan di masa sekarang dan masa mendatang sangat dipengaruhi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pembangunan di masa sekarang dan masa mendatang sangat dipengaruhi oleh sektor pendidikan, sebab dengan bantuan pendidikan setiap individu berharap bisa maju

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan pembelajaran. Secara tidak langsung, kualitas instrument. penilaian juga menentukan kualitas pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan pembelajaran. Secara tidak langsung, kualitas instrument. penilaian juga menentukan kualitas pendidikan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan suatu proses pendidikan dapat dilihat dari kualitas tes hasil belajar yang disesuaikan dengan standar kurikulum KTSP. Sehingga, penilaian dalam

Lebih terperinci

HADITS TENTANG RASUL ALLAH

HADITS TENTANG RASUL ALLAH HADITS TENTANG RASUL ALLAH 1. KEWAJIBAN BERIMAN KEPADA RASULALLAH ح دث ني ي ون س ب ن ع ب د الا ع ل ى أ خ ب ر اب ن و ه ب ق ال : و أ خ ب ر ني ع م ر و أ ن أ اب ي ون س ح دث ه ع ن أ بي ه ر ي ر ة ع ن ر س ول

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHN (SAP)

SATUAN ACARA PERKULIAHN (SAP) SATUAN ACARA PERKULIAHN (SAP) Mata Kuliah : Mengenal dasar-dasar bahasa Arab Kode Mata Kuliah : AR100 Bobot SKS : 2 SKS Semester : 1 Prasyarat : - Penanggung jawab : Dr. Mamat Zaenuddin, MA. Anggota :

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN - LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN - LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBINGAN... ii LEMBAR PENGESAHAN... iii LEMBAR PERNYATAAN... iv MOTTO... v PERSEMBAHAN... vi KATA PENGANTAR... vii ABSTRACT... ix ABSTRAK... x DAFTAR

Lebih terperinci

TESIS. Oleh : Dewi Amalia, S.Pd NIM :

TESIS. Oleh : Dewi Amalia, S.Pd NIM : PENANAMAN NILAI-NILAI TANGGUNG JAWAB PADA PESERTA DIDIK DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA ISLAM TERPADU (SMPIT) UKHUWAH DAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) SABILAL MUHTADIN BANJARMASIN TESIS Oleh : Dewi Amalia,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. database dan database query, secara keseluruhan menggunakan cara yang sama.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. database dan database query, secara keseluruhan menggunakan cara yang sama. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Experimen Pada dasarnya tahapan yang dilakukan pada proses pengambilan sampel dari database dan database query, secara keseluruhan menggunakan cara yang sama. Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Alur Penelitian Karakteristik Responden: 1. Umur 2. Jenis Kelamin 3. Pendidikan 4.Pekerjaan 5.Hubungan PMO dengan penderita Faktor Penguat: Dukungan Keluarga Bentuk Penguatan

Lebih terperinci

Wa ba'du: penetapan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat hilal menurut semua ulama, berdasarkan sabda Nabi r:

Wa ba'du: penetapan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat hilal menurut semua ulama, berdasarkan sabda Nabi r: Penetapan Awal Bulan dan Jumlah Saksi Yang Dibutuhkan hilal? Bagaimana penetapan masuknya bulan Ramadhan dan bagaimana mengetahui Dengan nama Allah I Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dibangun disekitar Pasar Dinoyo semakin banyak 2) jarak antara Pasar Dinoyo

BAB III METODE PENELITIAN. dibangun disekitar Pasar Dinoyo semakin banyak 2) jarak antara Pasar Dinoyo 32 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pasar Dinoyo tepatnya di Jl. MT. Haryono No. 175 Malang. Adapun alasan utama memilih lokasi karena 1) jumlah pasar modern

Lebih terperinci

SMP NEGERI 2 PASURUAN TAHUN 2015

SMP NEGERI 2 PASURUAN TAHUN 2015 HUKUM BACAAN MATERI KELAS VII Analisis Tabel Rumus Tajwid Pendidikan Agama Islam Dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VIII Semester Genap Tahun Ajaran 2014

Lebih terperinci

BAB 3 METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN. Bab ini merupakan penjabaran lebih lanjut tentang metode penelitian yang

BAB 3 METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN. Bab ini merupakan penjabaran lebih lanjut tentang metode penelitian yang 49 BAB 3 METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN 3.1 Pengantar Bab ini merupakan penjabaran lebih lanjut tentang metode penelitian yang digunakan. Pada bab ini akan dibahas langkah-langkah penelitian yang merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Interferensi kata-kata..., Hikmah Triyantini Hidayah Siregar, FIB UI, Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Interferensi kata-kata..., Hikmah Triyantini Hidayah Siregar, FIB UI, Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi menjadikan bahasa sebagai unsur penting bagi manusia untuk berinteraksi baik secara lisan maupun tulisan. Dengan menggunakan

Lebih terperinci

KETERAMPILAN MANAJERIAL KEPALA MADRASAH DALAM PEMBERDAYAAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN (STUDI KASUS PADA MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 BANJARMASIN)

KETERAMPILAN MANAJERIAL KEPALA MADRASAH DALAM PEMBERDAYAAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN (STUDI KASUS PADA MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 BANJARMASIN) i KETERAMPILAN MANAJERIAL KEPALA MADRASAH DALAM PEMBERDAYAAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN (STUDI KASUS PADA MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 BANJARMASIN) TESIS Oleh Dwi Rahayu NIM. 10.0253.0698 INSTITUT AGAMA

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN ALQURAN DI SEKOLAH TINGGI ILMU ALQURAN AMUNTAI (Studi Kritis Terhadap Proses dan Hasil Pembelajaran) Oleh HAJI HAMLI NIM

PEMBELAJARAN ALQURAN DI SEKOLAH TINGGI ILMU ALQURAN AMUNTAI (Studi Kritis Terhadap Proses dan Hasil Pembelajaran) Oleh HAJI HAMLI NIM PEMBELAJARAN ALQURAN DI SEKOLAH TINGGI ILMU ALQURAN AMUNTAI (Studi Kritis Terhadap Proses dan Hasil Pembelajaran) Oleh HAJI HAMLI NIM. 13.0252.1084 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI PASCASARJANA PROGRAM

Lebih terperinci

3.1 Membaca nyaring huruf hijaiyah, kata, frasa, kalimat, yang sederhana tentang dengan intonasi baik dan benar

3.1 Membaca nyaring huruf hijaiyah, kata, frasa, kalimat, yang sederhana tentang dengan intonasi baik dan benar LAMPIRAN 1. Rpp Kelas Eksperimen RENCANA PELAKSANAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah : MTs Al-Istiqamah Mata Pelajaran : Bahasa Arab Kelas :VII Tahun Pelajaran : 2016/2017 Alokasi Waktu : 1 x 15 menit A.

Lebih terperinci

Baca Tulis Qur an (BTQ) Kelas 2

Baca Tulis Qur an (BTQ) Kelas 2 Baca Tulis Qur an (BTQ) Kelas 2 Penulis : Tim Penulis (SD UNGGULAN USWATUH HASANAH) 1. Agus Salim, S.Pd.I 2. Fayumi, M.Pd 3. Neng Tati, S.Pd.I 4. Syarifudin, S.Hum Editor Design & Layout : Syarifudin,

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) DARUSSALAM MARTAPURA TESIS

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) DARUSSALAM MARTAPURA TESIS PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) DARUSSALAM MARTAPURA TESIS RELA NINGSIH NIM. 11 0253 0834 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI PASCASARJANA PROGRAM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengenalan lafal manusia agar dapat dilakukan oleh sebuah mesin telah menjadi fokus dari berbagai riset selama lebih dari empat dekade. Ide dasar yang sederhana

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, karena penelitian ini disajikan dengan angkaangka.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kondisi lingkungan kerja yang nyaman, aman dan kondusif dapat meningkatkan produktivitas pekerja. Salah satu diantaranya adalah lingkungan kerja yang bebas dari kebisingan.

Lebih terperinci

BAB III : DESKRIPSI SISTEM KERJA DAN PENGUPAAN PENCARI DONATUR PADA YAYASAN PESANTREN AL-QUR AN NURUL FALAH SURABAYA

BAB III : DESKRIPSI SISTEM KERJA DAN PENGUPAAN PENCARI DONATUR PADA YAYASAN PESANTREN AL-QUR AN NURUL FALAH SURABAYA DAFTAR ISI SAMPUL DALAM... i PERNYATAAN KEASLIAN... ii PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii PENGESAHAN TIM PENGUJI... iv ABSTRAK... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... xi DAFTAR TRANSLITERASI...

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang menghasilkan nilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan anak didik. interaksi yang bernilai

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERNYATAAN... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... HALAMAN PENGESAHAN... MOTTO... PERSEMBAHAN... ABSTRAK...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERNYATAAN... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... HALAMAN PENGESAHAN... MOTTO... PERSEMBAHAN... ABSTRAK... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.... HALAMAN PERNYATAAN... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... HALAMAN PENGESAHAN... MOTTO... PERSEMBAHAN... ABSTRAK...... الملخص i ii iii iv v vi vii viii ABSTRCT... ix PEDOMAN TRANSLITERASI...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. derajat dan kedudukan suatu negara tersebut menjadi lebih tinggi. Sebagaimana

BAB I PENDAHULUAN. derajat dan kedudukan suatu negara tersebut menjadi lebih tinggi. Sebagaimana BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, pendidikan merupakan hal yang sangat berpengaruh bagi kehidupan. Dimana pendidikan mempunyai peranan yang

Lebih terperinci

Daftar Tabel... Pedoman Transliterasi Arab-Indonesia... Latar Belakang Masalah... Batasan Masalah Penelitian...

Daftar Tabel... Pedoman Transliterasi Arab-Indonesia... Latar Belakang Masalah... Batasan Masalah Penelitian... DAFTAR ISI hal Halaman Judul i Halaman Persertujuan Pembimbing... ii Halaman Pengesahan... iii Halaman Pernyataan Keaslian iv Halaman Motto... v Halaman Persembahan vi Halaman Kata Pengantar vii Abstrak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. paling utama dalam kerja dimana manusia berperan sebagai perencana dan

BAB I PENDAHULUAN. paling utama dalam kerja dimana manusia berperan sebagai perencana dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam suatu lingkungan kerja, manusia mempunyai peranan yang paling utama dalam kerja dimana manusia berperan sebagai perencana dan perancang suatu sistem kerja.

Lebih terperinci

KOMPETENSI DASAR INDIKATOR:

KOMPETENSI DASAR INDIKATOR: AL-QURAN KOMPETENSI DASAR Menganalisis kedudukan dan fungsi al-quran dalam agama Islam Mengidentifikasi berbagai karakteristik yang melekat pada al-quran INDIKATOR: Mendeskripsikan kedudukan dan fungsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia. Bahasa digunakan manusia untuk mengungkapkan

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia. Bahasa digunakan manusia untuk mengungkapkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan sarana komunikasi antarmanusia yang digunakan untuk berinteraksi dalam masyarakat. Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan

Lebih terperinci

ANALISIS UJI PERSEPSI: Intonasi Kalimat Perintah Bahasa Indonesia oleh Penutur Bahasa Jepang

ANALISIS UJI PERSEPSI: Intonasi Kalimat Perintah Bahasa Indonesia oleh Penutur Bahasa Jepang Susi Herti Afriani Analisis Uji Persepsi: Intonasi 149 ANALISIS UJI PERSEPSI: Intonasi Kalimat Perintah Bahasa Indonesia oleh Penutur Bahasa Jepang Oleh: Oleh Susi Herti Afriani Program Studi Bahasa dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara mendekati objek. Model pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan folklor modern. Pendekatan folklor

Lebih terperinci

MODEL PEMBELAJARAN AFEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENANAMAN KARAKTER DI MI PESANTREN ANAK SHOLEH (PAS) BAITUL QUR AN GONTOR MLARAK PONOROGO

MODEL PEMBELAJARAN AFEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENANAMAN KARAKTER DI MI PESANTREN ANAK SHOLEH (PAS) BAITUL QUR AN GONTOR MLARAK PONOROGO MODEL PEMBELAJARAN AFEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENANAMAN KARAKTER DI MI PESANTREN ANAK SHOLEH (PAS) BAITUL QUR AN GONTOR MLARAK PONOROGO SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Agama Islam Universitas

Lebih terperinci

1. Menjelaskan Alat Ucap Manusia Dalam Proses Pembentukan Bunyi a. Komponen subglotal b. Komponen laring c. Komponen supraglotal

1. Menjelaskan Alat Ucap Manusia Dalam Proses Pembentukan Bunyi a. Komponen subglotal b. Komponen laring c. Komponen supraglotal 1. Menjelaskan Alat Ucap Manusia Dalam Proses Pembentukan Bunyi Alat ucap dan alat bicara yang dibicarakan dalam proses memproduksi bunyi bahasa dapat dibagi atas tiga komponen, yaitu : a. Komponen subglotal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. haliniberdasarkanpendapat yang telahdikemukakanolehsahabat Umar bin Khattab. Dan padakesempatanlainseorangpenyairpernahberkata:

BAB I PENDAHULUAN. haliniberdasarkanpendapat yang telahdikemukakanolehsahabat Umar bin Khattab. Dan padakesempatanlainseorangpenyairpernahberkata: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mempelajaribahasa Arabmerupakansalahsatuanjuran agama islam, haliniberdasarkanpendapat yang telahdikemukakanolehsahabat Umar bin Khattab RA: 1 أ ح ر ص و ا ع لى ت ع لم

Lebih terperinci

ISLAM IS THE BEST CHOICE

ISLAM IS THE BEST CHOICE KULIAH FAJAR MASJID AL-BAKRI TAMAN RASUNA KUNINGAN - JAKARTA SELATAN ISLAM IS THE BEST CHOICE Disusun oleh : Agus N Rasyad Sabtu, 16 Maret 2013 INTRODUCTION BEBERAPA CIRI KETETAPAN HATI, BAHWA ISLAM PILIHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam kehidupannya memerlukan komunikasi untuk dapat

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam kehidupannya memerlukan komunikasi untuk dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia dalam kehidupannya memerlukan komunikasi untuk dapat menjalin hubungan dengan manusia lain dalam lingkungan masyarakat. Ada dua cara untuk dapat melakukan

Lebih terperinci

ISI KANDUNGAN ABSTRAK PENGHARGAAN SENARAI RINGKASAN JADUAL TRANSLITERASI SENARAI JADUAL BAB : PENDAHULUAN. 1 Pendahuluan 1. 2 Latar Belakang Kajian 1

ISI KANDUNGAN ABSTRAK PENGHARGAAN SENARAI RINGKASAN JADUAL TRANSLITERASI SENARAI JADUAL BAB : PENDAHULUAN. 1 Pendahuluan 1. 2 Latar Belakang Kajian 1 ISI KANDUNGAN HALAMAN ABSTRAK ABSTRACT PENGHARGAAN SENARAI RINGKASAN ISI KANDUNGAN JADUAL TRANSLITERASI SENARAI JADUAL ii iii iv v vi xii xv BAB : PENDAHULUAN 1 Pendahuluan 1 2 Latar Belakang Kajian 1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sering diterjemahkan dengan tarbiyah yang berarti pendidikan. 1 Istilah

BAB I PENDAHULUAN. sering diterjemahkan dengan tarbiyah yang berarti pendidikan. 1 Istilah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa arab sering diterjemahkan dengan

Lebih terperinci

Mas{lah{ah Pengertian Tas{arrauf al-ima>m Ala> Ra iyyatihi Manu>tun Bi al-

Mas{lah{ah Pengertian Tas{arrauf al-ima>m Ala> Ra iyyatihi Manu>tun Bi al- DAFTAR ISI SAMPUL DALAM... i PERNYATAAN KEASLIAN... ii PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii PENGESAHAN... iv MOTTO... v ABSTRAK... vi KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... ix DAFTAR TABEL... xii DAFTAR GAMBAR...

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM...... i PERNYATAAN KEASLIAN... ii PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii PENGESAHAN... iv ABSTRAK... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR TRANSLITERASI... xi BAB I PENDAHULUAN...

Lebih terperinci

UNTUK KALANGAN SENDIRI

UNTUK KALANGAN SENDIRI SHALAT GERHANA A. Pengertian Shalat gerhana dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah khusuf (الخسوف) dan jugakusuf (الكسوف) sekaligus. Secara bahasa, kedua istilah itu sebenarnya punya makna yang

Lebih terperinci