TUGAS FARMAKOTERAPI 2 ARITMIA. Disusun Oleh :
|
|
|
- Deddy Halim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 TUGAS FARMAKOTERAPI 2 ARITMIA Disusun Oleh : 1. Farah Maestri D. G1F Rizka Khoirunnisa G1F Agustianty Nur H. G1F Kharis Mustofa G1F Nufi Attobibah G1F Nurlaela Yuni A. G1F Rani saskia J. G1F Ines Nur H. G1F KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2014
2 A. PENGERTIAN Aritmia adalah kelainan dalam kecepatan, irama, tempat asal dari impuls, atau kelainan elektrofisiologi jantung yang dapat disebabkan oleh gangguan system konduksi jantung serta gangguan pembentukan atau penghantaran impuls yang menyebabkan perubahan dalam urutan normal aktivitas atrium dan ventrikel ( H.V Huikuri, 2007 ). Secara klinis, aritmia ventrikel dibagi atas yang benigna, yang dapat menjadi maligna (potensi maligna) dan maligna yang dapat menyebabkan kematian yang mendadak. Aritmia tersebut dapat timbul karena kelainan dalam pembentukan impuls, konduksi impuls, atau keduanya (Nafrialdi, 2007). Benigna Potensi maligna Maligna Risiko mati Sangat rendah Sedang Tinggi mendadak Gejala klinik Palpitasi Palpitasi Palpitasi, sinkop, henti jantung Penyakit jantung Biasanya tak ada Ada Ada Parut dan hipertrofi Tidak ada Ada Ada LVEF Normal Rendah Rendah Frekuensi VPD Rendah-sedang Sedang-tinggi Sedang-tinggi Takikardia ventrikel Tidak ada Tidak ada Ada berkelanjutan Gangguan hemodinamika Tidak ada Tidak ada-ringan Sedang-berta LVEF = left ventricular ejection fraction VPD = ventricular premature depolarization (Nafrialdi, 2007). B. PATOFISIOLOGI 1. Aritmia karena Gangguan Pembentukan Impuls Ada banyak contoh aritmia yang timbul, baik karena peningktan atau kegagalan automatisasi normal.
3 a. Automatisasi Normal yang Berubah Hanya ada beberapa jenisl sel jantung memperlihatkan automatisasi dalam keadaan normal suatu nodus SA, nodus AV distal, dan sistem His-Purkinje (Nafrialdi, 2007). Nodus SA Pada nodus ini, frekuensi impuls dapat diubah oleh aktifitas otonomik atau penyakit intrinsik. Aktivitas vagal yang meningkat dapat memperlambat atau menghentikan aktivitas sel pacu di nodus SA dengan cara meningkatkan konduktansi K + (gk). K + ke luar meningkat, sel pacu mengalami hiperpolarisasi, dan memperlambat atau menghentikan depalarisai. Peningkatan aktivitas simpatis ke nodus SA meningkatkan kecepatan depolarisasi fase4. Penyakit intrinsik di nodus SA diduga menjadi penyebab aktivitas pacu yang salah pda sindrom sinus sakit (sick sinus syndrome) (Nafrialdi, 2007). Serabut Purkinje Automatisasi yang menguat pada sistem His-purkinje merupakan penyebab aritmia yang umum pada manusia. Epningkatan aktivitas simpatis dapat menyebabkan bertambahnya kecepatan depolarisasi spontan. Efek vagus terhadap sistem His- Purkinje belum diketahui dengan baik. Dalam keadaan sakit, automatisasi pada sistem His-Purkinje dapat menurun. Pda sindrom sinus sakit aktivitas sel pacu pada ventrikel dan nodus SA tertekan (Nafrialdi, 2007). b. Pembentukan Impuls Abnormal Aritmia yang berasal dari sumber Impuls yang abnormal dapa dibagi dua, yaitu automatisasi abnormal dan aktivitas terpicu (triggered activity). Yang dimaksud dengan automatisasi abnormal adalah terjadinya depolarisasi diastolik spontan pada nila Vm yang sangat rendah (lebih positif), pada sel yang dalam keadaan normal mempunyai potensi yang jauh lebih negatif. Aktivitas terpicu adalah pembentukan impuls pda fase repolasrisasi yang sudah mencapai ambang. Kedua mekanisme ini sangat berbeda dari mekanisme pembentukan automatisasi normal. Di samping itu kedua mekanisme ini dapat menyebabkan pembetukan impuls pada
4 serabut yang biasanya tidak mempunyai fungsi automatik (misalnya sel otot strium atau ventrikel yang biasa) (Nafrialdi, 2007). Automatisasi Abnormal Serabut Purkinje, sel atrium, dan sel ventrikel dapat memperlihatkan depolarisasi diastolik spontan dan cetusan automatisasi berulang bila potensial istrihat Vm diturunkan secara nyata (misalnya sampai -60mV atau kurang negatif). Mekanisme ionik untuk automatisasi abnormal seperti itu belum diketahui tetapi mungkin disebabkan oleh arus masuk K + dan Ca ++ ke dalam sel (Nafrialdi, 2007). Early After-Depolarization Ini adalah depolarisasi sekunder yang terjadi sebelum repolarisasi selasai, yaitu berawal pada potensial membran yang dekat kepda dataran tinggi potensial aksi (gambar 20-4A). Dalam eksperimen early afterdepilarizasion dapat ditimbulkan pada serabut Purkinje dengan cara meregang serabut, atau karena hipoksia dan perubahan kimiawi (Nafrialdi, 2007). Delayed After-Depolarization Ini adalah depolarisasi sekunder yang terjadi pada awal diastol, yaitu setelah repolarisasi penuh dicapai. Delayed afterdepolarization tidak dapt tercetus dengan sendirinya (de nova), tetapi tergantung dari adanya potensial aksi sebelumnya. Peristiwa ini terjadi bila sel tertentu terpapar katekolamin, digitaslis tau kadar K + ekstrasel yang rendah, atau kadar Na + yang rendah dan Ca ++ tinggi dalam perfusat. Depolarisasi seperti ini dapat mencapai ambang dan menimbulkan depolarisasi tunggal yang prematur. Bila depolarisasi prematur ini diikuti oleh depolasrisasi berikutnya, maka akan terjadi sepasang ekstrasistol atau berubah menjadi takiaritmia. Beberapa faktor dapat meningkatkan amplitudo delayed afterdepolarization dan mencetusakan aktivitas terpicu, yaitu frekuensi denyat jantung yang meningkatk, sistol prematur, peningkatan Ca ++ ekstrasel, katekolamin dan obat lain, khususnya digitalis (Nafrialdi, 2007).
5 A. Depolarisasi ikutan dini (early afterdepolarization). Repolarisasi di sela oleh depolarisai sekunder. Respons ini dapat merangsang serabut di dekatnya dan menjalar. B. Depolarisasi ikutan terlambat (delayed afterdepolarization). Setelah repolarisasi penuh tercapai, potensi istirahat (Vm) kembali mengalami depolarisasi selintas. Jika mencapai ambang, dapat terjadi penjalaran respons (Nafrialdi, 2007). Aktivitast Terpicu Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, delayed afterdepolarization dapat menimbulkan ekstrasistol tunggal, atau berulang (trigged activity). Walaupun tidak dapat berlansung terus menerus. Aktivitas terpicu mempunyai banyak kesamaan dengan takiaritmia arus-balik, sehingga sukar untuk mengetahui mana di antara keduanya yang menyebabkan takiaritmia (Nafrialdi, 2007). c. Aritmia yang Disebabkan Kelainan Konduksi Impuls Aritmia dapat timbul karena menculnya aktivasi berulang yang dimulai oleh suatu deplarisasi. Aritmia seperti itu yang sering juga dinamai aritmia arus-
6 balik (re-enternt arrhytmia) dapat berkelanjutan, tetapi tidak tercetus sendiri. Faktor-faktor yang menentukan terjadinya arus-balik adalah adanya hambatan searah, dan rintangan anatomis atau fungsional terhadap konduksi sehingga terbentuk arus melingkar (sirkuit). Di samping itu panjang lintasan sirkuit lebih besar daripada panjang gelombang impuls jantung, di mana panjang gelombang merupakan hasil perkalian antara kecepatan konduksi dengan masa refrakter (lihat gambar 20-5). Untuk terjadinya arus-balik, konduksi impuls harus sangat diperlambat, masa refrakter harus nyata dipersingkat, atau keduanya. Konduksi di sinus dan nodus AV biasanya sangat lambat, perlambatan lebih lanjut oleh aktivitas prematur atau oleh penyakit mempermudah timbulnya arus-balik. Walaupun arus-balik biasanya cepat seperti serabut Putkinje dalam keadaan patologis. Demikian pula, walaupun perlambatan konduksi merupakan dasar patofisiologi arus-balik, parameter lain juga dapat berperan seperti pemendekan potensi aksi dan refractoriness (Nafrialdi, 2007). Respons Cepat yang Berubah Bila potensial membran istirahat lebih positif daripada -75 mv (misalnya pada regangan atau kadar K ekstrasel yang tinggi), Vmax dan kecepatan konduksi menurun secara nyata disebabkan oleh inaktivasi kanal Na yang voltagedependent. Bila potensial istirahat berada antara -50 dan -65 mv, kecepatan konduksi sangat berkurang, dan respons cepat yang abnormal memungkinkan terjadinya arus-balik. Bila potensial membran lebih positif darpada -50 mv, kanal Na + tidak aktif dan respons cepat tidak muncul, pada nilai Vm yang rendah seperti itu respon cepat melemah dan mungkin gagal meneruskan konduksi (Nafrialdi, 2007).
7 Respons Lambat dan konduksi Sangat Lambat Potensial aksi yang lambat muncul pada serabut Purkinje yang terpapar ion K + ekstrasel yang tinggi dan katekolaminj. Pada rentang tegangan di mana potensial lambat muncul, arus Na + ke dalam sel tidak diaktifkan dan arus pacu sama sekali berhenti, sehingga kedua aris ini tidak mempunyai peran dalam pembentukan respons lambat. Arus yang menyebabkan potensial lambat itu adalah arus ion Ca ++ ke dalam sel (i Ca ). Karena arus ini relatif kecil kekuatannya, respons lambat lebih mudah terjadi jika arus ion ke luar berkurang. Karakteristik respons lambat adalah amplitudonya antara mv, kecepatan depolarisasinya adalah 1-2 volt per detik, dan berlangsung selama 0,4-1 detik. Akibatnya respons lambat menjalar sangat lambat sedemikian rupa sehingga arus-balik dapat terjadi dalam lintasan yang sangat pendek. Di samping itu lama potensial aksi dan refractoriness dapat sangat memendek pada daerah di pangkal tempat penghambatan yang timbul karena adanya arus repolarisasi didekatnya (Nafrialdi, 2007). Kemaknaan Reentry Arus-balik (re-entry) dapat muncul pada berbagai tempat di jantung, tetapi lebih mudah terjadi di sekitar nodus SA dan AV. Arus-balik di daerha ini dapat
8 ditimbulkan pada jantung yang normal dengan menggunkan stimulasi prematur untuk memperlambat konduksi dan menghasilkan hambatan searah fungsional. Dalam klinik, takikardia superventrikel proksimal biasanya disebabkan oleh arusbalik. Arus-balik pada sistem His-Purjinke dianggap sebagai penyebab depolarisasi prematur ventrikel yang berpasangan (pulsus bigeminus) dan takikardia ventrikel pada manusia (Nafrialdi, 2007). C. TANDA DAN GEJALA Banyak dari aritmia jantung tidak menimbulkan gejala ataupun tanda. Begitu tanda atau gejala timbul, beberapa diantaranya yang paling sering terjadi (Suci, 2011): Berdebar debar atau berdetak terlalu cepat atau terlalu lambat Detak jantung tidak teratur Perasaan seperti adanya jeda antara detak jantung satu dengan yang lainnya Tanda dan gejala yang menggambarkan hal yang lebih buruk : Cemas Terasa lemah dan pusing Pengsan atau terasa ingin pingsan Berkeringat Nafas pendek, sesak Nyeri dada D. PREVALENSI Studi epidemiologic jangka panjang menunjukan bahwa pria mempunyai resiko gangguan irama ventrikel 2 4 kali lipat dibandingkan dengan wanita. Data epidemiologi dari New Englan Medical Journal ( 2001 ) menyebutkan bahwa kelainan struktur arteri koroner merupakan penyebab 80 % gangguan irama jantung dan dapat berakhir dengan kematian mendadak. Data Framingham ( 2002 ) menunjukan bahwa angka kejadian gangguan irama jantung akan meningkat dengan pertambahan usia. Diperkirakan, populasi geriatric ( lansia) akan mencapai 11, 39 % di Indonesia atau 28 juta orang di Indonesia pada tahun Makin bertambah usia, presentasi kejadian akan meningkat yaitu 70 % pada usia tahun dan 84 % diatas 85 tahun ( Futhuri,2009).
9 E. ETIOLOGI Etiologi aritmia jantung dalam garis besarnya dapat disebabkan oleh : 1. Peradangan jantung, misalnya demam reumatik, peradangan miokard (miokarditis karena infeksi) 2. Gangguan sirkulasi koroner (aterosklerosis koroner atau spasme arteri koroner), misalnya iskemia miokard, infark miokard. 3. Karena obat (intoksikasi) antara lain oleh digitalis, quinidin dan obat-obat anti aritmia lainnya 4. Gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemia, hipokalemia) 5. Gangguan pada pengaturan susunan saraf autonom yang mempengaruhi kerja dan irama jantung 6. Ganggguan psikoneurotik dan susunan saraf pusat. 7. Gangguan metabolik (asidosis, alkalosis) 8. Gangguan endokrin (hipertiroidisme, hipotiroidisme) 9. Gangguan irama jantung karena kardiomiopati atau tumor jantung 10. Gangguan irama jantung karena penyakit degenerasi (fibrosis sistem konduksi jantung) (Price, 1995 ). F. FAKTOR RESIKO Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan resiko terkena aritmia jantung atau kelainan irama jantung. Beberapa faktor tersebut diantaranya adalah: 1. Penyakit Arteri Koroner Penyempitan arteri jantung, serangan jantung, katup jantung abnormal, kardiomiopati, dan kerusakan jantung lainnya adalah faktor resiko untuk hampir semua jenis aritmia jantung. 2. Tekanan Darah Tinggi Tekanan darah tinggi dapat meningkatkan resiko terkena penyakit arteri koroner. Hal ini juga menyebabkan dinding ventrikel kiri menjadi kaku dan tebal, yang dapat mengubah jalur impuls elektrik di jantung. 3. Penyakit Jantung Bawaan
10 Terlahir dengan kelainan jantung dapat memengaruhi irama jantung. 4. Masalah pada Tiroid Metabolisme tubuh dipercepat ketika kelenjar tiroid melepaskan hormon tiroid terlalu banyak. Hal ini dapat menyebabkan denyut jantung menjadi cepat dan tidak teratur sehingga menyebabkan fibrilasi atrium (atrial fibrillation). Sebaliknya, metabolisme melambat ketika kelenjar tiroid tidak cukup melepaskan hormon tiroid, yang dapat menyebabkan bradikardi (bradycardia). 5. Obat dan Suplemen Obat batuk dan flu serta obat lain yang mengandung pseudoephedrine dapat berkontribusi pada terjadinya aritmia. 6. Obesitas Selain menjadi faktor resiko untuk penyakit jantung koroner, obesitas dapat meningkatkan resiko terkena aritmia jantung. 7. Diabetes Resiko terkena penyakit jantung koroner dan tekanan darah tinggi akan meningkat akibat diabetes yang tidak terkontrol. Selain itu, gula darah rendah (hypoglycemia) juga dapat memicu terjadinya aritmia. 8. Obstructive Sleep Apnea Obstructive sleep apnea disebut juga gangguan pernapasan saat tidur. Napas yang terganggu, misalnya mengalami henti napas saat tidur dapat memicu aritmia jantung dan fibrilasi atrium. 9. Ketidakseimbangan Elektrolit Zat dalam darah seperti kalium, natrium, dan magnesium (disebut elektrolit), membantu memicu dan mengatur impuls elektrik pada jantung. Tingkat elektrolit yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat memengaruhi impuls elektrik pada jantung dan memberikan kontribusi terhadap terjadinya aritmia jantung. 10. Terlalu Banyak Minum Alkohol Terlalu banyak minum alkohol dapat memengaruhi impuls elektrik di dalam jantung serta dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fibrilasi atrium (atrial fibrillation). Penyalahgunaan alkohol kronis dapat menyebabkan jantung berdetak kurang efektif dan dapat menyebabkan cardiomyopathy (kematian otot jantung). 11. Konsumsi Kafein atau Nikotin
11 Kafein, nikotin, dan stimulan lain dapat menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dan dapat berkontribusi terhadap resiko aritmia jantung yang lebih serius. 12. Obat-obatan ilegal, seperti amfetamin dan kokain dapat memengaruhi jantung dan mengakibatkan beberapa jenis aritmia atau kematian mendadak akibat fibrilasi ventrikel (ventricular fibrillation). (Price, 1995 ). G. TERAPI Prinsip Penggunaan Klinis Obat Antiaritmia Obat yang mengubah elektrofisiologis jantung sering memiliki batas yang sangat tipis antara dosis yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek yang diinginkan dan dosis yang menyebabkan efek merugikan. Selain itu, efek merugikan dari terapi obat aritmia dapat menginduksi aritmia baru, yang dapat berakibat fatal. Penanganan nonfarmakologisseperti alat dengan pacu jantung, defibrilasi listrik atau ablasi daerah target ditujukan untuk aritmia tertentu. Pada kasus lainnya terapi tidak diperlukan walaupun terdeteksi adanya aritmia. Oleh karena itu, prinsip dasar terapeutik yang diuraikan di bab ini harus diterapkan untuk mengoptimalkan terapi antiaritmia. (Morady, 1999) 1. Mengidentifikasi dan menghilangkan faktor pemicu Berbagai faktor yang bisa memicu aritmia jantung antara lain hipoksia, gangguan elektrolit (terutama hipokalemia), iskemia miokardial, dan obat-obat tertentu. Antiaritmia, termasuk glikosida digitali, bukanlah satu-satunya obat yang dapat memicu aritmia. Sebagai contoh, teofilin merupakan oenyebab utama takikardia atrium multifokus, yang terkadang dapat ditangani hanya dengan menurunkan dosis teofilin. Torsades de pointes dapat muncul tidak hanya selama terapi dengan aritmia yang memperpanjang potensial aksi, tetapi juga karena obat-obat lain yang umumnya tidak digolongkan sebagai obat yang memiliki efek terhadap saluran ion. Obat tersebut antara lain antihistamin terfenadin dan astemizol; antibiotic eritrimisin; antiprozoa pentamidin; beberapa antipsikosis, terutama tioridazin dan antidepresan trisiklik tertentu. (Gilman, 1996) 2. Menentukan tujuan terapi
12 Menentukan tujuan sangat penting jika terdapat berbagai pilihan terapeutik yang berbeda. Misalnya, pada pasien dengan fibrilasi atrium terdapat tiga pilihan: (1) Menurunkan respons ventrikel, dengan menggunakan senyawa pemblok nodus AV seperti digitalis, verapamil, diltiazem, atau antagonis β-adrenergik ; (2) Memulihkan dan menjaga ritme normal, dengan menggunakan obat-obatan seperti kuinidin, flekainid, atau amiodaron; atau (3) Memutuskan untuk tidak melakukan terapi antiaritmia, yang mungkin merupakan pendekatan yang tepat jika pasien benar-benar tidak menunjukkan gejala. Sebagian besar pasien yang mengalami fibrilasi atrium juga memperoleh manfaat antikoagulasi untuk mengurangi insiden stroke, bagaimanapun gejalanya (Singer, 1996) 3. Meminimalkan risiko Risiko terapi antiaritmia yang makin diketahui adalah kemungkinan munculnya aritmia baru, dengan konsekuensi yang berpotensi mengancam jiwa. Sindrom perangsang aritmia oleh obat antiaritmia dengan mekanisme yang berbeda. Aritmia yang dirangsang obat ini harus diketahui, karena melanjutkan pengobatan dengan obat antiaritmia sering memperburuk keadaan, sedangkan penghentian penggunaan senyawa penyebabnya sering menyembuhkan. Selain itu, dapat dilakukan terapi khusus yang menargetkan mekanisme penyebab terjadinya aritmia ini, dan juga penting untuk menetapkan diagnosis yang tepat. Misalnya, pengobatan takikardia ventrikel dengan verapamil mungkin bukan saja tidak efektif tetapi juga dapat menyebabkan kolaps kardiovaskular parah (Stewart et al., 1986) Cara lain untuk meminimalkan efek merugikan obat-obat antiaritmia adalah dengan menghindari penggunaan obat-obat tertentu pada sekelompok tertentu. Misalnya, pasien dengan riwayat gagal jantung kongestif sangat rentan terkena gagal jantung selama terapi dengan disopiramid. Seringkali efek merugikan obat sulit dibedakan dari memburuknya penyakit penyebabnya. Amiodaron dapat digunakan pada pasien dengan penyakit pulmonal lanjut. Pada pasien tersebut, efek merugikan yang berpotensi fatal ini sulit dideteksi (Gilman, 1996) 4. Elektrifisiologi jantung sebagai target bergerak Elektrofisiologi jantung bervariasi dengan cara yang sangat dinamis sebagai respons terhadap pengaruh dari luar seperti perubahan tonus otonom, iskemia miokardinal, atau regangan miokardial. Sebagai contoh, iskemia miokardial
13 menyebabkan perubahan K + ekstrasel yang kemudian menyebabkan potensial istirahat menjadi kurang negatif, menonaktifkan saluran Na +, serta memperlambat penghantaran (Weiss, 1991). Selain itu, iskemia miokardial dapat menyebabkan pelepasan metabolit iskemia, misalnya lisofosfatidilkolin, yang dapat mengubah fungsi saluran ion (DaTorre et al., 1991). Iskemia juga dapat mengaktivasi saluran yang biasanya tidak aktif, misalnya saluran K + yang dihambat-atp (Wilde and Janse, 1994). Dengan demikian, jantung normal dapat memperlihatkan perubahan potensial istirahat (sebagai respons terhadap iskemia miokardial), kecepatan penghantaran, konsentrasi Ca2+ intrasel, dan depolarisasi, yang masing-masing dapat menyebabkan aritmia atau mengubah respons terhadap terapi aritmia atau mengubah respons terhadap terapi antiaritmia (Gilman, 1996) Prinsip penggunaan klinik obat-obat anti aritmia adalah kemungkinan pengobatan dengan berbagai obat menjadi efektif tergantung pada hubungan antara dosis obat yang dibutuhkan guna menghasilkan efek terapi yang diinginkan dan dosis obat yang berhubungan dengan toksisitas. Manfaat pengobatan antiaritmia sebenarnya secara relative sukar dibuktikan (Katzung, 1997) Berbagai ketentuan penting yang harus dibuat sebelum memulai pengobatan berbagai antiaritmia yaitu berbagai factor yang menyebabkan aritmia harus disingkirkan, diagnosa aritmia harus dibuktikan dengan tegas, penting untuk membuktikan dasar yang dapat dipercaya lalu menilai keuntungan berbagai penanggulangan pengaruh aritmia, hanya dengan identifikasi irama jantung yang abnormal tidak selalu butuh pengobatan aritmia (Katzung, 1997) Obat-Obat Antiaritmia Spesifik Aritmia disebabkan karena aktivitas pacu jantung yang abnormal atau penyebaran impuls abnormal. Jadi, pengobatan aritmia bertujuan mengurangi aktivitas pacu jantung ektopik dan memperbaiki hantaran atau pada sirkuit reentry untuk menghentikan pergerakan melingkar. Mekanisme utama untuk mencapai tujuan adalah (1) hambatan saluran natrium (2) hambatan efek otonom simpatis pada jantung (3) perpanjangan periode refrakter yang efektif (4) hambatan pada saluran kalsium (Katzung, 1997) A. Terapi Farmakologi
14 Obat-obat aritmia spesifik: Obat antiaritmia telah lama dibagi atas empat golongan yang berbeda atas dasar mekanisme kerjanya. Golongan I terdiri atas penghambat saluran natrium, semuanya memiliki sifat seperti anestesi lokal. Golongan I sering dibagi menjadi sub bagian tergantung pada kelangsungan kerja potensial; Golongan IA memperpanjang, IB memperpendek, dan IC tidak mempunyai efek atau dapat meningkatkan sedikit berlangsungnya kerja potensial. Obat yang mengurangi aktivitas adrenalin merupakan Golongan II. Golongan III terdiri atas obat yang memperpanjang periode refrakter efektif oleh suatu mekanisme berbeda daripada hambatan kanal natrium. (Katzung, 1997) 1. Obat penghambat kanal natrium (Golongan I) : Subgolongan kerja obat ini menggambarkan efek pada durasi potensial aksi (action potential duration [APD]) dan kinetic blokade kanal natrium. Obat yang memiliki kerja golongan IA memperpanjang APD dan berpisah dengan kanal melalui kinetik intermediet; obat yang memiliki kerja golongan IB memperpendek APD pada beberapa jaringan jantung dan berpisah dengan kanal melalui kinetik cepat; dan obat yang memiliki kerja golongan IC mempunyai efek minimal pada APD dan berpisah dengan kanal melalui kinetic lambat (Katzung, 1997) Contoh: Kuinidin (Golongan IA) Kuinidin merupakan obat paling umum yang digunakan secara oral sebagai antiaritmia di Amerika Serikat. Kuinidin menekan kecepatan pacu jantung serta menekan konduksi dan ekstabilitas terutama pada jaringan yang mengalami depolarisasi. Kuinidin bersifat penghambat adrenoseptor alfa yang dapat menyebabkan atau meningkatkan refleks nodus sinoatrial. Efek ini lebih menonjol setelah pemberian intravena. Biasanya diberikan peroral dan segera diserap oleh saluran cerna. Digunakan pada hamper segala bentuk aritmia. (Katzung, 1997) Prokainamid (Golongan IA) Efek elektrofisiologik prokainamid sama seperti kuinidin. Obat ini mungkin kurang efektif pada penekanan aktivitas pacu ektopik yang abnormal tetapi lebih efektif pada penghambatan saluran natrium pada sel yang mengalami
15 depolarisasi. Prokainamid mempunyai sifat penghambat ganglion. Dengan konsetrasi teraupeutik, efek pembuluh darah perifernya kurang menonjol daripada dengan kuinidin. Prokainamid aman diberiakan intravena dan intamuskular serta diabsorbsi baik melalui oral dengan 75% keberadaan bilogik sistemik. (Katzung, 1997) Disopiramid (Golongan IA) Disopiramid fosfat erat hubungannya dengan isopropamid, obat yang telah lama digunakan dengan sifat antimuskariniknya. Efek antimuskarinik terhadap jantung bahkan lebih jelas daripada kuinidin. Karenannya, obat yang memperlambat hantaran atrioventrikular harus diberikan bersama-sama dengan disopiramid pada pengobatan kepak serambi atau fibrilasi atrium. (Katzung, 1997) Imipramin (Golongan IA) Imipramin adalah antidepresan trisiklik yang juga mempunyai aktivitas antiaritmia. Kerja elektrofisiologik dan aktivitas dalam klinik adalah sama dengan kuinidin. Dosis permulaan sebaiknya lebih kecil, sebab efek samping obat ini sangat menonjol dan dikurangi sambil meningkatkan dosis perlahanlahan. (Katzung, 1997) Amiodaron (Golongan I,II,III&IV) Sangat efektif terhadap bermacam-macam aritmia, tetapi efek samping yang menonjol dan sifat farmakokinetik yang tidak biasa menyebabkan penggunaannya dibatasi di Amerika Serikat. (Katzung, 1997) Lidokain (Golongan IB) Lidokain adalah obat antiaritmia yang paling lazim dipakai dengan pemberian secara intravena. Insidens toksisitasnya rendah dan mempunyai efektivitas tinggi pada aritmia dengan infark otot jantung akut. Lidokain merupakan penghambat kuat terhadap aktivitas jantung yang tidak normal, dan tampaknya selalu bekerja pada saluran natrium. Karena obat ini merupakan metabolisme hati pada lintas pertama, hanya 3% lidokain yang diberikan per
16 oral terdapat dalam plasma. Lidokain adalah obat pilihan untuk menekan takikardia ventrikel dan fibrilasi setelah kardioversi (Katzung, 1997). Tokainid & Meksiletin (Golongan IB) Tokainid & Meksiletin adalah turunan lidokain yang tahan terhadap metabolisme hati pada lintasan pertama. Karena itu dapat digunakan melalui oral. Kedua obat menyebabkan efek samping neurologik, termasuk tremor, penglihatan kabur, dan letargik (Katzung, 1997). Fenitoin (Golongan IB) Karena efektivitasnya terbatas, maka hanya dipertimbangkan sebagai obat barisan kedua pada pengobatan aritmia (Katzung, 1997). Flekainid (Golongan IC) Flekainid adalah penghambat saluran natrium yang kuat terutama digunakan untuk pengobatan aritmia ventricular. Flekainid dipakai sebagai cadangan mutakhir untuk pasien takiaritmia ventricular yang berat dengan resiko rasio manfaat lebih menguntungkan (Katzung, 1997). Propafenon (Golongan IC) Mempunyai struktur mirip dengan propranolol dan mempunyai aktivitas penghambat beta yang lemah. Spectrum kerjanya mirip dengan kuinidi. Potensi penghambat saluran natrium mirip dengan flekainid. (Katzung, 1997) Morisizin (Golongan IC) Menghasilkan berbagai metabolit pada manusia, beberapa diantaranya mungkin aktif dan mempunyai waktu paruh yang panjang. Efek samping yang lazim terjadi adalah kepala pusing dan mual. (Katzung, 1997) 2. Obat-obat penghambat adrenoseptor beta (Golongan II) Kerja golongan II adalah simpatolitik. Obat yang memiliki efek ini mengurangi aktivitas adrenergic-β pada jantung (Katzung, 1997)
17 Propanolol dan obat sejenisnya mempunyai sifat antiaritmia karena kemampuannya sebagai penghambat reseptor beta dan efek terhadap membrane secara langsung. (Katzung, 1997) 3. Obat-obat yang memperpanjang periode refrakter efektif dengan memperpanjang aksi potensial (Golongan III) Kerja golongan III dalam bermanifestasi sebagai pemanjangan APD. Kebanyakan obat yang memiliki kerja ini, menghambat komponen cepat penyearah arus kalium yang ditunda (Katzung, 1997) Bretilium Obat ini mempengaruhi pelepasan ketekolamin saraf tetapi juga mempunyai sifat sebagai antiaritmia secara langsung. Bretilium memperpanjang masa kerja potensial ventrikel (bukan atrium) dan efektif terhadap periode refrakter. Jadi, bretilium dapat mengubah pemendekan masa kerja potensial yang disebabkan oleh iskemik. Efek samping utama adalah hipotensi ortostatik. Mual dan muntah dapat terjadi setelah pemberian intravena bolus bretilium. Bretilium hanya digunakan untuk keadaan gawat darurat. (Katzung, 1997) Sotalol Adalah penghambat kerja beta nonselektif yang juga memperpanjang masa kerja potensial dan merupakan obat antiaritmia yang efektif. (Katzung, 1997) 4. Obat-obat yang menghambat arus kalsium jantung (Golongan IV) Kerja golongan IV adalah memblokade arus kalsium jantung. Kerja obat ini adalah memperlambat hantaran pada tempat yang upstroke potensial aksinya bergantung kalsium, misalnya, nodus sinoatrial dan atrioventrikular (Katzung, 1997) Verapamil
18 Mengahmbat saluran kalsium baik yang aktif maupun yang tidak aktif. Jadi, efeknya lebih jelas pada jaringan yang sering terangsang, yang berpolarisasi kurang lengkap pada keadaan istirahat, dan aktivitasnya hanya tergantung pada aliran kalsium, seperti nodus sinoatrial dan atrioventrikular. (Katzung, 1997) Diltiazem dan Bepridil Obat ini tampak sama manfaatnya dengan verapamil pada penanggulangan aritmia supraventrikular, termasuk control kecepatan pada fibrilasi atrium. (Katzung, 1997) Berbagai Macam Obat Anti Aritmia Obat-obat tertentu yang digunakan untuk pengobatan aritmia tidak cocok pada pembagian golongan I-IV. Obat tersebut termasuk digitalis, adenosine, magnesium dan kalium. Yang dimaksud digitalis adalah nama genus untuk untuk famili tanaman yang menyediakan paling banyak glikosida jantung yang bermanfaat di bidang medis, misalnya digoksin (Katzung, 1997) Adenosin Adalah nukleosid yang berada di seluruh tubuh secara alamiah. Cara kerjanya meliputi aktivasi penyearah arus K+ masuk dan menghambat arus kalsium. Hasil kerja ini ditandai hiperpolarisasi dan supresi potensial aksi yang tergantung-kalsium. Adenosine menyebabkan muka merah pada kira-kira 20% pasien dan pernapasan singkat atau dada seperti terbakar lebih dari 10%. Induksi blockade atrioventrikel tingkat-tinggi dapat terjadi terapi sangat singkat. Dapat terjadi fibrilasi atrium. Toksisitas yang jarang meliputi sakit kepala, hipotensi, mual dan kesemutan. (Katzung, 1997) Magnesium Biasanya digunakan untuk pasien aritmia yang disebabkan oleh digitalis yang mengalami hipomagnesemia, infuse magnesium telah ditemukan mempunyai efek antiaritmia pada beberapa pasien yang mempunyai kadar magnesium normal.dosis yang biasa diberikan adalah 1 g(sebagai sulfat) secara intravena selama 20 menit dan diulang sekali lagi jika diperlukan. Pemahaman yang lengkap mengenai kerja dan
19 indikasimagnesium sebagai obat antiaritmia sedang menunggu penelitian lebih lanjut (Katzung, 1997) Kalium Efek peningkatan K+ serum dapat disimpulkan : (1) efek mendepolarisasikan potensial istirahat dan (2) efek menstabilkan potensial membrane, disebabkan oleh peningkatan permeabilitas kalium (Katzung, 1997) Terapi Non Farmakologi a. Menghentikan konsumsi alkohol dan marijuana b. Olahraga teratur c. Istirahat cukup d. Hindari merokok e. Hindari garam dan makanan kolesterol f. Perubahan gaya hidup (Tambayong, 2001). Terapi Mekanis 1. Kardioversi : mencakup pemakaian arus listrik unutk menghentikan disritmia yang memiliki kompleks GRS, biasanya merupaka prosedur elektif. 2. Defiblrilasi : Kerdioversi asinkronis yang digunakan pada keadaan gawat darurat. 3. Defibrilator Kardioverter Implantable : suatu alat untuk mendeteksi dan mengakhiri episode takikardi ventrikel yang mengancam jiwa atau pada pasien yang resiko mengalami fibrilasi vantrikel. 4. Terapi Pace maker : alat listrik yang mampu menghasilkan stimulus listrik berulang ke otot jantung untuk mengontrol frekuensi jantung (Tambayong, 2001)
20 Daftar Pustaka Anonim Farmakologi dan Terapi. Departemen Farmakologi dan terapeutik fakultas kedokteran universitas indonesia edisi 5. Jakarta:Universitas Indonesia. Futhuri Skripsi : Gambaran Penderita Aitmia yang Menggunakan Pacemaker di Rumah Sakit Binawaluya Cardiac Center Tahun UIN. Jakarta Gilman AG Pharmacological Basis of Teurapetics. New York: Mc Graw Hill. H.V, Huikuri, et all The New England Journal of Medicine : Sudden Death Due to Cardiac Arrhythmias. Diakses tanggal 22 Maret 2014 Katzung, Betram G Farmakologi dasar dan klinik. Jakarta:EGC Kee,Joyce L., Hayes, Evelyn R Farmakologi pendekatan proses keperawatan. Jakarta:EGC Nafrialdi ; Setawati, A., Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran UI, Jakarta. Neal,Michael J At a glance Farmakologi Medis Edisi 5. Jakarta:Erlangga Price, S.A, Wilson, L.M Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4. Jakarta : EGC. Sekrini, dr. Suci Aritia Jantung RS 2014 Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta. Diakses tanggal 22 Maret
21 Singer, D.E Anticoagulation for atrial fibrillation: epidemiology informing a difficult clinical decision. Proc. Assoc. Am. Physicians, 108:29-36 Stewart, R.B., Bardy, G.H., and Greene, H.L Wide complex tachycardia: misdiagnosis and outcome after emergent therapy. Ann. Intern. Med., 104: Tambayong, dr. Jan Farmakologi untuk keperawatn. Jakarta:Widya Medika. Weiss, J.N., Nademanee, K., Stevenson, W.G., and Singh, B Ventricular arrhythmias in ischemic heart disease. Ann. Intern. Med.,114:
By: ERNI DIAH SUSANTI, S.kep.Ners
By: ERNI DIAH SUSANTI, S.kep.Ners A. Definisi Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi
0.1% kasus di rumah sakit di Amerika Serikat dengan usia rata-rata 67 tahun dan lakilaki
1. Definisi Atrial flutter merupakan bentuk aritmia berupa denyut atrium yang terlalu cepat akibat aktivitas listrik atrium yang berlebihan ditandai dengan denyut atrial rata-rata 250 hingga 350 kali per
GANGGUAN IRAMA JANTUNG ( ARITMIA / DISRITMIA )
GANGGUAN IRAMA JANTUNG ( ARITMIA / DISRITMIA ) I. Pendahuluan Istilah disritmia dan aritmia pada dasarnya mempunyai maksud yang sama, meskipun disritmia diartikan sebagai abnormalitas irama jantung sedangkan
BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan pembunuh nomor satu di seluruh dunia. Lebih dari 80% kematian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kardiovaskular yang terdiri dari penyakit jantung dan stroke merupakan pembunuh nomor satu di seluruh dunia. Lebih dari 80% kematian terjadi di negara berkembang
Farmakoterapi Obat pada Gangguan Kardiovaskuler
Farmakoterapi Obat pada Gangguan Kardiovaskuler Alfi Yasmina Obat Jantung Antiangina Antiaritmia Antihipertensi Hipolipidemik Obat Gagal Jantung (Glikosida jantung) Antikoagulan, Antitrombotik, Trombolitik,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem kardiovaskular terdiri dari jantung, jaringan arteri, vena, dan kapiler yang mengangkut darah ke seluruh tubuh. Darah membawa oksigen dan nutrisi penting untuk
SOP ECHOCARDIOGRAPHY TINDAKAN
SOP ECHOCARDIOGRAPHY N O A B C FASE PRA INTERAKSI TINDAKAN 1. Membaca dokumentasi keperawatan. 2. Menyiapkan alat-alat : alat echocardiography, gel, tissu. 3. Mencuci tangan. FASE ORIENTASI 1. Memberikan
PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan
PENGANTAR KESEHATAN DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY PENGANTAR Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan meningkatkan kesehatan, cara mencegah penyakit, cara menyembuhkan
HASIL DAN PEMBAHASAN
32 HASIL DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan Fisik Keseluruhan anjing yang dipergunakan pada penelitian diperiksa secara klinis dan dinyatakan sehat sesuai dengan klasifikasi status klas I yang telah ditetapkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Gagal jantung adalah keadaan di mana jantung tidak mampu memompa darah untuk mencukupi kebutuhan jaringan melakukan metabolisme dengan kata lain, diperlukan peningkatan
AKTIFITAS LISTRIK JANTUNG. Potensial Aksi Pada Jantung
AKTIFITAS LISTRIK JANTUNG Potensial Aksi Pada Jantung Pendahuluan Jantung : Merupakan organ vital Fungsi Jantung : Memompakan darah ke seluruh tubuh. Jantung terletak pada rongga dada sebelah kiri. Batas
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jantung merupakan suatu organ yang memompa darah ke seluruh organ tubuh. Jantung secara normal menerima darah dengan tekanan pengisian yang rendah selama diastol dan
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bagi seorang anestesiologis, mahir dalam penatalaksanaan jalan nafas merupakan kemampuan yang sangat penting. Salah satu tindakan manajemen jalan nafas adalah tindakan
terdapat perbedaan elektrik dari gangguan irama yang ditemukan. 1 Diagnosis atrial flutter dan atrial fibrilasi biasanya berdasarkan pengawasan irama
BAB I PENDAHULUAN Atrial flutter merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan gangguan irama jantung (aritmia). Atrial flutter berkaitan dengan kondisi kardiovaskular dan dapat menyebabkan kematian. Angka
KONSEP DASAR EKG. Rachmat Susanto, S.Kep.,Ns.,M.Kep.,Sp.MB (KV)
KONSEP DASAR EKG Rachmat Susanto, S.Kep.,Ns.,M.Kep.,Sp.MB (KV) TIU Setelah mengikuti materi ini peserta mampu memahami konsep dasar EKG dan gambaran EKG normal. TIK Setelah mengikuti materi ini peserta
sebesar 0,8% diikuti Aceh, DKI Jakarta, dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0,7 %. Sementara itu, hasil prevalensi jantung koroner menurut
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang menyumbang angka kematian terbesar di dunia. Disability-Adjusted Life Years (DALYs) mengatakan
INTERPRETASI ELEKTROKARDIOGRAFI STRIP NORMAL HIMPUNAN PERAWAT GAWAT DARURAT DAN BENCANA INDONESIA SULAWESI UTARA
INTERPRETASI ELEKTROKARDIOGRAFI STRIP NORMAL HIMPUNAN PERAWAT GAWAT DARURAT DAN BENCANA INDONESIA SULAWESI UTARA PENDAHULUAN Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari rekaman aktivitas listrik jantung
FARMAKOTERAPI ASMA. H M. Bakhriansyah Bagian Farmakologi FK UNLAM
FARMAKOTERAPI ASMA H M. Bakhriansyah Bagian Farmakologi FK UNLAM Pendahuluan Etiologi: asma ekstrinsik diinduksi alergi asma intrinsik Patofisiologi: Bronkokontriksi akut Hipersekresi mukus yang tebal
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kafein banyak terkandung dalam kopi, teh, minuman cola, minuman berenergi, coklat, dan bahkan digunakan juga untuk terapi, misalnya pada obatobat stimulan, pereda nyeri,
TEKANAN DARAH TINGGI (Hipertensi)
TEKANAN DARAH TINGGI (Hipertensi) DEFINISI Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gagal jantung adalah keadaan patofisiologi dimana jantung gagal mempertahankan sirkulasi adekuat untuk kebutuhan tubuh meskipun tekanan pengisian cukup. Gagal jantung
DIAGNOSIS ARITMIA DEFINISI
DIAGNOSIS DEFINISI ARITMIA Deviasi abnormal dari irama sinus yaitu suatu gangguan pembentukan impuls dan atau gangguan sistem konduksi listrik jantung. Gangguan Pembentukan Impuls. 1. Gangguan Pembentukan
FARMAKOLOGI ANTIARITMIA Y U A N D A N I
FARMAKOLOGI ANTIARITMIA Y U A N D A N I TUJUAN PEMBELAJARAN Mahasisma dapat menjelaskan Mekanisme aritmia Farmakologi dasar obat antiaritmia SUBPOKOK BAHASAN DEFINISI ELEKROFISIOLOGI JANTUNG MEKANISME
SKRIPSI SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT JANTUNG OLEH : NAMA : MIRA ANDARIAH S A NIM :
TITLE DIAGNOSA PENYAKIT JANTUNG DISPLAY SKRIPSI SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT JANTUNG OLEH : NAMA : MIRA ANDARIAH S A NIM : 10198028 JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KOMPUTER
Prevalensi hipertensi berdasarkan yang telah terdiagnosis oleh tenaga kesehatan dan pengukuran tekanan darah terlihat meningkat dengan bertambahnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit hipertensi atau disebut juga tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara kronis. Tekanan darah pasien
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Masyarakat telah mengetahui bahwa kebiasaan. berolah raga adalah cara yang efektif untuk menjaga
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masyarakat telah mengetahui bahwa kebiasaan berolah raga adalah cara yang efektif untuk menjaga kesehatan. Gerak tubuh yang pasif dapat meningkatkan faktor risiko
ASUHAN KEPERAWATAN PADA USILA DENGAN GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER (ANGINA PECTORIS)
ASUHAN KEPERAWATAN PADA USILA DENGAN GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER (ANGINA PECTORIS) ANGINA PECTORIS I. PENGERTIAN Angina pectoris adalah suatu sindrom klinis di mana pasien mendapat serangan sakit dada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) atau iskemia miokard, adalah penyakit yang ditandai dengan iskemia (suplai darah berkurang) dari otot jantung, biasanya karena penyakit
BAB I PENDAHULUAN. 1.2 Rumusan Masalah. 1.3 Tujuan MAKALAH INFARK MIOKARD AKUT
MAKALAH INFARK MIOKARD AKUT BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infark miokard akut mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibart suplai darah yang tidak adekuat, sehingga aliran darah koroner
BAB I. 1.1 Latar Belakang. Atrial fibrilasi (AF) didefinisikan sebagai irama jantung yang
BAB I 1.1 Latar Belakang Atrial fibrilasi (AF) didefinisikan sebagai irama jantung yang abnormal dengan aktivitas listrik jantung yang cepat dan tidak beraturan. Hal ini mengakibatkan atrium bekerja terus
B A B I PENDAHULUAN. Diabetes mellitus (DM) dengan penyakit kardiovaskular sangat erat
B A B I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) dengan penyakit kardiovaskular sangat erat kaitannya. Pasien dengan diabetes mellitus risiko menderita penyakit kardiovaskular meningkat menjadi
STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM KARDIOVASKULER
STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM KARDIOVASKULER Tujuan Pembelajaran Menjelaskan anatomi dan fungsi struktur jantung : Lapisan jantung, atrium, ventrikel, katup semilunar, dan katup atrioventrikular Menjelaskan
OBAT OBAT EMERGENSI. Oleh : Rachmania Indria Pramitasari, S. Farm.,Apt.
OBAT OBAT EMERGENSI Oleh : Rachmania Indria Pramitasari, S. Farm.,Apt. PENGERTIAN Obat Obat Emergensi adalah obat obat yang digunakan untuk mengembalikan fungsi sirkulasi dan mengatasi keadaan gawat darurat
Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi) Data menunjukkan bahwa ratusan juta orang di seluruh dunia menderita penyakit hipertensi, sementara hampir 50% dari para manula dan 20-30% dari penduduk paruh baya di
MANAGEMENT OF ATRIAL FIBRILLATION IN PATIENTS WITH HEART FAILURE EUROPEAN HEART JOURNAL (2007) 28, Ferry Sofyanri
MANAGEMENT OF ATRIAL FIBRILLATION IN PATIENTS WITH HEART FAILURE EUROPEAN HEART JOURNAL (2007) 28, 2568 2577 Ferry Sofyanri Kejadian AF disebabkan oleh berbagai keadaan, salah satunya adalah pada pasienpasien
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fungsi utama jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh dimana pada saat memompa jantung otot-otot jantung (miokardium) yang bergerak. Untuk fungsi tersebut, otot
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prevalensi penyakit kardiovaskular yang meningkat setiap tahun menjadi masalah utama di negara berkembang dan negara maju (Adrogue and Madias, 2007). Berdasarkan
Penemuan klinis penting yang boleh dikaitkan dengan kejadian palpitasi :
PENDAHULUAN ANAMNESIS PEMERIKSAAN FISIK Ventrikel takikardia umumnya mencerminkan tingkat ketidakstabilan hemodinamik. Tandatanda gagal jantung kongestif ialah hipotensi, hipoksemia, distensi vena jugularis
Curah jantung. Nama : Herda Septa D NPM : Keperawatan IV D. Definisi
Nama : Herda Septa D NPM : 0926010138 Keperawatan IV D Curah jantung Definisi Kontraksi miokardium yang berirama dan sinkron menyebabkan darah dipompa masuk ke dalam sirkulasi paru dan sistemik. Volume
CARDIOMYOPATHY. dr. Riska Yulinta Viandini, MMR
CARDIOMYOPATHY dr. Riska Yulinta Viandini, MMR CARDIOMYOPATHY DEFINISI Kardiomiopati (cardiomyopathy) adalah istilah umum untuk gangguan otot jantung yang menyebabkan jantung tidak bisa lagi berkontraksi
Normal EKG untuk Paramedis. dr. Ahmad Handayani dr. Hasbi Murdhani
Normal EKG untuk Paramedis dr. Ahmad Handayani dr. Hasbi Murdhani Anatomi Jantung & THE HEART Konsep dasar elektrokardiografi Sistem Konduksi Jantung Nodus Sino-Atrial (SA) - pada pertemuan SVC dg atrium
Data Demografi. Ø Perubahan posisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan
ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Data Demografi Nama Umur Pekerjaan Alamat a. Aktifitas dan istirahat Ø Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal Ø Dispnea nokturnal karena pengerahan tenaga b. Sirkulasi
BAB I PENDAHULUAN. A. LATAR BELAKANG Terdapat penyimpangan pada heart rate normal atau irama jantung,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Terdapat penyimpangan pada heart rate normal atau irama jantung, aritmia secara langsung berhubungan dengan gangguan dalam jaras konduksi dari jantung. Pada umumnya
BAB I PENDAHULUAN. penyempitan pembuluh darah, penyumbatan atau kelainan pembuluh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah suatu akibat terjadinya penyempitan pembuluh darah, penyumbatan atau kelainan pembuluh koroner. Penyumbatan atau penyempitan pada
sebagai denyut jantung yang bermula dari lokasi normal yakni bukan bermula dari SA node 2. Atrial flutter merupakan salah satu jenis aritmia yang
BAB I PENDAHULUAN Jantung merupakan organ muskular berongga yang berfungsi memompa darah keseluruh tubuh. Jantung terdiri atas dua pompa yang terpisah, yakni jantung kanan yang memompakan darah ke paru-paru
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea merupakan hal yang rutin dilakukan pada anastesi umum. Namun tindakan laringoskopi dan intubasi tersebut dapat menimbulkan
Cardiac Arrest 1. Pengertian 2. Sistem Konduksi Jantung
Cardiac Arrest 1. Pengertian Cardiac arrest adalah hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba dan mendadak, bisa terjadi pada seseorang yang memang didiagnosa dengan penyakit jantung ataupun tidak. Waktu
BAB I PENDAHULUAN. bertambah dan pertambahan ini relatif lebih tinggi di negara berkembang,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam waktu mendatang jumlah golongan usia lanjut akan semakin bertambah dan pertambahan ini relatif lebih tinggi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Bertambahnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Asia saat ini terjadi perkembangan ekonomi secara cepat, kemajuan industri, urbanisasi dan perubahan gaya hidup seperti peningkatan konsumsi kalori, lemak, garam;
Penatalaksanaan Astigmatism No. Dokumen : No. Revisi : Tgl. Terbit : Halaman :
1. Pengertian Angina pektoris ialah suatu sindrom klinis berupa serangan nyeri dada yang khas, yaitu seperti rasa ditekan atau terasa berat di dada yang sering menjalar ke lengan kiri. Nyeri dada tersebut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kontraksi sel otot jantung untuk menyemprotkan darah dipicu oleh potensial aksi yang menyapu ke seluruh membrane sel otot. Jantung berkontraksi, atau berdenyut secara
jantung dan stroke yang disebabkan oleh hipertensi mengalami penurunan (Pickering, 2008). Menurut data dan pengalaman sebelum adanya pengobatan yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia saat ini adalah penyakit gagal jantung (Goodman and Gilman, 2011). Menurut data WHO 2013 pada tahun 2008,
BAB I PENDAHULUAN. adalah laju dengan frekuensi terlalu cepat > 100x / menit atau frekuensi terlalu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aritmia adalah variasi variasi di luar irama normal jantung berupa kelainan pada kecepatan, keteraturan, tempat asal impuls, atau urutan aktivasi, dengan atau tanpa
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah Stroke adalah suatu disfungsi neurologis akut (dalam beberapa detik) atau setidak-tidaknya secara cepat (dalam beberapa jam) dengan gejala - gejala dan tanda
Laporan Pendahuluan Elektrokardiogram (EKG) Oleh Puji Mentari
Laporan Pendahuluan Elektrokardiogram (EKG) Oleh Puji Mentari 1106053344 A. Pengertian Tindakan Elektrokardiogram (EKG) adalah suatu pencatatan grafis aktivitas listrik jantung (Price, 2006). Sewaktu impuls
BAB I PENDAHULUAN. gizi terjadi pula peningkatan kasus penyakit tidak menular (Non-Communicable
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua masalah ganda (double burden). Disamping masalah penyakit menular dan kekurangan gizi terjadi pula peningkatan
PENDAHULUAN. Gagal jantung adalah saat kondisi jantung tidak mampu memompa darah untuk
PENDAHULUAN Gagal jantung adalah saat kondisi jantung tidak mampu memompa darah untuk mencukupi kebutuhan jaringan melakukan metabolisme, dengan kata lain diperlukan peningkatan tekanan yang abnormal pada
BAB 1 PENDAHULUAN. koroner. Kelebihan tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang terutama disebabkan karena penyempitan arteri koroner. Peningkatan kadar kolesterol dalam darah menjadi faktor
Topik : Infark Miokard Akut Penyuluh : Rizki Taufikur R Kelompok Sasaran : Lansia Tanggal/Bln/Th : 25/04/2016 W a k t u : A.
Topik : Infark Miokard Akut Penyuluh : Rizki Taufikur R Kelompok Sasaran : Lansia Tanggal/Bln/Th : 25/04/2016 W a k t u : 09.30 A. LATAR BELAKANG Dengan bertambahnya usia, wajar saja bila kondisi dan fungsi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hipertensi 1. Definisi Hipertensi Menurut WHO menetapkan bahwa tekanan darah seseorang adalah tinggi bila tekanan sistolik (sewaktu bilik jantung mengerut) melewati batas lebih
ANTAGONIS KOLINERGIK. Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS
ANTAGONIS KOLINERGIK Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS PENDAHULUAN Antagonis kolinergik disebut juga obat peng hambat kolinergik atau obat antikolinergik. Yang paling bermanfaat
JENIS GANGGUAN ELEKTROLIT
A.HIPERKALEMIA a. pengertian JENIS GANGGUAN ELEKTROLIT Hiperkalemia (kadar kalium darah yang tinggi b. penyebab 1.pemakaian obat tertentu yang menghalangi pembuangan kalium oleh ginjal misalnya spironolakton
5/30/2013. dr. Annisa Fitria. Hipertensi. 140 mmhg / 90 mmhg
dr. Annisa Fitria Hipertensi 140 mmhg / 90 mmhg 1 Hipertensi Primer sekunder Faktor risiko : genetik obesitas merokok alkoholisme aktivitas
SISTEM CARDIOVASCULAR
SISTEM CARDIOVASCULAR Forewords Jantung (bahasa Latin, cor) adalah sebuah rongga, rongga, organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang. Istilah kardiak berarti
Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)
Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian,
Penyakit Jantung Koroner
Penyakit Jantung Koroner Penyakit jantung telah menjadi penyakit pembunuh kedua di Hong Kong setelah kanker. Penyakit jantung koroner merupakan penyakit jantung utama. Menurut statistik dari Departemen
BAB I PENDAHULUAN. suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan uji Chi Square atau Fisher Exact jika jumlah sel tidak. memenuhi (Sastroasmoro dan Ismael, 2011).
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil penelitian terdiri atas analisis deskriptif dan analisis data secara statistik, yaitu karakteristik dasar dan hasil analisis antar variabel
BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh perilaku yang tidak sehat. Salah satunya adalah penyakit
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kesehatan adalah hal yang paling penting bagi masyarakat, terutama remaja yang memiliki aktivitas yang padat. Salah satu cara agar tubuh tetap sehat adalah
HASIL DAN PEMBAHASAN
8 Adaptasi hewan (kelompok AP,AIS,AIP) Torakotomi (kelompok AP,AIS,AIP) H + 2 H+2 H - 14 H-14 Teranestesi sempurna H Awal recovery H+7 Pengambilan darah simpan 30% total darah (kelompok AP) Post transfusi
Ns. Furaida Khasanah, M.Kep Medical surgical department
Ns. Furaida Khasanah, M.Kep Medical surgical department Survey WHO, 2009 : angka kematian akibat penyakit kardiovaskular terus meningkat, thn 2015 diperkirakan 20 juta kematian DKI Jakarta berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN. Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST) adalah
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST) adalah sindroma klinis yang ditandai dengan gejala khas iskemia miokard disertai elevasi segmen ST yang persisten
ACLS. 5 rantai kelangsungan hidup:
ACLS Bantuan hidup dasar menggunakan rekomendasi yang dikeluarkan oleh AHA tahun 2010 yang dikenal dengan mengambil 3 rantai pertama dari 5 rantai kelangsungan hidup. 5 rantai kelangsungan hidup: 1. Early
Tips Mengatasi Susah Buang Air Besar
Susah buang air besar atau lebih dikenal dengan nama sembelit merupakan problem yang mungkin pernah dialami oleh anda sendiri. Banyak yang menganggap sembelit hanya gangguan kecil yang dapat hilang sendiri
MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL
MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL Pendahuluan Parasetamol adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual secara bebas. Indikasi parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri otot sementara, sakit menjelang
Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya
Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya Diabetes type 2: apa artinya? Diabetes tipe 2 menyerang orang dari segala usia, dan dengan gejala-gejala awal tidak diketahui. Bahkan, sekitar satu dari tiga orang dengan
Efektivitas Pengobatan Obat Herbal Untuk Diabetes Kering Pada Luka Kaki Penggunaan Obat Herbal Untuk Diabetes Kering
Efektivitas Pengobatan Obat Herbal Untuk Diabetes Kering Pada Luka Kaki Penggunaan Obat Herbal Untuk Diabetes Kering Diabetes adalah suatu kondisi di mana tubuh tidak dapat menggunakan (menyerap) gula
KOMPLIKASI GAGAL JANTUNG KONGESTIF Gagal jantung kongestif dapat menyebabkan beberapa komplikasi. Komplikasi utama dari gagal jantung kongestif
KOMPLIKASI GAGAL JANTUNG KONGESTIF Gagal jantung kongestif dapat menyebabkan beberapa komplikasi. Komplikasi utama dari gagal jantung kongestif meliputi efusi pleura, aritmia, pembentukan trombus pada
OBAT KARDIOVASKULER. Obat yang bekerja pada pembuluh darah dan jantung. Kadar lemak di plasma, ex : Kolesterol
OBAT KARDIOVASKULER Kardio Jantung Vaskuler Pembuluh darah Obat yang bekerja pada pembuluh darah dan jantung Jenis Obat 1. Obat gagal jantung 2. Obat anti aritmia 3. Obat anti hipertensi 4. Obat anti angina
Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI
Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI Conducted by: Jusuf R. Sofjan,dr,MARS 2/17/2016 1 Jantung merupakan organ otot
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam dunia modern di abad ke 21 ini, banyak kemajuan yang telah dicapai, baik pada bidang kedokteran, teknologi, sosial, budaya maupun ekonomi. Kemajuan-kemajuan
BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dini pada usia bayi, atau bahkan saat masa neonatus, sedangkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan struktur dan fungsi pada jantung yang muncul pada saat kelahiran. (1) Di berbagai negara maju sebagian besar pasien PJB
YUANITA ARDI SKRIPSI SARJANA FARMASI. Oleh
MONITORING EFEKTIVITAS TERAPI DAN EFEK-EFEK TIDAK DIINGINKAN DARI PENGGUNAAN DIURETIK DAN KOMBINASINYA PADA PASIEN HIPERTENSI POLIKLINIK KHUSUS RSUP DR. M. DJAMIL PADANG SKRIPSI SARJANA FARMASI Oleh YUANITA
BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat (Rahayu, 2000). Berdasarkan data American. hipertensi mengalami peningkatan sebesar 46%.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Penyakit hipertensi merupakan penyakit nomor satu di Amerika Serikat (Rahayu, 2000). Berdasarkan data American Heart Association (2001) terjadi peningkatan
G R A C I A C I N T I A M A S S I E P E M B I M B I N G : D R. A G U S K O O S H A RT O R O, S P. P D
HIPOKALEMIA GRACIA CINTIA MASSIE PEMBIMBING : DR. AGUS KOOSHARTORO, SP.PD DEFINISI Hipokalemia adalah suatu keadaan dimana konsentrasi kalium dalam darah dibawah 3.5 meq/l yang disebabkan oleh berkurangnya
BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia. Dewasa ini perilaku pengendalian PJK belum dapat dilakukan secara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit jantung koroner (PJK) telah menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Dewasa ini perilaku pengendalian PJK belum dapat dilakukan secara optimal.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara degeneratif yang akan berdampak pada perubahan-perubahan pada diri manusia tersebut, tidak hanya perubahan
BAB I PENDAHULUAN. homeostassis dari hormon ini sangat penting bagi pengoptimalan dari fungsi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hormon tiroid mempengaruhi setiap sel, jaringan dan organ di tubuh, dan homeostassis dari hormon ini sangat penting bagi pengoptimalan dari fungsi jantung. 1 Hormon
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk asalnya atau dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi. Ekskresi di sini merupakan hasil
REFERAT ARITMIA. Disusun oleh: JESSIE WIDYASARI. Dokter Pembimbing: dr. Abdul Wahid Usman, Sp.PD
REFERAT ARITMIA Disusun oleh: JESSIE WIDYASARI 2005730037 Dokter Pembimbing: dr. Abdul Wahid Usman, Sp.PD FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA BAGIAN ILMU KANDUNGAN DAN KEBIDANAN
BAB 1 PENDAHULUAN. penyakit arteri koroner (CAD = coronary arteridesease) masih merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Penyakit jantung koroner (CHD = coronary heart desease) atau penyakit arteri koroner (CAD = coronary arteridesease) masih merupakan ancaman kesehatan. Penyakit
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Stroke atau yang sering disebut juga dengan CVA (Cerebrovascular Accident) merupakan gangguan fungsi otak yang diakibatkan gangguan peredaran darah otak,
Pendahuluan Meniere s disease atau penyakit Meniere atau dikenali juga dengan hydrops endolimfatik. Penyakit Meniere ditandai dengan episode berulang
MENIERE S DISEASE Pendahuluan Meniere s disease atau penyakit Meniere atau dikenali juga dengan hydrops endolimfatik. Penyakit Meniere ditandai dengan episode berulang dari vertigo yang berlangsung dari
Gejala Awal Stroke. Link Terkait: Penyumbatan Pembuluh Darah
Gejala Awal Stroke Link Terkait: Penyumbatan Pembuluh Darah Bermula dari musibah yang menimpa sahabat saya ketika masih SMA di Yogyakarta, namanya Susiana umur 52 tahun. Dia sudah 4 hari ini dirawat di
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Tingkat morbiditas dan mortalitas penyakit jantung. iskemik masih menduduki peringkat pertama di dunia
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Tingkat morbiditas dan mortalitas penyakit jantung iskemik masih menduduki peringkat pertama di dunia dalam dekade terakhir (2000-2011). Penyakit ini menjadi penyebab
Cara Kerja Sistem Saraf Simpatik dan Parasimpatik loading...
Cara Kerja Sistem Saraf Simpatik dan Parasimpatik loading... Saraf simpatik dan parasimpatik termasuk ke dalam sistem saraf tak sadar. Saraf simpatik berpangkal pada sumsum tulang belakang (medula spinalis)
BAB I PENDAHULUAN. yang memompa dengan kuat dan arteriol yang sempit sehinggga darah mengalir
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan suatu meningkatnya tekanan darah di dalam arteri. Hipertensi dihasilkan dari dua faktor utama yaitu jantung yang memompa
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri, mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8%. Hipertensi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer sampai saat ini. Berdasarkan data dari Riskesdas (Pusdatin Kemenkes RI 2013), hipertensi
