Kebijakan Moneter dan Fiskal

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kebijakan Moneter dan Fiskal"

Transkripsi

1 Kebijakan Moneter dan Fiskal KELAS UNTUK SMA / MA Nama : SEMESTER II Kelas :.. Sekolah :.. Disusun Oleh : Laila Rossana

2 KATA PENGANTAR Penulis panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat, hidayah, dan inayah-nya, sehingga buku ini dapat hadir di tengah-tengah pembaca. Mempertimbangkan dan mengikuti perkembangan pendidikan saat ini, maka penyajian materi buku ini menggunakan kurikulum 2013 dan melalui proses pengerjaan yang hatihati dan selektif. Oleh karena itu apabila ada kesalahan ketik materi, soal, dan jawaban yang tidak relevan menurut guru pengampu mohon untuk dikembangkan sendiri sehingga dapat emmberikan kontribusi yang benar dalam rangka meningkatkan kecerdasan bagi siswa. Kebenaran ahnya milik Allah semata. Kemungkinan masih adanya beberapa kekurangan yang tentu saja tidak kami sengaja. Oleh karena itu, segala saran dan masukan dari semua pihak selalu diharapkan untuk perbaiakn dan penyempurnaan. Penulis ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas terbitnya buku ini. Semoga berguna dan bermanfaat bagi siswa dan guru pengajarnya. Akhir kata, selamat belajar dan sukses. Solo, 03 Mei 2016 Penulis i

3 UCAPAN TERIMAKASIH Alhamdulillah segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpah rahmat, hidayah serta inayah-nya sehingga modul ini berjalan dengan lancar terselesaikan dengan baik. Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam menyelesaikan mo ini namun berkat bantuan serta dorongan dari berbagai pihak akhirnya kesuli kesulitan yang timbul dapat teratasi, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis in mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu da penyelesaian penulisan serta penerbitan modul pembelajaran ekonomi SMA kela ini. Segala bentuk bantuan yang diberikan sangat berarti bagi penulis. ii

4 DAFTAR ISI Kata Pengantar.i Ucapan Terimakasih...ii Daftar Isi...iii Bagian I Bagian II Kompetensi Dasar: Mendeskripsikan Kebijakan Moneter Indikator Pertemuan Pertama... 1 Tujuan Pembelajaran Pada Pertemuan Pertama 1 Pengertian Kebijakan Moneter.2 Tujuan Kebijakan Moneter... 2 Instrumen Kebijakan Moneter..3 Tugas Individu..5 Tugas Kelompok.5 Kesimpulan.6 Refleksi...6 Evaluasi...7 Kompetensi Dasar: Mendeskrepsikan Kebijakan Moneter 11 Indikator Pertemuan Kedua..11 Tujuan Pembelajaran Pada Pertemuan Kedua..11 Pengertian Kebijakan Fiskal Peran dan Fungsi Kebijakan Fiskal Tugas Individu.14 iii

5 Tugas Kelompok.14 Bagian III Glosarium Daftar Pustaka Indeks Profil Penulis Kesimpulan.15 Refleksi...15 Evaluasi...16 Kompetensi Dasar: Mengevaluasi Kebijakan Moneter dan Fiskal 19 Indikator Pertemuan Ketiga..19 Tujuan Pembelajaran Pada Pertemuan Ketiga..19 Evaluasi Kebijakan Moneter dan Fiskal.20 Tugas Individu...21 Tugas Kelompok.21 Kesimpulan.22 Refleksi...22 Evaluasi...23 iv

6 Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan kebijakan moneter dan kebijakan fiscal (1) Peta Konsep Mendeskripsikan Kebijakan Moneter pengertian Peran dan Fungsi Instrumen Indikator Pertemuan Pertama 1. Mendiskripsikan pengertian kebijakan moneter 2. Mendiskripsikan tujuan kebijakan moneter 3. Mengidentifikasi insrumen kebiajkan moneter Indikator Pertemuan Pertama 1. Siswa mampu mendiskripsikan pengertian kebijakan moneter 2. Siswa mampu mendiskripsikan tujuan kebijakan moneter 3. Siswa mampu mengidentifikasi insrumen kebiajkan moneter 1

7 A. Amatilah materi di bawah ini dan temukan permasalahan yang dapat ditanyakan atau didiskusikan Dalam kebijakan moneter Bank Sentral (Bank Indonesia) mengendalikan jumlah uang yang bersedar. 1. Pengertian kebijakan moneter Menurut arti kata, kebijakan moneter memiliki arti kata yaitu kepandaian mengenai keuangan. Kebijakan pemerintah melalui Bank Sentral untuk menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar dalam rangka mengendalikan perekonomian. Kebijakan moneter dilakukan untuk mempertahankan, mengurangi atau menambah jumlah uang yang beredar dalam masyarakat. Melalui instrument-instrumen yang dimiliki akan terjadi perubahan jumlah uang beredar. Perubahan jumlah uang ini akan mempengaruhi kestabilan moneter agar lebih kondusif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Keberhasilan kebiajkan moneter biasanya diukur dari peningkatan kesempatan kerja, perbaikan neraca pembayaran, dan kestabilan tingkat harga. 2. Tujuan kebijakan moneter Secara garis besar, tujuan kebijakan moneter adalah menjaga kestabilan ekonomi yang ditandai dengan gairah dunia usaha dan meningkatnya kesempatan kerja. Jika dirinci tujuan kebijakan moneter adalah sebagai berikut. a. Menjaga stabilitas ekonomi Stabilitas ekonomi adalah suatu keadaan perekonomian yang berjalan sesuai dengan harapan, terkendali, dan berkesinambungan. Artinya, pertumbuhan arus uang yang beredar seimbang dengan pertumbuhan arus barang dan jasa yang tersedia. b. Menjaga stabilitas harga Pengaruh kebijaksanaan moneter pertama kali dirasakan pada sector moneter dan perbankan, seperti tingkat suku bunga, inflasi dan kredit. Efeknya dapat dilihat pada sektor riil, seperti investasi dan konsumsi 2

8 Kebijakan moneter selalu dihubungkan dengan jumlah uang beredar dan jumlah barang dan jasa. Interaksi jumlah uang beredar dengan jumlah barang dan jasa akan menghasilkan harga. Ada kalanya harga naik atau turun tidak beraturan, sehingga perubahan harga dapat memengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat. Apabila harga cenderung naik terus-menerus, orang akan membelanjakan semua uangnya yang mengakibatkan terjadinya gejala ekonomi yang disebut inflasi. c. Meningkatkan kesempatan kerja Jika jumlah uang beredar seimbang dengan jumlah barang dan jasa, maka perekonomian akan stabil. Pada keadaan ekonomi stabil, pengusaha akan mengadakan investasi. Investasi akan memungkinkan adanya lapangan pekerjaan baru. Adanya lapangan pekerjaan baru atau perluasan usaha berarti meningkatkan kesempatan kerja. d. Memperbaiki Posisi Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran Kebijakan moneter dapat memperbaiki posisi neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Jika negara mendevaluasi mata uang rupiah ke mata uang asing, hargaharga barang ekspor akan menjadi lebih murah, sehingga memperkuat daya saing dan meningkatkan jumlah ekspor. Peningkatan jumlah ekspor akan memperbaiki neraca perdagangan dan neraca pembayaran. 3. Instrumen kebijakan moneter Agar tujuan kebijakan moneter dapat tercapai, bank sentra menggunakan instrumeninstrumen kebijakan moneter seperti berikut - Operasi pasar terbuka Kebijakan ini dilakukan untuk menambah atau mengurangi jumlah uang beredar melalui penjualan atau pembelian surat-surat berharga seperti obligasi dan sertifikat Bank Indonesia - Kebijakan diskonto Kebijakan ini dilakukan Bank Indonesia dengan cara menaikkan atau menurunkan tingkat suku - Devaluasi adalah kebijakan yang dilakuka oleh pemerintah untuk menurunkan nilai mata uang di dalam negeri terhadap mata uang asing - Revaluasi merupakan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan nilai mata uang di dalam negeri terhadap mata uang asing 3

9 bunga Bank. Jika bank sentral memperhitungkan jumlah uang beredar telah melebihi kebutuhan (gejala inflasi), bank sentral mengeluarkan keputusan untuk menaikkan suku bunga. Dengan menaikkan suku bunga akan merangsang keinginan orang untuk menabung. Pengurangan jumlah uang beredar dilakukan dengan menaikkan suku bunga. Sebaliknya Bank Indonesia akan menurunkan tingkat suku bunga untuk menambah jumlah uang yang beredar dalam masyarakat. - Cadangan kas minimum Kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia dengan cara menaikkan atau menurunkan cadangan kas (cas ratio) minimum bank umum. Bank umum, menerima uang dari nasabah dalam bentuk giro, tabungan, deposito, sertifikat deposito, dan jenis tabungan lainnya. Ada persentase tertentu dari uang yang disetorkan nasabah yang tidak boleh dipinjamkan. - Kebijakan kredit selektif Kebijakan yang dilakukan dengan cara menetapkan persyaratan kredit ketat dalam memperoleh kredit dari Bank. Kredit tetap diberikan bank umum, tetapi pemberiannya harus benar-benar didasarkan pada syarat 5C, yaitu Character, Capability, Collateral, Capital, dan Condition of Economy. Dengan kebijakan kredit ketat, jumlah uang yang beredar dapat diawasi. Langkah kebijakan ini biasa diambil pada saat ekonomi sedang mengalami gejala inflasi. Jadi ketika kebijakan ini di berlakukan maka akan mengurangi kesempatan bagi para peminjam dalam memperoleh uang dari pinjaman Bank dan dampaknya uang yang beredar di masyarakat akan berkurang. - Imbaun moral Kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia dengan cara memberikan saran melalui pengumuman, pidato, ataupun anjuran di media massa. Imbauan moral bertujuan mengarahkan dan mengendalikan pihak yang berkaitan langsung dengan dunia moneter. Isi pengumuman, pidato dan edaran dapat berupa ajakan atau larangan untuk menahan pinjaman tabungan ataupun melepaskan pinjaman. - Sanering merupaakn kebijakan pemerintah untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dalam masyarakat dengan cara memotong uang (nilai mata uang). Cara ini dilakukan bila berbagai cara untuk menjaga kestabilan mata uang tidak membawa hasil 4

10 B. Dari paparan diatas coba diskusikan dengan anggota kelompok dengan bimbingan guru untuk masalah-masalah apa saja yang dapat di atasi dengan kebijakan moneter Masalah : C. Setelah bisa menentukan masalah yang dapat di atasi dengan kebijakan moneter, coba kerjakan soal tentang masalah ekonomi dan identifikasikanlah instrument kebijakan moneter yang tepat untuk digunakan 1. Inflasi dari tahun ke tahun menunjukkan angka yang meningkat 2. Neraca pembayaran menunjukkan terjadinya defisit 3. Kesempatan kerja semakin sedikit D. Setelah dikerjakan paparkanlah hasil pengerjaan bersama anggota kelompok ke depan kelas dan komunikasikan hasil pengerjaan diatas bersama dengan kelompok lain E. Setelah dipaparkan pengerjaan dari setiap anggota kelompok coba dianalisa ketepatan setiap jawaban masing-masing kelompok, jika ada jawaban yang kurang tepat coba komunikasikan jawaban yang tepat dengan berkonsultasi dengan guru. F. G. Setelah kita paham materi yang hari ini kita pelajari coba kita buat rangkuman dan menyimpulkan akan jalanya pembelajaran hari ini, serta kita tarik refleksi apa manfaat mataeri yang kita pelajari hari ini.. H. 5

11 Kesimpulan Refleksi pembelajaran 6

12 A. Soal Pilihan Ganda 1. Ketika kondisi ekonomi sedang lesu, Bank Indonesia melakukan kebijakan moneter ekspansif. Untuk menambah jumlah uang beredar dalam masyarakat. Bank Indonesia menurunkan persediaan uang kas di Bank umum. Kebijakan yang di maksud adalah. a. Operasi pasar terbuka b. Cadangan minimum c. Politik diskonto d. Redonominasi e. Sanering 2. Kebijakan moneter yang dijalankan pemerintah Indonesia untuk mengurangi laju inflasi dilakukan dengan cara. a. Membeli obligasi dan mencetak uang baru b. Menurunkan cadangan kas c. Mempermudah syarat pemberian kredit d. Menurunkan tingkat bunga simpanan e. Menjual saham kepada masyarakat 3. Pada tahun 2013 negara X mengalami krisis. Perekonomiannya menjadi lesu dan tingkat produksi agregatnya turun. Pemerintah tersebut kesulitan memperoleh dana untuk memperbaiki kondisi ekonominya. Kebijakan moneter yang tepat untuk mengatasi krisis di negara X adalah. a. Menaikkan cadangan kas di bank umum b. Menurunkan tingkat konsumsi c. Mempersulit pengajuan kredit d. Membeli surat berharga e. Menjual surat berharga 4. Perekonomian pasca krisis tahun 1997 pada umumnya ditandai dengan naiknya harga barang-barang sehingga tingkat inflasi meningkat tajam. Untuk mengatasi inflasi tersebut dapat dilakukan dengan kebijakan moneter, yaitu. 7

13 a. Membeli saham dan obligasi b. Menurunkan suku bunga bank c. Menaikkan giro wajib minimum d. Mempermudah pemberian kredit e. Manaikkan tariff pajak bangunan 5. Berikut hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan moneter. 1) Mengatur jumlah uang yang beredar dengan cara menaikkan suku bunga 2) Sempitnya ruang lingkup pasar uang 3) Berkembangnya lembaga keuangan nonbank 4) Banyak bank umum kelebihan dana 5) Menurunnya laju inflasi suatu negara Dari kebijakan di atas, keterbatasan operasi kebijakan moneter ditunjukkan oleh nomor. a. (1), (2), (3) b. (2), (3), (4) c. (1), (3), (5) d. (2), (3), (5) e. (3), (4), (5) 6. Untuk menjaga stabilitas mata uan, pemerintah dalam hal ini Bank Sentral dapat menggunakan berbagai kebijakan moneter. Salah satu kebijakan moneter yang sering digunakan untuk mengatasi inflasi adalah kebijakan pasar trebuka (open market policy, yaitu. a. Kebijakan yang diambil oleh Bank Sentral untuk menstabilkan nilai rupiah dengan acra menambah jumlah uang yang beredar b. Kebijakan yang diambil oleh Bnak Sentral untuk menstabilkan nilai rupiah dengan cara mengurangi cadangan kas yang ada di bank c. Kebijakan yang diambil oleh Bank Sentral untuk menstabilkan nilai rupiah dengan cara menaikkan tingkat suku bunga bank d. Kebijakan yang diambil oleh Bank Sentral untuk menstabilkan nilai rupiah dengan cara menjual surat berharga e. Kebijakan yang diambil oleh Bank Sentral untuk mestabilkan nilai rupiah dengan cara menurunkan suku bunga bank 7. Berikt ini kebijakan moneter dan fiscal 8

14 1) Menaikkan tingkat suku bunga 2) Mengurangi pengeluaran pemerintah 3) Menjualbelikan surat berharga 4) Menaikkan pajak penghasilan 5) Menaikkan / menurunkan cash ratio Yang termasuk kebijakan moneter adalah. a. 1), 3), 5) b. 1), 4), 5) c. 2), 3), 5) d. 2), 4), 5) e. 3), 4), 5) 8. Suatu keadaan di mana terjadi kenaikan harga secara umum, dan jumlah uang yang beredar terlalu banyak disebut. a. Devaluasi b. Revaluasi c. Apresiasi d. Depresiasi e. Inflasi 9. Berikut kebijakan untuk mengatasi inflasi dan deflasi. 1) Menurunkan cadangan kas 2) Menurunkan tingkat suku bunga 3) Menjual surat-surat berharga 4) Memperketat pemberian kredit 5) Menaikkan pajak 6) Meningkatkan pengeluaran pemerintah Kebijakn untuk mengatasi inflasi, ditunjukkan pada nomor. a. 1), 2), 4) b. 1), 3), 5) c. 2), 3), 4) d. 2), 4), 6) e. 3), 4), 5) 9

15 10. Pemerintah menerapkan kebijakan moneter dengan cara meningkatkan nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing yang disebut kebijakan. a. Devaluasi b. Depresiasi c. Apresiasi d. Revaluasi e. Diskonto SELAMAT MENGERJAKAN Setiap jawaban benar bernilai 1 Nilai = (jumlah jawaban benar : 10) Tingkat penguasaan : (A) Baik sekali = (B) Baik = (C) Cukup = (D) Kurang = < 69 Masukkan Nilaimu 10

16 Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan kebijakan moneter dan kebijakan fiscal (2) Peta Konsep Mendeskripsikan Kebijakan Fiskal pengertian Peran dan Fungsi Instrumen Indikator Pertemuan Kedua 1. Mendiskripsikan pengertian kebijakan Fiskal 2. Mendiskripsikan tujuan kebijakan Fiskal 3. Mengidentifikasi instrumen kebijakan Fiskal Indikator Pertemuan Kedua 1. Siswa mampu mendiskripsikan pengertian kebijakan Fiskal 2. Siswa mampu mendiskripsikan tujuan kebijakan Fiskal 3. Siswa mampu mengidentifikasi instrumen kebiajkan Fiskal 11

17 B. Amatilah materi di bawah ini dan temukan permasalahan yang dapat ditanyakan atau didiskusikan 1. Pengertian kebijakan fiskal Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah dengan cara menaikkan atau menurunkan pendapatan negara atau belanja negara dengan tujuan untuk mempengaruhi tingkat pendapatan nasional dan untuk memperbaiki keadaan ekonomi. Menurut J.M Keynes, kebijakan fiskal sangat penting untuk mengatasi pengangguran yang relatif serius. Melalui kebijakan fiskal, pengeluaran agregat dapat ditambah sehingga akan meningkatkan pendapatan nasional dan tingkat penggunaan tenaga kerja. 2. Peran dan Fungsi Kebijakan Fiskal Kebijakan fiskal memiliki peran dan fungsi, serta tujuan dalam mengatur kestabilan perekonomian. Adapun peran dan fungsi serta tujuan kebijakan fiskal adalah sebagai berikut. a. Peran Kebijakan Fiskal 1) Menurunkan tingkat inflasi 2) Meningkatkan produk domestic bruto 3) Mengurangi tingkat pengangguran 4) Meningkatkan pendapatan masyarakat b. Fungsi Kebijakan fiscal Dalam pasal 3 ayat (4) UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara disebutkan bahwa APBN mempunyai 1) Fungsi otorisasi 2) Fungsi Perencanaan 3) Fungsi Pengawasan 12

18 4) Fungsi Alokasi 5) Fungsi Stabilisasi 6) Fungsi Distribusi 3. Instrumen Kebijakan Fiskal Banyak kebijakan yang dapat ditempuh pemerintah untuk memperbaiki kelesuan perekonomian negara. Dewasa ini pemerintah mengadakan deregulasi dan debirokratisasi di berbagai bidang dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan ekonomi agar tercapai tingkat kemakmuran yang tinggi. Kebijakan deregulasi dan debirokratisasi merupakan bagian dari kebijakan fiscal pemerintah. Instrument kebijakan fiscal adalah sistem perpajakan dan politik anggaran, yang dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Sistem perpajakan Pemungutan pajak merupakan suatu sarana dalam kebijakan fiscal untuk mengatur perekonomian. Secara ekonomi, pajak dapat didefinisikan sebagai pemindahan sumberdaya yang ada di sektor rumah tangga dan dunia usaha ke sektor pemerintah melalui mekanisme pemungutan tanpa wajib memberi balas jasa langsung. Dengan menggunakan sarana perpajakan, pemerintah dapat mengatur kebijakan ekonomi. Dengan menaikkan tariff pajak, pemerintah bermaksud memperkuat kas pemerintah dan dapat memperbesar pengeluaran yang bersifat umum. Sebaliknya jika tariff pajak dikurangi pemerintah bermaksud memberi kesempatan perusahaan berinvestasi, sekaligus meningkatkan konsumsi. b. Politik anggaran. Dilihat dari perbandingan nilai penerimaan dan pengeluaran, politik anggaran dapat dibedakan menjadi anggaran tidak berimbang dan anggaran berimbang. Jika pemerintah menempuh anggaran berimbnag, pengeluaran direncanakan sama dengan penerimaan. Tidak ada petunjuk dalam kondisi ekonomi seperti apa politik anggaran berimbang ditempuh. Namun bila pemerintah memilih anggaran berimbang, dua hal yang paling cocok yang ingin dicapai, yaitu peningkatan disiplin dan kepastian anggaran. Anggaran tidak berimbang dapat dibagi menjadi 2, yaitu 1. Defisit = pengeluaran > pendapatan 2. Surplus = pengeluaran < pendapatan 13

19 C. Dari paparan diatas coba diskusikan dengan anggota kelompok dengan bimbingan guru untuk masalah-masalah apa saja yang dapat di atasi dengan kebijakan Fiskal Masalah : dst D. Setelah bisa menentukan masalah yang dapat di atasi dengan kebijakan fiskal, coba kerjakan soal tentang masalah ekonomi dan identifikasikanlah instrument kebijakan moneter yang tepat untuk digunakan Data tingkat inflasi Bulan Tahun Tingkat Inflasi Maret % Februari % Januari % I. Setelah dikerjakan paparkanlah hasil pengerjaan bersama anggota kelompok ke depan kelas dan komunikasikan hasil pengerjaan diatas bersama dengan kelompok lain J. Setelah dipaparkan pengerjaan dari setiap anggota kelompok coba dianalisa ketepatan setiap jawaban masing-masing kelompok, jika ada jawaban yang kurang tepat coba komunikasikan jawaban yang tepat dengan berkonsultasi dengan guru. K. L. Setelah kita paham materi yang hari ini kita pelajari coba kita buat rangkuman dan menyimpulkan akan jalanya pembelajaran hari ini, serta kita tarik refleksi apa manfaat mataeri yang kita pelajari hari ini.. M. 14

20 Kesimpulan Refleksi pembelajaran 15

21 B. C. Soal Pilihan Ganda 1. Pemerintah mengeluarkan kebijakan menaikkan pajak penghasilan agar pengeluaran konsumsi masyarakat berkurang. Kebijakan ini diterapkan untuk mengendalikan laju inflasi sehingga tidak mendorong naiknya harga barang di pasar, tindakan yang dilakukan pemerintah tersebut disebut kebijakan. a. Fiskal b. Diskonto c. Pasar terbuka d. Kredit selektif e. Moneter 2. Perhatikan pernyataan berikut! 1) Mengubah pengeluaran konsumsi pemerintah 2) Menaikkan cadangan kas 3) Menaikkan pajak saat terjadi kelebihan permintaan dalam masyarakat 4) Menambah pengeluaran pemerintah dalam proyek-proyek pekerjaan umum 5) Menaikkan suku bunga bank saat negara mengalami inflasi. Berdasarkan pernyataan di atas yang termasuk dalam kebijakan fiscal ditunjukkan oleh nomor. a. 1), 2), 3) b. 1), 2), 4) c. 1), 3), 4) d. 2), 3), 4) e. 3), 4), 5) 3. Pernyataan berikut yang bukan termasuk kebijakan fiscal adalah. a. Anggaran belanja berkelanjutan b. Pembiayaan fungsional c. Pengelolaan anggaran d. Stabilitas anggran otomatis e. Anggaran belanja seimbang 4. Perhatikan pernyataan berikut! 16

22 1) Pemerintah menurunkan pajak penghasilan badan usaha dari 28% menjadi 25% untuk meningkatkan kapasitas produksi 2) Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga pinjaman dari 7% menjadi 12% 3) Pemerintah pusat menetapkan kebijakan penghematan BBM untuk mengatasi keterbatasan sumber daya 4) Bank Indonesia menjual surat-surat berharga, yaitu Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk mengendalikan laju inflasi. Berdasarkan pernyataan tersebut yang termasuk dalam kebijakan fiscal adalah. a. 1) dan 2) b. 2) dan 4) c. 1) dan 3) d. 3) dan 4) e. 2) dan 3) 5. Kebijakan yang digunakan pemerintah dalam menyusun APBN disebut juga dengan. a. Kebijakan Negara b. Kebijakan moneter c. Kebijakan anggaran d. Kebijakan pembangunan e. Kebijakan pemerintahan 6. Instrumen kebijakan fiscal, kecuali. a. Tariff pajak b. Asuransi pengangguran c. Kebijakan anggaran minimum d. Membuat perubahan-perubahan atas pengeluaran pemerintah e. Penurunan tingkat inflasi 7. Garis kebijakan pemerintah dalam menetapakn pengeluaran dan penerimaan negara dalam rangka mencapai tujuan ekonomi nasional disebut kebijakan. a. Anggaran / fiscal b. Moneter c. Pembangunan d. Kas negara e. Ekonomi 8. Berikut merupakan tujuan kebijakan fiscal atau kebijakan anggaran, kecuali. a. Stabilitas perekonomian 17

23 b. Menaikkan hasil produksi c. Memperluas kesempatan kerja d. Memantapkan pertumbuhan pendapatan e. Meningkatkan keadilan pembagian pendapatan 9. Kebijakan fiscal merupakan kebijakan ekonomi yang dilakukan pemerintah. a. Untuk mengatasi kemiskinan b. Untuk mengendalikan nilai tukar c. Untuk mengendalikan tingkat bunga d. Dengan cara mengatur jumlah uang beredar e. Dengan cara mengatur pendapatan dan belanja negara 10. Kebijakan fiskal yang bersifat kontraktif dimaksudkan untuk. a. Menurunkan suku bunga b. Menurunkan nilai tukar uang c. Meningkatkan kesempatan kerja d. Mendorong ekspor e. Mengendalikan inflasi SELAMAT MENGERJAKAN Setiap jawaban benar bernilai 1 Nilai = (jumlah jawaban benar : 10) Tingkat penguasaan : (E) Baik sekali = (F) Baik = (G) Cukup = (H) Kurang = < 69 Masukkan Nilaimu 18

24 Kompetensi Dasar : Mengevaluasi peran dan fungsi kebijakan Moneter dan Fiskal Peta Konsep Mengevaluasi kebijakan moneter dan fiskal Evaluasi peran dan fungsi Kebijakan Moneter Evaluasi peran dan fungsi kebiajkan fiskal Indikator Pertemuan Ketiga 1. Mengevaluasi peran dan fungsi kebijakan moneter 2. Mengevaluasi peran dan fungsi kebijakan fiskal Indikator Pertemuan Ketiga 1. Siswa mampu mengevaluasi peran dan fungsi kebijakan moneter 2. Siswa mampu mengevaluasi peran dan fungsi kebijakan fiskal 19

25 C. Amatilah materi di bawah ini dan temukan permasalahan yang dapat ditanyakan atau didiskusikan Evaluasi Peran dan Fungsi kebijakan Moneter dan Fiskal Endang Purwanti (2008: 6) Berpendapat bahwa evaluasi adalah proses pemberian makna atau penetapan kualitas hasil pengukuran dengan cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan kriteria tertentu. Dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah proses menilai sesuat berdasarkan criteria tertentu, yang selanjunya diikuti dengan pengambilan sebuah keputusan atas objek yang dievaluasi. TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Penerimaan bea dan cukai bulan kedua 2016 masih anjlok. Kali ini, penerimaan dari sektor cukai menjadi sumber utama anjloknya penerimaan tersebut. Berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, total realisasi penerimaan bea dan cukai per 29 Februari 2016 sebesar Rp 8,18 triliun, turun 63,6% ketimbang periode yang sama tahun lalu. Pada Februari 2015, total realisasi penerimaan bea cukai mencapai Rp 22,5 triliun. Penyumbang utama jebloknya penerimaan bea dan cukai lantaran penerimaan cukai yang terkontraksi 68,7% menjadi Rp 5,5 triliun. Sementara itu, realisasi penerimaan dari bea keluar per Februari 2016 sebesar Rp 383,78 miliar, turun 20% jika dibanding penerimaan bea keluar pada periode yang sama pada tahun lalu. Pada Februari 2016, hanya penerimaan dari bea masuk yang mencatatkan kenaikan 17,02% ketimbang periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 5,5 triliun. Kenaikan penerimaan bea masuk itu sejalan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Mengacu pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), pada periode 1 Januari hingga 28 Februari 2015, kurs rupiah terlemah ada di level Rp per dollar AS dan terkuat di level Rp per dollar AS. Sementara itu, pada periode 1 Januari hingga 29 Februari 2016, kurs rupiah terlemah ada di level Rp per dollar AS dan terkuat di level Rp per dollar AS 20

26 B. Berdasarkan paparan berita di atas, coba diskusikan bersama anggota kelompok, untuk dapat mengevaluasi peran dan fungsi kebijakn moneter dan fiscal berkaitan dengan masalah di atas - Kebijakan Fiskal apakah sudah tepat atau belum, jika belum kemukakan alasan dan solusi intrumen yang paling tepat Kebijakan Moneter apakah sudah tepat atau belum, jika belum kemukakan alasan dan solusi intrumen yang paling tepat C. Setelah dikerjakan paparkanlah hasil pengerjaan bersama anggota kelompok ke depan kelas dan komunikasikan hasil pengerjaan diatas bersama dengan kelompok lain D. Setelah dipaparkan pengerjaan dari setiap anggota kelompok coba dianalisa ketepatan setiap jawaban masing-masing kelompok, jika ada jawaban yang kurang tepat coba komunikasikan jawaban yang tepat dengan berkonsultasi dengan guru. O. E. Setelah kita paham materi yang hari ini kita pelajari coba kita buat rangkuman dan menyimpulkan akan jalanya pembelajaran hari ini, serta kita tarik refleksi apa manfaat mataeri yang kita pelajari hari ini.. 21

27 Kesimpulan D. E. Soal Uraian Refleksi 22

28 22 Glosarium Neraca perdagangan : perbedaan antara nilai ekspor dan impor suatu negara pada periode tertentu, diukur menggunakan mata uang yang berlaku Neraca pembayara : catatan dari semua transaksi ekonomi internasional yang meliputi perdagangan, keuangan dan moneter antara penduduk dalam negeri dengan penduduk luar negeri selama periode waktu tertentu, biasanya satu tahun atau dikatakan sebagai laporan arus pembayaran (keluar dan masuk) untuk suatu negara. Inflasi : suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terusmenerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.

29 22 DAFTAR PUSTAKA Mulyani, Endang & Wahyuni, Daru Pengetahuan Sosial Ekonomi 2 SMA / MA Kelas XI. Jakarta : PT. Bumi Aksara Sutarno, dkk Ekonomi 2 untuk Kelas XI SMA dan MA. Solo : PT. Tiga Serangkai

30 22 INDEKS B. Bank Sentral 2 C. Cadangan Kas Minimum 4 D. Devaluasi 3 I. Imbauan Moral 4 K. Kebijakan Moneter 2 Kebijakan Fiskal 14 N. Neraca perdagangan 3 Neraca pembayaran 3 R. Revaluasi 3 S. Stabilitas Ekonomi 2

31 22 PROFIL PENULIS Penulis adalah Laila Rossana, yang dilahirkan di Kota Kudus pada Tahun Lahir dari keluarga yang sederhana, dengan 3 bersaudara. Penulis yang sekarang menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta, memiliki seorang ayah yang sangat bangga dan memiliki harapan besar kepada penulis. Sejalan dengan harapan sang ayah, penulispun memiliki target yang ingin di capai, yaitu benar-benar mencerdaskan anak bangsa Indonesia, tidak haya pemuda yang banyak berkeliaran di jalanan, ataupun yang sedang sekolah akan tetapi tidak memanfaatkan nikmat yang dimiliki dengan bijak. Untuk meraih yang diinginkan tersebut, penulis berikhtiar untuk menjadi seorang guru yang professional dan handal yang ammapu disenangi banyak murid dan dapat bersahabat dengan murid. Sehingga dapat memahami anak didik dan mencapai kualitas pendidikan yang berkualitas. Untuk melatih kemampuan mengajarnya penulis sekarang ini telah bekerja sebagai tentor di Lembaga Prima Utama sebagai tentor ekonomi akuntansi. Dan tentunya banyak cerita yang menarik bersama anak didik penulis. Penulis berharap dapat memberikan banyak sumbangan yang bermanfaat besar bagi dunia pendidikan terutama di Indonesia.

ekonomi K-13 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL K e l a s A. PENGERTIAN KEBIJAKAN MONETER Tujuan Pembelajaran

ekonomi K-13 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL K e l a s A. PENGERTIAN KEBIJAKAN MONETER Tujuan Pembelajaran K-13 ekonomi K e l a s XI KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Menjelaskan jenis dan instrumen

Lebih terperinci

Wulansari Budiastuti, S.T., M.Si.

Wulansari Budiastuti, S.T., M.Si. Modul ke: Fakultas FIKOM Wulansari Budiastuti, S.T., M.Si. Program Studi Periklanan dan Komunikasi Pemasaran. www.mercubuana.ac.id Materi Pembelajaran Kebijakan Moneter Kebijakan Fiskal Kebijakan Moneter

Lebih terperinci

ekonomi Kelas X KEBIJAKAN MONETER KTSP A. Kebijakan Moneter Tujuan Pembelajaran

ekonomi Kelas X KEBIJAKAN MONETER KTSP A. Kebijakan Moneter Tujuan Pembelajaran KTSP Kelas X ekonomi KEBIJAKAN MONETER Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami instrumen kebijakan moneter. 2. Memahami kebijakan

Lebih terperinci

A. Indeks Harga dan Inflasi

A. Indeks Harga dan Inflasi A. Indeks Harga dan Inflasi A. Pilihan Ganda 1. Jawaban: b 1) Indeks harga yang harus dibayar dan diterima petani adalah indeks harga barang-barang yang dibayar oleh petani untuk biaya proses produksi.

Lebih terperinci

Andri Helmi M, SE., MM. Sistem Ekonomi Indonesia

Andri Helmi M, SE., MM. Sistem Ekonomi Indonesia Andri Helmi M, SE., MM Sistem Ekonomi Indonesia Pemerintah bertugas menjaga stabilitas ekonomi, politik, dan sosial budaya kesejahteraan seluruh masyarakat. Siapa itu pemerintah? Bagaimana stabilitas di

Lebih terperinci

Kebijakan Pemerintah KEBIJAKAN PEMERINTAH. Kebijakan Pemerintah. Kebijakan Pemerintah 4/29/2017. Tujuan

Kebijakan Pemerintah KEBIJAKAN PEMERINTAH. Kebijakan Pemerintah. Kebijakan Pemerintah 4/29/2017. Tujuan KEBIJAKAN PEMERINTAH Kebijakan pemerintah yg berkaitan dengan APBN untuk mempengaruhi jalannya perekonomian guna mencapai sasaran atau tujuan tertentu Misal: 1. menaikkan/menurunkan budget 2. menaikkan

Lebih terperinci

Kebijakan Moneter & Bank Sentral

Kebijakan Moneter & Bank Sentral Kebijakan Moneter & Bank Sentral Pengertian Umum Kebijakan moneter adalah salah satu dari kebijakan ekonomi yang bisa dibuat oleh pemerintah Kebijakan moneter berkaitan dan berfokus pada pasokan uang

Lebih terperinci

A. PENGERTIAN SISTEM MONETER DI INDONESIA

A. PENGERTIAN SISTEM MONETER DI INDONESIA A. PENGERTIAN SISTEM MONETER DI INDONESIA Yang termasuk dalam sistem moneter adalah bank-bank atau lembaga-lembaga yang ikut menciptakan uang giral. Di Indonesia yang dapat digolongkan ke dalam sistem

Lebih terperinci

Perekonomian Indonesia

Perekonomian Indonesia Modul ke: 11Fakultas Ekonomi & Bisnis Perekonomian Indonesia Kebijakan Fiskal dan Moneter Janfry Sihite Program Studi Manajemen Tujuan Sesuai rapem Kebijakan Fiskal Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Uang merupakan alat pembayaran yang secara umum dapat diterima oleh

I. PENDAHULUAN. Uang merupakan alat pembayaran yang secara umum dapat diterima oleh 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Uang merupakan alat pembayaran yang secara umum dapat diterima oleh masyarakat. Dalam kehidupannya, manusia memerlukan uang untuk melakukan kegiatan ekonomi, karena uang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fenomena yang relatif baru bagi perekonomian Indonesia. perekonomian suatu Negara. Pertumbuhan ekonomi juga diartikan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. fenomena yang relatif baru bagi perekonomian Indonesia. perekonomian suatu Negara. Pertumbuhan ekonomi juga diartikan sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan perekonomian dunia dewasa ini ditandai dengan semakin terintegrasinya perekonomian antar negara. Indonesia mengikuti perkembangan tersebut melalui serangkaian

Lebih terperinci

KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER. Oleh : Muhlisin

KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER. Oleh : Muhlisin KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER Oleh : Muhlisin TEORI MAKROEKONOMI MELIPUTI JUGA ANALISIS DALAM BERBAGAI ASPEK BERIKUT : 1. Masalah ekonomi yang dihadapi, terutama pengangguran dan inflasi, dan

Lebih terperinci

Uang EKO 2 A. PENDAHULUAN C. NILAI DAN JENIS-JENIS UANG B. FUNGSI UANG. value).

Uang EKO 2 A. PENDAHULUAN C. NILAI DAN JENIS-JENIS UANG B. FUNGSI UANG. value). A. PENDAHULUAN Uang adalah suatu benda atau alat tukar yang diterima oleh masyarakat umum untuk melakukan kegiatan pertukaran barang dengan barang atau lainnya. Ciri-ciri uang agar penggunaannya efisien:

Lebih terperinci

08. Tabel biaya dan produksi suatu barang sebagai berikut : Jumlah produksi Biaya tetap Biaya variabel Biaya total 4000 unit 5000 unit 6000 unit

08. Tabel biaya dan produksi suatu barang sebagai berikut : Jumlah produksi Biaya tetap Biaya variabel Biaya total 4000 unit 5000 unit 6000 unit EKONOMI KHUSUS 01. Dalam rangka menjaga kestabilan arus uang dan arus barang dalam perekonomian, bank sentral dapat melakukan penjualan dan pembelian surat-surat berharga di bursa efek. Kebijaksanaan bank

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan tersebut muncul dari faktor internal maupun faktor eksternal. Namun saat ini, permasalahan

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH INFLASI, NILAI TUKAR, DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP HARGA SAHAM PERBANKAN

ANALISIS PENGARUH INFLASI, NILAI TUKAR, DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP HARGA SAHAM PERBANKAN ANALISIS PENGARUH INFLASI, NILAI TUKAR, DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP HARGA SAHAM PERBANKAN Skripsi Disusun dan diajukan untuk memenuhi tugas dan syarat-syarat Guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Manajemen

Lebih terperinci

IV. KINERJA MONETER DAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA Kinerja Moneter dan Perekonomian Indonesia

IV. KINERJA MONETER DAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA Kinerja Moneter dan Perekonomian Indonesia IV. KINERJA MONETER DAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA 4.1. Kinerja Moneter dan Perekonomian Indonesia 4.1.1. Uang Primer dan Jumlah Uang Beredar Uang primer atau disebut juga high powered money menjadi sasaran

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan upaya pembangunan yang berkesinambungan, meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional sangatlah diperlukan untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi

I. PENDAHULUAN. nasional sangatlah diperlukan untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara berkembang masih memiliki tingkat kesejahteraan penduduk yang relatif rendah. Oleh karena itu kebutuhan akan pembangunan nasional sangatlah diperlukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian di Indonesia. Fluktuasi kurs rupiah yang. faktor non ekonomi. Banyak kalangan maupun Bank Indonesia sendiri yang

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian di Indonesia. Fluktuasi kurs rupiah yang. faktor non ekonomi. Banyak kalangan maupun Bank Indonesia sendiri yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat krisis keuangan global beberapa tahun belakan ini kurs, inflasi, suku bunga dan jumlah uang beredar seolah tidak lepas dari masalah perekonomian di Indonesia.

Lebih terperinci

Bab 2. Otoritas Moneter dan Kebijakan Moneter

Bab 2. Otoritas Moneter dan Kebijakan Moneter A. OTORITAS MONETER DI INDONESIA Otoritas moneter adalah suatu entitas yang memiliki wewenang untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar pada suatu negara dan memiliki hak untuk menetapkan suku bunga

Lebih terperinci

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN I. Ekonomi Dunia Pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia. Sejak tahun 2004, ekonomi dunia tumbuh tinggi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. jasa. Oleh karena itu, sektor riil ini disebut juga dengan istilah pasar barang. Sisi

I. PENDAHULUAN. jasa. Oleh karena itu, sektor riil ini disebut juga dengan istilah pasar barang. Sisi 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Istilah sektor riil dalam pembahasan mengenai ekonomi makro menggambarkan kondisi perekonomian dipandang dari sisi permintaan dan penawaran barang dan jasa. Oleh karena

Lebih terperinci

Pengantar dan Tujuan Modul

Pengantar dan Tujuan Modul Pengantar dan Tujuan Modul Assalamu alaikum Wr, Wb. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan modul ini dengan lancar,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai alat untuk mengumpulkan dana guna membiayai kegiatan-kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. sebagai alat untuk mengumpulkan dana guna membiayai kegiatan-kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan disegala bidang harus terus dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Untuk melaksanakan pembangunan, pemerintah tidak bisa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. moneter, bunga itu adalah sebuah pembayaran untuk menggunakan uang. Karena

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. moneter, bunga itu adalah sebuah pembayaran untuk menggunakan uang. Karena BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Umum Suku Bunga Keynes berpendapat bahwa suku bunga itu adalah semata-mata gejala moneter, bunga itu adalah sebuah pembayaran untuk menggunakan uang. Karena tingkat bunga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan dalam mengatur kegiatan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan dalam mengatur kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan dalam mengatur kegiatan ekonomi secara makro, di samping kebijakan fiskal juga terdapat kebijakan moneter yang merupakan

Lebih terperinci

SOAL APBN DAN PAJAK MONETER

SOAL APBN DAN PAJAK MONETER SOAL APBN DAN PAJAK MONETER 1. Penyusunan anggaran pendapatan dan belanja Negara tahun 2005 diatur berdasarkan. a. UUD 1945 pasal 23 b. UUD 1945 pasal 33 c. UU No. 17 tahun 2003 d. UU RI No. 16 tahun 1994

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan. dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia.

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan. dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia. Pada satu sisi Indonesia terlalu cepat melakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dikonsumsinya atau mengkonsumsi semua apa yang diproduksinya.

BAB I PENDAHULUAN. yang dikonsumsinya atau mengkonsumsi semua apa yang diproduksinya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang memiliki spesialisasi yang tinggi. Hal ini berarti tidak ada seorangpun yang mampu memproduksi semua apa yang dikonsumsinya

Lebih terperinci

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1983-1997 Cakupan : Halaman 1. Sekilas Sejarah Bank Indonesia di Bidang Moneter Periode 1983-2 1997 2. Arah Kebijakan 1983-1997 5 3. Langkah-Langkah Strategis 1983-1997

Lebih terperinci

Ilmu Ekonomi Bank Sentral dan Kebijakan moneter

Ilmu Ekonomi Bank Sentral dan Kebijakan moneter Ilmu Ekonomi Bank Sentral dan Kebijakan moneter 1 Bank Sentral (BI di Indonesia) Bank Indonesia (BI) - Sebagai Bank Sentral berdasarkan pasal 4 ayat 1 Undangundang RI No. 23 tahun 1999 Lembaga Negara yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan jasa dalam perekonomian dinilai dengan satuan uang. Seiring dengan

BAB I PENDAHULUAN. dan jasa dalam perekonomian dinilai dengan satuan uang. Seiring dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan uang sangat penting dalam perekonomian. Seluruh barang dan jasa dalam perekonomian dinilai dengan satuan uang. Seiring dengan perkembangan perekonomian atau

Lebih terperinci

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Perkembangan ekonomi makro bulan Oktober 2004 hingga bulan Juli 2008 dapat diringkas sebagai berikut. Pertama, stabilitas ekonomi tetap terjaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter Bank Indonesia selaku otoritas moneter. BI Rate merupakan instrumen kebijakan utama untuk

Lebih terperinci

SISTEM MONETER DI INDONESIA

SISTEM MONETER DI INDONESIA Modul ke: Fakultas 14MKCU PEREKONOMIAN INDONESIA SISTEM MONETER DI INDONESIA Program Studi Perekonomian Indonesia DI SUSUN OLEH : -DERY YANTO -HERMAWAN -YULIANTO AJI Latar belakang A. Latar Belakang Masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. R Serfianto D. Purnomo et al. Buku Pintar Pasar Uang & Pasar Valas (Jakarta, Gramedia 2013), h. 98.

BAB I PENDAHULUAN. R Serfianto D. Purnomo et al. Buku Pintar Pasar Uang & Pasar Valas (Jakarta, Gramedia 2013), h. 98. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nilai Tukar adalah harga mata uang dari suatu negara yang diukur, dibandingkan, dan dinyatakan dalam nilai mata uang negara lainnya. 1 Krisis moneter yang terjadi

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan Pengaruh Tingkat Suku Bunga Deposito, Gross Domestic Product (GDP), Nilai Kurs, Tingkat Inflasi, dan Jumlah Uang Beredar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Kurs (Nilai Tukar) a. Pengertian Kurs Beberapa pengertian kurs di kemukakan beberapa tokoh antara lain, menurut Krugman (1999) kurs atau exchange rate adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran.

BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan jangka panjang yang dilaksanakan di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dengan mengacu pada Trilogi Pembangunan (Rochmat Soemitro,

Lebih terperinci

1. Tinjauan Umum

1. Tinjauan Umum 1. Tinjauan Umum Perekonomian Indonesia dalam triwulan III-2005 menunjukkan kinerja yang tidak sebaik perkiraan semula, dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah sementara tekanan terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia pernah mengalami krisis pada tahun 1997, ketika itu nilai tukar rupiah merosot tajam, harga-harga meningkat tajam yang mengakibatkan inflasi yang tinggi,

Lebih terperinci

Ekonomi. untuk SMA/MA Kelas XI Semester 1. Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Inung Oni Setiadi Irim Rismi Hastyorini. Dibuat oleh:

Ekonomi. untuk SMA/MA Kelas XI Semester 1. Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Inung Oni Setiadi Irim Rismi Hastyorini. Dibuat oleh: Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Semester 1 Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial Dibuat oleh: Inung Oni Setiadi Irim Rismi Hastyorini Disclaimer Powerpoint pembelajaran ini dibuat sebagai alternatif guna membantu Bapak/Ibu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional (Wikipedia, 2014). Pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional (Wikipedia, 2014). Pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Krisis mata uang di Amerika Latin, Asia Tenggara dan di banyak negara

BAB I PENDAHULUAN. Krisis mata uang di Amerika Latin, Asia Tenggara dan di banyak negara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis mata uang di Amerika Latin, Asia Tenggara dan di banyak negara telah menunjukkan bahwa ketidakseimbangan kebijakan moneter dapat menyebabkan konsekuensi serius

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan estimasi yang telah dilakukan maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Hasil uji Impulse Response Function menunjukkan variabel nilai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. makro, yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan

I. PENDAHULUAN. makro, yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebijakan moneter merupakan salah satu bagian integral dari kebijakan ekonomi makro. Kebijakan moneter ditujukan untuk mendukung tercapainya sasaran ekonomi makro, yaitu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan Bank Sentral,

I. PENDAHULUAN. Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan Bank Sentral, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan Bank Sentral, kebijakan moneter yang dijalankan di Indonesia adalah dengan cara menetapkan kisaran BI Rate yaitu

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/8/PBI/2016 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 15/17/PBI/2013 TENTANG TRANSAKSI SWAP LINDUNG NILAI KEPADA BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

TUJUAN KEBIJAKAN MONETER

TUJUAN KEBIJAKAN MONETER KEBIJAKAN MONETER merupakan kebijakan yang dibuat Bank Indonesia selaku otoritas moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi makro. Stabilitas makro tercermin dari : a. Laju inflasi yang rendah. b. Pertumbuhan

Lebih terperinci

VII. SIMPULAN DAN SARAN

VII. SIMPULAN DAN SARAN VII. SIMPULAN DAN SARAN 7.1. Simpulan Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum dalam perekonomian Indonesia terdapat ketidakseimbangan internal berupa gap yang negatif (defisit) di sektor swasta dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai dampak

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai dampak BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai dampak kebijaksanaan pemerintah yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan

Lebih terperinci

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter Bank Indonesia selaku otoritas moneter. BI Rate merupakan instrumen kebijakan utama untuk

Lebih terperinci

SMP kelas 9 - EKONOMI BAB 1. Uang dan Lembaga KeuanganLATIHAN SOAL

SMP kelas 9 - EKONOMI BAB 1. Uang dan Lembaga KeuanganLATIHAN SOAL SMP kelas 9 - EKONOMI BAB 1. Uang dan Lembaga KeuanganLATIHAN SOAL 1. Suatu keadaan turunnya nilai mata uang karena banyaknya jumlah uang yang beredar adalah... Devaluasi Inflasi Revaluasi Deflasi Kunci

Lebih terperinci

MAKALAH NERACA PEMBAYARAN. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perekonomian Indonesia Yang Dibina Oleh Ibu Dra. Sudarti, M.Si.

MAKALAH NERACA PEMBAYARAN. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perekonomian Indonesia Yang Dibina Oleh Ibu Dra. Sudarti, M.Si. MAKALAH NERACA PEMBAYARAN Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perekonomian Indonesia Yang Dibina Oleh Ibu Dra. Sudarti, M.Si Disusun oleh : Rahdi Noor Hayat 201110160311331 Firda Silviatul H 201110160311333

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan depresiasi. Ketidakpastian pemulihan ekonomi dunia juga telah

Lebih terperinci

Perekonomian Indonesia

Perekonomian Indonesia MODUL PERKULIAHAN Perekonomian Indonesia Sistem Moneter Indonesia Fakultas Program Studi Pertemuan Kode MK Disusun Oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Akuntansi 13 84041 Abstraksi Modul ini membahas tentang

Lebih terperinci

BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU INFLASI DI INDONESIA

BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU INFLASI DI INDONESIA BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU INFLASI DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi Oleh : MAMIK WAHJUANTO 0611010011

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. banyak diminati oleh para investor karena saham tersebut sangat liquid. Sahamsaham

BAB I PENDAHULUAN. banyak diminati oleh para investor karena saham tersebut sangat liquid. Sahamsaham 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pasar modal di Indonesia, ada beberapa kelompok saham yang paling banyak diminati oleh para investor karena saham tersebut sangat liquid. Sahamsaham tersebut

Lebih terperinci

Modul Ekonomi Kelas X SMA

Modul Ekonomi Kelas X SMA Modul Ekonomi Kelas X SMA i PENGANTAR DAN TUJUAN MODUL Assalamu alaikum Wr, Wb. Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, penyusunan modul Ekonomi dengan kompetensi dasar menganalisis inflasi

Lebih terperinci

Universitas Bina Darma

Universitas Bina Darma Mata Kuliah Kelas Hari/Tanggal Dosen Universitas Bina Darma Petunjuk mengerjakan soal: Tulislah Nama, NIM dan Kelas. ( Berdoa dahulu sebelum mengerjakan soal ) Kerjakan di KERTAS A. PILIHAN GANDA 1. Perdagangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin bertambah tinggi dalam kondisi perekonomian global seperti yang

BAB I PENDAHULUAN. semakin bertambah tinggi dalam kondisi perekonomian global seperti yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kompleksitas sistem pembayaran dalam perdagangan internasional semakin bertambah tinggi dalam kondisi perekonomian global seperti yang berkembang akhir-akhir ini.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Makroekonomi Makroekonomi adalah teori dasar kedua dalam ilmu ekonomi, setelah mikroekonomi. Teori mikroekonomi menganalisis mengenai kegiatan di dalam perekonomian dengan

Lebih terperinci

KRISIS EKONOMI DI INDONESIA MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA

KRISIS EKONOMI DI INDONESIA MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA KRISIS EKONOMI DI INDONESIA MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA Definisi Krisis ekonomi : Suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara mengalami penurunan akibat krisis keuangan Krisis keuangan/ moneter

Lebih terperinci

KEBIJAKAN MONETER, KEUANGAN NEGARA DAN PAJAK

KEBIJAKAN MONETER, KEUANGAN NEGARA DAN PAJAK Judul KEBIJAKAN MONETER, KEUANGAN NEGARA DAN PAJAK Mata Pelajaran : Ekonomi Kelas : II (Dua) Nomor Modul : Eko.2.04 Penulis: Nurmawan, S.Pd Penyunting Materi: Dra. Endang Sri Rahayu, M.Pd Penyunting Media:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Meskipun pertumbuhan ekonomi setelah krisis ekonomi yang melanda

BAB I PENDAHULUAN. Meskipun pertumbuhan ekonomi setelah krisis ekonomi yang melanda 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang Meskipun pertumbuhan ekonomi setelah krisis ekonomi yang melanda indonesia pada tahun 1998 menunjukkan nilai yang positif, akan tetapi pertumbuhannya rata-rata per

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berkembangnya pasar uang (money market) dan pasar modal (capital market)

BAB I PENDAHULUAN. Berkembangnya pasar uang (money market) dan pasar modal (capital market) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkembangnya pasar uang (money market) dan pasar modal (capital market) terutama di negara-negara maju memberi isyarat kepada negara-negara berkembang untuk mengubah

Lebih terperinci

faktor yang dimiliki masing-masing negara, antara lain sistem ekonomi, kualitas birokrasi. Sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara akan

faktor yang dimiliki masing-masing negara, antara lain sistem ekonomi, kualitas birokrasi. Sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara akan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan suatu negara sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang dimiliki masing-masing negara, antara lain sistem ekonomi, ketersediaan sumber daya, teknologi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengendalian besaran moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. pengendalian besaran moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kebijakan moneter merupakan kebijakan bank sentral dalam bentuk pengendalian besaran moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan fenomena shock ini adalah sangat menarik berbicara tentang

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan fenomena shock ini adalah sangat menarik berbicara tentang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Guncangan (shock) dalam suatu perekonomian adalah suatu keniscayaan. Terminologi ini merujuk pada apa-apa yang menjadi penyebab ekspansi dan kontraksi atau sering juga

Lebih terperinci

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran,Triwulan III - 2005 135 ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2005 Tim Penulis

Lebih terperinci

MODUL INFLASI DAN INDEKS HARGA

MODUL INFLASI DAN INDEKS HARGA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK RAKYAT MODUL INFLASI DAN INDEKS HARGA ROMI REXVIANA SAPUTRI A210140167 PENGANTAR DAN TUJUAN MODUL Assalamu alaikum Wr, Wb. Dengan memanjatkan puji syukur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan salah satu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan salah satu kondisi utama bagi kelangsungan ekonomi di Indonesia atau suatu negara, sehingga pertumbuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang akan melaju secara lebih mandiri

I. PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang akan melaju secara lebih mandiri 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan di negara-negara berkembang akan melaju secara lebih mandiri apabila pembangunan itu sebagian besar dapat dibiayai dari sumber-sumber penerimaan dalam negeri,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian oleh masyarakat dan otoritas moneter. Maka dari itu apabila

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian oleh masyarakat dan otoritas moneter. Maka dari itu apabila BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Uang merupakan bagian yang penting bagi kehidupan kita dalam kegiatan sehari hari. Bahkan ada yang berpendapat bahwa uang merupakan darah dalam sebuah perekonomian.

Lebih terperinci

BAB 7 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL

BAB 7 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL Kompetensi dasar : BAB 7 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL A. Mendeskripsikan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal 4.1 Mengevaluasi peran dan fungsi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal Materi

Lebih terperinci

melindamelindo.wordpress.com Page 1

melindamelindo.wordpress.com Page 1 BAB 10. Uang - Uang adalah alat pembayaran yang sah yang digunakan untuk melakukan transaksi pembayaran A. Fungsi Uang a. Fungsi Asli Uang 1. Alat Tukar Sebagai alat tukar, uang mempermudah manusia dalam

Lebih terperinci

Bank Umum dan Bank Sentral

Bank Umum dan Bank Sentral Bank Umum dan Bank Sentral Peran Ban dalam Perekonomian Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang berperan penring dalam penyediaan likuiditas keuangan dalam perekonomian Bank dapat berperan dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perubahan yang menakjubkan ketika pemerintah mendesak maju dengan

I. PENDAHULUAN. perubahan yang menakjubkan ketika pemerintah mendesak maju dengan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Selama tiga dekade terakhir, perekonomian Indonesia sudah mengalami perubahan yang menakjubkan ketika pemerintah mendesak maju dengan melakukan kebijakan deregulasi.

Lebih terperinci

Pertemuan ke: 04 KEBIJAKAN MONETER: EKSPRESI FUNGSI STABILISASI DAN SUSTAINIBILITAS DALAM POLITIK KEUANGAN NEGARA

Pertemuan ke: 04 KEBIJAKAN MONETER: EKSPRESI FUNGSI STABILISASI DAN SUSTAINIBILITAS DALAM POLITIK KEUANGAN NEGARA Pertemuan ke: 04 KEBIJAKAN MONETER: EKSPRESI FUNGSI STABILISASI DAN SUSTAINIBILITAS DALAM POLITIK KEUANGAN NEGARA POLITIK KEUANGAN NEGARA (3 SKS) Pengampu: Miftah Adhi Ikhsanto, S.IP, MiOP Amirudin, S.IP,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) untuk mencapai tujuannya yaitu

I. PENDAHULUAN. kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) untuk mencapai tujuannya yaitu 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ini dipersiapkan dan dilaksanakan untuk menganalisis penerapan kebijakan moneter berdasarkan dua kerangka perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter Bank

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS FLUKTUASI NILAI TUKAR RUPIAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP DEPOSITO MUDHARABAH PERIODE

BAB IV ANALISIS FLUKTUASI NILAI TUKAR RUPIAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP DEPOSITO MUDHARABAH PERIODE BAB IV ANALISIS FLUKTUASI NILAI TUKAR RUPIAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP DEPOSITO MUDHARABAH PERIODE 2014-2015 A. Analisis Fundamental Nilai Tukar Rupiah 1. Faktor Ekonomi Faktor Ekonomi yaitu hal-hal yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seiring dengan perkembangan ekonomi, baik perkembangan ekonomi domestik

BAB I PENDAHULUAN. seiring dengan perkembangan ekonomi, baik perkembangan ekonomi domestik BAB I PENDAHULUAN 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebijakan moneter di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan seiring dengan perkembangan ekonomi, baik perkembangan ekonomi domestik maupun global.

Lebih terperinci

2016, No /17/PBI/2013 tentang Transaksi Swap Lindung Nilai Kepada Bank Indonesia; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Ban

2016, No /17/PBI/2013 tentang Transaksi Swap Lindung Nilai Kepada Bank Indonesia; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Ban No.94, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERBANKAN. BI. Lindung Nilai. Transaksi Swap. Perubahan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5881) PERATURAN BANK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perekonomian secara umum.

BAB 1 PENDAHULUAN. salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perekonomian secara umum. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai perekonomian terbuka kecil, perkembangan nilai tukar merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perekonomian secara umum. Pengaruh nilai tukar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Dalam kegiatan perekonomian, dunia perbankan sangat dibutuhkan. Hal

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Dalam kegiatan perekonomian, dunia perbankan sangat dibutuhkan. Hal BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam kegiatan perekonomian, dunia perbankan sangat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan adanya faktor keanekaragaman masyarakat. Target utama dari kegiatan perbankan adalah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Hal ini dilakukan karena penerimaan pemerintah yang berasal dari pajak tidak

I. PENDAHULUAN. Hal ini dilakukan karena penerimaan pemerintah yang berasal dari pajak tidak 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah dalam menggunakan pinjaman baik dari dalam maupun dari luar negeri merupakan salah satu cara untuk menutupi defisit anggaran yang terjadi. Hal ini dilakukan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN TRIWULAN PEREKONOMIAN INDONESIA Keberlanjutan ditengah gejolak. Juni 2010

PERKEMBANGAN TRIWULAN PEREKONOMIAN INDONESIA Keberlanjutan ditengah gejolak. Juni 2010 PERKEMBANGAN TRIWULAN PEREKONOMIAN INDONESIA Keberlanjutan ditengah gejolak Juni 2010 viii Ringkasan Eksekutif: Keberlanjutan di tengah gejolak Indonesia terus memantapkan kinerja ekonominya yang kuat,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kegiatan konsumsi telah melekat di sepanjang kehidupan sehari-hari manusia.

I. PENDAHULUAN. Kegiatan konsumsi telah melekat di sepanjang kehidupan sehari-hari manusia. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan konsumsi telah melekat di sepanjang kehidupan sehari-hari manusia. Manusia melakukan kegiatan konsumsi berarti mereka juga melakukan pengeluaran. Pengeluaran untuk

Lebih terperinci

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Sejak pertengahan tahun 2006, kondisi ekonomi membaik dari ketidakstabilan ekonomi tahun 2005 dan penyesuaian kebijakan fiskal dan moneter yang

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2006 disempurnakan untuk memberikan gambaran ekonomi

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. [email protected]

BAB II GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. anikwidiastuti@uny.ac.id BAB II GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA TUJUAN PERKULIAHAN Mampu mendeskripsikan kondisi perekonomian pada masa orde lama Mampu mendeskripsikan kondisi perekonomian pada masa orde baru ERA SEBELUM

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebijakan Moneter Kebijakan moneter merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Sentral dari suatu Negara. Pada dasarnya kebijakan ini bertujuan untuk mengendalikan perekonomian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pengertian uang merupakan bagian yang integral dari kehidupan kita. sehari-hari. Ada yang berpendapat bahwa uang merupakan darahnya

BAB I PENDAHULUAN. Pengertian uang merupakan bagian yang integral dari kehidupan kita. sehari-hari. Ada yang berpendapat bahwa uang merupakan darahnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengertian uang merupakan bagian yang integral dari kehidupan kita sehari-hari. Ada yang berpendapat bahwa uang merupakan darahnya perekonomian, karena dalam

Lebih terperinci