D E D E N SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "D E D E N SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008"

Transkripsi

1 1 SUBSTITUSI HARA MINERAL ORGANIK TERHADAP HARA MINERAL ANORGANIK UNTUK PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SELADA (Lactucca sativa L.) PADA SISTEM HIDROPONIK D E D E N SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008

2 2 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis Substitusi Hara Mineral Organik terhadap Hara Mineral Anorganik untuk Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Selada (Lactucca sativa L.) pada Sistem Hidroponik adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, September 2008 Deden G

3 3 ABSTRACT DEDEN. (The Substitution of Organic Mineral Nutrient to Anorganic for Growth and Production of Lettuce (Lactucca sativa. L) by Hydroponik System). Under the direction of Muhadiono and Miftahudin. The increase of organic vegetable demand and unavailablity of organic mineral nutrient for production of lettuce by hydroponic leads an attempt to produce and use organic mineral nutrient that can be used for hydroponic system. The aim of this research was to analyze possibility of substitution of organic mineral nutrient to anorganic mineral nutrient for production of lettuce in hydroponic system. This research was conducted at Hydroponic Amazing Farm green house Karakal Cibedug Bogor from November to December This research was a factorial experiment with 3 factors that arranged in complete blok design with 3 replication. Those factors were Fertilizers (P1= organic mineral nutrient Nd; P2= anorganic mineral nutrient AB mix); Nutrient Concentration (A1= 1.5 ms -1 ; A2= EC 2.25 ms -1 ; A3 = EC 3.00 ms -1 ), and the Frequency of watering ( T1= every 5 minutes and T2 = every 10 minutes). The results showed that Nd organic mineral nutrient with EC 2.25 ms -1 and 3.00 ms -1 and frequency of watering every 5 minutes gave the highest value to all parameters except the plant height plant fresh weight, dry leaves, and the chlorophyl content. This research also showed that Nd organic mineral nutrient with either EC 1.50 ms -1 or EC 2.25 ms -1 could substitute anorganic mineral nutrient. Key words: Substitution, organic mineral nutrient, anorganic mineral nutrient, growth, production, lettuce, hydroponic system

4 4 RINGKASAN DEDEN. Substitusi Hara Mineral Organik terhadap Hara Mineral Anorganik untuk Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Selada (Lactucca sativa.l) pada Sistem Hidroponik. dibimbing oleh MUHADIONO dan MIFTAHUDIN. Permasalahan yang dihadapi oleh petani saat ini mengenai terbatasnya ketersediaan hara mineral organik untuk tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik. Jika dilihat saat ini kebutuhan pasar akan sayuran organik belum tercukupi, hal ini terjadi akibat dari belum adanya sayuran organik hidroponik yang produksinya melebihi dari produksi sayuran dengan menggunakan hara mineral anorganik. Penggunaan hara mineral organik Nd diharapkan dapat menggantikan hara mineral anorganik AB Mix terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada. Penelitian ini bertujuan mengatahui peranan dan kemampuan substitusi hara mineral organik Nd terhadap hara mineral anorganik AB Mix pada pertumbuhan dan produksi tanaman selada secara hidroponik. Hidroponik merupakan satu teknik budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tumbuhnya tetapi menggunakan media inert seperti gravel, pasir, peat, vermiekulite, pumice atau sawdust yang diberi larutan nutrisi yang mengandung semua elemen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan normal tanaman (Resh 1998). Teknologi hidroponik ini memberikan alternatif bagi petani yang memiliki lahan sempit untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dijanjikan sebagai sumber penghasilan yang memadai (Wardi et al. 1998). Menurut Harjadi (1989) terdapat empat metode hidroponik yaitu sistem hidroponik kultur pasir, sistem terbuka agregat, sistem hidroponik mengapung dan selaput hara (NFT). Metode selaput hara atau NFT banyak digunakan secara komersial untuk budidaya tanaman secara hidroponik. Pada teknik ini tanaman diletakkan secara teratur di sepanjang talang, sebagian akar terendam pada aliran hara dangkal setebal 3mm yang mengalir lambat, sedang sebagian akar lain mampu melakukan pertukaran udara dengan lingkungan sekitar (Resh 1999). Keistimewaan sistem hidroponik NFT antara lain produk yang dihasilkan bersih, kaya mineral, bebas pestisida dan jumlah air yang diperlukan hanya 1/10 bagian dari sistem hidroponik biasa. Teknik ini berkembang seiring dengan perkembangan teknologi hidroponik, sehingga hidroponik sistem NFT banyak digunakan untuk tanaman sayuran terutama selada. Dengan menggunakan sistem hidroponik NFT tanaman selada dapat dipanen 8 10 kali dalam satu tahun. Pada sistem hidroponik sistem NFT kebutuhan hara tanaman diberikan bersama dengan irigasi atau dikenal dengan fertigasi (penyiraman). Pengaturan fertigasi pada budidaya sayuran secara hidroponik sistem NFT perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air dan hara. Jika pasokan air terhambat atau berkurang, maka pertumbuhan dan produksi tanaman berkurang. Untuk mendapatkan hasil yang opimum untuk pertumbuhan dan produksi selada, perlu mengetahui ketepatan komposisi larutan hara dan frekuensi penyiraman, maka dilakukan percobaan tentang substitusi hara mineral organik Nd terhadap hara mineral anorganik AB MIX pada 3 konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman 5 menit dan 10 menit.

5 5 Penelitian dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2007 di green house Hidroponik Amazing Farm Karakal Cibedug Bogor. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (faktorial RAK) 3 faktor terdiri dari dua jenis pupuk, dua frekuensi penyiraman dan 3 konsentrsi hara dengan tiga ulangan sehingga terdapat 36 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdiri dari 10 tanaman pertalang, maka jumlah total tanaman yang ditanam sebanyak 360 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan hara mineral organik pada konsentrasi 2.25 dengan frekuensi penyiraman 10 menunjukkan hasil tertinggi untuk bobot basah tanaman, bobot basah daun, kandungan hara K dan kandungan Abu. Parameter korelasi karl pearson yang memiliki arah positif ditunjukkan perlakuan parameter tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, luas daun, bobot basah tanaman bobot kering tanaman, bobot basah akar, bobot kering akar, bobot basah daun, bobot kering daun, bobot basah tajuk dan bobot kering tajuk. klorofil, serat kasar, kadar abu, kadungan hara N, P, K, Ca, Mg dan S mempunyai nilai korelasi dengan arah negatif. Nilai substitusi tertinggi ditunjukkan parameter kandungan hara S pada perlakuan A2T1 (90,48 %), A3T1 (96,67 %) dan A3T2 (70%). Sedang nilai substitusi terrendah ditunjukkan parameter klorofil pada perlakuan A1T2 (-39,38 %), A2T1 (-29,67 %) dan A3T1 (26,93 %). Efisiensi unsur N untuk hasil kandungan N tanaman yang sama hara 4,5%, mineral organik Nd mempunyai nilai substitusi sebesar 54,52% terhadap hara mineral anorganik AB Mix. Kata Kunci: Substitusi, hara mineral organik, hara mineral anorganik, pertumbuhan, produksi, selada, hidroponik.

6 6 Hak Cipta milik IPB tahun 2008 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber. a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

7 7 SUBSTITUSI HARA MINERAL ORGANIK TERHADAP HARA MINERAL ANORGANIK UNTUK PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SELADA (Lactucca sativa L.) PADA SISTEM HIDROPONIK D E D E N Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Biologi SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008

8 8 Judul Tesis : Substitusi Hara Mineral Organik terhadap Hara Mineral Anorganik untuk Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Selada (Lactucca sativa L.) pada Sistem Hidroponik Nama : D e d e n NRP : G Disetujui Komisi Pembimbing Dr.Ir. Muhadiono, M.Sc Ketua Dr.Ir. Miftahudin, M.Si Anggota Diketahui Ketua Program Studi Biologi Dekan Sekolah Pascasarjana Dr.Ir. Dedy Duryadi Solihin, DEA Prof. Dr.Ir.Khairil A. Notodiputro, M.S Tanggal Ujian : 8 Agustus 2008 Tanggal Lulus :

9 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Anas D. Susila 9

10 10 PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala Rahmat dan Karunia-Nya sehingga karya tulis ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober Januari 2008 dengan judul Substitusi Hara Mineral Organik terhadap Hara Mineral Anorganik untuk Pertumbuhan dan Produksi Selada (Lactucca sativa L.) pada Sistem Hidroponik. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr.Ir. Muhadiono, M.Sc dan Bapak Dr.Ir. Miftahudin, M.Si selaku pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan nasehat, arahan dan bimbingannya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan ini. Kepada Bapak Dr.Ir. Dedy Duryadi, DEA dan Bapak Prof. Dr.Ir. H. Dede Setiadi sebagai ketua Program Studi Biologi dan Sub Program Ekologi yang telah banyak memberi saran dan dorongannya. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Departemen Agama RI di Jakarta yang telah memberikan dana penddikan lewat program Bea Siswa BUD untuk Guru Madrasah. Kepada Bapak Kepala Madrasah dan dewan guru serta staf tata usaha Madrasah Aliyah Negeri Cijeruk Kabupaten Bogor, penulis mengucapkan banyak tarima kasih atas semua dorongan dan saran yang telah diberikan selama mengikuti perkuliahan. Untuk teman-teman BUD penulis mengucapkan banyak tarima kasih atas semua bantuannya. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada isteri tercinta Wahdahniah Munawarah, S.Ag serta anak-anakku tersayang Qatrunnida Fatimatuzzahrah dan Muhammad Haikal Azril Kamil, Ibunda tersayang Hj. Zaenab beserta keluarga atas dukungan dan kasih sayangnya. Insya Allah karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, September Penulis Deden

11 11 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Sukabumi pada tanggal 06 September 1972 sebagai anak ke-6 dari delapan bersaudara dari pasangan H. Jaenudin dan Hj. Zaenab. Pendidikan sarjana ditempuh di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin Jurusan Pendidikan Agama Islam, lulus tahun 1997 dan tahun 2003 lulus pada Perguruan Tinggi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati Bandung Jurusan Tadris Biologi. Kesempatan untuk meneruskan ke program Magister Sains IPB program studi Biologi diperoleh tahun 2006 dengan program beasiswa BUD Departemen Agama RI. Penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Madrasah Aliyah Negeri Cijeruk Kabupaten Bogor dari tahun 2005 sampai sekarang sebagai guru mata pelajaran Biologi, kemudian menjadi guru honorer pada SMP Cibogo Islamic Boarding School dari tahun 2004 sampai sekarang. Selama perkuliahan penulis membantu dosen pembimbing pada perkuliahan praktikum Pertanian Organik D3 IPB.

12 12 DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR ISI Halaman PENDAHULUAN Latar Belakang... 1 Tujuan Penelitian... 3 Hipotesis... 3 TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Tanaman Selada... 4 Unsur Hara... 5 Hidroponik Sistem NFT... 7 Faktor yang Menentukan Keberhasilan Tekhnik Hidroponik... 8 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Rancangan Percobaan Pelaksanaan Percobaan HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Panjang Akar dan Luas Daun Biomasa Tanaman Kandungan Serat Kasar, Klorofil dan Kadar Abu Kandungan Hara Makro Tanaman Korelasi Antar Parameter Nilai Substitusi SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 38

13 13 DAFTAR TABEL Halaman 1. Perdagangan Ekspor-Impor selada di Indonesia tahun Kebutuhan unsur hara tanaman selada (Lactuca sativa L.) Perlakuan percobaan Parameter yang diamati dan frekuensi pengamatan Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata tinggi tanaman 1 MST waktu panen Perlakuan frekuensi penyiraman terhadap rerata tinggi tanaman 1MST waktu panen Pengaruh jenis pupuk dan perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata jumlah daun Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata jumlah daun Pengaruh hara mineral terhadap rerata panjang akar Pengaruh hara mineral dan perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata bobot basah akar dan bobot kering akar Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata bobot basah tajuk Pengaruh jenis pupuk terhadap rerata serat kasar Rerata kandungan hara makro tanaman setiap hara mineral Pengaruh hara mineral terhadap rerata kandungan hara Ca dan Mg Perlakuan frekuensi penyiraman terhadap kandungan Hara P Substitusi total unsur N pada nilai kandungan hara N 4.5 %... 33

14 14 DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Susunan satu set alat percobaan hidroponik sistem NFT Tanaman Selada setelah panen dengan memakai hara mineral organik Nd Dan hara mineral anorganik AB Mix Interaksi antara jenis pupuk dengan frekuensi penyiraman terhadap tinggi tanaman 2MST (A); Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman terhadap tinggi tanaman 2MST (B), 3MST (C) dan waktu panen (D) Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman pada jumlah daun 3MST (A), 4MST (B) dan waktu panen (C) Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada jumlah daun 2MST Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada luas daun Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman pada bobot basah tajuk (A), bobot kering tajuk (B) dan bobot kering akar (C) Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada bobot basah tanaman (A) dan bobot basah daun (B) Interaksi antara hara mineral organik Nd dengan konsentrasi hara terhadap bobot basah tanaman Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman terhadap serat kasar Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman terhadap kandungan klorofil (A) dan kadar abu (B) Interaksi antara jenis pupuk dengan frekuensi penyiraman terhadap Kandungan hara Mg (13A) dan Ca (13B). Interaksi antara pupuk dengan konsentrasi hara terhadap kandungan Ca (13C) Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman Terhadap kandungan N (A), S (B) dan K (C) Rerata kandungan hara N tanaman selada (Lactucca sativa L.)... 33

15 15 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. 1a. Kandungan unsur 2 jenis hara mineral b. Prosedur Pembuatan hara mineral organik Nd Data suhu udara dikebun hidroponik Amazing Farm dari tanggal 5 November Desember a. Data suhu larutan pagi jam dari tanggal 5 November Desember b. Data suhu larutan siang jam dari tanggal 5 November Desember a. Data ph larutan pagi jam dari tanggal 5 November Desember b. Data ph larutan siang jam dari tanggal 5 November Desember a. Data Elektron Conductivity (EC) larutan hara mineral pada pagi jam 09.00WIB dari tanggal 5 Nopember 6 Desember b. Data Elektron Conductivity (EC) larutan hara mineral pada siang jam 14.00WIB dari tanggal 5 Nopember 6 Desember Sidik ragam tinggi tanaman 1MST waktu panen Sidik ragam jumlah daun 1MST waktu panen Sidik ragam tanaman setelah panen Sidik ragam biomasa Sidik ragam kandungan klorofil, serat kasar, kadar abu, kadar air Sidik ragam kandungan hara makro Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata jumlah daun tanaman pada 2 MST Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata luas daun Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata bobot basah Tanaman Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata bobot basah daun... 56

16 Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kandungan hara N Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kandungan hara K Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kandungan hara S Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kadar abu Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata klorofil Rekapitulasi Nilai Korelasi Kart Pearson antar parameter pertumbuhan selada (Lactuca sativa L.) Nilai substitusi antara hara mineral organik Nd terhadap hara mineral AB Mix pada parameter pengamatan tanaman selada (Lactucca sativa L.) Nilai rerata parameter untuk setiap sumber hara mineral Kosa kata... 62

17 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kecenderungan akan tingginya permintaan sayuran organik dan belum banyak tersedianya hara mineral yang berasal dari sisa kotoran makhluk hidup (organik) untuk produksi selada secara hidroponik (NFT), mendorong upaya untuk mengembangkan teknik hidroponik dengan hara mineral organik sebagai sumber hara. Selain itu juga masalah tingginya harga hara mineral anorganik menyebabkan biaya produksi hidroponik menjadi mahal, harga untuk satu liter hara mineral anorganik mencapai Rp ,- untuk larutan A dan B. Untuk mendorong pengembangan produk sayuran hidroponik organik, juga mengatasi tingginya harga hara mineral anorganik, maka dapat dikembangkan hara mineral organik yang dibuat dari kotoran ternak. Hasil percobaan yang dilakukan Nichols dan Atkins (2004) pada hidroponik organik tanaman selada menggunakan campuran organik dari larutan ikan Bette-Crops dan larutan ganggang laut dengan perbandingan 3 : 2, memperlihatkan hasil bahwa produksi tanaman selada menunjukkan hasil yang lebih baik dari hara mineral anorganik. Dermawati (2006) telah membuktikan bahwa hara mineral organik dapat mensubstitusi hara mineral anorganik pada produksi tanaman pakchoy secara hidroponik sistem NFT. Departemen Perdagangan dan Perindustrian tahun melaporkan bahwa kegiatan ekspor (volume sebesar 732,256 ton) melebihi kegiatan impor yang mencapai 30,770 ton (Tabel 1). Besarnya volume ekspor dan potensi devisa menjadikan selada termasuk salah satu komoditi sayuran yang besar untuk dikembangkan di Indonesia. Tabel 1 Perdagangan ekspor dan impor selada di Indonesia tahun Tahun Volume (ton) Ekspor Impor Total 23,050 66, , , , ,256 14,786 19,063 43, ,169 97, ,770 Sumber : Departemen Perdagangan dan Perindustrian. Ekspor dan Impor

18 2 Hidroponik merupakan satu teknik budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tumbuhnya tetapi menggunakan media inert seperti gravel, pasir, peat, vermiekulite, pumice atau sawdust yang diberi larutan nutrisi yang mengandung semua elemen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan normal tanaman (Resh 1998). Teknologi hidroponik ini memberikan alternatif bagi petani yang memiliki lahan sempit untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dijadikan sebagai sumber penghasilan yang memadai (Wardi et al. 1998). Menurut Harjadi (1989) terdapat empat metode hidroponik yaitu sistem hidroponik kultur pasir, sistem terbuka agregat, sistem hidroponik mengapung dan selaput hara (NFT). Metode selaput hara atau NFT banyak digunakan secara komersial untuk budidaya tanaman secara hidroponik. Pada teknik ini tanaman diletakkan secara teratur di sepanjang talang, sebagian akar terendam pada aliran hara dangkal setebal 3 mm yang mengalir lambat, sedang sebagian akar lain mampu melakukan pertukaran udara dengan lingkungan sekitar (Resh 1999). Keistimewaan sistem hidroponik NFT antara lain produk yang dihasilkan bersih, kaya mineral, bebas pestisida dan jumlah air yang diperlukan hanya 1/10 bagian dari sistem hidroponik biasa. Teknik ini berkembang seiring dengan perkembangan teknologi hidroponik, sehingga hidroponik sistem NFT banyak digunakan untuk tanaman sayuran terutama selada. Dengan menggunakan sistem hidroponik NFT tanaman selada dapat dipanen 8 10 kali dalam satu tahun. Terdapat beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam budidaya hidroponik antara lain unsur hara, suplai oksigen, media tanam dan suplai air. Unsur makro adalah unsur yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah banyak seperti N, P, K, Ca, Mg, S dan unsur mikro dibutuhkan dalam jumlah sedikit yaitu B, Cu, Fe, Mn, Mo dan Zn (Marschner 1986). Larutan hara merupakan bagian penting dalam sistem hidroponik NFT, setiap jenis tanaman memerlukan tingkat konsentrasi hara yang berbeda. Konsentrasi hara (EC) rendah atau terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman (Roan 1998). Tanaman yang dibudidayakan pada larutan hara dengan konsentrasi tinggi (melebihi konsentrasi optimum) akan menyebabkan stress dan tanaman tidak dapat menyerap cukup air untuk pertumbuhannya (Morgan 2000).

19 3 Hasil penelitian Nurfinayati (2004) menunjukkan bahwa selada tumbuh baik pada kisaran konsentrasi EC 0.3 ms ms -1 dengan teknologi hidroponik sistem terapung. Pada sistem hidroponik sistem NFT kebutuhan hara tanaman diberikan bersama dengan irigasi atau dikenal dengan fertigasi (penyiraman). Pengaturan fertigasi pada budidaya sayuran secara hidroponik sistem NFT perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air dan hara. Jika pasokan air terhambat atau berkurang, maka pertumbuhan dan produksi tanaman berkurang. Untuk mendapatkan hasil yang opimum untuk pertumbuhan dan produksi selada, perlu mengetahui ketepatan komposisi larutan hara dan frekuensi penyiraman, maka dilakukan percobaan tentang substitusi hara mineral organik Nd terhadap hara mineral anorganik AB Mix pada 3 konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman 5 menit dan 10 menit. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Izzati (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan dan produksi selada dihasilkan oleh kombinasi larutan hara mineral dengan fertigasi terputus-putus pada sistem hidroponik agregat media arang sekam. Tujuan Penelitian Penelitian bertujuan mengetahui: 1. Peranan hara mineral organik Nd yang berasal dari hara mineral organik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada pada hidroponik sistem NFT. 2. Kemampuan substitusi hara mineral organik Nd terhadap penggunaan hara mineral anorganik pada hidroponik sistem NFT tanaman selada. Hipotesis Penelitian 1. Pengaruh hara mineral organik Nd terhadap pertumbuhan dan produksi selada tidak berbeda dengan hara mineral anorganik pada hidroponik sistem NFT tanaman selada. 2. Hara mineral organik Nd mampu mensubstitusi hara mineral anorganik pada hidroponik sistem NFT tanaman selada.

20 4 TINJAUAN PUSTAKA Selada (Lactucca sativa.l) Selada adalah tanaman setahun polimorf (memiliki banyak bentuk) khususnya daun. Daun selada berjumlah banyak dan berposisi duduk (sessile), tersusun berbentuk spiral dalam roset padat. Bentuk yang berbeda-beda sangat beragam warna dan tekstur. Daun tidak berambut, mulus, berkeriput (savoy), atau kusut berlipat. Warna beragam mulai dari hijau muda hingga hijau tua. Kultivar tertentu berwarna merah atau ungu. Daun bagian dalam pada kultivar yang tidak membentuk kepala cenderung berwarna lebih cerah sedang pada kultivar yang membentuk kepala lebih pucat. Tanaman berakar tunggang dalam diiringi penebalan dan perkembangan ekstensif akar lateral yang kebanyakan horizontal. Sistem perakaran dangkal dan kecil sehingga memerlukan pasokan hara mudah terjangkau (Rubatzky & Yamaguchi 1998). Dalam taksonomi tumbuhan, tanaman selada diklasifikasikan dalam: Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Class : Dicotyledonae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Lactuca Spesies : Lactuca sativa (Grubben & Sukprakarn, 1994) Grubben & Sukprakarn (1994) mengatakan bahwa selada dikelompokkan dalam lima macam tipe yaitu selada kepala renyah dan kepala mentega (Lactucca sativa var. capitata), cos atau romain (Lactucca sativa var. longifolia), daun longgar atau loose leaf (Lactucca sativa var. crispa), batang (Lactucca sativa var. asparagina) dan latin (Lactucca sativa). Selada kultivar Grand Rapids termasuk dalam tipe loose leaf. Selada jenis ini memiliki helaian daun lepas dan pada tepian berombak atau bergerigi, berwarna hijau atau merah dan tidak membentuk krop. Selada ini berumur genjah dan toleran terhadap kondisi dingin, dipanen hanya helaian daun saja sehingga selada ini dapat dipanen beberapa kali.

21 5 Sejumlah besar selada diproduksi dalam bangunan pelindung seperti rumah kaca. Pada suhu dan lingkungan pertumbuhan terkendali maka peluang produksi di luar musim meningkat. Selada kualitas baik dihasilkan pada batas suhu pertumbuhan awal bibit sekitar 13 0 C pada malam hari dan 16 0 C siang hari (Rubatzky & Yamaguchi 1998). Nurfinayati (2004) menyebutkan bahwa suhu tinggi selama pertumbuhan selada menyebabkan kelayuan sementara pada siang hari akibat meningkatnya transpirasi, selain itu suhu mempengaruhi kelarutan gas di dalam air. Selada hidroponik tumbuh optimal pada ph sekitar 6.0 sampai 6.5 (Resh 1999). Percobaan dilakukan Nurfinayati (2004) pada ph tinggi mencapai 7.9 menyebabkan menurunnya pertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu diameter batang dan bobot dipasarkan per tanaman. Umumnya kualitas selada dibagi ke dalam dau kategori yaitu: (1) sifat yang mudah diamati (fisik) meliputi penampilan, warna, kerenyahan, keseragaman ukuran, bobot, tekstur dan rasa; (2) sifat kurang teramati (kimia) meliputi aroma dan nilai gizi (Ware 1980). Waktu panen selada berbeda tergantung varietas dan kondisi cuaca (Nurfinayati 2004). Umumnya waktu panen berkisar 35 hari sampai 45 hari setelah pindah tanam. Menunda panen untuk mencapai bobot tanaman lebih tinggi menjadi kurang menguntungkan dan lebih menguntungkan apabila memulai penanaman baru (Rubatzky & Yamaguchi 1999). Unsur Hara Unsur hara tanaman adalah bahan-bahan yang diserap oleh tanaman yang berisi satu atau lebih unsur esensial yang dibutuhkan tanaman (Jansen 1997). Pada sistem pertanian hidroponik pemakaian hara mineral diberikan dalam bentuk pupuk cair, hal ini dilakukan agar unsur hara terdapat dalam hara mineral mudah untuk diserap oleh tanaman. Dermawati (2006) telah membuktikan bahwa hara mineral organik dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun untuk tanaman pakchoy secara hidroponik sistem NFT. Penanaman selada secara hidroponik memerlukan unsur hara dalam konsentrasi yang akurat. Dalam pemakaian hara mineral organik harus

22 6 memperhatikan unsur hara diperlukan tanaman. Menurut Adam et al. (1995) untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik, tanaman harus dipenuhi kebutuhan unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan unsur mikro (Mn, Mo, B, Fe, Cl, Cu) dengan cukup (Tabel 2). Tabel 2 Kebutuhan Unsur Hara Tanaman Selada NO NAMA UNSUR KONSENTRASI (ppm) Kalium (K) Kalsium (Ca) Nitrogen (N) Magnesium (Mg) Fosfor (P) Besi (Fe) Mangan (Mn) Boron (B) Seng (Zn) Kopper Molibdenum (Mo) ,3 0,1 0,07 0,003 Sumber: Chalcheedas, Conductivity of Nutrient Simplified Pada dasarnya budidaya hidroponik lebih memfokuskan pada pengaturan komposisi larutan hara sesuai kebutuhan tanaman. Tanaman memperoleh unsur hara larutan garam mineral yang langsung diberikan ke akar tanaman, sehingga tanaman lebih memfokuskan energi untuk pertumbuhan tidak digunakan untuk kompetisi memperoleh unsur hara (Pranis 1998). Sebagaimana telah kita ketahui bersama penggunaan hara mineral organik pada pertanian dilahan media tanah dapat memberikan tambahan organik, hara, memperbaiki sifat tanah dan mengembalikan unsur hara yang terangkut tanaman hasil panen (Nugroho et al. 1999). Hara mineral anorganik AB Mix adalah hara mineral hidroponik lengkap yang mengandung semua unsur hara makro dan hara mikro yang diperlukan oleh tanaman dan diformulasikan sesuai kebutuhan. Berdasarkan hasil penelitian Izzati (2006) hara mineral AB Mix dapat mengkatkan hasil bobot panen selada yang lebih baik dari jumlah daun dan tinggi tanaman jika dibanding dengan hara mineral anorganik hyponex dan saprodap pada hidroponik sistem agregat dengan media sekam.

23 7 Dalam budidaya hidroponik semua unsur esensial diberikan pada tanaman dengan cara mencampur unsur hara kedalam air sehingga menjadi suatu larutan hara. Menurut Turon dan Perez (1999) dalam pembuatan larutan hara untuk budidaya hidroponik yang utama adalah konsentrasi tepat dan mengandung semua unsur dibutuhkan. Formulasi larutan diberikan tergantung jenis tanaman, tahap pertumbuhan, musim, serta keadaan iklim seperti suhu, kelembaban dan cahaya (Resh 1999). Hidroponik Sistem NFT Hidroponik berasal dari kata Hydroponos terdiri dari dua kata yaitu Hydro artinya air dan ponos artinya bekerja dengan air, sehingga hydroponik dapat diartikan sebagai kegiatan budidaya tanaman pertanian dengan menggunakan air sebagai media tanam utama (Nicholls 1996). Hidroponik merupakan metode menumbuhkan tanaman dalam larutan hara (air yang mengandung pupuk) dengan memakai media inert seperti pasir, vermiekulite, rockwoll, perlite dan sawdust sebagai penunjang mekanik (Jansen 1997). Di Amerika pada awal tahun 1900, kata hidroponik digunakan untuk menggambarkan sebuah metode budidaya tanaman dengan akar menggantung di dalam wadah air yang mengandung nutrisi (Smith 1999). Pada dasarnya budidaya hidroponik lebih memfokuskan pada pengaturan komposisi larutan hara hara sesuai kebutuhan tanaman. Tanaman memperoleh unsur hara larutan garam mineral yang langsung diberikan ke akar tanaman, sehingga tanaman lebih memfokuskan energi untuk pertumbuhan tidak digunakan untuk kompetisi memperoleh unsur hara (Pranis 1998). Menurut Harjadi (1989) terdapat empat metode hidroponik yaitu hidroponik kultur pasir, sistem terbuka agregat, sistem hidroponik terapung (THST) dan sistem selaput hara (NFT). Pada sistem hidroponik kultur pasir, pasir bertindak sebagai media tumbuh permanen dan pada sistem terbuka agregat, bibit dipindahkan ke wadah yang diisi dengan substrat inert dan disiram larutan hara. Menurut Susila (2003) pada sistem hidroponik terapung tanaman diletakkan pada panel stryofoam yang mengapung pada kolam hara dengan ukuran dan volume larutan besar sehingga dapat menekan fluktuasi larutan hara.

24 8 Metode selaput hara atau NFT banyak digunakan secara komersial sebagai budidaya tanaman secara hidroponik. Teknik ini pertama kali dikembangkan di Inggris oleh Cooper pada akhir tahun Tanaman diletakkan secara teratur di sepanjang talang, sebagian akar terendam pada aliran hara dangkal yang mengalir lambat, sedang sebagian akar lain mampu melakukan pertukaran udara dengan lingkungan sekitar. Larutan hara yang mengalir sangat tipis, ketebalannya hanya 3 mm (Resh 1999). Menurut Resh (1999) budidaya hidroponik memiliki kelebihan dibanding budidaya konvensional di atas tanah. Kelebihan tersebut antara lain : 1. Hara tanaman homogen dan dapat dikendalikan. 2. Tidak dibatasi ketersediaan unsur hara oleh tanah, sehingga memungkinkan penambahan populasi per unit area. 3. Tidak memerlukan pengolahan tanah dan penanganan masalah gulma. 4. Penggunaan hara minerallebih efisien karena diberikan seragam pada semua tanaman. 5. Media tanam lebih permanen, dapat digunakan jangka waktu lama. 6. Hama dan penyakit cenderung berkurang. Faktor yang Menentukan Keberhasilan Teknik Hidroponik Keberhasilan dalam budidaya tanaman dengan menggunakan sistem hidroponik NFT ditentukan oleh derajat kemasaman, konsentrasi hara (EC) dan frekuensi penyiraman. Derajat Kemasaman (ph) Larutan Hara Menurut Diatloff (1999) Pandus hydrogenii (potential hydrogen) kepanjangan dari ph yaitu nilai (dari 1 sampai 14) yang menunjukkan asam atau basa suatu larutan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan asal Belanda Sorensen pada tahun 1909 untuk menjelaskan konsentrasi ion-ion hidrogen yang berukuran sangat kecil. Kemasaman larutan (ph) mempengaruhi pertumbuhan tanaman dengan dua cara yaitu mempengaruhi persediaan hara dan mempengaruhi penyerapan hara oleh akar tanaman.

25 9 Nilai rata-rata tertinggi tersedia semua hara penting tanaman berada pada ph kisaran 5.4 sampai 6.0 untuk media tanpa tanah. Rendahnya ph menyebabkan peningkatan kandungan Fe, Mg, dan Al terlarut, selain itu ketersediaan Ca, Mg, S, dan Mo menurun. Pada ph tinggi sebaliknya menyebabkan penurunan P, Fe, Mg, Zn, Cu, dan B (Nelson 1998). Soepardi (1983) menambahkan ph merupakan hal yang harus diperhatikan karena berhubungan dengan Ca dan Mg dipertukarkan, kelarutan alumunium dan unsur mikro dan ketersediaan fosfor. Pada budidaya tanaman secara hidroponik, larutan hara dipertahankan pada kisaran ph dengan menambahkan larutan asam atau basa (Adam et al. 1995). Mengingat pentingnya ph bagi ketersediaan bagi tanaman hidroponik, maka ph larutan hara perlu senantiasa dijaga agar tidak keluar dari kisaran yang dibutuhkan tanaman (Subiyanto 2000). Pada Lampiran 4 kisaran ph untuk hara mineral organik Nd dan hara mineral anorganik AB Mix cukup stabil sehingga proses penyerapan kandungan nurisi dalam hara mineral tersebut mencukupi. Nilai ph larutan hara mudah berubah seiring dengan ketidakseimbangan antara kation dan anion yang diserap oleh tanaman (Harjadi 1989). Konduktivitas Listrik (EC) Konduktivitas listrik (EC, Electrical Conductivity) dikenal sebagai faktor konduktivitas (CF, Conductivity Factor) atau daya hantar listrik (DHL) yaitu pengukur kadar garam dalam larutan hara. Konduktivitas listrik memberi indikasi mengenai hara yang terkandung pada larutan dan yang diserap oleh akar. Larutan kaya hara akan mempunyai konduktivitas listrik yang lebih besar dari pada larutan yang mempunyai sedikit ion garam. Nilai EC tergantung dari jenis ion yang terkandung di dalam larutan hara, konsentrasi ion, dan suhu larutan (Morgan 2000). Menurut Hermawan (2004) perlakuan EC memberi respon berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun /minggu, bobot basah per tanaman, hasil /kelompok, bobot basah akar dan bobot kering pada akar salada. Salada varietas Bellona dan Paris cos island menggunakan sistem NFT pada kisaran EC 1,5-5,0 ms -1 /cm berpengaruh kecil terhadap bobot basah dan meningkatkan bobot kering akar seiring dengan peningkatan taraf EC.

26 10 Satuan pengukuran internasional (SI) konduktivitas adalah Siemens. Satuan tersebut diambil dari nama Ernest Siemens yaitu seorang ilmuwan dan industrialis Jerman pada abad ke-19, sehingga simbol untuk konduktivitas adalah S. Pengukuran konduktivitas didasarkan pada jumlah ion yang melayang diantara dua elektroda pada jarak tertentu. Konduktivitas sering dinyatakan dalam ds/m, ms/cm atau µs/cm (Chalcheedas 1998). Perubahan EC larutan hara berbanding lurus dengan banyak unsur hara terkandung dalam larutan hara. Semakin banyak unsur hara yang terkandung dalam larutan hara maka semakin tinggi nilai EC, yang berarti bahwa kemampuan larutan hara tersebut untuk mengantarkan ion listrik ke akar tanaman semakin tinggi (Permatasari 2001). Chalcheedas (1998) menambahkan bahwa konduktivitas mengukur jumlah total partikel bermuatan listrik dalam larutan, namun tidak dapat membedakan antara satu ion dengan ion lain sehingga konduktivitas tidak dapat mendeteksi ketidakseimbangan hara dalam suatu larutan. Nilai EC semakin menurun dengan bertambahnya umur tanaman karena terjadi penyerapan unsur hara (Roan 1998). Fertigasi/Penyiraman Fertigasi adalah singkatan dari fertilizer (pemupukan) dan irrigation (pengairan), suatu sistem pemupukan dan pengairan yang diberikan secara bersamaan atau dikenal dengan istilah penyiraman. Tanaman Hidroponik dalam sistem NFT sangat tergantung pada aliran air yang mengalir pada talang sebagai media tanam. Jika pasokan air terhambat atau berkurang maka pertumbuhan dan produksi tanaman berkurang. Berdasarkan hasil penelitian Dermawati (2006) menyatakan bahwa produksi tanaman pakchoy menunjukkan hasil yang berbeda pada setiap perlakuan frekuensi penyiraman, frekuensi penyiraman 5 menit menunjukkan hasil yang lebih baik dari frekuensi penyiraman 10 menit.

27 11 METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan mulai bulan November sampai Desember 2007 di green house Hidroponik Amazing Farm Karakal Cibedug Bogor. Analisis hara mineraldilakukan di Laboratorium Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Bogor. Analisis kandungan unsur hara dan senyawa lain yang terkandung dalam tanaman selada setelah panen dilakukan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan IPB, Laboratorium Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Bogor, dan Laboratorium Balitro, Bogor. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain bibit selada daun (leaf lettuce L) varietas Grand Rapids produksi Panah Merah, hara mineral organik Nd yang dibuat dengan prosedur seperti pada Lampiran 1B, hara mineral anorganik AB Mix (Lampiran 1). Alat yang digunakan antara lain, talang air untuk NFT berjumlah 36 buah ukuran (2 m x 11 cm x 12 cm), selang PE (polietilen), dua buah timer (produksi hidroponik parung farm), styrofoam sebagai tempat tumbuh tanaman, gabus, baivalve (keran buka tutup) air dan cairan larutan pupuk, backwash (untuk mengaduk/mengagitasi larutan supaya konsentrasi unsur hara merata), green house, pompa air celup (submebsible pump), ph meter dan EC meter ms -1. Rancangan Percobaan Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok terdiri 3 faktor (factorial RAK) yaitu jenis sumber pupuk, konsentrasi hara mineral dan frekuensi penyiraman dengan tiga kali ulangan. Tiga Faktor Rancangan Acak Kelompok Faktorial disajikan dalam model linear berikut ini: Y ijkl = µ+α i +β j +γ k +(αβ) ij +(αγ) ik +(βγ) jk +(αβγ) ijk +ε ijkl і = 1,2; j = 1,2,3; k = 1,2; l = 1,2,3

28 12 dengan Y ijkl = Nilai pengamatan pada satuan percobaan ke-1 yang memperoleh kombinasi perlakuan ijkl (taraf ke-i factor faktor jenis pupuk, taraf ke-j faktor konsentrasi hara, dan taraf ke-k faktor frekuensi penyiraman); µ = rataan umum; α i β j γ k (αβ) ij (αγ) ik (βγ) jk = pengaruh jenis hara mineraltaraf ke-i; = pengaruh konsentrasi hara taraf ke-j; = pengaruh frekuensi penyiraman taraf ke-k; = pengaruh interaksi hara mineral taraf ke-i dan konsentrasi hara taraf ke-j; = pengaruh interaksi hara mineral taraf ke-i dan frekuensi penyiraman taraf ke-k; = pengaruh interaksi konsentrasi hara taraf ke-j dan frekuensi penyiraman taraf ke-k; (αβγ) ijk = pengaruh interaksi hara mineral taraf ke-i, konsentrasi hara taraf ke-j dan frekuensi penyiraman taraf ke-k; ε ijkl = pengaruh galat dari satuan percobaan ke-l yang memperoleh kombinasi perlakuan ijk; Hara mineral yang digunakan dalam penelitian ini memakai dua jenis, terdiri dari 2 taraf perlakukan yaitu: 1. P1 = Hara mineral organik Nd (ramuan Deden) 2. P2 = AB Mix, hara mineral anorganik paket usaha Konsentrasi hara dalam penelitian ini terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu: 1. A1 = EC 1,50 ms.cm A2 = EC 2.25 ms.cm A3 = EC 3.00 ms.cm -1 Frekuensi penyiraman terdiri dari 2 macam taraf perlakuan yaitu: 1. T1 = frekuensi penyiraman dilakukan setiap 5 menit 2. T2 = frekuensi penyiraman dilakukan setiap 10 menit

29 13 Berdasarkan perlakuan di atas diperoleh 12 kombinasi perlakuan (2x3x2) dan diulang 3 kali, sehingga diperoleh 36 satuan percobaan. Kombinasi perlakuan disajikan pada Tabel 3. Tabel 3: Perlakuan Percobaan. Hara Mineral Organik Nd Hara Mineral Anorganik AB Prekuensi (P1) Mix (P2) Penyiraman Konsentrasi hara (A) Konsentrasi hara (A) (T) A1 (EC) A2 (EC) A3 (EC) A1 (EC) A2 (EC) A3 (EC) T1 P1 A1 T1 P1 A2 T1 P1A3 T1 P2A1 T1 P2A2 T1 P2 A3 T1 T2 P1 A1 T2 P1 A2 T2 P1A3 T2 P2 A1 T2 P2A2 T2 P2A3 T2 Keterangan: P1 : Hara mineral organik Nd P2 : Hara mineral anorganik AB Mix A1 : Konsentrasi hara EC 1.50 ms -1 A2 : Konsentrasi hara EC 2.25 ms -1 A3 : Konsentrasi hara EC 3.00 ms -1 T1 : Frekuensi penyiraman tiap 5 menit T2 : Frekuensi penyiraman tiap 10 menit Analisis Data Data yang dihasilkan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam Rancangan Acak Kelompok 3 faktor (faktorial RAK) dengan uji F pada taraf kepercayaan 95 %, apabila terdapat pengaruh dari perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan. Struktur Tabel Analisis Sidik Ragam (ANOVA) Rancangan Acak Kelompok 3 faktor adalah sebagai berikut: Sumber Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah F Hitung Keragaman (db) (JK) (KT) A a-1 = 1 JKA KTA KTA / KTG B b-1 = 2 JKB KTB KTB / KTG C c-1 = 1 JKC KTC KTC / KTG AB (a-1) ( b-1) = 2 JKAB KTAB KTAB / KTG AC (a-1) (c-1) = 1 JKAC KTAC KTAC / KTG BC (b-1) (c-1) = 1 JKBC KTBC KTBC / KTG ABC (a-1) (b-1) (c-1)= 2 JKABC KTABC KTABC / KTG Ulangan r 1 = 2 JKK KTK KTK / KTG Galat (Ab-1) ( r-1 ) JKG KTG Total Abcr 1 = 35 JKT Keterangan : 1. Faktor A ( jenis hara mineral: P1, P2, ) a-1=1 2. Faktor B (konsentrasi hara mineral: Ec 1.50 ms -1, EC 2.25 ms -1 dan EC 3.00 ms -1 ) b-1=3-1=2 3. Faktor C ( frekuensi penyiraman : 5 menit dan 10 menit )

30 14 r -1=2-1=1 4. Ulangan r-1 = 3 1 = 2 5. Galat Ab ( r 1 ) = 2x2x3x3 (36 1 ) = Total Abcr 1 = 2x2x3x3-1 = 35 Sehingga : Sumber Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah F Hitung Keragaman (db) (JK) (KT) A 1 JKA KTA KTA / KTG B 2 JKB KTB KTB / KTG C 2 JKC KTC KTC / KTG AB 1 JKAB KTAB KTAB / KTG AC 1 JKAC KTAC KTAC / KTG BC 2 JKBC KTBC KTBC / KTG ABC 2 JKABC KTABC KTABC/ KTG Ulangan 2 JKK KTK KTK / KTG Galat 24 JKG KTG Total 35 JKT Berdasar Analisis Sidik Ragam diatas maka terdapat 3 kesimpulan yaitu: 1. Perlakuan yang memberikan respon sama atau tidak sama dengan memperhatikan nilai peluang pada Tabel ANOVA, jika nilai peluang < α maka terdapat perlakuan memberi respon berbeda. 2. Apabila ada perbedaan dari perlakuan diatas, dilanjutkan Uji wilayah berganda Duncan dengan tingkat kepercayaan 95 %. 3. Berdasar hasil perlakuan diatas maka ditentukan perlakuan mana yang memberikan respon tertinggi, hal ini dilihat dari nilai rerata perlakuan atau kombinasi perlakuan. Analisis kandungan klorofil Kandungan klorofil daun diukur meliputi kandungan total klorofil dilakukan menggunakana spektrofotometer. Prosedurnya sebagai berikut: 1. Daun segar dipotong kecil-kecil dan ditimbang sebanyak dua gram, kemudian digerus sampai halus dengan mortar dalam aseton 80 % secukupnya. 2. Hasil gerusan kemudian disaring dengan kertas Whatman no. 1 ke dalam labu ukur 100 ml.

31 15 3. Tambahkan aseton 80% ke dalam labu ukur sampai mencapai 100 ml, kemudian larutan diambil 5 ml larutan ini dimasukkan kedalam labu ukur 50 ml dan diencerkan dengan aseton 80% sampai volumenya 50 ml. 4. Menggunakan spektrofotometer larutan klorofil tersebut diukur transmitansinya (T) pada panjang gelombang (λ) 645 nm dan 663 nm yang kemudian dikonversikan ke absorban dengan rumus: A = 2 log T. 5. Untuk menghitung kandungan klorofil digunakan rumus sebagai berikut: Kl a = A A 645 Kl b = A A 663 Kl total = Kl a + Kl b = A A 663 Kl a = klorofil a ; Kl b = klorofil b A 663 = Absorbansi pada λ 663 nm Uji Korelasi Karl Pearson Uji korelasi Karl Pearson untuk mengetahui keeratan hubungan beberapa parameter pengamatan menggunakan program SPSS for window versi 13.0 Rp = q α Ѕ y Rp = qα KTG r Rp = Banyaknya nilai tengah yang terlibat pada setiap pengujian. q α = Nilai tabel Duncan pada taraf nyata α Analisis Respond Polynomial Orthogonal Analisis Respond Polynomial Orthogonal dilakukan untuk mengetahui respon konsentrasi hara terhadap jenis sumber hara mineral. Uji respon Polynomial Orthogonal menggunakan program SAS for windows versi 1.9 Substitusi Nilai substitusi rumus sebagai berikut: untuk setiap parameter di lakukan perhitungan dengan A B = x 100% B Keterangan: A = Nilai parameter pada perlakuan hara mineral organik Nd B = Nilai parameter pada perlakuan hara mineral anorganik AB Mix

32 16 Pelaksanaan Percobaan Penanaman dan Pemilihan tanaman percobaan Pengacakan perlakuan pada green house diatur sedemikian rupa agar perlakuan mendapatkan kondisi lingkungan yang sama. Pola penanaman diatur memakai 3 instalasi yang masing-masing menggunakan larutan hara berbeda sesuai konsentrasi telah ditentukan. Setiap instalasi terdiri 2 timer (5 dan 10 menit) dan tangki penyimpan larutan hara berkapasitas 20 liter sesuai konsentrasi masing-masing (Gambar 1). Gambar 1 Susunan percobaan substitusi hara mineral organik Nd terhadap hara mineral anorganik AB Mix pada hidroponik sistem NFT. Bibit selada sebelum ditanam pada unit percobaan disemaikan terlebih dulu dalam baki plastik yang berisi arang sekam dan setelah berumur lebih kurang 13 hari atau telah berdaun 3 helai, akar dibungkus dengan rockwool, baru dipindah ke styrofoam yang sebelumnya telah dilubangi dengan sistem NFT (Nutrient Film Tehnique). Setiap satuan percobaan ditanami 10 tanaman selada, jumlah seluruh tanaman selada menjadi 360. Jumlah talang NFT yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 32 dengan ukuran panjang 2 m, 32 pompa air celup dan 32 ember sebagai tempat menyimpan campuran hara mineral dengan air. Keadaan derajat kemasaman dan kandungan konsentrasi larutan hara dalam hara mineral menggunakan ph dan EC meter. Pengamatan Pengamatan tanaman dilakukan setiap hari dan mencatat data dilakukan 1 kali setiap minggu mulai dari minggu pertama setelah pemindahan bibit dari

33 17 semaian sampai minggu terakhir ketika panen 4 minggu setelah tanam (MST). Waktu panen dilakukan pagi hari untuk mengurangi penguapan kandungan air pada bobot basah tanaman. Pengukuran uji kandungan klorofil dilakukan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA IPB Bogor, pengukuran bobot basah, bobot kering, kandungan total unsur serta analisis kandungan kadar abu dan serat kasar dilakukan di laboratorium Penelitian dan Uji Tanah Sindangbarang, Bogor serta Laboratorium Balitro, Bogor. Faktor kendala yang dihadapi dalam percobaan antara lain disebabkan faktor cuaca, serangan hama dan bibit kurang baik. Untuk menanggulangi cuaca hujan dan suhu panas dan serangan hama, diatasi menggunakan green house dan atap plastik. Bibit kurang baik diatasi dengan persiapan bibit dan penggantian seluruh tanaman serta pemilihan bibit lebih teliti. Parameter jumlah daun dilakukan pada daun yang telah terbuka penuh setiap minggu. Parameter tinggi tanaman dilakukan setiap minggu pengukuran tinggi tanaman dilakukan mulai pangkal batang sampai ujung pucuk. Parameter luas daun dilakukan dengan menghitung luas total daun pada umur tanaman 33 hari setelah tanam. Parameter yang dilakukan pada penelitian ini berjumlah 16 (Tabel 4). Tabel 4. Parameter yang diamati dan frekuensi pengamatan No Parameter Jumlah pengamatan 1 Tinggi Tanaman 4 kali (1 kali setiap minggu) 2 Jumlah Daun 4 kali (1 kali setiap minggu) 3 Panjang Akar 1 kali setelah panen 4 Luas Daun 1 kali setelah panen 5 Bobot Basah Tanaman 1 kali setelah panen 6 Bobot Basah Akar 1 kali setelah panen 7 Bobot Kering Akar 1 kali setelah panen 8 Bobot Basah Tajuk 1 kali setelah panen 9 Bobot Kering Tajuk 1 kali setelah panen 10 Bobot Basah Daun 1 kali setelah panen 11 Bobot Kering Daun 1 kali setelah panen 12 Kadar Abu 1 kali setelah panen 13 Kadar Air 1 kali setelah panen 14 Kandungan Serat Kasar 1 kali setelah panen 15 Kandungan Klorofil 1 kali setelah panen 16 Kandungan Total Hara 1 kali setelah panen

34 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Pertumbuhan tanaman selada hingga akhir panen menunjukkan kondisi cukup baik. Selama pelaksanaan penelitian terdapat perbedaan suhu, ph dan konsentrasi hara. Suhu ruangan pada pukul WIB berkisar antara 23 o C - 25 o C sedang pada pukul WIB berkisar antara 25 o C 28 o C. Suhu larutan pada jam WIB berkisar antara 21 o C 23 o C, sedang pada pukul WIB berkisar antara 24 o C 27 o C. ph larutan pada pukul WIB berkisar antara , sedang pada pukul WIB berkisar antara Konsentrasi hara pada 1 sampai 9 hari setelah tanam dibuat sama berkisar antara 0,80 ms -1 sampai 1,30 ms -1, tetapi mulai 10 hari sampai panen konsentrasi hara disesuikan dengan rencana penelitian 1,50 ms -1, 2,25 ms -1 dan 3,00 ms -1 (Lampiran 2-5B). P1A1T1 P2A1T1 P1A2T1 P2A2T1 P1A3T1 P2A3T1 P1A1T2 P2A1T2 P1A3T2 P1A2T2 P2A2T2 P2A3T2 Gambar 2 Tanaman Selada (Lactucca sativa L) setelah panen dengan memakai hara mineral organik Nd dan hara mineral anorganik AB Mix.; (P1:hara mineral organik; P2: hara mineral anorganik; A1: konsentrasi

35 19 hara 1,50; A2 : konsentrasi hara 2,25; A3 : konsentrasi hara 3,00; T1 frekuensi penyiraman 5 menit; T2 : frekuensi penyiraman 10 menit). Selama pelaksanaan penanaman dilakukan pengukuran setiap hari untuk derajat kemasaman (ph) dan konsentrasi hara (EC) serta tinggi tanaman dan banyaknya jumlah daun dilakukan pada setiap minggu setelah tanam. Pada Gambar 2 tinggi dan jumlah daun menunjukkan perbedaan untuk setiap perlakuan. Perlakuan hara mineral anorganik AB Mix umumnya menunjukkan batang yang panjang dan jumlah daun sedikit dibandingkan dengan perlakuan hara mineral organik Nd. Penampakkan fisik tanaman selada dengan perlakuan hara mineral organik Nd lebih menarik dengan ditandai bentuk daun yang membuka lebar, tinggi, warna daun hijau dan banyak, hal ini dapat menambah bobot basah tanaman sekaligus menguntungkan bagi pembudidaya tanaman selada. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Hasil pengamatan untuk tinggi tanaman dan jumlah daun 1 MST hingga waktu panen nilai tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan konsentrasi hara 1.50 ms -1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit, kecuali konsentrasi hara pada tinggi tanaman 2 MST (Tabel 5). Tabel 5 Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata tinggi tanaman 1 MST - waktu panen Konsentrasi Hara (ms -1 ) Tinggi Tanaman (cm) 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST Waktu Panen 2.69 a 5.64 a 8.36 a a a 2.75 a 5.89 a 8.17 a a a 2.72 a 4.60 b 6.61 b b b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5% Frekuensi penyiraman 5 menit menghasilkan tanaman lebih tinggi dibanding dengan frekuensi penyiraman 10 menit untuk tinggi tanaman (Tabel 6). Tabel 6 Perlakuan frekuensi penyiraman terhadap rerata tinggi tanaman 1 MST waktu panen Frekuensi penyiraman (menit) 5 10 Tinggi Tanaman (cm) 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST Waktu Panen 2.65 a 6.16 a 9.17 a a a 2.79 a 4.59 b 6.26 b 8.49 b b

36 20 Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%. Tanaman memberikan respon tinggi tanaman terbaik ketika mendapat perlakuan hara mineral organik Nd dengan frekuensi penyiraman 5 menit atau hara mineral dengan konsentrasi hara 1,50 ms -1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit pada 2 MST (Gambar 3B), 3 MST (Gambar 3C), waktu panen (Gambar 3D). 25,00 Tinggi Tanaman (cm) 20,00 15,00 10,00 5,00 0,00 T1 Perlakuan T2 P1 P2 Tinggi Tanaman 2MST (cm) 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 A1 A2 A3 Perlakuan T1 T2 A B 25,0 Tinggi Tanaman 3MST (cm) 15,00 10,00 5,00 0,00 T1 T2 Tinggi Tanaman WaktuPanen (cm) 20,0 15,0 10,0 5,0 T1 T2 A1 A2 A3 Perlakuan 0,0 A1 A2 A3 Perlakuan C D Gambar 3 Interaksi antara jenis hara mineral dengan frekuensi penyiraman terhadap tinggi tanaman (3A); Interaksi antara Konsentrasi dengan frekuensi penyiraman terhadap tinggi tanaman 2 MST (3B); 3 MST (3C); waktu panen (3D). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1.hara mineral organik Nd; P2.hara mineral anorganik AB Mix) (A1: konsentrasi hara 1,50 ms -1 ; A2. konsentrasi hara 2,25 ms -1 ; A3; konsentrasi hara 3.00 ms -1 ). (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Jumlah daun selada dipengaruhi oleh jenis hara mineral dan konsentrasi hara. Jenis hara mineral organik Nd menghasilkan rerata jumlah daun lebih banyak dari hara mineral anorganik AB Mix kecuali pada ke 1 MST (Tabel 7). Tabel 7 Pengaruh jenis hara mineral dan perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata jumlah daun Jenis Hara Mineral Jumlah Daun 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST Waktu Panen Organik Nd Anorganik AB Mix 3.02 a 3.00 a 3.96 a 3.70 b 5.54 a 4.94 b 7.59 a 6.44 b 10.5 a 8.7 b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%.

37 21 Konsentrasi hara 1.50 ms -1 maupun 2.25 ms -1 menghasilkan jumlah daun yang lebih banyak dari tanaman yang mendapat perlakuan hara mineral dengan konsentrasi 3.00 ms -1 kecuali pada 2 MST (Tabel 8). Tabel 8 Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata jumlah daun Konsentrasi Hara (ms -1 ) Jumlah Daun 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST Waktu Panen a 3.00 a 3.00 a 3.83 a 3.89 a 3.78 a 5.34 a 5.41 a 4.97 b 7.39 a 7.19 ab 6.47 ab 10.8 a 10.0 a 8.7 b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%. Interaksi antara konsentrasi hara (EC) dengan frekuensi penyiraman berpengaruh nyata terhadap jumlah daun selada. Konsentrasi hara 1.50 ms -1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit menghasilkan rerata jumlah daun tertinggi pada 3 MST (Gambar 4A), 4 MST (Gambar 4B) dan waktu panen (Gambar 4C) J u m la h D a u n 3 M S T A1 A2 A3 Perlakuan T1 T2 J u m la h D a u n 4 M S T A1 A2 A3 Perlakuan T1 T2 J u m la h D a u n W a k t u P a n e n 14,0 12,0 10,0 8,0 6,0 4,0 2,0 0,0 A1 A2 A3 Perlakuan T1 T2 A B C Gambar 4 Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman pada jumlah daun 3MST (4A); 4 MST (4B); Waktu Panen (4C); (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (A1.konsentrasi hara 1,50 ms -1 ; A2. konsentrasi hara 2,25 ms -1 ; A3. konsentrasi hara 3.00 ms -1 ). (I. SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Penggunaan hara mineral organik Nd pada konsentrasi 2.25 ms -1 dengan frekuensi penyiraman 10 menit menunjukkan jumlah daun terbanyak pada jumlah daun 2 MST (Gambar 5).

38 22 Jumlah Daun 2MST 5,0 4,5 4,0 3,5 3,0 2,5 2,0 1,5 1,0 0,5 0,0 T1 Perlakuan T2 P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 Gambar 5 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada Jumlah daun. 2 MST. (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1A1. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 ms -1 ; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 ms -1 ; P1A2 hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 ms -1 ; P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 2.25 ms -1 ; P1A3. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 ms -1 ; P2A3. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 3.00 ms -1 ). (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Menurut Salisbury dan Ross (1995) nitrogen mendorong pembentukan daun, karena demikian banyak senyawa penting tidaklah mengherankan kalau pertumbuhan akan lambat tanpa nitrogen. Tumbuhan yang mengandung nitrogen untuk sekedar tumbuh saja akan menunjukan gejala kekahatan, yakni klorosis terutama pada daun tua. Hasil uji laboratorium yang dapat dilihat pada Lampiran 1A jumlah kandungan nitrogen pada hara mineral organik cukup tinggi sebesar ppm sehingga hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun Panjang Akar dan Luas Daun Hasil analisis sidik ragam menunjukkan panjang akar dipengaruhi oleh jenis pupuk. Jenis hara mineral organik Nd menghasilkan rerata tertinggi untuk panjang akar (Tabel 9). Tabel 9 Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata panjang akar Jenis Hara Mineral Organik Nd Anorganik AB Mix Panjang Akar (cm) a b

39 23 Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%. Akar merupakan bagian tanaman yang berfungsi menyerap air dan unsur mineral yang diperlukan oleh tanaman. Sulisbury (1998) menyatakan tanaman yang cukup mendapatkan air dan nitrogen 3 sampai 5% biomassa tanaman berada di akar. Menurut Resh (1983) tingginya kandungan unsur P dalam tanaman dapat mandorong pertumbuhan akar yang sehat. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pengaruh Interaksi antara hara mineral organik Nd, konsentrasi hara 1.50 ms -1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit menunjukkan hasil tertinggi untuk luas daun (Gambar 6). 200,00 180,00 160,00 Luas Daun (mm) 140,00 120,00 100,00 80,00 60,00 P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 40,00 20,00 0,00 T1 T2 Perlakuan Gambar 6 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada Luas daun. (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1A1.hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 ms -1 ; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 ms -1 ; P1A2. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 ms -1 ; P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 2.25 ms -1 ; P1A3. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 ms -1 ;P2A3. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 3.00 ms -1 ). ((I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Daun merupakan organ tanaman yang paling penting. Perbandingan total luas daun terhadap area yang ditutupi oleh tajuk tanaman dinyatakan dengan luas daun. Luas daun mempunyai peran dalam menentukan tingkat laju fotosintesis maupun besarnya asimilasi dan produksi yang dihasilkan. Menurut Noor dan Wahyudi (1996) hingga batas tertentu peningkatan luas daun akan menyebabkan semakin besarnya radiasi matahari yang ditangkap oleh tajuk dan lebih lanjut dapat meningkatkan laju fotosintesis yang menghasilkan asimilat untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. Hasil penelitian Heuvelink dan Marcelis (1996) menunjukkan bahwa asupan asimilat yang tinggi berperan untuk meningkatkan bobot kering organ vegetatif. Haris (1978) menyatakan untuk meningkatkan luas daun diperlukan unsur hara dan air yang cukup.

40 24 Menurut Salisbury dan Ross (1995) tumbuhan yang banyak mendapatkan konsumsi nitrogen biasanya mempunyai daun berwarna hijau tua dan lebat. Sumarni dan Rosliani (2001) dalam penelitiannya menyatakan tanaman untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangannya harus melakukan fotosintesis dan respirasi sel. Daun memiliki peranan yang sangat penting sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis, semakin besar luas daun yang dimiliki maka semakin tinggi fotosintat atau karbohidrat yang akan dihasilkan. Fotosintat dalam tanaman digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, seperti pertambahan ukuran tinggi/panjang tanaman. Karena dengan luas daun yang memadai makin tinggi bobot kering tanamannya. Biomasa Tanaman Menurut Sitompul dan Guritno (1995) hubungan antara berat segar dan berat kering tanaman tidak linier, karena kandungan air dari suatu jaringan atau keseluruhan tubuh tanaman dipengaruhi oleh lingkungan yang jarang konstan, hasil produksi tanaman biasanya lebih akurat dinyatakan dalam ukuran bobot kering. Berdasar hasil analisis sidik ragam hara mineral organik Nd menghasilkan bobot basah akar dan bobot kering akar yang lebih tinggi dari hara mineral anorganik AB Mix (Tabel 10). Tabel 10 Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata bobot basah akar dan bobot kering akar Jenis Hara Mineral Bobot Basah Akar (g) Bobot Kering Akar (g) Organik Nd Anorganik AB Mix) a b 8.11 a 4.08 b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%. Konsentrasi hara 2,25 ms -1 menghasilkan bobot basah tajuk tertinggi, walaupun tidak berbeda nyata dengan konsentrasi hara 1,50 ms -1 (Tabel 11). Tabel 11 Perlakuan konsentrasi hara terhadap rerata bobot basah tajuk Konsentrasi Hara (ms -1 ) Bobot BasahTajuk (g) a a b

41 25 Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%. Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman terhadap bobot basah dan bobot kering tajuk serta bobot kering akar. Nilai rerata tertinggi pada bobot basah tajuk, bobot kering tajuk dan bobot kering akar dihasilkan oleh kombinasi perlakuan hara mineral dengan konsentrasi hara 1.50 ms -1 dan frekuensi penyiraman 5 menit (Gambar 7). 800,00 25,00 12,00 700,00 20,00 10,00 B o b o t B a s a h T a j u k (g ) 600,00 500,00 400,00 300,00 200,00 100,00 T1 T2 B obo t Kering T ajuk (g) 15,00 10,00 5,00 T1 T2 Bobot Kering Akar (g) 8,00 6,00 4,00 2,00 T1 T2 0,00 A1 A2 A3 Perlakuan 0,00 A1 A2 A3 Perlakuan 0,00 A1 A2 A3 Perlakuan A B C Gambar 7 Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman pada Bobot basah tajuk (7A); Bobot kering tajuk (7B); Bobot kering akar (7C). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (A1: konsentrasi hara 1,50 ms -1 ; A2. konsentrasi hara 2,25 ms -1 ; A3. konsentrasi hara 3.00 ms -1 ). (I.SE). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Demikian pula pemberian hara mineral organik Nd dengan konsentrasi 2,25 ms -1 selama frekuensi penyiraman 10 menit menghasilkan nilai tertinggi untuk bobot basah tanaman (Gambar 8A) dan bobot basah daun (Gambar 8B). Bobot Basah Tanaman (g) 1000,0 900,0 800,0 700,0 600,0 500,0 400,0 300,0 200,0 100,0 0,0 T1 Perlakuan T2 P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 Bobot Basah Daun (g) 900,0 800,0 700,0 600,0 500,0 400,0 300,0 200,0 100,0 0,0 T1 Perlakuan A B Gambar 8 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman pada Bobot basah tanaman (8A); Bobot basah daun (8B). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1A1.hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 ms -1 ; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 ms -1 ; P1A2 hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 ms -1 ; P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 2.25 ms -1 ; P1A3. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 ms -1 ;P2A3. hara mineral anorganik T2 P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3

42 26 AB Mix konsentrasi hara 3.00 ms -1 ). ((I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Diduga perlakuan antara jenis pupuk, konsentrasi dan frekuensi penyiraman dapat memacu pertumbuhan tanaman, meningkatkan laju fotosintesis tanaman sehingga mengakibatkan peningkatan jumlah fotosintat. Akumulasi fotosintat tersebut menentukan biomasa tanaman. Hasil analisis respond polynomial orthogonal konsentrasi hara mineral organik Nd menunjukkan hasil berbeda nyata pada respon kuadratik untuk Bobot basah tanaman dengan pertumbuhan optimum sebesar 8.23 g dengan konsentrasi 2.19 ms -1 Gambar 9). B o b o t B a s a h T a n a m a n ( g ) y = -704,74x ,7x ,6 R2 = 0, ,25 0,5 0,75 1 1,25 1,5 1,75 2 2,25 2,5 2,75 3 3,25 8,23 P1 P2 1,51 Perlakuan 2,19 2,96 Gambar 9 Interaksi antara hara mineral organik Nd dengan konsentrasi hara terhadap bobot basah tanaman (P1. hara mineral organik Nd; P2. hara mineral anorganik AB Mix). (A1.konsentrasi hara 1,50 ms -1 ; A2. konsentrasi hara 2,25 ms -1 ; A3. konsentrasi hara 3.00 ms -1 ). (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Kandungan Serat Kasar, Klorofil dan Kadar Abu Nilai substitusi untuk kandungan serat kasar dan kadar abu, merupakan nilai tertinggi yang ditunjukkan oleh perlakuan hara mineral organik sehingga mempunyai nilai positif terhadap AB Mix. Pemakaian hara mineral organik dibanding AB Mix mempunyai nilai positif yang cukup besar seperti tercantum pada Lampiran 21. Tingginya kandungan unsur makro yang terdapat dapat pada hara mineral organik (Lampiran 1A) dapat merangsang terhadap pertumbuhan dan produksi yang optimal. Seperti yang dikemukakan oleh Handayanto dan Ismunandar (1999) bahwa bila kandungan organik rendah, masam, kahat unsur N, P, K, Ca, Mg, S

43 27 dan kandungan Al serta Mn yang tinggi, kapasitas kation dan kejenuhan basa rendah, serta rentan terhadap erosi. Harris (1994) juga menyatakan N adalah komponen penting dari semua protein dimana dapat dijumpai di klorofil dan sitoplasma. Pemakaian hara mineral organik Nd mempunyai kelebihan serat yang cukup tinggi (Tabel 11) dan rerata besarnya luas daun yang dimiliki oleh selada (Gambar 6). Kedua parameter ini merupakan patokan untuk tanaman sayur. Konsumen akan lebih banyak memilih sayuran dengan luas daun yang lebih besar serta ditambah dengan serat yang tinggi. Jenis hara mineral berpengaruh nyata terhadap kandungan serat kasar pada selada. Hara mineral organik Nd menghasilkan kandungan serat kasar tertinggi (Tabel 12). Tabel 12 Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata serat kasar Jenis Hara Mineral Serat Kasar (g) Organik Nd 1.40 a Anorganik AB Mix 1.18 b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%. Selain pengaruh dari jenis hara mineral interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman berpengaruh terhadap kandungan serat kasar. Kandungan serat kasar tertinggi dihasilkan oleh perlakuan konsentrasi hara 1,50 ms -1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit (Gambar 10). Konsentrasi dan frekuensi penyiraman yang rendah menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding dengan perlakuan dan konsentrasi yang tinggi pada penelitian ini. 25,00 20,00 Serat Kasar (%) 15,00 10,00 T1 T2 5,00 0,00 A1 A2 A3 Perlakuan Gambar 10 Interaksi antara konsentrasi hara dengan frekuensi penyiraman terhadap serat kasar (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (A1.konsentrasi hara 1,50 ms -1 ; A2. konsentrasi hara 2,25 ms -1 ; A3. konsentrasi hara

44 ms -1 ). (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil penelitian interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman berpengaruh terhadap kandungan klorofil serta kadar abu pada tanaman selada. Perlakuan hara mineral anorganik AB Mix pada konsentrasi hara 1.50 ms -1 konsentrasi 2.25 ms -1 pada frekuensi penyiraman 10 menit menunjukkan kandungan klorofil tertinggi (Gambar 12A). Sedangkan kadar abu tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan hara mineral organik Nd dengan konsentrasi hara 2.25 ms -1 dan frekuensi penyiraman 10 menit, yaitu sebesar 36.35% (Gambar 12B). Kandungan Klorofil (%) 2,0 1,8 1,6 1,4 1,2 1,0 0,8 0,6 0,4 0,2 0,0 T1 Perlakuan A T2 P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 Kandungan Kadar Abu (%) 45,0 40,0 35,0 30,0 25,0 20,0 15,0 10,0 5,0 0,0 T1 Perlakuan Gambar 11 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman terhadap kandungan klorofil (11A); kandungan kadar abu (11B). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (P1A1.hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 ms -1 ; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 ms -1 ; P1A2 hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 ms -1 ; P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 2.25 ms -1 ; P1A3. hara mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 ms -1 ;P2A3. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 3.00 ms -1 ). ((I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. T2 B P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 Kandungan unsur Ca yang terdapat pada hara mineral organik cukup besar ( ppm). Menurut Sutiyoso (2003) unsur Ca dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan hasil tanaman terasa manis, begitu juga dengan kandungan unsur S ( ppm) membuat hasil tanaman akan terasa renyah jika dimakan. Hal ini merupakan nilai positif bagi tanaman sayur, sehingga sayuran selada dengan memakai hara mineral organik layak untuk dikonsumsi dan menyehatkan tubuh manusia.

45 29 Kandungan Hara Makro Tanaman Kandungan hara yang diamati dalam penelitian ini dianalisis oleh Laboratorium Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Bogor antara lain unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Sulfur (S). Berdasar Tabel perlakuan hara mineral organik Nd memberikan nilai yang tinggi untuk kandungan hara makro (Tabel 13). Nilai subtitusi untuk total unsur tanaman setelah panen mempunyai nilai substitusi positif dan negatif antar kedua macam hara mineral (Lampiran 21). Dari kedua macam hara mineral yang digunakan menghasilkan tanaman yang mengandung kandungan unsur yang berbeda-beda. Adapun unsur yang diukur dalam hal ini adalah N, P, K, Ca, Mg dan S. Tabel 13 Nilai hasil rerata kandungan hara makro tanaman selada pada setiap jenis pupuk No Jenis Unsur Hara Hara Mineral Organik Nd Hara Mineral Anorganik AB Mix (%) (%) 1 NH + - 4, NO H 2 PO - 2-4, HPO K Ca Mg SO Sumber : Hasil Analisa Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah tahun 2008 Jl. Sindangbarang No 62 Bogor. Kandungan N (Lampiran 1A) dalam hara mineral organik (260.6 ppm) kalau di banding dengan AB Mix ( ppm) mempunyai nilai 91.92%. Hara mineral organik Nd mempunyai nilai substitusi positif terhadap AB Mix yaitu sebagai hara mineral dan dapat menggantikan hara mineral anorganik industri (AB Mix). Nichols dan Atkins (2004) menyatakan ph adalah suatu ukuran kadar keasaman atau ukuran basa yang mempengaruhi aktivitas ion hidrogen di dalam air, yaitu dari 0-14 dengan 7 netral. Sebagian besar tumbuhan dapat tumbuh baik jika ph mediumnya , ph pada tanaman akan mengendalikan ketersediaan hara pada pertumbuhan. Pada ph rendah sebagai akibat dari respon kelebihan Fe dan ketersediaan Mn yang mendorong kearah toksik atau Ca dan Mg yang tak

46 30 mencukupi. Pada ph tinggi adalah lebih buruk yang menyebabkan kekurangan dari banyak hara. Hara harus terlarut dalam air supaya dapat diserap oleh akar. Proses kondensasi (kelebihan dari kelarutan) menghasilkan bentuk padat dalam larutan hara, yang membuat hara tidak dapat diserap oleh tanaman. Nilai ph yang tinggi dapat menyebabkan kondensasi dari hara tertentu (Diatloff 1998). Morgan (1999) lebih lanjut juga menyatakan jika ph meningkat dari 6.5 menjadi 7.5 atau 8.0, sebagian elemen seperti unsur hara Fe, Mn dan P akan berkurang dan ciri-ciri kekurangan hara akan mulai terlihat, walaupun hara ini tersedia dengan tingkatan yang cukup di dalam larutan. Jika kondisi ph dalam larutan terlalu tinggi, dapat menurunkan kadar Fe dalam larutan hidroponik dan menjadikannya sama sekali tidak dapat diserap oleh tanaman dan menyebabkannya klorosis pada bagian atas daun. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam jenis hara mineral organik Nd menghasilkan nilai yang lebih tinggi pada kandungan hara Ca dan Mg dibanding hara mineral anorganik AB Mix (Tabel 14). Tabel 14 Pengaruh jenis hara mineral terhadap rerata kandungan hara Ca dan Mg Jenis Hara Mineral Kandungan Hara Ca (%) Kandungan Hara Mg (%) Organik Nd Anorganik AB Mix 2.50 a 1.76 b 3.82 a 2.91 b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%. Frekuensi penyiraman 10 menit menghasilkan kandungan P lebih tinggi dari frekuensi penyiraman 5 menit (Tabel 15). Tabel 15 Perlakuan frekuensi penyiraman terhadap rerata kandungan hara P Frekuensi Penyiraman (menit) Kandungan Hara P (%) b a Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%. Perlakuan hara mineral organik Nd dengan frekuensi penyiraman 10 menit menghasilkan nilai kandungan tertinggi pada hara Mg (Gambar 12A) dan Ca (Gambar 12B), sedangkan hara mineral organik Nd pada konsentrasi

47 ms -1 (Gambar 12C). menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada kandungan Ca K a n d u n g a n H a r a M g ( % ) 4,5 4,0 3,5 3,0 2,5 2,0 1,5 1,0 0,5 0,0 T1 Waktu Siram T2 P1 P2 K a n d u n g a n H a r a C a ( % ) 0,70 0,60 0,50 0,40 0,30 0,20 0,10 0,00 T1 Waktu Siram T2 P1 P2 K a n d u n g a n H a ra C a (% ) 0,80 0,70 0,60 0,50 0,40 0,30 0,20 0,10 0,00 A! A2 A3 Waktu Siram P1 P2 A B C Gambar 12 Interaksi antara jenis hara mineral dengan frekuensi penyiraman terhadap kandungan hara Mg (12A); Ca (12B). Interaksi antara hara mineral dengan konsentrasi hara terhadap kandungan Ca (12C). (P1. hara mineral organik Nd; P2. hara mineral anorganik AB Mix). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2. frekuensi penyiraman 10 menit). (A1. konsentrasi hara 1,50 ms -1 ; A2. konsentrasi hara 2.25 ms -1 ; A3. konsentrasi hara 3.00 ms -1 ) (I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Sedangkan kombinasi antara jenis hara mineral organik Nd, konsentrasi 3.00 ms -1 menghasilkan kandungan N tertinggi (Gambar 13A), sedang jenis hara mineral organik Nd, konsentrasi hara 2.25 ms -1 dengan frekuensi penyiraman 5 menit menghasilkan kandungan hara S tertinggi (Gambar 14B). Kombinasi antara jenis hara mineral organik Nd dengan konsentrasi hara 2,25 ms -1 pada frekuensi penyiraman 10 menit menghasilkan kandungan hara K tertinggi (Gambar 13C). 7,0 0,70 0,60 1,6 1,4 Kandungan Hara N (%) 6,0 5,0 4,0 3,0 2,0 1,0 0,0 T1 Perlakuan T2 P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 Kandungan Hara S (%) 0,50 0,40 0,30 0,20 0,10 0,00 T1 Perlakuan T2 P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 Kandungan Hara K (%) 1,2 1,0 0,8 0,6 0,4 0,2 0,0 T1 Perlakuan T2 P1A1 P2A1 P1A2 P2A2 P1A3 P2A3 A B C Gambar 13 Interaksi antara jenis pupuk, konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman terhadap kandungan N (13A); S (13B); K (13C). (T1. frekuensi penyiraman 5 menit; T2 frekuensi penyiraman 10 menit). ((P1A1.hara mineral organik Nd konsentrasi hara 1.50 ms -1 ; P2A1. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 1.50 ms -1 ; P1A2 hara mineral organik Nd konsentrasi hara 2.25 ms -1 ; P2A2 hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 2.25 ms -1 ; P1A3. hara

48 32 mineral organik Nd konsentrasi hara 3.00 ms -1 ;P2A3. hara mineral anorganik AB Mix konsentrasi hara 3.00 ms -1 ). ((I SE.). SE (Standar Error) yang masih bersambungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Korelasi antar parameter Korelasi antara parameter tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, luas daun, bobot basah tanaman bobot kering tanaman, bobot basah akar, bobot kering akar, bobot basah daun, bobot kering daun, bobot basah tajuk dan bobot kering tajuk merupakan korelasi dengan arah positif sedang pada klorofil, serat kasar, kadar abu, kadungan hara N, P, K, Ca, Mg dan S mempunyai nilai korelasi dengan arah negatif (Lampiran 21). Bobot basah tanaman mempunyai korelasi yang sangat tinggi terhadap bobot kering tanaman (90%), bobot basah daun (95%), bobot basah tajuk (96%) dan bobot kering tajuk (85%) nilai korelasi mempunyai arah positif dengan kisaran tertinggi dan terendah 59% - 96%. Pemakaian hara mineral organik Nd lebih efektif dari AB Mix untuk bobot basah tanaman dimana sangat erat korelasi dengan luas daun sebesar 77 % (Lampiran 21). Besarnya bobot basah dan luas daun yang dimiliki oleh tanaman selada merupakan hasil yang disukai oleh setiap konsumen. Nilai Substitusi Nilai substitusi tertinggi ditunjukkan parameter kandungan hara S pada perlakuan A2T1 (90,48%), A3T1 (96,67%) dan A3T2 (70%). Sedang nilai substitusi terrendah ditunjukkan parameter klorofil pada perlakuan A1T2 (-39,38%), A2T1 (-29,67%) dan A3T1 (26,93%) (Lampiran 22). Hasil analisis sidik ragam konsentrasi hara 1,50 ms -1 dan 2,25 ms -1 menunjukkan hasil yang terbaik bagi pertumbuhan dan produksi selada. Hal tersebut diduga karena pada konsentrasi lebih tinggi menyebabkan tanaman tidak mampu menyerap hara mineralsecara optimal sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman Konsentrasi berbanding lurus dengan Electrical Conductivity (EC). EC memberi indikasi mengenai jumlah hara yang terkandung pada larutan dan yang diserap oleh akar, namun EC tidak dapat menunjukkan jumlah hara secara individu. Hal itu menunjukkan bahwa EC yang tinggi diduga mengandung unsur hara tertentu yang jumlahnya lebih rendah atau lebih tinggi

49 33 sehingga hal tersebut dapat menghambat penyerapan unsur lain. Turon dan Perez (1999) meyatakan bahwa dalam pembuatan larutan hara untuk budidaya hidroponik yang utama adalah konsentrasi yang tepat dan mengandung semua unsur yang dibutuhkan. Pada EC 3,00 ms -1, hara mineral organik Nd menunjukkan nilai 5,14% kandungan hara tanaman, hara mineralanorganik AB Mix sebesar 3,77%. Pada konsentrasi tersebut bahwa substitusi hara mineral organik Nd terhadap hara meniral anorganik AB Mix adalah 36,34% jadi pemakaian hara mineral organik Nd lebih efisien dari hara mineral anorganik AB Mix sebesar 36,34% (Gambar 14). Pada nilai kandungan hara N yang sama di dalam jaringan tanaman (4,5%) hara mineral organik Nd memerlukan EC 1,51 ms -1, sedangkan hara mineral anorganik AB Mix memerlukan EC 1,79 ms -1 (Gambar 14). 5,5 5,14 5 Kandungan Unsur N (%) 4,5 3,77 4 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0, ,5 1 1,5 2 2,5 3 3, Perlakuan P1 P2 Gambar 14 Rerata kandungan hara N tanaman selada (Lactucca sativa L.). Untuk mencapai kandungan N yang sama (4,5%) pada jaringan tanaman dibutuhkan konsentrasi N sebesar 393,506 ppm pada hara mineral organik Nd atau 254,663 ppm pada hara mineral anorganik AB Mix (Tabel 16). Dengan demikian nilai substitusi N dari hara mineral organik Nd terhadap hara mineral anorganik AB Mix sebesar 54,52%. Tabel 16 Substitusi hara mineral organik Nd terhadap hara mineral anorganik AB Mix pada total unsur N tanaman selada pada 4.5% Uraian Hara Mineral Hara Mineral Organik Nd Anorganik AB Mix Kandungan hara N dalam pupuk (ppm) Kandungan hara N tanaman 4.5% (EC) 260,6 1,51 142,27 1,79

50 34 Kandungan hara N tersedia untuk tanaman (ppm) Efisiensi Nd terhadap AB Mix (%) 393,506 54,52 254,663 - SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Penggunaan jenis hara mineral berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan vegetatif 1 sampai 4 minggu setelah tanam, hasil panen dan total unsur tanaman selada (Lactucca sativa L.) akan tetapi berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, panjang akar, luas daun, bobot basah akar, bobot kering akar, serat kasar, klorofil, kadar abu, dan kandungan unsur Ca, Mg, S. Pemakaian hara mineral organik Nd lebih efektif dari AB Mix karena (1) dengan EC yang sama (3,00 ms -1 ) hara mineral organik Nd menghasilkan kandungan N dalam jaringan tanaman sebesar 5,14% lebih besar dari hara mineral anorganik AB Mix (3,77%) dengan nilai substitusi sebesar 36,34%. (2) dengan berat total unsur yang sama (4,5%) dari berat N dalam jaringan tanaman, hara mineral organik Nd memerlukan konsentrasi hara lebih kecil (1,51 ms -1 ) dari hara mineral anorganik AB Mix (1,79 ms -1 ). Efisiensi unsur N untuk hasil kandungan N tanaman yang sama hara 4,5%, mineral organik Nd mempunyai nilai substitusi sebesar 54,52% terhadap hara mineral anorganik AB Mix. Hara mineral organik Nd mudah diperoleh, terbuat dari bahan terbuang, lebih sehat secara ekologis dan dapat diproduksi oleh masyarakat luas. Saran Bagi pembaca yang tertarik untuk mengembangkan penelitian ini lebih lanjut, maka terdapat beberapa saran yang dapat dijadikan masukan, antara lain: 1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai konsentrasi hara dan frekuensi penyiraman agar dihasilkan pertumbuhan yang optimum. 2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efektifitas hara mineral organik Nd jika dilakukan pada media selain hidroponik sistem NFT.

51 35 DAFTAR PUSTAKA Adam, Banford CRKM, Early MP Principle of Horticulture. 2 nd ed. Butterworth, Heinemann. Oxford. London. 204p. Chalcheedas PNM Conductivity of Nutrient Simplified. Practical Hydroponic and Greenhouse. International Trade Directory p Diatloff E ph What Does it Really Mean? Best of Practical Hydroponic and Greenhouse- International Trade Directory p Dermawati Substitusi Hara Mineral Organik Terhadap Inorganik untuk Produksi Tanaman Pakchoy secara Hidroponik [tesis]. Bogor: Jur. Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor. Giacomelli GA Monitoring plant water requirements within integrated crop production systems. ISHS Acta Hort 458 (1) htm. Grubben GJ, Sukprakarn S Lactucca sativa L. p In Simonsma JS, Piluek K. (Eds) Plant Resources of South-East Asia Vegetable 8. Bogor: Prosea Foundation. 187p. Handayanto E, Ismunandar S Seleksi bahan organik untuk peningkatan sinkronisasi nitrogen pada ultisol Lampung. J Habitat Vol.11No.109: Harjadi SS Dasar-dasar Holtikultura. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian. Bogor: Institut Pertanian Bogor. 506 hal Harris D The Illustrated Guide to Hydroponics. London: New Holland Publ. 80p. Hauvelink E, Marcelis FM Influence of assimilate supply on leaf formation in sweet pepper and tomato. J. Hort. Sci. 71(3): Pranis H Exploration Classroom Hydroponics. USA: National Gardening Assosiation. Hermawan Pengaruh Tingkat EC (Electrical Conductivity) terhadap Pertumbuhan Empat Varietas Selada pada Sistem Ebb and Flow [skripsi]. Bogor: Departemen Biologi FMIPA. Institut Pertanian Bogor. Izzati IR Penggunaan Hara Mineral Majemuk sebagai Sumber Hara pada Budidaya Selada (Lactucca sativa L.) secara Hidroponik dengan Tiga Cara Fertigasi [skripsi]. Bogor: Program Studi Holtikultura Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

52 36 Jansen MH Hidroponics. J. Hort Sci. 32(6) : Jones HG Plants and Microclimate. Cambrige: Cambrige Univ Press. 411p. Marschner H Mineral Nutrient of Higher Plants. London: Acad Press. 889p. Mattjik AA, Sumertajaya IM Perancangan Percobaan Dengan Aplikasi SAS dan Minitab. Edisi kedua. Bogor: IPB Press. Mengel K, Kirby EA Principle of Plants Nutrient. Switzerland: International Potrash Institute. Berne. Morgan L Electrical Conductivity in Hydroponics. In Knutson A. (Eds). The Best of the Growing Edge. Corvallis: New Moon Publ. Inc. pp Nichol SM, Atkins K Organic (Part Two) http: www. maximumyield. Com/viewart.php?article=202.View Article, Indoor Gardening and Hydroponics, Maximum Yield [17 Juni 2004] Nicholls RE Hidroponik Tanaman Tanpa Tanah. Semarang : Dahara prize. 196 hal. Nelson PV Green House Operation and Management. New York: Prentice Hall Inc. p Nugroho A, Basuki N, Nasution MA Pengaruh pemberian hara mineral pupuk kandang dan kalium terhadap produksi dan kualitas jagung manis ( Zea mays saccharata ) pada lahan kering. J. Habitat Vol. 10: Nurfinayati Pemanfaatan Berulang Larutan Hara pada Budidaya Selada (Lactucca sativa L.) dengan Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST). [skripsi]. Bogor: Departemen Budidaya Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Ozzane PG Phosphate Nutrient of Plants-A General Treatise. In. Khasawneh FE. (Eds). The Role of Phosphorus in Agriculture. Madison: ASA-CSS-SSSA. Permatasari H Mempelajari Kinerja Sistem Irigasi pada Budidaya Tanaman Pakchoy (Brassica chinensis L.) secara Hidroponik dengan Arang Sekam [skripsi]. Bogor: Jurusan Teknik Pertanian Fateta IPB. Resh HM Hydroponics Food Production. California: Woodbridge Press Publ Co. Santa Barbara. 68p. Roan PNM Pengaruh Aerasi dan Bahan Pemegang Tanaman pada Tiga Konsentrasi Larutan terhadap Pertumbuhan Selada (Lactucca sativa L.) dalam Sistem Hidroponik Mengapung [skripsi]. Bogor: Jurusan Budidaya Pertanian Faperta Institut Pertanian Bogor..

53 37 Rubatzky VE, Yamaguchi M World Vegetables. Principles, Production, and Nutritive Values. Second edition. Gaithersburg, Maryland: Aspen Publishers, Inc. Sitompul SM, Guritno B Analisis Pertumbuhan Tanaman. Yogyakarta: Gajah Mada Univ Press, Smith R Hydoroponic Crop production. NZ Hydroponic International Ltd. Tauranga. 306p. Soepardi G Sifat dan Ciri Tanah. Bogor: Jurusan Tanah Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Subiyanto Pengolahan hara dalam teknik budidaya hidroponik pada tanaman holtikultura semusim. J. Analisis Sistem. Nomor 14, Tahun VII Sugito Y Sistem Pertanian Organik. Malang: Universitas Negeri Malang. Salisbury FB, Ross CW Plant Physiology. 4th ed. By Wadsworth Publ Co. A division of Wadsworth, Inc. Sumarni N, Rosliani R Media tumbuh dan waktu aplikasi larutan hara untuk penanaman cabai secara hidroponik. J. Hort. 11 (4) : Sumiyati E, Hilman Y Modifikasi laruan hara standar dalam kultur hidroponik cabai. J.Hort. 12 (1) : Susila AD Pengembangan teknologi hidroponik sistem terapung untuk menghasilkan sayuran yang berkualitas. Laporan Hibah Penelitian. Proyek Due-Like Program Studi Hortikultura. Bogor: Departemen Budidaya Pertanian Fakultan Pertanian. IPB. Sutiyoso Y Prospek Hidroponik dalam Menanggulangi Keperluan Pangan. Kumpulan Makalah Seminar Sehari. Bogor: Jur. Biologi FMIPA-Institut Pertanian Bogor.. Turon JGI, Perez MPY Handbook of Agriculture. New York: Marcel Dekker, Inc 768p. Wardi H, Sudarmojo, Pitoyo D Teknologi hidroponik media arang sekam untuk Budidaya Holtikultura html [28 September 2007]. Ware GW Producing Vegetable Crop. 3 rd ed. New York: Mc Millan Publ. 694p.

54 38 Lampiran 1A. Kandungan unsur mineral dua jenis pupuk No Bahan Analisa (ppm) ph N P K Ca Mg S Fe Mn Cu Zn B 1 Pupuk organik cair Nd* Pupuk anorganik cair AB MIX ** Sumber : * Hasil analisa Laboratorium Biokimia Balai Besar Biogen Litbang Departemen Pertanian tahun 2007 Cimanggu Bogor ** Hasil analisa Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah tahun 2005 Jl. Ir. H. Djuanda no 98 Bogor 38

55 39 Lampiran : 1B Prosedur pembuatan hara mineral organik Nd Bahan-bahan : 1. Kotoran Domba 2. Kotoran Ayam 3. Urin Domba 4. Urin Kelinci 5. Air 6. Biodekstran Alat-alat : 1. Ember 2. Saringan 3. Wadah (ember) 15 liter 4. Pengaduk 5. ph meter 6. Aerator 7. Pemanas Kompor Prosedur Pembuatan : 1. Pupuk kandang domba dan ayam dengan tempat yang berbeda dimasukan kedalam ember, dengan berat 300 mg dicampur dengan air sampai volume 1,5 liter selanjutnya dan disaring dengan kain kasa untuk mendapatkan filtrat yang kental. 2. Filtrat yang kental dari pupuk kandang domba dan ayam serta urin domba dan urin kelinci dengan wadah yang berbeda di campur dengan Biodekstran Produksi CV Surya Pratama Cemerlang sebagai bioaktifator dengan kandungan bakteri Nitrosomonas sp, Nitrobacter sp, Pseudomonas sp dan Bacillus sp sebanyak 10 ml untuk 1 liter bahan, selanjutnya selama 2 minggu dengan aerator bahan diproses secara dekomposer. 3. Di cari perbandingan antara hara pupuk kandang domba, pupuk kandang ayam, urin domba dan urin kelinci sesuai dengan kebutuhan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman selada. Untuk mendapatkan formula hara mineral organik sebanyak 13 liter, maka dilakukan perbandingan jumlah sebagai berikut: a. 2 liter filtrat pupuk kandang domba b. 4 liter filtrat pupuk kandang ayam c. 2 liter filtrat urin domba d. 5 liter filtrat urin kelinci 4. Bahan hasil perbandingan ini selanjutnya diuji kembali ke Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah untuk diketahui jumlah kandungan unsur hara yang terkandung didalamnya.

56 40 Lampiran 2. Data Suhu Udara di Kebun Hidroponik Amazing Farm Dari tanggal 5 November Desember 2007 Pengamatan Suhu Ruang (ºC) Nopember Desember Pagi Hari Siang Hari

57 41 Lampiran 3A. Data suhu larutan pagi hari dari tanggal 5 November Desember 2007 Perlakuan Nopember Suhu Larutan (ºC) Desember T1P1A1U T1P1A1U T1P1A1U T1P1A2U T1P1A2U T1P1A2U T1P1A3U T1P1A3U T1P1A3U T1P2A1U T1P2A1U T1P2A1U T1P2A2U T1P2A2U T1P2A2U T1P2A3U T1P2A3U T1P2A3U T2P1A1U T2P1A1U T2P1A1U T2P1A2U T2P1A2U T2P1A2U T2P1A3U T2P1A3U T2P1A3U T2P2A1U T2P2A1U T2P2A1U T2P2A2U T2P2A2U T2P2A2U T2P2A3U T2P2A3U T2P2A3U

58 42 Lampiran 3B. Data suhu larutan siang hari dari tanggal 5 November Desember 2007 Perlakuan Nopember Suhu Larutan (ºC) Desember T1P1A1U T1P1A1U T1P1A1U T1P1A2U T1P1A2U T1P1A2U T1P1A3U T1P1A3U T1P1A3U T1P2A1U T1P2A1U T1P2A1U T1P2A2U T1P2A2U T1P2A2U T1P2A3U T1P2A3U T1P2A3U T2P1A1U T2P1A1U T2P1A1U T2P1A2U T2P1A2U T2P1A2U T2P1A3U T2P1A3U T2P1A3U T2P2A1U T2P2A1U T2P2A1U T2P2A2U T2P2A2U T2P2A2U T2P2A3U T2P2A3U T2P2A3U

59 43 Lampiran 4A. Data ph larutan pagi hari dari tanggal 5 November Desember 2007 ph Perlakuan Nopember Desember T1P1A1U1 5,1 4,1 6,4 5,5 5,8 5,6 6 6,3 5,9 6,8 5,6 5, ,3 6 4,8 4,3 4,9 5 5,1 6,1 5,8 5,6 6,4 5,8 6,1 6 5,3 6 5,9 5,9 T1P1A1U2 6 6,9 6,2 5,6 5,8 5,8 6,3 5 5,6 7 5,8 6 6,2 6,1 6 6,3 5,4 5,1 5,3 5,8 6,9 5,7 5,9 5,8 6,2 5,4 5,9 6,1 6 6,2 6,3 5,3 T1P1A1U3 6 5,6 5,8 5,5 5,9 5,7 6,2 6,1 5,5 6,6 5,7 6 5,5 5,9 5 6,2 6 6,2 6,5 6,9 5,6 5,5 5,4 5,7 5,8 6 5,6 6,5 6 5,5 6,7 6,5 T1P1A2U1 6,3 6,3 5,6 5,4 5,7 5,6 6,8 6, ,6 5,7 6 5,9 5,7 6,8 5,6 5,1 5,4 7,1 5,9 6,8 5,5 5,9 6,3 5,6 5,9 6 5,7 6 5,7 5,4 T1P1A2U2 6,3 6,4 6,4 5,6 5,5 5,7 6,6 5 5,8 6,3 5,7 5,7 5,8 6,2 5,7 6,6 5,2 4,7 5 5,9 5,5 5,3 5,8 5,7 5,6 5,2 5,3 5,8 5,7 5,8 5,4 6 T1P1A2U3 6,1 6,1 5,2 5,7 5,8 5,8 5,2 5,8 6,4 6,5 5,8 5,6 5,4 5,9 5,6 5,2 6,3 5,9 5,6 6,6 6,3 5,8 6,2 5,8 6,4 6,3 6,3 5,4 5,6 5,4 5,8 5,6 T1P1A3U1 6,4 6,5 6,2 5,5 5,6 5,7 5,5 6 6,7 5,9 5,7 6,5 6,5 5,6 6,5 5,5 6 5,2 5,3 6,8 6,7 6,7 5,9 5,7 6,2 6,3 6,7 6,5 6,5 6,5 5,7 5,3 T1P1A3U2 5,8 6 6,1 5,3 5,6 6 5,6 5,9 6,7 6,2 6 6,1 6,5 5,6 6,1 5,6 6,1 6,7 6,9 6,6 6,8 3,7 5,8 6 6,2 6,1 6,8 6,4 6,1 6,5 5,6 7,8 T1P1A3U3 6,3 6,4 6,3 5,1 5,3 5,3 5,5 5,9 6,7 6,3 5,3 6 5,7 5,5 6 5,5 5,9 5,7 5,6 6,6 5,7 7,1 6,2 5,3 6,1 5,9 6,2 5,7 6 5,7 6,1 5,6 T1P2A1U1 4,3 4,3 6,6 4,5 4,2 5,8 6 5,9 6 5,5 5,8 5,8 5,5 6 4,8 6 6,2 4,3 4,9 5,3 5,8 5,8 5,3 5,8 6,2 6,1 5,8 5,5 5,8 5,5 5,5 4,9 T1P2A1U2 4,3 4,5 6,2 5,5 5,4 5,2 5 5,8 5,8 5,8 5,2 5,8 5,8 6,3 4,8 5 5,4 5 4,5 5,4 5,3 5,8 5,3 5,2 6,5 5,9 5,3 5,8 5,8 5,8 5,9 4,5 T1P2A1U ,3 4,9 4,9 5,3 6 5,6 5,6 5,6 5,3 5,7 5 6,5 4,7 6 5,9 4,5 4,4 5,2 5,6 5,9 6,1 5,3 6,4 5,6 5,9 5 5,7 5 5,9 4,4 T1P2A2U1 6 5,8 5,5 5,2 5,5 5,5 5,9 5,1 5,4 5,3 5,5 5,7 6,1 6,6 5,7 5,9 4,2 5,9 4,7 5,3 5,6 5,7 5,3 5,5 6,6 5,8 6,4 6,1 5,7 6,1 5,7 5,7 T1P2A2U2 5,9 5,9 6 4, ,2 5,5 5,4 5, ,3 5,3 5 5,2 4,6 5,7 4,5 5,3 5,4 5,5 5,8 6 5,6 5,6 5,4 5,3 5 5,3 5,7 5,5 T1P2A2U3 6 6,1 5,4 4,8 5 5,9 5,4 5,4 5,4 5,7 5,9 5 5,3 4,4 5 5,4 4,8 5,8 4,6 5,1 5,6 5,4 5,6 5,9 5,1 5,6 5,7 5,3 5 5,3 5,8 5,6 T1P2A3U1 5,3 5,6 5,4 4,9 4,7 5,6 6 5,4 5,5 5,2 5,6 5,5 5,8 5,2 4,5 6 4,5 4,7 4,5 5,4 5,7 5,5 5,6 5,6 5,3 6,3 6,4 5,8 5,5 5,8 5,5 5,5 T1P2A3U2 4,8 5 5,9 4,5 4,8 5,7 5,2 5,3 5 5,4 5,7 5,8 6,1 5,3 4,8 5,2 4,5 4,4 4,6 6 5,7 5,4 5,8 5,7 5,5 6,4 6 6,1 5,8 6,1 5,7 5,6 T1P2A3U3 5 5,2 6,2 4,4 4,8 5,7 4,5 5 5,1 5,6 5,7 5,9 6,7 5,3 4,9 6 4,4 4,8 4,7 5,9 5,5 5,3 5,5 5,7 5,2 6,2 5,7 6,7 5,9 6,7 5,3 5,7 T2P1A1U1 6,3 5,9 5 5,1 6,1 5,8 5,8 6,7 6,8 6,4 6,4 5,8 6,1 5,1 4,1 6,4 5,5 5,8 5,6 5,3 6 5,9 5,9 6 5,8 6,3 6,4 6 4,3 4,9 5 5,1 T2P1A1U2 5,1 5,3 9,1 6,9 5,7 5,9 5,9 6,7 5,4 6,9 6,2 5,4 5,9 6 6,9 6,2 5,6 5,8 5,8 6 6,2 6,3 5,3 6,3 5,3 6,3 6,2 6,3 5,1 5,3 6,7 6,9 T2P1A1U3 6,2 6,5 6,9 5,6 5,5 5,4 5,4 6,4 6,4 6,7 5,8 6 5,6 6 5,6 5,8 5,5 5,9 5,7 6 5,5 6,7 6,5 6,2 6 6,1 5,9 6,2 6,2 6,5 6,9 5,6 T2P1A2U1 5,1 5,4 7,1 5,9 6,8 5,5 5, ,7 6,3 5,6 5,9 6,3 6,3 5,6 5,4 5,7 5,6 5,7 6 5,7 5,4 6,8 5,6 6,4 5,6 6,8 5,1 5,4 5,8 5,9 T2P1A2U2 4,7 5 5,9 5,5 5,3 5,8 5,8 5,7 5,6 5,8 5,6 5,2 5,3 6,3 6,4 6,4 5,6 5,5 5,7 5,7 5,8 5,4 6 6,6 5,2 6 5,9 6,6 4,7 5 5,9 5,5 T2P1A2U3 5,9 5,6 6,6 6,3 5,8 6,2 6,2 6,2 6,3 6,1 6,4 6,3 6,3 6,1 6,1 5,2 5,7 5,8 5,8 5,6 5,4 5,8 5,6 5,2 6,3 5,9 5,5 5,2 5,9 5,6 6,6 6,3 T2P1A3U1 5,2 5,3 6,8 6,7 6,7 5,9 5,9 5,8 6,9 5,7 6,2 6,3 6,7 6,4 6,5 6,2 5,5 5,6 5,7 6,5 6,5 5,7 5,3 5,5 6,1 6,3 6,3 5,5 5,2 5,3 6,8 6,7 T2P1A3U2 6,7 6,8 6,6 6,8 6,7 5,8 5,8 5,7 6,7 5,9 6,2 6,1 6,8 5,8 6 6,1 5,3 5,6 6 6,1 6,5 5,6 7,8 5,6 6,1 6 6,7 5,6 7,9 7,8 6,6 6,8 T2P1A3U3 5,7 5,6 6,6 5,7 6,3 6,2 6,2 5,8 6,5 6,4 6,1 5,9 6,2 6,3 6,4 6,3 5,1 5,3 5,3 6 5,7 6,1 5,6 5,5 5,9 6 6,3 5,5 5,7 5,6 6,6 5,7 T2P2A1U1 4,3 4,9 5,3 5,8 5,8 5,3 5,3 5,8 5,9 5,3 6,2 6,1 5,8 4,3 4,3 6,6 4,5 4,2 5,8 5,8 5,5 5,5 4,9 6 6,2 5,7 5,7 6 4,3 4,9 5,3 5,8 T2P2A1U2 5 4,5 5,4 5,3 5,8 5,3 5,3 5,8 5,7 5,7 6,5 5,9 5,3 4,3 4,5 6,2 5,5 5,4 5,2 5,8 5,8 5,9 4,5 5 5,4 5,7 5, ,5 5,4 5,3 T2P2A1U3 4,5 4,4 5,2 5,6 5,9 6,1 6,1 5,5 5,6 5,5 6,4 5,6 5, ,3 4,9 4,9 5,3 5,7 5 5,9 4,4 6 5,9 5,6 5,3 6 4,5 4,4 5,2 5,6 T2P2A2U1 5,9 4,7 5,3 5,6 5,7 5,3 5,3 5 5,3 5,3 6,6 5,8 6,4 6 5,8 5,5 5,2 5,5 5,5 5,7 6,1 5,7 5,7 5,9 5,2 5,5 5,6 5,9 5,9 4,7 5,3 5,6 T2P2A2U2 5,7 4,5 5,3 5,4 5,5 5,8 5,8 5,8 5,3 5,7 5,6 5,6 5,4 5,9 5,9 6 4, ,3 5,7 5,5 5,2 5,6 5,7 5,6 5,2 5,7 4,5 5,3 5,4 T2P2A2U3 5,8 4,6 5,1 5,6 5,4 5,6 5,6 5,8 5,3 5,7 5,1 5,6 5,7 6 6,1 5,4 4,8 5 5,9 5 5,3 5,8 5,6 5,4 5,7 5,7 5,4 5,4 5,8 4,6 5,1 5,6 T2P2A3U1 4,7 4,5 5,4 5,7 5,5 5,6 5,6 5,1 5,2 5 5,3 6,3 6,4 5,3 5,6 5,4 4,9 4,7 5,6 5,5 5,8 5,5 5,5 6 5,5 6 5,6 6 4,7 4,5 5,4 5,7 T2P2A3U2 4,4 4,6 6 5,7 5,4 5,8 5,8 5,6 5,2 5,3 5,5 6,4 6 4,8 5 5,9 4,5 4,8 5,7 5,8 6,1 5,7 5,6 5,2 5,9 6 5,7 5,2 4,4 4,6 6 5,7 T2P2A3U3 4,8 4,7 5,9 5,5 5,3 5,5 5,5 5,7 5 5,6 5,2 6,2 5,7 5 5,2 6,2 4,4 4,8 5,7 5,9 6,7 5,3 5,7 6 5,5 6,9 5,7 4,5 4,8 4,7 5,9 5,5 43

60 44 Lampiran 4B. Data ph larutan siang hari dari tanggal 5 November Desember 2007 Perlakuan Nopember T1P1A1U1 5,1 5,7 6,4 5,5 5,8 5,6 6 6,3 5,9 6,8 5,6 5, ,3 6 5,6 5, ,1 6,1 5,8 5,6 6,4 5,8 6,1 6 5,3 6 5,9 5,9 T1P1A1U2 6,1 6,5 6,2 5,6 5,8 5,8 6,3 5,5 5,6 6 5,8 6 6,2 6,1 6 6,3 5,4 5,1 5,3 6,1 6,9 5,7 5,9 5,8 6,2 5,4 5,9 6,1 6 6,2 6,3 5,3 T1P1A1U3 6,1 5,8 5,8 5,5 5,9 5,7 6,2 6,1 5,5 6,6 5,7 6 5,5 5,9 5,4 6,2 6 6,2 6,5 6,9 5,6 5,5 5,4 5,7 5,8 6 5,6 6,5 6 5,5 6,7 6,5 T1P1A2U1 6,5 6,5 5,6 5,4 5,7 5,6 6,8 6, ,6 5,7 6 6,1 5,7 6,8 5,6 5,1 5,4 7,1 5,9 6,8 5,5 5,9 6,3 5,6 5,9 6 5,7 6 5,7 5,4 T1P1A2U2 6,4 6,1 6,4 5,6 5,5 5,7 6,6 5 5,8 6,3 5,7 5,7 5,8 6,2 5,7 6,6 5,2 4,7 5 5,9 5,5 5,3 5,8 5,7 5,6 5,2 5,3 5,8 5,7 5,8 5,4 6 T1P1A2U3 6,2 6,2 5,2 5,7 5,8 5,8 5,2 5,8 6,4 6,5 5,8 5,6 5,4 5,9 5,6 5,2 6,3 5,9 5,6 6,6 6,3 5,8 6,2 5,8 6,4 6,3 6,3 5,4 5,6 5,4 5,8 5,6 T1P1A3U1 6,5 6,5 6,2 5,5 5,6 5,7 5,5 6 6,7 5,9 5,7 6,5 6,5 5,6 6,5 5,5 6 5,2 5,3 6,8 6,7 6,7 5,9 5,7 6,2 6,3 6,7 6,5 6,5 6,5 5,7 5,3 T1P1A3U2 5,9 6 6,1 5,3 5,6 6 5,6 5,9 6,7 6,2 6 6,1 6,5 5,6 6,1 5,6 6,1 6,7 6,4 6,6 6,8 6,8 5,8 6 6,2 6,1 6,8 6,4 6,1 6,5 5,6 7,8 T1P1A3U3 6,5 6,4 6,3 5,1 5,3 5,3 5,5 5,9 6,7 6,3 5,3 6 5,7 5,5 6 5,5 5,9 5,7 5,6 6,6 5,7 6 6,2 5,3 6,1 5,9 6,2 5,7 6 5,7 6,1 5,6 T1P2A1U1 4,8 5,1 6,6 4,5 4,2 5,8 6 5,9 6 5,5 5,8 5,8 5,5 6 4,8 6 6,2 4,3 4,9 5,3 5,8 5,8 5,3 5,8 6,2 6,1 5,8 5,5 5,8 5,5 5,5 4,9 T1P2A1U2 5 5,2 6,2 5,5 5,4 5,2 5 5,8 5,8 5,8 5,2 5,8 5,8 6,3 4,8 5 5,4 5 4,5 5,4 5,3 5,8 5,3 5,2 6,5 5,9 5,3 5,8 5,8 5,8 5,9 4,5 T1P2A1U3 5,3 5,3 5,3 4,9 4,9 5,3 6 5,6 5,6 5,6 5,3 5,7 5 6,5 4,7 6 5,9 4,5 4,4 5,2 5,6 5,9 6,1 5,3 6,4 5,6 5,9 5 5,7 5 5,9 4,4 T1P2A2U1 6,1 5,8 5,5 5,2 5,5 5,5 5,9 5,1 5,4 5,3 5,5 5,7 6,1 6,6 5,7 5,9 4,2 5,9 4,7 5,3 5,6 5,7 5,3 5,5 6,6 5,8 6,4 6,1 5,7 6,1 5,7 5,7 T1P2A2U2 6,1 5,9 6 4, ,2 5,5 5,4 5, ,3 5,3 5 5,2 4,6 5,7 4,5 5,3 5,4 5,5 5,8 6 5,6 5,6 5,4 5,3 5 5,3 5,7 5,5 T1P2A2U3 6,2 6,1 5,4 4,8 5 5,9 5,4 5,4 5,4 5,7 5,9 5 5,3 4,4 5 5,4 4,8 5,8 4,6 5,1 5,6 5,4 5,6 5,9 5,1 5,6 5,7 5,3 5 5,3 5,8 5,6 T1P2A3U1 5,8 5,6 5,4 4,9 4,7 5,6 6 5,4 5,5 5,2 5,6 5,5 5,8 5,2 4,5 6 4,5 4,7 4,5 5,4 5,7 5,5 5,6 5,6 5,3 6,3 6,4 5,8 5,5 5,8 5,5 5,5 T1P2A3U2 5,3 5,4 5,9 4,5 4,8 5,7 5,2 5,3 5 5,4 5,7 5,8 6,1 5,3 4,8 5,2 4,5 4,4 4,6 6 5,7 5,4 5,8 5,7 5,5 6,4 6 6,1 5,8 6,1 5,7 5,6 T1P2A3U3 5,3 5,2 6,2 4,4 4,8 5,7 4,5 5 5,1 5,6 5,7 5,9 6,7 5,3 4,9 6 4,4 4,8 4,7 5,9 5,5 5,3 5,5 5,7 5,2 6,2 5,7 6,7 5,9 6,7 5,3 5,7 T2P1A1U1 6,5 5,9 5 5,1 6,1 5,8 5,8 6,7 6,8 6,4 6,4 5,8 6,1 5,1 4,1 6,4 5,5 5,8 5,6 5,3 6 5,9 5,9 6 5,8 6,3 6,4 6 4,3 4,9 5 5,1 T2P1A1U2 5,9 5,3 6,5 6,9 5,7 5,9 5,9 6,7 5,4 6,9 6,2 5,4 5,9 6 6,9 6,2 5,6 5,8 5,8 6 6,2 6,3 5,3 6,3 5,3 6,3 6,2 6,3 5,1 5,3 6,6 6,9 T2P1A1U3 3,3 6,5 6,9 5,6 5,5 5,4 5,4 6,4 6,4 6,7 5,8 6 5,6 6 5,6 5,8 5,5 5,9 5,7 6 5,5 6,7 6,5 6,2 6 6,1 5,9 6,2 6,2 6,5 6,9 5,6 T2P1A2U1 5,8 5,4 6,1 5,9 6,8 5,5 5, ,7 6,3 5,6 5,9 6,3 6,3 5,6 5,4 5,7 5,6 5,7 6 5,7 5,4 6,8 5,6 6,4 5,6 6,8 5,1 5,4 6 5,9 T2P1A2U2 5,1 5,3 5,9 5,5 5,3 5,8 5,8 5,7 5,6 5,8 5,6 5,2 5,3 6,3 6,4 6,4 5,6 5,5 5,7 5,7 5,8 5,4 6 6,6 5,2 6 5,9 6,6 4,7 5 5,9 5,5 T2P1A2U3 6,1 5,6 6,6 6,3 5,8 6,2 6,2 6,2 6,3 6,1 6,4 6,3 6,3 6,1 6,1 5,2 5,7 5,8 5,8 5,6 5,4 5,8 5,6 5,2 6,3 5,9 5,5 5,2 5,9 5,6 6,6 6,3 T2P1A3U1 5,6 5,3 6,8 6,7 6,7 5,9 5,9 5,8 6,9 5,7 6,2 6,3 6,7 6,4 6,5 6,2 5,5 5,6 5,7 6,5 6,5 5,7 5,3 5,5 6,1 6,3 6,3 5,5 5,2 5,3 6,8 6,7 T2P1A3U2 6,9 6,8 6,6 6,8 6,6 5,8 5,8 5,7 6,7 5,9 6,2 6,1 6,8 5,8 6 6,1 5,3 5,6 6 6,1 6,5 5,6 7,8 5,6 6,1 6 6,7 5,6 6,5 6,9 6,6 6,8 T2P1A3U3 6 5,6 6,6 5,7 6,9 6,2 6,2 5,8 6,5 6,4 6,1 5,9 6,2 6,3 6,4 6,3 5,1 5,3 5,3 6 5,7 6,1 5,6 5,5 5,9 6 6,3 5,5 5,7 5,6 6,6 5,7 T2P2A1U1 5 5,6 5,3 5,8 5,8 5,3 5,3 5,8 5,9 5,3 6,2 6,1 5,8 4,3 4,3 6,6 4,5 4,2 5,8 5,8 5,5 5,5 4,9 6 6,2 5,7 5,7 6 4,3 4,9 5,3 5,8 T2P2A1U2 5,2 5,3 5,4 5,3 5,8 5,3 5,3 5,8 5,7 5,7 6,5 5,9 5,3 4,3 4,5 6,2 5,5 5,4 5,2 5,8 5,8 5,9 4,5 5 5,4 5,7 5, ,5 5,4 5,3 T2P2A1U3 4,8 5,3 5,2 5,6 5,9 6,1 6,1 5,5 5,6 5,5 6,4 5,6 5, ,3 4,9 4,9 5,3 5,7 5 5,9 4,4 6 5,9 5,6 5,3 6 4,5 4,4 5,2 5,6 T2P2A2U1 6,1 5,9 5,3 5,6 5,7 5,3 5,3 5 5,3 5,3 6,6 5,8 6,4 6 5,8 5,5 5,2 5,5 5,5 5,7 6,1 5,7 5,7 5,9 5,2 5,5 5,6 5,9 5,9 4,7 5,3 5,6 T2P2A2U2 5,9 5,2 5,3 5,4 5,5 5,8 5,8 5,8 5,3 5,7 5,6 5,6 5,4 5,9 5,9 6 4, ,3 5,7 5,5 5,2 5,6 5,7 5,6 5,2 5,7 4,5 5,3 5,4 T2P2A2U3 6,2 5,4 5,1 5,6 5,4 5,6 5,6 5,8 5,3 5,7 5,1 5,6 5,7 6 6,1 5,4 4,8 5 5,9 5 5,3 5,8 5,6 5,4 5,7 5,7 5,4 5,4 5,8 4,6 5,1 5,6 T2P2A3U1 5,8 5,7 5,5 5,7 5,7 5,6 5,6 5,1 5,2 5 5,3 6,3 6,4 5,3 5,6 5,4 6,3 5,7 5,6 5,5 5,8 5,5 5,5 6 5,5 6 5,6 6 5,9 5,5 5,4 5,7 T2P2A3U2 5,4 5,6 6 5,7 5,4 5,8 5,8 5,6 5,2 5,3 5,5 6,4 6 5,9 6 5,9 5,7 5,8 5,7 5,8 6,1 5,7 5,6 5,2 5,9 6 5,7 5,2 5,2 5,3 6 5,7 T2P2A3U3 5,8 5,2 5,9 5,5 5,3 5,5 5,5 5,7 5 5,6 5,2 6 5,7 5,7 5,2 6,2 4,8 5,6 5,7 5,9 6,7 5,3 5,7 6 5,5 6,9 5,7 5,4 5 5,3 5,9 5,5 ph Desember 44

61 45 Lampiran 5A. Data Elektrical Conductivity (EC) larutan pupuk pada pagi hari jam dari tanggal 5 Nopember 6 Desember 2007 Perlakuan Electrical Conductivity (EC) Nopember Desember T1P1A1U1 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,6 1,7 1,6 1,6 1, ,6 1,6 1,6 1,7 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,7 1,6 1,6 1,6 1,6 1,7 1,6 T1P1A1U2 0,8 0,8 0,8 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,6 1,7 1,6 1,6 1, ,6 1,7 1,6 1,7 1,6 1,6 1,6 1,7 1,5 1,5 1,6 1,6 1,5 1,6 1,6 1,7 1,6 T1P1A1U3 0,8 0,8 0,8 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,5 1,6 1,5 1,51, 1, ,5 1,6 1,5 1,6 1,5 1,51, 1,6 1,7 1,5 1,5 1,6 1,5 1,6 1,5 1,5 1,6 1,5 T1P1A2U1 0,8 0,8 0,8 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,2 2,2 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 1,5 1,6 2,3 2,2 2,5 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 T1P1A2U2 0,8 0,8 0,9 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,6 2,5 2,4 2,6 2,6 2,2 2,3 2,3 2,3 T1P1A2U3 0,8 0,9 0,8 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,2 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,2 2,3 2,2 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 1, ,1 2,2 2,3 2,2 2,3 T1P1A3U1 0,8 0,8 0,8 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 3, ,3 2, ,2 3, ,1 3,1 302 T1P1A3U2 0,8 0,8 0,8 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 3,1 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3 3,1 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 T1P1A3U3 0,8 0,8 0,7 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 3,1 3,2 3,2 3,1 3 3,1 3,2 3,2 3,1 3,2 3,2 3,1 3,1 3, ,2 3,1 3,1 3,1 3,1 3,2 3,2 T1P2A1U1 0,8 0,8 0,8 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,7 1,8 1,7 1,7 1,7 1,6 1,7 1,8 1,7 1,8 1,7 1,7 3,1 3,2 1,5 1,5 1,6 1,5 1,6 1,5 1,7 1,8 1,7 T1P2A1U2 0,8 0,8 0,8 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,6 1,7 1,7 1,6 1,6 1,6 1,6 1,7 1,6 1,7 1,7 1,6 1,7 1,8 1,5 1,5 1,7 1, ,5 1,6 1,7 1,7 T1P2A1U3 0,8 0,8 0,8 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,7 1,8 1,8 1,7 1,7 1,7 1,8 1,8 1,7 1,8 1,8 1,7 1,6 1,7 1,7 1,7 1,8 1,8 1,9 1,6 1,7 1,8 1,8 T1P2A2U1 0,8 0,9 0,8 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 1,7 1,8 2,5 2,4 2,4 2,4 2,5 2,3 2,3 2,3 2,3 T1P2A2U2 0,8 0,8 0,8 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,4 2,3 2,3 2,3 2,3 T1P2A2U3 0,8 0,8 0,8 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,5 2,6 2,6 2,3 2,3 2,3 2,3 T1P2A3U1 0,8 0,8 0,8 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 3,1 3,2 3,2 3,2 3, ,2 3,1 3,2 3,2 3,2 2,3 2,3 3,1 3,1 2,9 3,1 3,1 3,1 3,1 3,2 3,2 T1P2A3U2 0,8 0,8 0,8 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 3,1 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3 3,1 3,2 3,2 3,2 3,4 3,2 3,3 3,1 3,1 3,1 3,1 T1P2A3U3 0,8 0,8 0,8 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 3 3,2 3,1 3,1 3,1 2,2 3,1 3,2 3 3,2 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,5 3,1 3,2 3,1 3 3,2 3,1 T2P1A1U1 0,8 0,8 0,8 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,6 1,6 1,5 1,5 1,5 1,7 1,6 1,6 1,6 1,6 1,5 1,5 3 3,2 1,6 1, ,6 1,6 1,6 1,6 1,6 1,5 T2P1A1U2 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,6 1,5 1,5 1,5 1,5 1,6 1,6 1,5 1,6 1,5 1,5 1,5 1,6 1,6 1,6 1, ,6 1,7 1,6 1,6 1,5 1,5 T2P1A1U3 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,5 1,6 1,6 1,5 1,5 1,6 1,5 1,6 1,5 1,6 1,6 1,5 1,6 1,5 1,51, 1, ,5 1,6 1,5 1,5 1,6 1,6 T2P1A2U1 0,8 0,9 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,2 2,5 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 1,5 1,6 2,3 2,2 2,2 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 T2P1A2U2 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,2 2,6 2,6 2,6 2,5 2,4 2,6 2,6 2,2 2,6 2,6 2,6 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,2 2,6 2,6 T2P1A2U3 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,2 2,1 2,3 2,3 2,3 1, ,1 2,2 2,1 2,3 2,3 2,2 2,6 2,3 2,3 2,3 2,3 2,2 2,3 2,2 2,1 2,3 T2P1A3U1 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1, ,2 3, ,2 2, ,1 3,1 3,1 3, T2P1A3U2 0,8 0,7 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 3,1 3 3,1 3, ,1 3 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3 3,1 T2P1A3U3 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 3,1 3,1 3, ,2 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3 3,1 3 3,1 3 3,1 3,2 3,2 3,1 3,1 3,1 3,1 T2P2A1U1 0,8 0,8 0,9 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,6 1,5 1,6 1,5 1,5 1,5 1,5 3,1 3,1 1,7 1,7 1,6 1,7 1,8 1,7 1,5 1,5 1,5 T2P2A1U2 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,7 1, ,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,6 1,6 1,6 1,6 1,7 1,6 1,5 1,5 1,5 T2P2A1U3 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 1,6 1,8 1,7 1,7 1,7 1,8 1,8 1,9 1,6 1,8 1,7 1,7 1,5 1,5 1,7 1,7 1,7 1,8 1,8 1,7 1,6 1,8 1,7 T2P2A2U1 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,5 2,5 2,5 2,4 2,4 2,4 2,5 2,3 2,5 2,5 2,5 1,6 1,8 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,5 2,5 T2P2A2U2 0,8 0,8 0,9 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,4 2,4 2,3 2,3 2,3 2,3 2,4 2,3 2,4 2,4 2,3 2,3 2,5 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,4 2,4 T2P2A2U3 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,5 2,6 2,6 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,4 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 T2P2A3U1 0,8 0,8 0,9 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 2,9 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,2 3,2 3, ,2 3,1 3,1 3,1 3,1 T2P2A3U2 0,8 0,8 0,9 1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 3,1 3,3 3,3 3,2 3,2 3,4 3,2 3,3 3,1 3,3 3,3 3,2 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,3 3,3 T2P2A3U3 0,8 0,8 0,9 1,1 1,1 1 1,3 1,3 1,3 3,1 3,2 3,2 3,1 3,1 3,5 3,1 3,2 3,1 3,2 3,2 3,1 3,1 3,3 3,1 3,1 2,2 3,1 3,2 3 3,1 3,2 3,2 45

62 46 Lampiran 5B. Data Elektrical Conductivity (EC) larutan pupuk pada siang hari dari tanggal 5 Nopember 6 Desember 2007 Electrical Conductivity (EC) Perlakuan Nopember Desember T1P1A1U1 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,4 1,6 1,6 1,5 1,5 1,5 1,7 1,6 1,6 1,6 1,6 1,5 1,5 3 3,2 1,6 1, ,6 1,6 1,6 1,6 1,6 1,5 T1P1A1U2 0,8 0,8 0,8 1, ,3 1,3 1,3 1,6 1,5 1,5 1,5 1,5 1,6 1,6 1,5 1,6 1,5 1,5 1,5 1,6 1,6 1,6 1, ,6 1,7 1,6 1,6 1,5 1,5 T1P1A1U3 0,8 0,8 0,8 1, ,3 1,3 1,4 1,5 1,6 1,6 1,5 1,5 1,6 1,5 1,6 1,5 1,6 1,6 1,5 1,6 1,5 1,51, 1, ,5 1,6 1,5 1,5 1,6 1,6 T1P1A2U1 0,8 0,8 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,2 2,5 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 1,5 1,6 2,3 2,2 2,2 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 T1P1A2U2 0,8 0,9 0,8 1, ,3 1,3 1,3 2,2 2,6 2,6 2,6 2,5 2,4 2,6 2,6 2,2 2,6 2,6 2,6 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,2 2,6 2,6 T1P1A2U3 0,9 0,8 0,9 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,4 2,2 2,1 2,3 2,3 2,3 1, ,1 2,2 2,1 2,3 2,3 2,2 2,6 2,3 2,3 2,3 2,3 2,2 2,3 2,2 2,1 2,3 T1P1A3U1 0,8 0,8 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1, ,2 3, ,2 2, ,1 3,1 3,1 3, T1P1A3U2 0,8 0,8 0,8 1, ,3 1,3 1,3 3,1 3 3,1 3, ,1 3 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3 3,1 T1P1A3U3 0,8 0,7 0,8 1, ,3 1,3 1,3 3,1 3,1 3, ,2 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3 3,1 3 3,1 3 3,1 3,2 3,2 3,1 3,1 3,1 3,1 T1P2A1U1 0,8 0,8 0,8 1, ,3 1,3 1,4 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,6 1,5 1,6 1,5 1,5 1,5 1,5 3,1 3,1 1,7 1,7 1,6 1,7 1,8 1,7 1,5 1,5 1,5 T1P2A1U2 0,8 0,8 0,8 1, ,3 1,3 1,4 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,7 1, ,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,6 1,6 1,6 1,6 1,7 1,6 1,5 1,5 1,5 T1P2A1U3 0,8 0,8 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,4 1,4 1,6 1,8 1,7 1,7 1,7 1,8 1,8 1,9 1,6 1,8 1,7 1,7 1,5 1,5 1,7 1,7 1,7 1,8 1,8 1,7 1,6 1,8 1,7 T1P2A2U1 0,9 0,8 0,9 1, ,3 1,4 1,3 2,3 2,5 2,5 2,5 2,4 2,4 2,4 2,5 2,3 2,5 2,5 2,5 1,6 1,8 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,5 2,5 T1P2A2U2 0,8 0,8 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,4 1,4 2,3 2,4 2,4 2,3 2,3 2,3 2,3 2,4 2,3 2,4 2,4 2,3 2,3 2,5 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,4 2,4 T1P2A2U3 0,8 0,8 0,8 1, ,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,5 2,6 2,6 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,4 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 T1P2A3U1 0,8 0,8 0,8 1, ,3 1,4 1,4 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 2,9 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,2 3,2 3, ,2 3,1 3,1 3,1 3,1 T1P2A3U2 0,8 0,8 0,8 1, ,3 1,3 1,3 3,1 3,3 3,3 3,2 3,2 3,4 3,2 3,3 3,1 3,3 3,3 3,2 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,3 3,3 T1P2A3U3 0,8 0,8 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,3 3,1 3,2 3,2 3,1 3,1 3,5 3,1 3,2 3,1 3,2 3,2 3,1 3,1 3,3 3,1 3,1 2,2 3,1 3,2 3 3,1 3,2 3,2 T2P1A1U1 0,8 0,8 0,8 1, ,3 1,4 1,3 1,6 1,7 1,6 1,6 1, ,6 1,6 1,6 1,7 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,7 1,6 1,6 1,6 1,6 1,7 1,6 T2P1A1U2 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,3 1,6 1,7 1,6 1,6 1, ,6 1,7 1,6 1,7 1,6 1,6 1,6 1,7 1,5 1,5 1,6 1,6 1,5 1,6 1,6 1,7 1,6 T2P1A1U3 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,4 1,3 1,5 1,6 1,5 1,51, 1, ,5 1,6 1,5 1,6 1,5 1,51, 1,6 1,7 1,5 1,5 1,6 1,5 1,6 1,5 1,5 1,6 1,5 T2P1A2U1 0,9 0,9 0,9 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,2 2,2 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 1,5 1,6 2,3 2,2 2,5 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 T2P1A2U2 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,6 2,5 2,4 2,6 2,6 2,2 2,3 2,3 2,3 T2P1A2U3 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,4 1,3 2,3 2,2 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,2 2,3 2,2 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 1, ,1 2,2 2,3 2,2 2,3 T2P1A3U1 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,3 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 3, ,3 2, ,2 3, ,1 3,1 302 T2P1A3U2 0,7 0,9 0,7 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,3 3,1 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3 3,1 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 T2P1A3U3 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,3 3,1 3,2 3,2 3,1 3 3,1 3,2 3,2 3,1 3,2 3,2 3,1 3,1 3, ,2 3,1 3,1 3,1 3,1 3,2 3,2 T2P2A1U1 0,8 0,9 0,8 1, ,3 1,4 1,3 1,7 1,8 1,7 1,7 1,7 1,6 1,7 1,8 1,7 1,8 1,7 1,7 3,1 3,2 1,5 1,5 1,6 1,5 1,6 1,5 1,7 1,8 1,7 T2P2A1U2 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,4 1,3 1,6 1,7 1,7 1,6 1,6 1,6 1,6 1,7 1,6 1,7 1,7 1,6 1,7 1,8 1,5 1,5 1,7 1, ,5 1,6 1,7 1,7 T2P2A1U3 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,4 1,4 1,7 1,8 1,8 1,7 1,7 1,7 1,8 1,8 1,7 1,8 1,8 1,7 1,6 1,7 1,7 1,7 1,8 1,8 1,9 1,6 1,7 1,8 1,8 T2P2A2U1 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,4 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 1,7 1,8 2,5 2,4 2,4 2,4 2,5 2,3 2,3 2,3 2,3 T2P2A2U2 0,8 0,9 0,8 1, ,3 1,4 1,4 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,4 2,3 2,3 2,3 2,3 T2P2A2U3 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,5 2,6 2,6 2,3 2,3 2,3 2,3 T2P2A3U1 0,8 0,9 0,8 1, ,3 1,4 1,4 3,1 3,2 3,2 3,2 3, ,2 3,1 3,2 3,2 3,2 2,3 2,3 3,1 3,1 2,9 3,1 3,1 3,1 3,1 3,2 3,2 T2P2A3U2 0,8 0,9 0,8 1, ,3 1,3 1,3 3,1 3,1 3, ,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3 3,1 3,2 3,2 3,2 3,4 3,2 3,3 3,1 3,1 3,1 3,1 T2P2A3U3 0,8 0,9 0,8 1,1 1 1,1 1,3 1,3 1,3 3 3,2 3,1 3,1 3,1 2,2 3,1 3,2 3 3,2 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,5 3,1 3,2 3,1 3 3,2 3,1 46

63 47 Lampiran 6 Sidik ragam tinggi tanaman 1 MST waktu panen Peubah Sumber Keragaman Db KT F hitung Pr > F P A P*A T MST P*T A*T P*A*T Galat Total P A ** P*A T ** 2 MST P*T A*T ** P*A*T Galat Total P A * P*A T ** 3 MST P*T A*T ** P*A*T Galat Total P A * P*A T ** 4 MST P*T A*T * P*A*T Galat Total P A * P*A T ** Waktu P*T * Panen A*T * P*A*T Galat Total Keterangan : * : Nyata pada taraf 5% ** : Nyata pada taraf 1%

64 48 Lampiran 7 Sidik ragam jumlah daun 1 MST waktu panen Peubah Sumber Keragaman Db KT F hitung Pr > F 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST Waktu Panen Keterangan : * : Nyata pada taraf 5% ** : Nyata pada taraf 1% P A P*A T P*T A*T P*A*T Galat Total 35 P * A P*A T P*T A*T P*A*T * Galat Total 35 P * A P*A T P*T A*T * P*A*T Galat Total 35 P ** A P*A T P*T A*T * P*A*T Galat Total 35 P ** A ** P*A T P*T A*T ** P*A*T Galat Total 35

65 49 Lampiran 8 Sidik ragam tanaman setelah panen Peubah Sumber Keragaman Db KT F hitung Pr > F P * A P*A T Panjang P*T Akar A*T P*A*T Galat Total 35 Luas Daun Keterangan : * : Nyata pada taraf 5% ** : Nyata pada taraf 1% P A * P*A T P*T A*T ** P*A*T * Galat Total 35

66 50 Lampiran 9 Sidik ragam biomasa Peubah Sumber Keragaman Db KT F hitung Pr > F P A ** P*A T Bobot Basah P*T Tajuk A*T * P*A*T Galat Total 35 Bobot Kering Tajuk Bobot Basah Tanaman Bobot Basah Akar Bobot Kering Akar Keterangan : * : Nyata pada taraf 5% ** : Nyata pada taraf 1% P A P*A T P*T A*T * P*A*T Galat Total 35 P A ** P*A * T P*T A*T ** P*A*T * Galat Total 35 P * A P*A T P*T A*T P*A*T Galat Total 35 P * A P*A T P*T A*T * P*A*T Galat Total 35

67 51 Lampiran 9 Lanjutan Peubah Sumber Keragaman Db KT F hitung Pr > F P A ** P*A * T Bobot Basah P*T Daun A*T P*A*T * Galat Total 35 Bobot Kering Daun Keterangan : * : Nyata pada taraf 5% ** : Nyata pada taraf 1% P A P*A T P*T A*T P*A*T Galat Total 35

68 52 Lampiran 10 Sidik ragam kandungan klorofil, serat kasar, kadar abu, kadar air Peubah Sumber Keragaman Db KT F hitung Pr > F P ** A P*A * T Klorofil P*T * A*T P*A*T ** Galat Total 35 P ** A P*A T Serat P*T Kasar A*T * P*A*T Galat Total 35 Kadar Abu Kadar Air Tanaman Keterangan : * : Nyata pada taraf 5% ** : Nyata pada taraf 1% P ** A ** P*A ** T ** P*T ** A*T ** P*A*T ** Galat Total 35 P A P*A T P*T A*T P*A*T Galat Total 35

69 53 Lampiran 11 Sidik ragam kandungan hara makro Peubah Sumber Keragaman Db KT F hitung Pr > F P A * P*A ** T ** N P*T ** A*T ** P*A*T ** Galat Total 35 P A P*A T ** P P*T A*T P*A*T Galat Total 35 P A ** P*A ** T K P*T ** A*T P*A*T ** Galat Total 35 P ** A P*A * T Ca P*T * A*T P*A*T Galat Total 35 P ** A P*A T Mg P*T ** A*T P*A*T Galat Total 35 * : Nyata pada taraf 5% ** : Nyata pada taraf 1%

70 54 Lampiran 11 Lanjutan Peubah Sumber Keragaman Db KT F hitung Pr > F P ** A ** P*A ** T ** S P*T ** A*T * P*A*T ** Galat 24 Total 35 Keterangan : * : Nyata pada taraf 5% ** : Nyata pada taraf 1%

71 55 Lampiran 12 Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata jumlah daun tanaman pada 2 MST Perlakuan Jumlah Daun 2 MST P1A1T1 7.4 c P1A1T2 4.1 a P1A2T1 7.3 c P1A2T2 5.5 ab P1A3T1 4.5 a P1A3T2 4.9 a P2A1T1 6.5 bc P2A1T2 4.4 a P2A2T1 6.7 bc P2A2T2 4.1 a P2A3T1 4.5 a P2A3T2 4.6 a Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT (p = 5%). Lampiran 13 Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata luas daun Perlakuan Luas Daun (mm) P1A1T d P1A1T abc P1A2T bcd P1A2T d P1A3T ab P1A3T bcd P2A1T cd P2A1T ab P2A2T ab P2A2T ab P2A3T a P2A3T ab Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT (p = 5%).

72 56 Lampiran 14 Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata bobot basah tanaman Perlakuan Bobot Basah Tanaman (g) P1A1T a P1A1T abcd P1A2T abc P1A2T cd P1A3T d P1A3T bcd P2A1T ab P2A1T bcd P2A2T abc P2A2T cd P2A3T cd P2A3T abcd Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT (p = 5%). Lampiran 15 Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata bobot basah daun Perlakuan Bobot Basah Daun (g) P1A1T ab P1A1T cd P1A2T abcd P1A2T d P1A3T d P1A3T cd P2A1T abc P2A1T cd P2A2T abcd P2A2T d P2A3T cd P2A3T cd Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT (p = 5%).

73 57 Lampiran 16 Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kandungan hara N Perlakuan Kandungan Hara N (%) P1A1T bc P1A1T ef P1A2T de P1A2T f P1A3T a P1A3T ef P2A1T ab P2A1T f P2A2T de P2A2T bc P2A3T ef P2A3T cd Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT (p = 5%). Lampiran 17. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kandungan hara K Perlakuan Kandungan Hara K (%) P1A1T bcd P1A1T cde P1A2T bcd P1A2T a P1A3T e P1A3T ab P2A1T bcd P2A1T abc P2A2T ab P2A2T bcde P2A3T de P2A3T e Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT (p = 5%).

74 58 Lampiran 18 Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kandungan hara S Perlakuan Kandungan Hara S (%) P1A1T c P1A1T b P1A2T a P1A2T a P1A3T a P1A3T a P2A1T ab P2A1T e P2A2T a P2A2T a P2A3T c P2A3T d Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT (p = 5%). Lampiran 19. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata kadar abu Perlakuan Kadar Abu (%) P1A1T e P1A1T e P1A2T fg P1A2T j P1A3T de P1A3T g P2A1T h P2A1T d P2A2T b P2A2T a P2A3T c P2A3T i Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT (p = 5%).

75 59 Lampiran 20. Hasil Uji Perbandingan Ganda Duncan (DMRT) terhadap rerata klorofil Perlakuan Klorofil (mg/l) P1A1T d P1A1T d P1A2T bcd P1A2T abc P1A3T cd P1A3T abc P2A1T abcd P2A1T a P2A2T a P2A2T d P2A3T ab P2A3T abcd Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom, tidak berbeda nyata dengan uji DMRT (p = 5%).

76 60 Lampiran 21. Rekapitulasi Nilai Korelasi Pearson Antar Parameter Pertumbuhan Selada (Lactucca sativa L.) No Parameter TT JD PA LD BBT BKT BBA BKA BBD BKD BB_TAJUK BK_TAJUK KLO SK KA K_ABU N P K Ca Mg S 1 TT 1,00 0,37 0,20 0,58 0,61 0,49 0,29 0,23 0,59 0,51 0,58 0,45-0,16-0,14 0,25 0,19 0,17-0,08 0,31 0,09 0,26 0,36 2 JD 0,37 1,00 0,31 0,89 0,59 0,59 0,53 0,56 0,56 0,39 0,58 0,56 0,03 0,13 0,20 0,23 0,04 0,28 0,26 0,32 0,35 0,43 3 PA 0,20 0,31 1,00 0,43 0,46 0,46 0,36 0,46 0,51 0,39 0,51 0,50-0,04 0,03-0,11 0,23-0,14 0,21 0,51 0,31 0,48 0,39 4 LD 0,58 0,89 0,44 1,00 0,77 0,72 0,63 0,62 0,73 0,54 0,75 0,69-0,02 0,07 0,06 0,31 0,00 0,24 0,39 0,27 0,34 0,32 5 BBT 0,61 0,59 0,46 0,77 1,00 0,90 0,67 0,65 0,95 0,77 0,96 0,85 0,08 0,17 0,03 0,21-0,09 0,17 0,36 0,09 0,13 0,25 6 BKT 0,49 0,59 0,46 0,72 0,90 1,00 0,80 0,70 0,82 0,87 0,85 0,94 0,22 0,29 0,07 0,13-0,08 0,18 0,17 0,18 0,22 0,30 7 BBA 0,29 0,53 0,36 0,63 0,67 0,80 1,00 0,82 0,60 0,55 0,68 0,80 0,07 0,17-0,06 0,10 0,09-0,03 0,06 0,17 0,20 0,21 8 BKA 0,23 0,56 0,46 0,62 0,65 0,70 0,82 1,00 0,66 0,41 0,71 0,81-0,16-0,03-0,01 0,36 0,11 0,14 0,35 0,26 0,31 0,31 9 BBD 0,59 0,56 0,51 0,73 0,95 0,82 0,60 0,66 1,00 0,69 0,99 0,80 0,07 0,17 0,08 0,22-0,10 0,15 0,44 0,10 0,16 0,26 10 BKD 0,51 0,39 0,39 0,54 0,77 0,87 0,55 0,41 0,69 1,00 0,71 0,87 0,15 0,19 0,13 0,14-0,08 0,15 0,18 0,12 0,21 0,32 11 BB_TAJUK 0,58 0,58 0,51 0,75 0,96 0,85 0,68 0,71 0,99 0,71 1,00 0,84 0,07 0,18 0,07 0,21-0,08 0,13 0,41 0,11 0,17 0,26 12 BK_TAJUK 0,45 0,56 0,50 0,69 0,85 0,94 0,80 0,81 0,80 0,87 0,84 1,00 0,01 0,10 0,07 0,28 0,01 0,17 0,31 0,22 0,31 0,37 13 KLO -0,16 0,03-0,04-0,02 0,08 0,22 0,07-0,16 0,07 0,15 0,07 0,01 1,00 0,98-0,01-0,69-0,54 0,06-0,42-0,05-0,20-0,27 14 SK -0,14 0,13 0,03 0,07 0,17 0,29 0,17-0,03 0,17 0,19 0,18 0,10 0,98 1,00 0,02-0,66-0,51 0,06-0,40 0,03-0,17-0,21 15 KA 0,25 0,20-0,11 0,06 0,03 0,07-0,06-0,01 0,08 0,13 0,07 0,07-0,01 0,02 1,00 0,05 0,16 0,03-0,08 0,07-0,09 0,11 16 K_ABU 0,19 0,23 0,23 0,31 0,21 0,13 0,10 0,36 0,22 0,14 0,21 0,28-0,69-0,66 0,05 1,00 0,19 0,13 0,38 0,38 0,36 0,35 17 N 0,17 0,04-0,14 0,00-0,09-0,08 0,09 0,11-0,10-0,08-0,08 0,01-0,54-0,51 0,16 0,19 1,00-0,19-0,07-0,11-0,15 0,20 18 P -0,08 0,28 0,21 0,24 0,17 0,18-0,03 0,14 0,15 0,15 0,13 0,17 0,06 0,06 0,03 0,13-0,19 1,00 0,31 0,24 0,14-0,01 19 K 0,31 0,26 0,51 0,39 0,36 0,17 0,06 0,35 0,44 0,18 0,41 0,31-0,42-0,40-0,08 0,38-0,07 0,31 1,00-0,01 0,35 0,28 20 Ca 0,09 0,32 0,31 0,27 0,09 0,18 0,17 0,26 0,10 0,12 0,11 0,22-0,05 0,03 0,07 0,38-0,11 0,24-0,01 1,00 0,77 0,57 21 Mg 0,26 0,35 0,48 0,34 0,13 0,22 0,20 0,31 0,16 0,21 0,17 0,31-0,20-0,17-0,09 0,36-0,15 0,14 0,35 0,77 1,00 0,74 22 S 0,36 0,43 0,39 0,32 0,25 0,30 0,21 0,31 0,26 0,32 0,26 0,37-0,27-0,21 0,11 0,35 0,20-0,01 0,28 0,57 0,74 1,00 : Nilai korelasi antar parameter yang sama : Nilai korelasi 90 % : Nilai korelasi 80 % - 89 % : Nilai korelasi 60 % - 79 % 60

77 Lampiran 22 Nilai substitusi antara Hara mineral organik Nd terhadap hara mineral anorganik AB Mix pada parameter pengamatan tanaman selada (Lactucca sativa L.) No Parameter Pupuk Organik Cair Nd Vs Pupuk Anorganik Cair AB Mix (%) A1T1 A1T2 A2T1 A2T2 A3T1 A3T2 1 Tinggi Tanaman Waktu Panen -15,56-18,77-30, ,36 15,88 2 Tinggi Tanaman 1MST 19,31 3,96 0,39 18, Tinggi Tanaman 2 MST 13,58 9,94 1,19-7,43 32,53 7,31 4 Tinggi Tanaman 3MST 14,52-4,23-15,61-17,23 54,63 18,16 5 Tinggi Tanaman 4MST 0,84-10,94-21,72-11,57 54,44 9,49 6 Jumlah Daun Waktu Panen -2,94 21,49 45, ,43 13,59 7 Jumlah Daun 1MST 3, Jumlah Daun 2MST -0,08 0,08 24,22 6,18 18,08-2,75 9 Jumlah Daun 3MST 5,82 13,71 29,76 12,14 20,28-4,18 10 Jumlah Daun 4MST 1, ,8 20,02 35,74 3,19 11 Panjang Akar 33,26 10,91-12,33 6,97 63,97 45,1 12 Luas Daun 4,95 32,54 39,35 14,08 10,02 27,76 13 Bobot Basah Tajuk 4,57-4,49-27,23-5,07 1,73-20,09 14 Bobot Kering Tajuk -21,11-11,9-1,38-4,44 1,24-12,39 15 Bobot Basah Tanaman 11,12-1, ,11 19,27-29,47 16 Bobot Basah Akar 17,7 62,8 58,92 55,88 55,49 2,87 17 Bobot Kering Akar 20,78 37,75 61,63 44,44 25,2-16,12 18 Klorofil -24,06-39,38-29,67 37,42-26,93 14,18 19 Serat Kasar 19,92 12,47 21,96 12,47 33,09 18,15 20 Kadar Abu 0,02-0,54-2,93 0,11 0,3-11,25 21 N 9,14-0,34 10,06 23,31 80,63-26,27 22 P -17,09 4,99 77,42 24,68 85,71 4,74 23 K -20,2-11,47 28,91-0,39 24,32 43,59 24 Ca 2,43 50,52 93, ,61 46,05 25 Mg 22,79 2,73 62,24 51,07 47,64 69,52 26 S -4 2,56 90,48 66,67 96,67 70

78 62 Lampiran 23 Nilai rerata parameter untuk setiap jenis hara mineral NO Parameter Nilai Rerata Parameter Hara Mineral Organik Cair Nd Hara Mineral Anorganik Cair AB Mix 1 Tinggi Tanaman (cm) 13,67 14,82 2 Jumlah Daun 10,50 8,70 3 Luas Daun (mm) 1317,13 994,76 4 Panjang Akar (cm) 27,06 22,03 5 Bobot Basah Tanaman (g) 543,90 457,70 6 Bobot Kering Tanaman (g) 22,04 17,73 7 Bobot Basah Akar (g) 49,22 25,31 8 Bobot Kering Akar (g) 8,11 4,08 9 Bobot Basah Daun (g) 422,61 352,49 10 Bobot Kering Daun (g) 11,49 10,85 11 Bobot Basah Tajuk (g) 480,18 424,49 12 Bobot Kering Tajuk (g) 13,53 13,27 13 Kadar Air (%) 93,81 96,08 14 Klorofil (mg/l) 0,0024 0, Serat Kasar 9%) 16,58 14,31 16 Kadar Abu (%) 29,84 27,22 17 N (%) 0,88 0,75 18 P (%) 0,47 0,36 19 K (%) 0,78 0,57 20 Ca (%) 0,54 0,32 21 Mg (%) 0,84 0,53 22 S (%) 0,11 0,07 = Nilai rerata tertinggi

79 63 Lampiran 24 Kosa kata. Substitusi Hara Pupuk Anorganik Pupuk Organik Hidoroponik NFT EC ph Satuan EC MST Fertigasi Green House Inert Biodekstran AB Mix Supernatan Hiponex Hara makro Hara mikro : pergantian : zat atau makanan yang bernilai dan diperlukan oleh makhluk hidup untuk pertumbuhan : pupuk yang terbuat dari bahan kimia sintesis : pupuk yang terbuat bahan yang berasal dari makhluk hidup : cara bercocok tanam dengan menggunakan aliran air (nutrisi) sebagai media tanam dengan ketebalan 3mm; biasanya dikerjakan dalam kamar kaca : ukuran jumlah garam yang terlarut dalam larutan nutrisi hidroponik : pengukur kadar asam dan basa dari suatu larutan : milisiemen/cm (ms cm -1 ) / milimhos/cm : minggu setelah tanam : suatu sistem pemupukan dan pengairan yang diberikan secara bersamaan : rumah kaca : non aktif (media hidroponik yang tidak bereaksi dengan larutan hara) : komposisi bakteri aktif Nitrosomonas sp, Nitrobacter sp, Pseudomonas sp dan Bacillus sp yang mampu bekerja secara sinergis untuk menguraikan sampah, kotoran manusia dan kotoran hewan : pupuk cair anorganik : cairan yang mengapung dipermukaan : pupuk daun anorganik : unsur yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah banyak : unsur yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah sedikit

Tabel 2 Kebutuhan Unsur Hara Tanaman Selada NO NAMA UNSUR KONSENTRASI (ppm)

Tabel 2 Kebutuhan Unsur Hara Tanaman Selada NO NAMA UNSUR KONSENTRASI (ppm) 4 TINJAUAN PUSTAKA Selada (Lactucca sativa.l) Selada adalah tanaman setahun polimorf (memiliki banyak bentuk) khususnya daun. Daun selada berjumlah banyak dan berposisi duduk (sessile), tersusun berbentuk

Lebih terperinci

III. TATA CARA PENELITIAN

III. TATA CARA PENELITIAN III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Green House untuk melakukan fermentasi dari urin kelinci dan pengomposan azolla, dilanjutkan dengan pengaplikasian pada

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan mulai April sampai Juni 2010 di Vegetable Garden, Unit Lapangan Darmaga, University Farm, IPB Darmaga, Bogor. Lokasi penelitian berada pada ketinggian

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk),

II. TINJAUAN PUSTAKA. Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk), 8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Selada Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk), khususnya dalam hal bentuk daunnya. Tanaman selada cepat menghasilkan akar tunggang diikuti

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Parung Farm yang terletak di Jalan Raya Parung Nomor 546, Parung, Bogor, selama satu bulan mulai bulan April sampai dengan Mei 2011. Bahan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk),

II. TINJAUAN PUSTAKA. Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk), II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani Tanaman Selada Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk), khususnya dalam bentuk daunnya. Daun selada bentuknya bulat panjang, daun sering berjumlah

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2014 di Laboratorium

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2014 di Laboratorium III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2014 di Laboratorium Lapang Terpadu dan Laboraturium Rekayasa Sumber Daya Air dan Lahan (RSDAL)

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas 24 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan September 2012 sampai bulan Januari 2013. 3.2 Bahan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih pakcoy (deskripsi

MATERI DAN METODE. dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih pakcoy (deskripsi III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Sejarah lahan sebelumnya digunakan untuk budidaya padi konvensional, dilanjutkan dua musim

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House Fak. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh masyarakat. Selada digunakan sebagai sayuran pelengkap yang dimakan

BAB I PENDAHULUAN. oleh masyarakat. Selada digunakan sebagai sayuran pelengkap yang dimakan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Selada (Lactuca sativa L) merupakan sayuran daun yang cukup digemari oleh masyarakat. Selada digunakan sebagai sayuran pelengkap yang dimakan mentah dan dijadikan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret 2010 Juli 2011. Pengambilan sampel urin kambing Kacang dilakukan selama bulan Oktober Desember 2010 dengan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. aquades, larutan hara hidroponik standart AB Mix (KNO 3, Ca(NO 3 ) 2,K 2 SO 4,

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. aquades, larutan hara hidroponik standart AB Mix (KNO 3, Ca(NO 3 ) 2,K 2 SO 4, BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kompleks Citra Arkadia Jl. Bunga Wijaya Padang Bulan, Medan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2015 sampai dengan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN BAHAN DAN METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2011 di lahan percobaan Fakulas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Bahan dan Alat Penelitian Adapun

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Penelitian 2 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Penelitian Pada saat penelitian berlangsung suhu dan RH di dalam Screen house cukup fluktiatif yaitu bersuhu 26-38 o C dan berrh 79 95% pada pagi hari pukul 7.

Lebih terperinci

RESPOMS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAAWI (Brassica Juncea. L) TERHADAP INTERVAL PENYIRAMAN DAN KONSENTRASILARUTAN PUPUK NPK SECARA HIDROPONIK

RESPOMS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAAWI (Brassica Juncea. L) TERHADAP INTERVAL PENYIRAMAN DAN KONSENTRASILARUTAN PUPUK NPK SECARA HIDROPONIK 864. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.1, No.3, Juni 2013 ISSN No. 2337-6597 RESPOMS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAAWI (Brassica Juncea. L) TERHADAP INTERVAL PENYIRAMAN DAN KONSENTRASILARUTAN PUPUK NPK SECARA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tingkat konsumsi sayuran rakyat Indonesia saat ini masih rendah, hanya 35

I. PENDAHULUAN. Tingkat konsumsi sayuran rakyat Indonesia saat ini masih rendah, hanya 35 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tingkat konsumsi sayuran rakyat Indonesia saat ini masih rendah, hanya 35 kilogram sayuran per kapita per tahun. Angka itu jauh lebih rendah dari angka konsumsi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN ROMMY ANDHIKA LAKSONO

PENDAHULUAN ROMMY ANDHIKA LAKSONO PENDAHULUAN Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan tentang cara

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan tentang cara II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Hidroponik Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan tentang cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam (soilless culture). Media tanam

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Jl. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan pada

III. MATERI DAN METODE. Jl. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan pada III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jl. HR.

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Penelitian dilakukan pada

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tanah Awal Seperti umumnya tanah-tanah bertekstur pasir, lahan bekas tambang pasir besi memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Hasil analisis kimia pada tahap

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Budidaya Bayam Secara Hidroponik

PEMBAHASAN. Budidaya Bayam Secara Hidroponik 38 PEMBAHASAN Budidaya Bayam Secara Hidroponik Budidaya bayam secara hidroponik yang dilakukan Kebun Parung dibedakan menjadi dua tahap, yaitu penyemaian dan pembesaran bayam. Sistem hidroponik yang digunakan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE Tempat dan Waktu

MATERI DAN METODE Tempat dan Waktu III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jalan H.R.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada periode Juli 2015 sampai dengan Januari 2016, bertempat di Screen House B, Rumah Kaca B, dan Laboratorium Ekologi

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian 15 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu Lembang Balai Penelitian Tanaman Sayuran 1250 m dpl mulai Juni 2011 sampai dengan Agustus 2012. Lembang terletak

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Pelaksanaan Eksperimen Pelaksanaan eksperimen adalah proses pembuatan paving block yang dilakukan langsung di CV. Riau Jaya Paving. Paving

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. apartemen sekalipun. Hidroponik dapat diusahakan sepanjang tahun tanpa

PENDAHULUAN. apartemen sekalipun. Hidroponik dapat diusahakan sepanjang tahun tanpa PENDAHULUAN Latar Belakang Hidroponik merupakan pertanian masa depan sebab hidroponik dapat diusahakan di berbagai tempat, baik di desa, di kota di lahan terbuka, atau di atas apartemen sekalipun. Hidroponik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan pupuk di Indonesia terus meningkat sesuai dengan pertambahan luas areal pertanian, pertambahan penduduk, serta makin beragamnya penggunaan pupuk sebagai usaha

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Alat dan Bahan Peneltian

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Alat dan Bahan Peneltian 18 III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di green house Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Mei 2017 sampai Juli 2017. B. Alat dan Bahan Peneltian Peralatan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah diameter batang setinggi dada ( DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang (TBC), dan diameter tajuk.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. menerima nutrisi yang seimbang. Tanaman tersebut lebih sehat karena menghabiskan

TINJAUAN PUSTAKA. menerima nutrisi yang seimbang. Tanaman tersebut lebih sehat karena menghabiskan TINJAUAN PUSTAKA Hidroponik Tanaman Sayuran Kultur hidroponik adalah metode penanaman tanaman tanpa menggunakan media tumbuh dari tanah. Secara harafiah hidroponik berarti penanaman dalam air yang mengandung

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu penelitian

METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu penelitian 13 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu penelitian Penelitian lapang dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Febuari 2016 di Screen house Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarata.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tomat

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tomat TINJAUAN PUSTAKA Botani Tomat Tanaman tomat diduga berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan terutama Peru dan Ekuador, kemudian menyebar ke Italia, Jerman dan negaranegara Eropa lainnya. Berdasarkan

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III MATERI DAN METODE 31 Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Lahan Pertanian Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl HR Subrantas KM15 Panam,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian

III. METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret 2015 sampai bulan Januari 2016 bertempat di Screen House B, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB, Cikarawang, Bogor. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Oktober 2010 sampai dengan Februari 2011.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental menggunakan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Percobaan ini terdiri dari 6 perlakuan, dan masing-masing

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak II. TINJAUAN PUSTAKA A. Limbah Cair Industri Tempe Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses industri maupun domestik (rumah tangga), yang lebih di kenal sebagai sampah, yang kehadiranya

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Metode Pembuatan Petak Percobaan Penimbangan Dolomit Penanaman

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Metode Pembuatan Petak Percobaan Penimbangan Dolomit Penanaman MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan mulai akhir bulan Desember 2011-Mei 2012. Penanaman hijauan bertempat di kebun MT. Farm, Desa Tegal Waru. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Agronomi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan

III. MATERI DAN METODE. Agronomi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau,

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Agustus sampai November 2014 di Lahan Pertanian Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 III. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia dan Fisik Latosol Darmaga Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga yang digunakan dalam percobaan ini disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Sifat Kimia

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Agustus 2013 sampai Oktober

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan bulan Maret 2010 sampai dengan bulan Maret 2011. Pengambilan sampel urin kambing Etawah dilakukan pada bulan Maret sampai

Lebih terperinci

I.MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013 hingga Februari. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

I.MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013 hingga Februari. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. I.MATERI DAN METODE 1.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013 hingga Februari 2014. Penelitian dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarahnya, penelitian hidroponik dikenal melalui penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarahnya, penelitian hidroponik dikenal melalui penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam sejarahnya, penelitian hidroponik dikenal melalui penelitian Woodward, 1699 yang menggunakan hidroponik untuk studi pertumbuhan tanaman, namun penelitian De Saussure,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Unit Lapangan Pasir Sarongge, University Farm IPB yang memiliki ketinggian 1 200 m dpl. Berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Meteorologi

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung, yaitu penyemaian benih dan penanaman bawang merah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. hidroponik yang ada yaitu sistem air mengalir (Nutrient Film Technique). Konsep

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. hidroponik yang ada yaitu sistem air mengalir (Nutrient Film Technique). Konsep I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selada (Lactuca sativa L.) merupakan tanaman yang dapat tumbuh di daerah dingin maupun tropis. Kebutuhan selada meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan jumlah

Lebih terperinci

Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007)

Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007) Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007) Unsur Hara Lambang Bentuk tersedia Diperoleh dari udara dan air Hidrogen H H 2 O 5 Karbon C CO 2 45 Oksigen O O 2

Lebih terperinci

RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAWI PAKHCOY (Brassica rapa. L) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK KASCING SKRIPSI OLEH:

RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAWI PAKHCOY (Brassica rapa. L) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK KASCING SKRIPSI OLEH: RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAWI PAKHCOY (Brassica rapa. L) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK KASCING SKRIPSI OLEH: BERLIAN LIMBONG 070307037 BDP PEMULIAAN TANAMAN Hasil Penelitian Sebagai Salah Satu

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Mei

III. MATERI DAN METODE. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Mei III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di

Lebih terperinci

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini akan dilakukan bulan Juli sampai Agustus 2015 di Green House dan

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini akan dilakukan bulan Juli sampai Agustus 2015 di Green House dan III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan bulan Juli sampai Agustus 2015 di Green House dan Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian UMY. B. Bahan dan Alat Penelitian

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio: II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio: Spermatophyta; Sub divisio: Angiospermae; Kelas : Dikotyledonae;

Lebih terperinci

Bab II MINERAL NUTRISI HIDROPONNIK NFT UNTUK TUMBUHAN TOMAT

Bab II MINERAL NUTRISI HIDROPONNIK NFT UNTUK TUMBUHAN TOMAT Bab II MINERAL NUTRISI HIDROPONNIK NFT UNTUK TUMBUHAN TOMAT II.1 Sistem Hidroponik Hidroponik adalah cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Di kalangan umum istilah hidroponik

Lebih terperinci

SUBSTITUSI HARA MINERAL ORGANIK TERHADAP INORGANIK UNTUK PRODUKSI TANAMAN PAKCHOY (Brassica rapa L.) SECARA HIDROPONIK D E R M A W A T I

SUBSTITUSI HARA MINERAL ORGANIK TERHADAP INORGANIK UNTUK PRODUKSI TANAMAN PAKCHOY (Brassica rapa L.) SECARA HIDROPONIK D E R M A W A T I SUBSTITUSI HARA MINERAL ORGANIK TERHADAP INORGANIK UNTUK PRODUKSI TANAMAN PAKCHOY (Brassica rapa L.) SECARA HIDROPONIK D E R M A W A T I SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 SUBSTITUSI HARA

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. A 2 : 120 g/tanaman. A 3 : 180 g/tanaman

MATERI DAN METODE. A 2 : 120 g/tanaman. A 3 : 180 g/tanaman III. MATERI DAN METODE 1.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jl. HR.

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Tuan dengan ketinggian 25 mdpl, topografi datar dan jenis tanah alluvial.

III. BAHAN DAN METODE. Tuan dengan ketinggian 25 mdpl, topografi datar dan jenis tanah alluvial. III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut Sei

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan studi populasi tanaman terhadap produktivitas dilakukan pada dua kali musim tanam, karena keterbatasan lahan. Pada musim pertama dilakukan penanaman bayam

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pengaruh konsentrasi dan lama perendaman kolkhisin terhadap tinggi tanaman,

BAB III METODE PENELITIAN. pengaruh konsentrasi dan lama perendaman kolkhisin terhadap tinggi tanaman, BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan lama perendaman kolkhisin terhadap tinggi tanaman, jumlah

Lebih terperinci

PENGARUH NAUNGAN DAN PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L) DENGAN TEKNOLOGI HIDROPONIK SISTEM TERAPUNG

PENGARUH NAUNGAN DAN PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L) DENGAN TEKNOLOGI HIDROPONIK SISTEM TERAPUNG PENGARUH NAUNGAN DAN PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L) DENGAN TEKNOLOGI HIDROPONIK SISTEM TERAPUNG Oleh : RULLY PAISHAL A34301051 PROGRAM STUDI HORTIKULTURA

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Tanah Awal Data hasil analisis tanah awal disajikan pada Tabel Lampiran 2. Berdasarkan Kriteria Penilaian Sifat Kimia dan Fisika Tanah PPT (1983) yang disajikan

Lebih terperinci

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh 45 4.2 Pembahasan Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman dan melakukan pemupukan dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini bertempat dilahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jl. H. R. Soebrantas KM. 15

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Darmaga, Bogor. Penelitian dilakukan mulai dari bulan Oktober 2010 sampai Februari 2011. Analisis tanah dan hara

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan di desa Cengkeh Turi dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember sampai

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 32 meter di atas permukaan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 32 meter di atas permukaan 13 diinduksi toleransi stres dan perlindungan terhadap kerusakan oksidatif karena berbagai tekanan (Sadak dan Mona, 2014). BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan

Lebih terperinci

METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

METODE. Lokasi dan Waktu. Materi METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2005 sampai dengan Januari 2006. Penanaman dan pemeliharaan bertempat di rumah kaca Laboratorium Lapang Agrostologi, Departemen Ilmu

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE 10 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor dan Rumah Kaca Instalasi

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 yang

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 yang I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 yang bertempat di Lapangan (Green House) dan Laboratorium Tanah Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan September 2015 di

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan September 2015 di 1 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan September 2015 di Greenhouse dan Ruang Laboratorium Rekayasa Sumber Daya Air dan Lahan

Lebih terperinci

I. BAHAN DAN METODE. Soebrantas KM. 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan

I. BAHAN DAN METODE. Soebrantas KM. 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan I. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini bertempat di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jl. H. R. Soebrantas KM. 15 Panam,

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di laboratorium pengolahan limbah Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor dan di Laboratorium

Lebih terperinci

Pengaruh Penambahan Zeolit pada Media Tumbuh Tanaman pada Tanaman Melon dan Semangka dalam Sistem Hidroponik

Pengaruh Penambahan Zeolit pada Media Tumbuh Tanaman pada Tanaman Melon dan Semangka dalam Sistem Hidroponik Pengaruh Penambahan Zeolit pada Media Tumbuh Tanaman pada Tanaman Melon dan Semangka dalam Sistem Hidroponik M. Bagus Pangestu 1, Suwardi 2, dan Widiatmaka 2. 1 Alumni Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 hingga bulan Mei 2010 di rumah kaca Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Kampus Dramaga, Bogor dan Balai Penelitian Tanaman

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan dilahan percobaan Fakultas Pertanian dan

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan dilahan percobaan Fakultas Pertanian dan III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan dilahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau selama 4 bulan di mulai dari

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Jl. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan pada

MATERI DAN METODE. Jl. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan pada III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jl. HR.

Lebih terperinci

PEMANFAATAN BERULANG LARUTAN NUTRISI PADA BUDIDAYA SELADA (Lactuca Sativa L.) DENGAN TEKNOLOGI HIDROPONIK SISTEM TERAPUNG (THST)

PEMANFAATAN BERULANG LARUTAN NUTRISI PADA BUDIDAYA SELADA (Lactuca Sativa L.) DENGAN TEKNOLOGI HIDROPONIK SISTEM TERAPUNG (THST) PEMANFAATAN BERULANG LARUTAN NUTRISI PADA BUDIDAYA SELADA (Lactuca Sativa L.) DENGAN TEKNOLOGI HIDROPONIK SISTEM TERAPUNG (THST) Re-use of Nutrient Solution for Lettuce Production with Deep Pool Growing

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Selada (Lactuca sativa L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Selada (Lactuca sativa L.) TINJAUAN PUSTAKA Botani Selada (Lactuca sativa L.) Selada merupakan sayuran yang termasuk ke dalam famili Compositae dengan nama latin Lactuca sativa L. Asal tanaman ini diperkirakan dari dataran Mediterania

Lebih terperinci

Percobaan Rancangan Petak Terbagi dalam RAKL

Percobaan Rancangan Petak Terbagi dalam RAKL Percobaan Rancangan Petak Terbagi dalam RAKL Kuliah 12 Perancangan Percobaan (STK 222) [email protected] Review Kapan rancangan split-plot digunakan? Apakah perbedaan split-plot dibandingkan dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang

TINJAUAN PUSTAKA. Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang 17 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang cukup lengkap untuk mempertahankan kesehatan tubuh. Komposisi zat-zat makanan yang terkandung dalam

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2014 di Greenhouse

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2014 di Greenhouse III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2014 di Greenhouse Lapangan Terpadu Universitas Lampung dan Laboratorium Rekayasa Sumber

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. laut, dengan topografi datar. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2015 sampai

III. BAHAN DAN METODE. laut, dengan topografi datar. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2015 sampai 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian III. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut

Lebih terperinci

RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI MAIN NURSERY TERHADAP KOMPOSISI MEDIA TANAM DAN PEMBERIAN PUPUK FOSFAT

RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI MAIN NURSERY TERHADAP KOMPOSISI MEDIA TANAM DAN PEMBERIAN PUPUK FOSFAT RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI MAIN NURSERY TERHADAP KOMPOSISI MEDIA TANAM DAN PEMBERIAN PUPUK FOSFAT SKRIPSI OLEH: VICTOR KOMALA 060301043 BDP-AGRONOMI DEPARTEMEN BUDIDAYA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. secara faktorial yang terdiri atas dua faktor dan tiga kali ulangan.

BAB III METODE PENELITIAN. secara faktorial yang terdiri atas dua faktor dan tiga kali ulangan. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial yang terdiri atas dua faktor dan tiga kali ulangan. Faktor I: Dosis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dikenal baik oleh masyarakat Indonesia, tetapi belum meluas pembudidayaannya.

BAB I PENDAHULUAN. dikenal baik oleh masyarakat Indonesia, tetapi belum meluas pembudidayaannya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tumbuhan selada (Lactuca sativa L.) merupakan sayuran yang sudah lama dikenal baik oleh masyarakat Indonesia, tetapi belum meluas pembudidayaannya. Salah satu alasan

Lebih terperinci

BAHAN METODE PENELITIAN

BAHAN METODE PENELITIAN BAHAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dilaksanakan pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Produksi dan Kandungan Nutrien Fodder Jagung

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Produksi dan Kandungan Nutrien Fodder Jagung 11 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dengan judul Produksi dan Kandungan Nutrien Fodder Jagung Hidroponik dengan Media Perendaman dan Penggunaan Dosis Pupuk yang Berbeda sebagai Pakan Alternatif Ruminansia

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga dan komposisi kimia pupuk organik yang

Lebih terperinci

Metode Penelitian Kerangka penelitian penelitian secara bagan disajikan dalam Gambar 4. Penelitian ini dipilah menjadi tiga tahapan kerja, yaitu:

Metode Penelitian Kerangka penelitian penelitian secara bagan disajikan dalam Gambar 4. Penelitian ini dipilah menjadi tiga tahapan kerja, yaitu: 15 METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di lapang pada bulan Februari hingga Desember 2006 di Desa Senyawan, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Gambar 3). Analisis

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Metode Percobaan 12 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan pada bulan Juni 2011 sampai dengan bulan September 2011 di rumah kaca kebun percobaan Cikabayan, IPB Darmaga Bogor. Analisis tanah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Tanah Tanah adalah kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 10 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman Jambu Biji Merah Nama ilmiah jambu biji adalah Psidium guajava. Psidium berasal dari bahasa yunani yaitu psidium yang berarti delima, guajava

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Gambar 2. Bibit Caladium asal Kultur Jaringan

BAHAN DAN METODE. Gambar 2. Bibit Caladium asal Kultur Jaringan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilakukan di MJ Flora, desa JambuLuwuk, Bogor dengan curah hujan 3000 mm/tahun. Lokasi penelitian berada pada ketinggian tempat kurang lebih 700 meter di atas

Lebih terperinci

2 Penggunaan Pestisida kimia sintetis adalah salah satu faktor menurunya kesuburan tanah, selain itu berkurangnya lahan pertanian dalam produksi akiba

2 Penggunaan Pestisida kimia sintetis adalah salah satu faktor menurunya kesuburan tanah, selain itu berkurangnya lahan pertanian dalam produksi akiba BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mentimun adalah salah satu jenis sayuran yang digemari masyarakat. Salah satu jenis mentimun yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dicari ialah mentimun Jepang

Lebih terperinci