BAB 5 HASIL PENELITIAN
|
|
|
- Ridwan Kusuma
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1. Hasil Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data penelitian dilakukan di Fakultas Kedokteran Gigi, mulai tanggal 22 September 2008 sampai dengan 23 Oktober Jumlah subjek penelitian ini adalah 40 orang, tetapi satu subjek keluar dari penelitian, sehingga menjadi 39 subjek penelitian yang masing-masing mengalami tiga perlakuan, yaitu perlakuan pertama (berkumur dengan air putih), perlakuan kedua (berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100%), dan perlakuan ketiga (berkumur dengan larutan teh hijau seduh 50%). Antar perlakuan satu dengan yang lainnya diberi rentang waktu + empat hari. Dari tiap perlakuan, diperoleh 36 data penelitian per subjeknya, yang diperoleh dari enam gigi. Tiap gigi dibagi menjadi enam permukaan, yang terdiri dari permukaan distobukal/ distolabial, bukal/ labial, mesiobukal/ mesiolabial, distopalatal/ distolingual, palatal/ lingual, mesiopalatal/ mesiolingual. Di setiap permukaan diperiksa indeks plaknya dan dicatat hasil skornya pada lembar skor plak yang terlampir (Lampiran 3) Hasil Sebaran Data Penelitian Dari Gambar 5.1. sampai dengan 5.6., diketahui sebaran data skor plak pada perlakuan pertama, kedua, dan ketiga di setiap permukaan gigi berdasarkan frekuensinya. Data yang dihasilkan merupakan data ordinal yang dibagi menjadi empat kategori, yaitu sangat baik (0-0,59), baik (0,6-5,99), sedang (6-11,99), dan buruk (12-18). Setiap perlakuan diberikan kepada ke-39 subjek penelitian, sehingga data yang didapatkan dapat diperbandingkan antar kategori skor plak. Perbandingan ini juga bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak subjek yang mengalami perubahan dari satu kategori ke kategori lainnya, pada setiap permukaan gigi indeks. Fakultas Kedokteran Gigi 32
2 33 Jumlah Populasi air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan sangat baik baik sedang buruk Gambar 5.1. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan distobukal/distolabial Pada permukaan distobukal/distolabial, dapat dilihat dalam gambar 5.1. bahwa larutan teh hijau seduh 100% mempunyai kategori skor plak baik yang tertinggi. Kategori skor plak baik yang tertinggi kedua setelah larutan teh hijau seduh 100% ditunjukkan oleh larutan teh hijau seduh 50%, kemudian diikuti oleh air putih Jumlah Populasi sangat baik baik sedang buruk 0 air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan Gambar 5.2. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan bukal/labial Fakultas Kedokteran Gigi
3 34 Untuk permukaan bukal/labial, dalam Gambar 5.2. terlihat bahwa dari 39 subjek penelitian, sebagian besar subjek memiliki kategori skor plak baik. Namun paling tinggi terdapat pada perlakuan berkumur dengan air putih, diikuti oleh larutan teh hijau seduh 50%, lalu 100%. Akan tetapi bila dilihat pada skor plak sangat baik, nilai tertinggi terdapat pada perlakuan berkumur dengan teh 100%, diikuti teh 50%, lalu air putih. Jumlah Populasi air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan sangat baik baik sedang buruk Gambar 5.3. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan mesiobukal/mesiolabial Gambar 5.3. menunjukkan bahwa pada permukaan mesiobukal/mesiolingual, dari 39 subjek pada setiap perlakuan, sebagian besar subjek mempunyai kategori skor plak baik, dengan jumlah populasi tertinggi terdapat pada perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100%, diikuti oleh larutan teh hijau seduh 50%, dan air putih. Fakultas Kedokteran Gigi
4 35 Jumlah Populasi air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan sangat baik baik sedang buruk Gambar 5.4. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan distopalatal/distolingual Gambar 5.4. memperlihatkan bahwa pada permukaan distopalatal/distolingual, jumlah populasi tertinggi dengan kategori skor plak baik, adalah dari perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 50%, 100%, dan kemudian air putih. 40 Jumlah Populasi air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan sangat baik baik sedang buruk Gambar 5.5. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan palatal/lingual Untuk permukaan palatal/lingual, dapat dilihat pada Gambar 5.5. bahwa kategori skor plak baik, jumlah populasi tertinggi terdapat pada Fakultas Kedokteran Gigi
5 36 perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100%, diikuti oleh larutan teh hijau seduh 50%, dan kemudian oleh air putih Jumlah Populasi sangat baik baik sedang buruk 0 air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan Gambar 5.6. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan mesiopalatal/mesiolingual Dari Gambar 5.6. terlihat bahwa pada umumnya setiap perlakuan mempunyai jumlah populasi tertinggi pada kategori baik. Jumlah populasi pada kategori baik yang tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100%, diikuti oleh perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 50%, dan yang terakhir oleh air putih Analisis Penelitian Tabel 5.1. Uji Friedman perbandingan skor plak antara air putih, Larutan teh hijau seduh 100%, dan 50% Permukaan Distobukal/distolabial Bukal/labial Mesiobukal/mesiolabial Distopalatal/distolingual Palatal/lingual Mesiopalatal/mesiolingual Berbeda bermakna (p<0,05) p 0,004* 0,084 0,197 0,006* 0,001* 0,000* Uji Friedman pada Tabel 5.1. memperlihatkan adanya paling sedikit dua perlakuan yang berbeda bermakna antara perlakuan air putih, Fakultas Kedokteran Gigi
6 37 larutan teh hijau seduh 100%, dan 50% pada permukaan distobukal/ distolabial, bukal/ labial, mesiobukal/ mesiolabial, distopalatal/ distolingual, palatal/ lingual, dan mesiopalatal/ mesiolingual. Akan tetapi dari uji Friedman ini tidak dapat diketahui data skor plak perlakuan mana pada tiap permukaan tersebut yang menyebabkan adanya perbedaan bermakna. Oleh karena itu, analisa data ini dilanjutkan dengan uji post hoc Wilcoxon. Tabel 5.2. Uji Wilcoxon perbandingan skor plak antara air putih, larutan teh hijau seduh 100%, dan 50% Perlakuan Nilai p Pada Tiap Permukaan DB/DL B/L MB/ML DP/DLi P/Li MP/MLi Air putih dan teh 50% Air putih dan teh 100% teh 50% dan 0,011* 0,007* 0,655 0,090 0,046* 0,763 0,705 0,046* 0,180 0,002* 0,197 0,034* 0,003* 0,005* 0,480 0,001* 0,000* 0, % Keterangan : * Berbeda bermakna (p<0,05) DB/DL = distobukal/distolabial B/L = bukal/labial MB/ML = mesiobukal/mesiolingual DP/Dli = distopalatal/distolingual P/Li = palatal/lingual MP/MLi = mesiopalatal/mesiolingual Berdasarkan Tabel 5.2. dapat diketahui bahwa pada permukaan distobukal/ distolingual, nilai p yang paling kecil adalah antara air putih dan larutan teh hijau seduh 100% (p=0,007). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan antara air putih dan larutan teh hijau seduh 100% adalah yang paling berbeda bermakna. Pada permukaan bukal/ labial, perlakuan antara air putih dan larutan teh hijau seduh 100% mempunyai perbedaan yang bermakna dengan nilai p 0,046. Pada permukaan mesiobukal/mesiolabial, terlihat hasil yang sama seperti pada permukaan bukal/lingual, yaitu perbedaan bermakna terdapat pada perlakuan antara berkumur air putih dan larutan teh hijau seduh konsentrasi 100%, yaitu dengan p=0,046. Fakultas Kedokteran Gigi
7 38 Perlakuan berkumur dengan air putih dan larutan teh hijau seduh 50% memiliki perbedaan lebih bermakna pada permukaan distopalatal/distolingual ditunjukkan dengan nilai p yang terkecil (p=0,002) dibandingkan dengan antara larutan teh hijau seduh 100%. Pada permukaan palatal/lingual, perbedaan yang paling bermakna ditunjukkan oleh nilai p terkecil (p=0,003) yang terdapat pada perlakuan berkumur dengan air putih dan larutan teh hijau seduh 50%. Hasil yang bermakna juga ditunjukkan oleh antara berkumur dengan air putih dan larutan teh hijau seduh 100% (p=0,005). Dari Tabel 5.2. juga dapat diketahui bahwa pada permukaan mesiopalatal/mesiolingual, perbedaan paling bermakna terdapat pada perlakuan berkumur dengan air putih dan larutan teh hijau seduh 100% (p=0,000), berkumur dengan air putih dan larutan teh hijau seduh 50% (p=0,001). Berarti keduanya sangat efektif. Penjelasan lebih lanjut mengenai Tabel 5.2. Teh 100% Teh 50% p=0,655 p=0,011 p=0,007 Air putih Gambar 5.7. Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan distobukal/ distolabial. Dari Gambar 5.7. diketahui bahwa larutan teh hijau seduh 100% adalah yang paling efektif kemudian diikuti dengan larutan teh hijau seduh 50% untuk menghambat pembentukan plak gigi di permukaan distobukal/distolabial dibandingkan berkumur dengan air putih. Fakultas Kedokteran Gigi
8 39 Teh 100% Teh 50% p=0,763 p=0,090 p=0,046 Air putih Gambar 5.8. Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan bukal/ labial. Dari Gambar 5.8. dapat dilihat bahwa hanya berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100% yang dapat membantu mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan bukal/labial, walaupun hasil ini hampir tidak bermakna. Teh 100% p=0,180 Teh 50% Air putih p=0,705 p=0,046 Gambar 5.9. Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan mesiobukal/ mesiolabial. Dari Gambar 5.9. dapat dilihat bahwa pada permukaan mesiobukal/mesiolabial, larutan teh hijau seduh 100% lebih efektif dalam menghambat pembentukan plak gigi dibandingkan dengan air putih. Fakultas Kedokteran Gigi
9 40 Teh 100% Teh 50% Air putih p=0,034 p=0,002 p=0,197 Gambar Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan distopalatal/ distolingual. Dari Gambar didapatkan bahwa pada permukaan distopalatal/distolingual, jika diperbandingkan antara kedua perlakuan dengan larutan teh hijau seduh, efektif dalam menghambat pembentukan plak gigi. Namun untuk permukaan ini, hanya larutan teh hijau seduh 50% sangat efektif jika dibandingkan terhadap perlakuan dengan air putih Teh 100% Teh 50% p=0,480 p=0,003 p=0,005 Air putih Gambar Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan palatal/ lingual. Pada Gambar konsentrasi yang paling berpengaruh dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan palatal/lingual adalah konsentrasi larutan teh hijau seduh 100% dan 50% jika dibandingkan dengan air putih. Fakultas Kedokteran Gigi
10 41 Teh 100% Teh 50% p=0,317 p=0,001 p=0,000 Air putih Gambar Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan mesiopalatal/ mesiolingual. Dari Gambar jika diperbandingkan dengan air putih, terlihat bahwa pada permukaan mesiopalatal/mesiolingual, konsentrasi larutan teh hijau seduh 100% mempunyai nilai p yang paling berbeda (p=0,000), diikuti dengan konsentrasi larutan teh hijau seduh 50% (p=0,001). Fakultas Kedokteran Gigi
11 BAB 6 PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, efektivitas berkumur dengan larutan teh hijau seduh dalam mengurangi pembentukan plak gigi secara klinis diamati dengan menggunakan larutan teh hijau seduh konsentrasi 100% dan 50% serta berkumur dengan air putih sebagai kontrolnya. Sebagai tolok ukurnya digunakan indeks plak untuk mengukur skor plak masing-masing perlakuan pada setiap subjek penelitian. Indeks plak yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks plak Loe and Silness yang dimodifikasi. Alat ukur ini telah diuji validitas dan reliabilitasnya pada tiga orang subjek sebelum rangkaian penelitian dilakukan. Dari hasil uji coba tersebut, alat ukur ini menunjukkan validitasnya dengan terdapatnya perbedaan skor plak gigi awal dan akhir dalam waktu kurang lebih lima jam dari ketiga subjek tersebut. Dari data yang didapatkan, terlihat adanya perbedaan skor plak antara perlakuan dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada enam permukaan gigi. Kemudian hasil antara setiap perlakuan pada setiap permukaan gigi dibandingkan satu sama lain untuk dianalisis mana yang paling efektif dalam mengurangi pembentukan plak gigi. Dari subjek 40 orang, hanya satu orang yang tidak dapat memenuhi seluruh proses penelitian ini. Hal ini disebabkan karena subjek tersebut kurang kooperatif. Namun, hasil yang didapat masih sangat akurat. Berdasarkan data dari gambar 5.1. sampai dengan 5.6., dapat diketahui bahwa teh hijau dapat mengurangi pembentukan plak gigi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakuakan oleh Muin dan Munandar bahwa dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil adanya perbedaan bermakna terhadap selisih indeks plak gigi (p=0,0001) antara kelompok kontrol (yang tidak diberi teh hijau) dengan kelompok perlakuan (yang diberi teh hijau). 5 Namun, dari data tersebut belum dapat diketahui larutan teh hijau seduh konsentrasi berapakah yang lebih efektif dalam mengurangi pembentukan plak gigi. Oleh karena itu, dilakukan uji hipotesis menggunakan uji Friedman. Uji Friedman ini hanya untuk mengetahui kebermakaan atau ketidakbermaknaan hubungan antara berbagai perlakuan. Uji ini perlu dilanjutkan dengan uji post hoc Fakultas Kedokteran Gigi 42
12 43 berupa uji Wilcoxon. Hasil uji Wilcoxon menggambarkan dengan lebih jelas berkumur dengan larutan teh hijau konsentrasi berapa yang lebih efektif dalam menurunkan skor plak atau mengurangi jumlah plak gigi. Dari gambar dapat disimpulkan bahwa larutan teh hijau seduh lebih efektif daripada air putih dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada semua permukaan. Hal ini didukung oleh penelitian Senji Sakanaka (1994) 41 yang menyatakan bahwa ekstrak teh hijau dapat menghambat aktifitas biologi dari S. mutans dan S. Sobrinus. Beberapa polifenol di dalam ekstrak teh mencegah aktifitas biologis dari streptokokus kariogenik, termasuk pertumbuhan dan pengikatan dengan sintesa glukan yang tak larut. 24 Bakteri ini merupakan spesies yang mendominasi komposisi bakteri dalam plak gigi dan mempunyai kemampuan membentuk plak dari sukrosa. 36,33 Glukan atau dekstran ekstraselular yang disintesis dari sukrosa oleh bakteri streptokokus akan membentuk suatu matriks di dalam plak dimana bakteri dapat melekat. 42 Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan pada pembahasan sebelumnya, didapatkan hasil bahwa secara umum berkumur dengan larutan teh hijau seduh konsentrasi 100% memberikan nilai yang paling tinggi pada skor plak kategori sangat baik, maupun kategori baik. Sedangkan, berkumur dengan larutan teh hijau seduh 50% memberikan nilai skor plak baik tertinggi hanya pada permukaan distopalatal/distolingual. Pada perlakuan kontrol yakni berkumur dengan air putih justru memberikan nilai skor plak baik tertinggi pada permukaan bukal/labial. Akan tetapi, jika dilihat lebih lanjut pada kategori skor plak sangat baik, nilai sangat baik tertinggi ada pada perlakuan berkumur larutan teh hijau seduh 100% pada permukaan bukal/labial. Maka, dapat disimpulkan bahwa berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100% maupun 50% efektif dalam menghambat pembentukan plak gigi dengan keefektifan yang lebih tinggi pada perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100%. Walaupun berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100% memberikan nilai tertinggi pada kategori baik, tetapi perbedaan keefektivan antara berkumur larutan teh hijau seduh 100%, dan 50% tidak terlalu bermakna. Di dalam penelitian ini digunakan dua gram teh hijau kering yang diseduh dengan air sebanyak 150ml. Menurut Sakanaka (1982) 44, kandungan Fakultas Kedokteran Gigi
13 44 senyawa katekin yang paling berperan dalam menghambat aktivitas enzim glukosiltransferase bakteri adalah Epicatechin gallate (ECg) dan Epigallocatechin gallate (EGCg). Berdasarkan penelitian Bokuchava dan Skobeleva (1969) (disitasi dari Syah Andi NA, ) diketahui bahwa kadar katekin dalam ECg sebesar 3-6% berat kering teh. Sedangkan kadar katekin dalam EGCg sebesar 7-13% berat kering teh. Dari perhitungan, didapatkan kadar katekin ECg dalam larutan teh hijau konsentrasi 100% dalam penelitian ini adalah 0,4-0,8 mg/ml. Sedangkan kadar katekin EGCg dalam larutan teh hijau konsentrasi 100% adalah 0,933-1,733 mg/ml. Penelitian Sakanaka (1990) 41 juga menyatakan bahwa konsentrasi hambat minimum (KHM) katekin yang diperlukan untuk menghambat pembentukan glukan dengan bantuan enzim glukosiltransferase adalah 0,025-0,030 mg/ml. Sedangkan, konsentrasi atau kadar katekin yang terkandung di dalam larutan teh hijau seduh 100% kira-kira 1,3-2,533 mg/ml. Nilai konsentrasi ini jauh lebih besar dari pada KHM katekin. Dengan demikian, berkumur larutan teh hijau seduh 100% dapat menghambat pembentukan plak dengan cara menghambat kerja enzim glukosiltransferase bakteri, sehingga perlekatan bakteri ke pelikel terhambat dan pembentukan plak gigi juga jadi terhambat. Untuk larutan teh hijau seduh konsentrasi 50%, kadar katekin yang terkandung kira-kira setengah dari kadar katekin pada larutan teh hijau seduh konsentrasi 100%, yaitu 0,65-1,265 mg/ml. Konsentrasi teh hijau seduh ini juga menunjukkan nilai yang lebih besar dari pada KHM katekin, sehingga perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau ini juga sudah cukup dapat menghambat pembentukan plak gigi. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna antara berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100% dan 50%. Hal ini mungkin disebabkan karena kadar atau konsentrasi katekin dalam kedua macam larutan teh hijau seduh ini jauh lebih besar dari KHM katekin, sehingga perbedaan efektivitasnya tidak terlalu terlihat. Dalam penelitian Sakanaka (1982) 41 juga dikatakan bahwa kenaikan konsentrasi ECg dan EGCg akan meningkatkan keefektivan larutan teh hijau dalam menghambat pembentukan plak. Ini membuktikan bahwa larutan teh hijau Fakultas Kedokteran Gigi
14 45 dengan konsentrasi lebih tinggi akan lebih efektif dalam menghambat pembentukan plak gigi. Berkumur air putih memang tidak memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan berkumur dengan larutan teh hijau seduh. Namun, berkumur air putih juga dapat membantu mengurangi pembentukan plak gigi. Hal ini dapat dilihat dalam hasil penelitian, air putih memberikan nilai skor plak baik yang cukup tinggi pada beberapa permukaan gigi indeks. Berdasarkan data yang didapat dari penelitian Bethlenfalvy (2002) 43, diketahui bahwa dengan penyikatan secara manual, yaitu dengan menggunakan sikat gigi pada umumnya, skor plak pada permukaan bukal masih lebih tinggi dibandingkan skor plak permukaan lingual. Sedangkan pada permukaan mesial dan distal, skor plaknya lebih tinggi dibandingkan pada permukaan tengah/central. Pada penelitian ini dilakukan dengan berkumur. Hasilnya menunjukkan bahwa permukaan palatal/lingual skor plaknya lebih rendah dibandingkan permukaan bukal/labial. Hal ini dapat disebabkan karena bagian permukaan palatal/lingual lebih terkena cairan kumur saat berkumur dibandingkan permukaan bukal/ labial. Selain itu, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa keefektifan larutan teh hijau seduh pada permukaan tengah bukal/labial oleh larutan teh hijau seduh 100% dan 50% lebih rendah dibandingkan dengan permukaan palatal/lingual yang nilai rendahnya hanya pada perlakuan larutan teh hijau seduh 50%. Di sini terlihat bahwa keefektifan larutan teh hijau seduh 100% pada permukaan mesial dan distal lebih tinggi dibandingkan dengan permukaan tengah, untuk larutan teh hijau seduh 50% bahkan relatif cukup berperan baik dan sangat baik untuk permukaan bukal/labial dan palatal/lingual. Perbedaan nilai skor plak di setiap permukaan dapat berbeda. Menurut Samarayanake (2002) 26, komposisi bakteri dari plak gigi sangat bervariasi antara individu satu dengan lainnya. Besarnya variasi dalam komponen plak tersebut tergantung beberapa hal, antara lain: - perbedaan sisi gigi yang terkontaminasi pada gigi yang sama, - Sisi gigi yang sama terkontaminasi pada gigi yang berbeda, - Perbedaan waktu pada sisi yang sama. Fakultas Kedokteran Gigi
15 46 Menurut Seymor dan Heasman (1992) (disitasi dari M.Fahmi UA,2008) 45 menyatakan bahwa komposisi bakteri pada setiap permukaan gigi dipengeruhi oleh faktor ekologi seperti kebutuhan nutrisi, kadar oksigen lokal, dan penghilangan bakteri oleh saliva. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa larutan teh hijau seduh 100% dan 50% bermanfaat dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan jaringan penyangganya, khususnya dalam menghambat pembentukan plak gigi. Akan tetapi, konsumsi teh hijau juga memiliki beberapa kerugian, diantaranya yang terpenting adalah theobromin dalam teh hijau dapat mengikat zat besi. Oleh karena itu, disarankan sebaiknya anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan tidak mengkonsumsi teh hijau secara berlebihan apalagi yang kental karena zat besi sangat dibutuhkan dalam masa pertumbuhan. Begitu pula pada orang yang mengidap anemia, ibu hamil, dan wanita yang sedang mengalami menstruasi. Untuk mengimbangi kerugian teh hijau ini, disarankan untuk banyak memakan makanan yang mengandung zat besi seperti susu, padi-padian, dan sayur-sayuran hijau dengan minumnya adalah air putih, bukan teh apalagi teh hijau yang diketahui mengandung kadar katekin tinggi. Namun jika saat makan, minumannya adalah teh, dianjurkan secara bersamaan juga minum atau makan bahan yang mengandung asam askorbat tinggi, seperti jeruk. Untuk itu dianjurkan agar mengkonsumsi teh hijau dilakukan diantara waktu makan. Jika ingin mendapatkan khasiat teh hijau yang dapat menghambat pembentukan plak gigi, tetapi ingin menghindari kerugian teh yang dapat mengikat zat besi, ada baiknya teh hijau hanya digunakan untuk berkumur, tidak perlu ditelan. Terdapat berbagai macam zat kimia lain yang dapat mengurangi plak gigi maupun bakteri dalam plak gigi dengan cara berkumur (Prijantojo,1996) 47, seperti Listerin, Povidon Iodine, Hexetidine, Hidrogen Peroksida, dan yang paling terkenal yaitu Chlorhexidine. Chlorhexidine bersifat bakterisid dan bakteriostatik terhadap bakteri positif Gram dan negatif Gram; dapat menghambat pertumbuhan plak gigi karena Chlorhexidine dapat berikatan dengan komponen-komponen pada permukaan gigi seperti polisakarida, protein, glikoprotein dan saliva, pelikel, mukosa serta permukaan hidroksiapatit. Fakultas Kedokteran Gigi
16 47 Seperti berkumur dengan larutan teh hijau, berkumur dengan Chlorhexidine juga memiliki beberapa kerugian, antara lain: 1. pemakaian rutin jangka panjang dapat menyebabkan jaringan lunak berwarna kecoklatan, rasanya tidak enak dan menyebabkan staining 3. penggunaan dalam dosis ekstrim dapat mengakibatkan leukoplakia yang ditandai dengan penebalan mukosa. Berkumur dengan larutan teh hijau seduh juga memiliki beberapa kekurangan, tetapi jika dibandingkan dengan Chlorhexidine, larutan teh hijau seduh cenderung lebih aman jika tertelan, berasal dari bahan-bahan herbal, dan efek samping bagi gigi dan mulut tidak lebih parah daripada berkumur dengan Chlorhexidine. Selain itu, teh hijau mudah didapat dan mempunyai lebih banyak manfaat lain bagi kesehatan tubuh. Dalam penelitian ini terdapat beberapa kekurangan, yaitu jumlah subjek penelitian yang kurang, kemungkinan kurang tepatnya pembersihan plak gigi oleh subjek penelitian dan operator, range kategori skor plak gigi yang besar juga mengurangi keakuratan penelitian, serta penggunaan metode goresan yang kurang objektif. Oleh karena itu, pada penelitian yang akan datang, dapat digunakan lebih banyak subjek penelitian, range kategori indeks plak dibuat lebih kecil, pengukuran indeks plak menggunakan disclosing solution agar hasil yang didapat lebih objektif. Fakultas Kedokteran Gigi
BAB 4 METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental klinis.
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental klinis. 4.2. Subjek Penelitian Subjek penelitian terdiri dari 39 orang dan harus memenuhi beberapa kriteria:
BAB 4 METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental klinis.
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental klinis. 4.2. Subyek Penelitian Subyek penelitian terdiri dari 39 orang dan harus memenuhi beberapa kriteria
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit gigi dan mulut merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit gigi dan mulut merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi di masyarakat luas. Hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2007, menunjukkan prevalensi
BAB I PENDAHULUAN. 90% dari populasi dunia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit periodontal merupakan penyakit yang umum terjadi dan mengenai 90% dari populasi dunia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2001
LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN
Lampiran 1 LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN Bersama dengan ini saya, Olivian Wijaya, mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan dokter gigi di Fakultas Kedokteran Gigi. Saat ini, saya sedang
BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di seluruh dunia dan dialami oleh hampir seluruh individu pada sepanjang hidupnya.
BAB I PENDAHULUAN. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi nasional masalah gigi dan mulut adalah 23,5%. Menurut hasil RISKESDAS tahun 2013, terjadi peningkatan
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan tubuh, baik bagi anak-anak, remaja maupun orang dewasa. 1,2
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Susu adalah salah satu hasil ternak yang dikenal sebagai bahan makanan yang memilki nilai gizi tinggi. Kandungan zat gizi susu dinilai lengkap dan dalam proporsi seimbang,
BAB I PENDAHULUAN. seperti kesehatan, kenyamanan, dan rasa percaya diri. Namun, perawatan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perawatan ortodontik dapat meningkatkan mastikasi, bicara dan penampilan, seperti kesehatan, kenyamanan, dan rasa percaya diri. Namun, perawatan ortodontik memiliki
BAB 1 PENDAHULUAN. nyeri mulut dan nyeri wajah, trauma dan infeksi mulut, penyakit periodontal,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mulut mempunyai pengaruh besar dalam asupan gizi dan perlindungan dari infeksi mikroba sehingga menjaga kesehatan gigi dan mulut merupakan hal penting karena berhubungan
BAB I PENDAHULUAN. Plak gigi adalah deposit lunak yang membentuk biofilm dan melekat pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Plak gigi adalah deposit lunak yang membentuk biofilm dan melekat pada permukaan gigi atau permukaan jaringan keras lain didalam rongga mulut. Plak gigi terdiri
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Kondisi ini dapat tercapai dengan melakukan perawatan gigi yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian yang penting dari kesehatan secara keseluruhan dan merupakan salah satu sendi kehidupan yang harus diketahui, ditindaklanjuti,
BAB I PENDAHULUAN. Kismis adalah buah anggur (Vitis vinivera L.) yang dikeringkan dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kismis adalah buah anggur (Vitis vinivera L.) yang dikeringkan dan dihilangkan bijinya, merupakan makanan ringan populer yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat pada
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sampai saat ini karies gigi masih merupakan penyakit utama di bidang kesehatan gigi dan mulut. Karies adalah salah satu masalah kesehatan rongga mulut yang dapat
BAB 4 METODE PENELITIAN
21 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif analatik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional study). Penelitian potong lintang merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2013 menunjukkan urutan pertama pasien
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut di Indonesia merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian serius dari tenaga kesehatan. Data Riskesdas 2013 menunjukkan 25,9% penduduk Indonesia
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia dikatakan sehat tidak hanya dari segi kesehatan umum saja tetapi juga meliputi kesehatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia merupakan hal yang perlu mendapat perhatian serius oleh tenaga kesehatan, baik dokter gigi maupun perawat gigi, hal ini
BAB I PENDAHULUAN. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi dan mulut di atas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling sering dijumpai di Indonesia. 1 Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013, menunjukkan prevalensi
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit periodontal adalah penyakit yang umum terjadi dan dapat ditemukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit periodontal adalah penyakit yang umum terjadi dan dapat ditemukan pada 90% dari populasi dunia. Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit gigi dan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam bidang kedokteran gigi, masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam bidang kedokteran gigi, masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Departemen Kesehatan RI tahun
BAB I PENDAHULUAN. dan mulut yang memiliki prevalensi tinggi di masyarakat pada semua
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karies dan penyakit periodontal merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang memiliki prevalensi tinggi di masyarakat pada semua kelompok umur di Indonesia (Tampubolon,
Deskripsi KOMPOSISI EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH (AVERRHOA BILIMBI L) DAN PENGGUNAANNYA
1 Deskripsi KOMPOSISI EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH (AVERRHOA BILIMBI L) DAN PENGGUNAANNYA 5Bidang Teknik Invensi Invensi ini berhubungan dengan komposisi ekstrak daun Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi
BAB I PENDAHULUAN. (D = decayed (gigi yang karies), M = missing (gigi yang hilang), F = failed (gigi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang paling sering ditemui dalam kesehatan gigi dan mulut yaitu karies gigi dan penyakit periodontal. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2000,
BAB I PENDAHULUAN. Plak gigi merupakan komunitas mikroba yang melekat maupun berkembang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Plak gigi merupakan komunitas mikroba yang melekat maupun berkembang bebas pada jaringan lunak dan keras pada permukaan rongga mulut, yang terdiri dari bakteri hidup
BAB 1 PENDAHULUAN. kelenjar saliva, dimana 93% dari volume total saliva disekresikan oleh kelenjar saliva
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem di dalam rongga
BAB III METODE PENELITIAN. manggis (Garcinia mangostana Linn) yang telah matang
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian eksperimental kuasi dengan pretest dan posttest control group design. B. Populasi dan Sampel Penelitian 1.
Bayyin Bunayya Cholid*, Oedijani Santoso**, Yayun Siti Rochmah***
PENGARUH KUMUR SARI BUAH BELIMBING MANIS (Averrhoa carambola L.) (Studi terhadap Anak Usia 12-15 Tahun Pondok Pesantren Al-Adzkar, Al-Furqon, Al-Izzah Mranggen Demak) Bayyin Bunayya Cholid*, Oedijani Santoso**,
BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies merupakan masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2004,
BAB I PENDAHULUAN. Madu merupakan salah satu sumber makanan yang baik. Asam amino,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Madu merupakan salah satu sumber makanan yang baik. Asam amino, karbohidrat, protein, beberapa jenis vitamin serta mineral adalah zat gizi dalam madu yang mudah diserap
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada permukaan basis gigi tiruan dapat terjadi penimbunan sisa makanan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada permukaan basis gigi tiruan dapat terjadi penimbunan sisa makanan dan plak, terutama pada daerah sayap bukal atau bagian-bagian yang sukar dibersihkan (David dan MacGregor,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang paling utama
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian tentang perbedaan derajat keasaman ph saliva antara sebelum
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tentang perbedaan derajat keasaman ph saliva antara sebelum dan sesudah mengunyah buah nanas (Ananas comosus) pada anak usia 8-10 tahun, telah
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. perawatan kelainan oklusal yang akan berpengaruh pada fungsi oklusi yang stabil,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Ortodonsi merupakan cabang ilmu kedokteran gigi yang berkaitan dengan pertumbuhan wajah, dengan perkembangan gigi dan oklusi, dan perawatan kelainan oklusal
BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan rongga mulut merupakan salah satu bagian yang tidak dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan rongga mulut merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan tubuh secara keseluruhan, untuk itu dalam memperoleh kesehatan rongga
BAB 5 HASIL PENELITIAN. Tabel 1 : Data ph plak dan ph saliva sebelum dan sesudah berkumur Chlorhexidine Mean ± SD
BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Hasil Penelitian Pengumpulan data klinis dilakukan mulai tanggal 10 November 2008 sampai dengan tanggal 27 November 2008 di klinik orthodonti FKG UI dan di lingkungan FK UI.
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. berdasarkan ada atau tidaknya deposit organik, materia alba, plak gigi, pelikel,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya karies gigi (Suwelo, 2005). Kebersihan rongga mulut dapat dilihat berdasarkan ada atau
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terjadi pada jaringan keras gigi yang bermula dari ke dentin berlanjut ke
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karies gigi adalah suatu kerusakan bersifat progesif dan akumulatif yang terjadi pada jaringan keras gigi yang bermula dari email ke dentin berlanjut ke pulpa
BAB 1 PENDAHULUAN. Gambir adalah ekstrak kering dari ranting dan daun tanaman Uncaria gambir
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambir adalah ekstrak kering dari ranting dan daun tanaman Uncaria gambir (Hunter) Roxb. Tanaman ini merupakan komoditas utama Provinsi Sumatera Barat. Sekitar 80%
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Streptococcus sanguis adalah jenis bakteri Streptococcs viridans yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Streptococcus sanguis adalah jenis bakteri Streptococcs viridans yang termasuk dalam tipe bakteri alfa hemolitik. Bakteri ini biasa berkoloni di mulut, saluran pencernaan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Plak merupakan penyebab utama dari penyakit periodontal (Manson
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Plak merupakan penyebab utama dari penyakit periodontal (Manson & Eley, 1993). Plak adalah lapisan tipis yang tidak berwarna (transparan) tidak dapat dilihat dengan
BAB 1 PENDAHULUAN. RI tahun 2004, prevalensi karies gigi mencapai 90,05%. 1 Karies gigi merupakan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di Indonesia adalah karies gigi. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2004,
EFEKTIVITAS BERKUMUR DENGAN AIR SEDUHAN TEH HIJAU DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK
EFEKTIVITAS BERKUMUR DENGAN AIR SEDUHAN TEH HIJAU DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK 1 Shinta Sartika L, 2 Shirley E. S. Kawengian, 3 Ni Wayan Mariati 1 Kandidat Skripsi Program Studi Pendidikan Dokter Gigi
BAB I PENDAHULUAN. Terapi ortodontik belakangan ini menjadi populer. 1 Kebutuhan akan perawatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terapi ortodontik belakangan ini menjadi populer. 1 Kebutuhan akan perawatan ortodontik akhir- akhir ini semakin meningkat karena semakin banyak pasien yang sadar akan
BAB 5 HASIL PENELITIAN. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 30 mahasiswa FKG UI semester VII tahun 2008 diperoleh hasil sebagai berikut.
36 BAB 5 HASIL PENELITIAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 30 mahasiswa FKG UI semester VII tahun 2008 diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 5.1. Frekuensi distribusi tes saliva subjek penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teh merupakan salah satu minuman yang sangat popular di dunia. Teh dibuat dari pucuk daun muda tanaman teh. Berdasarkan pengolahannya, secara tradisional produk teh
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. (Al Shamrany, 2006). Salah satu penyakit gigi yang banyak terjadi di Indonesia
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Penyakit gigi dan mulut dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang (Al Shamrany, 2006). Salah satu penyakit gigi yang banyak terjadi di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mulut merupakan tempat yang ideal untuk tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme karena mulut memiliki kelembaban serta memiliki asupan makanan yang teratur. Mikroba
PENGARUH VISKOSITAS SALIVA TERHADAP PEMBENTUKAN PLAK GIGI PADA MAHASISWA POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK
PENGARUH VISKOSITAS SALIVA TERHADAP PEMBENTUKAN PLAK GIGI PADA MAHASISWA POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK Nidia Alfianur 1, Budi Suryana 2 1, 2 Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Pontianak ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. anak-anak sampai lanjut usia. Presentase tertinggi pada golongan umur lebih dari
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit gigi dan mulut yang terbanyak dialami masyarakat di Indonesia adalah karies gigi. Penyakit tersebut menyerang semua golongan umur, mulai dari anak-anak
BAB 1 PENDAHULUAN. anatomis, fisiologis maupun fungsional, bahkan tidak jarang pula menyebabkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehilangan gigi pada seseorang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan anatomis, fisiologis maupun fungsional, bahkan tidak jarang pula menyebabkan trauma psikologis.
BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini berlangsung pada bulan Mei s/d juni Penelitian ini termasuk dalam lingkup Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut.
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian 4.1.1 Ruang lingkup tempat Penelitian ini berlangsung di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. 4.1.2 Ruang lingkup waktu Penelitian ini berlangsung
BAB 1 PENDAHULUAN. Nikaragua. Bersama pelayar-pelayar bangsa Portugis di abad ke 16, tanaman ini
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pepaya (Carica Papaya) merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Tropis. Pusat penyebaran tanaman diduga berada dibagian selatan Meksiko dan Nikaragua. Bersama pelayar-pelayar
BAB 2 PENGARUH PLAK TERHADAP GIGI DAN MULUT. Karies dinyatakan sebagai penyakit multifactorial yaitu adanya beberapa faktor yang
BAB 2 PENGARUH PLAK TERHADAP GIGI DAN MULUT Plak gigi memegang peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies. Karies dinyatakan sebagai penyakit multifactorial yaitu adanya beberapa faktor yang menjadi
UJI EFEKTIVITAS BERKUMUR MENGGUNAKAN AIR SEDUHAN TEH HITAM (Camellia sinensis) DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK
UJI EFEKTIVITAS BERKUMUR MENGGUNAKAN AIR SEDUHAN TEH HITAM (Camellia sinensis) DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK Putu Ary Satryadi 1), Shirley E.S Kawengian 2), P.S. Anindita 1) 1) Program Studi Pendidikan
BAB 1 PENDAHULUAN. pada kesehatan umum dan kualitas hidup (WHO, 2012). Kesehatan gigi dan mulut
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan mulut merupakan hal yang sangat penting dan berpengaruh pada kesehatan umum dan kualitas hidup (WHO, 2012). Kesehatan gigi dan mulut sering kali menjadi prioritas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. jaringan keras dan jaringan lunak mulut. Bahan cetak dibedakan atas bahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahan cetak di kedokteran gigi digunakan untuk membuat replika jaringan keras dan jaringan lunak mulut. Bahan cetak dibedakan atas bahan untuk mendapatkan cetakan negatif
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, prevalensi karies dan penyakit periodontal masih sangat tinggi yaitu berkisar 80%, bahkan penyakit
BAB 1 PENDAHULUAN. menggunakan tanaman obat di Indonesia perlu digali lebih mendalam, khususnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan alam telah lama digunakan di bidang kedokteran maupun kedokteran gigi untuk keperluan preventif, kuratif dan rehabilitatif. Pengobatan dengan menggunakan tanaman
BAB I PENDAHULUAN. Plak merupakan deposit lunak berwarna putih keabu-abuan atau kuning yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Plak merupakan deposit lunak berwarna putih keabu-abuan atau kuning yang melekat erat pada permukaan gigi atau permukaan padat lainnya di dalam mulut seperti
BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu cermin dari kesehatan manusia, karena merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rongga mulut merupakan tempat masuknya berbagai zat yang dibutuhkan oleh tubuh dan salah satu bagian di dalamnya ada gigi yang berfungsi sebagai alat mastikasi,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karies Gigi Karies gigi merupakan penyakit jaringan keras gigi yang disebabkan oleh faktor etiologi yang kompleks. Karies gigi tidak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi dapat
BAB 5 HASIL PENELITIAN
BAB 5 HASIL PENELITIAN Data penelitian ini diperoleh dari sampel 30 anak usia 10-12 tahun di Pesantren Al-Hamidiyah, Depok yang dipilih secara acak. Penelitian ini menggunakan metode cross over, sehingga
BAB I PENDAHULUAN. pada umumnya berkaitan dengan kebersihan gigi dan mulut. Faktor penyebab dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit yang tersebar luas di masyarakat Indonesia. Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat di Indonesia pada umumnya
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karies Gigi Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan gigi oleh asam organis yang berasal dari
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Rongga mulut manusia tidak pernah terlepas dari bakteri. Dalam rongga mulut
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Rongga mulut manusia tidak pernah terlepas dari bakteri. Dalam rongga mulut manusia terdapat lebih dari tiga ratus spesies bakteri (Wilson dan Kornman,
BAB 1 PENDAHULUAN. Denture stomatitis merupakan suatu proses inflamasi pada mukosa mulut
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Denture stomatitis merupakan suatu proses inflamasi pada mukosa mulut dengan bentuk utamanya atropik dengan lesi erythematous dan hiperplastik 1. Denture Stomatitis
BAB I PENDAHULUAN. mikroba pada gigi dan permukaan gingiva yang berdekatan. 1,2
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah utama kesehatan gigi dan mulut yang paling umum adalah karies dan penyakit periodontal. 1 Plak sangat berperan dalam terjadinya kedua penyakit ini. 2 Kontrol
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya antibakteri ekstrak kulit nanas pada pertumbuhan bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans dengan cara
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Obat kumur sering digunakan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan gigi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Obat kumur sering digunakan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut. Kegiatan menyikat gigi dua kali sehari dan penggunaan dental floss merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN. putih akan membuat orang lebih percaya diri dengan penampilannya (Ibiyemi et
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gigi merupakan salah satu bagian tubuh terpenting yang harus dijaga keindahannya. Dalam bidang kedokteran gigi terdapat berbagai macam perawatan, salah satunya bertujuan
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
28 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan deskriptif analitik, yaitu dengan melakukan pengukuran pada sampel sebelum
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Plak Dental Plak dental merupakan kumpulan mikroba yang beragam, terdapat dalam matriks pejamu dan polimer bakteri, yang tumbuh pada gigi sebagai biofilm. Menurut World Health
BAB I PENDAHULUAN. Plak adalah deposit lunak yang melekat erat pada permukaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Plak adalah deposit lunak yang melekat erat pada permukaan gigi atau permukaan padat lainnya di dalam mulut seperti gigi tiruan dan restorasi. Plak mengandung mikroorganisme
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. akar selama atau sesudah perawatan endodontik. Infeksi sekunder biasanya
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawatan endodontik merupakan bagian dari perawatan pulpa gigi yang bertujuan untuk menjaga kesehatan pulpa baik secara keseluruhan maupun sebagian serta menjaga kesehatan
BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. Untuk mengetahui efek pemberian ekstrak mengkudu terhadap daya
1 BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 6.1. Subjek Penelitian Untuk mengetahui efek pemberian ekstrak mengkudu terhadap daya hambat Streptococcus mutans secara in vitro maka dilakukan penelitian pada plate
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Karies gigi adalah salah satu masalah kesehatan gigi yang paling sering terjadi. Karies gigi disebabkan karena terjadinya demineralisasi yang berlanjut pada kerusakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. karies gigi (Anitasari dan Endang, 2005). Karies gigi disebabkan oleh faktor
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat Indonesia adalah karies gigi (Anitasari dan Endang, 2005). Karies gigi disebabkan oleh faktor langsung
BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut penduduk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan gigi dan mulut semakin menjadi masalah yang cukup serius di masyarakat Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menunjukkan bahwa
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Berbagai macam bakteri ini yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada rongga mulut terdapat berbagai macam koloni bakteri yang masuk melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Berbagai macam bakteri ini yang masuk melalui makanan,
BAB 1 PENDAHULUAN. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar saliva mayor dan minor yang ada pada mukosa mulut. 1 Saliva terdiri
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak/biofilm, dan diet. Komponen diet
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karies gigi atau yang biasa dikenal dengan gigi berlubang adalah hasil interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak/biofilm, dan diet. Komponen diet khususnya
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva yang terbentuk
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva adalah cairan oral kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva yang terbentuk di rongga
BAB VI PEMBAHASAN. Kadar trigliserida dan kolesterol VLDL pada kelompok kontrol
44 BAB VI PEMBAHASAN 6.1. Kadar Trigliserida dan Kolesterol VLDL Kadar trigliserida dan kolesterol VLDL pada kelompok kontrol pertama yaitu kelompok yang tidak diberikan diet tinggi fruktosa dan air seduh
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gigi tersusun atas enamel, dentin, sementum, rongga pulpa, lubang gigi, serta jaringan pendukung gigi. Rongga mulut merupakan batas antara lingkungan luar dan dalam
BAB I PENDAHULUAN. karbohidrat dari sisa makanan oleh bakteri dalam mulut. 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Erosi merupakan suatu proses kimia dimana terjadi kehilangan mineral gigi yang umumnya disebabkan oleh zat asam. Asam penyebab erosi berbeda dengan asam penyebab karies
BAB 5 HASIL PE ELITIA
BAB 5 HASIL PE ELITIA Pembiakan S.mutans dilakukan untuk mendapatkan 6 koloni berdasarkan : kontur, konsistensi, homogenisasi, pigmen, ukuran, dan kecembungan permukaan dari wild strain S.mutans yang terdapat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. masyarakat (Depkes RI, 2006), utamanya adalah gingivitis (Suproyo, 2009).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit yang sering dikeluhkan oleh masyarakat (Depkes RI, 2006), utamanya adalah gingivitis (Suproyo, 2009). Prevalensi terjadinya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. rendah (Depkes RI, 2005). Anak yang memasuki usia sekolah yaitu pada usia 6-12
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prevalensi karies gigi dan penyakit periodontal pada anak usia 12-15 tahun di Indonesia cenderung meningkat dari 76,25% pada tahun 1998 menjadi 78,65% pada tahun
BAB 1 PENDAHULUAN. Kerusakan pada gigi merupakan salah satu penyakit kronik yang umum
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kerusakan pada gigi merupakan salah satu penyakit kronik yang umum terjadi pada individu di seluruh dunia (Selwitz dkk, 2007). Menurut data riskesdas tahun 2013, sekitar
BAB I PENDAHULUAN. mampu membentuk polisakarida ekstrasel dari genus Streptococcus. 1,2
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Plak gigi merupakan deposit lunak yang membentuk biofilm dan melekat pada permukaan gigi atau permukaan jaringan keras lain didalam rongga mulut. Mikroflora yang terkandung
