BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
|
|
|
- Sugiarto Sudomo Kusnadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tumbuh-tumbuhan merupakan makhluk hidup yang berperan penting dalam kehidupan. Kemampuan tumbuhan dalam memproduksi bahan makanan dan oksigen, serta kemampuan lainnya yang bermanfaat baik bagi hewan, lingkungan, maupun manusia. Keaneka ragaman tumbuhan yang tersebar luas di berbagai belahan dunia khususnya di Indonesia merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah SWT. yang patut dipelajari dan direnungkan kebenarannya. Salah satu contoh tanda-tanda kebesaran Allah tersebut dapat diamati pada tumbuhan paku. Menurut Schuettpelz and Pryer (2008), tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan tumbuhan berpembuluh yang menghasilkan spora sebagai alat penyebaran keturunannya. Lebih lanjut, Nurchayati (2010) menyatakan bahwasanya tumbuhan paku merupakan tumbuhan berpembuluh yang paling primitif daripada tumbuhan berpembuluh lain. Keberagaman tumbuhan paku dapat dijumpai di lingkungan sekitar, baik dari segi morfologi, habitat, hingga manfaat dari tumbuhan paku tersebut. Menurut Ewusie (1990) dalam Widhiastuti, dkk (2006), kelimpahan dan penyebaran tumbuhan paku sangat tinggi terutama di daerah hutan tropis. Tumbuhan paku juga banyak terdapat di hutan pegunungan. Menurut Chapman (2009), terdapat lebih dari spesies tumbuhan paku tumbuh di berbagai kawasan di Bumi. Lebih lanjut, De Winter dan Amoroso (2003) menyatakan bahwasanya spesies di antaranya tumbuh di Asia Tenggara. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Surah Thaha Ayat 53 sebagai berikut : Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Berdasarkan pada Firman Allah SWT. di atas, dapat diketahui bahwasanya Allah SWT. telah menciptakan beragam jenis tanaman yang berbeda-beda. Menurut Jalalain (2010), kata Syattaa dari lafadz nabaatin syattaa adalah sifat dari kata Azwaajaa, yang bermakna bermacam-macam warananya, rasanya, dan sebagainya. Ayat tersebut menjelaskan bahwa dengan air hujan yang diturankan dari langit, Allah SWT. menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang beranekaragam.
2 Salah satu tumbuhan yang beranekaragam tersebut sebagaimana telah disebutkan sebelumnya adalah tumbuhan paku. Berdasarkan pada hasil praktikum yang telah dilakukan, laporan praktikum yang berjudul Tumbuhan Paku (Pteridophyta) ini akan membahas keanekaragaman tersebut terutama pada spesies Vittaria elongata, Pyrrocia sp, Equisetum debile, Psilotum nudum, dan Salvinia sp, baik dari segi morfologi, habitat, hingga manfaat secara ekologis maupun ekonomis pada masing-masing spesies Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam praktikum yang berjudul Tumbuhan Paku adalah :Bagaimana morfologi, habitat, dan manfaat secara ekologis mauoun ekonomis tumbuhan paku Vittaria elongata, pyrrocia sp, Equisetum debile, Psilotum nudum, dan Salvinia sp? 1.3. Tujuan Tujuan dilaksanakannya praktikum yang berjudul Tumbuhan Paku adalah untuk Mengetahui ciri morfologi, habitat, dan manfaat secara eologis mauoun ekonomis tumbuhan paku Vittaria elongata, pyrrocia sp, Equisetum debile, Psilotum nudum, dan Salvinia Manfaat Manfaat dilaksanakannya praktikum yang berjudul Tumbhan Paku adalah dapat mengetahui keanekaragaman tumbuhan paku beserta ciri yang membedakan antara tumbuhan paku yang satu dengan tumbuhan paku lainnya, serta manfaat masing-masing tumbuhan paku tersebut baik secara ekologis maupun ekonomis. Selain itu, dengan dilaksanakannya praktikum ini dapat menambahkan kekaguman akan tanda kebesaran Allah SWT.
3 BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN 2.1. Vittaria elongata Deskripsi Morfologi Berdasarkan pada hasil pengamatan, ciri yang dapat diamati pada tumbuhan paku ini adalah perawakan yang berupa terna dengan akar (rhizome) berbentuk serabut. Paku ini juga biasa disebut dengan paku pita. Hal ini mengacu pada bentuknya yang memanjang seperti pita. Batang berada di atas tanah dengan arah tumbuh ke atas pula. Batang tumbuhan paku jenis Vittaria elongata ini berbentuk tidak teratur dan memiliki percabangan. Permukaan batang terasa kasar dan berwarna coklat, untuk lebih jelasnya daat dilihat pada gambar Gambar Vittaria elongata Daun tumbuhan paku Vittaria elongata sebagaimana hasil pengamatan dan pencandraan yang dilakukan nampak menempel pada batang. Daun tersebut berupa daun tunggal oleh karena tidak terdapat anak daun pada daun tersebut. Hal ini mengacu pada pernyataan Tjitrosoepomo (2011), yang menyatakan bahwasanya pada tangkai daunnya hanya terdapat satu helaian daun saja. Daun yang demikian dinamakan daun tunggal (folium simplex). Sejalan dengan pernyataan di atas, Ulum dan Dwi Setyati (2015) menyatakan bahwasanya tumbuhan paku jenis ini memiliki daun tunggal, berwarna hijau, ligulatus, tipis, panjang 540 mm, lebar 10mm, lebar pangkal 20 mm. Tepi daun tumbuhan paku Vittaria elongata berbentuk rata, dengan pangkal meruncing dan ujung yang runcing. Permukaan daun bagian atas terasa kasar, sementara permukaan daun bagian bawahnya terasa halus. Daun tumbuhan paku ini
4 sebagaimana hasil pengamatan yang telah dilakukan, memiliki pertulangan pada daunnya, namun tidak didapati peruratan daun. Tekstur daunnya seperti kertas dengan ciri khusus daun tumbuhan ini yang dapat diamati adalah memiliki sorus di ujungnya. Berdasarkan kelengkapan daunnya, daun tumbuhan paku jenis ini termasuk daun yang tidak lengkap. Hal ini dikarenakan tidak terdapat upih pada daunnya serta hanya terdiri atas helaian daun yang menempel pada batang. Pernyataan tersebut mengacu pada pernyataan Tjitrosoepomo (2011), daun-daun yang lengkap mempunyai bagian-bagian berupa upih daun atau pelepah daun (Vagina), tangkai daun (Petiolus), dan helaian daun (Lamina). Berdasarkan pada alat perkembangbiakan generatifnya, pada tumbuhan paku Vittaria elongata dapat ditemukan adanya sporofil. Sorus pada timbuhan paku ini terletak pada ujung daun bagian bawah. Berdasarkan pada letak sorusnya tersebut, Vittaria elongata termasuk ke dalam famili Polipodiaceae. Hal ini sebagaimana pernyataan Smith (1955) yang menyatakan bahwasanya Polipodiaceae merupakan satu-satunya famili yang memiliki sorus dengan bentuk yang bermacam-macam. Lebih lanjut, Tjitrosoepomo (2011) menyatakan bahwasanya Letak sorus pada tepi atau dekat repi daun, dapat pula pada urat-urat, berbentuk garis, memanjang, bulat. Menurut Smith (1955) menyatakan bahwa jumlah spora dalam sorus biasanya sekitar 32 atau 64 spora. Menurut Tjitrosoepomo (2011), sporagium kadang-kadang sampai menutupi seluruh permukaan bawah daun yang fertil Habitat Berdasarkan pada hasil pengamatan yang talah dilakukan, tumbuhan paku Vittaria elongata. merupakan tumbuhan paku yang hidup menempel pada batang pohon dengan menggunakan rhizome yang berbentuk serabut. Oleh karenanya, tumbuhan paku ini merupakan tumbuhan paku yang bersifat epifit. Menurut Barkman (1958), tumbuhan paku epifit tidak bersifat parasit, karena sumber air diperoleh langsung dari air. Lebih lanjut, Sujalu (2007) menyatakan bahwasanya epifit mempunyai habitat yang bersifat khusus berupa tumbuhan hidup. Epifit dapat berkecambah dan tumbuh dalam rimbunnya tajuk pohon, hidup berada di lingkungan yang didominasi tutupan tajuk dengan sistem perakaran yang hanya menempel atau menggumpal pada pohon dan tidak mencaai tanah sehingga tidak mengambil apapun dari tumbuhan inangnya.
5 Tabel Deskripsi No Organ Bagian Ciri 1 Akar Serabut 2 Batang Perawakan Terna 3 Letak Di atas tanah 4 Arah tumbuh Ke atas 5 Bentuk batang Tidak Beraturan 6 Percabangan Monopodial 7 Permukaan Kasar 8 Warna Coklat 9 Daun Letak Menempel pada batang 10 Jenis daun Daun tunggal 12 Kelengkapan Tidak lengkap 13 Bentuk helai Pita 14 Tepi Rata 15 Pangkal Meruncing 16 Ujung Runcing 17 Permukaan Atas : kasar Bawah : halus 18 Pertulangan Ada 19 Peruratan Tidak ada 20 Tekstur Seperti kertas 21 Ciri khusus Sori di ujung 22 Sporofil Letak Ujung daun bagian bawah 23 Susunan Sorus Klasifikasi Klasifikasi tumbuhan paku ini menurut database Plantamor (2017), tumbuhan ini termasuk ke dalam kingdom plantae; divisi Pteridophyta; kelas Pteridopsida; ordo Polipodiales; famili Vittariaceae; genus Vittaria; spesies Vittaria elongata Pyrrocia sp Deskripsi Morfologi Berdasarkan pada pengamatan yang telah dilakukan, tumbuhan paku ini memiliki perawakan berupa terna dengan rhizom (bagian yang menyerupai akar) berbentuk serabut yang berfungsi sebagai alat perlekatan. Batang berada di atas tanah dengan arah pertumbuhan ke atas. Batang tumbuhan ini berbentuk tidak beraturan dan tidak terdapat percabangan. Permukaan batang kasar dan berwarna coklat. Pyrrocia sp, merupakan salah satu tumbuhan paku yang termasuk ke dalam famili polipodiaceae. Menurut Setyawan dan Sugiyarto (2001), familia ini dikenal sebagai tumbuhan paku yang paling bayak anggotanya, dengan ciri morfologi yang beraneka
6 ragam namun pada umumnya memiliki sorus yang terletak di tepi atau di dekat tepi daun. Pyrrocia sp. memiliki dua jenis daun, yang terdiri dari sporofil dan tropofil. Sporofil merupakan daun yang berfungsi sebagai alat perkmbangbiakan, dimana pada daun sporofil ini terdapat sorus pada tepi daun bagian bawah. Sedangkan tropofil merupakan suatu helaian daun yang berfungsi untuk mengadakan kegiatan fotosintesis. Keadaan yang demikian ini dinamakan dengan dimorfisme, sebagaimana dapat diamati pada gambar Menurut Sastrapradja (1985) dan Hovenkamp., dkk (1998), daun sporofil biasanya berbentuk panjang seperti pita. Helaian daun memiliki panjang sampai 11 cm dengan tangkai ukuran mencapai 12 cm. Fungsi dari daun sporofil adalah sebagai tempat menempelnya sorus yang berada di baawah tepi permukaan daun yang jumlahnya sangat banyak. Sedangkan daun tropofil memiliki bentuk lebih pendek, kecil, bulat, memiliki panjang helaian daun sampai 3 cm dan ukuran tangkai 0,5 1 mm. Lebih lanjut, Tjitrosoepomo (2006), menyatakan bahwasanya antara kedua bentuk daun sisik naga mempunyai pola pertulangan yang berbeda. Daun tropofil memiliki pola pertulangan reticulate atau menjala. Sedangkan sporofil berupa longitudinal yaitu pola pertulangan sejajar yang dapat menyebar membentuk lengkungan mengikuti lebar daun dan kenudian bertemu di ujung, sehingga pertulangan nampak melengkung atau tulang daun membelok 90 ke arah tepi kemudian kembali ke arah atas. Gambar Pyrrocia sp. Daun pada Pyrrocia sp terletak menempel pada batang. Daun tumbuhan paku ini termasuk dalam kelompok daun tunggal yang tidak lengkap. Bentuk daun sebagaimana telah disinggung di atas, daun sporofil berbentuk lanset, sedangkan daun tropofil berbrntuk bulat telur dengan tepi yang rata pada masing-masing daun, baik sporofil maupun tropofil. Pangkal daun sporofil berbentuk meruncing, sementara pangkal daun tropofil berbentuk membulat. Permukaan daun tumbuhan paku ini halus dengan tekstur yang berdaging. Di bawah daun sporofil, seperti telah disinggung
7 sebelumnya, terdapat sorus yang bergerombol pada bagian tepi daun. Menurut Holttum (1967); Sastrapradja (1985); dan Salihah (2010), sorus merupakan alat perkembangbiakan bagi tumbuhan paku sisik naga yang di dalamnya terdapat spora yang terkumpul dalam sporangium (kantong spora). Jumlah sorus sangat banyak sehingga biasanya mengalami penebalan hingga mencapai 2,5 milimeter ketika spora masak Habitat Berdasarkan pada hasil pengamatan yang telah dilakukan dalam praktikum, paku ini hidup menempel pada batang tumbuhan lain. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwasanya tumbuhan paku Pyrrocia sp. ini merupaka tumbuhan epifit. Hal ini diperkuat oleh pernyataan (Zaenudin, 1986), yang menyatakan bahwasanya paku ini merupakan salah satu jenis tumbuhan epifit yang hidup menempel pada tumbuhan lain. Lebih lanjut, menurut Holttum (1966), paku ini tidak mengambil air dan unsur hara dari jaringan tumbuhan yang ditumpanginya. Paku ini hanya tinggal dipermukaan kulit batang untuk mendapatkan air dengan akarnya selama hujan dan ketika waktu malam Tabel Deskripsi No Organ Bagian Ciri 1 Akar Serabut 2 Batang Perawakan Terna 3 Letak Di atas tanah 4 Arah tumbuh Ke atas 5 Bentuk batang Tidak Beraturan 6 Percabangan Tidak ada 7 Permukaan Kasar 8 Warna Coklat 9 Daun Letak Menempel pada batang 10 Jenis daun Daun tunggal 12 Kelengkapan Tidak lengkap 13 Bentuk helai Sporofil : lanset Tropofil : bulat 14 Tepi Rata 15 Pangkal Sporofil : meruncing Tropofil : membulat 16 Ujung 17 Permukaan Halus 18 Pertulangan Ada 19 Peruratan Tidak ada 20 Tekstur Berdaging 21 Ciri khusus Dimorfisme
8 22 Sporofil Letak Tepi daun bagian bawah 23 Susunan Sorus Klasifikasi Klasifikasi tumbuhan paku Pyrrocia sp. menurut Hovenkamp (1998) adalah termasuk ke dalam divisi Pteridophyta; kelas Pteridopsida; ordo Polypodiales; famili Polypodiaceae; genus Pyrrocia; spesies Pyrrocia sp Equisetum debile Deskripsi Morfologi Equisetum debile merupakan tumbuhan paku yang termasuk ke dalam famili Equisetaceae. Hal ini sebagaimana ciri morfologi yang terdapat pada tumbuhan paku tersebut sebagaimana tercantum pada tabel deskripsi Berdasarkan pada hasil pengamatan yang tercantum pada tabel dskripsi tersebut dapat diketahui ciri morfologi dari tumbuhan paku Equisetum debile diantaranya adalah memiliki akar (rhizom) yang berbentuk serabut. Equisetum debile merupakan tumbuhan paku dengan perawakan berupa terna. Berdasarkan pada gambar di atas, dapat diketahui bahwasanya batang tumbuhan paku jenis ini terletak di bawah tanah. Arah pertumbuhan batang paku Equisetum debile mengarah ke atas. Batang berbentuk silindris dengan percabangan yang simpodial. Permukaan batang dan cabangnya beralur yang nampak seperti beruas-ruas dan berbuku-buku. Menurut Campbell (2012), ekor kuda juga disebut artrofit (arthrophyte, tumbuhan berbuku-buku) karena batangnya memiliki buku-buku. Hal ini bersesuaian dengan pernyataan Tjitrosoepomo (2011), yang menyatakan bahwasanya batangnya kebanyakan bercabang-cabang berkarang dan jelas kelihatan berbuku-buku dan beruas-ruas. Daun pada tumbuhan paku Equisetum debile terletak menempel pada nodus dan merupakan daun majemuk. Helaian daun tumbuhan paku ekor kuda berbentuk seperti sisik naga dengan ujung yang runcing. Menurut Libing dan Nicholas (2004), daun tereduksi, seperti sisik, beralur, bagian bawahnya melebur membentuk seperti kerah pelepah disekitar dasar internudus; bagian atasnya berlekuk. Tjitrosoepomo (2011) menyatakan bahwasanya pada buku-buku batang terdapat suatu karangan daun serupa selaput atau sisik, berbentuk meruncing, mempunyai satu berkas pengangkut yang kecil. Lebih lanjut, Campbell (2012) menyatakan bahwasanya cincin dari daun atau batang kecil muncul dari setiap buku, namun batang merupakan organ fotosintetik utama.
9 Sporofil paku equisetum debile terletak di ujung batang tumbuhan paku tersebut. Pernyataan tersebut mengacu pada pernyataan Tjitrosoepomo (2011), yang menyatakan bahwasanya sporofil tersusun dalam rangkaian yang berseling, dan karena pendeknya ruas-ruas pendukung sporofil, maka rangkaian sporofil terkumpul menyerupai suatu kerucut pada ujung batang. Sporofil berbentuk perisai atau meja dengan satu kaki di tengah, dengan beberapa sporangium (5-10) berbentuk kantung pada sisi bawahnya. Menurut Libing dan Nicholas (2004), permukaan sporofil berbentuk heksagonal. Lebih lanjut, Tjitrosoepomo (2011) menyatakan bahwasanya sporofil selalu berbeda dari daun biasa Habitat Equisetum debile Roxb. (Equicetaceae) merupakan tumbuhan paku yang tersebar secara luas di Cina Selatan, Asia Tenggara, dan India (Tan., dkk. 2011). Berdasarkan pada hasil pengamatan yang dilakukan, paku ekor kuda yang digunakan ditanam pada suatu media tanam sekam. Oleh karena batangnya terletak di bawah tanah, dapat diketahui bahwasanya paku ini termasuk tumbuhan terestrial. Pernyataan tersebut sejalan dengan pernyataan Tjitrosoepomo (2011), yang menyatakan bahwasanya tumbuhan ini sebagian hidup di darat dan sebagian hidup di rawa-rawa Tabel Deskripsi No Organ Bagian Ciri 1 Akar Serabut 2 Batang Perawakan Terna 3 Letak Di bawah tanah 4 Arah tumbuh Ke atas 5 Bentuk batang Silindris 6 Percabangan Simpodial 7 Permukaan Beralur 8 Warna - 9 Daun Letak Menempel pada nodus 10 Jenis daun Daun majemuk 12 Kelengkapan - 13 Bentuk helai Sisik naga 14 Tepi - 15 Pangkal - 16 Ujung Runcing 17 Permukaan - 18 Pertulangan - 19 Peruratan - 20 Tekstur - 21 Ciri khusus Sisik naga
10 22 Sporofil Letak Ujung batang 23 Susunan Gada Klasifikasi Klasifikasi tumbuhan paku Equisetum debile menurut Tjitrosoepomo (2005) adalah divisi : pteridophyta; kelas : equisetinae; ordo : eqisetales; famili : equisetinaceae; genus : equisetum; spesies : Equisetum debile L Manfaat Secara Ekologis dan Ekonomi Studi farmacologi memperlihatkan bahwasanya ekstrak alkohol dari E. debile dapat mengurangi tingkat trigliserida dan kolesterol pada tikus dan pada kelinci (Wu., dkk, 2004). Beberapa penelitian pada E. debile melaporkan adanya megastiman glikosida, fenol glikosida, lignan glikosida, dan flavonoid-flavonoid (Tan., dkk, 2011). Tumbuhan paku ekor kuda (Equisetum sp.) telah diteliti sebagai hepatoprotektif, karena memiliki antioksidan dan menghambat radikal bebas. Beberapa genus dari Equisetum dapat membantu menurunkan glukosa darah dan dapat membantu mengatasi daibetes tipe 2,dan memiliki efek antimikrobial yang baik (Stuart, 2005). Lebih lanjut, Campbell (2012) menyatakan bahwasanya ekor kuda dahulu dimanfaatkan sebagai sikat penggosok panci dan wajan Psilotum nudum Deskripsi Morfologi Berdasarkan pada hasil pengamatan yang telah dilakukan, tumbuhan paku Psilotum sp. merupakan tumbuhan paku dengan perawakan terna. Batang tumbuhan paku purba ini terletak di bawah tanah dengan arah pertumbuhan ke atas. Batang berbentuk silinder dengan percabangan secara dikotomus. Menurut Tjitrosoepomo (2011), paku telanjang merupakan tumbuhan paku yang paling rendah tingkat perkembangannya. Yang paling sederhana masih belum berdaun dan belum berakar. Pernyataan tersebut bersesuaian dengan pernyataan Campbell (2012), yang menyatakan bahwasanya sporofit whisk fern (genus psilotum) memiliki batang yang bercabang dikotom namun tidak berakar. Daun pada tumbuhan paku ini tersebar pada batang dan merupakan daun tunggal. Berdasarkan pada kelengkapan daunnya, daun tumbuhan paku telanjang ini termasuk ke dalam daun yang tidak lengkap. Hal ini sebagaimana telah di bahas sebelumnya mengenai ciri-ciri daun lengkap pada tumbuhan pada poin Hal ini dapat diperjelas dengan memperhatikan gambar Helaian daun pada tumbuhan
11 paku ini berbentuk sisik. Menurut Campbell (2012), batang memiliki tonjolan seperti sisik yang tidak memiliki jaringan vaskular dan mungkin telah berevolusi sebagai daun yang sangat tereduksi. Gambar Psilotum nudum Sporofil pada tumbuhan paku Psilotum sp. ini terletak pada ketiak batang dengan susunan berbentuk bulat atau sinangium. Menurut Tjitrosoepomo (2011), sporangium relatif besar, terdapat pada ujung-ujung cabang dan mempunyai dinding yang terdiri atas beberapa lapis sel. Dalamnya penuh terisi dengan isospora yang tersusun sebagai tetrade. Lebih lanjut, Campbell (2012), meyatakan bahwasanya setiap bungkal kuning pada batang terdiri dari tiga sporangium yang berfusi Habitat Tumbuhan paku Psilotum sp ini merupakan tumbuhan terestrial yang hanya dapat dijumpai pada daerah-daerah tertent saja. Hal ini mengacu pada pernyataan Tjitrosoepomo (2011), yang enyatakan bahwasanya Psilotum nudum, masih terdapat di Pulau Jawa. Menurut Vahdati., dkk (2014) Psilotum nudum merupakan tumbuhan parenial yang tmbuh sebagai epifit pada akar Parrotia persica C.A.May. di tepi sungai Hutan Ramsar Tabel Deskripsi No Organ Bagian Ciri 1 Akar Serabut 2 Batang Perawakan Terna 3 Letak Di bawah tanah 4 Arah tumbuh Ke atas 5 Bentuk batang Silindris
12 6 Percabangan Dicotom 7 Permukaan Beralur 8 Warna Hijau 9 Daun Letak Tersebar pada baatang 10 Jenis daun Daun tunggal 12 Kelengkapan Tidak lengkap 13 Bentuk helai Sisik 14 Tepi - 15 Pangkal - 16 Ujung - 17 Permukaan - 18 Pertulangan - 19 Peruratan - 20 Tekstur - 21 Ciri khusus - 22 Sporofil Letak Ketiak batang 23 Susunan Sinangium Klasifikasi Klasifikasi tumbuhan paku ini menurut database Plantamor (2017) termasuk kedalam kingdom Plantae; divisi Pteridophyta; kelas Psilotopsida; ordo Psilotales; famili Psilotaceae; genus Psilotum; spesies Psilotum nudum (L.) P. Beauv Salvinia sp Deskripsi Morfologi Salvinia sp. merupakan tumbuhan paku dengan perawakan berupa herba. Tumbuhan ini memiliki akar (rhizom) berbentuk serabut. Batang terletak di atas air dengan arah pertumbuhan ke samping. Batang tumbuhan paku ini berbentuk silindris dan tidak memiliki percabangan. Permukaan batang halus, berwarna hijau, dan terdapat trikoma. Daun pada tumbuhan ini terletak pada batang dan merupakan daun tunggal. Berdasarkan kelengkapannya, daun tumbuhan ini termasuk daun yang tidak lengkap. Bentuk helaian bulat dengan tepi daun yang rata. Hal ini sebagaimana dapat diperhatikan pada gambar untuk memperjelas penjelasan di atas. Menurut Tjitrosoepomo (2011), suku Salviniaceae merupakan paku air yang mengapung dengan bebas pada permukaan air, hanya sedikit bercabang-cabang. Daun berkarang, pada tiap-tiap buku terdapat 3 daun. Dari tiga daun itu, yang dua terdapat disebelah atas, berhadapan dan merupakan alat pengapung, yang 3 terdapat di dalam air terbagibagi merupkan badan-badan yang bentuk maupun fungsinya menyerupai akar-akar.
13 Gambar Salvinia sp. Sporofil terletak di dekat rhizom. Menurut Tjitrosoepomo (2011), sporangium terkumpul pada pangkal daun yang berada dalam air, masing-masing berisi satu sorus dan mempunyai dinding yang homolog dengan indisium. Sporokarpium yang berisi satu sorus itu hanya mengandung mikro- atau megasporangium saja Habitat Habitat tumbuhan paku ini berada pada lingkungan akuatik. Hal ini sebagaimana pernyataan Tjitrosoepomo di atas yang menyatakan bahwasanya suku Salviniaceae. Paku air yang mengapung dengan bebas pada permukaan air. Lebih lanjut, Tjitrosoepomo (2011) menambahkan bahwasanya Salvinia, paku air yang mengapung, tersebar di Eropa dan Asia Tabel Deskripsi No Organ Bagian Ciri 1 Akar Serabut 2 Batang Perawakan Herba 3 Letak Di atas air 4 Arah tumbuh Ke samping 5 Bentuk batang Silindris 6 Percabangan - 7 Permukaan Halus 8 Warna Ciri lain Hijau Terdapat trikoma 9 Daun Letak Berada pada batang 10 Jenis daun Daun tunggal 12 Kelengkapan Tidak lengkap 13 Bentuk helai Bulat 14 Tepi Rata
14 15 Pangkal - 16 Ujung - 17 Permukaan Halus 18 Pertulangan - 19 Peruratan - 20 Tekstur - 21 Ciri khusus Akuatik 22 Sporofil Letak Di dekat rhizom 23 Susunan Klasifikasi Klasifikasi tumbuhan paku ini menurut database Plantamor (2017), termasuk ke dalam kingdom Plantae; divisi Pteridophyta; kelas Pteridopsida; ordo Salviniales; famili Salviniaceae; genus Salvinia; spesies Salvinia sp Manfaat Scera Ekologis dan Ekonomi Tumbuhan ini berguna dari segi ekologis. Manfaat dari tumbuhan paku ini adalah sebagai agen bioremidiasi. Hal ini mengacu pada pernyataan Dhir (2009) yang menyatakan bahwasanya Salvinia menunjukkan kemampuan dalam memindahkan kontaminan, seperti logam berat, nutrien anorganik, dari limbah cair.
15 BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan bahwasanya : Berdasarkan pada uraian-uraian dalam bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan a) Paku Vittaria elongata merupakan tumbuhan paku berperawakan terna yang hidup epifit pada batang pohon. Tumbuhan paku jenis ini memiliki daun yang panjang seperti pita dengan sorus terletak pada ujung daun bagian bawah. Bentuk cabang tidak teratur, permukaan kasar, berwarna coklat, arah tumbuh ke atas, dan teretak di atas tanah. Sorus terletak pada ujung daun bagian bawah. b) Tumbuhan paku Pyrrocia sp. merupakan tumbuhan paku berperawakan terna dan hidup epifit pada batang pohon. Batang terletak di atas tanah dengan arah pertumbuhan ke atas, bentuk tidak beraturan, tidak terdapat percabangan, permukaan kasar, dan berwarna coklat. Daun terletak menempel pada batang, berupa daun tunggal yang idak lengkap, dan bersifat dimorfisme. Sorus terletak pada bagian tepi sporofil bagian bawah. c) Equisetum debile merupakan tumbuhan paku berperawakan terna yang berhabitat terestrial. Batang terletak di bawah tanah dengan arah tumbuh ke atas, berbentuk silindris dengan percabangan simpodial, permukaan batang beralur, dan cabang beralur. Daun menempel pada batang, berbentuk sisik, dan ujung rincing. Spora terletak di ujung batang. Tumbuhan paku ini dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan. d) Psilotum nudum merupakan tumbuhan paku berhabitus terna yang berhabitat terestrial. Batang berada di bawah tanah dengan arah pertumbuhan ke atas, berbentuk silinder, dikotomus, permukaan beralur, dan berwarna hijau. Daun tersebar pada batang, berupa daun tunggal yang tidak lengkap, dan berbentuk sisik. Sporofil terletak di ketiak batang membentuk sinangium. e) Salvinia sp merupakan tumbuhan paku air yang berhabitus herba. Batang terletak di atas air dengan arah tumbuh menyamping, berbentuk silindris, permukaan halus, berwarna hijau, dan terdapat trikoma. Daun berada pada batang, berupa daun tunggal dan merupakan daun tidak lengkap, berbentuk bulat, dengan tepi rata. Sporangium terletak di dekat rhizom. Berguna untuk bioremidiasi Saran
16 Praktikum yang berjudul Tumbuhan Paku ini sebaiknya dilakukan dengan menggunakan bahan yang lebih banyak sehingga memudahkan praktikan dalam melakukan pencandraan. Selain itu, spesimen yang digunakan sebaiknya secara keseluruhan berada pada habitat aslinya guna memberi kesan tersendiri terhadap spesimen yang digunakan tersebut. DAFTAR PUSTAKA
17 Barkman, J.J Phytosociology and Ecology of Cryptogamic Epiphytes. Van. Gorcum : Assen. Campbell, Neil, A., Jane B. Reece, Lisa A. Urry, Michael L. Cain, Steven A. Wasserman, Peter V. Minorsky, dan Robert B. Jackson Biologi. Edisi Kedelapan. Jilid 2. Jakarta : Erlangga. Chapman, A. D Numbers of Living Species in Australia and the World. 2nd Edn. Australian Biodiversity Information Services. A Report for the Australian Biological Resources Study. De Winter, W. P., and L. A. Amoroso Cryptograms: Ferns and Ferns Allies. Leiden : Backhyus Publisher. Dhir, Bupindher Salvinia : An Aquatic Fern with Potential Use in Phytoremediation. Environment & Wean International Journal of Science and Technology. Vol. 4. Ewusie, J. Y Pengantar Ekologi Tropika. Bandung : ITB. Hovenkamp, P. H., M.T.M. Bosman, E. Hennipman, H.P. Nootebom, G. Rodlilinder, dan M.C. Roos Flora Malesiana (Polypodiacease). Netherland : Hortus Botanicus. Libing, Zhang dan Nicholas J. Turland Equisetaceae. Popularis Sin. Vol. 6. No. 3. Nurchayati, N Hubungan Kekerabatan Beberapa Spesies Tumbuhan Paku Famili Polypodiaceae Ditinjau dari Karakter Morfologi Sporofit dan Gametofit. Jurnal Ilmial Progressif. Vol 7. No. 19. Salihah, M Studi Tipe Morfologi Kulit Pojon Inang dan Jenis Paku Epifit dalam Upaya Menunjang Konservasi Paku Epifit yang Teradapat di Taman Hutan Raya Ronggo Soeryo Cangar. Skripsi. Jurusan Biologi : Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang. Sastrapradja, S., Afriastini, J.J. Darnaedi, D., dan Widjaja, E.A., Jenis Paku Indonesia. Bogor : LIPI. Schuettpelz and Pryer Fern Phylogeny in Biology and Evolution of Ferns and Lycophytes. Cambridge : Cambridge University Press. Setyawan, Ahmad Dwi dan Sugiyarto Keanekaragaman Flora Hutan Jobolarangan Gunung Lawu : 1. Cryptogammae. Biodiversitas Vol. 2. No.1. Smith, Glbert M Cryptogamic Botany : Bryophytes and Pteridophytes. Edisi Kedua. Volume ii. New Delhi : TATA McGRAW HILL PUBLISHIG COMPAY LTD. Sujalu, Akas Pinaringan Identifikasi Keanekaragaman Paku-Pakuan (Pteridophyta) Epifit pada Hutan Bekas Tebangan di Hutan Penelitian Malinau-Cifor Seturan. Media Konservasi. Vol. 12. No.1.
18 Tan, Jun-Ming, Yi-Hua Qiu, Xin-Qi Tan, Chang-Heng Tan, dan Kai Xiao Chemical Constituent of Equisetum debile. Journal of Asian Natural Products Research. Vol. 13. No. 9. Tjitrosoepomo, G Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjahmada University Press. Tjitrosoepomo, G Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjahmada University Press. Tjitrosoepomo, Gembong Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjahmada University Press. Tjitrosoepomo, Gembong Taksonomi Tumbuhan Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta. Yogyakarta : Gadjahmada University Press. Ulum, Fuad Bahrul dan Dwi Setyati Tumbuhan Paku (Pteridophyta) Epifit di Gunung Raung, Bnyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Jurnal ILMU DASAR. Vol. 16. No. 1. Vahdati, Fatemeh Bazdid, Shahryar Saeidi Mehrvarz, Alireza Naqinezhad, dan Robabaeh Shahi Shavvon The Morphological and Anatomical Reinvestigation of the Psilotum nudum, in Hyrcanian Forests, N Iran. Taxonomi and Biosystematics. Widhiastuti, Retno, T. Alief Aththorick, dan Wina Dyah Puspita Sari Struktur dan Komposisi Tumbuhan Paku-Pakuan di Kawasan Hutan Gunung Sinabung Kabupaten Karo. Jurnal Biologi Sumatra. Vol No. 2. Wu, G.T., Xue, dan, Z.Q. Huang Chemical Constituent of Equicetum debile. Journal Qiqihar Medicine. Vol. 25. No Zainudin, Paku Picisan (Drymoglossumpilloseloides Presl.) Pengaruhnya pada Tanaman Kakao di Kebun Percobaan Kaliwining. Jurnal Pelita Perkebunan.2.
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pada area bekas tambang batu bara Kecamatan Lahei Barat Barito Utara. tempat pengambilan sampel penelitian.
45 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi lokasi penelitian Deskripsi masing-masing jenis tumbuhan paku yang ditemukan pada area bekas tambang batu bara Kecamatan Lahei Barat Barito Utara. Penelitian
SET 19 TUMBUHAN BERSPORA (CRYPTOGAMIE)
19 MATERI DAN LATIHAN SOAL SBMPTN ADVANCE AND TOP LEVEL biologi SET 19 TUMBUHAN BERSPORA (CRYPTOGAMIE) A. DIVISIO BRYOPHYTA (LUMUT) a. Ciri-Ciri Tumbuhan Lumut Bryophyta adalah tumbuhan tidak berpembuluh
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Tumbuhan Paku Tumbuhan paku dalam dunia tumbuhan termasuk golongan besar atau Divisio Pteridophyta (pteris : bulu burung, phyta : tumbuhan ) yang diterjemahkan
Periode Juli-September 2016 ISSN ONLINE : Jenis-Jenis Polypodiaceae di Hutan PT. CPI Rumbai Provinsi Riau Berdasarkan Karakter Morfologi
Jurnal Riau Biologia 1(2) : 135-139 JRB Jenis-Jenis Polypodiaceae di Hutan PT. CPI Rumbai Provinsi Riau Berdasarkan Karakter Morfologi WULANDARI D 1*, NERY SOFIYANTI 2, FITMAWATI 3 123 Jurusan Biologi
Paku/Pteridophyta 1. Struktur tubuh dan habitat tumbuhan paku Tracheophyta berspora
Paku/Pteridophyta Tumbuhan paku adalah tumbuhan darat tertua yang ada sejak zaman Devon dan Karbon. Artinya telah hidup sejak 300 350 juta tahun yang lalu. Fosil paku merupakan sumber batu bara di bumi.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Hutan merupakan kumpulan pepohonan yang tumbuh rapat beserta tumbuh tumbuhan memanjat yang berperan sangat penting bagi kehidupan. Kerapatan hutan disebabkan oleh adanya
Spermatophyta Angiospermae Dicotyledoneae Araucariales Araucariaceae Agathis Agathis dammara Warb.
AGATHIS DAMMARA WARB. Botani Agathis alba Foxw. Spermatophyta Angiospermae Dicotyledoneae Araucariales Araucariaceae Agathis Agathis dammara Warb. Damar Pohon, tahunan, tinggi 30-40 m. Tegak, berkayu,
BAB II KAJIAN PUSTAKA jenis yang terbagi dalam 500 marga (Tjitrosoepomo, 1993: 258). Indonesia
6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Biologi Anggrek 2.1.1 Deskripsi Anggrek Anggrek merupakan famili terbesar dalam tumbuhan biji, seluruhnya meliputi 20.000 jenis yang terbagi dalam 500 marga (Tjitrosoepomo,
BAB IV HASIL PENELITIAN. 1. Lokasi penelitian pada sisi sebelah timur kawasan hutan Kelurahan. Kanarakan dekat pemukiman masyarakat
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian Pengambilan sampel tumbuhan makroepifit di kawasan hutan Kelurahan Kanarakan dilakukan pada empat lokasi yang berbeda. Adapun lokasinya yaitu : 1.
2.1. Pengertian Lumut (Bryophyta)
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Lumut (Bryophyta) Lumut merupakan kelompok tumbuhan yang telah beradaptasi dengan lingkungan darat. Kelompok tumbuhan ini penyebarannya menggunakan spora dan telah
BAB V PEMBAHASAN. paku-pakuan (Pterydophyta) dan divisio tumbuhan berbiji (Spermatophyta).
BAB V PEMBAHASAN A. Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh di kawasan hutan Kelurahan Kanarakan Tangkiling Kota Palangka Raya ditemukan 21 jenis tumbuhan makroepifit yang
PEMBUATAN HERBARIUM TUMBUHAN PAKU PADA MATA KULIAH TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH. Oleh: Desti Indriyanti.
PEMBUATAN HERBARIUM TUMBUHAN PAKU PADA MATA KULIAH TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH Oleh: Desti Indriyanti [email protected] FKIP UMRAH, Kepulauan Riau Abstrak Tumbuhan paku atau pterydophyta merupakan
BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang
Lili paris ( Chlorophytum comosum Landep (Barleria prionitis L.) Soka(
Lili paris (Chlorophytum comosum) Kingdom : plantae divisi : magnoliophyta kelas : liliopsida ordo :liliaceae family : anthericaceae genus :chlorophytum spesies : chlorophytum comusum var. vittatum Batang
PTERIDOPHYTA (Tumbuhan Paku)
PTERIDOPHYTA (Tumbuhan Paku) Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang
BAB I PENDAHULUAN. Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang anggotanya telah jelas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang anggotanya telah jelas mempunyai kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar,
II. TINJAUAN PUSTAKA. Propinsi Sumatera Utara, dan secara geografis terletak antara 98 o o 30 Bujur
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Deskripsi Lokasi a. Letak dan Luas Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike secara administratif berada di Dusun Pancur Nauli Desa Lae Hole, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi Propinsi
KARAKTERISTIK SPORA TUMBUHAN PAKU ASPLENIUM KAWASAN HUTAN RAYA R. SOERJO
Tersedia secara online http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/ EISSN: 2502-471X DOAJ-SHERPA/RoMEO-Google Scholar-IPI KARAKTERISTIK SPORA TUMBUHAN PAKU ASPLENIUM KAWASAN HUTAN RAYA R. SOERJO Herdina Sukma
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian
1 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasisitusi atau
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Rotan adalah salah satu jenis tumbuhan berbiji tunggal (monokotil) yang memiliki peranan ekonomi yang sangat penting (FAO 1997). Sampai saat ini rotan telah dimanfaatkan sebagai
DUNIA TUMBUHAN. Plant 1. 1/24
DUNIA TUMBUHAN CIRI-CIRI TUMBUHAN PENGELOMPOKAN TUMBUHAN A.TUMBUHAN TIDAK BERPEMBULUH B.TUMBUHAN BERPEMBULUH B.1.TIDAK BERBIJI B.2.BERBIJI B.2.1.GYMNOSPERMAE B.2.2.ANGIOSPERMAE Plant 1. 1/24 CIRI-CIRI
BAB I PENDAHULUAN. Tumbuhan paku dikelompokkan dalam satu divisi yang jenis-jenisnya. obatan hingga perananya sebagai keseimbangan ekosistem.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan salah satu golongan tumbuhan yang hampir dapat dijumpai pada setiap wilayah di Indonesia. Tumbuhan paku dikelompokkan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Hutan merupakan kumpulan pepohonan yang tumbuh rapat beserta tumbuh tumbuhan memanjat dengan bunga yang beraneka warna yang berperan sangat penting bagi kehidupan di bumi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tumbuhan Paku Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus, yaitu tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian utama yaitu akar,
IDENTIFIKASI TUMBUHAN BAKUNGAN (Hymenocallis litthoralis) Oleh Nur Azizah NIM
IDENTIFIKASI TUMBUHAN BAKUNGAN (Hymenocallis litthoralis) LAPORAN PENGAMATAN Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Botani Tumbuhan Berpembuluh yang diampu oleh Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S. Oleh Nur Azizah
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Keanekaragaman Tumbuhan Tumbuhan paku dalam dunia tumbuh-tumbuhan termasuk golongan besar atau Divisi Pteridophyta (pteris = bulu burung; phyta = tumbuhan), yang diterjemahkan
LAMPIRAN. 1. Deskripsi jenis Anggrek yang ditemukan di Hutan Pendidikan USU
LAMPIRAN 1. Deskripsi jenis Anggrek yang ditemukan di Hutan Pendidikan USU 1. Agrostophyllum longifolium Habitat : herba, panjang keseluruhan ± 60 cm, pola pertumbuhan monopdodial Batang : bentuk pipih,
Tumbuhan Paku (Pteridophyta) Epifit di Gunung Raung, Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia
Jurnal ILMU DASAR, Vol.16 No.1, Januari 2015:7-12 7 Tumbuhan Paku (Pteridophyta) Epifit di Gunung Raung, Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia Ephypitic Ferns (Pteridophyta) from Raung Mount Banyuwangi, East
RPP MATERI INDIKATOR Pengertian klasifikasi
Analisis Materi Pembelajaran (AMP). RPP MATERI INDIKATOR Untuk mempermudah dalam mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, manusia melakukan pengelompokkan makhluk hidup. Pengelompokan makhluk hidup itu
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Utara Kalimantan Tengah. Keadaan tofografi desa Trinsing memiliki bentuk
1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa trinsing terletak di Kecamatan Teweh Selatan Kabupaten Barito Utara Kalimantan Tengah. Keadaan tofografi desa Trinsing memiliki
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian yang bersifat
1 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian yang bersifat deskriptif yaitu penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi)
Lumut/Bryophyta. Alat perkembangbiakan lumut hati
Lumut/Bryophyta 1. Ciri-ciri dan sifat lumut Pada umumnya kita menyebut "lumut" untuk semua tumbuhan yang hidup di permukaan tanah, batu, tembok atau pohon yang basah, bahkan yang hidup di air. Padahal
BAB IV HASIL PENELITIAN. yaitu dikawasan Hutan Sungai Teluk Sahang (berdasarkan wilayah sampling. 1. Menuju Lokasi Penelitian Menyusuri Sungai Rungan
1 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian Pengambilan spesimen lumut dilakukan pada tiga lokasi yang berbeda, yaitu dikawasan Hutan Sungai Teluk Sahang (berdasarkan wilayah sampling yang
SK: Memahami manfaat keanekaragaman hayati KD: Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam Dunia Tumbuhan dan peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi
Berkelas BAB 7 KINGDOM PLANTAE SK: Memahami manfaat keanekaragaman hayati KD: Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam Dunia Tumbuhan dan peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi CIRI-CIRI Multiseluler,
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mahkota dewa memiliki nama ilmiah Phaleria macrocarpa Boerl.,
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Mahkota Dewa 1. Klasifikasi dan Ciri Morfologi Tanaman mahkota dewa memiliki nama ilmiah Phaleria macrocarpa Boerl., dengan nama sinonim Phaleria papuana. Nama umum dalam
Pembahasan Soal-soal
Pembahasan Soal-soal 1. Contoh tumbuhan paku yang termasuk jenis tumbuhan paku heterospora adalah... a. Platycerium sp. b. Lycopodium sp. c. Marsilea sp. d. Asplenium nidus e. Equisetum sp. Pembahasan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tumbuhan mangrove Rhizophora stylosa 2.1.1 Klasifikasi Rhizophora stylosa Menurut Cronquist (1981), taksonomi tumbuhan mangrove Rhizophora stylosa sebagai berikut : Kingdom
TINJAUAN PUSTAKA. dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom :
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Berdasarkan klasifikasi taksonomi dan morfologi Linneus yang terdapat dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom : Plantae, Divisio : Spermatophyta,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Cagar Alam tangale yang terdapat di
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Cagar Alam tangale yang terdapat di Kabupaten Gorontalo. Cagar Alam ini terbagi menjadi dua kawasan yaitu
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN (Klasifikasi) By Luisa Diana Handoyo, M.Si.
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN (Klasifikasi) By Luisa Diana Handoyo, M.Si. Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti perkuliahan ini diharapkan mahasiswa mampu : Menjelaskan ciri khas tumbuhan lumut, paku dan tumbuhan
TINJAUAN PUSTAKA. bekas tambang, dan pohon peneduh. Beberapa kelebihan tanaman jabon
TINJAUAN PUSTAKA Jabon (Anthocephalus cadamba) merupakan salah satu jenis tumbuhan lokal Indonesia yang berpotensi baik untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman maupun untuk tujuan lainnya, seperti
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tumbuhan paku merupakan salah satu tumbuhan tertua yang masih sering kita
4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tumbuhan Paku Tumbuhan paku merupakan salah satu tumbuhan tertua yang masih sering kita jumpai di daratan. Memiliki kormus merupakan ciri yang khas dari tumbuhan ini. Arti dari
TINJAUAN PUSTAKA. Tanah Gambut. memungkinkan terjadinya proses pelapukan bahan organik secara sempurna
TINJAUAN PUSTAKA Tanah Gambut Tanah gambut terbentuk dari bahan organik sisa tanaman yang mati diatasnya, dan karena keadaan lingkungan yang selalu jenuh air atau rawa, tidak memungkinkan terjadinya proses
PENDAHULUAN. Latar Belakang
Latar Belakang PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan hutan hujan tropis dengan keanekaragaman spesies tumbuhan yang sangat tinggi dan formasi hutan yang beragam. Dipterocarpaceae
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantiatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian
TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai
3 TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Cabai ditemukan pertama kali oleh Columbus pada saat menjelajahi Dunia Baru. Tanaman cabai hidup pada daerah tropis dan wilayah yang bersuhu hangat. Selang beberapa
BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN. yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif eksploratif yaitu suatu
44 BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif eksploratif
A. Struktur Akar dan Fungsinya
A. Struktur Akar dan Fungsinya Inti Akar. Inti akar terdiri atas pembuluh kayu dan pembuluh tapis. Pembuluh kayu berfungsi mengangkut air dari akar ke daun. Pembuluh tapis berfungsi mengangkut hasil fotosintesis
II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung manis termasuk dalam golongan famili graminae dengan nama latin Zea
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Jagung Manis Jagung manis termasuk dalam golongan famili graminae dengan nama latin Zea mays saccarata L. Menurut Rukmana ( 2009), secara sistematika para ahli botani mengklasifikasikan
BAB I PENDAHULUAN. dikenal sebagai negara megabiodiversity. Sekitar 10 % jenis-jenis tumbuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi sehingga dikenal sebagai negara megabiodiversity. Sekitar 10 % jenis-jenis tumbuhan berbunga yang ada
INVENTARISASI TUMBUHAN PAKU DI KAMPUS I UNIVERSITAS MEDAN AREA
ISSN 2598-6015 INVENTARISASI TUMBUHAN PAKU DI KAMPUS I UNIVERSITAS MEDAN AREA JUBAIDAH NASUTION 1, JAMILAH NASUTION 2*, EMMY HARSO KARDHINATA 3 1,2 Departemen Biologi, Fakultas Biologi Universitas Medan
SIFAT-SWAT MORFOLOGIS DAN ANATOMIS LANGKAP (Arenga obtusifolia Blumme Ex. Mart) Haryanto dan Siswoyo'"
Media Konservasi Edisi Khusus, 1997 : Hal. 10 5-109 105 SIFAT-SWAT MORFOLOGIS DAN ANATOMIS LANGKAP (Arenga obtusifolia Blumme Ex. Mart) Oleh : Haryanto dan Siswoyo'" PENDAHULUAN Menurut Muntasib dan Haryanto
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. yang dijadikan sebagai wilayah sampling, yaitu: Adapun deskripsi lokasi penelitian yaitu sebagai berikut:
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian Pengambilan spesimen keladi dilakukan pada lima kelurahan yang berbeda yang dijadikan sebagai wilayah sampling, yaitu: Kelurahan Menteng
TINJAUAN PUSTAKA. dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka
TINJAUAN PUSTAKA Hutan Rakyat Hutan Tanaman Rakyat atau HTR adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gonda merupakan tanaman herba aquatic yang termasuk dalam keluarga
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Tanaman Gonda Tanaman gonda merupakan tanaman herba aquatic yang termasuk dalam keluarga Sphenocleaceae. Klasifikasi taksonomi dijelaskan sebagai berikut : Divisio Sub-divisio
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gonda dalam bahasa jawa disebut gondo atau orang barat
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Tanaman Gonda Tanaman gonda dalam bahasa jawa disebut gondo atau orang barat menyebutnya chikenspike termasuk dalam keluarga Sphenocleaceae. Klasifikasi taksonomi dijelaskan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Yogyakarta, terletak di Jalan Colombo, Catur Tunggal, Depok, Sleman,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka 1. Kebun Biologi FMIPA UNY Kebun Biologi FMIPA termasuk dalam kawasan kampus Universitas Negeri Yogyakarta, terletak di Jalan Colombo, Catur Tunggal, Depok, Sleman,
BAB II KAJIAN PUSTAKA. divisio. Kelima divisio tersebut dari yang paling sederhana ke yang paling
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Tumbuhan Paku (Pteridophyta ) Dunia tumbuhan secara umum dibagi mejadi 5 kelompok besar dalam divisio. Kelima divisio tersebut dari yang paling sederhana ke yang
TUMBUHAN PINUS. Klasifikasi tumbuhan pinus menurut Tjitrosoepomo (1996) sebagai berikut :
TUMBUHAN PINUS Klasifikasi tumbuhan pinus menurut Tjitrosoepomo (1996) sebagai berikut : -Kerajaan : Plantae - Divisi : Spermatophyta - Anak Divisi : Gymnospermae - Kelas : Coniferae atau Coniferinae -
IDENTIFIKASI PROFIL KARAKTERISTIK MORFOLOGI SPORA DAN PROTHALIUM TUMBUHAN PAKU FAMILIA POLYPODIACEAE
25 N. Nurchayati @ Identifikasi Profil... IDENTIFIKASI PROFIL KARAKTERISTIK MORFOLOGI SPORA DAN PROTHALIUM TUMBUHAN PAKU FAMILIA POLYPODIACEAE N. NURCHAYATI, S.Si., M.Pd. Program Studi Biologi Fakultas
TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit
TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Setyamidjaja (2006) menjelasakan taksonomi tanaman kelapa sawit (palm oil) sebagai berikut. Divisi : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Ordo : Monocotyledonae Famili
IDENTIFIKASI MORFOLOGI TANAMAN Rhoeo discolor Pada UNIVERSITAS NEGERI MALANG
IDENTIFIKASI MORFOLOGI TANAMAN Rhoeo discolor Pada UNIVERSITAS NEGERI MALANG LAPORAN PENELITIAN Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Morfologi Tumbuhan yang diampu oleh Dra. Eko Sri Sulasmi, M. S. Oleh:
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada awalnya kedelai dikenal dengan beberapa nama botani yaitu Glycine soja
8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani dan Morfologi Kedelai Pada awalnya kedelai dikenal dengan beberapa nama botani yaitu Glycine soja atau Soja max, tetapi pada tahun 1984 telah disepakati nama botani yang
II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Manggis dan Syarat Tumbuh Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah berupa pohon yang banyak tumbuh secara alami pada hutan tropis di kawasan
A : JHONI ILMU PENGETAHUAN ALAM IV IPA SD KELAS IV
N A M A : JHONI N I M : 111134267 ILMU PENGETAHUAN ALAM IV IPA SD KELAS IV I Ayo Belajar IPA A. StandarKompetensi 2. Memahami hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya B. KompetensiDasar
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Morfologi Tanaman Pisang ( Musa spp.) 2.2. Tanaman Pisang ( Musa spp.)
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Morfologi Tanaman Pisang (Musa spp.) Indonesia pisang merupakan tanaman yang sangat penting karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Pisang adalah tanaman herba yang berasal
HERBARIUM. Purwanti widhy H 2012
HERBARIUM Purwanti widhy H 2012 Agar suatu tumbuhan dapat terus dilihat keberadaannya, maka pengawetan tumbuhan menjadi alternative cara untuk melindungi keberadaan tumbuhan Salah satu pengawetan tumbuhan
Lampiran 1 Peta Kebun Raya Bogor
LAMPIRAN 9 Lampiran 1 Peta Kebun Raya Bogor B A Skala 1:5000 Keterangan: A: Blok I terdiri atas suku Cycadaceae B: Blok II terdiri atas Pinaceae, Araucariaceae, Gnetaceae dan Podocarpaceae 10 Lampiran
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Panas Cangar Taman Hutan Raya (TAHURA) R. Soeryo Jawa Timur sebanyak 3
44 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Diversitas Genus Bryopsida Bryopsida yang berhasil di temukan di Obyek Wisata Pemandian Air Panas Cangar Taman Hutan Raya (TAHURA) R. Soeryo Jawa Timur sebanyak 3 genus
TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Buah Naga Buah naga ( Dragon Fruit) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang baru dibudidayakan di Indonesia dengan warna buah merah yang menyala dan bersisik hijau
Cynodon dactylon (L.) Pers.
Cynodon dactylon (L.) Pers. Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Cyperales Famili : Poaceae Genus : Cynodon Rich. Spesies : Cynodon dactylon (L.) Pers. Nama Ilmiah : Cynodon
TINJAUAN PUSTAKA. tanaman. Tipe asosiasi biologis antara mikroorganisme endofit dengan tanaman
TINJAUAN PUSTAKA Mikroorganisme Endofit Endofit merupakan asosiasi antara mikroorganisme dengan jaringan tanaman. Tipe asosiasi biologis antara mikroorganisme endofit dengan tanaman inang bervariasi mulai
LAPORAN PRAKTIKUM I KUNCI DETERMINASI KELAS DICOTYLEDONAE
LAPORAN PRAKTIKUM I KUNCI DETERMINASI KELAS DICOTYLEDONAE Mata Kuliah : Botani Tumbuhan Tinggi Dosen Pengampu : Rabiatul Adawiyah, M.Pd KELOMPOK 6 Aulia Mahfuzah : 306.14.24.018 Megawati : 306.14.24.003
BAB I PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Menurut Suhartini (2009, h.1)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia terletak di daerah beriklim tropis sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Menurut Suhartini (2009, h.1) Indonesia menjadi salah
BAB I PENDAHULUAN. mengeksplor kekayaan alam Indonesia. kehendak Allah SWT yang tidak ada henti-hentinya memberikan keindahan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berada dalam sebuah negara yang memiliki kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah sudah seharusnya menjadikan suatu hal yang membanggakan dan patut untuk disyukuri,
BAB 1. PENDAHULUAN. a. Diaspora Spora yang berfungsi sebagai agen penyebaran seperti pada fungi, lumut dan paku-pakuan.
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Tinjauan Umum Spora Definisi umum spora adalah unit reproduksi baik seksual maupun aseksual pada bakteri, algae, fungi, dan sebagian tumbuhan seperti lumut dan tumbuhan paku. Menurut
DAVALLIACEAE (PTERIDOPHYTA) DI BUKIT BATU KABUPATEN BENGKALIS-SIAK PROVINSI RIAU Eka Indra H 1, Nery Sofiyanti 2, Dyah Iriani 2
DAVALLIACEAE (PTERIDOPHYTA) DI BUKIT BATU KABUPATEN BENGKALIS-SIAK PROVINSI RIAU Eka Indra H 1, Nery Sofiyanti 2, Dyah Iriani 2 1 Mahasiswa Program Studi S1 Biologi, FMIPA-UR 2 Dosen Jurusan Biologi FMIPA-UR
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) termasuk famili Graminae
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Sorgum Tanaman sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) termasuk famili Graminae (Poaceae). Tanaman ini telah lama dibudidayakan namun masih dalam areal yang terbatas. Menurut
Apl Vegetasi pada Lansekap dan Desain Ruang Luar By: Dian P.E. Laksmiyanti, ST.MT. Klasifikasi Tanaman
Apl Vegetasi pada Lansekap dan Desain Ruang Luar By: Dian P.E. Laksmiyanti, ST.MT Klasifikasi Tanaman Klasifikasi Tanaman Karakter tumbuhan lumut Dinding sel tersusun atas selulosa. Daun lumut tersusun
Makalah Botani Tumbuhan Rendah
Makalah Botani Tumbuhan Rendah Paku Putba Psilophytinae Di susun oleh: Debby C.Runtu Wulan Engka Rifke Onibala UNIVERSITAS NEGRI MANADO FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PENDIDIKAN BIOLOGI
BAB V PEMBAHASAN. dibandingkan secara akuatik dan teresterial. familia yang mampu beradaptasi pada daerah dataran rendah seperti
1 BAB V PEMBAHASAN A. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Pembahasan Tabel 4.20 Kawasan Hutan Sungai Teluk Sahang merupakan kawasan hutan yang sangat lebat oleh pepohonan, hutan yang terlindungi oleh pohonpohon
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lumut Lumut merupakan tumbuhan tingkat rendah yang termasuk kedalam divisi Bryophyta, menurut So (1995) dalam Damayanti (2006), lumut memiliki keanekaragaman dan keindahan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Nyamplung Nyamplung memiliki sebaran yang luas di dunia, dari Afrika, India, Asia Tenggara, Australia Utara, dan lain-lain. Karakteristik pohon nyamplung bertajuk rimbun-menghijau
TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, menunjukkan
14 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gladiol Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, menunjukkan pada bentuk daunnya yang sempit dan panjang seperti pedang. Genus gladiolus terdiri
ASPEK BIOLOGI TANAMAN KOPI Oleh : Abd. Muis, SP.
ASPEK BIOLOGI TANAMAN KOPI Oleh : Abd. Muis, SP. Sifat dan perilaku tanaman kopi dapat dipelajari dari sisi biologinya. Artikel ini ditujukan untuk memberikan pengetahuan tentang beberapa aspek biologi
Daun pertama gandum, berongga dan berbentuk silinder, diselaputi plumula yang terdiri dari dua sampai tiga helai daun. Daun tanaman gandum
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teoritis 2.1.1. Botani Tanaman gandum Menurut Laraswati (2012) Tanaman gandum memiliki klasifikasi sebagai berikut: Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Super
6. Panjang helaian daun. Daun diukur mulai dari pangkal hingga ujung daun. Notasi : 3. Pendek 5.Sedang 7. Panjang 7. Bentuk daun
LAMPIRAN Lampiran 1. Skoring sifat dan karakter tanaman cabai 1. Tinggi tanaman : Tinggi tanaman diukur mulai dari atas permukaan tanah hingga ujung tanaman yang paling tinggi dan dinyatakan dengan cm.
DUNIA TUMBUHAN TUMBUHAN. mencakup. Tumbuhan tak berpembuluh (Atracheophyta) Tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta)
DUNIA TUMBUHAN A. Pendahuluan Sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan hijau. Itulah pemandangan di daratan yang dipenuhi oleh berbagai macam tumbuhan. Berbagai tumbuhan sering kamu jumpai di
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG TAHURA K.G.P.A.A Mangkunagoro 1 Ngargoyoso merupakan Taman Hutan Raya yang terletak di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi
II. Tinjauan Pustaka. dikonsumsi oleh setengah dari penduduk yang ada di bumi ini. Menurut Chevalier
II. Tinjauan Pustaka 2.1. Sejarah Tanaman Tadi Sawah (Oryza sativa L.) Tanaman padi ( Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan yang dikonsumsi oleh setengah dari penduduk yang ada di bumi ini. Menurut
Data Faktor Klimatik dan Edafik pada Berbagai Ketinggian ( 1180 m dpl 1400 m dpl ) di Kawasan Hutan Bebeng, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta
Lampiran 1 Data Faktor Klimatik dan Edafik pada Berbagai Ketinggian ( 1180 m dpl 1400 m dpl ) di Kawasan Hutan Bebeng, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta Daerah I TERBUKA (1180 1280 ) m dpl Ketin ggian Plot
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Taksonomi Tanaman Karet Sistem klasifikasi, kedudukan tanaman karet sebagai berikut :
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi Tanaman Karet Sistem klasifikasi, kedudukan tanaman karet sebagai berikut : Kingdom Divisi Sub divisi Kelas Ordo Family Genus Spesies : Plantae (tumbuh-tumbuhan) :
BAB IV HASIL PENELITIAN. yang berada dikawasan lingkungan STAIN Palangka Raya ditemukan
57 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data Hasil yang diperoleh selama penelitian menunjukan bahwa tumbuhan Herba yang berada dikawasan lingkungan STAIN Palangka Raya ditemukan beberapa jenis tumbuhan
BAB I PENDAHULUAN. mengandalkan hidupnya dan bermata pencaharian dari hutan (Pratiwi, 2010 :
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang memegang peranan penting dalam kehidupan. Hutan memberikan
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. diikuti oleh akar-akar samping. Pada saat tanaman berumur antara 6 sampai
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Pada saat jagung berkecambah, akar tumbuh dari calon akar yang berada dekat ujung biji yang menempel pada janggel, kemudian memanjang dengan diikuti oleh akar-akar samping.
No. Nama Bahan Spesifikasi Kegunaan 1. Alkohol 70% Mencegah kerusakan akibat jamur dan serangga
Lampiran 1. Spesifikasi bahan dan peralatan yang digunakan dalam penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel bambu tali (G. apus (Schult.f.) Kurz) yang terdapat di pinggiran
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Asam Salisilat 1. Struktur Kimia Asam Salisilat Struktur kimia asam salisilat dan turunannya dapat dilihat pada Gambar 2 : Gambar 2. Struktur kimia asam salisilat dan turunannya
Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana 1 Program Studi Pendidikan B iologi. Disusun Oleh: RAHAYU KURNIA DEWI
PENGAMATAN INTI SEL UJUNG AKAR Allium cepa MENGGUNAKAN PEWARNA ALTERNATIF BUAH GENDULA GENDULU (Breynia sp) DAN PERASAN RIMPANG KUNYIT (Curcuma domestica) Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna
