BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Suhendra Hartono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Lokasi Penelitian Pulau Bintan merupakan salah satu bagian dari gugusan pulau yang berada di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.Wilayah administrasi gugus Pulau Bintan terdiri dari Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang. Kota Tanjungpinang terletak di Pulau Bintan dan sangat berdekatan dengan Negara Singapura yang merupakan transit dan lalu lintas perdagangan dunia dan juga Malaysia. Selain itu Pulau Bintan dan sekitarnya mempunyai potensi sumberdaya alam yang kaya, diantaranya pertambangan (bauksit), perikanan, dan pariwisata. Pulau Bintan mempunyai luas ,75 km² atau sekitar 11,4% dari total luas seluruh pulau di Provinsi Kepulauan Riau (DKPPKE Kota Tanjungpinang, 2012). Secara geografis gugus Pulau Bintan terletak pada BT BTdan 0 40 LU LU. Adapun batas-batas wilayah Pulau Bintan adalah sebagai berikut : Sebelah Utara : Selat Singapura/Selat Malaka Sebelah Selatan : Provinsi Jambi Sebelah Barat : Provinsi Riau Sebelah Timur : Selat Karimata, Laut Cina Selatan Berdasarkan survei pendahuluan yang sudah dilakukan, maka lokasi penelitian dibagi menjadi 3 stasiun pengamatan berdasarkan kondisi habitatnya.(gambar 10).
2 Gambar 10. Peta Lokasi Stasiun Pengamatan a. Pantai Impian Pantai Impian (Stasiun I) terletak di 0⁰ 53' 52.01" LU dan 104⁰ 27' 35.14" BT. Koordinat ini berada di wilayah administratif Kelurahan Tanjungpinang Barat, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.Lokasi ini telah dibuat tempat untuk konservasi siput gonggong dengan pemisahan antara zona inti yang sudah dipagari dengan kayu. Lebar zona inti ini hanya 6 meter dan sepanjang 170 meter dikarenakan wilayah distribusi yang terbatas. Pada zona ini masyarakat tidak boleh memanfaatkan siput gonggong yang ada, karena daerah ini sudah dipagar untuk daerah konservasi. Jadi masyarakat setempat hanya boleh memanfaatkan siput gonggong yang berada di luar zona inti. Terkadang banyaknya populasi menyebabkan siput gonggong berada di luar zona inti. Siput gonggong pada zona inti ini sudah berada dalam habitat aslinya di daerah substrat berlumpur dan ditumbuhi lamun. a. Pulau Dompak/Sekatap Pulau Dompak (Stasiun II) terletak di00⁰ 51' 59.6" LU dan 104⁰ 27' 03.5" BT. Koordinat ini berada di wilayah administratif Kampung Sekatap, Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan
3 Riau.Lokasi ini merupakan habitat asli dari siput gonggong. Lokasi ini paling banyak dijumpai nelayan yang menangkap ikan dan siput gonggong untuk dijual kembali. Gambar 11. Lokasi penelitian yang banyak dijumpai nelayan b. Malang Rapat, Pantai Trikora Malang Rapat, Pantai Trikora (Stasiun III) terletak di 1⁰ 54' 39.35" LU dan 104⁰ 38' 10.39" BT. Koordinat ini berada di wilayah administratif Pantai Trikora, Desa Malang Rapat, Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Gambar 12). Gambar 12. Lokasi Percontohan Pengelolaan Padang Lamun Bintan Timur Stasiun ini merupakan salah satu wilayah konservasi padang lamun yang berada di kawasan Pantai Trikora, Bintan Timur. Proyek pengelolaan padang lamun ini disebut dengn TRISMADES Trikora Seagrass Managenment Demonstration Site yang dilaksanakan di Pantai Trikora, pesisir Timur Pulau
4 Bintan, Kepulauan Riau, yang difokuskan di tiga desa yakni di Desa Teluk Bakau, Desa Malang Rapat, dan desa Tanjung Berakit.Di pesisir Timur Pulau Bintan padang lamun tumbuh di sepanjang Pantai Trikora (25km) sampai Desa Tanjung Berakit yang meliputi Desa Lagoi, Pengudang, Berakit, Malang Rapat dan Teluk Bakau dengan luasan ha. Ditemukan 10 jenis lamun yaitu: Halodule uninervis, Halodule pinifolia, Cymodecea rodundata, Cymodocea serrulata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, Halophila spinulosa, Thalassia hemprichii, Thalassodendron ciliatum dan Enhalus acoroides. Lokasi yang memiliki keanekaragaman jenis lamun yang tinggi adalah di Desa Malang Rapat, Teluk Bakau dan Desa Pegudang (Bappeda Kabupaten Bintan, 2010).Namun karena air yang cukup jernih dan keindahan pantai yang masih terjaga di lokasi ini banyak didirikan resort-resort dan rumah makan Komposisi dan Kerapatan Jenis Lamun Berdasarkan pengamatan pada setiap stasiun penelitian ditemukan empat jenis lamun, yaitu Halodule uninervis, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, dan Thallasia hemprichii. Jenis lamun yang ditemukan pada Stasiun I hanya Enhalus acoroides dengan rata-rata jumlah tegakan sebesar 41,83 tegakan/m². Pada Stasiun II ditemukan jenis Enhalus acoroides dan Thallasia hemprichii dengan rata-rata jumlah tegakan sebesar 172,06tegakan/m². Pada Stasiun II terdapat kerapatan relative spesies Enhalus acoroides sebesar 23% dan Thallasia hemprichii sebesar 77%. Seperti terlihat pada Gambar % 77 % Enhalus acoroides Thallasia hemprichii Gambar 13. Presentase penutupan jenis Enhalus acoroides dan Thallasia hemprichii di Stasuin II
5 Pada Stasiun III paling banyak jenis lamun yang ditemukan, jenis Halodule uninervis, Thallasia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Enhalus acoroides dengan rata-rata jumlah tegakan sebesar 193 tegakan/m². Pada stasiun ini terdapatkerapatan relatif spesies Halodule uninervis 53%, Thallasia hemprichii 33%, Cymodocea rotundata 10%, dan Enhalus acoroides 4% (Gambar 13). 9,64% 32,88 % 4,26% 53,22 % Halodule uninervis Thallasia hemprichii Cymodocea rotundata Gambar 14. Presentase penutupan jenis Halodule uninervis, Thallasia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Enhalus acoroides di Stasiun III. Pada Stasiun Itidak ditemukan adanya asosiasi lamun dengan jenis lainnya namun berbeda dengan kedua lokasi lainnya yang ditemukan adanya asosiasi antar dua sampai empat jenis lamun yang berbeda pada masing-masing stasiun. Pada Stasiun I tidak terjadi asosiasi karena hanya ditemukan satu jenis lamun Enhalus acoroides. Pada Stasiun II ditemukan asosiasi antara jenis lamun Enhalus acoroides dan Thallasia hemprichii. Sedangkan pada Stasiun III ditemukan asosiasi antara jenis Halodule uninervis, Cymodocea rotundata,enhalus acoroides, dan Thallasia hemprichii. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa tumbuhan lamun tidak hanya hidup sendiri tetapi berdampingan dengan tumbuhan lamun jenis yang lain atau biota asosiasi (Bengen, 2001). Pernyataan tersebut didukung pula Kiswara (1999) yang menyebutkan bahwa lamun dapat membentuk kelompok-kelompok kecil sampai berupa padang yang luas. Padang lamun dapat berbentuk vegetasi tunggal yang disusun oleh satu jenis lamun atau vegetasi yang disusun mulai 2-12 jenis lamun yang tumbuh. Komposisi dan kerapatan jenis yang sudah dijelaskan sebelumnya dapat dilihat pada tabel 5.
6 Stasiun I Tabel 5. Kerapatan jenis lamun di tiap stasiun Jenis Lamun Jumlah tegakan tiap jenis/m² Jumlah total tegakan lamun/m² Enhalus acoroides 41,83 41,83 Stasiun II Enhalus acoroides 39,5 Thallasia hemprichii 132,56 Stasiun III Halodule uninervis 102,78 Cymodocea rotundata 63,5 Enhalus acoroides 185,28 Thallasia hemprichii 8,22 172, Sebaran dan Kelimpahan Siput Gonggong Berdasarkan pengamatan dan pengambilan sampel siput gonggong yang dilakukan di ketiga stasiun penelitian hanya ditemukan satu jenis siput gonggong yaitu Strombus turturella. Dimana menurut Dody(2007) sejatinya ada empat jenis siput dari family Strombidae yang diberi nama siput gonggong Strombus turturella, Strombus canarium, Strombus luhuanus, dan Strombus urceus. Dua jenis yang disebut pertama banyak ditemukan di bagian Barat wilayah Indonesia terutama di perairan Kepulauan Riau dan Bangka Belitung. Sedangkan kedua jenis yang lainyaitu Strombus luhuanu, dan Strombus urceusberlimpah di wilayah perairan Indonesia bagian Timur yaitu NTB, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Siput gonggong yang dijumpai di lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 14.
7 Gambar 15. Siput gonggong yang dijumpai di lokasi penelitian Jumlah individu yang ditemukan pada Stasiun I yaitu sebanyak enam individu dimana pada stasiun ini dekat dengan lokasi konservasisiput gonggong.pada stasiun pengamatan ini siput gonggong yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang berasal dari luar area konservasi. Kerapatan lamun pada stasiun ini adalah 41,83 tegakan/m². Jumlah individu pada Stasiun II hanya ditemukan sebanyak empat individu dimana pada stasiun ini memiliki tingkat kerapatan lamun yang lebih tinggi dibanding Stasiun I yaitu 172,06 tegakan/m². Kerapatan lamun bukan satusatunya faktor penyebab tinggi dan rendahnya kelimpahan siput gonggong namun didukung juga oleh substratyang ada.semakin banyak lumpur yang terkandung dalam substratmaka semakin tinggikandungan bahan organiknya, akibatnya kelimpahan siput gonggongjuga tinggi.begitupula dengan Stasiun I yang dapat dikatakan memiliki kerapatan lamun yang jarang namun mampu didapatkan kelimpahan siput gonggong terbesar dikarenakan siput gonggong lebih menyukai substrat yang lunak untuk mendapatkan makanannya. Pada Stasiun III tidak ditemukan jenis siput gonggong yang hidup di perairan ini.hal ini dikarenakan jenis substrat pasir yang lebih mendominasi dibanding lumpur yang terkandung didalamnya. Berdasarkan perhitungan statistik maka kelimpahan siput gonggong pada Stasiun I yaitu terdapat spesies Strombus turturellasebanyak 0,33 ind/m²,
8 sedangkan pada Stasiun II spesies Strombus turturella sebanyak 0,22 ind/m² dan tidak didapatkan individu pada Stasiun III (Gambar 14). 0,4 0,3 0,2 0,1 0 Kelimpahan Siput Gonggong Stasiun I Stasiun II Stasiun III Gambar 16. Presentase kelimpahan siput gonggong Pada ketiga stasiun pengamatan kehadiran jenis Strombus turturella 100% karena tidak ditemukan siput gonggong jenis lainnya. Kondisi kepadatan rata-rata siput gonggong di stasiun-stasiun pengamatan secara umum berada dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Mengacu kepada kajian yang dilakukan sebelumnya oleh Andirato (1989) di wilayah Sekatap/Dompak menemukan kepadatan rata-rata siput gonggong saat itu adalah 0,64 ind/m², dari hasil kajian DKPPKE Kota Tanjungpinang (2012) kepadatan gonggong sebesar 0,3 ind/m², sedangkan dari hasil kajian ini kepadatan rata-rata gonggong relatif lebih rendah yaitu hanya sebesar 0,22 ind/m². Menurut DKPPKE Kota Tanjungpinang, kondisi ini merupakan suatu indikator bahwa tingkat pemanfaatan siput gonggong selama ini telah mengakibatkan penurunan kelimpahan gonggong secara drastis. Hadirnya siput gonggong pada beberapa lokasi lainnya seperti yang terdapat dalam stasiun-stasiun pengamatan ini dengan kepadatan relatif rendah merupakan informasi penting untuk pengelolaan selanjutnya terhadap upaya pemulihan dan kelestarian kondisi populasi siput gonggong di Perairan Bintan Pengukuran Morfometrik Siput gonggong yang ditemukan pada penelitian ini dilakukan pengukuran dan penimbangan beratnya. Adapun parameter yang diukur yaitu Shell Length (Panjang cangkang/sl), Shell Width (lebar cangkanng/sw), Shell Depth (Tinggi cangkang/sd), dan Outer Lip/Lip thickness (ketebalan bibir luar/ol)(gambar 17.)
9 Ketebalan bibir luar Lebar Kerang Panjangcangkang tinggi cangkang Gambar 17. Parameter yang diukur untuk morfometrik siput gonggong Hasil pengukuran terhadap siput gonggong diketahui pada lokasi studi panjang siput gonggong berkisar antara mm dengan rata - rata panjang 54,56 mm. Ketebalan bibir luar (OL) yang ditemukan berkisar antara 1 4 mm dengan rata-rata 2,85 mm. Ketebalan bibir luar ini dapat menunjukkan tingkat kedewasaan siput gonggong. Siput gonggong yang dewasa bibir luar kerangnya semakin tebal. Parameter pengukurannya dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil pengukuran terhadap morfometrik siput gonggong No Parameter Satuan Kisaran Rata-rata 1 Shell Length (panjangcangkang) mm 41,38 52,88 48,12 2 Shell Width (lebar cangkang) mm 27,57 35,54 32,32 3 Shell Depth (tinggi cangkang) mm 20,54 27, Outer lip (ketebalan bibir luar) mm 2,9 5,22 4,07 5 Berat cangkang gr 0,66 4,48 1,49 Dari Tabel 6. dapat dilihat kisaran ukuran komponen morfometrik siput gonggong yang ditemukan di lokasi penelitian. Hubungan antara komponen morfometrik yang diukur tersebut secara statistik dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan linier. Hubungan antara komponen morfometrik tinggi cangkang dan
10 Lebar Cangkang (mm) lebar cangkang dapat dinyatakan dengan persamaan y = 0,948x + 8,521dan nilai keeratan hubungan antara kedua komponen tersebut ditunjukkan dengan nilai R² = 0,617. Ini menyatakan laju pertumbuhan antara kedua variabel berjalan beriringan, semakin besar nilai R 2 semakin erat hubungan kedua komponen tersebut (Gambar 18) y = 0,948x + 8,521 R² = 0, Tinggi cangkang (mm) Gambar 18. Grafik hubungan antara komponen morfometrik lebar cangkang (SW) dantinggi cangkang (SD) Hal sebaliknya terjadi pada hubungan antara komponen morfometrik tinggi cangkang dan ketebalan bibir luarcangkang yang dinyatakan melalui persamaan y= -0,030x + 5,133 dengan R² = 0,009. Dengan adanya nilai R 2 yang sangat kecil (mendekati nilai 0) inimemberikan indikasi bahwa laju pertumbuhan tinggi cangkang siput gonggong berjalan tidak seiring dengan laju pertumbuhan ketebalan bibir luar cangkangnya (Gambar 19).
11 Berat Cangkang ketebalan bibir luar (mm) y = -0,030x + 5,133 R² = 0, Tinggi cangkang (mm) Gambar 19.Grafik hubungan antara komponen morfometriktinggi cangkang (SD) dengan ketebalanbibir luar (OL) Pada Gambar 18 yang menggambarkan keterkaitan antara komponen morfometrik panjang cangkang dengan berat cangkang. Hubungan ini menunjukkan tingkat keeratan hubungan antara kedua komponen morfometrik tersebut yang memberikan indikasi bahwa laju pertumbuhan panjang cangkang siput gonggong berjalan seiring dengan laju pertumbuhan beratnya.hal ini dinyatakan dengan persamaan y = 0,150x - 2,687 dengan nilai keeratan hubungan R² = 0,882.Sama halnya dengan literatur yang menyatakan bahwa pola pertumbuhan bergantung kepada ketersediaan makanan, dimana jika makanan berlimpah maka laju penambahan berat semakin cepat. Selain itu kelompok yang berukuran besar berada pada kondisi lingkungan yang sesuai dengan persyaratan hidup dari siput gonggong dan banyak didapatkan pasokan makanan (Siddik, 2011) y = 0,150x - 2,687 R² = 0, Panjang Cangkang Gambar 20. Grafik hubungan antara komponen morfometrik panjang cangkang (SL) dengan berat cangkang
12 4.5. Indeks Keanekaragaman dan Dominansi Lamun Indeks keanekaragaman dan dominansi merupakan suatu ciri unik pada suatu komunitas. Indeks-indeks ini menunjukkan kekayaan jenis dalam suatu komunitas serta keseimbangan jumlah setiap jenis. Keanekaragaman spesies menunjukkan keberadaan suatu spesies dalam suatu ekosistem, semakin bear jumlah jenis serta semakin kaya dan seimbang distribusi diantara jenis akan meningkatkan kenekaragaman jenis yang diukur dengan indeks tersebut (Dwianto, 2001). Berdasarkan data hasil penelitian di Perairan Bintan, maka diperoleh nilai indeks keanekaragaman dan dominansi di ketiga stasiun penelitian seperti terlihat pada Tabel 7. Tabel 7. Indeks Keanekaragaman dan Dominansi Jenis Lamun Stasiun Keanekaragaman Dominansi Stasiun I 0 1 Stasiun II 0,53 0,64 Stasiun III 1,11 0,39 Berdasarkan tabel diatas maka nilai indeks keanekaragaman pada Stasiun 1 sebesar 0 yang menunjukkan bahwa pada lokasi tersebut tidak ditemukan keanekaragaman jenis lamun sama sekali atau pada stasiun tersebut hanya terdiri dari spesies tunggal lamun yaitu Enhalus acoroides. Pada Stasiun II dan Stasiun III indeks keanekaragamannya sebesar 0,53 dan 1,11. Ini menunjukkan bahwa pada kedua stasiun tersebut didapat nilai keanekaragaman jenis yang rendah dan sedang. Kondisi tersebut karena pada lokasi penelitian ditemukannya perbedaan jenis substrat sehingga mempengaruhi jenis lamun yang hidup di lokasi penelitian tersebut. Pada Stasiun I didapat nilai indeks dominansi sebesar 1, ini menunjukkan bahwa pada stasiun tersebut memang hanya ditempati oleh satu jenis lamun saja yaitu Enhalus acoroides. Ini disebabkan pada stasiun tersebut hanya ada satu jenis lamun saja yang bisa menempati habitat di Stasiun I. Berarti jenis Enhalus
13 acoroides dapat beradaptasi dengan lingkungan yang memiliki substrat lumpur selain itu dapat tetap hidup di perairan yang tidak mendapat cukup cahaya matahari sehingga dapat diindikasikan bahwa jenis tersebut lebih mampu bertahan tanpa intensitas cahaya matahari yang cukup. Pada Stasiun III didapatkan nilai indeks dominasi 0,39. Nilai ini mendekati 0 berarti tidak ada spesies yang dominan pada stasun tersebut karena pada stasiun ini ditemukan 4 jenis lamun yang berbeda. Sedangkan pada Stasiun II didapat nilai indeks dominansi sebesar 0, 64. Nilai ini mengindikasikan adanya dua spesies (berimbang) yang mendominansi pada stasiun tersebut yaitu jenis Enhalus acoroides dan Thallasia hemprichii Hubungan Asosiasi antar Jenis Lamun dan Siput Gonggong yang sering Dijumpai dalam Petak Ukur Untuk melihat hubungan keberadaan spesies siput gonggong pada berbagai jenis lamun yang menjadi habitatnya dapat digunakan nilai asosiasi, dimana hasil perhitungannya dapat di lihat pada Tabel 8. Tabel 8. Nilai E(a), Xi² pada setiap stasiun Stasun I Strombus turturella Spesies E(a) Xi² Enhalus acoroides 1,78 0,16 Stasiun II Strombus turturella Spesies E(a) Xi² Enhalus acoroides 0,92 3,6 Thallasia hemprichii 1,33 1,23 Stasiun III Strombus turturella Spesies E(a) Xi² Enhalus acoroides 0 0 Thallasia hemprichii 0 0 Cymodocea rotundata 0 0 Halodule uninervis 0 0 Keterangan : = ditemukan asosiasi positif antar 2 spesies (a > E(a))
14 Berdasarkan perhitungan statistik pada Stasiun I didapatkan nilai a > E(a), X²hit < X²tab pada spesies jenis lamun Enhalus acoroides dengan siput gonggong jenis Strombus turturella maka dapat disimpulkan bahwa ada 1 hubungan asosiasi positif antara jenis lamun Enhalus acoroides dengan siput gonggong jenis Strombus turturella namun asosiasi/hubunganya tidak erat. Pada Stasiun II ditemukan juga asosiasi positif antara jenis lamun Enhalus acoroides dengan siput gonggong jenis Strombus tuturella dengan nilai a > E(a), X²hit < X²tab ini menunjukkan adanya hubungan asosiasi positif. Hasil ini sesuai dengan keadaan di lokasi pengamatan dimana hampir setiap subplot ditemukan jenis lamunenhalus acoroides ditemukan pula siput gonggong jenis Strombus turturella. Selain itu ditemukan pula asosiasi positif antara jenis lamunthallasia hemprichii dengan jenis siput gonggong Strombus turturella namun keduanya tidak menunjukkan keeratan. Dapat dilihat asosiasi antara siput gonggong dan lamun pada gambar 21. Gambar 21. Asosiasi antara siput gonggong dan lamun dalam satu transek Pada Stasiun III tidak ditemukan adanya asosiasi positif antara semua jenis lamun dan siput gonggong, karena semua nilai yang didapatkan yaitu a E(a), X²hit < X²tab. Sehingga semuanya menunjukkan hubungan asosiasi negatif dan tidak ada keeratan antar satu sama lain. Di stasiun ini tidak ditemukannya siput gonggong walaupun di lokasi ini ditemukan lamun dengan keanekaragaman yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena kondisi substrat padang lamun merupakan pasir dan terlalu kasar untuk perkembangbiakan larva dan habitat siput gonggong.
15 4.7. Pengamatan Parameter Lingkungan Fisika dan Kimia Perairan 1. Kedalaman Perairan Pada ketiga stasiun penelitian didapatkan kedalaman yang tidak berbeda jauh. Nilai rata-rata kedalaman di Stasiun I yaitu 23,43 cm, Stasiun II yaitu 0,2 cm, Stasiun III yaitu 0. Nilai tingkat kedalaman stasiun II dan III hampir seragam dikarenakan letak ketiga stasiun yang memiliki kesamaan kontur dasar perairan. Sedangkan pada Stasiun I terdapat perbedaan yang signifikan diakibatkan perbedaan waktu pengamatan yang terlalu pagi karena mengikuti kegiatan nelayan menggunakan sampan untuk sampai ke lokasi penelitian sebelum surut. Kedalaman perairan yang terukur pada setiap stasiun tidak terlalu ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan lamun yang merupakan vegetasi perairan dangkal. Proses fotosintesis yang optimal karena penetrasi cahaya yang cukup didukung oleh dangkalnya perairan. Namun terlalu dangkalnya perairan ketika surut terendah membuat lamun mendapatkan sinar matahari yang berlebih dan lama kelamaan dapat menyebabkan kekeringan terhadap daun lamun yang kemudian menyebabkan rusaknya ekosistem lamun akibat paparan sinar matahari yang berlebih. Berbeda dengan kondisi siput gonggong yang tidak terlalu bergantung terhadap kedalaman perairan karena siput gonggong lebih tergantung terhadap substrat hidupnya. Menurut Hynes (1978) dalam Honata (2010) faktor utama yang menentukan penyebaran, kepadatan, dan komposisi jenis bentik adalah substrat dasar perairan, yaitu lumpur, pasir tanah liat berpasir, kerikil, dan batu. Tipe substrat suatu perairan akan mempengaruhi penyebaran, kepadatan, dan komposisi bentos.
16 30,00 20,00 10,00 0,00 Kedalaman Stasiun I Stasiun II Stasiun III Gambar 22. Grafik rata-rata kedalaman di tiap stasiun (cm) 2. Suhu Suhu dapat mempengaruhi seluruh tahapan dalam siklus hidup suatu spesies dan dapat membatasi distribusi spesies tersebut melalui pengaruhnya terhadap kemampuan bertahan, reproduksi, pertumbuhan, dan kompetisi dengan organisme lainnya pada batas toleransi suhu. Berarti suhu perairan sangat berpengaruh terhadap proses-proses biologi maupun kimia baik pada biota-biota maupun pada perairan itu sendiri. Selain itu menurut (Dwianto, 2001), peningkatan suhu akan mempengaruhi kehidupan di perairan tersebut. Suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme, laju fotosintesis, proses fisiologi hewan dan perkembangan atau faktor reproduksi dari organisme. Kondisi suhu perairan memiliki pengaruh memiliki pengaruh bagi kelangsungan hidup lamun maupun siput gonggong. Berdasarkan pengukuran langsung di lapangan didapatkan suhu rata-rata pada ketiga stasiun yaitu berkisar antara C. Suhu air terendah yaitu 29,7 C didapat pada Stasiun I, sedangkan suhu tertinggi pada Stasiun III yaitu 30,8 C. Nilai parameter suhu perairan yang didapat tidak jauh berbeda hal ini disebabkan karena tingkat kedalaman perairan yang tidak jauh berbeda dan waktu pengukuran di setiap stasiun yang tidak jauh berbeda pula yaitu antara pukul WIB. Dimana cahaya matahari yang masuk ke perairan intensitasnya belum terlalu tinggi. Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan mengindikasikan bahwa suhu air laut di semua stasiun penelitian cocok dalam kisaran suhu ideal baik bagi
17 pertumbuhan dan perkembangan siput gonggong yaitu antara28,5 29,9 C. Menurut (Hyman, 1955), lamun bisa tumbuh dan berkembang hingga kisaran 35 C. 31,00 30,50 30,00 29,50 29,00 Suhu Stasiun I Stasiun II Stasiun III Gambar 23. Grafik rata-rata suhu perairan di tiap stasiun ( C ) 2. Kecepatan Arus Kecepatan arus pada ketiga stasiun penelitian tidak memiliki perbedaan yang signifikan yaitu pada Stasiun I sebesar 0,041 ms ², pada Stasiun II 0,064 ms ², dan pada Stasiun III sebesar 0,079 ms ². Hal ini diperkirakan karena perbedaan penutupan lamun pada ketiga stasiun. Pada Stasiun I ditemukan vegetasi penutupan lamun dengan tingkat kerapatan sedang dibandingkan kedua stasiun lainnya. Selain jenis lamun Enhalus acoroidesyang mendominasi, rimbun dan panjangnya daunenhalus acoroides menyebabkan arus yang masuk akan lebih teredam yang menyebabkan kondisi perairan lebih tenang. Berbeda dengan Stasiun III yang memiliki tingkat kerapatan lamun yang tinggidiantara stasiun lainnya dan hanya didominasi oleh jenis lamun berdaun kecil maka arus air laut tidak banyak tereduksi. 0,08 0,06 0,04 0,02 0 Arus Stasiun I Stasiun II Stasiun III Gambar 24. Grafik rata-rata kecepatan arus di tiap stasiun (ms ²)
18 4. Kecerahan Pada kedua stasiun penelitian didapatkan tingkat kecerahan sebesar 100%. Ini dikarenakan di setiap stasiun pengamatan memiliki tingkat kedalaman yang hampir seragam kecuali pada Stasiun I yang memiliki tingkat kecerahan sebesar 70% karena selain kedalaman yang tinggi, substratnya berupa lumpur.berdasarkan hasil pengukuran maka nilai transparansi pada ketiga stasiun ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan lamun. 5. Kandungan Oksigen terlarut (DO) Menurut KepMen LH No 51 tahun 2004, nilai baku mutu air laut yang optimal yaitu >5 mg/l untuk kandungan Oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut optimum bagi moluska bentik adalah 4,1-6,6 mg/l, sedangkan kadar minimal yang masih dalam batas toleransi adalah 4 mg/l (Clark, 1974).Ini berarti pada ketiga stasiun pengamatan tergolong dalam kondisi yang ideal baik bagi pertumbuhan dan perkembangan lamun serta siput gonggong. Yaitu 5,37 mg/l pada Stasiun I, 4,86 mg/l pada Stasiun II dan 5,09 mg/l pada Stasiun III. 5,40 5,20 5,00 4,80 4,60 DO Stasiun I Stasiun II Stasiun III Gambar 25. Grafik rata-rata DO perairan di tiap stasiun (mg/l) 6. Derajat Keasaman (ph) Nilai derajat keasaman (ph) pada setiap stasiun memiliki nilai yang hampir sama yaitu antara 7,53 8,06 berarti dari ph netral hingga sedikit basa, keadaan ph ini menunjukkan homogenitas ph pada tiap stasiun. Umumnya ph air laut tidak menunjukkan perbedaan yang besar.
19 Menurut KepMen LH No. 51 Tahun 2004 ph perairan optimal bagi pertumbuhan lamun yaitu dalam kisaran 7 8,5. Ini berarti pada ketiga stasiun pengamatan tergolong dalam kondisi ph perairan yang ideal baik bagi pertumbuhan dan perkembangan lamun maupun siput gonggong. 7,20 7,10 7,00 6,90 7,2 7 ph 7,17 Stasiun I Stasiun II Stasiun III Gambar 26. Grafik rata-rata ph perairan di tiap stasiun 7. Salinitas Beradasarkan pengukuran langsung di ketiga stasiun penelitian didapatkan nilai rata-rata salinitas yang berkisar antara Dimana kisaran salinitas tersebut cocok bagi kelangsungan hidup baik lamun maupun siput gonggong. Lamun memiliki toleransi salinitas yang berbeda-beda, namun sebagian besar mempunyai rentang kisaran toleransi salinitas antara 10 40, sedangkan nilai optimum lamun terhadap salinitas air laut ialah ,00 29,00 28,00 27,00 Salinitas Stasiun I Stasiun II Stasiun III Gambar 27. Grafik rata-rata salinitas perairan di tiap stasiun ( )
20 4.8.Pengamatan Substrat Berdasarkan pengamatan secara visual di ketiga stasiun penelitian, maka didapatkan tipe substrat : Stasiun I : Substrat lumpur Stasiun II : Substrat pasir dengan sedikit lumpur Stasiun III : Substrat pasir dengan sedikit lumpur Pengamatan substrat dilanjutkan pada analisis besar butir dan kandungan unsur hara di Laboratorium Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor, kemudian data diolah kembali menggunakan segitiga miller. Maka didapatkan hasilnya seperti terlihat pada Tabel Tabel 9. Analisis besar butir dengan segitiga miller TEKSTUR (%) STASIUN Pasir Debu Liat Analisis Tekstur Stasiun I Lempung Stasiun II Pasir Berlempung Stasiun III Pasir Berlempung Jika komposisi substrat di atas dikaitkan dengan kelimpahan siput gonggong di masing-masing stasiun, maka siput gonggong lebih banyak ditemukan pada lokasi yang komposisi substratnya didominasi oleh substrat lunak (lumpur), hal ini diperkuat dengan hasil pada Stasiun III yang didominasi substrat pasir tidak ditemukan siput gonggong. Sedangkan pasa Stasiun I dan Stasiun II dimana pada masing-masing stasiun ditemukan 7 dan 4 individu siput gonggong. Hasil analisis kandungan unsur hara dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Kandungan unsur hara
21 STASIUN C org N total Stasiun I Stasiun II Stasiun III Kandungan unsur hara tertiggi berada pada Stasiun I dimana siput gonggong terbanyak ditemukan. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siput gonggong lebih menyukai substrat yang halus karena pada jenis substrat ini siput gonggong lebih mudah untuk mendapatkan sumber makanannya yang terkandung dalam endapan di habitatnya (substrat) berupa unsur-unsur hara dan sisa-sisa pembusukan makhluk hidup. Substrat dasar suatu perairan sangat berpengaruh terhadap sebaran dan kelimpahan dari siput gonggong. Siput gonggong mencerna bahan organik yang terdapat dalam pertikel-partikel substrat tersebut. Berbeda dengan Stasiun III yang komposisinyadidominasi oleh pasir dan sedikitnya kandungan zat hara pada substratnya.pada substrat yang didominasi pasir, larva siput gonggong tidak dapat bertahan hidup karena siput ini memerlukan substrat yang lebih halus untuk membenamkan diri dan mendapatkan makanan.
BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. Berikut ini letak batas dari Desa Ponelo: : Pulau Saronde, Mohinggito, dan Pulau Lampu
BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Ponelo merupakan Desa yang terletak di wilayah administrasi Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bahasa Gorontalo yaitu Atiolo yang diartikan dalam bahasa Indonesia yakni
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Lokasi Pengamatan Desa Otiola merupakan pemekaran dari Desa Ponelo dimana pemekaran tersebut terjadi pada Bulan Januari tahun 2010. Nama Desa Otiola diambil
V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN
49 V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN 5.1 Distribusi Parameter Kualitas Perairan Karakteristik suatu perairan dan kualitasnya ditentukan oleh distribusi parameter fisik dan kimia perairan yang berlangsung
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Umum Lokasi Penelitian Kepulauan Seribu merupakan gugusan pulau datar yang melintang di barat daya Laut Jawa dan memiliki ekosistem terumbu karang, mangrove dan padang
BAB I PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati membuat laut Indonesia dijuluki Marine Mega-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah. Tidak terkecuali dalam hal kelautan. Lautnya yang kaya akan keanekaragaman hayati membuat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemetaan Sebaran Lamun Pemetaan sebaran lamun dihasilkan dari pengolahan data citra satelit menggunakan klasifikasi unsupervised dan klasifikasi Lyzenga. Klasifikasi tersebut
ASOSIASI GASTROPODA DI EKOSISTEM PADANG LAMUN PERAIRAN PULAU LEPAR PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG. Oleh : Indra Ambalika Syari C
ASOSIASI GASTROPODA DI EKOSISTEM PADANG LAMUN PERAIRAN PULAU LEPAR PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Oleh : Indra Ambalika Syari C64101078 DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki sekitar 13.000 pulau yang menyebar dari Sabang hingga Merauke dengan panjang garis pantai sekitar 81.000 km yang dilalui
Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan waktu Penelitian telah dilaksanakan pada bulan April 2013. Lokasi penelitian dilakukan di Perairan Nusa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi
Kerapatan dan Keanekaragaman Jenis Lamun di Desa Ponelo, Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara
Nikè: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 1, Nomor 2, September 2013 Kerapatan dan Keanekaragaman Jenis Lamun di Desa Ponelo, Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara 1,2 Nurtin Y.
ANALISIS SUMBERDAYA BIVALVIA PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DAN PEMANFAATANNYA DI DESA PENGUDANG KABUPATEN BINTAN
ANALISIS SUMBERDAYA BIVALVIA PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DAN PEMANFAATANNYA DI DESA PENGUDANG KABUPATEN BINTAN Devi Triana 1, Dr. Febrianti Lestari, S.Si 2, M.Si, Susiana, S.Pi, M.Si 3 Mahasiswa 1, Dosen
Kondisi Komunitas Padang Lamun Di Perairan Kampung Bugis, Bintan Utara.
Kondisi Komunitas Padang Lamun Di Perairan Kampung Bugis, Bintan Utara Suhandoko 1, Winny Retna Melani 2, Dedy Kurniawan 3 [email protected] Program studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas
BIOMASSA LAMUN DI PERAIRAN DESA BERAKIT KECAMATAN TELUK SEBONG KABUPATEN BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU
1 BIOMASSA LAMUN DI PERAIRAN DESA BERAKIT KECAMATAN TELUK SEBONG KABUPATEN BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU Rudini, [email protected] Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan FIKP-UMRAH Arief Pratomo, ST, M.Si
4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil pengamatan parameter fisik dan kimia di keempat lokasi
30 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Fisika Kimiawi Perairan Berdasarkan hasil pengamatan parameter fisik dan kimia di keempat lokasi pengambilan data (Lampiran 2), didapatkan hasil seperti tercantum
SEBARAN DAN BIOMASSA LAMUN DI PERAIRAN DESA MALANG RAPAT DAN TELUK BAKAU KABUPATEN BINTAN KEPULAUAN RIAU RUTH DIAN LASTRY ULI SIMAMORA
1 SEBARAN DAN BIOMASSA LAMUN DI PERAIRAN DESA MALANG RAPAT DAN TELUK BAKAU KABUPATEN BINTAN KEPULAUAN RIAU RUTH DIAN LASTRY ULI SIMAMORA ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga Juni
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 40 hari pada tanggal 16 Juni hingga 23 Juli 2013. Penelitian ini dilakukan di perairan Pulau Pramuka, Kepulauan
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kelompok Umur Pertumbuhan populasi tiram dapat dilihat berdasarkan sebaran kelompok umur. Analisis sebaran kelompok umur dilakukan dengan menggunakan FISAT II metode NORMSEP.
STRUKTUR KOMUNITAS, KEPADATAN DAN POLA DISTRIBUSI POPULASI LAMUN (SEAGRASS) DI PANTAI PLENGKUNG TAMAN NASIONAL ALAS PURWO KABUPATEN BANYUWANGI.
STRUKTUR KOMUNITAS, KEPADATAN DAN POLA DISTRIBUSI POPULASI LAMUN (SEAGRASS) DI PANTAI PLENGKUNG TAMAN NASIONAL ALAS PURWO KABUPATEN BANYUWANGI SKRIPSI diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara ekologis ekosistem padang lamun di perairan pesisir dapat berperan sebagai daerah perlindungan ikan-ikan ekonomis penting seperti ikan baronang dan penyu, menyediakan
PENYUSUN Marindah Yulia Iswari, Udhi Eko Hernawan, Nurul D. M. Sjafrie, Indarto H. Supriyadi, Suyarso, Kasih Anggraini, Rahmat
PENYUSUN Marindah Yulia Iswari, Udhi Eko Hernawan, Nurul D. M. Sjafrie, Indarto H. Supriyadi, Suyarso, Kasih Anggraini, Rahmat Album Peta Lamun 2017 Pusat Penelitian Oseanografi PENYUSUN Marindah Yulia
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 200 TAHUN 2004 TENTANG KRITERIA BAKU KERUSAKAN DAN PEDOMAN PENENTUAN STATUS PADANG LAMUN
SALINAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 200 TAHUN 2004 TENTANG KRITERIA BAKU KERUSAKAN DAN PEDOMAN PENENTUAN STATUS PADANG LAMUN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Pulau Panggang Kepulauan Seribu DKI Jakarta pada bulan Maret 2013. Identifikasi makrozoobentos dan pengukuran
KAJIAN EKOLOGIS EKOSISTEM SUMBERDAYA LAMUN DAN BIOTA LAUT ASOSIASINYA DI PULAU PRAMUKA, TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU (TNKpS)
KAJIAN EKOLOGIS EKOSISTEM SUMBERDAYA LAMUN DAN BIOTA LAUT ASOSIASINYA DI PULAU PRAMUKA, TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU (TNKpS) Gautama Wisnubudi 1 dan Endang Wahyuningsih 1 1 Fakultas Biologi Universitas
KEPADATAN DAN BIOMASSA LAMUN Thalassia hemprichii PADA BERBAGAI RASIO C:N:P SEDIMEN DI PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU
KEPADATAN DAN BIOMASSA LAMUN Thalassia hemprichii PADA BERBAGAI RASIO C:N:P SEDIMEN DI PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU SEMINAR KOMPREHENSIF Dibawah Bimbingan : -Dr. Sunarto, S.Pi., M.Si (Ketua Pembimbing)
2.2. Struktur Komunitas
5 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makrozoobentos Hewan bentos dibagi dalam tiga kelompok ukuran, yaitu makrobentos (ukuran lebih dari 1,0 mm), meiobentos (ukuran antara 0,1-1 mm) dan mikrobentos (ukuran kurang
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIOMASSA DAUN Thalassia hemprichii PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PERAIRAN DESA SEBONG PEREH, BINTAN
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIOMASSA DAUN Thalassia hemprichii PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PERAIRAN DESA SEBONG PEREH, BINTAN Nella Dwi Amiyati,[email protected] Mahasiswa Jurusan Manajemen Sumberdaya
SEBARAN DAN ASOSIASI PERIFITON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN (Enhalus acoroides) DI PERAIRAN PULAU TIDUNG BESAR, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA UTARA
SEBARAN DAN ASOSIASI PERIFITON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN (Enhalus acoroides) DI PERAIRAN PULAU TIDUNG BESAR, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA UTARA Oleh: Yuri Hertanto C64101046 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki jumlah pulau yang sangat banyak dan dilintasi garis khatulistiwa. Wilayah Indonesia yang
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisika dan Kimia Perairan Kondisi parameter fiskia-kimia perairan secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi segala bentuk kehidupan organisme perairan.
Korelasi Kelimpahan Ikan Baronang (Siganus Spp) Dengan Ekosistem Padang Lamun Di Perairan Pulau Pramuka Taman Nasional Kepulauan Seribu
Jurnal Perikanan Kelautan Vol. VII No. /Juni 06 (6-7) Korelasi Kelimpahan Ikan Baronang (Siganus Spp) Dengan Ekosistem Padang Lamun Di Perairan Pulau Pramuka Taman Nasional Kepulauan Seribu Saiyaf Fakhri
STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN (Seagrass) DI PERAIRAN PANTAI KAMPUNG ISENEBUAI DAN YARIARI DISTRIK RUMBERPON KABUPATEN TELUK WONDAMA
STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN (Seagrass) DI PERAIRAN PANTAI KAMPUNG ISENEBUAI DAN YARIARI DISTRIK RUMBERPON KABUPATEN TELUK WONDAMA YUSTIN DUWIRI Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
REPORT MONITORING SEAGRASS PADA KAWASAN TAMAN NASIONAL WAKATOBI KABUPATEN WAKATOBI
REPORT MONITORING SEAGRASS PADA KAWASAN TAMAN NASIONAL WAKATOBI KABUPATEN WAKATOBI Kerjasama TNC-WWF Wakatobi Program dengan Balai Taman Nasional Wakatobi Wakatobi, Juni 2008 1 DAFTAR ISI LATAR BELAKANG...
3. METODE PENELITIAN
17 3. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2008-Mei 2009 di Lokasi Rehabilitasi Lamun PKSPL-IPB Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa Dua, Kepulauan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air laut merupakan suatu medium yang unik. Sebagai suatu sistem, terdapat hubungan erat antara faktor biotik dan faktor abiotik, karena satu komponen dapat
Komposisi Jenis, Kerapatan Dan Tingkat Kemerataan Lamun Di Desa Otiola Kecamatan Ponelo Kepulauan Kabupaten Gorontalo Utara
Nikè: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 1, Nomor 3, Desember 2013 Komposisi Jenis, Kerapatan Dan Tingkat Kemerataan Lamun Di Desa Otiola Kecamatan Ponelo Kepulauan Kabupaten Gorontalo Utara
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
16 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Kajian populasi Kondisi populasi keong bakau lebih baik di lahan terlantar bekas tambak dibandingkan di daerah bermangrove. Hal ini ditunjukkan oleh nilai kepadatan
ADI FEBRIADI. Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji
Struktur Komunitas Padang Lamun di Perairan Kelurahan Penyengat Kota Tanjungpinang Adi Febriadi 1), Arief Pratomo, ST, M.Si 2) and Falmi Yandri, S.Pi, M.Si 2) ADI FEBRIADI Program Studi Ilmu Kelautan,
Struktur Vegetasi Lamun di Perairan Pulau Saronde, Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara
Struktur Vegetasi Lamun di Perairan Pulau Saronde, Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara 1.2 Siti Rahmi A.R. Nusi, 2 Abdul Hafidz Olii, dan 2 Syamsuddin 1 [email protected] 2 Jurusan
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam laut. Menurut Den Hartog (1976) in Azkab (2006)
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Posisi Geografis dan Kondisi Perairan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terdiri atas dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan Kecamatan Kepulauan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi dan Peranan Lamun 2.1.1 Biologi Lamun Lamun (seagrass) termasuk dalam sub kelas monocotyledonae dan merupakan tumbuhan berbunga (kelas Angiospermae) (Yulianda 2002).
Analisis Kelompok dan Tutupan Lamun di Wilayah TRISMADES Desa Malang Rapat Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau
Analisis Kelompok dan Tutupan Lamun di Wilayah TRISMADES Desa Malang Rapat Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau Novi Andriani Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, FIKP UMRAH,
KOMPARASI STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN DI BANTAYAN KOTA DUMAGUETE FILIPINA DAN DI TANJUNG MERAH KOTA BITUNG INDONESIA
KOMPARASI STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN DI BANTAYAN KOTA DUMAGUETE FILIPINA DAN DI TANJUNG MERAH KOTA BITUNG INDONESIA (Comparison Of Community Structure Seagrasses In Bantayan, Dumaguete City Philippines And
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Lokasi penelitian secara umum berada di Kabupaten Indramayu tepatnya di Desa Brondong Kecamatan Pasekan. Wilayah pesisir di sepanjang pantai
Gambar 11. Pembagian Zona UTM Wilayah Indonesia (Sumber: kampungminers.blogspot.com)
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengolahan Data Citra 4.1.1 Koreksi Radiometrik dan Geometrik Penelitian ini menggunakan citra satelit ALOS AVNIR2 tahun 2007, 2009 dan 2010 di perairan Nusa Lembongan untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perairan Pulau Pramuka terletak di Kepulauan Seribu yang secara administratif termasuk wilayah Jakarta Utara. Di Pulau Pramuka terdapat tiga ekosistem yaitu, ekosistem
TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif,
TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Estuari Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif, karena area ini merupakan area ekoton daerah pertemuan dua ekosistem berbeda (tawar dan laut)
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Identifikasi Kegiatan Pariwisata Kegiatan pariwisata di Pulau Karimunjawa sangat tinggi. Bisa dilihat dari kunjungan wisatawan yang mengunjungi Pulau Karimunjawa dari setiap
4. HASIL PEMBAHASAN. Sta Latitude Longitude Spesies Keterangan
4. HASIL PEMBAHASAN 4.1 Data Lapangan Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dengan melakukan penyelaman di lokasi transek lamun, ditemukan 3 jenis spesies lamun yakni Enhalus acoroides, Cymodocea
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2013.
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2013. Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Otiola Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo
Keanekaragaman Lamun di Perairan Sekitar Pulau Dudepo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara
Nikè: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 1, mor 1, Juni 2013 Keanekaragaman Lamun di Perairan Sekitar Pulau Dudepo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara 1.2 Meilan Yusuf, 2 Yuniarti Koniyo,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pencemaran logam berat merupakan salah satu masalah penting yang sering terjadi di perairan Indonesia, khususnya di perairan yang berada dekat dengan kawasan industri,
Jenis dan Biomassa Lamun (Seagrass) Di Perairan Pulau Belakang Padang Kecamatan Belakang Padang Kota Batam Kepulauan Riau.
Jenis dan Biomassa Lamun (Seagrass) Di Perairan Pulau Belakang Padang Kecamatan Belakang Padang Kota Batam Kepulauan Riau By : Muhammad Yahya 1), Syafril Nurdin 2), Yuliati 3) Abstract A Study of density
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem padang lamun (seagrass) merupakan suatu habitat yang sering dijumpai antara pantai berpasir atau daerah mangrove dan terumbu karang. Padang lamun berada di daerah
Lampiran 1. Lokasi pengambilan data
53 Lampiran 1. Lokasi pengambilan data Stasiun 1 (Selatan Pulau) di Desa Banassem Stasiun 2 (Barat Pulau) di Desa Soka Rammi Stasiun 3 (Utara Pulau) di Desa Sonok Stasiun 4 (Timur Pulau) di Desa Prambanan
BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN
BB III BHN DN METODE PENELITIN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2013. Tempat penelitian di Desa Brondong, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat dan analisis
Hasil dan Pembahasan
IV Hasil dan Pembahasan A. Kondisi Lokasi Penelitian Pulau Misool merupakan salah satu pulau besar di antara empat pulau besar yang ada di Kabupaten Raja Ampat. Secara Umum luas wilayahnya adalah 2.034
3. METODE PENELITIAN. Penelitian ini berlokasi di habitat lamun Pulau Sapudi, Kabupaten
16 3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlokasi di habitat lamun Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Madura (Gambar 6). Kabupaten Sumenep berada di ujung timur Pulau Madura,
PRODUKTIVITAS BIOMASSA VEGETASI LAMUN DIPERAIRAN DESA PENGUDANG KECAMATAN TELUK SEBONG KABUPATEN BINTAN PROVINSI KEPELAUAN RIAU
PRODUKTIVITAS BIOMASSA VEGETASI LAMUN DIPERAIRAN DESA PENGUDANG KECAMATAN TELUK SEBONG KABUPATEN BINTAN PROVINSI KEPELAUAN RIAU Hardiyansah Manajemen Sumberdaya Perairan, FIKP UMRAH, [email protected]
I PENDAHULUAN Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumberdaya alam pesisir merupakan suatu himpunan integral dari komponen hayati (biotik) dan komponen nir-hayati (abiotik) yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dan
BAB I PENDAHULUAN. sumber daya yang sangat tinggi. Nybakken (1988), menyatakan bahwa kawasan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir dikenal sebagai ekosistem perairan yang memiliki potensi sumber daya yang sangat tinggi. Nybakken (1988), menyatakan bahwa kawasan pesisir terdapat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Pulau Barrang Lompo adalah salah satu pulau di kawasan Kepulauan Spermonde, yang berada pada posisi 119 o 19 48 BT dan 05 o 02 48 LS dan merupakan salah
ES R K I R P I S P I S SI S S I TEM
69 4. DESKRIPSI SISTEM SOSIAL EKOLOGI KAWASAN PENELITIAN 4.1 Kondisi Ekologi Lokasi studi dilakukan pada pesisir Ratatotok terletak di pantai selatan Sulawesi Utara yang termasuk dalam wilayah administrasi
BAB III METODOLOGI. Gambar 1. Peta Lokasi penelitian
BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di perairan Pulau Bintan Timur, Kepulauan Riau dengan tiga titik stasiun pengamatan pada bulan Januari-Mei 2013. Pengolahan data dilakukan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Terumbu adalah serangkaian struktur kapur yang keras dan padat yang berada di dalam atau dekat permukaan air. Sedangkan karang adalah salah satu organisme laut yang tidak
Jurnal Ilmiah Platax Vol. I-1, September 2012 ISSN:
STRUKTUR KOMUNITAS DAN BIOMASSA RUMPUT LAUT (SEAGRASS) DI PERAIRAN DESA TUMBAK KECAMATAN PUSOMAEN 1 Idris Baba 2, Ferdinand F Tilaar 3, Victor NR Watung 3 ABSTRACT Seagrass community structure is the basic
PERBANDINGAN JENIS LAMUN DI PERAIRAN MALANG RAPAT DAN BERAKIT KABUPATEN BINTAN
PERBANDINGAN JENIS LAMUN DI PERAIRAN MALANG RAPAT DAN BERAKIT KABUPATEN BINTAN Bayu Prima Chandra 1, Andi Zulfikar, S.Pi, MP 2, Ir. Linda Waty Zen, M.Sc 2. Mahasiswa 1, Dosen Pembimbing 2 Jurusan Manajemen
sedangkan sisanya berupa massa air daratan ( air payau dan air tawar ). sehingga sinar matahari dapat menembus kedalam air.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perairan merupakan ekosistem yang memiliki peran sangat penting bagi kehidupan. Perairan memiliki fungsi baik secara ekologis, ekonomis, estetika, politis,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komunitas Fitoplankton Di Pantai Balongan Hasil penelitian di perairan Pantai Balongan, diperoleh data fitoplankton selama empat kali sampling yang terdiri dari kelas Bacillariophyceae,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dibandingkan daratan, oleh karena itu Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Perairan laut Indonesia kaya akan
ASOSIASI GONGGONG (Strombus sp) DENGAN LAMUN DI WILAYAH KONSERVASI LAMUN DESA MALANG RAPAT KABUPATEN BINTAN
ASOSIASI GONGGONG (Strombus sp) DENGAN LAMUN DI WILAYAH KONSERVASI LAMUN DESA MALANG RAPAT KABUPATEN BINTAN Toto Iskandar Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan dan perikanan, FIKP, [email protected]
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Umum Perairan Bintan Pulau Bintan merupakan salah satu pulau di kepulauan Riau tepatnya di sebelah timur Pulau Sumatera. Pulau ini berhubungan langsung dengan selat
STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN PERAIRAN PULAU LOS KOTA TANJUNGPINANG
STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN PERAIRAN PULAU LOS KOTA TANJUNGPINANG Samsuar (1), Muzahar (2 ), Andi zulfikar (3) Jurusan Ilmu Kelautan. Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan, Universitas Maritime Raja Ali Haji,
BAB I PENDAHULUAN. memiliki jumlah pulau yang sangat banyak. Secara astronomis, Indonesia terletak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki jumlah pulau yang sangat banyak. Secara astronomis, Indonesia terletak pada garis
TINJAUAN PUSTAKA. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air
TINJAUAN PUSTAKA Sungai Sungai merupakan suatu bentuk ekositem aquatik yang mempunyai peran penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) bagi daerah di sekitarnya,
STRUKTUR KOMUNITAS MOLUSKA (GASTROPODA DAN BIVALVIA) SERTA ASOSIASINYA PADA EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN PANTAI ULEE - LHEUE, BANDA ACEH, NAD
STRUKTUR KOMUNITAS MOLUSKA (GASTROPODA DAN BIVALVIA) SERTA ASOSIASINYA PADA EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN PANTAI ULEE - LHEUE, BANDA ACEH, NAD Oleh : IRMA DEWIYANTI C06400033 SKRIPSI PROGRAM STUD1 ILMU
BAB I PENDAHULUAN. sedangkan secara geografis Indonesia terletak di antara benua Asia dan Benua
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara geografis Indonesia membentang 6 0 LU 11 0 LS dan 95 0-141 0 BT, sedangkan secara geografis Indonesia terletak di antara benua Asia dan Benua Australia
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan karena lingkungan air tawar memiliki beberapa kondisi, antara lain:
18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Indonesia adalah negara kepulauan dengan kawasan maritim yang sangat luas sehingga Indonesia memiliki kekayaan perikanan yang sangat kaya.pengetahuan lingkungan
BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya merupakan perairan dan terletak di daerah beriklim tropis. Laut tropis memiliki
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Seribu adalah kawasan pelestarian alam bahari di Indonesia yang terletak kurang lebih 150 km dari pantai Jakarta Utara. Kepulauan Seribu terletak pada 106
Lampiran 1. Gambar Lembar Pengamatan yang digunakan (Mckenzie & Yoshida 2009)
LAMPIRAN Lampiran 1. Gambar Lembar Pengamatan yang digunakan (Mckenzie & Yoshida 2009) 59 Lampiran 2. Gambar pedoman penentuan penutupan lamun dan algae (McKenzie & Yoshida 2009) 60 61 Lampiran 3. Data
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pulau Pramuka I II III
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter Fisika dan Kimiawi Perairan Berdasarkan hasil penelitian di perairan Kepulauan Seribu yaitu Pulau Pramuka dan Pulau Semak Daun, diperoleh nilai-nilai parameter
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia, flora, fauna maupun makhluk hidup yang lain. Makhluk hidup memerlukan air tidak hanya sebagai
Daya Dukung Zona Pemanfaatan Kawasan Konservasi Lamun Untuk Wisata Bahari Di Desa Pengudang Kecamatan Teluk Sebong Kabupaten Bintan
Daya Dukung Zona Pemanfaatan Kawasan Konservasi Lamun Untuk Wisata Bahari Di Desa Pengudang Kecamatan Teluk Sebong Kabupaten Bintan Use Zone Capability in Seagrass Conservation Areas For Marine Tourism
JENIS DAN KANDUNGAN KIMIAWI LAMUN DAN POTENSI PEMANFAATANNYA DI INDONESIA. Rinta Kusumawati ABSTRAK
JENIS DAN KANDUNGAN KIMIAWI LAMUN DAN POTENSI PEMANFAATANNYA DI INDONESIA Rinta Kusumawati ABSTRAK Lamun merupakan tanaman laut berbentuk daun tegak memanjang dengan pola sebaran mengelompok pada substrat
STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN DI PERAIRAN PULAU NIKOI
1 STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN DI PERAIRAN PULAU NIKOI M. Aris Suhud 1) Arief Pratomo, ST, M.Si 2) dan Falmi Yandri, S.Pi, M.Si 2) Departement S-1 of Marine Science Faculty of Marine Science and Fisheries,
Bab 4. Gambar 4.1. Siput gonggong (Strombus turturella) yang ditemukan pada lokasi penelitian di utara Pulau Lingga
Bab 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Biologi Siput Gonggong 4.1.1. Klasifikasi Siput Gonggong Pada wilayah Pengelolaan Coremap II Senayang Lingga ditemukan Siput Gonggong di Utara Pulau Lingga atau yang termasuk
KELIMPAHAN DAN PEMANFAATAN SIPUT GONGGONG (Strombus sp.) DI KAMPUNG MADONG KELURAHAN KAMPUNG BUGIS KOTA TANJUNGPINANG.
KELIMPAHAN DAN PEMANFAATAN SIPUT GONGGONG (Strombus sp.) DI KAMPUNG MADONG KELURAHAN KAMPUNG BUGIS KOTA TANJUNGPINANG Muhamad Ricky Jurusan manajemen sumberdaya perairan, FIKP UMRAH, [email protected]
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh pada daerah yang berair payau dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove memiliki ekosistem khas karena
BAB 2 BAHAN DAN METODA
BAB 2 BAHAN DAN METODA 2.1 Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10 Maret- 20 Juli 2011 di Perairan Kuala Tanjung Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batubara, dan laboratorium Pengelolaan
KEANEKARAGAMAN JENIS DAN POLA SEBARAN LAMUN DI PERAIRAN TELUK DALAM KABUPATEN BINTAN ABSTRAK
KEANEKARAGAMAN JENIS DAN POLA SEBARAN LAMUN DI PERAIRAN TELUK DALAM KABUPATEN BINTAN Edi Widodo (1), Arief Paratomo (2), Chandara. J. Koenawan (3) Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan,
STRUKTUR KOMUNITAS PADANG LAMUN PADA KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN DESA BERAKIT KABUPATEN BINTAN
STRUKTUR KOMUNITAS PADANG LAMUN PADA KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN DESA BERAKIT KABUPATEN BINTAN Community Structure Seagrass Bad in Different Depth in Aquatic Berakit Village District Bintan M. Kasim
KONDISI PADANG LAMUN PULAU SERANGAN BALI Tyas Ismi Trialfhianty 09/286337/PN/11826
KONDISI PADANG LAMUN PULAU SERANGAN BALI Tyas Ismi Trialfhianty 09/286337/PN/11826 INTISARI Lamun merupakan ekosistem pesisir pantai yang berperan penting untuk menunjang ekosistem lainnya seperti terumbu
Biomassa Padang Lamun di Perairan Desa Teluk Bakau Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau
Biomassa Padang Lamun di Perairan Desa Teluk Bakau Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau Dini Arifa 1, Arief Pratomo 2, Muzahar 2 Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIOMASSA DAUN Enhalus acoroides PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PERAIRAN DESA SEBONG PEREH, BINTAN
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIOMASSA DAUN Enhalus acoroides PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PERAIRAN DESA SEBONG PEREH, BINTAN Nia Yulianti,[email protected] Mahasiswa Jurusan Manajemen Sumberdaya
4. KONDISI HABITAT SIMPING
4. KONDISI HABITAT SIMPING Kualitas habitat merupakan tempat atau keadaan dimana simping dalam melakukan proses-proses metabolisme, pertumbuhan, sampai produksi. Proses biologi tersebut ditentukan oleh
BAB III METODE PENELITIAN
5 3 '15 " 5 3 '00 " 5 2 '45 " 5 2 '30 " BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2009 sampai dengan bulan April 2010, lokasi pengambilan sampel di perairan
BAB I PENDAHULUAN. dari buah pulau (28 pulau besar dan pulau kecil) dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan di daerah tropika yang terdiri dari 17.504 buah pulau (28 pulau besar dan 17.476 pulau kecil) dengan panjang garis pantai sekitar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. vegetatif. Rimpangnya merupakan batang yang beruas-ruas yang tumbuh
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Morfologi Umum Tumbuhan Lamun Menurut Azkab (2006), lamun (seagrass) adalah tumbuhan air berbunga (anthophyta) yang hidup dan tumbuh terbenam di lingkungan laut, berpembuluh,
Gambar 3. Peta lokasi penelitian
15 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2009 di kawasan pesisir Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten, lokasi penelitian mempunyai
