BAB IV PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
|
|
|
- Hartanti Santoso
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Pendekatan program dasar perencanaan dan perancangan arsitektur merupakan sebuah usaha untuk melakukan pendekatan pada acuan merencanakan dan merancang sehingga diharapkan dalam perancangan Convention Hotel Bintang 5 di Sleman ini dapat mendekati kelayakan untuk memenuhi persyaratan pembangunan sebuah jasa akomodasi penginapan dan fasilitasnya serta kegiatan tambahan lainnya di Kabupaten Sleman hingga sepuluh tahun mendatang. Adapun beberapa dasar pendekatan yang harus diperhatikan adalah: 1. Pendekatan Aspek Fungsional Pendekatan dalam aspek fungsional merupakan perincian apa dan siapa saja pelaku di dalam ruangan dan bermanfaat untuk menentukan kapasitas sehingga dapat ditemui besaran ruang yang dibutuhkan. 2. Pendekatan Aspek Kontekstual Dasar pendekatan aspek kontekstual adalah untuk memahami lokasi yang dibutuhkan serta menganalisa tata ruang luar bangunan dan ruang terbuka hijau sehingga bangunan tersebut dapat dibangun pada lokasi yang sesuai dan strategis. 3. Pendekatan Aspek Kinerja Pendekatan dalam aspek kinerja menganalisis tentang utilitas bangunan yang akanmenunjang kinerja dari sebuah bangunan dalam memenuhi kebutuhan fungsi ruangnya.aspek ini memiliki tujuan untuk mencapai unsur kenyamanan, kemudahan dan mobilitas dari bangunan tersebut. 4. Pendekatan Aspek Teknis Pendekatan aspek teknik berkaitan dengan teknis pembangunan gedung seperti menganalisis struktur dan bahan bangunan yang akan digunakan sehingga akan dibahas masalah struktur serta modul pembuatan ruangan. 5. Pendekatan Aspek Arsitektural Pendekatan aspek arsitektural memiliki kaitan dengan konsep bangunan, karakter bangunan dan penekanan desain yang digunakan. 4.1 Pendekatan Aspek Fungsional Pendekatan Fungsi Fungsi utama dari sebuah convention hotel adalah sebagai tempat menyediakan jasa akomodasi penginapan dengan fasilitas yang lengkap sesuai dengan standart hotel berbintang di Kabupaten Sleman. Adapun fungsi dari Convention Hotel Bintang 5 di Sleman adalah sebagai berikut: a. Convention Hotel Bintang 5 di Sleman dapat membantu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sleman baik yang akan berwisata, melakukan kunjungan bisnis dan melakukan konfrensi (MICE). b. Convention Hotel Bintang 5 di Sleman merupakan hotel yang menyediakan jasa akomodasi penginapan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan baik domestik maupun asing yang bertujuan untuk pariwisata maupun kunjungan bisnis, pertemuan, seminar, dagang serta acara resmi perusahaan. c. Convention Hotel Bintang 5 di Sleman memberikan fasilitas yang lengkap sesuai dengan standart hotel berbintang di Kabupaten Sleman.
2 4.1.2 Pendekatan Pelaku Berdasarkan pengamatan di lokasi dan hasil studi banding, terdapat bermacammacam kegiatan yang berlangsung di dalam hotel. Menurut pelakunya, dibedakan menjadi beberapa kegiatan antara lain sebagai berikut: Tabel 4.1 Pendekatan Pelaku dan Kegiatannya PELAKU KEGIATAN a. Tamu Hotel dan Konvensi Pengunjung yang melakukan aktivitas menginap dan menggunakan segala fasilitas yang dibutuhkan. Kegiatan yang dilakukan membutuhkan tingkat privasi dan kenyamanan tinggi. Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain: a. Parkir b. Melakukan check in maupun check out c. Menginap atau bermalam d. Mempergunakan fasilitas yang disediakan hotel seperti sarana olahraga, restoran, bar, spa dan fasilitas hiburan lainnya. e. Mengadakan pertemuan bisnis, seminar atau acara resmi perusahaan f. Menukarkan uang, memesan tiket, memesan taksimenginap di kamar hotel selama waktu yang diinginkannya. g. Keluar hotel untuk keperluan pribadinya seperti mengunjungi tempat-tempat wisata,keluarga/ teman, keperluan bisnis dan lainnya. h. Mengunjungi kegiatan pendukung konvensi seperti : exhibition atau pameran yang biasanya dibuka untuk umum. b. Tamu Hotel Pengunjung yang melakukan aktivitas menginap dan menggunakan segala fasilitas yang dibutuhkan. Kegiatan yang dilakukan membutuhkan tingkat privasi dan kenyamanan tinggi. Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain: a. Parkir b. Melakukan check in maupun check out c. Menginap atau bermalam d. Mempergunakan fasilitas yang disediakan hotel seperti sarana olahraga, restoran, bar, spa dan fasilitas hiburan lainnya. e. Mengadakan pertemuan bisnis, seminar atau acara resmi perusahaan
3 c. Tamu Pengguna Fasilitas Hotel f. Menukarkan uang, memesan tiket, memesan taksimenginap di kamar hotel selama waktu yang diinginkannya. g. Keluar hotel untuk keperluan pribadinya seperti mengunjungi tempat-tempat wisata,keluarga/ teman, keperluan bisnis dan lainnya. Pengunjung yang hanya melakukan kegiatan sementara tanpa menginap dan menikmati fasilitas-fasilitas yang terdapat. Kegiatan yang dilakukan tidak membutuhkan tingkat privasi dan kenyamanan yang terlalu tinggi. Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain: a. Parkir b. Menunggu dan bertemu tamu c. Melakukan reservasi fasilitas hotel d. Menggunakan fasilitas hotel e. Menggunakan toilet umum f. Tidak menggunakan fasilitas menginap hotel tetapi mengunjungi hotel untuk keperluan tertentu. g. Mengunjungi hotel untuk mempergunakan fasilitas hotel seperti sarana olahraga, restoran, bar, spa dan fasilitas lainnya. d. Tamu Konvensi (MICE) Pengunjung yang hanya melakukan kegiatan sementara tanpa menginap dan menikmati fasilitas-fasilitas yang terdapat. Kegiatan yang dilakukan tidak membutuhkan tingkat privasi dan kenyamanan yang terlalu tinggi. Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain: a. Parkir b. Menunggu dan bertemu tamu c. Melakukan reservasi fasilitas hotel d. Menggunakan fasilitas hotel e. Menggunakan toilet umum f. Mengunjungi kegiatan pendukung konvensi seperti : exhibition atau pameran yang biasanya dibuka untuk umum. Pengelola a. General Manager Pemegang jabatan tertiggi dan bertanggung jawab atas seluruh divisi di bawahnya. Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain mengendalikan usaha, memberikan arahan serta mengawasi pelaksanaan seluruh kegiatan. b. Assistant Manager Pengelola yang memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk menjalankan perintah yang disampaikan oleh general manager, menyampaikan laporan yang dibuat oleh para
4 kepala divisi serta mengambil alih tugas general manager apabila sewaktu-waktu berhalangan. c. Accounting Mengelola akuntansi keuangan hotel, yang meliputi penerimaan dan pengeluaran uang, pembukuan, pembayaran gaji pegawai, pembuatan laporan keuangan dsb. d. Marketing Department Pengelola yang memiliki tugas untuk melakukan pemasaran dan penjualan produk yang ditawarkan dari pihak hotel, dainataranya kamar hotel, fasilitas dan pelayanan yang tersedia. e. AdministrationDepartment Pengelola yang bertugas menangani keuangan hotel dan mengolah hasil data operasional. f. Security Staff Pengelola yang memiliki tugas untuk menjaga keamanan hotel. Membuat perencanaan pengamanan/pencegahan dan pengawasan tentang berbagai kemungkinan insiden yang akan atau munkin terjadi di dalam maupun di luar hotel. g. Engineering Department Pengelola yang mengurus pemeliharaan dan perawatan maintenance hotel h. Human Resource Department Menerima dan menyeleksi pegawai, menempatkan dan menentukan posisi/jabatan tiap calon pegawai, menentukan upah pegawai, member sanksi kepada pegawai yang melanggar peraturan, mengabsensi pegawai, membuat evaluasi keberhasilan kerja pegawai. Pelayanan a. Front Office Staff Bagian tempat informasi dan penerima tamu yang memesan kamar hotel (check in dan check out), penitipan barang, dan transaksi pembayaran, memberikan informasi, menerima & mengakomodasi tamu yang check in, membuat rekening perhitungan biaya tamu, membuat laporan administrasi penjualan kamar dsb. b. Housekeeping Mengurus kebutuhan bagi kegiatan kerumahtanggaan, menjaga kebersihan dan kelengkapan kamar tamu dan restoran. Membuat perencanaan, perawatan atau pembersihan semua kamar tamu, ruang kantor, lobby, koridor, lift, toilet umum, taman, kolam renang & parkir.
5 c. Laundry & Dry Cleaning Menyusun dan membuat perencanaan untuk penerimaan semua linen, uniform karyawan, dan pakaian tamu untuk diadakan proses pencucian, pengeringan dan pegemasan serta membuat laporan tentang berapa jumlah linen, uniform dan jumlah biaya pakaian tamu yang dapat di cuci dan di dry cleaning setiap harinya. d. Storekeeper (General Store) Menerima, menyimpan dan mengeluarkan persediaan barang dari atau ke gudang, melakukan pencatatan transaksi, mengurus jumlah barang yang diterima dan keluar masuknya barang. e. Purhasing Membuat perencanaan, pembelian barang, bahan pada hotel. f. Food and Beverage Coordinator Bagian yang mengurus makanan dan minuman, menyediakan, menjual dan menyajikan. Mengolah, memproduksi dan menyajikan makanan dan minuman untuk keperluan tamu hotel, baik dalam kamar, restoran/coffee shop, banquet (resepsi pertemuan), makanan karyawan dsb. g. Room Boy Mengecek keadaan kamar pada permulaan, kelengkapan dan kebersihan setiap kamar. Mengurus linen, perlengkapan mandi dan lainlainnya pada kamar. Sumber : Analisa Pribadi dan Studi Banding, Pendekatan Aktifitas Aktifitas dalam convention hotel yang dimaksud disini adalah aktifitas yang terjadi sebagai akibat dari pengunjung, pengelola dan pelayanan hotel. Berdasarkan pengamatan di lokasi, hasil studi banding dan pesyaratan teknis bangunan hotel, kegiatan-kegiatan yang berlangsung di dalam hotel dapat dikelompokkan menurut kegiatannya, antara lain sebagai berikut: Tabel 4.2 Aktifitas Kelompok Pelaku Kelompok Kegiatan Kegiatan Publik Uraian Kegiatan Memarkirkan kendaraan Menerima tamu
6 Melayani pemesanan kamar hotel atau fasilitas lainnya dan pusat informasi tamu. Melakukan pemesanan kamar Melakukan pemesanan fasilitas ruang meeting Menerima tamu, menunggu, atau tempat berkumpul Makan dan minum dengan fasilitas lengkap Sarapan pagi dan bersantai Bersantai dan minum-minum ringan Melakukan pertemuan, rapat, seminar dan sejenisnya. Makan, minum sebagai fasilitas dari function room Rekreasi, olahraga dan bermain. Kegiatan berbelanja Mengambil uang tunai atau melakukan transaksi melalui ATM Buang air kecil dan buang air besar Solat Kegiatan Privat Melakukan aktifitas menginap diantaranya tidur dan mandi. Mengurus adminitrasi, keuangan, pemasaran, pendataan barang masuk dan keluar dan pengelolaan lainnya. Melakukan koordinasi / briefing pada tim / keseluruhan karyawan Kegiatan Pengelolaan Peralihan sebelum memulai bekerja, yaitu berganti baju seragam, penyimpanan barang karyawan, dan lainnya. Menampung kegiatan pemeliharaan dan perawatan maintenance hotel Mengontrol kegiatan hotel dilengkapi dengan CCTV, soundcentral, PABX Menjaga keamanan pada hotel dilengkapi dengan fasilitas monitoring ruangan.
7 Mengurus administrasi yang berkaitan dengan makanan dan minuman. Menyimpan seragam karyawan dilengkapi dengan locker pakaian. Mengatur ketersediaan kelengkapan kamar tamu dan restoran. Menyimpan barang karyawan dan beristirahat Kegiatan Servis Mencuci, menyetrika kepentingan hotel dan tamu. Menyimpan perlengkapan kamar. Mempersiapkan makanan dan minuman Bongkar muat barang belanjaan dan barang mentah dapur Menyimpan barang bahan makanan maupun kegiatan reparasi Sarana penunjang hotel meliputi PABX, genset room, ruang panel, ruang pompa air dan ruang sampah. Sumber : Analisa Pribadi dan Studi Banding, Pendekatan Kapasitas Hotel a. Perhitungan Jumlah Kamar dari Data Jumlah Wisatawan Berikut adalah data jumlah kunjungan wisatawan baik domestik maupun asing yang menginap di hotel berbintang di Sleman pada tahun 2010 hingga 2014: Tabel 4.3 Jumlah Wisatawan Yang Menginap di Hotel Tahun TAHUN JUMLAHWISATAWAN YANG MENGINAP DI HOTEL JUMLAH DOMESTIK ASING Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun JUMLAH Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Tahun 2015
8 Maka untuk mengetahui jumlah wisatawan domestik maupun asing yang akan menginap di hotel berbintang pada tahun 2025 diperlukan proyeksi laju pertumbuhan. Hal tersebut dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut: Pm = Po + m (Pn Po) n Keterangan: Pm = jumlah pada tahun m Po = jumlah pada tahun dasar Pn = jumlah pada tahun akhir m = selisih tahun m dengan tahun dasar n = selisih tahun dari data pada tahun akhir dan tahun dasar Pada tahun 2015 jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Sleman dan menginap di hotel berbintang di Kabupaten Sleman sebanyak wisatawan dan sebanyak wisatawan menginap di hotel berbintang pada tahun Maka untuk menghitung proyeksi pertumbuhan wisatawan yang menginap di hotel pada tahun 2025 di dapat persamaan sebagai berikut: Pm = jumlah wisatawan pada tahun 2025 P2010= wisatawan P2014= wisatawan m = = 15 tahun n = = 4 tahun maka P 2025 = ( ) 4 P 2025 = ( ) 4 P 2025 = ( ) P 2025 = wisatawan Jadi, proyeksi jumlah wisatawan yang menginap di hotel berbintang di Kabupaten Sleman pada tahun 2025 mencapai wisatawan. Untuk mengetahui tingkat penghunian kamar hotel berbintang di Kabupaten Sleman dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.4 Tingkat Penghunian Kamar Hotel Berbintang Tahun Bintang 1 Bintang 2 Bintang 3 Bintang 4 Bintang 5 Tahun % % % % % Tahun % % % % % Tahun % % % % % Tahun % % % % % Tahun % % % % % Rata-rata per-tahun % % % % % Sumber : Kabupaten Sleman Dalam Angka 2015
9 Presentase rata-rata wisatawan yang menginap di hotel bintang 5 pada tahun sebesar %. Maka pada tahun 2025 jumlah wisatawan yang menginap di hotel bintang 5 adalah: P 2025 = x 57,88 % P 2025 = wisatawan Untuk mengetahui rata-rata lama menginap wisatawan di hotel berbintang di Kabupaten Sleman dapat dilihat pada table berikut : Tabel 4.5 Rata-rata Lama Menginap di Hotel Berbintang Tahun 2014 NO BULAN HOTEL Rata-Rata Hotel Bintang dan BINTANG NON-BINTANG Non-Bintang 1. Januari 1,72 1,36 1,63 2. Februari 1,76 1,32 1,64 3. Maret 1,74 1,32 1,64 4. April 1,70 1,28 1,61 5. Mei 1,54 1,24 1,47 6. Juni 1,71 1,25 1,61 7. Juli 1,74 1,28 1,65 8. Agustus 1,67 1,28 1,58 9. September 1,77 1,40 1, Oktober 1,68 1,24 1, November 1,82 1,29 1, Desember 1,66 1,27 1,56 Jumlah 1,70 1,29 1, ,61 1,42 1, ,67 1,42 1, ,74 1,55 1, ,69 1,47 1,60 Sumber : Kabupaten Sleman Dalam Angka 2015 Rata-rata lama menginap wisatawan di hotel bintang 5 di Kabupaten Sleman selama 1.70 hari. Maka dalam waktu satu tahun = 360 hari 1.70 hari = hari. Sehingga pada tahun 2025, kamar yang dibutuhkan wisatawan setiap tahunnya adalah sebagai berikut : P 2025 = = kamar 214,70 Sedangkan perkiraan kamar pada tahun 2025 berdasarkan rasio perbandingan antara jumlah wisatawan yang menginap di hotel bintang 5 dengan jumlah kamar yang tersedia tiap tahunnya adalah sebagai berikut : Tabel 4.6 Perbandingan Jumlah Wisatawan Hotel Bintang 5 dengan Jumlah Kamar Bintang 5 Jumlah Wisatawan Jumlah Kamar Rasio Tahun ,13 Tahun ,77 Tahun ,62
10 Tahun ,39 Tahun ,05 Rata-rata Perbandingan 299,99 Sumber : Analisa Pribadi, 2016 Berdasarkan rata-rata rasio perbandingan di atas, maka pada tahun 2025 kamar yang tersedia sebanyak : P 2025 = = kamar 299,99 Sehingga selisih antara kamar yang dibutuhkan wisatawan pada tahun 2025 dnegan ketersediaan kamar pada tahun 2025 adalah sebagai berikut : P 2025 = kamar kamar = kamar Maka kekurangan kamar pada hotel bintang 5 di Kabupaten Sleman pada tahun 2025 sebanyak kamar. b. Perhitungan Tipe Kamar Dari data-data yang diperoleh mengenai tipe kamar pada hasil studi banding dapat dibedakan dengan perbandingan sebagai berikut: 1. Pertimbangan Berdasarkan SK Dirjen Pariwisata (Persyaratan Kelas Hotel Berbintang, Depparpostel RI,1998) : perbandingan komposisi jumlah kamar tidur adalah 20% kamar single, 40% kamar twin, 30% kamar double dan 10% kamar suite. 2. Perhitungan Berdasarkan SK Dirjen Pariwisata (Persyaratan Kelas Hotel Berbintang, Depparpostel RI,1998) : perbandingan komposisi jumlah kamar tidur adalah 20% kamar single, 40% kamar twin, 30% kamar double dan 10% kamar suite. Standart Room :Twin Room : Deluxe Room : Suite 30% : 40 % : 20% : 10% Sehingga didapatkan hasil sebagai berikut: Standart Room = 30 % x 300 kamar = 90 Twin Room = 40 % x 300 kamar= 120 Deluxe Room = 20 % x 300 kamar= 60 Suite Room = 10 % x 300 kamar= 30 Kamar Suite dibagi menjadi 3 jenis, yaitu Junior Suite Room = 20 Executive Suite Room = 8 Presidential Suite Room = 2 Dari hasil studi banding di atas, dapat direncanakan tipe kamar yang paling banyak disediakan yaitu: Standart Double Room, dengan luas 28 m 2 kapasitas kamar tidur 2 orang, menggunakan tempat tidur ukuran king size bed, kamar mandi dalam dengan shower. Twin Room, dengan luas 36 m 2 kapasitas kamar tidur 2 orang, menggunakan pilihan tempat tidur ukuran double single bed, kamar mandi dalam dengan shower.
11 Deluxe Room, dengan luas 36 m 2 kapasitas kamar tidur 2 orang dengan pilihan ukuran tempat tidur king size bed, mini sofa, kamar mandi dengan fasilitas bath tub dan shower. Junior Suite Room, dengan luas 72 m 2 kapasitas kamar tidur 2-3 orang dengan menggunakan ukuran tempat tidur king size bed, sofa bed dilengkapi dengan sofa duduk, meja kerja, coffee table, bath tub dan shower. Executive Suite Room, dengan luas 192 m 2 kapasitas kamar tidur 2-4 orang dengan menggunakan ukuran tempat tidur king size bed, sofa bed, dilengkapi dengan living room, dinning area, meja kerja, coffee table, dapur mini, bath tub, dan shower. Presidential Suite Room, dengan luas 288 m 2 kapasitas kamar tidur 2-4 orang dengan menggunakan ukuran tempat tidur king size bed, sofa bed, dilengkapi dengan 2 bedrooms, living room, dinning area, meja kerja, coffee table, dapur mini, meeting room, bath tub, dan shower Pendekatan Kapasitas MICE Wisatawan ke D.I.Yogyakarta ternyata tidak hanya untuk melihat pesona/keindahan daya tarik wisata yang ada di D.I.Yogyakarta saja tetapi dengan semakin kondusifnya destinasi Yogyakarta menjadikan Wisata MICE yang semakin berkembang pada beberapa tahun terakhir ini juga menjadi salah satu wisata andalan Kabupaten Sleman dalam memberikan kontribusi/pemasukan bagi PAD. Pada tahun 2010 pelaksanaan MICE di Sleman sebanyak kali/tahun sedangkan pada tahun 2011 teralisasi sebanyak kali/tahun. Dengan demikian penyelenggaraan MICE di Kabupaten Sleman rata-rata ada 23 kali dalam 1 (satu) hari. Berikut ini adalah jumlah penyelenggaraan even MICE di Kabupaten Sleman dalam kurun waktu Tabel 4.7 Jumlah Event MICE di Hotel Kabupaten Sleman Tahun NO TAHUN EVENT MICE Sumber : Kabupaten Sleman dalam Angka 2015 Penyelenggaraan MICE di Kabupaten Sleman rata-rata tiap tahun memiliki kenaikan sejumlah 36,1 %. Berikut ini jumlah penyelenggara dan peserta MICE di Kabupaten Sleman pada tahun Tabel 4.8 Jumlah Event MICE di Hotel Kabupaten Sleman Tahun 2011 NO BULAN JUMLAH PENYELENGGARA JUMLAH PESERTA ()
12 1. Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Rata-rata per bulan Sumber : Kabupaten Sleman dalam Angka 2015 Penyelenggaraan MICE di Kabupaten Sleman yang diselenggarakan di hotel rata-rata 724 even setiap bulan dengan rata-rata peserta sekitar orang. Berikut ini proyeksi even MICE yang akan diselenggarakan di Kabupaten Sleman pada tahun Pm = Po + m (Pn Po) n Keterangan: Pm = jumlah pada tahun m Po = jumlah pada tahun dasar Pn = jumlah pada tahun akhir m = selisih tahun m dengan tahun dasar n = selisih tahun dari data pada tahun akhir dan tahun dasar Pada tahun 2014 jumlah even MICE yang diselenggarakan ke Kabupaten Sleman dan diselenggarakan di hotel berbintang di Kabupaten Sleman sebanyak wisatawan. Maka untuk menghitung proyeksi pertumbuhan even MICE yang diselenggarakan di hotel pada tahun 2025 di dapat persamaan sebagai berikut: Pm = jumlah wisatawan pada tahun 2025 P2010= even P2014= even m = = 15 tahun n = = 4 tahun maka P 2025 = ( ) 4
13 P 2025 = (12.556) P 2025 = (47.085) P 2025 = event c. Perhitungan Jumlah Pengelola dari Hasil Studi Banding Rasio perbandingan jumlah kamar yang akan direcanakan dengan karyawan adalah 1:0,9 atau dapat diartikan 1 kamar dilayani oleh 0,9 karyawan. Jadi dengan kapasitas 300 kamar, maka karyawan yang dibutuhkan adalah 300 x 0,9 = 270 karyawan atau dibulatkan menjadi 270 karyawan. Pengelola Tabel 4.9 Jumlah Pengelola Hotel Jumlah Orang a. General Manager 1 b. Assistant Manager 1 c. Accounting 5 d. Marketing Department Marketing Manager Staff 1 10 e. Administration Department Kepala Administrasi Cost Control Staff f. Front Office Department Kepala Department Receptionist Reservation Operator Bell boy g. Housekeeping Department Manager Houseman Laundry Gardener
14 5 h. Food and Beverage Department Food serving manager Cook Bartender Waiter / waitress Cashier i. Human Resource Department Personal Manager Staff j. Engineering Department Kepala Dept. Engineering Electrical Mechanical Plumber 1 10 k. Security Staff Kepala Dept. Security Security Jumlah 270 Sumber :Analisa Pribadi, Pendekatan Kebutuhan Ruang Kebutuhan ruang didasarkan pada jenis kegiatan yang terjadi pada kelompok kegiatan para pelaku kegiatan. Kebutuhan ruang dapat dikelompokkan sebagai berikut: Tabel 4.10 Pendekatan Kebutuhan Ruang Kelompok Kegiatan Uraian Kegiatan Sifat Kebutuhan Ruang Area Parkir Kegiatan Publik Memarkirkan kendaraan Publik Parkir mobil Parkir motor
15 Ruang transisi dari area pintu masuk menuju ke fasilitas yang ada di dalam hotel Publik Parkir pengelola Security office Entrance Hall Menerima tamu Publik Lobby Melayani pemesanan kamar hotel atau fasilitas lainnya dan pusat informasi tamu. Melakukan kamar pemesanan Melakukan pemesanan fasilitas ruang meeting Publik Publik Publik Front Office Lobby Receptionist Reservation Penitipan Barang Melakukan barang penitipan Publik Cashier Membayar administrasi Menerima tamu, menunggu, atau tempat berkumpul Memenuhi kebutuhan komersil seperti souvenir shop, mini market, ATM gallery Makan dan minum dengan fasilitas lengkap Publik Publik Publik Publik Lounge Ruang yang disewakan Restaurant Sarapan pagi dan bersantai Publik Coffee Shop Kegiatan Penunjang Bersantai dan minumminum ringan Melakukan pertemuan, rapat, seminar dan sejenisnya. Publik Publik Bar Meeting Room Function Room Makan, minum sebagai fasilitas dari function room Publik Banquet hall
16 Rekreasi, olahraga dan bermain. Sarana olahraga Swimming pool Semi Publik Fitness Club Locker Buang air kecil dan buang air besar Publik Ruang Ganti Lavatory Lavatory Sarana ibadah Publik Musholla Kegiatan Privat Melakukan aktifitas menginap diantaranya tidur dan mandi. Privat Standart room Deluxe Room Junior Suite Executive Suite Kegiatan pimpinan dan kesekretariatan Office General Manager Assist. Manager Privat Administration Marketing Engineering Kegiatan Pengelolaan Mengurus adminitrasi, keuangan, pemasaran, pendataan barang masuk dan keluar dan pengelolaan lainnya. Privat HRD Administration Room Melakukan koordinasi / briefing pada tim / keseluruhan karyawan Privat Meeting Room Peralihan sebelum memulai bekerja, yaitu berganti baju seragam, penyimpanan Privat Staff Office
17 barang karyawan, dan lainnya. Ruang Ganti Locker Pantry Musholla Menampung kegiatan Engineering Office pemeliharaan perawatan hotel dan maintenance Servis Ruang Genset Ruang Panel Ruang Pompa Mengontrol kegiatan hotel dilengkapi dengan CCTV, soundcentral, PABX Servis Control Room Menjaga keamanan pada hotel dilengkapi dengan fasilitas monitoring ruangan. Servis Security Office Mengurus administrasi yang berkaitan dengan makanan dan minuman. Servis Food and Beverage Office Menyimpan seragam karyawan dilengkapi dengan locker pakaian. Mengatur ketersediaan kelengkapan kamar tamu dan restoran. Servis Servis Uniform Room Housekeeping Office Janitor Kegiatan Servis Lost and Found Room Menyimpan barang karyawan dan beristirahat Mencuci, menyetrika kepentingan hotel dan tamu. Servis Servis Ruang Karyawan Laundry and dry cleaning Menyimpan kamar. perlengkapan Servis Ruang Linen
18 Mempersiapkan dan minuman makanan Servis Dapur Dapur utama Cold Storage Gudang Bongkar muat barang belanjaan dan barang mentah dapur Servis Loading Dock Menyimpan kegiatan reparasi barang Servis Gudang Gudang Peralatan dan Perlengkapan Sarana penunjang hotel meliputi PABX, genset room, ruang panel, ruang pompa air dan ruang sampah. Servis Mechanical Room Sumber :Analisa Pribadi, Pendekatan Program Ruang Pendekatan program ruang dilakukan dengan melihat standar besaran ruang dan kapasitas dari ruang-ruang yang ada. Standar besaran ruang yang digunakan dalam perencanaan diperoleh dari beberapa sumber, yaitu sebagai berikut: Tabel 4.11 Acuan Sumber Standar Besaran Ruang No. Acuan Simbol 1. Ernest Neufert Data Arsitek jilid 1 dan 2. Erlangga: Jakarta 2. Lawson, Fred Hotels and Resorts Planning Design and Refurbisment. England: Butterworth Architecture 3. Rutes, Walter and Richars Penner Hotel Planning and Design. London: Architectural Press 4. Joseph de Chiara & John Callender Time Saver Standards for Building Types. New York: Mc Graw Hill 5. Marlina, Endy Panduan Perancangan Bangunan Komersial. Yogyakarta: Penerbit ANDI DA HR HD TSS PBK
19 6. Surat Keputusan Dinas Pariwisata No. 14/U/II/88 tentang Pelaksanaan Ketentuan Usaha dan Pengelolaan Hotel. 7. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor 272/HK.105/DRJD/96 mengenai Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir SKDP DJPD 8. Studi Banding SB 9. Asumsi AS Sumber: Analisa Pribadi Di dalam menghitung program ruang perlu diperhatikan sirkulasi (flow), sirkulasi dibuat berdasarkan tingkat kenyamanan, yaitu: Tabel 4.12 Presentase Sirkulasi ruang No. Presentase Keterangan % Standar minimum % Kebutuhan keluasan sirkulasi % Kebutuhan kenyamanan fisik % Tuntutan kenyamanan psikologis % Tuntutan spesifik kegiatan % Keterkaitan dengan banyak kegiatan Sumber: Time Saver Standart of Building, 1973 Berikut ini adalah pendekatan program ruang pada Convention Hotel bintang 5 di Sleman : Tabel 4.13 Besaran Ruang Kelompok Kegiatan Publik Jenis Ruang Standar Besaran Kapasitas Perhitungan Luas Sumber Keterangan Kelompok Kegiatan Publik
20 Entrance Hall 0,4 m 2 / Lobby 1,8 m 2 / Lounge 0,4 m 2 / Front Office 0,4 m 2 / 300 Sirkulasi 50% 60 m 2 Entrance Hall-Lobby 0,4 m 2 x300= 120 m 2 1,8 m 2 x 300 = 540 m 2 0,4 m 2 x 300 = 120 m 2 0,4 m 2 x 300 = 120 m 2 DA HRP HRP DA Entrance Hall dibuat dengan konsep ruang indoor yang terhubung dengan outdoor atau terdapat taman indoor dengan unsur tropis. Perpaduan antara arsitektur tropis dan arsitektur modern, tanpa melupakan arsitektur lokal jogja. Total 180 m Rented Area Airline/tour agency Money changer 0,07 m 2 / 0,07 m 2 / ATM gallery 0,07 m 2 / Souvenir shop 0,07 m 2 / Boutique 0,07 m 2 / Lavatory Pria ,07 m 2 x 300 = 21 m 2 HMC Rented Area dibuat dengan konsep shopping arcade. 0,07 m 2 x 300 = 21 m 2 HMC Koridor berada di 0,07 m 2 x 300 = 21 m 2 HMC tengah dan diapit oleh beberapa rented area. 0,07 m 2 x 300 = 21 m 2 HMC 0,07 m 2 x 300 = 21 m 2 HMC Toilet Pria 1,7 m 2 / 6 1,7 m 2 x 6 = 10,2 m 2 DA rg Urinoir 0,7 m 2 / 5 0,7 m 2 x 5 = 3,5 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 2 1,3 m 2 x 2 = 2,6 m 2 DA Sirkulasi 30% 4,89 m 2 Lavatory Wanita Total 21,19 m 2 Toilet Wanita 1,7 m 2 / 8 1,7 m 2 x 8 = 13,6 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 4 1,3 m 2 x 4 = 5,2 m 2 DA Sirkulasi 30% 5,64 m 2 Total 24,44 m 2 Jumlah Total Kegiatan Publik Jumlah 1.146,63 m 2 Sirkulasi 30% 343,98 m 2
21 Total 1.490,61 m m 2 Sumber: Analisa Pribadi Tabel 4.14 Besaran Ruang Kelompok Kegiatan Penunjang Jenis Ruang Standar Besaran Kapasitas Perhitungan Luas Sumber Keterangan Kelompok Kegiatan Penunjang Restaurant Main Dining Room 0,6 krs/ 1,6 m 2 / krs krs 0,6 x 300 = 180 krs 1,6 m 2 x 180 = 288 m 2 HMC Main Dinning Room disediakan untuk melayani breakfast tamu hotel. Restaurant Special 1 0,3 krs/ 1,9 m 2 / krs 300 0,3 x 300 = 90 krs 90 krs 1,9 m 2 x 90 = 171 m 2 HMC Restaurant Special 1 memberikan pilihan menu makanan khas. Restaurant Special 2 0,3 krs/ 1,9 m 2 / krs 300 0,3 x 300 = 90 krs 90 krs 1,9 m 2 x 90 = 171 m 2 HMC Restaurant Special 2 memberikan pilihan menu makanan khas. Dapur Utama 60% x R. makan 3 3 x 60% x ( ) = m 2 HRP Jumlah 1.146,63 m 2 Lounge Bar 1,4 m 2 / Sirkulasi 30% 343,98 m 2 Total Luas Restaurant 1.490,61 m Bar and Cafe 1,4 m 2 x 300 = 420 m 2 HRP Bar and Cafe ditempatkan di rooftop dengan city view dan pool view. Dibuat dengan konsep semi 0,3 x 300 = 90 krs outdoor berupa sky HRP lounge. R. Bartender 5 m 2 / 5 5 m 2 x 5 = 25 m 2 HRP Cafe Dapur Lavatory Pria 0,3 krs/ 2,5 m 2 / krs 40-50% x (lounge krs 2,5 m 2 x 90 = 225 m m 2 50% x 670 m 2 = 335 m 2 HRP Toilet Pria 1,7 m 2 / Urinoir 0,7 m 2 / 6 1,7 m 2 x 6 = 10,2 m 2 DA 5 0,7 m 2 x 5 = 3,5 m 2 DA
22 Wastafel 1,3 m 2 / 2 1,3 m 2 x 2 = 2,6 m 2 DA Sirkulasi 30% 4,89 m 2 Lavatory Wanita Total 21,19 m 2 Toilet Wanita 1,7 m 2 / 8 1,7 m 2 x 8 = 13,6 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 4 1,3 m 2 x 4 = 5,2 m 2 DA Sirkulasi 30% 5,64 m 2 Total 24,44 m 2 Cashier 1,5 m 2 / 4 1,5 m 2 x 4 = 6 m 2 HRP Jumlah 1.056,63 m 2 Lounge Bar 1,4 m 2 / Sirkulasi 30% m 2 Total Luas Bar & Cafe 1.373,61 m Executive Lounge 1,4 m 2 x 300 = 420 m 2 HRP Executive Lounge hanya dapat diakses oleh pengguna suite room. Executive lounge merupakan private sky lounge (berada di rooftop) dengan bangunan semi outdoor. R. Bartender 5 m 2 / 5 5 m 2 x 5 = 25 m 2 HRP Lavatory Pria Toilet Pria 1,7 m 2 / Urinoir 0,7 m 2 / Wastafel 1,3 m 2 / Lavatory Wanita 6 1,7 m 2 x 6 = 10,2 m 2 DA 5 0,7 m 2 x 5 = 3,5 m 2 DA 2 1,3 m 2 x 2 = 2,6 m 2 DA Sirkulasi 30% 4,89 m 2 Total 21,19 m 2 Toilet Wanita 1,7 m 2 / 8 1,7 m 2 x 8 = 13,6 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 4 1,3 m 2 x 4 = 5,2 m 2 DA Sirkulasi 30% 5,64 m 2 Total 24,44 m 2 Jumlah 491,43 m 2 Sirkulasi 30% 147,42 m 2
23 Total Luas Bar & Cafe 638,85 m 2 Convention Center Ballroom 1,1 m 2 / ,1 m 2 x 3000= 3300 m 2 HRP Ballroom Lobby Meeting room 1 Meeting room 2 Meeting room 3 Ruang informasi Ruang Penitipan 1 /6 ballroom 3 m 2 / 300 x 1 3 m 2 / 100 x 4 3 m 2 / 50 x /6 x 3300 m 2 = 550 m 2 HRP m 2 3 m 2 x 300= 900 m 2 HRP 3 m 2 x 100 x 4= HRP m 2 3 m 2 x 50 x 6= 900 m 2 HRP 2 m 2 / 2 2 m 2 x 2= 4 m 2 HD 7 m 2 / counteer VIP Room 5 m 2 / 10 Ruang persiapan Pantry Ballroom 1 /12 x ballroom 48 m 2 / Pantry M.R 24 m 2 / 2 7 m 2 x 2= 14 m 2 HD 3300 m 2 5 m 2 x 10= 50 m 2 HD 1 /12 x 3300 m 2 = 275 m 2 HD 1 48 m 2 x 1 = 48 m 2 HD m 2 x 11 = 264 m 2 HD Ruang Service Convention R. Kontrol Suara R. Kontrol Lampu Lavatory Pria 24 m 2 / 24 m 2 / m 2 x 12 = 288 m 2 HD 2 24 m 2 x 2 = 48 m 2 HD 6 Toilet Pria 1,7 m 2 / 6 1,7 m 2 x 6 = 10,2 m 2 DA Urinoir 0,7 5 0,7 m 2 x 5 = 3,5 m 2 DA m 2 / Wastafel 1,3 m 2 / 2 1,3 m 2 x 2 = 2,6 m 2 DA Sirkulasi 30% 4,89 m 2 Total 21,19 m 2 x 6 = 127,14 m 2 Lavatory Wanita Toilet Wanita 1,7 m 2 / Wastafel 1,3 m 2 / 6 8 1,7 m 2 x 8 = 13,6 m 2 DA 4 1,3 m 2 x 4 = 5,2 m 2 DA
24 Sirkulasi 30% 5,64 m 2 Total 24,44 m 2 x 6 = 146,64 m 2 Gudang 30% x function 2 2 x 30% x 3300 m 2 = 1980 m 2 HD Jumlah ,78 m 2 Sirkulasi 30% 3.028,43 m 2 Total Luas Convention Center ,21 m 2 Swimming Pool Pool Kids Pool 25 m x 50 m 7,5 m x 25 m 1 25 m x 50 m = 1250 m 2 HD 1 5 m x 20 m = 100 m 2 HD Swimming pool dibuat di lantai atas (rooftop), berupa infinity pool dengan city view. Locker, Lavatory 2 x 0,1 m 2 x luas 2 x 0,1 m 2 x 1350= 270 m 2 HD Jumlah m 2 Sirkulasi 30% 486 m 2 Total m 2 Fitness Center Treadmill 1,5 m x 0,90 m 6 1,35 m 2 x 6 = 8,1 m 2 HD Press Station Static Bicycle Rak Barbel Locker, Lavatory 1,5 m x 1,00 m 1,2 m x 0,60 m 2,0 m x 0,90 m 2 x 0,36 m 2 / 4 1,5 m 2 x 4 = 6 m 2 HD 6 0,72 m 2 x 6 = 4,32 m 2 HD 4 1,8 m 2 x 4 = 7,2 m 2 HD x 0,36 m 2 x 300 = 216 m 2 Jumlah m 2 HD Sirkulasi 30% 72,48 m 2 Total 314,10 m 2 Spa R. Tunggu 2 m 2 / 10 2 m 2 x 10 = 20 m 2 HD R.Meni/pedic ure 1,7 m 2 / Salon 4 m 2 / ,7 m 2 x 4 = 6,8 m 2 HD 4 m 2 x 10 = 40 m 2 HD
25 Massage Room 4 m 2 / 4 4 m 2 x 4 = 16 m 2 HD Locker, Lavatory 2 x 0,36 m 2 / x 0,36 m 2 x 300 = 216 m 2 HD Jumlah 298,8 m 2 Sirkulasi 30% 89,64 m 2 Total 388,44 m 2 Sauna R. Tunggu 2 m 2 / 10 2 m 2 x 10 = 20 m 2 HD Ruang Mandi 4,9 m 2 / Ruang Pijat 4,6 m 2 / Beranda 4 m 2 / 10 4,9 m 2 x 10 = 49 m 2 HD 4,6 m 2 x 10 = 46 m 2 HD 4 m 2 x 10 = 40 m 2 HD Bak Air Panas 2 m 2 / 5 2 m 2 x 5 = 10 m 2 HD Locker, Lavatory 2 x 0,36 m 2 / x 0,36 m 2 x 300 = 216 m 2 HD Jumlah 335 m 2 Sirkulasi 30% 100,5 m 2 Total 435,5 m 2 Mushola Ruang Shalat 1 m 2 / 100 Ruang Wudhu 0,8 m 2 / Lavatory Pria 20 1 m 2 x 100 = 100 m 2 0,8 m 2 x 20 = 16 m 2 Toilet Pria 1,7 m 2 / 6 1,7 m 2 x 6 = 10,2 m 2 DA Urinoir 0,7 m 2 / 5 0,7 m 2 x 5 = 3,5 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 2 1,3 m 2 x 2 = 2,6 m 2 DA Sirkulasi 30% 4,89 m 2 Lavatory Wanita Total 21,19 m 2 Toilet Wanita 1,7 m 2 / Wastafel 1,3 m 2 / 8 1,7 m 2 x 8 = 13,6 m 2 DA 4 1,3 m 2 x 4 = 5,2 m 2 DA
26 Sirkulasi 30% 5,64 m 2 Total 24,44 m 2 Jumlah 161,63 m 2 Sirkulasi 30% 48,48 m 2 Total 210,11 m 2 Jumlah Total Kegiatan Penunjang Jumlah ,54 m 2 Sirkulasi 30% 6.133,96 m 2 Total ,50 m m 2 Sumber: Analisa Pribadi Tabel 4.15 Besaran Ruang Kelompok Kegiatan Privat Jenis Ruang Standar Besaran Kapasitas Perhitungan Luas Sumber Keterangan Kelompok Kegiatan Privat Standart Room Kamar Tidur King Size Bed 2m x 2m 1 4m² x 1 = 4m² SB Nakas Lemari Meja Kursi Sofa 0,6 m x 0,6 m 0,6 m x 1,2 m 0,75 m x 1,5 m 0,5 m x 0,6 m 0,8 m x 0,6 m 2 0,36 m² x 2 = 0,72 m² SB 1 0,72 m² x 1 = 0,72 m² SB 1 1,125 m² x 1 = 1,125 SB m² 1 0,3 m² x 1 = 0,3 m² SB 1 0,48 m² x 1 = 0,48 m² SB Jumlah 7,345 m 2 Sirkulasi 100% 7,345 m 2 Total 14,69 m 2 Bathroom Kloset duduk Shower Wastafel 0,65 m x 0,55 m 1,2 m x 1,2 m 0,4 m x 0,9 m 1 0,36 m² x 1 = 0,36 m² DA 1 1,44 m² x 1 = 1,44 m² DA 1 0,36 m² x 1 = 0,36 m² DA
27 Jumlah 2,16 m 2 Sirkulasi 100% 2,16 m 2 Total 4,32 m 2 Balkon 1,5 m x 1,5 m 1 2,55 m² x 1 = 2,55 m² SB Jumlah Luas Kamar Standart Double Jumlah 21,56 m 2 Sirkulasi 30% 6,46 m 2 Total 28,02 m 2 28 m 2 Jumlah kamar standar = m 2 x 90 =2.520 m 2 Twin Room Kamar Tidur Single Size Bed Nakas Lemari Meja Kursi Sofa 1,2m x 2m 0,6 m x 0,6 m 0,6 m x 1,2 m 0,75 m x 1,5 m 0,5 m x 0,6 m 0,8 m x 0,6 m 2 2 x 2,4 m² x 1 = 4,8 m² SB 2 0,36 m² x 2 = 0,72 m² SB 2 2 x 0,72 m² x 1 = 1,44 m² SB 2 2 x 1,125 m² x 1 = 2,25 SB m² 2 2 x 0,3 m² x 1 = 0,6 m² SB 1 0,48 m² x 2 = 0,96 m² SB Jumlah 10,77 m 2 Sirkulasi 100% 10,77 m 2 Total 21,54 m 2 Bathroom Kloset duduk Shower Wastafel 0,65 m x 0,55 m 1,2 m x 1,2 m 0,4 m x 0,9 m 1 0,36 m² x 1 = 0,36 m² DA 1 1,44 m² x 1 = 1,44 m² DA 1 0,36 m² x 1 = 0,36 m² DA Jumlah 2,16 m 2 Sirkulasi 100% 2,16 m 2 Total 4,32 m 2 Balkon 1,5 m x 1,5 m 1 2,55 m² x 1 = 2,55 m² SB
28 Jumlah Luas Kamar Twin Jumlah 28,41 m 2 Sirkulasi 30% 8,52 m 2 Total 36,09 m 2 36 m 2 Jumlah kamar twin = m 2 x 120 = m 2 Deluxe Room Kamar Tidur King Size Bed 2m x 2m 1 4m² x 1 = 4 m² SB Nakas Lemari Meja Kursi Sofa Coffe Table 0,6 m x 0,6 m 0,6 m x 1,8 m 0,75 m x 1,5 m 0,5 m x 0,6 m 0,8 m x 1,5 m 0,6 m x 1,2 m 2 0,36 m² x 2 = 0,72 m² SB 1 1,08 m² x 1 = 1,08 m² SB 1 1,125 m² x 1 = 1,125 SB m² 1 0,3 m² x 1 = 0,3 m² SB 1 1,2 m² x 1 = 1,2 m² SB 1 0,72 m² x 1 = 0,72 m² SB Jumlah 9,145 m 2 Sirkulasi 100% 9,145 m 2 Total 18,29 m 2 Bathroom Kloset duduk 0,65 m x 0,55 m Shower 1,2 m x 1,2 m Bathup 0,8 m x 2 m Wastafel 0,4 m x 1 m 1 0,36 m² x 1 = 0,36 m² DA 1 1,44 m² x 1 = 1,44 m² DA 1 1,6 m² x 1 = 1,6 m² 1 0,4 m² x 1 = 0,4 m² DA Jumlah 3,8 m 2 Sirkulasi 100% 3,8 m 2 Total 7,6 m 2 Balkon 1,5 m x 1,5 m 1 2,55 m² x 1 = 2,55 m² SB Jumlah Luas Kamar Deluxe Jumlah 28,44 m 2
29 Sirkulasi 30% 8,532 m 2 Total 36,09 m 2 36 m 2 Jumlah kamar deluxe = m 2 x 60 =2.160 m 2 Junior Suite Room Kamar Tidur King Size Bed 2m x 2m 1 4m² x 1 = 4 m² SB Nakas Lemari Meja Kursi Convertible Sofa Coffe Table Long Sofa Meja Sofa 0,6 m x 0,6 m 0,6 m x 1,8 m 0,75 m x 1,5 m 0,5 m x 0,6 m 0,8 m x 1,5 m 0,6 m x 1,2 m 1,5 m x 0,8 m 1,2 m x 0,8 m 2 0,36 m² x 2 = 0,72 m² SB 1 1,08 m² x 1 = 1,08 m² SB 1 1,125 m² x 1 = 1,125 SB m² 1 0,3 m² x 1 = 0,3 m² SB 1 1,2 m² x 1 = 1,2 m² SB 1 0,72 m² x 1 = 0,72 m² SB 1 1,6 m 2 x 1 = 1,6 m 2 SB 1 0,96 m 2 x 1 = 0,96 m 2 SB Jumlah 12,905 m 2 Sirkulasi 100% 12,905 m 2 Total 25,81 m 2 Dinning Area Meja Makan Kursi Makan Serving Table 1,2 m x 2,5 m 0,6 m x 0,5 m 0,75 m x 1,5 m 1 3 m² x 1 = 3 m² DA 6 0,3 m² x 6 = 1,8 m² DA 1 1,125 m² x 1 = 1,125 m² Jumlah 5,925 m 2 Sirkulasi 100% 5,925 m 2 Total 11,85 m 2 Lavatory Kloset duduk Shower 0,65 m x 0,55 m 1,2 m x 1,2 m 1 0,36 m² x 1 = 0,36 m² DA 1 1,44 m² x 1 = 1,44 m² DA
30 Bathup 0,8 m x 2 m Wastafel 0,4 m x 1,5 m 1 1,6 m² x 1 = 1,6 m² DA 1 0,6 m² x 1 = 0,6 m² DA Jumlah 4 m 2 Sirkulasi 100% 4 m 2 Total 8 m 2 Balkon 1,5 m x 1,5 m 1 2,55 m² x 1 = 2,55 m² SB Jumlah Luas Kamar Junior Suite Jumlah 48,21 m 2 Sirkulasi 50% 24,1 m 2 Total 72,3 m 2 72 m 2 Jumlah junior suite = m 2 x 20 =1.440 m 2 Executive Suite Room Kamar Tidur King Size Bed 2m x 2m 1 4m² x 1 = 4 m² SB Nakas Lemari Meja Kursi Convertible Sofa Coffe Table Long Sofa 0,6 m x 0,6 m 0,6 m x 1,8 m 0,75 m x 1,5 m 0,5 m x 0,6 m 0,8 m x 1,5 m 0,6 m x 1,2 m 1,5 m x 0,8 m 2 0,36 m² x 2 = 0,72 m² SB 1 1,08 m² x 1 = 1,08 m² SB 1 1,125 m² x 1 = 1,125 SB m² 1 0,3 m² x 1 = 0,3 m² SB 1 1,2 m² x 1 = 1,2 m² SB 1 0,72 m² x 1 = 0,72 m² SB 1 1,6 m 2 x 1 = 1,6 m 2 SB Jumlah 11,945 m 2 Sirkulasi 100% 11,945 m 2 Total 23,81 m 2 Dinning Area Meja Makan 1,2 m x 3 m Kursi Makan 0,6 m x 0,5 m 1 3,6 m² x 1 = 3,6 m² DA 8 0,3 m² x 8 = 2,4 m² DA
31 Serving Table Mini Bar 0,75 m x 1,5 m 0,75 m x 1,5 m 1 1,125 m² x 1 = 1,125 m² 1 1,125 m² x 1 = 1,125 m² Jumlah 8,25 m 2 Sirkulasi 100% 8,25 m 2 Total 16,5 m 2 Living Room Long Sofa 1 m x 2,5 m Meja Sofa 0,8 m x 1,5 m Meja Lampu 0,5 m x 0,5 m Massage Chair 1,2 m x 2 m 1 2,5 m² x 1 = 2,5 m² DA 1 1,2 m² x 1 = 1,2 m² DA 2 0,25 m² x 1 = 0,25 m² DA 1 2,4 m² x 1 = 2,4 m² DA Jumlah 6,35 m 2 Sirkulasi 100% 6,35 m 2 Total 12,7 m 2 Pantry Serving Table 0,8 m x 2 m Dispenser 0,4 m x 0,4 m Kulkas 0,8 m x 1 m Wastafel 0,8 m x 1,2 m 1 1,6 m² x 1 = 1,6 m² DA 1 0,16 m² x 1 = 0,16m² DA 2 0,8 m² x 1 = 0,8 m² DA 1 0,96 m² x 1 = 0,96 m² DA Jumlah 3,52 m 2 Sirkulasi 100% 3,52 m 2 Total 7,04 m 2 Bathroom Kloset duduk 0,65 m x 0,55 m Shower 1,2 m x 1,2 m Bathup 0,8 m x 2 m Wastafel 0,4 m x 1,5 m 1 0,36 m² x 1 = 0,36 m² DA 1 1,44 m² x 1 = 1,44 m² DA 1 1,6 m² x 1 = 1,6 m² DA 1 0,6 m² x 1 = 0,6 m² DA Jumlah 4 m 2 Sirkulasi 100% 4 m 2
32 Total 8 m 2 Terrace Sofa 0,8 m x 0,6 m Meja Sofa 0,8 m x 0,8 m Private Pool 5 m x 7,5 m 2 0,48 m² x 2 = 0,96 m² DA 1 1,6 m² x 1 = 1,6 m² DA 1 37,5 m² x 1 = 37,5 m² DA Jumlah 40,6 m 2 Sirkulasi 50% 20,3 m 2 Total 60,9 m 2 Jumlah Luas Kamar Executive Suite Jumlah 128,95 m 2 Sirkulasi 50% 64,475 m 2 Total 192,45 m m 2 Jumlah junior suite = m 2 x 8 =1.536 m 2 Presidential Suite Room Kamar Tidur Utama King Size Bed 2m x 2m 1 4m² x 1 = 4 m² SB Nakas Lemari Meja Kursi Convertible Sofa Coffe Table Long Sofa 0,6 m x 0,6 m 0,6 m x 1,8 m 0,75 m x 1,5 m 0,5 m x 0,6 m 0,8 m x 1,5 m 0,6 m x 1,2 m 1,5 m x 0,8 m 2 0,36 m² x 2 = 0,72 m² SB 1 1,08 m² x 1 = 1,08 m² SB 1 1,125 m² x 1 = 1,125 SB m² 1 0,3 m² x 1 = 0,3 m² SB 1 1,2 m² x 1 = 1,2 m² SB 1 0,72 m² x 1 = 0,72 m² SB 1 1,6 m 2 x 1 = 1,6 m 2 SB Jumlah 11,945 m 2 Sirkulasi 100% 11,945 m 2 Total 23,81 m 2 Kamar Tidur King Size Bed 2m x 2m 1 4m² x 1 = 4m² SB
33 Nakas Lemari Meja Kursi Sofa 0,6 m x 0,6 m 0,6 m x 1,2 m 0,75 m x 1,5 m 0,5 m x 0,6 m 0,8 m x 0,6 m 2 0,36 m² x 2 = 0,72 m² SB 1 0,72 m² x 1 = 0,72 m² SB 1 1,125 m² x 1 = 1,125 SB m² 1 0,3 m² x 1 = 0,3 m² SB 1 0,48 m² x 1 = 0,48 m² SB Jumlah 7,345 m 2 Sirkulasi 100% 7,345 m 2 Total 14,69 m 2 Dinning Area Meja Makan 1,2 m x 3 m Kursi Makan 0,6 m x 0,5 m Serving Table 0,75 m x 1,5 m Mini Bar 0,75 m x 1,5 m 1 3,6 m² x 1 = 3,6 m² DA 8 0,3 m² x 8 = 2,4 m² DA 1 1,125 m² x 1 = 1,125 m² 1 1,125 m² x 1 = 1,125 m² Jumlah 8,25 m 2 Sirkulasi 100% 8,25 m 2 Total 16,5 m 2 Living Room Long Sofa 1 m x 2,5 m Meja Sofa 0,8 m x 1,5 m Meja Lampu 0,5 m x 0,5 m Massage Chair 1,2 m x 2 m 1 2,5 m² x 1 = 2,5 m² DA 1 1,2 m² x 1 = 1,2 m² DA 2 0,25 m² x 1 = 0,25 m² DA 1 2,4 m² x 1 = 2,4 m² DA Jumlah 6,35 m 2 Sirkulasi 100% 6,35 m 2 Total 12,7 m 2 Meeting Room Meja Rapat 2 m x 5 m Kursi Rapat 0,6 m x 0,6 m 1 10 m² x 1 = 10 m² DA 10 0,36 m² x 10 = 3,6 m² DA
34 Lemari Arsip 0,6 m x 2 m 1 1,2 m² x 1 = 1,2 m² DA Jumlah 14,8 m 2 Sirkulasi 100% 14,8 m 2 Total 29,6 m 2 Pantry Serving Table 0,8 m x 2 m Dispenser 0,4 m x 0,4 m Kulkas 0,8 m x 1 m Wastafel 0,8 m x 1,2 m 1 1,6 m² x 1 = 1,6 m² DA 1 0,16 m² x 1 = 0,16m² DA 2 0,8 m² x 1 = 0,8 m² DA 1 0,96 m² x 1 = 0,96 m² DA Jumlah 3,52 m 2 Sirkulasi 100% 3,52 m 2 Total 7,04 m 2 Main Bathroom Kloset duduk 0,65 m x 0,55 m Shower 1,2 m x 1,2 m Bathup 0,8 m x 2 m Wastafel 0,4 m x 1,5 m Walk in Closet 2 m x 3 m 1 0,36 m² x 1 = 0,36 m² DA 1 1,44 m² x 1 = 1,44 m² DA 1 1,6 m² x 1 = 1,6 m² DA 1 0,6 m² x 1 = 0,6 m² DA 1 6 m² x 1 = 6 m² Jumlah 10 m 2 Sirkulasi 100% 10 m 2 Total 20 m 2 Standart Bathroom Kloset duduk Shower Wastafel 0,65 m x 0,55 m 1,2 m x 1,2 m 0,4 m x 0,9 m 1 0,36 m² x 1 = 0,36 m² DA 1 1,44 m² x 1 = 1,44 m² DA 1 0,36 m² x 1 = 0,36 m² DA Jumlah 2,16 m 2 Sirkulasi 100% 2,16 m 2 Total 4,32 m 2
35 Terrace Sofa 0,8 m x 0,6 m Meja Sofa 0,8 m x 0,8 m Private Pool 5 m x 7,5 m 4 0,48 m² x 4 = 1,92 m² DA 1 1,6 m² x 1 = 1,6 m² DA 1 37,5 m² x 1 = 37,5 m² DA Jumlah 41,2 m 2 Sirkulasi 50% 20,51 m 2 Total 61,71 m 2 Jumlah Luas Kamar Preidential Suite Jumlah 191,83 m 2 Sirkulasi 50% 95,91 m 2 Total 287,74 m m 2 Jml presidential suite = m 2 x 2 = 576 m 2 Jumlah Luas Kelompok Kegaiatan Privat Jumlah m 2 Sirkulasi 50% m 2 Total m 2 Sumber: Analisa Pribadi Tabel 4.16 Besaran Ruang Kelompok Kegiatan Pengelola Jenis Ruang Standar Besaran Kapasitas Perhitungan Luas Sumber Keterangan Kelompok Kegiatan Pengelola Manager Office R. General Manager R. Resident Manager 9,5 m 2 / 9,5 m 2 / 1 9,5 m 2 x 1 = 9,5 m 2 HRP Entrance Hall dibuat dengan konsep 1 9,5 m 2 x 1 = 9,5 m 2 HRP R. Front Office Manager R. Reservation Manager 9,5 m 2 / 9,5 m 2 / R. Rapat 1,5 m 2 / 1 9,5 m 2 x 1 = 9,5 m 2 HRP 1 9,5 m 2 x 1 = 9,5 m 2 HRP 100 1,5 m 2 x 100 = 150 m 2 HRP
36 R. Reservasi 2 m 2 / 6 2 m 2 x 6 = 12 m 2 HRP R. Arsip 0,04 m 2 / jml Lavatory Pria 300 0,04 m 2 x 300 = 12 m 2 HRP Toilet Pria 1,7 m 2 / 6 1,7 m 2 x 6 = 10,2 m 2 DA rg Urinoir 0,7 m 2 / 5 0,7 m 2 x 5 = 3,5 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 2 1,3 m 2 x 2 = 2,6 m 2 DA Sirkulasi 30% 4,89 m 2 Lavatory Wanita Total 21,19 m 2 Toilet Wanita 1,7 m 2 / 8 1,7 m 2 x 8 = 13,6 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 4 1,3 m 2 x 4 = 5,2 m 2 DA Sirkulasi 30% 5,64 m 2 Total 24,44 m 2 Jumlah 257,63 m 2 Sirkulasi 50% 77,28 m 2 Total 334,91 m 2 Divisi Personalia R. Personel Manager 9,5 m 2 / 1 9,5 m 2 x 1 = 9,5 m 2 HRP R. Staff 2 m 2 / 20 R. Trainning 0,4 m 2 / jml Locker Room 0,4 m 2 / Lavatory Pria m 2 x 20 = 40 m 2 HMC 0,4 m 2 x 300 = 120 m 2 HMC 0,4 m 2 x 270 = 108 m 2 HMC Toilet Pria 1,7 m 2 / 6 1,7 m 2 x 6 = 10,2 m 2 DA rg Urinoir 0,7 m 2 / 5 0,7 m 2 x 5 = 3,5 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 2 1,3 m 2 x 2 = 2,6 m 2 DA Sirkulasi 30% 4,89 m 2
37 Total 21,19 m 2 Lavatory Wanita Toilet Wanita 1,7 m 2 / 8 1,7 m 2 x 8 = 13,6 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 4 1,3 m 2 x 4 = 5,2 m 2 DA Sirkulasi 30% 5,64 m 2 Total 24,44 m 2 Jumlah 323,13 m 2 Sirkulasi 30% 96,93 m 2 Total 420,06 m 2 Ruang Makan Karyawan R. Makan 1,7 m 2 / 0,4 staff 1,7 m 2 x 270 = 459 m 2 HRP Dapur ⅓ x r. makan Lavatory Pria 1 ⅓ x 459 m 2 = 153 m 2 HMC Toilet Pria 1,7 m 2 / 6 1,7 m 2 x 6 = 10,2 m 2 DA rg Urinoir 0,7 m 2 / 5 0,7 m 2 x 5 = 3,5 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 2 1,3 m 2 x 2 = 2,6 m 2 DA Sirkulasi 30% 4,89 m 2 Lavatory Wanita Total 21,19 m 2 Toilet Wanita 1,7 m 2 / 8 1,7 m 2 x 8 = 13,6 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 4 1,3 m 2 x 4 = 5,2 m 2 DA Sirkulasi 30% 5,64 m 2 Total 24,44 m 2 Jumlah 657,63 m 2 Sirkulasi 30% 197,28 m 2 Total 854,91 m 2 Jumlah Kelompok Kegiatan Pengelola Jumlah 1.609,88 m 2
38 Sirkulasi 50% 804,94 m 2 Total 2.414,82 m m 2 Sumber: Analisa Pribadi Tabel 4.17 Besaran Ruang Kelompok Kegiatan Pelayanan Jenis Ruang Standar Besaran Kapasitas Perhitungan Luas Sumber Keterangan Kelompok Kegiatan Pelayanan Housekeeping Housekeeping Office Laundry Room 9,5 m 2 / 0,7 m 2 / jml 2 9,5 m 2 x 2 = 19 m 2 HRP Entrance Hall dibuat dengan konsep 300 0,7 m 2 x 300 = 210 m 2 HRP Valet Room 0,03 m 2 / jml Soiled Laundry 0,03 m 2 / jml Linen Storage 0,4 m 2 / jml Uniform Issue 0,09 m 2 / jml Lost & Found 0,03 m 2 / jml Lavatory Pria ,03 m 2 x 300 = 9 m 2 HRP 0,03 m 2 x 300 = 9 m 2 HRP 0,4 m 2 x 300 = 120 m 2 HRP 0,09 m 2 x 300 = 27 m 2 HRP 0,03 m 2 x 300 = 9 m 2 HRP Toilet Pria 1,7 m 2 / 6 1,7 m 2 x 6 = 10,2 m 2 DA rg Urinoir 0,7 m 2 / 5 0,7 m 2 x 5 = 3,5 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 2 1,3 m 2 x 2 = 2,6 m 2 DA Sirkulasi 30% 4,89 m 2 Lavatory Wanita Total 21,19 m 2 Toilet Wanita 1,7 m 2 / 8 1,7 m 2 x 8 = 13,6 m 2 DA Wastafel 1,3 m 2 / 4 1,3 m 2 x 4 = 5,2 m 2 DA Sirkulasi 30% 5,64 m 2
39 Total 24,44 m 2 Jumlah 448,63 m 2 Sirkulasi 50% 224,31 m 2 Total 672,94 m 2 Gudang Gudang Kering 0,2 m² x L. dapur utama 1 0,2 m 2 x m 2 = 226,8 m 2 HRP Gudang Dingin Gudang Sayuran Gudang Peralatan Gudang Minuman Gudang Penerimaan 0,25m² x L. dapur 0,25m² x L. dapur 0,3 m² x L. dapur 0,2 m² x jml 0,3m² x jml 1 0,25 m 2 x m 2 = 283,5 m 2 HMC 1 0,25 m 2 x m 2 = HMC 283,5 m 2 1 0,3 m 2 x m 2 = HMC 340,2 m ,2 m 2 x 300 = 60 m 2 HMC 300 0,3 m 2 x 300 = 90 m 2 HMC Jumlah m 2 Sirkulasi 30% 385,2 m 2 Total 1.669,2 m 2 Ruang Keamanan Pos Jaga 10 m² x 1 10 m 2 x 1 m 2 = 10 m 2 HRP R. CCTV 10 m² x 1 10 m 2 x 1 m 2 = 10 m 2 HMC Jumlah 20 m 2 Sirkulasi 30% 6 m 2 Total 26 m 2 Ruang Engineering R. Genset 25 m² / utama 5 25 m 2 x 5 = 125 m 2 HRP R. Panel Listrik 16 m² / 5 16 m 2 x 5 = 80 m 2 HMC
40 R. Pompa 25 m² / Lift 20 m² / R. AHU 20 m² / Shaft 3 m²/ R. Chiller 20 m² / Lift Barang 9 m²/ Tangga Darurat 24 m²/ 5 25 m 2 x 5 = 125 m 2 HMC m 2 x 10 = 200 m 2 HMC m 2 x 10 = 200 m m 2 x 10 = 30 m m 2 x 1 = 20 m m 2 x 10 = 90 m m 2 x 10 = 240 m 2 Jumlah m 2 Sirkulasi 30% 330 m 2 Total m 2 Jumlah Kelompok Kegiatan Pelayanan Jumlah 3.798,14 m 2 Sirkulasi 50% 1.899,07 m 2 Total 5.697,21 m m 2 Sumber: Analisa Pribadi Kelompok Area Parkir Berdasarkan peraturan standar parkir yang dikeluarkan oleh Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor 272/HK.105/DRJD/96 mengenai Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkiruntuk bangunan hotel adalah berdasarkan kebutuhan ruang parkir. Tabel ukuran kebutuhan ruang parkir sumber Direktur Jenderal Perhubungan Darat RI sebagai berikut: Tabel 4.18 Standart SRP Bangunan Hotel dan Tempat Penginapan No. Peruntukkan Satuan Ruang Parkir (SRP) Kebutuhan Ruang Parkir 1. Pusat Perdagangan Pertokoan SRP / 100 m 2 luas lantai efektif 3,5 7,5 Pasar Swalayan SRP / 100 m 2 luas lantai efektif 3,5 7,5 Pasar SRP / 100 m 2 luas lantai efektif 3,5 7,5 2. Pusat Perkantoran Pelayanan Bukan Umum SRP / 100 m 2 luas lantai 1,5 3,5 Pelayanan Umum SRP / 100 m 2 luas lantai 1,5 3,5 3. Pusat Pertemuan Non Padat SRP / 100 m 2 luas lantai 5,0 7,5 Padat SRP / 100 m 2 luas lantai 7, Sekolah SRP / mahasiswa 0,7 1,0 5. Hotel atau Penginapan SRP / kamar 0,2 1,0
41 6. Rumah Sakit SRP / tempat tidur 0,2 1,3 7. Gedung Pertunjukan SRP / tempat duduk 0,1 0,4 No. Jenis Kendaraan SRP (m 2 ) Sumber: Dinas Perhubungan Darat RI, 1996 Tabel 4.19 Kebutuhan Ruang Berdasarkan Jenis Kendaraan a. Mobil penumpang untuk golongan I b. Mobil penumpang untuk golongan II c. Mobil penumpang untuk golongan III Bus/ Truk Sepeda Motor Sumber: Dinas Perhubungan Darat RI, ,3 x 5 2,5 x 5 3,0 x 5 3,4 x 12,5 0,75 x 2 Berdasarkan table di atas, maka perhitungan untuk kebutuhan ruang parkir adalah sebagai berikut: Tabel 4.20 Kebutuhan Ruang Berdasarkan Jenis Kendaraan Jenis Ruang Standar Besaran Kapasitas Perhitungan Luas Sumber Kelompok Area Parkir Hotel Parkir Mobil 0,6 SRP/kamar 300 kamar 0,6 SRP x 300 = 180 SRP DJPD 3m x 5,5m/mobil 16,5m 2 x 180 = m 2 Parkir Motor 1,5m x 2m/motor 10% luas parkir mobil 10%x m 2 = 297 m 2 TSS Bus 42,5 m 2 / 5 42,5 m 2 x 5 = 212,5 m 2 DA Truk Barang 42,5 m 2 / 1 42,5 m 2 x 1 = 42,5 m 2 DA Kelompok Area Parkir Convention Center Parkir Mobil 10 SRP/100 m 2 3m x 5,5m/mobil 4400 m 2 10 SRP x 44 = 440 SRP 16,5m 2 x 440 = m 2 DJPD Parkir Motor 1,5m x 2m/motor 10% luas parkir mobil 10%x m 2 = 726 m 2 TSS Bus 42,5 m 2 / 10 42,5 m 2 x 10 = 425 m 2 DA Truk Barang 42,5 m 2 / 3 42,5 m 2 x 3 = 127,5 m 2 DA Jumlah ,5 m 2
42 Sirkulasi 100% ,5 m 2 Total m 2 Sumber: Analisa Pribadi Jumlah seluruh kebutuhan ruang yang dibutuhkan : Berdasarkan table perhitungan di atas, dapat diambil kesimpulan besaran ruang yang dibutuhkan untuk membangun Convention Hotel bintang 5 di Sleman yaitu: Tabel 4.21 Jumlah Total Besaran Ruang No. Kelompok Kegiatan Jumlah 1. Kelompok Kegiatan Publik m 2 2. Kelompok Kegiatan Penunjang m 2 3. Kelompok Kegiatan Privat m 2 4. Kelompok Kegiatan Pengelola m 2 5. Kelompok Kegiatan Pelayanan m 2 Jumlah Kelompok Kegiatan m 2 Jumlah Area Parkir m 2 Total m 2 Sumber :Analisa Pribadi Pendekatan Hubungan Ruang Penyusunan ruang dalam perencanaan bangunan menggunakan pengelompokkan kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan efisiensi dan efektifitas dalam koordinasi hubungan, kegiatan dan fungsi ruang dalam perancangan. Untuk mengetahui hubungan antar kelompok ruang, dapat dilihat dalam gambar berikut ini: KEGIATAN PUBLIK Parking Area Hall Lobby Front Office Lobby - Receptionist - Reservation - Penitipan Barang - Cashier Lounge Ruang yang disewakan KEGIATAN PENUNJANG Restaurant Coffee Shop Bar Meeting Room Function Room Banquet Hall Saran Olahraga Lavatory Musholla KEGIATAN PENGELOLA Office Administration Room Meeting Room Staff Office Engineering Office Security Office Food and Beverage Office KEGIATAN SERVIS Staff Room Housekeeping Office Laundry and Dry Cleaning Ruang Linen Dapur Storekeeper Office KEGIATAN UTAMA / PRIVAT Unit Kamar - Standart Room - Deluxe Room - Junior Suite Room - Executive Suite Room : Erat : Cukup Erat : Tidak Erat
43 Gambar 4.1 Diagram hubungan kelompok ruang Sumber: Analisa Pribadi Adapun pola hubungan ruang dikelompokkan sesuai dengan fungsinya. Pola hubungan ruang digambarkan pada matriks hubungan ruang sebagai berikut : Keterangan : : Hubungan Erat : Hubungan Sedang : Tidak Berhubungan a. Fungsi Utama 1. Ruang Akomodasi (Hotel) 2. Convention Center b. Fungsi Penunjang 1. Food and Baverage
44 2. Shopping Arcade 3. Fitness Center 4. Swimming Pool 5. Spa
45 c. Fungsi Pengelola 1. Departemen Food and Baverage 2. Departemen Front Office 3. Departemen Personalia
46 4. Departemen Housekeeping 5. Departemen Purchasing 6. Departemen Security 7. Departemen Engineering
47 4.1.9 Pendekatan Sirkulasi Menurut Francis D.K. Ching dalam bukunya Arsitektur Bentuk, Ruang, dan Tatanan (Ching, 2008), sirkulasi merupakan pergerakan melalui ruang yang dimana jalur pergerakan yang dapat dianggap sebagai elemen penyambung inderawi yang menghubungkan ruang-ruang sebuah bangunan. Sirkulasi yang dipakai merupakan standar sirkulasi dalam membangun sebuah bangunan untuk mendapatkan kenyamanan secara fisik. 1. Sirkulasi Tamu Sirkulasi manusia yang ada di Convention Hotel Bintang 5 di Sleman terdiri dari: Gambar 4.2 Diagram Sirkulasi Tamu Menginap Sumber: Analisa Pribdadi, Sirkulasi pengelola dan pelayanan. Gambar 4.3 Diagram Sirkulasi Pengelola dan Pelayanan Sumber: Analisa Pribdadi, 2016
48 2. Sirkulasi Barang dan Makanan Sirkulasi dibagian ini sangat penting juga karena merupakan bagian yang berpengaruh jalannya proses kegaiatan di hotel, apabila sirkulasi dibagian ini sudah baik maka akan memperlancar segala kebutuhan hotel. Proses yang dimaksud disini adalah proses dari penerimaan barang sampai pada - kegiatan dan memerlukan pendistribusian barang bagian sirkulasi ini terdiri dari : Sirkulasi makanan dan minuman; yaitu sirkulasi bahan makanan dan minuman baik yang masih mentah maupun yang sudah matang Sirkulasi barang tamu Gambar 4.4 Diagram Alur Sirkulasi Makanan Sumber: Analisa Pribdadi, 2016 Gambar 4.5 Diagram Sirkulasi Barang Tamu Sumber: Analisa Pribdadi, 2016 Sirkulasi barang-barang perlengkapan; yaitu sikulasi yang mencakup barangbarang atau perabot seperti meja, kursi, peralatan kamar, peralatan kebersihan dan perlengkapan kantor pengelola maupun karyawan. Gambar 4.6 Diagram Sirkulasi Barang Sumber: Analisa Pribdadi, Pendekatan Aspek Kontekstual Dasar pendekatan kontekstual adalah untuk memahami lokasi yang dibutuhkan sehingga gedung tersebut dapat dibangun pada lokasi yang sesuai dan strategis.
49 4.2.1 Pemilihan Lokasi Sesuai dengan fungsi Detail Tata ruang kota seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, maka faktor-faktor yang berkaitan erat dalam menentukan lokasi dapat didasarkan pada beberapa aspek-aspek sebagai berikut : a. Aspek pengembangan kota Lokasi memenuhi aturan dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sleman. Lokasi berada dalam lingkup rencana pengembangan kota, terletak di kawasan bisnis komersial serta mempunyai prospek dan potensi untuk pengembangan di masa yang akan datang. b. Aspek pelayanan 1. Terletak pada lokasi perkantoran dan bisnis komersial sesuai dengan fungsinya sebagai usaha akomodasi dengan fasilitas konvensi. 2. Terletak pada lokasi pelayanan jasa dan permukiman dengan aksesbilitas yang cukup tinggi sehingga mudah dalam pencapaian. c. Aspek transportasi 1. Lokasi bangunan dekat dengan jalur transportasi umum. 2. Lokasi dapat dijangkau dari bandara dan pelabuhan serta sarana transportasi umum tanpa membutuhkan waktu yang lama sehingga dapat terhindar dari kemacetan atau jalan-jalan yang padat kendaraan. d. Aspek utilitas Lokasi bangunan berada dalam jangkauan jaringan utilitas kota yang lengkap seperti jaringan air, jaringan listrik, jaringan telepon dan lainnya. Pemilihan lokasi Convention Hotel Bintang 5 di Sleman mangacu pada beberapa karakteristik yang berfungsi sebagai pertimbangan dalam pemilihan tapak. Karakteristik tersebut antara lain: a. Lokasi (Bobot 40) Lokasi merupakan daerah yang strategis anatara pusat kota, bisnis, ekonomi dan pariwisata karena target pengunjung hotel adalah para wisatawan baik asing maupun domestik serta para pebisnis atau investor asing. Oleh karena itu, dibutuhkan lokasi yang mudah diakses baik dari pusat kota, bisnis, ekonomi dan pariwisata, agar memudahkan dalam pencapaian menuju ke lokasi convention hotel. b. Aksesibilitas (Bobot 30) Merupakan kemudahan dalam pencapaian tapak, yang dapat didukung dengan keberadaan transportasi umum di sekitar tapak, pencapaian melalui akses jalan tol, kondisi jalan dan kapasitas jalur sirkulasi yang baik. c. Fasilitas Pendukung Sekitar (Bobot 20) Merupakan keberadaan fasilitas pendukung yang sudah ada di sekitar lingkungan tapak. Misalnya terdapat pusat oleh-oleh, pusat hiburan, rumah peribadatan atau fasilitas pendukung lainnya.hal ini berguna untuk memudahkan pengunjung convention hotel dalam memenuhi kebutuhan lainnya. d. Ketersediaan Lahan (Bobot 10) Dibutuhkan luasan lahan yang sesuai dengan kebutuhan ruang yang dibutuhkan, sehingga luasan tapak harus dapat menampung luasan besaran kebutuhan ruang dan masukan regulasi pada penggunaan lahan tersebut. Penentuan luas tapak ditentukan dari besaran ruang yang telah didapat, yaitu sebagai berikut:
50 Tabel 4.22 Jumlah Besaran Ruang Convention Hotel Bintang 5 di Sleman No. Kelompok Kegiatan Jumlah 1. Kelompok Kegiatan Publik 827,35 m 2 2. Kelompok Kegiatan Penunjang 4.807,35m 2 3. Kelompok Kegiatan Privat 5.959,2 m 2 4. Kelompok Kegiatan Pengelola 1.407,05 m 2 5. Kelompok Kegiatan Pelayanan 2.724,12m 2 Jumlah Kelompok Kegiatan ,08 m 2 Jumlah Area Parkir 3.633,02 m 2 Total ,10 m 2 Sumber :Analisa Pribadi Pembagian Lantai Lantai basement terdiri dari 2 lantai yaitu area parkir dan kegiatan pelayanan (servis): m m 2 = m 2 lantai m 2 Bagian podium terdiri dari 2 lantai yaitu kegiatan penunjang (kecuali convention center dan wedding chapel), kegiatan pengelola dan kegiatan publik: ,69 m m m 2 = ,69 m 2 lantai 6.545,34 m 2 Luas lantai dasar = luas dasar podium + convention center + wedding chapel = 6.545,34 m ,79 m ,1 m 2 = ,23 m 2 Luas lahan yang dibutuhkan = luas lantai dasar : KDB = ,23 m 2 : 60% = ,05 m 2 Kelompok kegiatan privat beserta kegiatan pelayanan (servis) direncanakan akan terdiri dari 8 lantai. Sedangkan pada lantai teratas direncanakan untuk swimming pool dan sky lounge Pemilihan Tapak Berdasarkan karakteristik pemilihan lokasi yang telah ditentukan di atas, terpilihkan 3 alternatif tapak yang sesuai untuk Convention Hotel Bintang 5 di Sleman adalah sebagai berikut: a. Alternative Tapak 1 Tapak alternative 1 berada di Jalan Raya Ringroad dengan luas ± ,42 m 2 dan batas-batas pada tapak adalah sebagai berikut: a. Sebelah Utara : Jalan Raya Ringroad b. Sebelah Timur : Hartono Mall c. Sebelah Barat : Jalan Kaliurang d. Sebelah Selatan : Permukiman Warga
51 Gambar 4.7 Tapak Alternatif 1 Sumber : googleearth.com, 2016 Gambar 4.8 Peta Digital Tapak Alternatif 1 Sumber : dokumentasi pribadi Peraturan di sekitar Jalan Raya Ringroad di Kabupaten Sleman, yaitu: a. Jalan Raya Ringroad merupakan jalan lingkar luar yang menjadi jalan sekunder kolektor. b. Perdagangan dan jasa serta permukiman KDB yang direncanakan adalah 60%. c. Perdagangan dan jasa termasuk perhotelan memiliki rencana KLB maksimal 10 lantai dan KLB 3,6. d. Garis sempadan muka bangunan terhadap sempadan jalan dihitung dari as jalan sampai dengan dinding terluar bangunan yang besarnya ditetapkan berdasarkan fungsi jalan kolektor sekunder sepanjang 23 meter. Bagian depan eksisting terdapat rumah sakit, bank, perkantoran dan sekolah, dengan lebar jalan ±18 m. Pada bagian timur terdapat pusat perbelanjaan yang dibatasi oleh Jalan dengan lebar jalan ±8 m. Tapak terletak 6,82 km dari Tugu Jogja Kembali dan berjarak 8,3 km dari Malioboro. Sedangkan dari akomodasi transportasi, tapak berjarak
52 6,47 km dari Bandara Adisucipto, berjarak 8,4 km dari Stasiun Tugu dan 6,5 km dari Stasiun Maguwo. Tabel 4.23 Ketentuan Lahan Tapak Alternatif 1 Luas Lahan ,42 m 2 KDB 60% Total Luas Lantai Dasar ,85 m 2 KLB 3,6 Total Luas Lantai ,46 m 2 Sumber: Analisa Pribadi, 2016 Tinggi Lantai Maksimum GSB 10 lantai 23 m b. Alternative Tapak 2 Tapak alternative 2 berada di Jalan Laksda Adisucipto dengan luas ± ,65 m 2 dan batas-batas pada tapak adalah sebagai berikut: a. Sebelah Utara : Jalan Laksda Adiucipto b. Sebelah Timur : Permukiman Warga c. Sebelah Barat : Permukiman Warga d. Sebelah Selatan : Permukiman Warga Gambar 4.9 Tapak Alternatif 2 Sumber : googleearth.com, 2016
53 Gambar 4.10 Peta Digital Tapak Alternatif 2 Sumber : dokumentasi pribadi Peraturan di sekitar Jalan Laksda Adisucipto, yaitu: a. Jalan Laksda Adisucipto merupakan jalan lingkar luar yang menjadi jalan sekunder kolektor. b. Perdagangan dan jasa serta permukiman KDB yang direncanakan adalah 60%. c. Perdagangan dan jasa termasuk perhotelan memiliki rencana KLB maksimal 10 lantai dan KLB 3,6. d. Garis sempadan muka bangunan terhadap sempadan jalan dihitung dari as jalan sampai dengan dinding terluar bangunan yang besarnya ditetapkan berdasarkan fungsi jalan kolektor sekunder sepanjang 23 meter. Bagian depan eksisting terdapat pertokoan, mall, hotel, kantor, dan sekolah, dengan lebar jalan ±18 m. Pada bagian timur terdapat pusat perbelanjaan yang dibatasi oleh Jalan dengan lebar jalan ±8 m. Tapak terletak 4,19 km dari Tugu Jogja Kembali dan berjarak 5,9 km dari Malioboro. Sedangkan dari akomodasi transportasi, tapak berjarak 3,47 km dari Bandara Adisucipto, berjarak 6,02 km dari Stasiun Tugu dan 3,5 km dari Stasiun Maguwo. Luas Lahan ,65 m 2 KDB 60% Tabel 4.24 Ketentuan Lahan Tapak Alternatif 1 Total Luas Total Luas KLB Lantai Lantai Dasar ,19 m 2 3, m 2 Sumber: Analisa Pribadi, 2016 Tinggi Lantai Maksimum GSB 10 lantai 23 m c. Alternatif Tapak 3 Tapak alternative 3 berada di Jalan Raya Solo dengan luas ± ,78 m 2 dan batas-batas pada tapak adalah sebagai berikut: a. Sebelah Utara : Permukiman Warga
54 b. Sebelah Timur : Permukiman Warga c. Sebelah Barat : Pusat Oleh-oleh Yogyakarta d. Sebelah Selatan: Jalan Raya Solo dan Bandara Adisucipto Gambar 4.11 Tapak Alternatif 3 Sumber : googleearth.com, 2016 Gambar 4.12 Peta Digital Tapak Alternatif 1 Sumber : dokumentasi pribadi Peraturan di sekitar Jalan Raya Solo, yaitu: a. Jalan Raya Solo merupakan jalan lingkar luar yang menjadi jalan sekunder kolektor.
55 b. Perdagangan dan jasa serta permukiman KDB yang direncanakan adalah 60%. c. Perdagangan dan jasa termasuk perhotelan memiliki rencana KLB maksimal 8 lantai dan KLB 3,6. d. Garis sempadan muka bangunan terhadap sempadan jalan dihitung dari as jalan sampai dengan dinding terluar bangunan yang besarnya ditetapkan berdasarkan fungsi jalan kolektor sekunder sepanjang 23 meter. Bagian depan eksisting terdapat bandara, bank, kantor, dan pusat oleh-oleh, dengan lebar jalan ±18 m. Pada bagian timur terdapat pusat perbelanjaan yang dibatasi oleh Jalan dengan lebar jalan ±8 m. Tapak terletak 6,31 km dari Tugu Jogja Kembali dan berjarak 7,78 km dari Malioboro. Sedangkan dari akomodasi transportasi, tapak berjarak 1,27 km dari Bandara Adisucipto, berjarak 8,14 km dari Stasiun Tugu dan 1,3 km dari Stasiun Maguwo. Tabel 4.25 Ketentuan Lahan Tapak Alternatif 3 Luas Lahan ,78 m 2 KDB 60% Total Luas Lantai Dasar ,66 m 2 KLB 3,6 Total Luas Lantai ,6 m 2 Tinggi Lantai Maksimum GSB 8 lantai 23 m Sumber: Analisa Pribadi, Pendekatan Tapak Terpilih Penilaian terhadap kedua tapak lokasi tersebut ditentukan dengan beberapa pertimbangan. Mengingat sasaran dari pengguna convention hotel adalah wisatawan domestik maupun asing dan para pebisnis yang memiliki tujuan di pusat kota, memerlukan lokasi yang strategis dekat dengan pusat kota dan perkantoran serta sarana prasarana kota, namun tidak menyimpang dari rencana perkotaan yang telah ditentukan. Penilaian dilakukan dengan memberikan bobot nilai 1-3 dengan kriteria sebagai berikut: Kriteria (Bobot %) Tabel 4.26 Kriteria Pemilihan Tapak Alternative Alternative Tapak 1 Tapak 2 Alternative Tapak 3 N B x N N B x N N B x N Lokasi 40% Aksesibilitas 30% Fasilitas Pendukung Sekitar 20% Ketersediaan Lahan 10% Total Keterangan : 3 = baik, 2 = kurang baik, 1 = tidak baik. Sumber: Analisa Pribadi, 2016 Dari penilaian empat aspek terhadap 3 alternatif tapak diatas, yang memiliki potensi paling besar adalah alternative tapak pertama. Tapak ini terletak di Jalan Raya Ringroad yang merupakan jalan kolektor sekunder yang mudah diakses oleh pengunjung.
56 Pendekatan Pengolahan Tapak Persyaratan pengolahan tapak yang diatur dalam standar Greenship untuk bangunan baru, antara lain : 1) Membangun di dalam kawasan perkotaan dilengkapi minimal 8 (delapan) dari 11 prasarana sarana kota. Atau membangun dalam kawasan perkotaanyang berkepadatan <300 orang/ha sehingga tingkat kepadatan hunian >300 orang/ha. (ASD 1 : Site Selection) 2) Terdapat minimal 7 jenis fasilitas umum dalam jarak pencapaian jalan utama sejauh 1500 m dari tapak. Membuka akses pejalan kaki selain ke jalan utama di luar tapak yang menghubungkan-nya dengan jalan sekunder dan/atau lahan milik orang lain sehingga tersedia akses ke minimal 3 fasilitas umum sejauh 300 m jarak pencapaian pejalan kaki. Membuka lantai dasar gedung sehingga dapat menjadi akses pejalan kaki yang aman dan nyaman selama minimum 10 jam sehari. (ASD 2 : Commy Accessibility) 3) Adanya halte atau stasiun transportasi umum dalam jangkauan 300 m (walking distance) dari gerbang lokasi bangunan dengan tidak memperhitungkan panjang jembatan penyeberangan dan ramp. Menyediakan fasilitas jalur pedestrian di dalam area gedung untuk menuju ke stasiun transportasi umum terdekat yang aman dan nyaman sesuai dengan Peraturan Menteri PU 30/PRT/M/2006 mengenai Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Lampiran 2B. (ASD 3 : Public Transportation). 4.3 Pendekatan Aspek Kinerja Pendekatan kinerja merupakan pendekatan untuk membahas kinerja atau utilitas yang akan digunakan pada Convention Hotel Bintang 5 di Sleman ini. Terdapat beberapa sistem kinerja yang akan dibahas, yaitu sistem pencahayaan, penghawaan, akustik, jaringan air bersih, jaringan air kotor, pembuangan sampah, proteksi kebakaran, penangkal petir, komunikasi, keamanan bangunan, transportasi dan jaringan listrik. Dalam pendekatan aspek kinerja Convention Hotel Bintang 5 di Sleman ditekankan pada peraturan Greenship Building Regulation. Berikut ini adalah standar Greenship untuk bangunan baru. Tabel 4.26 Kriteria Bangunan Green KODE KRITERIA Appropriate Site Development (Tepat Guna Lahan) ASD P ASD 1 ASD 2 ASD 3 ASD 4 ASD 5 ASD 6 Basic Green Area (Area Dasar Hijau) Site Selection (Pemilihan Tapak) Commy Accessibility (Aksesbilitas Masyarakat) Public Transportation (Transportasi Publik) Bicycle (Penggunaan Sepeda) Site Landscaping (Lansekap Tapak) Micro Climate (Iklim Mikro)
57 ASD 7 Stormwater Management (Pengelolaan Air Hujan) Energy Efficiency and Conservation (Efisiensi dan Penghematan Energi EEC P1 EEC P2 EEC 1 EEC 2 EEC 3 EEC 4 EEC 5 Electrical Sub Metering (Pengukuran Sistem Elektrikal) OTTV Calculation (Perhitungan OTTV) Energy Efficiency Measure(Pengukuran Efisiensi Energi) Natural Lighting (Pencahayaan Alami) Ventilation (Ventilasi) Climate Change Impact (Dampak Perubahan Iklim) On Site Renewable Energy (Energi terbarukan pada Tapak) Water Conservation (Penghematan air) WAC P1 WAC P2 WAC 1 WAC 2 WAC 3 WAC 4 WAC 5 WAC 6 Water Metering (Pengukuran Penggunaan Air) Water Calculation(Perhitungan Penggunaan Air) Water Use Reduction (Pengurangan Penggunaan Air) Water Fixtures (Pemasangan Instalasi Air) Water Recycling (Pendaur-ulangan Air) Alternative Water Resource (Sumber Air Alternatif) Rainwater Harvesting (Penyimpanan Air Hujan) Water Efficiency Landscaping (Efisiensi Air untuk lansekap) Material Resource and Cycle (Sumber dan Daur-ulang Material) MRC P MRC 1 MRC 2 MRC 3 MRC 4 MRC 5 MRC 6 Fundamental Refrigerant (Refrigeran berkualitas) Building and Material Reuse(Penggunaan Material Bekas) Environmentally Friendly Material(Material Ramah Lingkungan) Non ODS Usage (Tidak Menggunakan ODS) Certified Wood (Sertifikat Kayu) Prefab Material (Material Prepabrikasi) Regional Material (Material Dalam Negeri) Indoor Health and Comfort (Kesehatan dan Kenyamanan Ruang Dalam)
58 IHC P IHC 1 IHC 2 IHC 3 IHC 4 IHC 5 IHC 6 IHC 7 Outdoor Air Introduction (Introduksi Udara Luar) CO2 Monitoring (Pengotrol Kadar CO2) Environmental Tobacco Smoke Control (Pengendalian Asap Rokok) Chemical Pollutants (Pencemaran Zat Kimia) Outside View (pandangan Jarak Jauh) Visual Comfort (Kenyamanan Visual) Thermal Comfort (Kenyamanan Suhu Udara) Acoustic Level (Tingkat Kebisingan) Building Environmental Management (Pengelolaan Lingkungan) BEM P BEM 1 BEM 2 BEM 3 BEM 4 BEM 5 BEM 6 BEM 7 Basic Waste Management (Pengelolaan Dasar Limbah Buangan) GP as a Member of The Project Team (GP sebagai anggota Tim Proyek ) Pollution of Construction Activity (Pencemaran Kegiatan Konstruksi) Advanced Waste Management(Pengelolaan Limbah Terpadu) Proper Commissioning(Pemeriksaan secara Menyeluruh) Submission Green Building Data (Penyerahan Data Bangunan Hijau) Fit Out Agreement (Hasil Perjanjian) Occupant Survey (Survei Pengguna Bangunan) Sumber: (Taufik, 2014) Sistem Pencahayaan Sistem pencahayaan yang digunakan pada Convention Hotel Bintang 5 di Sleman ini ada dua macam sistem, yaitu pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. a. Pencahayaan Alami Penggunaaan cahaya alami secara optimal sehingga minimal 30% luas lantai yang digunakan untuk bekerja mendapatkan intensitas cahaya alami minimal sebesar 300 lux. Perhitungan dapat dilakukan dengan cara manual atau dengan software.(eec 2 : Natural Lighting) Pencahayaan alami didapatkan melalui bukaan yaitu penggunaan jendela kaca, penggunaan skylight pada bangunan, penggunaan sun shading untuk mengurangi efek sengatan dari bukaan bangunan dan penggunaan oversteek untuk mengurangi penyinaran matahari secara langsung. Ruangan yang dapat
59 memaksimalkan pencahayaan alami yaitu lobby, restoran, café and bar, ruang fitness dan kamar. b. Pencahayaan Buatan Pencahayaan buatan menggunakan lampu penerangan yang bersifat diffuser (tidak menyilaukan). Pencahayaan buatan pada ruang-ruang dalam hotel konvensi dapat diatur sesuai dengan karakter ruang yang ada. Ruangan tersebut diantaranya yaitu meeting room, ballroom, ruang pengelola, lavatory, musholla, janitor, gudang dan beberapa ruang servis lainnya. Untuk penghematan energy, terdapat sensor gerak yang mampu mengontrol lampu. Jika ruangan tersebut kosong, tidak ada pergerakan maka lampu akan mati, namun jika sensor mendapati adanya gerakan, maka lampu akan otomatis menyala. Sistem tersebut akan diterapkan pada beberapa ruangan service, yaitu lavatory, musholla, janitor dan ruang karyawan. Pencahayaan buatan juga menggunakan lampu hemat energy, yaitu lampu LED (Light Emitting Diode) yang dapat menghemat energy hingga 85% jika dibandingkan bola lampu tradisional. Selain itu, 1. menggunakan lampu dengan daya pencahayaan sebesar 30%, yang lebih hemat daripada daya pencahayaan yang tercantum dalam SNI (EEC : Non Natural Lighting). 2. Menggunakan 100% ballast frekuensi tinggi (elektronik) untuk ruang kerja. 3. Zonasi pencahayaan untuk seluruh ruang kerja yang dikaitkan dengan sensor gerak (motion sensor). 4. Penempatan tombol lampu dalam jarak pencapaian tangan pada saat buka pintu. (EEC : Non Natural Lighting) 5. Menggunakan material lampu yang kandungan merkurinya pada toleransi maksimum yang disetujui GBC Indonesia dan tidak menggunakan material yang mengandung asbestos dan styrene. (IHC 3 : Chemical Pollutans) 6. Menggunakan lampu dengan iluminansi (tingkat pencahayaan) ruangan sesuai dengan SNI tentang Konservasi Energi pada Sistem Pencahayaan. (IHC 5 : Visual Comfort) Sistem Penghawaan Sistem penghawaan yang digunakan pada Convention Hotel Bintang 5 di Sleman ini ada dua macam, yaitu sistem penghawaan alami dan penghawaan buatan. a. Penghawaan Alami Sistem penghawaan alami digunakan pada bagian-bagian bangunan yang memungkinkan hal tersebut seperti lounge, café and bar, pool resto, dan lain-lain. Sinar matahari secara langsung dapat meningkatkan suhu ruang dengan cepat sehingga diperlukan metode untuk mereduksi suhu panas dari sinar matahari tersebut. Metode yang digunakan antara lain dengan menggunakan sun shading, penggunaan kaca reflektor dan vegetasi. Penghawaan alami juga mempengaruhi penghematan energi listrik yang digunakan untuk menyejukkan ruangan. Sistem ini digunakan pada dapur, gudang dan lavatory. Penghawaan alami yang dapat diterapkan pada bangunan hotel konvensi yang tercantum dalam kriteria Greenship untuk Bangunan Baru antara lain: 1) Memasang tanda Dilarang Merokok di Seluruh Area Gedung dan tidak menyediakan bangunan atau area khusus untuk merokok di dalam gedung. Apabila tersedia, bangunan/area merokok di luar gedung, minimal berada pada jarak 5 m dari pintu masuk, outdoor air intake, dan bukaan jendela. (IHC 2 : Environmental Tobacco Smoke Control).
60 2) Menetapkan perencanaan kondisi termal ruangan secara umum pada suhu 25 0 C dan kelembaban relative 60%. b. Penghawaan Buatan Penghawaan buatan hanya dilakukan pada tempat-tempat tertentu yang membutuhkan pengkodisian udara maksimal. Sistem tata udara disesuaikan dengan tingkat kebutuhan suatu ruang. Sistem tata udara dibagi dua yaitu sistem tata udara langsung dan tidak langsung. 1) Sistem tata udara langsung (direct cooling) Sistem yang dimaksud ini adalah dengan menggunakan AC (Air Conditioner) dan exhaust fan serta blower pada ruang tertentu.. Penggunaan AC dibagi menjadi dua jenis yaitu AC split dan AC sentral. AC split biasanya juga disebut dengan AC setempat karena udara dikondisikan hanya pada salah satu ruangan, seperti pada ruangan retail, ruang pengelola, kamar. Sedangkan AC sentral merupakan sistem yang memerlukan Menara pendingin (water cooling tower) yang ditempatkan di luar bangunan. Pada bangunan ini, AC sentral diletakkan di ruang-ruang public seperti lobby, koridor, function room. Untuk mengalirkan udara, sistem ini menggunakan sistem ducting. Sedangkan exhaust fan digunakan pada lavatory, pantry, dapur dan ruang-ruang servis untuk mekanikal elektrikal dan blower digunakan pada ruang generator. 2) Sistem tata udara tidak langsung (indirect cooling) Seperti AHU, chiller, kondensor dan cooling tower, digunakan pada ruangruang yang besar seperti restoran, ruang konvensi, lobby dan ruang lainnya yang dianggap perlu. Penghawaan buatan yang dapat diterapkan pada bangunan hotel konvensi yang tercantum dalam kriteria Greenship untuk Bangunan Baru antara lain : a) Menggunakan peralatan air conditioning dengan COP minimum 10% lebih besar dari standar SNI b) Tidak mengkondisikan (tidak memberi AC) ruang WC, tangga, koridor, dan lobi lift, serta melengkapi ruangan tersebut dengan ventilasi alami ataupun mekanik. c) Tidak menggunakan Chloro Fluoro Carbon (CFC) sebagai refrigeran. d) Ruangan dengan kepadatan tinggi, yaitu < 2.3 m2 per orang dilengkapi dengan instalasi sensor gas karbon dioksida (CO2) yang memiliki mekanisme untuk mengatur jumlah ventilasi udara luar sehingga konsentrasi CO2 di dalam ruangan tidak lebih dari ppm, sensor diletakkan 1,5 m di atas lantai dekat return air grille atau return air duct. (IHC 1 : CO2 Monitoring) e) Desain ruangan yang menunjukkan adanya potensi introduksi udara luar minimal sesuai dengan Standar ASHRAE atau Standar ASHRAE edisi terbaru. (IHC P : Outdoor Air Introduction) Sistem Akustik Sistem akustik diterapkan pada ruang-ruang yang memiliki tingkat kebisingan yang cukup tinggi seperti ruang konvensi dan ruang-ruang lainnya yang dianggap perlu. Sistem akustik diaplikasikan pada ruang-ruang tersebut dengan memanfaatkan bahanbahan peredam suara seperti : 1) Finishing lantai dengan menggunakan karpet. 2) Dinding dengan menggunakan bahan kayu, pemakaian material kaca dan konstruksi dinding berbahan karet atau busa. 3) Plafon dengan menggunakan bahan kayu atau gypsum board yang bertekstur atau bermotif.
61 4.3.4 Sistem Jaringan Air Bersih Penyediaan air bersih dapat diperoleh dari PAM atau sumur artetis dengan kedalaman 100 meter. Dalam sistem pendistribusian air bersih terdapat dua macam, yaitu: a. Down Feed System Air bersih yang berasal dari PAM masuk ke dalam distribusi bangunan dan ditampung pada ground reservoir, lalu dengan menggunakan pompa dialirkan dan ditampung di water tank, yang terletak di atap bangunan. Selanjutnya, distribusi air menurun ke bawah menggunakan hukum gravitasi. Dalam penyaluran ke bawah, sistem ini tidak bergantung pada listrik dan menghasilkan kukuatan air tiap lantai relatif sama. b. Up Feed Syste Air bersih yang berasala dari PAM masuk ke dalam distribusi bangunan dan ditampung pada ground reservoir, lalu menggunakan pompa didistribusikan ke tiap lantai. Sistem ini efektif untuk bangunan bertingkat rendah, namun memiliki ketergantungan pada aliran listrik dan kekuatan air menjadi kecil, bila terbatas (pada bangunan tingkat tinggi) Persyaratan sistem jaringan air bersih yang diatur dalam standar Greenship untuk bangunan baru, yaitu : 1. Mengontrol penggunaan air bersih dengan pemasangan alat meteran air yang ditempatkan pada lokasi tertentu di lokasi-lokasi tertentu pada sistem distribusi air. (WAC P1 : Water Metering). 2. Mengisi worksheet air standar GBCI yang telah disediakan. (WAC P2 : Water Calculation). 3. Konsumsi air bersih dengan jumlah tertinggi 80% dari sumber primer tanpa mengurangi jumlah kebutuhan per orang. Penurunan konsumsi air bersih dari sember primer sebesar 5% pada poin 1 akan mendaptakan nilai 1 dengan nilai maksimum sebesar 7. (WAC 1 : Water Use Reduction). 4. Penggunaan water fixture (kran dan shower) yang sesuai dengan kapasitas buangan dibawah standar maksimum untuk penghematan air. (WAC 2 : Water Fixtures). 5. Instalasi daur ulang air dengan kapasitas yang cukup untuk kebutuhan seluruh sistem penyiraman (flushing), irigasi dan membuat menara air pendingin (make up cooling tower). (WAC 3 : Water Recycling). 6. Menggunakan salah satu dari tiga sumber air alternatif sebagai berikut : air kondensasi AC, air bekas wudhu atau air hujan. Menggunakan lebih dari satu sumber air dari ketiga alternatif di atas. (WAC 4 : Alternative Water Resources). 7. Instalasi penyimpanan air hujan untuk mengurangi kebutuhan air dari sumber utama. (WAC 5 : Water Harvesting). 8. Seluruh air yang digunakan untuk irigasi gedung tidak berasal dari sumber air tanah dan/atau PDAM. Mengontrol kebutuhan air untuk lansekap yang tepat, sesuai dengan kebutuhan taman. (WAC 6 : Water Efficiency Landscaping) Sistem Jaringan Air Kotor Sistem pembuangan air kotor dibedakan menjadi 2, yaitu: a. Sistem pembuangan air kotor (black water)
62 Air kotor / black water merupakan air buangan yang berasal dari kloset, urnal, bidet, dan alat buangan lainnya, diteruskan menuju shaft air kotor padat, disalurkan ke STP (Sewage Treatment Plant) dengan bahan kimia yang bersifat mengencerkan limbah. Selanjutnya, limbah dianggap layak di buang di roil kawasan. b. Sistem pembuangan air bekas (grey water) Air bekas ialah air westafel, shower, air bekas cuci piring atau peralatan masak. Air bekas ini dapat dibuang setelah treatment atau diloah kembali untuk dimanfaatkan kembali. Terdapat upaya penghematan air jika melakukan pengolahan kembali. Adapun beberapa cara untuk mengolah air bekas, yaitu: 1) Penyaringan oleh tanaman Limbah ini dialirkan ke bak tanam, adapaun tanaman yang dapat menyerap zat kimia, diantaranya yaitu; Jaringoa, Lily Air, Pontederia, Melati air. kemudian tanaman akan menyerap nitrogen dan fosfor. Sehingga air yang tersisa adalah air limbah yang relatif aman untuk di salurkan ke selokan lingkungan. 2) Pengolahan khusus Membuat instalasi pengolahan yang disebut Sistem Pengolahan Air Limbah (SPAL), dimana air bekas dialirkan ke bak penampungan inlet, lalu diolah ke sand filter dan water treatment. Setelah itu dialirkan ke bak penampungan outlet. Setelah itu dapat digunakan kembali untuk untuk menyiram tanaman dan mengguyur kloset. 3) Persyaratan sistem jaringan air kotor yang diatur dalam standar Greenship untuk bangunan baru, yaitu mengurangi beban volume limpasan air hujan ke jaringan drainase kota dari lokasi bangunan. (ASD 7 : Storm Water Management) Sistem Pembuangan Sampah Karyawan kebersihan melakukan pemilihan sampah antara sampah basah dan sampah keringuntuk mempermudah pengolahan samapah, Selanjutnya karyawan kebersihan mengambil sampah dari tiap lantai dan memasukkan ke tempat penampungan sampah sementara, setelah itu sampah-sampah tersebut dialihkan ke luar tapak oleh Dinas Kebersihan Kota yang selanjutnya dibuang ke TPA. Untuk bangunan bertingkat tinggi diperlukan: a. Terdapat boks-boks sampah yang terletak di tempat servis di setiap lantai. Masingmasing boks dihubungkan oleh pipa penghubung dari beton atau PVC dengan diameter Dinding paling atas diberikan lubang untuk udara dan dilengkapi dengan kran air untuk pembersih atau pemadam sementara jika terjadi kebakaran di lubang sampah tersebut. b. Terdapat boks penampungan di bagian paling bawah berupa ruangan atau gudang dilengkapi dengan kereta bak sampah. Persyaratan sistem pembuangan sampah yang diatur dalam standar Greenship untuk bangunan baru, antara lain : 1. Adanya instalasi atau fasilitas untuk memilah dan mengumpulkan sampah sejenis sampah rumah tangga berdasarkan jenis anik dan ananik.(bem P : Basic Waste Management) 2. Memiliki rencana manajemen sampah konstruksi yang terdiri atas: a) Limbah padat, dengan menyediakan area pengumpulan, pemisahan, dan sistem pencatatan. Pencatatan dibedakan berdasarkan limbah padat yang dibuang ke TPA, digunakan kembali, dan didaur ulang oleh pihak ketiga.
63 b) Limbah cair, dengan menjaga kualitas seluruh buangan air yang timbul dari aktivitas konstruksi agar tidak mencemari drainase kota. (BEM 2 : Pollution of Construction Activity) 3. Adanya instalasi pengolahan limbah anik di dalam tapak bangunan atau memberikan pernyataan dan rencana kerja sama untuk pengelolaan limbah anik dengan pihak ketiga di luar sistem jaringan persampahan kota. 4. Memberikan pernyataan dan rencana kerja sama untuk pengelolaan limbah ananik dengan pihak ketiga di luar sistem jaringan persampahan kota. (BEM 3 : Advanced Waste Management) Sistem Proteksi Kebakaran Penanganan terhadap kemungkinan terjadinya bahaya kebakaran diusahakan dalam bentuk: 1) Penggunaan bahan bangunan yang tahan panas atau api pada suhu tertentu. 2) Rancangan sistem evakuasi dalam bangunan Merupakan upaya penyelamatan pelaku kegiatan, sehingga mempermudah evakuasi serta meningkatkan keamanan terhadap bahaya kebakaran. Sarana penunjang tersebut terdiri dari: a) Sumber daya listrik darurat Sumber listrik ini dipergunakan untuk mengaktifkan semua peralatan bantu evakuasi. b) Lampu darurat Pemasangan lampu diletakkan pada tangga darurat, jalan penghubung atau jalan yang dipergunakan oleh manusia pada saat kebakaran. c) Pintu kebakaran Pintu ini harus dapat menutup secara otomatis dan dapat dibuka dengan kekuatan 10 kg, serta tahan api selama jam. Bukaan pintu ke arah tangga pada setiap lantai, kecuali pada lantai dasar pintu harus membuka kearah luar menuju lobby atau ke luar bangunan. d) Tangga darurat Pada ruang tangga darurat diberikan penerangan, cerobong penghisap udara (Exhaust Fan) serta kedap terhadap asap dan pada top floor diberikan bukaan berupa pintu. Jarak pencapaian antara tangga maksimal 25 m dengan lebar tangga minimal 1,2 m. 3) Penyediaan alat pencegahan atau pengamanan terhadap bahaya kebakaran. Pencegahan kebakaran di dalam bangunan terdiri dari: a) Thermal detector, yaitu alat untuk mendeteksi panas yang ditimbulkan oleh api, dimana bekerja secara otomatis. b) Smoke detector, alat ini untuk mendeteksi asap yang ditimbulkan oleh kebakaran, dimana akan bekerja secara otomatis apabila ada asap yang terdeteksi dengan toleransi tertentu. c) Sprinkler, yaitu alat untuk memadamkan api secara otomatis apabila tabung gelas pada alat tersebut terkena panas, maka akan pecah dan kemudian keluar air, dimana jarak antara sprinkler tidak lebih dari 2,3 m. d) Kotak Hidran, yaitu sebuah kotak yang berisi selang dengan panjang + 25 m, dimana terletak pada area seluas 800 m2/. e) Alat pemadam kebakaran ringan, Alat ini berupa tabung-tabung gas zat arang atau serbuk anti api dan dilengkapi dengan alat penyemprot. Untuk setiap area seluas 100 m2 disediakan satu alat tersebut. f) Fire alarm, Penggunaan alat ini untuk memberitahukan apabila terjadi kebakaran.
64 4.3.8 Sistem Penangkal Petir Sistem penangkal petir yang digunakan adalah sistem faraday sebagai penangkal petir, yaitu berupa tiang setinggi 30 cm, kemudian dihubungkan dengan kawat menuju ke tanah. Sistem ini memiliki kelebihan, yaitu jika terjadi sambaran petir maka medan listrik di dalam ruangan akan tetap netral sehingga kerusakan alat-alat listrik di dalam bangunan dapat diminimalisir Sistem Komunikasi Terdapat dua sistem komunikasi yang digunakan, yaitu sistem internal dan sistem eksternal. Selain itu.terdapat wifi (jaringan komunikasi tanpa tabel) yang digunakan sebagai fasilitas para tamu dan oleh pengelola hotel sebagai koneksi pemesanan kamar melalui media internet. a. Komunikasi Internal Penggunaan telepon untuk berkomunikasi antar ruang di dalam bangunan yaitu dengan sistem PABX (Private Automatic Branch Exchange). Digunakan pada ruang hunian kamar tamu yang terhubung dengan front office, dan untuk menunjang komunikasi antar divisi. Selain itu terdapat, LAN (Local Area Network) yaitu sistem komunikasi data, berupa pertukaran informasi dan data anatr komputer dalam satu bangunan untuk kepentingan pengelola administrasi. b. Komunikasi Eksternal Komunikasi dari dan keluar bangunan. Alat komunikasi ini dapat berupa telepon maupun faksimili. Hal ini digunakan untuk komunikasi keluar oleh pengelola maupun para tamu Sistem Keamanan Bangunan Sistem keamanan bangunan yaitu berupa penggunaan CCTV pada beberapa titik yang ditentukan. Hal ini memudahkan dalam pemantauan secara menyeluruh tanpa kehadiran petugas keamanan yang berkeliling. CCTV ini akan terhubung dengan sistem BMS (Building Management System) dan BAS (Building Automatic System) Sedangkan keamanan pada kamar huni tamu dengan sistem hotel lock, dimana kunci kamar merupakan kartu akses yang dipegang oleh penghuni kamar Sistem Transportasi Sistem transportasi vertical yang digunakan pada city hotel adalah elevator (lift) dan tangga a. Elevator (lift) Peletakan elevator pada bangunan ialah di area yang mudah terlihat, mudah dicapai dan dapat melayani tiap lantai. Untuk menghemat energi, digunakan sistem sensor gerak atau sleep mode pada lift, sehingga lift hanya beroperasi jika ditemukan sensor gerak pada radius jarak yang ditentukan. Lampu dalam lift juga akan mati secara otomatis saat lift tidak beroperasi. b. Tangga Tangga digunakan sebagai tangga darurat, yang digunakan pada saat darurat seperti kebakaran, lift tidak berfungsi, atau evakuasi ketika bencana alam seperti gempa terjadi. Sedangkan sirkulasi horizontal dalam lantai bangunan menggunakan koridor. Koridor dapat memanjang di tengah bangunan, mengelilingi core atau memanjang di sisi luar bangunan.
65 Sistem Jaringan Listrik Distribusi listrik berasal dari PLN yang disalurkan ke gardu utama. Setelah melalui transformator (trafo), aliran tersebut didistribusikan ke ruang genset lalu ke tiap-tiap lantai. Untuk keadaan darurat disediakan generator set yang dilengkapi dengan automatic switch sistem yang secara otomatis (dalam waktu kurang dari 5 detik) akan langsung menggantikan daya listrik dari sumber utama PLN yang terputus. Generator set mempunyai kekuatan 70% dari keadaan normal. Hal yang harus diperhatikan bahwa generator set membutuhkan persyaratan ruang tersendiri, untuk meredam suara dan getaran yang ditimbulkan. Biasanya untuk mereduksi getaran dan suara ini dengan menggunakan double slab, dan dilapisi rockwall. Dan pada kamar tidur tamu terdapat energy saving switch, berupa saklar yang digunakan untuk mengontrol aliran listrik dengan mendeteksi frekuensi dan juga identitas kartu. Sehingga, pada saat penghuni kamar pergi dan meninggalkan kamar dengan membawa kartu akses hotel, aliran listrik mati keseluruhan pada ruang kamar tersebut. 4.4 Pendekatan Aspek Teknis Pendekatan aspek teknis berkaitan dengan teknis pembangunan convention hotel seperti menganalisis struktur dan bahan bangunan yang akan digunakan sehingga akan dibahas masalah struktur serta modul pembuatan ruangan Pendekatan Sistem Struktur Bangunan Sistem struktur bangunan akan mempengaruhi terbentuknya bangunan, sehingga akan mempengaruhi penampilan bangunan tersebut. ada beberapa persyaratan pokok struktur, antara lain: a. Keseimbangan, agar massa bangunan tidak bergerak. b. Kestabilan, agar bangunan tidak goyah akibat gaya luar dan punya daya tahan terhadap gangguan alam, seperti gempa, angina, dan kebakaran. c. Kekuatan, berhubungan dengan kesatuan seluruh struktur yang menerima beban. d. Fungsional, agar sesuai dengan fungsinya yang didasarkan atas tuntutan besaran ruang, fleksibelitas terhadap penyusunan kamar-kamar, pola sirkulasi, sistem utilitas, dan lain-lain. e. Ekonomis, baik dalam pelaksanaan maupun pemeliharaan. f. Estetika struktur dapat merupakan bagian integral dengan ekspresi arsitektur yang serasi dan logis. Sistem struktur suatu bangunan tinggi terdiri dari: a. Sub struktur Merupakan struktur bawah bangunan atau pondasi. Karakter struktur tanah dan jenis tanah sangat menenyukan jenis podasi. Sub struktur pada bangunan ini menggunakan pondasi tiang pancang. Pondasi tiang pancang adalah sistem pondasi yang penyaluran gayanya melalui tiang. Prinsip penyaluran gayanya adalah beban yang bekerja disalurkan melalui tiang ke lapisan tanah bagian dalam dengan daya dukung yang besar. b. Upper Structure Merupakan pondasi atas bangunan. Upper Structure yang digunakan pada bangunan ini adalah struktur rangka kaku (rigid frame structure). Struktur ini baik untuk bangunan tinggi karena kekakuannya yang terbentuk dari permukaan grid kolom dengan balok.
66 Sistem konstruksi yang direncanakan adalah sistem konstruksi beton. Konstruksi beton digunakan karena mempunyai keuntungan seperti bahan mudah didapat dan mudah adalam pelaksanaan, memiliki kesan kokoh, serta memungkinkan berbagai macam variasi finishing dalam mencapai penampilan karakter yang natural. Persyaratan penggunaan material yang diatur dalam standar Greenship untuk bangunan baru, antara lain : 1. Menggunakan material yang memiliki sertifikat sistem manajemen lingkungan pada proses produksinya minimal bernilai 30% dari total biaya material. Sertifikat dinilai sah bila masih berlaku dalam rentang waktu proses pembelian dalam konstruksi berjalan. 2. Menggunakan material yang merupakan hasil proses daur ulang minimal bernilai 5% dari total biaya material. 3. Menggunakan material yang bahan baku utamanya berasal dari sumber daya (SD) terbarukan dengan masa panen jangka pendek (<10 tahun) minimal bernilai 2% dari total biaya material. (MRC 2 : Environmentally Friendly Material) 4. Tidak menggunakan bahan perusak ozon pada seluruh sistem gedung. (MRC 3 : Non ODS Usage) 5. Material yang bahan baku utamanya berasal dari sumber daya terbarukan. 6. Menggunakan bahan material kayu yang bersertifikat legal sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang asal kayu (seperti faktur angkutan kayu olahan/fako, sertifikat perusahaan, dan lain-lain) dan sah terbebas dari perdagangan kayu ilegal sebesar 100% biaya total material kayu.jika 30% dari butir di atas menggunakan kayu bersertifikasi dari pihak Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) atau Forest Stewardship Council (FSC). (MRC 4 : Certified Wood) 7. Desain yang menggunakan material modular atau prafabrikasi (tidak termasuk equipment) sebesar 30% dari total biaya material. (MRC 5 : Prefab Material) 8. Menggunakan material yang lokasi asal bahan baku utama dan pabrikasinya berada di dalam radius km dari lokasi proyek minimal bernilai 50% dari total biaya material. 9. Menggunakan material yang lokasi asal bahan baku utama dan pabrikasinya berada dalam wilayah Republik Indonesia bernilai minimal 80% dari total biaya material. (MRC 6 : Regional Material) 10. Emisi material bangunan yang rendah karena dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan pekerja konstruksi dan pengguna gedung, seperti : a) Cat dan coating yang mengandung kadar volatile anic compounds (VOCs) rendah, ditandai dengan label/sertifikasi yang diakui GBC Indonesia. (IHC 3 : Chemical Pollutans). b) Produk kayu komposit dan produk agrifiber dan laminating adhesive, memiliki kadar emisi formaldehida rendah, yang ditandai dengan label/sertifikasi yang diakui GBC Indonesia. (IHC 3 : Chemical Pollutans) Sistem Modul Modul merupakan salah satu penunjang untuk mendapatkan perencanaan ruang yang efesien dan fleksibilitas tanpa mengurangi kenyamanan dan estetika. Modul ada dua macam, yaitu: a. Modul Vertikal
67 Yaitu jarak antar lantai satu dengan lantai lain secara horizontal. Tinggi dari lantai ke lantai dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: - Tinggi dari langit-langit (plafond) ke langit di atasnya, ruang pada plafond digunakan sebagai perletakan jaringan Mechanical Electrical (ME). Tinggi dari modul ini ditentukan oleh: Besamya saluran-saluran dari servis mekanis (ducting AC, exhaust, kabel-kabel listrik, dll.) Besarnya dimensi dari balok portal penyangga lantai. - Tinggi dari lantai ke plafond, ruang yang ada di antaranya digunakan sebagai kamar hotel. b. Modul Horizontal Faktor yang mempengaruhi modul horizontal, adalah: - Tata letak furniture - Aktivitas efektif dari ruang-ruang kamar, pengelola, dan penunjang - Jalur sirkulasi - Dimensi bahan bangunan dengan standar yang ada di pasaran. Pemilihan bahan bangunan dalam perancangan dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut: - Sesuai dengan sistem struktur, modul, dan konstruksi bangunan. - Kesan bangunan atau ruang yang ditampilkan dengan permainan tekstur dan warna. - Kekuatan dan kemudahan perawatan bahan bangunan yang digunakan.
Jumlah Luasan (m²) Ruang Nama Ruang Kapasitas Standart Kapasitas Sirkulasi. (260m²) 3 Bus. 30 m²/bus. (650 m²)
2.4 Kebutuhan Ruang 2.4.1 Kuantitatif Besarnya ruang dan jumlah ruang diperngaruhi oleh kapasitas dalam ruangan dan jumlah penggunan dalam suatu ruangan. Perhitungan standar besaran ruang diperoleh dari
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL 6.1. Program Ruang Berdasarkan tapak terpilih, dilakukan perhitungan kembali untuk mengoptimalkan jumlah kamar. Perhitungan ini sama seperti perhitungan
BAB IV PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB IV PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN N PERANCANGAN Pendekatan program dasar perencanaan dan perancangan arsitektur merupakan sebuah usaha untuk melakukan pendekatan pada acuan merencanakan dan merancang
Kebutuhan Ruang Ruang Aktifitas
Lampiran I I.I. Kebutuhan Ruang Hotel Beserta Aktifitas Entrance hall Tempat bertemu dan berkumpul Receptionist Checkin dan checkout, memberikan informasi Concierge Pusat informasi Lobby Lounge Tempat
Tabel Analisa Kebutuhan Ruang Berdasarkan Kegiatan dari Pengguna: Pengguna Kegiatan Ruang Sifat Ruang
Tabel Analisa Berdasarkan Kegiatan dari Pengguna: Pengguna Kegiatan Sifat Tamu, Check in/check out Recepsionist Publik Administrasi Pusat Informasi Front Office Publik Operator Penitipan Barang Menunggu
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL BISNIS BINTANG 4
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL BISNIS BINTANG 4 5.1. PROGRAM DASAR PERENCANAAN 5.1.1. Program Ruang Tabel 5.1.Rekapitulasi Program Ruang Hotel Bisnis No Ruang Kapasitas Luas KELOMPOK KEGIATAN
STUDI AKTIVITAS. STUDI AKTIVITAS UMUM PENGUNJUNG / TAMU AKTIFITAS TEMPAT WAKTU KETERANGAN Datang memarkir kendaraan. Parkir Tamu
STUDI AKTIVITAS STUDI AKTIVITAS UMUM PENGUNJUNG / TAMU AKTIFITAS TEMPAT WAKTU KETERANGAN Datang memarkir kendaraan Parkir Tamu Mencari informasi Resepsionis Bebas Insidentil Menunggu Lounge Beristirahat
BAB II PEMROGRAMAN. Perkotaan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat,
BAB II PEMROGRAMAN Perkotaan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat, khususnya kota Medan. Hal ini terkait dengan berbagai bidang yang juga mengalami perkembangan cukup pesat seperti bidang
LAMPIRAN 1 MORFOLOGI KOTA BATAVIA DARI TAHUN 1627 SAMPAI Peta Kota Batavia pada tahun
LAMPIRAN 1 MORFOLOGI KOTA BATAVIA DARI TAHUN 1627 SAMPAI 1650 Peta Kota Batavia pada tahun 1627-1632 Peta Kota Batavia pada tahun 1635-1650 Sumber: Sejarah Kota Tua, UPT Kota Tua, 2005 LAMPIRAN 2 KEPUTUSAN
LAMPIRAN 1 ANALISA NON FISIK
LAMPIRAN 1 ANALISA NON FISIK ANALISA PROGRAM RUANG Program Ruang pada perancangan proyek kondominium dapat dilihat pada tabel di bawah ini Fungsi Hunian No Identitas Ruang Aktivitas Perabot Pemakai Ruang
BAB V: ANALISA DAN PEMROGRAMAN
BAB V: ANALISA DAN PEMROGRAMAN 5.1. Pemrograman 5.1.1. Kebutuhan Ruang NO RUANG JMLH LUAS SAT LUAS TOTAL STANDART LUAS KAMAR 1 standard/ deluxe 231 28 m2 6.468 2 junior suite 36 45 m2 1.620 3 president
KRITERIA PENENTU TIPOLOGI PROPERTI HOTEL TRANSIT BANDARA SOEKARNO HATTA
KRITERIA PENENTU TIPOLOGI PROPERTI HOTEL TRANSIT BANDARA SOEKARNO HATTA Dyah N. 1), Purwanita S. 2) dan Ispurwono S. 3) 1) Department of Architecture, Sepuluh Nopember Institut of Technology Jl. Keputih
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL 6.1 Program Dasar Perencanaan 6.1.1 Pelaku Kegiatan Pelaku pelaku yang melakukan aktivitas pada hotel diantaranya adalah : a. Pengunjung Pengunjung hotel
BAB IV: KONSEP Konsep Dasar
BAB IV: KONSEP 4.1. Konsep Dasar Mengacu pada TOR sayembara, performance arsitektur diharapkan dapat tampil sebagai sebuah karya arsitektur yang mengandung kriteria: Mengangkat kearifan lokal / local genius
BAB VI PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL RESORT
BAB VI PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL RESORT 6.1 Program Dasar Perencanaan 6.1.1 Program Ruang A. Kelompok Ruang Kegiatan Umum 1. Plasa Penerima 163,2 2. Lobby 63,2 3. Lounge 42,66 4.
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Berdirinya Hotel The Premiere Pekanbaru Pada tahun 2010 seorang pengusaha bernama Nicodemus Kasan Kurniawan mendirikan sebuah hotel berbintang empat di
BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.. DASAR PENDEKATAN Dasar pendekatan program perencanaan digunakan sebagai acuan dalam menyusun landasan perencanaan dan program perancangan Mountain
Persyaratan dan Kriteria Hotel Resort Bintang 4
Lampiran 4.1 Persyaratan dan Kriteria Hotel Resort Bintang 4 Untuk membangun sebuah Hotel Resort khususnya Bintang 4 harus memperhatikan persyaratan dan kriteria bangunan sebagai berikut : 1. Lokasi dan
BAB IV ANALISA PERANCANGAN
BAB IV 4.1 Analisa Non Fisik Adalah kegiatan yang mewadahi pelaku pengguna dengan tujuan dan kegiatannya sehingga menghasilkan besaran ruang yang dibutuhkan untuk mewadahi kegiatannya. 4.1.1 Analisa Pelaku
III.1 ANALISIS KONDISI LAHAN DAN LINGKUNGAN III.1.1 ANALISIS KONDISI LAHAN
BAB III ANALISIS III. ANALISIS KONDISI LAHAN DAN LINGKUNGAN III.. ANALISIS KONDISI LAHAN Kondisi Eksisting Lahan Dalam lahan perancangan saat ini terdapat perkebunan sayur dan tanaman hias. Pada lahan
PROGRAM RUANG BANGUNAN APARTEMEN. Double bed Side table Lemari pakaian Meja rias. Penghuni apartemen (suami-istri)
PROGRAM RUANG BANGUNAN APARTEMEN Funfsi Hunian No. Identitas Ruang Aktivitas Perabot Pemakai Ruang Standard Ruang Luas 1. R. Tidur (dengan double bed) Tidur Merias diri Berganti pakaian Double bed Side
BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 1.1 KONSEP DASAR PERENCANAAN 1.1.1 PROGRAM RUANG Standar besaran ruang pada pembahasan kali ini menggunakan standar yang di peroleh dari: a. Surat keputusan
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN CANDI IJO RESORT
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN CANDI IJO RESORT 6.1 Konsep Perencanaan Hotel Resort 6.1.1 Kosep Organisasi Ruang Resort hotel merupakan sebuah bangunan yang terdiri dari berbagai massa dengan
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RESORT HOTEL
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RESORT HOTEL Program dasar perencanaan dan perancangan resort hotel merupakan sebuah hasil dari kesimpulan menyeluruh dan berfungsi sebagai pemandu desain
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK II. Definisi Beberapa definisi diantaranya Apartemen Apartemen adalah satu ruangan atau lebih, biasanya merupakan bagian dari sebuah struktur hunian yang dirancang untuk ditempati
RUANG SUMBER PERHITUNGAN UNIT LUAS. Sirkulasi 60% : 60% X 3622 RUANG SUMBER PERHITUNGAN UNIT LUAS 40 X 2 = 80 M M X 20 = 40 M M 2
RUANG UMUM Ruang informasi DA 2 X 4 = 8 M 2 1 Hall 1,5 X 1000 = 1500 M 2 2 Atm center 1,5 X 10 = 15 M 2 1 Toilet pria DA 1,5 X 10 = 15 M 2 2 Toilet wanita DA 1,5 X 10 = 15 M 2 2 Ruang satpam 2 X 3 = 6
DAFTAR LAMPIRAN. Tabel luas ruangan bangunan fungsi campuran (mix use building)
73 DAFTAR LAMPIRAN Tabel luas ruangan bangunan fungsi campuran (mix use building) No. Ruang Zona Jumlah Ruang Luas m 2 1. Ruang GWT Privat 1 59 2. Ruang pompa Pivat 1 59 3. Ruang MADF Privat 1 59 4. Ruang
Dimensi Ruang Minimum* 1. R. Duduk dan makan. Pengguna Ruang. Penghuni apartemen
Program Apartemen Unit hunian tipe studio (1-2 orang) Standar * 1. R. Duduk dan makan Interaksi sosial, menerima tamu, makan Sofa/kursi, coffee table, TV, meja dan kursi makan 7 m 2 Julius Panero, Manusia
BAB 4 PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB 4 PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 4.1. PENDEKATAN ASPEK FUNGSIONAL 4.1.1. Studi Pelaku Kegiatan Galeri Batik berskala Kawasan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat kota Pekalongan
BAB III: DATA DAN ANALISA
BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik 3.1.1 Lokasi Site Gambar 6 Lokasi Site Makro Gambar 7 Lokasi Site Berdampingan Dengan Candi Prambanan Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 26 Lokasi
Pengembangan Terminal Bandar Udara Tunggul Wulung
BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL BANDAR UDARA TUNGGUL WULUNG CILACAP 5.1. Dasar Studi Besaran Studi besaran ruang lebih terinci dan dianalisa berdasarkan standar dan asumsi.
BAB V PROGRAM DASAR PERANCANGAN DAN PERENCANAAN ARSITEKTUR
BAB V PROGRAM DASAR PERANCANGAN DAN PERENCANAAN ARSITEKTUR Program dasar perencanaan dan perancangan Pool Hall merupakan sebuah hasil dari kesimpulan menyeluruh dan berfungsi sebagai pemandu desain International
CITY HOTEL BINTANG TIGA DI PEKALONGAN CITY HOTEL BINTANG TIGA DI PEKALONGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR MODERN
CITY HOTEL BINTANG TIGA DI PEKALONGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR MODERN Oleh : Riscky Oktavianto,Edy Darmawan,Hermin Werdiningsih Letak Kota Pekalongan yang strategis berada pada Jalur Pantura
The Dharmawangsa Hotel Last Updated Saturday, 21 January 2012
The Dharmawangsa Hotel Last Updated Saturday, 21 January 2012 The Dharmawangsa Hotel Jakarta Indonesia adalah salah satu hotel mewah dan nyaman, terletak di jantung Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Indonesia,
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PROGRAM DASAR PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PROGRAM DASAR PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perencanaan Dari uraian pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam tapak akan ditambahkan fungsinya sebagai sarana
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GELANGGANG RENANG
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GELANGGANG RENANG 6.1. Program Dasar Perencanaan 6.1.1. Program Dari analisa yang dilakukan dalam Bab V, berikut adalah perhitungan perkiraan kebutuhan besaran
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Berdirinya Hotel Grand Angkasa Internasional Medan Pada tahun 1930 dibawah pimpinan kolonial belanda Grand Angkasa International hotel bernama Hotel Astoria.
MUSEUM ZOOLOGI DI KOTA SEMARANG
MUSEUM ZOOLOGI DI KOTA SEMARANG Oleh : Anisa Yuanita Damayanti, Djoko Indrosaptono, Dhanoe Iswanto Kota Semarang yang merupakan sebuah ibukota Provinsi di Jawa Tengah adalah sebuah kota yang tengah tumbuh
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL RESORT
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL RESORT.. Program Perencanaan dan Perancangan Hotel Resort... Program Ruang Pembagian ruang dibedakan sesuai kelompok kegiatan (kelompok kegiatan utama, penunjang,
PURWOKERTO EXPO CENTER Oleh : Larasati Probosiwi,, Budi Sudarwanto, Agung Dwiyanto
PURWOKERTO EXPO CENTER Oleh : Larasati Probosiwi,, Budi Sudarwanto, Agung Dwiyanto ABSTRAK Sekarang ini pertemuan dan konvensi dapat sebagai alat penyebaran dan pertukaran informasi tentang hal-hal baru
BAB V ANALISA KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN SOLO MOVIES AREA
BAB V ANALISA KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN SOLO MOVIES AREA 5.1 Analisa Pola Tujuan : memperoleh gambaran tentang alur sirkulasi kegiatan dari pelaku kegiatan. Pembahasan : kegiatan masing- masing
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1 Pelaku Kegiatan Pengguna bangunan terminal adalah mereka yang secara langsung melakukan ativitas di dalam terminal
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. Untuk menunjang kelancaran arus pariwisata tersebut disadari perlu adanya
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat Perusahaan Dalam meningkatkan perekonomian Indonesia, pemerintah berusaha menggalakkan industri pariwisata sebagai salah satu sumber devisa negara. Untuk
HOTEL RESORT DI PANTAI MANGGAR BALIKPAPAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR TROPIS
HOTEL RESORT DI PANTAI MANGGAR BALIKPAPAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR TROPIS Oleh : Dishy Valdhisa Rindani, Titien Woro Murtini, Gagoek Hardiman Pantai Manggar merupakan pantai kebanggaan masyarakat
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1. Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Program Ruang Tabel 5. 1 Program Ruang No. Kelompok Kegiatan/Ruang Luas KELOMPOK RUANG KEGIATAN PRIVAT 1. Deluxe Room 811,2
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN SEASIDE HOTEL DI KAWASAN PANTAI TIRTA SAMUDRA JEPARA
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN SEASIDE HOTEL 5.1 Progam Dasar Perencanaan 5.1.1 Progam Ruang DI KAWASAN PANTAI TIRTA SAMUDRA JEPARA Tabel 5.1 Progam Ruang Kelompok Publik KELOMPOK PUBLIK Front
BAB VI Konsep Perencanaan Dan Program Dasar Perancangan
BAB VI Konsep Perencanaan Dan Program Dasar Perancangan 6.1 Konsep Dasar Perencanaan 6.1.1 Program Ruang No. Jenis Ruang Luas (M 2 ) KELOMPOK RUANG KEGIATAN UMUM 1. Lobby 104,00 2. Sky Lounge 70,20 3.
BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Analisa pendekatan program perencanaan dan perancangan Hotel Bintang 3 ini sebagai acuan untuk menyusun Landasan Program Perencanaan Dan Perancangan Arsitektur.
LEISURE AND CULTURE PARK DI TASIKMALAYA BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TAMAN REKREASI DAN BUDAYA (LEISURE AND CULTURE PARK)
BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TAMAN REKREASI DAN BUDAYA (LEISURE AND CULTURE PARK) 5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1 Program Ruang Berikut adalah table pendekatan kapasitas ruang,
KATA PENGANTAR. Semarang, April Penyusun. iii
KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas berkat limpahan rahmat-nya telah memberikan kemudahan dan kelancaran untuk kepada penulis untuk menyelesaikan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. Konsep Perancangan Makro V.1.1. Konsep Manusia Pelaku kegiatan di dalam apartemen adalah: 1. Penyewa meliputi : o Kelompok orang yang menyewa unit hunian pada apartemen yang
BAB V. KONSEP dan PROGRAM DASAR PERENCANAAN dan PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB V KONSEP dan PROGRAM DASAR PERENCANAAN dan PERANCANGAN ARSITEKTUR 5.1. Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Program Dasar Aspek Fungsional Program dasar aspek fungsional Kondominium di Semarang adalah
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PROGRAM DASAR PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PROGRAM DASAR PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perencanaan Dari uraian pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tapak kawasan difungsikan sebagai kawasan wisata
BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V PENDEKAT PROGRAM PERENCA D PERCG 5.1. Dasar Pendekatan Metode dalam pendekatan program perencanaan dan perancangan Hotel Resort di Rawa Pening Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang mengaitkan disiplin
& ><&$& JNWMa Dl KAWASAN W,SATA &m & & &
BAB VI KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1. Konsep Dasar Untuk menentukan konsep dasar dari perencanaan dan perancangan resort hotel yang memenuhi aspek yang telah digariskan maka perlu adanya
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1. Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Tapak Terpilih Berdasarkan komposisi nilai masing masing alternatif tapak, maka tapak terpilih adalah tapak 3. Gambar 5.1
BAB IV ANALISA. Kegiatan yang terjadi di dalam asrama dibagi berdasarkan pengelompokan jenis. kegiatan yang dilakukan oleh pengguna asrama, yaitu :
BAB IV ANALISA IV.1. Aspek Non Fisik IV.1.1 Analisa Kegiatan Kegiatan yang terjadi di dalam asrama dibagi berdasarkan pengelompokan jenis kegiatan yang dilakukan oleh pengguna asrama, yaitu : a) Kelompok
BOUTIQUE HOSTEL DI SOLO
BOUTIQUE HOSTEL DI SOLO Oleh: Nurindah Khusnul Irfani, Resza Riskiyanto, Djoko Indrosaptono Dalam beberapa waktu terakhir, tren generasi muda untuk berwisata secara backpacking semakin meningkat. Kota
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tahun Bulan Tingkat Hunian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki tempat-tempat menarik untuk pariwisata, salah satunya adalah kota Bandung. Bandung memiliki cukup banyak pilihan objek wisata, seperti wisata
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1. Program Dasar Perencanaan 6.1.1. Program Ruang Tabel 6.1. Rekapitulasi Program Ruang JENIS RUANG JUMLAH (UNIT) LUAS TOTAL (m 2 ) INDOOR Ruang Kegiatan Hunian
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 4.1 Sejarah Singkat Perusahaan Dalam usaha meningkatkan perekonomian Indonesia, pemerintah berusaha menggalakkan industri pariwisata sebagai salah satu sumber devisa negara.
PERABOT ANAK. Sumber : _ html
LAMPIRAN 200 ANAK Sumber : http://renopia.en.ec21.com/toy_piano_digital_piano_musical-- 3691712_4713603.html Pink : Origin : Korea, Brand : Spendid Junior Coklat : Origin : China, Brand : December Dimensi
BAB IV PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RESORT HOTEL DI KECAMATAN BOROBUDUR
BAB IV PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN N PERANCANGAN RESORT HOTEL DI KECAMATAN BOROBUDUR 4.1 Pendekatan Aspek Fungsional 4.1.1 Pendekatan Pelaku dan Aktivitas Resort Hotel Pada bangunan resort hotel, terdapat
DENAH ALTERNATIF 1 LANTAI 1
LANTAI 1 pada denah alt.1, area resepsionis menghadap ke arah entrance sehingga memudahkan akses bagi tamu hotel. Security & bellboy station diletakkan di sebelah kanan entrance juga memudahkan bellboy
BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN
3.1 Gambaran Umum Perusahaan BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN 3.1.1 Sejarah Perusahaan Pitagiri Hotel adalah hotel berbintang dua yang berlokasi di Jl. Palmerah Barat No. 110 Jakarta Barat. Berada pada
CITY HOTEL BINTANG TIGA DI SEMARANG
CITY HOTEL BINTANG TIGA DI SEMARANG Oleh : Dillysa El Shinta, Sukawi, Septana Bagus Pribadi Fenomena perkembangan pembangunan yang semakin pesat di Kota Semarang dapat dilihat dari slogan Visit Jateng
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 5.1 Konsep Perancangan Dalam konsep dasar perancangan berdasarkan pendekatan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, dibagi atas tiga kategori konsep
TUGAS AKHIR 138 LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR. Hotel Resort Bintang 3 Di Indramayu
TUGAS AKHIR 138 LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Hotel Resort Bintang 3 Di Indramayu Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik Oleh: Wirda
LANDASAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR (LP3A)
LANDASAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR (LP3A) CITY HOTEL BINTANG 5 DI PALEMBANG (Dengan Penekanan Desain Arsitektur Post-modern Contextualism) TUGAS AKHIR PERIODE 138 Diajukan sebagai salah satu
BAB V KONSEP DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB V KONSEP DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Perencanaan dan perancangan Exhibition Center bertujuan untuk mewujudkan suatu rancangan fasilitas pusat pertemuan dan mampu mewadahi kegiatan
BAB III OBJEK PENELITIAN. 1.1 Sejarah Singkat Hotel Puri Khatulistiwa Jatinangor
BAB III OBJEK PENELITIAN 1.1 Sejarah Singkat Hotel Puri Khatulistiwa Jatinangor Hotel Puri Khatulistiwa adalah salah satu hotel yang ada di kota Bandung yang kini menjadi hotel bagi kalangan bisnis dan
BAB IV PROGRAMING. 4.1 Analisa Existing Asumsi Lokasi
BAB IV PROGRAMING 4.1 Analisa Existing 4.1.1 Asumsi Lokasi Dalam sebuah perancangan interior, pemilihan lokasi sangatlah penting. Karena dengan pemilihan lokasi yang tepat maka orang akan lebih mudah dalam
Bab II. Sumber Inspirasi. bernuansa natural. Bandara ini sangat jelas mengandung tema Neo-Vernakular
Bab II Sumber Inspirasi 2.1 Bandara soekarno hatta Sebagian besar unit-unitnya berkonstruksi tiang dan balok yang di ekspos dan terlihat modern. Bandara ini di rancang oleh Arsitek dari Prancis, Paul Andreu.
sebagai Pengembangan Kawasan Perumahan Graha Candi Golf BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Konsep dan program dasar perencanaan dan perancangan merupakan hasil dari pemikiran menyeluruh, dan berfungsi sebagai penentu desain Garden Apartment
BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki
BAB V KONSEP 5.1 Konsep Perancangan Tapak 5.1.1 Pencapaian Pejalan Kaki Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki Sisi timur dan selatan tapak terdapat jalan utama dan sekunder, untuk memudahkan
TUGAS 2 Fungsi Komersial Bercampur (Mixed Commercial Functions) Di Kawasan Konservasi Pada Pusat Kota
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 4 SEMESTER B 2014-2015 TUGAS 2 Fungsi Komersial Bercampur (Mixed Commercial Functions) Di Kawasan Konservasi Pada Pusat Kota PENGERTIAN FUNGSI KOMERSIAL BERCAMPUR : Fungsi
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1 Konsep Aspek Manusia V.1.1 Pelaku, Karakter dan Kegiatan Terdapat empat jenis pelaku dalam hotel transit dijelaskan dalam tabel perbandingan, diantaranya; Tabel V.1 Pelaku,
BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 5.1. Pendekatan Aspek Fungsional 5.1.1. Pendekatan Fasilitas Pusat Seni Budaya Rakyat Borobudur ini akan menyediakan fasilitas sebagai berikut
BAB 1 PENDAHULUAN. Department, Purchasing Department, dan Security Department.
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai faisilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha dan Pemerintah Daerah
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. dikembangkan untuk meningkatkan devisa Negara di luar minyak dan gas bumi.
52 BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 4.1 Sejarah Singkat Perusahaan Industri pariwisata merupakan salah satu sektor potensial yang harus dikembangkan untuk meningkatkan devisa Negara di luar minyak dan gas
SPA HOTEL DI SEMARANG DENGAN PENEKANAN DESAIN EKO ARSITEKTUR
SPA HOTEL DI SEMARANG DENGAN PENEKANAN DESAIN EKO ARSITEKTUR Oleh: Ariesta Arum Ramadhani, Ir. Agung Budi Sardjono, MT, Ir. Eddy Indarto, MSi Sebagai ibukota propinsi Jawa Tengah, Kota Semarang merupakan
BAB II URAIAN TEORITIS. 2.1 Pengertian Houseekeping Department Secara Umum. Housekeeping berasal dari kata house yang berarti rumah,wisma,hotel dan to
BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Pengertian Houseekeping Department Secara Umum Housekeeping berasal dari kata house yang berarti rumah,wisma,hotel dan to keep yang berarti merawat atau memelihara. Jadi housekeeping
BAB II Manusia, Aktifitas dan Ruang
BAB II Manusia, Aktifitas dan Ruang Setelah mendapatkan data dan menganalisisnya, hal yang kami lakukan selanjutnya adalah merancang program ruang. hal yang pertama yang kami lakukan adalah mengidentifikasi
CONVENTION AND EXHIBITION CENTRE SEMARANG DENGAN PENEKANAN DESAIN ADVANCED STRUCTURE
CONVENTION AND EXHIBITION CENTRE SEMARANG DENGAN PENEKANAN DESAIN ADVANCED STRUCTURE Oleh: Ardyawan Mahendra, Septana Bagus P, M. Sahid Indraswara Convention dan Exhibition Centre merupakan fasilitas gedung
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Jakarta merupakan salah satu kota besar di Indonesia dengan jumlah penduduk 15.173 jiwa/km2 per tahun 2014 (Kepadatan Penduduk menurut Provinsi, Badan Pusat
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RESORT APUNG
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RESORT APUNG 5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1 Program Ruang Pembangian ruang dibedakan sesuai dengan kelompok jenis kegiatan dan fungsinya, yaitu kelompok ruang
BAB III : DATA DAN ANALISA
BAB III : DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik Gambar 29. Lokasi Tapak 1. Data Teknis Lokasi : Area Masjid UMB, JL. Meruya Selatan Luas lahan : 5.803 m 2 Koefisien Dasar Bangunan : 60 % x 5.803
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bandung merupakan kota metropolitan dan kota wisata, yang perekonominnya berkembang pesat. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank
- BAB 4 - ANALISA SELATAN UTARA. Gambar 4.1 Foto kondisi eksisting Candranaya (Sumber : Dinas tata kota DKI)
- BAB 4 - ANALISA 4.1 Data Proyek Lokasi Candranaya di Jl. Gajah Mada No. 188 Jakarta Barat. Luas Lahan : 14.356,14 m2 Peruntukan Lahan : Bangunan Komersil, Pusat Perkantoran KDB : 45% KLB : 4 GSB : 0
BAB VI LANDASAN PROGAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Program Perencanaan Arsitektur Aspek Fungsional
BAB VI LANDASAN PROGAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 1.1. Program Perencanaan Arsitektur 1.1.1. Aspek Fungsional A. Kelompok Pelaku Pelaku yang ada di dalamhotel resort terdiri dari : 1. Tamu
BAB IV ANALISA PERENCANAAN. Dalam analisa perencana dan perancangan Arsitektur, terdapat bebrapa hal yang menjadi bahan pertimbangan antara lain:
BAB IV ANALISA PERENCANAAN Dalam analisa perencana dan perancangan Arsitektur, terdapat bebrapa hal yang menjadi bahan pertimbangan antara lain: Aspek manusia / pengguna Aspek bangunan / fisik Aspek lingkungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Munculnya hotel-hotel baru bertarif ekonomis (budget) menjadi fenomena baru. Posisinya yang berada antara guest house dan hotel bintang 3 menarik para pebisnis dan
BAB V PENERAPAN KONSEP
BAB V PENERAPAN KONSEP 5.1 Konsep Kawasan Integrated Convention & Exhibition Center Konsep bangunan sesuai dengan tujuan utamanya yaitu fleksibiltas. Hal-hal yang diperhatikan: - Akses dan sirkulasi -
PUSAT SINEMA SIDOARJO
PUSAT SINEMA SIDOARJO MAHASISWA : M.ABRAM WAHYU N. NRP : 3207100027 PEMBIMBING : Ir. HARI PURNOMO Mbdg, Sc TEMA : 0ase PUSAT... Yaitu merupakan tempat pemusatan aktifitas atau kegiatan dan fasilitas tertentu
HOTEL BISNIS DI KOTA SEMARANG
TUGAS AKHIR LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR HOTEL BISNIS DI KOTA SEMARANG DENGAN PENEKANAN KONSEP DESAIN GREEN ARCHITECTURE DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN GUNA MEMPEROLEH
HOTEL RESORT DI DAGO GIRI, BANDUNG
TINJAUAN UMUM PROYEK II.1 GAMBARAN UMUM PROYEK II.1.1 TINJAUAN PROYEK Judul Proyek : Hotel Resort di Dago Giri, Bandung, Indonesia Tema : Arsitektur Hijau Lokasi : Jl.Dago Giri, Bandung, Indonesia KDB
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HOTEL GRAND ANGKASA INTERNATIONAL MEDAN. 2.1 Sejarah Ringkas Berdirinya Hotel Grand Angkasa International Medan
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HOTEL GRAND ANGKASA INTERNATIONAL MEDAN 2.1 Sejarah Ringkas Berdirinya Hotel Grand Angkasa International Medan Hotel Grand Angkasa International dulunya bernama Astoria hotel
BAB III ANALISA PENDEKATAN ARSITEKTUR PANTI ASUHAN TERPADU DI KOTA SEMARANG
BAB III ANALISA PENDEKATAN ARSITEKTUR PANTI ASUHAN TERPADU DI KOTA SEMARANG 3.1 Analisa Pendekatan Arsitektur 3.1.1 Studi Aktivitas a. Pengelompokan Aktivitas Terdapat beberapa aktivitas yang terdapat
BAB II DESKRIPSI PROYEK HOTEL KRIDA NUSANTARA
BAB II DESKRIPSI PROYEK HOTEL KRIDA NUSANTARA Proyek ini merupakan proyek semi nyata yang akan dibangun oleh yayasan Krida Nusantara. proyek ini terletak pada kawasan pendidikan Krida Nusantara, dan memperuntukan
BAB III STUDI LAPANGAN. Syariah Hotel Lor In Solo adalah sebuah Hotel syariah berbintang 4
BAB III STUDI LAPANGAN III. III. A. OBSERVASI A.1. Syariah Hotel Lor In Solo Syariah Hotel Lor In Solo adalah sebuah Hotel syariah berbintang 4 terbesar di kota Solo. Hotel yang memiliki luasan yang tidak
