Lima Komponen Penting dalam Perencanaan OSCE Five Essential Keys in OSCE Planning
|
|
|
- Sugiarto Budiman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 42 Indri Kurniasih Lima Komponen Penting dalam Perencanaan OSCE Lima Komponen Penting dalam Perencanaan OSCE Five Essential Keys in OSCE Planning Indri Kurniasih 1 1 Dental Education Unit, School of Dentistry, Faculty Medicine and Health Sciences Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Korespondensi : [email protected] Abstrak Pendahuluan : Kompleksitas dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dapat mempengaruhi kualitas dan kehandalan OSCE sebagai alat penilaian performa suatu keterampilan klinik. Berbagai faktor dapat membuat penilaian OSCE menjadi kurang reliabel. Perencanaan kegiatan OSCE yang baik merupakan faktor penting dalam mendukung kehandalan OSCE. Tujuan dari penulisan ini adalah menguraikan dari berbagai sumber tentang prinsip dasar lima komponen penting dalam perencanaan OSCE. Diskusi : Pelaksanaan OSCE membutuhkan langkah-langkah yang terencana secara baik. Terdapat lima komponen penting dalam perencanaan suatu OSCE yaitu disain OSCE, pasien standar, penguji, sarana prasarana, dan standar setting. Disain OSCE meliputi penyusunan blue print OSCE, penyusunan kasus/station dan penyusunan form checklist/rating scale. Penyusunan blue print merupakan langkah awal dalam mendisain OSCE. Blue print disusun untuk memastikan bahwa berbagai kompetensi individual akan diujikan beberapa kali pada beberapa station, dan setiap station berkontribusi melengkapi ujian dengan menilai beberapa jenis kompetensi. Kesimpulan : Persiapan berbagai komponen penting penyusun OSCE harus dilakukan secara terencana oleh komite ujian agar penilaian menjadi objektif, valid dan reliabel serta menghasilkan informasi yang dapat dipercaya. Keywords : Perencanaan OSCE, 5 komponen penting. Abstract Background : The complexity of planning and implementation of OSCE (Objective Structured Clinical Examination) activity may influence the quality and reliability of OSCE as a tool to assess the clinical performance. Many factors can make OSCE assesment becomes less realible. A good OSCE activity plan is an important factor in supporting the reliability of OSCE. The purpose of this study was to describe five essential keys in OSCE planning from many resources and researches. Discussion: The implementation of OSCE needs good structured steps. There are five essential keys in OSCE planning, those are OSCE design, standardiced patient, examiner, infrastucture, and standard setting. OSCE design includes composing blue print of OSCE, composing case stations and rating scale form. Composing blue print is the first step in designing the OSCE. Blue print is composed to ensures that various individual competencies will be examined several times in some station and each station contributes to complete the exam by assessing some kind of compencies. Conclussion : Preparation some kind of essential keys in OSCE planning has to be done in a stuctured plan by the exam committee in order the assessment becomes objective, valid, reliable, and resulting trusted information. Keywords : OSCE planning, five essential keys.
2 43 IDJ, Vol. 3 No.1 Bulan Mei Tahun 2014 Pendahuluan Objective Structured Clinical Examintion (OSCE) adalah salah satu metode penilaian performa/kinerja mahasiswa kedokteran yang diperkenalkan pertama kali oleh Harden dan Gleeson tahun OSCE adalah suatu penilaian kompetensi klinis secara terencana dan terstruktur sehingga didapat objektivitas dalam penilaian 1. OSCE menyediakan suatu format yang sesuai untuk menilai berbagai komponen dari kompetensi klinis, khususnya keterampilan-keterampilan klinis praktis dengan derajat ketepatan yang tinggi 2. Dalam kegiatan OSCE, kandidat/peserta ujian berpindah dari satu station ke lainnya pada waktu yang telah ditentukan. Pada setiap station kandidat akan diberi suatu skenario klinis dan harus menunjukkan kemampuan keterampilan klinis tertentu. Pada perkembangannya, lamanya station OSCE dapat bervariasi antara 5-30 menit, tergantung pada kompleksitas keterampilan yang akan dinilai 3. Setiap station telah dipisah untuk mengevaluasi satu bagian dari kompetensi. Kandidat akan dinilai performanya dalam melakukan suatu tugas pada setiap station yang dilaluinya. Stationstation tersebut akan menilai berbagai keterampilan klinis seperti keterampilan komunikasi, keterampilan interpretasi data dan ada suatu keputusan predeterminasi pada kompetensi yang diujikan. Kandidat harus mengikuti putaran station-station secara lengkap. Performa dari setiap kandidat dievaluasi secara independen pada setiap station menggunakan checklist yang terstandar. Dengan kata lain setiap mahasiswa yang menjadi kandidat dalam kegiatan OSCE akan melalui tes yang sama, dan dinilai oleh penguji-penguji yang sama atau yang ekuivalen 4. Kekuatan dan keuntungan dari penilaian OSCE adalah memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan dalam melakukan keterampilan klinis yang spesifik. OSCE adalah format yang sangat baik untuk mengevaluasi berbagai macam kompetensi, khususnya yang berkaitan dengan diagnosis dan pengobatan. Penggunaan OSCE memungkinkan untuk pengujian simultan tentang pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang berhubungan dengan kompetensi klinis dari sejumlah besar siswa 5. OSCE dapat menguji berbagai dimensi dari kompetensi klinis, yang meliputi: history taking, physical examination, interpersonal and communication skills, professionalism, technical skills, problem solving, decision making, management and documentation 6. OSCE merupakan bentuk ujian yang aman, karena tidak akan menimbulkan cedera pada pasien, sehingga tidak berisiko dan memungkinkan untuk diulang. OSCE juga memungkinkan terjadinya umpan balik dari pemeran pasien standar (PS) yang terlibat. Station OSCE dapat disesuaikan dengan tingkat keterampilan yang akan dinilai. Dalam kegiatan OSCE demonstrasi keterampilan kegawatdaruratan juga dimungkinkan untuk dilakukan. Selain yang sudah disebutkan, OSCE dapat digunakan untuk mengaudit proses pembelajaran yang telah dilakukan 7. OSCE bukan tidak memiliki kelemahan. Keterbatasan jumlah station dapat menjadi masalah dalam mengumpulkan informasi yang reliabel terhadap suatu performa/kemampuan. Skenario yang disiapkan mungkin tidak bisa meniru situasi klinik yang sebenarnya secara ideal. OSCE meru-
3 44 Indri Kurniasih Lima Komponen Penting dalam Perencanaan OSCE pakan suatu bentuk penilaian yang membutuhkan biaya besar. Penyediaan logistik dalam pengembangan dan pelaksanaan bentuk penilaian OSCE sulit dan memakan waktu 7. OSCE merupakan metode penilaian yang paling mencemaskan bagi mahasiswa dibandingkan dengan tes tertulis ataupun tes persiapan preklinik. Tingkat kecemasan OS- CE berhubungan dengan tingkat persiapan dan harapan akan keberhasilan dalam OSCE, tetapi tidak berkaitan dengan skor tes yang diperoleh 8. Sebagai suatu metode penilaian, OSCE harus memenuhi kriteria penilaian yang baik. Kriteria tersebut adalah (1) validity atau coherence; (2) reproducibility atau consistency; (3) equivalence; (4) feasibility; (5) educational effect; (6) catalytic effect; dan (7) acceptability 9,10. Sejumlah penelitian men-deskripsikan OSCE sebagai suatu alat penilaian kompetensi klinis yang objektif, valid dan reliabel serta menghasilkan informasi yang dapat diandalkan mengenai kemampuan kinerja individu 11, 12. Berbagai faktor dapat membuat hasil-hasil dari OSCE kurang reliabel seperti jumlah station yang terlalu sedikit, sampling yang buruk, pendangkalan tugas, checklist yang tidak sesuai, kendala waktu, kekurangan pasien standar, pelatih yang inkonsisten, kelelahan mahasiswa karena OSCE yang panjang, kebocoran checklist dan kurangnya integritas dari penguji serta mahasiswa 4. Sampling berkaitan dengan cara menentukan jumlah dan jenis station yang akan diujikan. Pemilihan sampel terhadap materi yang diujikan harus dilakukan dengan tepat agar semua kemampuan yang akan dinilai dapat terwakili dalam stationstation OSCE. Untuk mengukur satu kompetensi klinis terkadang diperlukan beberapa station dengan beberapa variasi tugas. Jenis keterampilan yang akan dinilai harus tercakup dalam station-station yang diujikan. Item analisis dari station-station OSCE dan eksklusi dari station-station bermasalah berguna secara praktis untuk meningkatkan realibilitas OSCE 13. Pasien standar merupakan individuindividu yang terlibat dalam OSCE, yang memperagakan/menggambarkan suatu kasus klinis tertentu secara konsisten pada suatu station. Pasien standar bukanlah orang yang sesungguhnya menderita kasus klinis yang digambarkan tetapi mereka hanya mensimulasi masalah klinis semata-mata untuk tujuan pelatihan dan penilaian. Persiapan pasien standar merupakan hal yang penting dalam persiapan kegiatan OSCE. Komite ujian harus melakukan rekruitment dan pelatihan khusus terkait persiapan pasien standar. Kelelahan pasien standar dalam pelaksanaan OSCE seharusnya dihindari dengan menyiapkan jumlah pasien standar yang cukup, karena hal itu dapat mengganggu konsistensi sikap dan tindakan pasien standar dalam memerankan suatu kasus 14. Menurut Zabar et. al (2013), ada 10 langkah dalam melakukan pengaturan seluruh kegiatan OSCE yaitu: (1) identifikasi sarana prasarana yang tersedia, (2) kesepakatan tentang tujuan dan batas waktu, (3) penyusunan blueprint, (4) pengembangan kasus dan station, (5) pembuatan checklist penilaian, (6) rekruitmen dan pelatihan pasien standar, (7) rekruitmen dan pelatihan penguji, (8) implementasi OSCE: pengaturan sesi ujian, (9) pengaturan, analisis, pelaporan data dan hasil, (10) pengembangan perpustakaan kasus dan organisasi OSCE 13. Perencanaan merupakan kunci suksesnya penyelenggaraan ujian OSCE. Ada 4 hal penting yang perlu diperhatikan oleh komite
4 45 IDJ, Vol. 3 No.1 Bulan Mei Tahun 2014 ujian dalam perencanaan OSCE yaitu penyusunan blue print untuk memastikan validitas konten, seleksi dari bentuk-bentuk tes terbaik, aplikasi strategi untuk mencapai level realibilitas yang kuat dan penetapan standard setting yang sesuai untuk prosedur pengambilan keputusan 15. Diskusi Perencanaan dan persiapan OSCE meliputi identifikasi kompetensi-kompetensi yang akan dievaluasi di akhir suatu pelatihan/pembelajaran, kriteria performa dan penentuan skor minimal pada setiap station untuk memastikan pencapaian kompetensi. Penggunaan pakar-pakar klinis untuk menilai pencapaian kompetensi-kompetensi siswa/peserta didik dapat meningkatkan validitas dan reliabilitas dari suatu prosedur penilaian 14. Terdapat lima komponen penting yang harus dipersiapkan dengan sangat baik dalam merencanakan kegiatan OSCE, yaitu: 1. Disain OSCE Disain OSCE meliputi penyusunan blue print, penyusunan soal kasus/station dan penyusunan checklist penilaian/rating scale a. Penyusunan blue print Elemen kunci dalam merancang suatu OSCE adalah dengan mengembangkan suatu blue print. Blue print merupakan suatu matrik yang menghubungkan suatu daftar deskripsi singkat dari seluruh station yang diujikan dengan kompetensi yang dinilai. Hal ini memastikan bahwa kompetensi individu akan dinilai beberapa kali dan setiap station berkontribusi terhadap kelengkapan keseluruhan ujian atau latihan dengan menilai beberapa kompetensi. Sebuah pendekatan yang terorganisir dalam penyusunan blueprint memperkuat validitas sebuah OSCE. Hal ini dapat mencakup tinjauan pustaka, survei kurikulum, dan diskusi membangun konsensus 13. Sangat penting untuk menggunakan blue print untuk merencanakan konten dari OSCE, karena hal ini membantu untuk memastikan bahwa domain yang berbeda dari keterampilan diuji secara adil dan keseimbangan bidang studi yang diuji diputuskan secara adil 16. b. Kasus dan station Penting untuk menulis materi station dengan baik sebelum tanggal penilaian sehingga station dapat ditinjau dan diujicobakan sebelum penilaian yang sebenarnya. Kadang-kadang station yang tampaknya berawal dari ide yang baik, pada saat penulisan dapat berubah menjadi tidak layak dalam pelaksanaannya. Pada tahap penyusunan, suatu station sebaiknya memiliki instruksi yang jelas terkait dengan tugas kandidat, tugas penguji, daftar peralatan yang dibutuhkan, daftar kebutuhan pasien nyata atau pasien simulasi, skenario yang harus diperagakan pasien simulasi, checklist terkait dengan semua aspek penting yang diujikan, serta lama waktu station 16. Panjang Ujian umumnya bervariasi antara 10 dan 20 stasiun 3. Kasus pada station OSCE merupakan suatu masalah klinis, yang disusun dengan melibatkan serangkaian tugas tertentu yang akan dinilai. Station OSCE yang didasari pada kasus pasien
5 46 Indri Kurniasih Lima Komponen Penting dalam Perencanaan OSCE yang nyata akan menambah validitas OSCE 13. c. Penyusunan checklist/rating form Kualitas sebuah form penilaian ditentukan oleh sejauh mana penilai (baik pasien standar maupun penguji) dapat menggunakan form tersebut secara konsisten. Reliabilitasnya terlihat dari sejauh mana form penilaian tersebut akan menghasilkan hasil yang sama jika digunakan oleh penilai yang berbeda atau pada kesempatan yang berbeda, sedangkan validitas form penilaian ditentukan dari sejauh mana komponen-komponen penilaian secara akurat mencerminkan keterampilan/kinerja yang akan dinilai. Kunci untuk dapat mengembangkan itemitem form penilaian yang reliabel dan valid adalah: (a) identifikasi domain secara spesifik; (b) menuliskan itemitem yang dapat dimengerti; dan (c) menyediakan panduan atau instruksi yang membimbing penilai dalam melakukan penilaian. Dengan menyusun blue print untuk menentukan keterampilan serta konten OSCE yang dinilai, dan menetapkan kontribusi setiap station terhadap tujuan yang akan dicapai, tahapan penyusunan form penilaian yang efektif sebenarnya sudah dilakukan. Dua format untuk form penilaian item-item yang biasanya digunakan yaitu item perilaku spesifik dan peringkat penampilan keseluruhan (global rating). Dalam OSCE, yang paling populer digunakan untuk menilai item perilaku spesifik adalah checklist karena sederhana. Checklist hanya mencatat iya atau tidak perilaku atau tindakan tertentu yang dilakukan dapat meningkatkan akurasi dan kehandalan penilaian. Global rating merujuk pada kesan umum tentang kinerja pembelajar dalam domain tertentu (misalnya, keterampilan komunikasi, pengetahuan medis, profesionalisme). Dengan kata lain, merujuk pada tingkat kepuasan penguji terhadap keseluruhan tindakan kandidatan 13. Item checklist berisi item-item penilaian terhadap tindakan yang harus dilakukan dalam menanggapi informasi dalam skenario kasus (stem) yang diberikan. Item-item dalam checklist harus ditinjau ulang dan diedit untuk memastikan bahwa: (a) item sesuai untuk tingkat pelatihan yang dinilai; (b) item berbasis tugas; dan (c) item bisa teramati. Panjang checklist tergantung pada tugas klinis, waktu yang diberikan, dan orang yang menilai. Sebuah checklist untuk sebuah station 5 menit yang menguji anamnesis dapat memiliki hingga 25 item jika penguji dari fakultas (dosen) yang memberi skor nilai. Jika pasien standar yang melakukan pemberian skor nilai, maka item checklist harus lebih sedikit dan lebih rinci untuk memandu pemberian skor nilai. Suatu skor harus dinilai untuk setiap item. Skor item dapat berupa nilai 1 atau 0, atau bobot relatif dengan item yang lebih penting akan bernilai lebih. Bobot tidak dapat mengubah tingkat lulus-gagal dari OSCE keseluruhan, tetapi dapat meningkatkan validitas checklist dan dapat mempengaruhi peserta yang lulus atau gagal 17.
6 47 IDJ, Vol. 3 No.1 Bulan Mei Tahun 2014 Tabel 1. Contoh blue print OSCE History taking Physical examinatio n Interpretation skills Procedural skills Management patient Oral Surgery 1 1 Counselin g Paediatric Dentistry 1 1 Orthodontic Prostodontic 1 1 Dental Radiology 1 1 Periodontic Oral Medicine Conservative dentistry 1 2. Pasien standar Pasien standar adalah individu terlatih yang hadir dalam situasi klinis dengan gejala standar mirip dengan yang mungkin dihadapi oleh pasien yang sebenarnya. Pada 1980-an istilah "pasien simulasi" menjadi populer. Dengan meningkatnya penggunaan dalam penilaian dan kebutuhan yang sesuai untuk mengendalikan stimulus tes, istilah "pasien standar" sering kali lebih disukai, terutama di Amerika Utara 15. Penggunaan simulasi pasien pada kegiatan OSCE membentuk suatu bagian penting dari penilaian. Penilaian oleh pasien standar dapat meningkatkan proses standard setting. Penambahan data hasil penilaian pasien standar ke dalam penilaian global oleh penguji memiliki efek penting pada hasil tes individual kandidat. Pada standard setting metode borderline regresi, penambahan penilaian oleh simulasi pasien/pasien standar pada checklist penilaian tampaknya mengarah pada peningkatan reliabilitas penilaian 18. Untuk membuat suatu kasus pasien yang nyata, pasien standar perlu memenuhi 3 aspek berikut: 1) Pasien standar harus tahu semua detil fisik, psikologis, dan sosial yang terkait dengan kasus yang akan diperagakan; (2) Pasien standar harus mampu secara konsisten melukiskan nada emosional dalam jumlah yang tepat yang sesuai dengan kasus; (3) tindakan dan respon pasien standar harus diatur dengan benar. Ada banyak opini tentang seberapa banyak pelatihan yang dibutuhkan oleh pasien standar agar dapat memerankan kasus mereka secara adekuat. Jumlah total waktu pelatihan tergantung pada kebutuhan kasus, biaya, dan batasan waktu. Jika OSCE merupakan penilaian formatif, maka 2 jam waktu pelatihan mungkin cukup, terutama dengan pasien standar yang memiliki pengalaman. Jika OSCE merupakan penilaian sumatif, pelatihan harus lebih lama dan lebih luas yaitu jam pelatihan 13. Penggunaan bahasa untuk pasien, penentuan
7 48 Indri Kurniasih Lima Komponen Penting dalam Perencanaan OSCE persepsi pasien terhadap masalah, pemberian informasi yang relevan penting diperhatikan saat memberikan arahan untuk pasien standar. Tanggapan untuk semua item checklist harus dimasukkan. Perilaku pasien yang mempengaruhi kasus harus dijelaskan dalam bahasa tubuh, nada bicara, dan kecepatan. Gejala yang akan disimulasikan juga harus dijelaskan kepada pasien standar 17. Pelatihan pasien standar memberikan kontribusi besar terhadap kehandalan ujian, penampilan pasien standar yang konsisten memastikan bahwa semua kandidatan mendapatkan tantangan yang sama Penguji Keputusan penting saat merencanakan suatu OSCE salah satunya adalah pada perencanaan orang yang akan menjadi penilai kandidatan. Tugas sebagai penilai adalah tugas yang sulit karena ada begitu banyak faktor yang dapat mengganggu penilaian kinerja yang akurat. Penguji sebaiknya kelompok penilai yang sudah terlatih. Lamanya waktu pelatihan bervariasi tergantung pada orang yang menjadi penilai, banyaknya peringkat yang dinilai dan pengalaman OSCE yang telah mereka miliki, ketat tidaknya penilaian dan jumlah waktu yang tersedia secara signifikan. Tidak semua orang bisa terlibat dalam pengembangan ujian, sehingga penilai setidaknya harus memahami dasar pemikiran yang mendasari penyusunan OSCE yang dilaksanakan dan merasa yakin bahwa kategori tidak dipilih secara sewenangwenang. Sikap dan emosi tak diragukan lagi memainkan peran sentral dalam proses penilaian. Penting bagi pelatih penguji untuk menyadarkan penguji tentang tugas mereka. Seringkali dalam banyak OSCE, penguji juga diminta untuk segera memberikan umpan balik. Biasanya ada keterbatasan waktu (5-10 menit) dan umpan balik harus singkat 13. OSCE memerlukan sejumlah besar penguji. Hal ini bisa menjadi sebuah kekuatan, karena kandidat diamati dan dinilai oleh beberapa dokter, tetapi juga bisa menjadi salah satu kelemahan, seperti ketidaksesuaian antara penilai akan mengurangi keadilan dan kehandalan dari OSCE. Pelatihan penguji adalah investasi yang sangat berharga Sarana-prasarana Dalam suatu kegiatan yang melibatkan sejumlah besar orang seperti OSCE, diperlukan organisasi kegiatan yang sangat baik. Bukan hanya sarana pada station tertentu yang dipersiapkan, tetapi juga bentuk-bentuk dan sumber daya lain yang membantu organisasi OSCE secara keseluruhan. Hal yang perlu disadari adalah kesalahan pada saat pelaksanaan kegiatan OSCE sangat mungkin terjadi, namun dengan perencanaan yang baik dan sumber daya yang memadai, hal tersebut dapat diatasi. Hal hal yang bisa menjadi sumber permasalahan di antaranya terkait dengan kehadiran, standardisasi, manajemen waktu dan manajemen emosi 13. Dalam segi biaya, OSCE membutuhkan biaya yang sangat bervariasi karena jumlah stasiun menentukan jumlah pasien standar, penguji, dan staf yang diperlukan. Faktor signifikan lain yang mempengaruhi biaya OSCE adalah ada atau tidaknya anggota fakultas yang mempersiapkan
8 49 IDJ, Vol. 3 No.1 Bulan Mei Tahun 2014 penulisan kasus, menetapkan standar dan menganalisis hasil OSCE Standard setting pada OSCE Standard setting merupakan prosedur yang diterapkan pada penilaian untuk menetapkan batas antara siswa yang lulus atau dianggap kompeten, dan mereka yang harus gagal atau dianggap tidak kompeten. Ada 2 tipe standar, yaitu relatif dan absolut. Standar relatif dinyatakan sebagai suatu nilai atau persentase kandidatan. Standar absolut dinyatakan sebagai suatu nilai atau persentase dari item tes. Standar absolut lebih sesuai untuk tes kompetensi yang tujuannya adalah untuk meyakinkan bahwa kandidatan cukup mengetahui tujuan tes tersebut 19. Untuk penilaian resiko tinggi, banyak ahli psikometri dan ahli pendidikan medis menganjurkan absolute or criterionreferenced standard setting (yaitu, nilai yang mencerminkan kemampuan untuk kompeten melakukan keterampilan dan perilaku tertentu). Pada OSCE, jika para pakar dari fakultas mengobservasi dan memberi penilaian terhadap performa para kandidat, maka metode borderline group ataupun metode contrasting group dapat digunakan sebagai metode standard setting. Metode ini mudah dan sederhana dalam penerapannya. Namun, apabila para pakar tidak memberikan penilaian saat ujian OSCE, contohnya jika pasien standar yang memberikan nilai pada checklist, maka metode yang melibatkan penilaian terhadap item tes atau item konten seperti metode Angoff, Ebel, atau metode Hofstee dapat digunakan 20. Borderline Regression Method (BRM) merupakan salah satu metode standard setting dalam OSCE 21. Metode ini banyak dipilih oleh institusi karena metode regresi memberikan beberapa indikasi hubungan antara nilai global dan nilai checklist, juga dapat menunjukkan tingkat diskriminasi antara mahasiswa yang lebih lemah dan lebih kuat. Namun, metode ini sangat sensitif terhadap outlier dan dapat mengganggu hasil dari standard setting. Adapun kelompok outlier tersebut adalah : a) Kandidat yang memiliki performa sangat buruk dan mendapatkan nilai checklist hampir nol. b) Kandidat yang mencapai nilai checklist yang baik tetapi gagal mengesankan penguji secara keseluruhan. c) Penguji yang memberikan nilai keseluruhan yang salah. BRM menggunakan semua interaksi penilaian yang nyata antara penguji dan kandidat 22. Unsur validitas dan reliabilitas OSCE sangat dipengaruhi oleh kelima komponen penting yang telah diuraikan sebelumnya. Disain OSCE yang baik akan mempengaruhi tercapainya nilai validitas yang tinggi. Persiapan dan perencanaan yang baik pada komponen penguji, pasien standar dan sarana prasarana dapat mempengaruhi tercapainya reliabilitas OSCE yang baik. Komponen standar setting OSCE dilakukan untuk memastikan bahwa penetapan hasil ujian terpercaya. Setiap komponen memiliki tingkat kerumitan masing-masing dalam persiapan dan pelaksanaannya. Ketelitian dalam persiapan detil dan perencanaan OSCE
9 50 Indri Kurniasih Lima Komponen Penting dalam Perencanaan OSCE mutlak dilakukan oleh panitia penyelenggara OSCE. Kesimpulan OSCE merupakan penilaian yang mempunyai banyak kelebihan dalam menilai performa suatu keterampilan klinik. Sebagai metode penilaian OSCE harus memenuhi kriteria penilaian yang baik. Banyak faktor yang dapat menyebabkan penilaian OSCE menjadi tidak valid dan reliabel, diantaranya adalah kurangnya perencanaan yang baik terhadap komponen-komponen penyusun OSCE. Persiapan berbagai komponen penting penyusun OSCE harus dilakukan secara terencana oleh komite ujian dengan memperhatikan prinsip-prinsip dasar penyusunan OSCE. Daftar Pustaka 1. Harden, R.M., What is an OSCE?. Med. Teacher, 10 (1): Newble, D.I., Techniques for Measuring Clinical Competence: Objective Structured Clinical Examinations. Med Educ, 35: Harden, R.M., A Practical Guide for medical Teachers, 3 rd ed. Elsevier: p. 334, Gupta, P., Dewan, P., and Singh, T., Objective Structured Clinical Examination (OSCE) Revisited, Indian Pediatrics, 47: Brannick, M.T., Erol-Korkmaz, T.H., and Prewett, M., A systematic review of the reliability of objective structured clinical examination scores. J Med Educ, 45: Casey, P.M., Goepfert A.R., Epsey E.L., To the point: Reviews in medical education-the Objective Structured Clinical Examination, Am. J. Obstet Gynecol, 200: Zayyan, M., Objective Structured Clinical Examination: The Assessment of Choice. Oman Med J., 26(4): Brand, H.S., and Schoonheim-Klein, M., Is the OSCE more stressful? Examination anxiety and its consequences in different assessment methods in dental education. Eur J Dent Educ, 13: Norcini, J.J., et al Criteria for Good Assessment: Consensus statement and recommendations from the Ottawa 2010 conference. Med. Teacher, 33: Van der Vleuten, P.M.C The Assessment of Professional Competence : Developments, Research and Practical Implications. Adv Health Sci Educ, (1): Cohen, R., et al Reliability and Validity of The Objective Structured Clinical Examination in Assessing Surgical Residents. Am J surg,160 (3): Rekany, A.J., Al-dabbagh, S., and Phil, H.D Validity and reliability of OSCE in evaluating practical performance skills of Interns in emergency medicine. Duhok Med J., 4(2): Zabar, S., Kalet, A., Krajic, K.E., Hanley, K. (eds.) Objective Structured Clinical Examinations,10 Steps to Planning and Implementing OSCEs and Other Standardized Patient Exercises. Sp-ringer Science+Business Media New York, McGaughey, J Standardizing the assessment of clinical competence: an overview of intensive care course design. British Association of Critical Care Nurses, 9(5): 15. Roberts, C., et al The quality of High-stakes undergraduate assessments of clinical competence. Medical Teacher, 28(6):
10 51 IDJ, Vol. 3 No.1 Bulan Mei Tahun Boursicot, K., and Roberts, T., How to set up an OSCE. The Clinical Teacher, 2(1): Smee, S., ABC of learning and teaching in medicine: Skill based assessment. BMJ, 326: Homer, M., and Pell, G., The impact of the inclusion of simulated patient ratings on the reliability of OSCE assessments under the borderline regression method, Med Teacher, 31: Norcini, J.J Setting standards on educational tests. J. Med Educ, 37: Yudkowsky, R., Standard Setting. In: Downing and Yudkowsky, ed., Assessment In Health Professions Education. New York, Routledge. p. 130, Pell, G., and Roberts, T.E Setting standards for student assessment. International Journal of Research & Method in Education, 29(1): Pell, G., Fuller, R., Homer, M., and Trudie, R., How to Measure the Quality of the OSCE: A review of metriks-amee guide no 49. Medical Teacher, 32:
MODUL PELATIHAN PELATIH PASIEN STANDAR
MODUL PELATIHAN PELATIH PASIEN STANDAR A. LATAR BELAKANG Dasar hukum kegiatan ini adalah : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
Validitas, Reliabilatas dan Dampak Pembelajaran terhadap Tes Objective Structured Clinical Examintaion (OSCE)
Validitas, Reliabilatas dan Dampak Pembelajaran terhadap Tes Objective Structured Clinical Examintaion (OSCE) Ashaeryanto Fakultas Kedokteran Universitas Haluoleo Email: [email protected] ABSTRACT
Pelatihan Penguji OSCE
Pelatihan Penguji 1. Latar belakang Berdasarkan Undang-Undang Praktik Kedokteran, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) menetapkan pelaksanaan Standar Kompetensi Dokter Indonesia dan Standar Pendidikan Profesi
Pengembangan OSCE. E.Suryadi. Assessment
Pengembangan OSCE E.Suryadi Assessment Assessment membutuhkan measurement Measurement membutuhkan requirements yaitu: Valid (Sahih) Reliable (Handal, terpercaya) Accountable (Bisa dipertangungjawabkan)
BAB I. PENDAHULUAN. Yogyakarta (FKIK UMY) telah menggunakan beberapa metode pembelajaran
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY) telah menggunakan beberapa metode pembelajaran sejak berdiri tahun 1993.
BAB I PENDAHULUAN I.A.
BAB I PENDAHULUAN I.A. Latar Belakang Masalah Penggunaan multiple choice question (MCQ soal pilihan berganda) sebagai metode untuk menguji pencapaian hasil akhir belajar saat ini sudah sangat luas. Mulai
kedokteran keluarga, salah satunya adalah patient centered care. Dalam
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lebih dari tiga dekade terakhir ini, model pendekatan secara biopsikososial oleh dokter terhadap pasien telah menjadi suatu hal yang dianggap penting dan efektif dalam dunia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kompetensi lulusan pendidikan ilmu kesehatan termasuk pendidikan ilmu kedokteran gigi meliputi kognitif, skill, dan afektif. Kompetensi kognitif, skill dan afektif
Penentuan Batas Kelulusan (Standard Setting) UKDI
Penentuan Batas Kelulusan (Standard Setting) UKDI Gandes Retno Rahayu * Komite Bersama Uji Kompetensi Dokter Indonesia * Bagian Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran UGM pass fail competent incompetent
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. aman dan etis (College of Nurses of Ontario, 2014). Salah satu kompetensi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan penilaian/sikap yang diperlukan dalam melakukan praktik keperawatan yang aman dan etis (College of Nurses
BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. memicu perubahan kurikulum dan semua perangkat kerjanya termasuk sistem
1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini pendidikan dokter spesialis mengalami perubahan yang pesat, dimulai dengan munculnya istilah kompetensi dan pengobatan berbasis bukti yang memicu
MINI CEX : METODE PENILAIAN PERFORMA PADA PENDIDIKAN TAHAP KLINIK
MINI CEX : METODE PENILAIAN PERFORMA PADA PENDIDIKAN TAHAP KLINIK Detty Iryani TINJAUAN PUSTAKA Bagian Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran
Perancangan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) untuk Menilai Kompetensi Klinik
Perancangan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) untuk Menilai Kompetensi Klinik Zulharman ABSTRACT When planned and organized correctly, OSCE can be highly successful as an instrument to assess
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. a. Pengetahuan pasien simulasi mengenai feedback konstruktif meningkat
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1. Kesimpulan a. Pengetahuan pasien simulasi mengenai feedback konstruktif meningkat secara bermakna setelah mengikuti pelatihan pemberian feedback konstruktif (t (18) = -3,491,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tenaga kesehatan profesional termasuk perawat perlu memiliki kemampuan komprehensif yang meliputi tiga ranah, yaitu afektif, kognitif, dan psikomotor (Susanti, 2010).
LAPORAN WORKSHOP REGIONAL PENGUJI OSCE KEDOKTERAN GELOMBANG 2
LAPORAN WORKSHOP REGIONAL PENGUJI OSCE KEDOKTERAN GELOMBANG 2 Hotel Santika Manado, 23 24 Agustus 200 Direktorat Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional WORKSHOP
Avoid false positive or false negative
24/0/202 Tim teknis pass fail competent incompetent Avoid false positive or false negative 24/0/202 A standard is a statement about whether performance is good enough for a particular purpose The standard
BAB I PENDAHULUAN. Ujian merupakan suatu rangkaian persoalan, pertanyaan-pertanyaan,
1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Ujian merupakan suatu rangkaian persoalan, pertanyaan-pertanyaan, latihan-latihan untuk menentukan tingkat pengetahuan, kemampuan, bakat atau kualifikasi seseorang
BAB I PENDAHULUAN. evaluasi pada penampilan yang bisa digunakan untuk menilai kompetensi klinik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mini clinical evaluation exercise (Mini-CEX) adalah salah satu metode evaluasi pada penampilan yang bisa digunakan untuk menilai kompetensi klinik mahasiswa
BAB I PENDAHULUAN. keterampilan klinis, salah satunya adalah feedback (Kneebone dan Nestel,
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pembelajaran keterampilan klinis, salah satunya adalah feedback (Kneebone dan Nestel, 2005). Feedback adalah informasi
BAB I PENDAHULUAN. mahasiswa ilmu keperawatan. Lulus dari ujian merupakan keharusan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Evaluasi program sarjana merupakan komponen utama dalam menilai kemampuan peserta didik pada pendidikan tinggi ilmu keperawatan. Pengujian klinik lapangan merupakan
Peran PS dalam OSCE. HPEQ Project Komite Bersama Uji Kompetensi Dokter Indonesia
Peran PS dalam OSCE HPEQ Project Komite Bersama Uji Kompetensi Dokter Indonesia Tim Pelatih PS 1. Sri Julyani - FK Universitas Muslim Indonesia - Makasaar 2. Christina Olly Lada - FK Universitas Nusa Cendana
Penentuan Batas Kelulusan (Standard Setting) UKDI
Penentuan Batas Kelulusan (Standard Setting) UKDI Gandes Retno Rahayu * Komite Bersama Uji Kompetensi Dokter Indonesia pass fail competent incompetent Avoid false positive or false negative 1 A standard
Active participation
THE USE OF SIMULATED PATIENTS AND VIDEO RECORDING AS SUPPORTING TOOLS IN COMMUNICATION SKILLS TRAINING dr. Widyandana, MHPE, PhD Skills Lab & Department of Medical Education Gadjah Mada University Cp:
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Komunikasi didefinisikan sebagai interaksi sosial yang terjadi melalui pesan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komunikasi didefinisikan sebagai interaksi sosial yang terjadi melalui pesan yang melibatkan transmisi informasi dari satu orang ke orang lain (Groves, 2014), dan merupakan
OSCE EXAMINER ENHANCED
OSCE EXAMINER ENHANCED TIM TEKNIS KOMPONEN 2 HPEQ REVIEW---RUANG LINGKUP OSCE PENGUJI OSCE STANDART SETTING PASIEN STANDAR BLUEPRINT ITEM DEVELOPMENT & REVIEW 1 KEMAMPUAN KANDIDAT YG DIUJI SAAT OSCE O
BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan global akan mutu lulusan pendidikan dan sistem Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuntutan global akan mutu lulusan pendidikan dan sistem Pendidikan Tinggi (PT) saat ini membawa konsekuensi untuk memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Problem Based Learning (PBL) dalam KBK dan Pencapaian Prestasi Akademik: Evaluasi Implementasi PBL
30 Vol. 4, No. 1, Januari - Juni 2012 Problem Based Learning (PBL) dalam KBK dan Pencapaian Prestasi Akademik: Evaluasi Implementasi PBL Problem Based Learning (PBL) in Competence Based Curriculum and
IDENTIFIKASI PERAN STAF EDUKASI YANG DIBUTUHKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU DALAM RANGKA PELAKSANAAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
IDENTIFIKASI PERAN STAF EDUKASI YANG DIBUTUHKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU DALAM RANGKA PELAKSANAAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI Zulharman Staf pengajar FK Unri Mahasiswa S2 Ilmu Pendidikan
Bab II TINJAUAN PUSTAKA
Bab II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Interprofessional Education (IPE) a. Definisi IPE Menurut the Center for the Advancement of Interprofessional Education (CAIPE, 1997), IPE adalah dua atau
THE BENEFIT AND WEAKNESS OF ORAL EXAMINATION IN MEDICAL EDUCATION
[ REVIEW ARTICLE ] THE BENEFIT AND WEAKNESS OF ORAL EXAMINATION IN MEDICAL EDUCATION Rika Lisiswanti Department of Medical Education, Faculty of Medicine, Universitas Lampung Abstract Oral examination
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. pasien dengan gangguan saluran perkemihan. Kateter sendiri mengganggu
3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemasangan kateter merupakan salah satu intervensi yang diberikan kepada pasien dengan gangguan saluran perkemihan. Kateter sendiri mengganggu pertahanan alami dari
KINERJA GURU SEJARAH SMA DI KOTA METRO. Kuswono, S.Pd., M.Pd.
Jurnal HISTORIA Volume 3, Nomor 2, Tahun 2015, ISSN 2337-4713 KINERJA GURU SEJARAH SMA DI KOTA METRO Kuswono, S.Pd., M.Pd. Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro [email protected] Abstrak
PERBANDINGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL MAHASISWA TAHUN II DAN TAHUN IV DI SKILLS LABORATORY PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
PERBANDINGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL MAHASISWA TAHUN II DAN TAHUN IV DI SKILLS LABORATORY PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO Indah Puspasari Kiay Demak* * Dosen pada Fakultas Kedokteran
ABSTRACT
CORRELATION BETWEEN PROGRESS TESTING SCORE ON PROFESSION STAGE WITH CUMULATIVE GRADE POINT ACADEMIC OF GRADUATED DENTISTRY STUDENT OF UNIVERSITY OF MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA HUBUNGAN ANTARA NILAI PROGRESS
Standard Operating Procedure. PELAKSANAAN Objective Structured Clinical Examination (OSCE) NASIONAL
Standard Operating Procedure PELAKSANAAN Objective Structured Clinical Examination (OSCE) NASIONAL PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2017 0 LEMBAR
BAB I PENDAHULUAN. yang lebih luas yaitu rasional dan obyektif (Sudaryanto, 2008).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu kedokteran merupakan bidang ilmu terapan, di mana pengetahuan kompleks digunakan untuk memecahkan satu masalah sama. Hal ini berbeda dengan ilmu murni dimana
Kolegium Dokter Gigi Indonesia Rencana Pengembangan
Kolegium Dokter Gigi Indonesia Rencana Pengembangan Uji Kompetensi Dokter Gigi - Jalur Ujian 1 Uji Kompetensi Dokter Gigi untuk sertifikasi kompetensi Ujian Nasional untuk Standarisasi lulusan (mahasiswa)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PSPDG UMY) telah berdiri sejak tahun 2004. PSPDG UMY merupakan salah satu program studi yang
Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan
LAPORAN WORKSHOP Evaluasi UKDGI Periode II Tahun 2012 KOMPONEN 2 - Health Professional Education Quality (HPEQ Project) Hotel Century Atlit Jakarta, 8 Mei 2012 Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan
LAPORAN WORKSHOP ITEM REVIEW OSCE KEDOKTERAN
LAPORAN WORKSHOP ITEM REVIEW OSCE KEDOKTERAN Sheraton Mustika Yogyakarta, 22 23 Agustus 2011 Direktorat Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional WORKSHOP KOMPONEN
EVALUASI DOSEN SEBAGAI BENTUK PENILAIAN KINERJA. Liche Seniati Chairy
EVALUASI DOSEN SEBAGAI BENTUK PENILAIAN KINERJA Liche Seniati Chairy Disampaikan dalam: Workshop Evaluasi Kinerja Dosen oleh Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: 9 April 2005 1 EVALUASI DOSEN SEBAGAI
Ide Pustaka Setiawan, Noviarina Kurniawati, Rr. Siti Rokhmah Projosasmito Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Standardisasi Observer OSCE dengan Rubrik dan Multivideo Ide Pustaka Setiawan, Noviarina Kurniawati, Rr. Siti Rokhmah Projosasmito Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Abstract Background:
PENGARUH DIMENSI KUALITAS PELAYANAN ORGANISASI TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN (STUDI PADA STIE TOTALWIN SEMARANG)
1 PENGARUH DIMENSI KUALITAS PELAYANAN ORGANISASI TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN (STUDI PADA STIE TOTALWIN SEMARANG) Oleh Kukuh Mulyanto, S.S.,S.E.,M.M. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Totalwin Semarang
OBJECTIVES STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE) SEBAGAI UJI KOMPETENSI DOKTER. HPEQ Project Komite Bersama Uji Kompetensi Dokter Indonesia
OBJECTIVES STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE) SEBAGAI UJI KOMPETENSI DOKTER INDONESIA HPEQ Project Komite Bersama Uji Kompetensi Dokter Indonesia 1 Tim Penguji OSCE 1. Wijoyo Halim - AL khaerat 2.
K-NEAREST NEIGHBOR UNTUK KLASIFIKASI PENILAIAN PADA VIRTUAL PATIENT CASE
Jurnal Arus Elektro Indonesia (JAEI) K-NEAREST NEIGHBOR UNTUK KLASIFIKASI PENILAIAN PADA VIRTUAL PATIENT CASE Kunti Eliyen [email protected] Universitas Brawijaya Herman Tolle [email protected] Universitas
OLEH LISA TRINA ARLYM, SST., M. Keb
OLEH LISA TRINA ARLYM, SST., M. Keb Standard setting: penetapan suatu hasil ujian sesuai atau tidak dengan tujuan ujian Meluluskan anak-anak yang kompeten Standar : Pernyataan apakah performance cukup
PEER ASSESSMENT DALAM OSCE UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI KETERAMPILAN KEGAWATDARURATAN
PEER ASSESSMENT DALAM OSCE UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI KETERAMPILAN KEGAWATDARURATAN Peer Assessment In OSCE to Improve Practical Competance in Emergency Risa Herlianita 1 & Indah Dwi Pratiwi 2 1&2 Jl.
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Komunikasi merupakan hal yang mendasar dalam keperawatan, bahkan efektivitas pelayanan pasien dipengaruhi oleh kemampuan komunikasi yang dibangun perawat selama
Tujuan : 1. Mengetahui pengembangan 2. Pengambilan Keputusan administratif 3. Keperluan perusahaan
Definisi Kinerja adalah suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. Penilaian kinerja adalah proses yang dipakai oleh organisasi untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja individu karyawan. Penilaian kinerja
Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
LAPORAN WORKSHOP NASIONAL PANEL EXPERT CBT & OSCE KG Komponen 2- Health Professional Education Quality (HPEQ Project) Hotel Arya Duta Jakarta, 3-4 April 2012 Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat
Bab V Evaluasi V.1 Skenario Evaluasi
61 Bab V Evaluasi Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai langkah-langkah evaluasi kerangka kerja yang dilakukan dalam penelitian ini. Evaluasi kerangka kerja bertujuan mendapatkan informasi yang luas
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model penelitian korelasional. Pendekatan kuantitatif menekankan analisa pada data angka yang
NASKAH PUBLIKASI GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT KESADARAN MAHASISWA PSPD FK UNTAN ANGKATAN 2009,2010, DAN 2011 MENGENAI OSCE
NASKAH PUBLIKASI GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT KESADARAN MAHASISWA PSPD FK UNTAN ANGKATAN 2009,2010, DAN 2011 MENGENAI OSCE WELRIANT OCTA ALFANDRO I11107021 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS
Komunikasi Interpersonal
Komunikasi Interpersonal Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar komunikator dengan komunikan, komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang,
PENILAIAN MAHASISWA KEPERAWATAN TENTANG STANDARDIZED PATIENT DALAM UJIAN OSCA DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SKRIPSI
PENILAIAN MAHASISWA KEPERAWATAN TENTANG STANDARDIZED PATIENT DALAM UJIAN OSCA DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat Untuk meraih gelar Sarjana Keperawatan Oleh:
BAB I PENDAHULUAN. afektif. Kompetensi kognitif, keterampilan, dan afektif harus diuji dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan kedokteran yang berdasarkan pada kompetensi mencakup tiga ranah (domain) yang saling terintegrasi yaitu kognitif, keterampilan, dan afektif. Kompetensi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. untuk mencari hubungan antar variabel. Variabel-variabel dalam penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mencari hubungan antar variabel. Variabel-variabel dalam penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pada saat ini, tuntutan masyarakat akan kompetensi dokter semakin berkembang. Masyarakat menuntut institusi pendidikan kedokteran untuk mempersiapkan lulusannya
MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI. Oleh: Rahyu Setiani
MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI Oleh: Rahyu Setiani Rahyu Setiani adalah Dosen DPK Kopertis Wilayah VII pada STKIP PGRI Tulungagung PENDAHULUAN Keterampilan berpikir
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dengan menggunakan eksperimen semu (quasy-experiment) yang
28 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian 1. Pengukuran kognitif mahasiswa merupakan penelitian kuantitatif, dengan menggunakan eksperimen semu (quasy-experiment) yang mengujicobakan suatu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang berbasis kompetensi. Penilaian diperlukan sebagai bentuk dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan Ners yang diterapkan PSIK FK UGM merupakan proses pendidikan yang berbasis kompetensi. Penilaian diperlukan sebagai bentuk dari evaluasi hasil belajar yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berbahaya, salah satunya medical error atau kesalahnan medis. Di satu sisi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini yang paling dibutuhkan dalam dunia kesehatan adalah kerja sama tim antar sesama profesi kesehatan. Keselamatan dan kualitas pelayanan kesehatan bergantung
Tri haryatmo LPPKS. Mengembangkan strategi pembelajaran dan Penyusunan Evaluasi. Deskripsi Tugas
Deskripsi Tugas Tri haryatmo LPPKS Buatlah sebuah resume dari semua bahan bacaan yang terdapat pada sub materi ini dalam sebuah paragraf. Kriteria Resume 1. Memiliki ide utama yang didukung oleh penjelasan
LAPORAN WORKSHOP NASIONAL ITEM DEVELOPMENT OSCE KEDOKTERAN
LAPORAN WORKSHOP NASIONAL ITEM DEVELOPMENT OSCE KEDOKTERAN Hotel Grand Aquila Bandung, 17 18 Mei 2010 Direktorat Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional WORKSHOP
D3 Rekam Medis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada
TANTANGAN PEREKAM MEDIS DALAM IMPLEMENTASI REKAM MEDIS ELEKTRONIK Widiya Oktamiyani D3 Rekam Medis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada [email protected] I. LATAR BELAKANG Rumah sakit
BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. B. Definisi Operasional Variabel Penelitian
28 BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel Penelitian : Komitmen Organisasi B. Definisi Operasional Variabel Penelitian Komitmen organisasi adalah keinginan yang kuat untuk
Pengembangan Instrumen Penilaian Kinerja pada Praktikum Struktur dan Fungsi Sel Di SMA Negeri 1 Kota Jambi
Pengembangan Instrumen Penilaian Kinerja pada Praktikum Struktur dan Fungsi Sel Di SMA Negeri 1 Kota Jambi The Development of Performance-Assessment Instrument on Cell Structure and Function Experiment
PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNIN (PBL) DALAM KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNIN (PBL) DALAM KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI Amelia Dwi Fitri Bagian Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi Email: [email protected]
KEMAMPUAN CLINICAL REASONING PADA UJIAN OSCE MAHASISWA KEDOKTERAN TAHUN KETIGA
KEMAMPUAN CLINICAL REASONING PADA UJIAN OSCE MAHASISWA KEDOKTERAN TAHUN KETIGA Diani Puspa Wijaya 1 1 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia E-mail: [email protected] Abstract Background: Clinical
POTRET CAPAIAN IMPLEMENTASI KOMPONEN 2 Periode Januari - April 2012
POTRET CAPAIAN IMPLEMENTASI KOMPONEN 2 Periode Januari - April 2012 Tri Hanggono Achmad Health Professional Education Quality (HPEQ) Project Sistematika Presentasi n Overview Komponen 2 n Evaluasi Pencapaian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Kesiapan (readiness) terhadapinteprofesional Education (IPE)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Interprofesional Education (IPE) a. Kesiapan (readiness) terhadapinteprofesional Education (IPE) The Interprofesional Education for Collaborative Patient-Centered
Merancang Kegiatan Promosi Kesehatan Dengan Menilai Keterampilan Manajerial Mahasiswa Melalui Performance Based Assessment
Promotif, Vol.4 No.1, Okt 2014 Hal 61-71 Merancang Kegiatan Promosi Kesehatan Dengan Menilai Keterampilan Manajerial Mahasiswa Melalui Performance Based Assessment Herman Kurniawan Bagian Promosi Kesehatan
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Kualitas Pelayanan Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berpengaruh dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
KOMITE NASIONAL UJI KOMPETENSI PERAWAT PPNI
K N U K P KOMITE NASIONAL UJI KOMPETENSI PERAWAT PPNI Uji Kompetensi Bagian dari credentialing Penapisan seseorang disebut profesional oleh komunitas profesi berdasarkan standar profesi Credentialing professional
SKRIPSI Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai pemenuhan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran.
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DALAM MENGHADAPI OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE) DENGAN NILAI OSCE MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS SKRIPSI Diajukan ke Fakultas Kedokteran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. termasuk dalam kriteria inklusi pada penelitian ini, 15 responden untuk
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Validitas dan Realibilitas Pada penelitian kali ini dilakukan uji validasi dengan dilanjutkan uji realibilitas pada instrumen penelitian. Instrumen penelitian
PANDUAN PROSES EVALUASI KINERJA STAF MEDIS RUMAH SAKIT UMUM AMINAH BLITAR TAHUN
PANDUAN PROSES EVALUASI KINERJA STAF MEDIS RUMAH SAKIT UMUM AMINAH BLITAR TAHUN 2014-2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit adalah lembaga yang memberikan pelayanan klinik dengan badan dan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset/DPPKA karena dinas inilah yang bertugas merumuskan kebijakan teknis,
RINGKASAN. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Menggunakan Second Order Confirmatory Factor Analysis pada Penelitian Kesehatan Gigi dan Mulut
RINGKASAN Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Menggunakan Second Order Confirmatory Factor Analysis pada Penelitian Kesehatan Gigi dan Mulut Salah satu masalah utama penelitian adalah memperoleh data
24/08/2012. Apa SP? Orang-orang yang terlatih untuk menjadi pasien untuk tujuan mendidik dan mengevaluasi peserta didik
Apa SP? Orang-orang yang terlatih untuk menjadi pasien untuk tujuan mendidik dan mengevaluasi peserta didik 1 Standardized karena... 1. SP dilatih untuk bertindak dan bereaksi dengan cara yang spesifik
KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA MAN 2 JEMBER YANG MEMILIKI GAYA BELAJAR VISUAL
Jurnal Gammath, Volume I Nomor 2, September 2016 KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA MAN 2 JEMBER YANG MEMILIKI GAYA BELAJAR VISUAL Mohammad Jupri 1, Zulfa Anggraini R 2, Christine Wulandari S 3 1 Universitas
BAB III METODE PENELITIAN
47 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian Syarat utama sebelum melakukan sebuah penelitian adalah menentukan variabel-variabel penelitian agar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. PBL merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana mahasiswa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PBL (Problem Based Learning) 1. Definisi PBL PBL merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana mahasiswa dihadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga diharapkan mahasiswa
Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract. Dinda Putri Amir 1, Detty Iryani 2, Laila Isrona 3
139 Artikel Penelitian Hubungan Tingkat Kecemasan dalam Menghadapi Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dengan Kelulusan OSCE pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Dinda Putri
Pengaruh Pemanfaatan E-Learning Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa (Studi Kasus STMIK Sinar Nusantara Surakarta) Sri Tomo, Bebas Widada ABSTRACT
Pengaruh Pemanfaatan E-Learning Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa (Studi Kasus STMIK Sinar Nusantara Surakarta) Sri Tomo, Bebas Widada ABSTRACT College are required to implement the learning process
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu keterampilan yang harus dikuasai perawat adalah mampu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemasangan Nasogastric tube (NGT) adalah metode pemenuhan nutrisi yang dilakukan dengan menggunakan selang yang dimasukkan melalui hidung melewati esofagus menuju ke
A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam sistem pelayanan kesehatan saat ini, patient-centered care menjadi konsep pelayanan dari hampir seluruh pemberi layanan kesehatan. Pelayanan dengan model
Abstrak. Abstract. Wijayanti, et al., Analisis Butir Soal Objektif UAS...
1 ANALISIS BUTIR SOAL BJEKTIF UAS SEMESTER GENAP KELAS VII PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) TAHUN PELAJARAN 2013/2014 DI SMP NEGERI 3 BALUNG Hani Wijayanti, Bambang Hari, Hety Mustika
LAPORAN WORKSHOP REGIONAL PASIEN STANDAR KEDOKTERAN WILAYAH I KOMPONEN 2 PROYEK HPEQ
LAPORAN WORKSHOP REGIONAL PASIEN STANDAR KEDOKTERAN WILAYAH I KOMPONEN 2 PROYEK HPEQ Hotel Aryaduta Medan, 20 21 September 2011 Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan
Keterampilan Komunikasi dalam Pendidikan Kedokteran
Keterampilan Komunikasi dalam Pendidikan Kedokteran Dr. dr. Herqutanto MPH, MARS Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI HP: 08161803969 Email: [email protected] Tujuan Sesi Membahas pentingnya keterampilan
Validasi Kuesioner Evaluasi Progress Test pada Mahasiswa Tahap Sarjana Kedokteran Universitas Islam Indonesia
Validasi Kuesioner Evaluasi Progress Test pada Mahasiswa Tahap Sarjana Kedokteran Yeny Dyah Cahyaningrum 1, Utami Mulyaningrum 1, Pravitasari 2 1 Medical Education Unit, Fakultas Kedokteran, 2 Tim Pelaksana
