MODUL STEBC 06 : KEBUTUHAN SUMBER DAYA
|
|
|
- Devi Oesman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PELATIHAN STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION PEKERJAAN (AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL STEBC 06 : KEBUTUHAN SUMBER DAYA 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI (PUSBIN-KPK) MyDoc/Pusbin-KPK/Draft1
2 KATA PENGANTAR Modul ini berisi bahasan tentang Kebutuhan Sumber Daya dalam pekerjaan konstruksi jembatan. Pengetahuan ini sangat bermanfaat dalam menunjang tugastugas ahli struktur pekerjaan jembatan untuk melaksanakan pekerjaan struktur jembatan berdasarkan gambar kerja sesuai dengan spesifikasi dan pengendalian waktu. Modul ini disusun dalam rangka membekali seorang ahli struktur pekerjaan jembatan untuk menyiapkan perhitungan volume pekerjaan dan menyiapkan kebutuhan peralatan, material dan tenaga kerja. Disadari bahwa buku ini masih cukup banyak kekurangannya, oleh karena itu berbagai masukan demi sempurnanya buku ini sangat diharapkan. Kepada siapapun yang berkenan untuk memberikan masukan termaksud, kami ucapkan banyak terima kasih. Jakarta, Desember 2006 Penyusun i
3 LEMBAR TUJUAN JUDUL PELATIHAN MODEL PELATIHAN : Pelatihan Ahli Struktur Pekerjaan Jembatan (Structure Engineer of Bridge Construction) : Lokakarya terstruktur TUJUAN UMUM PELATIHAN : Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu melaksanakan pekerjaan struktur jembatan berdasarkan gambar kerja sesuai dengan spesifikasi dan pengendalian waktu. TUJUAN KHUSUS PELATIHAN : Pada akhir pelatihan ini peserta diharapkan mampu: 1. Menerapkan ketentuan UUJK, mengawasi penerapan K3 dan memantau lingkungan selama pelaksanaan pekerjaan jembatan 2. Melakukan survey lapangan untuk memastikan kesesuaian gambar rencana dengan lokasi jembatan di lapangan. 3. Melakukan koordinasi dengan petugas/teknisi laboratorium di lapangan dalam rangka pengujian tanah dan material untuk pekerjaan pondasi, pekerjaan bangunan bawah dan pekerjaan bangunan atas. 4. Menyusun detail jadwal pelaksanaan pekerjaan struktur jembatan sesuai dengan urutan pelaksanaannya. 5. Meneliti kesesuaian gambar kerja dengan metode pelaksanaan yang akan digunakan dalam upaya memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan. 6. Menyiapkan perhitungan volume pekerjaan, penggunaan peralatan, material dan tenaga kerja yang diperlukan untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan. 7. Memecahkan permasalahan konstruksi yang mungkin timbul sesuai dengan metode pelaksanaan selama pekerjaan berjalan. 8. Mengorganisasi alat, bahan dan tenaga pekerjaan struktur jembatan dan membuat laporan. ii
4 NOMOR : STEBC 06 JUDUL MODUL : KEBUTUHAN SUMBER DAYA TUJUAN PELATIHAN : TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu menyiapkan perhitungan volume pekerjaan, penggunaan peralatan, material dan tenaga kerja yang diperlukan untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) Pada akhir pelatihan peserta mampu : 1. Menghitung volume pekerjaan sesuai dengan gambar kerja yang telah disetujui. 2. Menghitung kebutuhan peralatan sesuai dengan jadwal pelaksanaan dan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan 3. Menghitung kebutuhan material sesuai dengan jadwal pelaksanaan dan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan 4. Menghitung kebutuhan tenaga kerja sesuai dengan jadwal pelaksanaan dan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan. iii
5 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i LEMBAR TUJUAN... ii DAFTAR ISI... iv DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge Construction)... vii DAFTAR MODUL... viii PANDUAN INSTRUKTUR... ix BAB I : PENDAHULUAN BAB II : MENGHITUNG VOLUME PEKERJAAN 2.1 Volume Setiap Pekerjaan... II Volume Beton... II Volume Beton Pratekan... II Volume Baja Tulangan... II Volume Baja Struktur... II Volume Pemasangan Jembatan Rangka Baja... II Volume Tiang Pancang... II Volume Pondasi Sumuran... II Volume Adukan Semen... II Volume Pasangan Batu... II Volume Pasangan Batu Kosong Dan Bronjong... II Volume Sambungan Ekspansi (Expansion Joint)... II Volume Perletakan (Bearing)... II Volume Sandaran (Railing)... II Volume Papan Nama Jembatan... II-9 iv
6 Volume Pembongkaran Struktur... II Volume Galian Tanah... II Volume Timbunan Tanah... II Penyiapan Badan Jalan... II Volume Kumulatif Setiap Jenis Pekerjaan... II-14 BAB III : MENGHITUNG KEBUTUHAN PERALATAN 3.1 Jenis Dan Kapasitas Peralatan... III Pekerjaan Pondasi... III Pekerjaan Bangunan Bawah... III Pekerjaan Bangunan Atas... III Pekerjaan Jalan Pendekat... III Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Pengaman Jembatan... III Jumlah Alat Yang Dibutuhkan... III Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Peralatan... III Contoh Perhitungan Kebutuhan Jumlah Peralatan Pekerjaan Jembatan... III Perhitungan Koefisien Dump Truck... III Perhitungan Koefisien Concrete Mixer... III Perhitungan Koefisien Water Tank Truck... III Perhitungan Kebutuhan Jumlah Peralatan... III-24 BAB IV: MENGHITUNG KEBUTUHAN MATERIAL 4.1 Komponen Bahan... IV Penentuan Keperluan Bahan... IV Kuantitas Bahan... IV Volume Sesuai Spesifikasi Teknik dan Gambar Kerja... IV Volume Pemadatan Tanah dan Pasangan Batu dengan Adukan... IV Menghitung Volume Bahan Untuk Pembuatan Beton... IV Volume Sesuai Jadwal... IV-6 BAB V: MENGHITUNG KEBUTUHAN TENAGA KERJA 5.1 Komponen Tenaga Kerja... V-1 v
7 5.1.1 Produktivitas Tenaga Kerja... V Kualifikasi Tenaga Kerja Dan Komposisi Kelompok Kerja... V Jumlah Tenaga Kerja Sesuai Jenis Pekerjaan... V Komposisi Kelompok Kerja Dan Volume Produksi Per Hari... V Perhitungan Kebutuhan Kelompok Kerja... V Jumlah Tenaga Kerja Sesuai Jadwal Pelaksanaan... V Laporan Hasil Perhitungan... V Pengertian... V Maksud dan Tujuan... V Syarat Penyusunan Laporan... V Manfaat dan Konsekuensi... V Fungsi dan Syarat Laporan... V-20 RANGKUMAN DAFTAR PUSTAKA HAND OUT vi
8 DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge Construction) 1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Ahli Struktur Pekerjaan Jembatan (Structure Engineer of Bridge Construction) dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kerja sehingga dalam Pelatihan Ahli Struktur Pekerjaan Jembatan (Structure Engineer of Bridge Construction) unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan. 2. Standar Latih Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut. 3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Ahli Struktur Pekerjaan Jembatan (Structure Engineer of Bridge Construction). vii
9 DAFTAR MODUL Nomor Modul Jabatan Kerja : Kode Ahli Struktur Pekerjaan Jembatan (Structure Engineer of Bridge Construction/STEBC) Judul Modul 1 STEBC 01 UUJK, K3 dan Pemantauan Lingkungan 2 STEBC 02 Survey Lapangan Pekerjaan Jembatan 3 STEBC 03 Pengujian Tanah dan Material 4 STEBC 04 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan 5 STEBC 05 Gambar Kerja Pekerjaan Jembatan 6 STEBC 06 Kebutuhan Sumber Daya 7 STEBC 07 Permasalahan Pelaksanaan Jembatan 8 STEBC 08 Metode Pelaksanaan Jembatan viii
10 PANDUAN INSTRUKTUR A. BATASAN NAMA PELATIHAN : AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge Construction ) KODE MODUL : STEBC - 06 JUDUL MODUL : KEBUTUHAN SUMBER DAYA DESKRIPSI : Materi ini berisi tentang volume pekerjaan sesuai dengan gambar kerja yang telah disetujui, kebutuhan peralatan sesuai dengan jadwal pelaksanaan dan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan, kebutuhan material sesuai dengan jadwal pelaksanaan dan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan, kebutuhan tenaga kerja sesuai dengan jadwal pelaksanaan dan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan yang memang penting untuk diajarkan pada suatu pelatihan bidang jasa konstruksi sehingga perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pekerjaan konstruksi betul-betul dapat dikerjakan dengan penuh tanggung jawab yang berazaskan efektif dan efisien, nilai manfaatnya dapat mensejahteraan bangsa dan negara. TEMPAT KEGIATAN : Ruangan Kelas lengkap dengan fasilitasnya. WAKTU PEMBELAJARAN : 8 (Delapan) Jam Pelajaran (JP) (1 JP = 45 Menit) ix
11 B. KEGIATAN PEMBELAJARAN Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung 1. Ceramah Pembelajaran Pengantar Menjelaskan TIU dan TIK serta pokok pembahasan Merangsang motivasi peserta untuk mengerti/memahami dan membandingkan pengalamannya Bab I (Pendahuluan) Waktu = 10 menit Mengikuti penjelasan, pengantar, TIU,TIK, dan pokok bahasan. Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan pengalaman OHT 2. Ceramah Bab II Menghitung Volume Pekerjaan menjelaskan mengenai : Volume setiap pekerjaan Volume kumulatif setiap jenis pekerjaan Waktu = 90 menit 3. Ceramah Bab III Menghitung Kebutuhan Peralatan menjelaskan mengenai : Jenis dan kapasitas peralatan Jumlah alat yang dibutuhkan Waktu = 80 menit 4. Ceramah Bab IV Menghitung Kebutuhan Material, meliputi : Komponen Bahan Volume Sesuai Spesifikasi Teknik dan Gambar Kerja Volume Pemadatan Tanah dan Pasangan Batu dengan Adukan Menghitung Volume Bahan Untuk Pembuatan Beton Volume Sesuai Jadwal Waktu = 90 menit 5. Ceramah Bab V Menghitung Kebutuhan Tenaga Kerja, meliputi : Komponen Tenaga Kerja Jumlah Tenaga Kerja Sesuai Jenis Pekerjaan Jumlah Tenaga Kerja Sesuai Jadwal Pelaksanaan Laporan Hasil Perhitungan Waktu = 90 menit Mengikuti ceramah dengan tekun dan memperhatikan hal-hal penting yang perlu di catat Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan fakta dilapangan dan atau pengalaman Mengikuti ceramah dengan tekun dan memperhatikan hal-hal penting yang perlu di catat Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan fakta dilapangan dan atau pengalaman Mengikuti ceramah dengan tekun dan memperhatikan hal-hal penting yang perlu di catat Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan fakta dilapangan dan atau pengalaman Mengikuti ceramah dengan tekun dan memperhatikan hal-hal penting yang perlu di catat Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan fakta dilapangan dan atau pengalaman OHT OHT OHT OHT x
12 Bab I: Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN Seorang ahli struktur pekerjaan jembatan diharapkan mampu menyiapkan perhitungan volume pekerjaan, penggunaan peralatan, material dan tenaga kerja yang diperlukan untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan. Dalam pekerjaan struktur jembatan, perhitungan volume pekerjaan dan volume kumulatif setiap jenis pekerjaan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menghitung volume setiap pekerjaan (volume beton, beton pratekan, baja tulangan, baja struktur, volume pemasangan jembatan rangka baja, volume tiang pancang, volume pondasi sumuran, volume adukan semen, volume Pasangan Batu, Volume Pasangan Batu Kosong Dan Bronjong, Volume Sambungan Ekspansi (Expansion Joint), Volume Perletakan (Bearing), volume Sandaran (Railing), Volume Papan Nama Jembatan, Volume Pembongkaran Struktur, Volume Galian Tanah, Volume Timbunan Tanah, Penyiapan Badan Jalan). Pelaksanaan pekerjaan struktur jembatan memerlukan alat-alat berat, alat-alat laboratorium dan alat-alat bantu lainnya. Kebutuhan alat-alat berat dan peralatan lainnya mulai dari kebutuhan untuk pekerjaan pondasi, pekerjaan bangunan bawah, pekerjaan bangunan atas, pekerjaan jalan pendekat, pekerjaan bangunan pelengkap dan pengaman jembatan. Masing-masing jenis pekerjaan memerlukan peralatan-peralatan yang berbeda, sesuai dengan fungsi-fungsi yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan di maksud sesuai dengan Spesifikasi Teknis yang dijadikan acuan. Volume kebutuhan bahan untuk tiap-tiap mata pembayaran pekerjaan, maka harus dibuat perhitungan bahan sesuai dengan spesifikasi teknis dalam dokumen lelang dan metode kerja yang digunakan. Dalam menentukan keperluan bahan perlu diperhitungkan pula adanya faktor kehilangan akibat pengerjaan atau angkutan. Perhitungan volume didasarkan atas hasil pekerjaan di lapangan yang proses pengerjaannya dibuat setelah kontraktor menyiapkan gambar kerja. Dalam menghitung kebutuhan bahan dengan memperhatikan persyaratan-persyaratan yang diatur di dalam Spesifikasi Teknik. Untuk dapat menghitung seluruh kebutuhan volume bahan untuk pekerjaan jembatan, maka perhitungan bahan harus dilakukan untuk seluruh item pekerjaan yang ada di dalam kontrak. Kapan dan berapa volume bahanbahan untuk setiap item pekerjaan tersebut harus disiapkan, tergantung pada jadwal rencana pelaksanaan. Volume pekerjaan atau sering disebut bill of quantity, dihitung I-1
13 Bab I: Pendahuluan berdasarkan drawings dan data-data teknis lainnya yang digunakan, dengan prosedur sesuai Spesifikasi Teknis. Dari volume setiap item pekerjaan akan dapat dihitung, jenis bahan-bahan apa yang diperlukan, berapa total volume untuk masing-masing bahan, dan kapan harus disediakan/disiapkan, semuanya tergantung pada jadwal rencana pelaksanaan. Salah satu cara untuk menentukan produktifitas tenaga kerja adalah melalui survei lapangan, ialah pengamatan terhadap tenaga kerja yang bekerja untuk berbagai jenis pekerjaan yang sedang berlangsung di lapangan. Pengamatan atau observasi adalah merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan data tentang tenaga kerja yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui proses pengamatan dan pencatatan terhadap gejala-gejala yang diselidiki. Menurut James E. Gardner dalam Training Intervention in Job Skill Development, keterampilan diperoleh seseorang melalui latihan/pengalaman dari kemampuan mental, fisik dan sosial, sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. I-2
14 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan BAB II MENGHITUNG VOLUME PEKERJAAN 2.1 VOLUME SETIAP PEKERJAAN VOLUME BETON Cara Pengukuran Beton akan diukur dengan jumlah meter kubik pekerjaan beton yang digunakan dan diterima sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan pada Gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Tidak ada pengurangan yang akan dilakukan untuk volume yang ditempati oleh pipa dengan garis tengah kurang dari 20 cm atau oleh benda lainnya yang tertanam seperti "water stop", baja tulangan, selongsong pipa (conduit) atau lubang sulingan (weephole). Tidak ada pengukuran tambahan atau yang lainnya yang akan dilakukan untuk cetakan, perancah untuk balok dan lantai pemompaan, penyelesaian akhir permukaan, penyediaan pipa sulingan, pekerjaan pelengkap lainnya untuk penyelesaian pekerjaan beton, dan biaya dari pekerjaan tersebut telah dianggap termasuk dalam harga penawaran untuk Pekerjaan Beton. Tidak ada pengukuran dan pembayaran tambahan yang akan dilakukan untuk pelat (plate) beton pracetak untuk acuan yang terletak di bawah lantai (slab) beton Pekerjaan semacam ini dianggap telah termasuk di dalam harga penawaran untuk beton sebagai acuan. Kuantitas bahan untuk landasan, bahan drainase porous, baja tulangan dan mata pembayaran lainnya yang berhubungan dengan struktur yang telah selesai dan diterima akan diukur untuk dibayarkan seperti disyaratkan dalam pada Seksi lain dalam Spesifikasi ini. Beton yang telah dicor dan diterima harus diukur dan dibayar sebagai beton struktur atau beton tidak bertulang. Beton Struktur haruslah beton yang disyaratkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebagai K250 atau lebih tinggi dan Beton Tak Bertulang haruslah beton yang disyaratkan atau disetujui untuk K175 atau K125. Bilamana beton dengan mutu (kekuatan) yang lebih tinggi diperkenankan untuk digunakan di lokasi untuk mutu (kekuatan) beton yang lebih rendah, maka volumenya harus diukur sebagai beton dengan mutu (kekuatan) yang lebih rendah. II-1
15 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan Pengukuran Untuk Pekerjaan Beton Yang Diperbaiki Bilamana pekerjaan telah diperbaiki kuantitas yang akan diukur untuk pembayaran haruslah sejumlah yang harus dibayar bila mana pekerjaan semula telah memenuhi ketentuan. Tidak ada pembayaran tambahan akan dilakukan untuk tiap peningkatan kadar semen atau setiap bahan tambah (aditif), juga tidak untuk tiap pengujian atau pekerjaan tambahan atau bahan pelengkap lainnya yang diperlukan untuk mencapai mutu yang disyaratkan untuk pekerjaan beton VOLUME BETON PRATEKAN Cara Pengukuran Unit Beton Pratekan Pracetak Kuantitas yang diukur untuk pembayaran, harus merupakan jumlah aktual unit-unit beton struktur pracetak pratekan, kecuali tiang pancang, dari berbagai jenis dan ukuran yang dipasang di tempat, selesai dikerjakan dan diterima. Setiap unit harus mencakup beton, baja tulangan, acuan dan baja pra-tegang bersama dengan selongsong, jangkar, pelat, mur, alat pengangkat, dan bahan-bahan lain yang terdapat di dalamnya atau disertakan pada unit-unit tersebut. Fabrikasi dan pemancangan tiang pancang harus diukur terpisah sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi. Pekerjaan Cor Langsung Di Tempat Dengan Penegangan Setelah Pengecoran (posttension) Beton harus diukur sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi dan baja tulangan juga harus diukur sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi serta baja pra-tegang harus diukur sebagai berat baja pra-tegang teoritis dalam kilogram. Pengukuran ini harus diambil sebagai berat dari untaian (strand) atau batang (bar) yang diukur antara tepi luar penjangkaran, dan tidak boleh mencakup berat selongsong, jangkar, dan sebagainya. Unit-unit yang Ditolak Unit-unit yang telah ditolak karena beton tidak memenuhi ketentuan, tidak boleh diukur untuk pembayaran VOLUME BAJA TULANGAN Cara Pengukuran Baja tulangan akan diukur dalam jumlah kilogram terpasang dan diterima oleh Direksi Pekerjaan. Jumlah kilogram yang dipasang harus dihitung dari panjang aktual yang II-2
16 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan dipasang, atau luas anyaman baja yang dihampar, dan satuan berat dalam kilogram per meter panjang untuk batang atau kilogram per meter persegi luas anyaman. Satuan berat yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan akan didasarkan atas berat nominal yang disediakan oleh pabrik baja, atau bila Direksi Pekerjaan memerintahkan, atas dasar pengujian penimbangan yang dilakukan Kontraktor pada contoh yang dipilih oleh Direksi Pekerjaan. Penjepit, pengikat, pemisah atau bahan lain yang digunakan untuk penempatan atau pengikatan baja tulangan pada tempatnya tidak akan dimasukkan dalam berat untuk pembayaran. Penulangan yang digunakan untuk gorong-gorong beton bertulang atau struktur lain di mana pembayaran terpisah untuk struktur yang lengkap telah disediakan dalam Seksi lain dari Spesifikasi ini, tidak boleh diukur untuk pembayaran menurut Seksi ini VOLUME BAJA STRUKTUR Cara Pengukuran Kuantitas baja struktur yang akan diukur untuk pembayaran sebagai jumlah dalam kilogram pekerjaan yang telah selesai di tempat dan diterima. Untuk menghitung berat nominal dari baja roll atau besi tuang, maka bahan-bahan tersebut dianggap mempunyai berat volume kilogram per meter kubik. Berat logam lainnya harus sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Berat bahan yang dihitung harus merupakan berat nominal dari pekerjaan baja yang telah selesai dikerjakan, terdiri dari pelat, bagian-bagian yang dirol, penghubung geser (shear connector), pengaku, penjepit, paking, pelat sam-bungan dan semua perlengkapan, tanpa adanya kelonggaran untuk keuntungan sampingan dan penyimpangan yang diijinkan lainnya atas berat standar atau dimensi nominal dan termasuk berat las, fillet, baut, mur, ring, kepala paku keliling dan lapisan pelindung. Tidak ada pengurangan yang dibuat untuk pena-kikan, lubang baut dan lubang paku keling dan sebagainya dengan luas kurang dari 0,03 m 2. Pengecatan atau lapisan pelindung lainnya tidak akan dibayar, biaya pekerjaan ini dianggap telah termasuk dalam harga penawaran untuk pekerjaan baja struktur VOLUME PEMASANGAN JEMBATAN RANGKA BAJA Cara Pengukuran Pemasangan Struktur Jembatan Rangka Baja Pemasangan struktur jembatan rangka baja harus diukur untuk pembayaran dalam jumlah total kilogram struktur baja yang selesai dikerjakan di tempat dan diterima oleh II-3
17 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan Direksi Pekerjaan. Berat masing-masing komponen harus diambil dari gambar kerja dan daftar komponen dari pabrik pembuat jembatan. Berat total struktur yang diukur untuk pembayaran harus dihitung sebagai berat semua komponen masing-masing baja yang digunakan dalam pemasangan struktur akhir, termasuk bagian-bagian baja fabrikasi, pelat, perletakan jembatan semi permanen, baut, mur, ring dan pengencang lainnya, dan lantai pra-fabrikasi lainnya, bilamana lantai ini termasuk dalam rancangan. Berat komponen baja yang digunakan selama operasi pemasangan yang bukan berasal dari bagian struktur akhir, termasuk komponen dan perlengkapan untuk struktur rangka pengimbang, rangka penjangkaran, kerangka pendongkrak, ujung peluncur, rol perakit dan sejenisnya tidak boleh dimasukkan dalam berat yang diukur untuk pembayaran. Bilamana lantai kayu disebutkan dalam gambar pelaksanaan atau oleh Direksi Pekerjaan, berat perlengkapan perangkat keras untuk lantai kayu tidak boleh dimasukkan dalam pengukuran untuk pemasangan. Pengangkutan dan Pengiriman Bahan Pengangkutan dan pengiriman dari semua bahan yang disediakan oleh Pemilik harus diukur dan dibayar dalam jumlah total kilogram. Pengukuran dan pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh kepada Kontraktor untuk pemeriksaan dan pencatatan seluruh bahan pada satu depot penyim-panan yang disebutkan dalam dokumen lelang atau lebih, untuk pengangkutan dan pengiriman bahan ke lokasi pekerjaan, termasuk semua operasi pemuatan dan penanganan selama pengangkutan, dan untuk pengembalian komponen yang hanya digunakan untuk sementara dalam kondisi yang baik ke depot penyimpanan yang ditentukan oleh Direksi Pekerjaan setelah pemasangan struktur jembatan rangka baja selesai. Pemasokan Komponen Pengganti Penggantian komponen yang hilang atau yang sangat rusak berat, tidak boleh diukur untuk pembayaran menurut Seksi ini. Kompensasi untuk pemasokan setiap komponen pengganti harus dibuat berdasarkan Baja Struktur sesuai dengan ketentuan dari Spesifikadi. Perbaikan Komponen Yang Rusak Perbaikan komponen yang rusak tidak boleh diukur untuk pembayaran menurut Seksi ini. Kontraktor akan menerima kompensasi untuk setiap pekerjaan perbaikan komponen yang rusak sesuai dengan ketentuan pengukuran dan pembayaran untuk pengembalian kondisi komponen baja sesuai ketentuan dari Spesifikasi. II-4
18 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan Lantai Kayu Jembatan Lantai kayu jembatan, bilamana diperlukan dalam gambar pelaksanaan atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, tidak boleh diukur untuk pembayaran menurut Seksi ini. Kompensasi untuk penyediaan, pemotongan, pengeboran, perawatan, penempatan, pemasangan dan penyelesaian lantai kayu harus sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi VOLUME TIANG PANCANG Pengukuran Cerucuk Cerucuk harus diukur untuk pembayaran dalam jumlah meter panjang untuk penyediaan dan pemancangan cerucuk memenuhi garis dan elevasi yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Dinding Turap Dinding turap kayu, baja atau beton yang permanen, harus diukur sebagai jumlah dalam meter persegi yang dipasang memenuhi garis dan elevasi yang ditunjukkan pada Gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Luas dinding turap merupakan panjang turap yang diukur dari ujung turap sampai elevasi bagian puncak turap yang dipotong, dikalikan dengan panjang struktur yang diukur pada elevasi bagian puncak turap yang dipotong. Batang tarik, tiang jangkar atau balok, balok ganjal dasar dan sebagainya yang ditunjukkan dalam Gambar tidak akan diukur untuk pembayaran. Dinding turap sementara, dalam bahan apapun untuk cofferdam, pengendalian drainase, penahan lereng galian atau penggunaan tidak permanen lainnya tidak akan diukur untuk pembayaran, tetapi harus dianggap telah dicakup dalam berbagai mata pembayaran untuk galian, drainase, struktur dan lain-lain. Penyediaan Tiang Pancang Satuan pengukuran untuk pembayaran tiang pancang kayu dan beton pracetak (bertulang atau pratekan) harus diukur dalam meter kubik dari tiang pancang yang disediakan dalam berbagai panjang dari setiap ukuran dan jenisnya. Tiang pancang baja diukur dalam kilogram dari tiang pancang yang disediakan dalam berbagai panjang dari setiap ukuran dan jenisnya. Dalam segala hal, jenis dan panjang yang diukur adalah sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, disediakan sesuai dengan ketentuan bahan II-5
19 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan dari Spesifikasi ini dan disususn dalam kondisi baik di lapangan dan diterima oleh Direksi Pekerjaan. Kuantitas dalam meter kubik atau kilogram yang akan dibayar, termasuk panjang tiang uji dan tiang tarik yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, tetapi tidak termasuk panjang yang disediakan menurut pendapat Kontraktor. Tiang pancang yang disediakan oleh Kontraktor, termasuk tiang uji tidak diijin-kan untuk menggantikan tiang pancang yang telah diterima sebelumnya oleh Direksi Pekerjaan, yang ternyata kemudian hilang atau rusak sebelum penyelesaian Kontrak selama penumpukan atau penanganan atau pemancangan, dan akan yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan untuk disingkirkan dari tempat pekerjaan atau dibuang dengan cara lain. Bilamana perpanjangan tiang pancang diperlukan, panjang perpanjangan akan dihitung dalam meter kubik atau kilogram, dan akan diukur untuk pembayaran. Baja tulangan dalam beton, penyetelan, sepatu dan penyambungan bilamana diperlukan, acuan tidak akan diukur untuk pembayaran. Bilamana Kontraktor mengecor tiang pancang beton pracetak lebih panjang dari yang diperlukan, sebagaimana seluruh panjang baja tulangan untuk memudah-kan pemancangan, maka tidak ada pengukuran untuk bagian beton yang harus dibongkar supaya agar batang baja tulangan itu dapat dimasukkan ke dalam struktur yang mengikatnya. Pemancangan Tiang Pancang Tiang pancang kayu, baja dan beton akan diukur untuk pemancangan sebagai jumlah meter panjang dari tiang pancang yang diterima dan tertinggal dalam struktur yang telah selesai. Panjang dari masing-masing tiang pancang harus diukur dari ujung tiang pancang sampai sisi bawah pur (pile cap) untuk tiang pancang yang seluruh panjangnya masuk ke dalam tanah, atau dari ujung tiang pancang sampai permukaan tanah untuk tiang pancang yang hanya sebagian panjangnya masuk ke dalam tanah. Tiang Bor Beton Cor Langsung Di Tempat Pengukuran tiang bor beton cor langsung di tempat harus merupakan jumlah aktual dalam meter panjang tiang bor yang telah selesai dibuat dan diterima sebagai suatu struktur. Panjang untuk pembayaran harus diukur dari ujung tiang bor sebagaimana yang dibuat atau disetujui lain oleh Direksi Pekerjaan, sampai elevasi bagian atas tiang bor II-6
20 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan yang akan dipotong seperti ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang dirancang oleh Direksi Pekerjaan. Pelaksanaan Tiang Bor Beton Cor Langsung Di Tempat Yang Berair Pengukuran untuk biaya tambahan terhadap tiang bor beton cor langsung di tempat yang dilaksanakan di bawah air harus dihitung dalam meter panjang, dari ujung tiang bor yang dirancang atau disetujui sampai elevasi bagian atas tiang bor yang akan dipotong bilamana kepala tiang bor berada di bawah permukaan air normal. Bilamana elevasi bagian atas tiang bor yang akan dipotong di atas permukaan air normal, panjang yang dihitung harus dari ujung tiang bor yang dirancang atau disetujui sampai elevasi permukaan air normal. Tiang Uji Tiang uji akan diukur dengan cara yang sama, untuk penyediaan dan peman-cangan seperti yang diuraikan dalam Penyediaan Tiang Pancang dan Pemancangan Tiang di atas VOLUME PONDASI SUMURAN Cara Pengukuran Kuantitas sumuran yang disediakan sesuai dengan ketentuan bahan dalam Spesifikasi ini diukur untuk pembayaran, haruslah jumlah panjang sumuran dalam meter seperti yang ditunjukkan dalam Gambar dan diperintahkan secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan. Satuan pengukuran untuk penurunan sumuran haruslah jumlah meter panjang penurunan yang diterima, diukur dari tumit sumuran sampai sisi dasar pondasi telapak. Tidak ada pengukuran terpisah untuk pembayaran yang akan dilakukan untuk penggalian, pemompaan, acuan dan setiap pekerjaan sementara untuk pembuatan sumuran, dimana semua pekerjaan tersebut dipandang telah termasuk dalam pengukuran dan pembayaran sumuran VOLUME ADUKAN SEMEN Adukan semen tidak akan diukur untuk pembayaran yang terpisah. Pekerjaan ini harus dianggap sebagai pelengkap terhadap berbagai jenis pekerjaan yang diuraikan dalam Spesifikasi ini dan biaya dari pekerjaan telah termasuk dalam Harga Kontrak yang telah dimasukan dalam berbagai mata pembayaran. II-7
21 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan VOLUME PASANGAN BATU Pengukuran untuk Pembayaran Pasangan batu harus diukur untuk pembayaran dalam meter kubik sebagai volume pekerjaan yang diselesaikan dan diterima, dihitung sebagai volume teoritis yang ditentukan oleh garis dan penampang yang disyaratkan dan disetujui. Setiap bahan yang dipasang sampai melebihi volume teoritis yang disetujui harus tidak diukur atau dibayar. Landasan rembes air (permeable bedding), penimbunan kembali dengan bahan porous atau kantung penyaring harus diukur dan dibayar sebagai Drainase Porous, seperti yang disebutkan dalam Spesifikasi. Tidak ada pengukuran atau pembayaran terpisah yang harus dilakukan untuk penyediaan atau pemasangan lubang sulingan atau pipa, juga tidak untuk acuan lainnya atau untuk galian dan penimbunan kembali yang diperlukan VOLUME PASANGAN BATU KOSONG DAN BRONJONG Cara Pengukuran Kuantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah jumlah meter kubik dari bronjong atau pasangan batu kosong lengkap di tempat dan diterima. Dimensi yang digunakan untuk menghitung kuantitas ini haruslah dimensi nominal dari masing-masing keranjang bronjong atau pasangan batu kosong seperti yang diuraikan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan VOLUME SAMBUNGAN EKSPANSI (EXPANSION JOINT) Cara Pengukuran Suatu pengukuran struktur sambungan ekspansi akan berupa jumlah meter panjang sambungan yang selesai dipasang di tempat dan diterima. Waterstops, bahan pengisi sambungan ekspansi pracetak, penutup sambungan pracetak, dan penutup sambungan elastis yang dituang tidak akan diukur jika tidak ditentukan dalam mata pembayaran yang terpisah dalam Daftar Kuantitas dan Harga. Bahan pengisi sambungan untuk sambungan konstruksi pada pelebaran lantai jembatan akan diukur dan dibayar secara terpisah VOLUME PERLETAKAN (BEARING) Cara Pengukuran Kuantitas perletakan logam akan dihitung berdasarkan jumlah setiap jenis perletakan yang dipasang dan diterima. II-8
22 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan Kuantitas bantalan perletakan akan dihitung berdasarkan jumlah tiap jenis, ukuran dan ketebalan bantalan yang selesai dikerjakan di tempat dan diterima. Perletakan strip akan diukur sebagai jumlah meter panjang yang selesai dikerjakan di tempat dan diterima VOLUME SANDARAN (RAILING) Cara Pengukuran Sandaran baja harus diukur untuk pembayaran dalam jumlah meter panjang sandaran dari jenis yang ditunjukkan dalam Gambar, selesai di tempat dan diterima. Pengukuran harus dilaksanakan sepanjang permukaan elemen-elemen sandaraan antara pusat-pusat tiang tepi dan harus termasuk semua tiang-tiang bagian tengah, penyangga sandaran dan elemen-elemen ujung. Tidak ada pembayaran tersendiri yang dibuat untuk pelat dasar, baut pemegang, panel-panel yang dimasukkan dan setiap perlengkapan lain yang diperlukan untuk menyelesaikan sandaran. Untuk tangga, pengukuran dilaksanakan dalam meter panjang yang diambil sepanjang permukaan atas pegangan (hand rail) VOLUME PAPAN NAMA JEMBATAN Pengukuran Kuantitas yang dibayar adalah jumlah aktual papan nama jembatan yang telah selesai dipasang dan diterima oleh Direksi Pekerjaan VOLUME PEMBONGKARAN STRUKTUR Cara Pengukuran Kuantitas yang dihitung untuk pembongkaran untuk semua jenis bahan harus berdasarkan jumlah aktual dari hasil pembongkaran dalam meter kubik, kecuali untuk pembongkaran bangunan gedung, pembongkaran rangka baja, pembongkaran lantai jembatan kayu, pembongkaran jembatan kayu dalam meter persegi dan pembongkaran batangan baja dalam meter panjang. Untuk pengangkutan hasil bongkaran ke tempat penyimpanan atau pembuangan yang melebihi 5 km harus dibayar per kubik meter per kilometer. II-9
23 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan VOLUME GALIAN TANAH Galian Yang Tidak Diukur Untuk Pembayaran Sebagian besar pekerjaan galian dalam Kontrak tidak akan diukur dan dibayar menurut Seksi ini, pekerjaan tersebut dipandang telah dimasukkan ke dalam harga penawaran untuk berbagai macam bahan konstruksi yang dihampar di atas galian akhir, seperti pasangan batu (stone masonry) dan gorong-gorong pipa. Jenis galian yang secara spesifik tidak dimasukkan untuk pengukuran dalam Seksi ini adalah : Galian di luar garis yang ditunjukkan dalam profil dan penampang melintang yang disetujui tidak akan dimasukkan dalam volume yang diukur untuk pembayaran kecuali bilamana : Galian diperlukan untuk membuang bahan yang lunak atau tidak memenuhi syarat, atau untuk membuang batu atau bahan keras lainnya seperti yang disyaratkan dalam Spesifikasi; Galian diperlukan sebagai pekerjaan tambah, sebagai akibat dari longsoran lereng atau struktur sementara penahan tanah atau air (seperti penyokong, pengaku, atau cofferdam) yang sebelumnya telah diterima oleh Direksi Pekerjaan secara tertulis. Pekerjaan galian untuk selokan drainase dan saluran air, kecuali untuk galian batu, tidak akan diukur untuk pembayaran menurut Seksi ini. Pengukuran dan Pembayaran harus dilaksanakan menurut Seksi 2.1 dari Spesifikasi. Pekerjaan galian yang dilaksanakan untuk pemasangan gorong-gorong pipa, tidak akan diukur untuk pembayaran, kompensasi dari pekerjaan ini dipandang telah dimasukkan ke dalam berbagai harga satuan penawaran untuk masing-masing bahan tersebut, sesuai dengan Seksi 2.3 dari Spesifikasi. Pekerjaan galian yang dilaksanakan dalam pengembalian kondisi (reinstatement) perkerasan lama tidak akan diukur untuk pembayaran, kompensasi untuk pekerjaan ini telah dimasukkan dalam berbagai harga satuan penawaran yang untuk masing-masing bahan yang digunakan pada operasi pengembalian kondisi sesuai dengan Seksi 8.1 dari Spesifikasi. Galian untuk pengembalian kondisi bahu jalan dan pekerjaan minor lainnya, kecuali untuk galian batu, tidak akan dibayar menurut Seksi ini. Pengukuran dan pembayaran akan dilaksanakan sesuai Seksi 8.2 dari Spesifikasi. Galian yang diperlukan untuk operasi pekerjaan pemeliharaan rutin tidak akan diukur untuk pembayaran, kompensasi untuk pekerjaan ini telah termasuk dalam harga penawaran dalam lump sum untuk berbagai operasi pemeliharaan rutin yang tercakup dalam Seksi 10.1 dari Spesifikasi. II-10
24 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan Pekerjaan galian yang dilaksanakan untuk memperoleh bahan konstruksi dari sumber bahan (borrow pits) atau sumber lainnya di luar batas-batas daerah kerja tidak boleh diukur untuk pembayaran, biaya pekerjaan ini dipandang telah dimasukkan dalam harga satuan penawaran untuk timbunan atau bahan perkerasan. Pekerjaan galian dan pembuangan yang diuraikan dalam Spesifikasi ini selain untuk tanah, batu dan bahan perkerasan lama, tidak akan diukur untuk pembayaran, kompensasi untuk pekerjaan ini telah dimasukkan dalam berbagai harga satuan penawaran yang untuk masing-masing operasi pembongkaran struktur lama sesuai dengan Seksi 7.15 dari Spesifikasi. Pengukuran Galian Untuk Pembayaran Pekerjaan galian di luar ketentuan seperti di atas harus diukur untuk pembayaran sebagai volume di tempat dalam meter kubik bahan yang dipindahkan, setelah dikurangi bahan galian yang digunakan dan dibayar sebagai timbunan biasa atau timbunan pilihan dengan faktor penyesuaian berikut ini : Bahan Galian Biasa yang dipakai sebagai timbunan harus dibagi dengan penyusutan (shrinkage) sebesar 0,85. Bahan Galian Batu yang dipakai sebagai timbunan harus dibagi dengan faktor pengembangan (swelling) 1,2. Dasar perhitungan ini haruslah gambar penampang melintang profil tanah asli sebelum digali yang telah disetujui dan gambar pekerjaan galian akhir dengan garis, kelandaian dan elevasi yang disyaratkan atau diterima. Metode perhitungan haruslah metode luas ujung rata-rata, menggunakan penampang melintang pekerjaan dengan jarak tidak lebih dari 25 meter. Pekerjaan galian yang dapat dimasukkan untuk pengukuran dan pembayaran menurut Seksi ini akan tetap dibayar sebagai galian hanya bilamana bahan galian tersebut tidak digunakan dan dibayar dalam Seksi lain dari Spesifikasi ini. Bilamana bahan galian dinyatakan secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan dapat digunakan sebagai bahan timbunan, namun tidak digunakan oleh Kontraktor sebagai bahan timbunan, maka volume bahan galian yang tidak terpakai ini dan terjadi semata-mata hanya untuk kenyamanan Kontraktor dengan exploitasi sumber bahan (borrow pits) tidak akan dibayar. Pekerjaan galian struktur yang diukur adalah volume dari prisma yang dibatasi oleh bidang-bidang sebagai berikut : Bidang atas adalah bidang horisontal seluas bidang dasar pondasi yang melalui titik terendah dari terain tanah asli. Di atas bidang horisontal ini galian II-11
25 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan tanah diperhitungkan sebagai galian biasa atau galian batu sesuai dengan sifatnya. Bidang bawah adalah bidang dasar pondasi. Bidang tegak adalah bidang vertikal keliling pondasi. Pengukuran volume tidak diperhitungkan di luar bidang-bidang yang diuraikan di atas atau sebagai pengembangan tanah selama pemancangan, tambahan galian karena kelongsoran, bergeser, runtuh atau karena sebab-sebab lain. Pekerjaan galian perkerasan beraspal yang dilaksanakan di luar ketentuan Seksi 8.1 Pengembalian Kondisi (Reinstatement) Perkerasan Lama, harus diukur untuk pembayaran sebagai volume di tempat dalam meter kubik bahan yang digali dan dibuang. Pembuangan dan penggantian dengan material yang cocok bagi material di permukaan dasar hasil galian pada perkerasan beraspal yang lepas atau rusak atau lunak atau tergumpal atau hal hal lain yang tidak memenuhi syarat sebagaimana yang diuraikan pada artikel (5), akan diukur dan dibayar sesuai dengan seksi dalam spesifikasi yang terkait. Pengangkutan hasil galian ke lokasi pembuangan akhir atau lokasi timbunan sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan dengan jarak yang melebihi 5 km harus diukur untuk pembayaran sebagai volume di tempat dalam kubik meter bahan yang dipindahkan per jarak tempat penggalian sampai lokasi pembuangan akhir atau lokasi timbunan dalam kilometer VOLUME TIMBUNAN TANAH Pengukuran Timbunan Timbunan harus diukur sebagai jumlah kubik meter bahan terpadatkan yang diperlukan, diselesaikan di tempat dan diterima. Volume yang diukur harus berdasarkan gambar penampang melintang profil tanah asli yang disetujui atau profil galian sebelum setiap timbunan ditempatkan dan gambar dengan garis, kelandaian dan elevasi pekerjaan timbunan akhir yang disyaratkan dan diterima. Metode perhitungan volume bahan haruslah metode luas bidang ujung, dengan menggunakan penampang melintang pekerjaan yang berselang jarak tidak lebih dari 25 m. Timbunan yang ditempatkan di luar garis dan penampang melintang yang disetujui, termasuk setiap timbunan tambahan yang diperlukan sebagai akibat penggalian bertangga pada atau penguncian ke dalam lereng lama, atau sebagai akibat dari II-12
26 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan penurunan pondasi, tidak akan dimasukkan ke dalam volume yang diukur untuk pembayaran kecuali bila : Timbunan yang diperlukan untuk mengganti bahan yang tidak memenuhi ketentuan atau bahan yang lunak sesuai dengan Spesifikasi ini, atau untuk mengganti batu atau bahan keras lainnya yang digali menurut ktentuan dari Spesifikasi ini. Timbunan tambahan yang diperlukan untuk memperbaiki pekerjaan yang tidak stabil atau gagal bilamana Kontraktor tidak dianggap bertanggung-jawab menurut Spesifikasi ini. Bila timbunan akan ditempatkan di atas tanah rawa yang dapat diperkirakan terjadinya konsolidasi tanah asli. Dalam kondisi demikian maka timbunan akan diukur untuk pembayaran dengan salah satu cara yang ditentukan menurut pendapat Direksi Pekerjaan berikut ini : Dengan pemasangan pelat dan batang pengukur penurunan (settlement) yang harus ditempatkan dan diamati bersama oleh Direksi Pekerjaan dengan Kontraktor. Kuantitas timbunan dapat ditentukan berdasarkan elevasi tanah asli setelah penurunan (settlement). Pengukuran dengan cara ini akan dibayar menurut Mata Pembayaran 3.2.(2) dan hanya akan diperkenankan bilamana catatan settlement didokumentasi dengan baik. Dengan volume gembur yang diukur pada kendaraan pengangkut sebelum pembongkaran muatan di lokasi penimbunan. Kuantitas timbunan dapat ditentukan berdasarkan penjumlahan kuantitas bahan yang dipasok, yang diukur dan dicatat oleh Direksi Pekerjaan, setelah bahan di atas bak truk diratakan sesuai dengan bidang datar horisontal yang sejajar dengan tepitepi bak truk. Pengukuran dengan cara ini akan dibayar menurut Mata Pembayaran 3.2.(3) dan hanya akan diperkenankan bilamana kuantitas tersebut telah disahkan oleh Direksi Pekerjaan. Timbunan yang dihampar untuk mengganti tanah yang dibuang oleh Kontraktor untuk dapat memasang pipa, drainase beton, gorong-gorong, drainase bawah tanah atau struktur, tidak akan diukur untuk pembayaran dalam Seksi ini, dan biaya untuk pekerjaan ini dipandang telah termasuk dalam harga satuan penawaran untuk bahan yang bersangkutan, sebagaimana disyaratkan menurut Seksi lain dari Spesifikasi ini. Akan tetapi, timbunan tambahan yang diperlukan untuk mengisi bagian belakang struktur penahan akan diukur dan dibayar menurut Seksi ini. Timbunan yang digunakan dimana saja di luar batas Kontrak pekerjaan, atau untuk mengubur bahan sisa atau yang tidak terpakai, atau untuk menutup sumber bahan, tidak boleh dimasukkan dalam pengukuran timbunan. II-13
27 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan Drainase porous akan diukur menurut Seksi 2.4 dari Spesifikasi ini dan tidak akan termasuk dalam pengukuran dari Seksi ini PENYIAPAN BADAN JALAN Pengukuran Untuk Pembayaran Daerah jalur lalu lintas lama yang mengalami kerusakan parah, dimana operasi pengembalian kondisi yang disyaratkan dalam Seksi 8.1 atau Seksi 8.2 dari Spesifikasi ini dipandang tidak sesuai, akan digolongkan sebagai daerah yang ditingkatkan dan persiapan tanah dasar akan dibayar menurut Seksi ini sebagai daerah yang persiapan permukaan tanah dasarnya telah diterima oleh Direksi Pekerjaan. 2.2 VOLUME KUMULATIF SETIAP JENIS PEKERJAAN Volume setiap jenis pekerjaan sebagaimana dijelaskan di dalam Sub Bab 2.1. yang diperoleh dari seluruh kegiatan yang dicakup di dalam kontrak pekerjaan jembatan kemudian dijumlahkan dan dikelompokkan ke dalam nomor mata pembayaran yang diatur menurut Spesifikasi. Untuk jelasnya lihat tabel-tabel berikut : BETON Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.1.(1) Beton K500 Meter Kubik 7.1.(2) Beton K400 Meter Kubik 7.1.(3) Beton K350 Meter Kubik 7.1.(4) Beton K300 Meter Kubik 7.1.(5) Beton K250 Meter Kubik 7.1.(6) Beton K175 Meter Kubik 7.1.(7) Beton Siklop K175 Meter Kubik 7.1.(8) Beton K125 Meter Kubik II-14
28 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan BETON PRATEKAN Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.2.(1) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 16 meter 7.2.(2) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 20 meter 7.2.(3) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 22 meter 7.2.(4) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 25 meter 7.2.(5) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 28 meter 7.2.(6) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 30 meter 7.2.(7) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 31 meter 7.2.(8) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 35 meter Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah 7.2.(9) Baja Prategang Kilogram 7.2.(10) Pelat Berongga (Hollow Slab) Pracetak bentang 21 meter 7.2.(11) Beton Diafragma K350 termasuk pekerjaan penegangan setelah pengecoran (post-tension) Buah Meter Kubik BAJA TULANGAN Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.3.(1) Baja Tulangan U24 Polos Kilogram 7.3.(2) Baja Tulangan U32 Polos Kilogram 7.3.(3) Baja Tulangan U32 Ulir Kilogram 7.3.(4) Baja Tulangan U39 Ulir Kilogram 7.3.(5) Baja Tulangan U48 Ulir Kilogram 7.3.(6) Anyaman Kawat Yang Dilas (Welded Wire Mesh) Kilogram II-15
29 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan BAJA STRUKTUR Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.4.(1) Baja Struktur, Titik Leleh 2500 kg/cm 2, penyediaan dan pemasangan. 7.4.(2) Baja Struktur, Titik Leleh 2800 kg/cm 2, penyediaan dan pemasangan. 7.4.(3) Baja Struktur, Titik Leleh 3500 kg/cm 2, penyediaan dan pemasangan. Kilogram Kilogram Kilogram PEMASANGAN JEMBATAN RANGKA BAJA Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.5.(1) Pemasangan Jembatan Rangka Baja Kg 7.5.(2) Pengangkutan Bahan Jembatan Kg TIANG PANCANG Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.6.(1) Pondasi Cerucuk, Penyediaan & Pemancangan 7.6.(2) Dinding Turap Kayu Tanpa Pengawetan 7.6.(3) Dinding Turap Kayu Dengan Pengawetan Meter Panjang Meter Persegi Meter Persegi 7.6.(4) Dinding Turap Baja Meter Persegi 7.6.(5) Dinding Turap Beton Meter Persegi 7.6.(6) Penyediaan Tiang Pancang Kayu Tanpa Pengawetan. 7.6.(7) Penyediaan Tiang Pancang Kayu Dengan Pengawetan. Meter Kubik Meter Kubik 7.6.(8) Penyediaan Tiang Pancang Baja Kilogram II-16
30 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan Nomor Mata Pembayaran Uraian 7.6.(9) Penyediaan Tiang Pancang Beton Bertulang Pracetak 7.6.(10) Penyediaan Tiang Pancang Beton Pratekan Pracetak Satuan Pengukuran Meter Kubik Meter Kubik Volume 7.6.(11) Pemancangan Tiang Pancang Kayu Meter Panjang 7.6.(12) Pemancangan Tiang Pancang Pipa Baja : Diameter 400 mm 7.6.(13) Pemancangan Tiang Pancang Pipa Baja : Diameter 500 mm 7.6.(14) Pemancangan Tiang Pancang Pipa Baja : Diameter 600 mm 7.6.(15) Pemancangan Tiang Pancang Beton Pracetak : 30 cm x 30 cm atau diameter 300 mm 7.6.(16) Pemancangan Tiang Pancang Beton : 40 cm x 40 cm atau diameter 400 mm 7.6.(17) Pemancangan Tiang Pancang Beton : 50 cm x 50 cm atau diameter 500 mm Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang 7.6.(18) Tiang Bor Beton, diameter 600 mm Meter Panjang 7.6.(19) Tiang Bor Beton, diameter 800 mm Meter Panjang 7.6.(20) Tiang Bor Beton, diameter 1000 mm Meter Panjang 7.6.(21) Tiang Bor Beton, diameter 1200 mm Meter Panjang 7.6.(22) Tiang Bor Beton, diameter 1500 mm Meter Panjang 7.6.(23) Tambahan Biaya untuk Nomor Mata Pembayaran 7.6.(11) s/d 7.6.(17) bila Tiang Pancang Beton dikerjakan di Tempat Yang Berair. Meter Panjang II-17
31 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan Nomor Mata Uraian Pembayaran 7.6.(24) Tambahan Biaya untuk Nomor Mata Pembayaran 7.6.(18) s/d 7.6.(22) bila Tiang Bor Beton dikerjakan di Tempat Yang Berair. 7.6.(25) Pengujian Pembebanan Pada Tiang Dengan Diameter sampai 600 mm. 7.6.(26) Pengujian Pembebanan Pada Tiang Dengan Diameter di atas 600 mm. Satuan Pengukuran Meter Panjang Buah Buah Volume PONDASI SUMURAN Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.7.(1) Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, Diameter 250 cm 7.7.(2) Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, Diameter 300 cm 7.7.(3) Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, Diameter 350 cm 7.7.(4) Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, Diameter 400 cm 7.7.(5) Penurunan Dinding Sumuran Silinder, Diameter 250 cm 7.7.(6) Penurunan Dinding Sumuran Silinder, Diameter 300 cm 7.7.(7) Penurunan Dinding Sumuran Silinder, Diameter 350 cm 7.7.(8) Penurunan Dinding Sumuran Silinder, Diameter 400 cm Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang ADUKAN SEMEN Adukan semen tidak akan diukur untuk pembayaran yang terpisah. Pekerjaan ini harus dianggap sebagai pelengkap terhadap berbagai jenis pekerjaan yang diuraikan dalam Spesifikasi ini dan biaya dari pekerjaan telah termasuk dalam Harga Kontrak yang telah dimasukan dalam berbagai mata pembayaran. II-18
32 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan PASANGAN BATU Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran 7.9 Pasangan Batu Meter Kubik Volume PASANGAN BATU KOSONG DAN BRONJONG Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.10.(1) Pasangan Batu Kosong yang Diisi Adukan Meter Kubik 7.10.(2) Pasangan Batu Kosong Meter Kubik 7.10.(3) Bronjong Meter Kubik EXPANSION JOINT Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.11.(1) Expansion Joint Tipe Asphaltic Plug Meter Panjang 7.11.(2) Expansion Joint Tipe Rubber 1 (celah mm) 7.11.(3) Expansion Joint Tipe Rubber 2 (celah mm) 7.11.(4) Expansion Joint Tipe Rubber 3 (celah mm) 7.11.(5) Joint Filler untuk Sambungan Konstruksi Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang Meter Panjang 7.11.(6) Expansion Joint Tipe Baja Bersudut Meter Panjang BEARING Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.12.(1) Perletakan Logam Buah 7.12.(2) Perletakan Elastomerik Jenis 1 (300 x 350 x 36) 7.12.(3) Perletakan Elastomerik Jenis 2 (350 x 400 x 39) 7.12.(4) Perletakan Elastomerik Jenis 3 (400 x 450 x 45) Buah Buah Buah 7.12.(5) Perletakan Strip Meter Panjang II-19
33 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan RAILING Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.13 Sandaran (Railing) meter panjang PAPAN NAMA JEMBATAN Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.14 Papan Nama Jembatan Buah PEMBONGKARAN STRUKTUR Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 7.15.(1) Pembongkaran Pasangan Batu Meter Kubik 7.15.(2) Pembongkaran Beton Meter Kubik 7.15.(3) Pembongkaran Beton Pratekan Meter Kubik 7.15.(4) Pembongkaran Bangunan Gedung Meter Persegi 7.15.(5) Pembongkaran Rangka Baja Meter Persegi 7.15.(6) Pembongkaran Balok Baja (Steel Stringers) Meter Panjang 7.15.(7) Pembongkaran Lantai Jembatan Kayu Meter Persegi 7.15.(8) Pembongkaran Jembatan Kayu Meter Persegi 7.15.(9) Pengangkutan Hasil Bongkaran yang melebihi 5 km Meter Kubik per km II-20
34 Bab II: Menghitung Volume Pekerjaan GALIAN TANAH Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 3.1.(1) Galian Biasa Meter Kubik 3.1.(2) Galian Batu Meter Kubik 3.1.(3) Galian Struktur dengan Kedalaman 0-2 M 3.1.(4) Galian Struktur dengan Kedalaman 2-4 M 3.1.(5) Galian Struktur dengan Kedalaman 4-6 M 3.1.(6) Cofferdam, Penyokong, Pengaku dan Peker-jaan yang Berkaitan 3.1.(7) Galian Perkerasan Beraspal dengan Cold Milling Machine 3.1.(8) Galian Perkerasan Beraspal tanpa Cold Milling Machine 3.1.(9) Biaya Tambahan untuk Pengangkutan Bahan Hasil Galian dengan Jarak melebihi 5 km Meter Kubik Meter Kubik Meter Kubik Lump Sum Meter Kubik Meter Kubik Meter Kubik per Kilometer TIMBUNAN TANAH Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 3.2.(1) Timbunan Biasa Dari Selain Galian Sumber Bahan Meter Kubik 3.2.(2) Timbunan Pilihan Meter Kubik 3.2.(3) Timbunan Pilihan di atas Tanah Rawa (diukur di atas bak truk) Meter Kubik 3.2.(4) Timbunan Batu dengan Manual Meter Kubik 3.2.(5) Timbunan Batu dengan Derek Meter Kubik 3.2.(6) Timbunan Batu dengan Derek Ton PENYIAPAN BADAN JALAN Nomor Mata Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran Volume 3.3 Penyiapan Badan Jalan Meter Persegi II-21
35 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan BAB III MENGHITUNG KEBUTUHAN PERALATAN 3.1 JENIS DAN KAPASITAS PERALATAN Pelaksanaan pekerjaan jembatan memerlukan alat-alat berat, alat-alat laboratorium dan alatalat bantu lainnya. Bab 2 ini mengetengahkan kebutuhan alat-alat berat dan peralatan lainnya mulai dari kebutuhan untuk pekerjaan pondasi, pekerjaan bangunan bawah, pekerjaan bangunan atas, pekerjaan jalan pendekat, pekerjaan bangunan pelengkap dan pengaman jembatan. Masing-masing jenis pekerjaan memerlukan peralatan-peralatan yang berbeda, sesuai dengan fungsi-fungsi yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan di maksud sesuai dengan Spesifikasi Teknis yang dijadikan acuan. Berikut ini secara umum diberikan cakupan pekerjaan jembatan dan rincian-rinciannya yang perlu dihitung kebutuhan peralatannya : Pekerjaan Jembatan Pekerjaan Pondasi o Pekerjaan Pondasi Langsung o Pekerjaan Pondasi Tiang Pancang Pekerjaan Tiang Pancang Baja Pekerjaan Tiang Pancang Beton Bertulang Pekerjaan Tiang Pancang Beton Pratekan o Pekerjaan Pondasi Tiang Bor o Pekerjaan Pondasi Sumuran Pekerjaan Bangunan Bawah o Pekerjaan Beton Bertulang o Pekerjaan Beton Siklop Pekerjaan Bangunan Atas o Pemasangan Jembatan Rangka Baja o Pemasangan Girder I Beam Beton Pratekan o Pemasangan Lantai Jembatan Beton Bertulang, Concrete Deck, Tiang Railing Jembatan dan lain-lain. Pekerjaan Jalan Pendekat, Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jalan III-1
36 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan Selanjutnya lihat skema dan tabel-tabel yang memberikan rincian jenis-jenis dan kapasitas peralatan yang diperlukan untuk setiap jenis pekerjaan sebagai berikut : CAKUPAN DAN RINCIAN PEKERJAAN JEMBATAN PEKERJAAN JEMBATAN PEKERJAAN PONDASI PEKERJAAN PONDASI LANGSUNG PEKERJAAN BANGUNAN BAWAH PEKERJAAN PONDASI TIANG PANCANG PEKERJAAN BANGUNAN ATAS PEKERJAAN JLN PENDEKAT, BANG PELENGKAP DAN PERLENGKP JBT PEKERJAAN PONDASI TIANG BOR PEKERJAAN PONDASI SUMURAN PEKERJAAN PONDASI TIANG PANCANG BAJA PEKERJAAN PONDASI TIANG PANCANGBETON BERTULANG PEKERJAAN PONDASI TIANG PANCANG BETON PRATEKAN PEKERJAAN BETON BERTULANG PEKERJAAN BETON SIKLOP PEMASANGAN JEMBATAN RANGKA BAJA PEMASANGAN GIRDER I BEAM BETON PRATEKAN PEMASANGAN LANTAI JEMBATAN DAN LAIN-LAIN III-2
37 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan PEKERJAAN PONDASI NO. TIPE PONDASI 1. Pondasi langsung JENIS PERALATAN KAPASITAS PERALATAN Pekerjaan Galian (Pilihan, tergantung kondisi lapangan) Galian biasa 1). Excavator 0.5 M3 2). Dump Truck Ton Galian cadas 1). Compressor --- 2). Jack hammer --- 3). Wheel loader 1.5 M3 4). Dump truck Ton Galian struktur 1). Excavator 0.5 M3 2). Bulldozer Pekerjaan Timbunan (Pilihan, tergantung kondisi lapangan) Urugan biasa 1). Wheel Loader 1.5 M3 2). Dump Truck Ton 3). Motor Grader --- 4). Vibro Roller 8.0 Ton 5). Water Tanker 4,000.0 Liter Urugan pilihan 1). Wheel Loader 1.5 M3 2). Dump Truck Ton 3). Motor Grader --- 4). Vibro Roller 8.0 Ton 5). Water Tanker 4,000.0 Liter Pekerjaan Beton untuk bangunan bawah Pembuatan adukan beton dan pengecoran 1). Concrete Mixer Liter 2). Water Tanker 4,000.0 Liter 3). Concrete Vibrator --- 4). Concrete Pump 8.00 M3 2. Pondasi Tiang Pancang 2. 1 Tiang Pancang Baja Penyediaan tiang pancang baja 1). Trailer 15.0 Ton 2). Crane 25.0 Ton 3). Genset KVA 4). Welding Set Amp Pemancangan tiang pancang baja 2. 2 Tiang Pancang Beton Bertulang Penyediaan tiang pancang beton bertulang 1). Crane on Track 35 ton Ton 2). Pile Driver Hammer 2.50 Ton 1). Dump Truck Ton III-3
38 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan NO. TIPE PONDASI Pemancangan tiang pancang beton bertulang 2. 3 Tiang Pancang Beton Pratekan Penyediaan tiang pancang beton pratekan Pemancangan tiang pancang beton pratekan JENIS PERALATAN KAPASITAS PERALATAN 1). Crane on Track 35 ton Ton 2). Pile Driver Hammer 2.50 Ton 1). Dump Truck Ton 2). Crane 25.0 Ton 1). Crane on Track 35 ton Ton 2). Pile Driver Hammer 2.50 Ton 3. Pondasi Tiang Bor 1). Bore Pile 2,000.0 Meter 2). Concrete Pump 8.00 M3 4. Pondasi Sumuran Penyediaan Caisson --- Penurunan Caisson 1). Excavator 0.5 M3 2). Dump Truck Ton PEKERJAAN BANGUNAN BAWAH NO. URAIAN KEGIATAN JENIS PERALATAN KAPASITAS PERALATAN 1. Pekerjaan Beton Bertulang Pembuatan adukan beton dan pengecoran 1). Concrete Mixer Liter 2). Water Tanker 4,000.0 Liter 3). Concrete Vibrator --- 4). Concrete Pump 8.00 M3 2. Pekerjaan Beton Siklop Pembuatan Beton Siklop K-175 1). Concrete Mixer Liter 2). Water Tanker 4,000.0 Liter 3). Concrete Vibrator --- III-4
39 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan PEKERJAAN BANGUNAN ATAS (dipilih sesuai dengan gambar rencana) NO. URAIAN KEGIATAN 1. Pemasangan Jembatan Rangka Baja Pengangkutan Material Jembatan Pemasangan Bangunan Atas rangka Baja 2. Pemasangan Girder I Beam Beton Pratekan Pengangkutan Girder I Beam Beton Pratekan Pemasangan Girder I Beam Beton Pratekan 3. Pekerjaan Pelat Lantai Jembatan Beton Bertulang, concrete deck, tiang railing jembatan dll. Pembuatan adukan beton dan pengecoran JENIS PERALATAN KAPASITAS PERALATAN 1). Trailer 15.0 Ton 2). Crane 15.0 Ton 1). Crane Ton 2). Crane on track 35 ton Ton 1). Trailer 15.0 Ton 2). Crane 15.0 Ton 1). Crane Ton 2). Crane on track 35 ton Ton 1). Concrete Mixer Liter 2). Water Tanker 4,000.0 Liter 3). Concrete Vibrator --- 4). Concrete Pump 8.00 M PEKERJAAN JALAN PENDEKAT NO. URAIAN KEGIATAN 1. Pembuatan jalan pendekat JENIS PERALATAN KAPASITAS PERALATAN Pekerjaan Galian (Pilihan, tergantung kondisi lapangan) Galian biasa 1). Excavator 0.5 M3 2). Dump Truck Ton Galian cadas 1). Compressor --- 2). Jack hammer --- 3). Wheel loader 1.5 M3 4). Dump truck Ton Galian struktur 1). Excavator 0.5 M3 2). Bulldozer Pekerjaan Timbunan (Pilihan, tergantung kondisi lapangan) Urugan biasa 1). Wheel Loader 1.5 M3 2). Dump Truck Ton 3). Motor Grader --- 4). Vibro Roller 8.0 Ton 5). Water Tanker 4,000.0 Liter III-5
40 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan NO. URAIAN KEGIATAN JENIS PERALATAN KAPASITAS PERALATAN Urugan pilihan 1). Wheel Loader 1.5 M3 2). Dump Truck Ton 3). Motor Grader --- 4). Vibro Roller 8.0 Ton 5). Water Tanker 4,000.0 Liter Penyiapan Badan Jalan 1). Motor Grader --- 2). Vibro Roller 8.0 Ton 3). Water Tanker 4,000.0 Liter Pemasangan lapis agregat kelas B, CBR minimum 35% Pemasangan lapis agregat kelas A, CBR minimum 80% Pekerjaan lapis perekat pengikat Pekerjaan Asphalt Concrete 1). Wheel Loader 1.5 M3 2). Dump Truck Ton 3). Motor Grader --- 4). Tandem Roller 10.0 Ton 5). Water Tanker 4,000.0 Liter 1). Wheel Loader 1.5 M3 2). Dump Truck Ton 3). Motor Grader --- 4). Tandem Roller 10.0 Ton 5). Water Tanker 4,000.0 Liter 1). Asphalt Sprayer Liter 2). Air Compresor --- 3). Dump Truck Ton 1). Wheel Loader 1.5 M3 2). AMP 50.0 T/Jam 3). Genset KVA 4). Dump Truck Ton 5). Asphalt Finisher 5.0 Ton 6). Tandem Roller 10.0 Ton 7). Pneumatic Tyre Roller 10.0 Ton PEKERJAAN BANGUNAN PELENGKAP DAN PENGAMAN JEMBATAN NO. URAIAN KEGIATAN JENIS PERALATAN KAPASITAS PERALATAN 1. Pekerjaan Pasangan Batu 1). Concrete Mixer Liter 2). Water Tanker 4,000.0 Liter 2. Pekerjaan Pemasangan Bronjong III-6
41 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan Pada tabel di atas, angka-angka yang dicantumkan di dalam kolom kapasitas peralatan menunjukkan kapasitas standar, selanjutnya kapasitas peralatan tentunya sepenuhnya tergantung pada merek dan tipe peralatan sebagaimana diberikan di dalam spesifikasi peralatan. 3.2 JUMLAH ALAT YANG DIBUTUHKAN Untuk dapat menghitung jumlah alat yang dibutuhkan, diperlukan data-data volume dan jenis pekerjaan yang harus diselesaikan dan produktivitas alat yang digunakan. Berikut ini diberikan penjelasan dalam garis besar prinsip-prinsip perhitungan produktivitas peralatan dan contoh-contoh perhitungan produktivitas beberapa jenis peralatan. Selanjutnya, untuk menghitung seluruh kebutuhan peralatan proyek jembatan perlu dibuat jadwal rencana pelaksanaan dirinci berdasarkan pay item, distribusi volume setiap item pekerjaan berdasarkan kurun waktu yang disediakan di dalam rencana pelaksanaan dan produksi setiap jenis peralatan yang akan digunakan FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS PERALATAN a. Kapasitas Kapasitas alat yang digunakan harus sesuai dengan besarnya pekerjaan yang akan dilaksanakan dan ketentuan yang tercantum dalam spesifikasi. Untuk alat utama seperti Asphalt Mixing Plant (AMP) dan Stone Crusher, kapasitasnya tergantung dari volume dan lamanya waktu yang diperlukan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan alat tersebut. b. Faktor Efisiensi Dalam merencanakan suatu proyek, produktivitas per jam dari suatu alat yang diperlukan adalah produktivitas standar dari alat tersebut dalam kondisi ideal dikalikan dengan suatu faktor. Faktor tersebut dinamakan efisiensi kerja. Efisiensi kerja tergantung pada banya faktor, seperti : Kesesuaian alat dengan topografi yang bersangkutan Kondisi dan pengaruh lingkungan seperti ukuran medan dan peralatan, cuaca dan penerangan Pengaturan kerja dan kombinasi kerja antarperalatan dan mesin Metode operasional dan perencanaan persiapan Pengalaman dan kepandaian operator dan pengawas untuk pekerjaan dimaksud III-7
42 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan Dalam pada itu pemeliharaan alat juga mempunyai pengaruh terhadap efisiensi kerja. Karenanya pelaksanaan pemeliharaan peralatan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Penggantian pelumas dan gemuk secara teratur Kondisi peralatan pemotong (blade, bucket, bowl dan sebagainya) Persediaan suku-suku cadang yang sering diperlukan untuk peralatan yang bersangkutan Dalam kenyataannya sulit untuk menentukan besarnya efisiensi kerja, tetapi dengan pasar pengalaman, dapat ditentukan efisiensi kerja yang mendekati kenyataan. Kondisi Operasi Alat TABEL 3.2.(a) FAKTOR EFISIENSI KERJA ALAT Baik sekali Pemeliharaan Alat Baik Sedang Buruk Buruk Sekali Baik sekali 0,83 0,81 0,76 0,70 0,63 Baik 0,78 0,75 0.,71 0,65 0,60 Sedang 0,72 0, ,60 0,54 Buruk 0,63 0,61 0,57 0,052 0,45 Buruk sekali 0,52 0,50 0,47 0,42 0,32 Sumber : Kapasitas dan Produksi Alat-alat Berat, Ir. Rochmanhadi, Badan Penerbit PU, 1983 (Komatsu, Specifications and Application Handbook) Edition 7, Tabel 1 Job Efficiency, Hal 5-6. c. Produktivitas Peralatan Produksi peralatan dihitung berdasarkan volume per siklus waktu dan jumlah siklus dalam satu jam yang dinyatakan dalam rumus : Q = q x N x E 60 = q x x E WS dimana : Q = Produksi per jam dari alat (m 3 /jam, m 1 /jam, m 2 /jam) q = Kapasitas alat per siklus (m 3, m 1, m 2, dan sebagainya) N = Jumlah siklus III-8
43 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan N = 60 WS E = Efisiensi kerja total yang terdiri dari efisiensi kerja mesin, efisiensi kerja operator, efisiensi karena kondisi lapangan, efisiensi karena jenis material yang ditangani WS = Waktu siklus dalam menit Beberapa faktor kinerja di samping efisiensi kerja alat tabel 3.2.(a), adalah : Faktor bucket untuk shovel dan loader tabel 3.2.(b) Faktor bucket utuk eksavator tabel 3.2.(c) Faktor posisi untuk eksavator tabel 3.2.(d) Faktor anda untuk bulldozer tabel 3.2.(e) TABEL 3.2.(b) FAKTOR BUCKET UNTUK DOZER SHOVEL DAN WHEEL LOADER KONDISI PEMUATAN Pemungutan Ringan Pembuatan Sedang Pemuatan yang agak sulit JENIS MATERIAL Pembuatan material / bahan dari stockpile atau material yang telah dikeruk oleh excavator lain, engan tidak memerlukan lagi daya gali dan bahan dapat dimuat munjung ke dalam bucket. Contoh : Pasir, tanah berpasir, tanah colloidal dengan kadar air sedang, dan lain-lain. Pembuatan dari stockpile tanah lepas yang lebih sukar dikeruk dan dimasukkan ke dalam bucket tetapi dapat dimuat hampir munjung (penuh). Contoh : Pasir kering, tanah yang berpasir, tanah campur tanah liat, tanah liat, gravel yang belum disaring, pasir padat dan sebagainya atau menggali dan memuat gravel lunak langsung dari bukti asli. Pembuatan batu belah atau batu cadas belah, tanah liat yang keras, pasir campur gravel, tanah berpasir, tanah colloidal yang liat, tanah liat dengan kadar air yang tinggi, bahan-bahan tersebut telah ada pada stockpile / persediaan sulit untuk mengisi bucket dengan material-material tersebut. Pembuatan yang sulit Batu bongkah besar-besar dengan bentuk yang tidak beraturan dengan banyak ruangan di antara tumpukannya, batu hasil ledakan, batu-batu bundar yang besar-besar, pasir campuran batu-batu bundar tersebut, tanah berpasir, tanah campur lempung, tanah liat yang dimuat gusur ke dalam bucket. FAKTOR BUCKET 1,00 0,80 0,80 0,60 0,60 0,50 0,50 0,40 Sumber : Kapasitas dan Produksi Alat-alat Berat, Ir. Rochmanhadi, Badan Penerbit PU, 1983 (Komatsu, Specifications and Application Handbook) Edition 7, Tabel 3 Bucket Factor, Hal III-9
44 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan TABEL 3.2.(c) FAKTOR BUCKET UNTUK EXCAVATOR KONDISI PEKERJAAN Penggalian dan pemuatan ringan Penggalian dan pemuatan sedang Penggalian dan pemuatan yang agak sulit Penggalian dan pemuatan yang sulit JENIS MATERIAL Menggali dan memuat dari stockpile atau material yang telah dikeruk oleh excavator lain dengan tidak memerlukan lagi daya gali dan bahan dapat dimuat munjung ke dalam bucket. Contoh : Pasir, tanah berpasir, tanah colloidal dengan kadar air sedang Menggali dan memuat stockpile lepas dari tanah yang lebih sulit utuk digali dan dikeruk tetapi dapat dimuat hampir munjung (penuh). Contoh : Pasir kering, tanah berpasir, tanah campur tanah liat, tanah liat, gravel yang belum disaring, pasir padat dan sebagainya atau menggali dan memuat gravel lunak langsung dari bukti gravel asli. Menggali dan memuat batu-batu pecah, tanah liat yang keras, pasir campur kerikil, tanah berpasir, tanah colloidal yang liat, tanah liat dengan kadar air yang tinggi, yang telah distockpile oleh excavator lain, sulit untuk mengisi bucket dengan material-material tersebut. Batu bongkah besar-besar dengan bentuk yang tidak beraturan dengan banyak ruangan di antaranya tumpukannya, batu hasil ledakan, batubatu bundar yang besar-besar, pasir campur batubatu bundar tersebut, tanah berpasir, tanah campur lempung, tanah liat yang sulit untuk dikeruk dengan bucket. FAKTOR BUCKET 1,00 0,80 0,80 0,60 0,60 0,50 0,50 0,40 Sumber : Kapasitas dan Produksi Alat-alat Berat, Ir. Rochmanhadi, Badan Penerbit PU, III-10
45 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan TABEL 3.2.(d) FAKTOR POSISI UNTUK EXCAVATOR POSISI ALAT KONDISI LOKASI FAKTOR POSISI Baik Luas, lapang, datar 1,00 0,90 Sedang Terbatas, agak miring 0,90 0,70 Sulit Sempit, miring 0,70 0,50 TABEL 3.2.(e) FAKTOR SUDU UNTUK PENGGUSURAN DENGAN BULLDOZER KONDISI PENG- GUSURAN Penggusuran ringan Penggusuran sedang Penggusuran yang agak sulit Penggusuran sulit JENIS MATERIAL Penggusuran dapat dilaksanakan dengan sudu penuh. Contoh : Tanah lepas kadar air rendah, tanah berpasir tidak dipadatkan, tanah biasa, bahan/material untuk timbunan persediaan (stockpile) Tanah lepas tetapi tidak mungkin menggusur dengan sudu penuh. Contoh : Tanah bercampur kerikil atau split, pasir, batu pecah Kadar air tinggi dan tanah liat, pasir bercampur kerikil, tanah liat yang sangat kering dan tanah asli. Batu-batu hasil ledakan, batu-batu berukuran besar-besar FAKTOR BUCKET 1,10 0,90 0,90 0,70 0,70 0,60 0,60 0,40 Sumber : Kapasitas dan Produksi Alat-alat Berat, Ir. Rochmanhadi, Badan Penerbit PU, 1983 (Komatsu, Specifications and Application Handbook) Edition 7, Tabel 2, Hal 5-8. III-11
46 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan d. Waktu Siklus Waktu siklus adalah waktu yang dibutuhkan dari sudut alat dari mulai waktu gerakan awal sampai pada gerakan mulai kembali. Berikut ini beberapa contoh waktu siklus untuk berbagai peralatan : 1) Bulldozer Waktu siklus terdiri dari menggusur, ganti persneling dan mundur. WS = D D + + Z (menit) F R D = jarak angkut (m) F = kecepatan maju (m/min), biasanya antara 3-5 m.jam. untuk mesin menggunakan TOROFLOW diambil 75% kecepatan maksimum. R = kecepatan mundur (m/min) biasanya antara 5-7 km/jam; untuk mesin menggunakan TOROFLOW, diambil 85% kecepatan maksimum. Z = Waktu tetap, dalam hal ini waktu untuk ganti persneling. Biasanya diambil 2) Wheel Loader 0,10 menit dengan tongkat tunggal, atau 0,20 menit untuk tongkat ganda dan 0,50 menit untuk TOROFLOW. Waktu siklus dapat berbentuk : - Pemuatan melintang, WS = F D + R D + Z - Pembuatan bentuk V, WS = F D + R D + Z - Muat angkut, WS = F D + R D + Z dimana WS = Waktu siklus (menit) D = Jarak angkut (m, yd) F = Kecepatan maju (m/menit, yd/menit) R = Kecepatan mundur (m/menit, yd/menit) Z = Waktu tetap (menit) - Kecepatan maju, kecepatan mundur Gigi 2 atau gigi 3 selalu digunakan untuk maju atau pun mundur. Untuk mesinmesin TOROFLOW, besarnya kecepatan yang diberikan dalam spesifikasi dikalikan dengan 0,8 untuk memperoleh kecepatan yang akan digunakan dalam perhitungan. - Waktu tetap Waktu tetap adalah jumlah waktu-waktu yang diperlukan untuk ganti persneling, pembuatan, berputar, membuang muatan serta menunggu dump truck. III-12
47 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan Lihat Tabel 3.2.(f)berikut : Pembuatan Bentuk V Pembuatan Melintang Muat & Angkut Mesin gerak langsung 0,25 0,35 - Mesin gerak hidrolis 0,20 0,30 - Mesin gerak TOROFLOW 0,20 0,30 0,35 3) Excavator Hidroliks Waktu siklus terdiri dari waktu gali, waktu putar 2 kali dan waktu buang. Waktu menggali biasanya tergantung pada kedalaman gali dan kondisi galian. Kondisi Gali/ Kedalaman Gali Tabel (g) : Waktu Gali (detik) Ringan Sedang Agak Sulit Sulit 0 2 m m 4 m m lebih Waktu putar tergantung dari sudut dan kecepatan putar. Tabel (h) : Waktu Putar (detik) Sudut Putar Waktu Putar Waktu buang tergantung pada kondisi pembuangan material. Satuan (detik). - kedalaman dumptruck = 5 8 detik - ke tempat pembuangan = 3 6 detik 4) Dumptruck Waktu siklus terdiri dari : Waktu yang diperlukan untuk loader mengisi dumptruck waktu muat Waktu untuk mengangkut material waktu angkut Waktu yang dibutuhkan untuk membongkar muatan material waktu buang waktu angkut III-13
48 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan Waktu yang diperlukan untuk posisi pengisian dani untuk loader mulai mengisi waktu tunggu dan tunda WS t = n WS s + V D dimana : 1 t 1 + V D 2 + t 2 WS t = Waktu siklus dumptruck n = Jumlah siklus yang diperlukan loader untuk mengisi dumptruck C n = 1 x K Q 1 C 1 = Kapasitas rata-rata dumptruck (m 3 ) Q 1 = Kapasitas bucket dari loader (m 3 ) K = Faktor bucket dari loader WS 5 = Waktu siklus loader (menit) D = Jarak angkut dumptruck (m) V 1 = Kecepatan rata-rata truck bermuatan (m/menit) V 2 = Kecepatan rata-rata truck kosong (m/menit) t 1 = Waktu buang + waktu standby sampai pembuangan mulai (menit) t 2 = Waktu untuk posisi pengisian dan untuk loader mulai mengisi (menit) 5) Motor Scraper Waktu siklus terhitung dengan menggunakan rumus berikut : WS = Waktu muat + waktu angkut + angkut belah dan tebar + waktu kembali + waktu tunggu CONTOH PERHITUNGAN KEBUTUHAN JUMLAH PERALATAN PEKERJAAN JEMBATAN Direncanakan membangun sebuah jembatan dengan bentang m m m dengan bangunan atas Girder I Beam Beton Pratekan, lebar lantai kendaraan (beton tulang K-350) 7.00 m, dan trotoir kiri kanan beton tulang K-350 masing-masing 1.00 m. Abutmen dan pilar jembatan dibuat dari beton tulang K-350, sedangkan untuk pondasi jembatan dipilih tiang pancang beton pratekan ukuran 40 cm x 40 cm. Rincian volume pekerjaan dan jumlah hari kerja yang disediakan dapat dilihat pada Tabel 3.2.(h). Diminta menghitung jumlah dump truck, concrete mixer, concrete vibrator, dan water tanker yang diperlukan untuk pembangunan jembatan dimaksud, jika kebutuhan dump truck untuk angkutan penyediaan tiang pancang beton pratekan belum dicakupm dalam perhitungan di maksud. III-14
49 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan Tabel 3.2. (h) : CONTOH RINCIAN WAKTU YANG DIPERLUKAN DAN VOLUME PEKERJAAN PEMBANGUNAN SEBUAH JEMBATAN NO. PEKERJAAN 1. Pekerjaan tanah dan pemasangan pondasi jembatan DURASI (hari kerja) MULAI SELESAI 20 Fri 1/5/07 Thu 2/1/07 KEGIATAN YANG MENDAHULUI VOLUME 2. Galian cadas 5 Fri 1/5/07 Thu 1/11/ M 3 3. Galian biasa 5 Fri 1/5/07 Thu 1/11/ M 3 4. Timbunan pilihan 1 Fri 1/12/07 Fri 1/12/ M 3 5. Penyediaan tiang pancang beton pratekan pracetak 6. Pemancangan tiang pancang beton pretekan di abutment 40cm x 40 cm 7. Pemancangan tiang pancang beton pratekan di pilar 40cm x 40 cm 8. Pekerjaan bangunan bawah jembatan 9. Beton K-350 untuk abutment kiri 10. Baja tulangan U24 polos utk abutment kiri 11. Baja tulangan U32 ulir utk abutment kiri 6 Mon 1/15/07 Mon 1/22/07 4 SATUAN 8 Tue 1/23/07 Thu 2/1/ m 7 Tue 1/23/07 Wed 1/31/ m 77 Thu 2/1/07 Fri 5/18/07 45 Tue 2/13/07 Mon 4/16/07 "10,11,12,1" 58 M 3 5 Fri 2/2/07 Thu 2/8/ Kg 7 Fri 2/2/07 Mon 2/12/ Kg III-17
50 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan NO. PEKERJAAN 12. Baja tulangan U 48 utk abutment kiri 13. Elastomeric bearing pad utk abutment kiri 14. Beton K-350 untuk pilar jembatan 15. Baja tulangan U24 polos utk pilar jembatan 16. Baja tulangan U32 ulir utk pilar jembatan 17. Baja tulangan U 48 utk pilar jembatan 18. Elastomeric bearing pad utk pilar jembatan 19. Beton K-350 untuk abutment kanan 20. Baja tulangan U24 polos utk abutment kanan 21. Baja tulangan U32 ulir utk abutment kanan 22. Baja tulangan U 48 utk abutment kanan 23. Elastomeric bearing pad utk abutment kanan 24. Pekerjaan bangunan atas jembatan 25. Unit pracetak gelegar tipe I bentang 22 m 26. Unit pracetak gelegar tipe I bentang 34 m DURASI (hari kerja) MULAI SELESAI KEGIATAN YANG MENDAHULUI VOLUME SATUAN 7 Fri 2/2/07 Mon 2/12/ Kg 4 Tue 4/17/07 Fri 4/20/07 9 pm M 60 Wed 2/14/07 Tue 5/8/07 "15,16,17,1" Thu 2/1/07 Mon 2/12/ Kg 9 Thu 2/1/07 Tue 2/13/ Kg 9 Thu 2/1/07 Tue 2/13/ Kg 8 Wed 5/9/07 Fri 5/18/07 14 pm M 45 Tue 2/13/07 Mon 4/16/07 "20,21,22,1" 58 M 3 5 Fri 2/2/07 Thu 2/8/ Kg 7 Fri 2/2/07 Mon 2/12/ Kg 7 Fri 2/2/07 Mon 2/12/ Kg 4 Tue 4/17/07 Fri 4/20/07 19 pm M 73 Mon 5/21/07 Wed 8/29/07 40 Mon 5/21/07 Fri 7/13/07 "13,18,23" 10 buah 35 Mon 5/21/07 Fri 7/6/07 "13,18,23" 5 buah M 3 III-18
51 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan NO. PEKERJAAN DURASI (hari kerja) MULAI SELESAI KEGIATAN YANG MENDAHULUI VOLUME SATUAN 27. Beton pelat lantai dan trotoir K Mon 7/16/07 Wed 8/29/07 "25,26" 387 M Baja prategang 10 Mon 7/16/07 Fri 7/27/07 "25,26" Kg 29. Expansion joint 6 Mon 7/16/07 Mon 7/23/07 "25,26" pm M 30. Sandaran jembatan (railing) 8 Mon 7/16/07 Wed 7/25/07 "25,26" 319 M 31. Pembuatan oprit jembatan (jalan pendekat) 16 Thu 8/30/07 Thu 9/20/ Pembuatan badan jalan 3 Thu 8/30/07 Mon 9/3/ M Pembuatan lapis pondasi bawah 7 Tue 9/4/07 Wed 9/12/ M Pembuatan lapis pondasi atas 4 Thu 9/13/07 Tue 9/18/ M Pembuatan lapis permukaan AC 2 Wed 9/19/07 Thu 9/20/ M Pekerjaan bangunan pelengkap dan 10 Fri 9/21/07 Thu 10/4/07 perlengkapan jbt 37. Pembuatan bronjong 10 Fri 9/21/07 Thu 10/4/07 35 pm M Pengadaan turap baja 6 Fri 9/21/07 Fri 9/28/07 35 pm Kg 39. Pemancangan turap baja 6 Fri 9/21/07 Fri 9/28/07 35 pm M III-19
52 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan Tabel 3.2. (h) di atas adalah contoh jadwal dan volume pekerjaan sebuah jembatan, angka-angka yang ditulis di dalam tabel hanyalah angka-angka perkiraan. Di dalam perhitungan riil, jadwal maupun volume pekerjaan harus didasarkan atas bill of quantitity yang ada di dalam kontrak dan kondisi lapangan untuk mengetahui jenis-jenis dan jumlah peralatan yang diperlukan. Selanjutnya pada Tabel 3.2. (i) diberikan rincian perhitungan jumlah dump truck, concrete mixer, concrete vibrator dan water tanker. Sebelum dapat mengisi Tabel 3.2.(i) terlebih dahulu perlu diperhitungkan koefisien alat (dump truck, concrete mixer, concrete vibrator dan water tanker) untuk jenis-jenis pekerjaan yang memerlukan peralatan-peralatan tersebut Perhitungan Koefisien Dump Truck a. Jenis Pekerjaan Galian Cadas URAIAN KODE KOEFISIEN SATUAN Kapasitas bak V 4.00 M3 Faktor efisiensi alat Fa Faktor pengembangan bahan Fk Kecepatan rata-rata bermuatan V1 45 Km/jam Kecepatan rata-rata kosong V2 60 Km/jam Dump truck membuang material hasil galian keluar lokasi sejauh L = 1.00 km Waktu siklus Ts1 menit Waktu tempuh isi = (L : v1) x 60 T menit Waktu tempuh kosong = (L : v2) x 60 T menit Waktu untuk muat = (V : Q1) x 60 T menit Lain-lain T menit Ts menit V x Fa x 60 Kapasitas produksi per jam = Q M3/jam Fk x Ts1 Koefisien alat / m3 = 1 : Q Jam b. Jenis Pekerjaan Galian Biasa URAIAN KODE KOEFISIEN SATUAN Kapasitas bak V 4.00 M3 Faktor efisiensi alat Fa Faktor pengembangan bahan Fk Kecepatan rata-rata bermuatan V1 45 Km/jam Kecepatan rata-rata kosong V2 60 Km/jam Dump truck membuang material hasil galian keluar lokasi sejauh L = 2.00 km III-20
53 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan URAIAN KODE KOEFISIEN SATUAN Waktu siklus Ts1 menit Waktu tempuh isi = (L : v1) x 60 T menit Waktu tempuh kosong = (L : v2) x 60 T menit Waktu untuk muat = (V : Q1) x 60 T menit Lain-lain T menit Ts menit V x Fa x 60 Kapasitas produksi per jam = Q M3/jam Fk x Ts1 Koefisien alat / m3 = 1 : Q Jam c. Jenis Pekerjaan Urugan Pilihan URAIAN KODE KOEFISIEN SATUAN Kapasitas bak V 4.00 M3 Faktor efisiensi alat Fa Faktor pengembangan bahan Fk Kecepatan rata-rata bermuatan V1 45 Km/jam Kecepatan rata-rata kosong V2 60 Km/jam Dump truck mengangkut ke lapangan dengan jarak quarri ke lapangan L = 1.00 km Waktu siklus Ts1 menit Waktu tempuh isi = (L : v1) x 60 T menit Waktu tempuh kosong = (L : v2) x 60 T menit Lain-lain T menit Ts menit V x Fa x 60 Kapasitas produksi per jam = Fk x Ts2 Q M3/jam Koefisien alat / m3 = 1 : Q Jam d. Pembuatan lapis pondasi bawah URAIAN KODE KOEFISIEN SATUAN Kapasitas bak V 6.00 M3 Faktor efisiensi alat Fa Faktor pengembangan bahan Fk Kecepatan rata-rata bermuatan V1 45 Km/jam Kecepatan rata-rata kosong V2 60 Km/jam Jarak rata-rata base camp ke lokasi pekerjaan L km Waktu siklus Ts1 Menit Waktu tempuh isi = (L : v1) x 60 T menit Waktu tempuh kosong = (L : v2) x 60 T menit Lain-lain T menit Ts menit V x Fa x 60 Kapasitas produksi per jam = Fk x Ts2 Q M3/jam Koefisien alat / m3 = 1 : Q Jam III-21
54 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan e. Pembuatan lapis pondasi atas URAIAN KODE KOEFISIEN SATUAN Kapasitas bak V 6.00 M3 Faktor efisiensi alat Fa Faktor pengembangan bahan Fk Kecepatan rata-rata bermuatan V1 45 Km/jam Kecepatan rata-rata kosong V2 60 Km/jam Jarak rata-rata base camp ke lokasi pekerjaan L km Waktu siklus Ts1 menit Waktu tempuh isi = (L : v1) x 60 T menit Waktu tempuh kosong = (L : v2) x 60 T menit Lain-lain T menit Ts menit V x Fa x 60 Kapasitas produksi per jam = Q M3/jam Fk x Ts2 Koefisien alat / m3 = 1 : Q Jam f. Pembuatan lapis permukaan AC URAIAN KODE KOEFISIEN SATUAN Kapasitas bak V 4.00 M3 Faktor efisiensi alat Fa Tebal lapis perkerasan AC padat t 0.05 M Berat Jenis bahan D Ton/M3 Kecepatan rata-rata bermuatan V1 40 Km/jam Kecepatan rata-rata kosong V2 50 Km/jam Kapasitas AMP / batch Q2b 0.50 Ton Waktu menyiapkan 1 batch perkerasan AC Tb 1.00 menit Jarak rata-rata base camp ke lokasi pekerjaan L km Waktu siklus Ts2 menit Mengisi bak = (V : Q2b) x Tb T menit Waktu angkut = (L : V1) x 60 T2 -- menit Tunggu + dump + putar T Kembali = (L : V2) x 60) menit T4 -- menit Ts menit V x Fa x 60 Kapasitas produksi per jam = Q M3/jam D1 x Ts2 x t Koefisien alat / m3 = 1 : Q Jam III-22
55 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan Perhitungan Koefisien Concrete Mixer URAIAN KODE KOEFISIEN SATUAN Kapasitas bak V 4.00 M3 Faktor efisiensi alat Fa Waktu siklus Ts menit Memuat T menit Mengaduk T menit Menuang T Tunggu dan lain-lain T menit Ts menit V x Fa x 60 Kapasitas produksi per jam = Q M3/jam 1000 x Ts Koefisien alat / m3 = 1 : Q Jam Perhitungan Koefisien Concrete Vibrator Kebutuhan concrete vibrator disesuaikan dengan kapasitas concrete mixer. Dengan demikian kapasitas produksi concrete vibrator per jam = kapasitas produksi concrete mixer per jam. Jadi koefisien alat = jam Perhitungan Koefisien Water Tank Truck URAIAN KODE KOEFISIEN SATUAN Volume tanki air V 4.00 M3 Kebutuhan air / M3 beton Wc 0.19 M3 Faktor efisiensi alat Fa Pengisian tanki per jam n 1.00 kali V x Fa x n Kapasitas produksi per jam = Q M3 Wc Koefisien alat / m3 = 1 : Q Jam III-23
56 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan Perhitungan Kebutuhan Jumlah Peralatan No. Jenis alat/ Pekerjaan Tabel 3.2. (i) : PERHITUNGAN JUMLAH PERALATAN Waktu (dari jadwal pelaksanaan) Jumlah jam efektif Jumlah hari kerja Per hari Total Volume Pekerjaan (dalam satuan pekerjaan) Target produksi per jam (dlm satuan pek) Koefisien alat per jenis pekerjaan Kebutuhan alat per jenis pekerjaan (unit) Kebutuhan Alat Total unit alat per kelompok pekerjaan (1) (2) (3) (4) (5)= (3) x (4) (6) (7) = (6) : (5) (8) (9) = (7)x (8) (10) (11) A. DUMP TRUCK 1. Pekerjaan pondasi jembatan Galian cadas Galian biasa Timbunan pilihan Pembuatan Oprit Jembatan Pembuatan lapis pondasi bawah Pembuatan lapis pondasi atas Pembulatan jumlah alat (unit) Pembuatan lapis permukaan AC B. CONCRETE MIXER 1. Pekerjaan bangunan bawah jembatan Beton K-350 untuk abutment kiri Beton K-350 untuk pilar jembatan III-24
57 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan No. Jenis alat/ Pekerjaan Waktu (dari jadwal pelaksanaan) Jumlah jam efektif Jumlah hari kerja Per hari Total Volume Pekerjaan (dalam satuan pekerjaan) Target produksi per jam (dlm satuan pek) Koefisien alat per jenis pekerjaan Kebutuhan alat per jenis pekerjaan (unit) Kebutuhan Alat Total unit alat per kelompok pekerjaan Pembulatan jumlah alat (unit) (1) (2) (3) (4) (5)= (3) x (4) (6) (7) = (6) : (5) (8) (9) = (7)x (8) (10) (11) Beton K-350 untuk abutment kanan Pekerjaan bangunan atas jembatan Beton pelat lantai dan trotoir K C. CONCRETE VIBRATOR 1. Pekerjaan bangunan bawah jembatan Beton K-350 untuk abutment kiri Beton K-350 untuk pilar jembatan Beton K-350 untuk abutment kanan 2. Pekerjaan bangunan atas jembatan Beton pelat lantai dan trotoir K D. WATER TANKER 1. Pekerjaan bangunan bawah jembatan Beton K-350 untuk abutment kiri Beton K-350 untuk pilar jembatan III-25
58 Bab III: Menghitung Kebutuhan Pekerjaan No. Jenis alat/ Pekerjaan Waktu (dari jadwal pelaksanaan) Jumlah jam efektif Jumlah hari kerja Per hari Total Volume Pekerjaan (dalam satuan pekerjaan) Target produksi per jam (dlm satuan pek) Koefisien alat per jenis pekerjaan Kebutuhan alat per jenis pekerjaan (unit) Kebutuhan Alat Total unit alat per kelompok pekerjaan (1) (2) (3) (4) (5)= (3) x (4) (6) (7) = (6) : (5) (8) (9) = (7)x (8) (10) (11) Beton K-350 untuk abutment kanan Pembulatan jumlah alat (unit) 2. Pekerjaan bangunan atas jembatan Beton pelat lantai dan trotoir K Catatan Waktu yang diperlukan untuk penggunaan concrete mixer, concrete vibrator dan water tanker dalam pembuatan Beton K-350 Jenis Pekerjaan Waktu yang tersedia dalam jadwal (hari kerja) Waktu yang diperlukan untuk pembuatan bekisting dan pemasangan pembesian (hari kerja) Waktu yang diperlukan untuk umur beton (hari kerja) Waktu untuk penggunaan concrete mixer, concrete vibrator, water tanker (hari kerja) Beton K-350 untuk abutment kiri Beton K-350 untuk pilar jembatan Beton K-350 untuk abutment kanan Beton pelat lantai dan trotoir K = = = = 10 III-26
59 Bab IV: Menghitung Kebutuhan Material BAB IV MENGHITUNG KEBUTUHAN MATERIAL 4.1 KOMPONEN BAHAN PENENTUAN KEPERLUAN BAHAN Apabila di dalam dokumen lelang tidak dicantumkan volume kebutuhan bahan untuk tiaptiap mata pembayaran pekerjaan, maka harus dibuat perhitungan bahan sesuai dengan spesifikasi teknis dalam dokumen lelang dan metode kerja yang digunakan. Untuk mata pembayaran yang mempunyai produk terdiri atas beberapa macam bahan seperti beton, komposisi campuran bahan-bahan harus mengikuti ketentuan yang tercantum dalam Spesifikasi Teknis (yang diperoleh tidak langsung, namun menggunakan analisa perhitungan dengan suatu asumsi) KUANTITAS BAHAN Kuantitas bahan adalah volume setiap jenis bahan dalam satuannya masing-masing (zak, kg, dan sebagainya) yang diperlukan dalam mata pembayaran yang bersangkutan. Volume (banyaknya) bahan akan tergantung dari keadaan bahan tersebut. Berbagai jenis tanah dalam keadaan asli (sebelum digali), telah lepas karena pengerjaan atau telah dipadatkan, volumenya berlainan. Besarnya faktor konversi akan tergantung dari tipe bahan dan derajat pengerjaannya (periksa Tabel B1). Faktor konversi seperti pada Tabel B1 ini dinamakan juga faktor kembang susut bahan. Di samping faktor ini dalam menentukan keperluan bahan perlu diperhitungkan pula adanya faktor kehilangan akibat pengerjaan atau angkutan. Faktor kehilangan ini besarnya antara 0% - 25 %. Faktor kembang susut dan faktor kehilangan bahan pada dasarnya ditetapkan berdasarkan pengalaman, pengamatan atau percobaan. IV-1
60 Bab IV: Menghitung Kebutuhan Material TABEL 4-(a) : JENIS KONVERSI UNTUK VOLUME MATERIAL JENIS TANAH PASIR TANAH LIAT BERPASIR KONDISI TANAH SEMULA Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat TANAH LIAT Asli Lepas Padat TANAH CAMPUR KERIKIL KERIKIL KERIKIL KASAR PECAHAN CADAS ATAU BATUAN LUNAK PECAHAN CADAS ATAU BATUAN KERAS PECAHAN BATU BATUAN HASIL PELEDAKAN Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat KONDISI TANAH AKAN DIKERJAKAN ASLI LEPAS PADAT Sumber : Kapasitas & Produksi alat-alat berat,1, Ir. Rochmanhadi, Badan Penerbit PU, 1983 (Komatsu, Specifications And Application Handbook Edition 7, Hal 5 53) IV-2
61 Bab IV: Menghitung Kebutuhan Material 4.2 VOLUME SESUAI SPESIFIKASI TEKNIK DAN GAMBAR KERJA Volume pekerjaan dihitung mengikuti prosedur pengukuran volume yang ditentukan di dalam Spesifikasi Teknik. Perhitungan volume didasarkan atas hasil pekerjaan di lapangan yang proses pengerjaannya dibuat setelah kontraktor menyiapkan gambar kerja. Prosedur pengukuran volume pekerjaan telah dijelaskan di dalam Bab 2 Sub Bab 2.1 sedangkan satuan volume pekerjaan yang diperhitungkan sesuai Spesifikasi telah dijelaskan di dalam Bab 2 Sub Bab 2.2. Berikut ini diberikan contoh-contoh perhitungan kebutuhan beberapa komponen bahan : VOLUME PEMADATAN TANAH DAN PASANGAN BATU DENGAN ADUKAN Pemadatan tanah Harus dilaksanakan pemindahan tanah m 3 dari tanah asli beberapa volume termaksud sesudah digali untuk diangkat berapa jadinya volume termaksud kalau dipadatkan Dengan menggunakan tabel 1 didapat hasil sebagai berikut : Tanah asli Tanah lepas Tanah padat Tanah liat m 3 1,25 x = m 3 0,9 x = m 3 Pasir m 3 1,11 x = m 3 Pasangan batu dengan Adukan (Manual) Perbandingan adukan : Volume semen Sm = 25% Volume Pasir Ps = 75% Perbandingan batu dan adukan : Batu = Bt = 25% Adukan = Mr = 75% Berat jenis bahan : Pasangan batu Batu Adukan Pasir D1 = 2,4 t/m3 D2 = 1,60 t/m3 D3 = 1,80 t/m3 D4 = 1,67 t/m3 Semen Portland D5 = 1,44 t/m 3 0,95 x = m 3 IV-3
62 Bab IV: Menghitung Kebutuhan Material Faktor kehilangan bahan : Batu Fh1 = 1,20 Pasir/Semen Fh2 = 1,05 Pemakaian bahan : Per m 3 pasangan batu, terdiri dari : Batu : Bt x D1 x 1 = 1,440; atau (Bt x D1 x 1): D2 = 0,900 m3 Aduk : Mr x D1 1 = 0,960 t; atau (Mr x D1 x 1): D3 = 0,533 t/m 3 Bahan yang diperlukan Batu : {(Bt x D1 x 1): D2} x Fh1 = 1,080 m3 Semen : Sm x {(Mr x D1 x 1): D3} x Fh2 = 1,490 m3; atau Sm x {(Mr x D1 x 1): D3} x Fh2 x D5 = 0,202 t = 202 kg Pasir : Ps x {(Mr x D1 x 1): D3} x Fh2 = 0,4200 m 3 Pasangan batu dengan adukan (mekanik) Keterangan bahan sama dengan, sehingga pemakaian bahan per m 3, juga sama, ialah : Batu : {(Bt x D1 x 1): D2} x Fh1 = 1,080 m3 Sm x {(Mr x D1 x 1): D3} x Fh2 x D5 = 0,202 t = 202 kg Pasir : Ps x {(Mr x D1 x 1): D3} x Fh2 = 0,4200 m MENGHITUNG VOLUME BAHAN UNTUK PEMBUATAN BETON Direncanakan membuat Beton K-350 dengan batasan-batasan sesuai persyaratan Spesifikasi sebagai berikut : Ukuran agregat kasar maksimum = 25 mm; Slump = 80 mm; Rasio Air/Semen = 0.45; Kadar semen minimum = 335 kg/m 3 Gradasi pasir yang digunakan adalah sebagai berikut : Sieve ASTM mm % Passing % Retained ¾ / # # # # # # # 9 F.M. Tot retained/ IV-4
63 Bab IV: Menghitung Kebutuhan Material Untuk menghitung kebutuhan bahan beton, digunakan format Trial Mixing Sheet for Concrete pada halaman selanjutnya. Dari sheet tersebut dapat diperoleh hasil perhitungan bahwa untuk membuat 1 m 3 beton K-350 diperlukan material sebagai berikut : Air = 192 kg Semen = 427 kg Pasir = m3 Agregat kasar = m3 IV-5
64 Bab IV: Menghitung Kebutuhan Material 4.3 VOLUME SESUAI JADWAL Pada Sub Bab 4.2. telah diberikan contoh menghitung kebutuhan bahan dengan memperhatikan persyaratan-persyaratan yang diatur di dalam Spesifikasi Teknik. Untuk dapat menghitung seluruh kebutuhan volume bahan untuk pekerjaan jembatan, maka perhitungan bahan harus dilakukan untuk seluruh item pekerjaan yang ada di dalam kontrak. Kapan dan berapa volume bahan-bahan untuk setiap item pekerjaan tersebut harus disiapkan, tergantung pada jadwal rencana pelaksanaan. Volume pekerjaan atau sering disebut bill of quantity, dihitung berdasarkan drawings dan data-data teknis lainnya yang digunakan, dengan prosedur sesuai Spesifikasi Teknis. Dari volume setiap item pekerjaan akan dapat dihitung, jenis bahan-bahan apa yang diperlukan, berapa total volume untuk masing-masing bahan, dan kapan harus disediakan/disiapkan, semuanya tergantung pada jadwal rencana pelaksanaan. Jika diketahui volume suatu bahan untuk suatu item pekerjaan = v, waktu yang disediakan untuk pelaksanaan pekerjaan (yang memerlukan bahan tersebut) = t bulan, maka volume bahan di maksud yang perlu disediakan per bulan = v : t. Berikut ini diberikan contoh jadwal dan volume (total) untuk masing-masing item pekerjaan, sebagai masukan utama untuk menghitung jenis maupun volume bahan yang diperlukan untuk masing-masing item pekerjaan pada pembangunan atau penggantian jembatan. Dari jadwal yang berisi total volume untuk masing-masing item pekerjaan, Structure Engineer of Bridge Construction dapat menghitung menghitung jenis dan volume komponen bahan dan distribusi kebutuhannya sesuai jadwal yang ditentukan. IV-6
65 Rangkuman RANGKUMAN Pekerjaan struktur jembatan sangat diperlukan suatu perhitungan volume pekerjaan, penggunaan peralatan, material dan tenaga kerja untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan. Yang menjadi pertimbangan utama dalam melakukan perhitungan rancangan angaran biaya adalah kita jangan hanya menyiapkan anggaran dalam pelaksanaan pembuatan Struktur Jembatannya saja tetapi juga harus di pertimbangkan/direncanakan biaya yang harus di keluarkan dalam tahap pekerjaan selanjutnya yaitu biaya untuk pekerjaan pemeliharaan. Dimana biaya untuk pekerjaan ini harus selalu di siapkan selama Struktur Jembatan itu masih di inginkan keberadaannya. Dan biaya yang di keluarkan dapat di keluarkan secara berkala, misalnya biaya harian, biaya mingguan, biaya bulanan dan bahkan biaya tahunan. Seseorang dapat menganalisis koefisien harga satuan pekerjaan setidaknya memiliki kualifikasi yang bagus, seperti mempunyai pengetahuan/pengalaman tentang detail pelaksanaan, sehingga menguasai secara baik setiap tahap pelaksanaan jenis pekerjaan; mampu mendapatkan informasi tentang harga dari komponen-komponen yang di perlukan (upah, bahan, dan alat); dapat memisahkan dan memilih data yang paling akurat dan memiliki keterkaitan yang erat; dapat menyimpulkan harga yang paling layak, dari sumber yang berbedabeda; mengerti dan paham tentang proses/tahapan pekerjaan dan perlakuan terhadap detail konstruksi dan proses pelaksanaannya; dapat menggunakan metode yang tepat untuk menaksir biaya, terutama pada saat suatu pekerjaan yang tidak biasa atau kondisinya sangat berbeda; mampu membayangkan dan dapat mengambil keputusan pada setiap langkah dari masing-masing jenis pekerjaan. Kebutuhan alat-alat berat dan peralatan lainnya mulai dari kebutuhan untuk pekerjaan pondasi, pekerjaan bangunan bawah, pekerjaan bangunan atas, pekerjaan jalan pendekat, pekerjaan bangunan pelengkap dan pengaman jembatan. Masing-masing jenis pekerjaan memerlukan peralatan-peralatan yang berbeda, R-1
66 Rangkuman sesuai dengan fungsi-fungsi yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan di maksud sesuai dengan Spesifikasi Teknis yang dijadikan acuan. Kebutuhan bahan untuk tiap-tiap mata pembayaran pekerjaan, maka harus dibuat perhitungan bahan sesuai dengan spesifikasi teknis dalam dokumen lelang dan metode kerja yang digunakan. Dalam menentukan keperluan bahan perlu diperhitungkan pula adanya faktor kehilangan akibat pengerjaan atau angkutan. Perhitungan volume didasarkan atas hasil pekerjaan di lapangan yang proses pengerjaannya dibuat setelah kontraktor menyiapkan gambar kerja. Pengamatan atau observasi adalah merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan data tentang tenaga kerja yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui proses pengamatan dan pencatatan terhadap gejala-gejala yang diselidiki. Menurut James E. Gardner dalam Training Intervention in Job Skill Development, keterampilan diperoleh seseorang melalui latihan/pengalaman dari kemampuan mental, fisik dan sosial, sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. R-2
67 Daftar Pustaka DAFTAR PUSTAKA 1. Hand Book Of Soil Mechanics, By Arpad Kezdi. 2. Contruction Planning, Equipment and Method, By R.L.Peurifoy. 3. Highway Enggineering Handbook, By Kenneth B Woods 4. Mempersiapkan Lapisan Dasar Konstruksi I & II, Oleh Imam Soekoto 5. Drainage Engineering, By James M Luthin. DP-1
PELATIHAN AHLI TEKNIK SUPERVISI PEKERJAAN JALAN (SUPERVISION ENGINEER OF ROADS CONSTRUCTION) MODUL MODUL SE 08 PERHITUNGAN HASIL PEKERJAAN
PELATIHAN AHLI TEKNIK SUPERVISI PEKERJAAN JALAN (SUPERVISION ENGINEER OF ROADS CONSTRUCTION) MODUL MODUL SE 08 PERHITUNGAN HASIL PEKERJAAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER
MODUL STEBC 07 : PERMASALAHAN PELAKSANAAN JEMBATAN
PELATIHAN STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION PEKERJAAN (AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL STEBC 07 : PERMASALAHAN PELAKSANAAN JEMBATAN 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI
(Ir. Hernu Suyoso, MT., M. Akir.) A. Komponen Jembatan. 1. Tipe Jembatan. a) Jembatan Pelat Beton Berongga. b) Jembatan Pelat. c) Jembatan Girder
1 PEKERJAAN JEMBATAN (Ir. Hernu Suyoso, MT., M. Akir.) A. Komponen Jembatan 1. Tipe Jembatan a) Jembatan Pelat Beton Berongga b) Jembatan Pelat c) Jembatan Girder d) Jembatan Beton Balok T e) Jembatan
Dokumen Pengadaan Lelang Ulang
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah DINAS PEKERJAAN UMUM DAERAH A D E N D U M Tanggal: 28 Mei 2012 Dokumen Pengadaan Lelang Ulang Pengadaan Pekerjaan Konstruksi PENINGKATAN JALAN SUKARNO-HATTA - Metoda
REKAPITULASI RENCANA ANGGARAN BIAYA (R.A.B)
Kegiatan Pekerjaan Lokasi TahunAnggaran : xxxxx : xxxxx : xxxxx : xxxxx REKAPITULASI RENCANA ANGGARAN BIAYA (R.A.B) Jumlah Harga No. Divisi Uraian Pekerjaan (Rupiah) 1 Umum 143,285,000 2 Drainase 51,487,427
ADDENDUM DOKUMEN PENGADAAN
ADDENDUM DOKUMEN PENGADAAN Addendum dokumen pengadaan diterbitkan Panitia Pengadaan dimaksudkan untuk memberikan penjelasan kepada peserta lelang tentang adanya perubahan ketentuan dalam dokumen pengadaan,
STANDAR LATIHAN KERJA
STANDAR LATIHAN (S L K) Bidang Ketrampilan Nama Jabatan : Pengawasan Jembatan : Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridges) Kode SKKNI : INA.5212. 322.04 DEPARTEMEN PEAN UMUM BADAN
REKAPITULASI DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA
REKAPITULASI DAFTAR KUANTITAS DAN PEKERJAAN NO. DIVISI URAIAN JUMLAH 1 2 3 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. UMUM DRAINASE PEKERJAAN TANAH PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN PERKERASAN BERBUTIR PERKERASAN ASPAL
MODUL STEBC 04 : JADWAL PELAKSANAAN
PELATIHAN STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION PEKERJAAN (AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL STEBC 04 : JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN JEMBATAN 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI
DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN
DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN i ii iii iv vii xiii xiv xvii xviii BAB
DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA
Provinsi Kabupaten Nama Kegiatan Pekerjaan Ruas/ Lokasi Volume : Sulawesi Tengah : Donggala : Peningkatan Jaringan Irigasi : Peningkatan D.I Wombo Ruas BSW 1 - BWM Kr : D.I Wombo Kec. Tanantovea : 1 Paket
Nama Pekerjaan : Pembangunan Abutmen Jembatan Air Jernih Gumpang Lempuh Perusahaan : CV. RABO PERKASA Lokasi : Gumpang Lempuh Tahun Anggaran : 2017
METODE PELAKSANAAN Nama Pekerjaan : Pembangunan Abutmen Jembatan Air Jernih Gumpang Lempuh Perusahaan : CV. RABO PERKASA Lokasi : Gumpang Lempuh Tahun Anggaran : 2017 1. PEKERJAAN UMUM Mobilisasi Cakupan
DIVISI 2 DRAINASE SEKSI 2.1 SELOKAN DAN SALURAN AIR
DIVISI 2 DRAINASE SEKSI 2.1 SELOKAN DAN SALURAN AIR 2.1.1 UMUM 1) Uraian a) Pekerjaan ini mencakup pembuatan selokan baru yang dilapisi (lined) maupun tidak (unlined) dan perataan kembali selokan lama
3) Perbaikan Terhadap Komponen Jembatan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan
METODE PELAKSANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA UMUM 1) Uraian Pekerjaan ini jembatan rangka baja ini terdiri dari pemasangan struktur jembatan rangka baja hasil rancangan patent, seperti jembatan rangka (truss)
METODE PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JEMBATAN PT.GUNUNG MURIA RESOURCES
METODE PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JEMBATAN I. RUANG LINGKUP PEKERJAAN PT.GUNUNG MURIA RESOURCES Pekerjaan Pembangunan Jembatan ini terdiri dari beberapa item pekerjaan diantaranya adalah : A. UMUM 1. Mobilisasi
MODUL SIB 10 : PEMELIHARAAN JALAN DARURAT DAN PEMELIHARAAN LALU LINTAS
PELATIHAN SITE INSPECTOR OF BRIDGE (INSPEKTUR PEKERJAAN LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL SIB 10 : PEMELIHARAAN JALAN DARURAT DAN PEMELIHARAAN LALU LINTAS 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN
DIVISI 2 DRAINASE SEKSI 2.1 SELOKAN DAN SALURAN AIR UMUM PERSYARATAN
2.1.1 UMUM DIVISI 2 DRAINASE SEKSI 2.1 SELOKAN DAN SALURAN AIR 1) Uraian a) Pekerjaan ini mencakup pembuatan selokan baru yang dilapisi (lined) maupun tidak dilapisi (unlined) dan perataan kembali selokan
ADDENDUM-03. Maksud dan Tujuan
ADDENDUM-03 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan diterbitkannya Addendum ini adalah untuk memberikan informasi dan ketentuan-ketentuan tambahan Instruksi Kepada Peserta mengenai hal-hal yang belum ada atau
MODUL STEBC 05 : GAMBAR KERJA
PELATIHAN STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION PEKERJAAN (AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL STEBC 05 : GAMBAR KERJA PEKERJAAN JEMBATAN 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI
DIVISI 2 DRAINASE SEKSI 2.1 SELOKAN DAN SALURAN AIR
DIVISI 2 DRAINASE SEKSI 2.1 SELOKAN DAN SALURAN AIR 2.1.1 UMUM 1) Uraian a) Pekerjaan ini mencakup pembuatan selokan baru yang dilapisi (lined) maupun tidak (unlined) dan perataan kembali selokan lama
Pemasangan Jembatan Metode Perancah Pemasangan Jembatan Metode Perancah
Pemasangan Jembatan Metode Perancah Pemasangan Jembatan Metode Perancah Pekerjaan jembatan rangka baja terdiri dari pemasangan struktur jembatan rangka baja hasil rancangan patent, seperti jembatan rangka
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengetahuan Umum Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) diberikan sebagai dasar pemikiran lebih lanjut.
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1. Pengetahuan Umum Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) Pelaksanaan atau pekerjaan sebuah proyek konstruksi dimulai dengan penyusunan perencanaan, penyusunan jadwal (penjadwalan)
BONDEK DAN HOLLOW CORE SLAB
BONDEK DAN HOLLOW CORE SLAB Dibuat Untuk Memenuhi Persyaratan Perkuliahan Struktur Beton Gedung Semester IV Tahun Ajaran 2015 Dibuat oleh : KELOMPOK 6 Deasy Monica Parhastuti 131111003 Gani Adnan Sastrajaya
PENANGANAN DAERAH ALIRAN SUNGAI. Kementerian Pekerjaan Umum
PENANGANAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Kementerian Pekerjaan Umum 1 KERUSAKAN 501 Pengendapan/Pendangkalan Pengendapan atau pendangkalan : Alur sungai menjadi sempit maka dapat mengakibatkan terjadinya afflux
REKAPITULASI BILL OF QUANTITY (BOQ)
REKAPITULASI BILL OF QUANTITY (BOQ) No Divisi Uraian Jumlah Harga Pekerjaan 1 Umum 37,010,000.00 2 Drainase 43,511,280.00 3 Pekerjaan Tanah 0.00 4 Pelebaran Perkerasan dan Bahu Jalan 3,720,000.00 5 Pekerasan
DIVISI 4 PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN SEKSI 4.1 PELEBARAN PERKERASAN
DIVISI 4 PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN SEKSI 4.1 PELEBARAN PERKERASAN 4.1.1 UMUM 1) Uraian a) Pekerjaan ini harus mencakup penambahan lebar perkerasan lama sampai lebar jalur lalu lintas yang diperlukan
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Uraian Umum Metoda pelaksanaan dalam sebuah proyek konstruksi adalah suatu bagian yang sangat penting dalam proyek konstruksi untuk mencapai hasil dan tujuan yang
STANDAR JEMBATAN DAN SNI DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN
STANDAR JEMBATAN DAN SNI DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN 1 BAB I JEMBATAN PERKEMBANGAN JEMBATAN Pada saat ini jumlah jembatan yang telah terbangun di Indonesia
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK 7.1 Pelaksanaan Pekerjaan Balok Balok adalah batang dengan empat persegi panjang yang dipasang secara horizontal. Hal hal yang perlu diketahui
BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN. perencana. Dengan kerjasama yang baik dapat menghasilkan suatu kerja yang efektif
BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Tinjauan Umum Dalam pelaksanaan pekerjaan diperlukan kerjasama yang baik dari semua pihak yang terkait, baik itu perencana, pemberi tugas, pengawas maupun pelaksana karena
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN BEKISTING, PEMBESIAN DAN PENGECORAN
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN BEKISTING, PEMBESIAN DAN PENGECORAN 5.1 Pekerjaan Bekisting 5.1.1 Umum Perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan bekisting harus memenuhi syarat PBI 1971 N 1-2 dan Recomended Practice
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pondasi Dalam Pondasi dalam adalah pondasi yang dipakai pada bangunan di atas tanah yang lembek. Pondasi ini umumnya dipakai pada bangunan dengan bentangan yang cukup lebar, salah
ADENDUM DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA
ADENDUM DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA PROGRAM : PROGRAM REHABILITASI/PEMELIHARAAN JALAN DAN JEMBATAN KEGIATAN : REHABILITASI/PEMELIHARAAN JEMBATAN No. PAKET : V ( LIMA ) PEKERJAAN : REHABILITASI JEMBATAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjaun Umum Jembatan adalah suatu struktur yang melintasi suatu rintangan baik rintangan alam atau buatan manusia (sungai, jurang, persimpangan, teluk dan rintangan lain) dan
DIVISI 4 PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN SEKSI 4.1 PELEBARAN PERKERASAN UMUM PERSYARATAN
4.1.1 UMUM DIVISI 4 PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN SEKSI 4.1 PELEBARAN PERKERASAN 1) Uraian a) Yang dimaksud dengan Pelebaran Perkerasan adalah pekerjaan menambah lebar perkerasan pada jalan lama
PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN
TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN Merupakan Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS PASAL 1 LINGKUP PEKERJAAN
BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS PASAL 1 LINGKUP PEKERJAAN 1. Lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan meliputi : I. Perbaikan/Rehab dermaga TPI/PPI 2. Sarana bekerja dan tata cara pelaksanaan. a. Untuk kelancaran
METODA PELAKSANAAN. CV. SABATA UTAMA Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I Tangan-Tangan
METODA PELAKSANAAN Nama Perusahaan : Nama Paket Pekerjaan : No. Paket : CV. SABATA UTAMA Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I Tangan-Tangan 481625 Jangka waktu pelaksanaan : Metode pelaksanaan merupakan hal
PENERAPAN SPESIFIKASI TEKNIK UNTUK PELAKSANAAN PERKERASAN JALAN BETON. Disampaikan dalam Pelatihan : Pelaksana Lapangan Perkerasan Jalan Beton
PENERAPAN SPESIFIKASI TEKNIK UNTUK PELAKSANAAN PERKERASAN JALAN BETON Disampaikan dalam Pelatihan : Pelaksana Lapangan Perkerasan Jalan Beton 4.1. PENGERTIAN UMUM 4.1.1. Pendahuluan Empat elemen kompetensi
LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CEMENT TREATED BASE / CTB)
BAB V LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CEMENT TREATED BASE / CTB) 5.1. UMUM a. Lapis Pondasi Agregat Semen (Cement Treated Base / CTB) adalah Lapis Pondasi Agregat Kelas A atau Kelas B atau Kelas C yang diberi
ini, adalah proyek penggantian jembatan kereta api lama serta pembuatan 2 bentangan jembatan baru yang
BAB IV STUDI KASUS PENGGANTIAN JEMBATAN KERETA API BH _812 KM 161+601 DI BREBES IV.1. Deskripsi Proyek 4.1.1. Ganbaran Unun Proyek Proyek yang menjadi studi kasus dalam tugas akhir ini, adalah proyek penggantian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Arus Lalu Lintas Ukuran dasar yang sering digunakan untuk definisi arus lalu lintas adalah konsentrasi aliran dan kecepatan. Aliran dan volume sering dianggap sama, meskipun
DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA. No. Mata Uraian Satuan Perkiraan Harga Jumlah Pembayaran Kuantitas Satuan Harga-Harga. a b c d e f = (d x e)
ADDENDUM DOKUMEN LELANG Nomor : 024.a / Dishutbun/Otsus / 2016 Pada hari ini, Jum at tanggal Empat bulan MaretTahun dua ribu enam belas, Pokja ULP Barang / Jasa Dinas Kehutanan Kabupaten Simeulue, melakukan
PEMERINTAH KOTA KUPANG UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) KOTA KUPANG Kelompok Kerja Pengadaan Konstruksi
PEMERINTAH KOTA KUPANG UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) KOTA KUPANG Kelompok Kerja Pengadaan Konstruksi ADDENDUM DOKUMEN PENGADAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI PASCA KUALIFIKASI KONTRAK HARGA SATUAN UNTUK KONTRAK
PROSES PEMASANGAN PORTAL BAJA
PROSES PEMASANGAN PORTAL BAJA A. PEMAHAMAN GAMBAR KERJA Konsep pemahaman gambar-gambar Baja / Gambar Pelaksanaan sebelum masuk bengkel seperti denah keseluruhan, ukuran -ukuran total bangunan, jarak dan
PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN
PEMELIHARAAN RUTIN JALAN DAN JEMBATAN PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN UPR. 02 UPR. 02.4 PEMELIHARAAN RUTIN TALUD & DINDING PENAHAN TANAH AGUSTUS 1992 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pekerjaan Persiapan Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen terpenting dari suatu proyek pembangunan, karena kumpulan berbagai macam material itulah yang
DIVISI 3 PEKERJAAN TANAH SEKSI 3.1 GALIAN
DIVISI 3 PEKERJAAN TANAH SEKSI 3.1 GALIAN 3.1.1 UMUM 1) Uraian a) Pekerjaan ini harus mencakup penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan tanah atau batu atau bahan lain dari jalan atau sekitarnya
DIVISI 7 STRUKTUR SEKSI 7.1 BETON
DIVISI 7 STRUKTUR SEKSI 7.1 BETON 7.1.1 UMUM 1) Uraian a) Pekerjaan yang disyaratkan dalam Seksi ini harus mencakup pelaksanaan seluruh struktur beton, termasuk tulangan, struktur pracetak dan komposit,
DCE - 09 Pengukuran dan Perhitungan Hasil Kerja
DAFTAR MODUL NO KODE JUDUL 1. DCE - 01 UUJK Profesi dan etos Kerja 2. DCE - 02a Manajemen Keselamatan Kerja dan Kesehatan DCE - 02b Manajemen Lingkungan 3. DCE - 03 Dokumen Kontrak 4. DCE - 04 Spesifikasi
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Manajemen pelaksanaan dilakukan dalam rangka menjamin kelancaran
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT 4.1 Uraian Umum Manajemen pelaksanaan dilakukan dalam rangka menjamin kelancaran pelaksanaan pekerjaan proyek yang akan berlangsung. Manajemen pelaksanaan bukan
Selamat Datang MANDOR PEMBESIAN/ PENULANGAN BETON 1.1
Selamat Datang MANDOR PEMBESIAN/ PENULANGAN BETON 1.1 PELATIHAN : DAFTAR MODUL Mandor Pembesian / Penulangan Beton NO. KODE JUDUL NO. REPRESENTASI UNIT KOMPETENSI 1. RCF - 01 UUJK, K3 dan Pengendalian
MACAM MACAM JEMBATAN BENTANG PENDEK
MACAM MACAM JEMBATAN BENTANG PENDEK 1. JEMBATAN GELAGAR BAJA JALAN RAYA - UNTUK BENTANG SAMPAI DENGAN 25 m - KONSTRUKSI PEMIKUL UTAMA BERUPA BALOK MEMANJANG YANG DIPASANG SEJARAK 45 cm 100 cm. - LANTAI
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN 4.1 Material Perlu kita ketahui bahwa bahan bangunan atau material bangunan memegang peranan penting dalam suatu konstruksi bangunan ini menentukan kekuatan, keamanan, dan
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMELIHARAAN JALAN: 13. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMELIHARAAN BERKALA JEMBATAN
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMELIHARAAN JALAN: 13. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMELIHARAAN BERKALA JEMBATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA DAFTAR ISI 13. Standar Operasional Prosedur Pemeliharaan Berkala
PT. Cipta Ekapurna Engineering Consultant
PT. Cipta Ekapurna Engineering Consultant 3. Hasil Pengujian Lapangan Pengujian sondir merupakan salah satu pengujian penetrasi yang bertujuan untuk mengetahui daya dukung tanah pada setiap lapisan serta
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komponen Jembatan Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : 1. Struktur jembatan atas Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang memindahkan
BAB III ANALISA PERENCANAAN STRUKTUR
BAB III ANALISA PERENCANAAN STRUKTUR 3.1. ANALISA PERENCANAAN STRUKTUR PELAT Struktur bangunan gedung pada umumnya tersusun atas komponen pelat lantai, balok anak, balok induk, dan kolom yang merupakan
PONDASI. 1. Agar kedudukan bangunan tetap mantab atau stabil 2. Turunnya bangunan pada tiap-tiap tempat sama besar,hingga tidak terjadi pecah-pecah.
PONDASI Pondasi bangunan merupakan bagian yang penting dari konstruksi bangunan. Pondasi adalah bagian dari suatu konstruksi bangunan yang mempunyai kontak langsung dengan dasar tanah keras dibawahnya.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum merupakan suatu struktur dalam jembatan atau fly over yang berfungsi sebagai penghubung antara struktur bawah dan atas, dengan kata lain girder berfungsi sebagai
PEKERJAAN PERAKITAN JEMBATAN RANGKA BAJA
PEKERJAAN PERAKITAN JEMBATAN RANGKA BAJA 1. Umum Secara umum metode perakitan jembatan rangka baja ada empat metode, yaitu metode perancah, metode semi kantilever dan metode kantilever serta metode sistem
SPESIFIKASI TEKNIS. Pasal 1 JENIS DAN LOKASI PEKERJAAN
SPESIFIKASI TEKNIS Pasal 1 JENIS DAN LOKASI PEKERJAAN 1. Nama Kegiatan : Penataan Listrik Perkotaan 2. Nama pekerjaan : Penambahan Lampu Taman (65 Batang) 3. Lokasi : Pasir Pengaraian Pasal 2 PEKERJAAN
ARDYCHA PRAYUDHA NRP
TUGAS AKHIR ESTIMASI BIAYA DAN WAKTU PEKERJAAN PERKERASAAN RIGID PAVEMENT TOL SURABAYA- MOJOKERTO STA 37+000 42+000 JAWATIMUR ARDYCHA PRAYUDHA NRP. 3111040612 PROGRAM STUDI DIPLOMA 4 TEKNIK SIPIL Fakultas
BAB IV TINJAUAN KONDISI PROYEK ALAT DAN BAHAN BANGUNAN
BAB IV TINJAUAN KONDISI PROYEK ALAT DAN BAHAN BANGUNAN 4.1 KONDISI PROYEK 4.1.1 Pekerjaan Persiapan Pekerjaan persiapan merupakan seluruh rangkaian pekerjaan yang pertama kali harus dilakukan guna memudahkan
LANDASAN TEORI. Katungau Kalimantan Barat, seorang perencana merasa yakin bahwa dengan
BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Tinjauan Umum Menurut Supriyadi dan Muntohar (2007) dalam Perencanaan Jembatan Katungau Kalimantan Barat, seorang perencana merasa yakin bahwa dengan mengumpulkan data dan informasi
BAB VII TATA LAKSANA LAPANGAN
7-1 BAB VII TATA LAKSANA LAPANGAN 7.1 Pekerjaan Persiapan Pada pelaksanaan pekerjaan pembangunan suatu proyek biasanya diawali dengan pekerjaan persiapan. Adapun pekerjaan persiapan tersebut itu meliputi
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
PETUNJUK TEKNIS Konstruksi dan Bangunan No. 020 / BM / 2009 Rehabilitasi Jembatan DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Daftar isi Prakata i Daftar isi ii Daftar gambar vii Pendahuluan
SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH
SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH Pelatihan Tukang Bekisting dan Perancah Nomor Modul SBW 07 Judul Modul TEKNIK PEMASANGAN DAN PEMBONGKARAN BEKISTING DAN PERANCAH DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN
METODE PELAKSANAAN LIFTING JACK TIANG PANCANG
METODE PELAKSANAAN REHABILITASI PRASARANA PENGENDALI BANJIR SUNGAI CITARUM HILIR WALAHAR MUARA GEMBONG PAKET III DI KAB. KARAWANG DAN BEKASI (BENDUNG WALAHAR W718) "SICKLE" LIFTING JACK TIANG PANCANG LIFTING
BAB III METODOLOGI. 3.2 TAHAPAN PENULISAN TUGAS AKHIR Bagan Alir Penulisan Tugas Akhir START. Persiapan
METODOLOGI III - 1 BAB III METODOLOGI 3.1 TAHAP PERSIAPAN Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai pengumpulan dan pengolahan data. Pada tahap ini disusun hal-hal penting yang harus
AHLI MUDA PELAKSANAAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG
SEB-03 = Pengetahuan Teknik Konstruksi PELATIHAN AHLI MUDA PELAKSANAAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG 2007 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH 7.1 Tinjauan umum Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dalam sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan teknik
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1. Pengamatan Pekerjaan Konstruksi Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari beberapa pekerjaan dasar. Yaitu pekerjaan pengukuran, pembesian,
REKAPITULASI BILL OF QUANTITY ( BOQ )
Program Kegiatan : Pembangunan Jalan REKAPITULASI BILL OF QUANTITY ( BOQ ) : Pembangunan Jalan Panango-Kawasan Wisata Pasir Putih Lokasi : Kecamatan Pinolosian Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Tahun
SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH
SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH Pelatihan Tukang Bekisting dan Perancah Nomor Modul SBW 04 Judul Modul KONSTRUKSI BEKISTING DAN PERANCAH DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI
Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung. Tugas Akhir
Tugas Akhir PERENCANAAN JEMBATAN BRANTAS KEDIRI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM BUSUR BAJA Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : 3109100096 Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung
BAB IV METODE PENGECORAN KOLOM, DINDING CORE WALL, BALOK DAN PLAT LANTAI APARTEMENT GREEN BAY PLUIT LANTAI 15 - LANTAI 25
BAB IV METODE PENGECORAN KOLOM, DINDING CORE WALL, BALOK DAN PLAT LANTAI APARTEMENT GREEN BAY PLUIT LANTAI 15 - LANTAI 25 4.1 SYARAT PELAKSANAAN Syarat pelaksanaan diantaranya sebagai berikut: a. Pekerjaan
Analisa & Pembahasan Proyek Pekerjaan Pelat Lantai
Analisa & Pembahasan Proyek Pekerjaan Pelat Lantai Soft cor ini dipasang sepanjang keliling area yang akan dicor, dengan kata lain pembatas area yang sudah siap di cor dengan area yang belum siap. 46 Pekerjaan
BAB III GAMBARAN UMUM PROYEK
BAB III GAMBARAN UMUM PROYEK 3.1 LATAR BELAKANG Sarana transportasi merupakan infrastruktur vital yang berkorelasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Dengan demikian pembangunan dan pemeliharaan
BAB IV PEKERJAAN PEMBUATAN PONDASI TIANG BOR DENGAN METODE ENLARGED BASE BORED PILE. Contoh pelaksanaan pekerjaan lubang bor No.
BAB IV PEKERJAAN PEMBUATAN PONDASI TIANG BOR DENGAN METODE ENLARGED BASE BORED PILE Contoh pelaksanaan pekerjaan lubang bor No.476A (Zone C) 4.1. Pekerjaan Pembuatan Lubang Bor Pekerjaan pembuatan lubang
RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN METODE PELAKSANAAN PADA PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN LAMNYONG KOTA BANDA ACEH
RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN METODE PELAKSANAAN PADA PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN LAMNYONG KOTA BANDA ACEH Dedy Fachrurrazi 1, Chairil Anwar 2, Afdhal Hasan 3 1) Mahasiswa, Diploma 4 Perancangan Jalan dan
MODUL SIB 09 : PEKERJAAN BANGUNAN PELENGKAP DAN PERLENGKAPAN JALAN
PELATIHAN SITE INSPECTOR OF BRIDGE (INSPEKTUR PEKERJAAN LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL SIB 09 : PEKERJAAN BANGUNAN PELENGKAP DAN PERLENGKAPAN JALAN 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI
SDA RPT0. Konsep. Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Volume I : Umum Bagian 6 : Pekerjaan Pemancangan
RPT0 RANCANGAN PEDOMAN TEKNIS BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Volume I : Umum Bagian 6 : Pekerjaan Pemancangan ICS 93.010 BIDANG SUMBER DAYA AIR
HARGA SATUAN POKOK KEGIATAN (HSPK)
NOMOR : TANGGAL : NOMOR URAIAN KEGIATAN Koef. A BANGUNAN GEDUNG 24.01 Pekerjaan Persiapan & Tanah 24.01.01.01 Pembuatan Bouwplank /Titik Titik 23.02.04.01.01.F Mandor 0.0045 Orang Hari 158,000.00 711.00
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. Dalam setiap Proyek Konstruksi, metode pelaksanaan yang dilakukan memiliki
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH 7.1. Uraian Umum Dalam setiap Proyek Konstruksi, metode pelaksanaan yang dilakukan memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan Proyek yang lainnya. Metode pelaksanaan yang
KATA PENGANTAR. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, kami mengharapkan kritik, saran dan masukan guna perbaikan dan penyempurnaan modul ini.
KATA PENGANTAR Usaha dibidang Jasa konstruksi merupakan salah satu bidang usaha yang telah berkembang pesat di Indonesia, baik dalam bentuk usaha perorangan maupun sebagai badan usaha skala kecil, menengah
PEDOMAN PEMBANGUNAN PRASARANA SEDERHANA TAMBATAN PERAHU DI PERDESAAN
PEDOMAN PEMBANGUNAN PRASARANA SEDERHANA TAMBATAN PERAHU DI PERDESAAN NO. 0081T/Bt/1995 DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA DIREKTORAT PEMBINAAN JALAN KOTA PRAKATA Sejalan dengan mekanisme perencanaan Proyek
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain seperti
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komponen Jembatan Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain seperti dibawah ini. Gambar 2.1. Komponen Jembatan 1. Struktur jembatan atas Struktur jembatan
SESI 9 KERUSAKAN DAN PENANGANAN SIAR MUAI. Kementerian Pekerjaan Umum
SESI 9 KERUSAKAN DAN PENANGANAN SIAR MUAI Kementerian Pekerjaan Umum 1 PENDAHULUAN Siar muai mengakomodir pergerakan jembatan tanpa menimbulkan tegangan tambahan yang signifikan Pemilihan siar muai berdasarkan
ZULFIKAR JAUHARI NRP
TUGAS AKHIR MANAJEMEN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JALAN TOL MOJOKERTO KERTOSONO STA. 5+350 STA. 10+350 DENGAN MENGGUNAKAN PERKERASAN KAKU DI KABUPATEN MOJOKERTO PROVINSI JAWA TIMUR ZULFIKAR JAUHARI NRP. 3110040601
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS 5.1. Uraian Umum Pada sebuah pelaksanaan konstruksi, banyak sekali pihak-pihak yang berkaitan didalamnya. Karena semakin banyaknya pihak yang berkaitan, maka makin
LAMPIRAN. Suatu bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran
LAMPIRAN Sistem proteksi pasif terdiri dari : Ketahanan Api dan Stabilitas Suatu bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran sehingga pada saat terjadi kebakaran pengguna gedung
BAB V METODE PELAKSANAAN. 5.1 Pekerjaan Pondasi Tiang Bor (Bored Pile) ke dalam tanah dengan cara mengebor tanah terlebihdahulu, lalu kemudian diisi
BAB V METODE PELAKSANAAN 5.1 Pekerjaan Pondasi Tiang Bor (Bored Pile) Pondasi tiang bor (bored pile) adalah pondasi tiang yang pemasangannya dilakukan dengan mengebor tanah pada awal pengerjaannya. Bored
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI BALOK BETON PRATEGANG DI PROYEK WISMA KARTIKA GROGOL
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI BALOK BETON PRATEGANG DI PROYEK WISMA KARTIKA GROGOL 7.1 Uraian Umum Seperti yang telah diketahui bahwa beton adalah suatu material yang
SAMBUNGAN PADA RANGKA BATANG BETON PRACETAK
SAMBUNGAN PADA RANGKA BATANG BETON PRACETAK Fx. Nurwadji Wibowo ABSTRAKSI Ereksi beton pracetak memerlukan alat berat. Guna mengurangi beratnya perlu dibagi menjadi beberapa komponen, tetapi memerlukan
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkerasan jalan beton semen atau secara umum disebut perkerasan kaku, terdiri atas plat (slab) beton semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah (bisa juga
membuat jembatan jika bentangan besar dan melintasi ruas jalan lain yang letaknya lebih
BAB III PERENCANAAN PENJADUALAN PROYEK JEMBATAN 3.1. Umum. Jembatan adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan dua ruas jalan yang dipisahkan oleh suatu rintangan atau keadaan topografi
Laporan Tugas Akhir Rekayasa Nilai Pembangunan RS Mitra Husada Slawi 29
BAB III PENDEKATAN METODE 3.1 PENDAHULUAN Metodologi adalah tatacara atau jalan yang ditempuh sehubungan dengan penelitian yang dilakukan, yang memiliki langkah-langkah yang sistematis untuk menyelesaikan
BAB XII GALIAN BIASA UMUM. 1) Uraian
BAB XII GALIAN BIASA 3.1.1. UMUM 1) Uraian a) Pekerjaan ini harus mencakup penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan tanah atau batu atau bahan lain dari jalan atau sekitarnya yang diperlukan
JASA KONSTRUKSI INDUSTRI PENUNJANG KONSTRUKSI Jln. Veteran No. 112 Bekasi Telp (Hunting) Fax
JASA KONSTRUKSI INDUSTRI PENUNJANG KONSTRUKSI Jln. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-8842315 (Hunting) Fax. 021-8842313 Email : [email protected] Website : www.amartakarya.co.id 1. Pendahuluan
