MODUL STEBC 04 : JADWAL PELAKSANAAN
|
|
|
- Agus Budiman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PELATIHAN STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION PEKERJAAN (AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL STEBC 04 : JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN JEMBATAN 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI (PUSBIN-KPK) MyDoc/Pusbin-KPK/Draft1
2 KATA PENGANTAR Modul ini berisi bahasan mengenai jadwal pelaksanaan pekerjaan jembatan. Kompetensi ini mencakup menyusun metode pelaksanaan untuk setiap jenis pekerjaan, menyusun urutan pelaksanaan pekerjaan (berdasarkan pembagian lokasi atau seksi pekerjaan), menghitung waktu pelaksanaan setiap jenis pekerjaan dan menentukan lintasan kritis pada jenis pekerjaan tertentu dan menghitung kebutuhan alat, bahan dan tenaga dan waktu pengadaannya yang diperlukan untuk membuat jadwal pelaksanaan pemasangan rangka baja jembatan. Kami menyadari bahwa modul ini masih jauh dari sempurna baik ditinjau dari segi materi sistematika penulisan maupun tata bahasanya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para peserta dan pembaca semua, dalam rangka perbaikan dan penyempurnaan modul ini. Demikian modul ini dipersiapkan untuk membekali seorang AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge Construction) dengan pengetahuan yang berkaitan mudah-mudahan modul ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya. Jakarta, Desember 2006 Penyusun i
3 LEMBAR TUJUAN JUDUL PELATIHAN MODEL PELATIHAN : Pelatihan Ahli Struktur Pekerjaan Jembatan (Structure Engineer of Bridge Construction) : Lokakarya terstruktur TUJUAN UMUM PELATIHAN : Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu melaksanakan pekerjaan struktur jembatan berdasarkan gambar kerja sesuai dengan spesifikasi dan pengendalian waktu. TUJUAN KHUSUS PELATIHAN : Pada akhir pelatihan ini peserta diharapkan mampu: 1. Menerapkan ketentuan UUJK, mengawasi penerapan K3 dan memantau lingkungan selama pelaksanaan pekerjaan jembatan 2. Melakukan survey lapangan untuk memastikan kesesuaian gambar rencana dengan lokasi jembatan di lapangan. 3. Melakukan koordinasi dengan petugas/teknisi laboratorium di lapangan dalam rangka pengujian tanah dan material untuk pekerjaan pondasi, pekerjaan bangunan bawah dan pekerjaan bangunan atas. 4. Menyusun detail jadwal pelaksanaan pekerjaan struktur jembatan sesuai dengan urutan pelaksanaannya. 5. Meneliti kesesuaian gambar kerja dengan metode pelaksanaan yang akan digunakan dalam upaya memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan. 6. Menyiapkan perhitungan volume pekerjaan, penggunaan peralatan, material dan tenaga kerja yang diperlukan untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan. 7. Memecahkan permasalahan konstruksi yang mungkin timbul sesuai dengan metode pelaksanaan selama pekerjaan berjalan. 8. Mengorganisasi alat, bahan dan tenaga pekerjaan struktur jembatan dan membuat laporan. ii
4 NOMOR : STEBC 04 JUDUL MODUL : JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN JEMBATAN TUJUAN PELATIHAN : TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu menyusun metode kerja dan detail jadwal pelaksanaan pekerjaan struktur jembatan sesuai dengan urutan pelaksanaannya. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) Pada akhir pelatihan peserta mampu : 1. Menyusun metode pelaksanaan untuk setiap jenis pekerjaan 2. Menyusun urutan pelaksanaan pekerjaan (berdasarkan pembagian lokasi atau seksi pekerjaan) 3. Menghitung waktu pelaksanaan setiap jenis pekerjaan dan menentukan lintasan kritis pada jenis pekerjaan tertentu 4. Menghitung kebutuhan alat, bahan dan tenaga dan waktu pengadaannya iii
5 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... LEMBAR TUJUAN... i ii DAFTAR ISI... iv DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge Construction)... v DAFTAR MODUL... v PANDUAN INSTRUKTUR... vi BAB I PENDAHULUAN BAB II METODE PELAKSANAAN 2.1. METODE KERJA PELAKSANAAN PONDASI... II Metode Kerja Pelaksanaan Pondasi Sumuran... II Menentukan Posisi Telapak Abutment / Tepi Atas Dinding Sumuran... II Melaksanakan Penurunan Dinding Sumuran... II Mengisi Sumuran Dengan Beton K-175 Dan K II Menyiapkan Telapak Abutment... II Metode Kerja Pelaksanaan Pondasi Langsung... II Metode Kerja Pelaksanaan Pondasi Tiang Pancang... II METODE KERJA PELAKSANAAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN... II METODE KERJA PELAKSANAAN BANGUNAN ATAS JEMBATAN... II-19 iv
6 Metode Kerja Pelaksanaan Bangunan Atas Rangka Baja... II Metode Peluncuran (Launching) dengan Kantilever... II Metode Perakitan Bertahap dengan Kantilever... II Metode kerja pelaksanaan Unit-unit Beton Pratekan... II METODE KERJA PELAKSANAAN JALAN PENDEKAT (OPRIT JEMBATAN)... II PENYELESAIAN BACK WALL DAN OPRIT SETELAH BANGUNAN ATAS TERPASANG... II-29 v
7 BAB III URUTAN PELAKSANAAN PEKERJAAN 3.1. PEMBAGIAN PEKERJAAN... III Pembagian Pekerjaan Berdasarkan Kemampuan dan Ketersediaan Alat... III Pekerjaan Pondasi... III Pekerjaan Bangunan Bawah... III Pekerjaan Bangunan Atas (Dipilih Sesuai Dengan Gambar Rencana)... III Pekerjaan Jalan Pendekat... III Pekerjaan Bangunan Pelengkap Dan Pengaman Jembatan... III Pembagian Pekerjaan Berdasarkan Kemampuan dan Ketersediaan Tenaga Kerja... III URUTAN PELAKSANAAN PEKERJAAN BERDASARKAN KETERGANTUNGAN JENIS PEKERJAAN... III Pekerjaan Tanah Dan Pemasangan Pondasi Jembatan... III Pembuatan bangunan bawah jembatan... III Pemasangan bangunan atas jembatan... III Pembuatan oprit jembatan... III Pembuatan bangunan pelengkap dan pengaman jembatan... III ALUR PENGGUNAN PERALATAN DAN TENAGA KERJA... III-12 BAB IV MENGHITUNG WAKTU PELAKSANAAN DAN MENENTUKAN LINTASAN KRITIS 4.1 NETWORK PLANNING... IV LINTASAN KRITIS... IV-4 BAB V MENGHITUNG KEBUTUHAN ALAT, BAHAN, TENAGA KERJA DAN WAKTU 5.1 KEBUTUHAN ALAT... V KEBUTUHAN MATERIAL... V KEBUTUHAN TENAGA KERJA... V-11 vi
8 5.4 KEBUTUHAN WAKTU... V-18 RANGKUMAN DAFTAR PUSTAKA HAND OUT vii
9 DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge Construction) 1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge Construction) dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kerja sehingga dalam Pelatihan AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge Construction) unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan. 2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut. 3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge Construction). Nomor Modul Jabatan Kerja : Kode DAFTAR MODUL Ahli Struktur Pekerjaan Jembatan (Structure Engineer of Bridge Construction/STEBC) Judul Modul 1 STEBC 01 UUJK, K3 dan Pemantauan Lingkungan 2 STEBC 02 Survey Lapangan Pekerjaan Jembatan 3 STEBC 03 Pengujian Tanah dan Material 4 STEBC 04 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan 5 STEBC 05 Gambar Kerja Pekerjaan Jembatan 6 STEBC 06 Kebutuhan Sumber Daya 7 STEBC 07 Permasalahan Pelaksanaan Jembatan 8 STEBC 08 Metode Pelaksanaan Jembatan viii
10 PANDUAN INSTRUKTUR A. BATASAN NAMA PELATIHAN : AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge Construction ) KODE MODUL : STEBC - 04 JUDUL MODUL : Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan DESKRIPSI : Materi ini membahas tentang metode pelaksanaan untuk setiap jenis pekerjaan, urutan pelaksanaan pekerjaan (berdasarkan pembagian lokasi atau seksi pekerjaan), Menghitung waktu pelaksanaan setiap jenis pekerjaan dan menentukan lintasan kritis pada jenis pekerjaan tertentu dan Menghitung kebutuhan alat, bahan dan tenaga dan waktu pengadaannya yang memang penting untuk diajarkan pada suatu pelatihan bidang jasa konstruksi sehingga perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pekerjaan konstruksi betul-betul dapat dikerjakan dengan penuh tanggung jawab yang berazaskan efektif dan efisien, nilai manfaatnya dapat mensejahteraan bangsa dan negara. TEMPAT KEGIATAN : Ruangan Kelas lengkap dengan fasilitasnya. WAKTU PEMBELAJARAN : 8 (Delapan) Jam Pelajaran (JP) (1 JP = 45 Menit) ix
11 B. KEGIATAN PEMBELAJARAN Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung 1. Ceramah Pembelajaran Pengantar Menjelaskan TIU dan TIK serta pokok pembahasan Merangsang motivasi peserta untuk mengerti/memahami dan membandingkan pengalamannya Bab I Pendahuluan Waktu = 10 menit Mengikuti penjelasan, pengantar, TIU,TIK, dan pokok bahasan. Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan pengalaman OHT 2. Ceramah Bab II Metode Pelaksanaan Metode Kerja Pelaksanaan Pondasi Metode Kerja Pelaksanaan Bangunan Atas Jembatan Metode Kerja Pelaksanaan Bangunan Atas Jembatan Metode kerja Pelaksanaan Jalan Pendekat (Oprit Jembatan) Penyelesaian Back Wall dan Oprit setelah Bangunan Atas terpasang Waktu = 90 menit Mengikuti ceramah dengan tekun dan memperhatikan hal-hal penting yang perlu di catat Mengajukan pertanyaan apabila kurag jelas atau sangat berbeda dengan fakta yang ada di lapangan dan atau pengalaman OHT 3. Ceramah Bab III Urutan Pelaksanaan Pekerjaan Pembagian Pekerjaan Urutan Pelaksanaan Pekerjaan Berdasarkan Ketergantungan Jenis Pekerjaan Alur Penggunaan Peralatan dan Tenaga Kerja Waktu = 90 menit Mengikuti ceramah dengan tekun dan memperhatikan hal-hal penting yang perlu di catat Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan fakta dilapangan dan atau pengalaman OHT 4. Ceramah Bab V Waktu Pelaksanaan dan Menentukan Lintasan Kritis Networking Planning Lintasan Kritis Waktu = 90 menit Mengikuti ceramah dengan tekun dan memperhatikan hal-hal penting yang perlu di catat Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan fakta dilapangan dan atau pengalaman OHT x
12 Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung 5. Ceramah Bab V Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu Kebutuhan Alat Kebutuhan Material Kebutuhan Tenaga Kerja Kebutuhan Waktu Waktu = 80 menit Mengikuti ceramah dengan tekun dan memperhatikan hal-hal penting yang perlu di catat Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan fakta dilapangan dan atau pengalaman OHT xi
13 Bab I : Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN Modul ini disusun dalam rangka membekali peserta pelatihan dalam mengenali prinsip-prinsip penyiapan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan. Penyiapan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan tersebut perlu dibuat sesuai dengan metode pelaksanaan yang akan digunakan dalam upaya memenuhi Spesifikasi Teknis yang telah ditetapkan. Pelaksanaan pekerjaan jembatan di lapangan memerlukan tingkat kecermatan dan ketelitian yang harus mendapat perhatian penuh dari structure engineer of bridge construction. Oleh karena itu Penyiapan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan yang dibuat harus memberikan waktu yang cukup bagi pelaksana lapangan dalam memenuhi prinsip-prinsip aspek teknis yang tertuang dalam Gambar Rencana dan Spesifikasi Teknis agar dapat memperkecil kesalahankesalahan umum yang sering dijumpai pada pelaksanaan pekerjaan jembatan. Modul ini akan menguraikan prinsip-prinsip penyiapan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan yang secara umum dibuat dengan mempertimbangkan substansi-substansi sebagai berikut : Metode pelaksanaan pekerjaan jembatan; Urutan pelaksanaan pekerjaan jembatan; Prinsip-prinsip perhitungan waktu pelaksanaan dan penentuan lintasan kritis; Prinsip-prinsip perhitungan kebutuhan alat, bahan, tenaga kerja dan waktu. Berkaitan dengan metode pelaksanaan pekerjaan jembatan, ada 5 (lima) hal yang harus dipersiapkan yaitu metode kerja pelaksanaan pondasi, metode kerja pelaksanaan bangunan bawah, metode kerja pelaksanaan bangunan atas, metode kerja pelaksanaan jalan pendekat dan metode kerja pelaksanaan bangunan pelengkap dan pengaman jembatan. Tentang urutan pelaksanaan pekerjaan jembatan, masukan yang perlu dipertimbangkan dalam Penyiapan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan adalah pembagian pekerjaan berdasarkan kemampuan dan ketersediaan alat dan I-1
14 Bab I : Pendahuluan tenaga kerja, urutan pelaksanaan berdasarkan ketergantungan jenis pekerjaan, dan alur penggunaan peralatan dan tenaga kerja. Dalam penyiapan jadwal pelaksanaan pekerjaan jembatan, menghitung waktu pelaksanaan dan menentukan lintasan kritis juga diperlukan untuk memastikan bahwa ada kegiatan-kegiatan yang ketersediaan waktunya sangat terbatas sehingga memerlukan manajemen pelaksanaan yang ketat. Karena jika kegiatan di lintasan kritis tersebut tidak dapat diselesaikan tepat pada waktunya, maka pencapaian penyelesaian pekerjaan akan mundur dari jadwal yang telah ditentukan dan disepakati. Berikutnya, kebutuhan alat, kebutuhan material, dan kebutuhan tenaga kerja juga merupakan substansi-substansi yang juga harus dijadikan pertimbangan dalam penyiapan jadwal pelaksanaan pekerjaan jembatan. Jika keempat faktor di atas dijadikan bahan pertimbangan dalam menyiapkan jadwal pelaksanaan pekerjaan diharapkan jadwal dimaksud dapat memenuhi kebutuhan waktu yang setepat-tepatnya dalam pelaksanaan pekerjaan jembatan sesuai dengan persyaratan-persyaratan teknis yang disepakati antara penyedia jasa dan pengguna jasa. I-2
15 Bab II : Metode Pelaksanaan BAB II METODE PELAKSANAAN 2.1 METODE KERJA PELAKSANAAN PONDASI Ada 3 (tiga) jenis metode kerja pelaksanaan pondasi yaitu : Metode kerja pelaksanaan pondasi sumuran Metode kerja pelaksanaan pondasi langsung Metode kerja pelaksanaan pondasi tiang pancang Berikut ini diuraikan dalam garis besar prinsip-prinsip metode pelaksanaan untuk masing-masing jenis pondasi tersebut di atas: Metode Kerja Pelaksanaan Pondasi Sumuran Pembuatan pekerjaan pondasi sumuran (contoh yang dipilih adalah pondasi sumuran untuk abutment) secara prinsip mengikuti urutan pelaksanaan berdasarkan metode kerja pelaksanaan sebagai berikut : Dinding sumuran yang telah terpasang diisi Beton K-250 setinggi 1 meter di atas beton siklop K-175 Diisi Beton K-175 Tanah keras Muka air sungai Tepi bawah dinding sumuran diletakkan 1 meter di bawah tanah keras a. Menentukan posisi telapak abutment / tepi atas dinding sumuran b. Melaksanakan penurunan dinding sumuran c. Mengisi sumuran dengan beton K-175 dan K-250 dan d. Menyiapkan telapak abutment II-1
16 Bab II : Metode Pelaksanaan Menentukan Posisi Telapak Abutment / Tepi Atas Dinding Sumuran Untuk dapat menentukan posisi telapak abutment/tepi atas dinding sumuran terlebih dahulu harus dibuat patok-patok pengukuran untuk dijadikan titik-titik referensi (titik-titik kontrol pengukuran) dalam memandu posisi dasar abutment sesuai dengan gambar rencana maupun gambar kerja. Pelaksanaan pekerjaan jembatan membutuhkan pelaksanaan seluruh elemenelemennya pada posisi yang benar. Untuk memindahkan suatu Gambar Rencana dari atas kertas ke suatu bangunan di lapangan, maka dibutuhkan : Sejumlah titik kontrol pengukuran yang harus dikaitkan pada suatu sistem koordinat yang tetap. Perencanaan konstruksi yang harus dikaitkan pada sistem koordinat yang sama. Apabila terdapat ketidak jelasan informasi pada gambar rencana yang menimbulkan keraguan interpretasi, maka pengawas lapangan harus menghubungi perencananya untuk mendapatkan kejelasan. Kontraktor bertanggung jawab dalam penentuan dan pematokan secara keseluruhan, sedang pengawas lapangan harus memastikan bahwa kontraktor mendapatkan informasi yang tepat serta menyiapkan titik-titik kontrol yang dipasang Suatu jaringan titik kontrol survei ditentukan untuk mencakup seluruh daerah proyek, dan ditempatkan pada posisi yang tepat didalam pekerjaan konstruksi. Jarak antara titik-titik kontrol dianjurkan kira-kira 50 meter. Titik-titik kontrol survei sebaiknya berada dekat dengan lokasi pekerjaan tetapi bebas dari area kegiatan, dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan adanya pergeseran posisi akibat aktivitas pekerjaan termasuk pengoperasian dari peralatan. Untuk itu letak titik-titik kontrol tersebut harus selalu dicek secara teratur. Perubahan letak titik kontrol juga dapat terjadi pada dasar tanah, pada timbunan pelapisan tanah yang mudah mampat atau proses dalam tanah itu sendiri, seperti proses yang terjadi akibat besarnya variasi kadar kelembaban. Letak dari elemen-elemen utama struktur ditentukan berdasarkan pada sistem referensi yang digunakan. II-2
17 Bab II : Metode Pelaksanaan Titik offset referensi harus ditetapkan untuk tiap elemen utama. Letak dan jarak offset tiap-tiap titik referensi harus hati-hati diputuskan dan dikenali dilapangan dan untuk menyiapkan tahap penentuan kembali yang mudah bagi letak elemen utama selama pelaksanaan pekerjaan sehingga titik-titik ini tidak terganggu. Penempatan dan pematokan letak elemen-elemen yang telah ditentukan harus diperiksa. Pemeriksaan ini harus dilakukan secara terpisah dan dilakukan oleh Staf Engineer dengan menggunakan peralatan lain yang berbeda dengan peralatan yang digunakan pada saat penempatan dan pematokan awal. Bagi kontraktor yang melaksanakan pemeriksaan ulang atas hasil pekerjaannya sendiri, dianjurkan untuk menggunakan methoda lain yang berbeda dengan methoda yang telah digunakan pada saat awal penempatan dan pematokan. Untuk menghindari kesalahan dari ketidak tepatan identifikasi patok, ketidaktepatan panandaan atau kesalahan dalam melaksanakan survei, maka pengukuran jarak dan beda tinggi dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan dari titik awal suatu sisi sampai pada titik akhir pada sisi yang lain, kemudian diikatkan pada titik kontrol hasil survei pertama. Pemeriksaan ini tidak diperkenankan dilakukan hanya dengan mengukur dari satu titik akhir saja atau dua titik akhir pada sisi yang terpisah. Setelah posisi dasar abutment ditentukan di lapangan, langkah selanjutnya adalah memotong tanah asli sampai elevasi dasar abutment dengan menggunakan excavator. Kemudian dicor lantai kerja dengan lean concrete di luar area untuk penempatan sumuran, dengan demikian posisi tepi atas sumuran pada dasar abutment dapat ditentukan, sehingga penurunan dinding sumuran dapat dimulai Melaksanakan Penurunan Dinding Sumuran Pembuatan pondasi sumuran harus memenuhi ketentuan dimensi dan fungsinya, dengan mempertimbangkan kondisi pelaksanaan yang diberikan. 1) Unit Beton Pracetak Unit beton pracetak harus dicor pada landasan pengecoran yang sebagaimana mestinya. Cetakan harus memenuhi garis dan elevasi yang tepat dan terbuat dari logam. Cetakan harus kedap air dan tidak boleh dibuka paling sedikit 3 hari setelah pengecoran. Unit beton pracetak yang telah II-3
18 Bab II : Metode Pelaksanaan selesai dikerjakan harus bebas dari segregasi, keropos, atau cacat lainnya dan harus memenuhi dimensi yang disyaratkan. Unit beton pracetak tidak boleh digeser paling sedikit 7 hari setelah pengecoran, atau sampai pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan beton telah mencapai 70 persen dari kuat tekan beton rancangan dalam 28 hari. Unit beton pracetak tidak boleh diangkut atau dipasang sampai beton tersebut mengeras paling sedikit 14 hari setelah pengecoran, atau sampai pengujian menunjukkan kuat tekan mencapai 85 persen dari kuat tekan rancangan dalam 28 hari. 2) Dinding Sumuran dari Unit Beton Pracetak Beton pracetak yang pertama dibuat harus ditempatkan sebagai unit yang terbawah. Bilamana beton pracetak yang pertama dibuat telah diturunkan, beton pracetak berikut-nya harus dipasang di atasnya dan disambung sebagimana mestinya dengan adukan semen untuk memperoleh kekakuan dan stabilitas yang diperlukan. Penurunan dapat dilanjutkan 24 jam setelah penyambungan selesai dikerjakan. 3) Dinding Sumuran Cor Di Tempat Cetakan untuk dinding sumuran yang dicor di tempat harus memenuhi garis dan elevasi yang tepat, kedap air dan tidak boleh dibuka laing sedikit 3 hari setelah pengecoran. Beton harus dicor dan dirawat sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi ini. Penurunan tidak boleh dimulai paling sedikit 7 hari setelah pengecoran atau sampai pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan beton mencapai 70 persen dari kuat tekan rancangan dalam 28 hari. 4) Galian dan Penurunan Bilamana penggalian dan penurunan pondasi sumuran dilaksanakan, perhatian khusus harus diberikan untuk hal-hal berikut ini : a) Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan aman, teliti, mematuhi undang-undang keselamatan kerja, dan sebagainya. b) Penggalian hanya boleh dilanjutkan bilamana penurunan telah dilaksanakan dengan tepat dengan memperhatikan pelaksanaan dan kondisi tanah. Gangguan, pergeseran dan gonjangan pada dinding sumuran harus dihindarkan selama penggalian. II-4
19 Bab II : Metode Pelaksanaan c) Dinding sumuran umumnya diturunkan dengan cara akibat beratnya sendiri, dengan menggunakan beban berlapis (superimposed loads), dan mengurangi ketahanan geser (frictional resistance), dan sebagainya. d) Cara mengurangi ketahanan geser : Bilamana ketahanan geser diperkirakan cukup besar pada saat penurunan dinding sumuran, maka disarankan untuk melakukan upaya untuk mengurangi geseran antara dinding luar sumuran dengan tanah di sekelilingnya. Direksi Pekerjaan akan memeriksa seluruh galian yang disiapkan untuk pondasi sebelum menyetujui pengecoran beton dan dapat meminta Kontraktor untuk melaksanakan pengujian penetrasi ke dalaman tanah keras, pengujian kepadatan atau penyelidikan lainnya untuk memastikan cukup tidaknya daya dukung dari tanah di bawah pondasi. Bilamana dijumpai kondisi tanah dasar pondasi yang tidak memenuhi ketentuan, Kontraktor dapat diperintahkan untuk mengubah dimensi atau ke dalaman dari pondasi dan/atau menggali dan mengganti bahan di tempat yang lunak, memadatkan tanah pondasi atau melakukan tindakan stabilisasi lainnya sebagai-mana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. e) Sumbat Dasar Sumuran Dalam pembuatan sumbat dasar sumuran, perhatian khusus harus diberikan untuk hal-hal berikut ini : i) Pengecoran beton dalam air umumnya harus dilaksanakan dengan cara tremies atau pompa beton setelah yakin bahwa tidak terdapat fluktuasi muka air dalam sumuran. ii) Air dalam sumuran umumnya tidak boleh dikeluarkan setelah pengecoran beton untuk sumbat dasar sumuran. II-5
20 Bab II : Metode Pelaksanaan Mengisi Sumuran Dengan Beton K-175 Dan K-250 Setelah dinding sumuran diturunkan sampai kedalaman sesuai dengan yang ditentukan dalam gambar rencana atau gambar kerja, maka dilakukan pengisian sumuran sebagai berikut : 1) Pengisian Sumuran Sumuran harus diisi dengan beton siklop K175 sampai elevasi satu meter di bawah pondasi telapak. Sisa satu meter tersebut harus diisi dengan beton K250, atau sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar. 2) Beton Siklop Pengecoran beton siklop terdiri dari campuran beton kelas K175 dengan batu-batu pecah ukuran besar. Batu-batu ini diletakkan dengan hati-hati, tidak boleh dijatuhkan dari tempat yang tinggi atau ditempatkan secara berlebihan yang dikhawatirkan akan merusak bentuk acuan atau pasangan-pasangan lain yang berdekatan. Semua batu-batu pecah harus cukup dibasahi sebelum ditempatkan. Volume total batu pecah tidak boleh melebihi sepertiga dari total volume pekerjaan beton siklop. 3) Pekerjaan Dinding Penahan Rembesan (Cut-Off Wall Work) Dinding penahan rembesan (cut-off wall) harus kedap air dan harus mampu menahan gaya-gaya dari luar seperti tekanan tanah dan air selama proses penurunan dinding sumuran, dan harus ditarik setelah pelaksanaan sumuran selesai dikerjakan Menyiapkan Telapak Abutment 1) Pembongkaran Bagian Atas Sumuran Terbuka Bagian atas dinding sumuran yang telah terpasang yang lebih tinggi dari sisi dasar pondasi telapak harus dibongkar. Pembongkaran harus dilaksanakan dengan menggunakan alat pemecah bertekanan (pneumatic breakers). Peledakan tidak boleh digunakan dalam setiap pembongkaran ini. Baja tulangan yang diperpanjang masuk ke dalam pondasi telapak harus mempunyai panjang paling sedikit 40 kali diameter tulangan. II-6
21 Bab II : Metode Pelaksanaan 2) Pengendalian Keselamatan Dalam melaksanakan pembuatan pondasi sumuran, standar keselamatan yang tinggi harus digunakan untuk para pekerja dengan ketat mematuhi undangundang dan peraturan yang berkaitan Metode Kerja Pelaksanaan Pondasi Langsung Untuk dapat menentukan posisi telapak abutment pada pondasi langsung, prosedur dan tata cara yang digunakan sama dengan penjelasan yang diberikan pada butir Jika posisi tepi bawah bangunan bawah telah ditentukan, selanjutnya pekerjaan bangunan bawah jembatan dapat dilaksanakan. Penjelasan selanjutnya, lihat butir 2.2. Metode Kerja Pelaksanaan Bangunan Bawah Metode Kerja Pelaksanaan Pondasi Tiang Pancang Tiang pancang beton setelah bagian yang berada di atas lantai kerja dibongkar, baja-baja tulangan dari tiang pancang yang telah dibongkar akan mengikat tiang pancang dan abutment setelah beton untuk abutment dicor. Muka air sungai Elevasi ujung tiang pancang sesuai gambar kerja Sebelum dilakukan pemancangan tiang pancang, terlebih dahulu disiapkan lokasi/ posisi tiang-tiang pancang di atas tanah/telapak tepi bawah bangunan bawah jembatan. Penjelasan tentang hal ini pada prinsipnya sama dengan butir II-7
22 Bab II : Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan pemancangan tiang pancang dapat diuraikan sebagai berikut : 1) Pemancangan tiang pancang dimulai dari titik pancang yang terletak paling dekat dengan sungai. 2) Pemancangan dilakukan sampai ujung tiang pancang mencapai elevasi rencana sebagaimana digambarkan di dalam gambar kerja. Untuk mencapai elevasi di maksud ada kemungkinan diperlukan penyambungan tiang pancang. 3) Setelah seluruh tiang pancang dipancang, di sekeliling tiang pancang seluas kaki abutment dicor lantai kerja. Jika menggunakan tiang pancang beton, kepala tiang yang berada di atas lantai kerja dibongkar agar tulangan yang berada pada tiang pancang di atas lantai kerja tersebut dapat digunakan untuk mengikat seluruh tiang pancang dengan kaki abutment. 4) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemancangan tiang : a). Umum Tiang pancang dapat dipancang dengan setiap jenis palu, asalkan tiang pancang tersebut dapat menembus masuk pada ke dalaman yang telah ditentukan atau mencapai daya dukung yang telah ditentukan, tanpa kerusakan. Bilamana elevasi akhir kepala tiang pancang berada di bawah permukaan tanah asli, maka galian harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum pemancangan. Perhatian khusus harus diberikan agar dasar pondasi tidak terganggu oleh penggalian di luar batas-batas yang ditunjukkan dalam Gambar. Kepala tiang pancang baja harus dilindungi dengan bantalan topi atau mandrel dan kepala tiang kayu harus dilindungi dengan cincin besi tempa atau besi non-magnetik sebagaimana yang disyaratkan dalam Spesifikasi ini. Palu, topi baja, bantalan topi, katrol dan tiang pancang harus mempunyai sumbu yang sama dan harus terletak dengan tepat satu di atas lainnya. Tiang pancang termasuk tiang pancang miring II-8
23 Bab II : Metode Pelaksanaan harus dipancang secara sentris dan diarahkan dan dijaga dalam posisi yang tepat. Semua pekerjaan pemancangan harus dihadiri oleh Direksi Pekerjaan atau wakilnya, dan palu pancang tidak boleh diganti dan dipindahkan dari kepala tiang pancang tanpa persetujuan dari Direksi Pekerjaan atau wakilnya. Tiang pancang harus dipancang sampai penetrasi maksimum atau penetrasi tertentu, sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, atau ditentukan dengan peng-ujian pembebanan sampai mencapai ke dalaman penetrasi akibat beban pengujian tidak kurang dari dua kali beban yang dirancang, yang diberikan menerus untuk sekurang-kurangnya 60 mm. Dalam hal tersebut, posisi akhir kepala tiang pancang tidak boleh lebih tinggi dari yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan setelah pemancangan tiang pancang uji. Posisi tersebut dapat lebih tinggi jika disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana ketentuan rancangan tidak dapat dipenuhi, maka Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan untuk menambah jumlah tiang pancang dalam kelompok tersebut sehingga beban yang dapat didukung setiap tiang pancang tidak melampaui kapasitas daya dukung yang aman, atau Direksi Pekerjaan dapat mengubah rancangan bangunan bawah jembatan bilamana dianggap perlu. Alat pancang yang digunakan dapat dari jenis gravitasi, uap atau diesel. Untuk tiang pancang beton, umumnya digunakan jenis uap atau diesel. Berat palu pada jenis gravi-tasi sebaiknya tidak kurang dari jumlah berat tiang beserta topi pancangnya, tetapi sama sekali tidak boleh kurang dari setengah jumlah berat tiang beserta topi pancangnya, dan minimum 2 ton untuk tiang pancang beton. Untuk tiang pancang baja, berat palu harus dua kali berat tiang beserta topi pancangnya. Tinggi jatuh palu tidak boleh melampaui 2,5 meter atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Alat pancang dengan jenis gravitasi, uap atau diesel yang disetujui, harus mampu memasukkan II-9
24 Bab II : Metode Pelaksanaan tiang pancang tidak kurang dari 3 mm untuk setiap pukulan pada 15 cm dari akhir pemancangan dengan daya dukung yang diinginkan sebagaimana yang ditentukan dari rumus pemancangan yang disetujui, yang digunakan oleh Kontraktor. Enerji total alat pancang tidak boleh kurang dari 970 kgm per pukulan, kecuali untuk tiang pancang beton sebagaimana disyaratkan di bawah ini. Alat pancang uap, angin atau diesel yang dipakai memancang tiang pancang beton harus mempunyai enerji per pukulan, untuk setiap gerakan penuh dari pistonnya tidak kurang dari 635 kgm untuk setiap meter kubik beton tiang pancang tersebut. Penumbukan dengan gerakan tunggal (single acting) atau palu yang dijatuhkan harus dibatasi sampai 1,2 meter dan lebih baik 1 meter. Penumbukan dengan tinggi jatuh yang lebih kecil harus digunakan bilamana terdapat kerusakan pada tiang pancang. Contoh-contoh berikut ini adalah kondisi yang dimaksud : Bilamana terdapat lapisan tanah keras dekat permukaan tanah yang harus ditem-bus pada saat awal pemancangan untuk tiang pancang yang panjang. Bilamana terdapat lapisan tanah lunak yang dalam sedemikian hingga penetrasi yang dalam terjadi pada setiap penumbukan. Bilamana tiang pancang diperkirakan sekonyong-konyongnya akan mendapat penolakan akibat batu atau tanah yang benarbenar tak dapat ditembus lainnya. Bilamana serangkaian penumbukan tiang pancang untuk 10 kali pukulan terakhir telah mencapai hasil yang memenuhi ketentuan, penumbukan ulangan harus dilaksanakan dengan hati-hati, dan pemancangan yang terus menerus setelah tiang pancang hampir berhenti penetrasi harus dicegah, terutama jika digunakan palu berukuran sedang. Suatu catatan pemancangan yang lengkap harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalam Spesifikasi. II-10
25 Bab II : Metode Pelaksanaan Setiap perubahan yang mendadak dari kecepatan penetrasi yang tidak dapat dianggap sebagai perubahan biasa dari sifat alamiah tanah harus dicatat dan penyebabnya harus dapat diketahui, bila memungkinkan, sebelum pemancangan dilanjutkan. Tidak diperkenankan memancang tiang pancang dalam jarak 6 m dari beton yang berumur kurang dari 7 hari. Bilamana pemancangan dengan menggunakan palu yang memenuhi ketentuan minimum, tidak dapat memenuhi Spesifikasi, maka Kontraktor harus menyediakan palu yang lebih besar dan/atau menggunakan water jet atas biaya sendiri. b). Penghantar Tiang Pancang (Leads) Penghantar tiang pancang harus dibuat sedemikian hingga dapat memberikan kebebasan bergerak untuk palu dan penghantar ini harus diperkaku dengan tali atau palang yang kaku agar dapat memegang tiang pancang selama pemancangan. Kecuali jika tiang pancang dipancang dalam air, penghantar tiang pancang, sebaiknya mempunyai panjang yang cukup sehingga penggunaan bantalan topi tiang pancang panjang tidak diperlukan. Penghantar tiang pancang miring sebaiknya digunakan untuk pemancangan tiang pancang miring. c). Bantalan Topi Tiang Pancang Panjang (Followers) Pemancangan tiang pancang dengan bantalan topi tiang pancang panjang sedapat mung-kin harus dihindari, dan hanya akan dilakukan dengan persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan. d). Tiang Pancang Yang Naik Bilamana tiang pancang mungkin naik akibat naiknya dasar tanah, maka elevasi kepala tiang pancang harus diukur dalam interval waktu dimana tiang pancang yang berdekatan sedang dipancang. Tiang pancang yang naik sebagai akibat pemancangan tiang pancang yang berdekatan, harus dipancang kembali sampai ke dalaman atau ketahanan semula, kecuali jika pengujian pemancangan kembali pada II-11
26 Bab II : Metode Pelaksanaan tiang pancang yang berdekatan menunjukkan bahwa pemancangan ulang ini tidak diperlukan. e). Pemancangan Dengan Pancar Air (Water Jet) Pemancangan dengan pancar air dilaksanakan hanya seijin Direksi Pekerjaan dan de-ngan cara yang sedemikian rupa hingga tidak mengurangi kapasitas daya dukung tiang pancang yang telah selesai dikerjakan, stabilitas tanah atau keamanan setiap struktur yang berdekatan. Banyaknya pancaran, volume dan tekanan air pada nosel semprot haruslah sekedar cukup untuk melonggarkan bahan yang berdekatan dengan tiang pancang, bukan untuk membongkar bahan tersebut. Tekanan air harus 5 kg/cm 2 sampai 10 kg/cm 2 tergantung pada kepadatan tanah. Perlengkapan harus dibuat, jika diperlukan, untuk mengalirkan air yang tergenang pada permukaan tanah. Sebelum penetrasi yang diperlukan tercapai, maka pancaran harus dihentikan dan tiang pancang dipancang dengan palu sampai penetrasi akhir. Lubang-lubang bekas pancaran di samping tiang pancang harus diisi dengan adukan semen setelah pemancangan selesai. f). Tiang Pancang Yang Cacat Prosedur pemancangan tidak mengijinkan tiang pancang mengalami tegangan yang berlebihan sehingga dapat mengakibatkan pengelupasan dan pecahnya beton, pembe-lahan, pecahnya dan kerusakan kayu, atau deformasi baja. Manipulasi tiang pancang dengan memaksa tiang pancang kembali ke posisi yang sebagaimana mestinya, menurut pendapat Direksi Pekerjaan, adalah keterlaluan, dan tak akan diijinkan. Tiang pancang yang cacat harus diperbaiki atas biaya Kontraktor sebagaimana disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis dan sebagaimana yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana pemancangan ulang untuk mengembalikan ke posisi semula tidak memungkin-kan, tiang pancang harus dipancang sedekat II-12
27 Bab II : Metode Pelaksanaan mungkin dengan posisi semula, atau tiang pancang tambahan harus dipancang sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. g). Catatan Pemancangan (Calendering) Sebuah catatan yang detil dan akurat tentang pemancangan harus disimpan oleh Direksi Pekerjaan dan Kontraktor harus membantu Direksi Pekerjaan dalam menyimpan catatan ini yang meliputi berikut ini : jumlah tiang pancang, posisi, jenis, ukuran, panjang aktual, tanggal pemancangan, panjang dalam pondasi telapak, penetrasi pada saat penumbukan terakhir, enerji pukulan palu, panjang perpanjangan, panjang pemotongan dan panjang akhir yang dapat dibayar. 2.2 METODE KERJA PELAKSANAAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN Berikut ini adalah pemasangan abutment (beton) setelah pondasi (sumuran atau tiang pancang) terpasang dan baja tulangan sudah disiapkan pada posisi minimal 40 kali diameter tulangan untuk disiapkan menjadi bagian dari pembesian abutment sebelum beton untuk abutment dicor. Pembuatan abutment Pembesian untuk backwall sementara ditekuk dulu karena pengecorannya masih menunggu selesainya pemasangan bangunan atas Pengecoran abutment beton bertulang; Back wall belum dicor, agar tidak menghalang-halangi pemasangan bangunan atas. Muka air sungai Pengecoran abutment dapat dimulai setelah pekerjaan pembesian dan pemasangan bekisting selesai. II-13
28 Bab II : Metode Pelaksanaan Bagian dari abutment yang belum boleh dicor adalah backwall, dimana backwall ini baru boleh dicor setelah bangunan atas terpasang. Adapun metode pelaksanaan pengecoran dapat diuraikan tersebut di bawah : METODE PELAKSANAAN PENGECORAN 1) Penyiapan Tempat Kerja a) Seluruh telapak pondasi, pondasi dan galian untuk pekerjaan beton harus dijaga agar senatiasa kering dan beton tidak boleh dicor di atas tanah yang berlumpur atau bersampah atau di dalam air. Atas persetujuan Direksi beton dapat dicor di dalam air dengan cara dan peralatan khusus untuk menutup kebocoran seperti pada dasar sumuran atau cofferdam. b) Sebelum pengecoran beton dimulai, seluruh acuan, tulangan dan benda lain yang harus dimasukkan ke dalam beton (seperti pipa atau selongsong) harus sudah dipasang dan diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat pengecoran. c) Bila disyaratkan atau diperlukan oleh Direksi Pekerjaan, bahan landasan untuk pekerjaan beton harus dihampar sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi. 2) Acuan a) Acuan dari tanah, bilamana disetujui oleh Direksi Pekerjaan, harus dibentuk dari galian, dan sisi-sisi samping serta dasarnya harus dipangkas secara manual sesuai dimensi yang diperlukan. Seluruh kotoran tanah yang lepas harus dibuang sebelum pengecoran beton. b) Acuan dapat dibuat dari kayu atau baja dengan sambungan dari adukan yang kedap dan kaku untuk mempertahankan posisi yang diperlukan selama pengecoran, pemadatan dan perawatan. c) Kayu yang tidak diserut permukaannya dapat digunakan untuk permukaan akhir struktur yang tidak terekspos, tetapi kayu yang diserut dengan tebal yang merata harus digunakan untuk permukaan beton yang terekspos. Seluruh sudut-sudut tajam Acuan harus dibulatkan. II-14
29 Bab II : Metode Pelaksanaan d) Acuan harus dibuat sedemikian sehingga dapat dibongkar tanpa merusak beton. 3) Pengecoran a) Kontraktor harus memberitahukan Direksi Pekerjaan secara tertulis paling sedikit 24 jam sebelum memulai pengecoran beton, atau meneruskan pengecoran beton bilamana pengecoran beton telah ditunda lebih dari 24 jam. Pemberitahuan harus meliputi lokasi, kondisi pekerjaan, mutu beton dan tanggal serta waktu pencampuran beton. Direksi Pekerjaan akan memberi tanda terima atas pemberitahuan tersebut dan akan memeriksa acuan, dan tulangan dan dapat mengeluarkan persetujuan tertulis maupun tidak untuk memulai pelaksanaan pekerjaan seperti yang direncanakan. Kontraktor tidak boleh melaksanakan pengecoran beton tanpa persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan. b) Tidak bertentangan dengan diterbitkannya suatu persetujuan untuk memulai pengecoran, pengecoran beton tidak boleh dilaksanakan bilamana Direksi Pekerjaan atau wakilnya tidak hadir untuk menyaksikan operasi pencampuran dan pengecoran secara keseluruhan. c) Segera sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan air atau diolesi minyak di sisi dalamnya dengan minyak yang tidak meninggalkan bekas. d) Tidak ada campuran beton yang boleh digunakan bilamana beton tidak dicor sampai posisi akhir dalam cetakan dalam waktu 1 jam setelah pencampuran, atau dalam waktu yang lebih pendek sebagaimana yang dapat diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan berdasarkan pengamatan karakteristik waktu pengerasan (setting time) semen yang digunakan, kecuali diberikan bahan tambah (aditif) untuk memperlambat proses pengerasan (retarder) yang disetujui oleh Direksi. e) Pengecoran beton harus dilanjutkan tanpa berhenti sampai dengan sambungan konstruksi (construction joint) yang telah disetujui sebelumnya atau sampai pekerjaan selesai. f) Beton harus dicor sedemikian rupa hingga terhindar dari segregasi partikel kasar dan halus dari campuran. Beton harus dicor dalam cetakan sedekat II-15
30 Bab II : Metode Pelaksanaan mungkin dengan yang dapat dicapai pada posisi akhir beton untuk mencegah pengaliran yang tidak boleh melampaui satu meter dari tempat awal pengecoran. g) Bilamana beton dicor ke dalam acuan struktur yang memiliki bentuk yang rumit dan penulangan yang rapat, maka beton harus dicor dalam lapisanlapisan horisontal dengan tebal tidak melampuai 15 cm. Untuk dinding beton, tinggi pengecoran dapat 30 cm menerus sepanjang seluruh keliling struktur. h) Beton tidak boleh jatuh bebas ke dalam cetakan dengan ketinggian lebih dari 150 cm. Beton tidak boleh dicor langsung dalam air. Bilamana beton dicor di dalam air dan pemompaan tidak dapat dilakukan dalam waktu 48 jam setelah pengecoran, maka beton harus dicor dengan metode Tremi atau metode drop-bottom-bucket, dimana bentuk dan jenis yang khusus digunakan untuk tujuan ini harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan. Tremi harus kedap air dan mempunyai ukuran yang cukup sehingga memung-kinkan pengaliran beton. Tremi harus selalu diisi penuh selama pengecoran. Bilamana aliran beton terhambat maka Tremi harus ditarik sedikit dan diisi penuh terlebih dahulu sebelum pengecoran dilanjutkan. Baik Tremi atau Drop-Bottom-Bucket harus mengalirkan campuran beton di bawah permukaan beton yang telah dicor sebelumnya i) Pengecoran harus dilakukan pada kecepatan sedemikian rupa hingga campuran beton yang telah dicor masih plastis sehingga dapat menyatu dengan campuran beton yang baru. j) Bidang-bidang beton lama yang akan disambung dengan beton yang akan dicor, harus terlebih dahulu dikasarkan, dibersihkan dari bahan-bahan yang lepas dan rapuh dan telah disiram dengan air hingga jenuh. Sesaat sebelum pengecoran beton baru ini, bidang-bidang kontak beton lama harus disapu dengan adukan semen dengan campuran yang sesuai dengan betonnya k) Air tidak boleh dialirkan di atas atau dinaikkan ke permukaan pekerjaan beton dalam waktu 24 jam setelah pengecoran. 4) Sambungan Konstruksi (Construction Joint) II-16
31 Bab II : Metode Pelaksanaan a) Jadwal pengecoran beton yang berkaitan harus disiapkan untuk setiap jenis struktur yang diusulkan dan Direksi Pekerjaan harus menyetujui lokasi sambungan konstruksi pada jadwal tersebut, atau sambungan konstruksi tersebut harus diletakkan seperti yang ditunjukkan pada Gambar. Sambungan konstruksi tidak boleh ditempatkan pada pertemuan elemenelemen struktur terkecuali disyaratkan demikian. b) Sambungan konstruksi pada tembok sayap harus dihindari. Semua sambungan konstruksi harus tegak lurus terhadap sumbu memanjang dan pada umumnya harus diletakkan pada titik dengan gaya geser minimum. c) Bilamana sambungan vertikal diperlukan, baja tulangan harus menerus melewati sambungan sedemikian rupa sehingga membuat struktur tetap monolit. d) Lidah alur harus disediakan pada sambungan konstruksi dengan ke dalaman paling sedikit 4 cm untuk dinding, pelat dan antara telapak pondasi dan dinding. Untuk pelat yang terletak di atas permukaan, sambungan konstruksi harus diletakkan sedemikian sehingga pelat-pelat mempunyai luas tidak melampaui 40 m 2, dengan dimensi yang lebih besar tidak melampaui 1,2 kali dimensi yang lebih kecil. e) Kontraktor harus menyediakan pekerja dan bahan tambahan sebagaimana yang diperlukan untuk membuat sambungan konstruksi tambahan bilamana pekerjaan terpaksa mendadak harus dihentikan akibat hujan atau terhentinya pemasokan beton atau penghentian pekerjaan oleh Direksi Pekerjaan. f) Atas persetujuan Direksi Pekerjaan, bahan tambah (aditif) dapat digunakan untuk pelekatan pada sambungan konstruksi, cara pengerjaannya harus sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya. g) Pada air asin atau mengandung garam, sambungan konstruksi tidak diperkenankan pada tempat-tempat 75 cm di bawah muka air terendah atau 75 cm di atas muka air tertinggi kecuali ditentukan lain dalam Gambar. II-17
32 Bab II : Metode Pelaksanaan 5) Konsolidasi a) Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari luar yang telah disetujui. Bilamana diperlukan, dan bilamana disetujui oleh Direksi Pekerjaan, penggetaran harus disertai penusukan secara manual dengan alat yang cocok untuk menjamin pemadatan yang tepat dan memadai. Penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam cetakan. b) Harus dilakukan tindakan hati-hati pada waktu pemadatan untuk menentukan bahwa semua sudut dan di antara dan sekitar besi tulangan benar-benar diisi tanpa pemindahan kerangka penulangan, dan setiap rongga udara dan gelembung udara terisi. c) Penggetar harus dibatasi waktu penggunaannya, sehingga menghasilkan pema-datan yang diperlukan tanpa menyebabkan terjadinya segregasi pada agregat. d) Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan sekurangkurang-nya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg, dan boleh diletakkan di atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran yang merata. e) Alat penggetar mekanis yang digerakkan dari dalam harus dari jenis pulsating (berdenyut) dan harus mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 5000 putaran per menit apabila digunakan pada beton yang mempunyai slump 2,5 cm atau kurang, dengan radius daerah penggetaran tidak kurang dari 45 cm. f) Setiap alat penggetar mekanis dari dalam harus dimasukkan ke dalam beton basah secara vertikal sedemikian hingga dapat melakukan penetrasi sampai ke dasar beton yang baru dicor, dan menghasilkan kepadatan pada seluruh keda-laman pada bagian tersebut. Alat penggetar kemudian harus ditarik pelan-pelan dan dimasukkan kembali pada posisi lain tidak lebih dari 45 cm jaraknya. Alat penggetar tidak boleh berada pada suatu titik lebih dari 30 detik, juga tidak boleh digunakan untuk memindah campuran beton ke lokasi lain, serta tidak boleh menyentuh tulangan beton. g) Jumlah minimum alat penggetar mekanis dari dalam diberikan dalam Tabel tersebut di bawah : II-18
33 Bab II : Metode Pelaksanaan Tabel 2.1: Jumlah Minimum Alat Penggetar Mekanis dari Dalam Kecepatan Pengecoran Beton (m 3 / jam) JUMLAH ALAT METODE KERJA PELAKSANAAN BANGUNAN ATAS JEMBATAN Jika untuk bangunan atas jembatan dipilih rangka baja, maka pekerjaan pemasangan jembatan rangka baja tersebut secara prinsip mengikuti urutan pelaksanaan berdasarkan metode kerja pelaksanaan tersebut di bawah. Ada 2 (dua) metode pemasangan sebagai berikut : Metode Kerja Pelaksanaan Bangunan Atas Rangka Baja Metode Peluncuran (Launching) dengan Kantilever Catatan : Merupakan metode peluncuran kantilever dengan rol. II-19
34 Bab II : Metode Pelaksanaan Jembatan rangka dirakit dari satu sisi sungai kemudian diluncurkan pada posisinya dengan menggunakan bentang pemberat dan peralatan khusus untuk meluncurkan jembatan. Kemudian diturunkan ke perletakan dengan dongkrak. Tidak diperlukan perancah yang melintasi sungai. Ketinggian dari rangka baja jembatan pada saat peluncuran dikaitkan dengan ketinggian akhir lantai jembatan, dan diusahakan agar posisi balok peluncur lebih tinggi dari abutment. Metode ini dapat digunakan untuk bentang tunggal atau bentang pertama dari bentang banyak Metode Perakitan Bertahap dengan Kantilever Catatan Merupakan sistem perakitan rangka baja secara bertahap, komponen per komponen. Dimulai dari abutment hingga posisi akhir (bisa abutment, bisa pilar tergantung span) dengan cara : Menambahkan dan memasang masing-masing komponen pada sebagian bentang yang telah terpasang sebelumnya sehingga membentuk kantilever berikutnya sampai posisi akhir. Cara pemasangan sistem cantilever ini : Membutuhkan bentang pemberat (anchor span) dan rangka penghubung (link set). II-20
35 Bab II : Metode Pelaksanaan Tidak memerlukan perancah karena untuk mencapai tempat pemasangan komponen berikutnya dapat dilakukan melalui jalan kerja yang dipasang di atas konstruksi baja yang telah dipasang sebelumnya. PELAKSANAAN 1) Umum Perakitan dan pemasangan struktur jembatan rangka baja, baik dengan peluncuran maupun dengan prosedur pelaksanaan pemasangan bertahap, harus dilaksanakan oleh Kontraktor dengan teliti sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh masing-masing buku petunjuk perakitan dan pemasangan dari pabrik pembuat jembatan dan ketentuan umum yang disyaratkan di sini. Atas permintaan Kontraktor, dukungan teknis tambahan oleh personil Pemilik yang berpengalaman, dapat dikirim ke lapangan dalam periode terbatas, untuk memberi pengarahan kepada insinyur dan teknisi pemasangan dari Kontraktor tentang prinsip-prinsip perakitan dan pemasangan struktur jembatan rangka baja. Struktur jembatan rangka baja yang disediakan oleh Pemilik dirancang untuk dirakit dan dipasang di lapangan hanya dengan menggunakan baut penghubung. Pengelasan di lapangan yang tidak diijinkan kecuali secara jelas diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. 2) Pekerjaan Sipil Pekerjaan sipil untuk abutment dan pier yang mungkin terbuat dari kayu, pasangan batu atau beton sesuai dengan Gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan harus dikerjakan sesuai dengan Seksi yang berkaitan dengan Spesifikasi ini atau spesifikasi lainnya yang diterbitkan oleh Direksi Pekerjaan. Semua pekerjaan sipil harus selesai di tempat dan diterima oleh Direksi Pekerjaan sebelum operasi perakitan dimulai. 3) Penentuan Titik Pengukuran dan Pekerjaan Sementara Kontraktor harus menyiapkan dan menentukan titik pengukuran pada salah satu oprit jembatan yang cocok untuk merakit suatu rangka jangkar untuk pengimbang dimana pemasangan dengan cara perakitan bertahap akan dikerjakan, atau, bilamana pema-sangan dengan cara peluncuran, struktur jembatan rangka baja yang telah lengkap bersama dengan struktur rangka pengimbang dan ujung peluncur. II-21
36 Bab II : Metode Pelaksanaan Semua penyangga dan kumpulan balok-balok kayu sementara dan/atau pondasi beton yang disediakan oleh Kontraktor untuk pemasangan rol perakit, rol peluncuran, rol pendaratan atau jangkar dan penyangga struktur rangka jangkar harus ditentukan titik pengukurannya dengan akurat dan dipasang pada garis dan elevasi yang benar sebagaimana yang ditunjukkan dalam gambar pemasangan dari pabrik pembuatnya. Perhatian khusus harus diberikan untuk memastikan bahwa seluruh rol dan penyangga sementara terpasang pada elevasi yang benar agar sesuai dengan bidang peluncuran yang telah dihitung sebelumnya dan/atau karakteristik lendutan untuk panjang bentang jembatan yang akan dipasang. 4) Pemasangan Perletakan Jembatan Perletakan jembatan dapat berupa jenis perletakan elastomerik atau perletakan sendi yang terpasang pada plat perletakan dan balok kisi-kisi. Tiap jenis perletakan harus dipasang pada elevasi dan posisi yang benar dan harus pada perletakan yang rata dan benar di atas seluruh bidang kontak. Untuk perletakan jembatan yang dipasang di atas adukan semen, tidak boleh terdapat beban apapun yang diletakkan di atas perletakan setelah adukan semen terpasang dalam periode paling sedikit 96 jam, perlengkapan yang memadai harus diberikan untuk menjaga agar adukan semen dapat dipelihara kelembabannya selama periode ini. Adukan semen harus terdiri dari satu bagian semen portland dan satu bagian pasir berbutir halus. 5) Perakitan Komponen Baja Komponen baja harus dirakit dengan akurat sesuai dengan tanda yang ditunjukkan pada gambar kerja pabrik pembuat jembatan dan sesuai dengan prosedur urutan pemasangan yang benar yang dirinci dalam prosedur pemasangan. Selama perakitan bahan-bahan harus ditangani dengan hati-hati sedemikian rupa sehingga tidak terdapat bagian yang melengkung, retak atau kerusakan lainnya. Pemaluan yang dapat melukai atau menyebabkan distorsi terhadap elemen-elemen tidak diijinkan. Sebelum perakitan semua bidang kontak harus dibersihkan, bebas dari kotoran, minyak, kerak yang lepas, bagian yang tajam seperti duri akibat pemotongan atau pelubangan, bintik-bintik, dan cacat lainnya yang akan menghambat pemasangan yang rapat atas komponen-komponen yang dirakit. II-22
37 Bab II : Metode Pelaksanaan Baut penghubung harus dipasang dengan panjang dan diameter yang benar sebagai-mana yang ditunjukkan dalam daftar baut dari pabrik pembuat jembatan. Ring harus ditempatkan di bawah elemen-elemen (mur atau kepala baut) yang berputar dalam pengencangan. Bilamana permukaan luar bagian yang dibaut mempunyai kelandaian 1 : 20 terhadap bidang tegak lurus sumbu baut, maka ring serong yang halus harus dipakai untuk mengatasi ketidaksejajarannya. Dalam segala hal, hanya boleh terdapat satu permukaan tanpa kelandaian, elemen yang diputar harus berbatasan dengan permukaan ini. 6) Prosedur Pemasangan Urutan pemasangan harus dilaksanakan dengan teliti sesuai dengan prosedur pema-sangan yang diberikan dalam buku petunjuk dari pabrik pembuat jembatan. Kontrak-tor harus melaksanakan operasi pemasangan dengan memperhatikan seluruh keten-tuan keselamatan umum dan harus memastikan bahwa struktur jembatan stabil dalam setiap tahap dalam proses pemasangan. Untuk jembatan yang dipasang dengan prosedur peluncuran, Kontraktor harus mengambil seluruh langkah pengamanan yang diperlukan untuk memastikan bahwa selama seluruh tahap pemasangan struktur jembatan aman dari pergerakan bebas pada rol. Pergerakan melintasi rol selama operasi peluncuran harus dikendalikan setiap saat. Seluruh bahan pengimbang (counter-weight) dan perancah sementara pekerjaan baja atau kayu untuk rangka pendukung pengimbang harus dipasok oleh Kontraktor. Beban pengimbang harus diletakkan dengan berat sedemikian rupa sehingga faktor keamanan untuk stabilitas yang benar seperti yang diasumsikan dalam perhitungan pemasangan dari pabrik pembuat jembatan dicapai pada tiap tahap perakitan dan pemasangan. Operasi pemasangan dengan peluncuran atau perakitan bertahap harus dilaksanakan sampai struktur jembatan rangka baja terletak di atas lokasi perletakan akhir. Kontraktor kemudian harus memulai operasi pendongkrakan dengan menggunakan peralatan dongkrak hidrolik dan kerangka dongkrak yang disediakan oleh Pemilik. Struktur jembatan harus didongkrak sampai elevasi yang cukup untuk memungkinkan penyingkiran seluruh balol-balok kayu sementara, rol penyangga dan penyambung antar II-23
38 Bab II : Metode Pelaksanaan struktur rangka (link sets) sebelum diturunkan sampai kedudukan akhir jembatan. Operasi pendongkrakan harus dilaksanakan dengan teliti sesuai dengan prosedur pemasangan dari pabrik pembuat jembatan dan Kontraktor harus mengikuti urutan dengan benar dari pemasangan dan penggabungan komponen-komponen khusus selama operasi ini Metode kerja pelaksanaan Unit-unit Beton Pratekan Metode kerja pelaksanaan pemasangan adalah sebagaimana tersebut di bawah : 1) Penerimaan Unit-unit Bilamana unit-unit difabrikasi di luar tempat kerja, maka Kontraktor harus memeriksa mutu dan kondisi pada saat barang tiba di tempat dan harus segera melapor secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan untuk setiap cacat atau kerusakan. Kontraktor bertanggungjawab atas semua kerusakan yang terjadi pada unit-unit setelah barang tiba di tempat. 2) Tumpuan untuk Unit-unit a) Unit-unit Yang Diletakkan di atas Landasan Neoprene atau Elastomer Bilamana unit-unit akan diletakkan di atas perletakan neoprene atau elastomer, maka bantalan tersebut harus diletakkan sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar dan harus ditahan pada posisinya dengan merekatkan permukaan beton yang berkontak langsung dengan perletakan, menggunakan bahan perekat yang disetujui untuk mencegah pergeseran perletakan selama pemasangan unit-unit. b) Unit-unit Yang Ditanamkan Pada Adukan Semen Bilamana Gambar menunjukkan bahwa unit-unit harus ditanamkan pada adukan semen, maka suatu lajur adukan semen harus disiapkan di atas struktur bagian bawah jembatan segera sebelum pemasangan unit-unit beton pratekan. Adukan semen harus dibuat dengan campuran 1 semen portland dan 3 pasir ditambah dengan bahan aditif yang disetujui, ditempatkan dengan lebar yang ditunjukkan dalam Gambar dan tebal sekitar 10 mm, sehingga membentuk lajur tumpuan II-24
39 Bab II : Metode Pelaksanaan yang rata. Unit-unit beton pratekan harus diletakkan pada bangunan bawah jembatan yang telah disiapkan dalam posisi yang ditunjukkan dalam Gambar. Setiap kelebihan adukan semen harus dibuang. 3) Pengaturan Posisi Unit-unit Semua baut yang tertanam dan lubang untuk tulangan melintang, dan sebagainya harus diluruskan dengan hati-hati selama pemasangan unit-unit tersebut. Batang baja harus dipasang pada lubang untuk tulangan melintang sewaktu perakitan berlangsung, agar dapat menjamin penempatan lubang dengan tepat. 2.4 METODE KERJA PELAKSANAAN JALAN PENDEKAT (OPRIT JEMBATAN) Pemadatan tanah dilakukan lapis demi lapis, menghasilkan lapislapis padat dengan ketebalan setiap lapis padat 20 cm Bila diuji sesuai dengan SNI , memiliki CBR paling sedikit 10 % setelah 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum sesuai dengan SNI Muka air sungai Metode pelaksanaan penghamparan, penimbunan dan pemadatan tanah untuk jalan pendekat diuraikan tersebut di bawah : 1) Penyiapan Tempat Kerja a) Sebelum penghamparan timbunan, semua bahan yang tidak diperlukan harus dibuang sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. II-25
40 Bab II : Metode Pelaksanaan b) Bilamana tinggi timbunan satu meter atau kurang, dasar pondasi timbunan harus dipadatkan (termasuk penggemburan dan pengeringan atau pembasahan bila diperlukan) sampai 15 cm bagian permukaan atas dasar pondasi memenuhi kepadatan yang disyaratkan untuk timbunan yang ditempatkan diatasnya. c) Bilamana timbunan akan ditempatkan pada lereng bukit atau ditempatkan di atas timbunan lama atau yang baru dikerjakan, maka lereng lama harus dipotong bertangga dengan lebar yang cukup sehingga memungkinkan peralatan pemadat dapat beroperasi di daerah lereng lama sesuai seperti timbunan yang dihampar horizontal lapis demi lapis. 2) Penghamparan Timbunan a) Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar dalam lapisan yang merata yang bila dipadatkan akan memenuhi toleransi tebal lapisan yang disyaratkan. Bilamana timbunan dihampar lebih dari satu lapis, lapisan-lapisan tersebut sedapat mungkin dibagi rata sehingga sama tebalnya. b) Tanah timbunan umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke permukaan yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan. Penumpukan tanah timbunan untuk persediaan biasanya tidak diperkenankan, terutama selama musim hujan. c) Timbunan di atas atau pada selimut pasir atau bahan drainase porous, harus diperhatikan sedemikian rupa agar kedua bahan tersebut tidak tercampur. Dalam pembentukan drainase sumuran vertikal diperlukan suatu pemisah yang menyolok di antara kedua bahan tersebut dengan memakai acuan sementara dari pelat baja tipis yang sedikit demi sedikit ditarik saat pengisian timbunan dan drainase porous dilaksanakan. d) Penimbunan kembali di atas pipa dan di belakang struktur harus dilaksanakan dengan sistematis dan secepat mungkin segera setelah pemasangan pipa atau struktur. Akan tetapi, sebelum penimbunan kembali, diperlukan waktu perawatan tidak kurang dari 8 jam setelah pemberian adukan pada sambungan pipa atau pengecoran struktur beton II-26
41 Bab II : Metode Pelaksanaan gravity, pemasangan pasangan batu gravity atau pasangan batu dengan mortar gravity. Sebelum penimbunan kembali di sekitar struktur penahan tanah dari beton, pasangan batu atau pasangan batu dengan mortar, juga diperlukan waktu perawatan tidak kurang dari 14 hari. e) Bilamana timbunan badan jalan akan diperlebar, lereng timbunan lama harus disiapkan dengan membuang seluruh tetumbuhan yang terdapat pada permukaan lereng dan dibuat bertangga sehingga timbunan baru akan terkunci pada timbunan lama sedemikian sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan. Selanjutnya timbunan yang diperlebar harus dihampar horizontal lapis demi lapis sampai dengan elevasi tanah dasar, yang kemudian harus ditutup secepat mungkin dengan lapis pondasi bawah dan atas sampai elevasi permukaan jalan lama sehingga bagian yang diperlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas secepat mungkin, dengan demikian pembangunan dapat dilanjutkan ke sisi jalan lainnya bilamana diperlukan. 3) Pemadatan Timbunan a) Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memadai dan disetujui Direksi Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan. b) Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar air bahan berada dalam rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1% di atas kadar air optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan kering maksimum yang diperoleh bilamana tanah dipadatkan sesuai dengan SNI c) Seluruh timbunan batu harus ditutup dengan satu lapisan atau lebih setebal 20 cm dari bahan bergradasi menerus dan tidak mengandung batu yang lebih besar dari 5 cm serta mampu mengisi rongga-rongga batu pada bagian atas timbunan batu tersebut. Lapis penutup ini harus dilaksanakan sampai mencapai kepadatan timbunan tanah yang disyaratkan. II-27
42 Bab II : Metode Pelaksanaan d) Setiap lapisan timbunan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang disyaratkan, diuji kepadatannya dan harus diterima oleh Direksi Pekerjaan sebelum lapisan berikutnya dihampar. e) Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju ke arah sumbu jalan sedemikian rupa sehingga setiap ruas akan menerima jumlah usaha pemadatan yang sama. Bilamana memungkinkan, lalu lintas alat-alat konstruksi dapat dilewatkan di atas pekerjaan timbunan dan lajur yang dilewati harus terus menerus divariasi agar dapat menyebarkan pengaruh usaha pemadatan dari lalu lintas tersebut. f) Bilamana bahan timbunan dihampar pada kedua sisi pipa atau drainase beton atau struktur, maka pelaksanaan harus dilakukan sedemikian rupa agar timbunan pada kedua sisi selalu mempunyai elevasi yang hampir sama. g) Bilamana bahan timbunan dapat ditempatkan hanya pada satu sisi abutment, tembok sayap, pilar, tembok penahan atau tembok kepala gorong-gorong, maka tempat-tempat yang bersebelahan dengan struktur tidak boleh dipadatkan secara berlebihan karena dapat menyebabkan bergesernya struktur atau tekanan yang berlebihan pada struktur. h) Terkecuali disetujui oleh Direksi Pekerjaan, timbunan yang bersebelahan dengan ujung jembatan tidak boleh ditempatkan lebih tinggi dari dasar dinding belakang abutment sampai struktur bangunan atas telah terpasang.. i) Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin gilas, harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih dari 15 cm dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis atau timbris (tamper) manual dengan berat minimum 10 kg. Pemadatan di bawah maupun di tepi pipa harus mendapat perhatian khusus untuk mencegah timbulnya rongga-rongga dan untuk menjamin bahwa pipa terdukung sepenuhnya. II-28
43 Bab II : Metode Pelaksanaan 2.5 PENYELESAIAN BACK WALL DAN OPRIT SETELAH BANGUNAN ATAS TERPASANG Metode pelaksanaan penyelesaian backwalll dan oprit setelah bangunan atas terpasang dapat dilihat pada skema tersebut di bawah : Pemasangan lapis perkerasan pada oprit jembatan setelah pemadatan timbunan tanah selesai dan backwall telah terpasang Backwall dicor setelah bangunan atas jembatan terpasang Muka air sungai II-29
44 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan BAB III URUTAN PELAKSANAAN PEKERJAAN 3.1 PEMBAGIAN PEKERJAAN Pembagian pekerjaan dapat dikelompokkan sebagai berikut : Pembagian Pekerjaan Berdasarkan Kemampuan dan Ketersediaan Alat Pembagian Pekerjaan Berdasarkan Kemampuan dan Ketersediaan Tenaga Kerja Berikut ini diuraikan dalam garis besar prinsip-prinsip metode pelaksanaan untuk masing-masing pembagian pekerjaan tersebut di atas: Pembagian Pekerjaan Berdasarkan Kemampuan dan Ketersediaan Alat Pelaksanaan pekerjaan jembatan memerlukan peralatan-peralatan tertentu tergantung pada jenis pekerjaan. Dalam garis besar yang dimaksud dengan pekerjaan jembatan dapat dikelompokkan sebagai berikut : Pekerjaan jembatan Pekerjaan pondasi Pekerjaan pondasi langsung Pekerjaan pondasi tiang pancang Pekerjaan pondasi tiang pancang baja Pekerjaan pondasi tiang pancang beton tulang Pekerjaan pondasi tiang pancang beton pratekan Pekerjaan pondasi tiang bor Pekerjaan pondasi sumuran Pekerjaan beton siklop K-175 Pekerjaan beton K-250 Pekerjaan bangunan bawah Pekerjaan beton bertulang III-1
45 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan Pekerjaan bangunan atas Pemasangan jembatan rangka baja Pemasangan Girder I Beam beton pratekan Pemasangan lantai jembatan dan lain-lain Pekerjaan jalan pendekat, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan Sebagai pedoman umum, berikut ini diberikan tabel yang menunjukkan daftar jenis peralatan yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan utama dalam pelaksanaan jembatan : Pekerjaan Pondasi NO. TIPE PONDASI JENIS PERALATAN 1. Pondasi langsung Pekerjaan Galian (Pilihan, tergantung kondisi lapangan) Galian biasa Galian cadas Galian struktur 1). Excavator 2). Dump Truck 1). Compressor 2). Jack hammer 3). Wheel loader 4). Dump truck 1). Excavator 2). Bulldozer Pekerjaan Timbunan (Pilihan, tergantung kondisi lapangan) Urugan biasa Urugan pilihan 1). Wheel Loader 2). Dump Truck 3). Motor Grader 4). Vibro Roller 5). Water Tanker 1). Wheel Loader 2). Dump Truck 3). Motor Grader 4). Vibro Roller 5). Water Tanker Pekerjaan Beton untuk bangunan bawah Pembuatan adukan beton dan pengecoran 1). Concrete Mixer III-2
46 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan NO. TIPE PONDASI JENIS PERALATAN 2). Water Tanker 3). Concrete Vibrator 4). Concrete Pump 2. Pondasi Tiang Pancang 2. 1 Tiang Pancang Baja Penyediaan tiang pancang baja Pemancangan tiang pancang baja 2. 2 Tiang Pancang Beton Bertulang Penyediaan tiang pancang beton bertulang Pemancangan tiang pancang beton bertulang 2. 3 Tiang Pancang Beton Pratekan Penyediaan tiang pancang beton pratekan Pemancangan tiang pancang beton pratekan 1). Trailer 2). Crane 3). Genset 4). Welding Set 1). Crane on Track 35 ton 2). Pile Driver Hammer 1). Dump Truck 1). Crane on Track 35 ton 2). Pile Driver Hammer 1). Dump Truck 2). Crane 1). Crane on Track 35 ton 2). Pile Driver Hammer 3. Pondasi Tiang Bor 1). Bore Pile 2). Concrete Pump 4. Pondasi Sumuran Penyediaan Caisson --- Penurunan Caisson 1). Excavator 2). Dump Truck Pekerjaan Beton Siklop Pembuatan Beton Siklop K-175 1). Concrete Mixer 2). Water Tanker 3). Concrete Vibrator III-3
47 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan Pekerjaan Bangunan Bawah NO. URAIAN KEGIATAN JENIS PERALATAN 1. Pekerjaan Beton Bertulang Pembuatan adukan beton dan pengecoran 1). Concrete Mixer 2). Water Tanker 3). Concrete Vibrator 4). Concrete Pump PEKERJAAN BANGUNAN ATAS (Dipilih Sesuai Dengan Gambar Rencana) NO. URAIAN KEGIATAN JENIS PERALATAN 1. Pemasangan Jembatan Rangka Baja Pengangkutan Material Jembatan Pemasangan Bangunan Atas rangka Baja 2. Pemasangan Girder I Beam Beton Pratekan Pengangkutan Girder I Beam Beton Pratekan Pemasangan Girder I Beam Beton Pratekan 3. Pekerjaan Pelat Lantai Jembatan Beton Bertulang, concrete deck, tiang railing jembatan dll. Pembuatan adukan beton dan pengecoran 1). Trailer 2). Crane 1). Crane 2). Crane on track 35 ton 1). Trailer 2). Crane 1). Crane 2). Crane on track 35 ton 1). Concrete Mixer 2). Water Tanker 3). Concrete Vibrator 4). Concrete Pump III-4
48 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan Pekerjaan Jalan Pendekat NO. URAIAN KEGIATAN JENIS PERALATAN 1. Pembuatan jalan pendekat Pekerjaan Galian (Pilihan, tergantung kondisi lapangan) Galian biasa Galian cadas Galian struktur 1). Excavator 2). Dump Truck 1). Compressor 2). Jack hammer 3). Wheel loader 4). Dump truck 1). Excavator 2). Bulldozer Pekerjaan Timbunan (Pilihan, tergantung kondisi lapangan) Urugan biasa Urugan pilihan 1). Wheel Loader 2). Dump Truck 3). Motor Grader 4). Vibro Roller 5). Water Tanker 1). Wheel Loader 2). Dump Truck 3). Motor Grader 4). Vibro Roller 5). Water Tanker Penyiapan Badan Jalan 1). Motor Grader 2). Vibro Roller 3). Water Tanker Pemasangan lapis agregat kelas B, CBR minimum 35% 1). Wheel Loader 2). Dump Truck 3). Motor Grader 4). Tandem Roller 5). Water Tanker Pemasangan lapis agregat kelas A, CBR minimum 80% 1). Wheel Loader 2). Dump Truck 3). Motor Grader 4). Tandem Roller 5). Water Tanker III-5
49 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan NO. URAIAN KEGIATAN JENIS PERALATAN Pekerjaan lapis perekat pengikat 1). Asphalt Sprayer 2). Air Compresor 3). Dump Truck Pekerjaan Asphalt Concrete 1). Wheel Loader 2). AMP 3). Genset 4). Dump Truck 5). Asphalt Finisher 6). Tandem Roller 7). Pneumatic Tyre Roller Pekerjaan Bangunan Pelengkap Dan Pengaman Jembatan NO. URAIAN KEGIATAN JENIS PERALATAN 1. Pekerjaan Pasangan Batu 1). Concrete Mixer 2). Water Tanker 2. Pekerjaan Pemasangan Bronjong --- Tabel-tabel di atas dapat digunakan sebagai referensi dalam menentukan kebutuhan riil peralatan untuk melaksanakan pekerjaan jembatan. Selain jenis alat, structure engineer of bridge construction perlu mencari referensi yang berkaitan dengan kapasitas peralatan (tergantung merek maupun tipe alat) untuk mengetahui berapa jumlah kebutuhan alat sesuai dengan volume pekerjaan yang harus ditangani. Jadi, secara umum seorang structure engineer of bridge engineer harus mengetahui bahwa dalam pelaksanaan pekerjaan jembatan harus ada penguasaan terhadap pengertian dan data jenis pekerjaan, volume pekerjaan, jadwal pelaksanaan pekerjaan, lokasi pekerjaan, jenis-jenis peralatan yang diperlukan, jumlah peralatan yang harus disediakan dan lokasi base camp untuk menyimpan peralatan. Dari data-data tersebut dapat dibuat pembagian pekerjaan, yang mana yang harus didahulukan, dan yang mana yang boleh dilakukan belakangan berdasarkan ketersediaan alat. Jadi ada urutan-urutan pekerjaan yang harus dibuat untuk menentukan jenis alat, jumlah alat, kapan suatu jenis alat diperlukan untuk memulai pekerjaan dan kapan akan berakhir. III-6
50 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan Pembagian Pekerjaan Berdasarkan Kemampuan dan Ketersediaan Tenaga Kerja Pelaksanaan pekerjaan jembatan memerlukan tenaga-tenaga ahli dan tenagatenaga terampil tertentu tergantung pada jenis pekerjaan. Adapun tenaga kerja kerja (ahli dan terampil) yang berada di bawah koordinasi structure engineer of bridge construction adalah sebagai berikut : Structure engineer of bridge construction Asisten Penyiapan Sumber Daya Asisten Survey Lapangan dan Pengujian Tanah dan Material Kepala Urusan Survey Lapangan dan Kepala Urusan Pengujian Tanah dan Material Asisten Pelaksana Struktur Jembatan Kepala Urusan Penyiapan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan, Kepala Urusan Penyiapan Gambar Kerja, Kepala Urusan Penyiapan Metode Pelaksanaan Jembatan. Mandor Pekerjaan Pondasi Jembatan Tukang untuk Pekerjaan Pondasi Tiang Pancang Tukang untuk Pekerjaan Pondasi Sumuran Mandor Pelaksanaan Bangunan Bawah Jembatan Tukang untuk Pekerjan Perancah Tukang untuk Pekerjaan Baja Tulangan Tukang untuk Pekerjaan Beton Mandor Pelaksanaan Bangunan Atas Jembatan Tukang untuk Pekerjaan Pemasangan Gelagar Beton Prategang Tukang untuk Pekerjaan Pemasangan Gelagar Baja Komposit Tukang untuk Pekerjaan Pemasangan Rangka Baja Mandor Pelaksanaan Jalan Pendekat (oprit jembatan) dan Pasangan Batu/ Bronjong Personel untuk Pekerjaan jalan pendekat Tukang untuk Pekerjaan Pasangan Batu Tukang untuk Pekerjaan Pemasangan Bronjong Asisten Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Pemantauan Lingkungan III-7
51 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan Selain tenaga kerja yang disebutkan di atas masih ada lagi tenaga kerja yang tugasnya berada di dalam pengoperasian dan pemeliharaan alat-alat berat yaitu operator dan mekanik. Jenis dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan, baik tenaga ahli maupun tenaga terampil, akan tergantung pada jenis pekerjaan, volume pekerjaan, jadwal pelaksanaan pekerjaan, lokasi pekerjaan, jenis-jenis peralatan yang digunakan, serta jumlah peralatan yang disediakan. Pembagian pekerjaan dengan demikian akan tergantung pada kemampuan dan ketersediaan tenaga kerja serta peralatan yang tersedia. 3.2 URUTAN PELAKSANAAN PEKERJAAN BERDASARKAN KETERGANTUNGAN JENIS PEKERJAAN Dalam garis besar urutan pelaksanaan pekerjaan jembatan adalah sebagai berikut: (1) Pekerjaan tanah dan pemasangan pondasi jembatan (2) Pembuatan bangunan bawah jembatan (3) Pemasangan bangunan atas jembatan (4) Pembuatan oprit jembatan (5) Pembuatan bangunan pelengkap dan pengaman jembatan Pekerjaan Tanah Dan Pemasangan Pondasi Jembatan Untuk dapat melaksanakan pemasangan pondasi jembatan, terlebih dahulu harus diselesaikan pelaksanaan pekerjaan tanah. Yang dimaksud dengan pekerjaan tanah adalah pekerjaan galian dan atau pekerjaan timbunan (urugan). Sesuai Spesifikasi Teknis pekerjaan galian dapat berupa galian biasa, galian batu, galian struktur atau galian perkerasan beraspal. Sedangkan pekerjaan timbunan dapat berupa timbunan biasa, atau timbunan pilihan. Pekerjaan galian dalam rangka mempersiapkan pemasangan pondasi jembatan dapat berupa sebagai berikut : Galian Biasa mencakup seluruh galian yang tidak diklasifikasikan sebagai galian batu, galian struktur, galian sumber bahan (borrow excavation) dan galian perkerasan beraspal. III-8
52 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan Galian Batu mencakup galian bongkahan batu dengan volume 1 meter kubik atau lebih dan seluruh batu atau bahan lainnya yang menurut Direksi Pekerjaan adalah tidak praktis menggali tanpa penggunaan alat bertekanan udara atau pemboran, dan peledakan. Galian ini tidak termasuk galian yang menurut Direksi Pekerjaan dapat dibongkar dengan penggaru (ripper) tunggal yang ditarik oleh traktor dengan berat maksimum 15 ton dan tenaga kuda neto maksimum sebesar 180 PK (Tenaga Kuda). Galian Struktur mencakup galian pada segala jenis tanah dalam batas pekerjaan yang disebut atau ditunjukkan dalam Gambar untuk Struktur. Setiap galian yang didefinisikan sebagai Galian Biasa atau Galian Batu tidak dapat dimasukkan dalam Galian Struktur. Galian Struktur terbatas untuk galian lantai pondasi jembatan, tembok beton penahan tanah, dan struktur pemikul beban lainnya selain yang disebut dalam Spesifikasi ini. Pekerjaan galian struktur mencakup : penimbunan kembali dengan bahan yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan; pembuangan bahan galian yang tidak terpakai; semua keperluan drainase, pemompaan, penimbaan, penurapan, penyokong; pembuatan tempat kerja atau cofferdam beserta pembongkarannya. Sedangkan pekerjaan timbunan dalam rangka mengurug kembali bekas gaalian untuk pondasi jembatan dapat berupa sebagai berikut : Timbunan pilihan, digunakan sebagai lapis penopang (capping layer) untuk meningkatkan daya dukung tanah dasar, juga digunakan di daerah saluran air dan lokasi serupa dimana bahan yang plastis sulit dipadatkan dengan baik. Timbunan pilihan dapat juga digunakan untuk stabilisasi lereng atau pekerjaan pelebaran timbunan jika diperlukan lereng yang lebih curam karena keterbatasan ruangan, dan untuk pekerjaan timbunan lainnya dimana kekuatan timbunan adalah faktor yang kritis. Setelah pekerjaan galian selesai, langkah selanjutnya adalah melaksanakan pemasangan pondasi jembatan untuk memikul abutment jembatan. Tergantung pada desain yang ditetapkan sebagaimana ditunjukkan dalam gambar rencana, pondasi yang harus dibuat bisa pondasi langsung, pondasi tiang pancang atau pondasi sumuran, tergantung pada data hasil penyelidikan tanah (sondir dan bor) pada sisi abutment. Pilihan jenis pondasi juga berlaku untuk pondasi di bawah III-9
53 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan pilar jembatan. Dalam hal dipilih beton sebagai bahan untuk pondasi, maka baja tulangan dari beton tersebut diperpanjang minimal 40 x diameter baja tulangan, nantinya untuk mengikat abutment dengan pondasi. Jika pemasangan pondasi telah selesai, maka pekerjaan selanjutnya adalah pembuatan bangunan bawah jembatan Pembuatan bangunan bawah jembatan Setelah pekerjaan pondasi selesai, untuk memulai pembuatan bangunan bawah jembatan, terlebih dahulu harus disiapkan pemasangan besi beton (baja tulangan) sesuai dengan gambar rencana pembesian untuk abutment maupun pilar jembatan. Baja tulangan harus baja polos atau berulir dengan mutu yang sesuai dengan Gambar Rencana, sesuai dengan Spesifikasi Teknik harus memenuhi persyaratan mutu sebagai berikut : Tegangan Leleh Karakteristik Baja Tulangan Mutu Sebutan Tegangan Leleh Karakteristik atau Tegangan Karakteristik yang memberikan regangan tetap 0,2 (kg/cm 2 ) U24 Baja Lunak U32 Baja Sedang U39 Baja Keras U48 Baja Keras Jika pekerjaan pemasangan baja tulangan telah diselesaikan, sebelum dilanjutkan dengan pengecoran beton, harus terlebih dahulu diselesaikan pembuatan bekisting mengikuti bentuk bengunan bawah (abutment maupun pilar). Mutu beton yang digunakan untuk bangunan bawah harus mengikuti gambar rencana, pada umumnya digunakan beton K-350. Pengecoran beton dilakukan mulai dari tepi bawah bangunan bawah sampai ujung bawah backwall, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pemasangan bangunan atas jembatan. Beton untuk backwall baru dicor apabila bangunan atas telah dipasang. Setelah pengecoran abutment selesai, pada sisi luar dari abutment, untuk keperluan pembuatan oprit jembatan, bekas galian diisi dengan timbunan pilihan, dipadatkan lapis demi lapis dengan ketebalan padat masing-masing lapis 20 cm hingga mencapai tepi bawah backwall. III-10
54 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan Berikutnya adalah pemasangan perletakan jembatan, jenis perletakan yang harus dipasang sesuai dengan yang ada di dalam Gambar Rencana. Jenis-jenis perletakan jembatan yang sekarang sering digunakan adalah sebagai berikut : Perletakan Logam Perletakan Elastomerik Jenis 1 (300 x 350 x 36) Perletakan Elastomerik Jenis 2 (350 x 400 x 39) Perletakan Elastomerik Jenis 3 (400 x 450 x 45) Perletakan Strip Jika perletakan jembatan telah selesai dipasang, maka pekerjaan selanjutnya yang harus dilaksanakan adalah pemasangan bangunan atas jembatan Pemasangan bangunan atas jembatan Pekerjaan ini mencakup dari pemasangan struktur jembatan rangka baja hasil rancangan patent, seperti jembatan rangka (truss) baja, gelagar komposit, Bailey atau sistem rancangan lainnya, di atas bangunan bawah yang telah dipersiapkan di tempat yang telah dirancang sesuai Gambar Rencana. Pekerjaan pemasangan akan mencakup sebagaimana yang diperlukan, penanganan, pemeriksaan, identifikasi dan penyimpanan semua bahan pokok lepas, pemasangan perletakan, pra-perakitan, peluncuran dan penempatan posisi akhir struktur jembatan, pencocokan komponen lantai jembatan (deck) dan operasi lainnya yang diperlukan untuk pemasangan struktur jembatan rangka baja sesuai dengan ketentuan dalam Spesifikasi Teknis. Setelah gelegar induk terpasang (jembatan rangka baja, gelagar komposit, Bailey atau sistem rancangan lainnya), pekerjaan selanjutnya adalah pemasangan lantai jembatan. Kecuali untuk jembatan-jembatan semi permanen, pada umumnya pelat lantai jembatan (dan trotoir) dibuat dari bahan beton bertulang dengan mutu beton K-350. Mutu beton yang dibuat harus sesuai dengan yang ada dalam Gambar Rencana. Untuk menyelesaikan pekerjaan bangunan atas jembatan, pekerjaan selanjutnya yang harus dilakukan adalah pemasangan sandaran jembatan, pengaspalan lantai kendaraan dan expansion joint. Jika bangunan atas jembatan telah diselesaikan, pekerjaan berikutnya yang harus dilaksanakan adalah pengecoran backwall dan penyelesaian oprit jembatan. III-11
55 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan Pembuatan oprit jembatan Pekerjaan oprit jembatan sebenarnya sudah dimulai pada waktu penimbunan bekas galian pondasi. Namun sebelum pekerjaan ini dilanjutkan, terlebih dahulu harus diselesaikan pembuatan backwall untuk mengetahui posisi tepi atas perkerasan yang menjadi bagian dari oprit jembatan. Yang harus diperhatikan dalam pembuatan oprit jembatan adalah pemadatan lapis-lapis timbunan (tiap 20 cm) harus mengikuti persyaratan teknis yang ditentukan dalam Spesifikasi Teknis. Kemudian pemasangan sub base, base dan surface course baru boleh dilaksanakan apabila sudah dapat dipastikan bahwa subgrade dari timbunan pilihan benar-benar memenuhi persyaratan kepadatan sebagaimana ditentukan di dalam Spesifikasi Teknis Pembuatan bangunan pelengkap dan pengaman jembatan Cakupan dari pekerjaan ini antara lain adalah pembuatan bronjong, pemancangan turap baja, pemasangan fender untuk pengamanan pilar jembatan. Pembuatan bangunan pelengkap dan pengaman jembatan ini dilaksanakan pada urutan terakhir setelah pekerjaan-pekerjaan pondasi, bangunan bawah, bangunan atas dan oprit jembatan selesai dilaksanakan. 3.3 ALUR PENGGUNAN PERALATAN DAN TENAGA KERJA Berikut ini diberikan bagan alir penggunaan peralatan dan tenaga kerja : III-12
56 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan ALUR PENGGUNAAN PERALATAN DAN TENAGA KERJA STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION ASISTEN PENYIAPAN SUMBER DAYA ASISTEN SURVEY LAP DAN UJI TANAH/ MATERIAL ASISTEN PELAKSANA STRUKTUR JEMBATAN ASISTEN K3 DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN KEPALA URUSAN MEKANIK/ OPERATOR MANDOR Menerbitkan Surat Penugasan tentang penyiapan rencana kebutuhan peralatan dan tenaga kerja Menerima penugasan dari Structure Eng of Bridge Construction Menyiapkan Surat Permintaan Masukan untuk perhitungan kebutuhan peralatan dan tenaga kerja Menerima Surat Permintaan Masukan untuk perhitungan kebutuhan peralatan dan tenaga kerja Menerima bahan masukan berkaitan dengan kebutuhan peralatan dan tenaga kerja Menyiapkan dan mengirimkan bahan masukan tentang kebutuhan peralatan dan tenaga kerja Menerima dan mempelajari laporan tentang rencana kebutuhan peralatan dan tenaga kerja Menyiapkan laporan tentang rencana kebutuhan peralatan dan tenaga kerja A III-13
57 Bab III : Urutan Pelaksanaan Pekerjaan ALUR PENGGUNAAN PERALATAN DAN TENAGA KERJA STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION ASISTEN PENYIAPAN SUMBER DAYA ASISTEN SURVEY LAP DAN UJI TANAH/ MATERIAL ASISTEN PELAKSANA STRUKTUR JEMBATAN ASISTEN K3 DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN KEPALA URUSAN MEKANIK/ OPERATOR MANDOR A Menerbitkan Keputusan tentang rencana kebutuhan peralatan Menerima dan menindaklanjuti renc penyiapan kebutuhan peralatan Menyusun rencana detail penggunaan peralatan Kepala Urusan Jadwal Pelaks Pekerjaan menerima rencana detail penggunaan peralatan sbg bahan untuk menyusun jadwal pelaks pekerjaan Mempersiapkan penggunaan dan pemeliharaan peralatan Mempersiapkan penggunaan tenaga kerja berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan Menerbitkan Keputusan tentang rencana kebutuhan tenaga kerja Menerima dan menindaklanjuti renc penyiapan kebutuhan tenaga kerja Menyusun rencana detail penggunaan tenaga kerja Kepala Urusan Metode Pelaks Jembatan menerima rencana detail penggunaan peralatan dan tenaga kerja sbg bahan utk menyusun rencana pelaks. Menyusun rencana detail penggunaan tenaga kerja utk keperluan svy lapangan dan pengujian tanah dan material Menyusun rencana detail penggunaan tenaga kerja utk K3 dan pemantauan lingkungan III-14
58 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis BAB IV MENGHITUNG WAKTU PELAKSANAAN DAN MENENTUKAN LINTASAN KRITIS 4.1 NETWORK PLANNING Network Planning adalah suatu jenis jadual yang dapat digunakan untuk menyajikan construction schedule dalam urutan-urutan kegiatan maupun ketergantungan satu kegiatan dengan kegiatan lain, yang dilengkapi dengan rencana durasi kapan suatu kegiatan paling awal dapat dikerjakan dan kapan waktu paling akhir dari kegiatan tersebut harus dikerjakan, agar seluruh kegiatan yang merupakan komponen dari suatu pekerjaan dapat dikendalikan dari awal sampai akhir. Ada beberapa nama yang digunakan untuk pengertian Network Planning, antara lain : CMD = Chart Method Diagram NMT = Network Management Diagram PEP = Program Evaluation Procedure CPA = Critical Path Analysis CPM = Critical path Method PERT = Program Evaluation and Review Technique Di dalam network planning yang merupakan jaringan lintasan kegiatan yang saling tergantung satu sama lain tersebut bisa terdapat satu atau lebih lintasan kritis yang menggambarkan bahwa kegiatan pada lintasan kritis tersebut harus diawali dan diakhiri tepat waktu, sebab apabila meleset pelaksanaannya akan menunda penyelesaian proyek. Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang penggunaan Critical Path Method untuk keperluan menyiapkan suatu Network Planning : IV-1
59 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis A(14) D(16) C(0) F(17) B(15) E(18) A (14) = Kegiatan dengan kode A memerlukan durasi 14 hari untuk menyelesaikannya = = Event NE = No. of Event EET = Earliest Event Time LET = Latest Event Time NE EET LET Kegiatan yang penyelesainnya memerlukan waktu (duration) tertentu Kegiatan di lintasan kritis (critical path) Kegiatan semu, dummy, bukan kegiatan tapi dianggap sbg kegiatan yang tidak membutuhkan waktu Contoh sederhana Network Planning di atas menggambarkan ada 6 kegiatan yaitu kegiatan A, B, C, D, E, dan F dengan durasi masing-masing kegiatan serta saling ketergantungannya sebagai tersebut dalam tabel di bawah. Dalam tabel di bawah juga digambarkan perhitungan untuk menentukan lintasan kritis, yang di dalam Network Planning digambarkan sebagai kegiatan yang menghubungkan antar event yang mempunyai EET = LET, yaitu kegiatan B, E dan F. IV-2
60 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis Data Perhitungan Untuk Menetapkan Lintasan Kritis Kegiatan Event EET + Durasi pada Event No. Kegiatan Durasi Yang No. Terendah Tertinggi EET LET (Hari) Mendahului (Hari) (Hari) (Hari) (Hari) A 14 Tidak ada B 15 Tidak ada = = =17 C 0 A D 16 A = = =15 E 18 B dan C = = =33 F 17 D dan E Selesai = = Dari lintasan kritis B, E, dan F di atas dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut : Waktu yang disediakan untuk menyelesaikan kegiatan-kegiatan di lintasan kritis tidak boleh dilampaui sebab apabila dilampaui akan mengakibatkan tertundanya penyelesian pekerjaan. Controlling secara ketat harus dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan di lintasan kritis agar penyelesaian pekerjaan tidak tertunda. Sementara kelonggaran waktu yang terdapat pada kegiatan lain (dalam kasus di atas adalah kegiatan A dan D) dapat dipertimbangkan untuk dimanfaatkan (tenaga, peralatan, bahan, dan barangkali juga biaya) bagi percepatan penyelesaian kegiatan B, E, dan F. Permasalahan yang kita hadapi adalah bagaimana dengan manajemen penyelenggaraan proyek jalan dan jembatan, apakah memerlukan network planning berupa Critical Path Method seperti di atas? Perlu kita ketahui bahwa proyek jalan dan jembatan terdiri dari proyek-proyek tahunan dan proyek-proyek multi year. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa jarang ada pelaku proyek jalan dan jembatan yang memanfaatkan Critical Path Method sebagai salah satu cara untuk mengendalikan pelaksanaan proyek, namun fakta menunjukkan bahwa cukup banyak proyek-proyek jalan dan jembatan yang tidak selesai tepat waktu (memerlukan perpanjangan waktu pelaksanaan konstruksi) baik pada proyek-proyek tahunan maupun multi year. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari ketidakmampuan kontraktor di lapangan sampai IV-3
61 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis ketidakjelasan kemampuan pemberi pekerjaan menyediakan alokasi dana yang diperlukan untuk membiayai proyek sebagai akibat dari berbagai perubahan di sektor ekonomi. Terlepas dari penyebab-penyebab yang mempengaruhi jadual penyelesaian proyek, nampaknya perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut : Dalam merencanakan construction schedule suatu proyek, kontraktor perlu secara tajam mencari, dari sejumlah kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka menyelesaikan proyek, kegiatan-kegiatan mana yang potensial menjadi kritis. Jika telah ditemukan jenis kegiatan di maksud, maka kontraktor perlu merinci kegiatan-kegiatan tersebut ke dalam sub-sub kegiatan dan dari subsub kegiatan ini kemudian dapat dibuat network planning berupa Critical Path Method. Untuk proyek-proyek yang dikategorikan sebagai proyek crash program, barangkali pilihan paling baik adalah dengan menambahkan Critical Path Method yang menggambarkan network planning dari sejak mulai sampai berakhirnya proyek, selain Bar Chart dan Jadual Progres Keuangan S Curve. Bisa jadi jika dibuat Critical Path Method untuk proyek crash program, setiap lintasan yang tergambar akan berupa lintasan kritis. Jika terjadi demikian maka kegiatan yang berupa lintasan kritis tersebut perlu diurai lagi menjadi sub-sub kegiatan sehingga akan diketahui sub-sub kegiatan mana yang memberikan kontribusi kritis bagi suatu kegiatan. 3a c 4 3b 4.2 LINTASAN KRITIS Pada Sub Bab 4.1. telah diberikan uraian singkat tentang Network Planning dan contoh penggunaannya untuk menentukan lintasan kritis pada suatu kegiatan yang sangat sederhana. Berikut ini diberikan contoh lain penentuan lintasan kritis pada suatu pekerjaan jembatan, menggunakan software yang pada saat sekarang IV-4
62 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis lazim digunakan dalam penentuan jadwal pelaksanaan proyek, yaitu Microsoft Project. Bentuk penyajian network tidak dalam bentuk lingkaran, akan tetapi dalam format lain, kita tidak perlu menghitung sendiri akan tetapi kita cukup memberikan masukan pekerjaan apa yang harus dimulai paling awal, berapa durasi (hari kerja) yang diperlukan, kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan-pekerjaan berikutnya. Yang perlu ditentukan dari setiap pekerjaan adalah durasinya dan kegiatan apa yang mendahuluinya, sehingga tercipta suatu hubungan ketergantungan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lain. Jika jumlah item pekerjaan yang harus ditangani cukup banyak, menentukan jadwal kerja dengan menggunakan Microsoft Project akan memudahkan bagi Kepala Urusan Penyiapan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan karena tidak harus menghitung dan menggambar diagram secara manual, akan tetapi cukup memasukkan data-data dasar, dan selebihnya seluruh perhitungan dan penggambaran diagram network dilakukan oleh komputer. Berikut ini adalah contoh soal : Direncanakan membangun sebuah jembatan dengan bentang m m m dengan bangunan atas Girder I Beam Beton Pratekan, lebar lantai kendaraan (beton tulang K-350) 7.00 m, dan trotoir kiri kanan beton tulang K-350 masing-masing 1.00 m. Abutmen dan pilar jembatan dibuat dari beton tulang K- 350, sedangkan untuk pondasi jembatan dipilih tiang pancang beton pratekan ukuran 40 cm x 40 cm. Rincian item pekerjaan, durasi untuk masing-masing item pekerjaan dalam hari kerja, kapan kegiatan setiap item harus dimulai dan kegiatan apa saja yang mendahului item-item pekerjaan dimaksud diberikan dalam tabel. Diminta menentukan lintasan kritis untuk pembangunan jembatan dimaksud! IV-5
63 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis DAFTAR ITEM PEKERJAAN, DURASI YANG DIPERLUKAN DAN SALING KETERGANTUNGAN MASING-MASING ITEM PEKERJAAN UNTUK PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JEMBATAN NO. PEKERJAAN 1. Pekerjaan tanah dan pemasangan pondasi jembatan DURASI (hari kerja) MULAI 20 Fri 1/5/07 KEGIATAN YANG MENDAHULUI Galian cadas 5 Fri 1/5/07 Galian biasa 5 Fri 1/5/07 Timbunan pilihan 1 Fri 1/12/07 3 Penyediaan tiang pancang beton pratekan pracetak Pemancangan tiang pancang beton pretekan di abutment 40cm x 40 cm Pemancangan tiang pancang beton pratekan di pilar 40cm x 40 cm 2. Pekerjaan bangunan bawah jembatan Beton K-350 untuk abutment kiri Baja tulangan U24 polos utk abutment kiri Baja tulangan U32 ulir utk abutment kiri Baja tulangan U 48 utk abutment kiri Elastomeric bearing pad utk abutment kiri Beton K-350 untuk pilar jembatan Baja tulangan U24 polos utk pilar jembatan Baja tulangan U32 ulir utk pilar jembatan Baja tulangan U 48 utk pilar jembatan Elastomeric bearing pad utk pilar jembatan Beton K-350 untuk abutment kanan Baja tulangan U24 polos utk abutment kanan 6 Mon 1/15/ Tue 1/23/ Tue 1/23/ Thu 2/1/07 45 Tue 2/13/07 "10,11,12,1" 5 Fri 2/2/ Fri 2/2/ Fri 2/2/ Tue 4/17/ Wed 2/14/07 "15,16,17,1" 8 Thu 2/1/ Thu 2/1/ Thu 2/1/ Wed 5/9/ Tue 2/13/07 "20,21,22,1" 5 Fri 2/2/07 6 IV-6
64 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis NO. PEKERJAAN DURASI (hari kerja) MULAI KEGIATAN YANG MENDAHULUI Baja tulangan U32 ulir utk abutment kanan 7 Fri 2/2/07 6 Baja tulangan U 48 utk abutment kanan 7 Fri 2/2/07 6 Elastomeric bearing pad utk abutment kanan 4 Tue 4/17/ Pekerjaan bangunan atas jembatan 73 Mon 5/21/07 Unit pracetak gelegar tipe I bentang 22 m 40 Mon 5/21/07 "13,18,23" Unit pracetak gelegar tipe I bentang 34 m 35 Mon 5/21/07 "13,18,23" Beton pelat lantai dan trotoir K Mon 7/16/07 "25,26" Baja prategang 10 Mon 7/16/07 "25,26" Expansion joint 6 Mon 7/16/07 "25,26" Sandaran jembatan (railing) 8 Mon 7/16/07 "25,26" 4. Pembuatan oprit jembatan (jalan pendekat) 16 Thu 8/30/07 Pembuatan badan jalan 3 Thu 8/30/07 24 Pembuatan lapis pondasi bawah 7 Tue 9/4/07 32 Pembuatan lapis pondasi atas 4 Thu 9/13/07 33 Pembuatan lapis permukaan AC 2 Wed 9/19/ Pekerjaan bangunan pelengkap dan 10 Fri 9/21/07 perlengkapan jbt Pembuatan bronjong 10 Fri 9/21/07 35 Pengadaan turap baja 6 Fri 9/21/07 35 Pemancangan turap baja 6 Fri 9/21/07 35 Berikut adalah Network Planning yang dihasilkan dari Microsoft Project. Garis warna merah (atau garis yang menghubungkan kotak tanpa background abu-abu jika printer tidak berwarna) menunjukkan bahwa item-item pekerjaan yang bersangkutan berada pada lintasan kritis. IV-7
65 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis IV-8
66 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis IV-9
67 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis IV-10
68 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis IV-11
69 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis IV-12
70 Bab IV : Menghitung Waktu Pelaksanaan Dan Menentukan Lintasan Kritis IV-13
71 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu BAB V MENGHITUNG KEBUTUHAN ALAT, BAHAN, TENAGA KERJA DAN WAKTU 5.1 KEBUTUHAN ALAT Untuk dapat menghitung jumlah kebutuhan alat, diperlukan data-data volume dan jenis pekerjaan yang harus diselesaikan dan produktivitas alat yang digunakan. Berikut ini diberikan penjelasan dalam garis besar prinsip-prinsip perhitungan produktivitas peralatan. Selanjutnya, untuk menghitung seluruh kebutuhan peralatan proyek jembatan perlu dibuat jadwal rencana pelaksanaan dirinci berdasarkan pay item, distribusi volume setiap item pekerjaan berdasarkan kurun waktu yang disediakan di dalam rencana pelaksanaan dan produksi setiap jenis peralatan yang akan digunakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi alat a. Kapasitas Kapasitas alat yang digunakan harus sesuai dengan besarnya pekerjaan yang akan dilaksanakan dan ketentuan yang tercantum dalam spesifikasi. Untuk alat utama seperti Stone Crusher, kapasitasnya tergantung dari volume dan lamanya waktu yang diperlukan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan alat tersebut. b. Faktor Efisiensi Dalam merencanakan suatu proyek, produktivitas per jam dari suatu alat yang diperlukan adalah produktivitas standar dari alat tersebut dalam kondisi ideal dikalikan dengan suatu faktor. Faktor tersebut dinamakan efisiensi kerja. Efisiensi kerja tergantung pada banya faktor, seperti : Kesesuaian alat dengan topografi yang bersangkutan Kondisi dan pengaruh lingkungan seperti ukuran medan dan peralatan, cuaca dan penerangan V-1
72 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu Pengaturan kerja dan kombinasi kerja antarperalatan dan mesin Metode operasional dan perencanaan persiapan Pengalaman dan kepandaian operator dan pengawas untuk pekerjaan dimaksud Dalam pada itu pemeliharaan alat juga mempunyai pengaruh terhadap efisiensi kerja. Karenanya pelaksanaan pemeliharaan peralatan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Penggantian pelumas dan gemuk secara teratur Kondisi peralatan pemotong (blade, bucket, bowl dan sebagainya) Persediaan suku-suku cadang yang sering diperlukan untuk peralatan yang bersangkutan Dalam kenyataannya sulit untuk menentukan besarnya efisiensi kerja, tetapi dengan pasar pengalaman, dapat ditentukan efisiensi kerja yang mendekati kenyataan. Sebagai pendekatan dalam menentukan efisiensi kerja alat, lihat table di bawah : FAKTOR EFISIENSI KERJA ALAT Kondisi Operasi Alat Baik sekali Pemeliharaan Alat Baik Sedang Buruk Buruk Sekali Baik sekali 0,83 0,81 0,76 0,70 0,63 Baik 0,78 0,75 0.,71 0,65 0,60 Sedang 0,72 0, ,60 0,54 Buruk 0,63 0,61 0,57 0,052 0,45 Buruk sekali 0,52 0,50 0,47 0,42 0,32 Sumber : Kapasitas dan Produksi Alat-alat Berat, Ir. Rochmanhadi, Badan Penerbit PU, 1983 (Komatsu, Specifications and Application Handbook) Edition 7, Tabel 1 Job Efficiency, Hal 5-6 c. Produktivitas Peralatan Produksi peralatan dihitung berdasarkan volume per siklus waktu dan jumlah siklus dalam satu jam yang dinyatakan dalam rumus : Q = q x N x E 60 = q x x E WS V-2
73 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu dimana : Q = Produksi per jam dari alat (m 3 /jam, m 1 /jam, m 2 /jam) Q = Kapasitas alat per siklus (m 3, m 1, m 2, dan sebagainya) N = Jumlah siklus 60 N = WS E = Efisiensi kerja total yang terdiri dari efisiensi kerja mesin, efisiensi kerja operator, efisiensi karena kondisi lapangan, efisiensi karena jenis material yang ditangani WS = Waktu siklus dalam menit d. Waktu Siklus Waktu siklus adalah waktu yang dibutuhkan dari sudut alat dari mulai waktu gerakan awal sampai pada gerakan mulai kembali. Berikut ini beberapa contoh waktu siklus untuk berbagai peralatan : 1) Bulldozer Waktu siklus terdiri dari menggusur, ganti persneling dan mundur. D D WS = + + Z (menit) F R D = jarak angkut (m) F = kecepatan maju (m/min), biasanya antara 3-5 m.jam. untuk mesin menggunakan TOROFLOW diambil 75% kecepatan maksimum. R = kecepatan mundur (m/min) biasanya antara 5-7 km/jam; untuk mesin menggunakan TOROFLOW, diambil 85% kecepatan maksimum. Z = Waktu tetap, dalam hal ini waktu untuk ganti persneling. Biasanya diambil 0,10 menit dengan tongkat tunggal, atau 0,20 menit untuk tongkat ganda dan 0,50 menit untuk TOROFLOW. 2) Wheel Loader Waktu siklus dapat berbentuk : D D - Pemuatan melintang, WS = + + Z F R D D - Pembuatan bentuk V, WS = + + Z F R - Muat angkut, WS = D D + + Z F R V-3
74 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu dimana WS = Waktu siklus (menit) D = Jarak angkut (m, yd) F = Kecepatan maju (m/menit, yd/menit) R = Kecepatan mundur (m/menit, yd/menit) Z = Waktu tetap (menit) - Kecepatan maju, kecepatan mundur Gigi 2 atau gigi 3 selalu digunakan untuk maju atau pun mundur. Untuk mesin-mesin TOROFLOW, besarnya kecepatan yang diberikan dalam spesifikasi dikalikan dengan 0,8 untuk memperoleh kecepatan yang akan digunakan dalam perhitungan. - Waktu tetap Waktu tetap adalah jumlah waktu-waktu yang diperlukan untuk ganti persneling, pembuatan, berputar, membuang muatan serta menunggu dump truck. Lihat Tabel berikut : Pembuatan Pembuatan Muat & Bentuk V Melintang Angkut Mesin gerak langsung 0,25 0,35 - Mesin gerak hidrolis 0,20 0,30 - Mesin gerak TOROFLOW 0,20 0,30 0,35 3) Excavator Hidroliks Waktu siklus terdiri dari waktu gali, waktu putar 2 kali dan waktu buang. Waktu menggali biasanya tergantung pada kedalaman gali dan kondisi galian. Kondisi Gali/ Kedalaman Gali Tabel Waktu Gali (detik) Ringan Sedang Agak Sulit Sulit 0 2 m m 4 m m lebih Waktu putar tergantung dari sudut dan kecepatan putar. V-4
75 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu Tabel Waktu Putar (detik) Sudut Putar Waktu Putar Waktu buang tergantung pada kondisi pembuangan material. Satuan (detik). - kedalaman dumptruck = 5 8 detik - ke tempat pembuangan = 3 6 detik 4) Dumptruck Waktu siklus terdiri dari : Waktu yang diperlukan untuk loader mengisi dumptruck waktu muat Waktu untuk mengangkut material waktu angkut Waktu yang dibutuhkan untuk membongkar muatan material waktu buang waktu angkut Waktu yang diperlukan untuk posisi pengisian dani untuk loader mulai mengisi waktu tunggu dan tunda WSt = n WSs + V D dimana : 1 t1 + V D 2 + t2 WSt = Waktu siklus dumptruck n = Jumlah siklus yang diperlukan loader untuk mengisi dumptruck n = C 1 x K Q 1 C1 = Kapasitas rata-rata dumptruck (m 3 ) Q1 = Kapasitas bucket dari loader (m 3 ) K = Faktor bucket dari loader WS5 = Waktu siklus loader (menit) D = Jarak angkut dumptruck (m) V1 = Kecepatan rata-rata truck bermuatan (m/menit) V2 = Kecepatan rata-rata truck kosong (m/menit) t1 = Waktu buang + waktu standby sampai pembuangan mulai (menit) t2 = Waktu untuk posisi pengisian dan untuk loader mulai mengisi (menit) V-5
76 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu 5) Motor Scraper Waktu siklus terhitung dengan menggunakan rumus berikut : WS = Waktu muat + waktu angkut + angkut belah dan tebar + waktu kembali + waktu tunggu. 5.2 KEBUTUHAN MATERIAL a. Menentukan Kebutuhan Material Apabila di dalam dokumen lelang tidak dicantumkan volume kebutuhan bahan untuk tiap-tiap mata pembayaran pekerjaan, maka harus dibuat perhitungan bahan sesuai dengan spesifikasi teknis dalam dokumen lelang dan metode kerja yang digunakan. Untuk mata pembayaran yang mempunyai produk terdiri atas beberapa macam bahan seperti beton, komposisi campuran bahan-bahan harus mengikuti ketentuan yang tercantum dalam Spesifikasi Teknis (yang diperoleh tidak langsung, namun menggunakan analisa perhitungan dengan suatu asumsi). b. Kuantitas Bahan Kuantitas bahan adalah volume setiap jenis bahan dalam satuannya masingmasing (zak, kg, dan sebagainya) yang diperlukan dalam mata pembayaran yang bersangkutan. Volume (banyaknya) bahan akan tergantung dari keadaan bahan tersebut. Berbagai jenis tanah dalam keadaan asli (sebelum digali), telah lepas karena pengerjaan atau telah dipadatkan, volumenya berlainan. Besarnya faktor konversi akan tergantung dari tipe bahan dan derajat pengerjaannya (periksa Tabel). Faktor konversi seperti pada Tabel ini dinamakan juga faktor kembang susut bahan. Di samping faktor ini dalam menentukan keperluan bahan perlu diperhitungkan pula adanya faktor kehilangan akibat pengerjaan atau angkutan. Faktor kehilangan ini besarnya antara 0% - 25 %. Faktor kembang susut dan faktor kehilangan bahan pada dasarnya ditetapkan berdasarkan pengalaman, pengamatan atau percobaan. V-6
77 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu TABEL JENIS KONVERSI UNTUK VOLUME MATERIAL JENIS TANAH PASIR TANAH LIAT BERPASIR TANAH LIAT TANAH CAMPUR KERIKIL KERIKIL KERIKIL KASAR PECAHAN CADAS ATAU BATUAN LUNAK PECAHAN CADAS ATAU BATUAN KERAS PECAHAN BATU BATUAN HASIL PELEDAKAN KONDISI TANAH SEMULA Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat Asli Lepas Padat KONDISI TANAH AKAN DIKERJAKAN ASLI LEPAS PADAT V-7
78 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu Volume Sesuai Spesifikasi Teknik dan Gambar Kerja Volume pekerjaan dihitung mengikuti prosedur pengukuran volume yang ditentukan di dalam Spesifikasi Teknik. Perhitungan volume didasarkan atas hasil pekerjaan di lapangan yang proses pengerjaannya dibuat setelah kontraktor menyiapkan gambar kerja. Berikut ini diberikan contoh-contoh perhitungan kebutuhan beberapa komponen bahan. Volume Pemadatan Tanah dan Pasangan Batu dengan Adukan Pemadatan tanah Harus dilaksanakan pemindahan tanah m 3 dari tanah asli beberapa volume termaksud sesudah digali untuk diangkat berapa jadinya volume termaksud kalau dipadatkan Dengan menggunakan tabel didapat hasil sebagai berikut : Tanah asli Tanah lepas Tanah padat Tanah liat m 3 1,25 x = m 3 0,9 x = m 3 Pasir m 3 1,11 x = m 3 0,95 x = m 3 Pasangan batu dengan Adukan (Manual) Perbandingan adukan : Volume semen Sm = 25% Volume Pasir Ps = 75% Perbandingan batu dan adukan : Batu = Bt = 25% Adukan = Mr = 75% Berat jenis bahan : Pasangan batu D1 = 2,4 t/m3 Batu D2 = 1,60 t/m3 Adukan D3 = 1,80 t/m3 Pasir D4 = 1,67 t/m3 Semen Portland D5 = 1,44 t/m 3 V-8
79 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu Faktor kehilangan bahan : Batu Fh1 = 1,20 Pasir/Semen Fh2 = 1,05 Pemakaian bahan : Per m 3 pasangan batu, terdiri dari : Batu : Bt x D1 x 1 = 1,440; atau (Bt x D1 x 1): D2 = 0,900 m3 Aduk : Mr x D1 1 = 0,960 t; atau (Mr x D1 x 1): D3 = 0,533 t/m 3 Bahan yang diperlukan Batu :{(Bt x D1 x 1): D2} x Fh1 = 1,080 m3 Semen : Sm x {(Mr x D1 x 1): D3} x Fh2 = 1,490 m3; atau Sm x {(Mr x D1 x 1): D3} x Fh2 x D5 = 0,202 t = 202 kg Pasir : Ps x {(Mr x D1 x 1): D3} x Fh2 = 0,4200 m 3 Pasangan batu dengan adukan (mekanik) Keterangan bahan sama dengan, sehingga pemakaian bahan per m 3, juga sama, ialah : Batu :{(Bt x D1 x 1): D2} x Fh1 = 1,080 m3 Sm x {(Mr x D1 x 1): D3} x Fh2 x D5 = 0,202 t = 202 kg Pasir : Ps x {(Mr x D1 x 1): D3} x Fh2 = 0,4200 m 3 Menghitung Volume Bahan untuk Pembuatan Beton Direncanakan membuat Beton K-350 dengan batasan-batasan sesuai persyaratan Spesifikasi sebagai berikut : Ukuran agregat kasar maksimum = 25 mm; Slump = 80 mm; Rasio Air/Semen = 0.45; Kadar semen minimum = 335 kg/m 3 Gradasi pasir yang digunakan adalah sebagai berikut : V-9
80 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu Sieve ASTM mm % Passing % Retained ¾ / # # # # # # # 9 F.M. Tot retained/ Untuk menghitung kebutuhan bahan beton, digunakan format Trial Mixing Sheet for Concrete pada halaman selanjutnya. Dari sheet tersebut dapat diperoleh hasil perhitungan bahwa untuk membuat 1 m 3 beton K-350 diperlukan material sebagai berikut : Air = 192 kg Semen = 427 kg Pasir = m 3 Agregat kasar = m 3 V-10
81 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu 5.3 KEBUTUHAN TENAGA KERJA a. Beberapa pengertian Tenaga Kerja adalah tiap orang yang berusia 15 tahun ke atas yang secara potensial dapat melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa-jasa atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pekerja standar adalah pekerja terampil yang biasa mengerjakan satu macam pekerjaan, seperti : Pekerja galian Pekerja pembetonan Pekerja pasangan batu Pekerja las, dsb. V-11
82 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu Produktivitas tenaga kerja adalah volume pekerjaan rata-rata yang dihasilkan oleh pekerja standar untuk jangka waktu tertentu, misalnya : Hari orang standar Jam orang standar Di dalam hari orang standar, yang dimaksud satu hari kerja adalah 8 jam termasuk 1 jam istirahat. Dengan demikian jam efektif per hari = 7 jam. b. Penentuan produktifitas tenaga kerja Perkiraan produktifitas setiap kualifikasi tenaga kerja yang terlibat dalam suatu pekerjaan atau proses produksi dapat ditentukan berdasarkan : Survei tenaga lapangan Kajian gerak dan waktu Proyek percontohan 1) Survei tenaga lapangan Salah satu cara untuk menentukan produktifitas tenaga kerja adalah melalui survei lapangan, ialah pengamatan terhadap tenaga kerja yang bekerja untuk berbagai jenis pekerjaan yang sedang berlangsung di lapangan. Pengamatan atau observasi adalah merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan data tentang tenaga kerja yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui proses pengamatan dan pencatatan terhadap gejala-gejala yang diselidiki. Pengamatan sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan data adalah pengamatan yang mempunyai sifat-sifat : Dilakukan sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu (dalam hal ini : mencatat produktivitas berbagai kualifikasi tenaga kerja untuk suatu jenis pekerjaan/kegiatan). Direncanakan secara sistematik Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuannya Dapat diperiksa validitas, reliabilitas dan ketelitiannya Bersifat kuantitatif (misalnya satuan volume per satuan waktu) V-12
83 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu Untuk mendapatkan faktor-faktor yang dijadikan dasar dalam perhitungan produktivitas, dengan sendirinya pengamatan dilakukan berkali-kali atau mencakup berbagai pelaksanaan lapangan lainnya dari jenis pekerjaan yang sama untuk kemudian diambil harga/faktor rataratanya. 2) Kajian gerak dan waktu Aspek kajian gerak terdiri dari berbagai macam prosedur untuk penguraian dan analisis ilmiah metode kerja dengan memperhatikan : Bahan baku Desain output (produk atau jasa) Proses atau urutan kerja Peralatan, tempat kerja, serta perlengkapan untuk tiap-tiap langkah dalam proses tersebut Aktifitas manusia yang dipergunakan untuk melaksanakan tiap-tiap langkah, untuk menentukan (atau merancang) metode kerja yang lebih baik. Aspek kajian waktu lainnya terdiri dari berbagai macam prosedur untuk penentuan jumlah waktu yang dibutuhkan, menurut kondisi pengukuran standar tertentu, untuk tugas-tugas yang melibatkan aktivitas manusia tertentu. Namun sulit untuk sama sekali memisahkan kedua aspek ini karena suatu metode yang ditentukan, sering dalam bentuk praktek standar tertulis yang menggunakan satu teknik kajian gerak, merupakan salah satu kondisi pengukuran waktu sering menjadi bagian dasar perbandingan metode alternatif. Di samping itu, penentuan metode dan penilaian waktu saling melengkapi dalam penerapannya. Istilah gabungan kajian gerak dan waktu dipergunakan untuk menunjukkan tiga tahapan kegiatan : penentuan metode, penilaian waktu, serta pengembangan materi untuk aplikasi data ini. Dalam semua kegiatan maupun pekerjaan, kajian gerak dan waktu sangat bermanfaat membantu menentukan cara mengerjakan pekerjaan V-13
84 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu yang lebih baik dan efektif. Pendekatan kajian gerak dan waktu sama baiknya bila diterapkan dalam pabrik besar dan kecil, kantor, produksi, pemeliharaan, pekerjaan staf atau pengawas, usaha tani, pekerjaan rumah tangga, pembedahan, pekerjaan kafetaria, toko serba ada atau pekerjaan perhotelan, semua tingkatan aktivitas pemerintah, kegiatan peperangan, serta semua kegiatan manusia. Apa yang dikerjakan dapat berbeda-beda dari suatu pekerjaan ke pekerjaan, dapat berupa jasa atau produk, keserbaragaman proses, keanekaragaman peralatan, perlengkapan, dan tempat kerja. Permasalahan dalam penentuan metode pelaksanaan pekerjaan yang mungkin dan akan lebih baik akan selalu ada seiring dengan masalah dalam menentukan jumlah jam kerja yang diperlukan. Tanpa memperhatikan perbedaan dalam pelaksanaan atau bidang pengetahuan, prosedur tertentu harus dipergunakan untuk merancang pekerjaan dan untuk menentukan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakannya. Prosedur harus dipilih dari berbagai prosedur gerak dan waktu yang ada untuk membantu secara efektif dalam penerapan pengetahuan yang ada untuk pemecahan permasalahan desain dan pengukuran. Kajian gerak dan waktu dapat bermanfaat untuk menyediakan sarana untuk aktivitas kerja sama antara berbagai divisi suatu organisasi dalam menyaring, merencanakan atau mendesain, dan mengendalikan integrasi materi yang tepat, desain produk atau pekerjaan yang dicapai, proses, alat, tempat kerja dan perlengkapan, serta aktivitas manusia. 3) Proyek percontohan Pelaksanaan penentuan produktivitas tenaga kerja melalui Proyek Percontohan pada dasarnya sama dengan pelaksanaan melalui survei lapangan, terutama adalah hal teknik yang digunakan dalam mengamati berbagai tenaga kerja yang bekerja untuk pekerjaan yang sedang berlangsung. Perbedaan utama terletak pada situasi dan kondisi pekerjaan yang diamati. Pada proyek percontohan situasi dan kondisinya diciptakan berdasarkan rencana proyek percontohan yang telah dipersiapkan V-14
85 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu sebelumnya (misalnya percobaan berdasarkan hasil kajian gerak dan waktu seperti disebut pada butir 2). c. Kualifikasi Tenaga Kerja dan Komposisi Kelompok Kerja Keterampilan / kecakapan tenaga kerja Menurut James E. Gardner dalam Training Intervention in Job Skill Development, keterampilan diperoleh seseorang melalui latihan/pengalaman dari kemampuan mental, fisik dan sosial, sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Bagaimana suatu keterampilan terbentuk, dapat dijabarkan dalam tahapantahapan berikut : 1) Penguasaan langkah-langkah prosedural dan manipulasi yang menggambarkan pelaksanaan tugas pekerjaan. Tujuan pelaksanaan tugas mungkin bisa dicapai, tetapi caranya kurang efisien. 2) Penghalusan pelaksanaan tugas, mencakup penghilangan gerakangerakan yang kurang produktif dan efisien dari umpan balik. 3) Kecepatan pelaksanaan tugas, sebagai akibat dari hubungan ketepatan gerakan dan peningkatan umpan balik. 4) Pengaturan pekerjaan, kapan tugs-tugas dilaksanakan dan terdapatnya keperluan yang bertentangan dengan waktu pekerja. Pembelajaran mencakup terwujudnya prioritas tugas, keputusan tentang penyelesaian tugas atau penundaan tugas, dan perencanaan lanjutan untuk pekerjaan-pekerjaan yang dapat diantisipasi. 5) Penanggulangan terhadap kondisi yang tidak lazim. Pada tahap ini pembelajaran mencakup penyesuaian dalam pekerjaan rutin dan jadwal serta perolehan keterampilan langsung untuk memperbaiki keadaan yang kurang menguntungkan. Dalam pelaksanaan pekerjaan jalan dan jembatan diperlukan keterampilan yang memadai untuk dapat melaksanakan suatu jenis pekerjaan. Tenaga kerja yang terlibat dalam suatu jenis pekerjaan jalan dan jembatan umumnya terdiri dari : Pekerja Tukang V-15
86 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu Mandor Operator (*) Pembantu Operator (*) Sopir (*) Pembantu Sopir (*) Mekanik (*) Pembantu Mekanik (*) (*) bukan termasuk dalam kelompok tenaga kerja, tetapi peralatan. Berikut ini dijabarkan beberapa kemampuan/kecakapan yang harus dimiliki oleh beberapa kualifikasi tenaga kerja : Pekerja Menurut Klasifikasi Jabatan Indonesia yang diterbitkan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Biro Pusat Statistik pekerja digolongkan sebagai pekerja kasar yang melakukan tugas-tugas fisik untuk mengangkat, mengangkut, menggali dan tugas-tugas lain dengan menggunakan alat-alat kerja yang sederhana seperti : cangkul, sekop, gerobak dorong dan sapu. Dengan demikian seorang pekerja harus mampu melakukan tugas sederhana terutama dalam menggunakan tenaga fisik, tanpa memerlukan pengalaman kerja atau latihan serta syarat lain. Tukang a) Mengetahui tentang macam-macam peralatan, bahan penggunaan dan perawatan alat-alat tersebut b) Mengetahui tentang cara melakukan pekerjaan sesuai bidang tugasnya c) Mengerti tentang gambar rancangan proyek d) Mengetahui dasar-dasar pekerjaan jalan dan jembatan Mandor a) Mengetahui tentang macam-macam peralatan bangunan, penggunaan dan perawatan alat tersebut b) Mengetahui tentang standar upah tukang, pekerja V-16
87 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu c) Mengetahui dasar tentang bangunan sipil d) Mengetahui pekerjaan jalan dan jembatan e) Mampu membaca gambar f) Mampu mengendalikan pekerja Operator (*) Ada 3 (tiga) kelas operator sebagai berikut Operator Kelas I (Kemampuan Baik) Melaksanakan pada pekerjaan dng kesulitan tinggi Melaksanakan pada pekerjaan presisi berkualitas tinggi Melaksanakan pada produktivitas optimum, waktu putar (cycle time) pendek Melaksanakan pada pekerjaan dengan peralatan kapasitas berat dan kendali (control) mutakhir Melaksanakan pada pekerjaan medan berat Operator Kelas II (Kemampuan Sedang) Melaksanakan pada pekerjaan kesukaran sedang Melaksanakan pada pekerjaan presisi berkualitas sedang Melaksanakan pada produktivitas optimum, waktu putar (cycle time) sedang Melaksanakan pada pekerjaan dengan peralatan kapasitas sedang dan kendali (control) mutakhir Operator Kelas III (Kemampuan Cukup) Melaksanakan pada pekerjaan kesukaran cukup Melaksanakan pada pekerjaan presisi berkualitas cukup Melaksanakan pada produktivitas optimum, waktu putar (cycle time) cukup Melaksanakan pada pekerjaan medan cukup Melaksanakan pada pekerjaan dengan peralatan kapasitas cukup dan kendali (control) mutakhir. Komposisi setiap kelompok kerja Dalam melaksanakan suatu jenis pekerjaan jalan diperlukan berbagai macam tukang, seperti : V-17
88 Bab V : Menghitung Kebutuhan Alat, Bahan, Tenaga Kerja dan Waktu Tukang batu yang melaksanakan pasangan batu kali, gorong-gorong pipa beton, dan lain-lain. Tukang kayu yang mampu mengerjakan pekerjaan kayu dalam terowongan, atau membuat jembatan kayu. Tukang pasang besi beton Tukang aspal, dan lain-lain. Agar seorang tukang besi bekerja secara efektif, ia pada umumnya memerlukan bantuan dari beberapa orang tenaga pekerja dan diawasi atau dikoordinasikan oleh mandor. Dengan demikian setiap kelompok kerja umumnya terdiri dari : Pekerja Tukang, dan Mandor Seperti telah diuraikan pada butir b di muka, komposisi setiap kelompok kerja akan sangat tergantung pada jenis dan sifat pekerjaan (antara lain bahan-bahan, proses atau urutan kerja, peralatan, tempat kerja, dan lainlain). Untuk pelayanan alat berat setiap kelompok kerja biasanya terdiri dari operator atau sopir yang dibantu oleh pembantu operator atau pembantu sopir. Demikian pula halnya dengan tenaga untuk pelayanan mekanik yang terdiri dari tenaga mekanik dan tenaga pembantu mekanik. 5.4 KEBUTUHAN WAKTU Seluruh kebutuhan peralatan dan tenaga kerja harus diselesaikan pada periode mobilisasi. Pengertian peralatan dalam hal ini juga mencakup alat-alat berat maupun alat-alat laboratorium. Sedangkan yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah tenaga ahli, tenaga terampil, tukang dan pekerja. Untuk penyediaan material, waktunya disesuaikan dengan jadwal penggunaan material sebagai bahan baku, bahan olahan atau bahan jadi. Dengan demikian tidak ada penumpukan material di gudang dalam jangka waktu yang lama yang kemungkinan bisa menurunkan mutu bahan misalnya semen. V-18
89 STEBC-04: Jadwal Pelaksanaan PekerjaanJembatan Rangkuman RANGKUMAN Yang dimaksud dengan Jadwal Pelaksanaan secara umum adalah rencana lamanya waktu untuk melaksanakan suatu kegiatan dan gambaran untuk identifikasi kapan suatu kegiatan dan gambaran ataupun paling lambat harus dimulai atau diselesaikan supaya tidak mengganggu kegiatan lainnya untuk dilaksanakan. Dengan diketahuinya lama waktu pelaksanaan kegiatan seringkali timbul tertanyaan apakah waktu yang tersedia tersebut sudah optimal, atau dengan kalimat lain, dapatkah waktu pelaksanaan dipersingkat dengan menambah tenaga kerja, biaya dan lain-lain yang mendukung dalam batas-batas yang masih dianggap ekonomis. Dalam menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan, digunakan asumsi bahwa sumber daya yang diperlukan selalu tersedia dalam arti harus mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang ada akibat berbagai faktor, misalnya lokasi kegiatan, keahlian yang terbatas dan lain sebagainya. Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan tenaga kerja dan peralatan adalah usaha menghindari terjadinya naik turun yang tajam dengan jalan mengadakan pemerataan pemakaian sumber daya, disini juga akan kita bahas tentang sejauh mana faktor-faktor pemakaian sumber daya mempengaruhi jadwal pelaksanaan proyek. Dalam pelaksanaan pekerjaan jembatan di lapangan memerlukan tingkat kecermatan dan ketelitian yang harus mendapat perhatian penuh dari structure engineer of bridge construction. Oleh karena itu Penyiapan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan yang dibuat harus memberikan waktu yang cukup bagi pelaksana lapangan dalam memenuhi prinsip-prinsip aspek teknis yang tertuang dalam Gambar Rencana dan Spesifikasi Teknis agar dapat memperkecil kesalahan-kesalahan umum yang sering dijumpai pada pelaksanaan pekerjaan jembatan. Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction R-1
90 Daftar Pustaka DAFTAR PUSTAKA 1. Contruction Planning, Equipment and Method, By R.L.Peurifoy. 2. Foundation Design, Wayne C. Teng Hand Book Of Soil Mechanics, By Arpad Kezdi. 4. Highway Enggineering Handbook, By Kenneth B Woods 5. Mempersiapkan Lapisan Dasar Konstruksi I & II, Oleh Imam Soekoto 6. Mekanika Tanah, L.D. Wesley Mekanika Tanah & Teknik Pondasi, Ir. Suyono sosrodarsono Kazuto Nakazawa Ir. Taulu dkk Pondasi Tiang Pancang, Ir. Sardjono HS Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah, Joseph E. Bowls/Johan K. Hainim Soil Mechanics, Foundation and Earth Structures, Tschebotarioff Teknik Fondasi I, Hary Christady Hardiyatmo Teknik Fondasi II, Hary Christady Hardiyatmo DP-1
MODUL STEBC 05 : GAMBAR KERJA
PELATIHAN STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION PEKERJAAN (AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL STEBC 05 : GAMBAR KERJA PEKERJAAN JEMBATAN 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI
MODUL STEBC 07 : PERMASALAHAN PELAKSANAAN JEMBATAN
PELATIHAN STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION PEKERJAAN (AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL STEBC 07 : PERMASALAHAN PELAKSANAAN JEMBATAN 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI
Pemasangan Jembatan Metode Perancah Pemasangan Jembatan Metode Perancah
Pemasangan Jembatan Metode Perancah Pemasangan Jembatan Metode Perancah Pekerjaan jembatan rangka baja terdiri dari pemasangan struktur jembatan rangka baja hasil rancangan patent, seperti jembatan rangka
3) Perbaikan Terhadap Komponen Jembatan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan
METODE PELAKSANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA UMUM 1) Uraian Pekerjaan ini jembatan rangka baja ini terdiri dari pemasangan struktur jembatan rangka baja hasil rancangan patent, seperti jembatan rangka (truss)
MODUL STEBC 06 : KEBUTUHAN SUMBER DAYA
PELATIHAN STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION PEKERJAAN (AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL STEBC 06 : KEBUTUHAN SUMBER DAYA 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER
(Ir. Hernu Suyoso, MT., M. Akir.) A. Komponen Jembatan. 1. Tipe Jembatan. a) Jembatan Pelat Beton Berongga. b) Jembatan Pelat. c) Jembatan Girder
1 PEKERJAAN JEMBATAN (Ir. Hernu Suyoso, MT., M. Akir.) A. Komponen Jembatan 1. Tipe Jembatan a) Jembatan Pelat Beton Berongga b) Jembatan Pelat c) Jembatan Girder d) Jembatan Beton Balok T e) Jembatan
BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS PASAL 1 LINGKUP PEKERJAAN
BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS PASAL 1 LINGKUP PEKERJAAN 1. Lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan meliputi : I. Perbaikan/Rehab dermaga TPI/PPI 2. Sarana bekerja dan tata cara pelaksanaan. a. Untuk kelancaran
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1. Pengamatan Pekerjaan Konstruksi Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari beberapa pekerjaan dasar. Yaitu pekerjaan pengukuran, pembesian,
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN BEKISTING, PEMBESIAN DAN PENGECORAN
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN BEKISTING, PEMBESIAN DAN PENGECORAN 5.1 Pekerjaan Bekisting 5.1.1 Umum Perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan bekisting harus memenuhi syarat PBI 1971 N 1-2 dan Recomended Practice
DIVISI 7 STRUKTUR SEKSI 7.1 BETON
DIVISI 7 STRUKTUR SEKSI 7.1 BETON 7.1.1 UMUM 1) Uraian a) Pekerjaan yang disyaratkan dalam Seksi ini harus mencakup pelaksanaan seluruh struktur beton, termasuk tulangan, struktur pracetak dan komposit,
BAB VII TATA LAKSANA LAPANGAN
7-1 BAB VII TATA LAKSANA LAPANGAN 7.1 Pekerjaan Persiapan Pada pelaksanaan pekerjaan pembangunan suatu proyek biasanya diawali dengan pekerjaan persiapan. Adapun pekerjaan persiapan tersebut itu meliputi
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pekerjaan Persiapan Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen terpenting dari suatu proyek pembangunan, karena kumpulan berbagai macam material itulah yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pondasi Dalam Pondasi dalam adalah pondasi yang dipakai pada bangunan di atas tanah yang lembek. Pondasi ini umumnya dipakai pada bangunan dengan bentangan yang cukup lebar, salah
Nama Pekerjaan : Pembangunan Abutmen Jembatan Air Jernih Gumpang Lempuh Perusahaan : CV. RABO PERKASA Lokasi : Gumpang Lempuh Tahun Anggaran : 2017
METODE PELAKSANAAN Nama Pekerjaan : Pembangunan Abutmen Jembatan Air Jernih Gumpang Lempuh Perusahaan : CV. RABO PERKASA Lokasi : Gumpang Lempuh Tahun Anggaran : 2017 1. PEKERJAAN UMUM Mobilisasi Cakupan
Metode pengujian kuat lentur kayu konstruksi Berukuran struktural
SNI 03-3975-1995 Standar Nasional Indonesia Metode pengujian kuat lentur kayu konstruksi Berukuran struktural ICS Badan Standardisasi Nasional DAFTAR ISI Daftar Isi... Halaman i BAB I DESKRIPSI... 1 1.1
SDA RPT0. Konsep. Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Volume I : Umum Bagian 6 : Pekerjaan Pemancangan
RPT0 RANCANGAN PEDOMAN TEKNIS BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Volume I : Umum Bagian 6 : Pekerjaan Pemancangan ICS 93.010 BIDANG SUMBER DAYA AIR
STANDAR LATIHAN KERJA
STANDAR LATIHAN (S L K) Bidang Ketrampilan Nama Jabatan : Pengawasan Jembatan : Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridges) Kode SKKNI : INA.5212. 322.04 DEPARTEMEN PEAN UMUM BADAN
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu diharapkan hasil dengan kualitas yang baik dan memuaskan, yaitu : 1. Memenuhi spesifikasi
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Uraian Umum Metoda pelaksanaan dalam sebuah proyek konstruksi adalah suatu bagian yang sangat penting dalam proyek konstruksi untuk mencapai hasil dan tujuan yang
METODE PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JEMBATAN PT.GUNUNG MURIA RESOURCES
METODE PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JEMBATAN I. RUANG LINGKUP PEKERJAAN PT.GUNUNG MURIA RESOURCES Pekerjaan Pembangunan Jembatan ini terdiri dari beberapa item pekerjaan diantaranya adalah : A. UMUM 1. Mobilisasi
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK 7.1 Pelaksanaan Pekerjaan Balok Balok adalah batang dengan empat persegi panjang yang dipasang secara horizontal. Hal hal yang perlu diketahui
BAB V METODE UMUM PELAKSAAN KONSTRUKSI. Untuk mengetahui metode pelaksanaan di lapangan, dibuatkan gambar shop
BAB V METODE UMUM PELAKSAAN KONSTRUKSI 5.1 Uraian Umum Pada Setiap proyek, metode pelaksanaan konstruksi merupakan salah satu proses pelaksanaan konstruksi yang harus direncanakan sebelumnya. Untuk mengetahui
MODUL SIB 10 : PEMELIHARAAN JALAN DARURAT DAN PEMELIHARAAN LALU LINTAS
PELATIHAN SITE INSPECTOR OF BRIDGE (INSPEKTUR PEKERJAAN LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL SIB 10 : PEMELIHARAAN JALAN DARURAT DAN PEMELIHARAAN LALU LINTAS 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pekerjaan Kolom Kolom merupakan bagian dari suatu struktur suatu bangunan. Fungsi Kolom itu sendiri sebagai penyangga stuktur pelat dan balok atau juga meneruskan beban
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI KOLOM DAN BALOK. perencanaan dalam bentuk gambar shop drawing. Gambar shop
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI KOLOM DAN BALOK 5.1 Uraian Umum Pada setiap proyek, metode pelaksanaan konstruksi merupakan salah satu proses pelaksanaan konstruksi yang harus direncanakan sebelumnya.
SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH
SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH Pelatihan Tukang Bekisting dan Perancah Nomor Modul SBW 04 Judul Modul KONSTRUKSI BEKISTING DAN PERANCAH DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI
PENANGANAN DAERAH ALIRAN SUNGAI. Kementerian Pekerjaan Umum
PENANGANAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Kementerian Pekerjaan Umum 1 KERUSAKAN 501 Pengendapan/Pendangkalan Pengendapan atau pendangkalan : Alur sungai menjadi sempit maka dapat mengakibatkan terjadinya afflux
BAB IV TINJAUAN KHUSUS
BAB IV TINJAUAN KHUSUS 4.1 Lingkup Tinjauan Khusus Tinjauan khusus pada laporan kerja praktek ini adalah metode pelaksanaan pekerjaan pondasi. Pada tinjauan ini, penulis memaparkan metode pelaksanaan pekerjaan
LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CEMENT TREATED BASE / CTB)
BAB V LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CEMENT TREATED BASE / CTB) 5.1. UMUM a. Lapis Pondasi Agregat Semen (Cement Treated Base / CTB) adalah Lapis Pondasi Agregat Kelas A atau Kelas B atau Kelas C yang diberi
PEKERJAAN PERAKITAN JEMBATAN RANGKA BAJA
PEKERJAAN PERAKITAN JEMBATAN RANGKA BAJA 1. Umum Secara umum metode perakitan jembatan rangka baja ada empat metode, yaitu metode perancah, metode semi kantilever dan metode kantilever serta metode sistem
BAB V METODE PELAKSANAAN. 5.1 Pekerjaan Pondasi Tiang Bor (Bored Pile) ke dalam tanah dengan cara mengebor tanah terlebihdahulu, lalu kemudian diisi
BAB V METODE PELAKSANAAN 5.1 Pekerjaan Pondasi Tiang Bor (Bored Pile) Pondasi tiang bor (bored pile) adalah pondasi tiang yang pemasangannya dilakukan dengan mengebor tanah pada awal pengerjaannya. Bored
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN 4.1 Material Perlu kita ketahui bahwa bahan bangunan atau material bangunan memegang peranan penting dalam suatu konstruksi bangunan ini menentukan kekuatan, keamanan, dan
Persyaratan agar Pondasi Sumuran dapat digunakan adalah sebagai berikut:
Pondasi Caisson atau Pondasi Sumuran Pondasi sumuran adalah suatu bentuk peralihan antara pondasi dangkal dan pondasi tiang dan digunakan apabila tanah dasar (tanah keras) terletak pada kedalaman yang
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI 5.1 Pekerjaan Kolom Kolom merupakan bagian dari struktur suatu bangunan. Fungsi kolom itu sendiri sebagai penyangga stuktur pelat dan balok atau juga meneruskan beban
BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN. perencana. Dengan kerjasama yang baik dapat menghasilkan suatu kerja yang efektif
BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Tinjauan Umum Dalam pelaksanaan pekerjaan diperlukan kerjasama yang baik dari semua pihak yang terkait, baik itu perencana, pemberi tugas, pengawas maupun pelaksana karena
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Salah satunya adalah Metode UJI MATERIAL GEDUNG melalui suatu pelatihan khusus.
Seorang Pelaksana Pekerjaan Gedung memiliki : keahlian dan ketrampilan sebagaimana diterapkan dalam SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Salah satunya adalah Metode UJI MATERIAL GEDUNG
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tinjauan Umum Variabel bebas yaitu variasi perbandingan agregat kasar, antara lain : Variasi I (1/1 : 1/2 : 2/3 = 3 : 1 : 2) Variasi II (1/1 : 1/2 : 2/3 = 5 : 1 : 3) Variasi
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. alat - alat tertentu sesuai kebutuhan untuk mendukung pembangunan tersebut.
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT 4.1 Peralatan Dalam melaksanakan proyek pembangunan maka pastilah digunakan alat - alat tertentu sesuai kebutuhan untuk mendukung pembangunan tersebut. Alat
TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN. tinggi dapat menghasilkan struktur yang memenuhi syarat kekuatan, ketahanan,
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT YANG 4.1. Tinjauan Bahan dan Material Bahan dan material bangunan merupakan elemen terpenting dari suatu proyek pembangunan, karena dari berbagai macam bahan dan
Spesifikasi Pipa Beton untuk Air Buangan, Saluran Peluapan dari Gorong-Gorong
Spesifikasi Pipa Beton untuk Air Buangan, Saluran Peluapan dari Gorong-Gorong SNI 03-6367-2000 1 Ruang lingkup Spesifikasi ini meliputi pipa beton tidak bertulang yang digunakan sebagai pembuangan air
Metode Pelaksanaan Pembangunan Jalan Lingkungan Datuk Taib Desa Leuhan < SEBELUMNYA BERIKUTNYA >
Metode Pelaksanaan Pembangunan Jalan Lingkungan Datuk Taib Desa Leuhan < SEBELUMNYA BERIKUTNYA > GSF-Aceh. Didalam Pelaksanaan Proyek, metode pelaksanaan sangat penting dilaksanakan, hal ini untuk mengetahui
TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI PERTEMUAN KE-6 BETON SEGAR
Ferdinand Fassa TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI PERTEMUAN KE-6 BETON SEGAR Outline Pertemuan 5 Pendahuluan Workabilitas Segregasi Bleeding Slump Test Compacting Factor Test Tugas Pendahuluan Beton segar atau
SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH
SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH Pelatihan Tukang Bekisting dan Perancah Nomor Modul SBW 07 Judul Modul TEKNIK PEMASANGAN DAN PEMBONGKARAN BEKISTING DAN PERANCAH DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS 5.1. Uraian Umum Pada sebuah pelaksanaan konstruksi, banyak sekali pihak-pihak yang berkaitan didalamnya. Karena semakin banyaknya pihak yang berkaitan, maka makin
TATA CARA PENGADUKAN PENGECORAN BETON BAB I DESKRIPSI
TATA CARA PENGADUKAN PENGECORAN BETON SNI 03-3976-1995 BAB I DESKRIPSI 1.1 Ruang Lingkup 1.1.1 Maksud Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai acuan dan pegangan
PONDASI TIANG BOR (BOR PILE)
PONDASI TIANG BOR (BOR PILE) Disusun Oleh : Ama Muttahizi Ahadan Auhan Hasan Fastajii Bulloh TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL POLITEKNIK NEGERI JAKARTA 2014 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat
BAB V METODE PELAKSANAAN STRUKTUR
BAB V METODE PELAKSANAAN STRUKTUR 5.1 URAIAN UMUM Tahap pelaksanaan pekerjaan merupakan tahap yang sangat menentukan berhasil tidaknya suatu proyek. Hal ini membutuhkan pengaturan serta pengawasan pekerjaan
RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT
KONSTRUKSI SARANG LABA LABA seri 3 RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT PELAKSANAAN KONSTRUKSI BANGUNAN BAWAH dengan sistim KONSTRUKSI SARANG LABA LABA seri 3 Proyek : Gedung
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pekerjaan Persiapan Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen terpenting dari suatu proyek pembangunan, karena kumpulan berbagai macam material itulah yang
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. sebuah lahan sementara di sebuah proyek bangunan lalu dipasang pada proyek
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH 7.1 Beton Precast Beton precast adalah suatu produk beton yang dicor pada sebuah pabrik atau sebuah lahan sementara di sebuah proyek bangunan lalu dipasang pada proyek bangunan
TINJAUAN PUSTAKA. menahan gaya angkat keatas. Pondasi tiang juga digunakan untuk mendukung
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Dasar Pondasi Tiang digunakan untuk mendukung bangunan yang lapisan tanah kuatnya terletak sangat dalam, dapat juga digunakan untuk mendukung bangunan yang menahan gaya angkat
ini, adalah proyek penggantian jembatan kereta api lama serta pembuatan 2 bentangan jembatan baru yang
BAB IV STUDI KASUS PENGGANTIAN JEMBATAN KERETA API BH _812 KM 161+601 DI BREBES IV.1. Deskripsi Proyek 4.1.1. Ganbaran Unun Proyek Proyek yang menjadi studi kasus dalam tugas akhir ini, adalah proyek penggantian
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen portland komposit
III. METODE PENELITIAN A. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen portland komposit merek Holcim, didapatkan dari toko bahan
JUDUL MODUL II: PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BETON DI LABORATORIUM MODUL II.a MENGUJI KELECAKAN BETON SEGAR (SLUMP) A. STANDAR KOMPETENSI: Membuat Adukan Beton Segar untuk Pengujian Laboratorium B. KOMPETENSI
PT. Cipta Ekapurna Engineering Consultant
PT. Cipta Ekapurna Engineering Consultant 3. Hasil Pengujian Lapangan Pengujian sondir merupakan salah satu pengujian penetrasi yang bertujuan untuk mengetahui daya dukung tanah pada setiap lapisan serta
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PEKERJAAN PELAT LANTAI UNTUK TOWER D DI PROYEK PURI MANSION APARTMENT. beton bertulang sebagai bahan utamanya.
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PEKERJAAN PELAT LANTAI UNTUK TOWER D DI PROYEK PURI MANSION APARTMENT 7.1 Uraian Umum Dalam konstruksi bangunan bertingkat seperti halnya pada Proyek Puri Mansion Apartment
II. PEKERJAAN PENDAHULUAN
METODE PELAKSANAAN I. PRA PEMBANGUNAN 1. Pemeriksaan gambar-gambar untuk pelaksanaan : Semua gambar-gambar yang disiapkan adalah gambar-gambar yang telah ditandatangani oleh Direksi dan apabila ada perubahan
METODE PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI BETON DI LAPANGAN BAB I DESKRIPSI
METODE PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI BETON DI LAPANGAN BAB I DESKRIPSI 1.1 Ruang Lingkup Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji di Lapangan ini mencakup : 1) Cara pembuatan dan perawatan benda uji
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Kolom merupakan suatu elemen struktur yang memikul beban Drop Panel dan
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pekerjaan Kolom Kolom merupakan suatu elemen struktur yang memikul beban Drop Panel dan Plat untuk di teruskan ke Pondasi. Tujuan penggunaan kolom yaitu : Gambar 5.1 : Pekerjaan
BAB IV ANALISA KONSTRUKSI PERKERASAN JALAN BETON. genangan air laut karena pasang dengan ketinggian sekitar 30 cm. Hal ini mungkin
BAB IV ANALISA KONSTRUKSI PERKERASAN JALAN BETON 4.1 Menentukan Kuat Dukung Perkerasan Lama Seperti yang telah disebutkan pada bab 1, di Jalan RE Martadinata sering terjadi genangan air laut karena pasang
Cara uji berat isi, volume produksi campuran dan kadar udara beton
Standar Nasional Indonesia Cara uji berat isi, volume produksi campuran dan kadar udara beton ICS 91.100.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii Pendahuluan... iii 1 Ruang
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT ALAT. Proyek Menara Sentraya dilakukan oleh PT. Pionir Beton Industri
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT ALAT 4.1 Bahan Bahan Yang Digunakan meliputi : Bahan-bahan yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi a. Beton Ready mix. Beton Ready mix adalah beton
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Umum Penelitian ini merupakan suatu studi kasus pekerjaan perbaikan struktur kantilever balok beton bertulang yang diakibatkan overloading/ beban yang berlebihan. Tujuan dari
BAB VI KONSTRUKSI KOLOM
BAB VI KONSTRUKSI KOLOM 6.1. KOLOM SEBAGAI BAHAN KONSTRUKSI Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang
PELATIHAN AHLI TEKNIK SUPERVISI PEKERJAAN JALAN (SUPERVISION ENGINEER OF ROADS CONSTRUCTION) MODUL MODUL SE 08 PERHITUNGAN HASIL PEKERJAAN
PELATIHAN AHLI TEKNIK SUPERVISI PEKERJAAN JALAN (SUPERVISION ENGINEER OF ROADS CONSTRUCTION) MODUL MODUL SE 08 PERHITUNGAN HASIL PEKERJAAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER
METODE PELAKSANAAN BENDUNGAN
METODE PELAKSANAAN BENDUNGAN 1. Saluran Bangunan Pelimpah (Spillway) dan peredam energi Gambar 1. Layout Spillway Pekerjaan pembangunan bangunan pelimpah (spillway) adalah sebagai berikut : Pekerjaan Tanah
KONSTRUKSI JALAN PAVING BLOCK
KONSTRUKSI JALAN PAVING BLOCK Pengertian Paving block atau blok beton terkunci menurut SII.0819-88 adalah suatuko mposisi bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis
Analisa & Pembahasan Proyek Pekerjaan Pelat Lantai
Analisa & Pembahasan Proyek Pekerjaan Pelat Lantai Soft cor ini dipasang sepanjang keliling area yang akan dicor, dengan kata lain pembatas area yang sudah siap di cor dengan area yang belum siap. 46 Pekerjaan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. TINJAUAN UMUM Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu variasi persentase limbah
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam melaksanakan suatu proyek konstruksi, diperlukan adanya suatu
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Uraian Umum Dalam melaksanakan suatu proyek konstruksi, diperlukan adanya suatu sistem manajemen yang baik. Berbagai metode dilakukan oleh pihak pelaksana dengan
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH METODE PELAKSANAAN SHEAR WALL DAN CORE WALL
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH METODE PELAKSANAAN SHEAR WALL DAN CORE WALL 7.1 Uraian Umum Shear Wall merupakan komponen dari pekerjaan struktur pada bangunan, biasanya terdapat pada bangunan tower atau gedung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Arus Lalu Lintas Ukuran dasar yang sering digunakan untuk definisi arus lalu lintas adalah konsentrasi aliran dan kecepatan. Aliran dan volume sering dianggap sama, meskipun
PENERAPAN SPESIFIKASI TEKNIK UNTUK PELAKSANAAN PERKERASAN JALAN BETON. Disampaikan dalam Pelatihan : Pelaksana Lapangan Perkerasan Jalan Beton
PENERAPAN SPESIFIKASI TEKNIK UNTUK PELAKSANAAN PERKERASAN JALAN BETON Disampaikan dalam Pelatihan : Pelaksana Lapangan Perkerasan Jalan Beton 4.1. PENGERTIAN UMUM 4.1.1. Pendahuluan Empat elemen kompetensi
BAB VII TINJAUAN KHUSUS CORE WALL
BAB VII TINJAUAN KHUSUS CORE WALL 7.1. Uraian Umum Core Wall merupakan sistem dinding pendukung linear yang cukup sesuai untuk bangunan tinggi yang kebutuhan fungsi dan utilitasnya tetap yang juga berfungsi
Cara uji kandungan udara dalam beton segar dengan metode tekan
Standar Nasional Indonesia ICS 93.010 Cara uji kandungan udara dalam beton segar dengan metode tekan Badan Standardisasi Nasional BSN 2011 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang menyalin atau menggandakan
BAB V PONDASI TELAPAK
BAB V PONDASI TELAPAK I. METODA KONSTRUKSI PONDASI SETEMPAT A. Urutan Kegiatan Pekerjaan Pondasi Setempat Metoda konstruksi untuk pekerjaan pondasi setempat yaitu: 1. Penggalian tanah pondasi 2. Penulangan
METODE PENGUJIAN KEPADATAN BERAT ISI TANAH DI LAPANGAN DENGAN BALON KARET
METODE PENGUJIAN KEPADATAN BERAT ISI TANAH DI LAPANGAN DENGAN BALON KARET SNI 19-6413-2000 1. Ruang Lingkup 1.1 Metode ini mencakup penentuan kepadatan dan berat isi tanah hasil pemadatan di lapangan atau
Cara uji slump beton SNI 1972:2008. Standar Nasional Indonesia
Standar Nasional Indonesia Cara uji slump beton ICS 91.100.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii Pendahuluan... iii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah
Cara uji kepadatan ringan untuk tanah
Standar Nasional Indonesia Cara uji kepadatan ringan untuk tanah ICS 93.020 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii Pendahuluan... iii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif...
material lokal kecuali semen dan baja tulangan. Pembuatan benda uji, pengujian
BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN 4.1 Tinjauan Umum Dalam pelaksanaan penelitian ini yang dilakukan adalah membuat benda uji balok dengan tiga variasi. Pembuatan adukan beton untuk benda uji direncanakan dengan
DIVISI 2 DRAINASE SEKSI 2.1 SELOKAN DAN SALURAN AIR
DIVISI 2 DRAINASE SEKSI 2.1 SELOKAN DAN SALURAN AIR 2.1.1 UMUM 1) Uraian a) Pekerjaan ini mencakup pembuatan selokan baru yang dilapisi (lined) maupun tidak (unlined) dan perataan kembali selokan lama
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN
Apartemen Casa de Parco BSD BabV Pelaksanaan Pekerjaan BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Uraian Umum Pada sebuah pelaksanaan konstruksi, banyak sekali pihak pihak yang berkaitan didalamnya. Karena semakin
Pengenalan Kolom. Struktur Beton II
Bahan Kuliah Ke-I Pengenalan Kolom Struktur Beton II Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh September 2008 Materi Kuliah Definisi Pembuatan Kolom Apa yang dimaksud dengan Kolom?
MODUL SIB 01 : KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
PELATIHAN SITE INSPECTOR OF BRIDGE (INSPEKTUR PEKERJAAN LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL SIB 01 : KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER
TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan
BAB III TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT 4.1 Tinjauan Umum Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan manajemen yang baik untuk menunjang kelancaran pengerjaannya. Pengadaan
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkerasan jalan beton semen atau secara umum disebut perkerasan kaku, terdiri atas plat (slab) beton semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah (bisa juga
DIVISI 4 PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN SEKSI 4.1 PELEBARAN PERKERASAN
DIVISI 4 PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN SEKSI 4.1 PELEBARAN PERKERASAN 4.1.1 UMUM 1) Uraian a) Pekerjaan ini harus mencakup penambahan lebar perkerasan lama sampai lebar jalur lalu lintas yang diperlukan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komponen Jembatan Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : 1. Struktur jembatan atas Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang memindahkan
DIVISI 2 DRAINASE SEKSI 2.1 SELOKAN DAN SALURAN AIR UMUM PERSYARATAN
2.1.1 UMUM DIVISI 2 DRAINASE SEKSI 2.1 SELOKAN DAN SALURAN AIR 1) Uraian a) Pekerjaan ini mencakup pembuatan selokan baru yang dilapisi (lined) maupun tidak dilapisi (unlined) dan perataan kembali selokan
BAB V METODE PELAKSANAAN STRUKTUR ATAS. dalam mencapai sasaran pelaksanaan proyek konstruksi. Dimana sasaran proyek
BAB V METODE PELAKSANAAN STRUKTUR ATAS BAB V METODE PELAKSANAAN STRUKTUR ATAS 5.1. Uraian Umum Metode pelaksanaan proyek konstruksi adalah bagian yang sangat penting dalam mencapai sasaran pelaksanaan
BAB VI BAHAN DAN PERALATAN
BAB VI BAHAN DAN PERALATAN 6.1 Jenis-jenis dan Mutu Bahan Yang Digunakan Mutu dari setiap bahan yang akan digunakan tidak boleh berkurang dan diharapkan dapat memenuhi target yang telah direncanakan. Adapun
PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION)
METODE PELAKSANAAN BANGUNAN PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION) Dosen Pengampu : Ibu Atika Ulfah Jamal S.T., M.Eng., M.T. Oleh: Fildzah Adhania J. Paransa / 13 511 178 / Kelas B JURUSAN TEKNK SIPIL FAKULTAS
dengan menggunakan metode ACI ( American Concrete Institute ) sebagai dasar
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN 3.1 Tinjauan Umum Dalam pelaksanaan penelitian ini yang dilakukam adalah membuat benda uji balok dengan tiga variasi. Pembebanan adukan beton untuk benda uji direncanakan
METODE PEKERJAAN BORE PILE
METODE PEKERJAAN BORE PILE Dalam melaksanakan pekerjaan bore pile hal-hal yang harus diperhatikan adalah : 1. Jenis tanah Jenis tanah sangat berpengaruh terhadap kecepatan dalam pengeboran. Jika tipe tanah
BAB V ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF JEMBATAN
BAB V ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF JEMBATAN Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan untuk membangun berbagai jenis konstruksi jembatan, yang pelaksanaannya menyesuaikan dengan kebutuhan kondisi setempat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menahan gaya beban diatasnya. Pondasi dibuat menjadi satu kesatuan dasar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Umum Pondasi adalah struktur bagian bawah bangunan yang berhubungan langsung dengan tanah dan suatu bagian dari konstruksi yang berfungsi menahan gaya beban diatasnya. Pondasi
1 PEKERJAAN PENDAHULUAN
SPESIFIKASI TEKNIS Pasal 1 PEKERJAAN PENDAHULUAN Lingkup Pekerjaan Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat- alat bantu lainnya untuk persiapan pelaksanaan pekerjaan agar pekerjaan konstruksi
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN 4.1 Peralatan Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi dibutuhkannya peralatan-peralatan yang dapat memudahkan para pekerja dalam melaksanakan tanggung jawabnya, peralatan-peralatan
Jenis dan Profile Pondasi Sumuran dengan dinding tanah (khusus untuk tanah yang kering). Pondasi sumuran dengan dinding anyaman bambu. Pondasi Sumuran
Jenis dan Profile Pondasi Sumuran dengan dinding tanah (khusus untuk tanah yang kering). Pondasi sumuran dengan dinding anyaman bambu. Pondasi Sumuran dengan dinding dari Buis Beton. Perhitungan Untuk
Pelaksanaan pekerjaan beton untuk jalan dan jembatan
Pelaksanaan pekerjaan beton untuk jalan dan jembatan Pd. T-07-2005-B 1 Ruang lingkup Pedoman ini merupakan acuan untuk pelaksanaan pekerjaan pembetonan jalan dan jembatan. Cakupan beton yang dimaksud dalam
