5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
|
|
|
- Yanti Hardja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dari hasil penelitian ini. Selanjutnya juga akan dipaparkan hasil diskusi dan saran Kesimpulan Berdasarkan analisis yang didapatkan, diperoleh kesimpulan bahwa ketiga subjek mengalami berbagai stres yang bersumber dari pengakuan anak mereka tentang orientasi seksualnya sebagai seorang gay, sikap dan penerimaan dari masyarakat, juga kekhawatiran akan masa depan anaknya. Berikut uraian masalah-masalah yang muncul, sumber stres, dan coping pada Eva, Renya dan Anya setelah coming out dilakukan oleh anak mereka : Secara umum dapat disimpulkan bahwa ibu yang memiliki anak gay dihadapkan pada beberapa kondisi dan situasi yang menjadi sumber stres. Sumber-sumber stres ini dirasakan Renya dan Anya muncul mulai dari pertama kali anak menyatakan secara langsung bahwa dirinya adalah seorang gay. Pada Eva sumber stres muncul tidak secara langsung dari coming out Edo kepada dirinya melainkan dari suaminya karena Edo coming out langsung pada ayah. Reaksi ketiga subjek terhadap stres umumnya berupa reaksi emosional seperti sedih, cemas, khawatir, dan terkejut. Selain reaksi emosional juga muncul reaksi-reaksi dalam bentuk tingkah laku seperti menangis, termenung, dan diam. Eva dan Anya lebih banyak menangis dan termenung memikirkan kondisi anaknya sedangkan Renya menampilkan perilaku diam pada Riko selama dua hingga tiga bulan dimana ia juga termenung dan memikirkan kondisi anaknya. Keluarga inti ketiga subjek telah menerima orientasi seksual dari anak. Pada keluarga Eva, mereka cenderung lebih terbuka, menerima dan mendukung Edo. Keluarga Anya menerima dan mendukung Riko karena mereka tidak ingin kehilangan lagi orang yang mereka sayangi. Dalam keluarga Renya, mereka sudah menerima Aldo akan tetapi Renya dan anak pertamanya masih belum siap untuk terbuka dengan masyarakat.
2 Sebagian besar tanggapan masyarakat terhadap homoseksualitas di Indonesia dirasakan oleh ketiga subjek sebagai tanggapan yang negatif. Eva, Renya dan Anya merasa bahwa masyarakat belum mendapatkan pengalaman sebagai seorang ibu yang memiliki anak gay dan menurut mereka kebanyakan masyarakat belum menerima gay di kehidupan sosial mereka. Ketiga subjek cenderung diam dan menjauh dari masyarakat yang berkomentar negatif tentang orientasi seksual anak mereka. Ketiga subjek berharap agar masyarakat dapat lebih memahami gay sehingga dapat menerima dan memperlakukan anak mereka dan juga diri mereka dengan lebih baik. Eva dan Anya berani terbuka dengan masyarakat apabila ditanyai tentang orientasi seksual anaknya, berbeda dengan Renya yang merasa belum siap untuk terbuka dengan masyarakat. Pada diri Renya, apabila ada anggota masyarakat yang bertanya tentang orientasi seksual anaknya, ia cenderung untuk menjawab iya dan setelah itu ia pun mengganti topik pembicaraan. Situasi yang sama misalnya tingkah laku anak yang menunjukkan sifat feminin, dapat dinilai berbeda oleh ketiga orang subjek, tergantung dampak dari situasi tersebut bagi diri mereka. Apabila subjek merasa terganggu atau situasi tersebut mengancam dirinya, mereka cenderung menilai situasi tersebut akan menimbulkan stres. Selain itu, sumber stres yang sama juga dihadapi secara berbeda. Hal ini tergantung dari penilaian mereka akan sumber atau kemampuan individu untuk mengatasi masalahnya. Dalam menghadapi situasi dan kondisi yang menimbulkan stres, ibu menampilkan perilaku-perilaku coping tertentu. Semua jenis perilaku coping, baik yang tergolong coping terpusat masalah (problem-focused coping) maupun coping terpusat emosi (emotion-focused coping) ditampilkan oleh ketiga subjek. Pada umumnya dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai homoseksual, kehidupan homoseksual, cara menghadapi, cara mengembalikan anak mereka menjadi heteroseksual, serta masalah praktis lainnya, ibu cenderung menampilkan
3 perilaku-perilaku coping yang terpusat masalah (problem-focused coping), seperti active coping, planning, suppression of competing activities, restrain coping, dan seeking social support for instrumental reasons. Hal ini sejalan dengan yang diajukan oleh Lazarus dan Folkman (dalam Auerbach 1998) bahwa individu melakukan suatu tindakan yang diarahkan kepada pemecahan masalah atau setidaknya dengan mengubah situasi yang dihadapi. Dalam menghadapi emosi-emosi negatif yang muncul sehubungan memiliki anak yang gay, ibu cenderung menampilkan perilaku-perilaku coping terpusat emosi (emotion-focused coping), seperti seeking social support for emotional reasons, positive reinterpretation and growth, denial ketika mereka mengetahui gejala fisik pada anak dan juga saat anak coming out pada mereka. Seiring berlalunya waktu para subjek banyak berdoa (turning to religion) dan pada akhirnya subjek dapat menerima (acceptance) orientasi seksual anaknya. Perilaku coping yang tampil berupa suatu bentuk perilaku nyata seperti mengadukan perasaan-perasaan kurang menyenangkan, dan juga dalam bentuk strategi kognitif berupa meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan, seperti tidak percaya pada coming out anak, menolak sikap anak yang feminin karena merasa anak masih dalam tahap perkembangannya. Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Sheridan & Radmacher, 1992), perilaku coping ini seringkali ditampilkan bila individu merasa tidak mampu mengubah situasi stres yang dihadapinya Diskusi Ketiga subjek, Eva memiliki latar belakang pendidikan sarjana, Renya merupakan lulusan akademi sedangkan Anya SLTA. Eva dan Renya cukup menonjol karena mereka lebih banyak menampilkan perilaku coping yang aktif dibandingkan dengan subjek yang Anya. Dalam menghadapi kurangnya pengetahuan tentang homoseksual, Anya lebih mengandalkan untuk mendapatkan pengetahuan tersebut dengan cara bertanya kepada sumber dukungan. Pada Eva dan Renya, selain dengan cara bertanya, mereka juga aktif mencari informasi
4 tersebut melalui sumber-sumber lain seperti majalah, koran, dan juga buku-buku yang berkaitan tentang homoseksual. Hal ini tampaknya sejalan dengan pendapat De Ridder, Maes, dan Leventhal (1996) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan turut mempengaruhi pemilihan perilaku coping. Dapat dilakukan penelitian selanjutnya mengenai tingkat pendidikan yang dapat mempengaruhi pemilihan perilaku coping yang ditampilkan oleh subjek. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa Edo, lebih memilih untuk coming out secara langsung pada ayahnya dibandingkan pada Eva dan hingga saat ini Edo belum coming out secara langsung pada Eva. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Mays, Chatters, Cochran dan Mackness (dalam Papalia, 2001) bahwa biasanya proses membuka diri terhadap keluarga terbatas pada ibu dan saudara perempuan, sehingga dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai alasan Edo memilih untuk coming out pada ayahnya. Eva dan Anya terlibat secara aktif dalam mengasuh anaknya dari kecil hingga dewasa sehingga mereka mengetahui dengan jelas perkembangan anaknya, sementara Renya tidak terlibat secara aktif dengan perkembangan anaknya karena ia mengasuh Riko saat remaja. Perbedaan ini bersumber dari status pernikahan subjek, dimana Eva dan Anya masih menikah dan tinggal bersama anaknya sejak kecil, sedangkan Renya telah bercerai dan Riko diasuh hingga remaja oleh mantan suaminya. Kedekatan ini pun memperlihatkan bahwa hubungan antara ibu dan anak mempengaruhi penilaian subjek pada sumber stres dan coping terhadap orientasi seksual anak mereka. Dalam penelitian ini ketiga orang subjek merasa kasihan melihat kondisi anaknya yang penuh tekanan dari masyarakat luar dan tidak menceritakan kesulitan dan juga tekanan yang mereka alami kepada keluarga. Pada Anya, ia pun merasa kasihan pada Aldo karena menggunakan narkoba ketika tidak dapat kembali dalam kondisi heteroseksual. Rasa kasihan tersebut membuat ketiga orang subjek berusaha untuk menerima orientasi seksual anak mereka dan mencoba mendukung anak, akan tetapi ketiga subjek ini masih berharap agar anaknya menjadi heteroseksual. Selain merasa stres karena orientasi seksual anak mereka, ketiga subjek juga merasa bahagia setelah menerima kondisi anak mereka karena hubungan
5 mereka bertambah dekat, sang anak menceritakan tentang kegiatan dan kehidupannya, bercanda dengan anaknya, anaknya juga menjadi lebih terbuka dan lebih dekat dengan anggota keluarga yang lain. Kemungkinan hal ini juga dipengaruhi oleh budaya di Indonesia dimana kedekatan keluarga hubungan yang paling erat dan cukup kuat. Proses penerimaan (acceptance) subjek pada anaknya berbeda-beda. Eva menerima orientasi seksual anaknya karena merasa hal tersebut merupakan cobaan dari Tuhan dan ia pasti sanggup untuk menghadapinya dan juga ia merasa bahwa anaknya membutuhkan teman untuk membicarakan kondisi dirinya. Renya merasa orientasi seksual Riko sudah terjadi dan ia tidak dapat mengubah apa yang sudah diputuskan oleh Riko sehingga ia menerima orientasi seksual Riko. Pada Anya, ia menerima karena tidak ingin Aldo kembali menggunakan narkoba dan juga agar tidak kehilangan anggota keluarga yang ia sayangi seperti ia kehilangan almarhum suaminya dulu. Hal yang juga ditemukan dari penelitian ini adalah ketiga subjek terkesan seolah menerima orientasi seksual anak mereka sebagai seorang gay, walaupun demikian masalah penerimaan (acceptance) para ibu dapat diteliti dengan lebih mendalam lagi sehingga dapat terlihat gambaran perbedaan taraf acceptance mereka terhadap orientasi seksual anaknya. Saat wawancara berlangsung Eva dan Renya tidak menyebutkan kata gay yang berhubungan dengan orientasi seksual anaknya. Mereka menggantikan kata gay tersebut dengan kata kayak gini, kondisi ini, dan sebagainya. Apakah hal ini merupakan denial subjek atau merupakan defense mechanism yang dilakukan oleh subjek. Hal ini menarik diteliti lebih lanjut untuk mendapatkan alasan yang sebenarnya dari penggantian kata gay tersebut. Menurut McCrae dan Costa serta Parkes (dalam Terry, 1994), karakteristik-karakteristik kepribadian individu merupakan faktor yang turut menentukan respon perilaku coping yang muncul. Karena keterbatasan waktu dan sumber daya, pada penelitian ini tidak dilakukan pemeriksaan mengenai karakteristik kepribadian masing-masing subjek, sehingga tidak dapat dilihat apakah hasil penelitian ketiga ahli di atas juga dijumpai oleh peneliti. Hal ini merupakan kelemahan dalam penelitian ini.
6 Bila dilihat secara keseluruhan, penelitian ini juga menunjukkan bahwa dukungan sosial yang didapatkan para subjek turut mempengaruhi munculnya perilaku coping yang dipilih subjek. Para subjek menyadari bahwa pengetahuan mengenai homoseksualitas, khususnya mengenai gay akan membantu para subjek untuk mengerti orientasi seksual anaknya. Ketika para subjek mendapatkan dukungan informasi mengenai hal ini, mereka akhirnya menerapkan hal tersebut dalam proses menerima anaknya. Dukungan informasi memiliki pengaruh yang besar terhadap munculnya perilaku coping terpusat masalah, sedangkan dukungan emosi memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku coping terpusat emosi. Dari wawancara subjek penelitian ini juga didapatkan adanya orang-orang yang cukup dekat dengan subjek (significant others). Pengambilan data dari significant others tampaknya merupakan hal yang juga penting untuk melihat gambaran dukungan sosial yang diterima sebagai hal yang ikut mempengaruhi terpilihnya strategi coping yang dilakukan. Peneliti merasa wawancara dengan anak gay merupakan hal yang cukup penting untuk melihat bagaimana sang anak melakukan coming out pada ibunya, perasaannya saat belum memberitahu dan setelah memberitahu, serta tentang kehidupan mereka setelah coming out pada ibu Saran Penelitian ini masih mengandung banyak kelemahan sehingga diharapkan dapat menjadi masukan untuk penelitian selanjutnya. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain: Penelitian selanjutnya dapat melengkapi penelitian dengan berbagai sumber data, misalnya anak subjek yang gay dan telah coming out, keluarga inti subjek dan teman dekat subjek sehingga dapat menangkap gambaran yang lebih kaya dan lengkap. Penjalinan rapport di tahap persiapan penelitian lebih baik dilakukan dalam waktu yang cukup dan menggunakan berbagai pendekatan yang tepat untuk membangun hubungan sehingga dapat memberikan rasa aman bagi subjek. Seperti misalnya empati, active listening, dan teknikteknik lain, mengingat adanya kemungkinan pengungkapan pengalaman
7 buruk dari subjek yang juga mungkin merupakan hal yang sensitif bagi subjek. Padahal informasi tersebut merupakan data yang penting untuk kelengkapan informasi penelitian, sehingga dengan rapport yang sangat baik diharapkan dapat mengurangi keengganan subjek untuk bercerita dengan bebas. Untuk hal yang sensitif seperti penelitian ini, peneliti menyarankan agar pembinaan rapport tidak hanya dengan subjek saja, tetapi juga dengan keluarga (terutama anak gay yang dimiliki subjek) agar wawancara dapat berjalan lancar. Sebaiknya dilakukan wawancara terhadap significant others dari para subjek, hal ini bertujuan agar informasi yang didapatkan lebih kaya, sekaligus untuk memeriksa ulang informasi yang diberikan subjek. Terkait dengan jarangnya penelitian mengenai keluarga dari seorang gay yang sudah coming out terlebih pada orangtua maka peneliti menyarankan penelitian selanjutnya untuk meneliti kehidupan orangtua dan anaknya yang gay setelah proses coping sukses dilakukan.
BAB 1 PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia.
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkawinan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Setiap individu memiliki harapan untuk bahagia dalam kehidupan perkawinannya. Karena tujuan perkawinan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Coping Stress pada Perempuan Berstatus Cerai dengan memiliki Anak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Coping Stress pada Perempuan Berstatus Cerai dengan memiliki Anak 1. Pengertian Coping Stress Coping adalah usaha dari individu untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dari lingkungannya
BAB V PENUTUP. menjadi tidak teratur atau terasa lebih menyakitkan. kebutuhan untuk menjadi orang tua dan menolak gaya hidup childfree dan juga
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya seluruh subjek mengalami stres. Reaksi stres yang muncul pada subjek penelitian antara lain berupa reaksi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Strategi Coping. ataupun mengatasi Sarafino (Muta adin, 2002). Perilaku coping merupakan suatu
12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Strategi Coping 1. Pengertian Strategi Coping Coping berasal dari kata cope yang dapat diartikan menghadang, melawan ataupun mengatasi Sarafino (Muta adin, 2002). Perilaku
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. langgeng hingga akhir hayat mereka. Namun, dalam kenyataannya harapan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Setiap pasangan menikah pasti menginginkan agar perkawinannya langgeng hingga akhir hayat mereka. Namun, dalam kenyataannya harapan akan kelanggengan perkawinan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Metode penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek alamiah di mana peneliti
5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
105 5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan ketiga subjek penelitian telah mencapai tahap tertinggi dari lima
Kesehatan Mental. Mengatasi Stress / Coping Stress. Aulia Kirana, M.Psi, Psikolog. Modul ke: Fakultas Psikologi. Program Studi Psikologi
Modul ke: Kesehatan Mental Mengatasi Stress / Coping Stress Fakultas Psikologi Aulia Kirana, M.Psi, Psikolog. Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Coping Stress Coping Proses untuk menata tuntutan
BAB I PENDAHULUAN. Keluarga yang bahagia dan harmonis merupakan dambaan dari setiap
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga yang bahagia dan harmonis merupakan dambaan dari setiap pasangan. Saling setia dan tidak terpisahkan merupakan salah satu syarat agar tercipta keluarga
BAB I PENDAHULUAN. dengan harapan. Masalah tersebut dapat berupa hambatan dari luar individu maupun
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Individu memiliki berbagai macam masalah didalam hidupnya, masalah dalam diri individu hadir bila apa yang telah manusia usahakan jauh atau tidak sesuai dengan
PSIKOLOGI UMUM 2. Stress & Coping Stress
PSIKOLOGI UMUM 2 Stress & Coping Stress Pengertian Stress, Stressor & Coping Stress Istilah stress diperkenalkan oleh Selye pada tahun 1930 dalam bidang psikologi dan kedokteran. Ia mendefinisikan stress
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Stress Stres merupakan akibat dari interaksi (timbal-balik) antara rangsangan lingkungan dan respons individu. Stres seringkali dianggap sebagai sesuatu yang berkonotasi negatif.
STRATEGI COPING UNTUK MEMPERTAHANKAN PERKAWINAN PADA WANITA YANG SUAMINYA MENGALAMI DISFUNGSI SEKSUAL
STRATEGI COPING UNTUK MEMPERTAHANKAN PERKAWINAN PADA WANITA YANG SUAMINYA MENGALAMI DISFUNGSI SEKSUAL TESIS Diajukan Kepada Program Studi Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk
BAB I PENDAHULUAN. Sebagai manusia yang telah mencapai usia dewasa, individu akan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagai manusia yang telah mencapai usia dewasa, individu akan mengalami masa transisi peran sosial, individu dewasa awal akan menindaklanjuti hubungan dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Coping Stress. mengurangi distres. Menurut J.P.Chaplin (Badru, 2010) yaitu tingkah laku
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Coping Stress 1. Definisi Coping Stress Lazarus dan Folkman (Sugianto, 2012) yang mengartikan coping stress sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang ketika dihadapkan
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara usia 12 sampai 21 tahun dan terbagi menjadi masa remaja
134 Perpustakaan Unika LAMPIRAN
LAMPIRAN 134 135 LAMPIRAN A OBSERVASI DAN WAWANCARA 136 PEDOMAN OBSERVASI i. Kesan Umum : Kondisi Fisik dan Penampilan Subyek ii. Perilaku yang cenderung ditampilkan iii. Kegiatan Sehari-hari iv. Lingkungan
COPING REMAJA AKHIR TERHADAP PERILAKU SELINGKUH AYAH
COPING REMAJA AKHIR TERHADAP PERILAKU SELINGKUH AYAH SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S 1 Psikologi Diajukan oleh : Alfan Nahareko F 100 030 255 FAKULTAS PSIKOLOGI
BAB V HASIL PENELITIAN
BAB V HASIL PENELITIAN A. Rangkuman Hasil Penelitian Ketiga subjek merupakan pasangan yang menikah remaja. Subjek 1 menikah pada usia 19 tahun dan 18 tahun. Subjek 2 dan 3 menikah di usia 21 tahun dan
BAB I PENDAHULUAN. mencapai kebahagiaan seperti misalnya dalam keluarga tersebut terjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga bahagia merupakan dambaan bagi semua keluarga. Untuk menjadi keluarga bahagia salah satu syaratnya adalah keharmonisan keluarga. Keharmonisan keluarga
1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Gambaran Stres..., Muhamad Arista Akbar, FPSI UI, 2008
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan berumah tangga, setiap keluarga tentunya akan mendambakan kehadiran seorang anak sebagai pelengkap kebahagiaan kehidupan pernikahan mereka. Setiap pasangan
BAB 5 SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
BAB 5 SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 5.1 Simpulan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara anxiety dalam menghadapi respon dari orang terdekat dengan masing-masing dimensi pada psychological
BAB I PENDAHULUAN. A. Konteks Penelitian (Latar Belakang Masalah) Perkawinan merupakan salah satu titik permulaan dari misteri
1 BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian (Latar Belakang Masalah) Perkawinan merupakan salah satu titik permulaan dari misteri kehidupan. Komitmen laki-laki dan perempuan untuk menjalani sebagian kecil
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Subjek berasal dari keluarga tidak harmonis, sejak kecil subjek berada dalam
119 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1.1 Interaksi Dengan Anggota Keluarga
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 5. 1 Kesimpulan 5. 1. 1 Kesimpulan Utama Dari hasil pengolahan data utama dan analisisnya, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Tidak terdapat hubungan yang signifikan
BAB V PEMBAHASAN. A. Kecemasan pada Mahasiswa Kedokteran saat Menghadapi OSCE
BAB V PEMBAHASAN A. Kecemasan pada Mahasiswa Kedokteran saat Menghadapi OSCE 1. Persepsi OSCE menurut Mahasiswa Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan mendefinisikan OSCE sebagai ujian praktik untuk
BAB II KAJIAN TEORI. Mahasiswa adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan
BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Pengertian Mahasiswa Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan
BAB I PENDAHULUAN. Remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia
BAB I PENDAHULUAN. Terdapat beberapa karakteristik anak autis, yaitu selektif berlebihan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak adalah dambaan dalam setiap keluarga dan setiap orang tua pasti memiliki keinginan untuk mempunyai anak yang sempurna, tanpa cacat. Bagi ibu yang sedang
PEDOMAN OBSERVASI. Observasi penelitian ini mengungkap : a. Kesan umum : kondisi fisik, penampilan dan perilaku subyek
112 113 PEDOMAN OBSERVASI Observasi penelitian ini mengungkap : a. Kesan umum : kondisi fisik, penampilan dan perilaku subyek b. Perilaku pengobatan penyakit subyek : melakukan diet, obat oral atau terapi
BAB I PENDAHULUAN. harus dilakukan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Salah satu tugas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Selama masa hidupnya, individu mempunyai tugas-tugas perkembangan yang harus dilakukan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Salah satu tugas perkembangan yang
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan yaitu : 5.1.1. Indikator Identitas Diri Menurut subjek SN dan GD memiliki
(Elisabeth Riahta Santhany) ( )
292 LAMPIRAN 1 LEMBAR PEMBERITAHUAN AWAL FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL JAKARTA Saya mengucapkan terima kasih atas waktu yang telah saudara luangkan untuk berpartisipasi dalam penelitian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kekuatan seseorang dalam menghadapi kehidupan di dunia ini berawal dari keluarga. Keluarga merupakan masyarakat terkecil yang sangat penting dalam membentuk
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai Dinamika Personal Growth periode anak anak dewasa muda pada individu yang mengalami masa perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dipandang mampu menjadi jembatan menuju kemajuan, dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan dipandang mampu menjadi jembatan menuju kemajuan, dan setiap anak di dunia ini berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tidak hanya anak normal saja
STRATEGI KOPING PADA LANSIA YANG DITINGGAL MATI PASANGAN HIDUPNYA NASKAH PUBLIKASI
STRATEGI KOPING PADA LANSIA YANG DITINGGAL MATI PASANGAN HIDUPNYA NASKAH PUBLIKASI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai
BAB I PENDAHULUAN. orang disepanjang hidup mereka pasti mempunyai tujuan untuk. harmonis mengarah pada kesatuan yang stabil (Hall, Lindzey dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia pasti mempunyai harapan-harapan dalam hidupnya dan terlebih pada pasangan suami istri yang normal, mereka mempunyai harapan agar kehidupan mereka
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan unit sosial terkecil di dalam lingkungan masyarakat. Bagi anak, keluarga merupakan tempat pertama mereka untuk berinteraksi. Keluarga yang
COPING STRESS PADA WANITA KARIER YANG BERKELUARGA
COPING STRESS PADA WANITA KARIER YANG BERKELUARGA Juli Andriyani Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh ABSTRAK Keluarga dan pekerjaan yang harus diurus oleh seorang wanita banyak menimbulkan
Gambaran konsep pacaran, Nindyastuti Erika Pratiwi, FPsi UI, Pendahuluan
1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang melibatkan berbagai perubahan, baik dalam hal fisik, kognitif, psikologis, spiritual,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. merasa senang, lebih bebas, lebih terbuka dalam menanyakan sesuatu jika berkomunikasi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peran dan fungsi ibu dalam kehidupan seorang anak sangat besar. Anak akan lebih merasa senang, lebih bebas, lebih terbuka dalam menanyakan sesuatu jika berkomunikasi
BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran di tingkat perguruan tinggi, baik di universitas, institut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mahasiswa merupakan orang yang sedang dalam proses pembelajaran di tingkat perguruan tinggi, baik di universitas, institut maupun akademi. Mahasiswa adalah generasi
BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan
26 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan menggambarkan secara sistematis dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan seseorang memasuki masa dewasa. Masa ini merupakan, masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Problem Focused Coping. fisik, psikis dan sosial. Namun sayangnya, kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak
13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Problem Focused Coping Pada umumnya setiap individu memiliki banyak kebutuhan yang ingin selalu dipenuhi dalam kehidupannya. Kebutuhan tersebut dapat berupa kebutuhan fisik,
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah Komunikasi adalah sebuah kebutuhan naluriah yang ada pada semua makhluk hidup. Tak hanya manusia, binatang juga melakukan proses komunikasi diantara sesamanya, dengan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan mengenai kesejahteraan subjektif pria dengan orientasi seksual sejenis, didapatkan kesimpulan
BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan adalah suatu bentuk organisasi yang didirikan untuk
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Perusahaan adalah suatu bentuk organisasi yang didirikan untuk memproduksi barang atau jasa, serta mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan
LAMPIRAN I GUIDANCE INTERVIEW Pertanyaan-pertanyaan : I. Latar Belakang Subjek a. Latar Belakang Keluarga 1. Bagaimana anda menggambarkan sosok ayah
LAMPIRAN I GUIDANCE INTERVIEW Pertanyaan-pertanyaan : I. Latar Belakang Subjek a. Latar Belakang Keluarga 1. Bagaimana anda menggambarkan sosok ayah bagi diri anda sendiri? 2. Bagaimana anda menggambarkan
BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Perkembangan sosial masa dewasa awal (young adulthood) adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah
BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit merupakan suatu lembaga yang memberikan pelayanan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Rumah sakit merupakan suatu lembaga yang memberikan pelayanan kesehatan dengan usaha menyeluruh, yaitu usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
SM, 2015 PROFIL PENERIMAAN DIRI PADA REMAJA YANG TINGGAL DENGAN ORANG TUA TUNGGAL BESERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA
1 BAB I PENDAHULUAN 1.2 Latar Belakang Masalah Pada tahun 1980-an di Amerika setidaknya 50 persen individu yang lahir menghabiskan sebagian masa remajanya pada keluarga dengan orangtua tunggal dengan pengaruh
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Alasan Pemilihan Teori Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being menurut Diener (2005). Teori yang dipilih akan digunakan untuk meneliti gambaran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Problem Focused Coping. untuk mengendalikan seperti halnya untuk menguasai, menerima, mengurangi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Problem Focused Coping 1. Pengertian Coping Coping adalah suatu usaha yang beriorentasi pada tindakan intrapsikis, untuk mengendalikan seperti halnya untuk menguasai, menerima,
Bab 5 PENUTUP. 1. Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya kebencian Hd. a. Ayah Hd melakukan poligami. contoh yang baik bagi anaknya.
78 Bab 5 PENUTUP A. Kesimpulan 1. Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya kebencian Hd terhadap ayahnya adalah: a. Ayah Hd melakukan poligami. b. Ayahnya kurang perhatian dikala istrinya (ibu Hd
PENDAHULUAN. sebagai subjek yang menuntut ilmu di perguruan tinggi dituntut untuk mampu
PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Peraturan Republik Indonesia No. 30 tahun 1990 mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Mahasiswa sebagai subjek yang menuntut
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penurunan kondisi fisik, mereka juga harus menghadapi masalah psikologis.
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia merupakan suatu proses berkelanjutan dalam kehidupan yang ditandai dengan berbagai perubahan ke arah penurunan. Problematika yang harus dihadapi
Pengaruh Perceraian Pada Anak SERI BACAAN ORANG TUA
35 SERI BACAAN ORANG TUA Pengaruh Perceraian Pada Anak Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Kanker Dharmais ini berlangsung
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1 Profil Subjek Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Kanker Dharmais ini berlangsung mulai tanggal 4 Januari sampai dengan 16 Januari 2011. Profil subjek pada penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dengan individu dan sudah pasti tidak dapat dipisahkan. Secara umum, keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah tahap yang penting bagi hampir semua orang yang memasuki masa dewasa awal. Individu yang memasuki masa dewasa awal memfokuskan relasi interpersonal
PENDAHULUAN. seperti ayah, ibu, dan anak. Keluarga juga merupakan lingkungan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keluarga terdiri dari beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah seperti ayah, ibu, dan anak. Keluarga juga merupakan lingkungan yang menyenangkan dan nyaman
BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia adalah sebuah negara berkembang yang terbebas dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Negara Indonesia adalah sebuah negara berkembang yang terbebas dari penjajahan. Walaupun terbebas dari penjajahan, seluruh warga negara Indonesia harus tetap
BAB I PENDAHULUAN. awal yaitu berkisar antara tahun. Santrock (2005) (dalam
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Usia sekolah menengah pertama pada umumnya berada pada usia remaja awal yaitu berkisar antara 12-15 tahun. Santrock (2005) (dalam http:// renika.bolgspot.com/perkembangan-remaja.html,
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terhadap orang lain, khususnya terhadap lawan jenis. Perasaan saling mencintai,
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Cinta adalah sebuah perasaan natural yang dirasakan oleh seseorang terhadap orang lain, khususnya terhadap lawan jenis. Perasaan saling mencintai, saling memiliki,
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai gambaran diri (body image) dan dukungan sosial pada tiga orang wanita yang mengalami penyakit kanker payudara yang telah
BAB I PENDAHULUAN. kalanya masalah tersebut berbuntut pada stress. Dalam kamus psikologi (Chaplin,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan zaman dan teknologi pada saat ini yang begitu pesat membuat banyak masalah kompleks yang terjadi dalam kehidupan manusia. Ada kalanya masalah tersebut
BAB I PENDAHULUAN. 2001). Untuk selanjutnya kaum homoseksual yang berjenis kelamin pria dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Homoseksual adalah orang yang konsisten tertarik secara seksual, romantik, dan afektif terhadap orang yang memiliki jenis kelamin sama dengan mereka (Papalia,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Memiliki keluarga yang utuh dan harmonis merupakan dambaan setiap
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memiliki keluarga yang utuh dan harmonis merupakan dambaan setiap pasangan suami istri, akan tetapi untuk mewujudkannya bukanlah hal yang mudah. Untuk membangun keluarga
KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN
KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN oleh Rosita E.K., M.Si Konsep dasar dari konseling adalah mengerti
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
55 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Melalui pendekatan ini peneliti dapat memperoleh data yang rinci
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep koping 1.1. Pengertian mekanisme koping Koping adalah upaya yang dilakukan oleh individu untuk mengatasi situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan, ancaman, luka, dan
BAB I PENDAHULUAN. yang sehat, pintar, dan dapat berkembang seperti anak pada umumnya. Namun, tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak merupakan bagian dari keluarga, dimana sebagian besar kelahiran disambut bahagia oleh anggota keluarganya, setiap orang tua mengharapkan anak yang sehat,
KECEMASAN PADA WANITA YANG HENDAK MENIKAH KEMBALI
KECEMASAN PADA WANITA YANG HENDAK MENIKAH KEMBALI Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan Oleh : WIDYA YULI SANTININGTYAS F100.050.270 FAKULTAS PSIKOLOGI
BAB I PENDAHULUAN. Ibu memiliki lebih banyak peranan dan kesempatan dalam. mengembangkan anak-anaknya, karena lebih banyak waktu yang digunakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ibu memiliki lebih banyak peranan dan kesempatan dalam mengembangkan anak-anaknya, karena lebih banyak waktu yang digunakan bersama anak-anaknya dari pada ayah.
HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DENGAN STRATEGI COPING PADA PENDERITA HIPERTENSI DI RSUD BANJARNEGARA
HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DENGAN STRATEGI COPING PADA PENDERITA HIPERTENSI DI RSUD BANJARNEGARA Sugianto 1, Dinarsari Eka Dewi 2 1 Alumni Program Studi Psikologi,Univ Muhammadiyah Purwokerto 2 Program
BAB I PENDAHULUAN. salah satu tanda dari kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Yang berlandaskan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Allah telah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, dan pula menciptakan manusia lengkap dengan pasangan hidupnya yang dapat saling memberikan kebahagiaan.
BAB I PENDAHULUAN. dalam tahap perkembangannya akan mengalami masa berhentinya haid yang dibagi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sudah menjadi kodrat alam bahwa dengan bertambahnya usia, setiap wanita dalam tahap perkembangannya akan mengalami masa berhentinya haid yang dibagi dalam beberapa fase,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keluarga menurut Lestari (2012) memiliki banyak fungsi, seperti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga menurut Lestari (2012) memiliki banyak fungsi, seperti melahirkan anak, merawat anak, menyelesaikan suatu permasalahan, dan saling peduli antar anggotanya.
BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya. Kehidupan menjadi lebih bermakna dan berarti dengan kehadiran
BAB II LANDASAN TEORI. Lazarus menyebut pengatasan masalah dengan istilah coping. Menurut
12 BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Pengatasan Masalah Lazarus menyebut pengatasan masalah dengan istilah coping. Menurut Lazarus dan Folkman (1984) pengatasan masalah merupakan suatu proses usaha individu
