BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Ratna Tanudjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Habitat Kupu-kupu Komponen Fisik Habitat Berdasarkan pengukuran suhu di lapangan, diperoleh hasil tingkat suhu dan kelembaban relatif rata-rata di masing-masing tipe habitat yaitu seperti tersaji pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil pengukuran suhu dan kelembaban relatif rata-rata di masingmasing tipe habitat No. Tipe Habitat WIB WIB WIB WIB T ( C) R (%) T ( C) R (%) T ( C) R (%) T ( C) R (%) 1. HDR HRW HRWG HK PS HPT CA CP Keterangan : HDR (Hutan Dataran Rendah), HK (Hutan Kerangas), HRW (Hutan Rawa), HRWG (Hutan Rawa Gambut), PS (Padang-Semak), CA (Camp Ambung), CP (Camp Persemaian), HPT (Hutan Pasca Terbakar), T (Suhu), R (Kelembaban relatif). Berdasarkan hasil yang diperoleh terlihat hubungan antara kondisi suhu lingkungan dan kelembaban relatif yang memiliki nilai berbanding terbalik dengan kelembaban relatif yang semakin rendah seiring dengan peningkatan suhu. Tipe habitat dengan tingkat suhu tertinggi dan tingkat kelembaban relatif yang rendah yaitu habitat padang-semak yang memiliki tingkat suhu tertinggi pada siang hari sebesar 35,13 C dan kelembaban relatif 57,63%. Tipe habitat lainnya yang juga memiliki tingkat suhu tinggi dan kelembaban relatif yang rendah yaitu habitat hutan pasca terbakar dan hutan kerangas. Habitat hutan pasca terbakar memiliki tingkat suhu tertinggi pada siang hari mencapai suhu 34,75 C dan kelembaban relatif 60%, sedangkan habitat hutan kerangas memiliki tingkat suhu tertinggi pada siang hari mencapai suhu 31,25 C dan kelembaban relatif 70%. Tipe habitat hutan dataran rendah, hutan rawa, dan hutan rawa gambut merupakan
2 26 tipe habitat yang memiliki tingkat suhu yang rendah dan kelembaban relatif yang tinggi. Habitat hutan dataran rendah memiliki tingkat suhu tertinggi di siang hari yang mencapai 28 C dan kelembaban relatif 85,5%, habitat hutan rawa memiliki tingkat suhu tertinggi mencapai 28,5 C dan kelembaban relatif 78,5%, dan habitat hutan rawa gambut memiliki tingkat suhu tertinggi mencapai 27,63 C dan kelembaban relatif 91,88%. Tipe habitat lainnya yaitu habitat Camp Ambung dan Camp Persemaian memiliki tingkat suhu dan kelembaban relatif yang sedang. Camp Ambung memiliki tingkat suhu tertinggi di siang hari mencapai suhu 29,25 C dan kelembaban relatif 77,38%, Camp Persemaian memiliki tingkat suhu tertinggi mencapai 30,88 C dan kelembaban relatif 69,75%. Pada kondisi fisik yang mencakup keberadaan sumber air dan daerah terbuka, berdasarkan hasil pengamatan diperoleh hasil seperti tersaji pada Tabel 2. Diantara berbagai bentuk sumber air yang tersedia, daerah sumber air yang sering dikunjungi kupu-kupu selama pengamatan di lapangan yaitu daerah tepian Sungai Sekonyer Kanan di habitat Camp Ambung, sedangkan keberadaan daerah terbuka yang sering dikunjungi mencakup areal terbuka yang luas maupun areal terbuka berupa daerah dengan tajuk yang jarang yang sering dikunjungi kupu-kupu untuk berjemur menghangatkan suhu tubuhnya. Tabel 2. Keberadaan sumber air dan daerah terbuka di masing-masing tipe habitat No. Lokasi 1. Hutan Dataran Rendah Faktor Abiotik Keberadaan Sumber Air Keberadaan Daerah Terbuka Tidak ada Terdapat sedikit areal terbuka berupa daerah dengan penutupan tajuk yang jarang Terdapat beberapa areal terbuka 2. Hutan Rawa Kawasan hutan rawa terletak di tepi Sungai Sekonyer Kanan dan tedapat aliran sungai kecil di dalam kawasan hutan rawa 3. Hutan Rawa Gambut 4. Hutan Kerangas Terdapat cukup banyak genangan air di lantai hutan Tidak ada 5. Padang-Semak Terdapat beberapa sisa genangan air setelah musim hujan (air pasang) Tidak ada Kondisi hutan terbuka dengan beberapa tajuk yang cukup terbuka Kondisi kawasan berupa areal terbuka 6. Hutan Pasca Terbakar 7. Camp Ambung 8. Camp Persemaian Tidak ada Camp terletak di tepian Sungai Sekonyer Kanan Sumber air berupa sebuah lubang galian mata air yang cukup besar Kondisi kawasan masih terbuka (masih dalam tahap suksesi) Terdapat sebagian kecil areal terbuka yang tidak terhalangi pepohonan Kondisi kawasan sebagian besar berupa areal terbuka
3 Komponen Biotik Habitat Berdasarkan hasil analisis vegetasi, diketahui jenis vegetasi yang dominan di masing-masing tipe habitat berikut fungsinya sebagai sumber pakan, shelter, maupun cover bagi kupu-kupu yaitu seperti tersaji pada Tabel 3. Tabel 3. Data jenis vegetasi yang mendominasi di masing-masing tipe habitat No. Tipe Tingkat Habitat Vegetasi Jenis Famili Fungsi 1. HDR a. Semai Bati-bati (Syzygium Myrtaceae P zeylanica) b. Pancang Bati-bati (Syzygium Myrtaceae P zeylanica) c. Tumbuhan Kikipasan S bawah d. Tiang Ubar samak (Syzygium sp.) Myrtaceae P e. Pohon Idat (Cratoxylon glaucum) Clusiaceae P 2. HRW a. Semai Ketiau (Ganua motleyana) Sapotaceae SC b. Pancang Pansulan (Pternandra Melastomataceae SC caerulescens) c. Tumbuhan Kelakai S bawah d. Tiang Habu-habu rawa Symplocaceae SC (Symplocos celastrifolia) e. Pohon Ketiau (Ganua motleyana) Sapotaceae SC 3. HRWG a. Semai Ketiau (Ganua motleyana) Sapotaceae SC b. Pancang Kabui SC c. Tumbuhan Bakung S bawah d. Tiang Kepodas SC e. Pohon Ketiau (Ganua motleyana) Sapotaceae SC 4. HK a. Semai Luwari (Shima wallichii) Theaceae PSC b. Pancang Luwari (Shima wallichii) Theaceae PSC c. Tumbuhan Tonggau S bawah d. Tiang Luwari (Shima wallichii) Theaceae PSC e. Pohon Luwari (Shima wallichii) Theaceae PSC 5. PS a. Semai Ubar merah (Syzygium sp.) Myrtaceae P b. Pancang Ubar merah (Syzygium sp.) Myrtaceae P c. Tumbuhan Anak purun S bawah d. Tiang Galam SC 6. HPT a. Semai Kremunting padang Melastomataceae P (Ochtocharis bornensis) b. Pancang Luwari (Shima wallichii) Theaceae PSC c. Tumbuhan Jeruman S bawah 7. CA a. Pohon Luwari (Schima wallichii) Theaceae PSC 8. CP a. Tiang Bintangur (Callophyllum Clusiaceae SC pulcherrimum) b. Pohon Luwari (Schima wallichii) Theaceae PSC Keterangan : HDR (Hutan Dataran Rendah), HK (Hutan Kerangas), HRW (Hutan Rawa), HRWG (Hutan Rawa Gambut), PS (Padang-Semak), CA (Camp Ambung), CP (Camp Persemaian), HPT (Hutan Pasca Terbakar), P (Pakan), S (Shelter), C (Cover).
4 28 Berdasarkan fungsinya, secara keseluruhan ditemukan sebanyak 29 jenis tumbuhan pakan, 103 jenis tumbuhan shelter dan 98 jenis tumbuhan cover. Jumlah jenis tumbuhan pakan, shelter, maupun cover di masing-masing tipe habitat yaitu seperti tersaji pada Tabel 4. Tabel 4. Jumlah jenis tumbuhan pakan, shelter, dan cover di masing-masing tipe habitat No. Tipe Habitat Tumbuhan Tumbuhan Tumbuhan Pakan Shelter Cover 1. Hutan dataran rendah Hutan rawa Hutan rawa gambut Hutan kerangas Padang-semak Hutan pasca terbakar Camp Ambung Camp Persemaian Tipe habitat yang memiliki jumlah jenis tumbuhan pakan terbanyak yaitu habitat hutan dataran rendah sebanyak 15 jenis tumbuhan pakan, dan tipe habitat yang memiliki jumlah jenis tumbuhan pakan paling sedikit yaitu habitat padang semak sebanyak 3 jenis tumbuhan pakan. Tipe habitat yang memiliki jumlah vegetasi shelter dan cover terbanyak yaitu habitat hutan rawa gambut sebanyak 53 jenis tumbuhan shelter dan 51 jenis tumbuhan cover. Tipe habitat hutan pasca terbakar dan habitat padang semak merupakan habitat yang memiliki jumlah jenis tumbuhan shelter dan cover paling sedikit sebanyak 2 jenis untuk tumbuhan shelter dan cover di habitat hutan pasca terbakar dan 3 jenis tumbuhan shelter dan 2 jenis tumbuhan cover di habitat padang-semak. Berikut merupakan daftar jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan bagi kupu-kupu serta penyebarannya di masing-masing tipe habitat seperti tersaji pada Tabel 5. Daftar jenis tumbuhan yang berfungsi sebagai shelter dan cover secara lengkap tersaji pada lampiran 19. Jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan bagi kupu-kupu yaitu dari famili Anacardiaceae (1 jenis), Annonaceae (1 jenis), Clusiaceae (1 jenis), Ebenaceae (2 jenis), Euphorbiaceae (1 jenis), Fabaceae (3 jenis), Lauraceae (3 jenis), Melastomataceae (4 jenis), Moraceae (1 jenis), Myrtaceae (8 jenis), dan Theaceae (1 jenis).
5 29 Tabel 5. Jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan kupu-kupu serta penyebarannya di masing-masing tipe habitat No. Nama Lokal Famili A B C D E F G H 1. Bati-bati (Syzygium Myrtaceae zeylanica) 2. Bekunyit (Diospyros Ebenaceae polyalthioides) 3. Blensuit (Sindora leicocarpa) Fabaceae 4. Idat (Cratoxylon glaucum) Clusiaceae 5. Jamai (Rhodamnia cinerea) Myrtaceae 6. Jejambu (Syzygium cuprea ) Myrtaceae 7. Keranji (Dialium indum) Fabaceae 8. Kremunting padang (Ochtocharis bornensis) Melastomataceae 9. Kriwaya 10. Kriwaya buah kecil 11. Lamanaduk/ Tebingkar (Diospyros pilosanthera) Ebenaceae 12. Luwari (Schima wallichii) Korth. Theaceae 13. Makai (Mezzettia parvifolia) Annonaceae 14. Mangga (Mangifera sp.) Anacardiaceae 15. Medang (Actinodaphne sp.) Lauraceae 16. Medang Kabui Lauraceae (Actinodaphne sp.) 17. Medang tembaga (Actinodaphne sp.) Lauraceae 18 Pansulan (Pternandra coerulescens) Melastomataceae 19. Puak (Artocarpus sp.) Moraceae 20 Puntiranak (Phyllanthus niruri) Euphorbiaceae 21. Temboras (Memecylon sp.) Melastomataceae 22. Ubar (Syzygium sp.) Myrtaceae 23. Ubar hiang (Syzygium sp.) Myrtaceae 24. Ubar merah (Syzygium leucoxylon) Myrtaceae 25. Ubar putih (Syzygium Myrtaceae tawaense) 26. Ubar samak (Syzygium sp.) Myrtaceae 27. Anak purun 28. Kakacangan Fabaceae 29. Kremunting kodok (Melastoma malabathricum) Melastomataceae Jumlah Keterangan : A (Hutan Dataran Rendah), B (Hutan Kerangas), C (Hutan Rawa), D(Hutan Rawa Gambut), E (Padang-Semak), F (Hutan Pasca Terbakar), G (Camp Ambung), H (Camp Persemaian).
6 30 Kondisi biotik habitat lainnya selain vegetasi, yaitu terkait dengan peranan kupu-kupu dalam ekosistem, yang memperlihatkan keberadaan satwa lainnya meliputi satwa pemangsa dan pesaing kupu-kupu, serta satwa yang diuntungkan dengan keberadaan kupu-kupu yaitu seperti tersaji pada Tabel 6. Tabel 6. Keberadaan satwa pemangsa dan pesaing kupu-kupu, serta satwa yang diuntungkan dengan keberadaan kupu-kupu di masing-masing tipe habitat No. Tipe Habitat 1. Hutan dataran rendah Satwa Pemangsa Burung pemakan serangga, laba-laba Satwa Pesaing Lebah Satwa yang Diuntungkan dengan Keberadaan Kupu-kupu Primata (orangutan, owa, bekantan), satwa herbivora (babi hutan, rusa, kancil) 2. Hutan rawa Burung pemakan serangga Tidak terlihat adanya pesaing Primata (orangutan, owa, bekantan) 3. Hutan rawa gambut Burung pemakan serangga Lebah Primata (orangutan, owa, bekantan), kelelawar 4. Hutan kerangas Burung pemakan serangga Burung pemakan nektar, lebah Burung pemakan buah 5. Hutan pasca terbakar Burung pemakan serangga Lebah Burung pemakan buah 6. Padangsemak Burung pemakan serangga Lebah Burung pemakan buah 7. Camp Ambung 8. Camp Persemaian Burung pemakan serangga, laba-laba Burung pemakan serangga Burung pemakan nektar, lebah Tidak terlihat adanya pesaing Burung pemakan buah, primata (orangutan, owa, bekantan) Burung pemakan buah Satwa predator yang memangsa kupu-kupu yaitu burung dan laba-laba (Animal Corner 2009). Satwa yang menjadi pesaing bagi kupu-kupu yaitu burung pemakan nektar dan lebah. Persaingan yang terjadi yaitu pada persaingan kebutuhan pakan pada tumbuhan berbunga. Satwa yang diuntungkan dengan keberadaan kupu-kupu yaitu satwa primata, herbivora, kelelawar, dan burung pemakan buah. Keuntungan yang diperoleh satwa-satwa tersebut berkaitan dengan peranan kupu-kupu sebagai polinator yang membantu penyerbukan yang memungkinkan tumbuhan untuk menghasilkan buah yang menjadi pakan bagi satwa lainnya. Berikut merupakan gambar delapan habitat kupu-kupu yang menjadi lokasi kajian (Gambar 9, 10, 11).
7 31 a b c d e f Gambar 9. Habitat hutan dataran rendah (a-b), hutan rawa (c-d) dan hutan rawa gambut (e-f).
8 32 a b c Gambar 10. Habitat hutan kerangas (a), hutan pasca terbakar (b), dan padangsemak (c).
9 33 a b Gambar 11. Habitat Camp Ambung (a) dan Camp Persemaian (b). 5.2 Keanekaragaman Jenis Kupu-kupu di Masing-masing Tipe Habitat Penyebaran jenis kupu-kupu di delapan tipe habitat berbeda di Pondok Ambung berdasarkan familinya yaitu seperti tersaji pada Tabel 7. Tabel 7. Penyebaran jenis kupu-kupu di masing-masing tipe habitat No. Tipe Habitat Famili P Pi N L H Jumlah Jenis 1. HDR HRW HRWG HK PS HPT CA CP Keterangan : HDR (Hutan Dataran Rendah), HK (Hutan Kerangas), HRW (hutan Rawa), HRWG (Hutan Rawa Gambut), PS (Padang-Semak), CA (Camp Ambung), CP (Camp Persemaian), HPT (Hutan Pasca Terbakar), P (Papilionidae), Pi (Pieridae), N (Nymphalidae), L (Lycaenidae), H (Hesperiidae). Tipe habitat dengan jenis kupu-kupu terbanyak yaitu tipe habitat Camp Ambung dengan jumlah jenis yang ditemukan sebanyak 37 jenis kupu-kupu. Tipe habitat dengan jumlah jenis kupu-kupu terbanyak kedua yaitu habitat hutan dataran rendah sebanyak 33 jenis kupu-kupu, dan selanjutnya yaitu habitat Camp persemaian dengan jumlah jenis kupu-kupu yang ditemukan sebanyak 32 jenis. Tipe habitat dengan jumlah jenis kupu-kupu terendah yaitu habitat padang-semak dengan jumlah jenis kupu-kupu yang ditemukan sebanyak 11 jenis kupu-kupu.
10 34 Di habitat hutan dataran rendah ditemukan jenis kupu-kupu dari famili Pieridae, Nymphalidaae, dan Lycaenidae. Jenis-jenisnya antara lain Gandaca harina elis, Faunis Stomphax stomphax, Faunis gracilis gracilis, Zeuxidia amethystus wallacei, Laxita teneta, Arhopala hellada murakamii, dan Arhopala anthelus anunda. Di habitat hutan rawa ditemukan jenis kupu-kupu dari famili Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, dan Lycaenidae. Jenis-jenisnya antara lain Papilio helenus enganius, Graphium evemon orthia, Graphium agamemnon agamemnon, Eurema nicevillei nicevillei, Thaumanthis noureddin sultanus, dan Arhopala sp. Di habitat hutan rawa gambut, ditemukan jenis kupu-kupu dari famili Pieridae, Nymphalidae, dan Lycaenidae. Jenis-jenisnya antara lain Eurema nicevillei nicevillei, Idea stolli alcine, Zeuxidia doubledayi, dan Paralaxita telesia lyclene. Jenis kupu-kupu di ketiga habitat tersebut, merupakan jenis kupu-kupu yang menyukai habitat hutan yang terlindung dengan intensitas cahaya yang dibatasi oleh tajuk pepohonan dan lantai hutan yang tertutup oleh serasah. Jenis kupu-kupu yang ditemukan di ketiga habitat tersebut yaitu jenis Euthalia iapis dan Lexias pardalis borneensis yang memiliki kebiasaan hinggap di lantai hutan di atas hamparan serasah atau hinggap di atas dedaunan tumbuhan bawah. Di habitat hutan kerangas, ditemukan jenis kupu-kupu dari famili Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, dan Lycaenidae. Jenis-jenisnya antara lain Graphium sarpedon sarpedon, Graphium empedovana empedovana, Gandaca harina elis, dan Remelana jangala huberta. Di habitat padang-semak, ditemukan jenis kupu-kupu dari famili Papilionidae, Nymphalidae, dan Lycaenidae. Jenisjenisnya antara lain Graphium doson evemonides, Junonia atlites, dan Spindasis lohita senama. Di habitat hutan pasca terbakar, ditemukan kupu-kupu dari famili Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, dan Lycaenidae. Jenis-jenisnya antara lain Graphium bathycles bathycloides, Eurema sari sodalis, Euthalia lubentina adeona, Polyura schreiber malayica, dan Jamides sp. Jenis kupu-kupu di habitat hutan kerangas, padang-semak dan hutan pasca terbakar, merupakan jenis kupukupu yang menyukai habitat terbuka. Jenis kupu-kupu dari genus Graphium yang termasuk famili Papilionidae merupakan salah satu jenis kupu-kupu yang meyukai habitat terbuka yang banyak ditemukan di ketiga habitat tersebut.
11 35 Di habitat Camp Ambung dan Camp Persemaian ditemukan jenis kupukupu dari lima famili yaitu Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycaenidae, dan Hesperiidae. Jenis kupu-kupu yang ditemukan di Camp Ambung antara lain Graphium delesserti delesserti, Saletara panda distanti, Danaus melanippus thoe, Purlisa gigantea borneana, dan Burara etelka. Di Camp Persemaian jenisjenisnya antara lain Papilio helenus enganius, Euploea mulciber portia, Arhopala aedias agnis, dan Tagiades waterstradti. Jenis kupu-kupu di kedua lokasi camp, merupakan jenis kupu-kupu dari kawasan hutan di sekitar camp. Daftar jenis kupu-kupu yang ditemukan di masing-masing tipe habitat secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 2-9. Beberapa jenis kupu-kupu untuk masing-masing famili seperti terlihat pada Gambar 12 dan 13. a b c d e f g h i j k l m n o Gambar 12. Jenis kupu-kupu dari famili Papilionidae dan Pieridae. Keterangan : Famili Papilionidae (Papilio helenus enganius (a), Graphium sarpedon sarpedon (b), G. doson evemonides (c), G.evemon orthia (d), G. bathycles (e), G. agamemnon (f), G. empedovana empedovana (g), G. antiphates itamputi (h), G. delesserti delesserti (i), G. ramaceus ramaceus (j), family Pieridae (Gandaca harina elis (k), Eurema sari sodalis (l), E. nicevillei nicevillei (m), Appias indra plana (n), Saletara panda distanti (o)).
12 36 Jenis kupu-kupu terbanyak yaitu dari famili Nymphalidae sebesar 57% dari jumlah keseluruhan jenis yang ditemukan. Besarnya jumlah anggota famili Nymphalidae yang ditemukan disebabkan famili tersebut memiliki anggota terbesar dibandingkan famili lainnya. Famili Hesperiidae merupakan famili dengan jumlah jenis paling sedikit yang ditemukan selama pengamatan yaitu hanya dua jenis kupu-kupu. Sedikitnya jumlah jenis kupu-kupu Hesperiidae yang ditemukan disebabkan oleh aktivitas hidup sebagian jenis kupu-kupu Hesperiidae yang bersifat crepuscular (Peggie dan Amir 2006) yakni memiliki waktu aktif pada awal pagi dan senja hari, diluar waktu pengamatan yang dilakukan pada pagi hingga siang dan sore hari. a b c d g e f h i j k l m n o p q Gambar 13. Jenis kupu-lupu dari famili Nymphalidae, Lycaenidae, dan Hesperiidae. Keterangan : Famili Nymphalidae (Danaus melanippus thoe (a), Parantica aspasia aspasia (b), Idea stolli alcine (c), Vindula dejone dejone (d), Athyma larymna (e), Pandita sinope (f), Moduza procris agnata (g), Dophla evelina magama (h), Prothoe franck borneensis (i), Agatasa calydonia mahasthama (j), Polyura Schreiber malayica (k), Charaxes bernardus repetitus (l)), famili Lycaenidae (Paralaxita telesia lyclene (m), Arhopala eumolphus maxwelli (n), A. hellada murakamii (o)), famili Hesperiidae (Burara etelka (p), Tagiades waterstradtii (q)).
13 37 Secara keseluruhan, jumlah jenis kupu-kupu yang berhasil ditemukan pada seluruh tipe habitat kupu-kupu di Pondok Ambung yaitu sebanyak 76 jenis kupukupu dari dari 5 famili meliputi famili Papilionidae (11 jenis), Pieridae (6 jenis), Nymphalidae (43 jenis), Lycaenidae (14 jenis), dan Hesperiidae (2 jenis). Perbandingan jumlah jenis kupu-kupu yang ditemukan di Pondok Ambung secara keseluruhan berdasarkan familinya dapat dilihat pada Gambar 14. Gambar 14. Perbandingan persentase jumlah jenis kupu-kupu pada masingmasing famili. 5.3 Perbedaan Tingkat Keanekaragaman Jenis Kupu-kupu Kekayaan Jenis Kupu-kupu Perbandingan indeks kekayaan jenis untuk masing-masing tipe habitat yaitu seperti terlihat pada Gambar 15. Kekayaan jenis, merupakan tingkat ukuran paling sederhana dalam menggambarkan keanekaragaman jenis. Kekayaan jenis diukur berdasarkan jumlah jenis yang ditemukan dalam komunitas (Primack et al. 2007). Berdasarkan hasil perhitungan, besarnya tingkat kekayaan jenis di masingmasing tipe habitat kupu-kupu dengan menggunakan Indeks Diversitas Margalef bervariasi untuk masing-masing tipe habitat. Tipe habitat dengan nilai kekayaan jenis tertinggi yaitu habitat Camp Ambung dengan nilai kekayaan jenis sebesar 6,776. Tipe habitat tertinggi kedua yaitu habitat Camp persemaian sebesar 6,553 dan ketiga yaitu habitat hutan dataran rendah sebesar 6,378. Tipe habitat dengan nilai kekayaan jenis terendah yaitu habitat padang-semak sebesar 1,943.
14 38 CP 6,533 CA 6,776 HPT 4,235 Lokasi PS HK 1,943 5,052 HRWG HRW HDR 3,134 4,994 6, Kekayaan Jenis (Dmg) Gambar 15. Nilai kekayaan jenis kupu-kupu di masing-masing tipe habitat. Keterangan : HDR (Hutan Dataran Rendah), HK (Hutan Kerangas), HRW (Hutan Rawa), HRWG (Hutan Rawa Gambut), PS (Padang-Semak), HPT (Hutan Pasca Terbakar), CA (Camp Ambung), CP (Camp Persemaian) Keanekaragaman Jenis Kupu-kupu Berdasarkan hasil perhitungan tingkat keanekaragaman jenis di masingmasing habitat dan lokasi camp dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon- Wiener yaitu seperti tersaji pada Gambar 16. CP 2,793 CA 2,987 HPT 1,58 Lokasi PS HK 0,657 2,787 HRWG 2,425 HRW 2,6 HDR 3, ,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Keanekaragaman Jenis (H') Gambar 16. Nilai keanekaragaman jenis kupu-kupu di masing-masing tipe habitat. Keterangan : HDR (Hutan Dataran Rendah), HK (Hutan Kerangas), HRW (Hutan Rawa), HRWG (Hutan Rawa Gambut), PS (Padang-Semak), HPT (Hutan Pasca Terbakar), CA (Camp Ambung), CP (Camp Persemaian).
15 39 Tipe habitat dengan nilai keanekaragaman jenis tertinggi yaitu habitat hutan dataran rendah dengan nilai keanekaragaman jenis 3,048 dan terkecil yaitu habitat padang-semak dengan nilai keanekaragaman jenis 0,657. Nilai keanekaragaman jenis yang diperoleh untuk masing-masing tipe habitat kupukupu termasuk kedalam kategori sedang untuk seluruh tipe habitat, kecuali untuk habitat padang-semak yang masuk kedalam kategori rendah dengan nilai keanekaragaman jenis < 1,5. Diantara seluruh jenis yang ada, terdapat 31 jenis kupu-kupu yang hanya ditemukan di salah satu tipe habitat seperti terlihat pada Tabel 8. Jumlah jenis yang hanya ditemukan di masing-masing tipe habitat tersebut meliputi 8 jenis di hutan dataran rendah, dan masing-masing 2 jenis berbeda pada tipe habitat hutan rawa, hutan rawa gambut, hutan kerangas, padang-semak, dan hutan pasca terbakar serta 10 jenis di Camp Ambung dan 3 jenis di Camp Persemaian. Tabel 8. Daftar jenis kupu-kupu yang hanya ditemukan di habitat tertentu No. Famili Jenis Tipe Habitat Jumlah Individu Ditemukan (ekor) 1. Papilionidae Papilio demolion demolion CA 2 2. Papilionidae Graphium empedovana empedovana HK 1 3. Papilionidae Graphium antiphates itamputi CA 4 4. Papilionidae Graphium delesserti delesserti CA 7 5. Papilionidae Graphium ramaceus ramaceus CA 1 6. Pieridae Eurema sp. HDR 1 7. Pieridae Appias indra plana CA 1 8. Pieridae Saletara pdana distant CA 1 9. Nymphalidae Ypthima fasciata PS Nymphalidae Faunis stomphax stomphax HDR Nymphalidae Faunis gracilis gracilis HDR Nymphalidae Zeuxidia doubledayi HRWG Nymphalidae Zeuxidia amethystus wallacei HDR Nymphalidae Thaumanthis noureddin sultanus HRW Nymphalidae Vindula dejone dejone CA Nymphalidae Cirrochroa emalea CA Nymphalidae Athyma nefte subrata HPT Nymphalidae Euthalia merta apicalis HRW Nymphalidae Polyura schreiber malayica HPT Riodinidae Paralaxita telesia lyclene HRWG Riodinidae Laxita teneta HDR Lycaenidae Arhopala hellada murakamii HDR Lycaenidae Arhopala anthelus anunda HDR Lycaenidae Arhopala aedias agnis CP Lycaenidae Arhopala pseudocentaurus nakula CP 1
16 40 Tabel 8 (lanjutan) No. Famili Jenis Tipe Habitat Jumlah Individu Ditemukan (ekor) 26. Lycaenidae Spindasis lohita senama PS Lycaenidae Ritra aurea aurea HDR Lycaenidae Lycaenopsis haraldus cornuta CA Lycaenidae Remelana jangala huberta HK Hesperiidae Burara etelka CA Hesperiidae Tagiades waterstardti CP 1 Keterangan : HDR (Hutan Dataran Rendah), HK (Hutan Kerangas), HRW (Hutan Rawa), HRWG (Hutan Rawa Gambut), PS (Padang-Semak), HPT (Hutan Pasca Terbakar), CA (Camp Ambung), CP (Camp Persemaian) Kemerataan Jenis Kupu-kupu Berdasarkan hasil perhitungan indeks kemerataan jenis, diperoleh nilai kemerataan jenis di masing-masing tipe habitat seperti tersaji pada Gambar 17. Lokasi CP CA HPT PS HK HRWG HRW HDR 0,274 0,479 0,806 0,827 0,93 0,946 0,818 0, ,2 0,4 0,6 0,8 1 Kemerataan Jenis (E) Gambar 17. Nilai kemerataan jenis kupu-kupu di masing-masing tipe habitat. Keterangan : HDR (Hutan Dataran Rendah), HK (Hutan Kerangas), HRW (Hutan Rawa), HRWG (Hutan Rawa Gambut), PS (Padang-Semak), HPT (Hutan Pasca Terbakar), CA (Camp Ambung), CP (Camp Persemaian). Indeks kemerataan jenis (evenness) digunakan untuk mengetahui gejala dominansi diantara jenis dalam suatu komunitas. Apabila setiap jenis memiliki jumlah individu yang sama maka komunitas tersebut memiliki nilai evenness maksimal. Sebaliknya apabila nilai evennes tersebut kecil maka dalam komunitas tersebut terdapat jenis dominan, sub dominan, dan jenis tidak dominan.
17 41 Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh hasil nilai kemerataan jenis yang kecil untuk habitat padang-semak dan habitat hutan pasca terbakar masing-masing sebesar 0,274 dan 0,479. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya dominansi jenis tertentu. Pada habitat padang-semak jenis kupu-kupu yang dominan yaitu Junonia atlites dari famili Nymphalidae dan pada habitat hutan pasca terbakar terdapat jenis dari famili Lycaenidae yaitu Jamides sp. yang merupakan jenis paling dominan (Gambar 18). Kedua jenis tersebut ditemukan dalam jumlah individu paling besar dibandingkan jenis kupu-kupu lainnya. Pada tipe habitat lainnya penyebaran jenis merata dengan nilai kemerataan yang hampir maksimal. a b Gambar 18. Jenis kupu-kupu yang dominan di habitat padang-semak (Junonia atlites (a) dan hutan pasca terbakar (Jamides sp. (b)). Adanya perbedaan pada kemerataan jenis yang memperlihatkan adanya dominansi jenis tertentu, disebabkan oleh pengaruh kondisi lingkungan masingmasing habitat. Kondisi lingkungan yang paling berpengaruh terutama yaitu kondisi fisik habitat yaitu tingkat suhu. Habitat padang-semak dan hutan pasca terbakar memiliki kondisi habitat yang secara fisik jauh berbeda terutama pada kondisi tingkat suhu lingkungan yang jauh lebih tinggi dan keberadaan daerah terbuka yang lebih luas dibandingkan tipe habitat lainnya. Kondisi tersebut berpengaruh pada keberadaan jenis kupu-kupu yang hidup pada kedua habitat tersebut. Jenis kupu-kupu yang menjadi jenis dominan pada kedua habitat tersebut yatu Junonia atlites dan Jamides sp. merupakan jenis kupu-kupu yang memiliki
18 42 kemampuan adaptasi yang lebih baik dibandingkan jenis lainnya pada habitat dengan kondisi suhu yang tinggi seperti di habitat padang-semak dan hutan pasca terbakar. Kedua jenis kupu-kupu tersebut menyukai habitat terbuka dibandingkan jenis kupu-kupu lain yang ada sehingga menjadi jenis yang paling mendominasi dikedua habitat tersebut. Di masing-masing tipe habitat lainnya, terdapat beberapa jenis kupu-kupu yang ditemukan dalam jumlah yang cukup banyak namun tidak termasuk kategori dominan. Jenis-jenisnya antara lain di habitat hutan dataran rendah terdapat jenis Arhopala sp., Eurema sari sodalis, dan Arhopala eumolphus maxwelli. Di habitat hutan kerangas jenis kupu-kupu yang banyak ditemukan yaitu Graphium evemon orthi, Graphium doson evemonides, dan Eurema nicevillei nicevillei. Di habitat hutan rawa, jenis yang paling banyak ditemukan yaitu Mycalesis sp., Euthalia monina indras, dan Eurema nicevillei nicevillei. Di habitat hutan rawa gambut, jenis yang banyak ditemukan yaitu Eurema nicevillei nicevillei, Arhopala sp., Mycalesis sp., dan Euthalia iapis. Di Camp Ambung, jenis yang paling banyak ditemukan yaitu Jamides sp., Eurema nicevillei nicevillei, Euploea mulciber portia, Graphium sarpedon sarpedon, dan Euploea radamanthus lowii. Di Camp Persemaian, jenis yang paling banyak ditemukan yaitu Euploea radamanthus lowii, Euploea mulciber portia, dan Euthalia monina indras Koefisien Kesamaan Jenis Kupu-kupu Berdasarkan hasil perhitungan, koefisien kesamaan jenis (similarity coefficient) antar tipe habitat kupu-kupu di Pondok Ambung yaitu seperti tersaji pada Tabel 9. Tabel 9. Koefisien kesamaan jenis kupu-kupu antar tipe habitat HDR HK HRWG HRW PS CA CP HPT HDR 0,182 0,314 0,390 0,073 0,232 0,354 0,250 HK 0,065 0,222 0,240 0,400 0,300 0,382 HRWG 0,321 0,043 0,089 0,216 0,053 HRW 0,167 0,277 0,436 0,214 PS 0,171 0,103 0,226 CA 0,438 0,280 CP 0,283 HPT Keterangan : HDR (Hutan Dataran Rendah), HK (Hutan Kerangas), HRW (Hutan Rawa), HRWG (Hutan Rawa Gambut), PS (Padang-Semak), HPT (Hutan Pasca Terbakar), CA (Camp Ambung), CP (Camp Persemaian).
19 43 Koefisien kesamaan jenis menunjukkan seberapa besar kesamaan antar komunitas jenis. Berdasarkan hasil yang diperoleh, koefisien kesamaan jenis antara tipe habitat satu dengan tipe habitat tertinggi yaitu antara habitat Camp Ambung dan Camp Persemaian dengan koefisien kesamaan 0,438. Koefisien kesamaan jenis terendah yaitu antara habitat hutan rawa gambut dengan habitat padang-semak dengan koefisien kesamaan 0,043. Nilai koefisien kesamaan jenis yang tinggi memperlihatkan adanya kesamaan jenis dikedua tipe habitat, sebaliknya nilai koefisien kesamaan jenis yang rendah memperlihatkan kesamaan jenis yang rendah dikedua habitat yang dibandingkan. Habitat Camp Ambung dan Camp Persemaian memiliki koefisien kesamaan jenis tertinggi dengan jumlah jenis kupu-kupu yang sama dikedua lokasi camp yaitu sebanyak 21 jenis kupukupu dan terbanyak berasal dari genus Euploea. Jenis-jenisnya antara lain Euploea mulciber portia, E. radamanthus lowii, E. crameri crameri, dan E. Eyndovii (Gambar 19). a b c d Gambar 19. Kupu-kupu dari genus Euploea yang merupakan jenis kupu-kupu yang sama di habitat Camp Ambung dan Camp Persemaian. Keterangan : Euploea mulciber portia (a); E. radamanthus lowii (b); E. crameri crameri (c), dan E. Eyndovii (d). Tipe habitat yang memiliki koefisien tertinggi kedua yaitu antara habitat hutan rawa dan habitat Camp Persemaian dengan nilai koefisien sebesar 0,436. Jenis kupu-kupu yang sama di habitat hutan rawa dan habitat Camp Persemaian yaitu terdapat 17 jenis dengan jenisnya antara lain Parantica aspasia aspasia, Athyma asura idita, dan Lebadea martha paduca. Salah satu jenisnya yaitu Paranctica aspasia aspasia, merupakan jenis yang memiliki kebiasaan terbang di areal terbuka yang terkena cahaya matahari dan sering terlihat di tepi hutan. Jenis
20 44 tersebut ditemukan di habitat hutan rawa di bagian areal dengan penutupan tajuk yang jarang sehingga cahaya matahari dapat masuk dalam jumlah yang cukup banyak. Di Camp Persemaian, areal terbuka cukup luas dan sering dikunjungi oleh berbagai jenis kupu-kupu dari kawasan hutan di sekitar camp. Koefisien kesamaan tertinggi ketiga yaitu antara habitat hutan kerangas dan habitat Camp Ambung dengan nilai koefisien sebesar 0,400. Adanya kesamaan jenis antara Camp Ambung dan habitat hutan kerangas yaitu disebabkan oleh adanya jenis vegetasi ubar yang sedang berbunga di kedua lokasi tersebut. Jenis kupu-kupu yang ada di kedua lokasi tersebut yaitu jenis kupu-kupu yang memiliki sumber pakan berupa nektar dari bunga ubar. Salah satu jenisnya yaitu Papilio helenus enganius (Gambar 20). Tipe habitat dengan koefisien kesamaan tertinggi keempat yaitu antara habitat hutan kerangas dan habitat hutan pasca terbakar dengan koefisen kesamaan sebesar 0,382. Di kedua habitat tersebut terdapat sebanyak 13 jenis kupu-kupu yang sama. Jenisnya antara lain Graphium evemon orthia, Pandita sinope, Moduza procris agnata, dan Jamides sp. Adanya kesamaan jenis antara habitat hutan kerangas dan habitat hutan pasca terbakar disebakan oleh pada awalnya hutan pasca terbakar merupakan habitat hutan kerangas yang saat ini sedang dalam tahapan suksesi dan memiliki beberapa jenis vegetasi yang sama. Jenis yang terdapat di kedua habitat tersebut merupakan jenis kupu-kupu yang menyukai habitat terbuka dan cukup panas seperti kondisi habitat di hutan kerangas dan habitat hutan pasca terbakar. Gambar 20. Kupu-kupu Papilio helenus enganius pada bunga ubar (Syzygium sp.) yang ditemukan di habitat hutan kerangas dan Camp Ambung.
21 Analisis Komponen Habitat yang Berpengaruh terhadap Tingkat Keaneakaragaman Jenis Kupu-kupu Meskipun kupu-kupu memiliki penyebaran yang luas dan terdapat hampir di setiap tipe habitat, beberapa jenis kupu-kupu ada yang bersifat endemik, artinya sebarannya terbatas pada tempat tertentu. Sebaliknya, tedapat pula sebagian besar jenis yang bersifat kosmopolit yang sebarannya sangat luas dan mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan (Amir et al. 2003). Komposisi jenis kupu-kupu yang ada akan bervariasi menurut kondisi habitatnya (Sihombing 2002). Penyebaran jenis kupu-kupu dibatasi oleh faktor-faktor antara lain faktor ekologi yang cocok dan sebaran tanaman inang yang menjadi pakan bagi kupu-kupu dewasa maupun pada saat fase larva yang cocok (Amir, Noerdjito dan Kahono, 2003). Diantara faktor abiotik dan biotik yang diamati, faktor yang berpengaruh terhadap keaneakaragaman jenis kupu-kupu yaitu meliputi faktor kondisi suhu dan kelembaban relatif lingkungan dan keberadaan ruang terbuka, faktor keberadaan sumber air, serta faktor vegetasi Faktor Suhu dan Kelembaban relatif Lingkungan serta Keberadaan Ruang Terbuka Kondisi suhu dan kelembaban relatif lingkungan serta keberadaan ruang terbuka memiliki peran yang penting karena kupu-kupu memiliki sifat poikilotermik yaitu suhu tubuhnya akan meningkat atau menurun mengikuti kondisi lingkungan sekitarnya (Sihombing 2002). Kupu-kupu menyukai tempattempat seperti tempat-tempat yang terang dan terbuka di dalam hutan (Amir et al. 2003). Keberadaan ruang terbuka diperlukan oleh kupu-kupu sebagai tempat untuk berjemur menghangatkan tubuhnya seperti terlihat pada Gambar 21. Pada cuaca dingin kupu-kupu akan meningkatkan pembukaan sayap untuk memperoleh cahaya matahari dan meningkatkan temperatur tubuh dengan cara terus berjemur. Bila temperatur tubuh meningkat kupu-kupu akan mencari tempat berteduh (Sihombing 2002). Faktor suhu dan kelembaban relatif lingkungan serta keberadaan daerah terbuka, saling berhubungan dengan tingkat suhu yang semakin tinggi dan tingkat kelembaban relatif yang semakin rendah di habitat yang memiliki ruang terbuka terluas, seperti yang terlihat pada tingkat suhu tertinggi dengan tingkat kelembaban relatif yang rendah di habitat padang-semak
22 46 yang kawasannya berupa areal purun (Eleocharis congesta). terbuka berupa hamparan rumput dan semak a b c d Gambar 21. Aktivitas kupu-kupu yang berjemur di bawah sinar matahari untuk menghangatkan tubuhnya. Keterangan : Papilio demolion (a); Athyma sp. (b); Lexias pardalis jantan (c) dan Lexias pardalis betina (d). Hubungan antara faktor suhu dan kelembaban relatif lingkungan terhadap tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu, dapat diketahui melalui perbandingan antara nilai rata-rata kisaran suhu dan kelembaban relatif dengan rata-rata tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu yang ada di seluruh tipe habitat seperti terlihat pada Gambar 22 dan 23. Hubungan antara tingkat suhu dan tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu memiliki hubungan yang berbanding terbalik, sedangkan hubungan antara tingkat kelembaban relatif dan tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu memiliki hubungan yang berbanding lurus atau searah.
23 47 Nilai Indeks Suhu ( C) Gambar 22. Grafik perbandingan tingkat suhu terhadap kekayaan, keanekaragaman, dan kemerataan jenis kupu-kupu. Keterangan : Dmg (Indeks Kekayaan Jenis Margalef), H (Indeks Keaneakaragaman Jenis Shannon-Wiener), e (Indeks Kemerataan Jenis/Evennes). Nilai Indeks Kelembaban relatif (%) Gambar 23. Grafik perbandingan tingkat kelembaban relatif terhadap kekayaan, keanekaragaman, dan kemerataan jenis kupu-kupu. Keterangan : Dmg (Indeks Kekayaan Jenis Margalef), H (Indeks Keaneakaragaman Jenis Shannon-Wiener), e (Indeks Kemerataan Jenis/Evennes).
24 48 Berdasarkan analisis dengan korelasi Pearson hubungan antara tingkat suhu dan tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu yang berbanding terbalik, terlihat dari koefisien korelasi yang bernilai negatif. Koefisien korelasi negatif menunjukkan perubahan arah yang bertentangan, yaitu apabila nilai variabel satu naik maka akan diikuti oleh turunnya nilai variabel yang kedua (Pudjirahardjo 1993). Semakin tingginya kisaran suhu di suatu tipe habitat akan berpengaruh terhadap semakin rendahnya tingkat keaneakaragaman jenis kupu-kupu. Hasil analisis dengan korelasi Pearson antara tingkat suhu dan keanekaragaman jenis kupu-kupu menunjukkan koefisien yang kuat dengan korelasi tertinggi yaitu antara tingkat suhu terhadap nilai indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu sebesar -0,626 dan terhadap indeks kemerataan jenis kupu-kupu sebesar -0,660 (Lampiran 20). Hubungan antara tingkat kelembaban relatif dengan tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu yang berbanding lurus, berdasarkan hasil analisis korelasi Pearson, terlihat dari nilai korelasi yang positif. Koefisien korelasi positif menunjukkan perubahan searah yang berbanding lurus yaitu apabila nilai variabel satu naik maka akan diikuti oleh naiknya nilai variabel yang kedua (Pudjirahardjo 1993). Semakin tingginya kisaran kelembaban relatif di suatu tipe habitat akan berpengaruh terhadap semakin tingginya tingkat keaneakaragaman jenis kupu-kupu. Kondisi tersebut terlihat dari tingginya tingkat keaneakaragaman jenis kupu-kupu di habitat dengan tingkat kelembaban relatif yang tinggi dengan tingkat keanekaragaman jenis tertinggi di habitat hutan dataran rendah yang memiliki tingkat kelembaban relatif tertinggi dibandingkan habitat lainnya. Hasil analisis dengan korelasi Pearson antara tingkat kelembaban relatif dan keanekaragaman jenis kupu-kupu menunjukkan koefisien korelasi tertinggi yaitu antara tingkat kelembaban relatif terhadap nilai indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu sebesar 0,568 dan terhadap indeks kemerataan jenis kupu-kupu sebesar 0,633 (Lampiran 20). Nilai indeks kekayaan jenis kupu-kupu tertinggi yaitu pada kisaran suhu 26ºC hingga 28ºC. Nilai indeks tertinggi yaitu pada nilai indeks kekayaan jenis 4,217. Nilai indeks keanekaragaman dan kemerataan jenis tertinggi yaitu pada selang kelas suhu 23-25ºC dengan keanekaragaman jenis 2,214 dan kemerataan
25 49 jenis (evenness) 0,905. Berdasarkan grafik perbandingan pada Gambar 22, dapat dilihat tingkat keanekaragaman, kekayaan, dan kemerataan jenis kupu-kupu nilainya semakin rendah pada selang kelas suhu yang semakin tinggi. Berdasarkan tingkat kelembaban relatifnya, nilai indeks kekayaan, keanekaragaman, dan kemerataan jenis tertinggi yaitu pada kisaran kelembaban relatif %, dengan nilai indeks kekayaan jenis 4,415; keanekaragaman jenis 2,279; dan kemerataan jenis 0,787. Berdasarkan tipe habitatnya, kondisi tersebut terlihat pada habitat padang-semak yang memiliki kondisi suhu lingkungan paling tinggi dan tingkat kelembaban relatif yang rendah dengan suhu tertinggi pada siang hari sebesar 35,25ºC dengan kelembaban relatif 57,63%, memiliki nilai kekayaan, keanekaragaman, dan kemerataan paling rendah dibanding tipe habitat lainnya dengan nilai masing-masing sebesar 1,943; 0,657; dan 0,274. Perbedaan tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu di setiap tipe habitat dengan kondisi suhu dan kelembaban relatif lingkungan yang berbeda-beda menunjukkan adanya perbedaan dalam preferensi setiap jenis kupu-kupu dengan kondisi suhu dan kelembaban relatif lingkungan di habitat yang ditempati. Sebagian jenis kupu-kupu menyukai habitat dengan kondisi suhu tidak terlalu tinggi dan sebagian jenis lainnya mampu beradaptasi dengan kondisi suhu yang cukup tinggi. Jenis kupu-kupu yang hidup di habitat padang-semak, habitat hutan pasca terbakar, dan habitat hutan kerangas merupakan jenis kupu-kupu yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap tingkat suhu yang tinggi. Jenis-jenisnya antara lain Graphium sarpedon sarpedon, G.doson evemonides, Junonia atlites, dan Pandita sinope. Di habitat hutan dataran rendah, hutan rawa gambut, dan hutan rawa, jenis kupu-kupu yang ada bervariasi mengikuti kondisi habitat. Diantaranya terdapat jenis kupu-kupu yang menyukai bagian hutan yang gelap dan terlindung dengan tingkat suhu yang relatif rendah yaitu jenis kupu-kupu Lexias pardalis borneensis dan Euthalia iapis. Selain itu terdapat jenis kupu-kupu yang menyukai bagian hutan yang agak terbuka dan hangat dengan tingkat suhu lebih tinggi yaitu kupu-kupu Pieridae jenis Eurema nicevillei nicevillei. Di Camp Ambung dan Camp Persemaian jenis kupu-kupu yang ada yaitu jenis yang menyukai habitat yang cukup hangat antara lain kupu-kupu Euploea mulciber portia dan E. radamanthus lowii.
26 50 Berdasarkan warna sayapnya, kupu-kupu yang ditemukan di habitat dengan tingkat suhu tinggi seperti di habitat padang-semak, hutan kerangas, dan hutan pasca terbakar memiliki warna sayap yang lebih terang, sebaliknya kupukupu yang hidup di habitat dengan tingkat suhu rendah memiliki warna sayap yang lebih gelap. Perbedaan warna tersebut merupakan pola adaptasi kupu-kupu terhadap kondisi lingkungannya. Warna-warna yang bervariasi pada sayap kupukupu berasal dari sisik-sisik yang menempel pada sayap (Grzimek 1975; Amir et al. 2003). Kecerahan dan kepekatan warna pada sayap kupu-kupu sangat penting karena kupu-kupu bersifat poikilotermik yang suhu tubuhnya akan meningkat atau menurun mengikuti suhu sekitarnya (Sihombing 2002). Dalam pengaturan suhu tubuhnya, sayap sangat berperan untuk mengontrol temperatur tubuhnya (Sihombing 2002). Pada habitat dengan kondisi suhu lingkungan yang rendah, warna sayap yang gelap membantu kupu-kupu untuk menyerap panas lebih banyak dari lingkungannya. Kupu-kupu Prothoe frank borneensis dan Lexias pardalis yang memiliki pola warna sayap gelap sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi habitat yang memiliki tingkat suhu rendah dan cahaya matahari yang sedikit. Sebaliknya, kupu-kupu Junonia atlites yang hidup di habitat dengan kondisi suhu tinggi dan Eurema nicevillei nicevillei yang sering ditemukan di bagian hutan yang terbuka, memiliki sayap berwarna terang (Gambar 24). a b c d Gambar 24. Perbedaan variasi warna sayap pada kupu-kupu yang hidup di habitat dengan suhu tinggi : Junonia atlites (a) dan Eurema nicevillei nicevillei (b), dan kupu-kupu yang hidup di habitat dengan kondisi suhu rendah : Prothoe franck borneensis (c) dan Lexias pardalis (d) Faktor Ketersediaan Sumber Air Faktor ketersediaan sumber air berpengaruh karena kupu-kupu menyukai tempat-tempat seperti tepian sungai (Amir et al. 2003). Kupu-kupu mengunjungi areal yang basah untuk memperoleh air. Dalam hidupnya, selain membutuhkan
27 51 energi dari pakannya, kupu-kupu dewasa juga membutuhkan air (Animal Corner 2009). Berdasarkan hasil pengamatan, daerah sumber air yang sering dikunjungi yaitu tepian sungai di Camp Ambung yang sering dikunjungi berbagai jenis kupukupu seperti Graphium sarpedon sarpedon, G. doson evemonides, G.evemon orthia, dan G.delesserti delesserti. Sumber air lainnya yang ada yaitu aliran sungai kecil di hutan rawa dan kubangan mata air di Camp Persemaian serta kolam genangan air di habitat padang-semak, berdasarkan pengamatan yang dilakukan tempat tersebut jarang dikunjungi kupu-kupu. Kondisi tersebut disebabkan kupu-kupu memilih hinggap di tepian Sungai Sekonyer Kanan di Camp Ambung yang memiliki tepian sungai berpasir yang sering dihinggapi kupu-kupu untuk mengisap air. Ketersediaan sumber air di suatu habitat memiliki pengaruh terhadap tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu yang ada. Berdasarkan hasil yang diperoleh, ketersediaan sumber air di habitat Camp Ambung berpengaruh terhadap tingginya jumlah jenis kupu-kupu dibandingkan tipe habitat lainnya yaitu sebanyak 37 jenis kupu-kupu. Nilai indeks kekayaan jenis di habitat Camp Ambung memiliki nilai tertinggi sebesar 6,776 dan nilai indeks keanekaragaman jenis tertinggi kedua setelah hutan dataran rendah sebesar 2,987. Nilai kemerataan jenisnya cukup merata dengan nilai kemerataan jenis sebesar 0,827. a b Gambar 25. Lokasi Camp Ambung yang terletak di tepi Sungai Sekonyer Kanan dan tepian sungai berpasir yang sering dikunjungi oleh kupu-kupu.
28 Faktor Vegetasi Pengaruh faktor vegetasi terhadap tingkat keanekaragaman jenis kupukupu berkaitan dengan penyebaran kupu-kupu di tempat-tempat dimana terdapat tumbuhan yang menjadi sumber pakan maupun shelter (Grzimek, 1975). Selama daur hidupnya kupu-kupu hanya memerlukan makan pada saat fase larva (ulat) dan dewasa (imago) (Noerdjito dan Aswari, 2003). Makanan kupu-kupu pada fase ulat yaitu berupa bagian dari tumbuh-tumbuhan dan biji (Noerdjito dan Aswari, 2003; Triplehorn and Johnson, 2005) dan pada saat fase dewasa kupu-kupu memakan nektar bunga (Noerdjito dan Aswari, 2003). Selain memakan nektar sebagai pakan utama, beberapa diantara jenis kupu-kupu juga mendapatkan nutrisi dari buah yang membusuk seperti pada jenis kupu-kupu Tanaecia sp. dan Euthalia sp. (Corbet & Pendlebury 1992; Animal Corner 2009). Pengaruh faktor vegetasi terhadap tingkat keanekaragaman jenis kupukupu, berdasarkan hasil analisis korelasi diperoleh nilai korelasi positif antara keanekaragaman jenis vegetasi dan jumlah jenisnya sebagai tumbuhan pakan, shelter, maupun cover terhadap tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu. Korelasi positif menunjukkan perubahan yang searah, yaitu apabila nilai variabel satu naik maka akan diikuti oleh naiknya nilai variabel yang kedua (Pudjirahardjo 1993). Semakin tingginya keanekaragaman jenis vegetasi dan jumlah jenis tumbuhan pakan, shelter, maupun cover di suatu tipe habitat akan berpengaruh terhadap semakin tingginya tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu yang ada. Berdasarkan analisis korelasi Pearson, diperoleh nilai korelasi yang kuat yaitu pada keanekaragaman tingkat vegetasi pohon terhadap kemerataan jenis kupu-kupu dengan nilai korelasi 0,648 (Lampiran 21). Pada hasil analisis korelasi keberadaan jumlah jenis vegetasi pakan, shelter, dan cover terhadap tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu, diperoleh nilai korelasi dengan korelasi tertinggi yaitu antara jumlah jenis tumbuhan pakan terhadap tingkat kemerataan jenis kupu-kupu yang memiliki nilai korelasi 0,758 dan terhadap nilai keanekaragaman jenis kupu-kupu yang memiliki nilai korelasi 0,727. Keberadaan tumbuhan shelter dan cover, memiliki korelasi tertinggi yaitu terhadap kemerataan jenis kupu-kupu dengan nilai korelasi terhadap kemerataan jenis kupu-kupu untuk tumbuhan shelter yaitu 0,659 dan untuk tumbuhan cover yaitu
29 53 0,667 (Lampiran 22). Berdasarkan hasil tersebut, terlihat bahwa faktor vegetasi yang paling berpengaruh terhadap tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu terutama yaitu keberadaan jenis tumbuhan sebagai sumber pakan. Berdasarkan penyebarannya, tipe habitat dengan variasi jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan kupu-kupu terbanyak yaitu habitat hutan dataran rendah dan terendah yaitu habitat padang-semak (Tabel 4). Dibandingkan dengan tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu di masing-masing tipe habitat, jumlah jenis tumbuhan pakan yang semakin banyak akan berpengaruh terhadap tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu yang juga akan semakin tinggi. Hal tersebut terlihat dari tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu di habitat hutan dataran rendah yang memiliki nilai paling tinggi sebesar 3,048 dibandingkan tipe habitat lainnya. Tipe habitat yang memiliki tingkat keanekaragaman terendah yaitu habitat padang-semak dengan tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu sebesar 0,657. Selain keanekaragaman jenis tumbuhan pakan yang ada, keberadaan jenis tumbuhan tertentu akan berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis kupu-kupu yang ada di masing-masing tipe habitat. Hal tersebut disebabkan jenis tumbuhan inang yang menjadi pakan larva kupu-kupu berbeda antara jenis kupu-kupu yang satu dengan jenis lainnya (Noerdjito dan Kahono 2003). Berdasarkan hasil analisis vegetasi yang dilakukan di masing-masing tipe habitat, ditemukan jenis tumbuhan pakan yang ada antara lain meliputi famili Anacardiaceae, Annonaceae, Clusiaceae, Ebenaceae, Euphorbiaceae, Fabaceae, Lauraceae, Melastomataceae, Moraceae, Myrtaceae, dan Theaceae (Tabel 5). Secara keseluruhan, kupu-kupu famili Nymphalidae merupakan famili dengan jenis kupu-kupu terbanyak yang ditemukan di seluruh tipe habitat dengan jumlah sebanyak 43 jenis kupu-kupu. Hal tersebut disebabkan jenis tumbuhan pakan kupu-kupu Nymphalidae memiliki jenis tumbuhan pakan yang bervariasi antara lain meliputi famili Anacardiaceae, Annonaceae, Ebenaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, Melastomataceae, dan Moraceae (Corbet & Pendlebury 1992; Otsuka 2001; Peggie & Amir 2006). Jenis kupu-kupu Nymphalidae yang ditemukan dan jenis tumbuhan pakannya antara lain Euploea radamanthus lowii yang menyukai jenis tumbuhan pakan dari famili Moraceae,
30 54 Euthalia iapis dan Euthalia monina indras yang menyukai jenis tumbuhan pakan dari famili Melastomataceae, Dophla evelina magama yang menyukai jenis tumbuhan pakan dari famili Anacardiaceae, Ebenaceae, dan Ephorbiaceae, dan Charaxes bernardus repetitus yang menyukai jenis tumbuhan pakan dari famili Annonaceae, Euphorbiaceae, dan Lauraceae. Selain jumlah jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan, kondisi tumbuhan yang sedang berbunga berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis kupu-kupu yang ada. Hal tersebut terlihat pada lebih tingginya tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu di Camp Ambung meskipun jumlah jenis tumbuhan pakan di Camp Ambung tidak terlalu banyak yaitu hanya sebanyak 9 jenis tumbuhan pakan. Hal tersebut terjadi karena pada saat dilakukan pengamatan di Camp Ambung terdapat tumbuhan ubar (Syzygium sp.) yang sedang berbunga sehingga menarik lebih banyak jenis kupu-kupu berkumpul di Camp Ambung. Berikut merupakan beberapa contoh jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan bagi kupu-kupu (Gambar 26). a b c d Gambar 26. Jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan bagi kupu-kupu. Keterangan : (a) Kremunting kodok (Melastoma malabathricum), (b) ubar (Syzygium sp.), (c) batibati (Syzygium zeylainca), dan (d) idat (Cratoxylon glaucum).
LAMPIRAN. Sumber : Kementerian Kehutanan BBTNGL (Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser)
129 LAMPIRAN Lampiran 1. Peta Lokasi Lokasi Penelitian Sumber : Kementerian Kehutanan BBTNGL (Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser) 130 Lampiran 2. Rekapitulasi Kupu-kupu yang Diperoleh pada Lokasi
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
38 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Habitat Kupu-Kupu Menurut Alikodra (1990) habitat merupakan suatu tempat yang digunakan oleh satwa untuk makan, minum, berlindung, bermain dan berkembangbiak. Habitat
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan selama dua bulan pengamatan dari bulan Juli hingga Agustus 2009 di Pondok Ambung, Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan
KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU PADA EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR DAN HUTAN DATARAN RENDAH DI DESA BELITANG DUA KECAMATAN BELITANG KABUPATEN SEKADAU
KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU PADA EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR DAN HUTAN DATARAN RENDAH DI DESA BELITANG DUA KECAMATAN BELITANG KABUPATEN SEKADAU Diversity of Butterfly on Freshwater Swamp Forest Ecosystem
BioLink JURNAL BIOLOGI LINGKUNGAN, INDUSTRI, KESEHATAN
BioLink Vol. 4 (1) Agustus 2017 p-issn: 2356-458x e-issn:2597-5269 BioLink JURNAL BIOLOGI LINGKUNGAN, INDUSTRI, KESEHATAN Available online http://ojs.uma.ac.id/index.php/biolink INVENTARISASI KUPU-KUPU
BAB IV METODE PENELITIAN
28 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian dilaksanakan selama satu bulan, dimulai dari bulan November- Desember 2011. Lokasi pengamatan disesuaikan dengan tipe habitat yang terdapat di
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
33 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Lokasi Penelitian Hutan Pantai Leuweung Sancang merupakan salah satu kawasan cagar alam yang dilindungi, berada di Jawa Barat tepatnya di
Kelompok Papilionidae lebih banyak aktif di siang hari untuk menghindari predator, seperti burung yang aktif pada pagi hari (Homziak & Homziak 2006).
35 PEMBAHASAN Di kawasan hutan wisata alam Gunung Meja ditemukan 113 spesies kupukupu dengan total 4049 individu. Indeks Shannon Wiener dan nilai evenness keragaman kupu-kupu di Gunung Meja, menunjukkan
2016 PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI MACAM PAKAN ALAMI TERHAD APPERTUMBUHAN D AN PERKEMBANGAN FASE LARVA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kupu-kupu merupakan satwa liar yang menarik untuk diamati karena keindahan warna dan bentuk sayapnya. Sebagai serangga, kelangsungan hidup kupu-kupu sangat
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. laboratorium alami bagi mahasiswa jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI.
33 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Lokasi Penelitian Kebun botani merupakan salah satu kawasan yang digunakan sebagai laboratorium alami bagi mahasiswa jurusan Pendidikan
LAPORAN IVENTARISASI KUPU-KUPU Di Hutan Banyuwindu, Limbangan Kabupaten Kendal
2010 LAPORAN IVENTARISASI KUPU-KUPU Di Hutan Banyuwindu, Limbangan Kabupaten Kendal Sekretariat I : Kp. Tawangsari RT 03/04 Limbangan - Kendal 51383 Sekretariat II : Jl. Pemuda No. 11B Kendal. telp : 0294
PENDAHULUAN Latar belakang
PENDAHULUAN Latar belakang Lepidoptera adalah serangga bersayap yang tubuhnya tertutupi oleh sisik (lepidos = sisik, pteron = sayap) (Kristensen 2007). Sisik pada sayap kupu-kupu mengandung pigmen yang
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU DI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA. Jenis Kegiatan : PKM Analisis Ilmiah.
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU DI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA Jenis Kegiatan : PKM Analisis Ilmiah Diusulkan oleh: Maiser Syaputra E3406302 Angkatan 2006 Raya Akbar R E34060430
KEANEKARGAMAN KUPU-KUPU DIURNAL (SUB ORDO: RHOPALOCERA) DI KOMPLEK GUNUNG BROMO KPH SURAKARTA KABUPATEN KARANGANYAR TAHUN 2013
17-147 KEANEKARGAMAN KUPU-KUPU DIURNAL (SUB ORDO: RHOPALOCERA) DI KOMPLEK GUNUNG BROMO KPH SURAKARTA KABUPATEN KARANGANYAR TAHUN 2013 The Diversity Diurnal Buterfly (Sub Ordo: Rhopalocera) Complex in The
68 Media Bina Ilmiah ISSN No
68 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 PENGUKURAN KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA) DENGAN MENGGUNAKAN METODE TIME SEARCH Oleh: Maiser Syaputra Program Studi Kehutanan Universitas Mataram Abstrak
I. PENDAHULUAN. Lampung memiliki keanekaragaman kupu-kupu yang cukup tinggi. Keanekaragaman kupu-kupu ini merupakan potensi sumber daya alam hayati
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lampung memiliki keanekaragaman kupu-kupu yang cukup tinggi. Keanekaragaman kupu-kupu ini merupakan potensi sumber daya alam hayati namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Biosaintifika 5 (1) (2013) Biosantifika. Berkala Ilmiah Biologi.
Biosaintifika 5 (1) (2013) Biosantifika Berkala Ilmiah Biologi http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/biosaintifika Keanekaragaman Jenis Kupu-Kupu Superfamili Papilionoidae di Banyuwindu, Limbangan Kendal
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian tentang karakteristik habitat Macaca nigra dilakukan di CA Tangkoko yang terletak di Kecamatan Bitung Utara, Kotamadya Bitung, Sulawesi
BAB I PENDAHULUAN. daya tarik tinggi baik untuk koleksi maupun objek penelitian adalah serangga
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan kekayaan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang tinggi. Salah satu kekayaan fauna di Indonesia yang memiliki daya tarik tinggi
KEANEKARAGAMAN DAN SEBARAN KUPU-KUPU (Lepidoptera: Rhacalopera) DI KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA SUMATERA SELATAN
KEANEKARAGAMAN DAN SEBARAN KUPU-KUPU (Lepidoptera: Rhacalopera) DI KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA SUMATERA SELATAN DISTRIBUTION AND DIVERSITY OF BUTTERFLIES (Lepidoptera: Rhopalocera) IN
Keanekaragaman kupu-kupu (Insekta: Lepidoptera) di Wana Wisata Alas Bromo, BKPH Lawu Utara, Karanganyar, Jawa Tengah
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON Volume 1, Nomor 6, September 2015 ISSN: 24078050 Halaman: 12841288 DOI: 10.13057/psnmbi/m010604 Keanekaragaman kupukupu (Insekta: Lepidoptera) di Wana Wisata Alas Bromo,
II. TINJAUAN PUSTAKA. Burung merupakan satwa yang mempunyai arti penting bagi suatu ekosistem
6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Burung Burung merupakan satwa yang mempunyai arti penting bagi suatu ekosistem maupun bagi kepentingan kehidupan manusia dan membantu penyebaran Tumbuhan yang ada disuatu kawasan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bioekologi Kupu-kupu 2.1.1 Taksonomi Kupu-kupu termasuk kedalam kelas serangga (insekta) yang memiliki ciri tubuh beruas-ruas dan memiliki tiga pasang kaki. Sebagai anggota
IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota
IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Pembentukan Taman Kupu-Kupu Gita Persada Taman Kupu-Kupu Gita Persada berlokasi di kaki Gunung Betung yang secara administratif berada di wilayah Kelurahan
Spesies Kupu-Kupu (Rhopalocera) Di Tanjung Balai Karimun Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau
35 Spesies Kupu-Kupu (Rhopalocera) Di Tanjung Balai Karimun Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau Species of butterflies (Rhopalocera) in Tanjung Balai Karimun, Karimun Regency, Riau Archipelago Nofri Sea
KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU
KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (Lepidoptera) DI PLAWNGAN KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (The Diversity of Butterflies (Lepidoptera) in Plawangan The Area Gunung Merapi National
bio.unsoed.ac.id Di dalam konsep Agrowisata, usaha pertanian unggulan dikembangkan a. Latar belakang 1. PENDAHULUA}{
Makalah pengabdian Pada Masyarakat "Penerapan Teknik Pembuatan Taman Kupu-Kupu Di Desa Serang Untuk Meningkatkan Destinasi Wisata" 2016 Design Taman Kupu-kupu di Rest Area Desa Wisata Serang, Kecamatan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kristensen et al. (2007) superfamili Papilionoidea terdiri dari lima
6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kupu-kupu Famili Nymphalidae Menurut Kristensen et al. (2007) superfamili Papilionoidea terdiri dari lima famili, yaitu Papilionidae, Pieridae, Riodinidae, Lycaenidae dan Nymphalidae.
Analisis Keanekaan dan Kekerabatan Kupu-Kupu Cagar Alam Leuweung Sancang Berdasarkan Karakter Morfologi
Analisis Keanekaan dan Kekerabatan Kupu-Kupu Cagar Alam Leuweung Sancang Berdasarkan Karakter Morfologi Cindy Hervina, Mirda Sylvia, Annisa*, Hikmat Kasmara, Nurullia Fitriani Departemen Biologi, Universitas
II.TINJAUAN PUSTAKA. Mamalia lebih dikenal dari pada burung (Whitten et al, 1999). Walaupun
II.TINJAUAN PUSTAKA A. Burung Mamalia lebih dikenal dari pada burung (Whitten et al, 1999). Walaupun demikian burung adalah satwa yang dapat ditemui dimana saja sehingga keberadaanya sangat sulit dipisahkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Meidita Aulia Danus, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Lepidoptera merupakan salah satu ordo dari ClassisInsecta(Hadi et al., 2009). Di alam, lepidoptera terbagi menjadi dua yaitu kupu-kupu (butterfly) dan ngengat
KERAGAMAN KUPU-KUPU DI TAMAN WISATA ALAM BANING SINTANG. Hilda Aqua Kusuma Wardhani 1 Abdul Muis 2 1. Staf Pengajar FKIP Universitas Kapuas Sintang 2
ISSN 2580-5703 KERAGAMAN KUPU-KUPU DI TAMAN WISATA ALAM BANING SINTANG Hilda Aqua Kusuma Wardhani 1 Abdul Muis 2 1 Staf Pengajar FKIP Universitas Kapuas Sintang 2 Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Univrsitas
TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Morfologi Kupu-kupu
TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Morfologi Kupu-kupu Kupu-kupu termasuk ordo Lepidoptera, kelas Insekta yang dicirikan dengan sayap tertutup oleh sisik. Ordo Lepidoptera mempunyai 47 superfamili, salah
4 KARAKTERISTIK SUMBER DAYA KUPU-KUPU (Lepidoptera) YANG DIMANFAATKAN SECARA KOMERSIAL
KARAKTERISTIK SUMBER DAYA KUPU-KUPU (Lepidoptera) YANG DIMANFAATKAN SECARA KOMERSIAL. Kupu-Kupu Hasil Tangkapan Pengamatan hasil tangkapan kupu-kupu meliputi jumlah individu setiap jenis dan rasio kelamin.
SEKILAS KUPU-KUPU DI TAMAN HUTAN BANTIMURUNG. A. Letak Geografis Taman Bantimurung
SEKILAS KUPU-KUPU DI TAMAN HUTAN BANTIMURUNG A. Letak Geografis Taman Bantimurung Luas taman hutan Bantimurung adalah 43.700 hektar, terletak pada 119 o. 34 119 o.55 BT dsn 4 o.42 5 o. 06 LS. Di tahun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Herlin Nur Fitri, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diversitas atau keanekaragaman makhluk hidup termasuk salah satu sumber daya lingkungan dan memberi peranan yang penting dalam kestabilan lingkungan. Semakin tinggi
BAB III METODE PENELITIAN
26 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitan ini adalah penelitian deskriptif. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode yang dilakukan dengandesain tujuan utama untuk membuat
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN A. Pembatasan Masalah Penelitian Keanekaragaman Jenis Burung di Berbagai Tipe Daerah Tepi (Edges) Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim Propinsi Riau selama 6 bulan adalah untuk
Di Area Kampus Binawidya Universitas Riau. Yustina 1
Keanekaragaman Dan Distribusi Kupu-kupu (Subordo Rhopalocera) Di Area Kampus Binawidya Universitas Riau Yustina 1 1 Laboratorium Zoologi FKIP Universitas Riau Abstrak Telah dilakukan penelitian keanekaragaman
I. PENDAHULUAN. mudah dikenali oleh setiap orang. Seperti serangga lainnya, kupu-kupu juga mengalami
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kupu-kupu merupakan serangga yang memiliki keindahan warna dan bentuk sayap sehingga mudah dikenali oleh setiap orang. Seperti serangga lainnya, kupu-kupu juga mengalami
Biosaintifika 5 (2) (2013) Biosaintifika. Journal of Biology & Biology Education.
Biosaintifika 5 (2) (2013) Biosaintifika Journal of Biology & Biology Education http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/biosaintifika KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU DI TAMAN KEHATI UNNES Bambang Priyono,
Individu Populasi Komunitas Ekosistem Biosfer
Ekosistem adalah kesatuan interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem juga dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik yang komplek antara organisme dengan lingkungannya. Ilmu yang
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ruang Terbuka Hijau di Yogyakarta Open space atau ruang terbuka menurut William, et al. (1969), merupakan suatu daerah hijau yang relatif tidak berkembang dan disediakan dalam suatu
9-074 ANALISIS TIPOLOGI LEPIDOPTERA BERDASARKAN OBSERVASI HABITAT DI KAWASAN HUTAN LINDUNG NUSAKAMBANGAN, CILACAP, JAWA TENGAH
9-074 ANALISIS TIPOLOGI LEPIDOPTERA BERDASARKAN OBSERVASI HABITAT DI KAWASAN HUTAN LINDUNG NUSAKAMBANGAN, CILACAP, JAWA TENGAH Typology Analysis of Lepidoptera Based on Habitat Observation on Protected
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
JENIS-JENIS KUPU-KUPU DI SUAKA ELANG TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK, BOGOR ( Butterflies in Suaka Elang Mount Halimun Salak National Park, Bogor)
JENIS-JENIS KUPU-KUPU DI SUAKA ELANG TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK, BOGOR ( Butterflies in Suaka Elang Mount Halimun Salak National Park, Bogor) Nopi Rianti Suryani 1, Moerfiah 2, Rouland Ibnu Darda
Keanekaragaman kupu-kupu (Lepidoptera) di kawasan Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON Volume 1, Nomor 8, Desember 2015 ISSN: 2407-8050 Halaman: 1816-1820 DOI: 10.13057/psnmbi/m010811 Keanekaragaman kupu-kupu (Lepidoptera) di kawasan Desa Pasirlangu, Kecamatan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Arboretum Nyaru Menteng, (Gambar 4.6). Adapun deskripsinya sebagai berikut:
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian Penangkapan kupu-kupu dilakukan pada empat lokasi yang berbeda, di kawasan Arboretum Nyaru Menteng, (Gambar 4.6). Adapun deskripsinya sebagai
JENIS KUPU-KUPU DI BERBAGAI TIPE HABITAT PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG AMBAWANG DESA SUNGAI DERAS KECAMATAN TELUK PAKEDAI KABUPATEN KUBU RAYA
JENIS KUPU-KUPU DI BERBAGAI TIPE HABITAT PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG AMBAWANG DESA SUNGAI DERAS KECAMATAN TELUK PAKEDAI KABUPATEN KUBU RAYA Aryf Rahman, Siti Masitoh Kartikawati, Slamet Rifanjani Fakultas
KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU DI KAWASAN AIR TERJUN BERTINGKAT DESA LANNA KECAMATAN PARANGLOE KABUPATEN GOWA
KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU DI KAWASAN AIR TERJUN BERTINGKAT DESA LANNA KECAMATAN PARANGLOE KABUPATEN GOWA Rahmatullah*, Syahribulan*, Suhadiyah*, Umar* *Alamat koresponden e-mail : [email protected]
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bogor merupakan kota yang terus berkembang serta mengalami peningkatan jumlah penduduk dan luas lahan terbangun sehingga menyebabkan terjadinya penurunan luas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
56 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi penelitian Penangkapan kupu-kupu dilakukan pada empat Lokasi yang berbeda, di kawasan Hutan Dalit Desa Benao Hulu Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito
I. PENDAHULUAN. Amfibi merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem yang memiliki
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Amfibi merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem yang memiliki peranan sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, amfibi berperan sebagai
SUSUNAN ACARA SEMINAR NASIONAL BIOLOGI 2010 Fakultas Biologi UGM, September JUM AT, 24 SEPTEMBER 2010 Waktu Acara Tempat
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI 2010 Perspektif Biologi dalam Pengelolaan Sumberdaya Hayati Dalam Rangka Lustrum XI Fakultas Biologi UGM Sekaligus Menghantarkan Purna Tugas bagi Prof. Dr. Jusup Subagja, M.Sc.,
TINJAUAN PUSTAKA. A. Karakteristik dan Klasifikasi Kupu-Kupu Klasifikasi kupu-kupu menurut Scobel (1995) adalah sebagai berikut :
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Karakteristik dan Klasifikasi Kupu-Kupu Klasifikasi kupu-kupu menurut Scobel (1995) adalah sebagai berikut : Kerajaan Filum Kelas Bangsa : Animalia : Arthropoda : Insecta : Lepidoptera
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Kupu-kupu Menurut Borror dkk (1992) klasifikasi kupu-kupu adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Kelas : Insekta Subkelas : Pterygota
INVENTARISASI KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA: RHOPALOCERA) DI RESORT PANCUR KAWASAN TAMAN NASIONAL ALAS PURWO (TNAP) BANYUWANGI JAWA TIMUR SKRIPSI.
INVENTARISASI KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA: RHOPALOCERA) DI RESORT PANCUR KAWASAN TAMAN NASIONAL ALAS PURWO (TNAP) BANYUWANGI JAWA TIMUR SKRIPSI Oleh Erfan Budiarto NIM 101810401049 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Burung Burung merupakan salah satu satwa yang mudah dijumpai di setiap tempat dan mempunyai posisi yang penting sebagai salah satu kekayaan alam di Indonesia. Jenisnya
ABSTRAK KEMELIMPAHAN DAN POLA DISTRIBUSI KUPU-KUPU DI TEPIAN SUNGAI KAPUAS KELURAHAN SELAT TENGAH KECAMATAN SELAT KABUPATEN KAPUAS.
ABSTRAK KEMELIMPAHAN DAN POLA DISTRIBUSI KUPU-KUPU DI TEPIAN SUNGAI KAPUAS KELURAHAN SELAT TENGAH KECAMATAN SELAT KABUPATEN KAPUAS Oleh: Sulistio Serangga dewasa mudah dikenal karena seluruh badan dan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi Klasifikasi ilmiah dari Katak Pohon Bergaris (P. Leucomystax Gravenhorst 1829 ) menurut Irawan (2008) adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia, Phyllum: Chordata,
Inventarisasi Jenis Kupu-kupu pada Hutan Kerangas di Kawasan Cagar Alam Mandor Kabupaten Landak
Protobiont (205) Vol. 4 () : 260265 Inventarisasi Jenis Kupukupu pada Hutan Kerangas di Kawasan Cagar Alam Mandor Kabupaten Landak Margareta Florida, Tri Rima Setyawati, Ari Hepi Yanti Program Studi Biologi,
keadaan seimbang (Soerianegara dan Indrawan, 1998).
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Suksesi dan Restorasi Hutan Hutan merupakan masyarakat tumbuh-tumbuhan yang di dominasi oleh pepohonan. Masyarakat hutan merupakan masyarakat tumbuh-tumbuhan yang hidup dan tumbuh
KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU DI TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG. (Butterfly diversities in Bantimurung Bulusaraung National Park)
Media Konservasi Vol. 18, No. 2 Agustus 2013 : 63 68 KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU DI TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG (Butterfly diversities in Bantimurung Bulusaraung National Park) ABDUL HARIS MUSTARI
KOMPOSISI KUPU-KUPU PAPILIONIDAE DI KAWASAN CAGAR ALAM LEMBAH HARAU KABUPATEN LIMA PULUH KOTA SUMATERA BARAT ARTIKEL ILMIAH
KOMPOSISI KUPU-KUPU PAPILIONIDAE DI KAWASAN CAGAR ALAM LEMBAH HARAU KABUPATEN LIMA PULUH KOTA SUMATERA BARAT ARTIKEL ILMIAH ELSA MAYASARI NIM. 11010276 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI SEKOLAH TINGGI KEGURUAN
TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Biodiversitas Ekologi Kupu-kupu Superfamili Papilionoidea
20 TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Biodiversitas Biodiversitas atau keanekaragaman hayati merupakan suatu istilah yang mencakup pada kelimpahan spesies, komposisi genetik, komunitas, dan ekosistem. Biodiversitas
STUDI KEANEKARAGAMAN MAMALIA PADA BEBERAPA TIPE HABITAT DI STASIUN PENELITIAN PONDOK AMBUNG TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING KALIMANTAN TENGAH
STUDI KEANEKARAGAMAN MAMALIA PADA BEBERAPA TIPE HABITAT DI STASIUN PENELITIAN PONDOK AMBUNG TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING KALIMANTAN TENGAH (Study Of Mammals Diversity in Several Habitat Types in Pondok
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bio-ekologi Ungko (Hylobates agilis) dan Siamang (Symphalangus syndactylus) 2.1.1 Klasifikasi Ungko (Hylobates agilis) dan siamang (Symphalangus syndactylus) merupakan jenis
Jurnal Biology Education Vol. 4 No. 1 April 2015
INVENTARISASI JENIS LEPIDOPTERA SEBAGAI BAHAN AJAR KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP IPA SMP DI KAWASAN HUTAN KOTA BNI KOTA BANDA ACEH Oleh : 1 Musriadi 2 Mauliza 1 Dosen Program Studi Pendidikan Biologi Universitas
BAB I PENDAHULUAN. dan perubahan secara terus-menerus. Maka dari itu, setiap manusia harus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Alam yang diciptakan Allah SWT ini sungguh penuh rahasia, rahasia tersebut hanya dapat diketahui dengan ilmu, karena ilmu tiada tepinya. Kehidupan di ibaratkan sebuah
ASAS- ASAS DAN KONSEP KONSEP TENTANG ORGANISASI PADA TARAF KOMUNITAS
KOMUNITAS ASAS- ASAS DAN KONSEP KONSEP TENTANG ORGANISASI PADA TARAF KOMUNITAS KONSEP KOMUNITAS BIOTIK Komunitas biotik adalah kumpulan populasi yang menempati suatu habitat dan terorganisasi sedemikian
BAB III METODE PENELITIAN
11 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ekologi perilaku ayam hutan hijau (Gallus varius) dilaksanakan di hutan musim Tanjung Gelap dan savana Semenanjung Prapat Agung kawasan Taman
Lampiran 1 Jumlah individu per jenis kelamin spesies kupu-kupu hasil tangkapan berdasarkan famili di lokasi penelitian
LAMPIRAN 87 Lampiran 1 Jumlah individu per jenis kelamin spesies kupu-kupu hasil tangkapan berdasarkan famili di lokasi penelitian No Famili Spesies Individu Jantan Betina Jumlah 1 Lycaenidae Arhopala
BAB II KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN KUPU-KUPU
BAB II KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN KUPU-KUPU A. Keanekaragaman Keanekaragaman diartikan sebagai jumlah total spesies dalam suatu area tertentu atau dapat dijelaskan juga sebagai jumlah spesies yang terdapat
BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2017 hingga bulan Februari
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian BAB III METODELOGI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2017 hingga bulan Februari 2017 yang berada di Resort Bandealit, SPTN Wilayah II, Taman Nasional
BAB I PENDAHULUAN. berbagai kegiatan yang mengancam eksistensi kawasan konservasi (khususnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia dan kawasan konservasi memiliki korelasi yang kuat. Suatu kawasan konservasi memiliki fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial sedangkan manusia memiliki peran
Jurnal MIPA 35 (1) (2012) Jurnal MIPA.
Jurnal MIPA 35 (1) (2012) Jurnal MIPA http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jm KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU SUPERFAMILI PAPILIONOIDAE DI DUKUH BANYUWINDU DESA LIMBANGAN KECAMATAN LIMBANGAN KABUPATEN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tumbuhan Herba Herba adalah semua tumbuhan yang tingginya sampai dua meter, kecuali permudaan pohon atau seedling, sapling dan tumbuhan tingkat rendah biasanya banyak ditemukan
BAB I PENDAHULUAN. sebesar jenis flora dan fauna (Rahmawaty, 2004). Keanekaragaman
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang mendapat sebutan Mega Biodiversity setelah Brazil dan Madagaskar. Diperkirakan 25% aneka spesies dunia berada di Indonesia,
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1. Waktu dan Tempat BAB IV METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang terfokus di Desa Tompobulu dan kawasan hutan sekitarnya. Penelitian dilaksanakan
INVENTARISASI JENIS KUPU-KUPU DI AREAL ARBORETUM POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA. Oleh HABIB SADEWO AHMAD NIM
INVENTARISASI JENIS KUPU-KUPU DI AREAL ARBORETUM POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA Oleh HABIB SADEWO AHMAD NIM. 080 500 009 PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN
BAB I PENDAHULUAN. hayati memiliki potensi menjadi sumber pangan, papan, sandang, obat-obatan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Keanekaragaman hayati di suatu negara memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Keanekaragaman hayati merupakan sumber penghidupan dan kelangsungan
I. PENDAHULUAN. hutan dapat dipandang sebagai suatu sistem ekologi atau ekosistem yang sangat. berguna bagi manusia (Soerianegara dan Indrawan. 2005).
I. PENDAHULUAN Hutan adalah masyarakat tetumbuhan dan hewan yang hidup di lapisan permukaan tanah yang terletak pada suatu kawasan, serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan ' Dari penelitian ini disimpulkan antara lain: "
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ' i Dari penelitian ini disimpulkan antara lain: " Kemsakan hutan rawa gambut di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu dipengaruhi secara langsung oleh adanya
I. PENDAHULUAN. (Sujatnika, Joseph, Soehartono, Crosby, dan Mardiastuti, 1995). Kekayaan jenis
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki 1539 spesies burung atau 17 persen dari jumlah seluruh spesies burung dunia, 381 spesies diantaranya merupakan spesies endemik (Sujatnika, Joseph, Soehartono,
METODE A. Waktu dan Tempat Penelitian
11 METODE A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan dari bulan Januari sampai Juni 2009. Pengamatan serangga dilakukan di dua lokasi, yaitu pada pertanaman H. multifora di lingkungan Kampus Institut
Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak
Vol. 2 (1): 1 6 Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak Gustap Baloari 1, Riza Linda 1, Mukarlina 1 1 Program Studi Biologi, Fakultas
I. PENDAHULUAN. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Taman hutan raya merupakan kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam suatu komunitas atau ekosistem tertentu (Indriyanto, 2006). Relung ekologi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Relung Ekologi Relung (niche) menunjukkan peranan fungsional dan posisi suatu organisme dalam suatu komunitas atau ekosistem tertentu (Indriyanto, 2006). Relung ekologi juga
Pembahasan Video :http://stream.primemobile.co.id:1935/testvod/_definst_/smil:semester 2/SMP/Kelas 7/BIOLOGI/BAB 11/BIO smil/manifest.
SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 7. Gejala Alam Biotik Dan AbiotikLATIHAN SOAL BAB 7 1. Melakukan percobaan dalam metode ilmiah disebut dengan Eksperimen Observasi Hipotesis Prediksi Kunci Jawaban : B Pembahasan
KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU (Subordo Rhopalocera) DI KAWASAN WISATA HAPANASAN ROKAN HULU SEBAGAI SUMBER BELAJAR PADA KONSEP KEANEKARAGAMAN HAYATI
KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU (Subordo Rhopalocera) DI KAWASAN WISATA HAPANASAN ROKAN HULU SEBAGAI SUMBER BELAJAR PADA KONSEP KEANEKARAGAMAN HAYATI Elya Febrita, Yustina dan Dahmania Program Studi Pendidikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Revegetasi di Lahan Bekas Tambang Setiadi (2006) menyatakan bahwa model revegetasi dalam rehabilitasi lahan yang terdegradasi terdiri dari beberapa model antara lain restorasi
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
10 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka Dalam rangka memecahkan masalah yang akan diteliti, maka penulis mengemukakan beberapa pendapat ahli yang berkaitan dengan penelitian ini
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bioekologi Kupu-kupu Troides helena (Linn.) Database CITES (Convention on International Trade of Endangered Spesies of Wild Flora and Fauna) 2008 menyebutkan bahwa jenis ini termasuk
1. Pendahuluan KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU DI WILAYAH PEMUKIMAN DESA PANGANDARAN CIAMIS JAWA BARAT
Ethos (Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat): 48-54 KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU DI WILAYAH PEMUKIMAN DESA PANGANDARAN CIAMIS JAWA BARAT THE BUTTERFLIES DIVERSITY IN SETTLEMENT REGION OF THE PANGANDARAN
Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No. 1 Maret 2015 ISSN E-ISSN Berkala Ilmiah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kehutanan DAFTAR ISI
Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No. 1 Maret 2015 ISSN 2337-7771 E-ISSN 2337-7992 Berkala Ilmiah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kehutanan DAFTAR ISI ANALISIS KECUKUPAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA SANGATTA,
I. PENDAHULUAN. Semua lahan basah diperkirakan menutupi lebih dari 20% luas daratan Indonesia
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai lahan basah paling luas dan paling beragam di Asia Tenggara, meliputi lahan basah alami seperti hutan rawa, danau,
Biodiversitas kupu-kupu superfamili Papilionoidea (LEPIDOPTERA) di Hutan Kota Arboretum Wanawisata Pramuka Cibubur, Jakarta
ISBN 9499 BioETI Biodiversitas kupukupu superfamili Papilionoidea (LEPIDOPTERA) di Hutan Kota Arboretum Wanawisata Pramuka Cibubur, Jakarta HASNI RUSLAN DAN DWI ANDAYANINGSIH Fakultas Biologi, Universitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kupu-kupu merupakan salah satu kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia dan harus dijaga kelestariannya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman jenisnya.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Habitat 2.2 Komunitas Burung
5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Habitat Habitat adalah kawasan yang terdiri dari berbagai komponen baik fisik maupun biotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembang
