BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
|
|
|
- Sonny Wibowo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Sajian pemberitaan media oleh para wartawan narasumber penelitian ini merepresentasikan pemahaman mereka terhadap reputasi lingkungan sosial dan budaya Kota Yogyakarta. Pemahaman mereka tercermin dalam konstruksi pemberitaan yang dibuat. Konstruksi pemberitaan ini merupakan evaluasi terhadap lingkungan sosial dan budaya Kota Yogyakarta. Dalam pemahaman para wartawan, Kota Yogyakarta didefinisikan sebagai kota yang kaya akan acara budaya, seni dan pariwisata bahkan peristiwa sosial, politik dan bisnis, sehingga menurut mereka Kota Yogyakarta sebagai kota sumber berita memiliki citra yang kaya di media. Hal ini berimplikasi pada penggambaran posisi Kota Yogyakarta dalam kompetisi nasional dan internasional. Kota Yogyakarta dengan kekuatan karakteristik nilai-nilai sosial budaya yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakatnya telah membentuk identitas dan citranya yang selaras. Hal itu menjadi aset yang berharga, unik dan menjadi sumberdaya yang tidak dapat ditiru dalam membentuk pemahaman reputasi di kalangan pemangku kepentingan. Reputasi berakar dari perilaku dan sejarah, begitu pula bagi Kota Yogyakarta, dimana kekuatan reputasinya berawal dari sejarah panjang sebagai sebuah kota kerajaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa reputasi Kota Yogyakarta yang disajikan dari pemahaman para wartawan menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi dan budaya adiluhung yang tertanam dalam kehidupan sosial masyarakat Kota Yogyakarta sejak ratusan tahun telah membentuk reputasi sebagai kota yang berkarakter kuat. Wartawan juga memandang bahwa Kota Yogyakarta merupakan aset bagi bangsa Indonesia yang mempunyai nilai sejarah dan budaya sangat tinggi. Reputasi sebuah kota memiliki dampak langsung dan terukur terhadap aspek keterlibatannya dengan negara-negara lain, dan juga memainkan peranan penting dalam kemajuan 176
2 ekonomi politik sosial dan budaya. Kehidupan tradisi sosial maupun budaya masyarakat Yogyakarta yang menyimpan nilai-nilai filosofis seyogyanya terus dipelihara dan dijaga sehingga akan mampu menjadi pilar reputasi bagi bangsa Indonesia. Semua pemerintah di era globalisasi saat ini memiliki tanggungjawab yang besar bahwa reputasi bangsa merupakan aset yang sangat berharga bagi rakyatnya. Tugas pemerintah saat ini adalah menyerahkan reputasi yang baik kepada penerusnya. Begitu pula harus mampu menjaga reputasi yang baik setidaknya sebaik ketika menerima dari pendahulunya, dan memperbaikinya untuk generasi yang akan datang. Tugas memperkaya reputasi kota harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan tujuan yang jelas. Kebijakan pemerintah baik yang secara langsung mempengaruhi, ataupun kebijakan lokal yang menarik perhatian media massa nasional/internasional juga akan berpengaruh besar terhadap persepsi masyarakat akan reputasi sebuah kota. Begitupula terhadap penataan tata ruang dan planologi kota seyogyanya disesuaikan dengan esensi filosofi yang mendasari pembentukan Kota Yogyakarta pada awal berdirinya kota ini. Sehingga citra Kota Yogyakarta sebagai kota berbasis tradisi dan budaya yang kuat akan tetap terjaga. Wartawan melihat Kota Yogyakarta memiliki banyak predikat yang melekat sebagai kota budaya, kota pendidikan, kota perjuangan dan lainnya, dimana hal itu menjadi identitas kompetitif yang dapat dikembangkan lebih lanjut dan dapat dijadikan peluang untuk dimanfaatkan dalam proses pembangunan ke depan. Sehingga akan tercapai masyarakat yang maju dengan tata nilai budaya yang berakar pada nilai-nilai sendiri. Kepercayaan merupakan daya tarik yang efektif untuk keberhasilan reputasi sebuah kota. Begitu pula bagi Kota Yogyakarta, eksistensinya berada diantara banyak kelompok kepentingan dan publik strategis. Untuk itu diperlukan peran komunikasi yang kuat untuk membentengi Kota Yogyakarta dan memastikan bahwa identitas, citra dan reputasi mendapatkan tempat terbaik di mata pemangku kepentingan. Peran 177
3 komunikasi dalam manajemen reputasi berfokus pada pesan dan program bersama pemangku kepentingan eksternal untuk membangun kepercayaan dan reputasi. Bagi sebuah kota yang merupakan organisasi non profit, tujuan akhir yang akan dicapai adalah kepercayaan publik. Oleh karena itu, sebaiknya komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan merubah cara dari yang reaktif dan responsive menjadi lebih strategis dan proaktif. Setiap kota di dunia bergantung pada nama baik untuk mencapai tujuan-tujuan globalnya. Nama baik terbukti telah mampu mempengaruhi keputusan konsumen pada suatu wilayah. Hal itu akan mempengaruhi keputusan-keputusan lain yang lebih besar. Produsen akan memutuskan dimana akan membangun pabrik. Pemerintah akan memutuskan alokasi anggarannya. Wisatawan akan memutuskan dimana mereka berlibur. Badan olahraga internasional akan memutuskan lokasi penyelenggaraan acara (Anholt, 2007). Tentusaja hal ini akan mendorong tumbuhnya perekonomian suatu wilayah. Sehingga dapat ditarik argumen bahwa reputasi wilayah yang positif akan mampu mendorong tumbuhnya perekonomian dan kesejahteraan wilayah. Prestasi pribadi orang juga akan berpengaruh terhadap reputasi nasional sebuah kota. Bagaimana perilaku orang-orang dari kota tersebut, baik pada mereka yang memiliki profil terkenal: pejabat, bintang olahraga, seniman, ilmuwan, dll. Maupun bagaimana perilaku masyarakat secara sosial dan budaya termasuk bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang datang akan membentuk pemahaman terhadap reputasi sebuah kota. Tindakan dan upaya dari warga masyarakat tersebut berkontribusi besar terhadap kuatnya bangunan bangunan reputasi kotanya. Sebuah kota punya pilihan untuk bagaimana memilih cara dalam menjual kotanya (place branding). Citra dan reputasi sebuah kota memang dapat ditingkatkan melalui program-program kampanye periklanan di media massa, tetapi hal itu tentunya harus diikuti dengan peningkatan kualitas produk -nya. Sebuah kota yang baik haruslah terobsesi pada pengembangan produk yang lebih baik. Kota juga harus mampu menemukan cara yang lebih efektif agar menarik perhatian orang untuk 178
4 membeli produknya, sehingga orang akan memiliki keinginan membeli karena produk itu lebih baik. Cara meningkatkan reputasi kota memang salah satunya dapat dilakukan melalui promosi media. Namun media hanyalah pembawa cerita bukan sebagai sebuah upaya untuk mendapatkan reputasi yang baik. Hanya nilai-nilai dasar sebuah kota yang akan menjadi akar reputasi yang baik. Program kampanye di media massa tanpa dibarengi dengan peningkatan kualitas hanya akan menjadi pedang bermata dua. Ketika sebuah kota memiliki stereotip yang jelas, sederhana dan baik, media masa akan lebih nyaman untuk melakukan kegiatannya di kota tersebut. Hal ini berarti pula pemberitaan terhadap kota akan lebih teratur. Sebuah kota yang memiliki citra kurang kuat dimungkinkan akan menemukan cakupan media yang juga kurang kuat. Karena cerita-cerita yang kuat juga membutuhkan dukungan karakter yang juga kuat. Kota yang dipahami lemah akan ditinggalkan oleh media massa. Media sebagai pembawa cerita disokong oleh peran wartawan dalam mengkonstruksi realita melalui cakupan pemberitaannya. Media mampu mencerminkan realitas lingkungan sosial dan budaya Kota Yogyakarta. Media juga merupakan agen aktif pembentuk informasi melalui editorial maupun fitur-fitur artikelnya. Sirkulasi informasi melalui media masa cenderung cepat dan luas sehingga konstruksi reputasi sosial dan budaya Kota Yogyakarta berlangsung dengan sangat cepat dan sebarannya merata. Realitas yang terkonstruksi itu juga membentuk opini massa. Sehingga pemberitaan yang dikonstruksi wartawan dan ditampilkan media menjadi wacana publik yang berpengaruh terhadap reputasi Kota Yogyakarta. Kemampuan sebuah kota untuk berinteraksi secara efektif dan menguntungkan dengan kota atau wilayah lain sangat bergantung pada citra dan reputasinya. Jika sebuah kota memiliki citra yang baik, semuanya akan mudah. Jika memiliki citra buruk atau lemah semuanya akan dua kali lebih sulit dan memakan biaya lebih banyak. Namun begitu pada dasarnya identitas dan citra sebuah kota adalah perpanjangan dari identitas dan citra diri dari para penghuninya. Hal itu kecenderungan alam dari orang-orang ketika mengidentifikasi diri dengan kota 179
5 mereka. Identitas diri orang-orang tidak dibatasi pada tubuhnya saja, tetapi ia akan meluas keluar pada keluarga, lingkungan hingga kota. Begitu pula dengan identitas dan citra orang Yogyakarta yang dikenal ramah, lemah lembut, akan dipahami meluas menjadi identitas dan citra kotanya. Sebaliknya, prestise nasional kota akan memberikan keuntungan langsung terhadap prestise pribadi. Rasa malu nasional melumpuhkan kemajuan pribadi dan identitas pribadi terkait dengan rasa memiliki, tentang dari mana anda datang dan dimana anda memilih tempat untuk hidup. Reputasi yang kuat dan positif sangat penting untuk mempermudah urusan bisnis, menarik bakat, modal, dan pengunjung, serta mendukung pemerintah dalam keterlibatan di panggung internasional. Begitu pula diplomasi kota juga akan memainkan peran penting dalam hubungan internasional di tahun-tahun mendatang. Keberadaan banyak wartawan media lokal, nasional maupun internasional di Kota Yogyakarta menjadi daya dukung penting untuk membentuk persepsi dunia terhadap citra dan reputasi Kota Yogyakarta. Media massa adalah salah satu sarana utama dimana informasi disebarkan. Representasi media memainkan peran penting dalam membentuk citra dan reputasi kota. Persepsi kota dipengaruhi oleh cara dimana mereka diwakili oleh media. Semakin besar dan luas jumlah cakupan pemberitaan, maka akan membawa kesadaran publik yang lebih besar dan luas pula. Oleh karena itu banyaknya wartawan internasional di Kota Yogyakarta akan memainkan peran penting dalam merepresentasikan citra dan reputasi pada pemangku kepentingan di lingkup internasional. Hal ini menjadi bagian dari soft power bagi Kota Yogyakarta untuk memenangkan citra dan reputasinya di mata dunia. Posisi Kota Yogyakarta yang dianggap memiliki nilai berita bagi wartawan dan media internasional seyogyanya terus dipertahankan dan lebih dikembangkan. Hal ini adalah pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Yogyakarta. Pemerintah Kota Yogyakarta juga perlu menempuh kebijakan yang efisien untuk untuk memberikan peluang tumbuhnya citra dan reputasi positif terhadap Kota Yogyakarta. Kebijakan yang ditetapkan berwawasan visi jangka panjang yang 180
6 inspiratif, melalui kepemimpinan yang baik, reformasi sosial ekonomi dan budaya, peningkatan integritas untuk mencapai tujuan terbentuknya kota yang bereputasi kuat. Melalui kegiatan budaya yang dikomunikasikan juga dapat membentuk reputasi terhadap sebuah kota. Begitupula terhadap karya-karya seni, prestasi olahraga, film, musik, dan produk budaya. Reputasi sebuah kota juga dapat berasal dari pariwisata, yaitu pengalaman pertama orang-orang yang datang melancong baik sebagai turis maupun dalam rangka bisnis. Berbagai merek dari produk asli juga bertindak sebagai duta yang kuat bagi citra setiap kota di mata pemangku kepentingan. Jika konsumen tidak tahu darimana produk yang digunakan berasal, hal itu tidak akan dapat mempengaruhi perasaan mereka terhadap sebuah kota. Terbangunnya reputasi positif Kota Yogyakarta akan semakin mendekatkan pada cita-citanya untuk menjadikan Yogyakarta sebagai kota modern yang tertata rapi, menjadi tempat hunian yang layak dan manusiawi, memiliki masyarakat yang berkebudayaan dan dengan pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik. Tampaknya faktor pembentuk reputasi Kota Yogyakarta tidak jauh berbeda dengan Kota Vienna yang menyandang the most reputable city Reputasi didorong Kota Vienna dan Kota Yogyakarta sama-sama didorong oleh oleh kekayaan sejarah masa silam. Vienna dan Yogyakarta memiliki kekayaan warisan kerajaan yang mengesankan sebagai kota bersejarah dunia. Tidak berbeda jauh dengan Yogyakarta, Kota Vienna memiliki citra pendorong reputasi berakar dari keberadaan Istana Schönbrunn, Ringstrasse, dan Imperial Palace. B. Saran/Rekomendasi Peran Pemerintah Kota Yogyakarta sangat penting untuk dapat melestarikan tradisi budaya yang unik ini sebagai sebuah asset reputasi. Para pemimpin perlu meningkatkan kesadarannya bahwa sebagai asset tak berwujud, reputasi sebuah kota akan memainkan peran penting dalam percaturan persaingan 181
7 perekonomian dunia. Mereka perlu mengidentifikasi lebih lanjut, mengembangkan keunikan dari budaya ini sebagi potensi untuk masa depan. Pemerintah perlu memiliki kesadaran bahwa kota, wilayah ataupun Negara harus menggunakan cara baru yang lebih kreatif untuk memandang identitasnya. Mereka juga perlu mengembangkan strategi untuk meningkatkan daya saing jika ingin memenangkan persaingan global dalam tatanan dunia baru. Oleh karena itu sangat disarankan kepada pengelola Kota Yogyakarta untuk memahami bagaimana soft power bekerja. Pemerintah setempat perlu untuk mengupayakan manajemen reputasi menjadi bagian dari kerangka kerja daerah. Tanggung jawab ini dapat dipercayakan kepada lembaga/badan kehumasan daerah untuk dapat menjamin pemenuhan semua tugas dan mengkoordinasikan secara tepat. Tugas penting diantaranya adalah penguatan penyelenggaraan komunikasi publik melalui penguatan hubungan masyarakat dan media massa, pengembangan issue strategis dan opini publik serta peningkatan kapasitas komunikasi publik yang bertujuan untuk membentuk pemahaman para pemangku kepentingan terhadap reputasi positif Kota Yogyakarta. Selain itu juga diperlukan perumusan kebijakan komunikasi publik yang berpihak pada faktor pendorong peningkatan reputasi positif. Kota Yogyakarta dengan luas wilayah yang sangat terbatas tidak memiliki kekayaan alam yang menyuguhkan pemandangan indah. Untuk itu para pengambil kebijakan kota sebaiknya mampu menggantinya dengan memperhatikan kualitas pelayanan yang baik. Para pengambil kebijakan harus mampu mendorong seluruh lembaga pemerintah, bisnis, pariwisata dan warga masyarakat luas untuk memiliki ketrampilan yang baik dalam melakukan pelayanan kepada siapapun yang datang ke Kota Yogyakarta. Hal ini telah berhasil dilakukan oleh negara kota Singapura melalui program Go to Extra 182
8 Mile for Services. Pemerintah Singapura sangat memperhatikan kualitas pelayanan untuk menciptakan industri yang berorientasi pada pelayanan. Persepsi bahwa kegiatan komunikasi dalam rangka peningkatan reputasi adalah tanggungjawab pemerintah saja, itu perlu diluruskan. Seyogyanya peningkatan reputasi sebuah kota adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat luas para pemangku kepentingan. Untuk itu diperlukan semacam panduan (SOP) kegiatan komunikasi dalam rangka peningkatan reputasi kota. Reputasi yang dibentuk oleh media bersifat kompleks, merupakan sumber daya yang langka, sangat berharga, tidak dapat ditiru dan tidak dapat digantikan. Oleh karena itu seyogyanya Pemerintah Kota Yogyakarta harus terus berusaha untuk menumbuhkan evaluasi positif oleh media dalam membentuk bangunan reputasi kota. Hal ini bukan saja dilakukan melalui upaya kehumasan yang profesional, namun juga harus dilakukan melalui tindakan nyata yang menyeluruh. Studi tentang reputasi tempat terutama reputasi kota masih sangat minim dilakukan di Indonesia. Obyek penelitian terhadap reputasi kota secara umum masih sangat luas yang belum tersentuh. Penelitian yang akan datang khususnya tentang reputasi Kota Yogyakarta dapat dilakukan lebih lanjut untuk melihat posisi reputasi Kota Yogyakarta diantara kota-kota besar lainnya di Indonesia. Selain itu perlu digali lebih dalam lagi bidang obyek reputasi khusus seperti reputasi perekonomian, reputasi kepemimpinan, reputasi pendidikan, dan lainnya di mata pemangku kepentingan yang lebih luas. Penelitian yang akan datang mengenai reputasi Kota Yogyakarta juga dapat dilakukan dengan mengembangkan konsep reputasi kota di media massa. Penelitian reputasi kota di media ini dilakukan untuk mengevaluasi secara keseluruhan reputasi Kota Yogyakarta yang disajikan oleh media. 183
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
RINGKASAN RENJA DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KOTA TANGERANG TAHUN 2017 Rencana Kerja Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang Tahun 2017 yang selanjutnya disebut Renja Disbudpar adalah dokumen
BAB 1 PENDAHULUAN. sering disebut dengan humas merupakan bagian yang sangat penting bagi sebuah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dalam era globalisasi sekarang ini, Public Relations (PR) atau yang sering disebut dengan humas merupakan bagian yang sangat penting bagi sebuah perusahaan. Aktivitas
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Bappeda Kota Bogor Berdasarkan tugas dan fungsi pelayanan yang dilaksanakan
BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Musik dangdut merupakan sebuah genre musik yang mengalami dinamika di setiap jamannya. Genre musik ini digemari oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Berkembangnya dangdut
BAB I PENDAHULUAN. satu, maka yang menjadi tujuan pemasaran adalah brand loyality. Tanpa sebuah brand
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jika keseluruhan aktivitas pemasaran harus diringkas menjadi satu kata saja, maka kata yang keluar adalah branding. Jika semua tujuan pemasaran digabung menjadi satu,
B A B I PENDAHULUAN. Kota Solo memiliki banyak keunikan salah satunya dikenal sebagai
1 B A B I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota Solo memiliki banyak keunikan salah satunya dikenal sebagai Kota pariwisata tradisional budaya Jawa. Hal ini dikarenakan banyaknya obyek-obyek wisata yang menarik
BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Yogyakarta merupakan kota dengan lintasan sejarah yang cukup panjang, dimulai pada tanggal 13 Februari 1755 dengan dilatari oleh Perjanjian Giyanti yang membagi
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEPELOPORAN PEMUDA, SERTA PENYEDIAAN PRASARANA DAN SARANA KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BAB I PENDAHULUAN. Museum Budaya Dayak Di Kota Palangka Raya Page 1
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG EKSISTENSI PROYEK Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat
PROFIL PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
PROFIL PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN Kata Pengantar Proses demokratisasi telah mengubah paradigma semua Kementerian/Lembaga Pemerintah saat ini dimana transparansi, akuntabilitas dan
BAB I PENDAHULUAN. telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dibandingkan dengan masa-masa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada Era Globalisasi ini, pertumbuhan ekonomi dan industri di Indonesia telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kesenian merupakan hasil dari kebudayaan manusia yang dapat didokumentasikan atau dilestarikan, dipublikasikan dan dikembangkan sebagai salah salah satu upaya
BAB I PENDAHULUAN. Public Relations (PR) berperan dalam menentukan seorang sosok brand ambassador
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Hal yang Peneliti coba dalami dalam skripsi ini adalah seberapa jauh seorang Public Relations (PR) berperan dalam menentukan seorang sosok brand ambassador
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi sudah pasti akan dihadapi oleh semua bangsa dan akan menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Keberadaan sumber daya manusia menjadi
PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.24/MEN/2010 TENTANG
DRAFT PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.24/MEN/2010 TENTANG PENYELENGGARAAN KEHUMASAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
BAB I PENDAHULUAN. sejarah. Salah satunya adalah Makam Bung Karno. Makam Bung Karno
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Blitar adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki potensi wisata sejarah. Salah satunya adalah Makam Bung Karno. Makam Bung Karno merupakan makam Proklamator
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masakan Indonesia merupakan pencerminan beragam budaya dan tradisi yang berasal dari kepulauan Nusantara yang terdiri dari sekitar 6.000 pulau dan memegang peran penting
BAB I PENDAHULUAN. alam yang luar biasa yang sangat berpotensi untuk pengembangan pariwisata dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Bobonaro merupakan sebuah kabupaten yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa yang sangat berpotensi untuk pengembangan pariwisata dengan banyaknya potensi
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEPELOPORAN PEMUDA, SERTA PENYEDIAAN PRASARANA DAN SARANA KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Public Relations atau Humas secara garis besar adalah komunikator sebuah organisasi atau perusahaan, baik kepada publik internal maupun publik eksternal. Bagi sebuah
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEPELOPORAN PEMUDA, SERTA PENYEDIAAN PRASARANA DAN SARANA KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Di Jakarta perkembangan hotel sangat padat dan berkembang, ini dikarenakan sebagai ibu kota negara Republik Indonesia yang merupakan pusat pemerintahan dan
BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan Fenomena kebudayaan selalu hadir dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Fenomena kebudayaan selalu hadir dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Seperti halnya Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman budaya
BAB II PERENCANAAN KINERJA
BAB II PERENCANAAN KINERJA A. Perencanaan Dokumen perencanaan tahunan daerah yang digunakan sebagai acuan perencanaan pembangunan dan penyusunan anggaran Tahun 2014, adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Memasuki era globalisasi, arus penyampaian informasi berkembang dengan cepat, apalagi didukung dengan teknologi canggih melalui berbagai media. Globalisasi
BAB I PENDAHULUAN. paling tua dibandingkan dengan jenis media massa lainnya. Sejarah mencatat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Media informasi dewasa ini berkembang amat pesat, baik media cetak, elektronik maupun media internet. Dalam hal ini peningkatan dalam penyampaian informasi
BAB I PENDAHULUAN. perubahan arah kebijakan pendidikan, khususnya pendidikan tinggi.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Memasuki millenium ketiga sekarang ini, penyelenggaraan pendidikan tingkat nasional sedang dan akan menghadapi sejumlah permasalahan. Di antara permasalahan-permasalahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Media adalah salah satu cara yang dilakukan masyarakat untuk mengutarakan pendapat. Adanya media ini masyarakat bisa memberikan informasi kepada khalayak umum.
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak wilayah potensi parawisata (Bridatul J, 2014).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki banyak wilayah potensi parawisata (Bridatul J, 2014). Untuk memperkenalkan suatu daerah obyek wisata di berbagai wilayah Indonesia, maka pemerintah
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI SKPD Analisis Isu-isu strategis dalam perencanaan pembangunan selama 5 (lima) tahun periode
MATERI 2 KONSEP PRODUK
MATERI 2 KONSEP PRODUK Proses perencanaan produk dilakukan sebelum suatu proyek pengembangan produk secara formal disetujui, sumber daya yang penting dipakai dan sebelum tim pengembangan yang besar dibentuk.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. siaran yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi masyarakat dalam memberi
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Stasiun televisi lokal merupakan stasiun yang mempunyai batasan ruang siar yang berskala daerah. Produk nyata yang dihasilkan adalah sebuah program siaran yang
BAB I PENDAHULUAN. Peran Berita Politik Dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat Terhadap Pengetahuan Politik Mahasiswa Ilmu Sosial se-kota Bandung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi ini, terutama teknologi informasi dan komunikasi yang semakin berkembang dengan cepat,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada era digital saat ini, masyarakat Indonesia telah menjadi masyarakat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada era digital saat ini, masyarakat Indonesia telah menjadi masyarakat informasi yang ditandai dengan besarnya kebutuhan akan informasi dan masyarakat dapat
BAB I PENDAHULUAN. Paska perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Paska perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) memiliki posisi yang strategis sebagai
BAB I PENDAHULUAN. pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peradaban ekonomi dunia terbagi dalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi sekarang ini terlihat sangat pesat. Perkembangan ini tidak hanya melahirkan era informasi global tetapi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Provinsi Bengkulu dibentuk pada tahun 1968 yang sebelumnya merupakan wilayah Keresidenan Provinsi Sumatera Selatan. Provinsi Bengkulu terletak di wilayah pantai barat
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN
BAB V. PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih yang disampaikan pada waktu pemilihan kepala daerah (Pemilukada)
BAB I PENDAHULUAN. tahun ke tahun. Dari tahun wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Yogyakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki daya tarik wisata dan merupakan kota tujuan wisata yang paling diminati oleh wisatawan, dilihat dari
BAB 1 PENDAHULUAN. Kebebasan pers Indonesia ditandai dengan datangnya era reformasi dimulai
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kebebasan pers Indonesia ditandai dengan datangnya era reformasi dimulai tahun 1998 setelah peristiwa pengunduran diri Soeharto dari jabatan kepresidenan. Pers Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. tanpa mengabaikan kegiatan-kegiatan lainnya, seperti kegiatan produksi, keuangan, personalia dan lain sebagainya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada umumnya setiap perusahaan selalu ingin mencapai sukses dalam bidang usahanya, dalam arti selalu berusaha agar kelangsungan hidup usahanya tetap berhasil. Keadaan
BAB I PENDAHULUAN. Dunia telah memasuki era perubahan dan transformasi yang sangat cepat.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dunia telah memasuki era perubahan dan transformasi yang sangat cepat. Hal tersebut ditandai dengan adanya perkembangan dan perubahan budaya sosial, meningkatnya persaingan,
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Budaya berasal dari bahasa sanskerta yaitu Buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi atau akal diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Museum adalah lembaga permanen dan tempat terbuka yang bersifat umum. Museum memiliki fungsi sebagai tempat atau sarana untuk merawat, menyajikan, menyimpan, melestarikan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Dari hasil penelitian tentang pengelolaan siaran keroncong di Radio Republik
122 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Dari hasil penelitian tentang pengelolaan siaran keroncong di Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung, peneliti dapat menarik kesimpulan: Bahwa manajemen
Manajemen Strategik dalam Pendidikan
Manajemen Strategik dalam Pendidikan Oleh : Winarto* A. Pendahuluan Manajemen pendidikan yang diterapkan di lingkungan internal sistem persekolahan hanyalah sebagian dari tanggung jawab kepala sekolah
BAB I PENDAHULUAN. reformasi diindikasikan dengan adanya perombakan di segala bidang kehidupan,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era reformasi yang sedang berjalan atau bahkan sudah memasuki pasca reformasi diindikasikan dengan adanya perombakan di segala bidang kehidupan, politik, moneter, pertahanan
Tengah berasal dari sebuah kota kecil yang banyak menyimpan peninggalan. situs-situs kepurbakalaan dalam bentuk bangunan-bangunan candi pada masa
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek Propinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu Daerah Tujuan Wisata ( DTW ) Propinsi di Indonesia, memiliki keanekaragaman daya tarik wisata baik
BAB I PENDAHULUAN FAJRI BERRINOVIAN 12032
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang I.1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek Banyak orang merasa bingung mengisi hari libur mereka yang hanya berlangsung sehari atau dua hari seperti libur pada sabtu dan
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Pembangunan Daerah adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tujuan pembangunan Indonesia adalah mewujudkan visi pembangunan
1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tujuan pembangunan Indonesia adalah mewujudkan visi pembangunan Indonesia jangka panjang yaitu Indonesia yang maju dan mandiri, adil dan demokratis, serta
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Palembang Tahun BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Perumusan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan menegaskan tentang kondisi Kota Palembang yang diinginkan dan akan dicapai dalam lima tahun mendatang (2013-2018).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Arus globalisasi turut mempengaruhi setiap negara untuk berkompetisi dengan negara lainnya dalam hal meningkatkan dan mempertahankan citra positif yang terbentuk atau
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata merupakan ujung tombak bagi kemajuan perekonomian negara. Pariwisata juga bertanggung jawab untuk membawa citra bangsa ke dunia Internasional. Semakin tinggi
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2015 lalu, sektor pariwisata
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri pariwisata telah menjadi salah satu sektor perekonomian utama di Indonesia selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2015 lalu, sektor pariwisata telah menyumbangkan
Presentasi SAKIP. Kabupaten Magetan SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Presentasi SAKIP Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH RENCANA STRATEGIS TRANSISI DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN MAGETAN TAHUN 017-018
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Industri jasa pengiriman barang di Indonesia, saat ini dihadapkan pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Industri jasa pengiriman barang di Indonesia, saat ini dihadapkan pada situasi persaingan yang sangat tajam dan kompleks, ditengah era globalisasi dan liberalisasi
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI. Isu adalah permasalahan yang dijumpai dan menjadi suatu opini publik yang
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI Isu adalah permasalahan yang dijumpai dan menjadi suatu opini publik yang harus segera dicari permasalahannya. Isu ini dapat berskala makro
BAB V POLA KOMUNIKASI ANTARA FORUM JURNALIS SALATIGA DENGAN PEMERINTAH KOTA SALATIGA Pola Komunikasi FJS dan Pemerintah Kota Salatiga
BAB V POLA KOMUNIKASI ANTARA FORUM JURNALIS SALATIGA DENGAN PEMERINTAH KOTA SALATIGA 5. 1. Pola Komunikasi FJS dan Pemerintah Kota Salatiga Kebebasan Pers secara subtansif tidak saja dijadikan indikator
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pada Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan
PENDAHULUAN. sosial, maupun politik adalah usaha untuk membangun dan mengembangkan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masalah penting yang dihadapi oleh lembaga-lembaga baik ekonomi, sosial, maupun politik adalah usaha untuk membangun dan mengembangkan hubungan yang baik
BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, politik, budaya, sosial dan pendidikan. Kondisi seperti ini menuntut
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi saat ini menimbulkan kompetensi di berbagai bidang baik ekonomi, politik, budaya, sosial dan pendidikan. Kondisi seperti ini menuntut masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi menyebabkan timbulnya persaingan yang ketat di berbagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi menyebabkan timbulnya persaingan yang ketat di berbagai bidang industri, tak terkecuali pada industri Pariwisata. Persaingan tidak hanya terjadi
BAB I PENDAHULUAN. pasar, produsen semakin lebih kreatif terhadap jasa dan produk yang ditawarkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Berkembangnya pasar modern akhir-akhir ini membuat para produsen bersaing untuk menawarkan produk dan jasa yang sesuai dengan perkembangan pasar, produsen
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pariwisata telah menjadi sektor industri yang sangat pesat dewasa ini, pariwisata sangat berpengaruh besar di dunia sebagai salah satu penyumbang atau membantu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Memahami konsumen di seluruh dunia tentang pendapat mereka
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memahami konsumen di seluruh dunia tentang pendapat mereka terhadap aktivitas pemasaran global merupakan topik penting untuk perusahaan perusahaan multinasional, namun
BAB I PENDAHULUAN. ketatnya persaingan antar kompetitor membuat perguruan tinggi terus
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan perguruan tinggi swasta sekarang yang semakin pesat dan ketatnya persaingan antar kompetitor membuat perguruan tinggi terus meningkatkan kemampuannya.
CITY BRANDING AROUND THE WORLD
CITY BRANDING AROUND THE WORLD Beberapa waktu lalu, IS Creative merilis sebuah artikel inspirasi yang membahas tentang aktivitas city branding beberapa kota di dunia. Banyak kota di dunia memiliki konsep
BAB I PENDAHULUAN. informasi yang memadai mengenai produk-produk barang dan jasa yang. modern pasti akan lumpuh. (Jefkins, 1997: 2)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memasuki era globalisasi, taktik perusahaan akan mempengaruhi persaingan dari pesaing lainnya. Hal ini terjadi karena persaingan global yang makin luas mempengaruhi
BAB IV ANALISIS MAS{LAH{AH MURSALAH TERHADAP PELAKSANAAN FESTIVAL KEBUDAYAAN JEMBER FASHION CARNAVAL DI KABUPATEN JEMBER
BAB IV ANALISIS MAS{LAH{AH MURSALAH TERHADAP PELAKSANAAN FESTIVAL KEBUDAYAAN JEMBER FASHION CARNAVAL DI KABUPATEN JEMBER Hakikat kemaslahatan dalam Islam adalah segala bentuk kebaikan dan manfaat yang
BAB I PENDAHULUAN. kemasyarakatan dan investasi. Dalam perencanaan nation branding terkait
BAB I - PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nation branding adalah strategi mempresentasikan sebuah negara dengan sasaran menciptakan nilai-nilai reputasi lewat turisme, keadaan sosial
BAB 4 VISI DAN MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATGEI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB 4 VISI DAN MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATGEI DAN ARAH KEBIJAKAN 4.1. Visi dan Misi BPTPM Kota Serang Dengan semangat otonomi daerah serta memperhatikan tugas dan fungsi yang diemban oleh Badan Pelayanan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang LATAR BELAKANG TUJUAN LATAR BELAKANG. Eksistensi kebudayaan Sunda 4 daya hidup dalam kebudayaan Sunda
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang LATAR BELAKANG TUJUAN LATAR BELAKANG Eksistensi kebudayaan Sunda 4 daya hidup dalam kebudayaan Sunda KONSERVASI PARTISIPASI KOMUNITAS SUNDA TAMAN BUDAYA SUNDA METODE
STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DAERAH
STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DAERAH Oleh Dr. Andy Corry Wardhani, M.Si. Pengantar Kabupaten dan kota di Indonesia diberi kewenangan untuk mengelola sumberdaya dan kekayaannya dengan kemampuan dan kekuatan
BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan
116 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari hasil analisis semiotika dengan unsur tanda, objek, dan interpretasi terhadap video iklan pariwisata Wonderful Indonesia episode East Java, serta analisis pada tiga
PERANCANGAN DESAIN INTERIOR MUSEUM KOPI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN
1 PERANCANGAN DESAIN INTERIOR MUSEUM KOPI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan zaman yang semakin maju dan modern, serta meningkatnya kemajuan akan ilmu pengetahuan menuntut manusia
BAB I PENDAHULUAN. masuknya budaya asing di Indonesia membuat masyarakat melupakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semakin berkembangnya zaman, era globalisasi semakin berkembang, terutama di Negara kita Indonesia. Dengan berkembangnya era globalisasi, masuknya budaya asing
PUSAT SENI RUPA KONTEMPORER NYOMAN GUNARSA DI YOGYAKARTA
LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PUSAT SENI RUPA KONTEMPORER NYOMAN GUNARSA DI YOGYAKARTA Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik diajukan
BAB I PENDAHULUAN. seolah-olah hasrat mengkonsumsi lebih diutamakan. Perilaku. kehidupan dalam tatanan sosial masyarakat.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanpa kita sadari, masyarakat selalu diposisikan sebagai konsumen potensial untuk meraup keuntungan bisnis. Perkembangan kapitalisme global membuat bahkan memaksa masyarakat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) atau yang sering disebut Taman Jurug adalah obyek wisata yang terletak di tepian sungai Bengawan Solo dengan luas lahan 13.9 Ha, memiliki
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PEMELIHARAAN KESENIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN,
PANDUAN ORGANISASI KEMAHASISWAAN (ORMAWA) UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO
PANDUAN ORGANISASI KEMAHASISWAAN (ORMAWA) UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam reformasi ekonomi, yakni bagaimana
BAB I PENGANTAR Latar Belakang Masalah. kekayaan budaya yang amat sangat melimpah. Budaya warisan leluhur merupakan
BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia pada hakikatnya merupakan bangsa dengan warisan kekayaan budaya yang amat sangat melimpah. Budaya warisan leluhur merupakan aset tidak ternilai
Membangun Wilayah yang Produktif
Membangun Wilayah yang Produktif Herry Darwanto *) Dalam dunia yang sangat kompetitif sekarang ini setiap negara perlu mengupayakan terbentuknya wilayah-wilayah yang produktif untuk memungkinkan tersedianya
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia merupakan suatu sistem pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN. berbagai dimensi dalam kehidupan mulai dari politik, sosial, budaya, dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan terus menjadi topik yang diperbincangkan oleh banyak pihak. Pendidikan seperti magnet yang sangat kuat karena dapat menarik berbagai dimensi dalam
BAB I PENDAHULUAN. Canggihnya teknologi saat ini banyak menyuguhkan beberapa saranasarana
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Canggihnya teknologi saat ini banyak menyuguhkan beberapa saranasarana dan fitur-fitur yang selalu berubah setiap waktunya. Ini disebabkan karena manusia tidak pernah
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dewasa ini untuk menciptakan kerja sama, dimana orang-orangnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Public relations atau humas merupakan suatu kebutuhan dalam masyarakat dewasa ini untuk menciptakan kerja sama, dimana orang-orangnya bergerak di dalam berbagai
