BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengumpulan Data Pengumpulan data yang dimulai sejak tanggal 31 Agustus 2004 hingga tanggal 3 November 2004 dilakukan secara cermat dan menyeluruh, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap keseluruhan data dan informasi untuk mendapatkan variabel, batasan, serta tujuan yang dibutuhkan dalam pengolahan data, analisa data, evaluasi kinerja, maupun rencana implementasi model dynamic programming untuk masalah pemuatan barang di PT. Krista Jaya Indosol ini. Berdasarkan teknik pengumpulan data yang digunakan, maka hasil pengumpulan data yang diperoleh dapat dikelompokkan menjadi tiga. (Lihat sub bab 3.3) Keseluruhan hasil pengumpulan data tersebut dideskripsikan secara tertulis sebagai berikut : Hasil pengumpulan data berdasarkan teknik pengamatan dan pengukuran, yaitu : Data ukuran mobil box adalah 400 cm x 200 cm x 200 cm. Data kapasitas maksimum box adalah 3780 kg atau jika dikonversikan dalam satuan karung adalah 63 karung. Data ukuran karung packaging, yaitu : (Lihat gambar 3.2 dan 3.3) Sebelum dimuat = 130 cm x 95 cm. Setelah dimuat = 100 cm x 85 cm x 28 cm. 56

2 Data tumpukan karung packaging di dalam mobil box. (Lihat gambar 3.4 dan 3.5) Berdasarkan susunan karung packaging, data ini dibagi menjadi dua macam, yaitu : Susunan horizontal Susunan ini terdiri dari 4 baris dan 2 kolom, dimana karung packaging pada masing-masing baris dan kolom tersebut disusun secara horizontal dari bawah ke atas sebanyak 7 tumpukan. Susunan horizontal ini secara total dapat memuat 56 karung. Susunan vertikal Susunan ini terdiri dari 4 karung packaging di bagian dalam (di bagian depan mobil box) dan 3 karung packaging di bagian belakang mobil box yang disusun secara vertikal. Susunan vertikal ini secara total dapat memuat 7 karung. Hasil pengumpulan data dengan menggunakan teknik interview atau wawancara, antara lain : Hasil pengumpulan data yang diperoleh dari wawancara terstruktur ditunjukkan pada gambar 4.1, yaitu formulir pengumpulan data setelah diisi. Data-data tersebut adalah sebagai berikut : Data berat barang atau produk yang dimuat Data ini hanya terdiri dari 3 tipe produk yang intensitas maupun kapasitas pengiriman barangnya cukup besar, yaitu : M600 = 54 kg per karung, T139 = 60 kg per karung, serta T101 = 56 kg per karung. 57

3 Data profit margin produk yang dimuat Profit margin untuk produk M600 adalah 30,7% per karung; 22,9% per karung untuk produk T139; dan 37,5% per karung untuk produk T101. Informasi-informasi pendukung Infomasi-informasi pendukung yang dimaksud antara lain adalah informasi ukuran barang yang dimuat dan informasi kapasitas maksimum box. Dari ketiga tipe produk (M600, T139, T101) yang dimuat, seluruhnya ditentukan untuk ukuran yang sama, yaitu ukuran 41. Hal ini dimaksudkan agar data yang dikumpulkan adalah seragam. Sedangkan identik dengan hasil pengumpulan data yang diperoleh dengan menggunakan teknik pengamatan dan pengukuran, maka kapasitas maksimum box juga adalah 3780 kg. Disamping itu, tercantum pula rumusan masalah dan batasan yang akan digunakan sebagai acuan dalam pengolahan data terhadap sistem pemuatan barang yang menjadi objek kajian ini. Hasil pengumpulan data yang diperoleh dari wawancara tidak terstruktur adalah sebagai berikut : Informasi lead time pengiriman barang Informasi ini beragam, tergantung dari jarak perusahaan ke pelanggan. Namun secara umum, lead time pengiriman barang untuk wilayah Jabotabek adalah 1-3 jam, sedangkan lead time pengiriman barang untuk luar kota melalui jasa ekspedisi adalah 7-10 hari. 58

4 Informasi biaya pengiriman barang Biaya pengiriman barang yang dimaksud adalah biaya transportasi (shipment cost). Biaya transportasi untuk wilayah Jabotabek hanya mencakup biaya bahan bakar kendaraan (mobil box) saja. Sedangkan biaya transportasi untuk luar kota memerlukan biaya tambahan, yaitu biaya untuk jasa ekspedisi, dimana tiap kilogram barang yang akan dikirim dikenakan biaya sebesar Rp Σ Σ Σ Gambar 4.1 Formulir Pengumpulan Data (Setelah diisi) 59

5 Hasil pengumpulan data berdasarkan teknik dokumentasi, antara lain : Data yang terkait langsung dengan topik pembahasan, yaitu sistem pemuatan barang. Data tersebut diantaranya adalah data intensitas pengiriman barang dan data kapasitas pengiriman barang yang ditunjukkan oleh tabel 3.1 pada sub bab 3.2, yaitu tabel data pemuatan barang PT. Krista Jaya Indosol (periode Oktober 2004). Data dan informasi yang tidak terkait langsung dengan topik pembahasan, namun dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini. Data dan informasi tersebut diantaranya adalah data dan informasi tentang ilmu operations research, model dynamic programming, serta sistematika penulisan skripsi yang diperoleh dari perpustakaan maupun internet. 4.2 Pengolahan Data Secara garis besar, tahap pengolahan data mencakup tiga kegiatan yang mengacu pada pertanyaan-pertanyaan berikut, yaitu : Apa variabel dari masalah yang akan dipecahkan? Atau, apa yang diusahakan untuk ditentukan oleh model yang akan dibuat? Apa batasan yang mutlak dikenakan terhadap variabel yang telah dirumuskan sebelumnya itu? Apa tujuan yang harus dicapai untuk menentukan pemecahan terbaik (optimum) terhadap semua nilai yang layak dari variabel tersebut? 60

6 Ketiga kegiatan yang tercakup dalam tahap pengolahan data ini adalah sebagai berikut : 1. Kegiatan perumusan variabel, batasan, dan tujuan masalah Perumusan variabel, batasan, dan tujuan masalah dilakukan berdasarkan kondisi riil yang terjadi pada fokus masalah, yaitu sistem pemuatan barang di PT. Krista Jaya Indosol. Adapun hasil dari kegiatan perumusan variabel, batasan, dan tujuan masalah tersebut adalah sebagai berikut : Variabel-variabel yang berhasil ditentukan untuk model yang akan dibuat adalah sebagai berikut : (Bandingkan dengan sub bab 3.1 : Memilih pendekatan dan menentukan variabel) Variabel k i = variabel jumlah karung produk i. Variabel Y i = variabel status untuk jumlah karung atau berat produk pada tahap i. Variabel MP i k i = variabel fungsi perkalian antara profit margin dengan jumlah karung. Batasan yang dikenakan terhadap variabel-variabel di atas harus memenuhi batasan dari sistem yang akan dimodel tersebut. Batasan-batasan tersebut adalah sebagai berikut : (Lihat gambar 4.1) 54k1 + 60k2 + 56k atau 0,9k1 + k2 + 0,933k3 63 Batasan ini ditetapkan dalam dua satuan yang berbeda. Pertama, berdasarkan satuan berat masing-masing produk dalam satu karung yaitu 54 kg untuk produk M600, 60 kg untuk produk T139, dan 56 kg untuk produk T101, 61

7 serta 3780 kg untuk kapasitas maksimum box. Kedua, berdasarkan satuan karung masing-masing produk serta kapasitas maksimum box yang dibandingkan terhadap produk terberat, yaitu produk T139 (60 kg). ki 48 ki 63, dimana ki Є bilangan bulat Batasan ini ditetapkan berdasarkan asumsi bahwa ada kesepakatan bersama antara pelanggan dengan perusahaan tentang batas minimal kapasitas pengiriman barang yaitu 48 karung dengan konsekuensi lead time pengiriman barang yang akan semakin lama. Hal ini juga dimungkinkan karena daya dukung kapasitas maksimum box yang mampu memuat barang hingga batas maksimal 63 karung. Seluruh variabel, batasan, dan sumber daya yang ada dan terkait dengan sistem pemuatan barang di PT. Krista Jaya Indosol dipadukan untuk mencapai tujuan pemecahan akhir yang terbaik, yaitu sebagai berikut : maksimasi hasil kali antara profit margin dengan jumlah karung. Rumusan tujuan pemecahan akhir untuk mengatasi permasalahan sistem pemuatan barang tersebut disajikan dalam bentuk matematis sebagai berikut : (Lihat gambar 4.1) Maksimasi : 30,7k1 + 22,9k2 + 37,5k3 Keterangan : Konstanta 30,7; 22,9; dan 37,5 adalah besar profit margin untuk masingmasing produk yang dinyatakan dalam satuan %. Variabel k1, k2, dan k3 adalah variabel jumlah karung produk i. 62

8 2. Kegiatan perancangan model dynamic programming Model dynamic programming dibuat dalam bentuk tabel-tabel perhitungan matematik dengan menggunakan perangkat microsoft excel, karena operasi perhitungan matematik cenderung lebih mudah untuk dilakukan dengan perangkat ini. Model dynamic programming untuk sistem pemuatan barang ini dirancang secara sederhana, namun tetap mengacu pada prinsip kelengkapan agar mudah untuk dipahami dan digunakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan. Lengkap dalam arti, model ini paling tidak harus mencakup informasi mengenai tiga unsur utama dynamic programming, yaitu : Tahap keputusan (stage) Model dynamic programming ini terdiri dari tiga tahap keputusan, yang ditentukan berdasarkan 3 tipe produk yang dimuat pada pembahasan pemuatan barang di PT. Krista Jaya Indosol ini. Tiga tahap keputusan pada model dynamic programming ini adalah sebagai berikut : Tahap keputusan 1 merupakan tahap keputusan untuk tipe produk T101, dengan fungsi transformasi 37,5k3. Tahap keputusan 2 merupakan tahap keputusan untuk tipe produk T139, dengan fungsi transformasi {22,9k2 + f3(y2 k2)}. Tahap keputusan 3 merupakan tahap keputusan untuk tipe produk M600, dengan fungsi transformasi {30,7k1 + f2(y1 0,9k1)}. Masing-masing tahap keputusan tersebut memiliki fungsi transformasi yang berbeda, karena : 63

9 Tipe produk yang dimuat pada setiap tahap keputusan berbeda, sehingga besar profit margin-nya tidak sama. Fungsi transisi yang terdapat di masing-masing fungsi transformasi pada Status (state) setiap tahap keputusan tidak sama. Fungsi transisi merupakan pemecahan optimal dari tahap keputusan sebelumnya. Status atau keadaan masing-masing tahap keputusan pada model dynamic programming ini dilambangkan dengan simbol Y i, sebagai berikut : Y 3 = jumlah karung yang dimuat pada tahap 3 Y 2 = jumlah karung yang dimuat pada tahap 2, 3 Y 1 = jumlah karung yang dimuat pada tahap 1, 2, 3 Status-status tersebut digunakan dalam fungsi transformasi pada setiap tahap keputusan untuk mendapatkan pemecahan optimal yang dilambangkan dengan simbol f i ( Yi), sebagai berikut : f 3 ( Y3) = profit margin optimal pada tahap 3 ; dengan Y 3 tertentu f 2 ( Y2) = profit margin optimal pada tahap 2 & 3 ; dengan Y 2 tertentu f 1( Y1) = profit margin optimal pada tahap 1, 2, & 3; dengan Y 1 tertentu Alternatif keputusan Variabel keputusan k i, yaitu variabel jumlah karung yang dimuat pada tahap keputusan ke-i, dengan i = 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, dan 63 merupakan alternatif keputusan dalam model dynamic programming ini. 64

10 Alternatif keputusan tersebut harus ditentukan agar keputusan pada tiap-tiap tahap keputusan optimum, sehingga keputusan akhir untuk keseluruhan masalah pemuatan barang ini juga optimum. Penentuan alternatif keputusan tersebut dilakukan melalui perhitungan matematik dengan menggunakan model dynamic programming untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan berikut, yaitu : Dari ke-16 alternatif jumlah karung yang tersedia dan dapat dimuat dalam setiap kali pemuatan barang tersebut, bagaimana komposisi tipe produk yang harus dimuat agar keuntungan yang diperoleh dapat optimal atau bahkan maksimal? 3. Kegiatan interpretasi data Data-data yang telah diperoleh dari hasil pengumpulan data diinterpretasikan ke dalam model dynamic programming yang berupa tabel-tabel perhitungan matematik yang telah dibuat. Interpretasi tersebut harus berfokus pada pencapaian tujuan masalah melalui penerjemahan data-data yang ada ke dalam variabel-variabel dan batasan-batasan yang telah dirumuskan. Tabel 4.1 hingga tabel 4.12 di bawah ini menunjukkan hasil pengolahan data untuk masalah pemuatan barang di PT. Krista Jaya Indosol. Hasil pengolahan data dengan model dynamic programming ini menggunakan persamaan rekursif mundur (backward recursive equation) dan ditampilkan dalam bentuk tabel dengan formulasi matematik tertentu, sesuai dengan keadaan masing-masing tahap. Tabel-tabel hasil pengolahan data tersebut adalah sebagai berikut : 65

11 4.3 Analisis Data Analisis data terhadap sistem pemuatan barang di PT. Krista Jaya Indosol difokuskan pada hasil kali antara profit margin dengan jumlah karung, dengan maksud untuk mengetahui besar keuntungan rata-rata setiap kali pemuatan barang yang dilakukan. Analisis tersebut dilakukan dengan cara membandingkan perolehan keuntungan dari sistem pemuatan barang yang baru, yang menggunakan pendekatan dynamic programming dengan sistem pemuatan barang yang lama, yang tidak menggunakan pendekatan dynamic programming. Baru kemudian, keputusan tentang perlu atau tidaknya penggunaan pendekatan dynamic programming untuk sistem pemuatan barang di perusahaan ini dapat ditentukan. Analisis perbandingan untuk kedua kondisi di atas dijelaskan sebagai berikut : 1. Analisis data sebelum penerapan model dynamic programming Analisis ini dilakukan dengan merujuk pada data-data yang terdapat di tabel 4.13, yaitu tabel profit margin sistem pemuatan barang (sebelum penerapan dynamic programming). Tabel 4.13, seperti yang ditunjukkan di bawah ini adalah tabel yang dikembangkan dari tabel 3.1, yaitu tabel data pemuatan barang PT. Krista Jaya Indosol (periode Oktober 2004), dalam hal penambahan kolom profit (%). Kolom profit (%) tersebut memiliki formulasi sebagai berikut : Profit (%) = MP1k1 + MP2k2 + MP3k3. Formulasi ini adalah deskripsi dari hasil kali antara profit margin dengan jumlah karung, yang merupakan fokus utama dari tahap analisis data, yang dinyatakan dalam satuan persen. 66

12 Tabel 4.13 Profit Margin Sistem Pemuatan Barang (Sebelum Penerapan Dynamic Programming) Profit Margin : Produk 1 (M600) = 30,7 % per karung Produk 2 (T139) = 22,9 % per karung Produk 3 (T101) = 37,5 % per karung Tanggal Pemuatan Ke- Produk (Karung) Total Profit (%) M600 T139 T101 (Karung) 01-Okt ,0 02-Okt ,5 04-Okt ,5 05-Okt ,9 06-Okt ,5 07-Okt ,0 08-Okt ,0 09-Okt ,5 11-Okt ,5 12-Okt ,0 13-Okt ,0 14-Okt ,0 15-Okt ,0 16-Okt ,6 18-Okt ,0 19-Okt ,5 20-Okt ,0 21-Okt ,5 22-Okt ,0 23-Okt ,0 25-Okt ,0 26-Okt ,0 27-Okt ,0 28-Okt ,0 29-Okt ,5 30-Okt ,5 Total ,0 67

13 2. Analisis data setelah penerapan model dynamic programming Analisis ini dilakukan dengan merujuk pada data-data dan hasil perhitungan yang terdapat di tabel 4.1 sampai tabel 4.12, yaitu tabel perhitungan dynamic programming untuk masalah pemuatan barang, yang terdapat di dalam sub bab 4.2. Secara garis besar, tabel-tabel perhitungan dynamic programming untuk masalah pemuatan barang tersebut dikelompokkan sebagai berikut, yaitu : Tabel 4.1, 4.2, dan 4.3 merupakan tabel-tabel utama. Tabel utama adalah tabel perhitungan dynamic programming untuk masalah pemuatan barang dimana jumlah karung yang dimuat berada di dalam batasan yang ditentukan, yaitu 48 karung sampai 63 karung. Tabel 4.1 adalah tabel utama untuk kondisi optimal dari tahap keputusan 3; tabel 4.2 adalah tabel utama untuk kondisi optimal dari tahap keputusan 2; dan tabel 4.3 adalah tabel utama untuk kondisi optimal dari tahap keputusan 1. Tabel-tabel tersebut disusun secara urut dari belakang ke depan berdasarkan perhitungan dynamic programming yang dilakukan dengan menggunakan persamaan rekursif mundur (backward recursive equation). Tabel 4.4, 4.5, 4.6, 4.7, 4.8, 4.9, 4.10, 4.11, dan 4.12 merupakan tabel-tabel pendukung. Tabel pendukung adalah tabel perhitungan dynamic programming untuk masalah pemuatan barang dimana jumlah karung yang dimuat berada di luar batasan yang ditentukan, yaitu kurang dari 48 karung. Tabel-tabel pendukung ini hanya berfungsi sebagai pelengkap saja. 68

14 Tabel 4.4 sampai tabel 4.6 adalah tabel-tabel pendukung untuk tahap keputusan 3; tabel 4.7 sampai tabel 4.9 adalah tabel-tabel pendukung untuk tahap keputusan 2; dan tabel 4.10 sampai tabel 4.12 adalah tabel-tabel pendukung untuk tahap keputusan 1. Tabel 4.14, yaitu tabel analisis sistem pemuatan barang, yang ditunjukkan di bawah ini merupakan rangkuman dari keseluruhan hasil analisis data yang dilakukan terhadap sistem pemuatan barang di PT. Krista Jaya Indosol, baik sebelum maupun setelah penerapan model dynamic programming. Tabel 4.14 Analisis Sistem Pemuatan Barang Kriteria dalam 1x Pemuatan Barang Kondisi Sist. Pemuatan Barang Profit Jmlh Total Krg Tipe Produk (Karung) (%) (Karung) M600 T139 T101 Sebelum Model DP 583,7 19 Random Random Random Setelah Model DP 1500, (Batas Bawah) Setelah Model DP 2036, (Batas Atas) Dari tabel 4.14 di atas, dapat dilihat bahwa analisis data tidak hanya dilakukan untuk kriteria profit saja, walaupun kriteria tersebut merupakan fokus dari tahap ini. Karena disamping itu, analisis data juga dilakukan terhadap dua kriteria lain yang terkait erat dengan kriteria profit, yaitu kriteria jumlah total karung dan kriteria tipe produk. 69

15 Penjabaran dan penjelasan dari keseluruhan hasil analisis data untuk masingmasing kriteria tersebut di atas adalah sebagai berikut, yaitu : Analisis berdasarkan kriteria profit dalam satu kali pemuatan barang Sebelum penerapan model dynamic programming Besar keuntungan rata-rata setiap kali pemuatan barang pada kondisi ini diperoleh dengan melakukan perhitungan yang didasarkan pada data-data yang terdapat di tabel Langkah-langkah perhitungan tersebut adalah sebagai berikut, yaitu : Hitung profit (%) untuk masing-masing pemuatan yang dilakukan dari pemuatan ke-1 sampai pemuatan ke-26. Perhitungan profit (%) untuk pemuatan ke-1 menghasilkan persentase keuntungan sebesar 307,0 %. Persentase tersebut diperoleh dari hasil kali antara profit margin produk M600 sebesar 30,7 % per karung dengan jumlah karung produk M600 tersebut yang dimuat pada pemuatan ke-1, yaitu sebanyak 10 karung. Sedangkan perhitungan untuk pemuatan ke-2 menghasilkan persentase keuntungan sebesar 421,5 %. Persentase tersebut diperoleh dari hasil kali antara profit margin produk M600 sebesar 30,7 % per karung dengan jumlah karung produk M600 tersebut yang dimuat pada pemuatan ke-2, yaitu sebanyak 10 karung. Kemudian ditambahkan dengan hasil kali antara profit margin produk T139 sebesar 22,9 % per karung dengan jumlah karung produk T139 tersebut yang juga dimuat pada 70

16 pemuatan ke-2, yaitu sebanyak 5 karung. Demikian seterusnya, perhitungan profit (%) ini dilakukan hingga pemuatan ke-26. Totalkan atau jumlahkan keseluruhan hasil perhitungan profit (%) untuk masing-masing pemuatan yang dilakukan dari pemuatan ke-1 sampai pemuatan ke-26. Total hasil perhitungan profit (%) secara keseluruhan untuk 26 kali pemuatan barang yang dilakukan adalah sebesar ,0 %. Persentase keuntungan total ini dapat dihitung dengan 2 cara berikut, yaitu : Cara pertama, jumlahkan profit (%) masing-masing pemuatan dari pemuatan ke-1 sampai pemuatan ke-26 secara langsung, seperti berikut : 307, , , ,5 Total Profit (%) = = ,0 %. 26 Cara kedua, jumlahkan terlebih dahulu masing-masing produk yang dimuat dari pemuatan ke-1 sampai pemuatan ke-26, seperti berikut : Untuk produk M600 = = 188 karung. Untuk produk T139 = = 111 karung. Untuk produk T101 = = 183 karung. Selanjutnya, kalikan total masing-masing produk yang telah dihitung tersebut dengan profit margin-nya, baru kemudian hasil perkalian tersebut dijumlahkan, seperti berikut : Total Profit (%) = {( ,7 % ) + ( ,9 % ) + ( ,5 % )} = ,0 %. Jadi berdasarkan perhitungan di atas, cara mana saja yang digunakan akan selalu menghasilkan total profit (%) yang sama besar. 71

17 Hitung besar keuntungan rata-rata untuk setiap pemuatan barang yang dilakukan. Perhitungan ini dilakukan dengan cara membagi total profit (%) dengan intensitas atau banyak pemuatan barang yang dilakukan pada ,0 periode tersebut, seperti berikut : = 583,7%. 26 Jadi besar keuntungan rata-rata setiap kali pemuatan barang yang dilakukan sebelum penerapan model dynamic programming adalah sebesar 583,7 %. Setelah penerapan model dynamic programming Besar keuntungan pemuatan barang pada kondisi ini jika dibandingkan dengan kondisi sebelum penerapan model dynamic programming, lebih mudah untuk ditentukan. Lebih mudah dalam arti, besarnya keuntungan pemuatan barang sudah ditunjukkan secara eksplisit di kolom pemecahan optimal, yaitu kolom fn(yn) yang terdapat pada tabel 4.3 (untuk batas atas) maupun tabel 4.12 (untuk batas bawah). Besar keuntungan pemuatan barang yang ditampilkan pada tabel 4.3 dan tabel 4.12 tersebut, merupakan persentase keuntungan yang baku dan tetap karena persentase tersebut ditentukan berdasarkan jumlah karung yang dimuat secara pasti untuk masing-masing alternatif keputusan, kecuali jika ada perubahan pada variabel, batasan, ataupun tujuan masalah. Lain halnya dengan besar keuntungan pemuatan barang untuk kondisi sebelum penerapan model 72

18 dynamic programming, dimana persentase keuntungannya merupakan persentase keuntungan rata-rata, yang tidak baku dan sangat mungkin untuk berubah sebagai akibat dari perubahan intensitas pemuatan barang yang dilakukan. Besar keuntungan pemuatan barang yang ditunjukkan secara eksplisit di kolom pemecahan optimal, yaitu kolom fn(yn) yang terdapat pada tabel 4.3 (untuk batas atas) dan tabel 4.12 (untuk batas bawah) dapat dideskripsikan secara tertulis sebagai berikut : Besar keuntungan pemuatan barang yang paling minimal untuk batas bawah, yaitu dengan jumlah total 48 karung yang dimuat, adalah 1500,8 % dengan komposisi 44 karung M600, 0 karung T139, dan 4 karung T101. (Bandingkan dengan tabel 4.12) Namun besar keuntungan tersebut dapat meningkat sesuai dengan altenatif keputusan yang dipilih, karena walaupun jumlah total karung yang dimuat tidak berubah tetapi komposisi tipe produknya mengalami perubahan. Contoh : Besar keuntungan akan meningkat menjadi 1507,6 %, jika pemuatan barang dilakukan dengan komposisi 43 karung M600, 0 karung T139, dan 5 karung T101. Peningkatan besar keuntungan tersebut dapat mencapai persentase yang paling ekstrim, yaitu 1800 %, jika pemuatan barang dilakukan dengan komposisi 0 karung M600, 0 karung T139, dan 48 karung T101. Sedangkan besar keuntungan pemuatan barang yang paling minimal untuk batas atas, yaitu dengan jumlah total 63 karung yang dimuat, adalah 73

19 2036,1 % dengan komposisi 48 karung M600, 0 karung T139, dan 15 karung T101. (Bandingkan dengan tabel 4.3) Sama halnya dengan penentuan besar keuntungan pemuatan barang untuk batas bawah, pada penentuan besar keuntungan pemuatan barang untuk batas atas inipun besarnya keuntungan dapat meningkat sesuai dengan altenatif keputusan yang dipilih, karena walaupun jumlah total karung yang dimuat tidak berubah tetapi komposisi tipe produknya mengalami perubahan. Contoh : Besar keuntungan akan meningkat menjadi 2042,9 %, jika pemuatan barang dilakukan dengan komposisi 47 karung M600, 0 karung T139, dan 16 karung T101. Peningkatan besar keuntungan tersebut juga dapat mencapai persentase yang paling ekstrim, yaitu 2362,5 %, jika pemuatan barang dilakukan dengan komposisi 0 karung M600, 0 karung T139, dan 63 karung T101. Hasil analisis terhadap kriteria profit dalam satu kali pemuatan barang di atas menunjukkan secara jelas bahwa : Besar keuntungan setiap kali pemuatan barang yang paling minimal untuk batas bawah pada kondisi setelah penerapan model dynamic programming adalah 2,57 kali lebih besar daripada besar keuntungan setiap kali pemuatan barang pada kondisi sebelum penerapan model dynamic programming. (Bandingkan dengan 1500,8 % : 583,7 %) Besar keuntungan setiap kali pemuatan barang yang paling minimal untuk batas atas pada kondisi setelah penerapan model dynamic programming adalah 74

20 3,49 kali lebih besar daripada besar keuntungan setiap kali pemuatan barang pada kondisi sebelum penerapan model dynamic programming. (Bandingkan dengan 2036,1 % : 583,7 %) Analisis berdasarkan kriteria jumlah total karung dalam satu kali pemuatan barang Sebelum penerapan model dynamic programming Jumlah total karung dalam satu kali pemuatan barang pada kondisi ini diperoleh dengan cara yang sama seperti perhitungan kapasitas pengiriman barang yang terdapat di sub bab 3.2. Perhitungan yang didasarkan pada data-data yang ada di tabel 3.1 tersebut adalah sebagai berikut, yaitu : karung 19 karung. Setelah penerapan model dynamic programming 482 karung = 18,54 26 kali Berbeda dengan kondisi sebelum penerapan model dynamic programming, penentuan jumlah total karung dalam satu kali pemuatan barang pada kondisi ini tidak perlu menggunakan perhitungan, tetapi ditentukan secara langsung berdasarkan batasan yang dikenakan terhadap variabel-variabel model dynamic programming yang dirancang. Batasan yang dimaksud tersebut adalah ki 48 ki 63, dimana ki Є bilangan bulat. Dari batasan ki 48 ki 63, dimana ki Є bilangan bulat ini, jumlah total karung dalam satu kali pemuatan barang dapat ditentukan secara langsung sebagai berikut : 75

21 Jumlah total karung dalam satu kali pemuatan barang untuk batas paling minimal yang dapat dimuat atau batas bawah pemuatan adalah sebanyak 48 karung. Jumlah total karung dalam satu kali pemuatan barang untuk batas paling maksimal yang dapat dimuat atau batas atas pemuatan adalah sebanyak 63 karung. Berdasarkan analisis terhadap kriteria jumlah total karung di atas, jika diasumsikan bahwa konstanta total karung yang dimuat untuk dikirim dalam satu bulan adalah 482 karung (lihat tabel 3.1), maka intensitas pengiriman barang dalam satu bulan dapat ditentukan. Intensitas pengiriman barang tersebut dapat ditentukan melalui perhitungan sebagai berikut, yaitu : Intensitas pengiriman barang dalam satu bulan untuk batas bawah pemuatan = 482 karung 48 karung = 10,04 kali 11kali. Intensitas pengiriman barang dalam satu bulan untuk batas atas pemuatan 482 karung = = 7,65 kali 8 kali. 63 karung Analisis berdasarkan kriteria tipe produk dalam satu kali pemuatan barang Sebelum penerapan model dynamic programming Tipe produk yang dimuat dalam satu kali pemuatan barang untuk kondisi sebelum penerapan model dynamic programming ini tidak dapat ditentukan secara pasti, karena kebutuhan pelanggan yang hendak direalisasikan melalui 76

22 pesanan yang satu dengan pesanan yang lain tidak sama dalam hal komposisi. Oleh karena itu, pada tabel 4.14 di atas digunakan istilah random atau acak untuk kriteria tipe produk. Masing-masing tipe produk yang dimuat tersebut ditunjukkan secara lengkap pada tabel 3.1, yaitu tabel data pemuatan barang PT. Krista Jaya Indosol (periode Oktober 2004), misal : pemuatan ke-1 terdiri dari 10 karung produk M600, 0 karung produk T139, dan 0 karung produk T101; pemuatan ke-2 terdiri dari 10 karung produk M600, 5 karung produk T139, dan 0 karung produk T101; dan seterusnya hingga pemuatan ke-26 yang sebagian besar tidak sama dalam hal komposisi produk yang dipesan. Setelah penerapan model dynamic programming Analisis untuk kriteria tipe produk dalam satu kali pemuatan barang ini telah dijelaskan secara lengkap bersamaan dengan analisis kriteria profit untuk kondisi setelah penerapan model dynamic programming di atas. Namun pada beberapa keadaan tertentu, khususnya untuk perhitungan optimal tahap keputusan 1 dengan k1 = 59, 60, 61, 62, dan 63 serta alternatif Y1 apa saja, komposisi tipe produk yang dimuat tidak dapat ditentukan berdasarkan fungsi transformasi MP1k1 + f2(y1 0,9k1). Karena jika perhitungan dilakukan dengan menggunakan fungsi transformasi tersebut maka jumlah total karung sebagai hasil akumulasi dari komposisi tipe produk yang dimuat tersebut akan melebihi batas atas pemuatan yang telah ditentukan (jumlah total karung > 63 77

23 karung). Contoh perhitungan dengan fungsi transformasi MP1k1 + f2(y1 0,9k1) untuk k1 = 59 dan alternatif Y1 = 59 adalah sebagai berikut : MP1k1 + f2(y1 0,9k1) MP1x59 + f2(59 0,9x59) 59MP1 + f2(5,9) 59MP1 + f2(5) * = 64 karung Ket : * = dibulatkan ke bawah Dari hasil perhitungan di atas, diketahui bahwa jumlah total karung yang dimuat adalah sebanyak 64 karung dengan komposisi 59 karung produk M600, 0 karung produk T139, dan 5 karung produk T101. Hasil ini tidak sesuai dengan batasan ki 48 ki 63, dimana ki Є bilangan bulat, karena melampaui batas paling maksimal jumlah total karung yang dapat dimuat (batas atas pemuatan). Oleh sebab itu, setiap hasil perhitungan yang kondisinya sama seperti kasus di atas harus mengikuti ketentuan sebagai berikut : Konstanta untuk variabel jumlah karung produk i (k i ) adalah tetap atau tidak berubah. Konstanta untuk hasil operasi matematik dari fungsi f2(y1 0,9k1) dikurangkan sedemikian sehingga total antara konstanta untuk variabel jumlah karung produk i (k i ) dengan konstanta untuk hasil operasi matematik dari fungsi f2(y1 0,9k1) ini adalah tepat 63 karung (batas atas pemuatan). 78

24 Berdasarkan ketentuan tersebut, maka komposisi tipe produk yang dimuat untuk contoh perhitungan di atas mengalami perubahan sehingga komposisinya menjadi 59 karung produk M600, 0 karung produk T139, dan 4 karung produk T101. Jadi dari ketiga analisis yang telah dijabarkan dan dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa profit yang diperoleh dari suatu kegiatan pemuatan barang selalu terkait secara langsung dengan jumlah total karung dan komposisi masing-masing tipe produk yang dimuat. 4.4 Evaluasi Kinerja Pada hakekatnya, evalusi kinerja untuk pemecahan masalah pemuatan barang di PT. Krista Jaya Indosol ini diarahkan untuk mendapatkan hasil pembandingan antara sistem yang lama dengan sistem yang baru. Hasil pembandingan tersebut penting, karena akan dijadikan acuan untuk memutuskan langkah perusahaan lebih lanjut. Secara teoritis, ada 2 alternatif keputusan yang mungkin diambil oleh perusahaan, yaitu : Jika rasio antara benefit dengan pengorbanan pada sistem baru lebih besar daripada sistem lama, usulkan penerapan dynamic programming untuk digunakan pada sistem pemuatan barang perusahaan. Jika rasio antara benefit dengan pengorbanan pada sistem baru lebih kecil daripada sistem lama, lakukan feed back terhadap tahap pengumpulan data, tahap 79

25 pengolahan data, serta tahap analisis data agar kesalahan yang tidak terdeteksi sebelumnya dapat ditemukan dan diperbaiki. Hasil pembandingan antara sistem pemuatan barang yang lama dengan sistem pemuatan barang yang baru, yang menjadi acuan untuk menentukan alternatif keputusan perusahaan tersebut dapat ditentukan dengan cara menjawab 2 pertanyaan berikut, yaitu : 1. Apakah sistem pemuatan barang yang baru tersebut lebih unggul daripada sistem pemuatan barang yang lama? Dengan melakukan pembandingan terhadap hasil penjabaran dan penjelasan dari tahap analisis data yang terdapat pada sub bab 4.3 di atas, maka pilihan terhadap sistem pemuatan barang yang lebih unggul dapat ditentukan. Pembandingan tersebut dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria pemuatan barang berikut, antara lain : Berdasarkan kriteria profit, maka dapat diputuskan bahwa model dynamic programming menguntungkan untuk diterapkan pada sistem pemuatan barang yang ada di perusahaan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan profit, dari 583,7% menjadi 1500,8 % sampai 2036,1 % dalam satu kali pemuatan barang. Berdasarkan kriteria jumlah total karung, khususnya dari hasil perhitungan kapasitas pengiriman barang, maka dapat diputuskan bahwa model dynamic programming meningkatkan efektifitas sistem pemuatan barang yang ada di perusahaan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan kapasitas 80

26 pengiriman barang, dari 19 karung menjadi 48 karung sampai 63 karung dalam satu kali pemuatan barang. Berdasarkan kriteria jumlah total karung, khususnya dari hasil perhitungan intensitas pengiriman barang, maka dapat diputuskan bahwa model dynamic programming meningkatkan efisiensi sistem pemuatan barang yang ada di perusahaan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penurunan intensitas pengiriman barang, dari 26 kali pemuatan menjadi 8 kali sampai 11 kali pemuatan dalam satu bulan. Jadi, dari ketiga pembandingan kriteria pemuatan barang di atas dapat dinyatakan bahwa sistem pemuatan barang yang baru, yang menggunakan model dynamic programming ini lebih unggul daripada sistem pemuatan barang yang lama. Namun perlu diingat, bahwa keunggulan tersebut tidak lepas dari beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan. (Lihat syarat-syarat implementasi pada sub bab 4.5) 2. Apakah sistem pemuatan barang yang baru tersebut layak, sesuai, dan konsisten untuk diterapkan pada perusahaan? Dari segi kelayakan, dapat dikatakan bahwa sistem pemuatan barang yang menggunakan model dynamic programming ini layak untuk diterapkan oleh perusahaan. Kelayakan tersebut didukung oleh ketersediaan sumber daya perusahaan dalam hal tenaga kerja (man), bahan baku (material), mesin (machine), metode (method), modal (money), serta teknologi informasi (information technology). 81

27 Dari segi kesesuaian, dapat dikatakan bahwa sistem pemuatan barang yang menggunakan model dynamic programming ini sesuai dengan prinsip maksimasi profit, yaitu dalam hal optimalisasi keuntungan yang mampu meningkatkan keuntungan hingga 2,57 kali sampai 3,49 kali untuk setiap kali pemuatan barang. Disamping itu juga, sistem pemuatan barang yang baru ini sesuai dengan prinsip minimasi cost, yaitu dalam hal efisiensi intensitas pengiriman barang yang mampu menurunkan biaya transportasi (shipment cost) hingga lebih dari 50 % setiap bulannya. Dari segi konsistensi, dapat dikatakan bahwa sistem pemuatan barang yang menggunakan model dynamic programming ini konsisten, asalkan variabel, batasan, serta tujuan masalah yang digunakan tidak berubah. Istilah fleksibel mungkin lebih tepat digunakan untuk model dynamic programming, karena relatif lebih mudah bagi model dynamic programming untuk melakukan penyesuaian terhadap setiap perubahan variabel, batasan, maupun tujuan masalah yang dimodelkan. Jadi, dari penjelasan terhadap ketiga aspek evaluasi di atas dapat dinyatakan bahwa sistem pemuatan barang yang baru, yang menggunakan model dynamic programming ini layak, sesuai, dan konsisten untuk diterapkan. Dari keseluruhan paparan evaluasi kinerja di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah pemuatan barang akan tercapai apabila model dynamic programming diterapkan secara benar dan tepat pada sistem pemuatan barang perusahaan. 82

28 4.5 Rencana Implementasi Rencana implementasi, termasuk rencana implementasi sistem pemuatan barang berbasis dynamic programming di PT. Krista Jaya Indosol ini, selalu berhubungan erat dengan pengembangan. Konsep pengembangan (improvement) tersebut diarahkan untuk tujuan pemecahan masalah dengan pertimbangan pengelolaan sumber daya perusahaan, efisiensi sistem (proses), keterlibatan manajemen, keterlibatan karyawan, serta penciptaan budaya perusahaan yang mendukung, yang terkait dengan hal komunikasi, koordinasi, dan motivasi. Langkah-langkah implementasi model dynamic programming untuk sistem pemuatan barang tersebut adalah sebagai berikut : 1. Identifikasi kekuatan dan kelemahan sistem aktual Tabel 4.15 Kekuatan dan Kelemahan Sistem Aktual Kekuatan Sistem Aktual Cepat (Tenggang waktu singkat) Orientasi terhadap pesanan pelanggan baik Pemeriksaan lebih mudah Kelemahan Sistem Aktual Keuntungan tidak optimal Biaya transportasi cukup besar Tidak efektif Fungsi PPIC tidak optimal Fungsi Forecasting tidak optimal Berdasarkan tabel 4.15 ini, dapat dilihat bahwa kekuatan sistem pemuatan barang aktual ini bertumpu pada pengiriman barang yang dilakukan secara cepat oleh perusahaan untuk memenuhi pesanan pelanggan, berapapun banyaknya dan apapun komposisi produknya. Karena umumnya jumlah barang yang dimuat 83

29 untuk dikirim tersebut sedikit, maka pemeriksaan terhadap komposisi produk lebih mudah untuk dilakukan. Sebagai konsekuensi dari kekuatan-kekuatan tersebut, maka timbul beberapa kelemahan pada sistem aktual ini. Kelemahan utama dari sistem aktual ini adalah tidak optimalnya keuntungan serta cukup besarnya biaya transportasi untuk kegiatan pengiriman barang yang dilakukan. Kedua hal tersebut terjadi sebagai akibat dari ketidakefektifan sistem pemuatan barang yang dilakukan, baik dalam hal jumlah barang yang dimuat setiap kali pemuatan barang, yang rata-ratanya jauh dari kapasitas maksimum box (kurang dari 50 % kapasitas maksimum box) maupun dalam hal jumlah intensitas pengiriman barang yang cukup besar, yang dilakukan dalam satu bulan. Disamping kelemahankelemahan di atas, adapula kelemahan lain yang memang tidak terkait langsung dengan sistem pemuatan barang namun turut mempengaruhi sistem tersebut. Kelemahan tersebut adalah tidak optimalnya fungsi PPIC (Production Planning and Inventory Control) dan fungsi peramalan (forecasting) yang terdapat di perusahaan. Tidak optimal, karena sistem pemuatan barang aktual yang dilakukan oleh perusahaan ini hampir tidak pernah menggunakan informasi dari kedua fungsi tersebut, padahal informasi dari kedua fungsi ini penting bagi sistem pemuatan barang. Kelemahan-kelemahan sistem pemuatan barang aktual tersebutlah yang menjadi sasaran untuk dihilangkan atau paling tidak dikurangi oleh perusahaan, agar biaya yang tidak perlu dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan. 84

30 2. Rekomendasikan kekuatan dan kelemahan sistem usulan Tabel 4.16 Kekuatan dan Kelemahan Sistem Usulan Kekuatan Sistem Usulan Optimalisasi keuntungan Pengurangan biaya transportasi Efektif Optimalisasi fungsi PPIC Optimalisasi fungsi Forecasting Kelemahan Sistem Usulan Relatif lama (Tenggang waktu panjang) Orientasi terhadap pesanan pelanggan relatif kurang Pemeriksaan relatif lebih sulit Model dynamic programming yang direkomendasikan untuk diterapkan pada sistem pemuatan barang yang ada di PT. Krista Jaya Indosol ini memiliki beberapa kekuatan yang secara nyata mampu mengatasi berbagai kelemahan yang timbul pada sistem aktual. Kekuatan utama dari sistem usulan berbasis dynamic programming tersebut, diantaranya adalah kemampuan untuk mengoptimalkan profit (keuntungan) pemuatan barang, mengurangi biaya transportasi (shipment cost), serta meningkatkan efektifitas proses maupun sistem pemuatan barang. Bahkan sistem ini secara tidak langsung mampu mendorong peningkatan kinerja dari fungsi PPIC (Production Planning and Inventory Control) dan fungsi peramalan (forecasting), guna menunjang kelancaran sistem pemuatan barang. Sistem usulan, sama halnya dengan sistem aktual, juga memiliki kelemahan sebagai konsekuensi dari kekuatan-kekuatan yang ada. Kelemahan tersebut diantaranya adalah tenggang waktu pengiriman barang yang relatif lebih lama, 85

31 sehingga muncul indikasi bahwa sistem ini kurang berorientasi terhadap pesanan pelanggan. Padahal tidak demikian kenyataannya, karena justru dengan sistem usulan inilah pelanggan akan mendapatkan beberapa keuntungan, diantaranya adalah pengurangan biaya pesan (ordering cost) serta secara tidak langsung akan memperbaiki sistem perencanaan pemesanan barang dan mengoptimalkan fungsi peramalan (forecasting). Kesulitan terbesar adalah ketika ketentuan tentang jumlah total karung ditetapkan minimal 48 karung (75 % dari kapasitas maksimum box) untuk dimuat setiap kali pemuatan barang. Oleh karena itu, perlu ada kesepakatan bersama antara pihak perusahaan dengan pelanggan dalam bentuk kontrak kerja tertulis, yang didalamnya berisi klausul tentang ketentuan pengiriman barang. Kelemahan lain dari sistem usulan ini berkaitan dengan pemeriksaan terhadap komposisi produk yang menjadi lebih sulit untuk dilakukan akibat lebih banyaknya jumlah barang yang dimuat. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan pembenahan dan pengaturan terhadap sistem persediaan barang jadi yang terletak di bagian shipping area serta menugaskan satu orang tenaga kerja, yang mencatat berat barang yang akan dimuat pada saat kegiatan penimbangan, untuk melakukan pemeriksaan akhir terhadap komposisi produk yang akan dimuat tersebut. 3. Lakukan studi kelayakan Studi kelayakan dilakukan terhadap model dynamic programming yang telah direkomendasikan untuk diimplementasikan pada sistem pemuatan barang. Studi kelayakan ini bertujuan untuk menentukan layak atau tidaknya pilihan keputusan 86

32 tersebut bagi perusahaan, secara keseluruhan. Hal ini berarti bahwa model dynamic programming bukan hanya harus layak untuk sistem pemuatan barang saja, tetapi juga harus sesuai dengan aktivitas-aktivitas lain di perusahaan, baik yang ada di tingkat operasional maupun di tingkat organisasi. Studi kelayakan untuk implementasi model dynamic programming tersebut, minimal harus mencakup hal-hal berikut, yaitu : Internal sistem pemuatan barang Studi kelayakan terhadap internal sistem pemuatan barang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas yang ada di tingkat sistem tersebut. Studi ini berusaha menjawab apakah model dynamic programming yang akan diimplementasikan tersebut cocok (compatible) untuk setiap aktivitas sistem pemuatan barang; baik untuk kegiatan packaging, kegiatan penimbangan, kegiatan pemindahan barang dari packaging area ke shipping area, maupun untuk kegiatan pemuatan barang itu sendiri. Faktor-faktor produksi Studi kelayakan terhadap faktor-faktor produksi berkaitan dengan aktivitas yang ada di tingkat operasional. Berdasarkan tingkat produksi yang dapat diperkirakan oleh perhitungan model dynamic programming agar pemuatan barang dapat optimal, maka ada beberapa faktor produksi yang harus dinilai kelayakannya, antara lain : Faktor bahan baku (material). Persediaan bahan baku harus mampu memenuhi tingkat produksi yang telah diperkirakan. 87

33 Faktor mesin (machine). Jumlah dan kemampuan mesin harus mampu memenuhi tingkat produksi yang telah diperkirakan. Faktor manusia (man). Tenaga kerja yang digunakan merupakan tenaga kerja yang terlatih dan trampil. Faktor metode (method). Metode pemindahan barang dan metode penyampaian informasi harus dilakukan secara tepat dan efektif. Anggaran Studi kelayakan terhadap anggaran berkaitan dengan aktivitas yang ada di tingkat organisasi, khususnya bagian keuangan (finance). Studi ini mencakup dua hal, yaitu : Tentukan besar biaya investasi dan biaya operasional untuk implementasi model dynamic programming ini. Lakukan analisis keuangan untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam melakukan penyesuaian anggaran (budget). 4. Susun rencana implementasi Rencana implementasi merupakan rincian tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan model dynamic programming yang akan diimplementasikan. Rencana implementasi tersebut umumnya ditampilkan dalam bentuk tabel kerja (template). Template rencana implementasi yang dibuat tersebut paling tidak harus berisi aktivitas, sasaran, penanggung jawab (person in charge), divisi terkait, jangka waktu, fasilitas yang digunakan, serta indikator sukses. (Lihat tabel 4.17) 88

34 Tabel 4.17 Template Rencana Implementasi Aktivitas Sasaran Person in charge Divisi (Penanggung jawab) Terkait Jangka Waktu Fasilitas Indikator yang digunakan Sukses 5. Buat mekanisme tinjau ulang Mekanisme tinjau ulang yang dibuat harus memiliki dua fungsi utama, yaitu : Fungsi kendali (control) Fungsi evaluasi Mekanisme tinjau ulang yang dibuat tersebut harus memenuhi syarat-syarat berikut, yaitu : Operasi terhadap sistem atau mekanisme tinjau ulang mudah untuk dilakukan. Tempatkan sumber daya manusia yang tepat. Gunakan peran teknologi informasi. Setiap hasil yang diperoleh harus dicatat dan didokumentasi. Mekanisme tinjau ulang harus dilakukan secara rutin. Sistem atau mekanisme tinjau ulang harus fleksibel, artinya bahwa sistem tersebut dapat dengan mudah dan cepat untuk direvisi jika terjadi perubahan. 89

35 Disamping harus mengikuti langkah-langkah di atas, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh rencana implementasi agar pemecahan masalah pemuatan barang dengan model dynamic programming ini dapat optimal. Syarat-syarat tersebut antara lain : Penggunaan model dynamic programming harus benar dan tepat, termasuk dalam hal ini adalah taat terhadap batasan-batasan yang telah ditentukan. Perlu ada kesepakatan bersama tentang ketentuan pengiriman barang, agar kapasitas muatan dapat dimaksimalkan. Perlu dukungan dari fungsi PPIC (Production Planning and Inventory Control) dan fungsi peramalan (forecasting). Perlu didukung secara total oleh kebijakan-kebijakan dari manajemen puncak. 90

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Pengertian, Struktur, Kelebihan dan Kekurangan, serta Potensi Dynamic Programming Dynamic Programming adalah suatu teknik kuantitatif yang digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah PT Dan Liris merupakan industri yang bergerak di bidang textile yang memproduksi benang, kain dan juga pakaian jadi. Pada bagian textile khususnya divisi Weaving

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN. bidang packaging, seperti membuat bungkusan dari suatu produk seperti, chiki,

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN. bidang packaging, seperti membuat bungkusan dari suatu produk seperti, chiki, BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN 3.1 Riwayat Perusahaan PT. Karya Indah Bersama adalah sebuah perusahaan yang bergerak pada bidang packaging, seperti membuat bungkusan dari suatu produk seperti, chiki,

Lebih terperinci

V. Hasil 3.1 Proses yang sedang Berjalan

V. Hasil 3.1 Proses yang sedang Berjalan V. Hasil 3.1 Proses yang sedang Berjalan Dalam industri komponen otomotif, PT. XYZ melakukan produksi berdasarkan permintaan pelanggannya. Oleh Marketing permintaan dari pelanggan diterima yang kemudian

Lebih terperinci

BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Produksi Produksi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau proses yang mentransformasi masukan (input) menjadi hasil keluaran

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Proses Alokasi Andaikan terdapat sejumlah sumber daya modal tertentu, yaitu dapat berupa uang untuk investasi, mesin cetak, bahan bakar untuk kendaraan dan lain sebagainya. Suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam hal ini, perusahaan sering dihadapkan pada masalah masalah yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam hal ini, perusahaan sering dihadapkan pada masalah masalah yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Suatu perusahaan selalu berusaha untuk mendapatkan laba yang maksimal. Dalam hal ini, perusahaan sering dihadapkan pada masalah masalah yang kompleks dalam mengambil

Lebih terperinci

PERBAIKAN SISTEM PERSEDIAAN GUDANG KARPET MENGGUNAKAN ECONOMIC ORDER INTERVAL PROBABILISTIC MODEL

PERBAIKAN SISTEM PERSEDIAAN GUDANG KARPET MENGGUNAKAN ECONOMIC ORDER INTERVAL PROBABILISTIC MODEL PERBAIKAN SISTEM PERSEDIAAN GUDANG KARPET MENGGUNAKAN ECONOMIC ORDER INTERVAL PROBABILISTIC MODEL Indri Hapsari, Dermanto Ang Teknik Industri Universitas Surabaya Jl. Raya Kalirungkut, 60293, Surabaya

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 57 BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1. Pengumpulan Data 4.1.1. Sejarah Perusahaan PT. Inkoasku merupakan salah satu perusahaan industri otomotif yang bergerak dalam bidang Wheel Rim Manufakturing.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sekarang ini sedang menghadapi persaingan di pasar bebas. Di

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sekarang ini sedang menghadapi persaingan di pasar bebas. Di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Indonesia sekarang ini sedang menghadapi persaingan di pasar bebas. Di dalam pasar bebas ini sudah tidak ada lagi batas-batas atau juga ketentuanketentuan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL KINERJA SISTEM ERP PADA MODUL MATERIAL MANAGEMENT

BAB 4 HASIL KINERJA SISTEM ERP PADA MODUL MATERIAL MANAGEMENT 124 BAB 4 HASIL KINERJA SISTEM ERP PADA MODUL MATERIAL MANAGEMENT 4.1 Evaluasi Perspektif dalam IT Balanced Scorecard Sesudah menetapkan ukuran dan sasaran strategis dari masing-masing perspektif IT balanced

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODE PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODE PEMECAHAN MASALAH 3.1 Metodologi Pemecahan Masalah Metodologi yang dipakai dalam pemecahan masalah merupakan penerapan dari metode perbaikan proses berkesinambungan (Continuous Prosess Improvement)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha pada era globalisasi ini diwarnai dengan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha pada era globalisasi ini diwarnai dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan dunia usaha pada era globalisasi ini diwarnai dengan persaingan yang semakin ketat. Persaingan bukan hanya datang dari dalam tetapi datang juga

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. penerimaan dengan pengeluaran, tetapi dengan semakin

BAB II LANDASAN TEORI. penerimaan dengan pengeluaran, tetapi dengan semakin BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian dan Jenis-Jenis Anggaran 1. Pengertian Anggaran Pengertian anggaran terus berkembang dari masa ke masa. Dulu anggaran hanya merupakan suatu alat untuk menyeimbangkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Industri makanan di Indonesia semakin berkembang pesat. Hal ini menimbulkan persaingan antar perusahaan sejenis yang semakin ketat. Oleh karena itu setiap perusahaan

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan adalah data yang didapat dari bulan Mei 2007 sampai bulan Juli 2007 yaitu berupa data-data yang berkaitan dengan perencanaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sistem pemuatan barang menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan

BAB 1 PENDAHULUAN. sistem pemuatan barang menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam industri manufaktur, termasuk yang dilakukan PT. Krista Jaya Indosol, sistem pemuatan barang menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan perusahaan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Flow diagram untuk pemecahan masalah yang terdapat pada PT. Pulogadung Pawitra Laksana (PT. PPL) dapat dilihat dalam diagram 3.1 di bawah ini. Mulai Identifikasi Masalah

Lebih terperinci

Volume 2 No 1 Desember 216 ISSN:288-3943 ANALISIS PERSEDIAAN BAHAN BAKU YANG OPTIMAL MENGGUNAKAN RANTAI MARKOV DI PT. PDM INDONESIA Muslena Layla Program Studi Komputerisasi Akuntansi Politeknik Trijaya

Lebih terperinci

III BAB I PENDAHULUAN

III BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Suatu sistem manajemen rantai pasok memiliki peranan penting untuk meningkatkan kinerja dalam setiap aktivitas industri. Salah satu faktor pendukungnya adalah gudang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jumlah Produksi Beras Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Jumlah Produksi Beras Indonesia BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara yang memproduksi beras terbanyak di dunia dan menggunakannya sebagai bahan makanan pokok utamanya. Beras yang dikonsumsi oleh setiap

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persediaan 2.1.1 Pengertian Persediaan Masalah umum pada suatu model persediaan bersumber dari kejadian yang dihadapi setiap saat dibidang usaha, baik dagang ataupun industri.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia, masyarakat yang menggunakan kendaraan tradisional tanpa bahan bakar tidak banyak. Kendaraan yang dimaksud misalnya sepeda, becak, dokar, dll. Karena kendaraan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam perkembangan ekonomi dewasa ini dimana dunia usaha tumbuh dengan pesat di indonesia, Pengusaha dituntut untuk bekerja dengan lebih efisien dalam menghadapi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di PT Klip Plastik Indonesia sejak dari Agustus-Desember 2015, penulis tertarik untuk melakukan penelitian di PT Klip Plastik

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. dari beberapa item atau bahan baku yang digunakan oleh perusahaan untuk

BAB 2 LANDASAN TEORI. dari beberapa item atau bahan baku yang digunakan oleh perusahaan untuk BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Persediaan Menurut Jacob, Chase, Aquilo (2009: 547) persediaan merupakan stok dari beberapa item atau bahan baku yang digunakan oleh perusahaan untuk produksi. Sedangkan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Program Dinamik

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Program Dinamik 5 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Program Dinamik Pemrograman dinamik adalah suatu teknik matematis yang biasanya digunakan untuk membuat suatu keputusan dari serangkaian keputusan yang saling berkaitan. Pemrograman

Lebih terperinci

Pendahuluan. Tabel I.1. Produksi Spare Part CV.Gradient

Pendahuluan. Tabel I.1. Produksi Spare Part CV.Gradient Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang CV. Gradient adalah perusahaan penghasil spare part untuk kendaraan bermotor khusunya sepeda motor. Berikut adalah data produksi CV. Gradient pada bulan Januari hingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Konsumen merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi perusahaan karena

BAB I PENDAHULUAN. Konsumen merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi perusahaan karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Konsumen merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi perusahaan karena tanpa konsumen perusahaan tidak akan hidup. Selain itu, adanya persaingan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang pusat industrinya sangat banyak, perusahaan yang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang pusat industrinya sangat banyak, perusahaan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang pusat industrinya sangat banyak, perusahaan yang ada di Indonesia terdiri dari perusahaan pemerintah maupun swasta. Perusahaan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Penulis melakukan penelitian di CV.Karya Logam dengan menggunakan tahapan-tahapan penelitian. Tahapan-tahapan penelitian tersebut antara lain : 3.1. Studi Lapangan Studi lapangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seperti yang kita lihat dan rasakan sekarang ini persaingan di dunia bisnis

BAB I PENDAHULUAN. Seperti yang kita lihat dan rasakan sekarang ini persaingan di dunia bisnis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seperti yang kita lihat dan rasakan sekarang ini persaingan di dunia bisnis semakin lama semakin tinggi dan sulit. Setiap perusahaan dituntut untuk dapat memberikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam suatu perusahaan terdapat sebuah organisasi yang kegiatannya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam suatu perusahaan terdapat sebuah organisasi yang kegiatannya BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Metode Kombinasi Produk Dalam suatu perusahaan terdapat sebuah organisasi yang kegiatannya melakukan produksi. Yang dimaksud kegiatan produksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada sebuah industri manufaktur, proses perencanaan dan pengendalian produksi

BAB I PENDAHULUAN. Pada sebuah industri manufaktur, proses perencanaan dan pengendalian produksi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada sebuah industri manufaktur, proses perencanaan dan pengendalian produksi memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan operasional perusahaan tersebut.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI Proses produksi PT Amanah Prima Indonesia dimulai dari adanya permintaan dari konsumen melalui Departemen Pemasaran yang dicatat sebagai pesanan dan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA MASALAH

BAB IV ANALISA MASALAH BAB IV ANALISA MASALAH 4.1. Metodologi Penelitian Gambar 4.1. Diagram Alir Metodologi Penelitian 34 4.2. Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dilakukan untuk mengetahui gambaran umum tentang proses bisnis

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 7 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Persediaan Persediaan dapat diartikan sebagai aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode tertentu, atau persediaan

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Manajemen Persediaan Manajemen persediaan adalah menentukan keseimbangan antara investasi persediaan dengan pelayanan pelanggan (Heizer dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun ajaran dan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun ajaran dan 19 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2012-2013 dan bertempat di Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disepakati dengan pelanggan dan akan berakibat menurunnya customer

BAB I PENDAHULUAN. disepakati dengan pelanggan dan akan berakibat menurunnya customer BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perencanaan, pengendalian, dan pemeliharaan persediaan barang-barang fisik merupakan suatu masalah yang lazim di semua perusahaan. Untuk kebanyakan perusahaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan fasilitas didefinisikan sebagai rencana awal atau penataan fasilitas-fasilitas fisik seperti peralatan, tanah, bangunan, dan perlengkapan untuk mengoptimasikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam produk, baik itu berupa barang ataupun jasa. Salah satu

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam produk, baik itu berupa barang ataupun jasa. Salah satu BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Dewasa ini perkembangan dunia industri semakin maju, hal itu terbukti dengan banyaknya bermunculan industri-industri baru yang memproduksi berbagai macam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dampak semakin ketatnya persaingan perusahaan pada saat ini telah

BAB I PENDAHULUAN. dampak semakin ketatnya persaingan perusahaan pada saat ini telah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan sebagai suatu dampak semakin ketatnya persaingan perusahaan pada saat ini telah membawa dampak pada perusahaan untuk

Lebih terperinci

Perbaikan Sistem Persediaan Karpet dan Spon di UD Luas, Surabaya

Perbaikan Sistem Persediaan Karpet dan Spon di UD Luas, Surabaya Perbaikan Sistem Persediaan Karpet dan Spon di UD Luas, Surabaya Indri Hapsari, Stefanus Soegiharto, Theodore S.K. Teknik Industri, Universitas Surabaya Jl. Raya Kalirungkut, Surabaya 60293 Email: [email protected]

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI S1 SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS DIPONEGORO. Oky Dwi Nurhayati, ST, MT

PROGRAM STUDI S1 SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS DIPONEGORO. Oky Dwi Nurhayati, ST, MT PROGRAM STUDI S1 SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS DIPONEGORO Oky Dwi Nurhayati, ST, MT email: [email protected] 1 Program Dinamis (dynamic programming): - metode pemecahan masalah dengan cara menguraikan solusi

Lebih terperinci

Lecture 5 : Dynamic Programming (Programa Dinamis) Hanna Lestari, ST, M.Eng

Lecture 5 : Dynamic Programming (Programa Dinamis) Hanna Lestari, ST, M.Eng Lecture 5 : Dynamic Programming (Programa Dinamis) Hanna Lestari, ST, M.Eng Definisi Suatu teknik kuantitatif yang digunakan untuk membuat suatu rangkaian keputusan yang saling berkaitan. (Hillier & Lieberman,

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Mulai Identifikasi Masalah Pengumpulan Data : - data penjualan - data kebutuhan bahan baku - data IM F - data biaya pesan - data biaya simpan Pengolahan Data : - Peramalan

Lebih terperinci

transportasi yang tidak dapat dipastikan membuat perusahaan khawatir akan mengalami kehabisan stok raw coal. Hal ini menyebabkan perusahaan memiliki

transportasi yang tidak dapat dipastikan membuat perusahaan khawatir akan mengalami kehabisan stok raw coal. Hal ini menyebabkan perusahaan memiliki BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah PT Holcim Indonesia Pabrik Cilacap memiliki beberapa mesin pada lantai produksi yaitu Mesin Raw Mill, Mesin Kiln, Mesin Finish Mill, dan Mesin Coal Mill. Pabrik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ekonomi di Indonesia saat ini dihadapkan pada era

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ekonomi di Indonesia saat ini dihadapkan pada era BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan ekonomi di Indonesia saat ini dihadapkan pada era perdagangan bebas dan globalisasi dunia usaha. Adanya globalisasi dapat dilihat dengan tumbuhnya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada saat ini banyak terjadi persaingan dalam dunia usaha. Setiap pengusaha harus berlomba lomba untuk mencari usaha dan cara untuk mampu bersaing serta harus memiliki

Lebih terperinci

Lecture 5 : Dynamic Programming (Programa Dinamis) Hanna Lestari, ST, M.Eng

Lecture 5 : Dynamic Programming (Programa Dinamis) Hanna Lestari, ST, M.Eng Lecture 5 : Dynamic Programming (Programa Dinamis) Hanna Lestari, ST, M.Eng Definisi Suatu teknik kuantitatif yang digunakan untuk membuat suatu rangkaian keputusan yang saling berkaitan. (Hillier & Lieberman,

Lebih terperinci

OPTIMALISASI PEMESANAN BAHAN BAKU DI PT XYZ UNTUK MEREDUKSI BIAYA PERSEDIAAN DENGAN METODE PROGRAM DINAMIS

OPTIMALISASI PEMESANAN BAHAN BAKU DI PT XYZ UNTUK MEREDUKSI BIAYA PERSEDIAAN DENGAN METODE PROGRAM DINAMIS Jurnal Teknik dan Ilmu Komputer OPTIMALISASI PEMESANAN BAHAN BAKU DI PT XYZ UNTUK MEREDUKSI BIAYA PERSEDIAAN DENGAN METODE PROGRAM DINAMIS Iwan Aang Soenandi*, Parvesh Putren Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Semakin meningkatnya permintaan pelanggan akan suatu barang membuat perusahaan berusaha untuk memenuhi permintaan tersebut. Untuk memperlancar pemenuhan permintaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Persaingan antar perusahaan tidak terbatas hanya secara lokal,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Persaingan antar perusahaan tidak terbatas hanya secara lokal, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Persaingan antar perusahaan tidak terbatas hanya secara lokal, tetapi mencakup kawasan regional dan global sehingga setiap perusahaan berlomba untuk terus mencari

Lebih terperinci

Bab 1 PENDAHULUAN. keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuan. Sekarang komputer bukan

Bab 1 PENDAHULUAN. keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuan. Sekarang komputer bukan Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi informasi khususnya teknologi informasi berbasis komputer dewasa ini dirasa sangat pesat dan hal ini berpengruh terhadap aspek pekerjaan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manajemen persediaan dalam sebuah perusahaan berada di antara fungsi manajemen operasional yang paling penting, karena persediaan membutuhkan modal yang sangat besar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, perkembangan teknologi di Indonesia terjadi dengan sangat pesat. Hal tersebut berpengaruh terhadap perkembangan badan usaha, perusahaan, organisasi dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dari penurunan nilai pertumbuhan industry pada setiap tahunnya. Pada 2004

BAB 1 PENDAHULUAN. dari penurunan nilai pertumbuhan industry pada setiap tahunnya. Pada 2004 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan industri di Indonesia sekarang ini menurun. Hal ini dapat dilihat dari penurunan nilai pertumbuhan industry pada setiap tahunnya. Pada 2004 pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORETIS

BAB II TINJAUAN TEORETIS BAB II TINJAUAN TEORETIS 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1 Sistem Informasi Akuntansi Persediaan Sistem informasi akuntansi persediaan merupakan sebuah sistem yang memelihara catatan persediaan dan memberitahu

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Anggaran merupakan suatu instrumen didalam manajemen karena

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Anggaran merupakan suatu instrumen didalam manajemen karena BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Teoritis Anggaran merupakan suatu instrumen didalam manajemen karena merupakan bagian dari fungsi manajemen. Di dunia bisnis maupun di organisasi sektor publik, termasuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Klasifikasi Biaya 2.1.1 Pengertian Biaya Biaya merupakan salah satu pengeluaran yang pasti dalam suatu perusahaan, oleh karenanya, biaya sangat diperlukan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tabel I.1 Rincian Total Penjualan PT. SJS pada tahun Sumber: (PT. Sampoerna Jaya Sentosa, 2014) Total Penjualan (Kg)

BAB I PENDAHULUAN. Tabel I.1 Rincian Total Penjualan PT. SJS pada tahun Sumber: (PT. Sampoerna Jaya Sentosa, 2014) Total Penjualan (Kg) BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang PT. Sampoerna Jaya Sentosa (PT SJS) merupakan perusahaan manufaktur yang berfokus dibidang tekstil. PT SJS berdiri dan beroperasi sejak tahun 2002 dengan nama PT. Makmur

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 21 Teori Himpunan Fuzzy Pada himpunan tegas (crisp), nilai keanggotaan suatu item x dalam himpunan A, yang sering ditulis dengan memiliki dua kemungkinan, yaitu: 1 Nol (0), yang berarti

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 78 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah produk unit karoseri yang pernah diproduksi oleh PT. Karyatugas Paramitra dari bulan Januari sampai

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODE PENELITIAN 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN III. METODE PENELITIAN 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN Bahan baku merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh besar dalam memperlancar proses produksi. Banyaknya yang tersedia akan menentukan besarnya penggunaan

Lebih terperinci

Akuntansi Biaya. Bahan Baku : Pengendalian, Perhitungan Biaya, dan Perencanaan (Materials : Controlling, Costing and Planning)

Akuntansi Biaya. Bahan Baku : Pengendalian, Perhitungan Biaya, dan Perencanaan (Materials : Controlling, Costing and Planning) Akuntansi Biaya Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Bahan Baku : Pengendalian, Perhitungan Biaya, dan Perencanaan (Materials : Controlling, Costing and Planning) Rista Bintara, SE., M.Ak Program Studi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kepuasan konsumen merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam memenangkan pasar. Salah satu cara untuk memuaskan keinginan konsumen, yaitu dengan menjaga

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Meskipun perekonomian dan perindustrian nasional kini dihadapkan kepada dampak krisis ekonomi global, namun bisnis ritel di Indonesia tidak terkendala bahkan masih

Lebih terperinci

COST ACCOUNTING MATERI-9 BIAYA BAHAN BAKU. Universitas Esa Unggul Jakarta

COST ACCOUNTING MATERI-9 BIAYA BAHAN BAKU. Universitas Esa Unggul Jakarta COST ACCOUNTING MATERI-9 BIAYA BAHAN BAKU Universitas Esa Unggul Jakarta PENGERTIAN BAHAN BAKU Adalah bahan yang membentuk bagian menyeluruh dari produk jadi. Bahan baku dapat diperoleh dari pembelian

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT X merupakan industri makanan di Depok yang memproduksi roti dengan 23 varian roti. Masalah yang dihadapi perusahaan saat ini adalah sering terjadinya over stock dan terkadang lost sales yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Perencanaan produksi adalah kegiatan yang rutin dan wajib dilakukan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. Perencanaan produksi adalah kegiatan yang rutin dan wajib dilakukan oleh BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan produksi adalah kegiatan yang rutin dan wajib dilakukan oleh setiap perusahaan. Perencanaan produksi ini bertujuan untuk membuat prediksi tentang lama penyelesaian

Lebih terperinci

BAB 4 DATA. Primatama Konstruksi departemen PPIC (production planning and inventory

BAB 4 DATA. Primatama Konstruksi departemen PPIC (production planning and inventory BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Pengumpulan Data Untuk EOQ Dalam melakukan penelitian untuk memecahkan permasalahan di PT. Primatama Konstruksi departemen PPIC

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 4.1 Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Langkah-langkah dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dalam membuat sistem untuk menghasilkan suatu perencanaan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN

BAB IV ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN BAB IV ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN Bab ini meliputi 2 bagian utama, yaitu analisis data dan hasil penelitian. Analisis data menjabarkan dan mengalkulasikan penelitian yang telah dipaparkan secara

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Diagram alir pemecahan masalah dan penjelasan Langkah-langkah yang diambil dalam memecahkan permasalahan yang terjadi dalam penyusunan skripsi ini adalah : Pendahuluan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT.GISTEX merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang terbesar di Bandung, yang berfokus pada produksi tekstil dan garmen (fashion). Setelah melewati beberapa tahun dalam melakukan pengembangan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Tahap-tahap yang dilalui dalam melakukan penelitian ini ada 4 tahap utama yaitu tahap pendahuluan, tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penulisan laporan.

Lebih terperinci

Persyaratan Produk. I.1 Pendahuluan

Persyaratan Produk. I.1 Pendahuluan BAB I Persyaratan Produk I.1 Pendahuluan Perkembangan teknologi saat ini merupakan pemicu perusahaan untuk menggali potensi yang dimiliki perusahaan untuk dapat lebih meningkatkan performance perusahaan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Persediaan adalah sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan yang dapat dikonversikan ke dalam bentuk kas ketika terjadi suatu transaksi penjualan. Dalam mengelola

Lebih terperinci

ANALISIS PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BBM PADA SPBU PT. MANASRI USMAN *)

ANALISIS PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BBM PADA SPBU PT. MANASRI USMAN *) ANALISIS PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BBM PADA SPBU PT. MANASRI USMAN *) Jonathan Binus University, Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 17 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran PT NIC merupakan perusahaan yang memproduksi roti tawar spesial (RTS). Permintaan RTS menunjukkan bahwa dari tahun 2009 ke tahun 2010 meningkat sebanyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.

BAB I PENDAHULUAN. sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pengambilan keputusan adalah pemilihan di antara alternatifalternatif mengenai sesuatu cara bertindak serta inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Kecamatan Ngadiluwih, Kediri. UD. Pilar Jaya adalah perusahaan yang

BAB III METODE PENELITIAN. Kecamatan Ngadiluwih, Kediri. UD. Pilar Jaya adalah perusahaan yang BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di UD. Pilar Jaya yang berlokasi di Desa Banjarejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kediri. UD. Pilar Jaya adalah perusahaan yang memproduksi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. berhubungan dengan suatu sistem. Menurut Jogiyanto (1991:1), Sistem adalah

BAB II LANDASAN TEORI. berhubungan dengan suatu sistem. Menurut Jogiyanto (1991:1), Sistem adalah BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Sistem Informasi Dalam perancangan sistem terlebih dahulu harus mengerti sub sistem. Sub sistem yaitu serangkaian kegiatan yang dapat ditentukan identitasnya, yang

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 4.1. Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Dibawah ini merupakan diagram alir yang menggambarkan langkahlangkah dalam melakukan penelitian di PT. Dankos Laboratorioes

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Inovasi di dalam sistem informasi saat ini berkembang dengan cepat dan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Inovasi di dalam sistem informasi saat ini berkembang dengan cepat dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Inovasi di dalam sistem informasi saat ini berkembang dengan cepat dan selaras dengan perkembangan karakteristik masyarakat modern yang memiliki mobilitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Seiring dengan perkembangan alat transportasi yang sebanding dengan pesatnya pembangunan di Indonesia, membuat para Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Pengertian Akuntansi Manajemen Pihak-pihak yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu perusahaan sangat memerlukan informasi akuntansi, untuk memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tujuan yang diinginkan perusahaan tidak akan dapat tercapai.

BAB I PENDAHULUAN. tujuan yang diinginkan perusahaan tidak akan dapat tercapai. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara agraris, pengendalian persediaan merupakan fungsi-fungsi yang sangat penting, karena dalam persediaan melibatkan Investasi rupiah terbesarnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia kaya akan sumber daya alamnya yang melimpah, banyak perusahaan lokal maupun perusahaan asing masuk ke indonesia untuk bersaing demi menjadi perusahaan yang

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 1.1 Manajemen Produksi 1.1.1 Pengertian Proses Produksi Dalam kehidupan sehari-hari, baik dilingkungan rumah, sekolah maupun lingkungan kerja sering kita dengar mengenai apa yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengkoordinasikan penggunaan sumber daya sumber daya yang berupa. sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya dana serta

BAB I PENDAHULUAN. mengkoordinasikan penggunaan sumber daya sumber daya yang berupa. sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya dana serta 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Manajemen operasi adalah kegiatan untuk mengatur dan mengkoordinasikan penggunaan sumber daya sumber daya yang berupa sumber daya manusia, sumber daya alam,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi yang semakin pesat saat ini telah membuat banyak perubahan dalam gaya hidup masyarakat. Salah satu perubahannya adalah banyaknya penggunaan smartphone,

Lebih terperinci

Seminar Nasional IENACO ISSN: PERANCANGAN TATA LETAK CV.KARYA LOGAM DENGAN MEMPERTIMBANGKAN PERENCANAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU

Seminar Nasional IENACO ISSN: PERANCANGAN TATA LETAK CV.KARYA LOGAM DENGAN MEMPERTIMBANGKAN PERENCANAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PERANCANGAN TATA LETAK CV.KARYA LOGAM DENGAN MEMPERTIMBANGKAN PERENCANAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU Taufik Martha Andrianta 1, Slamet Setio Wigati 2 Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri,

Lebih terperinci