BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Sucianty Dharmawijaya
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. DEFINISI Glaukoma sudut terbuka primer (Primary Open Angle Glaucoma / POAG), adalah glaukoma yang paling sering, dengan karakteristik kronis/serangan perlahan-lahan, neuropati optik dengan gambaran kerusakan saraf optik dan hilangnya lapang pandangan. Peningkatan tekanan intraokular merupakan faktor resiko utamanya (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Saunders, 2005) (Sihota, 2007) FISIOLOGI AKUOS HUMOR Akuos humor adalah suatu cairan jernih yang mengisi ruang bilik mata depan dan belakang. Tekanan osmotik sedikit lebih tinggi dari plasma. Komposisi akuos humor serupa dengan plasma kecuali bahwa cairan ini memiliki konsentrasi askorbat, piruvat dan laktat yang lebih tinggi dan protein, urea dan glukosa yang lebih rendah. Akuos humor berfungsi sebagai media refraksi dengan kekuatan rendah, mengisi volume bola mata, mempertahankan tekanan intraokular serta memberi nutrasi untuk jaringan avaskular mata (American Academy of Ophthalmology, ) (Kurana, 2007).
2 Dinamika akuos humor Tekanan intraokuler ditentukan oleh keseimbangan antara jumlah produksi akuos humor oleh badan siliar, resistensi dari pengaliran akuos humor pada sudut bilik mata depan menuju sistem jalinan trabekular-kanal Schlemm dan level dari tekanan vena episklera serta mengalir melalui jalur uveosklera (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Kurana, 2007) Produksi akuos humor Cairan akuos humor diproduksi oleh korpus siliaris melalui tiga mekanisme yaitu: sekresi, ultrafiltrasi dan diffusi. Dimana 80% dari produksi akuos humor disekresi oleh epitel siliaris yang tidak berpigmen melalui metabolisme aktif dan tergantung pada jumlah sistem enzim, serta 20% dari produksi akuos humor melalui proses ultafiltrasi dan diffusi melalui mekanisme pasif dari plasma kapiler yang dihasilkan di stroma prosesus sekretorius serta kemampuan plasma melewati sawar epitel dan aliran komponen plasma karena adannya perbedaan tekanan osmotik dan tingkat tekanan intraokuler (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Vaughan 2010). Tingkat produksi akuos humor rata-rata adalah 2,6-2,8 µl/menit atau I% dari volume akuos humor permenit dan angkanya menjadi 2,4 ± 0,6 µl/menit jika dilakukan pengukuran dengan alat fluorofotometer (American Academy of Ophthalmology, ) (Sihota, 2007).
3 Aliran akuos humor Bagan Aliran akuos humor (American Academy of Ophthalmology, ) (Khurana, 2005). Prosesus siliar Akuos humor masuk kedalam bilik mata belakang (melalui pupil) bilik mata depan jalinan trabekular badan siliar kanal Schlemm vena-vena episkera sirkulasi vena badan siliar, koroid, sklera Jalur Trabekular (90%) Jalur Uveoskleral (10%) Aliran akuos humor dari bilik mata belakang melalui pupil menuju bilik mata depan kemudian mengalir melalui dua jalur : trabekular (konvensional / kanalikular) melalui kanal Schlemm, kanal intra sklera, vena evisklera untuk selanjutnya masuk kedalam sirkulas; jalur ini meliputi ± 90% dari seluruh aliran akuos humor. Jalinan trabekular terdiri dari berkas-berkas jaringan kolagen kollagen dan elastik yang dibungkus oleh sel-sel trabekular yang membentuk suatu saringan dengan ukuran pori-pori semakin mengecil sewaktu mendekati kanalis Schlemm. Kontraksi otot siliaris melalui insersinya kedalam jalinan trabekula memperbesar ukuran pori-pori di jalinan tersebut sehingga kecepatan drainase akuos humor juga meningkat. Aliran akuos humor kedalam kanalis Schlemm bergantung pada pembentukan saluran-saluran transelular siklik
4 dilapisan endotel. Saluran eferen dari kanalis Schlemm (sekitar 30 saluran pengumpul dan 12 vena akuos) menyalurkan cairan kedalam sistem vena. Sejumlah kecil ± 10% akuos humor keluar melalui jalur uveosklera (unkonvensional / ekstrakanalikular). Jalur tersebut terdiri dari uveal meshwork dan korneosklera meshwork, uvea pada trabekula ini menghadap kebilik depan dan meluas dari skleral-spur, permukaan anterior badan siliar serta akar iris yang kemudian berakhir dimembran Descemet (garis Schwalbe) (Glaucoma, American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Khurana, 2007) Tekanan Vena Episklera Hubungan antara tekanan vena episklera dan dinamika akuos humor sangatlah rumit karena baru sebagian yang bisa diketahui. Tekanan vena episklera normal diperkirakan sekitar 8 12 mmhg. Peningkatan tekanan vena episklera adalah sebesar 1 mmhg biasanyaakan diikuti peningkatan tekanan intraokuler dalam besar yang sama (American Academy of Ophthalmology, ) HUBUNGAN TEKANAN INTRAOKULER DAN ALIRAN AKUOS HUMOR Berdasarkan dinamika pengaliran akuos humor melalui jalur trabekular ditemukan tiga faktor saling berhubungan yang dirumuskan oleh Goldmann dengan (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005)
5 Po = (F /C) + Pv Po = Tekanan intraokuler (mmhg) F = Kecepatan pembentukan akuos humor (µl / mnt) C = Kemudahan aliran akuos humor (µl / mnt / mmhg) Pv = Tekanan vena episklera (mmhg) 2.4. EPIDEMIOLOGI POAG menjadi masalah penting dalam kesehatan umum. Prevalensi POAG bervariasi tergantung dimana penelitian dilakukan. Kebutaan dari lebih 8 juta orang, 4 jutanya disebabkan oleh POAG. Prevalensi Rotterdam Study menunjukkan 0,8 %, dan Barbados Eye Study menunjukkan prevalensi 7% dengan usia diatas 40 tahun, insidensi 2,2 % pada usia diatas 40 tahun pada dominan penduduk kulit hitam. Prevalensi glaukoma pada orang yang lebih tua, dengan perkiraan usia 70 tahun biasanya 3-8 kali lebih besar dibandingkan usia 40 tahun. Pada kulit putih usia 40 tahun keatas, prevalensinya antara 1,1 % - 2,1 % telah dilaporkan pada studi dasar penduduk seluruh dunia. Prevalensi POAG pada kulit hitam 3-4 kali lebih besar, dengan sedikitnya 4 kali kemungkinan mengalami kebutaan. Perbedaan ras meningkat dengan usia, dengan kemungkinan kebutaan dari POAG meningkat menjadi 15 kali lebih besar pada kulit hitam kelompok umur tahun. Pada Visual Impairment Project, di Melbourne, Australia
6 terjadi 1,1 % jelas dan mungkin akan terjadi POAG. Pada Rotterdam Study 5 tahun, resiko 1,8 % jelas dan mungkin akan terjadi POAG. Pada kedua studi ini insidensi meningkat signifikan dengan usia. POAG dapat mengenai laki-laki dan perempuan, dan dapat familial (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Benjamin, 2007) (Vaughan, 2010) (Ilyas, 2007). Dari data WHO 2011, menggambarkan bahwa saat ini terdapat 285 juta orang menderita gangguan penglihatan, 39 juta diantaranya mengalami kebutaan. 90 % penderitanya berada di negara berkembang. Menurut Riskesda 2007 prevalensi glaukoma adalah 0,5 % (American Academy of Ophthalmology, ) (Saunders, 2005) (Depkes, 2010) PATOGENESA Terdapat tiga faktor penting yang menentukan bola mata yaitu (American Academy of Ophthalmology, ) (Khurana, 2007) : 1. Jumlah produksi akuos oleh badan siliar. 2. Tahanan aliran akuos humor yang melalui sistem trabekular meshworkkanalais Schlemm. 3. Level dari tekanan vena episklera Terjadinya POAG belum diketahui secara pasti namun terjadi peningkatan TIO pada POAG disebabkan karena peningkatan tahanan aliran akuos pada trabekular meshwork, dimana dengan pertambahan usia terjadi proses degenerasi dan sklerosis/iskemik di trabekular meshwork. Peningkatan TIO secara langsung
7 menyebabkan kerusakan serabut saraf retina (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Lang, 2007). Terdapat 2 hipotesis yang menjelaskan terjadinya neuropati optik glaukomatos, yaitu teori mekanik dan iskemik. 1. Teori mekanik menekankan pentingnya kompresi langsung pada serabutserabut akson dan struktur yang mendukung nervus optikus bagian anterior, dengan terjadinya distorsi lempeng lamina kibrosa dan terputusnya aliran aksoplasmik, yang menimbulkan kematian sel ganglion retina (RGCs). 2. Teori iskemik memfokuskan pada perkembangan potensial iskemik intraneural akibat penurunan perfusi nervus optikus. Perfusi ini dapat disebabkan oleh penekanan intaokular pada suplai darah ke nervus atau dari proses intrinsik pada nervus optikus. Gangguan autoregulasi pembuluh darah mungkin menurunkan perfusi dan mengakibatkan gangguan saraf. Pembuluh darah nervus opikus secara normal meningkat atau menurunkan tekanannya untuk memelihara aliran darah secara konstan tidak tergantung dari variasi tekanan intraokular dan tekanan darah (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Khurana, 2007). Menurut teori iskemik, turunnya aliran darah di dalam lamina kribrosa akan menyebabkan iskemia dan tidak tercukupinya energi yang diperlukan untuk transport aksonal. Iskemik dan transport aksonal akan memacu terjadinya apoptosis (Lewis et al., 1993).
8 Pada hakekatnya kematian sel (apoptosis) dapat terjadi karena rangsangan atau jejas letal yang berasal dari luar ataupun dari dalam sel itu sendiri (bersifat aktif ataupun pasif). Kematian sel yang berasal dari dalam sel itu sendiri dapat terjadi melalui mekanisme genetik, yang merupakan suatu proses fisiologis dalam keadaan mempertahankan keseimbangan fungsinya. Proses kematian yang berasal dari luar sel dan bersifat pasif dapat tejadi karena jejas ataupun injury yang letal akibat faktor fisik, kimia, iskhemik maupun biologis (Chen, 2003). Pada proses iskemik, terjadi mekanisme autoregulasi yang abnormal sehingga tidak dapat mengkompensasi perfusi yang kurang dan terjadi resistensi (hambatan) aliran humor akuous pada trabekular meshwork yang akhirnya menyebabkan peningkatan tekanan intraokuli (TIO) (Lewis, 1993). Pemikiran terbaru tentang neuropati optik glaukoma mengatakan bahwa kedua faktor mekanik dan pembuluh darah mungkin berperan terhadap kerusakan glaukoma adalah seperti suatu kelainan famili heterogen dan kematian sel ganglion terlihat pada neuropati optik glaukoma yang dimediasi oleh banyak faktor (American Academy of Ophthalmology, ).
9 Gambar 1. A. Nervus optik glaukoma (pandangan papil anterior dan tranversal mata kanan). Penipisaqn dan pemisahan dan fokal notching dari neuroretinal rim inferior, pelebaran sentral cup yang terlihat sebagai penetrasi laminar, pergeseran ke nasal pembuluh-pembuluh darah retina dan atrofi peripapilaris. B. Gambaran klinis papil nervus optik glaukoma menunjukkan hilang ekstensif neuroretinal rim. ( sumber ; gambar 3-12 Glaucoma, American Academy of Ophthalmology, , page 52) EVALUASI KLINIS NERVUS OPTIKUS Nervus optikus mengandung jaringan neurogial, atriks ekstraseluler serta pembuluh darah. Nervus optik manusia mengandung kira-kira 1,2-1,5 juta akson dari sel ganglion retina (retinal ganglion cells/rgcs). Papil nervus optikus atau optic disc dibagi atas 4 lapisan yaitu : lapisan nerve fiber, prelaminar, laminar dan retrolaminar. Lapisan ini diperdarahi oleh arteri retina sentral. Lapisan kedua atau prelaminar region secara klinis dapat dievaluasi adalah area sentral papil optik. Daerah ini diperdarahi oleh arteri siliaris posterior. Pada nervus optikus dapat diperiksa dengan opthalmoskop direk, opthalmoskop indirek atau slit lamp yang menggunakan posterior pole lens (American Academy of Ophthalmology, ) ( Khurana, 2007).
10 Kepala nervus optikus atau optic disc, biasanya bulat atau sedikit oval dan mempunyai suatu cup sentral. Jaringan diantara cup dan pinggir disc disebut neural rim atau neuroretinal rim. Pada orang normal, rim ini mempunyai kedalaman yang relatif seragam dan warna yang bervariasi dan orange sampai merah muda. Ukuran cup fisiologis secara perkembangan ditetapkan dan bergantung ukuran disc. Ukuran cup dapat sedikit meningkat sesuai umur. Orang kulit hitam yang bukan glaukoma rata-rata mempunyai disc yang lebih lebar dan cup-disc ratio/cdr lebih besar dibanding kulit putih. Rata-rata orang myopia mempunyai cup disc yang lebih besar dibanding emetropia dan hiperopia. CDR saja tidak adekuat menentukan bahwa optic disc mengalami kerusakan glaukomatous (American Academy of Ophthalmology, ) Penting untuk membandingkan mata yang satu dengan sebelahnya karena asimetri diskus tidak biasa pada orang normal. Rasio CDR vertikal secara normal antara 0,1-0,4, walaupun sekitar 5% individu normal mempunyai rasio CDR yang lebih besar dari 0,6. Asimetris ratio CDR lebih dari 0,2 terdapat pada kurang dari 1% orang normal (American Academy of Ophthalmology, ) (Vaughan, 2010). Membedakan cup normal dari cup glaukomatous adalah sulit. Perubahan awal dari glaukomatous optik neuropati adalah sangat halus yaitu (American Academy of Ophthalmology, ): Pembesaran umum cup Pembesaran cup secara fokal Perdarahan splinter superfisial
11 Kehilangan lapisan fiber saraf Tembus pandang neuroretinal rim Perkembangan pembuluh darah menyilang Asimetri cup antara kedua mata Atrofi peripapil Perubahan lain yang ditentukan pada glaukoma di klinik adalah adanya penyempitan lapang pandangan dengan pemeriksaan perimetri. Kerusakan serabut saraf oleh proses glaukoma akan menunjukkan bentuk atau gambaran yang khas pada pemeriksaan perimetri, dapat berupa (American Academy of Ophthalmology, ) (Khurana, 2007). Depresi umum Paracentral scotoma Arcuarta atau Bjerrum scotoma Nasal step Defect altitudinal Temporal wedge 2.7. GAMBARAN KLINIS Gejala klinis berupa serangan tersembunyi/asimptomatik, tidak menunjukkan gejala yang spesifik sampai terjadi hilangnya lapang pandangan, perjalanan penyakit lambat dan tidak sakit. Biasanya bilateral, tetapi dapat juga unilateral, Serangan mengenai orang dewasa (>40 tahun). Pasien mengalami sakit
12 kepala ringan dan sakit disekitar mata, adaptasi terhadap gelap lambat. Tajam penglihatan sentral secara relatif tidak terpengaruh sampai terjadi hilangnya lapang pandangan (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Saunders, 2005) (Khurana, 2007) (Lang, 2007). Pasien POAG ditandai dengan peningkatan TIO, TIO turun naik setiap hari sampai 5 mmhg terjadi kira-kira 30% dari normal (pada POAG terjadi kirakira 90 % dari kasus), asimetri TIO antara kedua mata dengan kenaikan 5 mmhg atau lebih, kerusakan optic disc (cupping, pembuluh darah nasalisasi/bayoneting, lapisan serabut saraf), hilangnya lapang pandangan dan gonioskopi (sudut terbuka) (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Benjamin, 2007) PEMERIKSAAN Pemeriksaan mata berupa tajam penglihatan, tonometri aplanasi/schiotz/non kontak, slit-lamp biomicroscope dengan lensa Hruby, posterior pole contact lens, atau lensa 60, 78, 90 D, gonioskopi, oftalmoskopi, perimetri, Optical Coherence tomography (OCT) Nerve fiber layer analyzer (NFLA), provocative tests (American Academy of Ophthalmology, ) (Khurana, 2007) (Kansky, 2005) (Saunders, 2005) Tonometri : dijumpai peningkatan TIO > 21 mmhg (kira-kira 2 % dari seluruh polpulasi > 40 tahun mempunyai TIO >24 mmhg, dan 7 %
13 mempunyai TIO >21 mmhg. Meskipun demikian, hanya sekitar 1 % dari mereka yang mengalami glaukoma kehilangan lapang pandangan. Gonioskopi : Sudut iridokorneal terbuka. Berdasarkan Van Herrick, penilaian sudut terbadi atas : - Grade 4 : Perbandingan antara celah akuos dan kornea > ½ : 1 - Grade 3 : Perbandingan antara celah akuos dan kornea ½ - ¼ : 1 - Grade 2 : Perbandingan antara celah akuos dan kornea ¼ : 1 - Grade 1 : Perbandingan antara celah akuos dan kornea < ¼ : 1 - Grade 0 : Perbandingan antara celah akuos dan kornea 0 (nol) Berdasarkan sistem Shaffer, penilaian sudut terbagi atas (American Academy of Ophthalmology, ): - Grade 4 : Sudut antara iris dan permukaan trabekular meshwork Grade 3 : Sudut antara iris dan permukaan trabekular meshwork >20 tetapi < Grade 2 : Sudut antara iris dan permukaan trabekular meshwork Grade 1 : Sudut antara iris dan permukaan trabekular meshwork 10. Kemungkinan sudut tertutup terjadi setiap waktu. - Slit : Sudut antara iris dan permukaan trabekular meshwork < 10. Sangat mungkin terjadi sudut tertutup. - Grade 0 : Iris di atas trabekular meshwork. Sudut tertutup.
14 Oftalmoskopi : dijumpai perubahan optic disc seperti asimetri daerah tepi neuroretina/optic disc atau cupping (perbedaan > 0,2), focal thinning atau notching pada tepi neuroretina, perdarahan optic disc, perubahan lapisan serabut saraf retina sekitarnya/hilangnya lapisan serabut saraf retina peripapilar (atrofi peripapilar), cup disc ratio membesar (lingkaran neuroretinal menipis), progressive optic disc cupping, nasalisasi arteri retina sentral dan vena retina sentral sering terlihat karena pembesaran cup (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Benjamin, 2007) Perimetri : berupa scotoma paracentral, scotoma arcuata atau scotoma Bjerrum, nasal step, altitudinal defect, temporal wedge. (Glaucoma, American Academy of Ophthalmology, ) (Neuro Ophthalmologi, American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Benjamin, 2007). Gambar 2 : Scotama arcuata pada area dari fiksasi kerusakan glaukoma pada nerve fiber bundle yang terdiri dari akson-akson dari retina inferonasal dan inferiortemporal menimbulkan gambaran defect arcuata (sumber : gambar 3-20 Glaucoma, American Academy of Ophthalmology,
15 Gambar 3 : Nasal step berupa depresi pada sebagian bidang horizontal. Kerusakan serabut saraf superior yang menuju retina superotemporal didepan area paracentral menimbulkan nasal step.(sumber : gambar 3-21 Glaucoma, American Academy of Ophthalmology, ) Gambar 4. Defek altitudinal hampir keseluruhan lapang pandangan superior hilang, merupakan karakteristik dari neuropati optik glaukoma moderate sampai edvanced (mata kanan). (Sumber : gambar 3-22 Glaucoma, American Academy of Ophthalmology, ) Gambar 5. Hilang lapang pandangan advanced pada glaukoma dengan yang masih bertahan pada bagian sentral dari penglihatan dan inferotemporal. (Sumber : gambar 3-22 Glaucoma, American Academy of Ophthalmology, )
16 Nerve Fiber Layer Analyzer (NFLA) : Adanya defek pada Retinal Nerve fiber layer (RNFL) mendahului kerusakan lapang pandangan pada pasien glaukoma (American Academy of Ophthalmology, ) Gambar : 6. Foto lapisan serabut saraf menunjukkan defek pada berkas serabut saraf (tanda panah). (Sumber : gambar 3-22 Glaucoma, American Academy of Ophthalmology, ) Tingkat kerusakan glaukoma, terbagi atas (American Academy of Ophthalmology, ) : 1. Grade 1 (kerusakan ringan) : karakteristik dengan cupping minimal, nasal step atau scotoma paracentral dan MD < - 6 db 2. Grade 2 (kerusakan sedang) : karakteristik penipisan tepi neuroretinal, skotoma arkuata, dan MD < -12 db 3. Grade 3 (kerusakan berat) : karakteristik cupping jelas, hilangnya lapang pandangan yang luas, kelainan sentral tidak lebih dari 5, dan MD > -12 db 4. Grade 4 (tahap akhir) karakteristik cupping tebal dan lapang pandangan kecil.
17 2.9. DIAGNOSA (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Khurana, 2007) : Diagnosa POAG berdasarkan anamnesa dan riwayat, pemeriksaan fisik dan mata, pemeriksaan penunjang DIAGNOSA BANDING (American Academy of Ophthalmology, ) (Kansky, 2005) (Khurana, 2007) (Benjamin, 2007) : 1. Hipertensi Okuli 2. Suspek Glaukoma 3. Glaukoma tensi normal (NTG) 4. Glaukoma tensi rendah (LTG) KOMPLIKASI POAG (American Academy of Ophthalmology, ) (Khurana, 2007): 1. Atrofi nervus optikus 2. Glaukoma absolut PROGNOSA : Prognosa POAG tergantung cepat tidaknya diagnosa ditegakkan. Bila terdiagnosa lebih awal maka prognosanya jauh lebih baik. Bila saat diagnosis sudah ada kelainan lapang pandangan maka prognosanya akan lebih buruk. Tanpa pengobatan prognosa jelek (American Academy of Ophthalmology, ) (Khurana, 2007) (Benjamin, 2007).
18 PEMERIKSAAN YANG DILAKUAN DENGAN ALAT : 1. Perimetri optopol 910: Perimetri adalah alat untuk memeriksa lapang pandangan dengan mata terfiksasi sentral. Penilaian lapang pandangan merupakan hal yang penting dilakukan pada keadaan penyakit yang berpotensi terjadinya kebutaan. Perimeti pertama kali dikenalkan pada pertengahan abad ke -19 oleh Von berupa tangent screen dan perinometer. Pengenalan automated perimetry merupakan langkah terbaru dalam sejarah evolusi teknologi dalam pemeriksaan lapang pandangan (Glaucoma, American Academy of Ophthalmology, ) (Neuro Ophthalmology, American Academy of Ophthalmology, ) (Khurana, 2007). Sistem komputer perimetri memberikan penilaian yang dapat dipercaya dan dapat mendeteksi keadaan yang berobah. Penyimpanan data dapat dilakukan dan dapat menganalisa data yang ada. Sistem komputer perimetri dapat mengukur sensitivitas retina pada daerah lapang pandangan. Dapat mengukur kemampuan mata mendeteksi perbedaan antara target yang diuji dan latar belakangnya. Tipe stimulus yang digunakan pada perimetri berupa titik-titik cahaya dengan beragam diasreter dan intensitas yang telah ditetapkan (Glaucoma, American Academy of Ophthalmology, ) (Neuro Ophthalmology, American Academy of Ophthalmology, ).
19 Demonstrasikan terlebih dahulu pada pasien yang baru menggunakan automated perimetry. Pasien diajarkan tentang apa yang diharapkan dan dikerjakan. Tehnik pemeriksaan dilakukan dengan cara : 1. Pasien duduk menghadap ke monitor. 2. Dagu pada posisi dan menempelkan dahi. 3. Luruskan pandangan ke tengah monitor dan cahaya ruangan dikurangi (biarkan pasien selama 3 menit beradaptasi dengan cahaya perimeter). 4. Penglihatan pasien harus di koreksi refraksi dengan benar sebelum pengujian, dan fiksasi pasien harus dimonitor secara terus-menerus selama pengujian. 5. Hasil cetakan tes memberikan informasi dasar pasien seperti umur dan diameter pupil. Data dari perimetri menunjukan ukuran dan nomor plot, nilai sensitifitas masing-masing titik uji dapat dilihat pada gambar. 2. Optical Coherence Tomography (OCT) OCT merupakan teknik pencitraan yang menginterpretasikan perbedaan intensitas sinar yang digambarkan dengan warna. Teknik ini menggunakan panjang gelombang antara 600 nm hingga 2000 nm dan sumber cahaya dari dioda superluminens atau laser. Pada gambar 4 terlilhat dengan jelas semua lapisan retina dapat terwakili dalam citra yang dihasilkan Stratus OCT (Akiyasu, 2003) (Novita, 2008).
20 Secara umum telah dikenal mesin OCT yang dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu OCT tipe stratus (2D atau disebut Time Dominan OCT) dan OCT tipe Cirrus (3D atau Spectral/Fourier Domain OCT). Pemeriksaan OCT bertujuan untuk mendeteksi abnormalitas retina dalam hal ketebalan, morfologi dan reflektisit. Pengukuran optic disc menggunakan protokol the Fast Optical Disc Scanning, optic disc scanning alat yang secara otomatis menentukan disc margin sebagai ujung dari lapisan RPE/choriocapillaris. Parameter optic disc secara otomatis dihitung oleh software stratus OCT (Balada, 2007) (Agustiawan, 2007). Gambar 7. ONH-analysir report (Ver.3.0) (Dennis S.L.,Yasuo T., Robert R., Srinivas K., Glaucoma Diagnostic, 2008)
21 Dimana parameter untuk optic disc menurut shaun D dalam Indian Jurnal of Ophthalmology, 2008 ditentukan dari jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), umur dan refraksi error (emetropia, miopia dan hypermetropia). Kemampuan OCT untuk menganalisa RNFL mempunyai reflektivitas tinggi yang dimulai dari permukaan vitreo retinal. Terdapat 2 macam tipe dasar scanning, yaitu garis dan lingkaran. Scan RNFL yang abnormal dapat terjadi penipisan yang ditunjuk pada tabel poin RNFL dan juga kuadran serta gerafik Temporal Superior Inferior Temporal (TSNIT) (JOI, 2008), dimana parameter Retina Nerve Fiber Layer menurut Leonard dengan menggunakan Stratus OCT adalah: Mean ± SD Average ± Superior ± Inferior ± Nasal ± Temporal ± Tehnik pemeriksaan dilakukan dengan cara : Posisikan tubuh pasien dengan tinggi mejanya sehingga pasien merasa nyaman, kemudian intruksikan pasien untuk meletakkan dagu di salah satu bagian kanan atau kiri, pastikan bahwa dagu pasien menempel pada 2 sensor (berwarna hitam) dan dahi pasien menempel pada chin rest. Komputer akan otomatis mengenali mata kanan atau kiri yang akan diperiksa.
22 Setelah pasien merasa nyaman intruksikan untuk melihat ke tengah dan posisikan pupil mata supaya berada di tengah dengan menekan tombol mouse sehingga pupil tepat berada di tengah layar. Kemudian intruksikan untuk melihat ke dalam dan fokus di tengah melihat tanda silang hijau. Setelah pupil tepat berada di tengah tekan tombol chin rest ke kiri atau ke kanan sehingga gambar pupil terlihat fokus. Setelah semua parameter pemeriksaan tepat maka pastikan pasien tetap fokus pada titik fiksasi KERANGKA KONSEPSIONAL Perimetri Gambaran Lapang Pandangan POAG Perubahan Ketebalan retina OCT Gambaran Optic disc DEFINISI OPERASIONAL - POAG : Glaukoma sudut terbuka primer. - Perimetri : merupakan alat pemeriksaan fungsi lapang pandangan. - Lapang pandangan : Bagian ruangan yang terlihat oleh mata pasien dalam sikap diam lurus kedepan (menilai fungsi penglihatan ; scotoma paracentral, scotoma arcuata/bjerrum, nasal step, altitudinal defect, temporal wedge).
23 - Optical Coherence Tomography (OCT) : pemeriksaan non invasif yang dapat mencitrakan optic nerve head seperti neuroretinal rim area, disc area, cup area, cup volume, cup disc area ratio, cup disc horizontal ratio dan cup disc vertical ratio. - Ketebalan retina : ketebalan retina yang diperoleh dari pengukuran menggunakan software Stratus OCT. - Optic disc : bagian dari nervus optikus yang terdiri dari jaringan neural, jaringan glial, matrik ekstraselular dan pembuluh darah.
BAB I PENDAHULUAN. Glaukoma adalah sekumpulan gejala dengan tanda karakteristik berupa
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Glaukoma adalah sekumpulan gejala dengan tanda karakteristik berupa adanya neuropati optik glaukomatosa bersamaan dengan defek atau gangguan penyempitan lapang pandangan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Suspek glaukoma diartikan sebagai suatu keadaan pada orang. dewasa yang mempunyai minimal 1 dari tanda-tanda berikut ini pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Suspek glaukoma diartikan sebagai suatu keadaan pada orang dewasa yang mempunyai minimal 1 dari tanda-tanda berikut ini pada mata: Defek nerve fiber layer atau nervus
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menempati ruang anterior dan posterior dalam mata. Humor akuos
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Humor Akuos a. Anatomi Fungsional Humor Akuos Humor akuos merupakan cairan jernih bersifat alkaline yang menempati ruang anterior dan posterior dalam mata.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi Aqueous humor diproduksi oleh corpus ciliare. Setelah memasuki bilik mata belakang, aqueous humor melalui pupil dan masuk ke bilik mata depan, kemudian ke perifer menuju
ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA
ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA Secara garis besar anatomi mata dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, dan untuk ringkasnya fisiologi mata akan diuraikan secara terpadu. Keempat kelompok ini terdiri dari:
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Glaukoma merupakan suatu kumpulan gejala yang mempunyai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Glaukoma merupakan suatu kumpulan gejala yang mempunyai suatu karakteristik optik neuropati yang berhubungan dengan hilangnya lapangan pandang. Walaupun kenaikan tekanan
GLAUKOMA DEFINISI, KLASIFIKASI, EPIDEMIOLOGI, ETIOLOGI, DAN FAKTOR RISIKO
GLAUKOMA DEFINISI, KLASIFIKASI, EPIDEMIOLOGI, ETIOLOGI, DAN FAKTOR RISIKO LTM Pemicu 2 Modul Penginderaan Komang Shary Karismaputri NPM 1206238633 Kelompok Diskusi 16 Outline Pendahuluan Definisi Kesimpulan
Gambar 2.1. Struktur interna dari mata manusia (Junqueria, 2007)
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aliran Aqeuous Humour 2.1.1. Anatomi dan Histologi Struktur dasar mata yang berhubungan dengan aqueous humour adalah korpus siliriaris, sudut kamera okuli anterior dan sistem
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut data Riskesdas 2013, katarak atau kekeruhan lensa
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut data Riskesdas 2013, katarak atau kekeruhan lensa kristalin mata merupakan salah satu penyebab kebutaan terbanyak di indonesia maupun di dunia. Perkiraan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. LANDASAN TEORI 1. Anatomi Mata Gambar 1. Penampang bola mata Mata adalah indera penglihatan. Mata dibentuk untuk menerima rangsangan berkas cahaya pada retina, lalu dengan perantaraan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Glaukoma 2.1.1. Definisi Glaukoma Glaukoma adalah suatu penyakit neuropati optik kronik yang ditandai oleh pencekungan diskus optikus dan penyempitan lapang pandang dengan
BAB I PENDAHULUAN. (Dorland, 2010). Dalam keadaan normal, tekanan intraokular rata rata sekitar 15 mm
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di dalam mata terdapat tekanan, yang disebut dengan tekanan intraokular (Dorland, 2010). Dalam keadaan normal, tekanan intraokular rata rata sekitar 15 mm
HUBUNGAN GANGGUAN LAPANG PANDANGAN DENGAN KETEBALAN RETINA DAN OPTIC DISC PADA PENDERITA GLAUCOMA SUDUT TERBUKA PRIMER (POAG) TESIS
HUBUNGAN GANGGUAN LAPANG PANDANGAN DENGAN KETEBALAN RETINA DAN OPTIC DISC PADA PENDERITA GLAUCOMA SUDUT TERBUKA PRIMER (POAG) TESIS Oleh CUT MASDALENA NIM : 077110007 DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN. hilangnya serat saraf optik (Olver dan Cassidy, 2005). Pada glaukoma akan terdapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Glaukoma adalah suatu neuropati optik multifaktorial dengan karakteristik hilangnya serat saraf optik (Olver dan Cassidy, 2005). Pada glaukoma akan terdapat kelemahan
BAB I PENDAHULUAN. utama kebutaan yang tidak dapat disembuhkan. Glaukoma umumnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Glaukoma merupakan penyebab utama kebutaan setelah katarak di dunia. Penyakit ini mengenai hampir 90 juta populasi dunia dan merupakan penyebab utama kebutaan yang
Glaukoma. 1. Apa itu Glaukoma?
Glaukoma Glaukoma dikenal sebagai "Pencuri Penglihatan" karena tidak ada gejala yang jelas pada tahap awal terjadinya penyakit ini. Penyakit ini mencuri penglihatan Anda secara diam-diam sebelum Anda menyadarinya.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pencekungan cupping diskus optikus dan penyempitan lapang pandang yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. GLAUKOMA Glaukoma merupakan suatu neuropati optik yang ditandai dengan pencekungan cupping diskus optikus dan penyempitan lapang pandang yang disertai dengan peningkatan tekanan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tekanan Intraokuler 2.1.1 Definisi Peningkatan tekanan intraokuler merupakan salah satu faktor resiko penting dalam berkembangnya kerusakan saraf optik pada penyakit glaukoma.
KELAINAN REFRAKSI YANG MENYEBABKAN GLAUKOMA
KELAINAN REFRAKSI YANG MENYEBABKAN GLAUKOMA NURCHALIZA HAZARIA SIREGAR NIP.19700908 200003 2 001 DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008 DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN...1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kecepatan produksi humor aquous, tahanan terhadap aliran keluarnya humor
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tekanan intraokuler 2.1.1. Definisi TIO merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit glaukoma saat ini dan merupakan satu-satunya faktor risiko yang dapat diterapi.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kornea merupakan jaringan transparan avaskular yang berada di dinding depan bola mata. Kornea mempunyai fungsi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kornea merupakan jaringan transparan avaskular yang berada di dinding depan bola mata. Kornea mempunyai fungsi sebagai lapisan pelindung bola mata dan media refraksi
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Pada saat lahir mata bayi normal cukup bulan berukuran kira-kira 2/3 ukuran mata orang dewasa. Pertumbuhan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian adalah kuasi experimental dengan rancangan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian adalah kuasi experimental dengan rancangan perlakuan tunggal one group pre and post test design.kuasi experimental dimaksudkan adalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. karakteristik optik neuropati yang berhubungan dengan menyempitnya lapang
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Glaukoma merupakan suatu kumpulan gejala yang mempunyai suatu karakteristik optik neuropati yang berhubungan dengan menyempitnya lapang pandangan. Walaupun kenaikan
ABSTRAK. Universitas Sumatera Utara
HUBUNGAN STRESS OKSIDATIF MARKER MALONILDIALDEHYDE DAN REDOX ENZYME GLUTHATHION PEROXIDASE DENGAN PROGRESIFITAS SYARAF OPTIK PASKA PEMBERIAN GINKGO BILOBA PADA PENDERITA GLAUKOMA SUDUT TERBUKA PRIMER ABSTRAK
GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA
GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA Glaukoma adalah suatu penyakit dimana tekanan di dalam bola mata meningkat, sehingga terjadi kerusakan pada saraf optikus dan menyebabkan penurunan fungsi penglihatan. 1 Terdapat
PREVALENSI KEBUTAAN AKIBAT GLAUKOMA DI KABUPATEN TAPANULI SELATAN TESIS
PREVALENSI KEBUTAAN AKIBAT GLAUKOMA DI KABUPATEN TAPANULI SELATAN TESIS Oleh : HERMAN PEMBIMBING : Dr. MASHITA DEWI S, SpM Dr. H. AZMAN TANJUNG, SpM Prof. Dr. H. ASLIM D. SIHOTANG, SpMK Drs. H. ABDUL DJALIL
(dr. Cut Masdalena, M. Ked (Oph)) Universitas Sumatera Utara
Lampiran 1 LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN Selamat pagi/siang Bapak/Ibu, pada hari ini, saya Dr. Cut Masdalena akan melakukan penelitian yang berjudul Hubungan gangguan lapang pandangan
BAB III KERANGKA KONSEPSIONAL DAN DEFINISI OPERASIONAL. Kerangka konsepsional merupakan kerangka yang menggambarkan dan
BAB III KERANGKA KONSEPSIONAL DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. KERANGKA KONSEPSIONAL Kerangka konsepsional merupakan kerangka yang menggambarkan dan mengarahkan asumsi mengenai elemen-elemen yang di teliti.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Miopia (nearsightedness) adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 KERANGKA TEORI II.1.1 DEFINISI Miopia (nearsightedness) adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar masuk ke bola mata tanpa akomodasi akan dibiaskan di depan
BAB II KAJIAN PUSTAKA Trabecular Meshwork dan Dinamika Humor Aqueous. proses penting dalam mempertahankan tekanan intraokuli dalam batas normal
BAB II KAJIAN PUSTAKA 1.1. Trabecular Meshwork dan Dinamika Humor Aqueous Sekresi dan regulasi outflow humor aqueous secara fisiologis merupakan proses penting dalam mempertahankan tekanan intraokuli dalam
Anita's Personal Blog Glaukoma Copyright anita handayani
Glaukoma Penyakit glaukoma disebabkan oleh saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar dan kemudian menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata yang akhirnya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. refraksi dimana sinar-sinar sejajar yang berasal dari jarak tak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kerangka Teori 2.1.1. Definisi Kelainan refraksi atau ametropia adalah suatu keadaan refraksi dimana sinar-sinar sejajar yang berasal dari jarak tak terhingga masuk ke mata
Ketebalan retina kira-kira 0,1 mm pada ora serata dan 0,56 mm pada kutub posterior. Di
Anatomi Retina Retina adalah lembaran jaringan saraf berlapis yang tipis dan semitransparan yang melapisi bagian dalam 2/3 posterior dinding bola mata. Retina membentang ke anterior hampir sejauh korpus
BAB I PENDAHULUAN. karakteristik optik neuropati yang berhubungan dengan menyempitnya lapang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Glaukoma merupakan suatu kumpulan gejala yang mempunyai suatu karakteristik optik neuropati yang berhubungan dengan menyempitnya lapang pandangan, walaupun kenaikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seperti tulang frontal, sphenoid, maxilla, zygomatic, greater wing of. sphenoid, lacrimal, dan ethmoid (Rizzo, 2001).
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Anatomi mata manusia Mata merupakan organ penglihatan yang dimiliki manusia. Mata dilindungi oleh area orbit tengkorak yang disusun oleh berbagai tulang seperti
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Anatomi dan Fisiologi Aqueous humor Aqueous humor adalah cairan jernih yang dibentuk oleh korpus siliaris dan mengisi bilik mata anterior dan posterior. Aqueous
Jari-jari yang lain bersandar pada dahi dan pipi pasien. Kedua jari telunjuk menekan bola mata pada bagian belakang kornea bergantian
Tonometri digital palpasi Merupakan pengukuran tekanan bola mata dengan jari pemeriksa Alat : jari telunjuk kedua tangan pemeriksa Teknik : Mata ditutup Pandangan kedua mata menghadap kebawah Jari-jari
BAB 1 PENDAHULUAN. diabetes retinopati (1%), penyebab lain (18%). Untuk di negara kita, Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gangguan penglihatan masih menjadi sebuah masalah di dunia. Angka kejadian gangguan penglihatan di dunia cukup tinggi yakni mencakup 4,25 % dari penduduk dunia atau
PREVALENSI KEBUTAAN AKIBAT GLAUKOMA DI KABUPATEN LANGKAT
PREVALENSI KEBUTAAN AKIBAT GLAUKOMA DI KABUPATEN LANGKAT OLEH : RENI GUSPITA PEMBIMBING : Dr. Masitha Dewi Sari, SpM Dr. H. Azman Tanjung, SpM Prof. Dr. H. Aslim. D. Sihotang, SpM Drs. H. Abdul Djalil
BAB I PENDAHULUAN. Leber Hereditary Optic Neuropathy (LHON) merupakan penyakit
BAB I PENDAHULUAN 1..1Latar Belakang Leber Hereditary Optic Neuropathy (LHON) merupakan penyakit diturunkan secara maternal yang menyebabkan penderitanya mengalami degenerasi pada serabut saraf retina
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mata 2.1.1 Anatomi mata Gambar. 1 Anatomi mata 54 Mata mempunyai 3 lapisan dinding yaitu sklera, koroid, dan retina. Sklera berfungsi untuk melindung bola mata dari gangguan.
BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki efek yang kuat dalam menurunkan tekanan intraokular (TIO)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Latanoprost merupakan salah satu obat anti glaukoma terkait prostaglandin yang memiliki efek yang kuat dalam menurunkan tekanan intraokular (TIO) dengan meningkatkan
BAB 1 PENDAHULUAN. Kebutaan merupakan suatu masalah kesehatan di dunia, dilaporkan bahwa
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutaan merupakan suatu masalah kesehatan di dunia, dilaporkan bahwa terdapat lebih dari 50 juta orang buta di dunia saat ini dan hampir 90%-nya berada di negara berkembang,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sensibilitas Kornea 2.1.1 Kornea Kornea merupakan suatu jaringan yang tidak berwarna, transparan, dan avaskuler. Secara histologis kornea memiliki 5 lapisan, dari anterior
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Migren adalah sindroma neurovaskular yang dikarakteristikkan
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. DEFINISI 2.1.1. Definisi Migren Migren adalah sindroma neurovaskular yang dikarakteristikkan dengan nyeri kepala yang berdenyut, unilateral, intensitas sedang hingga berat,
Obat Diabetes Melitus Dapat Menghindari Komplikasi Mata Serius
Obat Diabetes Melitus Dapat Menghindari Komplikasi Mata Serius Konsumsi Obat Diabetes Melitus Memperingan Resiko Komplikasi Mata Anda mungkin pernah mendengar bahwa diabetes menyebabkan masalah mata dan
BAB I PENDAHULUAN. 1. Apa Itu Mata? 2. Jelaskan Bagian-Bagian dari Mata beserta fungsinya! 3. Bagaimana Mata Bisa Bekerja?
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Alat Optik merupakan salah satu alat yang memanfaatkan sifat cahaya, hukum pemantulan, dan hukum pembiasan cahaya untuk membuat suatu bayangan suatu benda.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Responden penelitian ini adalah 35 orang pria yang berusia 20 40 tahun. Responden memiliki kebiasaan mengkonsumsi kafein. Penelitian ini dilakukan di Asri Medical Center
AQUEOUS HUMOR. Dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, SpM NIP :
AQUEOUS HUMOR Dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, SpM NIP : 19760417 200501 2 002 DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA RSUP H. ADAM MALIK MEDAN 2009 DAFTAR ISI HAL I. PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1) Aqueous Humor a. Definisi Aqueous humor adalah cairan jernih yang dibentuk oleh korpus siliaris dan mengisi bilik mata anterior dan posterior. Aqueous humor
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bola mata terletak di dalam kavum orbitae yang cukup terlindung (Mashudi,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Anatomi bola mata Bola mata terletak di dalam kavum orbitae yang cukup terlindung (Mashudi, 2011). Bola mata di bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan
BAB II ANATOMI. Sebelum memahami lebih dalam tentang jenis-jenis trauma yang dapat terjadi pada mata,
BAB II ANATOMI Sebelum memahami lebih dalam tentang jenis-jenis trauma yang dapat terjadi pada mata, sebaiknya terlebih dahulu dipahami tentang anatomi mata dan anatomi operasinya. Dibawah ini akan dijelaskan
Agia Dwi Nugraha Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M. KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ
Agia Dwi Nugraha 2007730005 Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ Fisiologi lensa : Fungsi utama memfokuskan berkas cahaya ke retina. Kerjasama
Sumber : Tortora, 2009 Gambar 2.1. Anatomi Bola Mata
6 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi dan Fisiologi Mata Mata adalah suatu organ yang rumit dan sangat berkembang yang peka terhadap cahaya. Mata dapat melewatkan cahaya dengan bentuk dan intensitas cahaya
BAB I PENDAHULUAN. fibrovaskuler menyerupai sayap, merupakan lipatan dari konjungtiva yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pterigium merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan pertumbuhan jaringan fibrovaskuler menyerupai sayap, merupakan lipatan dari konjungtiva yang menginvasi bagian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. GLAUKOMA 2.1.1. Defenisi Glaukoma merupakan suatu kumpulan gejala yang mempunyai suatu karakteristik optik neuropati yang berhubungan dengan hilangnya lapangan pandang. Walaupun
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Gaya Hidup a. Definisi Gaya Hidup atau lifestyle adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Anatomi organ penglihatan Gambar 2.1. Anatomi bola mata Mata merupakan sebuah bola yang berisi cairan dengan diameter kurang lebih 24 mm. 8 Secara garis besar
BAB 2 Tinjauan Pustaka
BAB 2 Tinjauan Pustaka 2.1Anatomi Mata Gambar 2.1. Anatomi Mata Yang termasuk media refraksi antara lain kornea, pupil, lensa, dan vitreous. Media refraksi targetnya di retina sentral (macula). Gangguan
BAB 1 PENDAHULUAN. Kornea merupakan lapisan depan bola mata, transparan, merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kornea merupakan lapisan depan bola mata, transparan, merupakan jaringan yang tidak memiliki pembuluh darah (avaskular). Kornea berfungsi sebagai membran pelindung
BAB II TINJUAN PUSTAKA
BAB II TINJUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Anatomi dan Fisiologi Mata Mata adalah organ yang berbentuk bulat berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari bagian paling luar hingga paling dalam,
BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Optical coherence tomography (OCT) adalah sebuah teknologi yang sedang
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Optical coherence tomography (OCT) adalah sebuah teknologi yang sedang berkembang pesat dimana dapat menghasilkan gambar dengan resolusi tinggi, potongan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Foramen Mentale Foramen mentale adalah suatu saluran terbuka pada korpus mandibula. Melalui foramen mentale dapat keluar pembuluh darah dan saraf, yaitu arteri, vena
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Glaukoma adalah suatu neuropati kronik di dapat yang ditandai oleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Glaukoma adalah suatu neuropati kronik di dapat yang ditandai oleh pencengkungan (cupping) diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang biasanya disertai dengan peningkatan
BAB I PENDAHULUAN. Miopia adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Miopia adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar yang datang dari sebuah benda difokuskan di depan retina pada saat mata dalam keadaan tidak berakomodasi
BAB III CARA PEMERIKSAAN
BAB III CARA PEMERIKSAAN A. Daftar keterampilan yang harus dikuasai 1. Pemeriksaan ketajaman penglihatan/visus 2. Pemeriksaan posisi dan gerakan bola mata 3. Pemeriksaan lapang pandangan secara konfrontasi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi Mata Gambar 2.1. Anatomi Mata Yang termasuk media refraksi antara lain kornea, pupil, lensa, dan vitreous. Media refraksi targetnya di retina sentral (macula). Gangguan
Berdasarkan tingginya dioptri, miopia dibagi dalam(ilyas,2014).:
MIOPIA A. Definisi Miopia merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang memasuki m ata tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina. Dalam keadaan ini objek yang jauh tidak
Tujuan Praktikum Menentukan ketajaman penglihatan dan bitnik buta, serta memeriksa buta warna
BAB IV SISTEM INDERA A. PEMERIKSAAN PENGLIHATAN Tujuan Praktikum Menentukan ketajaman penglihatan dan bitnik buta, serta memeriksa buta warna Dasar teori Mata merupakan organ sensorik yang kompleks, yang
ABSTRAK GAMBARAN KELAINAN REFRAKSI ANAK USIA 6-15 TAHUN DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2012
ABSTRAK GAMBARAN KELAINAN REFRAKSI ANAK USIA 6-15 TAHUN DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI 2012 31 DESEMBER 2012 Jason Alim Sanjaya, 2014, Pembimbing I : July Ivone, dr.,m.k.k.,mpd.ked.
BAGIAN-BAGIAN MATA DAN SISTEM VISUAL KELENJAR LACRIMAL, AIR MATA, SISTEM PENGERINGAN LACRIMAL DENGAN PEMBULUH NASOLACRIMAL
BAGIAN-BAGIAN MATA DAN SISTEM VISUAL GLOBE DIMENSI MATA OTOT MATA KELENJAR LACRIMAL, AIR MATA, SISTEM PENGERINGAN LACRIMAL DENGAN PEMBULUH NASOLACRIMAL KELOPAK MATA BULU MATA CONJUCTIVA SCLERA KORNEA BILIK/RONGGA
PERBANDINGAN KADAR VITAMIN D DARAH PENDERITA MIOPIA DAN NON MIOPIA
PERBANDINGAN KADAR VITAMIN D DARAH PENDERITA MIOPIA DAN NON MIOPIA Tesis Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Dokter Spesialis Mata Oleh
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBUTAAN PADA PASIEN BARU DENGAN GLAUKOMA PRIMER DI POLIKLINIK PENYAKIT MATA RSUPN DR CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA JANUARI 2007 - OKTOBER 2009
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komputer Komputer adalah penemuan paling menarik sejak abad ke-20 (Izquierdo, 2010). Komputer adalah alat elektronik atau mesin yang dapat diprogram untuk menerima data dan
Pemeriksaan Mata Dasar. Dr. Elvioza SpM Departemen Ilmu kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta
Pemeriksaan Mata Dasar Dr. Elvioza SpM Departemen Ilmu kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta I. PERSYARATAN PEMERIKSAAN MATA 1. 2. 3. 4. Intensitas cahaya adekwat. Tersedia alat
BAB I PENDAHULUAN. Mata adalah organ tubuh yang menentukan kualitas hidup. seseorang, walaupun kerusakan pada mata tidak langsung berhubungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mata adalah organ tubuh yang menentukan kualitas hidup seseorang, walaupun kerusakan pada mata tidak langsung berhubungan dengan kematian akan tetapi tanpa penglihatan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengetahuan 2.1.1. Definisi Pengetahuan Pengetahuan atau kognitif adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi se telah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 DEFINISI Kelainan refraksi atau ametropia adalah suatu keadaan refraksi dimana sinarsinar sejajar yang berasal dari jarak tak terhingga masuk ke mata tanpa akomodasi dibiaskan
PENATALAKSANAAN GLAUKOMA AKUT
PENATALAKSANAAN GLAUKOMA AKUT OLEH : ARYANI ATIYATUL AMRA NIP. 131 996 177 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007 PENATALAKSANAAN GLAUKOMA AKUT PENDAHULUAN Glaukoma akut merupakan salah
ENTROPION PADA KUCING
ENTROPION PADA KUCING (16 Nov 2017) ENTROPION PADA KUCING Apa yang Dimaksud Dengan Entropion Entropion adalah kondisi dimana kelopak mata (palpebra) bagian bawah berbalik ke dalam. Entropion juga dapat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1. Anatomi Mata
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Anatomi Mata Gambar 2.1. Anatomi Mata Mata adalah sepasang organ penglihatan dan terdiri dari bola mata dan saraf optik. Bola mata terdapat di dalam orbita
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi dan Histologi Mata Gambar 2.1. Anatomi Mata Sumber: Oftalmologi Umum, Riordan, 2014 Bola mata orang dewasa normal hampir bulat, dengan diameter anteroposterior sekitar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Mata a. Pengertian Mata adalah salah satu organ tubuh vital manusia. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga dan mencegah hal-hal yang dapat merusak mata
CLINICAL SCIENCE SESSION MIOPIA. Preseptor : Erwin Iskandar, dr., SpM(K)., Mkes.
CLINICAL SCIENCE SESSION MIOPIA Preseptor : Erwin Iskandar, dr., SpM(K)., Mkes. Oleh : Yoga Yandika 1301-1209-0053 R. Ayu Hardianti Saputri 1301-1209-0147 Amer Halimin 1301-1006-3016 BAGIAN ILMU PENYAKIT
INDERA PENGLIHATAN (MATA)
M INDERA PENGLIHATAN (MATA) ata manusia secara keseluruhan berbentuk seperti bola sehingga sering disebut bola mata. Media penglihatan terdiri dari kornea, aquous humor (terletak antara kornea dan lensa),
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Miopia 2.1.1 Definisi Miopia adalah anomali refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di depan retina, ketika mata tidak dalam kondisi berakomodasi. Ini juga dapat dijelaskan
BAB II. Kelainan refraksi disebut juga refraksi anomali, ada 4 macam kelainan refraksi. yang dapat mengganggu penglihatan dalam klinis, yaitu:
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1. KERANGKA TEORI Kelainan refraksi disebut juga refraksi anomali, ada 4 macam kelainan refraksi yang dapat mengganggu penglihatan dalam klinis, yaitu: 1. Miopia 2. Hipermetropia
BAB I PENDAHULUAN. Katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan yang utama di dunia. Data
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan yang utama di dunia. Data World Health Organization (WHO) tahun 2002 menyebutkan angka kebutaan diseluruh dunia sekitar
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. data yang artinya terhadap subjek yang diteliti tidak diberikan perlakuan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pengukuran data yang artinya terhadap subjek yang diteliti tidak diberikan perlakuan dan pengambilan
BAB I PENDAHULUAN. penebalan atau edema yang berisi cairan dan konstituen plasma di lapisan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang DME (Diabetik Macular Edema) merupakan suatu penyakit berupa penebalan atau edema yang berisi cairan dan konstituen plasma di lapisan outer plexiform retina. Ciri
maka dilakukan dengan carafinger counting yaitu menghitung jari pemeriksa pada jarak 1 meter sampai 6 meter dengan visus 1/60 sampai 6/60.
Pemeriksaan Refraksi Subjektif dan Objektif 1. Pemeriksaan Visus Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan dengan memakai Snellen Chart atau dengan chart jenis lainnya. Jarak antara kartu Snellen dengan
BAB I. Pendahuluan. Saraf optik merupakan kumpulan akson yang berasal. dari sel-sel ganglion retina menuju khiasma nervus
BAB I Pendahuluan I.1 Latar belakang Saraf optik merupakan kumpulan akson yang berasal dari sel-sel ganglion retina menuju khiasma nervus optikus dan berakhir di korpus genikulatum lateral (Hartono, 1994).
NORMAL TENSION GLAUCOMA (NTG)
Laporan Kasus NORMAL TENSION GLAUCOMA (NTG) Disusun Oleh: Elsi Rahmadhani Hardi 0908120328 Pembimbing: dr. Nofri Suriadi, SpM KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
