BAB IV INTERPRETASI DATA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV INTERPRETASI DATA"

Transkripsi

1 BAB IV INTERPRETASI DATA 4.1. Profil Responden Pada penelitian ini data yang diperoleh selanjutnya dilakukan tabulasi, dimana data pada penelitian ini memiliki skala nominal, yang kemudian dilakukan analisa statistik nonparametrik. Untuk melihat ada nya hubungan antara beberapa variabel yang telah ditetapkan dilakukan analisa korelasi menggunakan koefisien kontingensi, sehingga dapat diukur karakteristik erat nya hubungan yang ada. Jumlah sampel yang akan diambil datanya pada penelitian ini terdiri dari dua form, yaitu form 1 yang sampelnya diambil dari survey cross sectional di wilayah studi dan form 2 yang sampelnya diambil secara acak dengan pengisian kuesioner. Jumlah total sampel yang diperoleh pada survey cross sectional (form 1) adalah sebanyak 9179 sampel dengan rincian wilayah Jakarta sebanyak 4905 sampel, Depok sebanyak 3472 sampel, dan Sragen sebanyak 802 sampel. Sedangkan jumlah total responden yang diambil pada survey wawancara (form 2) adalah sebanyak 1751 dengan rincian untuk wilayah Jakarta sebanyak 1226 responden, wilayah Depok sebanyak 249 responden, dan wilayah Sragen sebanyak 276 responden. Sampel pada penelitian ini adalah pengguna sepeda motor Memasukkan dan Menyortir Data Sebelum pengolahan data dimulai, dilakukan pekerjaan memasukkan dan menyortir data yang telah diperoleh untuk memudahkan pekerjaan selanjutnya. Data yang lengkap terisi dan jelas, akan digunakan pada pengolahan variabel yang dihitung. Setelah memasukkan data, diperoleh hasil sortir data sebagai berikut : 27

2 Untuk survey cross sectional (form 1) Tabel 4.2. a Sortir Data Variabel Survey Cross Sectional di Ketiga Wilayah Wilayah Variabel Jakarta Depok Sragen Total Pengendara Jenis Kelamin Helm Jaket Sepatu Sarung tangan Jenis Helm Penggunaan Helm Kondisi Lampu Untuk survey wawancara (form 2) Tabel 4.2. b Sortir Data Variabel Survey Wawancara di Ketiga Wilayah Wilayah Variabel Jakarta Depok Sragen Total Jenis Kelamin Jenis Pekerjaan Pengetahuan Peraturan Lalu Lintas Sumber Pengetahuan Lalu Lintas Intensitas Mengendarai Motor Alasan Menggunakan Motor Kepemilikan C Cara Memperoleh C Usia Pada Saat Memiliki C Biaya Mengurus Kepemilikan C Selalu Membawa C Mengalami Kecelakaan Intensitas Menggunakan Helm Cara Mendapatkan Helm Tempat Membeli Helm Biaya Untuk Membeli Helm Persepsi Menggunakan Helm Keinginan Untuk Mengganti Helm Persepsi Pernah Tidak Menggunakan Helm Helm yang Memenuhi Standar Tata Cara Menggunakan Helm yang Benar Sumber Pengetahuan Tata Cara Menggunakan Helm yang Benar Bagian Tubuh yang Rawan Luka Kecelakaan Prioritas Usaha Preventif Kecelakaan

3 4.3. Definisi Variabel Pada laporan penelitian ini variabel yang akan diteliti dipilih berdasarkan pengaruhnya terhadap sikap masyarakat dalam mengutamakan keselamatan berlalu lintas di wilayah Jakarta, Depok, dan Sragen. Beberapa variabel yang diteliti tersebut antara lain : Survey cross sectional (Form 1) - Pengguna Sepeda Motor, merupakan orang yang berada diatas motor baik pengemudi maupun penumpang 1, penumpang 2, dan penumpang 3. Dari kode pengguna ini dapat diketahui banyaknya jumlah penumpang yang dibawa. - Atribut keselamatan, merupakan segala sesuatu yang digunakan oleh pengguna sepeda motor guna melindungi beberapa bagian tubuhnya pada saat menggunakan sepeda motor. Atribut keselamatan disini berupa helm, jaket, sepatu, dan sarung tangan. - Jenis helm yang digunakan, merupakan beberapa macam helm baik yang memenuhi standar maupun yang memenuhi standar yang digunakan oleh pengguna sepeda motor. Jenis helm pada penelitian ini meliputi jenis helm full face, open face, half face, dan lainnya (helm proyek, helm sepeda). Helm yang memenuhi standar SNI adalah helm full face dan open face. - Benar nya penggunaan helm, merupakan cara pengendara dalam menggunakan helm, apakah diikat, diikat, hanya menempel diatas kepala saja, atau digunakan secara terbalik. - Kondisi lampu motor, merupakan salah satu kepedulian pengemudi dalam mengutamakan keselamatan dengan cara menyalakan lampu motor baik pada waktu siang hari maupun malam hari. Survey Wawancara (Form 2) - Pengetahuan tentang peraturan lalu lintas, merupakan tingkat pengetahuan responden mengenai seluruh peraturan lalu lintas yang berlaku. - Sumber pengetahuan peraturan lalu lintas, merupakan sumber pengetahuan responden baik melalui media, buku maupun orang lain untuk mengetahui tentang peraturan lalu lintas. - Intensitas mengendarai sepeda motor, merupakan tingkat rutinitas responden dalam menggunakan sepeda motornya. 29

4 - Alasan mengendarai sepeda motor, merupakan alasan responden untuk memilih menggunakan sepeda motor dibandingkan dengan kendaraan lainnya. - Pemilikan C, dikatakan memiliki C apabila tersebut masih berlaku pada saat responden masih menggunakan sepeda motor. - Cara memperoleh C, merupakan prosedur yang dipilih pengendara dalam mendapatkan C. - Usia pada saat memiliki C, merupakan tingkatan umur responden pada saat sudah mulai memiliki C. - Biaya C, merupakan harga yang harus dibayar oleh responden untuk mendapatkan C. - Intensitas membawa C, merupakan rutinitas responden dalam membawa C nya pada saat mengendarai sepeda motor. - Mengalami kecelakaan, merupakan banyaknya kecelakaan yang dialami responden dalam setahun terakhir. - Intensitas Penggunaan Helm, merupakan tingkat rutinitas penggunaan helm bagi pengguna sepeda motor di wilayah Jakarta, Depok dan Sragen. - Cara mendapatkan helm, merupakan suatu cara yang dilakukan responden untuk mendapatkan helm. - Tempat membeli helm, merupakan tempat dimana responden memperoleh helm. - Biaya untuk membeli helm, merupakan harga yang dibayar responden untuk dapat memperoleh helm. - Persepsi penggunaan helm, merupakan alasan responden untuk menggunakan helm. - Merek helm yang dimiliki, merupakan merek helm yang digunakan responden pada saat mengendarai sepeda motor. - Keinginan responden untuk mengganti helm lama. - Persepsi menggunakan helm, merupakan alasan responden mengapa pernah menggunakan helm. - Jenis helm yang memenuhi standar, merupakan jenis helm yang dianggap memenuhi standar keselamatan bersepeda motor oleh responden. - Cara mengunakan helm yang benar, merupakan cara menggunakan helm yang dianggap tepat oleh responden. - Sumber pengetahuan tata cara menggunakan helm yang benar, merupakan sumber pengetahuan responden mengenai tata cara penggunaan helm yang tepat. 30

5 - Bagian tubuh yang rawan luka, merupakan bagian-bagian tubuh yang menurut responden perlu diberikan perlindungan pada saat terjadi kecelakaan kendaraan bermotor. - Prioritas terhadap perilaku preventif terjadinya kecelakaan motor, merupakan tahapan-tahapan prioritas yang diberikan responden sebagai usaha preventif kecelakaan kendaraan bermotor. Seluruh data-data yang diolah pada form 1 (survey cross sectional) dan form 2 (survey wawancara) merupakan data kualitatif dengan skala nominal dan memiliki jumlah responden yang sama untuk ketiga wilayah kajian. Sehingga tes yang paling cocok digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan tes nonparamterik Statistik Deskriptif Penyajian data sampel menampilkan data pribadi, seperti jenis kelamin, pekerjaan, penggunaan atribut keselamatan dalam berkendara, dan kepemilikan C. Ini berguna untuk mengetahui karakteristik responden yang mewakili populasi pengguna sepeda motor di wilayah Jakarta, Depok, dan Sragen, selain juga untuk menyederhanakan data yang diperoleh. Data-data pribadi seperti yang disebutkan diatas dapat menunjukkan karakteristik kewaspadaan (dilihat dari jenis kelamin, pekerjaan, dan usia), perilaku (dilihat dari penggunaan atribut), serta kecakapan dalam mengemudi (dilihat dari kepemilikan C) yang semuanya berkaitan dengan kepedulian pengguna sepeda motor dalam mengutamakan keselamatan di jalan raya. Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa data nominal : yang memberikan gambaran mengenai responden dan karakteristiknya, meliputi jenis kelamin, kode pengguna, pekerjaan, dan sebagainya. Setelah pekerjaan memasukkan dan meyortir data dilakukan, maka distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik responden dapat disajikan. Dengan bantuan software spss dan Microsoft excel, karakteristik responden dapat digambarkan pada table-tabel dan grafik-grafik berikut : 31

6 Survey Cross Sectional (Form 1) JAKARTA Karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin dan pengendara di Jakarta Tabel a Karakteristik Pengguna vs Jenis Kelamin di Jakarta Jenis Kelamin laki-laki laki-laki laki-laki wanita wanita wanita Pengguna dewasa remaja anak dewasa remaja anak balita Total Pengemudi Penumpang Penumpang Penumpang Total Pengguna vs Jenis Kelamin balita w anita anak w anita remaja w anita dew asa laki-laki anak laki-laki remaja laki-laki dew asa Pengguna Gambar a Histogram Pengguna vs Jenis Kelamin di Jakarta Dari visualisasi karakteristik sampel pada tabel a dan gambar a diatas terlihat bahwa sebagian besar pengemudi sepeda motor di Jakarta adalah laki-laki dewasa sebanyak 86.27%, laki-laki remaja 3.86%, laki-laki anak 0.75%, wanita dewasa 8.78%, dan wanita remaja 0.32%. Untuk proporsi penumpang 1 didominasi oleh wanita dewasa sebesar 44.3, laki-laki dewasa 31.89%, laki-laki remaja 5.79%, laki-laki anak 6.43%, wanita remaja 6.52, wanita anak 3.67%, dan balita 1.37% Mayoritas jumlah pengguna sepeda motor adalah laki-laki dewasa sebesar 72.32%. Sedangkan seluruh jumlah penumpang di Jakarta yang melebihi kapasitas (penumpang 2 dan penumpang 3) adalah sebanyak 2.2. Mengutip instruksi dirjen 201 tahun 2006 dan petunjuk tata cara bersepeda motor di Indonesia (Ditjen Perhubungan Darat) bahwa setiap sepeda motor hanya diperkenankan mengangkut 2 orang penumpang termasuk anak-anak. Semakin banyak jumlah penumpang yang dibawa melebihi kapasitas sepeda motor akan memicu kestabilan pengemudi dalam mengendarai motornya sehingga berdampak pada menurunnya tingkat keselamatan pengguna sepeda motor tersebut. 32

7 Karakteristik sampel berdasarkan kelengkapan atribut keselamatan Tabel b Karakteristik Pengguna vs Atribut Keselamatan di Jakarta Pengguna Pengemudi Penumpang1 Penumpang2 Penumpang3 Total Atribut Keselamatan Helm Jaket Terang Jaket Gelap Sepatu Sarung tangan Helm Full face Helm Open face Helm Half face Helm Lainnya Pemakaian helm yang benar Kondisi lampu hidup Total Berdasarkan tabel b. diketahui bahwa tingkat penggunaan helm di Jakarta adalah sebesar 90.12% dari 4879 sampel yang tercatat menggunakan atau menggunakan helm. Penggunaan jaket terang sebesar 53.11% dan jaket gelap 25.61% dari 4447 sampel. Penggunaan sepatu sebesar 68.46% dari 4864 sampel, dan sarung tangan sebesar 42.62% dari 4648 sampel. Penggunaan helm terbanyak adalah jenis helm full face sebesar 43.23% dari 4449 sampel, open face 37.25%, half face 18.23%, dan jenis helm lainnya 1.28%. Pemakaian helm yang benar sebesar 76.56% dari 4600 sampel. Untuk kondisi lampu hidup pada siang hari di Jakarta diperoleh persentase sebanyak 34.48% dari 3691 sampel. Tabel c Karakteristik Jenis Kelamin vs Atribut Keselamatan di Jakarta Jenis Kelamin lakilaklaklaki Balita laki- laki- wanita wanita wanita Atribut dewasa remaja anak dewasa remaja anak keselamatan Helm Terang Jaket Gelap Sepatu Sarung tangan Full face Open Jenis face helm Half face Lainnya Penggunaan helm yang benar Kondisi lampu

8 Tabel d Persentase Penggunaan Atribut Keselamatan di Jakarta Berdasarkan Jenis Kelamin Atribut Keselamatan Helm Sepatu Sarung tangan Penggunaan Helm yang Benar % % % Total Penggunaan ya ya ya ya % Laki-laki dewasa Laki-laki remaja Laki-laki anak Wanita dewasa Wanita remaja Wanita anak Balita Atribut Keselamatan Jaket Jenis Helm Kondisi lampu Terang % Gelap % Full face % Open face % Half face % Lain nya % Nyala % Total Penggunaan Laki-laki dewasa Laki-laki remaja Laki-laki anak Wanita dewasa Wanita remaja Wanita anak Balita Tidak nyala % 34

9 DEPOK Karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin dan pengendara di Depok Tabel e Karakteristik Pengguna vs Jenis Kelamin di Depok Jenis kelamin laki-laki laki-laki laki-laki wanita Pengguna dewasa remaja anak dewasa wanita remaja Wanita anak balita Total Pengemudi Penumpang Penumpang Penumpang Total Pengguna vs Jenis Kelamin Pengemudi Penumpang1 Penumpang2 Pengguna Penumpang3 balita w anita anak w anita remaja w anita dew asa laki-laki anak laki-laki remaja laki-laki dew asa Gambar b Histogram Pengguna vs Jenis Kelamin di Depok Dari gambaran tabel e dan gambar b diatas terlihat bahwa sebagian besar pengemudi sepeda motor di wilayah Depok adalah laki-laki dewasa sebesar 68.96% dari total 2684 sampel pengemudi, laki-laki remaja 25.44%, laki-laki anak 0.18%, wanita dewasa 4.43%, dan wanita remaja 0.96%. Mayoritas pengguna sepeda motor adalah laki-laki dewasa sebesar 56.91%. Jumlah penumpang 1 terbanyak didominasi oleh wanita dewasa sebanyak 44.04% dari 638 sampel, wanita remaja 18.18%, laki-laki dewasa 17.86%, laki-laki remaja 12.38% laki-laki anak 3.76%, wanita anak 2.66%, dan balita 1.09%. Jumlah penumpang yang melebihi kapasitas (penumpang 2 dan penumpang 3) diwilayah Depok adalah sebesar 3.87% dari total 3456 sampel pengguna. 35

10 Karakteristik sampel berdasarkan kelengkapan atribut keselamatan Tabel f Karakteristik Pengguna vs Atribut Keselamatan di Depok Pengguna Atribut keselamatan Pengemudi Penumpang1 Penumpang2 Penumpang3 Total Helm Jaket Sepatu Sarung tangan Helm Full face Helm Open face Helm Half face Helm Lainnya Pemakaian helm yang benar Kondisi lampu hidup Total Dari deskripsi tabel f diketahui bahwa tingkat penggunaan helm di wilayah Depok adalah sebesar 97.1 dengan jumlah sampel yang tercatat menggunakan helm atau Penggunaan jaket sebesar 90.87% dari 2969 sampel. Penggunaan sepatu sebanyak 71.88% dari 2607 sampel, dan penggunaan sarung tangan 43.98% dari 2262 sampel. Jenis helm yang paling banyak digunakan di Depok adalah jenis helm full face sebanyak 45. dari 3241 sampel, open face sebanyak 33.75%, half face 18.66%, dan helm lainnya 1.97%. Jumlah pemakaian helm yang benar sebesar 88.79% dari 2973 sampel. Kondisi lampu hidup pada siang hari di Depok memiliki persentase sebanyak 52.39% dari 2231 sampel yang tercatat. Tabel g Karakteristik Jenis Kelamin vs Atribut Keselamatan di Depok Jenis kelamin lakilaklaklaki laki- laki- wanita wanita Atribut keselamatan dewasa remaja dewasa remaja anak wanita anak balita TOTAL Helm Jaket Sepatu Sarung tangan Jenis helm Full face Open face Half face Lainnya Penggunaan helm yang benar Kondisi lampu TOTAL

11 Tabel h Persentase Penggunaan Atribut Keselamatan di Depok Berdasarkan Jenis Kelamin Atribut Keselamatan Helm Sepatu Sarung tangan Penggunaan Helm yang Benar % % % Total Penggunaan ya ya ya ya % Laki-laki dewasa Laki-laki remaja Laki-laki anak Wanita dewasa Wanita remaja Wanita anak Balita Atribut Keselamatan ya % Jaket Jenis Helm Kondisi lampu Full face % Open face % Half face % Lain nya % Nyala % Total Penggunaan Laki-laki dewasa Laki-laki remaja Laki-laki anak Wanita dewasa Wanita remaja Wanita anak Balita Tidak nyala % 37

12 SRAGEN Karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin dan pengendara di Sragen Tabel i Karakteristik Pengguna vs Jenis Kelamin di Sragen Jenis kelamin laki-laki laki-laki laki-laki wanita Pengguna dewasa remaja anak dewasa wanita remaja wanita anak balita Total Pengemudi Penumpang Penumpang Penumpang Total Pengguna vs Jenis Kelamin Pengemudi Penumpang1 Penumpang2 Pengguna Penumpang3 Balita w anita anak w anita remaja Wanita dew asa laki-laki anak laki-laki remaja laki-laki dew asa Gambar c Histogram Pengguna vs Jenis Kelamin di Sragen Berdasarkan tabel i dan gambar c diperoleh keterangan bahwa jumlah pengemudi sepeda motor di wilayah Sragen mayoritas adalah laki-laki dewasa sebanyak 78.88% dari 540 sampel pengemudi, laki-laki anak 0.18%, dan wanita dewasa 20.92%. Namun mayoritas penumpang 1 adalah wanita dewasa 50.88% dari 226 sampel, laki-laki dewasa 31.41%, laki-laki anak 10.17%, wanita anak 7.07%, dan wanita remaja 0.44%. Banyaknya jumlah penumpang yang melebihi kapasitas di wilayah Sragen adalah sebesar 4.25% dari 800 sampel, lebih besar jika dibandingkan dengan wilayah Jakarta dan Depok. 38

13 Karakteristik sampel berdasarkan kelengkapan atribut keselamatan Tabel j Karakteristik Pengguna vs Atribut Keselamatan di Sragen Pengguna Penge Penum Penum Penum Atribut keselamatan mudi pang1 pang2 pang3 Total Helm Jaket Sepatu Sarung tangan Helm Full face Helm Open face Helm Half face Helm Lainnya Pemakaian helm yang benar Kondisi lampu hidup (siang hari) Kondisi lampu hidup (malam hari) Total Dari visualisasi karakteristik sampel pada tabel j terlihat bahwa tingkat penggunaan helm di Sragen dengan total sampel sebanyak 801 sampel adalah sebesar 87.26%, penggunaan jaket 57.19% dari 799 sampel. Penggunaan sepatu 44.86% dari 798 sampel dan penggunaan sarung tangan 12.61% dari 792 sampel. Di Sragen, jenis helm yang banyak digunakan adalah jenis open face sebanyak 89.88% dari 702 sampel, full face 8.26%, dan half face 1.85%. Jumlah pemakaian helm yang benar sebesar 76.31% dari 722 sampel. Dari survey cross sectional (form 1) di wilayah Sragen diperoleh data kondisi siang dan malam hari. Pada kondisi siang hari diperoleh persentase sampel yang menyalakan lampu motor sebesar 9.6% dari total 417 sampel pengemudi. Sedangkan pada kondisi malam hari diperoleh persentase sampel yang menyalakan lampu motor sebanyak 92.5% dari total 120 sampel pengemudi. Tabel k Karakteristik Jenis Kelamin vs Atribut Keselamatan Jenis kelamin laki-laki laki-laki wanita wanita wanita Atribut keselamatan dewasa anak dewasa remaja anak balita Total Helm Jaket Terang Gelap Sepatu Sarung tangan Full face Jenis helm Open face Half face Lainnya Penggunaan helm yang benar Kondisi lampu (siang) Kondisi lampu (malam) Total

14 Tabel l Persentase Penggunaan Atribut Keselamatan di Sragen Berdasarkan Jenis Kelamin Atribut Keselamatan Helm Sepatu Sarung tangan Penggunaan Helm yang Benar Total Penggunaan ya % ya % ya % ya % Laki-laki dewasa Laki-laki anak Wanita dewasa Wanita remaja Wanita anak Balita Atribut Keselamatan Jaket Jenis Helm Kondisi lampu nyala Total Penggunaan Ya % Full face % Open face % Half face % Siang % Malam % Laki-laki dewasa Laki-laki anak Wanita dewasa Wanita remaja Wanita anak Balita

15 Perbandingan Ketiga Wilayah Tingkat Penggunaan Helm Tingkat Penggunaan Helm 10 ya 4 2 Jakarta Depok Sragen Gambar d Histogram Tingkat Penggunaan Helm Ketiga Wilayah Berdasarkan gambar d dapat dibandingkan bahwa tingkat penggunaan helm tertinggi adalah di wilayah Depok sekitar 9. Pengambilan sampel survey di Depok sebagian besar dilakukan di jalan Margonda yang merupakan jalan utama yang menghubungkan Jakarta dan Depok. Sehingga tingginya tingkat pemakaian helm di Depok dapat disebabkan karena banyaknya polisi yang beroperasi di ruas jalan tersebut. Pengguna sepeda motor yang melakukan perjalanan jarak pendek jika melewati jalan tersebut juga cenderung menggunakan helm karena takut ditangkap polisi. Kelengkapan Atribut Keselamatan Penggunaan Jaket 10 4 ya 2 Jakarta Depok Sragen Gambar e Histogram Tingkat Penggunaan Jaket di Ketiga Wilayah Selain helm, atribut keselamatan yang tingkat pengunaannya juga tinggi adalah jaket. Atribut jaket dianggap paling umum digunakan dan susah pemakaiannya. Pengguna sepeda motor dapat menggunakan jaket baik pada saat mengendarai maupun mengendarai motor. Kemudahan ini membuat para pengguna sepeda motor lebih 41

16 suka menggunakan atribut ini dibandingkan dengan atribut lainnya. Selain itu penggunaan jaket juga dapat melindungi pengguna sepeda motor dari cuaca panas maupun hujan. Dari perbandingan gambar e dapat dilihat bahwa penggunaan jaket paling rendah adalah di wilayah Sragen. Penggunaan Sepatu 10 ya 4 2 Jakarta Depok Sragen Gambar f Histogram Tingkat Penggunaan Sepatu di Ketiga Wilayah Dari gambar f dapat dilihat bahwa penggunaan atribut keselamatan sepatu paling tinggi adalah di wilayah Depok sekitar. Hal ini dikarenakan sebagian besar pengguna sepeda motor di wilayah Depok yang adalah mahasiswa dan karyawan. Sehingga penggunaan sepatu adalah tuntutan kerapihan dari pekerjaan dan tempat kuliah. Penggunaan Sarung Tangan 10 4 ya 2 Jakarta Depok Sragen Gambar g Histogram Tingkat Penggunaan Sarung Tangan di Ketiga Wilayah Jika dibandingkan dengan penggunaan atribut lainnya, penggunaan sarung tangan termasuk sangat rendah, kurang dari 3 untuk ketiga wilayah. Hal ini mungkin disebabkan perilaku masyarakat yang cenderung terlalu mempedulikan perlindungan tangan dibandingkan dengan perlindungan tubuh dengan menggunakan 42

17 jaket. Selain itu rendahnya tingkat penggunaan sarung tangan juga dapat disebabkan ribetnya pemakaian terutama jika hanya untuk perjalanan jarak dekat. Jenis Helm yang Dipakai Jenis Helm 10 4 lainnya half face open face full face 2 Jakarta Depok Sragen Gambar h Histogram Penggunaan Jenis Helm di Ketiga Wlilayah Gambar h memperlihatkan jenis helm yang paling banyak digunakan di daerah Jakarta adalah jenis helm full face sebesar 43.23%, Depok 45. full face, sedangkan untuk Sragen mayoritas pengguna sepeda motor menggunakan jenis helm open face 89.88%. Banyaknya pengguna jenis helm full face di wilayah Jakarta dan Depok dapat disebabkan karena gaya hidup masyarakat di Jakarta dan Depok yang cenderung mengutamakan penampilan dan trend terbaru. Sedangkan untuk wilayah Sragen banyak menggunakan jenis helm open face karena harganya yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan jenis helm full face. Pemakaian Helm yang benar Penggunaan Helm yang Benar 10 4 benar benar 2 Jakarta Depok Sragen Gambar i Histogram Pengunaan Helm yang Benar di Ketiga Wilayah 43

18 Dari gambar i diketahui bahwa tingkat ketepatan penggunaan helm tertinggi adalah di wilayah Depok sekitar. Dimana sebagian besar sampelnya adalah mahasiswa dan karyawan. Kondisi Lampu Kondisi Lampu Siang 10 hidup hidup 4 2 Jakarta Depok Sragen Gambar j Histogram Kondisi Lampu Siang Hari di Ketiga Wilayah Berdasarkan perbandingan gambar j, perilaku kepedulian terhadap keselamatan dengan cara menyalakan lampu di siang hari di ketiga wilayah masih cukup rendah, belum mencapai 5. Perilaku menyalakan lampu baik siang maupun malam hari ini bertujuan untuk menginformasikan keberadaan pengendara sepeda motor agar diketahui oleh pengendara lainnya. Dari gambar perbandingan-perbandingan ketiga wilayah pada statistik deskriptif survey cross sectional (form 1) diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat penggunaan helm, penggunaan, atribut, jenis helm, ketepatan penggunaan helm, serta kondisi lampu dari ketiga wilayah signifikan berbeda secara statistik deskriptif Survey Wawancara (Form 2) Data form 2 diperoleh dengan melakukan survey wawancara, dimana responden yang mengisi kuesioner merupakan pengemudi sepeda motor di wilayah Jakarta, Depok, dan Sragen. Berikut ini data-data responden di ketiga wilayah. Tabel a Karakteristik Jenis Kelamin vs Jenis Pekerjaan di Jakarta Pekerjaan Jenis kelamin PNS Pegawai Wira Peda Maha Ibu rumah Pengang Pelajar Total Swasta swasta gang siswa tangga guran Pria Wanita Total

19 Tabel b Karakteristik Jenis Kelamin vs Jenis Pekerjaan di Depok Pekerjaan Jenis kelamin PNS Pegawai Wira Peda Maha Ibu rumah Pengang Pelajar Total Swasta swasta gang siswa tangga guran Pria Wanita Total Tabel c Karakteristik Pekerjaan vs Jenis Kelamin di Sragen Pekerjaan Jenis kelamin PNS Pegawai Wira Peda Maha Ibu rumah Pengang Pelajar Total Swasta swasta gang siswa tangga guran Pria Wanita Total Pekerjaan vs Jenis Kelamin Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita JAKARTA DEPOK SRAGEN Wilayah Studi dan Jenis Kelamin Pengangguran Ibu rumah tangga Mahasisw a Pelajar Pedagang Wirasw asta Pegaw ai Sw asta PNS Gambar a Histogram Pekerjaan vs Jenis Kelamin di Ketiga Wilayah Dari deskripsi tabel-tabel dan gambar diatas tampak bahwa sebagian besar pengguna sepeda motor di ketiga wilayah adalah pria dengan jenis pekerjaan di wilayah Jakarta dan Sragen adalah pegawai swasta, sedangkan di Depok sebagian besar penggunanya merupakan mahasiswa. Hal ini disebabkan banyaknya kampus serta jalan-jalan tikus di wilayah Depok sehingga banyak mahasiswa lebih memilih menggunakan moda transportasi motor karena dianggap lebih efektif. 45

20 Karakteristik responden berdasarkan pengetahuan tentang peraturan lalu lintas Pengetahuan Peraturan Lalu Lintas Jakarta Depok Sragen tahu sedikit tahu banyak tapi juga sedikit cukup tahu tahu banyak Gambar b Histogram Pengetahuan Peraturan Lalu Lintas Responden di Ketiga Wilayah Tingkat pengetahuan pengemudi sepeda motor terhadap peraturan lalu lintas ternyata sangat sedikit di ketiga wilayah. Pengemudi sepeda motor di Jakarta yang tahu banyak mengenai peraturan lalu lintas adalah sebesar 11.05%, Depok sebesar 9.58% dan Sragen sebesar 5.07%. Hal ini dapat disebabkan minimnya informasi yang dapat diperoleh baik melalui media, polisi, dan buku aturan lalu lintas, serta kurangnya sosialisasi-sosialisasi mengenai pentingnya keselamatan yang harus disampaikan kepada pengemudi sepeda motor sebagai penyebab utama tingginya angka kecelakaan. Karakteristik responden berdasarkan sumber pengetahuan peraturan lalu lintas Sumber Pengetahuan Peraturan Lalu Lintas Jakarta Depok Sragen lainnya polisi media informasi (TV, koran) buku khusus tentang lalin tetangga teman keluarga lainnya selain orangtua orang tua guru Gambar c Histogram Sumber Pengetahuan Peraturan Lalu Lintas Responden di Ketiga Wilayah Berdasarkan gambar c dapat dilihat bahwa sumber pengetahuan peraturan lalu lintas responden di wilayah Jakarta lebih dari 29% diperoleh dari media informasi (TV, Koran). Untuk wilayah Depok lebih dari 39% bersumber dari pengetahuan lainnya, seperti pengalaman di jalan dan otodidak, sedangkan untuk wilayah Sragen lebih dari 35% besumber dari orang tua. 46

21 Karakteristik responden berdasarkan intensitas mengendarai motor Intensitas Mengendarai Motor Jakarta Depok Sragen lainnya dua bulan sekali sebulan sekali dua minggu sekali seminggu sekali seminggu dua kali dua hari sekali setiap hari Gambar d Histogram Intensitas Mengendarai Motor di Ketiga Wilayah Karakteristik responden berdasarkan alasan menggunakan motor Alasan Menggunakan Motor Jakarta Depok Sragen lainnya tren sekarang malas berjalan kaki/menggunakan kendaraan lain lebih ekonomis menghindari kemacetan lebih cepat sampai ke tujuan Gambar e Histogram Alasan Menggunakan Motor di Ketiga Wilayah Dari gambar d dan gambar e diketahui bahwa lebih dari 72% pengemudi sepeda motor di ketiga wilayah mengendarai motornya setiap hari. Hal ini dikarenakan sepeda motor dianggap lebih efektif, hemat dan dapat menghindari kemacetan, sehingga pengendara dapat lebih cepat sampai ke tujuan jika dibandingkan dengan penggunaan moda lainnya. 47

22 Karakteristik responden berdasarkan kepemilikan dan cara memperoleh C Kepemilikan C 10 4 ya 2 Jakarta Depok Sragen Gambar f Histogram Tingkat Kepemilikan C di Ketiga Wilayah Cara Memperoleh C lainnya melalui calo sesuai dengan prosedur Jakarta Depok Sragen Gambar g Histogram Cara Memperoleh C di Ketiga Wilayah Dari gambar f dan gambar g diatas diketahui bahwa tingkat kepemilikan C di Jakarta sebesar 82., Depok 73.17%, dan Sragen 78.02%. Namun belum seluruh responden memperoleh sesuai dengan prosedur yang semestinya. Di Jakarta banyaknya responden yang memperoleh sesuai prosedur ada sebesar 50.62%, Depok 46.36%, dan Sragen Mayoritas pengguna sepeda motor memilih membuat melalui jasa calo karena sering dipersulit jika membuat sesuai dengan prosedur yang benar. 48

23 Karakteristik responden berdasarkan usia saat memiliki C Usia Memiliki C >20 tahun 19 tahun 18 tahun 17 tahun < 17 tahun Jakarta Depok Sragen Gambar h Histogram Usia Kepemilikan C di Ketiga wilayah Dari deskripsi diatas, 76% pengemudi sepeda motor di Sragen memiliki C pada usia dibawah 17 tahun. Namun di daerah Jakarta dan Depok lebih dari 23% juga masih terdapat pengemudi sepeda motor yang memiliki pada usia dibawah 17 tahun. Hal ini dapat disebabkan karena kemudahan untuk mendapatkan C melalui jasa calo sehingga perlu dilakukan ujian teori dan praktek guna mengukur pengetahuan dan keterampilan mengemudi dari calon pengendara. Karakteristik responden berdasarkan biaya mengurus kepemilikan C Biaya Mengurus C 10 4 > < Jakarta Depok Sragen Gambar i Histogram Biaya Mengurus C di Ketiga Wilayah Gambar i memperlihatkan lebih dari 35% biaya untuk mengurus C untuk wilayah Jakarta dan Sragen berkisar antara Rp Rp , sedangkan untuk wilayah Depok yang mayoritas pengendaranya memperoleh C melalui calo mengeluarkan biaya untuk mengurus C antara Rp Rp

24 Karakteristik responden apakah selalu membawa C pada saat mengendarai motor atau Selalu Membawa C 10 4 ya 2 Jakarta Depok Sragen Gambar j Histogram Intensitas Membawa C di Ketiga Wilayah Gambar j menjelaskan masih adanya beberapa pengemudi sepeda motor yang membawa C pada saat mengendarai sepeda motornya. Di wilayah Jakarta ada 7.74% pengemudi yang kadang membawa pada saat berkendara, Depok sebesar 10.71%, dan Sragen sebesar 5.45%. Karakteristik responden berdasarkan intensitas mengalami kecelakaan dalam setahun terakhir Intensitas Mengalami Kecelakaan 10 4 lebih dari 3 kali tiga kali satu kali pernah 2 Jakarta Depok Sragen Gambar k Histogram Banyaknya Kecelakaan yang Dialami Responden di Ketiga Wilayah Gambar k memperlihatkan banyak kecelakaan yang dialami oleh responden dalam setahun terakhir. Dimana terjadinya kecelakaan lebih dari 3 kali dalam setahun terakhir ada sebanyak 6.03% di Jakarta, 2.45% di Depok, dan 4.39% di Sragen. 50

25 Karakteristik responden berdasarkan intensitas penggunaan helm Intensitas Menggunakan Helm Jakarta Depok Sragen menggunakan helm jarang tergantung keadaan kadang-kadang sering tapi selalu selalu Gambar l Histogram Intensitas Menggunakan Helm di Ketiga Wilayah Dari gambaran diatas dapat dilihat bahwa kesadaran untuk selalu menggunakan helm pada saat mengendarai motor di ketiga wilayah masih cukup rendah. Di wilayah Jakarta intensitas selalu menggunakan helm sebesar 56.22%, Depok 36%, dan Sragen 44%. Karakteristik responden berdasarkan cara mendapatkan helm Cara Mendapatkan Helm lainnya pemberian dari orang lain hadiah pada saat membeli motor membeli sendiri Jakarta Depok Sragen Gambar m Histogram Cara Mendapatakan Helm di Ketiga Wilayah Gambar m memperlihatkan lebih dari 7 responden di Jakarta, Depok, dan Sragen memperoleh helm dengan cara membeli sendiri. 51

26 Karakteristik responden berdasarkan tempat membeli helm Tempat Membeli Helm Jakarta Depok Sragen lainnya pameran toko aksesoris motor pusat perbelanjaan/mall pinggir jalan pedagang kaki lima Gambar n Histogram Tempat membeli Helm di Ketiga Wilayah Gambar n memperlihatkan lebih dari 47% responden di Jakarta dan Depok membeli helm di toko aksesoris motor. Hal ini dapat disebabkan karena gaya hidup di Jakarta dan Depok yang cenderung lebih mengutamakan penampilan dan mengikuti trend dibandingkan dengan di wilayah Sragen yang 42% respondennya membeli helm di pedagang kaki lima karena harga yang relatif lebih murah. Tingkat standar keselamatan helm ini dapat dilihat dari tempat pembelian helm. Dimana pembelian di toko aksesoris motor, pameran, dan pusat perbelanjaan lebih terjamin mutunya jika dibandingkan dengan pembelian di pinggir jalan ataupun pedagang kaki lima. Karakteristik responden berdasarkan biaya untuk membeli helm Biaya Membeli Helm > Rp Rp Rp < Rp Jakarta Depok Sragen Gambar o Histogram Biaya Membeli Helm di Ketiga Wilayah Dari gambar o dapat dilihat sekitar 46% responden di Jakarta mengeluarkan biaya antara Rp Rp untuk mendapatkan helm. Sedangkan untuk wilayah Depok dan Sragen lebih dari 42% responden mengeluarkan biaya kurang dari Rp

27 Karakteristik responden berdasarkan persepsi penggunaan helm Persepsi Menggunakan Helm Jakarta Depok Sragen lainnya semua orang pakai, jadi saya ikut melindungi rambut anjuran keluarga supaya ditangkap polisi untuk keselamatan Gambar p Histogram Persepsi Menggunakan Helm di Ketiga Wilayah Karakteristik responden berdasarkan keinginan mengganti helm Keinginan Mengganti Helm 10 4 ya 2 Jakarta Depok Sragen Gambar q Histogram Keinginan Mengganti Helm Pada gambar q terlihat lebih dari responden di daerah Depok memi keinginan untuk mengganti helmnya. Hal ini dapat disebabkan karena adanya kerusakan yang berarti dengan helm yang dimiliki responden saat ini dan harga helm yang relatif dianggap mahal oleh responden. Pemilik kendaraan sepeda motor sebagian besar adalah masyarakat menengah ke bawah, sehingga mereka cenderung lebih memilih menyimpan uangnya untuk kebutuhan lain ketimbang membeli helm dengan harga mahal. Survey keinginan mengganti helm ini hanya dilakukan di daerah Depok. Sehingga ada data yang diperoleh dari wilayah Jakarta dan Sragen. 53

28 Karakteristik responden berdasarkan persepsi pernah menggunakan helm Persepsi Pernah Tidak Menggunakan Helm Jakarta Depok Sragen lainnya helm kebesaran/kekecilan susah dan ribet bisa merusak tatanan rambut masih kecil, wajib pakai helm perjalanan jarak dekat ada polisi Gambar r Histogram Persepsi Pernah Tidak Menggunakan Helm di Ketiga Wilayah Berdasarkan gambar p dan gambar r dapat dilihat bahwa lebih dari 54% responden di ketiga wilayah sudah menyadari pentingnya penggunaan helm untuk alasan keselamatan. Namun demikian masih ada beberapa alasan lain responden menggunakan helm, seperti supaya ditangkap polisi, anjuran keluarga, melindungi rambut, dan ikut-ikutan. Sedangkan untuk persepsi pernah menggunakan helm, lebih dari responden diketiga wilayah adalah karena alasan perjalanan jarak dekat. Perjalanan jarak dekat ini contohnya perjalanan internal dalam suatu komplek perumahan. Biasanya pengguna sepeda motor menggunakan helm untuk perjalanan jarak dekat karena kondisi jalan yang relatif lengang dan dianggap aman dari kecelakaan serta adanya polisi di sekitar daerah tersebut. Karakteristik responden berdasarkan persepsi helm standar Helm Standar Menurut Responden Jakarta Depok Sragen tahu lainnya (helm sepeda,helm proyek) helm half face helm open face helm full face Gambar s Histogram Persepsi Helm Standar Menurut Responden di Ketiga Wilayah 54

29 Karakteristik responden berdasarkan cara menggunakan helm yang benar Cara Menggunakan Helm yang Benar Jakarta Depok Sragen tahu memakai helm terbalik dan mengikatkan tali pengaman memakai helm terbalik tanpa mengikatkan tali pengaman memakai hanya diatas kepala saja memakai dan mengikatkan tali pengaman helm memakai tanpa mengikatkan tali pengaman helm Gambar t Histogram Cara Menggunakan Helm yang benar Menurut Responden di Ketiga Wilayah Karakteristik responden berdasarkan sumber pengetahuan tata cara menggunakan helm Sumber Pengetahuan Menggunakan Helm Jakarta depok Sragen lainnya penjual helm orangtua/saudara sahabat media cetak (koran,majalah) media elektronik (TV,radio) Gambar u Histogram Sumber Pengetahuan Menggunakan Helm Gambar s dan t menunjukkan lebih dari 9 responden di ketiga wilayah sudah mengetahui jenis helm mana yang memenuhi standar keselamatan jika terjadi kecelakaan kendaraan bermotor dan mengetahui cara penggunaan helm yang benar yaitu dengan memakai dan mengikatkan tali pengaman helm. Untuk survey variabel sumber pengetahuan menggunakan helm, dilakukan pada daerah Jakata dan Sragen. Gambar u memperlihatkan 72% responden di Depok mengetahui cara menggunakan helm berdasarkan kategori lainnya yaitu pengalaman dan belajar sendiri (otodidak). 55

30 Karakteristik responden berdasarkan persepsi bagian tubuh yang rawan luka saat terjadi kecelakaan Persepsi Bagian Tubuh yang Rawan Luka Jakarta Depok Sragen lainnya kepala,badan,kaki dan tangan kaki dan tangan badan kepala Gambar v Histogram Persepsi Bagian Tubuh yang Rawan Luka Menurut Responden di Ketiga Wilayah Gambar v menunjukkan bahwa lebih dari 43% responden di ketiga wilayah sudah mengetahui bahwa kepala merupakan bagian yang paling rawan luka pada saat terjadinya kecelakaan. Karakteristik responden berdasarkan prioritas utama yang dilakukan sebagai usaha preventif terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor Prioritas Usaha Preventif Terjadinya Kecelakaan Jakarta Depok Sragen menyalakan lampu baik siang maupun malam hari dalam kondisi sehat jasmani dan rohani tetap berada di jalur kiri ( menyalip-nyalip disiplin berlalu lintas memakai perlengkapan safety dengan benar (helm,jaket,sepatu) memeriksa kondisi motor sebelum berkendara Gambar w Histrogam Proritas Usaha Prefentif Terjadinya Kecelakaan Menurut Responden di Ketiga Wilayah Dari gambar w ditunjukkan bahwa prioritas usaha preventif yang perlu dilakukan menurut lebih dari 32% responden Jakarta dan Depok adalah memeriksa kondisi motor sebelum berkendara. Sedangkan untuk wilayah Sragen, 42% responden lebih memprioritaskan kondisi sehat jasmani maupun rohani untuk mencegah terjadinya kecelakaan. 56

31 Berdasarkan seluruh gambaran statistik deksriptif survey wawancara (form 2) diatas, dapat dikatakan bahwa variabel-variabel yang disajikan pada masing-masing wilayah signifikan berbeda Tabulasi Silang Derajat 2 Dari gambaran statistik deskriptif yang telah dijabarkan sebelumnya dilakukan juga tabulasi silang berdasarkan data survey wawancara (form 2) mengenai kepemilikan C untuk melihat seberapa banyak responden yang mengetahui dan peduli akan keselamatan berlalu lintas namun memiliki C. Tabel a Kepemilikan C vs banyaknya kecelakaan yang dialami oleh responden di Jakarta, Depok, dan Sragen. JAKARTA DEPOK SRAGEN Intensitas Kecelakaan Wilayah, Kepemilikan TOTAL pernah satu kali tiga kali Mengalami Kecelakaan lebih dari 3 kali TOTAL Kepemilikan C vs Banyak Kecelakaan yang Dialami lebih dari 3 kali tiga kali satu kali pernah JAKARTA DEPOK SRAGEN Kepemilikan C dan Wilayah Studi Gambar a Histogram Kepemilikan vs Banyak Kecelakaan yang Dialami di Ketiga Wilayah Dari tabel a dan gambar a diatas diketahui bahwa di daerah Jakarta, besarnya persentase responden yang memiliki C dan pernah mengalami 57

32 kecelakaan adalah 50.63%, sedangkan untuk responden yang memiliki dan pernah mengalami kecelakaan sebesar 57%. Dapat dilihat bahwa di daerah Jakarta, kepemilikan ternyata mempengaruhi banyaknya kecelakaan yang dialami responden. Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar responden di Jakarta memperoleh dengan cara sesuai prosedur yang semestinya. Untuk daerah Depok, persentase responden yang memiliki dan pernah mengalami kecelakaan adalah sebesar 67.03%, sedangkan responden yang memiliki dan pernah mengalami kecelakaan adalah sebesar 65.07%. Hal ini menunjukkan kepemilikan di Depok sedikit berpengaruh terhadap tingkat kecelakaan di Depok. Dimana responden yang memiliki lebih waspada dalam mengemudikan kendaraannya dibandingkan dengan responden yang memiliki. Untuk daerah Sragen, banyaknya responden yang memiliki dan mengalami kecelakaan adalah sebesar 54.24%, sedangkan responden yang memiliki dan mengalami kecelakaan sebesar 34.48%. Hal ini memperlihatkan bahwa tingkat kepemilikan di Sragen juga berpengaruh pada kewaspadaan pengemudi dalam mengemudikan kendaraannya. Tabel b Kepemilikan C vs intensitas responden menggunakan helm di Jakarta, Depok, dan Sragen. JAKARTA DEPOK SRAGEN Intensitas Menggunakan Helm Intensitas Menggunakan Helm Wilayah, Kepemilikan TOTAL selalu sering tapi selalu kadangkadang tergantung keadaan jarang menggunakan helm TOTAL

33 Kepemilikan C vs Intensitas Menggunakan Helm menggunakan helm jarang tergantung keadaan kadang-kadang sering tapi selalu selalu JAKARTA DEPOK SRAGEN Kepemilikan C dan Wilayah Studi Gambar b Histogram Kepemilikan vs Intensitas Menggunakan Helm di Ketiga Wilayah Berdasarkan tabel b dan gambar b dapat dilihat bahwa kepemilikan di tiap daerah memiliki pengaruh terhadap rutinitas manggunakan helm ketika mengendarai sepeda motor. Di wilayah Jakarta, Depok, dan Sragen, responden yang memiliki cenderung lebih rutin menggunakan helm ketika berkendara jika dibandingkan dengan responden yang memiliki. Tabel c Kepemilikan C vs Persepsi menggunakan helm di Jakarta, Depok, dan Sragen. Wilayah, Kepemilikan JAKARTA DEPOK SRAGEN Persepsi Menggunakan Helm Persepsi Menggunakan Helm TOTAL untuk keselamatan supaya ditangkap polisi anjuran keluarga melindungi rambut semua orang pakai, jadi saya ikut lainnya TOTAL

34 Kepemilikan C vs Persepsi Menggunakan Helm JAKARTA DEPOK SRAGEN Kpemilikan C dan Wilayah Studi lainnya semua orang pakai, jadi saya ikut melindungi rambut anjuran keluarga supaya ditangkap polisi untuk keselamatan Gambar c Histogram Kepemilikan vs Persepsi Menggunakan Helm di Ketiga Wilayah Tabel c dan gambar c menunjukkan pengaruh kepemilikan terhadap persepsi menggunakan helm. Di ketiga wilayah, persentase responden yang memiliki dan menggunakan helm untuk keselamatan lebih tinggi dibandingkan dengan persentase responden yang memiliki dan menggunakan helm untuk keselamatan. Hal ini memperlihatkan bahwa kepemilikan di ketiga wilayah mempengaruhi kesadaran masyarakat akan keselamatan di jalan raya. Tabel d Kepemilikan C vs persepsi pernah menggunakan helm di Jakarta, Depok, dan Sragen. JAKARTA DEPOK SRAGEN Persepsi Pernah Tidak Menggunakan Helm Persepsi Pernah Tidak Menggunakan Helm Wilayah, Kepemilikan TOTAL ada polisi perjalanan jarak dekat masih kecil, wajib pakai helm bisa merusak tatanan rambut susah dan ribet helm kebesaran/ kekecilan lainnya TOTAL

35 Kepemilikan C vs Persepsi Pernah Tidak Menggunakan Helm JAKARTA DEPOK SRAGEN Kepemilikan C dan Wilayah Studi lainnya helm kebesaran/kekecilan susah dan ribet bisa merusak tatanan rambut masih kecil, wajib pakai helm perjalanan jarak dekat ada polisi Gambar d Histogram Kepemilikan vs Persepsi Pernah Tidak Menggunakan Helm di Ketiga Wilayah Tabel d dan gambar d memperlihatkan pengaruh kepemilikan dengan persepsi responden saat pernah menggunakan helm. Di Jakarta dan Depok, persepsi terbanyak yang dipilih responden yang memiliki maupun memiliki adalah persepsi perjalanan jarak dekat. Namun persentase responden yang memiliki dan menggunakan helm karena perjalanan jarak dekat lebih besar jika dibandingkan dengan responden yang memiliki dan menggunakan helm karena perjalanan jarak dekat. Untuk daerah Sragen, responden yang memiliki, sebagian besar juga pernah menggunakan helm karena perjalanan jarak dekat. Namun untuk responden yang memiliki sebagian besar pernah menggunakan helm karena dapat merusak tatanan rambut. Rata-rata responden yang ada dalam kategori ini adalah wanita pelajar. Tabel e Kepemilikan C vs Helm yang Dianggap Standar di Jakarta, Depok, dan Sragen. Wilayah, Kepemilikan JAKARTA DEPOK SRAGEN Jenis Helm Standar Jenis Helm yang Dianggap Standar Tidak TOTAL helm full face helm open face helm half face lainnya (helm sepeda,helm proyek) tahu TOTAL

36 Kepemilikan C vs Helm yang Diaggap Standar JAKARTA DEPOK SRAGEN Kepemilikan C dan Wilayah Studi tahu lainnya (helm sepeda,helm proyek) helm half face helm open face helm full face Gambar e Histogram Kepemilikan vs Helm yang Dianggap Standar oleh Responden di Ketiga Wilayah Tabel e dan gambar e menunjukkan pengaruh kepemilikan dengan pengetahuan helm yang memenuhi standar menurut responden di Jakarta, Depok, dan Sragen. Dari gambar tersebut lebih dari 76% responden sudah mengetahui helm mana yang memenuhi standar untuk keselamatan. Namun di Jakarta masih ada 2.25% responden yang memiliki, dan 12.13% responden yang memiliki, mengetahui helm mana yang memenuhi standar. Di Depok sebagian besar responden sudah mengetahui standar helm keselamatan, meskipun 0.56% responden yang memiliki salah dalam memilih standar helm yang memenuhi keselamatan. Sedangkan di Sragen sebanyak 0.93% responden yang memiliki dan 17.24% responden yang memiliki mengetahui standar helm keselamatan. Terlihat bahwa di daerah Jakarta dan Sragen pengetahuan akan standar helm keselamatan lebih banyak diketahui oleh responden yang memiliki. Sedangkan di Depok, responden yang memiliki justru seluruhnya mengetahui helm mana yang memenuhi standar keselamatan berlalu lintas. 62

37 Tabel f Kepemilikan C vs Cara Menggunakan Helm yang Benar Menurut Responden di Jakarta, Depok, dan Sragen. JAKARTA DEPOK SRAGEN Cara Menggunakan Helm Cara Menggunakan Helm yang Dianggap Benar Wilayah, Kepemilikan memakai tanpa mengikatkan tali pengaman helm memakai dan mengikatkan tali pengaman helm memakai hanya diatas kepala saja memakai helm terbalik tanpa mengikatkan tali pengaman memakai helm terbalik dan mengikatkan tali pengaman TOTAL tahu TOTAL Kepemilikan C vs Cara Menggunakan Helm yang Benar JAKARTA DEPOK SRAGEN Kepemilikan C dan Wilayah Studi tahu memakai helm terbalik dan mengikatkan tali pengaman memakai helm terbalik tanpa mengikatkan tali pengaman memakai hanya diatas kepala saja memakai dan mengikatkan tali pengaman helm memakai tanpa mengikatkan tali pengaman helm Gambar f Histogram Kepemilikan vs Cara Menggunakan Helm yang Benar Menurut Responden di Ketiga Wilayah Tabel f dan gambar f menunjukkan pengaruh kepemilikan dengan tata cara menggunakan helm yang benar menurut responden di wilayah Jakarta, Depok, dan Sragen. Dari tabel dan gambar tersebut terlihat bahwa di Jakarta, responden yang menjawab memakai dan mengikatkan tali pengaman helm ada sebanyak 90.51% 63

38 untuk yang memiliki dan 80.09% untuk yang memiliki. Di Depok, responden yang menjawab memakai dan mengikatkan tali pengaman helm ada sebanyak 91.06% untuk yang memiliki dan 86.36% untuk yang memiliki. Sedangkan di Sragen, responden yang menjawab memakai dan mengikatkan tali pengaman helm ada sebanyak 96.24% untuk yang memiliki dan 91.37% untuk yag memiliki. Dari ketiga wilayah dapat dilihat bahwa pengetahuan akan tata cara penggunaan helm yang benar lebih banyak diketahui oleh responden yang memiliki. Tabel g Kepemilikan C vs Bagian Tubuh yang Rawan Luka Saat Kecelakaan Menurut Responden di Jakarta, Depok, dan Sragen. JAKARTA DEPOK SRAGEN Bagian Tubuh Rawan Luka Bagian Tubuh yang Dianggap Rawan Luka Saat Wilayah, Kepemilikan TOTAL kepala badan kaki dan tangan kepala,badan,kaki dan tangan Kecelakaan Lainnya TOTAL Kepemilikan C vs Bagian Tubuh yang Rawan Luka JAKARTA DEPOK SRAGEN Kepemilikan C dan Wilayah Studi lainnya kepala,badan,kaki dan tangan kaki dan tangan badan kepala Gambar g Histogram Kepemilikan vs Bagian Tubuh yang Rawan Luka Kecelakaan Menurut Responden di Ketiga Wilayah Tabel g dan gambar g memperlihatkan pengaruh kepemilikan dengan bagian tubuh yang dianggap rawan luka saat terjadinya kecelakaan menurut responden di Jakarta, Depok, dan Sragen. Di Jakarta, menurut 45.79% responden yang memiliki, bagian tubuh yang rawan luka kecelakaan adalah kepala. Sedangkan menurut 64

39 58.73% responden yang memiliki, bagian tubuh yang rawan luka adalah kepala, badan kaki, dan tangan. Di wilayah Depok, 70.94% responden yang memiliki dan 50.76% responden yang memiliki menjawab bagian tubuh yang rawan luka adalah kepala. Dan di wilayah Sragen, sebanyak 53.05% responden yang memiliki dan 79.66% responden yang memiliki menjawab bagian tubuh yang rawan luka adalah kepala. Dari gambar g secara umum dapat dilihat bahwa di ketiga wilayah, sebagian besar responden yang memiliki maupun memiliki sudah mengetahui bahwa bagian tubuh yang rawan luka saat terjadinya kecelakaan adalah kepala. Namun persentase responden yang memiliki dan menjawab bagian tubuh yang rawan luka adalah kepala, lebih tinggi jika dibandingkan dengan responden yang memiliki dan menjawab bagian tubuh yang rawan luka adalah kepala. Tabel h Kepemilikan C vs Prioritas Preventif Terjadinya Kecelakaan Menurut Responden di Jakarta, Depok, dan Sragen. JAKARTA DEPOK SRAGEN Prioritas Usaha Preventif Kecelakaan Prioritas yang Dilakukan Sebagai Usaha Preventif Wilayah, Kepemilikan memeriksa kondisi motor sebelum berkendara memakai perlengkapan safety dengan benar (helm,jaket,sepatu) disiplin berlalu lintas tetap berada di jalur kiri ( menyalipnyalip dalam kondisi sehat jasmani dan rohani menyalakan lampu baik siang maupun malam hari TOTAL TOTAL

40 Kepemilikan C vs Prioritas Preventif Kecelakaan JAKARTA DEPOK SRAGEN Kepemilikan C dan Wilayah Studi menyalakan lampu baik siang maupun malam hari dalam kondisi sehat jasmani dan rohani tetap berada di jalur kiri ( menyalip-nyalip disiplin berlalu lintas memakai perlengkapan safety dengan benar (helm,jaket,sepatu) memeriksa kondisi motor sebelum berkendara Gambar h Histogram Kepemilikan vs Prioritas Preventif Terjadinya Kecelakaan Menurut Responden di Ketiga Wilayah Tabel dan gambar h memperlihatkan pengaruh tingkat kepemilikan terhadap prioritas preventif terjadinya kecelakaan menurut responden di ketiga wilayah kajian. Dari tabel dan gambar tersebut dapat dilihat bahwa di Jakarta, 33.57% responden yang memiliki dan 31% responden yang memiliki menjawab memeriksa kondisi motor sebelum berkendara. Di Depok, sebanyak 37.07% responden yang memiliki dan 4 responden yang memiliki menjawab memeriksa kondisi motor sebelum berkendara. Sedangkan di Sragen, sebanyak 46.22% responden yang memiliki menjawab dalam kondisi sehat jasmani dan rohani, dan sebanyak 54.23% responden yang memiliki menjawab disiplin berlalu lintas. Tabel i Cara Memperoleh vs Kecelakaan yang Dialami Menurut Responden di Jakarta, Depok, dan Sragen. Kecelakaan Cara memperoleh Jakarta pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 kali TOTAL sesuai dengan prosedur melalui calo lainnya TOTAL Depok sesuai dengan prosedur melalui calo lainnya TOTAL Sragen sesuai dengan prosedur melalui calo lainnya TOTAL

41 10 Cara Memperoleh vs Kecelakaan yang Dialami 4 2 lebih dari 3 kali tiga kali satu kali pernah sesuai dengan melalui calo lainnya sesuai dengan melalui calo lainnya sesuai dengan melalui calo lainnya Jakarta Depok Sragen Gambar i Cara Memperoleh vs Kecelakaan yang Dialami Menurut Responden di Ketiga Wilayah Dari hasil tabulasi data derajat 2 variabel kepemilikan, tampak perbandingan yang terlalu ekstrim antara responden yang memiliki dengan yang memiliki. Sehingga akan dicoba tabulasi data derajat 2 dengan menggunakan variabel cara memperoleh. Pada tabel i dan gambar i dapat dilihat bahwa di daerah Jakarta, intensitas kecelakaan (satu kali, tiga kali, dan lebih dari tiga kali) paling banyak terjadi pada responden yang memperoleh pada kategori lainnya, yaitu melalui jalur orang dalam kepolisian ataupun secara kolektif, sebesar. Sedangkan di daerah Depok dan Sragen, kecelakaan banyak terjadi pada responden yang memperoleh melalui calo, lebih dari 5. 67

42 Tabel j Cara Memperoleh vs Intensitas Menggunakan Helm Menurut Responden di Jakarta, Depok, dan Sragen. Intensitas menggunakan helm Wilayah, cara memperoleh Jakarta selalu sering tapi selalu kadangkadang tergantung keadaan jarang menggunakan helm TOTAL sesuai dengan prosedur melalui calo lainnya TOTAL Depok sesuai dengan prosedur melalui calo lainnya TOTAL Sragen sesuai dengan prosedur melalui calo lainnya TOTAL Cara Memperoleh vs Intensitas menggunakan Helm sesuai dengan melalui calo lainnya sesuai dengan melalui calo lainnya sesuai dengan melalui calo Jakarta Depok Sragen lainnya menggunakan helm jarang tergantung keadaan kadang-kadang sering tapi selalu selalu Gambar j Histogram Cara Memperoleh vs Intensitas Menggunakan Helm Menurut Responden di Ketiga Wilayah Tabel j dan gambar j memperlihatkan hubungan cara perolehan dan intensitas menggunakan helm di ketiga wilayah. Untuk daerah Jakarta dan Sragen, responden yang selalu menggunakan helm lebih dari 54% memperoleh melalui calo. Sedangkan untuk daerah Depok, 66% responden yang selalu menggunakan helm adalah responden yang memperoleh dengan cara melalui orang dalam kepolisian atau secara kolektif. 68

43 Tabel k Usia Memiliki vs Kecelakaan yang Dialami Usia Memiliki Wilayah, Kecelakaan yang Dialami usia pada saat memiliki C < 17 tahun 17 tahun 18 tahun 19 tahun >20 tahun Total pernah Jakarta satu kali tiga kali lebih dari 3 kali Total pernah Depok satu kali tiga kali lebih dari 3 kali Total pernah Sragen satu kali tiga kali lebih dari 3 kali Total Usia Kepemilikan vs Kecelakaan yang Dialami >20 tahun 19 tahun 18 tahun 17 tahun < 17 tahun pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 pernah satu kali Jakarta Depok Sragen tiga kali lebih dari 3 Gambar k Histogram Usia Kepemilikan vs Kecelakaan yang Dialami Tabel k dan gambar k menunjukkan bahwa lebih dari 43% kecelakaan di Jakarta, Depok, dan Sragen terjadi pada responden yang memiliki pada usia 17 tahun dan 17 tahun ke bawah. Hal ini dapat diakibatkan karena faktor labilnya emosi remaja pada saat mengendarai sepeda motor di jalan raya. 69

44 Derajat 3 Tabel l Kepemilikan vs Helm yang Dianggap Standar vs Cara Menggunakan Helm yang Dianggap Standar. memakai Cara Menggunakan Helm tanpa memakai dan memakai helm memakai yang Dianggap Benar mengikatkan mengikatkan terbalik tanpa hanya diatas Wilayah, Kepemilikan, tali tali pengaman mengikatkan tali kepala saja Helm yang Dianggap Standar pengaman helm pengaman helm JAKARTA DEPOK memakai helm terbalik dan mengikatkan tali pengaman helm full face helm open face ya helm half face lainnya (helm sepeda,helm proyek) tahu Total helm full face helm open face helm half face lainnya (helm sepeda,helm proyek) tahu Total helm full face helm open face ya helm half face lainnya (helm sepeda,helm proyek) tahu Total helm full face helm open face helm half face lainnya (helm sepeda,helm proyek) tahu Total tahu Total 70

45 Wilayah, Kepemilikan, Helm yang Dianggap Standar SRAGEN Cara Menggunakan Helm yang Dianggap Benar memakai tanpa mengikatkan tali pengaman helm memakai dan mengikatkan tali pengaman helm memakai hanya diatas kepala saja memakai helm terbalik tanpa mengikatkan tali pengaman memakai helm terbalik dan mengikatkan tali pengaman helm full face helm open face ya helm half face lainnya (helm sepeda,helm proyek) tahu Total helm full face helm open face helm half face lainnya (helm sepeda,helm proyek) tahu Total tahu Total 71

46 Kepemilikan vs Helm yang Dianggap Standar vs Wilayah 10 tahu 4 2 ` memakai helm terbalik dan mengikatkan tali pengaman memakai helm terbalik tanpa mengikatkan tali pengaman memakai hanya diatas kepala saja helm full face tahu lainnya (helm helm half helm open helm half helm open helm full face tahu lainnya (helm helm half helm open helm full face helm open helm full face tahu lainnya (helm helm full face tahu lainnya (helm helm half lainnya (helm helm half helm open helm full face tahu lainnya (helm helm half helm open ya ya ya JAKARTA DEPOK SRAGEN tahu memakai dan mengikatkan tali pengaman helm memakai tanpa mengikatkan tali pengaman helm Gambar l Histogram Kepemilikan vs Helm yang Dianggap Standar vs Cara Menggunakan Helm yang Dianggap Benar 72

47 Tabel l dan gambar l menunjukkan lebih dari 69% responden di Jakarta dan Depok memilih helm full face sebagai helm yang memenuhi standar keselamatan dengan cara pemakaian mengikatkan tali pengaman helm. Namun persentase responden yang memiliki, memilih helm full face, dan memilih cara menggunakan dengan mengikatkan tali pengaman helm, masih lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang memiliki. Untuk di daerah Sragen, lebih dari 5 responden yang memiliki justru memilih helm open face sebagai helm yang memenuhi standar keselamatan dengan cara menggunakan mengikatkan tali pengaman helm. Tabel m Kepemilikan vs Kecelakaan yang Dialami vs Persepsi Menggunakan Helm. Persepsi Menggunakan Helm supaya Wilayah, untuk anjuran melindungi ditangkap lainnya Total Kepemilikan, keselamatan keluarga rambut polisi Kecelakaan yang Dialami pernah JAKARTA DEPOK SRAGEN ya satu kali tiga kali lebih dari 3 kali Total pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 kali Total ya pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 kali Total pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 kali Total pernah satu kali ya tiga kali lebih dari 3 kali Total pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 kali Total

48 Kepemilikan vs Kecelakaan yang Dialami vs Persepsi Menggunakan Helm satu kali pernah tiga kali lebih dari 3 pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 pernah satu kali tiga kali lebih dari 3 lainnya melindungi rambut anjuran keluarga supaya ditangkap polisi untuk keselamatan ya ya ya JAKARTA DEPOK SRAGEN Gambar m Histogram Kepemilikan vs Kecelakaan yang Dialami vs Persepsi Menggunakan Helm 74

49 Tabel m dan gambar m memperlihatkan bahwa di Jakarta, persentase responden yang mengalami kecelakaan dan memakai helm dengan alasan keselamatan justru lebih tinggi untuk responden yang memiliki dibandingkan dengan responden yang memiliki. Di daerah depok, persentase responden yang mengalami kecelakaan dan memakai helm dengan alasan keselamatan lebih tinggi untuk responden yang memiliki dibandingkan dengan responden yang memiliki. Sedangkan di Sragen, responden yang banyak mengalami kecelakaan adalah responden yang memiliki dan memakai helm dengan alasan supaya ditangkap polisi. 75

50 Tabel n Kepemilikan vs Kecelakaan yang Dialami vs Intensitas Menggunakan Helm. Intensitas Menggunakan Intensitas menggunakan helm Helm Wilayah, Kepemilikan, Kecelakaan yang Dialami JAKARTA DEPOK SRAGEN pernah selalu sering tapi selalu kadangkadang tergantung keadaan jarang menggunakan helm Total satu kali ya tiga kali lebih dari kali Total pernah satu kali tiga kali lebih dari kali Total pernah satu kali ya tiga kali lebih dari kali Total pernah satu kali tiga kali lebih dari kali Total pernah satu kali ya tiga kali lebih dari kali Total pernah satu kali tiga kali lebih dari kali Total

51 Kepemilikan vs Kecelakaan yang Dialami vs Intensitas Menggunakan Helm 10 menggunakan helm jarang 4 tergantung keadaan kadang-kadang 2 sering tapi selalu selalu lebih dari 3 kali tiga kali satu kali pernah lebih dari 3 kali tiga kali satu kali pernah lebih dari 3 kali tiga kali satu kali pernah lebih dari 3 kali tiga kali satu kali pernah lebih dari 3 kali tiga kali satu kali pernah lebih dari 3 kali tiga kali satu kali pernah ya ya ya JAKARTA DEPOK SRAGEN Gambar n Histogram Kepemilikan vs Kecelakaan yang Dialami vs Intensitas Menggunakan Helm 77

52 Tabel n dan gambar n menunjukkan 49% kecelakaan terjadi di Jakarta untuk responden yang memiliki, dan 42% kecelakaan untuk responden yang memiliki. Di Depok, 33% kecelakaan terjadi pada responden yang memiliki, dan 35% kecelakaan terjadi pada responden yang memiliki. Sedangkan di Sragen 45,97% kecelakaan terjadi pada responden yang memiliki, dan 65% kecelakaan terjadi pada responden yang memiliki. Di Jakarta, responden yang memiliki dan selalu menggunakan helm justru lebih banyak mengalami kecelakaan dibandingkan dengan responden yang memiliki dan selalu menggunakan helm, sebesar 27%. Namun persentase kecelakaan pada kategori ini tetap yang paling tinggi. Di Depok, dari kecelakaan paling banyak terjadi pada responden yang memiliki dan sering menggunakan helm tapi selalu, sebesar 19%. Sedangkan di Sragen, kecelakaan lebih banyak terjadi pada responden yang memiliki dan sering menggunakan helm tapi selalu, sebesar 19,9%. Untuk responden Sragen yang memiliki, kecelakaan banyak terjadi pada responden yang menggunakan helm tergantung keadaan, sebesar 17%. Tabel o Cara Memperoleh vs Kecelakaan yang Dialami vs Persepsi Menggunakan Helm. Persepsi Menggunakan Helm Cara Memperoleh, Kecelakaan yang Dialami JAKARTA sesuai dengan prosedur pernah untuk keselamatan supaya ditangkap polisi anjuran keluarga melindungi rambut Ikutikutan lainnya Total satu kali tiga kali > 3 kali Total pernah melalui calo satu kali tiga kali > 3 kali Total pernah lainnya satu kali tiga kali > 3 kali Total

53 Persepsi Menggunakan Helm Cara Memperoleh, Kecelakaan yang Dialami DEPOK SRAGEN sesuai dengan prosedur pernah untuk keselamatan supaya ditangkap polisi anjuran keluarga melindungi rambut Ikutikutan lainnya Total satu kali tiga kali > 3 kali Total pernah melalui calo satu kali tiga kali > 3 kali Total pernah lainnya satu kali tiga kali > 3 kali Total pernah sesuai satu kali dengan prosedur tiga kali > 3 kali Total pernah melalui calo satu kali tiga kali > 3 kali Total pernah lainnya satu kali tiga kali > 3 kali Total

54 Cara Memperoleh vs Kecelakaan yang Dialami vs Persepsi Menggunakan Helm 10 lainnya semua orang pakai, jadi saya ikut melindungi rambut 4 anjuran keluarga 2 supaya ditangkap polisi untuk keselamatan satu tiga kali sesuai dengan prosedur lebih satu lebih tiga kali satu tiga kali lebih tiga kali satu melalui calo lainnya sesuai dengan prosedur lebih satu lebih tiga kali tiga kali satu lebih satu lebih tiga kali melalui calo lainnya sesuai dengan prosedur satu tiga kali melalui calo lebih tiga kali satu lainnya lebih JAKARTA DEPOK SRAGEN Gambar o Histogram Cara Memperoleh vs Kecelakaan yang Dialami vs Persepsi Menggunakan Helm 80

55 Tabel o dan gambar o menunjukkan bahwa di Jakarta, paling tinggi 62,5% kecelakaan terjadi pada kategori perolehan lainnya, yaitu melalui orang dalam maupun secara kolektif. Di Depok, 42% kecelakaan terjadi pada kategori perolehan melalui calo. Sedangkan di Sragen, 53% kecelakaan juga terjadi pada kategori perolehan melalui calo. Di Jakarta, paling tinggi 45% responden yang mengalami kecelakaan adalah responden yang memperoleh melalui orang dalam maupun secara kolektif dan menggunakan helm dengan alasan keselamatan. Di Depok dan Sragen, lebih dari 32% responden yang mengalami kecelakaan adalah responden yang memperoleh melalui jasa calo dan menggunakan helm dengan alasan keselamatan. Dari hasil tabulasi ini dapat dilihat bahwa sebagian besar responden sebenarnya sudah menyadarinya pentingnya helm untuk keselamatan berkendara. Namun kepedulian akan cara memperoleh yang sesuai prosedur masih kurang, sehingga kecelakaan dapat diminimalisir. 81

56 BAB V HASIL DAN ANALISA 5.1. Hasil Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program software excel 2003 dan SPSS V13. Karena data yang akan diolah berupa data nominal, maka digunakan tes chi square nonparametrik untuk membuktikan hipotesis nol (H 0 ) dan hipotesis alternatif (H 1 ). Hipotesis pada uji chi square diantaranya : H 0 : Variabel uji kepedulian pengguna sepeda motor terhadap keselamatan berlalu lintas di ketiga wilayah adalah signifikan sama. H 1 : Variabel uji kepedulian pengguna sepeda motor terhadap keselamatan berlalu lintas di ketiga wilayah adalah signifikan berbeda. Sedangkan hipotesis pada uji korelasi diantaranya : H 0 : Faktor daerah mempengaruhi variabel uji kepedulian pengguna sepeda motor terhadap keselamatan berlalu lintas. H 1 : Faktor daerah mempengaruhi variabel uji kepedulian pengguna sepeda motor terhadap keselamatan berlalu lintas. Hasil SPSS Tingkat signifikansi ( ) diambil sama dengan 0,05. Tingkat signifikansi dalam hal ini berarti mengambil resiko salah dalam mengambil keputusan untuk menolak hipotesis yang benar sebanyak-banyaknya 5% (signifikansi 0,05 adalah ukuran standar yang digunakan dalam penelitian) 6. Kesimpulan yang diambil pada uji hipotesis : Untuk chi square test : Nilai Signifikansi <, maka H 0 ditolak Nilai Signifikansi, maka H 0 diterima Untuk koefisien kontingensi : Nilai Korelasi < /2, maka H 0 ditolak Nilai Korelasi /2, maka H 0 diterima 6 Duwi Priyatno, Mandiri Belajar SPSS 82

57 Survey Cross Sectional (Form 1) Tabel 5.1. a Hasil Tes Chi Square Survey Cross Sectional di Ketiga Wilayah dan Korelasi variabel uji terhadap wilayah kajian No Nilai Nilai Koef Hasil Statistik Sig Sig Kore Signifi Kore Konti Variabel uji sama beda lasi kansi lasi ngensi 1 Tingkat penggunaan helm ,136 2 Atribut Keselamatan : Jaket Sepatu Sarung tangan Jenis helm Benar nya penggunaan helm ,304 0,158 0,186 0,295 0,148 3 Banyaknya jumlah penumpang ,09 4 Kondisi lampu Hasil uji stastistik pada tabel 5.1.a memperlihatkan bahwa tingkat penggunaan helm, penggunaan atribut keselamatan, banyaknya jumlah penumpang, dan kondisi lampu di Jakarta, Depok dan Sragen adalah signifikan berbeda. Hasil uji pada variabel ini menegaskan kesamaan tingkat perbedaan dengan hasil statistik deskriptif pada bab sebelumnya. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa faktor daerah terlalu berpengaruh terhadap seluruh varabiel uji. Terbukti dari hasil korelasi seluruh variabel uji yang nilainya lebih cenderung mendekati agka nol dibandingkann dengan angka satu. 83

58 Survey Wawancara (Form 2) Tabel 5.1. b Hasil Tes Chi Square Survey Wawancara di Ketiga Wilayah dan Korelasi variabel uji terhadap wilayah kajian No Nilai Nilai Koef Hasil Statistik Sig Sig Kore signifi Kore Konti Variabel uji sama beda lasi kansi lasi ngensi 1 Pengetahuan peraturan lalu lintas Sumber pengetahuan lalu lintas Intensitas mengendarai motor Alasan menggunakan motor Kepemilikan C Cara memperoleh C Usia saat memiliki C Biaya mengurus kepemilikan C Membawa saat berkendara Intensitas mengalami kecelakaan Intensitas menggunakan helm , Cara mendapatkan helm Tempat membeli helm Biaya membeli helm Persepsi menggunakan helm , Persepsi pernah menggunakan helm , Helm yang memenuhi standar Cara menggunakan helm yang benar Bagian tubuh rawan luka kecelakaan Prioritas usaha preventif kecelakaan Uji hipotesis dilakukan pada variabel keinginan membeli helm dan sumber pengetahuan tata cara menggunakan helm survey wawancara pada variabel ini hanya dilakukan di wilayah Depok saja, sehingga dapat dibandingkan dengan dua wilayah lainnya. Berdasarkan tabel 5.1.b didapatkan hasil variabel uji ketiga wilayah yang signifikan sama adalah cara memperoleh dan selalu membawa saat berkendara. Uji hipotesis kemudian dilakukan untuk masing-masing 2 wilayah guna melihat wilayah mana saja yang tingkat kepedulian terhadap keselamatannya adalah signifikan sama. 84

59 JAKARTA & DEPOK Survey Cross Sectional (Form 1) Tabel 5.1. c Hasil Tes Chi Square Survey Cross Sectional di Jakarta, Depok dan Korelasi variabel uji terhadap wilayah kajian No Nilai Nilai Koef Hasil Statistik Sig Sig Kore signifi Kore Konti Variabel uji sama beda lasi kansi lasi ngensi 1 Tingkat penggunaan helm ,132 2 Atribut Keselamatan : Jaket Sepatu ,307 0,035 Sarung tangan Jenis helm Benar nya penggunaan helm ,044 0,152 3 Banyaknya jumlah penumpang ,069 Hasil uji survey cross sectional pada wilayah Jakarta dan Depok menunjukkan bahwa penggunaan atribut sarung tangan di kedua wilayah tersebut adalah sama. Faktor daerah paling berpengaruh dalam penggunaan atribut jaket dibandingkan dengan korelasi variabel uji lainnya. 85

60 Survey Wawancara (Form 2) Tabel 5.1. d Hasil Tes Chi Square Survey Wawancara di Jakarta, Depok dan Korelasi variabel uji terhadap wilayah kajian No Nilai Nilai Koef Hasil Statistik Sig Sig Kore signifi Kore Konti Variabel uji sama beda lasi kansi lasi ngensi 1 Pengetahuan peraturan lalu lintas Sumber pengetahuan lalu lintas Intensitas mengendarai motor Alasan menggunakan motor Kepemilikan C Cara memperoleh C Usia saat memiliki C Biaya mengurus kepemilikan C Membawa saat berkendara Intensitas mengalami kecelakaan Intensitas menggunakan helm Cara mendapatkan helm Tempat membeli helm Biaya membeli helm Persepsi menggunakan helm Persepsi pernah menggunakan helm Helm yang memenuhi standar Cara menggunakan helm yang benar Bagian tubuh rawan luka kecelakaan Prioritas usaha preventif kecelakaan Tabel 5.1.d menunjukkan bahwa di Jakarta dan Depok, variabel cara memperoleh, membawa saat berkendara, dan cara mendapatkan helm adalah signifikan sama. 86

61 JAKARTA & SRAGEN Survey Cross Sectional (Form 1) Tabel 5.1. e Hasil Tes Chi Square Survey Cross Sectional di Jakarta, Sragen dan Korelasi variabel uji terhadap wilayah kajian No Nilai Nilai Koef Hasil Statistik Sig Sig Kore signifi Kore Konti Variabel uji sama beda lasi kansi lasi ngensi 1 Tingkat penggunaan helm ,033 2 Atribut Keselamatan : Jaket Sepatu Sarung tangan Jenis helm ,034 0,170 0,213 0,342 Benar nya penggunaan helm Banyaknya jumlah penumpang ,071 Dari tabel 5.1.e dapat dilihat bahwa tingkat kepedulian masyarakat Jakarta dan Sragen terhadap ketepatan penggunaan helm adalah signifikan sama dan faktor daerah memiliki pengaruh yang lebih tinggi terhadap jenis helm dibandingkan dengan korelasi variabel uji lainnya. 87

62 Survey Wawancara (Form 2) Tabel 5.1. f Hasil Tes Chi Square Survey Wawancara di Jakarta, Sragen dan Korelasi variabel uji terhadap wilayah kajian No Nilai Nilai Koef Hasil Statistik Sig Sig Kore signifi Kore Konti Variabel uji sama beda lasi kansi lasi ngensi 1 Pengetahuan peraturan lalu lintas Sumber pengetahuan lalu lintas Intensitas mengendarai motor Alasan menggunakan motor Kepemilikan C Cara memperoleh C Usia saat memiliki C Biaya mengurus kepemilikan C Membawa saat berkendara Intensitas mengalami kecelakaan Intensitas menggunakan helm Cara mendapatkan helm Tempat membeli helm Biaya membeli helm Persepsi menggunakan helm Persepsi pernah menggunakan helm Helm yang memenuhi standar Cara menggunakan helm yang benar Bagian tubuh rawan luka kecelakaan Prioritas usaha preventif kecelakaan Tabel 5.1.f memperlihatkan bahwa bahwa variabel kepemilikan dan intensitas mengalami kecelakaan adalah signfikan sama untuk wilayah Jakarta dan Sragen. 88

63 DEPOK & SRAGEN Survey Cross Sectional (Form 1) Tabel 5.1. g Hasil Tes Chi Square Survey Cross Sectional di Depok, Sragen dan Korelasi variabel uji terhadap wilayah kajian No Nilai Nilai Koef Hasil Statistik Sig Sig Kore signifi Kore Konti Variabel uji sama beda lasi kansi lasi ngensi 1 Tingkat penggunaan helm ,180 2 Atribut Keselamatan : Jaket Sepatu Sarung tangan Jenis helm Benar nya penggunaan helm ,349 0,234 0,276 0,398 0,143 3 Banyaknya jumlah penumpang ,102 Tabel 5.1.g menunjukkan bahwa seluruh variabel uji survey cross sectional pada wilayah Depok dan sragen adalah sama dengan hasil statistik deskriptif. 89

64 Survey Wawancara (Form 2) Tabel 5.1. h Hasil Tes Chi Square Survey Wawancara di Depok, Sragen dan Korelasi variabel uji terhadap wilayah kajian No Nilai Nilai Koef Hasil Statistik Sig Sig Kore signifi Kore Konti Variabel uji sama beda lasi kansi lasi ngensi 1 Pengetahuan peraturan lalu lintas Sumber pengetahuan lalu lintas Intensitas mengendarai motor Alasan menggunakan motor Kepemilikan C Cara memperoleh C Usia saat memiliki C Biaya mengurus kepemilikan C Membawa saat berkendara Intensitas mengalami kecelakaan Intensitas menggunakan helm Cara mendapatkan helm Tempat membeli helm Biaya membeli helm Persepsi menggunakan helm Persepsi pernah menggunakan helm Helm yang memenuhi standar Cara menggunakan helm yang benar Bagian tubuh rawan luka kecelakaan Prioritas usaha preventif kecelakaan Hasil uji diatas memperlihatkan bahwa variabel kepemilikan untuk wilayah Depok dan Sragen adalah signifikan sama. 90

65 5.2. Analisa Hasil Dari hasil uji chi square dapat diketahui bahwa untuk survey cross sectional, variabelvariabel yang diuji seluruhnya signifikan berbeda pada ketiga wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa hasil uji chi square dan statistik deskriptif adalah sama. Hasil uji koefisien kontingensi untuk survey cross sectional menunjukkan bahwa faktor daerah terlalu berpengaruh terhadap seluruh variabel uji. Dari keseluruhan hasil variabel uji kepedulian keselamatan pada data survey cross sectional dapat dibuat suatu program keselamatan yang berbeda-beda untuk masing-masing wilayah yang mengacu pada persentase terendah tiap variabel tingkat kepedulian dari statistik deskriptif. Sedangkan uji chi square pada survey wawancara menunjukkan hasil signifikan sama pada variabel uji cara memperoleh dan membawa pada saat berkendara, hal ini berarti hasil persentase statistik deskriptif yang berbeda-beda untuk variabel uji tersebut di ketiga wilayah pada kenyataannya adalah sama. Sedangkan untuk variabel uji lainnya pada survey wawancara hasilnya adalah signifikan beda, artinya hasil ini sama dengan hasil persentase statistik deskriptif. Hasil uji signifikan sama memperlihatkan bahwa tingkat kepedulian masyarakat terhadap keselamatan adalah sama di ketiga wilayah. Dari data ini dapat dibuat suatu prioritas program keselamatan yang identik baik untuk wilayah Jakarta, Depok, dan Sragen. Sedangkan hasil uji signifikan beda menunjukkan bahwa tingkat kepedulian masyarakat terhadap keselamatan adalah berbeda-beda di ketiga wilayah. Perbedaan ini dapat dilihat pada persentase-persentase variabel uji statistik deskriptif yang memperlihatkan seberapa besar tingkat kepedulian masyarakat terhadap keselamatan di masing-masing wilayah. Persentase tingkat kepedulian keselamatan yang rendah diberikan prioritas program keselamatan. Hasil tabulasi-tabulasi data statistik deskriptif derajat 2 dan derajat 3 digunakan untuk memberikan detail kepedulian terhadap keselamatan dan memfokuskan target sasaran program keselamatan. Dari keseluruhan hasil pengolahan data, dapat dibuat beberapa upaya peningkatan program keselamatan di daerah Jakarta, Depok, dan Sragen sebagai berikut: Penerapan Program Keselamatan di Ketiga Wilayah Uji chi square menunjukkan bahwa variabel cara memperoleh dan selalu membawa pada saat berkendara, adalah signifikan sama, artinya program 91

66 keselamatan dapat diterapkan serupa di ketiga wilayah. Berdasarkan statistik deskriptif, diketahui untuk variabel cara memperoleh masih ada sekitar 5 pengendara sepeda motor yang memperoleh sesuai dengan prosedur. Masih adanya pengendara sepeda motor yang memperoleh sesuai dengan prosedur merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap UU No. 14 tahun 1992 dan UU No. 44 tahun 1993, sehingga upaya pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya : Pemberantasan Calo dan Peningkatan Pelayanan Pembuatan Data statistik deskriptif menunjukkan di Jakarta dan Depok yang pengendaranya memperoleh melalui calo mengeluarkan biaya lebih dari rupiah untuk memperoleh. Berdasarkan KM 75 tahun 1993, biaya administrasi yang dikeluarkan untuk pembuatan pertama kali adalah sebesar rupiah. Pembuatan melalui calo ataupun orang dalam kepolisian jelas menelan biaya diatas biaya resmi. Namun berdasarkan poling pelayanan yang dilakukan oleh divisi monitoring kinerja pelayanan umum dan penguatan daerah di Polda Metro Jaya pada tahun 2001 diketahui bahwa rata-rata responden yang ingin membuat mengetahui biaya resmi pembuatan. Alasan menggunakan calo pada data tersebut diantaranya karena lebih cepat karena perlu mengantri dan lebih efisien. Mengacu dari data-data diatas diperlukan adanya suatu upaya pemberantasan/razia para calo di tempat-tempat pembuatan. Upaya lain dapat dilakukan dengan menempelkan rincian biaya resmi yang akan dikeluarkan oleh pemohon untuk membuat C dan jadwal serta waktu penyelesaian pembuatan yang ditempelkan pada tempat-tempat pembuatan. Dengan pemberitahuan rincian biaya ini para pemohon akan lebih mempertimbangkan untuk mengeluarkan biaya jauh diatas biaya resmi jika ingin menggunakan jasa calo. Selain itu, peningkatan pelayanan pembuatan juga dapat dilakukan dengan cara pembuatan yang berbasis sistem informasi, sehingga para pemohon perlu mengantri untuk membuat dan proses perolehan akan lebih cepat. Razia Kepemilikan di Jalan Raya Berdasarkan hasil uji chi square diketahui bahwa variabel selalu membawa pada saat berkendara adalah signifikan sama. Sedangkan data dari statistik deskriptif menunjukkan lebih dari pengendara sepeda motor di ketiga wilayah sudah selalu 92

67 membawa pada saat berkendara. Namun seluruh pengendara sepeda motor tetap dituntut untuk selalu membawa pada saat berkendara karena mengacu pada UU No.14 tahun 1992 yang menyebutkan bahwa pengemudi sepeda motor yang dapat menunjukkan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp dan.apabila pengemudi memiliki dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp Untuk mencapai target 10 pengemudi selalu membawa pada saat berkendara diperlukan adanya razia kepemilikan C di jalan raya Penerapan Program Keselamatan di Tiap Wilayah Hasil uji chi square menunjukkan bahwa untuk survey cross sectional, seluruh variabel uji adalah signifikan berbeda terhadap wilayah kajian. Dan untuk survey wawancara, variabel uji selain cara memperoleh dan selalu membawa, juga signifikan berbeda. 1. Jakarta Mengacu pada hasil statistik deskriptif, jika dibandingkan dengan wilayah Depok dan Sragen, variabel uji tingkat kepedulian terhadap keselamatan yang paling rendah di Jakarta diantaranya adalah variabel pengetahuan mengenai standar helm keselamatan di jalan raya dan pengetahuan tata cara menggunakan helm yang benar. Berdasarkan buku Panduan Keselamatan Jalan di Kawasan Asia Pasifik yang diterbitkan oleh Asian Development Bank, kampanye atau peblisitas perlu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan pengendara peraturan lalu lintas dan pentingnya keselamatan di jalan raya. Sehingga untuk meningkatkan pengetahuan pengendara sepeda motor di Jakarta mengenai standara helm keselamatan dan tata cara menggunakan helm dapat dilakukan dengan kampanye. Peningkatan Pengetahuan Keselamatan di Jalan Raya Data menunjukkan bahwa rata-rata pengendara yang mengetahui standar helm keselamatan dan mengetahui tata cara menggunakan helm yang benar adalah mahasiswa pria. Selain itu data statistik deskriptif juga menunjukkan sebanyak 89% pengendara sepeda motor di Jakarta terlalu banyak mengetahui secara lengkap tentang peraturan lalu lintas. Sumber pengetahuan mengenai peraturan lalu lintas di 93

68 Jakarta rata-rata diperoleh pengendara sepeda motor melalui media informasi seperti TV dan koran. Sehingga peningkatan pengetahuan mengenai standar helm keselamatan dan tata cara menggunakan helm yang benar akan lebih efektif jika dilakukan melalui kampanye pada media informasi. Untuk sasaran mahasiswa pria, kampanye juga dapat dilakukan melaui media internet dan radio yang mayoritas pendengarnya adalah mahasiswa. Terbukti dengan banyaknya tanggapan mengenai peraturan-peraturan baru lalu lintas ataupun berita-berita seputar sepeda motor di situs-situs sepeda motor seperti Indonesia Honda-Tiger Community dan motor tiger club. 2. Depok Tingkat kepedulian terhadap keselamatan di wilayah Depok paling rendah adalah pada variabel penggunaan helm standar, kepemilikan C, intensitas selalu menggunakan helm, penggunaan helm terutama pada perjalanan jarak dekat, pengetahuan mengenai bagian-bagian tubuh yang rawan luka pada saat terjadi kecelakaan. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai Helm Pengendara Kendaraan Bermotor Roda Dua, helm yang memenuhi standar keelamatan yang harus digunakan pengendara sepeda motor adalah helm full face dan helm open face. Untuk mencapai target penggunaan tersebut, upaya yang dapat dilakukan diantaranya : Pengawasan dan Penertiban Hukum terhadap Pengendara Sepeda Motor Berdasarkan data statistik deskriptif diketahui bahwa 15% responden yang menyadari pentingnya keselamatan dalam menggunakan helm memilih menggunakan helm karena takut ditangkap polisi. Dan sebanyak 76% responden beralasan menggunakan helm karena perjalanan jarak dekat. Penggunaan helm merupakan atribut mutlak yang harus digunakan para pengendara sepeda motor, tertera pada UU No. 14 tahun Sehingga diperlukan adanya pengawasan atau razia penggunaan helm standar, serta razia kepemilikan di jalan raya. Untuk penggunaan helm standar, rata-rata yang menggunakan adalah penumpang pria dewasa. Untuk razia kepemilikan lebih banyak difokuskan pada pengendara pegawai swasta pria dan mahasiswa. Selain itu polisi-polisi yang beroperasi di jalan juga sebaiknya ditambahkan terutama pada jalan-jalan kecil (jalan-jalan tikus) yang sering dilalui oleh sepeda motor. Pada jalan-jalan ini pengendara seringkali menggunakan helm karena dianggap bebas dari pengawasan polisi. Pengendara sepeda motor yang menggunakan helm 94

69 pada perjalanan jarak pendek di daerah Depok lebih dari 4 adalah mahasiswa pria. Pengawasan, penertiban, penegakan hukum, dan penjatuhan sanksi-sanksi dilakukan untuk menjamin agar pengendara sepeda motor benar-benar mematuhi segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Penerapan hal ini akan merubah perilaku serta meningkatkan disiplin pengendara sepeda motor dan memi dampak yang luas terhadap upaya penurunan angka kecelakaan lalu lintas. Peningkatan Pengetahuan Keselamatan Peningkatan pengetahuan dapat dilakukan melalui kampanye mengenai bagian-bagian tubuh yang rawan luka pada saat terjadinya kecelakaan. Pengendara harus lebih disadarkan akan pentingnya proteksi bagian-bagian tubuh pada saat mengendarai motor karena minimnya perlindungan dari moda sepeda motor itu sendiri. Data menunjukkan pengendara yang mengetahui bagian-bagian tubuh yang rawan luka pada saat terjadi kecelakaan adalah pegawai swasta dan mahasiswa pria. Pengendara sepeda motor di Depok rata-rata mengetahui tentang peraturan lalu lintas melalui pengalamannya sendiri di jalan raya dan secara otodidak. Sehingga kampanyekampanye di jalan raya yang menunjukkan gambaran perlunya perlindungan tubuh terhadap bahaya kecelakaan akan sangat efektif jika diterapkan pada wilayah ini. 3. Sragen Sragen, sebagai daerah rural memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan wilayah Jakarta dan Depok yang merupakan daerah urban. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pengendara sepeda motor wanita dan pengendara sepeda motor yang berusia 17 tahun ke bawah jika dibandingkan dengan dua wilayah sebelumnya. Tingkat kecelakaan tertinggi juga terjadi pada daerah Sragen. Berdasarkan hasil pengolahan data, tingkat kepedulian terhadap keselamatan yang paling rendah di Sragen adalah pada variabel : - Penggunaan helm, atribut jaket, sepatu, dan sarung tangan - Ketepatan dalam penggunaan helm - Kondisi lampu - Jumlah penumpang yang melebihi kapasitas - Pengetahuan mengenai peraturan lalu lintas - Batas usia minimal kepemilikan - Kesadaran penggunaan atribut helm. 95

70 Berdasarkan buku Petunjuk Tata Cara Bersepeda Motor di Indonesia yang dikeluarkan oleh Ditjen Perhubungan Darat diperlukan pemakaian atribut keselamatan berupa jaket, sepatu, dan sarung tangan demi keamanan dalam berkendara. Selain itu berdasarkan UU No.14 tahun 1992 menyebutkan bahwa Pengemudi dan penumpang sepeda motor memakai helm pada saat mengendarai dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp Dari data tersebut, upaya yang dapat dilakukan diantaranya : Pengawasan dan Penertiban Hukum terhadap pengendara sepeda motor Data statistik deskriptif menunjukkan 26% responden yang menyadari pentingnya keelamatan dalam menggunakan helm memilih menggunakan helm karena takut ditangkap polisi. Dari data ini maka pengawasan oleh polisi kepada pengendara sepeda motor di jalan dianggap akan efektif jika dilakukan di daerah ini. Pengawasan/pemeriksaan yang dapat dilakukan diantaranya : Pemeriksaan penggunaan helm dan ketepatan penggunaan helm Dari ketiga wilayah kajian, mayoritas pengendara yang menggunakan helm dan menggunakan helm dengan cara yang salah adalah di wilayah Sragen. Rata-rata pengguna yang menggunakan helm di wilayah Sragen adalah penumpang laki-laki dewasa dan yang menggunakan helm secara tepat adalah pengemudi laki-laki dewasa. Sebanyak 64% responden beralasan menggunakan helm karena jarak dekat. Sehingga pemeriksaan di jalan-jaln kecil juga dianggap perlu untuk dilakukan. Pemeriksaan penggunaan atribut keselamatan (jaket, sepatu, dan sarung tangan) Untuk penggunaan atribut jaket dan sepatu, minoritas penggunaannya adalah pengemudi laki-laki dewasa, sedangkan untuk atribut sarung tangan, sebanyak 5 dari 692 sampel yang menggunakan sarung tangan juga pengemudi laki-laki dewasa. Pemeriksaan jumlah penumpang yang melebihi kapasitas Dari hasil pengolahan data diperoleh persentase tertinggi pengemudi sepeda motor yang paling banyak memberikan muatan melebihi kapasitas kendaraannya adalah di wilayah Sragen, yaitu pengemudi laki-laki dewasa. Kesadaran akan bahayanya muatan yang melebihi kapasitas pada pengendara sepeda motor perlu lebih ditingkatkan, dimana muatan berlebih akan memicu 96

71 kestabilan dari sepeda motor yang dikendarai serta akan sangat membahayakan bagi keselamatan pengemudi maupun penumpang sepeda motor. Pemeriksaan kondisi lampu Pemeriksaan kondisi lampu agar selalu menyala pada saat berkendara baik siang maupun malam hari juga perlu dilakukan demi keselamatan pengendara sepeda motor. Penggunaan lampu pada siang hari (Day Light Running) pada hakekatnya berguna agar pengemudi sepeda motor dapat terlihat dengan jelas oleh pengguna jalan lainnya (conspicuity) 7. Penelitian yang mendukung program ini diantaranya penelitian di Swedia yang dilakukan oleh Andersson et al, yang hasilnya penggunaan lampu pada siang hari oleh kendaraan bermotor termasuk sepeda motor dapat menurunkan resiko timbulnya kecelakaan lalu lintas hingga 21%. Namun penerapan di Indonesia justru terkendala oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 43 tahun 1993 tentang prasarana dan lalu lintas jalan, pasal 74 (1) menyatakan bahwa pengemudi kendaraan bermotor dilarang menyalakan lampu-lampu dan/atau menggunakan lampu selain yang telah diwajibkan kecuali membahayakan atau mengganggu pemakai jalan lain. Hasil pengolahan data pada penelitian ini menyatakan tingkat penggunaan lampu di siang hari oleh pengemudi sepeda motor, khususnya pria, yang paling rendah adalah di Sragen. Sehingga pemeriksaan harus dilakukan secara lebih intensif di daerah ini. Pemeriksaan batas usia kepemilikan Berdasarkan PP 44 tahun 1993 pasal 217 (1) dijelaskan bahwa batas minimum kepemilikan C adalah umur 16 tahun. Namun berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, pada kenyataannya kecelakaan yang dialami oleh responden pengendara sepeda motor Sragen sebagian besar adalah responden yang memiliki pada usia 17 tahun dan 17 tahun kebawah. Karena itulah peningkatan batas usia kepemilikan perlu dilakukan guna meminimalisir kecelakaan akibat faktor labilnya emosi pengemudi sepeda motor remaja. Pengujian pengemudi yang efektif merupakan jalan terbaik untuk menjamin bahwa hanya pengemudi yang aman dan kompeten saja yang berhak mendapatkan. Setelah pengujian dan pelatihan dilakukan, diperlukan juga 7 Tri Tjahjono, Kajian Pustaka Penggunaan Lampu Sepeda Motor pada Siang Hari Sebagai Bahan Masukan Implementasi di Indonesia 97

72 penyuluhan kepada pengendara sepeda motor dalam rangka menyegarkan ingatan maupun meningkatkan pemahaman terhadap keselamatan lalu lintas jalan. Dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan sepeda motor, keadaan lalu lintas menjadi lebih sulit untuk dapat dikendalikan. Untuk itu diperlukan suatu sistem pengawasan intensif seperti pengadaan staf untuk pembagian tugas dan pengerahan di jalan-jalan kecil. Selain itu dibutuhkan juga pelatihan khusus untuk memastikan bahwa petugas-petugas polisi lalu lintas memiliki pengetahuan praktis mengenai cara yang terbaik untuk mendapatkan arus lalu lintas yang aman dan pemakaian atribut keselamatan yang tepat. Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran akan Keselamatan Dari pengolahan data yang telah dilakukan, diketahui bahwa 87% dari 101 responden Sragen yang mengalami kecelakaan, adalah usia 17 tahun kebawah. Sebanyak 67% pengendara sepeda motor di Sragen mengetahui peraturan lalu lintas melalui orang tua dan media informasi. Selain itu 15% pengendara sepeda motor yang menyadari pentingnya keselamatan dalam menggunakan helm dan takut dengan polisi memilih menggunakan helm karena anjuran keluarga. Peran orangtua dan keluarga sangat berpengaruh untuk meningkatkan penggunaan helm di wilayah ini. Sehingga selain kampanye-kampanye keselamatan di jalan, penyuluhan juga efektif untuk dilakukan di daerah ini. Data statistik deskriptif juga menyebutkan sebanyak 11% pengendara sepeda motor beralasan menggunakan helm karena akan merusak tatanan rambut. Rata-rata pengendara sepeda motor ini adalah pelajar wanita. Dari datadata tersebut dapat dilakukan suatu bentuk peningkatan kesadaran keselamatan seperti : Penyuluhan-penyuluhan yang diberikan dengan target sasaran adalah orangtua, mengingat peran orangtua sangat penting di wilayah ini. Kampanye yang menggambarkan bahwa helm bukan hanya berguna sebagai hiasan di kepala, namun digunakan sebagai pelindung kepala dan juga rambut jika terjadi kecelakaan. Untuk target sasaran pelajar wanita, kampanye dapat juga difokuskan melalui majalah-majalah remaja wanita, acara televisi dan radio yang mayoritas pendengar atau pemirsanya sebagian besar adalah remaja wanita. 98

73 Pengendalian Pertumbuhan Sepeda Motor (exposure control) Selain dari upaya-upaya yang dilakukan diatas, tingginya angka kepemilikan sepeda motor dewasa ini juga diimbangi dengan meningkatnya angka kecelakaan pengguna sepeda motor (gambar 2.1.a). Kemudahan dalam menggunakan sepeda motor saat ini membuat pertumbuhan sepeda motor menjadi terkendali. Sehingga diperlukan adanya regulasi yang ketat dalam kepemilikan sepeda motor. Contoh : pengendara yang ingin mengemudikan sepeda motor harus memiliki kelengkapan atribut keselamatan yang sesuai standar terlebih dahulu, kepemilikan yang harus sesuai dengan prosedur, pengetahuan yang luas akan peraturan-peraturan lalu lintas yang berlaku, serta pemeriksaan standar keselamatan kendaraan sepertti sistem rem, kemudi, ban, dan lampu. Dari keseluruhan upaya diatas diharapkan dapat mengurangi tingkat kecelakaan pengguna sepeda motor di ketiga wilayah dengan sasaran yag lebih fokus. 99

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU PENGEMUDI SEPEDA MOTOR PADA BERBAGAI KEADAAN LALU LINTAS JALAN DENGAN KARAKTERISTIK PENGEMUDI, KENDARAAN, DAN PERJALANAN

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU PENGEMUDI SEPEDA MOTOR PADA BERBAGAI KEADAAN LALU LINTAS JALAN DENGAN KARAKTERISTIK PENGEMUDI, KENDARAAN, DAN PERJALANAN HUBUNGAN ANTARA PERILAKU PENGEMUDI SEPEDA MOTOR PADA BERBAGAI KEADAAN LALU LINTAS JALAN DENGAN KARAKTERISTIK PENGEMUDI, KENDARAAN, DAN PERJALANAN Leksmono S. Putranto Staf Pengajar Fakultas Teknik Jurusan

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. 3.1 Modal Dasar Yang Harus Dimiliki Oleh Pengendara. a. Indera : Sesuatu yang membuat pengemudi waspada dalam mengemudi,

BAB III LANDASAN TEORI. 3.1 Modal Dasar Yang Harus Dimiliki Oleh Pengendara. a. Indera : Sesuatu yang membuat pengemudi waspada dalam mengemudi, BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Modal Dasar Yang Harus Dimiliki Oleh Pengendara Menurut Khisty dan Lall (2005) pengemudi yang baik tidak harus memiliki keahlian khusus. Uji fisik dan psikologis dapat dengan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data Karakteristik Rumah Tangga Responden

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data Karakteristik Rumah Tangga Responden BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1.Hasil Analisisis Deskriptif 4.1.1. Data Karakteristik Rumah Tangga Responden Dari hasil penyebaran kuisioner didapat data

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dari berbagai moda transportasi, sepeda motor merupakan yang paling banyak dipilih di Indonesia maupun di negara-negara berkembang lainnya. Hal ini yang menyebabkan

Lebih terperinci

Perpustakaan Unika SKALA DISIPLIN

Perpustakaan Unika SKALA DISIPLIN SKALA DISIPLIN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Bila melanggar rambu-rambu lalu lintas, saya siap ditindak. Saya akan memaki-maki pengendara lain jika tiba-tiba memotong jalan saya. Menurut saya penggunaan lampu

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4. 1 Jenis Pekerjaan dan Pendapatan Responden

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4. 1 Jenis Pekerjaan dan Pendapatan Responden BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Analisis Deskriptif 4.1.1. Data Karakteristik Rumah Tangga 1). Jenis Pekerjaan dan Pendapatan Responden Tabel 4. 1 Jenis Pekerjaan dan Pendapatan Responden Pekerjaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kematian tiap hari di seluruh dunia. Berdasarkan laporan POLRI, angka

BAB I PENDAHULUAN. kematian tiap hari di seluruh dunia. Berdasarkan laporan POLRI, angka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jumlah kendaraan di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Terutama kendaraan sepeda motor juga mengalami peningkatan. Jumlah kendaraan sepada motor pada tahun

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL PERILAKU PENGGUNA SEPEDA MOTOR DALAM MENGUTAMAKAN KESELAMATAN BERLALU LINTAS (Studi Kasus : Wilayah Kota Waingapu, Sumba Timur, NTT) Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Fenomena yang sering dijumpai di Kota Bandung diantaranya yaitu banyaknya pengguna sepeda motor di jalan raya, khususnya di jam-jam tertentu, seperti saat jam

Lebih terperinci

BAB IV INTEPRETASI DATA

BAB IV INTEPRETASI DATA 41 BAB IV INTEPRETASI DATA 4.1 Pengumpulan Data Data responden pada penyusunan skripsi ini terdiri atas dua bagian yaitu data profil responden dan data stated preference. Untuk data profil responden terdiri

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penduduk kota Bandar Lampung yang semakin padat dan pertambahan jumlah

I. PENDAHULUAN. penduduk kota Bandar Lampung yang semakin padat dan pertambahan jumlah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan perkembangan masyarakat saat ini maka kebutuhan sarana dan prasarana yang terkait dengan transportasi guna mendukung produktivitas di berbagai bidang yang

Lebih terperinci

Lampiran 1: Keterangan Telah Melakukan Penelitian

Lampiran 1: Keterangan Telah Melakukan Penelitian LAMPIRAN Lampiran 1: Keterangan Telah Melakukan Penelitian Lampiran 2. Formulir Persetujuan Menjadi Responden LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Saya yang bertanda tangan di bawah ini bersedia menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. transportasi pribadi khususnya sepeda motor guna mempercepat dan

BAB I PENDAHULUAN. transportasi pribadi khususnya sepeda motor guna mempercepat dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Zaman modern sekarang ini banyak masyarakat yang menggunakan transportasi pribadi khususnya sepeda motor guna mempercepat dan ketepatan waktu di kehidupan sehari-hari,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu permasalahan yang selalu dihadapi kota-kota besar seperti Jakarta maupun Bandung adalah masalah lalu lintas. Hal tersebut terbukti dengan angka kemacetan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dunia oleh WHO (World Health Organization) pada tahun 2004 merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Dunia oleh WHO (World Health Organization) pada tahun 2004 merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keselamatan berkendara merupakan salah satu masalah yang selalu mendapatkan perhatian serius di setiap negara. Pencanangan Hari Keselamatan Dunia oleh WHO (World Health

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN KUESIONER PENELITIAN A. KARAKTERISTIK RESPONDEN A1. A2. A3. A4. A5. PETUNJUK PENGISIAN : BERILAH TANDA SILANG (X) JAWABAN YANG SESUAI DENGAN PILIHAN ANDA PADA PERTANYAAN YANG MENYEDIAKAN BEBERAPA PILIHAN

Lebih terperinci

BAB 4 PENGARUH PEMBANGUNAN PASUPATI TERHADAP KARAKTERISTIK PERGERAKAN CIMAHI-BANDUNG

BAB 4 PENGARUH PEMBANGUNAN PASUPATI TERHADAP KARAKTERISTIK PERGERAKAN CIMAHI-BANDUNG BAB 4 PENGARUH PEMBANGUNAN PASUPATI TERHADAP KARAKTERISTIK PERGERAKAN CIMAHI-BANDUNG Pada bab ini akan dipaparkan mengenai responden pelaku pergerakan Cimahi-Bandung yang berpotensial untuk menggunakan

Lebih terperinci

MODEL PELUANG KECELAKAAN SEPEDA MOTOR BERDASARKAN KARAKTERISTIK PENGENDARA (Studi Kasus: Surabaya, Malang dan Sragen)

MODEL PELUANG KECELAKAAN SEPEDA MOTOR BERDASARKAN KARAKTERISTIK PENGENDARA (Studi Kasus: Surabaya, Malang dan Sragen) MODEL PELUANG KECELAKAAN SEPEDA MOTOR BERDASARKAN KARAKTERISTIK PENGENDARA (Studi Kasus: Surabaya, Malang dan Sragen) Tyas Permanawati, Harnen Sulistio, Achmad Wicaksono Jurusan Teknik Sipil, Fakultas

Lebih terperinci

Epidemiologi Kecelakaan Lalu Lintas PERTEMUAN 9 Ira Marti Ayu Kesmas/ Fikes

Epidemiologi Kecelakaan Lalu Lintas PERTEMUAN 9 Ira Marti Ayu Kesmas/ Fikes Epidemiologi Kecelakaan Lalu Lintas PERTEMUAN 9 Ira Marti Ayu Kesmas/ Fikes KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN Mahasiswa mampu menguraikan dan menjelaskan tentang epidemiologi kecelakaan dan pencegahannya

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. Labuan Bajo Manggarai Barat NTT, maka dapat disimpulkan: 1) Berdasarkan kelengkapan pengendara kendaraan sepeda motor di

BAB VI PENUTUP. Labuan Bajo Manggarai Barat NTT, maka dapat disimpulkan: 1) Berdasarkan kelengkapan pengendara kendaraan sepeda motor di BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui perilaku pengguna kendaraan sepeda motor dengan studi kajian wilayah kota Labuan Bajo Manggarai Barat NTT,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sarana transportasi merupakan sarana pelayanan untuk memenuhi

BAB I PENDAHULUAN. Sarana transportasi merupakan sarana pelayanan untuk memenuhi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sarana transportasi merupakan sarana pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, saat ini aktivitas kehidupan manusia telah mencapai taraf kemajuan semakin kompleks

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Dari hasil analisis dan pengolahan data pada hasil pengamatan di 2 titik lokasi keramaian yaitu jalan Kaliurang km 6 yang melintasi area depan pasar Kolombo

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. masyarakat yang adil dan makmur. Untuk menunjang pembangunan tersebut, salah satu

BAB 1 : PENDAHULUAN. masyarakat yang adil dan makmur. Untuk menunjang pembangunan tersebut, salah satu BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan nasional yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia dewasa ini membawa dampak positif bagi masyarakat Indonesia yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK SATLANTAS POLRESTABES Bandung sebagai pihak berwajib selaku pelaksana penegakan hukum di Negara Indonesia berwenang menerbitkan SIM-C kepada pemohon SIM-C dan sebagai pihak yang melakukan pengawasan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari sarana transportasi. Kebutuhan akan transportasi ini meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah memberikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah memberikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah memberikan dampak luas terhadap berbagai segi kehidupan, khususnya bagi lalu lintas dan angkutan jalan. Seiring

Lebih terperinci

Moda Transportasi yang Efektif dan Efisien bagi Mahasiswa ITB

Moda Transportasi yang Efektif dan Efisien bagi Mahasiswa ITB TEMU ILMIAH IPLBI 06 Moda Transportasi yang Efektif dan Efisien bagi Mahasiswa ITB Febby Nugrayolanda Program Magister Rancang Kota, SAPPK, Institut Teknologi Bandung. Abstrak Intensitas penggunaan angkutan

Lebih terperinci

ANALISIS PROYEKSI PENUMPANG BANDARA PERINTIS SERAI LAMPUNG BARAT - PROVINSI LAMPUNG

ANALISIS PROYEKSI PENUMPANG BANDARA PERINTIS SERAI LAMPUNG BARAT - PROVINSI LAMPUNG ANALISIS PROYEKSI PENUMPANG BANDARA PERINTIS SERAI LAMPUNG BARAT - PROVINSI LAMPUNG Aleksander Purba 1 Abstrak Bandara perintis Serai Lampung Barat yang mulai dibangun dua tahun lalu di pesisir pantai

Lebih terperinci

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan ini adalah : 1. Variabel-variabel bebas yang memiliki hubungan signifikan dengan variabel terikat perilaku safety

Lebih terperinci

Mengenal Undang Undang Lalu Lintas

Mengenal Undang Undang Lalu Lintas Mengenal Undang Undang Lalu Lintas JAKARTA, Telusurnews Sejak Januari 2010 Undang Undang Lalu Lintas Nomor 22 Tahun 2009 sudah efektif diberlakukan, menggantikan Undang Undang Nomor 14 Tahun 1992. Namun

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Transportasi Menurut Nasution (1996) transportasi diartikan sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Dalam hubungan ini terlihat tiga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia termasuk yang cukup memprihatinkan. Sejak tahun 1992 hingga 2009, jumlah

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia termasuk yang cukup memprihatinkan. Sejak tahun 1992 hingga 2009, jumlah BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Populasi kendaraan yang terus meningkat, termasuk sepeda motor, membuka peluang terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Hingga kini, angka kecelakaan lalu lintas jalan

Lebih terperinci

PERILAKU PENGGUNA SEPEDA MOTOR DALAM KESELAMATAN BERLALU LINTAS (Studi kajian : Kabupaten Bantul, D. I. Y) Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

PERILAKU PENGGUNA SEPEDA MOTOR DALAM KESELAMATAN BERLALU LINTAS (Studi kajian : Kabupaten Bantul, D. I. Y) Universitas Atma Jaya Yogyakarta. PERILAKU PENGGUNA SEPEDA MOTOR DALAM KESELAMATAN BERLALU LINTAS (Studi kajian : Kabupaten Bantul, D. I. Y) Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Universitas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA.1. Teori Umum Keselamatan Pertumbuhan sepeda motor yang sangat pesat di tanah air membawa perubahan drastis di dalam sistem pengoperasian lalu lintas jalan. Dalam kurun waktu kurang

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Kendaraan roda dua saat ini menjadi pilihan favorit masyarakat dalam melakukan aktivitas di luar rumah, karena sifatnya yang mudah dibawa dan fleksibel. Hal ini juga didukung oleh pihak dealer

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan 4 Sekolah Menengah Pertama di Kota Yogyakarta. dengan Kampus, sekolah, dan rumah sakit.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan 4 Sekolah Menengah Pertama di Kota Yogyakarta. dengan Kampus, sekolah, dan rumah sakit. 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah Kota Yogyakarta dengan menggunakan 4 Sekolah Menengah Pertama di Kota Yogyakarta dimana SMP

Lebih terperinci

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 1.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Pola pergerakan dalam mengakses halte dibagi menjadi 2 (dua) kasus yaitu pola

Lebih terperinci

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Membawa anak menggunakan motor merupakan hal yang lazim di Indonesia mengingat populasi penggunaan motor di Indonesia mencapai angka penjualan tertinggi ke-3

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perjalanan pulang-pergi dengan menggunakan sepeda motor setiap harinya.

BAB I PENDAHULUAN. perjalanan pulang-pergi dengan menggunakan sepeda motor setiap harinya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sepeda motor adalah salah satu alat transportasi yang sedang banyak digemari oleh masyarakat di indonesia. Dari tahun ke tahun jumlah pengendara sepeda motor mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Kesenjangan antara Das Sein dengan Das Sollen adalah suatu hal yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Kesenjangan antara Das Sein dengan Das Sollen adalah suatu hal yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenjangan antara Das Sein dengan Das Sollen adalah suatu hal yang lazim ditemui di dunia hukum. Demikian halnya dengan proses penegakan suatu perundang-undangan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang memiliki satu

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang memiliki satu BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Identitas Responden Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang memiliki satu variabel dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Data

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN BAB V HASIL PENELITIAN V.1 Kualitas Data Jumlah kasus cedera pada kecelakaan lalu lintas pada kendaraan roda dua yang tercatat di Rekam Medik RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun 2003-2007 ada 618 kasus. Namun,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Berkendara yang aman sangat diperlukan di dalam berlalu lintas untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Berkendara yang aman sangat diperlukan di dalam berlalu lintas untuk BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berkendara yang aman sangat diperlukan di dalam berlalu lintas untuk menjaga kelancaran transportasi, selain itu berkendara yang aman bertujuan untuk mencegah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Zona Selamat Sekolah Perkembangan teknologi otomotif khususnya kendaraan bermotor roda dua maupun kendaraan beroda empat, menjadikan anak-anak khususnya anak-anak Sekolah Dasar

Lebih terperinci

Kuesioner Karakteristik Pejalan Kaki Di Koridor Jalan Pasar Ruteng

Kuesioner Karakteristik Pejalan Kaki Di Koridor Jalan Pasar Ruteng Kuesioner Karakteristik Pejalan Kaki Di Koridor Jalan Pasar Ruteng Mohon untuk menjelaskan: 1. Berapa usia Anda? a. < 20 th b. 21-34 th c. 35-54 th d. > 55 th 2. [JANGAN DITANYAKAN] Pewawancara, menandai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Disiplin merupakan kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan,

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL PERILAKU MASYARAKAT PENGGUNA SEPEDA MOTOR DALAM MENGUTAMAKAN KESELAMATAN BERLALU LINTAS (Studi Kajian Wilayah Kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT) Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia khususnya dikota-kota besar

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia khususnya dikota-kota besar BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia khususnya dikota-kota besar mengalami peningkatan penjualan pada tiap-tiap tahun, baik yang beroda empat atau pun yang beroda

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Akhir-akhir ini tingkat kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh kelalaian

BAB I PENDAHULUAN. Akhir-akhir ini tingkat kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh kelalaian BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Akhir-akhir ini tingkat kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh kelalaian manusia semakin banyak. Selain itu tingkat kesadaran yang rendah serta mudahnya untuk

Lebih terperinci

TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNA JALAN DALAM MEMATUHI PERATURAN DI KAWASAN TERTIB LALU LINTAS PROPOSAL

TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNA JALAN DALAM MEMATUHI PERATURAN DI KAWASAN TERTIB LALU LINTAS PROPOSAL TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNA JALAN DALAM MEMATUHI PERATURAN DI KAWASAN TERTIB LALU LINTAS (Studi Kasus Pemgendara Roda Dua di Surabaya Selatan) PROPOSAL DISUSUN OLEH : BELLA TYAS PRATI DINA 0741010039 YAYASAN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Lalu lintas dan angkutan jalan

BAB 1 PENDAHULUAN. Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Lalu lintas dan angkutan jalan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lalu lintas dan angkutan jalan mempunyai peran strategis dalam mendukung pembangunan dan integrasi nasional sebagai bagian dari upaya memajukan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia dewasa. Untuk menunjang pembangunan tersebut salah satu sarana yang di

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia dewasa. Untuk menunjang pembangunan tersebut salah satu sarana yang di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia dewasa ini membawa dampak positif bagi masyarakat Indonesia, yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Lalu lintas jalan merupakan sarana masyarakat yang memegang peranan penting

I. PENDAHULUAN. Lalu lintas jalan merupakan sarana masyarakat yang memegang peranan penting 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lalu lintas jalan merupakan sarana masyarakat yang memegang peranan penting dalam memperlancar pembangunan yang pemerintah laksanakan, karena merupakan sarana untuk masyarakat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. informasi-informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan

BAB III METODE PENELITIAN. informasi-informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel penelitian dan definisi operasional 1. Variabel Pengertian dari variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk

Lebih terperinci

PERILAKU PENGGUNA SEPEDA MOTOR DALAM MENGUTAMAKAN KESELAMATAN BERLALU LINTAS

PERILAKU PENGGUNA SEPEDA MOTOR DALAM MENGUTAMAKAN KESELAMATAN BERLALU LINTAS PERILAKU PENGGUNA SEPEDA MOTOR DALAM MENGUTAMAKAN KESELAMATAN BERLALU LINTAS (Studi Kasus: Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta) Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. Wilayah Studi Daerah rawan kecelakaan adalah daerah yang mempunyai angka kecelakaan tinggi, resiko kecelakaan tinggi dan potensi kecelakaan tinggi pada suatu ruas jalan. Daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang permasalah. Semua makhluk hidup pasti sangat membutuhkan lalu lintas, untuk berpindah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang permasalah. Semua makhluk hidup pasti sangat membutuhkan lalu lintas, untuk berpindah BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang permasalah Semua makhluk hidup pasti sangat membutuhkan lalu lintas, untuk berpindah dari tempat yang satu ketempat yang lainnya, terutama manusia, sejak lahir sampai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Jalan raya merupakan salah satu sarana transportasi darat, di samping sarana

BAB 1 PENDAHULUAN. Jalan raya merupakan salah satu sarana transportasi darat, di samping sarana BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jalan raya merupakan salah satu sarana transportasi darat, di samping sarana transportasi lainnya. Sarana ini adalah salah satu bagian yang terpenting dalam menumbuhkan,

Lebih terperinci

MUDIK BERLEBARAN MERUPAKAN FENOMENA TERBESAR MASYARAKAT MUSLIM DIDUNIA DAN ADA DI INDONESIA

MUDIK BERLEBARAN MERUPAKAN FENOMENA TERBESAR MASYARAKAT MUSLIM DIDUNIA DAN ADA DI INDONESIA MUDIK BERLEBARAN MERUPAKAN FENOMENA TERBESAR MASYARAKAT MUSLIM DIDUNIA DAN ADA DI INDONESIA TAHUN 2009 PEMERINTAH MEMPREDIKSI ADA SEKITAR 16,25 JUTA PEMUDIK ATAU NAIK 15% DIBANDINGKAN 2008 SEBANYAK 15,3

Lebih terperinci

PENGARUH KARAKTERISTIK MAHASISWA PENGENDARA SEPEDA MOTOR TERHADAP ASPEK KESELAMATAN BERKENDARA

PENGARUH KARAKTERISTIK MAHASISWA PENGENDARA SEPEDA MOTOR TERHADAP ASPEK KESELAMATAN BERKENDARA PENGARUH KARAKTERISTIK MAHASISWA PENGENDARA SEPEDA MOTOR TERHADAP ASPEK KESELAMATAN BERKENDARA Pangeran 1, Kusuma 2 dan Setiawan 3 ABSTRAK : Jumlah kendaraan pribadi di Indonesia yang semakin meningkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Era globalisasi saat ini menuntut masyarakat untuk mempunyai mobilitas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Era globalisasi saat ini menuntut masyarakat untuk mempunyai mobilitas 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era globalisasi saat ini menuntut masyarakat untuk mempunyai mobilitas yang sangat tinggi. Sektor transportasi merupakan hal mutlak untuk mempermudah mobilisasi penduduk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Saat ini manusia dituntut untuk bisa berpindah-pindah tempat dalam waktu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Saat ini manusia dituntut untuk bisa berpindah-pindah tempat dalam waktu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini manusia dituntut untuk bisa berpindah-pindah tempat dalam waktu yang cepat. Banyaknya kebutuhan dan aktivitas menjadi dasar perilaku berpindah tempat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. menggambarkan budaya bangsa. Kalau buruk cara kita berlalu lintas maka

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. menggambarkan budaya bangsa. Kalau buruk cara kita berlalu lintas maka BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perilaku berlalu lintas masyarakat kita buruk. Cara menggunakan jalan dalam berlalu lintas adalah cermin dari budaya bangsa. Kesantunan dalam berlalu lintas yang dilakukan

Lebih terperinci

Kajian Angkutan Umum yang Baik terkait Korespondensi Lokasi Tempat Tinggal dan Profesi Komuter

Kajian Angkutan Umum yang Baik terkait Korespondensi Lokasi Tempat Tinggal dan Profesi Komuter TEMU ILMIAH IPLBI 2015 Kajian Angkutan Umum yang Baik terkait Korespondensi Lokasi Tempat Tinggal dan Profesi Komuter Salwa B. Gustina Program Studi Magister Rancang Kota, SAPPK, Institut Teknologi Bandung.

Lebih terperinci

KUESIONER. Identitas Responden

KUESIONER. Identitas Responden KUESIONER Saya, Benny Ferdiansyah. Saya sedang mengadakan penelitian yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S1) Ilmu Komunikasi, dengan judul penelitian : Sejauhmana Tingkat

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009

BAB III LANDASAN TEORI. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Penggunaan dan Perlengkapan Jalan Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada pasal 21 ayat 1 disebutkan setiap jalan memiliki batas kecepatan paling tinggi yang ditetapkan secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia 1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Sektor transportasi merupakan hal yang sangat mutlak dibutuhkan terutama oleh negara yang sedang berkembang. Karena transportasi menjadi nadi perkembangan suatu negara,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. satu tempat ke tempat lain untuk berbagai aktivitasnya, dan semua manusia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. satu tempat ke tempat lain untuk berbagai aktivitasnya, dan semua manusia BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Transportasi Pergerakan dan perjalanan adalah hasil dari kebutuhan manusia untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain untuk berbagai aktivitasnya, dan semua manusia melakukannya.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha. Tahun Mobil Penumpang Bis Truk Sepeda Motor Jumlah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha. Tahun Mobil Penumpang Bis Truk Sepeda Motor Jumlah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki populasi penduduk ke - 5 terbanyak di dunia setelah negara Brazil. Jumlah penduduk Negara Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Cidera kecelakaan lalu lintas (Road Traffic Injury) merupakan hal yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Cidera kecelakaan lalu lintas (Road Traffic Injury) merupakan hal yang sangat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cidera kecelakaan lalu lintas (Road Traffic Injury) merupakan hal yang sangat mungkin dialami oleh setiap pengguna jalan. Hal ini terjadi karena pengemudi kendaraan

Lebih terperinci

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian sebagai berikut: 1. Pemahaman resiko kecelakaan yang dimiliki oleh masyarakat Yogyakarta sebanyak 55%

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Transportasi Transportasi adalah pergerakan orang dan barang bisa dengan kendaraan bermotor, kendaraan tidak bermotor atau jalan kaki, namun di Indonesia sedikit tempat atau

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis mengenai karakteristik

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis mengenai karakteristik BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis mengenai karakteristik penumpang taksi dan bus AKDP jurusan Ngabang-Pontianak, maka dapat disimpulkan sebagai berikut

Lebih terperinci

EVALUASI PENERAPAN ZONA SELAMAT SEKOLAH DI KOTA PADANG ABSTRAK

EVALUASI PENERAPAN ZONA SELAMAT SEKOLAH DI KOTA PADANG ABSTRAK VOLUME 6 NO. 2, OKTOBER 2010 EVALUASI PENERAPAN ZONA SELAMAT SEKOLAH DI KOTA PADANG Titi Kurniati 1, Hendra Gunawan 2, Dony Zulputra 3 ABSTRAK Pembangunan di bidang angkutan jalan saat ini mengutamakan

Lebih terperinci

BAB 4 KARAKTERISTIK DAN PREFERENSI PENGGUNA POTENSIAL KA BANDARA SOEKARNO-HATTA

BAB 4 KARAKTERISTIK DAN PREFERENSI PENGGUNA POTENSIAL KA BANDARA SOEKARNO-HATTA BAB 4 KARAKTERISTIK DAN PREFERENSI PENGGUNA POTENSIAL KA BANDARA SOEKARNO-HATTA Bab ini berisi analisis mengenai karakteristik dan preferensi pengguna mobil pribadi, taksi, maupun bus DAMRI yang menuju

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya

BAB VI PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya BAB VI PENUTUP Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya maka dalam bab ini penulis akan menarik suatu kesimpulan dan memberikan saran-saran yang diharapkan akan memberikan manfaat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. lebih lambat dari pertumbuhan lalu lintas menyebabkan tingginya angka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. lebih lambat dari pertumbuhan lalu lintas menyebabkan tingginya angka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tingginya kepadatan lalu lintas yang disebabkan mudahnya kepemilikan kendaraan bermotor serta perkembangan sarana dan prasarana lalu lintas yang lebih lambat

Lebih terperinci

PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA KONSUMEN SARI ROTI (STUDY KASUS MAHASISWA DAN MAHASISWI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA)

PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA KONSUMEN SARI ROTI (STUDY KASUS MAHASISWA DAN MAHASISWI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA) PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA KONSUMEN SARI ROTI (STUDY KASUS MAHASISWA DAN MAHASISWI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA) Nama : Bianda Tristantiana NPM : 11212450 Jurusan : Manajemen (S1) Pembimbing

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. lalu lintas, dan lain sebagainya (Soekanto, 2007: 101). undang-undang yang berlaku secara sah, sedangkan pelaksananya adalah

I. PENDAHULUAN. lalu lintas, dan lain sebagainya (Soekanto, 2007: 101). undang-undang yang berlaku secara sah, sedangkan pelaksananya adalah 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Setiap individu mengalami perubahan melalui serangkaian tahap perkembangan. Pelajar dalam hal ini masuk dalam tahap perkembangan remaja.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menjatuhkan sanksi. Sanksi hanya dijatuhkan pada warga yang benar-benar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menjatuhkan sanksi. Sanksi hanya dijatuhkan pada warga yang benar-benar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesadaran hukum adalah kesadaran diri sendiri tanpa tekanan, paksaan, atau perintah dari luar untuk tunduk pada hukum yang berlaku. Dengan berjalannya kesadaran

Lebih terperinci

BAB 2 DATA DAN ANALISA

BAB 2 DATA DAN ANALISA BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 Tinjauan Umum Data yang digunakan untuk menunjang proyek Tugas Akhir ini didapat dari berbagai sumber, yaitu : Data teori dan literatur yang didapat dari buku-buku referensi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan yang sesuai dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan yang sesuai dengan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, otonomi daerah, serta akuntabilitas penyelenggaraan

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Tata cara berlalu lintas dijelaskan pada Undang-Undang Republik

BAB III LANDASAN TEORI. Tata cara berlalu lintas dijelaskan pada Undang-Undang Republik BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Tata Cara Berlalu Lintas Tata cara berlalu lintas dijelaskan pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada, 1. Pasal 105

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 26 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alur Penelitian Alur penelitian dalam penulisan skripsi ini menjelaskan mengenai tahapan atau prosedur penelitian untuk menganalisa besarnya willingness to pay (WTP)

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut. 1. Kecelakaan lalu lintas itu dapat diuraikan melalui adanya relasi statistik yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persimpangan adalah simpul dalam jaringan transportasi dimana dua atau lebih ruas jalan bertemu dan disini pulalah banyak terjadi konflik dalam lalu lintas. Konflik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lalu lintas dan angkutan jalan mempunyai peran strategis dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lalu lintas dan angkutan jalan mempunyai peran strategis dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lalu lintas dan angkutan jalan mempunyai peran strategis dalam mendukung pembangunan dan integrasi nasional sebagai bagian dari upaya memajukan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Telepon genggam atau yang lebih dikenal dengan handphone (HP) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Telepon genggam atau yang lebih dikenal dengan handphone (HP) merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Telepon genggam atau yang lebih dikenal dengan handphone (HP) merupakan alat komunikasi jaman moderen yang sangat praktis karena dapat dibawa kemanamana. Kecanggihan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang dan Tujuan Permasalahan. Pada dasarnya, alat transportasi di Indonesia terbagi dua, yaitu alat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang dan Tujuan Permasalahan. Pada dasarnya, alat transportasi di Indonesia terbagi dua, yaitu alat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Tujuan Permasalahan Pada dasarnya, alat transportasi di Indonesia terbagi dua, yaitu alat transportasi pribadi dan umum. Dan ternyata masyarakat lebih memilih menggunakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan negara hukum yang hampir semua aspek di

I. PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan negara hukum yang hampir semua aspek di I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia merupakan negara hukum yang hampir semua aspek di dalamnya diatur oleh hukum. Tujuan dibuatnya hukum ini adalah untuk menciptakan suatu masyarakat yang

Lebih terperinci

BAB IV PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGGUNA TERHADAP PENATAAN PASAR TRADISIONAL

BAB IV PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGGUNA TERHADAP PENATAAN PASAR TRADISIONAL BAB IV PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGGUNA TERHADAP PENATAAN PASAR TRADISIONAL Pada bab sebelumnya telah dibahas mengenai kriteria dan indikator kinerja yang diperlukan untuk dapat mendeskripsikan kondisi

Lebih terperinci

Pemilihan Moda Transportasi ke Kampus oleh Mahasiswa Universitas Brawijaya

Pemilihan Moda Transportasi ke Kampus oleh Mahasiswa Universitas Brawijaya Indonesian Green echnology Journal ransportasi ke Kampus oleh Mahasiswa Universitas Brawijaya Dyaning Wahyu Primasari*, Jenny Ernawati, Agus Dwi W. Jurusan eknik Sipil, Fakultas eknik, Universitas Brawijaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Citra suatu negara ditunjukkan oleh citra sistem lalu lintas di negara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Citra suatu negara ditunjukkan oleh citra sistem lalu lintas di negara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Citra suatu negara ditunjukkan oleh citra sistem lalu lintas di negara tersebut. Apabila lalu lintas berjalan tertib berarti kesadaran hukum dan kedisiplinan diterapkan

Lebih terperinci