BAB 4 PERANCANGAN DAN SIMULASI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 PERANCANGAN DAN SIMULASI"

Transkripsi

1 BAB 4 PERANCANGAN DAN SIMULASI 4.1 Usulan Perancangan Berdasarkan permasalahan yang terjadi Plaza Indonesia yang merupakan client PT.Telkom Tbk. Maka usulan pemecahan masalah yang akan digunakan dan telah disetujui adalah dengan menggunakan Rapid Spanning Tree Protocol sebagai protokol simulasi untuk mensolusikan permasalahan broadcast strom pada perangkat Juniper. Berdasarkan keterbatasan software simulasi, maka untuk simulasi perancangan menggunakan PVST+ pada Cisco. Penggunaan PVST+ didasarkan karena PVST+ pada Cisco ekuivalen dan memiliki sifat interoperability dengan protokol RSTP pada Juniper, sesuai dengan teori pada bab Software yang digunakan Untuk melakukan perancangan dan simulasi maka diperlukan software sebagai alat bantu penunjang untuk dapat mensimulasikan suatu keadaan jaringan yang mirip dengan kondisi sebenarnya yang digunakan di Plaza Indonesia. Adapun software yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. GNS3 GNS3 adalah sebuah software graphical network simulator yang dapat mensimulasikan topologi jaringan yang lebih kompleks

2 dibandingkan dengan simulator lainnya. Software GNS3 dapat di jalankan pada operating-system, seperti Windows XP professional atau Linux Ubuntu. Prinsip kerja dari GNS3 adalah mengemulasi Cisco IOS pada komputer, sehingga PC dapat berfungsi layaknya sebuah atau beberapa router maupun switch. GNS3 merupakan tools pelengkap yang mudah dan murah yang dapat membantu user untuk mempersiapkan diri memperoleh Cisco certification, seperti CCNA, CCNP, CCIP, bahkan CCIE. Keuntungan menggunakan GNS3 adalah dapat merancang dan juga mensimulasikan jaringan seperti keadaan sebenarnya. Software GNS3 memberikan beberapa perangkat virtual jaringan seperti perangkat Juniper router,cisco router, Ethernet switch, dan beberapa perangkat jaringan lainnya. Sedangkan untuk kekurangan dari software GNS3 adalah tidak disediakannya multilayer switch sebagai default device dan juga sistem operasi yang digunakan pada device tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah module dan juga Cisco IOS untuk dapat menggunakan multilayer switch. Penggunaan module NM-16ESW dan Cisco IOS dapat memberikan layanan multilayer switch yang dapat digunakan untuk melakukan perancangan dan simulasi jaringan. Untuk men-download aplikasi GNS3 ini dapat dilakukan di

3 Instalasi program yang telah di-download. Berikut langkahlangkah yang dilakukan untuk installasi software GNS3 dapat dilihat di gns3 windows/ Berikut contoh tampilan layar pada software GNS3 Gambar 4.1 Tampilan awal GNS3

4 2. Tinycore Linux version TinyCore Linux adalah linux yang memiliki GUI dengan tampilan sederhana yang memiliki fitur-fitur dasar sistem operasi linux berukuran 10 MB. Tinycore Linux berbasiskan Linux 2.6 kernel, Busybox, Tiny X, dan Fltk. Core-nya berjalan pada RAM dan mempunyai waktu booting yang singkat. Didalam Tinycore Linux juga mencakup tools-tools untuk mendukung operasi internetworking seperti DHCP server, Tinycore disini berfungsi sebagai host simulator pada kondisi nyata yang sedang berjalan di jaringan, selain itu juga berfungsi sebagai traffic generator untuk mengukur utilisasi pada jaringan. Untuk men-download aplikasi ini dapat dilakukan di cc53af8e Langkah-Langkah installasi Tinycore Linux version : 1. Jalankan GNS3, setelah GNS3 terbuka, lihat pada tab edit, lalu pilih preferences atau bisa juga dengan menggunakan shortcut ctrl + shift + p Gambar 4.2 Pilih preferences

5 Gambar 4.3 Tampilan setelah dipilih preferences 2. Pilih Qemu pada bar sebelah kiri, lalu pilih qemu guest, Masukan Identifier sebagai nama dari qemu guest yang akan digunakan. Gambar 4.4 Tampilan saat memilih qemu guest

6 3. Qemu guest yang digunakan sejumlah 10 buah dengan nama Identifier Tinycore1, Tinycore2, Tinycore3, Tinycore4, Tinycore5, Tinycore6, Tinycore7, Tinycore8, Tinycore9, Tinycore10. Gambar 4.5 Tampilan memasukkan identifier name 4. Kemudian pilih binary image dan arahkan ke file tinycore yang telah di-download tadi (copy Tinycore yang telah di-download tadi sehingga menjadi 6 file, misal : Tinycore- 1.img, Tinycore-2.img, dst.) Gambar 4.6 Tampilan memilih binary image 5. Default RAM 128MiB, dengan Number of NICs adalah 1 Gambar 4.7 Tampilan memilih default RAM 6. Pada NIC model menggunakan intel e1000 Gambar 4.8 Tampilan memilih Number NIC

7 7. Setelah itu tekan Save, Lakukan berulang kali hingga 10 Qemu guest berhasil dibuat. 3. Wireshark Wireshark adalah sebuah network analyzer yang dapat digunakan untuk menganalisa kinerja dari sebuah jaringan. Selain itu dengan menggunakan Wireshark juga dapat menangkap paket dari jaringan dan menampilkan paket secara detail. Untuk men-download aplikasi Wireshark secara free ini dapat dilakukan di setelah itu lakukan instalasi wireshark yang telah di-download. Berikut langkah-langkah yang dilakukan untuk instalasi Wireshark dapat dilihat di tshark on windows 7 64 bit add tshark towindows 7 path Gambar 4.9 Tampilan awal Wireshark

8 4.1.2 Penggunaan Software GNS3 Sebagai Simulator GNS3 adalah sebuah software yang menyediakan layanan simulator untuk perancangan jaringan. Keuntungan menggunakan GNS3 adalah dapat merancang dan mengimplementasikan jaringan mendekati keadaan yang sebenarnya. GNS3 menunjang beberapa peralatan jaringan contohnya Cisco router, Juniper router, PIX firewall, ASA firewall, Ethernet switch, dan beberapa peralatan jaringan lainnya. Pengkombinasian antara module NM-16E-SW dan device Cisco 3640, memberikan layanan multilayer switch yang dapat digunakan sebagai alat bantu simulasi untuk perancangan jaringan ini. Penggunaan software GNS3 dibandingkan software sejenis seperti NS3 didasarkan beberapa perbedaan, dimana software GNS3 lebih bagus dalam mendukung perangkat Cisco IOS maupun modul untuk switch layer 2. Perbedaan GNS3 dengan NS3 dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 4.1 Perbedaan antara Software GNS3 dengan NS3 No Perbedaan GNS3 NS3 1 Lisensi perangkat lunak Free, Open Source Free, Open Source 2 Kompatible JunOs Ya Tidak 3 Kompatible Cisco IOS Ya Ya 4 Mendukung perangkat wireless Tidak Ya 5 Mendukung software emulator Ya, Qemu Tidak 6 Mendukung module jaringan Cisco Ya, NM-16ESW Tidak

9 Berikut ini adalah tahapan-tahapan dalam merancang sebuah jaringan di GNS3. 1. Tampilan awal GNS3 Gambar 4.10 Halaman Muka GNS3 Gambar 4.10 adalah tampilan awal saat menjalankan software GNS3. Kolom disebelah kiri menampilkan perangkat yang dapat digunakan, kolom tengah digunakan untuk membuat perancangan topologi jaringan, kolom sebelah kanan untuk melihat aktif atau tidaknya sebuah perangkat dan kolom bawah menampilkan pesan kesalahan dari GNS3. 2. Membuat project baru pada GNS3 File project baru dibuat dengan cara memilih menu File New Project atau menekan tombol Ctrl+N.

10 Gambar 4.11 Membuat Project Baru 3. Menginisialisasi perangkat di GNS3 Sebelum melakukan simulasi maka harus menginisialisasi perangkat di GNS3 agar perangkat dapat dikenali, tahap-tahap untuk menginisialisasi perangkat pada GNS3 adalah sebagai berikut : a. Pilih symbols ethernet_switch dan multilayer_switch pada kolom "available symbols", kemudian tekan tombol next ">" pada kolom tengah guna memindahkan symbol ke dalam customized nodes. Gambar 4.12 Pilih Symbol Manager b. Setelah itu klik symbol yang ada pada customized nodes, lalu berikan Nama "switch". Dan pada select box type, pilih Router c3600, setelah itu apply.

11 Gambar 4.13 Pilih Name dan Type 4. Konfigurasi Wireshark Wireshark adalah sebuah network analyzer yang dapat digunakan untuk menganalisa kinerja dari sebuah jaringan. Selain itu dengan menggunakan Wireshark juga dapat menangkap paket dari jaringan dan menampilkan paket secara detail. Cara mengkonfigurasi Wireshark yaitu dengan memilih menu Edit Preference Capture. Gambar 4.14 Konfigurasi Wireshark

12 5. Menambahkan IOS pada device GNS3 Software GNS3 perangkat Cisco yang digunakan juga membutuhkan sebuah operating system untuk dapat menjalankan perangkat tersebut. Operating system yang digunakan untuk perangkat Cisco yaitu IOS. Cisco IOS berisi kumpulan perintah-perintah yang menentukan bagaimana routing dan switch berjalan. Cara menambahkan Cisco IOS image kedalam GNS3 dengan memilih menu Edit IOS Image and Hypervisor. a. Buka edit, lalu masuk ke IOS image and Hypervisors Gambar 4.15 Pilih IOS image and Hypervisors b. Kemudian pada settings, browse image file untuk IOS router c3600 series, c3640-jk9o3s-mz a.bin

13 Gambar 4.16 Penambahan image IOS ke dalam GNS3 Setelah itu langsung klik save untuk menyimpan IOS ke dalam GNS3. 6. Menghidupkan switch Switch yang telah ditambahkan kedalam kolom rancangan jaringan, harus dihidupkan terlebih dahulu sebelum dapat mengkonfigurasi konsole Cisco. Gambar 4.17 Cara Mengaktifan Switch

14 7. Console Switch Console switch dapat diakses dengan menggunakan tinycore Gambar 4.18 Tampilan Console Switch 8. Installasi Module NM-16ESW Pada Switch Layer 2 dan MEA Untuk mengfungsikan router menjadi switch sehingga memberikan kemampuan switching layer 2, bisa dilakukan dengan menggunakan module etherswitch NM-16ESW. Selain itu pada module ini terdapat beberapa fitur seperti QoSdan VLAN Support standart 802.1p, Trunking 802.1Q, dan juga 802.1d Spanning tree yang merupakan standart etherswitch module NM-16ESW menyediakan 16 port 10/100 etherswitch network. Instalasi module NM-16ESW dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. Double click pada switch yang telah didrag kedalam workspace, kemudian tekan R1 pada Node Configuration, Pilih slot pada tab yang tersedia. Lalu pada slot 0 pilih Module NM-16ESW setelah itu klik OK.

15 Gambar 4.19 Memasukan module NM-16ESW b. Setelah memasukan module NM-16ESW dengan benar maka akan muncul notifikasi seperti gambar dibawah ini, lalu klik OK untuk mengakhiri instalasi. Gambar 4.20 Klik Ok 9. Installasi Module NM-1FE-TX Pada Switch Layer 3 a. Double click pada switch yang telah di drag kedalam workspace, kemudian tekan R1 pada Node Configuration, Pilih slot pada tab yang tersedia, lalu pada slot 0 pilih Module NM-1FE-TX setelah itu klik OK.

16 Gambar 4.21 Memasukan module NM-16ESW b. Module tersebut telah siap digunakan, lalu klik OK. 4.2 Perancangan jaringan Plaza Indonesia pada GNS3 Dalam melakukan perancangan jaringan dengan menggunakan topologi Plaza Indonesia yang berasal dari PT.Telkom pada software GNS3 dimana pada topologi tersebut di bagi menjadi tiga, bagian pertama yaitu Office tower Plaza Indonesia terdiri dari 45 lantai, sedangkan untuk jaringan yang terpasang hanya sejumlah 36 lantai yang dimulai dari lantai 9 hingga lantai 45. Untuk setiap tiga lantai ditangani oleh satu switch. Jadi total switch berjumlah 15 switch. Bagian kedua yaitu Mall Plaza Indonesia Lantai 2 yang terdiri dari tiga zona yaitu A,B dan C. Dimana setiap zona terdapat satu switch. Jadi total switch berjumlah tiga. Bagian ketiga yaitu Mall Plaza Indonesia Lantai 5 yang terdiri dari tiga zona yaitu A,B dan C. Dimana setiap zona terdapat satu switch. Jadi total switch berjumlah tiga.

17 Gambar 4.22 Topologi Simulasi di GNS3

18 1. Pembagian VLAN Database VLAN Database dimaksudkan untuk mengelompokan LAN dalam satu Inter VLAN agar memudahkan user untuk mengontrol aktifitas data masuk dan keluar. Untuk memudahkan manajemen VLAN tiap-tiap bagian jaringan di Plaza Indonesia dikelompokkan menjadi beberapa VLAN ID. VLAN ID yang digunakan pada jaringan tercantum pada tabel 4.1 di bawah ini. Tabel Rancangan VLAN Database Bagian VLAN ID Office tower (lantai 9-20) 10 Office tower (lantai 21-32) 20 Office tower (lantai 33-45) 30 Mall Lantai 2 (zona A, B, C) 40 Mall Lantai 5 (zona A, B, C) Pemberian IP Address Pada Jaringan Konfigurasi IP Address pada jaringan Plaza Indonesia terbagi atas lima VLAN yaitu VLAN 10 Office tower yang terdiri dari lima switch, VLAN 20 Office tower yang terdiri dari lima Switch, VLAN 30 Office tower yang terdiri dari lima Switch, VLAN 40 Mall Lantai 2 (Zona A, B, C) yang terdiri dari tiga Switch, VLAN50 Mall Lantai 5 (Zona A, B, C) yang terdiri dari tiga Switch.

19 Tabel Pemberian IP Address pada VLAN No Nama VLAN IP Address Range Subnet mask Default gateway 1 VLAN 10 Office tower /24 2 VLAN 20 Office tower /24 3 VLAN 30 Office tower /24 VLAN 40 Mall Lantai 4 2 (Zona A, B, C) /24 VLAN 50 Mall Lantai 5 5 (Zona A, B, C) / Merancang Jaringan Plaza Indonesia pada GNS3 Sebelum melakukan konfigurasi Spanning Tree Protocol pada jaringan Plaza Indonesia dengan menggunakan software GNS3, maka perlu dilakukan perancangan dan pembuatan jaringan Plaza Indonesia di GNS3 sesuai dengan topologi asli jaringan Plaza Indonesia dari PT.Telkom, Tbk. Simulasi ini dibuat mendekati kondisi jaringan yang diimplementasikan. Ada banyak cara menguji operasional suatu jaringan, kali ini digunakan protokol ICMP ping guna melakukan pengujian operasional pada simulasi jaringan. Adapun spesifikasi laptop yang digunakan simulasi ini adalah : Intel Core i7 2670QM 2.2GHz (3.1GHz w/turbo Boost, 6MB Cache) Memory 8GB Dual Channel DDR3 at 1333MHz

20 Windws 7 Home Premium Konfigurasi yang digunakan dalam merancang dan membuat jaringan Plaza Indonesia di software GNS3 adalah sebagai berikut : 1. Merubah hostname perangkat Merubah hostname dilakukan untuk membuat penamaan pada perangkat yang digunakan pada topologi jaringan Plaza Indonesia sehingga memudahkan pada saat melakukan konfigurasi terhadap perangkat tersebut. a. Merubah Hostname pada MEA Gambar 4.23 Tampilan Merubah Hostname MEA Router(config)#hostname MEA Penjelasan : perintah yang digunakan untuk memberi inisial nama pada perangkat tersebut yang semula router menjadi MEA. MEA(config)#exit Penjelasan : perintah yang digunakan untuk keluar dari global configuration mode kembali ke previledged EXEC mode.

21 b. Merubah Hostname Pada Core Layer 3 Gambar 4.24 Tampilan Merubah Hostname Core Layer 3 Router(config)#hostname CORE Penjelasan : perintah yang digunakan untuk memberi inisial nama pada perangkat tersebut yang semula router menjadi CORE. CORE(config)#exit Penjelasan : perintah yang digunakan untuk keluar dari global configuration mode kembali ke previledged EXEC mode. c. Merubah Hostname Pada Distribution Switch (DSW) Gambar 4.25 Tampilan Merubah Hostname DSW

22 Router(config)#hostname SW1.10-OFFICE Penjelasan : perintah yang digunakan untuk memberi inisial nama pada perangkat tersebut yang semula router menjadi SW1.10-OFFICE. SW1.10-OFFICE(config)#exit Penjelasan : perintah yang digunakan untuk keluar dari global configuration mode kembali ke previledged EXEC mode. 2. Membuat VLAN Trunking Protocol pada Jaringan Membuat VLAN Trunking Protokol atau VTP berfungsi untuk memudahkan untuk mengelola perangkat jaringan switch, dimana hanya perlu untuk melakukan konfigurasi VLAN hanya pada satu switch saja, dan switch lain akan mengikuti database konfigurasi VLAN yang telah dibuat sebelumnya. a. Membuat VLAN Trunking Protocol (VTP) pada Access Switch Bagian ini akan dilakukan konfigurasi VTP (VLAN Trunking Protocol) pada Access Switch Office tower. Access Switch disini digunakan sebagai VTP client yang gunanya untuk memberikan access VLAN pada perangkat yang terhubung langsung pada Access Switch.

23 Gambar 4.26 Tampilan VTP pada Access Switch SW1.10-OFFICE>enable Penjelasan : tanda ">" menunjukan user sedang berada pada level user EXEC mode, sedangkan tanda "#" menunjukan user telah masuk previledged EXEC mode. Pada perintah enable adalah command yang digunakan user untuk berpindah level ke previledged EXEC mode, biasanya setelah command enable diikuti dengan autentikasi password untuk membatasi akses-akses yang tidak mempunyai izin. SW1.10-OFFICE#VLAN database Penjelasan : perintah vlan database digunakan untuk mengakses semua informasi tentang vlan, disini juga dilakukan operasi-operasi yang berkaitan dengan vlan seperti pembuatan vtp, pembuatan vlan baru, penamaan, mengahpus dan juga untuk melihat status vlan.

24 SW1.10-OFFICE(VLAN)#vtp client Penjelasan : command vtp client digunakan untuk merubah status vtp server menjadi vtp client (pada simulasi dengan menggunakan GNS3 ini default VTP statusnya pada setiap switch adalah vtp server, jadi tidak perlu lagi menggunakan command "vtp mode server" berbeda dengan simulasi menggunakan Packet Tracer dimana vtp belum aktif dan harus diatur terlebih dahulu). SW1.10-OFFICE(VLAN)#vtp domain alpha Penjelasan : menjelaskan kondisi bahwa sebelumnya VTP client pada access switch 10 tidak mempunyai domain name dan sekarang mempunyai domain name Alpha sebagai dummy domain pada simulasi ini. SW1.10-OFFICE(VLAN)#vtp password alpha Penjelasan : perintah vtp password alpha merupakan command untuk membuat password domain untuk domain alpha. Hal ini dimaksudkan agar vtp client dapat terhubung dengan vtp server yaitu dengan cara menyamakan domain name dan password-nya. SW1.10-OFFICE(VLAN)#exit Penjelasan : perintah yang digunakan untuk keluar dari vlan database configuration mode kembali ke previledged EXEC mode.

25 b. Membuat VLAN Trunk Protocol (VTP) pada Distribution Switch Bagian ini akan dilakukan konfigurasi VTP pada Distribution Switch Office tower. Distribution Switch ini digunakan sebagai VTP Server dimana konfigurasi VLAN dilakukan disini VTP Server digunakan untuk memudahkan administrator jaringan untuk mengkonfigurasi VLAN pada suatu jaringan dengan tujuan agar tidak perlu mengkonfigurasi VLAN pada setiap Switch. Gambar 4.27 Tampilan VTP pada Distribution Switch SW.10>enable Penjelasan : tanda ">" menunjukan user sedang berada pada level user EXEC mode, sedangkan tanda "#" menunjukan user telah masuk previledged EXEC mode. Pada perintah enable adalah command yang digunakan user untuk berpindah level ke previledged EXEC mode, biasanya setelah command

26 enable diikuti dengan autentikasi password untuk membatasi akses-akses yang tidak mempunyai izin. SW.10#VLAN database Penjelasan : perintah vlan database digunakan untuk mengakses semua informasi tentang vlan, disini juga dilakukan operasi-operasi yang berkaitan dengan vlan seperti pembuatan vtp, pembuatan vlan baru, penamaan, penghapusan dan juga untuk melihat status vlan. SW.10(VLAN)#vtp domain alpha Penjelasan : vtp domain alpha merupakan command untuk membuat nama domain untuk vtp server, disini alpha merupakan nama domain untuk vtp server pada distribution switch 10. (pada simulasi dengan menggunakan GNS3 ini default VTP status nya pada setiap switch adalah vtp server, jadi tidak perlu lagi menggunakan command "vtp mode server" berbeda dengan simulasi menggunakan Packet Tracer dimana vtp belum aktif dan harus diatur terlebih dahulu). SW.10(VLAN)#vtp password alpha Penjelasan : vtp password alpha merupakan command untuk membuat password domain untuk domain alpha. SW.10(VLAN)#VLAN 10 Penjelasan : perintah untuk membuat vlan 10 pada distribution switch 10.

27 VLAN10 added Penjelasan : menjelaskan kondisi bahwa vlan 10 telah didaftarkan pada database vlan distribution switch 10 dengan nama VLAN0010. Selanjutnya untuk membuat VLAN 20, VLAN 30, VLAN 40, dan VLAN 50 sama seperti perintah pembuatan VLAN 10 SW.10(VLAN)#exit Penjelasan : digunakan untuk keluar dari vlan database configuration mode kembali ke previledged EXEC mode. Apply Completed Penjelasan : perintah yang menandakan semua VLAN yang dibuat telah complete. 3. Membuat mode Trunking 802.1Q Pada Jaringan Untuk menangani pertukaran informasi antar VLAN sehingga dapat saling terhubung, maka dibuat mode trunking yang berdasarkan protokol 802.1Q. a. Membuat mode Trunking di Access Switch Bagian ini menjelaskan konfigurasi untuk membuat trunk. Pada semua link Access Switch yang terhubung dengan Distribution Switch.

28 Gambar 4.28 Tampilan mode Trunking Access Switch SW1.10-OFFICE>enable Penjelasan : tanda ">" menunjukan user sedang berada pada level user EXEC mode, sedangkan tanda "#" menunjukan user telah masuk previledged EXEC mode. Pada perintah enable adalah command yang digunakan user untuk berpindah level ke previledged EXEC mode, biasanya setelah command enable diikuti dengan autentikasi password untuk membatasi akses-akses yang tidak mempunyai izin. SW1.10-OFFICE#configure terminal Penjelasan : perintah previledged EXEC command yang digunakan untuk masuk kedalam global configuration mode. SW1.10-OFFICE(config)#interface f0/1 Penjelasan : interface fx/x digunakan untuk masuk kedalam interface configuration mode, dimana "fx/x" adalah interface

29 yang ingin dikonfigurasi, x yang pertama menjelaskan module keberapa dan x yang kedua menjelaskan port module keberapa. SW1.10-OFFICE(config-if)#switchport mode trunk Penjelasan : perintah digunakan untuk membuat trunk antara line yang terkoneksi pada port interface fx/x. SW1.10-OFFICE(config-if)#exit Penjelasan : perintah untuk keluar dari interface configuration kembali ke global configuration mode. b. Membuat mode Trunking di Distribution Switch Bagian ini menjelaskan konfigurasi untuk membuat trunk. Pada semua link yang terhubung dengan Distribution Switch Gambar 4.29 Tampilan Trunking pada Distribution Switch

30 SW.10>enable Penjelasan : tanda ">" menunjukan user sedang berada pada level user EXEC mode, sedangkan tanda "#" menunjukan user telah masuk previledged EXEC mode. Pada perintah enable adalah command yang digunakan user untuk berpindah level ke previledged EXEC mode, biasanya setelah command enable diikuti dengan autentikasi password untuk membatasi akses-akses yang tidak mempunyai izin. SW.10#configure terminal Penjelasan : perintah previledged exec command yang digunakan untuk masuk kedalam global configuration mode. SW.10(config)#interface range f0/1 5 Penjelasan : interface fx/x digunakan untuk masuk kedalam interface configuration mode, dimana "fx/x" adalah interface yang ingin dikonfigurasi, x yang pertama menjelaskan module ke berapa dan x yang kedua menjelaskan port module ke berapa. SW.10(config-if-range)#switchport mode trunk Penjelasan : perintah digunakan untuk membuat trunk antara line yang terkoneksi pada port interface fx/x. SW.10(config-if-range)#exit Penjelasan: perintah untuk keluar dari interface configuration kembali ke global configuration mode.

31 c. Membuat mode Trunking di MEA Gambar 4.30 Tampilan Trunking pada MEA MEA>enable Penjelasan : tanda ">" menunjukan user sedang berada pada level user EXEC mode, sedangkan tanda "#" menunjukan user telah masuk previledged EXEC mode. Pada perintah enable adalah command yang digunakan user untuk berpindah level ke previledged EXEC mode, biasanya setelah command enable diikuti dengan autentikasi password untuk membatasi akses-akses yang tidak mempunyai izin.

32 MEA#configure terminal Penjelasan : perintah previledged EXEC command yang digunakan untuk masuk kedalam global configuration mode. MEA(config)#interface f0/5 Penjelasan : interface fx/x digunakan untuk masuk kedalam interface configuration mode, dimana "fx/x" adalah interface yang ingin dikonfigurasi, x yang pertama menjelaskan module ke berapa dan x yang kedua menjelaskan por tmodule ke berapa. MEA(config-if)#switchport mode trunk Penjelasan : perintah digunakan untuk membuat trunk antara line yang terkoneksi pada port interface fx/x. MEA(config-if)#exit Penjelasan : perintah untuk keluar dari interface configuration kembali ke global configuration mode. Untuk interface f0/7-f09, f0/10-f0/14, f0/0 sama dengan penjelasan diatas. 4. Membuat Access VLAN pada Jaringan Access VLAN diperlukan untuk mengizinkan port agar dapat mengirimkan maupun menerima informasi tertentu dari port yang telah ditentukan, sehingga informasi tidak dapat dibaca ataupun dilihat port lainnya.

33 a. Membuat Access VLANpada Switch Gambar 4.31 Tampilan Access VLAN pada Switch SW3.10-OFFICE>enable Penjelasan : tanda ">" menunjukan user sedang berada pada level user EXEC mode, sedangkan tanda "#" menunjukan user telah masuk previledged EXEC mode. Pada perintah enable adalah command yang digunakan user untuk berpindah level ke previledged EXEC mode, biasanya setelah command enable diikuti dengan autentikasi password untuk membatasi akses-akses yang tidak mempunyai izin. SW3.10-OFFICE#configure terminal Penjelasan : perintah previledged exec command yang digunakan untuk masuk kedalam global configuration mode. SW3.10-OFFICE(config)#interface f0/0

34 Penjelasan : interface fx/x digunakan untuk masuk kedalam interface configuration mode, dimana "fx/x" adalah interface yang ingin dikonfigurasi, x yang pertama menjelaskan module ke berapa dan x yang kedua menjelaskan port module ke berapa. SW3.10-OFFICE(config-if)#switchport access vlan 10 Penjelasan : perintah yang digunakan untuk memberikan akses kepada port interface tertentu untuk dapat tergabung kedalam group vlan x, dimana selanjutnya port interface tersebut dapat menerima dan mengirim informasi atau paket data ke dalam group vlan yang sama. SW3.10-OFFICE(config-if)#exit Penjelasan : perintah untuk keluar dari interface configuration kembali ke global configuration mode. 5. Membuat Alokasi IP pada Jaringan Dalam jaringan setiap perangkat akses membutuhkan IP address sehingga mampu dikenali oleh perangkat akses lainnya. Karena itu perlu dibuat pengalokasian alamat IP pada jaringan di bawah ini merupakan konfigurasi pengalokasian alamat IP pada jaringan.

35 a. Membuat Alokasi IP di Interface Gambar 4.32 Tampilan Alokasi IP di Interface CORE>enable Penjelasan : tanda ">" menunjukan user sedang berada pada level user EXEC mode, sedangkan tanda "#" menunjukan user telah masuk previledged EXEC mode. Pada perintah enable adalah command yang digunakan user untuk berpindah level ke previledged EXEC mode, biasanya setelah command enable diikuti dengan autentikasi password untuk membatasi akses-akses yang tidak mempunyai izin. CORE#configure terminal Penjelasan : perintah previledged EXEC command yang digunakan untuk masuk kedalam global configuration mode. CORE(config)#interface f0/0 Penjelasan : interface fx/x digunakan untuk masuk kedalam interface configuration mode, dimana "fx/x" adalah interface

36 yang ingin dikonfigurasi, x yang pertama menjelaskan module ke berapa dan x yang kedua menjelaskan port module ke berapa. CORE(config-if)#ip address Penjelasan : perintah yang digunakan untuk konfigurasi ip address untuk perangkat switch layer 3 (CORE). CORE(config-if)#no shutdown Penjelasan : perintah digunakan untuk mengubah state interface f0/0 dari DOWN menjadi UP, sehingga memungkinkan menerima dan mengirim data pada port interface tersebut. CORE(config-if)#exit Penjelasan : perintah untuk keluar dari interface configuration kembali ke global configuration mode. b. Membuat Alokasi IP di Subinterface Gambar 4.33 Tampilan Alokasi IP di Subinterface

37 CORE>enable Penjelasan : tanda ">" menunjukan user sedang berada pada level user EXEC mode, sedangkan tanda "#" menunjukan user telah masuk previledged EXEC mode. Pada perintah enable adalah command yang digunakan user untuk berpindah level ke previledged EXEC mode, biasanya setelah command enable diikuti dengan autentikasi password untuk membatasi akses-akses yang tidak mempunyai izin. CORE#configure terminal Penjelasan : perintah previledged EXEC command yang digunakan untuk masuk kedalam global configuration mode. CORE(config)#interface f0/0.10 Penjelasan : interface fx/x.x digunakan untuk masuk kedalam sub-interface configuration mode, dimana "fx/x.x" adalah interface yang ingin dikonfigurasi, x yang pertama menjelaskan module ke berapa dan x yang kedua menjelaskan port module ke berapa, sedangkan x setelah tanda "." merupakan nomor sub interface. CORE(config-subif)#encapsulation dot1q 10 Penjelasan : perintah yang digunakan untuk konfigurasi enkapsulasi 802.1Q (dot1q) dengan nomor vlan 10, gunanya untuk memungkinkan komunikasi antar vlan melalui trunk. CORE(config-subif)#ip address

38 Penjelasan : perintah yang digunakan untuk konfigurasi ip gateway untuk vlan 10 pada perangkat switch layer 3 (CORE), gunannya sebagai gateway untuk memungkinkan petukaran data antar vlan (inter-vlan). CORE(config-subif)#exit Penjelasan : perintah untuk keluar dari interface configuration kembali ke global configuration mode Mengkonfigurasi Spanning Tree Protocol Pada Jaringan Dasarnya yang akan dilakukan adalah menerapkan atau memasang teknologi Spanning Tree Protocol atau STP pada jaringan yang bermasalah di jaringan Plaza Indonesia yaitu pada jaringan mall lantai 2 dan mall lantai 5. Memasang PVST+ pada simulasi jaringan Plaza Indonesia di software GNS3 dikarenakan penggunaan PVST+ pada jaringan merupakan solusi yang paling tepat yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan broadcast storm. Hal tersebut sangatlah dimungkinkan juga untuk melakukan pemasangan pada jaringan asli Plaza Indonesia dengan menggunakan RSTP, dikarenakan PVST+ pada Cisco memiliki cara kerja yang sama dengan RSTP pada Juniper sesuai teori yang ditulis di bab 2. Dalam memasang PVST+ pada jaringan untuk mengatasi permasalahan broadcast storm pada jaringan Mall Lantai 2 dan Mall lantai 5 dilakukan pemasangan PVST+ pada beberapa bagian yaitu pada MEA, VLAN 40 untuk Mall lantai 2 dan VLAN 50 untuk Mall lantai 5.

39 Berikut ini adalah jenis-jenis Protocol STP yang dimiliki oleh masing-masing vendor perangkat Cisco dan Juniper. 1. STP untuk Perangkat Cisco a. RSTP merupakan evolusi dari Spanning Tree Protocol (802.1D standar) dan menyediakan lebih cepat Spanning Tree konvergensi setelah perubahan topologi. b. MSTP Multiple Spanning Tree Protokol (MISTP) 802.1s adalah sebuah standar IEEE yang memungkinkan VLAN dan STP untuk bekerja bersama. Menyediakan cara yang memungkinkan STP ada di VLAN yang berbeda dalam sebuah jaringan. c. STP Layer 2 link manajemen protokol yang menyediakan redundansi patch untuk mencegah loop dalam jaringan. Agar jaringan Ethernet Layer 2 berfungsi dengan baik, hanya ada satu jalur yang aktif antara dua stasiun. Beberapa jalur/patch aktif antara stasiun menyebabkan loop dalam jaringan. Kondisi ini menyebabkan jaringan akan tidak stabil.

40 d. PVST Spanning tree dapat digunakan per LAN virtual. Nama Cisco untuk ini spanning tree pada VLAN adalah Per VLAN Spanning Tree atau PVST. PVST bekerja dengan trungking ISL (protokol proprietary Cisco untuk enkapsulasi VLAN). Memelihara sebuah spanning-tree singkat untuk setiap VLAN yang terkonfigurasi dalam jaringan. untuk memberikan penempatan root bridge yang optimal dalam setiap VLAN. e. PVST+ dan RPVST+ PVST+ adalah yang versi cisco dari spanning tree. Dalam PVST+, VLAN masing-masing akan memiliki spanning tree sendiri. PVST+ memiliki waktu konvergensi yang sama sebagai STP versi awal. Sejak konvergensi waktu PVST+ adalah sub-optimal, Cisco memasukkan fitur RSTP ke PVST+ yang mereka sebut RPVST. Namun, RPVST+ masih mengiklan pada alamat multicast dan dicadangkan untuk semua VLAN kecuali VLAN STP untuk Perangkat Juniper a. RSTP merupakan evolusi dari Spanning Tree Protocol (802.1D standar) dan menyediakan lebih cepat Spanning Tree konvergensi setelah perubahan topologi.

41 b. VSTP VSTP, diperkenalkan pada Junos OS 9.4R1 untuk EX3200 dan EX4200 switch, memungkinkan pengguna untuk membuat spanning tree terpisah contoh untuk setiap VLAN dikonfigurasi. BPDUs VSTP ditransmisikan sebagai paket ditandai dengan multicast tujuan MAC alamat C-CC-CC-CD pada port berbatang 802.1Q. Pada port akses, VSTP BPDUs dikirim ke alamat terkenal IEEE MAC multicast (01-80-C ) dengan pohon rentang-sesuai informasi untuk VLAN mana port akses berada. VSTP setara dengan Cisco RPVST+ tapi adalah mundur-kompatibel dengan Cisco PVST+. Secara default, VSTP BPDUs setara dengan RPVST+ (untuk penjelasan rinci tentang PVST+ / RPVST+, silakan tinjau Tinjauan Spanning Tree bagian). Namun, jika saklar berdekatan mengirimkan PVST+ BPDUs, maka saklar Seri EX akan mengirimkan BPDU VSTP setara dengan PVST+ BPDUs untuk kompatibilitas c. MSTP Multiple Spanning Tree Protokol (MISTP) 802.1s adalah sebuah standar IEEE yang memungkinkan VLAN dan STP untuk bekerja bersama. Menyediakan cara yang memungkinkan STP ada di VLAN yang berbeda dalam sebuah jaringan.

42 4.2.3 Menkonfigurasi PVST+ pada MEA Pemasangan PVST+ dilakukan pada MEA dikarenakan MEA berfungsi sebagai root bridge yaitu switch dengan bridge priority terendah dan mac address terendah diantara semua switch yang terhubung pada jaringan. a. MEA untuk VLAN 40 Gambar 4.34 Konfigurasi PVST+ di MEA untuk VLAN 40 MEA(config)#spanning-tree VLAN 40 priority Penjelasan : disini dapat dilihat command untuk mengatur bridge priority pada MEA, disini penulis mengatur untuk bridge priority MEA, disini dipasang lebih kecil daripada semua bridge priority switch yang terhubung langsung dengan MEA gunanya agar MEA menjadi root bridge bagi semua switch vlan 40 yang terhubung langsung ke MEA.

43 MEA(config)#spanning-tree VLAN 40 hello-time 2 Penjelasan : Hello time adalah waktu untuk mengirimkan BPDU (Bridge Protocol Data Unit), dimana hello-time 2 detik merupakan waktu yang standar untuk pengiriman BPDU. BPDU digunakan untuk menentukan jalan mana yang harus di-tutup dan di-forward apabila terjadi perubahan struktur pada jaringan atau adanya redundant link. Juga digunakan untuk menentukan switch mana yang pantas dijadikan ROOT. MEA(config)#spanning-tree VLAN 40 max-age 20 Penjelasan : Max Age mengontrol waktu maksimum suatu switch harus menunggu setelah menerima BPDU sebelum akhirnya switch itu mengubah suatu rules spanning-tree apabila terdeteksi terjadi suatu perubahan pada topologi jaringan. Disini diatur 20 detik karena merupakan default max-age dari Cisco. MEA(config)#spanning-tree VLAN 40 forwardtime 15 Penjelasan : Forward Time (forward delay) adalah waktu yang diperlukan switch untuk berada pada Listening dan Learning state apabila menerima TCN (Topology Change Notification). Disini diatur 15 karena merupakan default forward-time dari Cisco.

44 Setelah melakukan konfigurasi terhadap MEA, maka dapat dilakukan pengecekan terhadap PVST+ yang telah terpasang dengan melakukan konfigurasi MEA# show spanning-tree VLAN 40 brief seperti pada gambar 4.35 dibawah ini yang merupakan tampilan dimana switch pada MEA telah terpasang PVST+ Gambar 4.35 Tampilan telah terpasang PVST+ Show pada vlan 40 MEA menunjukan Root ID Priority dengan Root ID Address untuk VLAN40 CC Dapat terlihat juga Spanning tree VLAN 40 Pada MEA menjadi Root Bridge karena memiliki Root Priority lebih rendah dibanding semua switch yang terkoneksi langsung dengan MEA, Hello time 2 Detik dimana setiap 2 Detik BPDU akan dikirimkan kesemua switch yang terkoneksi langsung melalui trunk 802.1q ke MEA. Max Age mengontrol waktu maksimum suatu switch harus menunggu setelah menerima BPDU sebelum akhirnya switch itu

45 mengubah suatu rules spanning-tree apabila terdeteksi terjadi suatu perubahan pada topologi jaringan, Max Age 20 detik adalah waktu maksimum suatu switch harus menunggu setelah menerima BPDU sebelum akhirnya switch itu mengubah suatu rules spanning-tree apabila terdeteksi terjadi suatu perubahan pada topologi jaringan. Aging time 300 disini maksudnya setelah 300 detik mac address yang terhubung akan dihapus dari mac-address table. Disini dapat juga dilihat bahwa Fast ethernet 0/0 memiliki interface priority 128, dengan interface port ID Dan juga memiliki interface cost 19, dimana cost disini menggambarkan bandwith jaringan yang dipakai, karena disini dipakai kabel Ethernet dengan BW 10/100Mbps. Interface Status FWD menjelaskan bahwa semua data yang melalui port itu akan di forward atau diteruskan. Interface Designated Cost 0 menjelaskan bahwa MEA merupakan root bridge dari VLAN40 sehingga cost yang diperlukan tidak ada atau 0. Interface Designated Bridge ID merupakan mac address root bridge. Interface Designated Port ID menerangkan nomor port ID untuk interface designated bridge ID dengan mac address tersebut.

46 b. MEA untuk VLAN 50 Gambar 4.36 Konfigurasi PVST+ di MEA untuk VLAN 40 Setelah melakukan konfigurasi terhadap MEA, maka dapat dilakukan pengecekan terhadap PVST+ yang telah terpasang dengan melakukan konfigurasi MEA# show spanning-tree VLAN 50 brief seperti pada gambar 4.37 dibawah ini yang merupakan tampilan dimana switch pada MEA telah terpasang PVST+. Gambar 4.37 Tampilan telah terpasang PVST+

47 4.2.4 Menkonfigurasi PVST+ pada switch MALL lantai 2 a. Menkonfigurasi PVST+ pada switch SW1.40-Mall Gambar 4.38 Konfigurasi PVST+ SW1.40-Mall SW1.40-MALL(config)#spanning-tree VLAN 40 priority Penjelasan : perintah untuk mengatur bridge priority pada switch 1 vlan 40 Mall Tower, disini penulis mengatur untuk bridge priority switch 1 vlan 40 pada Mall Tower. SW1.40-MALL (config)#spanning-tree VLAN 40 hello-time 2 Penjelasan : Hello time adalah waktu untuk mengirimkan BPDU (Bridge Protocol Data Unit), dimana hello-time 2 detik merupakan waktu yang standar untuk pengiriman BPDU. BPDU digunakan untuk menentukan jalan mana yang harus ditutup dan di-forward apabila terjadi perubahan struktur pada jaringan atau adanya redundant link. Juga

48 digunakan untuk menentukan switch mana yang pantas dijadikan ROOT. SW1.40-MALL (config)#spanning-tree VLAN 40 max-age 20 Penjelasan : Max Age mengontrol waktu maksimum suatu switch harus menunggu setelah menerima BPDU sebelum akhirnya switch itu mengubah suatu rules spanning-tree apabila terdeteksi terjadi suatu perubahan pada topologi jaringan. Disini diatur 20 detik karena merupakan default max-age dari Cisco. SW1.40-MALL (config)#spanning-tree VLAN 40 forward-time 15 Penjelasan : Forward Time (forward delay) adalah waktu yang diperlukan switch untuk berada pada Listening dan Learning state apabila menerima TCN (Topology Change Notification). Disini diatur 15 karena merupakan default forward-time dari Cisco. Setelah melakukan konfigurasi terhadap SW1.40-MALL, maka dapat dilakukan pengecekan terhadap PVST+ yang telah terpasang dengan melakukan konfigurasi SW1.40-MALL# show spanning-tree VLAN 40 brief seperti pada gambar 4.39 dibawah ini yang merupakan tampilan dimana switch pada SW1.40-MALL telah terpasang PVST+.

49 Gambar 4.39 Tampilan telah terpasang PVST+ Show pada vlan 40 switch 1 pada Mall Tower menunjukan Root ID Priority dengan Root ID Address untuk VLAN40 CC Dapat terlihat juga Spanning tree VLAN 40 Pada Switch 1 menjadi Root bridge karena memiliki Root Priority lebih rendah dibanding semua switch yang terkoneksi langsung dengan MEA, Hello time 2 detik dimana setiap 2 detik BPDU akan dikirimkan kesemua switch yang terkoneksi langsung melalui trunk 802.1q ke MEA. Max Age mengontrol waktu maksimum suatu switch harus menunggu setelah menerima BPDU sebelum akhirnya switch itu mengubah suatu rules spanning-tree apabila terdeteksi terjadi suatu perubahan pada topologi jaringan, Max Age 20 detik adalah waktu

50 maksimum suatu switch harus menunggu setelah menerima BPDU sebelum akhirnya switch itu mengubah suatu rules spanning-tree apabila terdeteksi terjadi suatu perubahan pada topologi jaringan. Aging time 300 disini maksudnya setelah 300 detik mac address yang terhubung akan dihapus dari mac-address table. Disini dapat lihat bahwa Fastethernet 0/0 memiliki interface priority 128, dengan interface port ID Dan juga memiliki interface cost 19, dimana cost disini menggambarkan bandwith jaringan yang dipakai, karena disini dipakai kabel Ethernet dengan BW 10/100Mbps. Interface Status FWD menjelaskan bahwa semua data yang melalui port itu akan di forwardatau diteruskan. Interface Designated Cost 0 menjelaskan bahwa MEA merupakan root bridge dari VLAN40 sehingga cost yang diperlukan tidak ada atau 0. Interface Designated Bridge ID merupakan mac address root bridge. Interface Designated Port ID menerangkan nomor port ID untuk interface designated bridge ID dengan mac address tersebut.

51 b. Menkonfigurasi PVST+ pada switch SW2.40-Mall Gambar 4.40 Konfigurasi PVST+ SW2.40-Mall Setelah melakukan konfigurasi terhadap SW2.40-MALL, maka dapat dilakukan pengecekan terhadap PVST+ yang telah terpasang dengan melakukan konfigurasi SW2.40-MALL# show spanning-tree VLAN 40 brief seperti pada gambar 4.41 dibawah ini yang merupakan tampilan dimana switch pada SW2.40- MALL telah terpasang PVST+. Gambar 4.41Tampilan telah terpasang PVST+

52 c. Menkonfigurasi PVST+ pada switch SW3.40-Mall Gambar 4.42 Konfigurasi PVST+ SW3.40-Mall Setelah melakukan konfigurasi terhadap SW3.40-MALL, maka dapat dilakukan pengecekan terhadap PVST+ yang telah terpasang dengan melakukan konfigurasi SW3.40-MALL#show spanning-tree VLAN 40 brief seperti pada gambar 4.43 dibawah ini yang merupakan tampilan dimana switch pada SW3.40- MALL telah terpasang PVST+. Gambar 4.43 Tampilan telah terpasang PVST+

53 4.2.5 Menkonfigurasi PVST+ pada switch MALL lantai 5 a. Menkonfigurasi PVST+ pada switch SW1.50-Mall Gambar 4.44 Konfigurasi PVST+ SW1.50-Mall SW1.50-MALL(config)#spanning-tree VLAN 50 priority Penjelasan : perintah untuk mengatur bridge priority pada switch 1 vlan 50 Mall Tower, disini diatur untuk bridge priority switch 1 vlan 50 pada Mall Tower. SW1.50-MALL (config)#spanning-tree VLAN 50 hello-time 2 Penjelasan : Hello time adalah waktu untuk mengirimkan BPDU (Bridge Protocol Data Unit), dimana hello-time 2 detik merupakan waktu yang standar untuk pengiriman BPDU. BPDU digunakan untuk menentukan jalan mana yang harus ditutup dan di-forward apabila terjadi perubahan struktur pada jaringan atauadanya redundant link. Juga

54 digunakan untuk menentukan switch mana yang pantas dijadikan Root. SW1.50-MALL (config)#spanning-tree VLAN 50 max-age 20 Penjelasan : Max Age mengontrol waktu maksimum suatu switch harus menunggu setelah menerima BPDU sebelum akhirnya switch itu mengubah suatu rules spanning-tree apabila terdeteksi terjadi suatu perubahan pada topologi jaringan. Disini diatur 20 detik karena merupakan default max-age dari Cisco. SW1.50-MALL (config)#spanning-tree VLAN 50 forward-time 15 Penjelasan : Forward Time (forward delay) adalah waktu yang diperlukan switch untuk berada pada Listening dan Learning state apabila menerima TCN (Topology Change Notification). Disini diatur 15 karena merupakan default forward-time dari Cisco. Setelah melakukan konfigurasi terhadap SW1.50-MALL, maka dapat dilakukan pengecekan terhadap PVST+ yang telah terpasang dengan melakukan konfigurasi SW1.50-MALL# show spanning-tree VLAN 50 brief seperti pada gambar 4.45 dibawah ini yang merupakan tampilan dimana switch pada SW1.50- MALL telah terpasang PVST+.

55 Gambar 4.45 Tampilan telah terpasang PVST+ Show pada vlan 50 switch 1 pada Mall Tower menunjukan Root ID Priority dengan Root ID Address untuk VLAN 50 CC Dapat terlihat juga Spanning tree VLAN 50 Pada Switch 1 menjadi Root bridge karena memiliki Root Priority lebih rendah dibanding semua switch yang terkoneksi langsung dengan MEA, Hello time 2 detik dimana setiap 2 detik BPDU akan dikirimkan kesemua switch yang terkoneksi langsung melalui trunk 802.1q ke MEA. Max Age mengontrol waktu maksimum suatu switch harus menunggu setelah menerima BPDU sebelum akhirnya switch itu mengubah suatu rules spanning-tree apabila terdeteksi terjadi suatu perubahan pada topologi jaringan, Max Age 20 detik adalah waktu maksimum suatu switch harus menunggu setelah menerima BPDU

56 sebelum akhirnya switch itu mengubah suatu rules spanning-tree apabila terdeteksi terjadi suatu perubahan pada topologi jaringan. Aging time 300 disini maksudnya setelah 300 detik mac address yang terhubung akan dihapus dari mac-address table. Disini dapat lihat bahwa Fastethernet 0/0 memiliki interface priority 128, dengan interface port ID Dan juga memiliki interface cost 19, dimana cost disini menggambarkan bandwith jaringan yang dipakai, karena disini dipakai kabel Ethernet dengan BW 10/100Mbps. Interface Status FWD menjelaskan bahwa semua data yang melalui port itu akan di-forward atau diteruskan. Interface Designated Cost 0 menjelaskan bahwa MEA merupakan root bridge dari VLAN40 sehingga cost yang diperlukan tidak ada atau 0. Interface Designated Bridge ID merupakan mac address root bridge. Interface Designated Port ID menerangkan nomor port ID untuk interface designated bridge ID dengan mac address tersebut.

57 b. Menkonfigurasi PVST+ pada switch SW2.50-Mall Gambar 4.46 Konfigurasi PVST+ SW2.50-Mall Setelah melakukan konfigurasi terhadap SW2.50-MALL, maka dapat dilakukan pengecekan terhadap PVST+ yang telah terpasang dengan melakukan konfigurasi SW2.50-MALL# show spanning-tree VLAN 50 brief seperti pada gambar 4.47 dibawah ini yang merupakan tampilan dimana switch pada SW1.50- MALL telah terpasang PVST+. Gambar 4.47 Tampilan telah terpasang PVST+

58 c. Menkonfigurasi PVST+ pada switch SW3.50-Mall Gambar 4.48 Konfigurasi PVST+ SW3.50-Mall Setelah melakukan konfigurasi terhadap SW3.50-MALL, maka dapat dilakukan pengecekan terhadap PVST+ yang telah terpasang dengan melakukan konfigurasi SW3.50-MALL# show spanning-tree VLAN 50 brief seperti pada gambar 4.49 dibawah ini yang merupakan tampilan dimana switch pada SW3.50- MALL telah terpasang PVST+. Gambar 4.49 Tampilan telah terpasang PVST+

59 4.2.6 Tahapan-Tahapan yang dilakukan untuk Implementasi Spanning Tree Protocol a. Memilih root bridge Bridge ID digunakan untuk memilih root bridge didalam domain STP dan juga menentukan root port. Priority default pada semua alat yang menjalankan STP versi IEEE adalah Untuk menentukan root bridge, priority dari setiap bridge dikombinasikan dengan alamat MAC.Jika dua switch atau bridge ternyata memiliki nilai priority yang sama, maka alamat MAC menjadi penilai untuk memutuskan siapa yang memiliki ID yang terendah (yang juga berarti terbaik). Caranya seperti ini jika dua switch yang akan dinamakan A dan B. Keduanya menggunakan priority default yang sama yaitu , maka alamat MAC digunakan untuk penentuan. Jika alamat MAC switch A adalah c dan alamat MAC switch B adalh c , maka switch A akan menjadi root bridge. BPDU secara default dikirimkan setiap 2 detik keluar dari semua port yang aktif pada sebuah bridge / switch dengan Bridge ID yang terendah dipilih sebagai root bridge, b. Designated bridge Suatu designated bridge adalah bridge-bridge lain yang berpartisipasi dalam meneruskan paket melalui jaringan. Mereka dipilih secara automatis dengan cara saling tukar paket konfigurasi

60 bridge. Untuk mencegah terjadinya bridging loop, hanya ada satu designated bridge per segmen jaringan c. Backup bridge Semua bridge redundansi dianggap sebagai backup bridge. Backup bridge mendengar traffic jaringan dan membangun database bridge. Akan tetapi mereka tidak meneruska paket. Backup bridge ini akan mengambil alih fungsi jika suatu root bridge atau designated bridge tidak berfungsi. Bridge mengirimkan paket khusus yang disebut Bridge Protocol Data Units (BPDU) keluar dari setiap port. BPDU ini dikirim dan diterima dari bridge lainnya digunakan untuk menentukan fungsifungsi bridge, melakukan verifikasi kalau bridge disekitarnya masih berfungsi, dan recovery jika terjadi perubahan topology jaringan. Perencanaan jaringan dengan bridge mengguanakan spanning tree protocol memerlukan perencanaan yang hati-hati. Suatu konfigurasi yang optimal menuntut pada aturan-aturan berikut ini: Setiap bridge sharusnya mempunyai backup (yaitu jalur redundansi antara setiap segmen). Paket-paket harus tidak boleh melewati lebih dari dua bridge antara segmen-segmen jaringan. Paket-paket seharusnya tidak melewati lebih dari tiga bridge setelah terjadi perubahan topology.

61 4.3 Evaluasi Setelah melakukan pemasangan PVST+ di jaringan Mall lantai 2 dan Mall lantai 5 pada simulasi jaringan Plaza Indonesia dengan menggunakan software simulasi GNS3 dan menggunakan wireshark untuk melakukan traffic monitoring terhadap jaringan Analisis Traffic Jaringan Dengan PVST+ 1. Analisis Traffic Jaringan Mall Lantai 2 Analisis traffic pada simulasi jaringan mall lantai 2, didapat gambar tampilan data sebagai berikut : Gambar 4.50 Simulasi traffic Broadcast saat ping di Mall lantai 2

62 Pada gambar 4.50 dapat dilihat bahwa setelah dilakukan pemasangan PVST+ pada jaringan mall lantai 2 dari IP Address ke IP Address , jaringan menjadi normal saat melakukan ping. Hal tersebut ditandai dengan paket yang dikirimkan dapat langsung terkirim menuju IP address tujuan. Gambar 4.51 Rekapitulasi simulasi traffic mall lantai 2

63 Pada gambar 4.51 dapat dilihat traffic yang terjadi saat paket dikirim dimana dalam rentang waktu 60 detik tanpa terjadi down atau jaringan error. Dimana jumlah paket yang terkirim sebanyak 242,00 paket. Sedangkan pada gambar rata-rata paket yang dikirim kurang lebih mencapai 3,82 paket/detik. 2. Analisis Traffic Jaringan Mall Lantai 5 Analisis traffic pada simulasi jaringan mall lantai 5, didapat gambar tampilan data sebagai berikut : Gambar 4.52 Simulasi traffic Broadcast saat ping di Mall lantai 5

64 Pada gambar 4.52 dapat dilihat bahwa setelah dilakukan pemasangan PVST+ pada jaringan mall lantai 5 dari IP Address ke IP Address , jaringan mall lantai 5 juga telah menjadi normal. Gambar 4.53 Rekapitulasi simulasi traffic mall lantai 5 Pada gambar 4.53 dapat dilihat trafik yang terjadi saat paket dikirim dimana dalam rentang waktu 60 detik tanpa terjadi down atau jaringan error. Dimana jumlah paket yang terkirim sebanyak 258,00 paket. Sedangkan pada gambar rata-rata paket yang dikirim kurang lebih mencapai 4,02 paket/detik.

65 4.3.2 Analisis Throughput Jaringan Dengan PVST+ 1. Analsis Throughput Jaringan Mall Lantai 2 Analisis Throughput pada simulasi jaringan mall lantai 2, didapat gambar tampilan data sebagai berikut : Gambar 4.54 Simulasi throughput One-directional test (client) Pada gambar 4.54 diatas Throughput yang didapatkan dalam rentang waktu 60 detik dengan mengirimkan packet TCP sebesar 90.4 Mbytes adalah sebesar 12.6 Mbits/sec. Gambar 4.55 Simulasi throughput Bi-directional test (client)

66 Berdasarkan gambar 4.55 diatas kita dapat melihat paket yang dikirimkan dalam rentang waktu 60 detik yang di kirim dari client ke server sebesar 73.7 Mbytes dengan throughput 10.3Mbits/sec. 2. Analsis Throughput Jaringan Mall Lantai 5 Analisis Throughput pada simulasi jaringan mall lantai 5, didapat gambar tampilan data sebagai berikut : Gambar 4.56 Simulasi throughput One-directional test (client) Pada gambar 4.56 diatas Throughput yang didapatkan dalam rentang waktu 60 detik dengan mengirimkan packet TCP sebesar 115 Mbytes adalah sebesar 16,0 Mbits/sec. Gambar 4.57 Simulasi throughput Bi-directional test (client)

67 Berdasarkan gambar 4.57 diatas kita dapat melihat paket yang dikirimkan dalam rentang waktu 60 detik yang di kirim dari client ke server sebesar 79,8 Mbytes dengan throughput 11,1 Mbits/sec Hasil Analisis Simulasi Jaringan Setelah Pemasangan PVST+ Dari hasil simulasi diatas maka akan dibandingkan dengan hasil simulasi saat terjadi broadcast storm atau sebelum di lakukan pemasangan PVST+ pada jaringan mall lantai 2 dan mall lantai 5. Perbandingan hasil summary terhadap jumlah paket, rata-rata paket dan throughput yang dikirim dalam waktu satu detik antara sebelum dan sesudah pemasangan dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini. Tabel 4.4 Perbandingan Hasil Simulasi Traffic Sebelum dan Sesudah Pemasangan PVST+ Sebelum pemasangan PVST+ Sesudah pemasangan PVST+ Jumlah Paket Paket/ detik Jumlah Paket Paket/ detik Mall lantai , ,70 242,00 3,82 Mall lantai , ,37 258,00 4,02

68 Tabel 4.5 Perbandingan Hasil Simulasi Throughput Sebelum dan Sesudah Pemasangan PVST+ Sebelum pemasangan PVST+ Sesudah pemasangan PVST+ One-Directional Bi- Directional One-Directional Bi- Directional Test (Client) Test (Client) Test (Client) Test (Client) Mall lantai 2 0 Mbit/s 0 Mbit/s 12,6 Mbits/s 10,3 Mbits/s Mall lantai 5 0 Mbit/s 0 Mbit/s 16,0 Mbits/s 11,1 Mbits/s Gambar 4.58 Grafik jumlah paket

69 Gambar 4.59 Grafik Paket per detik Pada tabel dan grafik diatas dapat dilihat bahwa telah terjadi penurunan jumlah paket pada mall lantai 2 dari yang sebelum pemasangan PVST+ sejumlah ,00 dan setelah pemasangan PVST+ sejumlah 242,00 paket. Sedangkan untuk rata-rata paket sebelum pemasangan PVST+ yaitu sejumlah 3624,70 paket/ detik dan setelah pemasangan PVST+ sejumlah 3,82 paket/detik. Untuk mall lantai 5 juga terjadi penurunan jumlah paketdari yang sebelum pemasangan PVST+ sejumlah ,00 dan setelah pemasangan PVST+ sejumlah 258,00 paket. Sedangkan untuk rata-rata paket sebelum

70 pemasangan PVST+ yaitu sejumlah 3958,37 paket/detik dan setelah pemasangan PVST+ sejumlah 4,02 paket/detik. Terjadinya penurunan pada parameter jumlah paket dan rata-rata paket pada kondisi antara sebelum pemasangan PVST+ dan setelah pemasangan PVST+ pada jaringan Mall lantai 2 dan Mall lantai 5, dikarenakan setelah pemasangan PVST+ paket yang dikirim dapat langsung menuju IP address tujuan sehingga tidak berputar-putar pada jaringan sehingga tidak terjadi duplikat paket yang menyebabkan paket menjadi banyak dan membuat jaringan down.

BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI. 4.1 Perancangan Jaringan Komputer dengan Menggunakan Routing Protokol OSPF dan GLBP

BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI. 4.1 Perancangan Jaringan Komputer dengan Menggunakan Routing Protokol OSPF dan GLBP BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI 4.1 Perancangan Jaringan Komputer dengan Menggunakan Routing Protokol OSPF dan GLBP Berdasarkan usulan pemecahan masalah yang telah diajukan, maka akan diaplikasikan teknologi

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Interface). Dengan mengunakan GNS3 kita dapat merancang dan. mengimplementasikan jaringan mendekati keadaan yang sebenarnya.

LAMPIRAN. Interface). Dengan mengunakan GNS3 kita dapat merancang dan. mengimplementasikan jaringan mendekati keadaan yang sebenarnya. L1 LAMPIRAN Instalasi Software GNS3 GNS3 merupakan software pemodelan yang berorientasi GUI (Graphical User Interface). Dengan mengunakan GNS3 kita dapat merancang dan mengimplementasikan jaringan mendekati

Lebih terperinci

Lab 1. VLAN (virtual LAN)

Lab 1. VLAN (virtual LAN) Lab 1. VLAN (virtual LAN) Digunakan untuk membuat segmentasi network Vlan 1 merupakan vlan default Masing-masing vlan memiliki alamat network sendiri-sendiri 1a. Network Topologi VLAN 10 VLAN 20 A C B

Lebih terperinci

Spanning-tree Protocol. Oleh : Akhmad Mukhammad

Spanning-tree Protocol. Oleh : Akhmad Mukhammad Spanning-tree Protocol Oleh : Akhmad Mukhammad Objektif Memahami pentingnya redundancy dalam network. Memahami bagaimana operasi STP dalam menghilangkan loop pada layer 2 dalam network. Memahami langkah-langkah

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUJIAN SISTEM. dengan menggunakan teknologi EoMPLS agak sulit dilakukan secara

BAB 4 PENGUJIAN SISTEM. dengan menggunakan teknologi EoMPLS agak sulit dilakukan secara BAB 4 PENGUJIAN SISTEM 4.1 Persiapan Simulasi Dikarenakan untuk mengimplementasikan sistem jaringan VPN dengan menggunakan teknologi EoMPLS agak sulit dilakukan secara langsung ke dalam sistem jaringan

Lebih terperinci

DISKRIPSI KERJA PRAKTIK. konfigurasi pada jaringan yang telah diterapkan. Topologi yang digunakan dalam

DISKRIPSI KERJA PRAKTIK. konfigurasi pada jaringan yang telah diterapkan. Topologi yang digunakan dalam BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTIK DISKRIPSI KERJA PRAKTIK Bab ini akan membahas tentang bagaimana proses instalasi dan konfigurasi pada jaringan yang telah diterapkan. Topologi yang digunakan dalam proses

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Bedasarkan hasil penelitian dan analisis terhadap jaringan komputer PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo terkait permasalahan yang dihadapi, maka usulan yang diajukan adalah perubahan

Lebih terperinci

1. Berapa nilai baud rate pada hyper terminal yang digunakan untuk console

1. Berapa nilai baud rate pada hyper terminal yang digunakan untuk console Lab 0. Pengenalan 1. Berapa nilai baud rate pada hyper terminal yang digunakan untuk console 2. Tipe atau seri berapa router/switch yang sedang anda setting [Router# show version] 3. Apa nama file IOS

Lebih terperinci

a. Local Area Network (LAN)

a. Local Area Network (LAN) Konfigurasi VLAN Untuk Instansi Pendidikan Perguruan Tinggi Ardhiyan Akhsa (15111113) Saat ini penggunaan teknologi jaringan komputer sebagai media komunikasi data semakin meningkat. Seiring dengan semakin

Lebih terperinci

Konsep Virtual LAN (VLAN)

Konsep Virtual LAN (VLAN) Konsep Virtual LAN (VLAN) Prinsip utama sebuah LAN adalah, semua device yang berada pada satu LAN berarti berada pada satu broadcast domain. Sebuah broadcast domain mencakup semua device yang terhubung

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perancangan Jaringan VLAN Berdasarkan analisis terhadap sistem jaringan yang sedang berjalan dan permasalahan jaringan yang sedang dihadapi oleh PT. Mitra Sejati Mulia Industri,

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI DAN ANALISA SPANNING TREE PROTOCOL PADA JARINGAN METRO ETHERNET

IMPLEMENTASI DAN ANALISA SPANNING TREE PROTOCOL PADA JARINGAN METRO ETHERNET IMPLEMENTASI DAN ANALISA SPANNING TREE PROTOCOL PADA JARINGAN METRO ETHERNET Bayu Fitrianto Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana, Jakarta [email protected] Dalam

Lebih terperinci

Gambar 1 Sebuah jaringan flat menggunakan 4 buah switch 1

Gambar 1 Sebuah jaringan flat menggunakan 4 buah switch 1 INTRODUCTION TO VIRTUAL LOCAL AREA NETWORK (VLAN) DAN HANDS-ON SIMULATION CONFIGURASI SWITCH MULTILAYER CISCO CATALYST 3550 A. Pengantar VLAN Salah satu permasalahan pada komponen jaringan yang hanya bekerja

Lebih terperinci

BAB IV DISKRIPSI KERJA PRAKTIK 4.1 LANGKAH-LANGKAH INSTALASI PACKET TRACER 6.2

BAB IV DISKRIPSI KERJA PRAKTIK 4.1 LANGKAH-LANGKAH INSTALASI PACKET TRACER 6.2 BAB IV DISKRIPSI KERJA PRAKTIK Bab ini membahas tentang proses instalasi dan konfigurasi jaringan yang telah dibuat. 4.1 LANGKAH-LANGKAH INSTALASI PACKET TRACER 6.2 1. Buka Installer Packet Tracer 6.2

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Analisis Sistem Analisis sistem merupakan suatu tahapan yang berusaha untuk menguraikan pembahasan pada penelitian yang akan dilakukan. Tahapan ini merupakan dasar

Lebih terperinci

Simulasi Jaringan dengan GNS3

Simulasi Jaringan dengan GNS3 Simulasi Jaringan dengan GNS3 Praktikum Jaringan Komputer Program Studi Teknik Elektro, Unsoed Iwan Setiawan Praktikum Jaringan Komputer Program Studi Teknik Elektro, Unsoed 1/30

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN

IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN BAB 5. IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN Dalam implementasi sistem jaringan ini akan menerapkan semua yang telah direncanakan dan didesain pada tahap sebelumnya yaitu tahap design dan simulasi. Untuk perangkat

Lebih terperinci

BAB 4 RANCANGAN IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. kami memilih untuk menerapkan static VLAN dibandingkan dynamic VLAN.

BAB 4 RANCANGAN IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. kami memilih untuk menerapkan static VLAN dibandingkan dynamic VLAN. BAB 4 RANCANGAN IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Pemilihan Jenis VLAN Setelah melihat kondisi jaringan di kantor pusat PT Lion Super Indo, maka kami memilih untuk menerapkan static VLAN dibandingkan dynamic

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Spesifikasi Sistem Berikut ini merupakan perangkat keras dan perangkat lunak yang dibutuhkan atau digunakandalam pembuatan rancangan jaringan yang diusulkan agar dapat berjalan.

Lebih terperinci

TUTORIAL CISCO PACKET TRACER 5

TUTORIAL CISCO PACKET TRACER 5 TUTORIAL CISCO PACKET TRACER 5 I. Pengantar Cisco Packet Tracer merupakan aplikasi yang dikembangkan oleh Cisco Company, bertujuan untuk melakukan simulasi jaringan komputer dan untuk melakukan monitoring

Lebih terperinci

Modul 2. Broadcast Storm

Modul 2. Broadcast Storm Modul 2 Spanning Tree Protocol Broadcast Storm Gambar 1. Broadcast Storm Sebuah kejadian yang tidak diinginkan pada network yang disebabkan oleh transmisi secara serentak dari sejumlah broadcast yang melalui

Lebih terperinci

TUTORIAL SOFTWARE SIMULASI JARINGAN KOMPUTER PACKET TRACER 5.0 (DILENGKAPI DENGAN CD PROGRAM DAN VIDEO TUTORIAL)

TUTORIAL SOFTWARE SIMULASI JARINGAN KOMPUTER PACKET TRACER 5.0 (DILENGKAPI DENGAN CD PROGRAM DAN VIDEO TUTORIAL) TUTORIAL SOFTWARE SIMULASI JARINGAN KOMPUTER PACKET TRACER 5.0 (DILENGKAPI DENGAN CD PROGRAM DAN VIDEO TUTORIAL) SEMESTER GENAP 2011/2012 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Lebih terperinci

BAB 5: LAYER 2 SWITCHING AND SPANNING TREE PROTOCOL (STP)

BAB 5: LAYER 2 SWITCHING AND SPANNING TREE PROTOCOL (STP) BAB 5: LAYER 2 SWITCHING AND SPANNING TREE PROTOCOL (STP) Reza Aditya Firdaus Cisco Certified Network Associate R&S Review Layer 2 Switching Tujuan penggunaan switching Memisahkan Collision Domain Cost-effective

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN BARU. masalah yang dihadapi pada jaringan yang sudah ada. Jaringan baru yang akan dibuat

BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN BARU. masalah yang dihadapi pada jaringan yang sudah ada. Jaringan baru yang akan dibuat BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN BARU Pada bab ini akan membahas tentang topologi baru sebagai solusi pemecahan masalah yang dihadapi pada jaringan yang sudah ada. Jaringan baru yang akan dibuat akan memanfaatkan

Lebih terperinci

MODUL VI. Praktikkum Switching Layer2 (VLAN, VTP, STP) Tujuan. 1. Mengetahui bagaimana konsep dan konfigurasi VLAN

MODUL VI. Praktikkum Switching Layer2 (VLAN, VTP, STP) Tujuan. 1. Mengetahui bagaimana konsep dan konfigurasi VLAN MODUL VI Praktikkum Switching Layer2 (VLAN, VTP, STP) Tujuan 1. Mengetahui bagaimana konsep dan konfigurasi VLAN 2. Mengetahui konfigurasi VLAN Trunking protocol (VTP) 3. Konfigurasi STP (Spanning Tree

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. dapat mengimplementasikan rancangan ini secara langsung, maka digunakan simulator

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. dapat mengimplementasikan rancangan ini secara langsung, maka digunakan simulator BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Dikarenakan biaya, waktu dan tempat yang tidak memungkinkan untuk dapat mengimplementasikan rancangan ini secara langsung, maka digunakan simulator untuk menjalankan rancangan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN MODEL SIMULASI

BAB III PERANCANGAN MODEL SIMULASI BAB III PERANCANGAN MODEL SIMULASI Pada Bab III akan dirancang suatu pemodelan sistem dimana metode pengamatan dibagi menjadi dua cara, yaitu dalam pencarian quality of service, yaitu delay, jitter, packetloss,

Lebih terperinci

khazanah Implementasi VLAN dan Spanning Tree Protocol Menggunakan GNS 3 dan Pengujian Sistem Keamanannya informatika

khazanah Implementasi VLAN dan Spanning Tree Protocol Menggunakan GNS 3 dan Pengujian Sistem Keamanannya informatika 64 khazanah informatika Jurnal Ilmu Komputer dan Informatika Implementasi VLAN dan Spanning Tree Protocol Menggunakan GNS 3 dan Pengujian Sistem Keamanannya Wahyu Saputra 1*, Fajar Suryawan 2 1 Program

Lebih terperinci

MODUL PRAKTIKUM 08 DYNAMIC ROUTING CISCO, WINDOWS

MODUL PRAKTIKUM 08 DYNAMIC ROUTING CISCO, WINDOWS MODUL PRAKTIKUM 08 DYNAMIC ROUTING CISCO, WINDOWS TUJUAN Setelah praktikum dilaksanakan, peserta praktikum diharapkan memiliki kemampuan 1. Melakukan konfigurasi RIP pada Cisco Router 2. Melakukan konfigurasi

Lebih terperinci

Prodi D3 Teknik Telekomunikasi 2014

Prodi D3 Teknik Telekomunikasi 2014 VIRTUAL LAN (VLAN) Prodi D3 Teknik Telekomunikasi 2014 SEMESTER 3 LAN Design Basic Switch Concepts Wireless VLANs STP VTP Inter-VLAN routing 22-Apr-14 Jaringan Komputer_D3 TT VLAN VLAN VLAN Manfaat VLAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM. jaringan. Topologi jaringan terdiri dari 3 client, 1 server, dan 2 router yang

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM. jaringan. Topologi jaringan terdiri dari 3 client, 1 server, dan 2 router yang BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Metode Penelitian Dalam sistem perancangan ini awal mula dibuat perancangan topologi jaringan. Topologi jaringan terdiri dari 3 client, 1 server, dan

Lebih terperinci

ANALISIS DAN PERANCANGAN JARINGAN IAIN LANGSA BERBASIS VLAN

ANALISIS DAN PERANCANGAN JARINGAN IAIN LANGSA BERBASIS VLAN ANALISIS DAN PERANCANGAN JARINGAN IAIN LANGSA BERBASIS VLAN Habibi Abdurrahman Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Zawiyah Cot Kala Langsa e-mail : [email protected] Abstrak Dengan berkembangnya teknologi

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perancangan Jaringan Baru Solusi untuk masalah yang ada pada jaringan yang lama yaitu tidak adanya kemampuan mobilitas pengguna jaringan dan kurang optimal karena belum menggunakan

Lebih terperinci

Spanning Tree Protocol

Spanning Tree Protocol Spanning Tree Protocol Candra Setiawan Program Studi Teknik Komputer, Jurusan Sistem Komputer Universitas Sriwijaya Email :[email protected] ABSTRAK Pada materi ini membahas tentang Spanning Tree Protocol

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI GNS3 CLUSTER SEBAGAI ALAT BANTU SIMULASI JARINGAN KOMPUTER (STUDI KASUS LABORATORIUM JARINGAN KOMPUTER FAKULTAS ILMU TERAPAN)

IMPLEMENTASI GNS3 CLUSTER SEBAGAI ALAT BANTU SIMULASI JARINGAN KOMPUTER (STUDI KASUS LABORATORIUM JARINGAN KOMPUTER FAKULTAS ILMU TERAPAN) IMPLEMENTASI GNS3 CLUSTER SEBAGAI ALAT BANTU SIMULASI JARINGAN KOMPUTER (STUDI KASUS LABORATORIUM JARINGAN KOMPUTER FAKULTAS ILMU TERAPAN) Yuni Twelefty 1, Tafta Zani 2, Muhammad Fahru Rizal 3 123 Program

Lebih terperinci

ANALISIS DAN PERANCANGAN JARINGAN MENGGUNAKAN HSRP DAN VLAN PADA PT. MICROREKSA INFONET

ANALISIS DAN PERANCANGAN JARINGAN MENGGUNAKAN HSRP DAN VLAN PADA PT. MICROREKSA INFONET ANALISIS DAN PERANCANGAN JARINGAN MENGGUNAKAN HSRP DAN VLAN PADA PT. MICROREKSA INFONET Nurdiansyah. Z Universitas Bina Nusantara, Jakarta, [email protected] Frans Effendi Universitas Bina Nusantara,

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN IM PLEMENTASI. terdapat jaringan komputer untuk memperlancar arus informasi di dalam

BAB 3 ANALISIS DAN IM PLEMENTASI. terdapat jaringan komputer untuk memperlancar arus informasi di dalam BAB 3 ANALISIS DAN IM PLEMENTASI 3.1 Umum Jaringan komputer bukanlah yang baru pada saat ini, hampir di setiap perusahaan terdapat jaringan komputer untuk memperlancar arus informasi di dalam perusahaan

Lebih terperinci

Spanning-Tree Protocol

Spanning-Tree Protocol Modul 26: Overview digunakan pada jaringan switch untuk menciptakan logical topology bebas looping dari physical topology yang memiliki looping. Spanning-Tree Protocol memberikan keamanan dari redundant

Lebih terperinci

Network Tech Support Switch Devices

Network Tech Support Switch Devices Modul 25: Overview Switch merupakan alat jaringan yang ada pada Lapisan 2 yang menjadi pusat koneksi seperti workstation, sever, router dan yang lainnya. Seperti halnya router, switch pun dapat dikonfigurasi

Lebih terperinci

Makalah Seminar Kerja Praktek IMPLEMENTASI TEKNOLOGI JARINGAN Virtual LAN (VLAN) PT. TELKOM DIVRE IV SEMARANG

Makalah Seminar Kerja Praktek IMPLEMENTASI TEKNOLOGI JARINGAN Virtual LAN (VLAN) PT. TELKOM DIVRE IV SEMARANG Makalah Seminar Kerja Praktek IMPLEMENTASI TEKNOLOGI JARINGAN Virtual LAN (VLAN) PT. TELKOM DIVRE IV SEMARANG Firdaus Aditya (L2F 007 031) Jurusan Teknik Elektro,Fakultas Teknik,Universitas Diponegoro,

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI. berjalan dan permasalahan yang dihadapi oleh PT. Intikom Berlian Mustika, maka

BAB 4 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI. berjalan dan permasalahan yang dihadapi oleh PT. Intikom Berlian Mustika, maka BAB 4 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI Berdasarkan penelitian dan analisis terhadap jaringan komputer yang sedang berjalan dan permasalahan yang dihadapi oleh PT. Intikom Berlian Mustika, maka usulan yang

Lebih terperinci

SIMULASI KONFIGURASI VLAN DENGAN MENGGUNAKAN CISCO PACKET TRACER 5.3

SIMULASI KONFIGURASI VLAN DENGAN MENGGUNAKAN CISCO PACKET TRACER 5.3 SIMULASI KONFIGURASI VLAN DENGAN MENGGUNAKAN CISCO PACKET TRACER 5.3 Latar Belakang Masalah pembuatan jaringan komputer di kantor kantor yang baru berdiri Dengan VLAN dapat mengkonfigurasikan beberapa

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Virtual Local Area Network (VLAN) 2.1.1 Pengertian VLAN Menurut Downes et al (1998, p801), Virtual LAN (VLAN) merupakan suatu kumpulan perangkat dalam Local Area Network (LAN)

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI

BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI 80 BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, solusi yang diberikan untuk menghadapi permasalahan yang sedang dihadapi oleh PT. Solusi Corporindo Teknologi adalah

Lebih terperinci

VIRTUAL LAN (VLAN) Irfan Akbar, site :

VIRTUAL LAN (VLAN) Irfan Akbar, site : VIRTUAL LAN (VLAN) Irfan Akbar, site : http://laluirfan.web.ugm.ac.id PENDAHULUAN Rancangan network pada masa kini sangat berbeda jauh dengan rancangan network dimasa lalu, rancangan network di masa lalu

Lebih terperinci

Spanning Tree Protocol sebagai Aplikasi Pohon Merentang

Spanning Tree Protocol sebagai Aplikasi Pohon Merentang Spanning Tree Protocol sebagai Aplikasi Pohon Merentang Muhammad Reza Mandala Putra 13509003 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI. 4.1 Perancangan Jaringan Komputer dengan Menggunakan Routing Protokol

BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI. 4.1 Perancangan Jaringan Komputer dengan Menggunakan Routing Protokol BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI 4.1 Perancangan Jaringan Komputer dengan Menggunakan Routing Protokol OSPF Berdasarkan usulan pemecahan masalah yang telah diajukan, akan dibuat jaringan yang terintegrasi

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN. PT.Adicipta Innovations Technology, maka solusi yang diajukan untuk

BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN. PT.Adicipta Innovations Technology, maka solusi yang diajukan untuk BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN 4.1 Perancangan Jaringan VLAN Berdasarkan data yang telah didapat dan penelitian yang dilakukan pada PT.Adicipta Innovations Technology, maka solusi yang diajukan untuk perusahaan

Lebih terperinci

PERANCANGAN JARINGAN KOMPUTER PADA HANGGAR 4 PT GARUDA MAINTENANCE FACILITY

PERANCANGAN JARINGAN KOMPUTER PADA HANGGAR 4 PT GARUDA MAINTENANCE FACILITY PERANCANGAN JARINGAN KOMPUTER PADA HANGGAR 4 PT GARUDA MAINTENANCE FACILITY Dicky Muhammad Rahardianto Tripradipta Muhammad Fachry Rudi Tjiptadi Dipl.Ing Universitas Bina Nusantara ABSTRAK Tujuan dari

Lebih terperinci

Network Tech Support Virtual LAN [VLAN]

Network Tech Support Virtual LAN [VLAN] Modul 27: Overview VLAN adalah suatu kelompok logic atau pemakai. Para pemakai atau alat ini dapat di kelompokkan menurut fungsi, departemen, disamping penempatan phisik segmen LAN. Pada VLAN, peralatan

Lebih terperinci

Rancang Bangun VLAN untuk Segmentasi Jaringan pada Cyber Campus Laboratory Universitas Stikubank

Rancang Bangun VLAN untuk Segmentasi Jaringan pada Cyber Campus Laboratory Universitas Stikubank Rancang Bangun VLAN untuk Segmentasi Jaringan pada Cyber Campus Laboratory Universitas Stikubank Felix Andreas Sutanto, Heribertus Yulianton dan Jeffri Alfa Razaq Fakultas Teknologi Informasi, Universitas

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN. jaringan baru yang dapat mendukung infrastruktur yang ada. Pengamatan yang

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN. jaringan baru yang dapat mendukung infrastruktur yang ada. Pengamatan yang BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN 4.1 Analisis Jaringan Komputer Analisis ini dilakukan untuk menjawab perlu tidaknya perancangan jaringan baru yang dapat mendukung infrastruktur yang ada. Pengamatan yang

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI Rancangan jaringan lokal pada PT. Yamatogomu Indonesia

BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI Rancangan jaringan lokal pada PT. Yamatogomu Indonesia BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI 4.1. Rancangan jaringan lokal pada PT. Yamatogomu Indonesia Gambar 4.1. Rancangan jaringan lokal PT. Yamatogomu Indonesia Berikut adalah alasan penggunaan topologi tersebut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Topologi Jaringan Topologi adalah suatu cara menghubungkan komputer satu dengan komputer yang lainnya maupun perangkat sehingga membentuk sebuah jaringan dan dapat berkomunikasi

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Spesifikasi sistem Dalam membangun jaringan pada PT. BERKAH KARYA MANDIRI dibutuhkan beberapa pendukung baik perangkat keras maupun perangkat lunak. 4.1.1 Spesifikasi

Lebih terperinci

1 IDN Networking Competition Soal Superlab Cisco IDN Competition 2017

1 IDN Networking Competition Soal Superlab Cisco IDN Competition 2017 1 IDN Networking Competition 2017 www.idn.id Soal Superlab Cisco IDN Competition 2017 Topology A. Physical Topologi 2 IDN Networking Competition 2017 www.idn.id 2. Logical Topologi ISP1 ISP2 ISP3 ISP3

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI Proses perancangan dan implementasi Host Stanby Router Protocol dan Gateway Load Balancing Protocol pada layanan VoIP ini akan lebih mudah dikerjakan jika dituangkan

Lebih terperinci

PERANCANGAN SISTEM Perancangan Topologi Jaringan Komputer VPN bebasis L2TP dan IPSec

PERANCANGAN SISTEM Perancangan Topologi Jaringan Komputer VPN bebasis L2TP dan IPSec BAB 4. PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan menjelaskan tahap perancangan sistem Virtual Private Network (VPN) site-to-site berbasis L2TP ( Layer 2 Tunneling Protocol) dan IPSec (Internet Protocol Security),

Lebih terperinci

PENGENALAN VLAN 1. Pengertian VLAN 2. Access Port 3. VLAN Trunking 4. Default VLAN 5. Keuntungan VLAN

PENGENALAN VLAN 1. Pengertian VLAN 2. Access Port 3. VLAN Trunking 4. Default VLAN 5. Keuntungan VLAN PENGENALAN VLAN 1. Pengertian VLAN Prinsip kerja sebuah jaringan LAN (Local Area Network) adalah, semua device yang berada pada satu LAN berarti berada pada satu broadcast domain. Sebuah broadcast domain

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa teori khusus yang digunakan untuk melengkapi tinjauan pustaka adalah teori VLAN, VTP dan RSTP.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa teori khusus yang digunakan untuk melengkapi tinjauan pustaka adalah teori VLAN, VTP dan RSTP. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Khusus Beberapa teori khusus yang digunakan untuk melengkapi tinjauan pustaka adalah teori VLAN, VTP dan RSTP. 2.1.1 Virtual Local Area Network (VLAN) Menurut Stephen McQuerry,

Lebih terperinci

TIPE TIPE VLAN Keanggotaan dalam suatu VLAN dapat di klasifikasikan berdasarkan port yang di gunakan, MAC address, tipe protokol.

TIPE TIPE VLAN Keanggotaan dalam suatu VLAN dapat di klasifikasikan berdasarkan port yang di gunakan, MAC address, tipe protokol. Nama : Meggy Mahares Sukran NIM : 15111110 Prodi : Teknik Informatika CARA KERJA VIRTUAL LAN VLAN diklasifikasikan berdasarkan metode (tipe) yang digunakan untuk mengklasifikasikannya, baik menggunakan

Lebih terperinci

TOPOLOGI DAN IMPLEMENTASI VLAN DENGAN CISCO SWITCH 3750

TOPOLOGI DAN IMPLEMENTASI VLAN DENGAN CISCO SWITCH 3750 TOPOLOGI DAN IMPLEMENTASI VLAN DENGAN CISCO SWITCH 3750 Oleh : Muhammad Fadlan (14111011) Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Informasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta 1. Pendahuluan Jaringan

Lebih terperinci

MODUL III Membuat Server HTTP Pada Jaringan

MODUL III Membuat Server HTTP Pada Jaringan MODUL III Membuat Server HTTP Pada Jaringan PERSIAPAN Persiapan simulasi server HTTP dalam contoh ini adalah dengan menggunakan 1 buah workstation dan 1 server yang terhubung langsung dengan kabel --tipe

Lebih terperinci

BAB IV DISKRIPSI KERJA PRAKTIK 4.1 INSTALASI DAN PENGGUNAAN PACKET TRACER Buka Installer Packet Tracer 6.2 kemudian akan muncul gambar seperti

BAB IV DISKRIPSI KERJA PRAKTIK 4.1 INSTALASI DAN PENGGUNAAN PACKET TRACER Buka Installer Packet Tracer 6.2 kemudian akan muncul gambar seperti BAB IV DISKRIPSI KERJA PRAKTIK telah dibuat. Bab ini membahas tentang proses instalasi dan konfigurasi jaringan yang 4.1 INSTALASI DAN PENGGUNAAN PACKET TRACER 6.2 1. Buka Installer Packet Tracer 6.2 kemudian

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Packet Tracer adalah sebuah perangkat lunak (software) simulasi jaringan

BAB III LANDASAN TEORI. Packet Tracer adalah sebuah perangkat lunak (software) simulasi jaringan BAB III LANDASAN TEORI Pada bab tiga penulis menjelaskan tentang teori penunjang kerja praktik yang telah di kerjakan. 3.1 PACKET TRACER Packet Tracer adalah sebuah perangkat lunak (software) simulasi

Lebih terperinci

hanya penggunakan IP saja yang berbeda. Berikut adalah cara menghubungkan station 2. Tentukan interface yang akan difungsikan sebagai station

hanya penggunakan IP saja yang berbeda. Berikut adalah cara menghubungkan station 2. Tentukan interface yang akan difungsikan sebagai station 92 Agar antar gedung dapat terhubung dengan jaringan yang ada menggunakan wireless, maka mikrotik di setiap gedung harus difungsikan sebagai station. Seperti yang kita katakan di atas, bahwa semua gedung

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN SIMULASI

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN SIMULASI 41 BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN SIMULASI 4.1 KONFIGURASI CORE NETWORK GPON USING MSTP Pada konfigurasi core network GPON pada jalur mainlink yaitu OLT Graha to OLT Cervino dan jalur mainlink OLT Graha

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM IV MANAGEMENT INTERNETWORKING & ROUTER ROUTING ROUTING DINAMIS. Disusun oleh: Oktavia Indriani IK 3B

LAPORAN PRAKTIKUM IV MANAGEMENT INTERNETWORKING & ROUTER ROUTING ROUTING DINAMIS. Disusun oleh: Oktavia Indriani IK 3B LAPORAN PRAKTIKUM IV MANAGEMENT INTERNETWORKING & ROUTER ROUTING ROUTING DINAMIS Disusun oleh: Oktavia Indriani IK 3B 3.34.13.1.13 PROGAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknologi yang kita usulkan kepada PT.XYZ adalah : 1. Switch 2911 Integrated Services Router

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknologi yang kita usulkan kepada PT.XYZ adalah : 1. Switch 2911 Integrated Services Router BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Techonology Teknologi yang kita usulkan kepada PT.XYZ adalah : 1. Switch 2911 Integrated Services Router Spesifikasi : a. Memiliki 3 integrated 10/100/1000 port Ethernet

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Spesifikasi Sistem Untuk dapat melakukan implementasi maka diperlukan perangkat Hardware dan Software yang digunakan. Hardware - Router Wifi Mikrotik RB951 - Modem ISP Utama

Lebih terperinci

Simulasi Jaringan dengan GNS3

Simulasi Jaringan dengan GNS3 Simulasi Jaringan dengan GNS3 Praktikum Jaringan Komputer Jurusan Teknik Elektro, Unsoed Iwan Setiawan Praktikum Jaringan Komputer Jurusan Teknik Elektro, Unsoed 1/28 Tujuan Praktikum

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Spesifikasi Sistem Setelah melakukan perancangan topologi dan perangkat sistem yang akan digunakan pada bab sebelumnya, maka langkah selanjutnya adalah melakukan implementasi

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN UJI COBA

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN UJI COBA BAB 4 IMPLEMENTASI DAN UJI COBA 4.1 Pengenalan Software Sebelum Simulasi 4.1.1 Packet Tracer Uji coba dan simulasi dilakukan dengan menggunakan Packet Tracer v5.3.3. Berikut ini merupakan tampilan awal

Lebih terperinci

BAB 4. PERANCANGAN Pada bab ini akan menjelaskan tahap perancangan, simulasi dan uji coba pertama bagaimana fitur Hot Standby Router Protocol pada router Cisco dalam menjaga avaibility jaringan komputer

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. dicantumkan dan digunakan sebagai referensi penelitian. Berdasarkan penilitian buku Tanenbaum (2003,h37), Open Systems

BAB 2 LANDASAN TEORI. dicantumkan dan digunakan sebagai referensi penelitian. Berdasarkan penilitian buku Tanenbaum (2003,h37), Open Systems BAB 2 LANDASAN TEORI Untuk mendukung pengertian pembaca, teori-teori dasar dari jaringan juga dicantumkan dan digunakan sebagai referensi penelitian. 2.1. OSI Model Berdasarkan penilitian buku Tanenbaum

Lebih terperinci

Modul 4 Koneksi ke Router Lain

Modul 4 Koneksi ke Router Lain Modul 4 Koneksi ke Router Lain Pendahuluan Cisco Discovery Protocol (CDP) adalah tool yang berguna untuk mengatasi incomplete atau inaccurate network. CDP adalah media dan protocol independent, CDP hanya

Lebih terperinci

/28

/28 82 9. 192.168.1.208 192.168.1.223/28 Gambar 4.29 Konfigurasi IP EDP Setelah konfigurasi jaringan kabel yang menggunakan IP static di mikrotik, Lakukan konfigurasi VLAN di switch cisco 2950. Hal ini diharapkan

Lebih terperinci

PETUNJUK PELAKSANAAN PRAKTIKUM ET3100 PRAKTIKUM TEKNIK TELEKOMUNIKASI 3: JARINGAN KOMPUTER

PETUNJUK PELAKSANAAN PRAKTIKUM ET3100 PRAKTIKUM TEKNIK TELEKOMUNIKASI 3: JARINGAN KOMPUTER PETUNJUK PELAKSANAAN PRAKTIKUM ET3100 PRAKTIKUM TEKNIK TELEKOMUNIKASI 3: JARINGAN KOMPUTER LABORATORIUM TELEMATIKA PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI SEKOLAH TEKNIK ELEKTRO DAN INFORMATIKA INSTITUT TEKNOLOGI

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI VLAN DAN SPANNING TREE PROTOCOL MENGGUNAKAN GNS 3 DAN PENGUJIAN SISTEM KEAMANANNYA

IMPLEMENTASI VLAN DAN SPANNING TREE PROTOCOL MENGGUNAKAN GNS 3 DAN PENGUJIAN SISTEM KEAMANANNYA IMPLEMENTASI VLAN DAN SPANNING TREE PROTOCOL MENGGUNAKAN GNS 3 DAN PENGUJIAN SISTEM KEAMANANNYA PUBLIKASI ILMIAH Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Informatika

Lebih terperinci

2. Cost reduction penghematan dari penggunaan bandwidth yang ada dan dari upgrade perluasan network yang bisa jadi mahal.

2. Cost reduction penghematan dari penggunaan bandwidth yang ada dan dari upgrade perluasan network yang bisa jadi mahal. VLAN merupakan sebuah perangkat device virtual managemen (Software) yang perlu di konfigurasi secara logikal, sehingga bisa saling berkomunikasi sesuai dengan Group VLAN dan pada sub Network yang sama

Lebih terperinci

MODUL PRAKTIKUM. (Mengkonfigurasi Router dengan Metode Static Routing) Disusun Oleh : Yudi Firman Santosa, ST. Static Routing

MODUL PRAKTIKUM. (Mengkonfigurasi Router dengan Metode Static Routing) Disusun Oleh : Yudi Firman Santosa, ST. Static Routing MODUL PRAKTIKUM (Mengkonfigurasi Router dengan Metode Static Routing) Disusun Oleh : Yudi Firman Santosa, ST Singkawang, Pebruari 2014 0 P a g e A. Peralatan yang digunakan : 1. 1 Unit PC/Laptop dan system

Lebih terperinci

KATA Halaman 1 dari 12

KATA Halaman 1 dari 12 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan kemudahan dalam menyelesaikan segala tantangan sehingga penulis dapat menyelesaikan buku Roadmap Sukses Sertifikasi CCNA

Lebih terperinci

Virtual LAN. Isbat Uzzin N Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ITS, Surabaya

Virtual LAN. Isbat Uzzin N Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ITS, Surabaya VLAN Virtual LAN Isbat Uzzin N Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ITS, Surabaya 1 Definisi i i VLAN Pemisahan jaringan secara logis yang dilakukan pada switch Pada tradisional switch, dalam satu switch

Lebih terperinci

Tugas Jaringan Komputer. Memahami Konsep VLAN Pada Cisco Switch

Tugas Jaringan Komputer. Memahami Konsep VLAN Pada Cisco Switch Nama : Muhammad Satrio Pinandito NIM : 14111045 Pengertian Tugas Jaringan Komputer Memahami Konsep VLAN Pada Cisco Switch Virtual LAN (VLAN) merupakan pengembangan dari konsep dasar LAN, sehingga penerapan

Lebih terperinci

Implementasi Virtual LAN pada Gedung MPC Jakarta PT. Pos Indonesia (Persero)

Implementasi Virtual LAN pada Gedung MPC Jakarta PT. Pos Indonesia (Persero) Implementasi Virtual LAN pada Gedung MPC Jakarta PT. Pos Indonesia (Persero) Teguh Putra Ning 1, Ade Surya Budiman 2 1 Program Studi Teknik Komputer/AMIK BSI Jakarta e-mail: [email protected] 21

Lebih terperinci

PEMASANGAN VLAN PADA 10 KAMAR KOS

PEMASANGAN VLAN PADA 10 KAMAR KOS PEMASANGAN VLAN PADA 10 KAMAR KOS Disini saya akan mencoba membahas pemasangan jaringan VLAN, saya akan membuat mode TRUNK dari VLAN dengan menggunakan ROUTER agar kedua kita gunakan dalam dapat saling

Lebih terperinci

KONFIGURASI CISCO ROUTER

KONFIGURASI CISCO ROUTER KONFIGURASI CISCO ROUTER Router bertugas untuk menyampaikan paket data dari satu jaringan ke jaringan lainnya, jaringan pengirim hanya tahu bahwa tujuan jauh dari router. Dan routerlah yang mengatur mekanisme

Lebih terperinci

Lisensi Dokumen: Didin Nizarul Fuadin Latar Belakang dan Tujuan

Lisensi Dokumen: Didin Nizarul Fuadin Latar Belakang dan Tujuan Virtual Lab Cisco IOS XR dengan GNS3 dan VirtualBox Didin Nizarul Fuadin [email protected] Lisensi Dokumen: Copyright 2003-2014 IlmuKomputer.Com Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan, dimodifikasi

Lebih terperinci

KONFIGURASI JARINGAN KOMPUTER dan Pengenalan Packet Tracer

KONFIGURASI JARINGAN KOMPUTER dan Pengenalan Packet Tracer 2 KONFIGURASI JARINGAN KOMPUTER dan Pengenalan Packet Tracer Modul ini berisi cara konfigurasi perangkat yang digunakan dalam jaringan komputer. Contoh sederhana membangun jaringan komputer menggunakan

Lebih terperinci

BAB II ANALISIS DAN PERANCANGAN. penggunaan bandwidth. Solusi yang sering dilakukan adalah

BAB II ANALISIS DAN PERANCANGAN. penggunaan bandwidth. Solusi yang sering dilakukan adalah BAB II ANALISIS DAN PERANCANGAN 2.1 Analisis Kebutuhan Sering kali permasalahan dalam sebuah jaringan computer adalah proses pengiriman data lambat, rusak, dan tidak sampai ke tujuan. Permasalahan muncul

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Usulan Perancangan Untuk koneksi jaringan data center dari San Jose dan Freemont, penulis mengusulkan membuat suatu jaringan berbasis VPN-MPLS. Dengan perancangan jaringan

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN DAN EVALUASI. penulis memilih untuk merancang topologi jaringan yang baru dengan

BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN DAN EVALUASI. penulis memilih untuk merancang topologi jaringan yang baru dengan 115 BAB 4 PERANCANGAN JARINGAN DAN EVALUASI 4.1 Perancangan Jaringan Sesuai dengan alternatif pemecahan masalah yang telah diusulkan, maka penulis memilih untuk merancang topologi jaringan yang baru dengan

Lebih terperinci

SIMULASI ROUTING PROTOKOL BERBASIS DISTANCE VECTOR MENGGUNAKAN GNS3 VERSI 0.8.

SIMULASI ROUTING PROTOKOL BERBASIS DISTANCE VECTOR MENGGUNAKAN GNS3 VERSI 0.8. SIMULASI ROUTING PROTOKOL BERBASIS DISTANCE VECTOR MENGGUNAKAN GNS3 VERSI 0.8. Ade Nurhayati & Adam Pangestu Akademi Teknik Telekomunikasi Sandhy Putra Jakarta Jalan Daan Mogot KM 11 Jakarta Barat 11710

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 PERALATAN YANG DIBUTUHKAN Pada tahap ini dilakukan implementasi sistem yang meliputi spesifikasi sistem untuk perangkat keras dan perangkat lunak pada sistem jaringan

Lebih terperinci

Gambar 4.1 Cisco Catalyst TC 24 Port

Gambar 4.1 Cisco Catalyst TC 24 Port BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Spesifikasi Jaringan Topologi rancangan jaringan yang baru membutuhkan 2 buah switch dan 1 buah router Cisco diantaranya, yaitu: Cisco Catalyst 2960-24TC 24 port 10/100 Gambar

Lebih terperinci

AKHMAD FAJRI YUDIHARTO( ) Tugas 3. Vlan Menggunakan 2 Switch

AKHMAD FAJRI YUDIHARTO( ) Tugas 3. Vlan Menggunakan 2 Switch Tugas 3 Vlan Menggunakan 2 Switch Pada topologi di atas menggunakan 2 vlan, dimana vlan 10 pada jaringan 192.168.10.0/24 dan vlan 90 pada jaringan 192.168.90.0/24. Konfigurasi pada switch0 Switch>enable

Lebih terperinci

Konfigurasi VLAN pada FreeBSD 6.0 dan Cisco Catalyst 2950

Konfigurasi VLAN pada FreeBSD 6.0 dan Cisco Catalyst 2950 Konfigurasi VLAN pada FreeBSD 6.0 dan Cisco Catalyst 2950 Ricki Zurwindar Universitas YARSI Copyright 2007 VLAN adalah sebuah logical group dari stasiun jaringan, service, dan tidak

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN 4.1. Rancangan Topologi 4.1.1. Topologi Jaringan Pada Bagian Umum dan Pengadaan Sekretariat Daerah Kabupaten Musi Banyuasin Desain topologi jaringan komputer yang digunakan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. B. Pengenalan Cisco Router

METODE PENELITIAN. B. Pengenalan Cisco Router PENDAHULUAN Di suatu instansi atau perusahaan pastinya banyak sekelompok orang yang menghendaki pengambilan data secara illegal ataupun perusakan jaringan pada perusahaan tertentu. Oleh karena itu dibutuhkan

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN DAN UJI COBA. untuk menghadapi permasalahan yang ada pada jaringan BPPT adalah dengan

BAB 4 PERANCANGAN DAN UJI COBA. untuk menghadapi permasalahan yang ada pada jaringan BPPT adalah dengan BAB 4 PERANCANGAN DAN UJI COBA 4.1 Perancangan Prototype Jaringan Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumya, solusi yang diberikan untuk menghadapi permasalahan yang ada pada jaringan BPPT adalah

Lebih terperinci