II. TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Inge Jayadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendekatan Dinamika Sistem Menurut Eriyatno (1999) sistem adalah totalitas himpunan hubungan yang mempunyai struktur dalam nilai posisional serta matra dimensional terutama dimensi ruang dan waktu. Sistem dapat sebagai suatu koleksi yang terisolir dari komponen-komponen yang berinteraksi. Elemen-elemen sistem dapat berupa benda, fakta, metode, prosedur kebijakan, bagian organisasi dan lain lain. Hubungan antar sistem dapat berupa transaksi, interaksi, transmisi, koreksi kaitan, hubungan dan lain-lain. Dalam sistem terdapat proses transformasi yang mengolah input menjadi output sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai (Didu, 1999). Terdapat 3 (tiga) pola pikir yang menjadi pegangan pokok oleh para ahli sistem dalam menganalisisi permasalahan yaitu (1) sibernetik (cybernetic), yaitu berorientasi pada tujuan, (2) holistik (holistic), yaitu cara pandang yang utuh terhadap keputusan sistem dan (3) efektif (effectiveness), yaitu prinsip yang lebih mementingkan hasil guna yang operasional serta dapat dilaksanakan dari pada pendalaman teoritis untuk mencapai efisiensi keputusan. Para ahli memberikan batasan permasalahan yang sebaiknya dalam pendekatan sistem dalam pengkajiaannya, yaitu permasalahan yang memenuhi karakteristik (1) kompleks, (2) dinamis dan (3) probabilistik (Eriyatno, 1999). Dinamika sistem adalah studi mengenai perubahan sistem menurut waktu dengan memperhatikan faktor umpan balik (Purnomo, 2004). Dinamika sistem adalah metode menganalisa masalah yang mana waktu adalah suatu faktor penting (Ford, 1999). Dinamika sistem adalah metodologi yang dapat digunakan untuk memahami suatu permasalahan yang rumit dan kompleks. Model dinamika sistem akan melibatkan input dan output yang memiliki hubungan diantara bagian-bagian sistem dan model. Masalah-masalah yang akan dibuat model dinamika sistem harus memiliki sedikitnya 2 (dua) ciri utama yaitu (1) bersifat dinamis, meliputi kuantitas yang berubah menurut waktu yang dapat digambarkan dalam bentuk grafik perubahan menurut waktu, (2) pemikiran mengenai umpan balik karena semua sistem pada dasarnya mempunyai sistem umpan balik.
2 7 Ekosistem hutan adalah suatu sistem yang kompleks yang terdiri dari berbagai interaksi komponen, dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, maka analisis sistem merupakan metode khusus yang dapat diterapkan dalam ekosistem hutan. Dalam analisis sistem, sistem alam nyata ditranslasikan ke dalam model matematika kuantitatif. Berdasarkan kompleksitas dari sistem, sistem dapat dibagi dalam 2 (dua) atau lebih subsistem (Soeryanegara, 1995) Tegakan dan Struktur Tegakan Buongiorno dan Gilless (1987) mendefenisikan tegakan (stand) sebagai luasan yang cukup kecil ditebang dalam periode waktu yang singkat, misalnya satu tahun. Tegakan dapat berupa seluruh areal hutan atau bagian dari areal hutan yang luas, dikelola dengan siklus tebang tertentu. Sedangkan menurut Suhendang (1993), dipandang dari kepentingan manajemen hutan, tegakan merupakan suatu hamparan lahan hutan secara geografis terpusat dan memiliki ciri-ciri kombinasi dari sifat vegetasi (komposisi jenis, pola pertumbuhan, kualitas pertumbuhan), sifat fisik (bentuk lapangan, memiliki luasan minimal tertentu sebagaimana yang disyaratkan). Struktur tegakan adalah penyebaran fisik dan temporal dari pohon-pohon dalam tegakan yang penyebarannya tersebut berdasarkan jenis, pola penyebaran vertikal atau horizontal, ukuran pohon atau pohon termasuk volume tajuk, indeks luas daun, batang, penampang lintang batang, umur pohon atau kombinasinya (Oliver & Larson, 1990). Struktur tegakan dapat dibedakan atas struktur tegakan vertikal, struktur tegakan horizontal dan struktur tegakan spasial. Menurut Richard (1964) struktur tegakan vertikal adalah sebaran individu pohon dalam berbagai lapisan tajuk. Sedangkan struktur tegakan horizontal didefenisikan sebagai banyaknya pohon per satuan luas pada setiap kelas diameternya (Davis et al., 2001). Bentuk struktur tegakan horizontal hutan alam pada umumnya mengikuti persamaan eksponensial negatif atau bentuk huruf J-terbalik. Akan tetapi struktur tegakan hutan alam tidak selamanya mengikuti bentuk J-terbalik (Davis et al., 2001). Hasil penelitian di Hutan Alam Hujan Tropis di Imataca, mendapatkan fakta bahwa struktur tegakan untuk semua jenis mengikuti bentuk J-terbalik,
3 8 tetapi apabila dibuat untuk setiap jenisnya maka bentuk struktur tegakannya beragam, sesuai dengan sifat toleransinya terhadap naungan. Untuk pertimbangan faktor ekonomi, struktur tegakan dapat menunjukkan potensi tegakan minimal yang harus tersedia, sedangkan untuk pertimbangan ekologis dari struktur tegakan akan diperoleh gambaran mengenai kemampuan regenerasi dari tegakan yang bersangkutan (Suhendang, 1993). Prodan (1965) dalam Appanah et al., (1990) menyusun struktur tegakan dengan bentuk kurva yang menyerupai bentuk J-terbalik dengan model N=N 0 e -kd dimana N = kerapatan pohon per satuan luas, D = diameter pohon dan N 0 dan K = Parameter. Penelitian Suhendang (1985) pada hutan alam hujan tropis dataran rendah di Bengkunat, Lampung, menyajikan bentuk sruktur tegakan dalam model fungsi kepekaan peubah acak kontinyu, yaitu berdasarkan sebaran gamma, log normal, eksponensial negatif dan Weibull. Lebih jauh diungkapkan bahwa penggunaan model fungsi kepekatan untuk menyusun struktur untuk tegakan selain keterandalan yang cukup tinggi juga akan lebih memudahkan dalam penggunaannya. Hasil penelitian Suhendang (1995) di Provinsi Riau mendapatkan fakta bahwa model struktur tegakan N=N 0 e -kd dapat diterima oleh semua petak percobaan, dicirikan oleh besarnya koefisien determinasi yang diperoleh (R 2 berkisar antara 73 % sampai 89 %). Utomo (1997) dan Herwinda (1997) telah menerapkan model struktur tegakan N=N 0 e -kd di HPH PT. Siak Raya Timber Riau. Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua Petak Percobaan Permanen (PPP) dengan luas masing-masing 1 (satu) Ha. Penelitian pertama menerapkan metode tersebut untuk kelompok jenis komersil, sedang yang kedua untuk semua jenis pohon. Besarnya nilai R 2 yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah 92,04 % sampai 97,8 %. Model struktur tegakan N=N 0 e -kd yang dibentuk oleh Rosmantika (1997) pada hutan alam bekas tebangan di Stagen Pulau Laut Kalimantan Selatan dengan nilai R 2 yang diperoleh sebesar 66 % sampai 99,3 %. Krisnawati (2001) dalam penelitiannya di Kalimantan Tengah mendapatkan model struktur tegakan N=N 0 e -kd yang mengikuti bentuk J-terbalik dapat diterima oleh semua kelompok jenis pada setiap areal pengamatan dengan besarnya nilai R 2 yang diperoleh sebesar 87,0 % sampai 98,8 % untuk kelompok jenis
4 9 Dipterocarpaceae, 98,9 % sampai 99,6 % untuk kelompok jenis non Dipterocarpaceae, dan 98,6 % sampai 99,9 % untuk kelompok jenis non komersil, sedangkan untuk semua jenis berkisar antara 98,8 % sampai 99,6 %. Abdullah (2003) dalam penelitiannya pada hutan alam bekas tebangan di Halmahera Tengah mendapatkan bahwa model struktur tegakan N=N 0 e -kd mengikuti bentuk J-terbalik dengan besar nilai R 2 yang diperoleh sebesar 97 % untuk semua tegakan. Suhendang (1985) mengemukakan 5 (lima) kegunaan struktur tegakan hutan, yaitu: 1. Penentuan kerapatan pohon pada berbagai kelas diamaeter. Struktur tegakan hutan merupakan hubungan fungsional antara kerapatan pohon dengan diameternya. Oleh karena itu, struktur tegakan dapat dipakai untuk menduga kerapatan pohon pada berbagai kelas diameter, apabila dugaan parameter struktur tegakan dan jumlah pohon secara total diketahui. 2. Penentuan Luas Bidang Dasar (LBD) tegakan. Luas Bidang Dasar (LBD) tegakan adalah jumlah luas penampang melintang pohon pada ketinggian setinggi dada atau di atas banir, dari semua pohon yang terdapat pada satuan luas tertentu dan diameter yang tidak kurang dari diameter tertentu. Luas bidang dasar dipakai untuk menentukan kepadatan tegakan hutan, biasanya dinyatakan untuk setiap hektar dan dengan variasi batas diameter, misalnya 10 cm, 20 cm, 40 cm, 60 cm dan seterusnya. 3. Pengamatan Dendrometrik Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada beberapa kelompok tegakan hutan, terdapat dugaan kuat adanya hubungan fungsional antara diameter dengan tinggi pohon, baik tinggi total maupun tinggi bebas cabang. Menurut Ogawa et.al (1965) seperti yang dikutip oleh UNESCO (1978), hubungan antara diameter pohon dengan tinggi ini akan mengikuti bentuk parabola atau hiperbola. Selanjutnya dikemukakan bahwa untuk pohon dengan diameter 60 cm, diameter dan tinggi pohon cenderung bebas satu sama lainnya. Kecenderungan ini bahkan lebih nampak jelas
5 10 pada jenis-jenis pohon komersil. Beberapa hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya hubungan fungsional antara diameter dengan tinggi pohon dengan mengikuti bentuk persamaan T = a D b bila tinggi pohon T dan diameter D, sedangkan a dan b merupakan konstanta. 4. Penentuan volume tegakan yang tidak terkoreksi dan nilai komersil tegakan. Nilai komersil tegakan adalah nilai yang sebenarnya dapat dipasarkan. Volume komersil pohon akan lebih kecil dari volume yang tidak terkoreksi, karena adanya kerusakan selama pemanenan dan pengolahannya. Batasan jenis komersil secara tetap akan berubah, baik disebabkan karena mode, mengikuti perkembangan permintaan secara umum atau pasaran terhadap jenis baru yang melimpah ataupun melalui peningkatan pemanfaatan kayu (penggergajian, pengeringan, dll). Pengetahuan nilai komersial tegakan hutan merupakan keharusan bagi perusahaan, untuk menentukan kelayakan usaha atau dalam rangka menetapkan hasil akhir yang akan dipasarkan. Langkah pertama dalam pendugaan nilai komersil tegakan adalah dengan menentukan jumlah batang yang dapat diambil dari tegakan yang diusahakan atau dengan luas bidang dasar tegakan per hektarnya. Data ini harus terperinci menurut setiap jenis komersilnya. 5. Penentuan biomassa tegakan. Biomassa tegakan merupakan jumlah biomassa pohon dari seluruh pohon yang terdapat pada satuan luas tertentu dan dengan diameter yang tidak kurang dari besar diameter tertentu. Biomassa tegakan ini akan dapat diketahui apabila besarnya biomassa setiap pohon yang terdapat dalam areal tegakan tersebut diketahui.
6 Peranan Struktur Tegakan Hutan dalam Kegiatan Perencanaan Pengusahaan Hutan Struktur tegakan hutan pada hutan tanaman merupakan sebaran jumlah pohon per satuan luas tertentu (hektar) pada berbagai kelas umur. Bentuk sebaran ini akan menyerupai lonceng telungkup, yaitu mendekati sebaran normal (Meyer, et al., 1961 dalam Davis & Johnson, 1987). Bentuk sebaran ini akan dipakai sebagai petunjuk bagi penentuan dapat tidaknya tegakan tersebut diadakan pemanenan, yaitu dengan melihat arah menjulur kurvanya. Apabila kurva menjulur ke kanan, berarti areal hutan sebagian besar terdiri dari pohon dengan kelas umur yang rendah. Sebaliknya bilamana kurva menjulur ke kiri, berarti sebagian besar pohon dalam tegakan tersebut mempunyai kelas umur tinggi, sehingga perlu diadakan pemanenan. Dilihat dari pandangan statistika, arah menjulur kurva dapat ditunjukkan oleh besar nilai skewness. Nilai skewness yang negatif merupakan petunjuk bagi kurva yang menjulur ke kiri dan nilai skewness yang positif merupakan petunjuk bagi kurva yang menjulur ke kanan. Menurut Meyer et al (1961) dalam Davis dan Johnson (1987), aturan yang dipakai pada hutan tanaman dapat pula diterapkan pada hutan alam tetapi dengan memakai prinsip-prinsip yang berlaku pada hutan alam. Prinsip yang berbeda dalam keperluan ini adalah penetapan bentuk struktur tegakan hutan dan dimensi yang dipakai sebagai petunjuknya. Pada hutan alam, dimensi diameter dapat dipakai sebagai pengganti dimensi umur pada hutan tanaman, sedangkan bentuk struktur tegakannya harus ditentukan untuk setiap kesatuan tegakannya, mengingat banyaknya faktor yang dapat mempengaruhinya Pertumbuhan dan Potensi Hutan Menurut Simon (1996) terdapat 3 (tiga) elemen dasar untuk pertumbuhan tegakan, yaitu tambah tumbuh (accretion), mortalitas (mortality) dan ingrowth. Tambah tumbuh adalah pertumbuhan semua pohon yang diukur sejak awal sampai akhir pengamatan. Disini termasuk pohon-pohon yang ditebang dan yang mati sebelum akhir periode pengamatan. Mortalitas hanya melibatkan kayu yang
7 12 mati selama periode pengamatan. Ingrowth adalah volume pohon-pohon yang tumbuh menjadi kelas diameter yang terendah selama periode pengamatan. Kalau tambah tumbuh diberi notasi A, mortalitas M, ingrowth I, dan volume kayu yang ditebang selama periode Y, maka: Total pertumbuhan (GG) = A + I Pertumbuhan Bersih (NG) = A M Produksi (P) = A M + I = A M + I + Y Pertumbuhan diitetapkan sebagai terminology yang bersifat umum, sedangkan riap lebih spesifik. Biasanya riap dipakai untuk menyatakan pertambahan volume pohon atau tegakan per satuan waktu tertentu. Riap juga sering dipakai untuk menyatakan pertambahan nilai tegakan. Kadang-kadang riap juga dipakai untuk menyatakan pertambahan diameter atau tinggi pohon setiap tahun. Riap volume suatu tegakan tergantung pada kepadatan (jumlah) pohon yang menyusun tegakan tersebut (degree of stocking), jenis dan kesuburan tanah. Simon (1996) mengungkapkan bahwa riap volume suatu pohon dapat dilihat dari kecepatan tumbuh diameter, yang setiap jenis mempunyai laju (rate) yang berbeda-beda. Untuk semua jenis pada waktu muda umumnya mempunyai kecepatan tumbuh diameter yang tinggi, kemudian semakin tua semakin menurun sampai akhirnya berhenti. Untuk hutan tanaman biasanya pertumbuhan diameter grafik berbentuk huruf S (sigmoid) karena pada mulanya tumbuh agak lambat, kemudian cepat lalu menurun. Lambatnya pertumbuhan diameter pada waktu muda disebabkan tanaman hutan ditanam rapat untuk menghindari percabangan yang berlebihan dan penjarangan yang belum memberi hasil (tending thinnings). Kalau suatu tegakan sudah tidak berriap lagi, maka dapat dikatakan bahwa hutan tersebut sudah mencapai klimaks. Jadi mulai saat itu dan seterusnya riap tegakan sudah sama dengan nol. Riap volume tegakan selama satu daur dapat dibedakan antara riap rata-rata tahunan (Mean Annual Increment, MAI), riap ratarata periodik (Periodic Annual Increment, PAI) dan riap rata-rata berjalan (Current Annual Increment, CAI). Titik potong antara grafik MAI dan CAI
8 13 merupakan umur dimana tegakan mencapai hasil volume maksimal, dan oleh karena itu ditetapkan sebagai daur volume maksimal (Gambar 2). Dalam pengelolaan hutan kedua grafik tersebut mempunyai arti yang penting. Manipulasi perlakuan tegakan melalui penelitian untuk memperoleh riap tegakan maksimal, baik MAI maupun CAI, masih memberi peluang yang besar untuk meningkatkan produksi dari hutan. m 3 /ha/tahun MAI CAI Umur (Tahun) Gambar 2. Grafik MAI dan CAI (Simon, 1996). Untuk hutan yang dikelola dengan teratur, termasuk sudah ditata dengan batas-batas petak yang bersifat permanen, riap volume dapat dihitung dari hasil dua inventarisasi hutan yang dilakukan dalam rangka menyusun rencana perusahaan. Dengan cara ini, riap volume tegakan dapat dihitung dengan rumus: I = V B + V C - V A Untuk: V A = volume seluruh tegakan pada inventarisasi hutan awal periode V B = volume seluruh tegakan pada inventarisasi hutan akhir periode V C = volume tebangan selama periode. Hasil taksiran volume tegakan dengan rumus di atas berlaku untuk tegakan yang masih berdiri (standing stock). Untuk menaksir potensi kayu yang siap dijual, volume tegakan berdiri tersebut perlu dikonversi dari satuan volume alami ke satuan yang dipakai dalam perdagangan. Karena beberapa hal, tidak
9 14 seluruhnya kayu dari tegakan berdiri dapat sampai ke tempat penjualan. Pengurangan volume tegakan berdiri ini dapat terjadi karena: 1. Cacat alam pada pohon-pohon berdiri yang tidak diperhitungkan dalam penaksiran. 2. Kerusakan pada waktu penebangan 3. Kehilangan sebelum kayu diangkut ke tempat penjualan. Untuk itu biasanya taksiran volume tegakan berdiri dikalikan dengan suatu faktor koreksi, yang besarnya dihitung dari pengalaman masa lalu di tempat yang sama Konsep Kelestarian Hasil dalam Pengelolaan Hutan Konsep Dasar Pengelolaan Hutan Lestari Pengelolaan hutan berada pada keadaan kelestarian hasil apabila besarnya hasil sama dengan pertumbuhannya dan berlangsung secara terus-menerus. Secara umum dapat dikatakan bahwa jumlah maksimum hasil yang dapat diperoleh dari hutan pada suatu waktu tertentu adalah jumlah komulatif pertumbuhan sampai waktu itu, sedangkan jumlah maksimum hasil yang dapat dikeluarkan secara terus-menerus setiap periode sama dengan pertumbuhan pada periode itu (Davis et al., 2001). Kelestarian hasil dipakai sebagai prinsip dasar dalam pemanenan dan sangat bergantung pada sistem pengaturan hasil yang digunakan (Seydack, 1995). Goodland, Asibey, Post, dan Dyson (1990) dalam Seydack (1995) mengemukakan bahwa kelestarian hasil yang banyak diterapkan di hutan tropis atau subtropis memiliki arti bahwa dalam memanfaatkan hutan alam untuk jangka panjang harus memperhatikan jasa lingkungan (seperti perlindungan tata air dan tanah) maupun kualitas biologinya (seperti keanekaragaman hayati). Dalam hal ini pemanenan tidak boleh melampaui kecepatan regenerasi dari sumberdaya alaminya, ataupun merusak potensi pemanenan yang serupa pada masa yang akan datang. Lebih lanjut Seydack (1995) menambahkan bahwa kelestarian pemanenan berarti jumlah dan tipe produk yang sama (dimensi, kualitas dan jenis) dapat diambil secara terus-menerus dalam interval periode jangka panjang. Pemanenan
10 15 harus mempertimbangkan kemampuan hutan dalam memulihkan diri, baik dalam pertumbuhan maupun dalam keberhasilan regenerasinya. Konsep kelestarian hasil oleh ITTO (1992) didefenisikan sebagai proses pengelolaan lahan hutan permanen untuk mencapai satu atau lebih tujuan pengelolaan yang terinci, yang meliputi produksi yang berkesinambungan dari hasil hutan dan jasa hutan, tanpa banyak menyebabkan penurunan nilai dan produktivitasnya, tanpa banyak memberikan pengaruh yang merugikan terhadap lingkungan. Oleh sebab itu pengelolaan hutan lestari mengandung implikasi bahwa untuk mencapai tujuan pengusahaan hutan wajib mengaplikasikan metode perusahaan (bisnis) dan metode teknis kehutanan (eksploitasi dan pembinaan hutan) yang mampu menjamin keberlanjutan usaha dan keberlanjutan ekosistem. Kedua tujuan ini harus benar-benar terwujud dalam politik dan kebijakan kehutanan yang akan dirumuskan. Berdasarkan pengertian pengelolaan hutan lestari tersebut tercermin pula konsep pengaturan kelestarian hasil dan teknik-teknik konservasi hutan. Pengaturan kelestarian hasil dalam pengusahaan hutan bertujuan untuk sedapat mungkin mencapai keseimbangan antara pertumbuhan dan panenan baik tahunan maupun periode pengusahaan tertentu. Teknik-teknik konservasi dalam pengelolaan hutan lestari adalah adanya upaya bahwa panenan dilakukan hanya sebatas pada hasil yang memiliki nilai pasar dan meninggalkan cadangan hasil di lapangan serta meminimumkan tingkat kerusakan pada cadangan hasil tersebut. Davis dan Johnson (1987) mengemukakan bahwa kelestarian hasil dalam pengusahaan hutan hanya dapat diaplikasikan dan berhasil baik apabila dilakukan dengan cara pengorganisasian secara efektif dan ekonomis seluruh faktor produksi kehutanan dan penggunaan secara bersama. Jadi pelaksanaannya dilakukan secara bersama oleh pemerintah, swasta dan unit-unit produksi. Unit-Unit kelestarian hasil harus diatur untuk menghasilkan panenan yang tetap dalam satu rencana kerja, satu areal hutan dan satu periode tertentu. Persyaratan utama dari unit kelestarian hasil adalah persediaan cadangan hasil yang cukup. Konsep pengelolaan pelestarian hasil harus mempertimbangkan perusahaan dan perimbangan silvikultur sekaligus. Asumsinya bahwa :
11 16 1. Fasilitas angkutan harus cukup, sehingga areal hutan dapat dijangkau selama jangka waktu usaha. 2. Sistem silvikultur harus menjamin produksi hutan sesuai permintaan pasar. 3. Keadaan pasar harus cukup baik yang memberi jaminan produksi yang mantap dan lestari. Asumsi terakhir adalah tantangan, karena tidak seorangpun yang mampu meramalkan fluktuasi harga jual kayu di masa mendatang Prinsip Kelestarian Hasil Dalam Pengelolaan Hutan Produksi Menurut Suhendang (1993) terdapat empat pertanyaan mendasar yang harus dijawab dalam penerapan prinsip kelestarian hasil dalam pengelolaan hutan, yaitu: 1. Dalam kesatuan pengelolaan manakah prinsip kelestarian hasil harus diterapkan? 2. Ukuran hasil apakah yang dipakai dalam menerapkan kelestarian hasil? 3. Ukuran hasil yang bagaimanakah dan bilamanakah ukuran itu dicapai? 4. Syarat-syarat apa sajakah yang diperlukan agar kelestarin hasil dapat dicapai? Keempat pertanyaan kunci di atas perlu dijawab dan sekaligus menjadi prasyarat dalam perencanaan pengelolaan hutan baik oleh pemerintah maupun oleh pelaksana yang diberikan hak dalam mengelola suatu kawasan hutan Kesatuan Pengelolaan Kelestarian Hasil Kesatuan Pengelolaan Kelestarian Hasil merupakan suatu kesatuan luas wilayah tempat dimana kegiatan pengaturan hasil hutan dilakukan. Kesatuan wilayah ini harus memiliki homogenitas yang tinggi baik dari segi fisiografi lahan maupun produktivitas hutannya. Kesatuan wilayah pengelolaan ini hendaknya ditata menurut Rencana Karya Tahunan (RKT) untuk jangka waktu tertentu. Luas setiap RKT ditetapkan berdasarkan kemampuan pengelola dan produktivitas hutan pada tingkat teknologi tertentu. Untuk itu kesatuan pengelolaan kelestarian hasil haruslah dapat menjamin keberlanjutan produksi dan keberlanjutan usaha dalam jangka waktu pengusahaan tertentu.
12 17 Areal Kesatuan Kelestarian ditetapkan dengan asumsi bahwa dari kesatuan ini diharapkan dapat diperoleh hasil yang besarnya relatif sama setiap tahun. Oleh karena itu besar jatah tebangan tahunan (AAC maksimum) yang dapat memberikan jaminan kelestarian hasil haruslah didasarkan pada potensi hutan dalam setiap areal kesatuan kelestarian hasil. Suhendang (1993), menjelaskan bahwa untuk menjamin kelestarian hasil maka dalam areal kesatuan kelestarian hasil setiap tahun harus terdapat seluruh kegiatan produksi (penanaman, pemeliharaan dan pemanenan) dengan bobot pekerjaan sebanding dengan produktivitas lahannya. Dengan demikian maka Kesatuan Kelestarian Hasil akan sama dengan Kesatuan Kelestarian Produksi. Dalam kesatuan produksi ini, luasannya harus dapat diselesaikan dalam waktu tidak lebih dari satu tahun. Jadi untuk menentukan wujud dari ukuran kesatuan ini, ukuran dasarnya adalah keefektifan pelaksanaan pekerjaan peremajaan dan pengkayaan tegakan, pemeliharaan dan penebangan. Ukuran lain adalah didasarkan pada manfaat ekonomis dan finansial. Jadi luas optimal kesatuan kelestarian disesuaikan dengan besarnya riap, produktivitas lahan dan nilai hasil hutan yang diproduksi dengan tetap mempertimbangkan derajat aksesibilitas wilayah dan derajat kekompakan areal. Berdasarkan uraian di atas maka, luas areal Kesatuan Kelestarian Hasil didasarkan pada kriteria sebagai berikut : 1. Tingkat Keefektifan penyelenggaraan proses produksi hutan (penanaman, pemeliharaan, pemanenan), pengangkutan dan pengawasan yang dicirikan oleh prestasi setiap unit kerja, jenjang pengawasan pada berbagai tingkat jabatan tenaga kerja, topografi lapangan dan tingkat kekompakan wilayah. 2. Kelayakan finansial (NPV, BCR, IRR) untuk tujuan pengusahaan tertentu digunakan sebagai kriteria menentukan luas optimal Kesatuan Kelestarian. Bentuk tindakan pengelolaan yang diperlukan dalam pengusahaan hutan alam sangat bergantung pada pola perilaku tegakan yang sangat ditentukan oleh proses biologi yang terjadi di dalamnya. Korelasi antara ukuran hasil yang digunakan dengan ukuran besaran yang menerangkan proses biologis (pertumbuhan) merupakan syarat mutlak dalam menentukan metode pengaturan hasil yang dapat menjamin kelestarian hutan. Dengan alasan ini maka pemakaian
13 18 ukuran hasil dalam bentuk fisik lebih praktis dan menguntungkan dibanding dengan ukuran uang. Hal ini dimungkinkan karena ukuran uang sangat ditentukan oleh faktor-faktor yang tunduk pada hukum pasar yang kompleks dan memiliki ketidakpastian yang tinggi. Sedangkan ukuran fisik lebih stabil dan tidak terpengaruh oleh faktor-faktor yang bersifat dinamis Ukuran Kelestarian Hasil Ukuran kelestarian hasil yang dapat digunakan dalam pengelolaan hutan adalah ukuran fisik (luas areal, volume, masa dan jumlah individu) dan ukuran ekonomi (nilai uang). Ukuran kelestarian hasil dalam bentuk fisik terutama volume telah banyak dipakai dalam pengelolaan hutan. Namun yang menjadi masalah adalah berapa besar hasil fisik itu yang dapat menjamin kelestarian hasil. Penggunaan ukuran hasil dalam bentuk nilai uang umumnya akan rumit, karena nilai uang ditentukan oleh berbagi faktor, antara lain inflasi, tingkat suku bunga dan pajak. Sungguhpun demikian, dalam setiap pengelolaan hutan ukuran kelestarian hasil dalam bentuk nilai uang sangatlah penting dan harus dipertimbangkan secara rasional. Besar nilai uang tersebut hendaknya sejalan dengan ukuran fisik yang didasarkan pada perilaku biologi yang terjadi dalam hutan yang sedang dikelola. Tentunya produktivitas hutan yang diukur berdasarkan riap tegakan menjadi faktor pembatas dalam menentukan limit ukuran hasil fisik maupun ekonomis. Sehendang (1993) mengemukakan bahwa tidaklah cukup alasan untuk memilih salah satu bentuk ukuran hasil fisik untuk menyatakan tujuan penggunaan hasil yang berbeda-beda. Untuk itu ukuran hasil fisik harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan hasil. Sebagai contoh ukuran hasil fisik untuk kayu pertukangan digunakan volume tegakan (m 3 /ha). Secara operasional ukuran kelestarian hasil didefinisikan sebagai besarnya panenan yang sama setiap tahun dari kesatuan yang dikelola. Formula untuk menentukan ukuran kelestarian hasil sebagai berikut : V t AAC; untuk t = 1,2,3,..., r; r + 1,..., r + n Di mana : V t = Volume tegakan siap panen pada tahun ke-t r = rotasi tebangan/panenan (thn)
14 19 AAC = Jatah tebangan tahunan maksimum yang diizikan agar kelestarian dicapai Formula di atas sebenarnya menerangkan bahwa besarnya hasil sangat bergantung pada tujuan perusahaan yang besarnya tidak selamanya sama dengan V t. Jadi prinsip kelestarian hasil lebih ditentukan oleh kemampuan lahan hutan untuk memproduksi hasil hutan (kayu) yang ada di atasnya. Faktor kemampuan lahan merupakan faktor pembatas pencapaian kelestarian hasil pada tingkat teknologi tertentu. Apabila besarnya AAC pada rotasi tebangan ke-s dinyatakan sebagai AAC s, maka perbadingan antara besarnya AAC pada rotas ke-s dengan AAC pada rotasi sebelumnya (s-1) dinyatakan oleh : qs = AAC s /AAC (s-1), Maka prinsip kelestarian hasil dapat dicapai apabila qs 1. Untuk hutan alam AAC (0) dianggap sebagai AAC pada potensi masak tebang hutan utuh (virgin forest), sehingga selalu qs = Waktu Pencapaian Ukuran Kelestarian Hasil Ukuran kelestarian hasil hendaknya dipahami sebagai suatu ukuran yang tidak bersifat mutlak, terdapat unsur kenisbian di dalamnya. Sumber kenisbian ini terutama disebabkan oleh ukuran yang dipakai dalam menentukan kelestarian hasil, apakah luasan, volume, jumlah batang atau nilai uang. Suhendang (1993), menyatakan tidak ada jaminan pemakaian salah satu ukuran kelestarian hasil yang memberikan tingkat kelestarian yang sama apabila diukur dengan ukuran lainnya. Karena hasil yang dipungut dalam pengelolaan hutan merupakan hasil interaksi berbagai faktor alam. Sumber kenisbian lain dalam pencapaian kelestarian hasil adalah metode pengaturan hasil yang digunakan. Perbedaan metode pengaturan hasil akan memberikan tingkat kelestarian hasil yang berbeda-beda. Pemilihan ukuran dan metode pengaturan hasil dalam pengelolaan hutan merupakan kunci keberhasilan pencapaian tingkat kelestarian hasil yang diharapkan. Untuk menentukan waktu pencapaian kelestarian hasil didekati dengan kurva hubungan antara q dan s yang sangat bergantung pada kemampuan
15 20 regenerasi alami hutan (riap tegakan). Hubungan antara q dan s yang umumnya pada hutan digambarkan dalam kurva Gambar 3. Gambar 3 menunjukkan bahwa rotasi tebangan Sj merupakan jangka waktu maksimum yang masih memungkinkan kelestarian hasil dapat dicapai dengan regenerasi alami. Sj dapat diperpanjang dengan cara melakukan penanaman pengkayaan dan pemeliharaan tegakan agar riap alami dapat ditingkatkan pada kisaran nilai q > 1 untuk jenis-jenis tegakan komersial. q AAC V 1,0 1 Sj S 1 Sj S Gambar 3. Kurva hubungan antara q dengan s yang dijumpai pada hutan alam Syarat-Syarat Kelestarian Hasil Kondisi hutan yang dapat menjamin penyelenggaraan prinsip kelestarian hasil dapat didefinisikan sesuai dengan ukuran hasil yang dipilih dan metode pengaturan hasil yang diterapkan. Besaran-besaran seperti karakteristik tegakan, karakteristik tempat tumbuh dan rotasi panenan yang menjadi syarat tercapainya keadaan hutan yang lestari perlu ditentukan secara kuantitatif dan dirumuskan. Nilai kuantitatif harus didasarkan pada hasil pengamatan langsung di lapangan, tidak cukup hanya didasarkan pada asumsi semata. Nilai-nilai karakteristik tersebut harus berdasarkan pada keadaan spesifik kawasan dan bukan generalisasi berlebihan dari data yang khusus.
16 21 Suhendang (1993) menjelaskan bahwa untuk mencapai tingkat kelestarian hasil yang memberikan nilai keuntungan maksimum hanya dapat dicapai bila hutan yang dikelola mencapai keadaan normal. Tingkat kenormalan hutan alam yang dikelola untuk menghasilkan kayu pertukangan dapat diukur berdasarkan volume tegakan dan struktur tegakan. Volume tegakan normal pada hutan alam dicirikan oleh volume tegakan hutan pada fase klimaksnya. Pada fase ini, tingkat pemanfaatan faktor-faktor pertumbuhan oleh pohon-pohon dalam tegakan bersifat optimal. Untuk itu volume tegakan pada fase klimaks merupakan ukuran volume tegakan normal (Vn). Bila rotasi tebang sesungguhnya diketahui (rn) dan besar riap sesungguhnya diketahui (In), maka besar regenerasi normal tegakan setelah rotasi tebang ke -s adalah : Vns = In x rn (m 3 /ha) Apabila dari hutan tersebut ditetapkan jatah tebangan normal (Vpn), maka : Vpn = Vns = In x rn, (m 3 /ha); sehingga : Vn = Vn Vpn + Vns = Vn Vns + Vns = Vn Untuk umur tegakan setelah penebangan (t-tahun), volume tegakan normal (Vnt), dapat ditentukan dengan formula : Vnt = Vn-Vp + t x In Jadi, I = Vp/rn (syarat untuk q = 1) Apabila satu petak tegakan memiliki volume mula-mula (Vm), ditebang sebanyak (Vp) dan pada t tahun setelah penebangan, volume tegakan sebesar Vt, maka Tingkat Kenormalan Tegakan (TKT) dapat ditentukan dengan formula : Vnt = Vm Vp + t x In, dan TKT = Vt/Vnt = Vt/Vm-Vp + t x In Berdasarkan perhitungan di atas dapat ditentukan Tingkat Kenormalan Tegakan (TKT) yang dicirikan oleh luas areal yang sebanding dengan besarnya produktivitas lahan pada setiap jangka waktu setelah penebangan. Ciri lain adalah besarnya nilai rata-rata dan keragaman TKT dari setiap tegakan dalam kawasan hutan bersangkutan. Jadi hutan normal dapat dicirikan oleh (1) sebaran luas areal
17 22 pada setiap jangka waktu setelah penebangan sebanding dengan tingkat produktivitas lahannya, dan (2) memiliki nilai TKT = 1 dan G 2 TKT = Indikator Kelestarian Hutan Tujuan utama pengelolaan hutan sekaligus merupakan kerumitan dari pengelolaan hutan adalah bahwa selain menghendaki produksi maksimal (prinsip ekonomi) juga sekaligus mempertimbangkan tujuan kelestarian hutan (prinsip ekologis). Hutan sebagai sumberdaya alam yang dapat dipulihkan memungkinkan untuk menerapkan konsep kelestarian hutan. Konsep pengelolaan hutan serbaguna yang dianut selama ini mungkin masih relevan untuk dipertimbangkan dalam menentukan indikator kelestarian hutan. Prinsip pengaturan hasil hutan dalam pengelolaan hutan serbaguna seperti hasil maksimum, hasil lestari dan hasil yang bernilai tambah merupakan prinsip pengaturan hasil yang sebenarnya paling ideal, asalkan pengertian hasil disini mencakup hasil hutan dalam arti luas yaitu kayu, non kayu dan turunannya serta jasa lingkungan. Prinsip kelestarian hasil mengisyaratkan bahwa hutan yang dikelola harus memiliki cadangan hasil yang cukup, panenan hasil minimal tetap setiap tahun atau setiap jangka waktu usaha dan hasil yang dipanen sesuai dengan produktifitas lahan. Kelestarian hasil ini akan dapat dicapai apabila pengelolaan hutan dilakukan sedapat mungkin menjamin kesinambungan produksi yang dapat dicapai bila terdapat keseimbangan antara pertumbuhan bersih dan panenan baik tahunan maupun periode tertentu. Untuk mencapai ini, maka unit-unit kesatuan produksi harus ditata dan diatur agar panenan tetap dalam satu rencana kerja, satu areal hutan dan satu periode usaha tertentu. Sayangnya prinsip ini baru diterapkan pada hutan produksi yang tujuan pengusahaannya untuk produksi kayu, sedangkan untuk hasil hutan non kayu dan turunannya serta jasa lingkungan masih belum diterapkan (Tokede et al., 2008). Berdasarkan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) terdapat 3 (tiga) prinsip, 10 kriteria dan 57 indikator pengelolaan hutan produksi lestari, yang dapat dirinci sebagai berikut (Ngadiono, 2004):
18 23 - Prinsip 1 : Kelestarian fungsi produksi 1. Kelestarian sumberdaya hutan (6 indikator) 2. Kelestarian hasil hutan (9 indikator) 3. Kelestarian usaha (6 indikator) - Prinsip 2 : Kelestarian fungsi ekologis 1. Stabilitas ekosistem (11 indikator) 2. Sintasan spesies langka/endemik/dilindungi (8 indikator) - Prinsip 3: Kelestarian fungi sosial 1. Terjaminnya sistem tenurial hutan komunitas (4 indikator) 2. Terjaminnya ketahanan dan pengembangan ekonomi komunitas dan karyawan (5 indikator) 3. Terjaminnya keberlangsungan integrasi sosial dan kultur komunitas da karyawan (3 indikator) 4. Realisasi tanggung jawab rehabilitasi status gizi dan penanggulangan kesehatan (2 indikator) 5. Jaminan atas hak-hak tenaga kerja (3 indikator) 2.6. Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan Sekitar 8 juta sampai 16 juta hektar hutan tropis dirusak setiap tahunnya antara tahun 1980an dan 1990an, perusakan ini melepaskan 0,8 milyar sampai 2,4 milyar ton karbon ke atmosfer. 20% dari penyebab pemanasan global disebabkan oleh deforestasi, hampir sama besarnya dengan emisi yang dihasilkan oleh Amerika Serikat penghasil emisi terbesar di dunia. Terdapat banyak penyebab deforestasi, dan hal-hal tersebut sangat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Penyebab utama deforestasi meliputi padang rumput untuk peternakan, pertanian industri (kedelai, kelapa sawit), dan pembalakan kayu-kayu tropis untuk keperluan eksport, yang banyak dilakukan di Amerika Selatan, Asia Tenggara dan Afrika Tengah. Emisi gas rumah kaca global yang berasal dari bahan bakar fosil negara-negara maju dan berkembang dan deforestasi hutan tropis harus mulai diturunkan pada dekade mendatang apabila kita mengharapkan tingkat pemanasan tetap di bawah 2 C pada tahun 2050 (Houghton, 2005)
19 24 Pemanasan global memiliki dampak besar pada hutan-hutan di dunia, dan memiliki potensi besar untuk mempercepat kehancuran hutan tropis. Kebakaran hutan dan pohon-pohon yang mati dapat melipatgandakan emisi karbon pada saat El Niño dan tahun-tahun kering lainnya. Pada kejadian El Niño 1998, kebakaran lahan gambut dan hutan di Indonesia melepaskan tambahan milyar ton karbon ke atmosfer (Page et al., 2002). Banyak model-model perkiraan iklim memperkirakan iklim yang lebih panas dan kering di wilayah tropis dengan skenario business-as-usual (tidak ada perubahan) dan beberapa memperkirakan bahwa sebagian besar hutan Amazon dapat menjadi savana. Perubahan iklim yang tidak dikendalikan dapat menjadi bencana bagi keanekaragaman spesies hutan dan sumber daya yang menjadi tumpuan masyarakat adat dan masyarakat yang bermukim di hutan. Dokumen ini berfokus pada hutan-hutan di daerah tropis, wilayah yang menghasilkan hampir semua emisi dari deforestasi pada saat ini. Laju deforestasi dapat diukur dengan menggunakan berbagai instrumen penginderaan jauh (remote sensing) yang digabungkan dengan survei lapangan. Biomassa hutan harus dihitung untuk menghitung emisi. Akurasi laju deforestasi dan pengukuran biomassa hutan bergantung pada kemampuan teknologi dan pengawasan kehutanan, yang bervariasi di antara negara negara tropis. Walaupun terdapat berbagai metodologi yang sudah dibahas oleh para ilmuwan, inventarisasi karbon hutan secara ekstensif baru dilakukan di beberapa negara saja, dan hanya Brazil dan India yang pada saat ini telah mengukur deforestasi mereka secara teratur dengan menggunakan data satelit resolusi tinggi. Metode ini harus diterapkan pada wilayah-wilayah tropis lainnya untuk mengurangi ketidakpastian mengenai emisi deforestasi. Oleh sebab itulah investasi besar untuk kegiatan ilmiah dan teknis dalam inventarisasi perlu dilakukan. Situasi teknologi pengawasan yang dirangkum oleh Climate Action Network pada Februari 2007 adalah sebagai berikut: - Pada saat ini metodologi teknis dan pengambilan data yang memadai sudah tersedia untuk melakukan inventarisasi perubahan fungsi lahan secara nasional, termasuk pengawasan periodik dan deteksi perubahan dari tahun ke tahun;
20 25 - Masih terdapat beberapa tantangan ilmiah dan teknologi yang terkait dengan pengembangan teknologi penginderaan jauh untuk mengukur dan mengawasi perubahan biomass dengan tingkat akurasi yang tinggi. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) telah menyetujui metode standard untuk mengukur emisi dari deforestasi pada berbagai laporan (IPCC, 2000). Semakin tinggi resolusi dari citra satelit, semakin mahal pula biaya yang harus dikeluarkan. Degradasi yang menyebabkan emisi karbon tetapi tidak sepenuhnya menghancurkan hutan, juga dapat diukur, tetapi membutuhkan metode yang lebih canggih dan mahal. Memasukkan degradasi pada regimen deforestasi akan meningkatkan beban pengawasan secara signifikan dan juga upaya pembangunan kapasitas. Walaupun penginderaan jauh dapat digunakan untuk memonitor tutupan hutan dan deforestasi secara cukup baik, hal ini tidak bisa dilakukan untuk degradasi, di mana lebih banyak pengukuran lapangan dibutuhkan. Sensor satelit dan pesawat yang sedang dikembangkan seperti radar dan LIDAR dapat meningkatkan kemampuan kita Tegakan Tinggal Dalam ketentuan Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) tahun 1993, tegakan tinggal didefinisikan sebagai tegakan hutan yang sudah ditebang pilih dan dipelihara sampai dengan penebangan berikutnya yang terdiri dari pohon-pohon binaan dan pohon-pohon pendamping yang diketahui dengan mengadakan kegiatan inventarisasi tegakan tinggal yang dilakukan 2 (dua) tahun sesudah kegiatan penebangan. Inventarisasi Tegakan Tinggal (ITT) adalah kegiatan pencatatan dan pengukuran pohon serta permudaan alam pada areal bekas tebangan untuk mengetahui antara lain: komposisi jenis, penyebaran kerapatan pohon dan permudaan serta jumlah dan tingkat kerusakan pohon inti. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan kondisi tegakan tinggal dan untuk menentukan perlakuan silvikultur pada petak-petak kerja tahunan sesudah kegiatan penebangan dan perapihan.
21 Hak Pemungutan Hasil Hutan Masyarakat Hukum Adat Hak pemungutan hasil hutan masyarakat hukum adat merupakan bentuk pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat pemilik hak ulayat. Dalam pelaksanaan pemanfaatan hasil hutan, masyarakat hukum adat dapat melakukannya sendiri, atau juga dengan bermitra dengan suatu badan usaha atau lembaga (Mardiyadi, 2004). Koperasi Peran Serta Masyarakat (KOPERMAS) merupakan lembaga yang dibentuk oleh masyarakat adat dengan persetujuan Dinas Koperasi dan Dinas Kehutanan Provinsi dengan tujuan memberikan kesempatan kepada masyarakat adat untuk memungut hasil hutan kayu dalam jumlah dan jenis yang ditetapkan sesuai dengan surat ijin pemungutan dalam areal ulayat masyarakat tersebut. Kopermas diharapkan tidak merusak lingkungan dan merubah fungsi pokok hutan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat hukum adat, meningkatkan motivasi dan peran komunikasi masyarakat hukum adat dalam pelestarian sumberdaya hutan serta menciptakan lapangan kerja, kesempatan berusaha dan meningkatkan pendapatan wilayah dan pendapatan masyarakat. Untuk daerah Tanah Papua, hak pemungutan hasil hutan masyarakat hukum adat dikenal dengan istilah Ijin Pemungutan Kayu Masyarakat Adat (IPKMA). IPKMA di Tanah Papua didasarkan pada Surat Edaran Gubernur Provinsi Papua Nomor 522.2/3386/SET tanggal 22 Agustus 2002 perihal pengaturan pemungutan hasil hutan kayu oleh masyarakat adat yang ditujukan kepada Bupati/Wali Kota se-provinsi Papua. Dalam surat tersebut Gubernur menghimbau agar masyarakat adat dapat diberikan areal konsesi seluas 1000 Ha dengan jangka waktu perijinan 1 (satu) tahun. Surat tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Nomor KEP /1648 tentang Petunjuk Pelaksanaan Ijin Pemungutan Hasil Hutan Kayu Masyarakat Hukum Adat/Ijin Pemungutan Kayu Masyarakat Adat. Dalam pelaksanaannya IPKMA ini tidak berjalan sesuai dengan harapan masyarakat dan pemerintah sehingga pada tahun 2005 IPKMA dibekukan oleh Pemerintah Pusat.
METODOLOGI PENELITIAN
METODOLOGI PENELITIAN Kerangka Pemikiran Penelitian Kerangka pemikiran pengaturan hasil dalam pengelolaan hutan alam dapat dilihat pada Gambar 3. Kelestarian hasil, baik pengusahaan hutan seumur maupun
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaturan hasil saat ini yang berlaku pada pengelolaan hutan alam produksi di Indonesia menggunakan sistem silvikultur yang diterapkan pada IUPHHK Hutan Produksi dalam P.11/Menhut-II/2009.
BAB I. PENDAHULUAN. Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Perubahan iklim global (global climate
BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelestarian lingkungan dekade ini sudah sangat terancam, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Perubahan iklim global (global climate change) yang
PUP (Petak Ukur Permanen) sebagai Perangkat Pengelolaan Hutan Produksi di Indonesia
PUP (Petak Ukur Permanen) sebagai Perangkat Pengelolaan Hutan Produksi di Indonesia Authors : Wahyu Catur Adinugroho*, Haruni Krisnawati*, Rinaldi Imanuddin* * Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan,
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemampuan hutan dan ekosistem didalamnya sebagai penyimpan karbon dalam bentuk biomassa di atas tanah dan di bawah tanah mempunyai peranan penting untuk menjaga keseimbangan
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian tentang Perkembangan Tegakan Pada Hutan Alam Produksi Dalam Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) dilaksanakan di areal
PENDAHULUAN. Hutan rawa gambut adalah salah satu komunitas hutan tropika yang terdapat di
PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan rawa gambut adalah salah satu komunitas hutan tropika yang terdapat di Indonesia. Hutan rawa gambut mempunyai karakteristik turnbuhan maupun hewan yang khas yaitu komunitas
BAB I PENDAHULUAN. ekonomis tinggi. Menurut Bermejo et al. (2004) kayu jati merupakan salah satu
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jati merupakan jenis kayu komersil yang bermutu dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Menurut Bermejo et al. (2004) kayu jati merupakan salah satu kayu penting yang
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemanenan Hutan Pemanenan merupakan kegiatan mengeluarkan hasil hutan berupa kayu maupun non kayu dari dalam hutan. Menurut Suparto (1979) pemanenan hasil hutan adalah serangkaian
MG-6 DAUR DAN ETAT PEMANENAN KAYU
MG-6 DAUR DAN ETAT PEMANENAN KAYU Meti Ekayani, S.Hut, M.Sc Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc Asti Istiqomah, SP EKONOMI KEHUTANAN ESL 325 (3-0) PENGERTIAN DAUR DAUR: Jangka waktu yang diperlukan oleh
PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS AGROFORESTRI KAYU BAWANG DI PROVINSI BENGKULU
PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS AGROFORESTRI KAYU BAWANG DI PROVINSI BENGKULU Oleh: Hengki Siahaan* dan Agus Sumadi* * Peneliti pada Balai Penelitian Kehutanan Palembang ABSTRAK Pengembangan kayu bawang
I. PENDAHULUAN Latar Belakang. dan hutan tropis yang menghilang dengan kecepatan yang dramatis. Pada tahun
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi dan peningkatan kebutuhan hidup manusia, tidak dapat dipungkiri bahwa tekanan terhadap perubahan lingkungan juga akan meningkat
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
37 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pola Sebaran Pohon Pemetaan sebaran pohon dengan luas petak 100 ha pada petak Q37 blok tebangan RKT 2011 PT. Ratah Timber ini data sebaran di kelompokkan berdasarkan sistem
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. menyebabkan perubahan tata guna lahan dan penurunan kualitas lingkungan. Alih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingginya kebutuhan lahan dan semakin terbatasnya sumberdaya alam menyebabkan perubahan tata guna lahan dan penurunan kualitas lingkungan. Alih guna hutan sering terjadi
2 dilakukan adalah redesign manajemen hutan. Redesign manajemen hutan mengarah pada pencapaian kelestarian hutan pada masing-masing fungsi hutan, teru
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keterpurukan sektor kehutanan sudah berjalan hampir 14 tahun belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Masih besarnya angka laju kerusakan hutan serta bangkrutnya
BAB I PENDAHULUAN. keseimbangan lingkungan. Fungsi hutan terkait dengan lingkungan, sosial budaya
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Fungsi hutan terkait dengan lingkungan, sosial budaya dan ekonomi. Fungsi
BAB I PENDAHULUAN. keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Dengan kata lain manfaat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia, baik yang berupa manfaat ekonomi secara langsung maupun fungsinya dalam menjaga daya dukung lingkungan. Hutan
I. PENDAHULUAN Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam konteks global emisi gas rumah kaca (GRK) cenderung meningkat setiap tahunnya. Sumber emisi GRK dunia berasal dari emisi energi (65%) dan non energi (35%). Emisi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Kelestarian Hasil BAB II TINJAUAN PUSTAKA Salah satu elemen yang paling penting dalam pengelolaan hutan adalah konsep kelestarian hasil hutan (sustained yield forestry). Definisi kelestarian
I. PENDAHULUAN. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli
` I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli dan dikelola dengan sistem zonasi. Kawasan ini dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal memiliki potensi sumberdaya alam yang tinggi dan hal itu telah diakui oleh negara-negara lain di dunia, terutama tentang potensi keanekaragaman hayati
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Lahan gambut merupakan salah satu tipe ekosistem yang memiliki kemampuan menyimpan lebih dari 30 persen karbon terestrial, memainkan peran penting dalam siklus hidrologi serta
BAB I PENDAHULUAN. dalam Suginingsih (2008), hutan adalah asosiasi tumbuhan dimana pohonpohon
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Definisi atau pengertian tentang hutan menurut Dengler (1930) dalam Suginingsih (2008), hutan adalah asosiasi tumbuhan dimana pohonpohon atau tumbuhan berkayu lainya
Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT.
Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH Oleh : PT. Sari Bumi Kusuma PERKEMBANGAN HPH NASIONAL *) HPH aktif : 69 % 62% 55%
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan merupakan seluruh satuan lahan yang menunjang kelompok vegetasi yang didominasi oleh pohon segala ukuran, dieksploitasi maupun tidak, dapat menghasilkan kayu
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Tegakan Sebelum Pemanenan Kegiatan inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP) dilakukan untuk mengetahui potensi tegakan berdiameter 20 cm dan pohon layak tebang.
1 BAB I. PENDAHULUAN. tingginya tingkat deforestasi dan sistem pengelolan hutan masih perlu untuk
1 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan tropis merupakan sumber utama kayu dan gudang dari sejumlah besar keanekaragaman hayati dan karbon yang diakui secara global, meskupun demikian tingginya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemanenan Hutan Pemanenan hutan merupakan serangkaian kegiatan kehutanan yang mengubah pohon atau biomassa lain menjadi bentuk yang bisa dipindahkan ke lokasi lain sehingga
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Hujan Tropis Hutan adalah satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya,
BAB I PENDAHULUAN. Hutan merupakan pusat keragaman berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang. jenis tumbuh-tumbuhan berkayu lainnya. Kawasan hutan berperan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Hutan merupakan pusat keragaman berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang manfaat serta fungsinya belum banyak diketahui dan perlu banyak untuk dikaji. Hutan berisi
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Sebaran luas lahan gambut di Indonesia cukup besar, yaitu sekitar 20,6 juta hektar, yang berarti sekitar 50% luas gambut tropika atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia.
PENDAHULUAN Latar Belakang
22 PENDAHULUAN Latar Belakang Fenomena kerusakan sumberdaya hutan (deforestasi dan degradasi) terjadi di Indonesia dan juga di negara-negara lain, yang menurut Sharma et al. (1995) selama periode 1950-1980
Baharinawati W.Hastanti 2
Implementasi Sistem Silvikultur TPTI : Tinjauan eberadaan Pohon Inti dan ondisi Permudaannya (Studi asus di Areal IUPHH PT. Tunas Timber Lestari, Provinsi Papua) 1 Baharinawati W.Hastanti 2 BP Manokwari
LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI
Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ancaman perubahan iklim sangat menjadi perhatian masyarakat dibelahan dunia manapun. Ancaman dan isu-isu yang terkait mengenai perubahan iklim terimplikasi dalam Protokol
1. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki hutan tropis yang luas dan memiliki keanekaragaman hayati yang
1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki hutan tropis yang luas dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Hutan tropis ini merupakan habitat flora dan fauna (Syarifuddin, 2011). Menurut
GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 33 TAHUN 2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PENERTIBAN DAN PENGENDALIAN HUTAN PRODUKSI
BAB I PENDAHULUAN. saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi pertukaran materi
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan gambut merupakan salah satu tipe hutan yang terdapat di Indonesia dan penyebarannya antara lain di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi dan Pulau
I. PENDAHULUAN. hayati yang tinggi dan termasuk ke dalam delapan negara mega biodiversitas di
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan termasuk ke dalam delapan negara mega biodiversitas di dunia,
I. PENDAHULUAN Latar Belakang. baik dari segi karakteristik biologi maupun biogeografi (Petocs, 1987; Muller,
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Papua merupakan salah satu pulau di Indonesia yang memiliki keunikan baik dari segi karakteristik biologi maupun biogeografi (Petocs, 1987; Muller, 2005: Kartikasari
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan rakyat memiliki peran yang penting sebagai penyedia kayu. Peran hutan rakyat saat ini semakin besar dengan berkurangnya sumber kayu dari hutan negara. Kebutuhan
BAB VII TEKNIK INVENTARISASI
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN TEKNIK INVENTARISASI DAN PEMETAAN HUTAN BAB VII TEKNIK INVENTARISASI DR IR DRS H ISKANDAR MUDA PURWAAMIJAYA, MT KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN
METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di dalam areal Hak Pengusahaan Hutan (HPH) PT. Sari Bumi Kusuma, Unit S. Seruyan, Kalimantan Tengah. Areal hutan yang dipilih untuk penelitian
KONSEPSI HUTAN, PENGELOLAAN HUTAN DAN PENERAPANNYA DALAM PENGELOLAAN HUTAN ALAM PRODUKSI DI INDONESIA
Hadirin sekalian, penulis berpendapat, beberapa permasalahan besar di muka sangatlah penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan hutan, akan tetapi pembahasan terhadap konsep-konsep dasar ilmu kehutanan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) adalah sistem silvikultur yang digulirkan sebagai alternatif pembangunan hutan tanaman
TINJAUAN KONSEPTUAL MODEL PERTUMBUHAN DAN HASIL TEGAKAN HUTAN SITI LATIFAH. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
TINJAUAN KONSEPTUAL MODEL PERTUMBUHAN DAN HASIL TEGAKAN HUTAN SITI LATIFAH Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Pengertian beberapa istilah penting a. Pertumbuhan dan Hasil tegakan
Topik C4 Lahan gambut sebagai cadangan karbon
Topik C4 Lahan gambut sebagai cadangan karbon 1 Presentasi ini terbagi menjadi lima bagian. Bagian pertama, memberikan pengantar tentang besarnya karbon yang tersimpan di lahan gambut. Bagian kedua membahas
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Laswell dan Kaplan (1970) mengemukakan bahwa kebijakan merupakan suatu program yang memroyeksikan tujuan, nilai, dan praktik yang terarah. Kemudian Dye (1978) menyampaikan
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI SIDANG
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI SIDANG 133 PROSIDING Workshop Nasional 2006 134 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI SIDANG PERTAMA KESIMPULAN 1. Ramin dan ekosistemnya saat ini terancam kelestariannya. Hal ini disebabkan
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian yang meliputi eksplorasi dan pemilihan data PUP, evaluasi, koreksi dan ekstraksi data PUP dilaksanakan di Badan Penelitian dan Pengembangan
Kondisi Hutan (Deforestasi) di Indonesia dan Peran KPH dalam penurunan emisi dari perubahan lahan hutan
Kondisi Hutan (Deforestasi) di Indonesia dan Peran KPH dalam penurunan emisi dari perubahan lahan hutan Iman Santosa T. ([email protected]) Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumberdaya Hutan
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1999 TENTANG PENGUSAHAAN HUTAN DAN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN PADA HUTAN PRODUKSI
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1999 TENTANG PENGUSAHAAN HUTAN DAN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN PADA HUTAN PRODUKSI U M U M Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha
II. TINJAUAN PUSTAKA. iklim global ini telah menyebabkan terjadinya bencana alam di berbagai belahan
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pemanasan Global Pemanasan global diartikan sebagai kenaikan temperatur muka bumi yang disebabkan oleh efek rumah kaca dan berakibat pada perubahan iklim. Perubahan iklim global
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
21 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di petak tebang Q37 Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2011 IUPHHK-HA PT. Ratah Timber, Desa Mamahak Teboq,
FORMAT PROPOSAL TEKNIS PENAWARAN DALAM PELELANGAN IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU (IUPHHK) PADA HUTAN ALAM
Lampiran : I Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor : 51/KPTS/VI-PHP/2003 Tanggal : 28 Oktober 2003 BENTUK DAN ISI A. Bentuk FORMAT PROPOSAL TEKNIS PENAWARAN DALAM PELELANGAN IZIN USAHA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Tentang Jati (Tectona grandis L.f) Menurut Sumarna (2002), klasifikasi tanaman jati digolongkan sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta Kelas : Angiospermae
PAPER BIOMETRIKA HUTAN PENDUGAAN POTENSI EKONOMI TEGAKAN TINGGAL PADA SUATU PERUSAHAAN PEMEGANG HAK PENGUSAHAAN HUTAN (HPH) Oleh : Kelompok 4
PAPER BIOMETRIKA HUTAN PENDUGAAN POTENSI EKONOMI TEGAKAN TINGGAL PADA SUATU PERUSAHAAN PEMEGANG HAK PENGUSAHAAN HUTAN (HPH) Oleh : Kelompok 4 Dinda Wahyuni Venza Rhoma S Meiliana Larasati Rinaldo Pratama
TINJAUAN PUSTAKA. oleh pemerintah untuk di pertahankan keberadaan nya sebagai hutan tetap.
4 TINJAUAN PUSTAKA Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang di tunjuk dan atau di tetapkan oleh pemerintah untuk di pertahankan keberadaan nya sebagai hutan tetap. Kawasan hutan perlu di tetapkan untuk
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Peran dan fungsi jasa lingkungan ekosistem hutan makin menonjol dalam menopang kehidupan untuk keseluruhan aspek ekologis, ekonomi dan sosial. Meningkatnya perhatian terhadap
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Lahan basah merupakan sumber daya alam hayati penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem global. Salah satu tipe lahan basah adalah lahan gambut. Lahan gambut merupakan ekosistem
BAB I PENDAHULUAN. menutupi banyak lahan yang terletak pada 10 LU dan 10 LS dan memiliki curah
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Hutan hujan tropis merupakan salah satu tipe vegetasi hutan tertua yang menutupi banyak lahan yang terletak pada 10 LU dan 10 LS dan memiliki curah hujan sekitar 2000-4000
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu lingkungan tentang perubahan iklim global akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu lingkungan tentang perubahan iklim global akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi prioritas dunia saat ini. Berbagai skema dirancang dan dilakukan
I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Perubahan iklim telah menjadi isu penting dalam peradaban umat manusia saat ini. Hal ini disebabkan karena manusia sebagai aktor dalam pengendali lingkungan telah melupakan
PENDAHULUAN. mengkonversi hutan alam menjadi penggunaan lainnya, seperti hutan tanaman
PENDAHULUAN Latar Belakang Terdegradasinya keadaan hutan menyebabkan usaha kehutanan secara ekonomis kurang menguntungkan dibandingkan usaha komoditi agribisnis lainnya, sehingga memicu kebijakan pemerintah
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan konsentrasi karbon di atmosfer menjadi salah satu masalah lingkungan yang serius dapat mempengaruhi sistem kehidupan di bumi. Peningkatan gas rumah kaca (GRK)
Strategi dan Rencana Aksi Pengurangan Emisi GRK dan REDD di Provinsi Kalimantan Timur Menuju Pembangunan Ekonomi Hijau. Daddy Ruhiyat.
Strategi dan Rencana Aksi Pengurangan Emisi GRK dan REDD di Provinsi Kalimantan Timur Menuju Pembangunan Ekonomi Hijau Daddy Ruhiyat news Dokumen terkait persoalan Emisi Gas Rumah Kaca di Kalimantan Timur
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan sebagai salah satu sumberdaya alam merupakan kekayaan Negara yang harus dikelola secara bijaksana guna kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
17 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Pemeriksaan Data Pengamatan struktur tegakan dilakukan dilima petak ukur dengan luasan masing-masing satu hektar. Sample atau contoh diambil menggunakan metode purposive
BAB I PENDAHULUAN. dengan perkembangan paradigma pengelolaan hutan. Davis,dkk. (2001)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pandangan terhadap kelestarian hutan telah mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan paradigma pengelolaan hutan. Davis,dkk. (2001) menggambarkan ada empat
I. PENDAHULUAN. Gambar 1. Kecenderungan Total Volume Ekspor Hasil hutan Kayu
I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sumberdaya hutan tropis yang dimiliki negara Indonesia, memiliki nilai dan peranan penting yang bermanfaat dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Manfaat yang didapatkan
Ilmuwan mendesak penyelamatan lahan gambut dunia yang kaya karbon
Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi: Nita Murjani [email protected] Regional Communications for Asia Telp: +62 251 8622 070 ext 500, HP. 0815 5325 1001 Untuk segera dipublikasikan Ilmuwan
I. PENDAHULUAN. menyebabkan perubahan yang signifikan dalam iklim global. GRK adalah
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) sejak pertengahan abad ke 19 telah menyebabkan perubahan yang signifikan dalam iklim global. GRK adalah lapisan gas yang berperan
BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA
BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA 4.1. Landasan Berfikir Pengembangan SRAP REDD+ Provinsi Papua Landasan berpikir untuk pengembangan Strategi dan Rencana Aksi (SRAP) REDD+ di Provinsi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Tentang Jati 2.1.1 Klasifikasi, penyebaran dan syarat tumbuh Tanaman jati yang tumbuh di Indonesia berasal dari India. Tanaman ini mempunyai nama ilmiah Tectona
disinyalir disebabkan oleh aktivitas manusia dalam kegiatan penyiapan lahan untuk pertanian, perkebunan, maupun hutan tanaman dan hutan tanaman
1 BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mempunyai kekayaan alam yang beranekaragam termasuk lahan gambut berkisar antara 16-27 juta hektar, mempresentasikan 70% areal gambut di Asia Tenggara
INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN
INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki nilai ekonomi, ekologi dan sosial yang tinggi. Hutan alam tropika
D4 Penggunaan 2013 Wetlands Supplement to the 2006 IPCC Guidelines untuk Inventarisasi Gas Rumah Kaca di Indonesia.
D4 Penggunaan 2013 Wetlands Supplement to the 2006 IPCC Guidelines untuk Inventarisasi Gas Rumah Kaca di Indonesia. 1 Pokok bahasan meliputi latar belakang penyusunan IPCC Supplement, apa saja yang menjadi
BAB I PENDAHULUAN. klimaks pada daerah dengan curah hujan mm per tahun, rata-rata
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu
PENDAHULUAN. Latar Belakang. Degradasi tanah merupakan isu penting dalam AGENDA 21, hal ini
PENDAHULUAN Latar Belakang Degradasi tanah merupakan isu penting dalam AGENDA 21, hal ini terkait dengan aspek ketahanan pangan dan kualitas lingkungan. Degradasi tanah menyebabkan penurunan LQ (land quality
BAB I PENDAHULUAN. Penyerapan karbon oleh hutan dilakukan melalui proses fotosintesis. Pada proses
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan merupakan sumber daya alam yang penting untuk kehidupan manusia karena hutan memiliki fungsi sosial, ekonomi dan lingkungan. Fungsi lingkungan dari hutan salah
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karbon Biomassa Atas Permukaan Karbon di atas permukaan tanah, meliputi biomassa pohon, biomassa tumbuhan bawah (semak belukar berdiameter < 5 cm, tumbuhan menjalar dan
BAB I PENDAHULUAN. peradaban umat manusia di berbagai belahan dunia (Maryudi, 2015). Luas hutan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki peran penting bagi keberlangsungan hidup umat manusia di muka bumi. Peran penting sumberdaya hutan
2 ekonomi biaya tinggi sebagaimana hasil kajian Komisi Pemberantasan Korupsi Tahun 2013, perlu pengaturan kembali mengenai Inventarisasi Hutan Menyelu
No.690, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUT. Hutan Alam. Pemanfaatan. Hutan Kayu. Inventarisasi. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.33/Menhut-II/2014 TENTANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1990 TENTANG HAK PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI. Presiden Republik Indonesia,
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 7 TAHUN 1990 TENTANG HAK PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI Presiden Republik Indonesia, Menimbang : a. bahwa hutan merupakan suatu potensi kekayaan alam yang dapat diperbaharui,
BAB I PENDAHULUAN. Tanaman (tegakan seumur). Salah satu hutan tanaman yang telah dikelola dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan menurut Pasal 1 (2) Undang-Undang No. 41/99 tentang Kehutanan diartikan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati
BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu jenis kayu keras tropis yang paling berharga di pasar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jati (Tectona grandis L.f) tumbuh secara alami di seluruh Asia Tenggara dan merupakan salah satu jenis kayu keras tropis yang paling berharga di pasar internasional.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 1990 TENTANG HAK PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 1990 TENTANG HAK PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hutan merupakan suatu potensi kekayaan alam
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN Hutan berperan penting dalam menjaga kesetabilan iklim global, vegetasi hutan akan memfiksasi CO2 melalui proses fotosintesis. Jika hutan terganggu maka siklus CO2
I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau
I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia yakni 3,2 juta ha (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau besar mulai dari Sumatera,
PENDUGAAN SIMPANAN KARBON DI ATAS PERMUKAAN LAHAN PADA TEGAKAN EUKALIPTUS (Eucalyptus sp) DI SEKTOR HABINSARAN PT TOBA PULP LESTARI Tbk
PENDUGAAN SIMPANAN KARBON DI ATAS PERMUKAAN LAHAN PADA TEGAKAN EUKALIPTUS (Eucalyptus sp) DI SEKTOR HABINSARAN PT TOBA PULP LESTARI Tbk ALFARED FERNANDO SIAHAAN DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.33/Menhut-II/2014 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.33/Menhut-II/2014 TENTANG INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA DAN RENCANA KERJA PADA IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU DALAM HUTAN ALAM
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Emisi Gas Rumah Kaca di Indonesia
4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Emisi Gas Rumah Kaca di Indonesia Sampai tahun 2004, Indonesia berada pada urutan ke 15 negara penghasil gas rumah kaca tertinggi di dunia dengan emisi tahunan 378 juta ton
KOMPOSISI TEGAKAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM
KOMPOSISI TEGAKAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM Muhdi Staf Pengajar Program Studi Teknologi Hasil Hutan Departemen Kehutanan USU Medan Abstract A research was done at natural tropical
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap sumberdaya alam memiliki fungsi penting terhadap lingkungan. Sumberdaya alam berupa vegetasi pada suatu ekosistem hutan mangrove dapat berfungsi dalam menstabilkan
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 74/Menhut-II/2014 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 74/Menhut-II/2014 TENTANG PENERAPAN TEKNIK SILVIKULTUR DALAM USAHA PEMANFAATAN PENYERAPAN DAN/ATAU PENYIMPANAN KARBON PADA HUTAN PRODUKSI DENGAN
BAB I PENDAHULUAN. (renewable resources), namun apabila dimanfaatkan secara berlebihan dan terusmenerus
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya hutan merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources), namun apabila dimanfaatkan secara berlebihan dan terusmenerus akan mengalami
