Oleh WAWAN SETIAWAN NIM
|
|
|
- Teguh Halim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PERBANDINGAN PERSENTASE KEBERHASILAN OKULASI TANAMAN KARET (Hevea brasilliensis L. ) DENGAN UKURAN DIAMETER BATANG BAWAH YANG BERBEDA Oleh WAWAN SETIAWAN NIM PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN MANAJEMEN HUTAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA SAMARINDA 2010
2 2 PERBANDINGAN PERSENTASE KEBERHASILAN OKULASI TANAMAN KARET (Hevea brasilliensis L. ) DENGAN UKURAN DIAMETER BATANG BAWAH YANG BERBEDA Oleh WAWAN SETIAWAN NIM Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN MANAJEMEN HUTAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA SAMARINDA 2010
3 3 HALAMAN PENGESAHAN Judul Karya Ilmiah Nama NIM : Program Studi Jurusan : PERBANDINAN PERSENTASE KEBERHASILAN OKULASI TANAMAN KARET (Hevea brasilliensis L) DENGAN UKURAN DIAMETER BATANG BAWAH YANG BERBEDA : Wawan Setiawan : Budidaya Tanaman Perkebunan : Manajemen Hutan Menyetujui, Dosen Pembimbing Dosen Penguji Ir. Syarifuddin, MP NIP Rusli Anwar SP, M. Si NIP Mengesahkan, Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Lulus ujian pada tanggal 16 Juni 2010 Ir. Wartomo, MP NIP
4 4 ABSTRAK WAWAN SETIAWAN, Perbandingan Persentase Keberhasilan Okulasi Tanaman Karet (Hevea brasilliensis L) Dengan Diameter Batang Bawah Yang Berbeda (dibawah bimbingan Syarifuddin). Tanaman karet sendiri mulai dikenal di Indonesia sejak jaman penjajahan belanda. Awalnya, karet ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman baru untuk dikoleksi. Selanjutnya karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan tersebar di beberapa daerah Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran batang bawah yang berbeda. Tempat penelitian di areal Persemaian Politeknik Negeri Samarinda dan dilaksanakan kurang lebih tiga bulan, terhitung dari tanggal 31 Agustus sampai 30 September 2009 meliputi persiapan, pelaksanaan dan penyusunan laporan. Dari perlakuan yang digunakan batang bawah yang berbeda, hasil penelitian dengan perbandingan persentase keberhasilan okulasi tanaman karet (Hevea brasilliensis L) dengan diameter batang bawah yang berbeda didapat hasil dengan diameter batang bawah 2 cm (P 2 ) 80 % dan batang bawah 1 cm (P 1 )33 %.
5 5 RIWAYAT HIDUP WAWAN SETIAWAN, lahir pada tanggal 6 Maret 1988 di Senyiur, Kalimantan Timur, anak ke dua dari dua bersaudara dari pasangan. Ibramsyah dan Nafsiah. Pendidikan dimulai di Sekolah Dasar (SD) Negeri 001 Senyiur Lulus pada tanggal 12 Juni 2001, kemudian melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama Kesatuan (SMP Kesatuan) Senyiur dan lulus pada tanggal 25 Juni Pada tanggal 20 Juli 2004 melanjutkan ke Sekolah ke SMA Pembangunan dan lulus pada tanggal 17 Juli Pendidikan Tinggi dimulai pada tahun 2007 di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan, Jurusan Manajemen Hutan. Pada tanggal 13 Maret sampai dengan tanggal 13 Mei 2010 mengikuti kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Budiduta Agromakmur. Kecamatan Loakulu Kabupaten Kutai Kertanegara, Provinsi Kalimantan Timur.
6 6 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... i ii iii iv I. PENDAHULUAN... 1 II. TINJAUAN PUSTAKA... 3 A. Sejarah Tanaman Karet... 3 B. Taksonomi Dan Morfologi... 4 C. Syarat Tumbuh... 9 D. Pembibitan Tanaman Karet E. Perbanyakan Tanaman Karet F. Jenis-Jenis Okulasi III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu B. Alat dan Bahan C. Rancangan Penelitian D. Prosedur Penelitian E. Pengolahan Data IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil B. Pembahasan V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 29
7 7 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Pengambilan Data Hasil perhitungan data-data Pelaksanaan Okulasi Pembungkusan Mata Entris Pelepasan Kertas Setelah 2 Minggu Pelaksanaan Okulasi Mata Entris Yang Tumbuh Setelah Okulasi... 33
8 8 DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Persentase tumbuh okulasi tanaman karet (Hevea brasilliensis L)... 23
9 9 KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT atas segala Rahmat dan Karunia-Nya maka karya ilmiah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya, dan tidak lupa kita haturkan salawat dan salam kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Keluarga tercinta yang telah memberikan motivasi baik secara moril maupun materil. 2. Ir. Budi Winarni, M.Si selaku Ketua Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan dan dosen pembimbing yang telah membantu dan memberi petunjuk dalam pembuatan dan penyusunan Karya Ilmiah ini. 3. Bapak Ir. Syarifuddin. MP selaku dosen pembibing. 4. Bapak Rusli Anwar SP, M. Si selaku dosen penguji. 5. Seluruh staf dosen dan teknisi Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan yang telah banyak memberikan masukkan baik itu di dalam proses belajar mengajar maupun di luar jam perkuliahan. 6. Rekan-rekan mahasiswa yang membantu di dalam penyusunan Karya Ilmiah yaitu, Muliyani, Dedy, Darson, Irwan, Sareh dan seluruh mahasiswa Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan yang memberi motivasi kepada penulis. Penyusunan Karya Ilmiah ini sebagai salah satu persyaratan bagi penulis untuk menyelesaikan Studi Diploma III di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Penulis berharap agar Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kampus Sei Keledang, Juni 2010 Penulis
10 10 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak berabad-abad yang lalu karet telah dikenal dan digunakan secara tradisional oleh penduduk asli di daerah asalnya yakni Brazil, Amerika Serikat akan tetapi meskipun telah dikenali penggunaannya oleh Colombus dalam pelayarannya ke Amerika Selatan pada akhir abad ke-15 dan oleh penjajahpenjajah berikutnya pada awal abad ke-16, sampai saat ini tanaman karet belum mendapat perhatian orang-orang Eropa. Setelah De La Condamine mengirim contoh bahan elastis yang aneh yaitu Caoutchue dari Perancis pada tahun 1876, Hendry A, Wichan memasukkan biji karet yang lain dari Amerika Selatan ke Ceylon ( Srilanka) Malaya dan beberapa bibit kekebun percobaan pertanian di bogor sangat memuaskan. Penggunaan karet saat ini semakin meningkat sejalan dengan peningkatan pembangunan. Karet merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan seiring dengan bertambah majunya ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mendapatkan tanaman karet yang memiliki produktivitas tinggi penggunaan bibit tidak boleh sembarangan, produtivitas tinggi hanya bisa diperoleh dari bibit dengan klon unggul yang telah di rekomendasikan sesuai propinsi dan iklimnya. Oleh karena itu perbanyakan bibit dengan okulasi dan penggunaan bibit unggul di harapkan mampu mencapai kebutuhan tanaman karet di pasaran ( Setiawan dan Andoko, (2007) ).
11 11 B. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan batang bawah dengan ukuran diameter yang berbeda pada okulasi bibit tanaman karet.
12 12 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sejarah Tanaman Karet Tanaman karet di Indonesia pernah mencapai puncaknya pada periode sebelum perang dunia dua hingga tahun pada masa itu, Indonesia menjadi penghasil karet terbesar didunia. Komoditi ini pernah begitu diandalkan sebagai penopang perekonomian Negara. Tanaman karet sendiri mulai dikenal di Indonesia sejak jaman penjajahan belanda. Awalnya, karet ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman baru untuk dikoleksi. Selanjutnya karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan tersebar di beberapa daerah (Setyamidjaja, 1993). Indonesia merupakan Negara agraris, artinya pertanian mememegang peranan penting dari keseluruham perekonomian nasional. Hal ini dapat di lihat dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup dan bekerja pada sektor pertanian (Mubyarto, 1994). Salah satu aspek yang paling penting dalam pembangunan pertanian adalah bagaimana caranya meningkatkan secara kontinue produksi usaha tani yang senantiasa menguntungkan, sehingga kesejateran petani maupun masyarakat luas terus meningkat ( Soekrtawi, 1989). Tanaman perkebunan merupakan komoditas yang mempunyai nilai komoditas tinggi. Apabila dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan sebagai pemasuk devisa Negara. Telah banyak usaha pemerintah untuk meningkatkan
13 13 produksi sub sektor perkebunan, diantaranya adalah intensifikasi, ektensifikasi, deversivikasi dan rehabilitasi (Sutedjo, 1989). B. Taksonomi dan Morfologi 1. Taksonomi tanaman karet Menurut Tim Penulis PS ( 1999). Dalam sistematika tumbuhan, kedudukan tanaman karet di klasifikasikan sebagai berikut : Divisio Sub Divisi Kelas Ordo Famili Genus : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotiledonae : Euphorbiales : Euphorbiaceae : Hevea Species : Hevea brasilliensis L. 2. Morfologi tanaman karet Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai m. Batang tanaman biasanya lurus dan mempunyai percabangan tinggi diatasnya. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks. a. Daun Karet Karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai anak daun mencapai 3-10 cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak
14 14 daun membentuk ellips, memanjang dengan ujung yang meruncing, tepinya rata dan gundul serta tidak tajam. b. Bunga Karet Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan bunga betina yang terdapat dalam malai payung tambahan yang jarang. Pangkal tenda bunga berbentuk lonceng. Pada ujungnya terdapat lima tajuk yang sempit, panjang tenda bunga 4-8 mm. Bunga betina berambut vilt, ukuranya sedikit lebih besar dari yang jantan dan mengandung bakal buah yang beruang tiga. Kepala putik yang akan dibuahai dalam posisi duduk juga berjumlah tiga buah. c. Buah Karet Buah karet memiliki ruang yang jelas. Masing-masing ruang berbentuk setengah bola. Jumlah ruang biasanya tiga, kadang-kadang sampai enam ruang, garis tengah buah 3-5 cm. Bila buah sudah masak, maka akan pecah sendirinya. Pemecahan terjadi dengan kuat menurut ruang-ruangnya. Pemecahan biji ini berhubungan dengan pengembangbiakan tanaman karet secara alami. d. Biji Karet Biji karet terdapat dalam ruang buah. Jadi, jumlah biji biasanya tiga kadang enam, sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar dengan kulit keras, warna coklat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas. Biji yang sering menjadi mainan anak-anak ini sebenarnya berbahaya karena mengandung racun.
15 15 e. Akar Karet Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar tunggang. Akar ini mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar. (Setyamidjaja, 1993). f. Klon tanaman karet Menurut Setyamidjaja (1993), klon adalah keturunan yang diperoleh dengan cara perbanyakan vegetatif suatu tanaman sehingga ciri ciri dari tanaman tersebut merupakan ciri ciri dari tanaman induknya. Ciri ciri suatu klon kadang kadang berubah. Perubahan ini disebabkan oleh pengaruh keadaan lingkungan tempat tanaman itu tumbuh, seperti jenis tanah, kesuburan tanah, tinggi tempat, iklim, kekurangan unsur hara tertentu, lindungan dan lain sebagainya. Untuk dapat menunjukkan adanya perbedaan satu klon dengan klon lainnya memerlukan deskripsi yang jelas tentang ciri ciri klon tersebut. Menurut Woelan dkk. (2006), klon anjuran komersial terdiri dari : 1. Klon penghasil lateks : BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217, PB Klon penghasil lateks kayu : BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112, IRR Klon penghasil kayu : IRR 70, IRR 71, 1RR 78.
16 16 Adapun jenis klon entris batang atas dan entris batang bawah : Deskripsi klon karet PB 260 untuk entris batang atas adalah sebagai berikut: 1. Helaian daun berwarna hijau tua, kilauannya kusam, teksturnya halus, kekakuannya kaku, bentuknya bulat telur, pinggir daun agak bergelombang, penampang memanjang lurus, penampang melintang berbentuk huruf V, posisi helaian daun terpisah-bersinggungan, simetris daun pinggirnya simeteris, ukuran daun 2,4 ; 1 dan ujung daun sedang. 2. Anak tangkai daun posisinya agak terkulai, bentuknya lurus, panjangnya agak panjang dengan sudut sempit (=60 ). 3. Tangkai daun posisinya mendatar, bentuknya lurus, panjangnya sedang, ukuran kaki sedang dan bentuk kaki rata. 4. Payung daun berbentuk kerucut, besarnya sedang, kerapatan permukaannya tertutup dan jarak antar payung sedang. 5. Mata mempunyai letak mata yang rata dan bekas tangkai daun juga rata. 6. Kulit batang mempunyai corak kulit gabus berbentuk jala terputusputus dan warna kulit gabus coklat. 7. Warna lateks putih kekuningan. 8. Produksi rata-rata umur 1 15 tahun adalah 53,83 g/p/s. Menurut Woelan dkk. (2006), klon anjuran PB 260 merupakan klon rawan angin dengan faktor lingkungan menjadi pembatas yaitu daerah angin dengan kecepatan km / jam.
17 17 Deskripsi klon karet AVROS 2037 untuk entris batang bawah adalah sebagai berikut: 1. Helaian daun berwarna hijau kekuning-kuningan, suram, tipis, tidak kaku, bentuknya elips sampai agak oval, panjang 2,5 x lebar, pinggir daun sedikit bergelombang tak teratur, ujung daun lebar dan garis tepinya agak melengkung dengan akar dan pendek, penampang melintang rata, penampang memanjang agak cembung sedikit, letak daun agak sedikit terkulai, helaian daun bersinggungan sampai tumpang tindih, dan tengah di bawah ke dua daun pinggir 2. Anak tangkai daun bentuknya lurus, pendek, gemuk, arahnya terhadap tangakai daun terjungkit (ke atas) membentuk sudut sedang (± 60º) 3. Payung daun berbentuk kerucut, besarnya sedang, tangkai daun agak jarang, jarak antar payung sedang 4. Mata letaknya dalam lekukan, bekas pangkal tangkai daun kecil dan rata 5. Kulit batang warna coklat tua, celah-celah berupa jala dan sempit sekali, lentisel sedikit dan halus 6. Warna lateks putih kekuning-kuningan.
18 18 C. Syarat Tumbuh 1. Iklim Tanaman karet adalah tanaman daerah tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zona antara 15 º LS dan 15 º LU. Bila tanaman diluar zona tersebut, pertumbuhanya agak lambat sehingga memulai produksi lebih lambat. a. Curah hujan Curah hujan tahunan yang cocok untuk tanaman karet tidak kurang dari 2000 mm/tahun, optimal antara mm/ tahun yang terbagi dalam hari hujan, pembagian hujan dan waktu jatuhnya hujan rata-rata setahunya mempengaruhi produksi, daerah yang sering mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang. Keadaan iklim di Indonesia yang cocok untuk tanaman karet adalah daerahdaerah Indonesia bagian barat, yaitu sumatra, jawa dan kalimatan sebab iklimya lebih basah. b. Tinggi tempat Tanaman karet tumbuh optimal di daerah dataran rendah, yakni ketinggian sampai 200 mdpl. Makin tinggi letak tempat, pertumbuhan makin lambat dan produksi lebih rendah. Ketingian lebih dari 600 mdpl tidak cocok lagi untuk tanaman karet. c. Angin Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang pada musim-musim tertentu dapat menyebabkan
19 19 kerusakan pada tanaman karet yang berasal dari klon-klon tertentu yang peka terhadap angin kencang 2. Tanah Menurut Setyadmidjaja (1993), tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, baik pada tanah pulkanik maupun pulkanis tua, aluvial dan bahkan tanah gambut. Dengan kandungan ph 3,8-8,0, sedangkan ph tanah dibawah 3,0 atau diatas 8,0 menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terhambat. sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanman karet adalah sebagai berikut : a. Solum cukup dalam, sampai 100 m atau lebih, tidak terdapat batubatuan. b. Aerasi dan drainase baik c. Remah, porus dan dapat menahan air d. Tekstur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir e. Tidak bergambut dan jika ada tidak lebih tebal dari 30 cm f. Kandungan unsur hara cukup dan tidak kekurangan unsur mikro. g. Kemiringan tidak lebih dari 16 % h. ph 4,5-6,5 i. Permukaan air tanah tidak kurang dari 100 cm D. Pembibitan Tanaman Karet 1. Pengumpulan Biji Untuk mengumpulkan biji, terlebih dahulu kebun harus di bersihkan dari gulma. Penyiangan gulma bisa dilakukan secara mekanis maupun secara
20 20 kimiawi, paling lambat 1 bulan sebelum biji berjatuhan. Dua hari sebelum pengumpulan biji yang sebenarnya dilakukan, pengumpul harus melakukan pemungutan biji pendahuluan. Hal ini dianggap perlu karena biji hasil pungutan pendahuluan tidak bisa diketahui dengan pasti sejak kapan biji itu jatuh. Biji hasil pungutan pendahuluan jangan dipakai sebagai bibit. Pengumpulan biji dalam satu areal paling lambat dua hari sekali. Biji dari setiap pengumpulan ditakar lalu diserahkan kepada petugas yang menampung keseluruhan biji. Setelah biji terkumpul, dilakukan pengambilan contoh menurut kesegaranya. 2. Seleksi Biji Menurut Tim Penulis PS ( 1999). Pemilihan biji yang baik berdasarkan atas penilaian kemurnian klon, ukuran biji dari masing-masing klon, kementalan kesegaran biji dan daya kecambah biji. Cara yang paling sederhana dan paling tua, yang dianggap baik untuk menilai biji karet adalah dengan cara membelah. Pelaksanan penilain kesegaran ini cukup dengan mengambil contoh 100 biji karet dari setiap 200 biji lalu dipecah dengan palu atau batu. Penilaian kesegaran ditentukan atas dasar warna penampakan dan keadan belahan biji seperti dibawah ini : a. Biji yang baik adalah biji yang tampak mengkilat kulit luarnya. b. Belahan biji karet yang masih berwarna putih murni sampai kekuningkuningan dinilai baik.
21 21 c. Sedangkan belahan yang sudah berwarna kekuningan berminyak atau kuning kecoklatan sampai hitam dan keriput dinilai kurang baik atau jelek. Dari kereteria diatas disimpulkan, biji yang baik adalah biji yang persentase baiknya mencapai minimum 80 % sedangakan kurang dari 80 % merupakan biji yang jelek. persentase baik merupakan biji yang memiliki kesegaran dan bisa dipertanggung jawabkan. 3. Persemaian Tanaman Karet a. Persemaian Lapangan 1) Syarat lokasi persemaian Lokasi persemaian lapangan harus datar hingga populasi tanaman persatuan luas bisa lebih banyak. Tanah yang dipilih yaitu subur, bukan tanah bekas terserang penyakit, dan kebersihan arealnya harus diperhatikan. Tekstur remah, gembur, berhumus, dan kadar bahan organiknya tinggi. Dekat dengan rencana peremajaan tanaman dan sumber air. Luasannya cukup 2) Pengolahan lahan persemaian Sebaiknya pengolahan dilakukan dengan traktor. Tanah bagian atas jangan sampai terbalik dengan bagian bawahnya. Setelah tanah bersih dan rata dibuat selokan pembuangan air yang terdiri dari selokan primer dan sekunder. Selokan primer lebih besar dan lebih dalam dari pada selokan sekunder dangan ukuran cm lebarnya dan dalamnya cm. Sedangkan selokan sekunder lebarnya 30 cm dan dalamnya 25 cm.
22 22 3) Penanaman kecambah Kecamabah ditanam dengan tombak lurus kedalam tanah, lalu tanahnya ditekan agar rapat kembali. Akar tombak yang tumbuh panjang sebaiknya dibuat lubang terlebih dahulu. Jarak tanam untuk keperluan bibit setum tinggi 60 x 90 cm sedangkan untuk setum rendah 60 x 60 cm. b. Persemaian Kantong Plastik/Polybag 1) Syarat persemaian Lokasi harus dekat dengan air, dekat dengan lokasi peremajaan tanaman. Kalau perlu kantong plastik diletakkan diareal peremajaan. Media tanam harus menggunakan tanah subur dan humus yang diambil dari ketebalan 0 15 cm, tanah tidak boleh dicampur dengan pasir, pupuk kandang dan lain lain. Tanah hendaknya bertekstur galuh berat dan berstruktur sempurna. 2) Pengisian tanah kepolybag dan peletakan dilokasi pembibitan Tanah dimasukan kedalam polybag yang berukuran 25 x 56 cm yang menampung media seberat 9 kg. Bagian kantong bawah polybag di lubangi. Setelah polybag terisi diletakan ditempat teduh tetapi tidak gelap dan terkena sinar matahari pagi dan sore. Sebelum polybag diletakan tanah harus di gali dengan kedalaman 20 cm, setelah polybag diletakan tanah diuruk kembali hingga hanya 5 cm polybag yang muncul kepermukaan.
23 23 Jarak polybag antar barisan 30 cm dalam barisan 20 cm dan setiap dua baris polybag dibuat jalan selebar 75 cm. (Tim Penulis PS. 1999). E. Perbanyakan Tanaman 1. Perkembangbiakan secara vegetatif Pembiakan vegetatif adalah sel tertentu atau tubuh sel mengadakan pembelahan dari tubuh induknya dan berkembang menjadi individu baru tanpa menjalani reaksi lebih jauh. Selanjutnya pembiakan vegetatif pada dunia tumbuhan dapat terjadi secara alami dan buatan. a. Pembiakan vegetatif alami 1) Dengan pembelahan, oleh golongan bakteri. 2) Dengan permentasi, terutama oleh algae yang bersel banyak dan berbentuk kaloi. 3) Dengan pertunasan, oleh tumbuhan berumpun seperti bambu, pisang dsb. 4) Dengan akar tongkat ( rhizoma ),dilakukan oleh banyak jenis rumputrumputan. 5) Dengan umbi, separti kentang dengan umbi batang dan bawang merah dengan umbi lapis. b. Pembiakan vegetatif buatan 1) Dengan mencangkok, yaitu mengusahakan tumbuhan akar baru pada bagian cabang atau ranting dari bagian tanaman yang di cangkok.
24 24 2) Stek, yaitu pemisahan bagian tanaman untuk memperoleh individu baru. 3) Dengan okulasi, yaitu memindahkan seiris kulit batang atau cabang bermata tunas baru dari satu tanaman ketanaman yang lain dalam satu family. 4) Dengan sambung, yaitu usaha untuk memudahkan dua jenis tanaman yang masing- masing memiliki keunggulan. Pembiakan vegetatif secara buatan mempunyai beberapa kebaikan dan kelamahan yaitu: 1. Kebaikan dari pembiakan vegetatif a) Dapat tersedia bahan tanaman setiap saat dan tidak tergantung pada biji. b) Sifat- sifat yang terdapat pada induknya akan tetap terdapat pada tanaman baru walaupun induknya berasal dari hasil persilangan. c) Dapat memperpendek periode panen, sehingga cepat menghasilkan tanaman baru. 2. Kelemahan dari pembiakan vegetatif a) Perakaran tanaman yang dihasilkan tidak sekuat yang dihasilkan dari biji. b) Memerlukan media yang selalu lembad dan basah sehingga perlu penyiraman yang teratur. c) Kurang tahan terhadap serangan penyakit, terutama pada bagian perlakuan pembiakan vegetatif tersebut. Pembiakan vegetatif dengan cara stek umumnya digunakan untuk menanggulangi tanaman- tanaman yang sulit diperbanyak dengan cara biji, serta
25 25 untuk melestarikan klon tanaman yang unggul dan juga untuk memudahkan dan mempercepat perbanyakan tanaman. Adapun macam-macam istilah stek dari organ vegetatif yang digunakan adalah : 1. Stek batang/stek kayu Dikatakan demikian karena umumnya tanaman yang dikembangkan dengan stek batang adalah tanaman berkayu. 2. Stek daun Banyak diterapkan pada tanaman hias, terutama yang sekulen, daunnya berdaging tebal dan kandungan airnya tinggi serta berwarna hijau segar. 3. Stek akar Tanaman yang dapat distek akarnya adalah tanaman yang berbentuk pohon, semak, tanaman pemanjat, tanaman menahun dan tanaman dataran tinggi. 4. Stek mata tunas/okulasi Dikatakan demikian karena yang digunakan sebagai bahan stek hanya mempunyai satu mata tunas. 5. Stek pucuk Stek pucuk diambil dari pucuk-pucuk batang yang masih muda dan masih dalam masa pertumbuhan.
26 26 F. Jenis- Jenis Okulasi 1. Jenis okulasi Menurut Setiawan (2007), okulasi dibagi dua macam yaitu : a. Okulasi coklat Okulasi coklat dilakukan pada awal musim hujan dengan batang bawah berumur 9-18 bulan di pembibitan, sehingga batang sudah berwarna coklat dengan diameter sudah labih dari 1,5 cm. Batang atasnya berasal dari kebun, batang atas berwarna hijau kecoklatan, berbatang lurus, dan beberapa mata tunas dalam keadaan tidur. b. Okulasi hijau Okulasi hijau dilakukan pada batang bawah berusia pembibitan, sehingga masih berwarna hijau dengan diameter 5-8 bulan di 1-1,5 cm. Batang atasnya berumur 1-3 bulan setelah pemangkasan dan berwarna hijau. c. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan okulasi bibit karet 1. Okulasi batang bawah batang atas tidak dalam stadium pertumbuhan 2. Okulasi tidak tepat dilakukan (musim) 3. Alat-alat yang digunakan kurang steril 4. Mata entris (bawah / atas), yang kurang sehat 5. Lingkungan (hama dan penyakit)
27 27 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Tempat penelitian dilaksanakan di areal Persemaian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus sampai 30 September 2009 meliputi persiapan, pelaksanaan dan penyusunan laporan. B. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: gergaji entris, pisau okulasi untuk membuat jendela okulasi, kamera, parang dan gunting stek. Bahan yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu: tali rapia untuk mengikat bungkus okulasi, polybag ukuran 25x30 cm sebagai tempat media tanam, batang bawah diameter 1 cm dan 2 cm, varietas Avros 2037, dan mata entris dengan varietas PB 260. tanah topsoil, kain lap basah/tisu untuk membersihkan batang yang akan diokulasi. C. Rancangan penelitian Penelitian ini menggunakan dua perlakuan dan 15 kali ulangan yaitu : P 1 : Perlakuan ukuran batang bawah diameter 1 cm P 2 : Perlakuan ukuran batang bawah diameter 2 cm
28 28 D. Prosedur Penelitian 1. Persiapan media tanam a. Persiapan media tanam Media tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah topsoil, yang di bersihkan dengan pengayakan guna memisahkan dari serasah dedaunan, ranting dan akar. b. Pengisian polybag Tanah yang sudah dibersihkan dari serasah, ranting dan akar kemudian dimasukan kedalam polybag dengan kapasitas seberat 5 Kg c. Persipan batang bawah tanaman karet Batang bawah untuk okulasi diambil dari bibit cabutan yang berbeda (batang bawah umur 12 bulan dengan diameter 1 cm) dan (batang bawah umur 20 bulan dengan diameter 2 cm), yang berlokasi di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. d. Persiapan mata tunas untuk okulasi Mata tunas yang diambil sesuai dengan lebar entris, untuk mata tunas diambil dari cabang-cabang yang mata tunasnya diambil dari ketiak daun yang diambil dari tanaman karet yang berlokasi di Kebun Percontohan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.. e. Penanaman Penanaman bibit karet kedalam polybag dilakukan setelah polybag dan bibit cabutan sudah diambil sesuai dengan diameter yang diperlukan dalam penelitian yaitu batang bawah diameter 1 cm dan batang bawah
29 29 diameter 2 cm, kemudian bibit tersebut di masukkan kedalam polybag yang sudah di siapkan terlebih dahulu. Kemudian buat lubang tanam didalam polybag menggunakan kayu tugal dan bibit siap ditanam. f. Pemeliharaan Bibit batang bawah setelah di pindah dari cabutan di pelihara selama ± 1 bulan dengan perlakuan : 1. Penyiraman Penyiraman bibit dilakukan dua kali sehari pagi dan sore hari. Bila hujan turun dan membasahi bibit maka tidak dilakukan penyiraman. 2. Penyiangan Dalam penelitian ini penyiangan gulma dilakukan secara manual disekitar dan di dalam polybag dengan interval dua minggu sekali. 3. Pengendalian Hama dan Penyakit Pengendalian hama dan penyakit pada bibit tanaman karet dilakukan dengan menggunakan pestisida Dhiten dengan kandungan mankozeb adalah untuk mengatasi penyakit bibit tanaman karet, apabila penyakit ringan pemberantasannya dilakukan dengan penyemprotan pestisida. Namun jika serangannya berat bibit yang terserang penyakit disingkirkan dan dimusnahkan. 2. Pelaksanaan okulasi a) Bibit batang bawah yang sehat dengan masing-masing ukuran diameter 1 cm sebanyak 15 tanaman yang berukuran 2 cm sebanyak 15 tanaman.
30 30 b) Disiapkan batang bawah yang akan di okulasi di bersihkan dari kotoran yang menempel dengan menggunakan kain lap. c) Kemudian membuat jendela okulasi berjarak 10 cm dari permukaan tanah dengan panjang 5 cm dan lebar sepertiga bagian batang. d) Sementara menunggu getah jendela okulasi kering ambil mata tunas beserta perisainya dari kayu okulasi sertakan sedikit kayu untuk menutupi mata tunas agar mata tunasnya tidak rusak. e) Diratakan bagian tepi perisai sehingga bagiannya sama dengan jendela okulasi agar perisai bisa menempel dengan rapat. f) Dikeluarkan lapisan kayu dari perisai dengan cara menahan bagian punggung dengan jari dan pisau menahan bagian dalamnya. g) Selanjutnya tempelkan perisai kejendela okulasi kemudian tutup dengan punggung perisai lalu dibalut dengan tali rapia dengan arah dari atas kebawah dan di ulangi beberapa kali sampai ikatan benar-benar kuat. h) Selanjutnya bibit yang telah diokulasi ditempatkan di lokasi yang teduh. i) Bibit yang telah di okulasi diberi nomor atau lebel di polybagnya j) Setiap dua hari sekali bibit okulasi disiram dengan air
31 31 E. Pengolahan Data Keberhasilan okulasi dengan melihat pertumbuhan mata tunas dimulai 1 minggu sampai 3 minggu. Adapun yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Pertumbuhan mata tunas pada tanaman karet yang berukuran diameter 1cm dan 2 cm yang diokulasi setelah 3 minggu. Okulasi yang berhasil dapat dilihat apabila perisai di toreh dengan pisau perisai berwarna hijau, dan okulasi yang gagal (mati) akan berwarna coklat. Kemudian diambil rata-rata pertumbuhannya menggunakan rataan hitung menurut Nugroho (1985) untuk mengetahui parameter yang diamati dari penelitian ini adalah dengan menggunakan rataan hitung sederhana. x =? n x X 100 % x n x = rata-rata hitung = banyaknya data = variasi yang diteliti? = jumlah
32 32 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Persentase tumbuh A. Hasil Berdasarkan hasil perbandingan persentase keberhasilan okulasi tanaman karet (Hevea brasilliensis L) dengan diameter batang bawah yang berbeda dapat di lihat pada tabel 1 : Tabel 1. Persentase tumbuh okulasi tanaman karet (Hevea brasilliensis L): Perlakuan? okulasi yang di tanam (batang) Persentase hidup okulasi karet (%) Persentase mati okulasi karet (%) P P Perbedaan pertumbuhan persentase keberhasilan okulasi tanaman karet (Hevea brasilliensis L) dengan diameter batang bawah yang berbeda dapat dilihat dengan jelas seperti pada gambar seperti berikut : Persentase Tumbuh Jumlah dan persentase tumbuh (%) hidup okulasi karet (%) mati okulasi karet 0 P1 P2 PERLAKUAN Gambar 1. Diagram Persentase tumbuh okulasi tanaman karet (Hevea brasilliensis L).
33 33 Dari tabel 1 diatas dapat dilihat persentase keberhasilan okulasi tanaman karet (Hevea brasilliensis L) dengan diameter batang bawah yang berbeda yang tertinggi adalah pada perlakuan P2 (batang okulasi diameter 2 cm) yaitu dengan persentase 80 %, kemudian perlakuan P1 (batang okulasi diameter 1 cm) dengan persentase tumbuh 33 %
34 34 B. Pembahasan Berdasarkan hasil perhitungan untuk mengetahui perbandingan persentase keberhasilan okulasi (coklat), tanaman karet (Hevea brasilliensis L) dengan ukuran diameter 2 cm yang terbaik ditunjukkan oleh P 2 (80%) karena ukuran diameter batangnya besar (2 cm), memiliki kambium yang banyak, dan mempunyai mata entris okulasi yang besar. Selain ukuran dan syarat lain yang disebutkan, mungkin juga karena cepat pulihnya luka bekas irisan sehingga memudahkan untuk menyatunya okulasi. Selain itu dalam pelaksanaan okulasi sudah mengikuti persyaratan dalam okulasi dengan ciri-ciri batang bawah berwarna kecoklatan, berbatang lurus dengan diameter batang bawah (umur 9-18 bulan). pertumbuhan terbaik ditunjukan oleh P 2 (80%), karena bentuk diameter batang besar (2 cm), sehingga memudahkan dalam pembentukan jendela atau perisai. Persentase pertumbuhan di definisikan sebagai pertambahan bobot dan ukuran suatu organisme yang tidak dapat balik (Harjadi, 2002). Tersedianya unsur hara yang cukup pada saat yang tepat dalam fase vegetatif dapat menunjang laju pembentukan sel-sel baru serta sistem perakaran. Sel-sel baru terbentuk karena adanya aktivitas pembelahan sel, perpanjangan sel dan deferensiasi sel (Harjadi, 2002). Dengan demikian adanya peningkatan proses fotosintesa, memacu persentase pertumbuhan tanaman pada tingkat pemula, mengurangi cepat busuknya hasil selama pengangkutan dan penyimpanan, menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama penyakit dan kekeringan, (Suriatna, 1992).
35 35 Menurut Epstein (1972) dalam Gardener, dkk, (1991), bahwa tanah sebagai tempat tumbuh tanaman harus mempunyai kandungan hara yang cukup. (Anna, dkk,1985 ), yang menyatakan bahwa tersedianya unsur hara dalam jumlah yang cukup dapat memacu pertumbuhan tanaman. Apabila unsur hara yang ada dalam tanah memadai bagi pertumbuhan tanaman, maka tanaman akan lebih banyak menyerap unsur hara yang ada di dalam tanah tersebut. Menurut Anonim (2009), dalam satu bulan pertumbuhan daun tanaman karet bisa mencapai 2-3 helai daun. Tapi selain itu pertumbuhan jumlah daun bisa disebabkan oleh kurangnya unsur hara yang ditambahkan ke tanah.
36 36 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Persentase keberhasilan okulasi tanaman karet (Hevea brasilliensis L) menggunakan batang bawah dengan ukuran diameter 2 cm dapat menunjukkan persentase hidup bibit tanaman karet (Hevea Brasilliensis L) sampai dengan umur 3 bulan. 2. Keberhasilan penggunaan batang bawah dengan ukuran diameter 2 cm diduga disebabkan oleh faktor umur, diameter (besar), mata entris, tahan terhadap penyakit dan waktu pelaksanaan mengikuti prosedur dalam melakukan okulasi B. Saran Untuk pertumbuhan bibit tanaman karet (Hevea brasilliensis L) sebagai okulasi sebaiknya menggunakan batang bawah dengan diameter 2 cm karena menunjukkan persentase hidup bibit lebih tinggi.
37 37 DAFTAR PUSTAKA Anonim, Petunjuk Tehnik Budidaya Karet. Http/www. Pustaka-deptan. Go.id/publikasi/wt pdf Harjadi, Pengantar Agonomi. Jakarta Mubyarto Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta Nugroho Dasar-dasar statistik. Penebar Swadaya. Jakarta Setyadmidjaja Karet Budidaya Dan Pengolahannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Setiawan, D, H, dan Andoko, A Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Jaga Karsa. Jakarta. Soekrtawi Prinsip Dasar Manajemen Pasar Hasil Pertanaian Rajawali. Jakarta. Suriatna. S Pupuk dan Pemupukan. PT, Melton Putra. Jakarta. Sutedjo Hama Tanaman Keras Dan Cara Pemberantasanya.Bina Aksara. Jakarta. Tim penulis PS Karet. Strategi Pemasaran Tahun Budidaya Dan Pengolahan. Woelan. Dkk Budidaya Tanaman Karet dan Pengolahan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
38 Lampiran 38
39 39 Lampiran 1. Pengambilan Data Perlakuan P1 (okulasi batang bawah diameter 1 cm) Perlakuan P2 (okulasi batang bawah diameter 2 cm) No tanaman Keterangan (H or M) No tanaman Keterangan (H or M) P1.1 H P2.1 M P1.2 M P2.2 H P1.3 M P2.3 H P1.4 H P2.4 H P1.5 M P2.5 H P1.6 H P2.6 M P1.7 H P2.7 H P1.8 M P2.8 H P1.9 H P2.9 H P1.10 M P2.10 H P111 M P2.11 H P1.12 M P2.12 M P1.13 M P2.13 H P1.14 M P2.14 H P1.15 M P2.15 H % Hidup 33 % % Hidup 80 % Keterangan : M : Mati H : Hidup
40 40 Lampiran 2. Hasil penghitungan data-data P 1...? Dik : Perlakuan P 1 yang hidup 5 sedangkan untuk yang mati 10 Dit : Berapa persentase hidup? Jawab : x =? n x X 100 % x n x = rata-rata hitung = banyaknya data = variasi yang diteliti? = jumlah 5 x = x 100%? 33% 15 P 2...? Dik : Perlakuan P 2 yang hidup 12 sedangkan untuk yang mati 3 Dit : Berapa persentase hidup? Jawab : 12 x = x 100%? 80% 15
41 41 Lampiran 3. Pelaksanaan okulasi dan pembungkusan mata entris Gambar. 3 Pelaksanaan okulasi Gambar. 4 pembungkusan mata entris
42 42 Lampiran 4. Pelepasan kertas setelah 2 minngu pelakanaan okulasi dan mata entris yang tumbuh setelah okulasi Gambar. 5. Pelepasan kertas setelah 2 minggu pelakanaan okulasi Gambar. 6 mata entris yang tumbuh setelah okulasi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak berabad-abad yang lalu karet telah dikenal dan digunakan secara tradisional oleh penduduk asli didaerah asalnya yakni Brazil, Amerika Serikat akan tetapi meskipun
PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KARET (Hevea brasilliensis L) ASAL STUM MATA TIDUR
1 PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KARET (Hevea brasilliensis L) ASAL STUM MATA TIDUR Oleh Heri Gunawan NIM. 070500105 PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN PENGELOLAAN
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani tanaman karet Menurut Sianturi (2002), sistematika tanaman karet adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae
BAB I PENDAHULUAN. B. Tujuan Penulisan
BAB I PENDAHULUAN Peningkatan produksi karet yang optimal harus dimulai dengan pemilihan klon yang unggul, penggunaan bibit yang berkualitas sebagai batang bawah dan batang atas serta pemeliharaan yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Karet Dalam ilmu tumbuhan, tanaman karet di klasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Divisi Sub divisi Kelas Ordo Family Genus 2.1.2 Morfologi Spesies : Plantae
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Kelapa sawit termasuk tanaman keras (tahunan) yang mulai menghasilkan pada umur 3 tahun dengan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Karet (Hevea brasiliensis) Tanaman karet berasal dari negara Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan tanaman karet alam dunia. Jauh sebelum tanaman karet ini
III. METODE PENELITIAN. Serdang Bedagai dengan ketinggian tempat kira-kira 14 m dari permukaan laut, topografi datar
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Pergajahan Kahan, Kecamatan Bintang Bayu Kabupaten Serdang Bedagai dengan ketinggian tempat kira-kira 14 m dari
TINJAUAN PUSTAKA. sebagai berikut : Divisio : Spermatophyta; Subdivisio : Angiospermae; Class :
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Karet Berdasarkan (Budiman, 2012), sistematika tanaman karet, diuraikan sebagai berikut : Divisio : Spermatophyta; Subdivisio : Angiospermae; Class : Dicotyledoneae; Ordo
APLIKASI PUPUK ORGANIK CAIR GREEN PANTAS PADA BIBIT KOPI ROBUSTA (Coffea sp) Oleh
1 APLIKASI PUPUK ORGANIK CAIR GREEN PANTAS PADA BIBIT KOPI ROBUSTA (Coffea sp) Oleh YUHAYATI NIM. 070 500 092 PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI
BAB I PENDAHULUAN. untuk melakukan peremajaan, dan penanaman ulang. Namun, petani lebih tertarik BAB II TUJUAN
BAB I PENDAHULUAN Beberapa program terkait pengembangan perkebunan kakao yang dicanangkan pemerintah adalah peremajaan perkebunan kakao yaitu dengan merehabilitasi tanaman kakao yang sudah tua, karena
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Taksonomi Tanaman Karet Sistem klasifikasi, kedudukan tanaman karet sebagai berikut :
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi Tanaman Karet Sistem klasifikasi, kedudukan tanaman karet sebagai berikut : Kingdom Divisi Sub divisi Kelas Ordo Family Genus Spesies : Plantae (tumbuh-tumbuhan) :
TINJAUAN PUSTAKA. Species: Allium ascalonicum L. (Rahayu dan Berlian, 1999). Bawang merah memiliki batang sejati atau disebut discus yang bentuknya
Botani Tanaman TINJAUAN PUSTAKA Bawang merah diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Divisio: Spermatophyta, Subdivisio: Angiospermae, Kelas: Monocotyledonae, Ordo: Liliales/ Liliflorae, Famili:
Seleksi Biji untuk Batang Bawah Tanaman Karet Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP Widyaiswara Muda Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jambi
Seleksi Biji untuk Batang Bawah Tanaman Karet Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP Widyaiswara Muda Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jambi Yang dimaksud dengan bahan tanaman karet adalah biji karet (calon
TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Steenis, et. al, (1967) sistematika tanaman karet adalah
TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman Berdasarkan Steenis, et. al, (1967) sistematika tanaman karet adalah sebagai berikut; Divisi: Spermatophyta; Subdivisi: Angiospermae; Class: Dicotyledonae;
ABSTRAK. Bibit Tanaman Karet (Havea brasiliensis) (dibawah bimbingan Yuanita, SP). Samarinda dari tanggal 20 Desember 2007 sampai 20 Pebuari 2008.
ABSTRAK MOH.RILFAN, Pemberian Pupuk Kandang Ayam Pada Pertumbuhan Bibit Tanaman Karet (Havea brasiliensis) (dibawah bimbingan Yuanita, SP). Penelitian ini dilaksanakan di persemaian Politeknik Pertanian
TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Tanaman Teh Morfologi Tanaman Teh Syarat Tumbuh
3 TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Tanaman Teh Teh termasuk famili Transtromiceae dan terdiri atas dua tipe subspesies dari Camellia sinensis yaitu Camellia sinensis var. Assamica dan Camellia sinensis var.
BUDIDAYA SUKUN 1. Benih
BUDIDAYA SUKUN Sukun merupakan tanaman tropis sehingga hampir disemua daerah di Indonesia ini dapat tumbuh. Sukun dapat tumbuh di dataran rendah (0 m) hingga dataran tinggi (700 m dpl). Pertumbuhan optimal
TINJAUAN PUSTAKA. dikembangkan sehingga sampai sekarang asia merupakan sumber karet alam.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman karet Pohon karet pertama kali tumbuh di Brasil, Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara,dimana
TINJAUAN PUSTAKA Botani Manggis
4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Manggis Tanaman manggis (Garcinia mangostana L.) termasuk famili Clusiaceae yang diperkirakan berasal dari Asia Tenggara khususnya di semenanjung Malaya, Myanmar, Thailand, Kamboja,
TEKNOLOGI SAMBUNG PUCUK PADA DUKU KUMPEH
TEKNOLOGI SAMBUNG PUCUK PADA DUKU KUMPEH Oleh: Dr. Desi Hernita BPTP Jambi Duku Kumpeh memiliki rasa manis, legit, daging buah bening, tekstur daging kenyal, tidak berserat, dan hampir tidak berbiji. Rasa
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA FIKIR. Ikatan Geografi Indonesia (IGI) dalam Nursid Sumaatmadja, 1997:11).
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA FIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Geografi Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan atau
PERBENIHAN BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA
PERBENIHAN BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi bawang merah, peran benih sebagai input produksi merupakan tumpuan utama
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman karet sudah dikenal berabad abad yang lalu.tanaman ini bukan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum Tanaman Karet Tanaman karet sudah dikenal berabad abad yang lalu.tanaman ini bukan tanaman asli Indonesia, yang berasal dari Brasil Amerika Selatan. Karet merupakan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota
6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mentimun Papasan Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota Cucurbitaceae yang diduga berasal dari Asia dan Afrika. Tanaman mentimun papasan memiliki
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi
TINJAUAN PUSTAKA. Taksonomi Tanaman Teh
3 TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Tanaman Teh Klasifikasi tanaman teh yang dikutip dari Nazaruddin dan Paimin (1993) adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae
Lampiran 1. Jumlah dan Diameter Pembuluh Lateks Klon BPM 1 dan PB 260 KLON Jumlah Pembuluh Lateks Diameter Pembuluh Lateks 22.00 22.19 24.00 24.09 20.00 20.29 7.00 27.76 9.00 24.13 5.00 25.94 8.00 28.00
TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU
TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU ( Nicotiana tabacum L. ) Oleh Murhawi ( Pengawas Benih Tanaman Ahli Madya ) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya A. Pendahuluan Penanam dan penggunaan
TINJAUAN PUSTAKA Botani Ubijalar
TINJAUAN PUSTAKA Botani Ubijalar Menurut Sarwono (2005) ubijalar tergolong tanaman palawija. Tanaman ini membentuk umbi di dalam tanah. Umbi itulah yang menjadi produk utamanya. Ubijalar digolongkan ke
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lahan pertanian milik masyarakat Jl. Swadaya. Desa Sidodadi, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra
BISNIS BUDIDAYA KARET
BISNIS BUDIDAYA KARET TEKNOLOGI BUDIDAYA KARET Untuk membangun kebun karet diperlukan manajemen dan teknologi budidaya tanaman karet yang mencakup, kegiatan sebagai berikut: Syarat tumbuh tanaman karet
APLIKASI PUPUK UREA DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L)
1 APLIKASI PUPUK UREA DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L) Oleh SAREH MUQTASHID NIM. 070500089 PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN MANAJEMEN HUTAN POLITEKNIK
BUDIDAYA BELIMBING MANIS ( Averhoa carambola L. )
BUDIDAYA BELIMBING MANIS ( Averhoa carambola L. ) PENDAHULUAN Blimbing manis dikenal dalam bahasa latin dengan nama Averhoa carambola L. berasal dari keluarga Oralidaceae, marga Averhoa. Blimbing manis
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN HERBISIDA KONTAK TERHADAP GULMA CAMPURAN PADA TANAMAN KOPI
1 EFEKTIVITAS PENGGUNAAN HERBISIDA KONTAK TERHADAP GULMA CAMPURAN PADA TANAMAN KOPI Oleh NUR AYSAH NIM. 080500129 PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,
Cara Menanam Tomat Dalam Polybag
Cara Menanam Tomat Dalam Polybag Pendahuluan Tomat dikategorikan sebagai sayuran, meskipun mempunyai struktur buah. Tanaman ini bisa tumbuh baik didataran rendah maupun tinggi mulai dari 0-1500 meter dpl,
TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Tanaman Tebu Saccharum officinarum
TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Tanaman Tebu Dalam taksonomi tumbuhan, tebu tergolong dalam Kerajaan Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Monocotyledoneae, Ordo Glumaceae, Famili Graminae, Genus
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asal dan Penyebaran Tanaman Murbei Usaha persuteraan alam merupakan suatu kegiatan agroindustri yang memiliki rangkaian kegiatan yang panjang. Kegiatan tersebut meliputi penanaman
PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis)
1 PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis) Oleh : H E N D R I NIM: 070 500 104 PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN POLITEKNIK
Oleh : Ulfah J. Siregar
11 MODULE PELATIHAN BUDIDAYA TANAMAN KARET Oleh : Ulfah J. Siregar ITTO PROJECT PARTICIPATORY ESTABLISHMENT COLLABORATIVE SUSTAINABLE FOREST MANAGEMENT IN DUSUN ARO, JAMBI Serial Number : PD 210/03 Rev.
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Sistem perakaran tanaman bawang merah adalah akar serabut dengan
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Menurut Rukmana (2005), klasifikasi tanaman bawang merah adalah sebagai berikut: Divisio Subdivisio Kelas Ordo Famili Genus : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae
PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1
PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1 Wahyu Asrining Cahyowati, A.Md (PBT Terampil Pelaksana) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya I. Pendahuluan Tanaman kakao merupakan
PEMBERIAN PUPUK KANDANG AYAM PADA PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN KOPI (Coffea sp) Oleh : DONNY SETIAWAN NIM
PEMBERIAN PUPUK KANDANG AYAM PADA PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN KOPI (Coffea sp) Oleh : DONNY SETIAWAN NIM. 100 500 103 PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN
PELAKSANAAN PENELITIAN
PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Lahan Disiapkan lahan dengan panjang 21 m dan lebar 12 m yang kemudian dibersihkan dari gulma. Dalam persiapan lahan dilakukan pembuatan plot dengan 4 baris petakan dan
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Paprika. Syarat Tumbuh
4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Paprika Tanaman paprika (Capsicum annum var. grossum L.) termasuk ke dalam kelas Dicotyledonae, ordo Solanales, famili Solanaceae dan genus Capsicum. Tanaman paprika merupakan
PENGAMATAN PERKEMBANGAN BENIH KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg) KLON PB 260 DENGAN INTERVAL PENGENDALIAN GULMA YANG BERBEDA
PENGAMATAN PERKEMBANGAN BENIH KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg) KLON PB 260 DENGAN INTERVAL PENGENDALIAN GULMA YANG BERBEDA Oleh SYUKUR, SP, MP NIP. 19720401 200604 1 019 BALAI PELATIHAN PERTANIAN
TINJAUAN PUSTAKA. Euphorbiaceae, Genus: Hevea, Spesies: Hevea brassiliensismuell.arg.
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut Divisi: Spermatophyta, Subdivisi: Angiospermae, Kelas: Monocotyledoneae, Ordo: Euphorbiales, Famili: Euphorbiaceae, Genus:
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi Kedelai Berdasarkan klasifikasi tanaman kedelai kedudukan tanaman kedelai dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut (Cahyono, 2007):
I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.
I. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2010 sampai dengan panen sekitar
PERKEMBANGBIAKAN VEGETATIF CANGKOK. Di Susun Oleh: Kelompok 7 Sony Paula
PERKEMBANGBIAKAN VEGETATIF CANGKOK Di Susun Oleh: Kelompok 7 Sony Paula JURUSAN AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUSAMUS MERAUKE 2015 DAFTAR ISI BAB 1 PENDAHULUAN...2 A. Latar belakang...2
II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung manis termasuk dalam golongan famili graminae dengan nama latin Zea
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Jagung Manis Jagung manis termasuk dalam golongan famili graminae dengan nama latin Zea mays saccarata L. Menurut Rukmana ( 2009), secara sistematika para ahli botani mengklasifikasikan
PENYIAPAN BIBIT UBIKAYU
PENYIAPAN BIBIT UBIKAYU Ubi kayu diperbanyak dengan menggunakan stek batang. Alasan dipergunakan bahan tanam dari perbanyakan vegetatif (stek) adalah selain karena lebih mudah, juga lebih ekonomis bila
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Mangga berakar tunggang yang bercabang-cabang, dari cabang akar ini tumbuh
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Mangga berakar tunggang yang bercabang-cabang, dari cabang akar ini tumbuh cabang lagi kecil-kecil, cabang kecil ini ditumbuhi bulu-bulu akar yang sangat halus. Akar tunggang
Peluang Usaha Budidaya Cabai?
Sambal Aseli Pedasnya Peluang Usaha Budidaya Cabai? Tanaman cabai dapat tumbuh di wilayah Indonesia dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Peluang pasar besar dan luas dengan rata-rata konsumsi cabai
SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO
SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,
Sambung Pucuk Pada Tanaman Durian
Sambung Pucuk Pada Tanaman Durian Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP GRAFTING atau ent, istilah asing yang sering didengar itu, pengertiannya ialah menggambungkan batang bawah dan batang atas dari
BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR
13 BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir dilaksanakan di Dusun Kwojo Wetan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. B. Waktu Pelaksanaan
TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit
3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan berupa pohon batang lurus dari famili Palmae yang berasal dari Afrika. Kelapa sawit pertama kali diintroduksi ke Indonesia
II. TINJAUAN PUSTAKA. Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemupukan pada Tanaman Tomat 2.1.1 Pengaruh Aplikasi Pupuk Kimia Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada tanaman tomat tertinggi terlihat pada
TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Alexopoulus dan Mims (1979), klasifikasi jamur C. cassiicola. : Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) Wei.
19 TINJAUAN PUSTAKA Biologi Penyakit Menurut Alexopoulus dan Mims (1979), klasifikasi jamur C. cassiicola adalah sebagai berikut : Divisio Sub Divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Eumycophyta : Eumycotina
TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis
16 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Ada 2 tipe akar ubi jalar yaitu akar penyerap hara di dalam tanah dan akar lumbung atau umbi. Menurut Sonhaji (2007) akar penyerap hara berfungsi untuk menyerap unsur-unsur
TINJAUAN PUSTAKA. dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom :
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Berdasarkan klasifikasi taksonomi dan morfologi Linneus yang terdapat dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom : Plantae, Divisio : Spermatophyta,
II. TINJAUAN PUSTAKA A.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Morfologi Tanaman Pakcoy Pakcoy (Brassica rapa L.) adalah jenis tanaman sayur-sayuran yang termasuk keluarga Brassicaceae. Tumbuhan pakcoy berasal dari China dan telah dibudidayakan
BUDIDAYA KELAPA SAWIT
KARYA ILMIAH BUDIDAYA KELAPA SAWIT Disusun oleh: LEGIMIN 11.11.5014 SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMUNIKASI AMIKOM YOGYAKARTA 2012 ABSTRAK Kelapa sawit merupakan komoditas yang penting karena
Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag
Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag Oleh : Tatok Hidayatul Rohman Cara Budidaya Cabe Cabe merupakan salah satu jenis tanaman yang saat ini banyak digunakan untuk bumbu masakan. Harga komoditas
II. TINJAUAN PUSTAKA. Ordo: Polypetales, Famili: Leguminosea (Papilionaceae), Genus:
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani Tanaman Kedelai Suprapto (1999) mennyatakan tanaman kedelai dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Divisi: Spermatophyta, Kelas: Dicotyledone, Ordo:
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit
3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Arecaceae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai penghasil minyak sayur yang berasal
TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.)
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) Menurut Fachruddin (2000) tanaman kacang panjang termasuk famili leguminoceae. Klasifikasi tanaman kacang panjang
Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk
Standar Nasional Indonesia Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk ICS 65.020.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...
I. PENDAHULUAN. Asia tenggara lainnya, yaitu Malaysia dan Thailand, sejak dekade 1920-an sampai sekarang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan Negara Perkebunan karet terluas di dunia, meskipun tanaman karet Sendiri baru di introduksikan pada tahun 1864. Dalam waktu kurun sekitar 150 tahun
TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman ubi kayu diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Plantae,
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman: Tanaman ubi kayu diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Plantae, Divisi : Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo : Euphorbiales, Famili
BAB I PENDAHULUAN. buah ini sudah lama menjadi salah satu makanan khas dari kota Medan.Buah ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG USAHA Durian merupakan salah satu jenis buah yang sangat di idolakan di Indonesia. Sesuai dengan sebutan durian yang di duga berasal dari istilah melayu, buah ini sudah
II. TINJAUAN PUSTAKA. A.Kelas Kesesuaian Lahan dan Syarat Tumbuh Tanaman Karet
II. TINJAUAN PUSTAKA A.Kelas Kesesuaian Lahan dan Syarat Tumbuh Tanaman Karet 1.Kelas Kesesuaian Lahan Menurut Darsiman dan Dora, SD (2008). Kelas lahan adalah tingkat kesesuaian dalam tingkat ordo. Berdasarkan
Budidaya Tanaman Obat. Elvira Syamsir
Budidaya Tanaman Obat Elvira Syamsir Budidaya Tanaman Obat untuk Murid Sekolah Dasar Pengarang: Elvira Syamsir ilustrator: yanu indaryanto Penerbit: Seafast Center IPB DISCLAIMER This publication is made
Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah. Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat
Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah Oleh : Juwariyah BP3K garum 1. Syarat Tumbuh Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat tumbuh yang sesuai tanaman ini. Syarat tumbuh tanaman
TINJAUAN PUSTAKA. Teknik Budidaya Melon
TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Diskripsi Tanaman Melon Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu anggota famili Cucurbitaceae genus Cucumis. Melon berasal dari Afrika Timur dan Afrika Timur-Laut. Melon
APLIKASI PUPUK KOTORAN AYAM DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN LADA (Piper ningrum L) Oleh
1 APLIKASI PUPUK KOTORAN AYAM DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN LADA (Piper ningrum L) Oleh SABIR NIM. 070500114 PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN POLITEKNIK
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kecamatan Sawit memiliki ketinggian tempat 150 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan
(STEK-SAMBUNG) SAMBUNG)
PERBANYAKAN TANAMAN ANGGUR DENGAN STEKBUNG (STEK-SAMBUNG) SAMBUNG) Perbanyakan anggur yang banyak dilakukan adalah dengan stek batang/cabang Cabang/ranting yang digunakan adalah hasil dari pangkasan lanjutan/produksi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistematika dan Botani Tanaman Jagung Manis Tanaman jagung manis termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea mays saccharata Sturt. Dalam Rukmana (2010), secara
TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Ekologi Tanaman Tebu
TINJAUAN PUSTAKA 4 Botani dan Ekologi Tanaman Tebu Tebu (Saccharum officinarum L.) termasuk dalam divisi Spermatophyta, kelas Monocotyledone, ordo Graminales dan famili Graminae (Deptan, 2005). Batang
TINJAUAN PUSTAKA. Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang
17 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang cukup lengkap untuk mempertahankan kesehatan tubuh. Komposisi zat-zat makanan yang terkandung dalam
TINJAUAN PUSTAKA. Karakteristik Karet
3 TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Karet Karet (Havea brasiliensis) merupakan tanaman asli dari Amerika Selatan. karet merupakan tanaman berkayu yang memiliki tinggi dan diameter mencapai 40 m dan 35 cm
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu pembibitan di Kebun Percobaan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor, dan penanaman dilakukan di
TINJAUAN PUSTAKA Botani
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman apel berasal dari Asia Barat Daya. Dewasa ini tanaman apel telah menyebar di seluruh dunia. Negara penghasil utama adalah Eropa Barat, negaranegara bekas Uni Soviet, Cina,
Chart Title. Indonesia 3.5 ha Thailand 2 ha Malaysia 1.5 ha
Chart Title Indonesia 3.5 ha Thailand 2 ha Malaysia 1.5 ha Data statistic Ditjen perkebunan tahun 2007, hanya 9 dari 33 propinsi yang tidak ditemukan pohon karet yaitu : DKI-Jakarta, Nusa Tenggara Barat,
PERBANYAKAN BAHAN TANAM LADA DENGAN CARA STEK
PERBANYAKAN BAHAN TANAM LADA DENGAN CARA STEK ( Piper ningrum L. ) Oleh Murhawi ( Pengawas Benih Tanaman Ahli Madya ) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya A. Pendahuluan Tanaman
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. : Hevea brasiliensis Muell Arg. penyediaan batang bagian bawah harus sungguh-sungguh baik
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Menurut Setiawan dan Andoko (2005), klasifikasi tanaman karet (Hevea brasiliensis) adalah sebagai berikut : Divisi Subdivisi Kelas Ordo Family Genus Spesies : Spermatophyta
TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016 di Lahan Percobaan, Laboratorium Penelitian dan Laboratorium Tanah Fakultas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Mentimun Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam : Divisi :
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cabai (Capsicum sp ) merupakan tanaman semusim, dan salah satu jenis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman cabai Cabai (Capsicum sp ) merupakan tanaman semusim, dan salah satu jenis tanaman hortikultura penting yang dibudidayakan secara komersial, hal ini disebabkan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Caulifloris. Adapun sistimatika tanaman kakao menurut (Hadi, 2004) sebagai
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani Tanaman Kakao Kakao merupakan tanaman yang menumbuhkan bunga dari batang atau cabang. Karena itu tanaman ini digolongkan kedalam kelompok tanaman Caulifloris. Adapun sistimatika
TINJAUAN PUSTAKA. Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Taksonomi Tanaman Dracaena Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan beruas-ruas. Daun dracaena berbentuk tunggal, tidak bertangkai,
TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai
3 TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Cabai ditemukan pertama kali oleh Columbus pada saat menjelajahi Dunia Baru. Tanaman cabai hidup pada daerah tropis dan wilayah yang bersuhu hangat. Selang beberapa
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2011 sampai dengan panen sekitar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Caisim (Brassica juncea L.) Caisim merupakan jenis sayuran yang digemari setelah bayam dan kangkung (Haryanto dkk, 2003). Tanaman caisim termasuk dalam famili Cruciferae
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Lapangan Terpadu Kampus Gedung Meneng Fakultas
19 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lapangan Terpadu Kampus Gedung Meneng Fakultas Pertanian, Universitas Lampung Kampus Gedung Meneng, Bandar Lampung dan
BUDIDAYA CABAI KERITING DALAM POT. Oleh: YULFINA HAYATI
BUDIDAYA CABAI KERITING DALAM POT Oleh: YULFINA HAYATI PENDAHULUAN Tanaman cabai (Capsicum annum) dalam klasifikasi tumbuhan termasuk ke dalam family Solanaceae. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah
