Pembelajaran Geometri Berbasis Creative Problem Solving (CPS) dengan Pendekatan Al-Qur an
|
|
|
- FEBRIANA KRISTANTI SARDJONO
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Pembelajaran Geometri Berbasis Creative Problem Solving (CPS) dengan Pendekatan Al-Qur an Febriana Kristanti Universitas Muhammadiyah Surabaya Geometri merupakan salah satu cabang matematika yang dapat menumbuhkan kemampuan berfikir logis dan kemapuan memecahkan masalah. Pembelajaran geometri merupakan pembelajaran yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan mudah dapat dipakai untuk memotivasi dan menarik perhatian serta merangsang imajinasi peserta didik. Namun, pada kenyataan dilapangan, ternyata banyak peserta didik yang merasa sulit untuk memahami geometri. Tujuan penulisan artikel untuk mendeskripsikan suatu model pembelajaran geometri yang memusatkan pada pengajaran dan keterampilan menyelesaikan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu masalah. Penulis menggunakan metode kajian pustaka untuk merancang model pembelajaran ini. Model pembelajaran ini tidak hanya menitik beratkan pada capaian kemampuan kognitif saja, melainkan juga pembelajaran yang dapat menanamkan karakter nilai islami bagi peserta didik. Model pembelajaran yang dihasilkan adalah model pembelajaran geometri berbasis Creatif Problem Solving (CPS) dengan pendeatan Al- Qur an. Kata kunci: Creatif Problem Solving (CPS), pendekatan Al-Quran, Geometri I. PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk ciptaan Allah dengan kesempurnaan bentuk dan akal yang tidak dimilikki oleh makhluk yang lain. Oleh karena itu, sebagai umat Islam, manusia diwajibkan dan diperintahkan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Sebagaimana dalam sebuah hadis dijelaskan, referensi [1] Tuntutlah ilmu pengetahuan, sekalipun ke negeri Cina, maka sesungguhnya mencari ilmu wajib atas tiap-tiap orang Islam. Sesungguhnya para Malaikat itu mengembangkan sayapnya menaungi orang-orang yang menuntut ilmu, karena mereka suka kepada yang ia tuntut (Ilmu). (HR. Ibnu Abdil Bar). Ilmu memberikan kemampuan dan pertahanan hidup bagi seseorang untuk dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya dengan suatu proses pemecahan masalah kehidupan. Sehinnga Allah SWT menempatkan orang berilmu di tempat yang mulia di sisinya. Referensi [2], dalam bukunya Perspektif Al-Qur an tentang manusia dan agama, menyatakan bahwa iman dan sains merupakan karakteristik insani. Fitrah manusia pada hakikatnya selalu ingin tahu gejala dan fenomena alam apa saja yang terjadi pada alam semesta, hal ini menunjukan bahwa jiwa sains yang merupakan bagian dari ilmu pengetahuan ada dalam diri setiap orang. Selain itu, manusia juga memiliki fitrah iman yaitu sikap yang mengarah pada kebenaran, kesucian, dan penyembahan. Sehingga, iman dan ilmu merupakan karakteristik setiap insan yang keduanya tidak dapat dipisahkan. Iman tanpa ilmu akan berdampak fanatisme dalam diri seseorang, sehingga dapat mengarah pada kemunduran dan kebodohan dalam berfikir. Ilmu tanpa iman akan berdampak kemurkaan, keserakahan, kejahatan, dan kesombongan. Oleh karena itu, iman dan sains harus tumbuh pada fitrah setiap manusia secara seimbang dan saling melengkapi satu sama lain sehingga terhindar dari paradigma dikotomisasi antara agama dan ilmu penegtahuan. Sebagaimana dalam sebuah Surat Al-Alaq ayat 1-5 yang artinya: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3) Yang mengajarkan manusia dengan perantara kalam (4) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui (5).. Dalam surat Al-Alaq di atas, manusia diharapkan dapat belajar dan dapat mengetahui banyak ilmu sehingga manusia dapat menjadi manusia seutuhnya dengan dasar iman kepada Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah untuk mengatur perpaduan antara iman dan ilmu. Islam dengan kitabnya Al-Qur an adalah agama yang menjadi dasar ilmu dalam dunia pendidikan. Ada banyak ayat-ayat dalam Al-Qur an yang erat hubungannya dengan ilmu pengetahuan salah satunya adalah Surat Al- Baqarah ayat 31 yang artinya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-ku nama-nama benda 776 ISBN
2 itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar.. Dalam surat Al-Baqarah di atas, pada zaman Nabi Adam telah ditemukan sektor pertanian dan perternakan. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan (sains) sudah ada sejak zaman Nabi Adam as, bahkan Nabi Adam as mendapat julukan sebagai bapak sains yang memperkenalkan teknologi, seperti pada [3]. Ilmu pengetahuan termasuk matematika, fisika, kimia biologi dan masih banyak yang lain yang terhimpun dalam ilmu sains merupakan ilmu-ilmu yang bersumber pada Al-Qur an. Al-Qur an merupakan kalam Allah yang juga mengkaji tentang prinsip-prinsip matematika. Matematika adalah sebuah ilmu pasti yang memang selama ini menjadi induk dari segala ilmu pengetahuan, sehingga matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sangat penting dan menjadi dasar ilmu lainnya. Terlepas dari unsur matematika, kebudayaan dan peradapan manusia tidak akan berkembang seperti saat ini. Oleh karena itu, matematika dijadikan alat untuk mengembangkan cara berfikir dalam mengadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan mengenai matematika ternyata memiliki arti penting dalam pembentukan konsepsi hidup manusia, salah satu konsep matematika tercontohkan pada surat Al-Isra ayat 12, artinya: Dan kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang-benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.. Ayat tersebut mengenalkan konsep matematika sebagai alat bantu menyelesaikan persoalan yang memerlukan perhitungan. Tanpa matematika, nampaknya pengetahuan akan berhenti pada tahap kualitatif yang tidak membutuhkan tingkat penalaran lebih tinggi. Perspektif tersebut, menjadikan matematika sebagai ilmu pengetahuan yang wajib diajarkan di setiap jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA sampai perguruan tinggi. Namun, pada kenyataanya tidak semua peserta didik dapat memahami dengan mudah semua konsep matematika. Seringkali matematika dianggab sebagai ilmu yang abstrak dan berpola pikir deduktif, sehingga membutuhkan tingat pemahaman dan keterampilan secara mendalam. Salah satu konsep matematika yang dianggap membutuhan tingkat pemahaman yang cukup tinggi adalah geometri. Geometri adalah salah satu cabang matematika yang berhubungan dengan temapat kedudukan suatu titik. Menurut National Council of Teachers of Mathematics (NTCM), referensi [4], menyatakan bahwa secara umum kemampuan geometri yang harus dimiliki peserta didik adalah: 1) Mampu menganalisis karakter dan sifat dari bentuk geometri baik 2D dan 3D; dan mampu membangun argumen-argumen matematika mengenai hubungan geometri dengan yang lainnya; 2) Mampu menentukan kedudukan suatu titik dengan lebih spesifik dan gambaran hubungan spasial dengan sistem yang lain; 3) Aplikasi transformasi dan menggunakannya secara simetris untuk menganalisis situasi matematika; 4) Menggunakan visualisasi, penalaran spasial, dan model geometri untuk memecahkan permasalahan. Referensi [5], menyatakan bahwa tujuan pembelajaran geometri adalah agar peserta didik, (1) memperoleh rasa percaya diri pada kemampuan matematikanya, (2) menjadi pemecah masalah yang baik, (3) dapat berkomunikasi secara matematis, dan (4) dapat bernalar secara matematis. Referensi [6], memandang, dalam pembelajaran geometri, peserta didik membutuhkan suatu konsep yang matang sehingga peserta didik mampu menerapkan keterampilan geometri yang dimiliki seperti menvisualisasikan, mengenal bermacam-macam bangun datar dan ruang, mendeskripsikan gambar, mengsketsa gambar bangun, melabel titik tertentu, dan kemampuan untuk mengenal perbendaan dan kesamaan antar bangun geometri. Selain itu, di dalam memecahkan masalah geometri dibutuhkan pola berpikir dalam menerapkan konsep dan keterampilan dalam memecahkan masalah tersebut. Model pembelajaran yang memusatkan pada pengajaran dan keterampilan pemecahan masalah yang diikuti dengan penguatan keterampilan adalah model Creative Problem Solving (CPS), seperti pada [7]. Referensi [8], dalam penelitiannya mengatakan bahwa CPS merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. CPS memiliki peran untuk perbaikan kualitas proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. CPS mempunyai 3 prosedur, yaitu: (1) Menemukan fakta, melibatkan penggambaran masalah, mengumpulkan dan meneliti data dan informasi yang bersangkutan; (2) Menemukan gagasan berkaitan dengan memunculkan dan memodifikasi gagasan tentang strategi CPS; (3) Menemukan solusi, yaitu proses evaluatif sebagai puncak CPS. Sasaran dari referensi [9], adalah sebagai berikut: (1) peserta didik akan mampu menyatakan urutan langkah-langkah pemecahan masalah dalam CPS; (2) peserta didik mampu menemukan kemungkinan-kemungkinan strategi CPS; (3) peserta didik mampu mengevaluasi dan menyeleksi kemungkinankemungkinan tersebut kaitannya dengan kriteria-kriteria yang ada; (4) peserta didik mampu memilih suatu pilihan solusi yang optimal; (5) peserta didik mampu mengembangkan suatu rencana dalam mengimplementasikan strategi CPS; (6) peserta didik mampu mengartikulasikan bagaimana CPS dapat digunakan dalam berbagai bidang atau situasi. CPS dan nilai-nilai karakter disarankan sebagai tujuan utama pendidikan Matematika dan merupakan dua hal yang bersifat sangat berkaitan satu sama lain. CPS sebagai model pembelajaran dan karakter sebagai nilai-nilai individu untuk membangun pemahaman sesuatu konsep, memberikan penekanan pada pentingnya keterlibatan pengalaman langsung dalam peoses pembelajaran. Nilai-nilai kareakter individu tumbuh jika dalam suatu proses pembelajaran terbangun kebermaknaan dalam diri peserta didik, yakni peserta didik lebih termnotivasi belajar dengan suasana belajar yang bermakna atau penuh arti merujuk pada prinsip belajar kebermaknaan, seperti pada [10]. Pada proses pembelajaran yang 777 ISBN
3 bermakna, diharapkkan pembelajaran tersebut dapat membuat peserta didik mengetahui dan menyadari bahwa matematika mempunyai arti dan kegunaan yang penting bagi dirinnya. Berdasaran permasalahan diatas, penulis akan merancang pembelajaran geometri berbasis Creatif Problem Solving (CPS) dengan pendekatan Al-Qur an. Rancangan pembelajaran dengan pendekatan Al-Qur an ini adalah desain pembelajaran yang mengkoneksikan matematika dan Al-Qur an, khususnya pada materi geometri. Pengkoneksian antara konsep geometri dan Al-Qur an yang tengah dikembangkan oleh para matematikawan mengajak peserta didik menyadari bahwa matematika adalah hal yang sangat penting dan bermakna dalam segala aspek kehidupan, termasuk keagamaan karena selain Al-Qur an membicarakan prinsip-prinsip dalam matematika, matematika juga dapat membantu kita dalam memahami Al-Qur an, seperti pada [11]. II. PEMBAHASAN 1. Pembelajaran Geometri berbasis Creatif Problem Solving (CPS) Geometri merupakan suatu konsep yang dapat dipakai untuk memotivasi dan menarik perhatian dan imajinasi peserta didik. Aktivitas-aktivitas dalam geometri dapat digunakan untuk mengenalkan ide-ide baru dimulai dengan sesuatu yang kongkrit, pengalaman memanipulasi yang menghasilkan suatu wawasan baru. Refrensi [12], menyatakan bahwa tujuan pembelajaran geometri adalah untuk mengembangan kemampuan pemecahan masalah dengan memanfaatkan pemikiran logis dan matematis. Pembelajaran geometri memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan intuisi ruang pikiran dengan memasuki dunia geometri yang pada dasarnya sudah dikenal semenjak mereka lahir. Dunia geometri yang sudah mereka kenal itulah yang menjadi tolak ukur dalam proses pembelajaran. Kemampuan pemecahan masalah dan imajinasi kreatif yang dikembangkan selama pembelajaran geometri membantu peserta didik dalam memahami konsep-konsep matematikaa lainnya. Menurut Edward L. Pinzzini, melalui proses CPS, peserta didik akan mampu menjadi pemikir yang handal dan mandiri. Mereka dirangsang untuk mampu menjadi seorang eksplorer mencari penemuan baru, inventor mengembangkan kriteria gagasan dan pengujian baru yang inovatif, designer mengkreasi rencana dan model terbaru, pengambil keputusan berlatih bagaimana menetapkan pilihan yang bijaksana, dan sebagai komunikatormengembangkan metode dan teknik untuk bertukar pendapat dan berinteraksi. Hal yang senada juga dinyatakan Referensi [13], CPS merupakan suatu program training yang didisain untuk meningkatkan perilaku kreatif dengan suatu cara sistematik dalam mengorganisasi dan memproses informasi dan gagasan agar dapat memahami dan memecahkan masalah secara kreatif sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat. Dengan tujuan umum yaitu meningkatkan perilaku kreatif dan kemampuan memecahkan masalah belajar berfikir diluar batas-batas yang sudah dikenal. Pembelajaran CPS, memberikan kebebasan yang luas dalam memecahkan masalah dengan strategi individu masing-masing, melatih kemampuan analisis ketika dihadapkan pada pertanyaan, dan peserta didik dapat melakukan keterampilan mencari solusi untuk mengembangkan tanggapannya, seperti pada [14]. Keterampilan dan kemampuan berpikir yang diperoleh ketika seseorang memecahkan masalah diyakini dapat menumbuhkan nilai-nilai karakter dalam menghadapi masalah di kehidupan sehari-hari. Referensi [15], keunggulan dari model CPS adalah: (1) Melatih peserta didik untuk mendesain suatu penemuan; (2) Berpikir dan bertindak kreatif; (3) Memecahkan masalah secara realistis; (4) Melatih peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran; (5) Melatih peserta didik menyatakan urutan langkah-langkah pemecahan masalah; (6) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengungkapkan gagasan; (7) Merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat. Referensi [16], dalam penelitiannya, kemampuan dasar yang perlu dimiliki peserta didik dalam pembelajaran CPS, adalah: (1) menyatakan urutan langkah-langkah pemecahan masalah dengan teliti; (2) menemukan kemungkinan strategi pemecahan masalah dengan bekerjasama; (3) mengevaluasi dan menyaksikan kemungkinan yang berkaitan dengan kriteria-kriteria yang ada dengan kritis; (4) memilih suatu pilihan solusi yang optimal dengan jujur; (5) mengembangkan suatu rencana dalam mengimplementasikan strategi pemecahan masalah dengan kreatif dan tanggung jawab. Lebih lanjut, Referensi [17], langkah-langkah CPS dalam pembelajaran matematika sebagai hasil gabungan prosedur Von Oech dan Osborn, yaitu: (1) klarifikasi masalah; (2) pengungkapan gagasan; (3) evaluasi dan seleksi; (4) implementasi. Hal yang senada dijelaskan referensi [18], bahwa tahap CPS adalah: (1) temukan fakta-fakta/fact-finding; (2) tentukan masalahnya/problem finding; (3) pikirkan macam-macam kriteria ideafinding; (4) mengambil keputusan/solution-finding; (5) menentukan tindakan/acceptand-finding. Referensi [19], seting kelas dalam pembelajaran CPS terdapat diskusi kelompok (small discussion) dengan anggota kelompok heterogen berdasarkan tingkat kemampuan awalnya. Pembagian kelompok yang heterogen ini sesuai penjabaran Piaget terhadap implikasi teori kognitif dalam pendidikan, yang antara lain memaklumi adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangannya, kemudian dalam pembelajaran pendidik harus melakukan upaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individu-individu ke dalam bentuk kelompok-kelompok kecil peserta didik. Dari referensi-referensi diatas, maka penulis akan merancang suatu model pembelajaran geometri berbasis CPS. Sajian indikator dalam pembelajaran geometri berbasis CPS tertuang dalam sintak pembelajaran yang 778 ISBN
4 dirancang berdasarkan level berfikir Van Hiele, seperti pada [20]. Sintak pemebelajaran geometri berbasis CPS dirancang dalam tabel 1. Tabel 1. Sintaks Pembelajaran Geometri Berbasis CPS Tahap Kegiatan pendidik Indikator Level Berifikir Van Hiele Tahap-1 Orientasi peserta didik pada masalah; Menyatakan urutan langkah-langkah pemecahan masalah; Pendidik menjelaskan tujuan pembelajaran, mengajukan fenomena atau fakta berupa demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah serta memotifasi peserta didik untuk terlibat dalam penyelesaian masalah yang dipilih; Level 0: (Level visualisasi dikenal dengan level dasar, level rekognisi, level holistic, dan level visual) Level ini muncul pada saat pendidik mengajukan fenomena atau fakta berupa demontrasi atau cerita yang nantinya mengarah pada munculnya masalah. Pada level ini, peserta didik mengenal bentukbentuk geometri hanya pada karakteristik visualnya saja. Tahap-2 Mengorganisa sikan peserta didik untuk belajar; Pendidik membimbing peserta didik melakukan identifikasi masalah dan merumuskan sebuah masalah autentik sesuai dengan materi yang diajarkan; Menemukan kemungkinan strategi pemecahan masalah; Peserta didik secara eksplisit tidak terfokus pada sifat-sifat objek yang diamati, tetapi memandang objek secara keseluruhan. Oleh karena itu, pada level ini peserta didik tidak dapat memahami dan menentukan sifat kriteria dan karakteristik bangun yang ditunjukan. Sehingga peserta didik hanya diminta untuk menyebutkan urutan langkah-langkah pemecahan masalah Level 1: (Level analisis dikenal dengan level deskriptif) Pada level ini sudah terlihat adanya analisi peserta didik terhadap konsep dan sifat-sifat bangun geometri. Peserta didik dapat menentuan sifat-sifat suatu bangun dengan melakukan pengamatan, pengukuran, eksperimen, menggambar dan membuat model. Hal ini terlihat dari kegiatan pendidik yang mengajak peserta didik melakukan identiviasi dan merumuskkan maslah, sehingga peserta didik diharapan dapat menemukan beberapa kemungkinan strategi dalam pemecahan masalah. Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok; Pendidik memotivasi peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen sehingga muncul gagasan orisinil untuk menemukan solusi (penyelesaian Mengevalausi dan menyaksikan kemungkinan yang berkaitan dengan kriteria-kriteria yang ada Pada level ini, peserta didik belum sepenuhnya dapat menjelaskan hubungan antara beberapa bangun geometri dan peserta didik belum mampu memahami definisi. Hal ini terlihat masih diperlukannya pembimbingan pendidik pada tahap mengorganisasikkan peserta didik. Level 2: (Level deduksi informal dikenal dengan level abstraksi, level relasional, level teoritik, dan level keterkaitan) Pada level ini, peserta didik sudah dapat melihat hubungan sifat-sifat pada suatu bangun geometri dan sifat-sifat dari berbagai bangun dengan menggunakan deduksi informal, dan dapat mengklarifikasikan bangun-bangun secara 779 ISBN
5 masalah); hierarki. Hal ini terlihat dari kegiatan pendidik mengajak peserta didik untuk melaksanakan eksperimen sehingga muncul gagasan orisinil untuk menemukan solusi (penyelesaian masalah). Sehingga peserta didik dapat mengevalausi dan menyaksikan kemungkinan yang berkaitan dengan kriteria-kriteria yang ada. Tahap-4 Mengembang an dan menyajikan hasil karya; Pendidik membantu dan mengarahan peserta didik dalam menyiapkan laporan presentasi atau menyelesaikan soalsoal yang relevan; Memilih suatu pilihan solusi yang optimal; Meskipun demikian, peserta didik belum mengeti bahwa deduksi logis adalah metode untu membangun geometri. Hal ini terlihat dari kegiatan pendidik yang meminta peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang terait dengan masalah yang telah diberikan. Level 3: (Level deduksi formal) Pada level deduksi formal peserta didik tidak hanya sekedar menerima bukti tetapi sudah mampu menyusun bukti. Hal ini terlihat dari kegiatan pendidik yang mengarahkan peserta didik dalam menyiapkan laporan. Tahap-5 Menganalisi dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah Pendidik membimbing peserta didik dalam menganalisis dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah Mengembangan suatu rencana dalam mengimplementasik an strategi pemecahan masalah. Peserta didik dapat menysun teorema dalam aksiomatik dan mereka berpeluang untuk mengembangkan bukti lebih dari satu cara. Perbedaan antara pernyataan dan konversinya dapat dibuat dan peserta didik menyadari perlunya pembuktian melalui serangkaian penalaran deduktif. Hal ini terlihat dari pendidik meminta peserta didik untuk menyelesaian soalsoal yang relevan sehingga peserta didik menentukan pilihan solusi yang optimal. Level 4: (Level Rigor atau level matematika) Pada level ini, matematikkawan bernalar secara formal dalam sistem matematika serta dapat menganalisis konsekuensi dari manipulasi aksioma dan definisi. Saling berkaitan antara bentuk yang tidak didefinisikan, aksioma definisi, teorema, dan pembuktian formal sudah dapat dipahami. Hal ini terlihat dari kegiatan pendidik membimbing sisiwa dalam menganalisis dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah. Sehingga peserta didik diharapkan dapat mengembangan suatu rencana dalam mengimplementasikan strategi pemecahan masalah. 2. Pembelajaran dengan pendekatal Al-Qur an Penulis akan merancang pembelajaran geometri berbasis Creatif Problem Solving (CPS) dengan pendekatan Al-Qur an. Rancangan pembelajaran dengan pendekatan Al-Qur an ini adalah desain pembelajaran yang mengkoneksikan matematika dan Al-Qur an, khususnya pada materi geometri. Pengkoneksian antara konsep geometri dan Al-Qur an yang tengah dikembangkan oleh para matematikawan mengajak peserta didik menyadari bahwa matematika adalah hal yang sangat penting dan bermakna dalam segala aspek kehidupan, termasuk keagamaan karena selain Al-Qur an membicarakan prinsip-prinsip dalam matematika, matematika juga dapat membantu kita dalam memahami Al-Qur an. Pengkoneksian tersebut dituangkan ke dalam buku ajar yang berisi tentang konsep-konsep dasar geometri yang dikaitkan dengan ayat Al-Qur an. Buku ajar ini akan digunakan 780 ISBN
6 sebagai buku pendamping peserta didik pada suatu proses belajar geometri berbasis CPS. Setiap bab pada buku ajar ini akan ditarik intisari atau garis besar permasalahan untuk dikaitkan dengan nilai-nilai keislaman. Buku ajar ini diharapan dapat membangun kebermaknaan dalam proses pembelajaran. Sehinnga pada proses pembelajaran yang bermakna, diharapkkan pembelajaran tersebut dapat membuat peserta didik mengetahui dan menyadari bahwa matematika mempunyai arti dan kegunaan yang penting bagi dirinnya. Al-Qur an mengajaran kepada umat manusia bahwa Tuhan menciptakan sesuatu dengan hitungan teliti (QS.Al-Jin ayat 28). Tidak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan di dunia ini. Semua terjadi dengan Hitungan dan kecermatan angka-angkanya, baik dengan hukum-hukum alam yang dienal manusia maupun yang belum. Namun, bagi muslim yang beriman, tidak ada bedanya apakah Al-Quran diciptakan dengan Hitungan atau tidak, mereka tetap percaya bahwa kitab yang mulia ini berasal dari Allah SWT. Namun bagi sebagian ilmuwan, terutama yang muslim, percaya bahwa adanya tanda-tanda kekuasaan Allah Ta ala adalah suatu yang menarik dan menakjubkan jika kita dapat menemukan hubungan-hubungan tersebut, seperti pada [21]. III. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasaran hasil kajian pustaka yang telah dilakukan, dapat dibuat kesimpulan bahwa model pembelajaran geometri yang memusatkan pada pengajaran dan keterampilan menyelesaikan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu masalah dapat dirancang dalam bentuk suatu model pembelajaran geometri berbasis Creatif Problem Solving (CPS). Model pembelajaran ini tidak hanya menitik beratkan pada capaian kemampuan kognitif saja, melainkan juga merupakan pembelajaran bermakna dalam segala aspek kehidupan, termasuk keagamaan yang dapat menanamkan karakter nilai islami bagi peserta didik. Model pembelajaran yang dihasilakan adalah model pembelajaran geometri berbasis Creatif Problem Solving (CPS) dengan pendeatan Al-Qur an. IV. UCAPAN TERIMAKASIH Alhamdulillahi rabbil alamin. Segala puji syukur dan terima kasih yang tak terhingga kami ucapkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan artikel ini. Shalawat dan salam kami limpahkan bagi junjungan kita, penghulu para nabi, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta segenap keluarga, para sahabat serta para pengikutnya hingga yaumil akhir. Terima kasih juga kami ucapkan kepada tim, ibu Chusnal Ainy, M.Pd, bapak Shoffa Shoffa, M.Pd, yang telah memberi bimbingan, motivasi, dan semangat, sehingga terselesaikannya artikel ini. Terima kasih juga kepada Kemenristekdikti yang telah memberi kesempatan berkarya dalam bidang penelitian pendidikan yang InsyaAllah akan memberikan kemanfaatan bagi generasi penerus bangsa. V. DAFTAR PUSTAKA [1] As Sayyid Ahmad Al Hasyimiy, Tarjamah Muktarul Hadits Hikamil Muhammadiyah, Bandung, Alma arif, 1977, hal. 160 [2] Hanna Djumhana Bastaman, Perspektif Al-Qur an tentang manusia dan agama, Yoggyakarta, Pustaka Pelajar, 2005, hal. 19 [3] Maksudin, Desain Pengembangan Berpikir Integratif Interkonektif Pendidikan Dialektik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2015, hal. 77 [4] Siregih Sehatta, Profil Miskonsepsi Siswa SMP tentang Bangun Datar, Forum Pendidikan, 2002, hal [5] Bobango, J.C, Geometry for All Student: Phase-Based Instruction. Dalam Cuevas (Eds),Reaching All Students WithMathematics, Virginia, The National Council of Teachers of Mathematics,Inc, [6] Nur aini, Analisis Keterampilan Geometri Siswa Dalam Memecahkan Masalah Geometri Berdasarkan Tingkat Berpikir Van Hiele, Artikel dimuat pada Jurnal Elektronik Pembelajaran Matematika, Vol. 7, Nomor 1,2014, hal [7] Pepkin. K.L, Creative Problem Solving in Math, Diakses dari http//www. uh.edu/hti/cu/v02/04.htm,5 April [8] Rahayu, Kardina.I, Perbandingan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika antara Model Pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) dan Creative Problem Solving (CPS) dalam Materi Pokok Segi Empat pada Peserta Didik Kelas VII SMP N 2 Tengaran, Skripsi. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang,2010. [9] Amrulloh, Implementasi Model Pembelajaran Creatif Problem Soving (CPS) dengan Media CD Pembelajaran dan Analisis Kesalahan dalam Mengerjakan Soal pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Manidiraja Kabupaten Banjarnegara Materi Pokok Kubus dan Balok, Skripsi, Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang,2010. [10] Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, Jakarta, Bumi Kasara, 2007, hal. 23. [11] Abdussyakir, Ketika Kyai Mengajar Matematika, Malang,UIN Malang Press, ISBN
7 [12] Bobango, J.C., Geometry for All Student:Phase-Based Instruction. Dalam Cuevas(Eds). Reaching All Students With Mathematics, Virginia, TheNational Council of Teachers of Mathematics,Inc, [13] Utami Munandar. S.C., Dasar-dasar pengembangan Kretivitas Anak Berbakkat, Jakarta,Depdikbud, [14] Siska, Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Mahasiswa Pada Mata Kuliah Metode Numerik Dengan Pendekatan Creative Problem Solving, Makalah Dipresentasikan Dalam Seminar Nasional Matematika Dan Pendidikan Matematika Dengan Tema Penguatan Peran Matematika Dan Pendidikan Matematika Untuk Indonesia Yang Lebih Baik", Pendidikan Matematika FMIPA UNY,2013. [15] Nirmala, Nur Walidah, Keefektifan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dan Teams Games Tournament (TGT) Dikombinasikan Tahap Van Hielle Terhadap Hasil Belajar materi Segiempat Kelas VII SMP N 2 JakenKabupaten Pati Tahun Ajaran 2009/2010, Skripsi. Semarang, FMIPA Universitas Negeri Semarang, [16] Suyitno, Amir, Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika, Semarang:Pendidikan Matematika FMIPA UNNES, hal.34, [17] Cahyono, A. N., Pengembangan Model pembelajaran Creative Problem Solving berbasis Teknologi dalam Pembelajaran Matematika SMA, Artikel dimuat pada Jurnal Seminar Nasional V, UNNES,2009. [18] Utami Munandar S.C., Dasar-dasarpenegmbangan kretivitas anak berbakat, Jakarta, Depdikbud, 1995 [19] Asikin, Pujiadi, Pengaruh Model Pembelajaran Matematika Creative Problem Solving (CPS) Berbantuan CD Interaktif terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah pada Siswa SMA Kelas X, Lembaran Ilmu Kependidikan, hal37-45,2008. [20] Crowley, M.L, The van Hiele Model of Development of Geometric Though, Reston, VA: National Council Of Teachers of Mathematics,1987. [21] Gus AA., Matematika Al-Qur an, Rahma Media Pustaka, ISBN
BAB I PENDAHULUAN. 1 Sarbaini, Identifikasi Tingkat Berpikir Siswa Berdasarkan Teori Van
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu ilmu dasar yang mendukung kemajuan dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) adalah matematika. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Soedjadi dalam
BAB I PENDAHULUAN. daya manusia yang berkualitas, berkarakter dan mampu berkompetensi dalam
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, berkarakter dan mampu berkompetensi dalam perkembangan ilmu
Pengalaman Belajar sesuai Teori Berpikir van Hiele
Pengalaman Belajar sesuai Teori Berpikir van Hiele Posted by abdussakir on May 5, 2009 A. Teori Berpikir van Hiele Teori van Hiele yang dikembangkan oleh dua pendidik berkebangsaan Belanda, Pierre Marie
BAB I PENDAHULUAN. memperoleh informasi dengan cepat, melimpah dan mudah. Siswa sebagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan cepat, melimpah dan mudah. Siswa sebagai individu pembelajar perlu memiliki
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Pada kajian teori, pendapat-pendapat ahli yang mendukung penelitian akan dipaparkan dalam obyek yang sama, dengan pandangan dan pendapat yang berbedabeda. Kajian
BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir
Diajukan Oleh : IRFAKNI BIRRUL WALIDATI A
-USAHA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERNALAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN BELAJAR SOMATIS, AUDITORI, VISUAL DAN INTELEKTUAL (SAVI) ( PTK Pembelajaran Matematika Kelas VII SMP N II Wuryantoro)
BAB I PENDAHULUAN. dalam pembelajaran, hal ini menuntut guru dalam perubahan cara dan strategi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal utama yang dibutuhkan untuk menjamin kelangsungan hidup manusia karena pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan dan mengembangkan
ANALISIS KETERAMPILAN GEOMETRI SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI BERDASARKAN TINGKAT BERPIKIR VAN HIELE
ANALISIS KETERAMPILAN GEOMETRI SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI BERDASARKAN TINGKAT BERPIKIR VAN HIELE (Studi Kasus pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 16 Surakarta Tahun Ajaran 2013/2014) Nur aini
BAB I PENDAHULUAN. Undang-undang Nomor. 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Penjelasannya, Pasal 3.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu hal terpenting bagi masyarakat, baik masyarakat umum maupun masyarakat belajar, pendidikan juga mempunyai peranan yang sangat penting
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dipelajari di setiap jenjang pendidikan. Dalam dunia pendidikan, matematika merupakan ilmu universal yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Panji Faisal Muhamad, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sesuatu yang selalu menemani perjalanan kehidupan. Dengan pendidikan, manusia dapat mengembangkan potensinya. Seperti yang dijelaskan
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GEOMETRI DENGAN TEORI VAN HIELE
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GEOMETRI DENGAN TEORI VAN HIELE Husnul Khotimah Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Yogyakarata Abstrak Matematika memiliki berbagai cabang ilmu, salah satunya adalah Geometri.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan, matematika diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam rangka mengembangkan
PEMAHAMAN KONSEP DAN KOMUNIKASI MATEMATIK DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF CO-OP CO-OP
PEMAHAMAN KONSEP DAN KOMUNIKASI MATEMATIK DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF CO-OP CO-OP Mardiana Abstraksi Pembelajaran kooperatif Co-op Co-op. Model pembelajaran ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa
BAB II LANDASAN TEORI
6 BAB II LANDASAN TEORI A. Pembelajaran Matematika Matematika (dari bahasa Yunani: mathēmatiká) adalah studi besaran, struktur, ruang, dan perubahan. Para matematikawan mencari berbagai pola, merumuskan
BAB I PENDAHULUAN. Menengah Pertama Melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Metaphorical Thinking. (repository.upi.edu, 2013), 3.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 54 Tahun 2013 tentang standart lulusan dalam Dimensi Pengetahuan menyebutkan bahwa siswa harus memiliki pengetahuan faktual,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nurningsih, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran matematika tidak hanya mengharuskan siswa sekedar mengerti materi yang dipelajari saat itu, tapi juga belajar dengan pemahaman dan aktif membangun
BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai mahluk yang diberikan kelebihan oleh Allah swt dengan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berpikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI SEGIEMPAT BERBASIS TEORI VAN HIELE
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI SEGIEMPAT BERBASIS TEORI VAN HIELE Susanto, Yulis Jamiah, Bistari Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Untan Email: [email protected] Abstrak:Penelitian
Pengembangan Media Pembelajaran dengan GeoGebra untuk Visualisasi Penggunaan Integral pada Siswa SMA
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2015 PM -41 Pengembangan Media Pembelajaran dengan GeoGebra untuk Visualisasi Penggunaan Integral pada Siswa SMA Chairun Nisa Zarkasyi Prodi Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah, menurut. Kurikulum 2004, adalah membantu siswa mengembangkan kemampuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah, menurut Kurikulum 2004, adalah membantu siswa mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Masalah dapat muncul
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Semakin berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) pada masa global ini, menuntut sumber daya manusia yang berkualitas serta bersikap kreatif
BAB I PENDAHULUAN. diberikan Allah SWT semaksimal mungkin. Mempunyai akal pikiran yang cerdas
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan menjadi sebuah keperluan oleh setiap manusia sejak zaman dahulu. Pendidikan membuat manusia mampu memanfaatkan akal yang telah diberikan Allah SWT semaksimal
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maju mundurnya suatu bangsa banyak ditentukan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam pembelajaran matematika di sekolah matematika dibagi atas beberapa sub pelajaran, diantaranya sub mata pelajaran geometri. Peranan geometri dalam pelajaran
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
BAB I PENDAHULUAN. Islam sebagai agama yang paling sempurna dengan Al-Quran sebagai. pedoman pokok ajarannya, menegaskan kepada umatnya agar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah unsur terpenting dalam mewujudkan manusia seutuhnya. Karena maju mundurnya gerak dan kepribadian suatu bangsa kini ataupun masa yang akan datang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika adalah pengetahuan atau ilmu mengenai logika dan problemproblem numerik. Matematika membahas fakta-fakta dan hubungannya, serta membahas problem ruang
BAB I PENDAHULUAN. kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. 1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sering kali diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. 1 Pendidikan
PENINGKATAN LEVEL BERPIKIR SISWA PADA PEMBELAJARAN GEOMETRI DENGAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK
PENINGKATAN LEVEL BERPIKIR SISWA PADA PEMBELAJARAN GEOMETRI DENGAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK Oktorizal 1), Sri Elniati 2), dan Suherman 3) 1) FMIPA UNP, email: [email protected] 2,3)
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan ilmu matematika sampai saat ini, seperti Pythagoras, Plato,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika sudah ada semenjak zaman sebelum masehi. Banyak ilmuwan-ilmuwan zaman dahulu yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu matematika
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia mengindikasikan bahwa matematika sangatlah penting untuk
03/02/2010. Mari kita renungkan bersama sama!!!
Alamat: Jl. Mas Suharto 10 Yogyakarta 55212 Telp./Faks/email: 08562875885 081227147117 0274-563895 [email protected] Pendidikan: S1 Matematika UGM S2 Magister Manajemen UGM Sedang studi S2 Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam membangun suatu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam membangun suatu bangsa. Penduduk yang banyak tidak akan menjadi beban suatu negara apabila berkualitas, terlebih
UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIKA. (PTK Pembelajaran Matematika Kelas VII Semester II SMP Negeri 2
IMPLEMENTASI PENDEKATAN OPEN-ENDED PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIKA (PTK Pembelajaran Matematika Kelas VII Semester II SMP Negeri 2 Kartasura Tahun Ajaran
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan setiap manusia sepanjang hidupnya. Tanpa adanya pendidikan manusia akan sulit berkembang bahkan akan terbelakang. Salah satu
BAB I PENDAHULUAN. nasional yang telah dituangkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dunia pendidikan perlu sentuhan kreativitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang telah dituangkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Slameto (2010:3) belajar adalah proses usaha yang
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Slameto (2010:3) belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai
P - 92 PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN GEOMETRI BERBASIS ICT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MAHASISWA
P - 92 PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN GEOMETRI BERBASIS ICT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MAHASISWA Kuswari Hernawati 1, Ali Mahmudi 2, Himmawati Puji Lestari 3 1,2,3) Jurusan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sri Asnawati, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa dari siswa tingkat sekolah dasar, menengah hingga mahasiswa perguruan tinggi. Pada tiap tahapan
PENERAPAN MODEL ADVANCE ORGANIZER UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DAN ANALOGI MATEMATIS SISWA SMP
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika memiliki peran yang sangat luas dalam kehidupan. Salah satu contoh sederhana yang dapat dilihat adalah kegiatan membilang yang merupakan kegiatan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan di bidang pendidikan sebagai salah satu bagian dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan di bidang pendidikan sebagai salah satu bagian dari pembangunan dan juga berperan penting untuk menjamin kelangsungan hidup suatu bangsa dan negara.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ranah pendidikan merupakan bidang yang tak terpisahkan bagi masa depan suatu bangsa. Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang
BAB I PENDAHULUAN. diharapkan mampu membentuk individu-individu yang berkompentensi. sesuai bidang keahlian yang dipilih atau yang dimilikinya.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum pendidikan merupakan suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya. Pendidikan terdiri dari pendidikan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kemampuan Penalaran Matematis Shadiq (Depdiknas, 2009) menyatakan bahwa penalaran adalah suatu aktivitas berpikir untuk menarik kesimpulan dalam rangka membuat suatu pernyataan
BAB I PENDAHULUAN. 2006), hlm Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran sebagai aktivitas pendidikan secara formal paling tidak selalu melibatkan guru dan peserta didik. Keduanya saling berinteraksi aktif dan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran
8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pemecahan Masalah (Problem Solving) Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran yang berlandaskan teori konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Matematika mempunyai peran yang sangat besar baik dalam kehidupan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika mempunyai peran yang sangat besar baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lain. Dengan tidak mengesampingkan pentingnya
BAB I PENDAHULUAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan pembelajaran matematika tentu tidak akan terlepas dari masalah matematika. Pemecahan masalah merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran matematika,
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan matematika sangat berperan penting dalam upaya menciptakan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan matematika sangat berperan penting dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Matematika bukan pelajaran yang hanya memberikan
ANALISIS TINGKAT BERPIKIR SISWA BERDASARKAN TEORI VAN HIELE DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF
Prosiding Seminar Nasional Volume 03, Nomor 1 ISSN 2443-1109 ANALISIS TINGKAT BERPIKIR SISWA BERDASARKAN TEORI VAN HIELE DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF Firdha Razak 1, Ahmad Budi Sutrisno 2, A.Zam Immawan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Prahesti Tirta Safitri, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Matematika merupakan bidang ilmu yang sangat penting untuk dikuasai oleh setiap insan karena manfaatnya berdampak langsung dalam kehidupan manusia sehari-hari.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan salah satu ilmu yang wajib dipelajari di sekolah. Hal ini dikarenakan matematika memiliki peranan yang sangat penting khususnya dalam bidang pendidikan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu sistem berakar atau bersumber pada filsafat hidup. Dalam filsafat hidup inilah tercermin nilai-nilai yang dianut dan gambaran manusia
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Belajar Belajar adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan dengan sadar oleh seseorang ditandai adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman dan latihan, baik
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X SMA NEGERI 2 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh : LAKSMI PUSPITASARI K4308019
I. PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan suatu bangsa guna
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan suatu bangsa guna menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas dapat
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN GEOMETRI BERBASIS ICT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MAHASISWA
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN GEOMETRI BERBASIS ICT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MAHASISWA Kuswari Hernawati 1, Ali Mahmudi 2, Himmawati Puji Lestari 3 1,2,3) Jurusan Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Pada bab pendahuluan ini akan membahas tentang: (A) konteks penelitian,
BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan ini akan membahas tentang: (A) konteks penelitian, (B) fokus penelitian, (C) tujuan penelitian, (D) batasan masalah, (E) manfaat penelitian, (F) definisi istilah,
Kemampuan Penalaran Matematis Siswa SMP dalam Belajar Garis dan Sudut dengan GeoGebra
Suska Journal of Mathematics Education Vol.2, No. 1, 2016, Hal. 13 19 Kemampuan Penalaran Matematis Siswa SMP dalam Belajar Garis dan Sudut dengan GeoGebra Farida Nursyahidah, Bagus Ardi Saputro, Muhammad
BAB I PENDAHULAN. formal dan logis yang dimulai dengan aksioma dan bergerak maju melalui. langkah-langkah logis sampai pada suatu kesimpulan.
BAB I PENDAHULAN A. Latar Belakang Seorang matematikawan tidak akan mempercayai apapun tanpa ada bukti, sementara fisikawan akan mempercayai segalanya sebelum dibuktikan salah. 1 Ungkapan tersebut menggambarkan
MODEL PEMBELAJARAN PBL ( PROBLEM BASED LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PBL ( PROBLEM BASED LEARNING) MAKALAH INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS SEMINAR PENDIDIKAN DISUSUN OLEH KALAM SIDIK PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu cabang matematika yang diajarkan di sekolah adalah Geometri. Dari sudut pandang psikologi, geometri merupakan penyajian abstraksi dari pengalaman
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memasuki zaman modern seperti sekarang ini, manusia dihadapkan pada berbagai tantangan yang ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING TERHADAP MINAT BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IX SMP N 2 TUNTANG ABSTRAK
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING TERHADAP MINAT BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IX SMP N 2 TUNTANG Elleva Meichika Pratiwi, Kriswandani, S.Si., M.Pd., Erlina Prihatnani, S.Si.,
II. KERANGKA TEORITIS. Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang
II. KERANGKA TEORITIS A. Tinjauan Pustaka 1. Model Problem Based Learning (PBL) Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan dan pembelajaran merupakan suatu proses yang diarahkan untuk mengembangkan potensi manusia agar mempunyai dan memiliki kemampuan nyata dalam perilaku kognitif,
BAB I PENDAHULUAN. logis, konsisten, dan dapat bekerjasama serta tidak mudah putus asa.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan kemajuan zaman seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi yang melimpah,
Implementasi Model Project Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa
Implementasi Model Project Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Nadea Maudi 1) 1) Prodi Pendidikan Matematika STKIP Singkawang, Kalbar, Indonesia Ee-mail: [email protected]
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran merupakan perpaduan antara belajar dan mengajar. Seperti tercantum pada Pasal 1 UU No. 20 Tahun 2003, bahwa pembelajaran adalah proses interaksi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dengan perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah dengan signifikan sehingga banyak merubah pola pikir pendidik, dari pola pikir yang awam dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Arif Abdul Haqq, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah upaya sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003
BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri. 1
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran dalam rumpun sains yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis induktif dan deduktif dalam menyelesaikan
BAB I PENDAHULUAN. Matematika adalah salah satu ilmu dasar, yang sangat berperan penting
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika adalah salah satu ilmu dasar, yang sangat berperan penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu matematika dipelajari pada semua
BAB I PENDAHULUAN. memunculkan persaingan yang cukup tajam, dan sekaligus menjadi ajang seleksi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan masyarakat yang cenderung bersifat terbuka memberi kemungkinan munculnya berbagai pilihan bagi seseorang dalam menata dan merancang kehidupan masa
BAB II KAJIAN TEORITIS. Kemampuan berpikir tingkat tingi dapat dikembangkan dalam proses
BAB II KAJIAN TEORITIS A. Kajian Teori 1. Kemampuan Berpikir Kritis Kemampuan berpikir tingkat tingi dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran terutama dalam pembelajaran matematika, salah satunya adalah
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PENDIDIKAN DAN KOMPETENSI
Modul ke: 10Fakultas Didin EKONOMI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PENDIDIKAN DAN KOMPETENSI Hikmah P, SE, MM Program Studi MANAJEMEN Pengantar: Perlunya Penguasaan IPPTEK Penguasaan teknologi terkait erat dengan
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara karena maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kualitas
A. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Berpikir merupakan kemampuan alamiah yang dimiliki manusia sebagai pemberian berharga dari Allah SWT. Dengan kemampuan inilah manusia memperoleh kedudukan mulia
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seiring dengan perkembangan zaman, bangsa Indonesia harus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri karena persaingan dalam dunia pendidikan semakin ketat. Salah satu upaya yang dapat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbuka, artinya setiap orang akan lebih mudah dalam mengakses informasi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi dan era globalisasi yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di dunia yang terbuka,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fauzi Yuberta, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan manusia sepanjang hayat. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan
BAB II KAJIAN TEORI. hakekatnya adalah belajar yang berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur
9 BAB II KAJIAN TEORI A. Pembelajaran Matematika Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DENGAN METODE PEMBELAJARAN TRADE A PROBLEM PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 SIMPANG ULIM SKRIPSI
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DENGAN METODE PEMBELAJARAN TRADE A PROBLEM PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 SIMPANG ULIM SKRIPSI Diajukan Oleh : MUNZILIN NIM : 1032010097 Program Studi Pendidikan
MELALUI TUTUP KALENG BERBENTUK LINGKARAN Oleh : Nikmatul Husna
MENEMUKAN NILAI π DAN RUMUS KELILING LINGKARAN MELALUI TUTUP KALENG BERBENTUK LINGKARAN Oleh : Nikmatul Husna ([email protected]) A. PENDAHULUAN Pembelajaran matematika adalah suatu proses yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA
6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Hakekat Matematika Istilah matematika berasal dari Bahasa Yunani, mathein atau manthenein yang berarti mempelajari. Kata matematika juga diduga erat hubungannya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya pendidikan matematika dituntut harus mampu mengembangkan kemampuan berfikir yang dilandaskan pada kaidah-kaidah komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan
Analisis Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Tentang Bangun Datar Ditinjau Dari Teori Van Hiele ABSTRAK
Analisis Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Tentang Bangun Datar Ditinjau Dari Teori Van Hiele 1 Wahyudi, 2 Sutra Asoka Dewi 1 [email protected] 2 [email protected] ABSTRAK Penelitian
I. PENDAHULUAN. Sejarah suatu bangsa dapat dilihat dari perkembangan pendidikan yang diperoleh
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejarah suatu bangsa dapat dilihat dari perkembangan pendidikan yang diperoleh oleh rakyatnya. Maju atau tidaknya suatu bangsa juga dapat dilihat dari maju atau
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan pondasi utama dalam mengelola, mencetak dan. daya manusia yang handal dan berwawasan yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan pondasi utama dalam mengelola, mencetak dan meningkatkan sumber daya manusia yang handal dan berwawasan yang diharapkan mampu untuk menjawab tantangan
