BAB II TINJAUAN TEORI
|
|
|
- Devi Sumadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 8 BAB II TINJAUAN TEORI 2.1. Isolasi Sosial: Menarik Diri Pengertian Isolasi sosial merupakan kondisi kesendirian dialami oleh individu diterima sebagai ketentuan oleh orang lain sebagai suatu keadaan negatif atau mengancam. Kelainan interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seorang individu berpatisipasi dalam suatu kuantitas tidak cukup atau berlebih atau kualitas interaksi sosial tidak efektif (Townsend, 1998). Menurut Sunaryo (2004), menarik diri adalah mekanisme perilaku seseorang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dari pergaulan lingkungannya. Menurut Depkes RI (1989) penarikan diri atau withdrawal merupakan suatu tindakan melepaskan diri baik perhatian ataupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung dapat bersifat sementara atau menetap Etiologi Penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang
2 9 kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan ditandai aya perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, percaya diri kurang juga dapat mencederai diri (Carpenito, 2007) Faktor Predisposisi Ada berbagai faktor menjadi pendukung terjadinya perilaku menarik diri (Stuart & Sundeen, 1998), antara lain: Faktor perkembangan Tiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan dari masa bayi sampai dewasa tua akan menjadi pencetus seseorang sehingga mempunyai masalah respon sosial menarik diri. Sistem keluarga terganggu juga dapat mempengaruhi terjadinya menarik diri. Organisasi keluarga bekerja sama tenaga profesional untuk mengembangkan gambaran lebih tepat tentang hubungan antara kelainan jiwa stress keluarga. Pendekatan kolaburatif sewajarnya dapat
3 10 mengurangi masalah respon sosial menarik diri Faktor biologik Faktor genetik dapat menunjang terhadap respon sosial maladaptif. Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa. Kelainan struktur otak, seperti atropi, pembesaran ventrikel, penurunan berat volume otak serta perubahan limbik diduga dapat menyebabkan skizofrenia Faktor Sosiokultural Menarik diri merupakan faktor dalam gangguan berhubungan. Ini merupakan akibat dari norma tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau tidak menghargai masyarakat tidak produktif, seperti lansia, orang cacat berpenyakit kronik. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku, sistem nilai berbeda dari dimiliki budaya mayoritas. Harapan tidak realitis terhadap
4 11 hubungan merupakan faktor lain berkaitan gangguan ini Faktor Presipitasi Faktor presipitasi menarik diri menurut Stuart & Sundeen, 1998 antara lain: Faktor sosial budaya Faktor sosial budaya dapat menyebabkan terjadinya gangguan dalam membina hubungan orang lain, misalnya keluarga labil dirawat di rumah sakit Faktor psikologis Tingkat kecemasan berat akan menyebabkan menurunnya kemampuan individu untuk berhubungan orang lain. Intensitas kecemasan ekstrim memanjang disertai terbatasnya kemampuan individu untuk mengatasi masalah, diyakini akan menimbulkan berbagai masalah gangguan berhubungan (menarik diri).
5 Tanda Gejala Menurut Townsend (1998), isolasi sosial: menarik diri sering ditemukan aya tanda gejala sebagai berikut: Kurang spontan Apatis Ekspresi wajah tidak berseri Tidak memperhatikan kebersihan diri Komunikasi verbal kurang Menyendiri Tidak peduli lingkungan Asupan makanan terganggu Retensi urin feses Aktivitas menurun Posisi baring seperti fetus Menolak berhubungan orang lain
6 Rentang Respon Rentang respon menarik diri menurut Townsend tahun 1998: Rentang Respon Sosial Respon Adaptif - Menyendiri - Otonomi - Bekerja sama (mutualisme) - Saling ketergantungan (interdependent) Respon antara adaptif maladaptif - Merasa sendiri (loneliness) - Menarik diri - Tergantung (dependent) Respon Maladaptif - Menipulasi - Impulsive - Narcisisisme Gambar 2.1 Rentang Respon Sosial (Townsend, 1998) Berdasarkan bagan di atas, dapat dilihat rentang respon sosial dari respon adaptif sampai maladaptif berupa depersonalisasi: Menyendiri (solitude) merupakan respon dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa telah dilakukan dilingkungan sosialnya suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya Otonomi merupakan kemampuan individu untuk menentukan menyampaikan ide-ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
7 Bekerja sama (mutualisme) adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi menerima Saling tergantung (interdependent) adalah suatu kondisi saling tergantung antara individu orang lain dalam membina hubungan interpersonal Kesepian adalah kondisi dimana seseorang merasa sendiri, sepi, tidak aya perhatian orang lain atau lingkungannya Menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka orang lain Tergantung (dependent) terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri atau kemampuan untuk berfungsi secara sukses Manipulasi merupakan gangguan hubungan sosial terdapat pada individu menganggap orang lain sebagai objek. Individu tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam Curiga (impulsive) terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya orang lain. Kecurigaan ketidakpercayaan diperlihatkan
8 15 tanda-tanda cemburu, iri hati, berhatihati. Perasaan individu ditandai humor kurang individu merasa bangga sikapnya dingin tanpa emosi Narkisme, secara terus menerus mendapatkan penghargaan pujian. Individu akan marah jika orang lain tidak mendukungnya Mekanisme Koping Mekanisme koping digunakan klien sebagai usaha mengatasi kecemasan merupakan suatu kesepian nyata mengancam dirinya. Kecemasan koping sering digunakan adalah regresi, represi isolasi. Regresi adalah sikap seseorang kembali ke masa lalu atau bersikap seperti anak kecil segkan represi adalah melupakan masa-masa tidak menyenangkan dari ingatannya hanya mengingat waktu-waktu menyenangkan (Stuart & Laraia, 2005). Contoh sumber koping dapat digunakan misalnya keterlibatan dalam hubungan luas dalam keluarga teman, hubungan hewan peliharaan, menggunakan kreativitas untuk mengekspresikan stress interpersonal seperti kesenian, musik, atau tulisan.
9 Komunikasi Verbal Pengertian Komunikasi verbal adalah komunikasi menggunakan kata-kata, entah lisan maupun tertulis. Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan atau maksud mereka, menyampaikan fakta, data, informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan pemikiran, saling berdebat bertengkar. Dalam komunikasi verbal, bahasa memegang peranan penting (Hardjana, 2003) Bahasa Dalam komunikasi verbal, lambang bahasa dipergunakan adalah bahasa verbal entah lisan, tertulis pada kertas, ataupun elektronik. Segkan dalam komunikasi nonverbal, bahasa dipakai adalah bahasa nonverbal berupa bahasa tubuh (raut wajah, gerak kepala, gerak tangan), tanda, tindakan, objek (Hardjana, 2003) Kata Kata merupakan unit lambang terkecil dalam bahasa. Kata adalah lambang melambangkan atau mewakili sesuatu hal, entah orang, barang, kejadian, atau keadaan. Jadi, kata itu bukan orang, barang, kejadian, atau keadaan
10 17 sendiri. Makna kata tidak ada pada kata sendiri melainkan pada pikiran orang. Tidak ada hubungan lansung antara kata hal. Yang berhubungan lansung hanyalah kata pikiran orang. Kata mempunyai dua aspek atau segi, yakni lambang makna. Dalam bahasa lisan, lambang kata berupa ucapan lisan. Dalam bahasa tertulis, lambang kata berbentuk tulisan. Makna merupakan isi terkadung dalam lambang. Isi menunjuk kepada objek, seperti orang, barang, atau keadaan. Dalam pemaknaan kata perlu dibedakan antara makna denotatif makna konotatif. Makna denotatif adalah makna konseptual, makna biasa atau umum sebagaimana dijelaskan dalam kamus. Segkan makna konotatif adalah makna personal sosial, dimana pengertian pribadi social tercangkup (Hardjana, 2003) Terapi Aktivitas Kelompok Pengertian Terapi aktivitas adalah terapi modalitas dilakukan perawat kepada se pasien mempunyai masalah keperawatan sama. Aktivitas digunakan sebagai terapi digunakan sebagai target asuhan. Didalam terjadi dinamika interaksi saling bergantung, saling membutuhkan menjadi laboratorium tempat pasien
11 18 berlatih perilaku baru adaptif untuk memperbaiki perilaku lama maladaptif. Tujuan dari terapi aktivitas adalah meningkatkan identitas diri, menyalurkan emosi secara konstruktif, meningkatkan ketrampilan hubungan interpersonal atau sosial (Keliat & Akemat, 2012) Manfaat Terapi Aktivitas Kelompok Manfaat terapi aktivitas menurut Yosep (2011) terdiri dari: Manfaat secara umum Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan (reality testing) melalui komunikasi umpan balik atau dari orang lain Membentuk sosialisasi Meningkatkan fungsi psikologis, yaitu meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional diri sendiri perilaku defensive (bertahan terhadap stress) adaptasi Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti kognitif afektif.
12 Manfaat secara khusus Meningkatkan identitas diri Menyalurkan emosi secara konstruktif Meningkatkan ketrampilan hubungan sosial untuk diterapkan sehari-hari Bersifat rehabilitatif: meningkatkan kemampuan ekspresi diri, ketrampilan sosial, kepercayaan diri, kemampuan empati, meningkatkan kemampuan tentang masalah-masalah kehidupan pemecahannya Tahapan Dalam Terapi Aktivitas Kelompok Kelompok sama individu, mempunyai kapasitas untuk tumbuh berkembang. Kelompok akan berkembang melalui empat fase, yaitu fase pra, fase awal, fase kerja, fase terminasi (Stuart & Laraia, 2005) Fase Pra Dimulai membuat tujuan, menentukan leader, jumlah, kriteria, tempat waktu kegiatan, media digunakan. Menurut Yosep (2011), jumlah
13 20 ideal cara verbalisasi biasanya 7-8 orang. Segkan jumlah minimum 4 orang maksimum 10 orang. Kriteria memenuhi syarat untuk mengikuti TAKS adalah pasien sudah mempunyai diagnosa jelas, tidak terlalu gelisah, tidak agresif, waham tidak terlalu berat Fase Awal Kelompok Fase ini ditandai ansietas karena masuknya baru peran baru. Stuart & Laraia (2005) membagi fase ini menjadi tiga fase, yaitu: Tahap orientasi Anggota mulai mencoba mengembangkan sistem sosial masingmasing, leader menunjukkan rencana terapi menyepakati kontrak Tahap konflik Merupakan masa sulit dalam. Pemimpin perlu memfasilitasi ungkapan perasaan, baik positif maupun negatif membantu mengenali
14 21 penyebab konflik serta mencegah perilaku tidak produktif Tahap kohesif Anggota merasa bebas membuka diri tentang informasi lebih intim satu sama lain Fase Kerja Kelompok Pada fase ini, sudah jadi tim. Kelompok menjadi stabil realisitis. Pada akhir fase ini, menyadari produktivitas kemampuan bertambah diserta percaya diri kemandirian Fase Terminasi Terminasi sukses ditandai oleh perasaan puas pengalaman akan digunakan secara individual pada kehidupan sehari-hari. Terminasi dapat bersifat sementara (temporal) atau akhir Macam-macam Terapi Aktivitas Kelompok Menurut Keliat & Akemat tahun 2012, terapi aktivitas dibagi menjadi empat, yaitu:
15 Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Kognitif/Persepsi Pada terapi ini, pasien dilatih mempersepsikan stimulus ada atau stimulus pernah dialami sebelumnya. Kemampuan persepsi klien dievaluasi ditingkatkan pada tiap sesi. Diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus menjadi adaptif. Stimulus disediakan seperti membaca buku, menonton TV, stimulus dari masa lalu menghasilkan proses persepsi klien maladaptif, misalnya kemarahan, pangan negatif terhadap orang lain, halusinasi Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensoris Pada terapi ini, aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensoris klien. Lalu dilakukan observasi reaksi sensoris klien terhadap stimulus disediakan, berupa ekspresi perasaan secara nonverbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh). Aktivitas dapat digunakan sebagai stimulus seperti musik, menari, menyanyi.
16 Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi Realita Dalam terapi ini, pasien diorientasikan pada kenyataan ada disekitar pasien, yaitu diri sendiri, orang lain ada disekitar pasien atau orang dekat pasien. Demikian juga orientasi waktu saat ini, masa lalu, akan datang Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Pada terapi ini, pasien dibantu untuk bersosialisasi individu ada di sekitar pasien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal,, massa. Aktivitas dapat berupa latihan bersosialisasi dalam. Dengan perawat ruangan sebagai terapis.
17 24 Terapi aktivitas sosialisasi terdapat tujuh sesi, antara lain: Sesi Tujuan Setting, Alat, Metode Sesi I Klien mampu Setting: Mengajak memperkenalk 1. Klien pasien an diri terapis duduk untuk menyebutkan bersama memperke nama (nama dalam nalkan lengkap lingkaran dirinya nama 2. Ruangan panggilan), nyaman umur, asal, tenang hobi. Alat: 1. Tape recorder 2. Kaset 3. Bola tenis 4. Buku catatan Langkah Kegiatan Persiapan Orientasi Kontrak Tahap Kerja Tahap Terminasi 1. Memilih klien sesuai indikasi, yaitu isolasi sosial menarik diri 2. Membuat kontrak klien 3. Mempersia pkan alat tempat Pada tahap a. Menjelaskan 1. Jelaskan kegiatan, Evaluasi ini, terapi tujuan yaitu kaset pada melakukan: kegiatan, tape recorder akan 1. Memberi yaitu dihidupkan serta salam memperken bola diedarkan terapeutik: alkan diri berlawanan arah salam dari terapis b. Menjelaskan aturan main, jarum jam (kearah kiri) pada saat 2. Evaluasi/ validasi sebagai berikut: tape maka dimatikan 1. Jika ada memegang bola klien memperkenalkan akan dirinya meninggalka 2. Hidupkan kaset n pada tape recorder harus minta edarkan bola 1. Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAKS. 2. Memberi pujian atas keberhasilan Rencana tindak lanjut 1. Menganjurkan tiap melatih memperkenalk
18 25 pulpen izin kepada tenis berlawanan an diri kepada 5. Jadwal kegiatan terapis. 2. Lama kegiatan 45 jarum jam. 3. Pada saat tape dimatikan, orang lain di kehidupan sehari-hari. pasien menit. 2. Memasukkan 3. Setiap klien memegang bola kegiatan Metode: 1. Dinamika 2. Diskusi tanya jawab 3. Bermain peran mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. mendapat giliran untuk menyebutkan: salam, nama lengkap, nama panggilan, umur, hobi, asal memperkenalk an diri pada jadwal kegiatan harian pasien. Kontrak akan datang dimulai oleh terapis 1. Menyepakati sebagai contoh. kegiatan 4. Tulis nama berikut, yaitu panggilan pada berkenalan kertas/papan nama tempel/pakai. 5. Ulangi langkah. 1,2, 3 sampai 2. Menyepakati
19 26 semua waktu mendapat giliran. tempat 6. Beri pujian untuk tiap keberhasilan memberi tepuk tangan. Sesi II, Klien mampu Setting: 1. Mengingat Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Hidupkan kaset Evaluasi mengajak berkenalan 1. Klien kan terapis tujuan pada tape recorder 1. Menanyakan pasien terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, edarkan bola perasaan klien untuk bersama 1. Memberi yaitu berlawanan setelah berkenala dalam salam berkenalan jarum jam. mengikuti n (memperkenal lingkaran terapeutik: 2. Pada saat tape TAKS. teman- kan diri sendiri 2. Ruang pada sesi salam dari dimatikan, 2. Memberi pujian temannya nyaman TAKS. terapis. atas menanyakan tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ 2. Menjelaskan memegang bola keberhasilan diri apkan alat validasi aturan main mendapat giliran klien. Alat: 3. Menyakan berikut: untuk berkenalan lain). 1. Tape recorder tempat perasaan Rencana tindak 2. Kaset pertemuan klien saat a. Jika ada lanjut 3. Bola tenis ini peserta ada disebelah 1. Menganjurkan
20 27 4. Buku catatan 4. Menanyak akan kanan semua pulpen an apakah meninggalka cara: memberi 5. Jadwal telah n salam, latihan kegiatan klien mencoba harus menyebutkan berkenalan. memperke meminta izin nama lengkap, 2. Memasukkan Metode: nalkan diri kepada nama panggilan, kegiatan 1. Dinamika pada terapis. asal, hobi, berkenalan orang lain. b. Lama menanyakan pada jadwal 2. Diskusi kegiatan 45 nama lengkap, kegiatan harian tanya jawab menit. nama panggilan, klien. 3. Bermain peran c. Setiap klien asal, hobi / simulasi mengikuti lawan bicara. Kontrak akan kegiatan dari Dimulai oleh datang: awal sampai terapis sebagai 1. Menyepakati selesai. contoh. kegiatan 3. Ulangi langkah 1 berikut, yaitu 2 sampai semua bercakap- cakap tentang mendapat giliran. kehidupan 4. Hidupkan kembali pribadi.
21 28 kaset pada tape recorder edarkan bola, pada saat tape recorder dimatikan, minta pada memegang bola untuk memperkenalkan disebelah kanannnya kepada, yaitu nama lengkap, nama panggilan, asal hobi. Dimulai oleh terapis sebagai contoh. 2. Menyepakati waktu tempat
22 29 5. Ulangi langkah ke- 4 sampai semua mendapatkan giliran. 6. Beri pujian untuk setiap keberhasilan memberi tepuk tangan. Sesi III, Klien mampu Setting: 1. Mempersi Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Hidupkan kaset Evaluasi mengajark bercakap- 1. Klien apkan terapis tujuan pada tape recorder 1. Menanyakan an pasien cakap terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, edarkan bola perasaan klien bercakap- bersama 1. Memberi yaitu tenis berlawanan setelah cakap dalam salam bertanya arah jarum mengikuti lingkaran terapeutik: jam TAKS teman- 2. Ruangan pada sesi salam dari menjawab 2. Pada saat tape 2. Memberi pujian temannya nyaman II TAKS terapis tentang dimatikan, atas tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ kehidupan keberhasilan apkan alat validasi pribadi memegang bola
23 30 Alat: 3. Menyakan 2. Menjelaskan mendapat giliran Rencana tindak 1. Tape recorder tempat perasaan aturan main untuk bertanya lanjut 2. Kaset pertemuan klien saat berikut: tentang kehidupan 1. Menganjurkan 3. Bola tenis ini pribadi tiap 4. Buku catatan 4. Menanyak a. Jika ada pulpen an apakah peserta ada disebelah bercakap- 5. Jadwal telah akan kanan cakap tentang kegiatan klien mencoba meninggalka cara: kehidupan berkenala n a. Memberi salam pribadi Metode: n harus b. Memanggil orang lain pada 1. Dinamika orang lain meminta izin panggilan kehidupan kepada c. Menanyakan sehari-hari 2. Diskusi terapis. kehidupan pribadi: 2. Memasukkan tanya jawab b. Lama orang terdekat/ kegiatan kegiatan 45 dipercaya,disegani bercakap- menit., pekerjaan cakap pada c. Setiap klien d. Dimulai oleh jadwal kegiatan mengikuti terapis sebagai harian pasien kegiatan dari contoh awal sampai 3. Ulangi langkah 1 selesai. 2 sampai
24 31 semua Kontrak akan datang mendapat giliran 1. Menyepakati 4. Beri pujian untuk kegiatan tiap keberhasilan berikut, yaitu menyampaikan memberi tepuk tangan membicarakan topik pembicaraan tertentu 2. Menyepakati waktu tempat Sesi IV, Klien mampu Setting: 1. Mengingat Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Hidupkan kaset Evaluasi mengajark menyampaika 1. Klien kan terapis tujuan pada tape recorder 1. Menanyakan an pasien n topik terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, edarkan bola perasaan klien untuk pembicaraan bersama 1. Memberi yaitu tenis berlawanan setelah memilih tertentu dalam salam menyampaik arah jarum jam. mengikuti topik lingkaran terapeutik: an, memilih, 2. Pada saat tape TAKS pembicara 2. Ruangan pada sesi salam dari recorder 2. Memberi pujian
25 32 an nyaman III TAKS. terapis memberikan dimatikan, atas 1. Menanyak tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ pendapat keberhasilan an topik apkan alat validasi tentang topik memegang bola ingin Alat: 3. Menanyaka percakapan mendapat giliran dibicara 1. Tape recorder tempat n perasaan 2. Menjelaskan untuk Rencana tindak kan 2. Kaset pertemuan klien saat aturan main manyampaikan lanjut 2. Memilih 3. Bola tenis ini berikut: satu topik 1. Menganjurkan topik 4. Buku catatan 4. Menanyaka ingin dibicarakan, tiap ingin dibicara kan 3. Memberi pendapat tentang topik dipilih pulpen 5. Jadwal kegiatan klien 6. Flipcart spidol Metode: 1. Dinamika 2. Diskusi tanya jawab 3. Bermain peran stimulasi n apakah telah mencoba berkenalan orang lain a. Jika ada peserta akan meninggalka n harus meminta izin kepada terapis. b. Lamkegiatan 45 menit. c. Setiap klien dimulai oleh terapis sebagai contoh. Misalnya cara bicara baik atau cara mencari teman. 3. Tuliskan pada flipcart topik disampaikan secara berurutan. 4. Ulangi langkah 1, 2, 3 sampai semua 2. Memasukkan bercakapcakap tentang kehidupan pribadi orang lain pada kehidupan sehari-hari kegiatan bercakapcakap pada jadwal kegiatan
26 33 mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. memilih topik. 5. Terapis membantu menetapkan topik paling banyak terpilih 6. Hidupkan lagi kaset edarkan bola tenis. Pada saat dimatikan, memegang bola menyampaikan pendapat tentang topik dipilh 7. Ulangi langkah 6 sampai semua menyampaikan pendapat 8. Beri pujian untuk harian pasien Kontrak akan datang 1. Menyepakati kegiatan berikut, yaitu menyampaikan membicarakan topik pembicaraan tertentu 2. Menyepakati waktu tempat
27 34 tiap keberhasilan memberi tepuk tangan Sesi V, Klien mampu Setting: 1. Mengingat Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Hidupkan kaset Evaluasi mengajark menyampaika 1. Klien kan terapis tujuan pada tape recorder 1. Menanyakan an pasien n terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, edarkan bola perasaan klien agar dapat membicarakan bersama 1. Memberi yaitu tenis berlawanan setelah mencerita masalah dalam salam menyampaik arah jarum mengikuti kan pribadi lingkaran terapeutik: an, memilih, jam TAKS masalah orang 2. Ruangan pada sesi salam dari 2. Pada saat tape 2. Memberi pujian pribadi lain nyaman IV TAKS terapis memberikan dimatikan, atas 1. Menyamp tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ pendapat keberhasilan teman aikan apkan alat validasi tentang topik memegang bola masalah Alat: 3. Menanyaka percakapan mendapat giliran pribadi 1. Tape recorder tempat n perasaan 2. Menjelaskan untuk Rencana tindak 2. Memilih 2. Kaset pertemuan klien saat aturan main menyampaikan lanjut satu 3. Bola tenis ini berikut: satu masalah 1. Menganjurkan masalah 4. Buku catatan 4. Menanyaka pribadi ingin tiap ingin pulpen n apakah a. Jika ada dibicarakan. di 5. Jadwal telah peserta Dimulai oleh bercakap-
28 35 bicarakan kegiatan klien latihan akan terapis sebagai cakap tentang 3. Memberi 6. Flipcart bercakap- meninggalka contoh. Misalnya masalah pribadi pendapat spidol cakap n sulit bercerita tentang tentang harus atau tidak orang masalah Metode: topik/hal meminta izin diperhatikan orang lain pada pribadi 1. Dinamika tertentu kepada tua. kehidupan terapis. 3. Tuliskan pada sehari-hari dipilih 2. Diskusi orang lain b. Lama flipcart topik 2. Memasukkan tanya jawab kegiatan 45 disampaikan kegiatan 3. Bermain peran menit. secara berurutan bercakap- stimulasi c. Setiap klien 4. Ulangi langkah 1, cakap pada mengikuti 2, 3 sampai jadwal kegiatan kegiatan dari semua harian pasien awal sampai selesai. mendapat giliran Kontrak akan menyampaikan datang masalah pribadi 1. Menyepakati diinginkan kegiatan 5. Hidupkan lagi berikut, yaitu kaset edarkan menyampaikan bola tenis. Pada
29 36 saat dimatikan, memegang bola memilih topik masalah disukai untuk dibicarakan dari daftar ada 6. Ulangi langkah 5 sampai semua memilih masalah 7. Terapis membantu menetapkan topik paling banyak dipilih 8. Hidupkan kembali kaset edarkan bola tenis. Pada saat dimatikan, mebicarakan topik pembicaraan tertentu 2. Menyepakati waktu tempat
30 37 memegang bola menyampaikan pendapat tentang masalah terpilih 9. Ulangi langkah 8 sampai semua menyampaikan pendapat 10. Beri pujian untuk tiap keberhasilan memberi tepuk tangan Sesi VI, Klien mampu Setting: 1. Mengingat Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Terapis membagi Evaluasi: mengajark bekerja sama 1. Klien kan terapis tujuan 4 buah kartu 1. Menanyakan an pasien dalam terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, kwartet untuk perasaan klien agar dapat permainan bersama 1. Memberi yaitu setiap setelah berpatisip sosialisasi dalam salam bertanya. Sisanya mengikuti asi dalam. lingkaran terapeutik: diletakkan di atas TAKS
31 38 permainan 1. Bertanya 2. Ruangan pada sesi salam dari memberi meja. 2. Memberi pujian dalam nyaman V TAKS. terapis kartu pada 2. Terapis meminta atas. meminta tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ tiap keberhasilan sesuai apkan alat validasi Alat: 3. Menanyaka 2. Menjelaskan menyusun kartu kebutuhan 1. Tape recorder tempat n perasaan aturan main sesuai seri Rencana tindak pada 2. Kaset pertemuan klien saat berikut: (1 seri memiliki 4 lanjut: orang lain 3. Bola tenis ini kartu). 1. Menganjurkan 2. Menjawab 4. Buku catatan 4. Menanyaka a. Jika ada 3. Hidupkan tape setiap pulpen n apakah peserta recorder putar memberi 5. Jadwal telah akan kaset edarkan latihan pada kegiatan klien latihan meninggalka bola berlawanan bertanya, orang lain 6. Kartu kwartet bercakap- n arah jarum meminta sesuai cakap harus jam. menjawab Metode: tentang meminta izin 4. Pada saat musik memberi pada permintaa 1. Dinamika masalah kepada berhenti, kehidupan n pribadi terapis. sehari-hari 2. Diskusi b. Lama memegang bola (kerja sama). tanya jawab orang lain kegiatan 45 memulai 2. Memasukkan 3. Bermain menit. permainan kegiatan peran/simulasi c. Setiap klien a. Meminta kartu bekerja sama
32 39 mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. dibutuhkan (seri belum lengkap) kepada disebelah kanannya. b. Jika kartu dipegang serinya lengkap, diumumkan pada membaca judul sub judul. c. Jika kartu dipegang tidak lengkap serinya, diperkenankan mengambil 1 kartu dari tumpukan kartu diatas meja. d. Jika pada jadwal kegiatan harian klien. Kontrak akan datang: 1. Menyepakati kegiatan berikutnya, yaitu mengevaluasi kegiatan TAKS 2. Menyepakati waktu tempat
33 40 memberikan kartu dipegang pada meminta, dia berhak mengambil 1 kartu dari tumpukan kartu diatas meja. e. Setiap menerima kartu, diminta mengucapkan terima kasih 5. Ulangi langkah 3 4 jika 4b atau 4c terjadi. 6. Beri pujian untuk tiap keberhasilan memberi tepuk tangan.
34 41 Sesi VII, Klien mampu Setting: 1. Mengingat Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Hidupkan tape Evaluasi: mengajark menyampaika 1. Klien kan terapis tujuan recorder putar 1. Menanyakan an pasien n pendapat terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, kaset edarkan perasaan klien agar dapat tentang bersama 1. Memberi yaitu bola berlawanan setelah memberik manfaat dalam salam menyampaik arah jarum mengikuti an kegiatan lingkaran terapeutik: an manfaat jam. TAKS pendapat 2. Ruangan pada sesi salam dari 6 kali 2. Pada saat musik 2. Memberi pujian tentang telah nyaman VI TAKS terapis pertemuan dimatikan, atas kegiatan dilakukan. tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ TAKS keberhasilan TAKS apkan alat validasi 2. Menjelaskan memegang bola telah Alat: 3. Menanyaka aturan main mendapat 3. Menyimpulkan dilakukan. 1. Tape recorder tempat n perasaan berikut: kesempatan 6 kemampuan 2. Kaset pertemuan klien saat menyampaikan pada 6 kali 3. Bola tenis ini a. Jika ada pendapat tentang pertemuan 4. Buku catatan 4. Menanyaka peserta manfaat 6 kali lalu pulpen n apakah akan pertemuan 5. Jadwal klien telah meninggalka telah berlalu Rencana tindak kegiatan klien latihan n 3. Ulangi langkah 1 lanjut bekerja harus 2 sampai 1. Menganjurkan Metode: sama meminta izin semua setiap 1. Dinamika kepada tetap
35 42 orang lain terapis. menyampaikan melatih diri 2. Diskusi b. Lama pendapat untuk 6 tanya jawab kegiatan Beri pujian untuk kemampuan menit. tiap keberhasilan telah c. Setiap klien dimiliki, baik di mengikuti memberi RS maupun kegiatan dari tepuk tangan nantinya di awal sampai rumah selesai. 2. Melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga untuk memberi dukungan pada klien dalam menjalankan kegiatan kehidupan sehari-hari
36 43 Kontrak akan datang 1. Menyepakati rencana evaluasi kemampuan secara periodik Penilaian akhir dilakukan berdasarkan antusias pasien, jika semakin sering aktif pada setiap sesi maka nilai didapat semakin baik.
37 Hipotesis Penelitian a. H 0 = Tidak ada pengaruh antara terapi aktivitas sosialisasi kemampuan komunikasi verbal klien menarik diri. b. H 1 = Ada pengaruh antara terapi aktivitas sosialisasi kemampuan komunikasi verbal klien menarik diri Kerangka Konseptual Gambar 2.2 Kerangka konseptual pengaruh terapi aktivitas sosialisasi terhadap kemampuan komunikasi verbal klien menarik diri Kondisi mental tidak stabil Gejala: isolasi sosial: menarik diri Tidak mampu berkomunikasi secara verbal (perilaku maladaptif) Mekanisme koping Mengobservasi kemampuan komunikasi verbal klien menarik diri Peran perawat dalam pemberian terapi: Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Ada pengaruh TAKS Tidak ada pengaruh TAKS
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Isolasi Sosial 2.1.1 Pengertian Isolasi sosial merupakan perilaku yang teramati pada respon sosial maladaptif yang mewakili upaya individu untuk mengatasi ansietas yang berhubungan
BAB II TUNJAUAN TEORI. orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins, 1993)
BAB II TUNJAUAN TEORI A. PENGERTIAN Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins, 1993) Menarik diri merupakan suatu keadaan
PROPOSAL TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK SOSIALISASI (TAKS : MENARIK DIRI) BAB I PENDAHULUAN
PROPOSAL TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK SOSIALISASI (TAKS : MENARIK DIRI) BAB I PENDAHULUAN A. DEFINISI TAK Terapi aktivitas kelompok adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Penggunaan kelompok dalam praktek kesehatan jiwa memberikan dampak posotif dalam upaya pencegahan, pengobatan atau terapi pemulihann kesehatan seseorang. Keuntungan yang
BAB II TINJAUAN TEORI. maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung (isolasi diri).
1 BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Menarik diri adalah satu tindakan melepaskan diri, baik perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung (isolasi diri). (Depkes RI, 1983) Menarik
PROPOSAL Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Orientasi Realita
PROPOSAL Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Orientasi Realita A. Latar Belakang Manusia sebagai mahluk social yang hidup berkelompok dimana satu dengan yang lainnya saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan
PROPOSAL TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK (TAK) SOSIALISASI
PROPOSAL TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK (TAK) SOSIALISASI Oleh Kelompok : 1 1. Joko Sutrisno (14.401.15.047) 2. Khoiru Oktavia W (14.401.15.048) 3. Ratih Lutvi G (14.401.15.067) 4. Ratna Agustin M (14.401.15.068)
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI A. Latar Belakang Sosialisasi adalah kemampuan untuk berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain (Gail W. Stuart, 2007). Penurunan sosialisasi dapat terjadi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Interaksi Sosial
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Interaksi Sosial 2.1.1 Pengertian Interaksi Sosial Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu
BAB II TINJAUAN TEORI. dengan orang lain (Keliat, 2011).Adapun kerusakan interaksi sosial
BAB II TINJAUAN TEORI A. KONSEP DASAR 1. Pengertian Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya.
BAB II KONSEP DASAR. tanda-tanda positif penyakit tersebut, misalnya waham, halusinasi, dan
BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Isolasi sosial sering terlihat pada klien skizofrenia. Hal ini sebagian akibat tanda-tanda positif penyakit tersebut, misalnya waham, halusinasi, dan kehilangan batasan
BAB II TINJAUAN TEORI. (DepKes, 2000 dalam Direja, 2011). Adapun kerusakan interaksi sosial
BAB II TINJAUAN TEORI A. PENGERTIAN Isolasi sosial merupakan suatu gangguan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. perilaku adaptif (Keliat, 2004). Terapi modalitas adalah terapi dalam keperawatan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Terapi Modalitas 1.1 Pengertian Terapi modalitas adalah terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini di berikan dalam upaya mengubah perilaku pasien dari perilaku maladaptif
PRE PLANNING TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ORIENTASI REALITA SESI I: PENGENALAN ORANG
PRE PLANNING TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ORIENTASI REALITA SESI I: PENGENALAN ORANG Topik Sesi ke Terapis Sasaran Tempat : TAK Orientasi Realita : I (Pengenalan Orang) : 5 orang mahasiswa Fak. Keperawatan
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI Disusun Oleh : 1. ADE IRMA (14.401.14.001) 2. AGUNG PURNAMA PUTRA (14.401.14.002) 3. AHMAD SAIFULLOH (14.401.14.003) 4. ALFIAH NURIMAMAH (14.401.14.004) PROGRAM STUDI
BAB II TINJAUAN TEORI. menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam
BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Gangguan hubungan sosial merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel dan menimbulkan perilaku maladaptif
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PENINGKATAN HARGA DIRI
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PENINGKATAN HARGA DIRI A. Konsep Harga Diri Rendah Gangguan harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negative yang dapat
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI DI SUSUN OLEH: 1. Angellita Monica Winarno (14.401.15.007) 2. Arles Gusti Sukma Aulia (14.401.15.012) 3. Bagus Adi Sucipto (14.401.15.015) 4. Cholbi Haswanda (14.401.15.019)
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) STIMULASI SENSORI
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) STIMULASI SENSORI 1. Pengertian TAK stimulasi sensori adalah TAK yang diadakan dengan memberikan stimulus tertentu kepada klien sehingga terjadi perubahan perilaku. 2. Bentuk
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI A. Latar belakang Pada pasien gangguan jiwa dengan dengan kasus skizofrenia selalu diikuti dengan gangguan persepsi sensori, halusinasi. Terjadinya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gangguan jiwa merupakan manifestasi klinis dari bentuk penyimpangan perilaku akibat adanya distrosi emosi sehingga ditemukan ketidakwajaran dalam bertingkah laku.
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN. Jiwa Daerah Provsu Medan. Oleh. Sulastri Pasaribu
Lampiran 1 LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Terhadap Kemampuan Komunikasi Pada Pasien Isolasi Sosial di Ruang Cempaka Rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu Medan
BAB I PENDAHULUAN. Menuju era globalisasi manusia disambut untuk memenuhi kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menuju era globalisasi manusia disambut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di segala kehidupan. Tidak orang semua orang
BAB II TINJAUAN TEORI
BAB II TINJAUAN TEORI A. PENGERTIAN Isolation (isolasi) merupakan mekanisme pertahanan dimana emosi diasingkan dari muatan impuls kesakitan atau memori (Cervone, 2011). Pikiran isolasi sosial ( social
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. TAK (Terapi Aktivitas Kelompok) 1.1 Defenisi Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama
BAB II TINJAUAN TEORI
BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Kerusakan interaksi sosial merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan
LAPORAN PENDAHULUAN (LP) ISOLASI SOSIAL
LAPORAN PENDAHULUAN (LP) ISOLASI SOSIAL A. Pengertian Isolasi social adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan
TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI
TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI Disusun oleh: Kelompok 4 1. Intan Cahya P (14.401.15.046) 2. Khusnul Hotimah (14.401.15.050) 3. Muhamad Gimnastyar (14.401.15.056) 4. Novia Panca A (14.401.15.059)
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) ORIENTASI REALITA
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) ORIENTASI REALITA Disusun Oleh : Kelompok 3 1. Afnur Rafli (14.401.15.002) 2. Amelia Ferdina Widodo (14.401.15.004) 3. Angga Rofyanzah (14.401.15.008) 4. Arik Ismail Wahyudi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Komunikasi 2.1.1 Pengertian Komunikasi Secara Umun Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung
Koping individu tidak efektif
LAPORAN PENDAHULUAN ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI I. PROSES TERJADINYA MASALAH Isolasi social merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PENGERTIAN Isolasi sosial merupakan suatu gangguan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011
Lampiran 1 MODUL PELAKSANAAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI Diadopsi dari Dr. Budi Anna Keliat Oleh Dewi Rahmadani Lubis 071101027 FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 1. TAKS: SESI
BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk sosial, dimana untuk mempertahankan kehidupannya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial, dimana untuk mempertahankan kehidupannya manusia memerlukan hubungan interpersonal yang positif baik dengan individu lainnya
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI SENSORI
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI SENSORI Disusun oleh : Kelompok 2 1. Andi Perdana S (14.401.15.006) 2. Aprillya Dyah Saputri (14.401.15.010) 3. Catur Oktaviani (14.401.15.018) 4. Dewi Fitri (14.401.15.026)
Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara
Lampiran 1 Lembar Persetujuan Menjadi Responden Penelitian Pengaruh Pelaksanaan Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi Terhadap Kemampuan Kognitif dan Psikmotor Pasien Dalam Mengontrol Halusinasi Di Ruangan
Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensori
Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensori Oleh Kelompok : 2 1. Indra Kurniawan (14.401.15.044) 2. Indri Istiani (14.401.15.045) 3. Marfuah (14.401.15.054) 4. Putri Intan Sari (14.401.15.064) 5. Qonita
MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN RESIKO BUNUH DIRI DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL
MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN RESIKO BUNUH DIRI DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN PROGRAM
BAB 1 PENDAHULUAN. stressor, produktif dan mampu memberikan konstribusi terhadap masyarakat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sehat jiwa adalah keadaan mental yang sejahtera ketika seseorang mampu merealisasikan potensi yang dimiliki, memiliki koping yang baik terhadap stressor, produktif
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK Stimulasi Persepsi Halusinasi
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK Stimulasi Persepsi Halusinasi DI SUSUN OLEH: 1. Ana Setyani Hadi (14.401.15.005) 2. Anggi Setyawan (14.401.15.009) 3. Bayu Dahroni (14.401.15.015) 4. Dhidin Hartiningsih (14.401.15.028)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Gangguan Harga Diri Rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif dapat secara langsung atau tidak langsung di ekspresikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Halusinasi adalah gangguan terganggunya persepsi sensori seseorang,dimana tidak terdapat stimulus. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada. Pasien merasa
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ORIENTASI REALITA
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ORIENTASI REALITA Disusun Oleh: Kelompok 3 1. Khomail Teguh (14.401.15.049) 2. Lailatul Fitria (14.401.15.051) 3. Lutfia Irmayanti (14.401.15.053) 4. Melinda Fauzia Akbar (14.401.15.055)
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Krisis multi dimensi yang melanda masyarakat saat. ini telah mengakibatkan tekanan yang berat pada sebagian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Krisis multi dimensi yang melanda masyarakat saat ini telah mengakibatkan tekanan yang berat pada sebagian besar masyarakat dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya.
BAB II TINJAUAN KONSEP
BAB II TINJAUAN KONSEP A. Pengertian Menurut (Depkes RI, 2000) Waham adalah suatu keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis oleh orang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam dirinya maupun lingkungan luarnya. Manusia yang mempunyai ego yang sehat dapat membedakan antara
BAB I PENDAHULUAN. dalam dirinya dan lingkungan luar baik keluarga, kelompok maupun. komunitas, dalam berhubungan dengan lingkungan manusia harus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia sabagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam dirinya dan lingkungan luar baik keluarga, kelompok maupun komunitas, dalam berhubungan dengan
BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN. tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,
BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang
BAB I PENDAHULUAN. dan kestabilan emosional. Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan. pekerjaan, & lingkungan masyarakat (Videbeck, 2008).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat emosional, psikologi, dan sosial, yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping
BAB II TINJAUAN TEORI. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.
BAB II KONSEP TEORI. Perubahan sensori persepsi, halusinasi adalah suatu keadaan dimana individu
BAB II KONSEP TEORI A. Pengertian Perubahan sensori persepsi, halusinasi adalah suatu keadaan dimana individu mengalami perubahan dalam jumlah dan pola dari stimulus yang datang internal / eksternal (Carpenito,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Harga diri merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Harga Diri 1.1. Pengertian harga diri Harga diri merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan memandang dirinya, terutama sikap menerima, menolak, dan indikasi
BAB I PENDAHULUAN. perilaku seseorang. Gangguan jiwa adalah sebuah penyakit dengan. manifestasi dan atau ketidakmampuan psikologis atau perilaku yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Stuard & Sudeen (1998) mengatakan bahwa gangguan jiwa merupakan suatu penyimpangan proses pikir, alam perasaan, dan perilaku seseorang. Gangguan jiwa adalah sebuah
BAB II TINJAUAN TEORI. pengecapan maupun perabaan (Yosep, 2011). Menurut Stuart (2007)
BAB II TINJAUAN TEORI A. Definisi Halusinasi didefinisikan sebagai seseorang yang merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada stimulus dari manapun, baik stimulus suara, bayangan, baubauan, pengecapan
BAB II KONSEP DASAR A. PENGERTIAN. Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya
BAB II KONSEP DASAR A. PENGERTIAN Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya rangsang dari luar. Walaupun tampak sebagai sesuatu yang khayal, halusinasi sebenarnya merupakan bagian
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan jiwa pada manusia. Menurut World Health Organisation (WHO),
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Multi krisis yang menimpa masyarakat dewasa ini merupakan salah satu pemicu yang menimbulkan stres, depresi dan berbagai gangguan kesehatan jiwa pada manusia.
BAB III METODE PENELITIAN
45 BAB III METODE PENELITIAN 1.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik kuantitatif dengan tipe pendekatan model quasi eksperimental yaitu penelitian
MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN WAHAM DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL
MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN WAHAM DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH UTAMA ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH UTAMA ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI A. Konsep Dasar Teori 1. Definisi Isolasi sosial merupakan kondisi ketika individu atau kelompok mengalami,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dirasakan sebagai ancaman (Nurjannah dkk, 2004). keadaan emosional kita yang dapat diproyeksikan ke lingkungan, kedalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Perilaku kekerasan merupakan salah satu yang diekspresikan dengan melakukan ancaman, menciderai orang lain ataupun merusak lingkungan (Keliat dkk, 2011). Kemarahan
BAB II KONSEP DASAR. serta mengevaluasinya secara akurat (Nasution, 2003). dasarnya mungkin organic, fungsional, psikotik ataupun histerik.
BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Persepsi ialah daya mengenal barang, kwalitas atau hubungan serta perbedaan antara suatu hal melalui proses mangamati, mengetahui dan mengartikan setelah panca indranya
BAB II TINJAUAN TEORI. Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif
BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan.
BAB II KONSEP DASAR. orang lain maupun lingkungan (Townsend, 1998). orang lain, dan lingkungan (Stuart dan Sundeen, 1998).
BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN SELF EVALUASI KEPALA RUANGAN Dalam melaksanakan MPKP Nama :... Ruangan :... Tanggal :... RS :... Petunjuk Jawab pertanyaan berikut sesuai dengan kegiatan MPKP yang telah saudaralakukan : 1. Sl
BAB II TINJAUAN TEORI
BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri merupakan keputusan terakhir dari individu untuk memecahkan masalah
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN. S DENGAN GANGGUAN MENARIK DIRI DI RUANG ABIMANYU RSJD SURAKARTA
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN. S DENGAN GANGGUAN MENARIK DIRI DI RUANG ABIMANYU RSJD SURAKARTA KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai salah satu syarat Mendapatkkan gelar ahli madya keperawatan Disusun
BAB I PENDAHULUAN. keluarga, kelompok, organisasi atau komunitas. ANA (American nurses
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mengkonstribusi pada fungsi yang terintegrasi. Pasien
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA KOMUNITAS (CMHN)
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA KOMUNITAS (CMHN) NAMA KELOMPOK 6 A4E : 1. Made Udayati (10.321.0864) 2. Kadek Ayu Kesuma W. (10.321.0858) 3. Kadek Ninik Purniawati (10.321.0859) 4. Luh Gede Wedawati (10.321.0867)
BAB I PENDAHULUAN. lansia. Semua individu mengikuti pola perkemban gan dengan pasti. Setiap masa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap individu atau Manusia dalam hidupnya mengalami perkembangan dalam serangkaian periode yang berurutan, mulai dari periode prenatal hingga lansia. Semua
BAB II TINJAUAN TEORETIS
BAB II TINJAUAN TEORETIS 2.1 Tinjauan pustaka 2.1.1 Komunikasi Teraupetik Menurut Stuart (1998), mengatakan komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal antara perawat dengan klien dalam memperbaiki
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN MENARIK DIRI INTERAKSI PERTAMA/AWAL
1 STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN MENARIK DIRI INTERAKSI PERTAMA/AWAL A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi klien : Senang menyendiri, tidak mau melakukan aktivitas, tampak murung, lebih banyak menunduk
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Manusia adalah makhluk hidup yang lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lain. Konsep tentang manusia bermacam-macam. Ada yang menyatakan bahwa manusia adalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Perilaku Menarik Diri pada Lansia. mekanisme pertahanan diri yang dilakukan seseorang sebagai coping terhadap
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Perilaku Menarik Diri pada Lansia 1. Pengertian Perilaku Menarik Diri Menurut Adler (Alwisol, 2004), menarik diri merupakan sebuah bentuk mekanisme pertahanan diri yang dilakukan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang sebenarnya tidak ada stimulus dari manapun baik stimulus suara,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Halusinasi didefinisikan sebagai seseorang yang merusak stimulasi yang sebenarnya tidak ada stimulus dari manapun baik stimulus suara, bayangan, bau-bauan, pengecapan
A. Pengertian Defisit Perawatan Diri B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri C. Etiologi Defisit Perawatan Diri
A. Pengertian Defisit Perawatan Diri Kurang perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Maslim, 2001). Kurang perawatan diri adalah
BAB II KONSEP DASAR. A. Pengertian. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang
BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri ( Stuart, 2006 ). Gangguan
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) PENINGKATAN HARGA DIRI
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) PENINGKATAN HARGA DIRI Di Susun oleh : Kelompok 5 Kelas A S.4 Cahya Wulandari (14-401-15-017) Elya Nova Dianesti (14-401-15-034) Ernik Widyawati ( 14-401-15-035) Ida Bagus
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sehat fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. Definisi
SATUAN ACARA PENYULUHAN PRE KLINIK KEPERAWATAN JIWA MENARIK DIRI
STUN CR PENYULUHN PRE KLINIK KEPERWTN JIW MENRIK DIRI Kelompok III NGG PUTRI 03121008 LILI RHMI 03121015 DEWI KURNIWTI 03121016 FIRMNENI 03121017 UTMI FETLIN.S 03121018 FI WHYUNI 03121019 PROGRM STUDI
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) PENYALURAN ENERGI
TERAI AKTIVITAS KELOMOK (TAK) ENYALURAN ENERGI Disusun oleh : 1. Muhibatul munawaroh (14.401.15.057) 2. Munawaro (14.401.15.058) 3. Nur indana zulfa (14.401.15.061) 4. andu hadi (14.401.15.063) 5. Richa
PROPOSAL KUNJUNGAN RUMAH (HOME VISIT) PADA KELUARGA NY. A DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN HARGA DIRI RENDAH DAN WAHAM CURIGA
PROPOSAL KUNJUNGAN RUMAH (HOME VISIT) PADA KELUARGA NY. A DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN HARGA DIRI RENDAH DAN WAHAM CURIGA Disusun Oleh: DESI SUCI ANGRAENI SRI WAHYUNINGSIH PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
BAB I PENDAHULUAN. keadaan tanpa penyakit atau kelemahan (Riyadi & Purwanto, 2009). Hal ini
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sehat fisik, mental dan sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan (Riyadi & Purwanto, 2009). Hal ini berarti seseorang
BAB II TINJAUAN TEORI. Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu atau kelompok
BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan meningkatkan keterlibatan orang lain, tetapi tidak mampu
BAB 1 PENDAHULUAN. fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Gangguan kejiwaan atau skizofrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang khas seperti
BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan jiwa adalah berbagai karakteristik positif yang menggambarkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesehatan jiwa adalah berbagai karakteristik positif yang menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan kepribadian ( WHO,
TERAPI MODALITAS DALAM KEPERAWATAN JIWA
TERAPI MODALITAS DALAM KEPERAWATAN JIWA TERAPI MODALITAS DALAM KEPERAWATAN JIWA Pendahuluan Gangguan jiwa atau penyakit jiwa merupakan penyakit dengan multi kausal, suatu penyakit dengan berbagai penyebab
MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ANXIETAS DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL
MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ANXIETAS DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JAKARTA A. KOMPETENSI
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr. D DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI DI RUANG MAESPATI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr. D DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI DI RUANG MAESPATI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI ILMIAH Disusun oleh : CAHYO FIRMAN TRISNO. S J 200 090
BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)).
BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.
BAB I PENDAHULUAN. siklus kehidupan dengan respon psikososial yang maladaptif yang disebabkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keperawatan jiwa adalah pelayanan kesehatan professional yang didasarkan pada ilmu perilaku, ilmu keperawatan jiwa pada manusia sepanjang siklus kehidupan dengan
BAB II KONSEP DASAR. memelihara kesehatan mereka karena kondisi fisik atau keadan emosi klien
BAB II KONSEP DASAR A. Pengetian Kurangnya perawatan diri pada pasien gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun, kurang
BAB II TINJAUAN TEORI
BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Personal Hygiene berasal dari bahasa yunani yang berarti Personal yang artinya perorangan Hygiene berarti sehat. Personal Hygiene adalah suatu tindakan memelihara kesehatan
BAB II KONSEP DASAR. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan
BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri. ( Yosep, 2007 ). Harga
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN. Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan. Saat ini saya sedang melakukan
52 Lampiran 1 LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Saya yang bernama Ledy Gresia Sihotang adalah mahasiswa Fakultas Keperawatan Medan. Saat ini saya sedang melakukan penelitian tentang Pengaruh Terapi
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN Masalah : Isolasi sosial Pertemuan : I (satu)
CONTOH KASUS Setiap lansia pada akhirnya akan mengalami penurunan fungsi organ, Hal ini timbul karena penyebab organik ataupun emosional (fungsional) dan yang menunjukkan gangguan kemampuan berpikir, bereakasi
BAB II KONSEP DASAR. A. Pengertian. Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan
BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola dari stimulasi yang mendekat yang diprakarsai secara internal atau eksternal
BAB 1 PENDAHULUAN. kelompok atau masyarakat yang dapat dipengaruhi oleh terpenuhinya kebutuhan dasar
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan unsur terpenting dalam kesejahteraan perorangan, kelompok atau masyarakat yang dapat dipengaruhi oleh terpenuhinya kebutuhan dasar hidup seperti
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep koping 1.1. Pengertian mekanisme koping Koping adalah upaya yang dilakukan oleh individu untuk mengatasi situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan, ancaman, luka, dan
BAB II TINJAUAN TEORI
BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1. Perawat 2.1.1.1. Pengertian perawat Menurut Depkes RI (2007), perawat adalah seorang yang telah dipersiapkan melalui pendidikan untuk turut serta merawat
Laporan Pendahuluan. Isolasi Sosial
Laporan Pendahuluan Isolasi Sosial A. DEFINISI Suatu sikap dimana individu menghindari diri dari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan
